TIGA BAHASA UNTUK KEMATIAN Aru menemukan bahwa ibunya telah mati dua kali. Pertama, kemarin pagi, ketika ibu berhenti bernapas di rumah sakit. Kedua, lima menit yang lalu, ketika Aru menyadari bahwa ia tidak dapat mengingat nama ibunya. Bukan hanya nama—seluruh kata untuk "ibu" telah lenyap dari kepalanya seperti air meresap ke pasir. Ia menatap sertifikat kematian di tangannya, di mana nama "Siti Aminah" tertulis dengan tinta biru yang kini terlihat seperti hieroglif asing. Di seberang ruang tamu, Kemala sedang mencoba menjelaskan situasi ini kepada Amira, yang baru saja tiba dengan seikat bunga krisan putih. "Jadi, ibunya mati," kata Kemala, "tetapi Aru tidak bisa mengatakan bahwa ibunya mati, karena kata untuk 'mati' dan 'ibu' telah ...." "Menghilang," sambung Amira. "Saya mengerti. Saya pernah kehilangan kata 'rabun senja'. Sekarang, saya hanya bisa mengatakan 'waktu ketika matahari pergi untuk minum...
Postingan
ARU, KEMALA, DAN AMIRA YANG MEMASAK HUJAN
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
ARU, KEMALA, DAN AMIRA YANG MEMASAK HUJAN Dapur warung Nasi Hujan tidak punya ventilasi modern. Asap dan uap keluar melalui lubang di atap genting yang disengaja dibiarkan bolong—Aru percaya bahwa masakan harus bisa "melihat" langit sebelum disajikan. Warungnya terletak di pinggir sungai kecil yang kini hanya mengalir tiga bulan dalam setahun. Sisanya, sungai itu adalah ingatan —bekas lembap di batu-batu kering, bau tanah yang tidak pernah benar-benar kering, suara yang tidak pernah benar-benar sunyi. Hari ini, sungai kering. Langit biru tanpa awan selama empat puluh tujuh hari berturut-turut. Desa di sekitar warung mulai kehilangan kata-kata untuk hujan—anak-anak muda mengatakan "turun air" dengan nada asing, seperti orang menyebut nama nenek yang sudah lama meninggal. Aru berdiri di depan kompor kayu. Di tangannya, pisau dapur yang sudah tumpul karena sering dipakai memotong sesuatu yang lebih keras dari daging: akar-akar pengingat . Akar dari pohon yang tidak pu...