KAMAR 703
Saya menerima kunci kamar 703, padahal hotel ini hanya punya 6 lantai. Resepsionis tersenyum. Gigi depannya berlubang kecil—lubang yang sedetik lalu tidak ada. Saya berkedip. Lubang itu menghilang. Lalu muncul lagi. Seperti lampu kedip di mesin pencetak struk yang rusak. "Selamat menginap, Pak," katanya. Suaranya seperti suara istri saya yang sudah meninggal dua tahun lalu, tetapi resepsionis ini laki-laki. Saya tidak bertanya. Saya sudah lelah bertanya. Hidup terakhir ini rasanya hanya rangkaian pertanyaan yang tidak pernah sampai ke jawaban. Saya memasukkan kunci elektronik ke saku—bentuknya bukan kartu, melainkan koin logam dengan ukiran burung yang sedang terbakar. Saya memutuskan untuk tidak peduli. Namun, di pintu lift, sebuah tangan mencekal pergelangan saya. "Jangan naik ke 703." Perempuan itu. Rambutnya pendek, poni tidak rata, seolah dipotong dengan mata tertutup. Matanya hitam, tetapi tidak seperti warna hitam pada umumnya—hitam ini berkedip. Seperti ada ...