Postingan

ANAFORA

Ruang sidang itu tidak besar, tetapi entah mengapa suara langkah sepatu hak tinggi Amira bergema seperti di katedral. Mungkin karena dindingnya dilapisi kayu jati tua, atau mungkin karena keheningan di antara derap itu terlalu rapat, seperti kempaan udara sebelum badai menerpa. Amira duduk di kursi tergugat. Jas abu-abunya rapi, kerudungnya biru tua. Di hadapannya, majelis hakim berjumlah tiga orang. Di sebelah kiri, di kursi penggugat, duduk Nara—perempuan berambut pendek dengan kacamata tebal yang membuat matanya tampak lebih besar dari seharusnya. Sidang baru saja dimulai, tetapi konflik sudah mencapai puncaknya bahkan sebelum hakim ketua mengetuk palu. Perkaranya tidak biasa: Nara menggugat Amira atas tuduhan pencurian bahasa. "Penggugat, Nara Kirana, hadir?" tanya hakim ketua. "Hadir, Yang Mulia." "Tergugat, Amira Laksmi, hadir?" "Hadir, Yang Mulia." Hakim ketua membuka berkas perkara, mengernyitkan dahi. Mungkin ia masih mencoba memahami ap...

TOPI MERAH DI LEMARI ES

Ayahku menyimpan topi merah di dalam lemari es. Bukan karena dia lupa. Bukan karena ruang penyimpanan penuh. Dia sengaja meletakkannya di sana, di antara botol susu dan selada, setiap malam sebelum tidur, dengan ritual yang sama: dibuka lemari esnya, dikeluarkan rak paling bawah, diletakkan topi itu menghadap ke atas, lalu rak dipasang kembali, pintu ditutup. Dia tidak pernah menjelaskan alasannya. Dan aku tidak pernah berani bertanya—sampai suatu pagi aku terbangun dan menemukan lemari es terbuka lebar. Topi merah itu hilang. Di tempatnya, ada selembar kertas bertuliskan tangan ayahku: "Dia sudah keluar. Jangan buka pintu untuk siapa pun." Masalahnya, ayahku sudah meninggal tiga minggu yang lalu. --- Aku menelepon ibuku. Dia tinggal sendiri di kota lain sejak perceraian mereka sepuluh tahun lalu. Setelah nada sambung ketiga, dia menjawab dengan suara yang anehnya ceria. "Nak, ada apa?" "Topi merah ayah," kataku. "Dia menyimpannya di lemari es. Itu ar...

LAPIS KETUJUH

Hujan itu tidak membasahi apa pun. Aku menyadarinya setelah setengah jam berdiri di depan jendela kafe. Air jatuh dari langit, membentuk riak di genangan aspal, tetapi ketika seorang anak laki-laki berlari melewatinya tanpa payung—rambutnya tetap kering. Seragam sekolahnya rapi. Seperti hanyalah ilusi optik yang diproyeksikan ke retina. Itu bukanlah konflik terbesarku hari ini. Konflik terbesarku adalah perempuan di seberang meja yang mengaku sebagai istriku, tetapi aku tidak pernah menikah. “Kamu lupa lagi,” katanya sambil menyeduh kopi yang tidak pernah habis. Cangkirnya selalu setengah penuh. “Ini sudah kali ketujuh aku mengingatkan.” Aku ingin percaya dia gila, tetapi foto di dompetku menunjukkan kami berdiri di depan altar—aku dalam setelan biru tua, dia dalam gaun putih, dan latar belakangnya adalah gereja yang sama persis dengan gereja di seberang jalan kafe ini. Gereja yang tutup sejak tahun 1987 karena kebakaran. Gereja yang tidak memiliki jendela kaca patri biru, tetapi di fo...