Postingan

KACA YANG MENGHAKIMI

Di sebuah ruangan tanpa jendela, seorang pria bernama Arman menatap cermin dan menyadari bayangannya tidak lagi mengikutinya. Detik itu juga, bayangan di cermin tersenyum kepadanya—sementara wajah Arman sendiri tetap datar. Bayangan itu kemudian mengangkat tangan dan menunjuk ke arah ranjang. Arman menoleh. Istrinya, Lastri, tertidur pulas dengan posisi yang persis sama seperti saat ia tinggalkan dua jam lalu. Rambutnya tergerai di bantal, tangannya memeluk guling. Dan di lehernya, ada garis merah berbentuk bulan sabit. Arman mundur selangkah. Bayangan di cermin menggeleng pelan. Lalu berbisik tanpa suara, membentuk kata-kata yang bisa Arman baca di bibirnya: Kau tahu apa yang harus kau lakukan. --- Tiga jam sebelumnya, Arman duduk di ruang tamu. Lastri baru saja melempar piring ke lantai. “Aku tidak gila!” teriaknya. “Berhenti memperlakukanku seperti pasien!” Arman memunguti pecahan piring. “Kau lihat sendiri pecahan ini, bukan? Ini nyata. Namun, kau selalu bilang pecahan ini cuma ada...

RUANG TUNGGU DI ANTARA DUA KEMATIAN

RUANG TUNGGU DI ANTARA DUA KEMATIAN Seorang perempuan bernama Seda menemukan surat dari dirinya sendiri yang belum pernah ia tulis. Amplop itu berwarna krem dengan tulisan tangan yang tidak bisa disangkal miliknya—lengkungan huruf 'S' yang selalu terlalu besar, cara ia menulis 'a' yang hampir menyerupai 'o'. Akan tetapi, ia tidak ingat pernah menulisnya. Tidak ingat pernah membeli amplop krem. Tidak ingat pernah menyegel sesuatu dengan lak merah yang kini mengelupas di ujung jarinya. Yang lebih mengerikan: surat itu beralamat ke rumah duka. Untuk Seda, di antara dua kematian. Ia membuka surat itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya hanya ada satu kalimat, ditulis dengan tinta hitam yang masih basah: "Jangan percaya suamimu. Ia akan membunuhmu pukul 11 malam. Namun, itu lebih baik daripada yang akan terjadi pukul 12." --- Dua belas jam sebelumnya, Seda duduk di ruang tamu sembari memandangi suaminya, Baran, yang sedang menyeduh teh. Gerakannya tenang. Te...

RUMAH YANG MEMAKAN PENGHUNINYA

RUMAH YANG MEMAKAN PENGHUNINYA Seorang anak laki-laki bernama Bara menerima pesan dari ibunya yang sudah meninggal tujuh tahun lalu. Pesan itu muncul di ponselnya pukul tiga dini hari, saat hujan mengguyur atap seng rumah kontrakannya. Sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah lama tidak aktif, nomor yang dulu ia hapus dari kontak karena setiap kali melihatnya, dadanya terasa diremas sesuatu yang tidak kasatmata. "Bara, jangan pulang ke rumah besok. Apa pun yang terjadi, jangan pulang." Di luar, hujan semakin deras. Akan tetapi, bukan suara hujan yang membuat Bara membeku, melainkan fakta bahwa ia tidak pernah memberi tahu siapa pun—siapa pun—bahwa ia berencana pulang ke rumah masa kecilnya besok. Itu keputusan mendadak. Dibuat satu jam yang lalu. Setelah ia menerima telepon dari seorang pengacara yang memberitahukan bahwa rumah itu akhirnya resmi menjadi miliknya. Rumah yang ditinggalkannya sejak usia dua belas tahun. Rumah tempat ibunya ditemukan tergantung di ruang tengah...
Negeri yang Menanam Gelar (Cerpen Komikal-Satirik Anak-Anak Hiperbolis dan Metaforikal) Di balik Pegunungan Permen Karet, terdapat sebuah negeri bernama Sertifikasia. Di sana orang-orang tidak menanam jagung. Tidak menanam padi. Tidak menanam semangka. Mereka menanam gelar. Ya, gelar. Gelar tumbuh di pohon. Doktor tumbuh di cabang bawah. Profesor tumbuh di cabang atas. Sementara gelar yang sangat panjang harus dipanen menggunakan helikopter. Penduduk Sertifikasia sangat bangga. Mereka berjalan sambil membawa sepuluh gelar. Dua puluh gelar. Empat puluh gelar. Bahkan ada seekor kambing yang memiliki gelar lebih banyak daripada jumlah giginya. Suatu hari, seekor anak bernama Dodo bertanya: "Apa yang dilakukan gelar-gelar itu?" Warga terdiam. Mereka belum pernah memikirkannya. Mereka hanya sibuk mengumpulkannya. Malam itu, Dodo melihat seekor burung tua yang tak punya satu gelar pun. Namun burung itu tahu kapan hujan datang. Tahu cara menemukan jalan pulang. Tahu cara membantu an...