FASISME BAHASA
Menulis itu seperti menabur benih di tanah yang belum dikenal. Kita tidak tahu apa yang akan tumbuh, tetapi setiap goresan kata adalah alat ukur, peta, sekaligus sekop. Kata-kata menjadi batu loncatan bagi pemikiran yang belum ada namanya; bahasa adalah laboratorium tempat manusia melakukan eksperimen pada ketidaktahuan. Homo non intelligendo fit omnia —manusia menjadi apa pun karena ketidakpahaman. Menulis menuntut kita masuk ke wilayah itu: ruang tempat subjek dan objek belum dibedakan, di mana tatanan belum terbentuk, dan metafor adalah alat navigasi yang paling jujur. Seperti ilmuwan yang memecah atom, penulis memenggal berhala kata, membongkar bentuk lama, hanya untuk menemukan resonansi baru di antara reruntuhan. Mental tulis bukan sekadar menulis; ia analitik dan inventif, ia mengukur ketidakjelasan dan menyalakan percikan eureka berulang kali. Tulisan, sebagai memori eksternal, menimbulkan ekosistem baru: ide-ide tidak lagi tergantung pada ingatan manusia semata, tetapi hidup ...