Postingan

KAMUS UNTUK YANG LUPA BERHENTI

Nara tidak pernah menyangka bahwa pekerjaannya sebagai penyusun kamus akan berakhir dengan dirinya terjebak di dalam kata-katanya sendiri. Itu bermula ketika ia menerima telepon dari rumah sakit pukul dua dini hari. Suara perawat paruh baya di seberang sana terdengar lelah, seperti orang yang sudah terlalu sering menyampaikan kabar buruk. “Selamat malam, apakah ini Nara?” “Ya. Ada apa?” “Kami menemukan seorang perempuan di taman kota. Tidak membawa identitas. Tidak bisa bicara—atau mungkin tidak mau. Namun, di telapak tangannya tertulis nama Anda. Tinta permanen. Dan di punggungnya ....” “Punggungnya?” “Ada ribuan kata. Dari leher sampai pinggang. Seperti ... seperti ensiklopedia yang ditulis di kulit. Kami pikir Anda mungkin kenal dia. Atau setidaknya bisa membantu membaca.” Nara sampai di rumah sakit setengah jam kemudian. Laki-laki itu masuk dengan langkah tergesa, jaket kulitnya masih basah oleh embun malam. Di ruang isolasi, seorang perempuan duduk di ranjang dengan punggung mengh...

NAMA YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI

Nara menggenggam pulpennya begitu erat hingga buku catatan itu nyaris robek. Laki-laki itu duduk di kursi kayu yang sama selama tiga tahun terakhir. Di hadapannya, Amira berdiri dengan tenang—terlalu tenang—seperti seseorang yang tidak sedang mempertaruhkan keberadaannya. “Kau tidak nyata,” kata Nara, suara baritonnya bergetar. “Aku yang menciptakanmu. Tiga tahun lalu, di kafe yang sama, aku menulis bab pertama tentang seorang linguis gila yang percaya bahwa bahasa adalah realitas. Itu kau, Amira.” Amira tersenyum. Bukan senyum kalah. Senyum seorang pengarang yang tahu persis bagaimana konflik ini akan berakhir dalam cerpennya. “Lucu,” balas Amira. “Karena aku justru menulis cerpen tentang kau, Nara. Seorang novelis laki-laki yang terlalu percaya diri, yang suatu hari bertemu tokoh ciptaannya dan kalah dalam perdebatan eksistensial. Dan lihat, kita ada di sini. Persis seperti yang aku tulis.” Keduanya terdiam. Ruang di antara mereka bukan ruang fisik biasa. Ia berdenyut seperti paragra...

SUARA YANG TIDAK PERNAH MAMPIR

Nara tidak pernah percaya pada kebetulan. Laki-laki itu bekerja sebagai teknisi radio di stasiun pemancar SW ( short wave ) yang sudah usang di pinggiran kota. Setiap malam, dari pukul sepuluh hingga pukul dua dini hari, tugasnya hanya satu: memastikan frekuensi 6.225 kHz tetap hidup. Bukan karena ada yang mendengarkan. Sudah bertahun-tahun tidak ada laporan masuk dari pendengar. Namun, aturan dari dinas pos dan telekomunikasi mengatakan: stasiun pemancar dengan izin siaran harus tetap mengudara, meskipun hanya siaran statis dan bunyi detak jam. Malam itu, seperti biasa, Nara duduk di kursi putar yang sudah keropos. Headphone besar menempel di telinganya. Di meja di depannya, secangkir kopi dingin dan buku catatan berisi hitungan mundur menuju pensiunnya stasiun ini—tiga bulan lagi. Ia memutar kenop. Frekuensi 6.225. Statis. Desis. Lalu, di antara desis itu, sesuatu yang tidak seharusnya ada. Suara. Bukan suara penyiar. Bukan pula suara siaran ulang. Suara itu pelan, seperti orang yan...