CERPEN LINGUISTIK
KATA “MUNGKIN” YANG TERLALU AMAN Kekacauan dimulai dari rapat kecil. “Ini salahmu?” tanya Ketua Rapat. “Mungkin,” jawab bendahara. Sejak pagi itu, setiap orang yang berkata mungkin tak pernah lagi diminta penjelasan. Kata itu berubah menjadi perisai sempurna. “Apa kau mencuri?” “Mungkin.” Percakapan selesai. Konfliknya langsung terasa: mungkin yang seharusnya menandai ketidakpastian berubah menjadi tempat bersembunyi dari kepastian. Di ruang sunyi, aku membuka Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia . “Kata itu kelelahan menanggung keraguan palsu,” katanya. “Bukankah keraguan itu sehat?” “Keraguan yang jujur, ya. Akan tetapi, kalian memakainya untuk menghindari posisi" Dilemanya jelas: tanpa mungkin , orang dipaksa tegas. Dengan mungkin , orang bisa selamanya kabur. Aku mulai menantang orang. “Jika bukan mungkin, lalu apa? Ya atau tidak?” Banyak yang gagap. Mereka sadar selama ini nyaman tinggal di wilayah abu-abu. Menjelang sore, kata mungkin kembali ringan. Kini ia dipakai untuk ...