Postingan

CERPEN LINGUISTIK

KATA “MUNGKIN” YANG TERLALU AMAN Kekacauan dimulai dari rapat kecil. “Ini salahmu?” tanya Ketua Rapat. “Mungkin,” jawab bendahara. Sejak pagi itu, setiap orang yang berkata mungkin tak pernah lagi diminta penjelasan. Kata itu berubah menjadi perisai sempurna. “Apa kau mencuri?” “Mungkin.” Percakapan selesai. Konfliknya langsung terasa: mungkin yang seharusnya menandai ketidakpastian berubah menjadi tempat bersembunyi dari kepastian. Di ruang sunyi, aku membuka Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia . “Kata itu kelelahan menanggung keraguan palsu,” katanya. “Bukankah keraguan itu sehat?” “Keraguan yang jujur, ya. Akan tetapi, kalian memakainya untuk menghindari posisi" Dilemanya jelas: tanpa mungkin , orang dipaksa tegas. Dengan mungkin , orang bisa selamanya kabur. Aku mulai menantang orang. “Jika bukan mungkin, lalu apa? Ya atau tidak?” Banyak yang gagap. Mereka sadar selama ini nyaman tinggal di wilayah abu-abu. Menjelang sore, kata mungkin kembali ringan. Kini ia dipakai untuk ...

KEMATIAN PUISI

Kematian Puisi: Sebuah Telaah Teoretis-Filosofis atas Nasib Bahasa, Subjek, dan Makna Pendahuluan: Apa yang Sebenarnya Mati? Pernyataan tentang "kematian puisi" kerap terdengar seperti vonis nostalgia: seolah ada masa ketika puisi hidup lebih murni, lebih sakral, lebih didengar. Namun, secara teoretis, "kematian puisi" bukanlah perkara kuantitas pembaca atau menurunnya minat pasar, melainkan perubahan ontologis pada cara bahasa bekerja , cara subjek hadir , dan cara makna diproduksi . Pertanyaan kuncinya bukan: apakah puisi masih ditulis? —jelas iya. Melainkan: apakah kondisi yang membuat puisi menjadi puisi masih mungkin ada? I. Bahasa yang Retak: Dari Logos ke Simulakra Dalam filsafat bahasa, puisi pernah berdiri di wilayah yang diyakini sebagai tempat paling dekat antara bahasa dan kebenaran. Bagi Martin Heidegger, puisi adalah “rumah bagi Ada”; bahasa puitik membuka penyingkapan ( aletheia ) yang tak bisa dicapai bahasa biasa. Namun, lanskap ini runtuh ketika ba...

FABEL LINGUISTIK

MAKNA YANG MENYAMAR Di dunia ini, makna tidak pernah berjalan telanjang. Ia menyamar sebagai metafora , berputar sebagai ironi , dan berbisik sebagai personifikasi . ••• METAFORA YANG INGIN MELEPAS KOSTUM Dia dikenal sebagai “hati yang patah” . Namun ia bukan organ, bukan benda yang bisa benar-benar retak. “Kenapa kalian tak pernah menyebut perasaan saja?” keluhnya. “Kalian bilang aku patah, padahal kalian yang menolak mengakui kecewa.” Namun, ia tahu, tanpa penyamaran itu, banyak orang tak berani bicara. Jadi, ia tetap memakai topengnya. Dan diam-diam berharap, suatu hari nanti, orang cukup berani menyebut luka apa adanya. ••• PERSONIFIKASI YANG INGIN BALIK KE DUNIA NYATA Namanya bulan yang cemburu . Ia mendengar orang menyebutnya begitu sepanjang waktu. “Bulan pun cemburu kepadamu.” Padahal ia hanya batu langit. Dingin. Sunyi. Mengorbit tugasnya. Namun kini ia dituduh punya emosi. Ia ingin bicara, tetapi tak punya mulut. Jadi, ia kirim cahaya paling pucatnya ke kamar penyair malam it...