Postingan

STASIUN YANG TIDAK PERNAH MENGUMUMKAN KEDATANGAN

Kereta terakhir tiba pukul 23.47, tetapi Bara sudah berdiri di peron sejak pukul 19.00. Ia tidak menunggu siapa-siapa. Ia menunggu pengumuman —suara dari sepiker gantung yang selalu berbohong, yang selalu mengatakan "kereta akan tiba" padahal kereta sudah lewat, yang selalu mengatakan "penumpang turun" padahal peron kosong melompong seperti mulut orang yang lupa bahwa ia punya lidah. Bara bekerja sebagai petugas pengumuman. Bukan pengumuman kedatangan, bukan. Stasiun ini tidak punya sistem untuk itu. Ia mengumumkan kepergian —kepergian yang belum terjadi, kepergian yang mungkin tidak akan pernah terjadi, kepergian yang terjadi begitu saja tanpa ada yang pergi. "Perhatian, perhatian," suaranya bergema di ruang tunggu yang berisi tiga bangku kayu dan satu nenek yang selalu merajut sesuatu yang tidak pernah jadi. "Kereta api Seribu Bayangan akan diberangkatkan dari jalur tujuh. Penumpang yang akan berangkat, silakan tidak naik." Nenek itu tidak mend...

KANTOR POS YANG MENGIRIM SURAT KE MASA LALU

Bara menemukan Kantor Pos itu setelah kehilangan rumahnya, pekerjaannya, dan kemampuannya untuk memaafkan dirinya sendiri. Kantor Pos itu berada di ujung jalan yang seharusnya buntu—tetapi jalan terus berlanjut, melengkung ke arah yang tidak ada di kompas, ke arah yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang tidak mencarinya. Di atas pintu, papan nama berkarat: KANTOR POS KELURAHAN TAK BERNAWA . Bukan "Tak Bernama". Bukan. Tak Bernawa —kata yang tidak ada di kamus Indonesia mana pun, kata yang, jika Bara coba ucapkan, terasa seperti napas yang tertahan di tenggorokan , seperti tangisan yang belum menangis , seperti surat yang belum pernah ditulis tetapi sudah tahu isinya . Di dalam, seorang pegawai tunggal—pria tua yang tidak punya bayangan di lantai, meski lampu menyala terang—duduk di balik meja kayu yang permukaannya penuh goresan tanggal. Tanggal-tanggal yang belum terjadi. Tanggal-tanggal yang sudah lewat. Tanggal-tanggal yang bersamaan . "Kami mengirim surat," k...

DIALEK YANG MENOLAK DITEMUKAN

Bahasa ibuku mati pada hari yang sama dengan ibuku. Bukan karena tidak ada yang berbicara. Bukan. Ada tiga penutur tersisa di dunia—tiga orang tua yang tinggal di tiga desa berbeda, yang tidak pernah bertemu, yang tidak pernah saling menulis, yang tidak tahu satu sama lain masih hidup. Bahasa itu mati karena ditemukan . Seorang linguistik dari universitas di utara datang dengan rekorder digital dan daftar pertanyaan standar ISO. Ia menemukan satu penutur—Nenek Suharni, di desa pegunungan yang tidak ada di peta. Ia merekam seratus jam percakapan. Ia membuat kamus. Ia menulis tesis. Ia mempresentasikan di konferensi internasional. Dan pada hari tesis itu dipublikasikan online—pada hari bahasa ibuku diberi nama, dikategorikan, dimasukkan ke basis data bahasa yang terancam punah— Nenek Suharni berhenti berbicara. Bukan karena malu. Bukan karena marah. Melainkan karena bahasa yang ditemukan bukan lagi bahasa yang bisa dihuni . Bahasa yang memiliki kamus adalah bahasa yang sudah dikubur dal...