Postingan

Kota di Mana Orang-Orang Lupa Bahwa Mereka Bisa Lupa Aru menemukan fakta itu pada hari ketika jam di dindingnya berhenti berdetak, tetapi waktu terus mengalir—bukan ke depan atau ke belakang, melainkan ke dalam. Jam itu menunjukkan pukul 03.47 WIB, dan tetap menunjukkan pukul 03.47 WIB selama tujuh hari, tujuh malam, dan tujuh interval yang tidak memiliki nama. Di dalam kota itu, orang-orang tidak menyadari bahwa mereka telah berhenti menyadari. Mereka berjalan, berbicara, makan, tidur—tetapi semua itu terjadi dalam mode zuhanden yang telah kehilangan um-zu -nya, alat-alat yang berfungsi tanpa tujuan, bahasa yang diucapkan tanpa makna yang dituju, keberadaan yang vorhanden tanpa pernah menjadi Dasein yang autentik. Kemala duduk di bangku taman yang terbuat dari angka-angka Romawi yang meleleh. Ia sedang merajut sebuah syal dari benang-benang kalimat yang belum sempat diucapkan siapa pun. "Aku tidak yakin aku pernah ada," katanya kepada Aru, meskipun bibirnya tidak bergerak...

KAMUS YANG MENGGUGAT PEMILIKNYA

KAMUS YANG MENGGUGAT PEMILIKNYA Judul ini merujuk pada sebuah kamus tua yang, pada suatu pagi, menolak untuk didefinisikan sebagai benda mati. Ia menggugat pemiliknya bukan di pengadilan, melainkan di ranah yang lebih berbahaya: makna. Pagi itu, Aru membuka kamusnya dan menemukan sebuah kalimat yang tidak pernah ia tulis: PEMILIK: seseorang yang percaya ia memiliki, padahal hanya dimiliki oleh kata-kata yang ia gunakan. Aru menutup kamus itu pelan-pelan. Sebagai leksikografer di kota kecil yang lebih sering kehilangan nama jalan daripada membangun jalan baru, Aru hidup dari merawat makna. Ia percaya, dengan keyakinan yang hampir religius, bahwa dunia ini bisa ditertibkan jika kata-katanya dibereskan. Namun, pagi itu, kata-kata tampaknya sedang membereskan dirinya. Ia membuka kembali halaman tadi. Kalimat itu masih ada. Ia menyentuh kertasnya. Nyata. Tidak ada tinta basah. Tidak ada bekas coretan. Seolah kalimat itu memang sudah ada sejak kamus itu dicetak dua puluh tahun lalu, hanya sa...