Postingan

Rumah yang Jatuh ke Dalam Diri Sendiri

Masalahnya bukan pada rumah itu yang tiba-tiba hilang dari muka bumi. Masalahnya adalah rumah itu jatuh ke dalam —seperti kain yang ditarik ke pusaran air, seperti kertas yang dihisap ke dalam tinta—dan di dalam rumah itu, masih ada Aru dan Kemala, kakak-beradik yang sejak kecil tidak pernah akur, kini terjebak bersama di ruang tamu yang lantainya berubah menjadi langit-langit, sementara langit-langit menjadi lantai, dan semua pintu mengarah ke lorong yang tidak pernah berujung. "Siapa yang harus kita salahkan?" tanya Aru, sambil menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke atas. Gravitasi di sini kacau. Kadang ia terlempar ke dinding, kadang ke jendela. Kadang ia merasa berdiri padahal ia bergelantungan. "Kita salahkan dirimu," jawab Kemala dingin. "Kau yang membawa pulang kotak aneh itu minggu lalu. Aku bilang jangan dibuka. Tapi kau dengar? Tidak. Kau selalu tidak pernah mendengarku." Kotak itu kini terbuka di tengah ruangan, mengambang di udara tanpa dasar. Da...

Negeri Tanpa Tuhan

Hukuman mati di negeri ini bukan dengan tali gantung, kursi listrik, atau suntikan mematikan. Hukuman mati di sini adalah diam paksa . Terpidana disumpal mulutnya dengan tanah liat yang dikeraskan, lalu diikat di tiang pusat kota. Tidak ada yang boleh berbicara dengannya. Tidak ada yang boleh mendekat. Ia mati bukan karena lapar atau haus—tapi karena di negeri tanpa Tuhan, satu-satunya yang membuat manusia tetap hidup adalah suara manusia lain . Dan ketika tidak ada lagi yang mendengar isaknya, ia perlahan-lahan berubah menjadi patung tanah liat. Mati. Sunyi. Sempurna. Petrus adalah algojo terbaik di negeri ini. Bukan karena ia kejam, tapi karena ia tidak pernah ragu. Tiga puluh tahun bekerja, tiga ratus nyawa telah ia diamkan . Ia tidak pernah mempersoalkan perintah. Ia hanya percaya bahwa negeri ini membutuhkan ketertiban, dan ketertiban membutuhkan keheningan dari mereka yang berani membuka mulut melawan hukum. Sampai hari itu. Sampai ia melihat nama terpidana berikutnya di atas sur...

RADIO YANG TIDAK PERNAH MATI

RADIO YANG TIDAK PERNAH MATI Sebuah Cerpen Absurdisme Gelap --- PEMBUKAAN Radio tua di pojok ruang keluarga itu menyala sejak tiga puluh tahun lalu dan tidak pernah bisa dimatikan. Bukan rusak. Tombol power-nya bekerja sempurna. Volume bisa dinaikkan dan diturunkan. Frekuensi bisa diganti. Tapi setiap kali seseorang menekan tombol mati, radio itu akan terdiam tepat tiga detik, lalu menyala kembali dengan suara yang sedikit lebih keras dari sebelumnya. Keluarga itu sudah menyerah. Ayah membiarkannya menyala sepanjang malam. Ibu tidur dengan bantal menutup kepala. Anak pertama pindah ke kota lain. Anak kedua belajar hidup dengan dengungan konstan yang kini terasa seperti detak jantung kedua. Tapi masalah sebenarnya bukan pada suaranya. Masalahnya adalah: radio itu kadang berbicara. Bukan menyiarkan berita atau lagu. Radio itu berbicara dengan suara yang tidak pernah sama dua kali. Kadang suara anak kecil, kadang suara orang tua, kadang suara yang terdengar seperti suara seseorang yang se...

ORANG KEDUA YANG TIDAK PERNAH DIUNDANG

Ruang makan keluarga itu selalu diatur untuk lima orang: Ayah, Ibu, kakak laki-laki, adik perempuan, dan satu kursi kosong di ujung meja. Kursi itu tidak pernah diduduki siapa pun. Tapi setiap malam, Anindya—perempuan berusia sembilan belas tahun yang duduk di antara kakak dan ibunya—harus meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk di depan kursi kosong itu. Sejak dia berusia tujuh tahun. Dua belas tahun. Tanpa pernah diberi alasan yang masuk akal. "Untuk siapa, Bu?" tanyanya pertama kali, dulu, dengan suara kecil. Ibunya menjawab: "Untuk orang kedua." "Orang kedua siapa?" "Kamu tahu sendiri." Anindya tidak tahu. Tapi dia berhenti bertanya setelah melihat mata ibunya—mata yang tiba-tiba kosong seperti jendela rumah terbengkalai, yang bagian dalamnya terlalu gelap untuk diterka isinya. Masalahnya bukan pada ritual itu. Masalahnya adalah: setiap kali Anindya melupakan kursi kosong itu—hanya sekali, karena dia sedang demam, atau karena dia terlalu...