Postingan

KANTOR POS YANG MENGIRIM SURAT KE MASA LALU

Bara menemukan Kantor Pos itu setelah kehilangan rumahnya, pekerjaannya, dan kemampuannya untuk memaafkan dirinya sendiri. Kantor Pos itu berada di ujung jalan yang seharusnya buntu—tetapi jalan terus berlanjut, melengkung ke arah yang tidak ada di kompas, ke arah yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang tidak mencarinya. Di atas pintu, papan nama berkarat: KANTOR POS KELURAHAN TAK BERNAWA . Bukan "Tak Bernama". Bukan. Tak Bernawa —kata yang tidak ada di kamus Indonesia mana pun, kata yang, jika Bara coba ucapkan, terasa seperti napas yang tertahan di tenggorokan , seperti tangisan yang belum menangis , seperti surat yang belum pernah ditulis tetapi sudah tahu isinya . Di dalam, seorang pegawai tunggal—pria tua yang tidak punya bayangan di lantai, meski lampu menyala terang—duduk di balik meja kayu yang permukaannya penuh goresan tanggal. Tanggal-tanggal yang belum terjadi. Tanggal-tanggal yang sudah lewat. Tanggal-tanggal yang bersamaan . "Kami mengirim surat," k...

DIALEK YANG MENOLAK DITEMUKAN

Bahasa ibuku mati pada hari yang sama dengan ibuku. Bukan karena tidak ada yang berbicara. Bukan. Ada tiga penutur tersisa di dunia—tiga orang tua yang tinggal di tiga desa berbeda, yang tidak pernah bertemu, yang tidak pernah saling menulis, yang tidak tahu satu sama lain masih hidup. Bahasa itu mati karena ditemukan . Seorang linguistik dari universitas di utara datang dengan rekorder digital dan daftar pertanyaan standar ISO. Ia menemukan satu penutur—Nenek Suharni, di desa pegunungan yang tidak ada di peta. Ia merekam seratus jam percakapan. Ia membuat kamus. Ia menulis tesis. Ia mempresentasikan di konferensi internasional. Dan pada hari tesis itu dipublikasikan online—pada hari bahasa ibuku diberi nama, dikategorikan, dimasukkan ke basis data bahasa yang terancam punah— Nenek Suharni berhenti berbicara. Bukan karena malu. Bukan karena marah. Melainkan karena bahasa yang ditemukan bukan lagi bahasa yang bisa dihuni . Bahasa yang memiliki kamus adalah bahasa yang sudah dikubur dal...

KAMUS YANG MELAHIRKAN KATA-KATA YANG BELUM DIKATAKAN

Damar menemukan bahwa ibunya tidak mati. Ia hanya terlupakan —bukan oleh dunia, melainkan oleh bahasa . Kata "ibu" masih ada, tetapi artinya sudah bergeser. Sekarang "ibu" berarti seseorang yang pernah ada di ruangan yang sama denganmu saat kamu lahir . Bukan yang melahirkanmu . Bukan yang mencintaimu . Hanya yang kebetulan berada di sana . Dan Damar, yang berusia tujuh tahun ketika ibunya "terlupakan", sekarang berusia dua puluh delapan. Ia tidak ingat wajah ibunya. Bukan karena memori pudar, melainkan karena tidak ada kata untuk wajah itu. Wajah ibunya adalah wajah yang belum pernah dideskripsikan —dan dalam dunia di mana deskripsi adalah keberadaan, sesuatu yang tidak dideskripsikan tidak ada . Kota Damar—kota yang tidak punya nama, karena nama adalah kontrak dan kontrak bisa dilanggar—dihuni oleh orang-orang yang berbicara dengan hati-hati. Setiap kata yang diucapkan menjadi . Setiap kata yang ditahan lenyap . Bukan metafora. Bukan. Jika kamu mengata...