KAMUS YANG MENGGUGAT PEMILIKNYA
KAMUS YANG MENGGUGAT PEMILIKNYA Judul ini merujuk pada sebuah kamus tua yang, pada suatu pagi, menolak untuk didefinisikan sebagai benda mati. Ia menggugat pemiliknya bukan di pengadilan, melainkan di ranah yang lebih berbahaya: makna. Pagi itu, Aru membuka kamusnya dan menemukan sebuah kalimat yang tidak pernah ia tulis: PEMILIK: seseorang yang percaya ia memiliki, padahal hanya dimiliki oleh kata-kata yang ia gunakan. Aru menutup kamus itu pelan-pelan. Sebagai leksikografer di kota kecil yang lebih sering kehilangan nama jalan daripada membangun jalan baru, Aru hidup dari merawat makna. Ia percaya, dengan keyakinan yang hampir religius, bahwa dunia ini bisa ditertibkan jika kata-katanya dibereskan. Namun, pagi itu, kata-kata tampaknya sedang membereskan dirinya. Ia membuka kembali halaman tadi. Kalimat itu masih ada. Ia menyentuh kertasnya. Nyata. Tidak ada tinta basah. Tidak ada bekas coretan. Seolah kalimat itu memang sudah ada sejak kamus itu dicetak dua puluh tahun lalu, hanya sa...