DEWA YANG TIDAK PERCAYA PADA KAMUS Di puncak gunung paling sunyi tinggal seorang dewa yang tidak pernah membaca kamus. Para dewa lain mengejeknya. "Bagaimana mungkin engkau menjaga bahasa jika tidak hafal arti kata?" Ia hanya tersenyum. Lalu memanggil dua manusia. Kepada yang pertama ia berkata, "Aku datang." Orang itu menangis. Kepada yang kedua ia mengucapkan kalimat yang sama, "Aku datang." Orang itu gemetar ketakutan. Para dewa kebingungan. Bukankah kata-katanya sama? Dewa itu mengangguk. "Kata memang sama." "Tetapi keadaanlah yang mengubahnya." Sejak hari itu ia berjalan mengelilingi bumi. Ia tidak mengumpulkan kata. Ia mengumpulkan situasi. Ia menyimpan senja ketika permintaan maaf terlambat diucapkan. Ia menyimpan pagi ketika ucapan selamat tinggal ternyata benar-benar yang terakhir. Ia menyimpan ruang tunggu rumah sakit, meja makan keluarga, bangku taman, peron kereta, dan serambi rumah duka. Di setiap tempat itu, kata-kata berg...
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Katalis yang Tidak Pernah Diketahui Namanya” Pada mulanya tidak ada makna, hanya kemungkinan reaksi. Dunia tidak dibangun dari benda, melainkan dari afinitas—dari kecenderungan hal-hal untuk saling mendekat tanpa alasan yang dapat dijelaskan selain bahwa mereka bisa. Kau menyebutnya hidup, tetapi para ahli kimia purba menyebutnya campuran yang belum sempat stabil. Di dalamnya, setiap pertemuan adalah tabrakan energi: molekul-molekul kecil yang saling menyentuh seperti ingatan yang lupa apakah ia pernah terjadi. Ada reaksi yang melepaskan panas, dan kau menyebutnya cinta. Ada reaksi yang menyerap energi dari sekitarnya, dan kau menyebutnya kehilangan. Namun kedua istilah itu tidak pernah benar-benar cocok, sebab sistem tidak mengenal nama—ia hanya mengenal perubahan keadaan. Seorang manusia, dalam laboratorium yang tidak memiliki dinding, berjalan sebagai larutan yang terus menguap dan mengembun sekaligus. Ia membawa dalam dirinya ion-ion masa lalu: percakapan yang belum selesai, keput...