KACA YANG MENGHAKIMI
Di sebuah ruangan tanpa jendela, seorang pria bernama Arman menatap cermin dan menyadari bayangannya tidak lagi mengikutinya. Detik itu juga, bayangan di cermin tersenyum kepadanya—sementara wajah Arman sendiri tetap datar. Bayangan itu kemudian mengangkat tangan dan menunjuk ke arah ranjang. Arman menoleh. Istrinya, Lastri, tertidur pulas dengan posisi yang persis sama seperti saat ia tinggalkan dua jam lalu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk guling. Dan di lehernya, ada garis merah berbentuk bulan sabit. Arman mundur selangkah. Bayangan di cermin menggeleng pelan. Lalu berbisik tanpa suara, membentuk kata-kata yang bisa Arman baca di bibirnya: Kau tahu apa yang harus kau lakukan. --- Tiga jam sebelumnya, Arman duduk di ruang tamu. Lastri baru saja melempar piring ke lantai. “Aku tidak gila!” teriaknya. “Berhenti memperlakukanku seperti pasien!” Arman memunguti pecahan piring. “Kau lihat sendiri pecahan ini, bukan? Ini nyata. Namun, kau selalu bilang pecahan ini cuma ada...