Postingan

Tentu. Berikut beberapa arsip baru dengan dialog di bagian-bagian tertentu. --- ARSIP NOMOR 7: PENJAGA MALAM Ia diwawancarai untuk posisi penjaga malam di gedung arsip kota. Wawancara berlangsung di ruang bawah tanah, di bawah lampu neon yang berkedip, di depan meja logam yang terlalu dingin untuk bulan Juni. "Kau pernah bekerja sebagai penjaga malam sebelumnya?" "Pernah." "Di mana?" "Di sini." Pewawancara—seorang pria botak bernama Heru—melihat lamaran di depannya. "Tidak ada catatan kau pernah bekerja di sini." "Itu karena kau yang tidak mencatatnya. Atau kau yang lupa. Atau kau yang memilih untuk tidak ingat." Heru mendongak. Pelamar itu—sebut saja ia M, tanpa nama, tanpa riwayat, tanpa apa pun di berkas kecuali alamat yang tidak dikenali peta—menatapnya dengan mata yang tidak berkedip. Bukan menatap—menunggu. Seperti matanya adalah dua pintu yang terbuka ke koridor yang sama dengan koridor di belakang Heru, koridor yang me...
 Baik. Berikut beberapa cerpen dengan tema dan wacana yang berbeda dari sebelumnya. --- PERPUSTAKAAN KEBISINGAN Di kota kami, ada perpustakaan yang tidak boleh dimasuki. Bukan karena terlarang—karena tidak ada pintunya. Ia berdiri di tengah alun-alun, enam lantai kaca dan baja, berkilau di siang hari, menyala di malam hari. Orang bisa melihat ke dalam dari luar, melihat rak-rak yang penuh, melihat buku-buku yang tersusun rapi, melihat tangga spiral yang melingkar dari lantai satu ke lantai enam tanpa putus. Tapi tidak ada pintu. Tidak ada jendela yang bisa dibuka. Tidak ada celah. Kota kami bukan kota besar. Alun-alun itu biasanya sepi kecuali hari Minggu. Tapi perpustakaan itu selalu punya pengunjung—bukan pengunjung, penonton. Orang-orang yang berdiri di luar, menempelkan wajah ke kaca, mencoba membaca judul buku dari jarak tiga meter. Mencoba mengerti kenapa perpustakaan ini dibangun tanpa jalan masuk. Kenapa setiap malam lampunya menyala. Kenapa setiap pagi, kalau kau datang cu...
KOTA YANG DIHUNI OLEH NAMA-NAMA --- Bagian Satu: Kedatangan Kota itu tidak ada di peta. Aku menemukannya secara tidak sengaja—jika kata "tidak sengaja" bisa dipakai untuk sesuatu yang mungkin memang menungguku. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari pemakaman ayahku ketika bus yang kutumpangi berhenti di terminal yang tidak kukenali. Bukan terminal yang ramai—hanya satu bangunan rendah dengan atap seng, satu bangku kayu yang sudah lapuk, dan satu papan nama yang tulisannya sudah pudar: SELAMAT DATANG DI KOTA— Nama kotanya tidak terbaca. Entah sengaja dihapus, entah termakan waktu. "Terminal apa ini?" tanyaku pada sopir bus, seorang lelaki tua dengan kacamata tebal dan tangan yang bergetar pelan di kemudi. "Terminal terakhir. Semua turun di sini." "Aku tidak beli tiket ke sini." "Siapa bilang kau beli tiket? Kau naik, aku antar. Sekarang turun." Aku turun. Bukan karena patuh—karena penasaran. Atau karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang ...
KOTA YANG PENDUDUKNYA TIDAK BISA LAGI MELIHAT WARNA Awalnya, tidak ada yang menyadari. Hilangnya warna terjadi begitu perlahan, begitu halus, seperti embun yang menguap saat pagi berganti siang. Satu per satu, pigmen memudar dari dunia, dan satu per satu pula mata manusia berhenti menerjemahkannya. Yang pertama hilang adalah merah delima. Seminggu kemudian, biru langit. Lalu kuning, hijau, jingga, ungu, dan akhirnya semua warna yang pernah punya nama. Prosesnya memakan waktu tiga bulan, dan selama tiga bulan itu, tak seorang pun berteriak, tak seorang pun turun ke jalan, tak seorang pun menuntut penjelasan. Karena dunia tidak berubah secara drastis—hanya secara bertahap, seperti pasien yang kehilangan pendengaran secara perlahan hingga suatu hari menyadari bahwa ia telah tuli tanpa tahu kapan tepatnya ia menjadi tuli. --- Namaku Sena. Aku bekerja sebagai kurator di museum seni kota. Pekerjaanku, secara teknis, sudah tidak relevan lagi. Akan tetapi museum tetap buka, dan aku tetap datan...