KANTOR POS YANG MENGIRIM SURAT KE MASA LALU
Bara menemukan Kantor Pos itu setelah kehilangan rumahnya, pekerjaannya, dan kemampuannya untuk memaafkan dirinya sendiri. Kantor Pos itu berada di ujung jalan yang seharusnya buntu—tetapi jalan terus berlanjut, melengkung ke arah yang tidak ada di kompas, ke arah yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang tidak mencarinya. Di atas pintu, papan nama berkarat: KANTOR POS KELURAHAN TAK BERNAWA . Bukan "Tak Bernama". Bukan. Tak Bernawa —kata yang tidak ada di kamus Indonesia mana pun, kata yang, jika Bara coba ucapkan, terasa seperti napas yang tertahan di tenggorokan , seperti tangisan yang belum menangis , seperti surat yang belum pernah ditulis tetapi sudah tahu isinya . Di dalam, seorang pegawai tunggal—pria tua yang tidak punya bayangan di lantai, meski lampu menyala terang—duduk di balik meja kayu yang permukaannya penuh goresan tanggal. Tanggal-tanggal yang belum terjadi. Tanggal-tanggal yang sudah lewat. Tanggal-tanggal yang bersamaan . "Kami mengirim surat," k...