TEACH ME HOW TO DREAM: BELAJAR MEMIMPIKAN DUNIA YANG BELUM PERNAH ADA Pada permukaan, "Teach Me How to Dream" terdengar seperti sebuah lagu cinta yang sederhana. Melodinya hangat, liriknya mudah dipahami, dan keseluruhan atmosfernya khas adult-oriented rock awal 1990-an: romantis, optimistis, dan penuh harapan. Namun, apabila dibaca secara lebih perlahan, lagu ini menyimpan sebuah gagasan yang jauh lebih menarik daripada sekadar kisah jatuh cinta. Lagu ini sebenarnya berbicara tentang ketidakmampuan seseorang membayangkan kemungkinan-kemungkinan hidup, lalu menemukan orang lain yang membuka kembali kapasitas imajinasinya. Yang menarik, kata kerja utama dalam lagu ini bukanlah love, need, ataupun want. Kata yang menjadi poros seluruh narasi justru adalah teach—ajarkanlah. Dengan demikian, hubungan yang dibangun lagu ini bukan pertama-tama hubungan romantis, melainkan hubungan pedagogis. Sang aku-lirik bukan meminta untuk dicintai. Ia meminta untuk belajar. Mimpi di sini bukan ...
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
DEWA YANG TIDAK PERCAYA PADA KAMUS Di puncak gunung paling sunyi tinggal seorang dewa yang tidak pernah membaca kamus. Para dewa lain mengejeknya. "Bagaimana mungkin engkau menjaga bahasa jika tidak hafal arti kata?" Ia hanya tersenyum. Lalu memanggil dua manusia. Kepada yang pertama ia berkata, "Aku datang." Orang itu menangis. Kepada yang kedua ia mengucapkan kalimat yang sama, "Aku datang." Orang itu gemetar ketakutan. Para dewa kebingungan. Bukankah kata-katanya sama? Dewa itu mengangguk. "Kata memang sama." "Tetapi keadaanlah yang mengubahnya." Sejak hari itu ia berjalan mengelilingi bumi. Ia tidak mengumpulkan kata. Ia mengumpulkan situasi. Ia menyimpan senja ketika permintaan maaf terlambat diucapkan. Ia menyimpan pagi ketika ucapan selamat tinggal ternyata benar-benar yang terakhir. Ia menyimpan ruang tunggu rumah sakit, meja makan keluarga, bangku taman, peron kereta, dan serambi rumah duka. Di setiap tempat itu, kata-kata berg...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Katalis yang Tidak Pernah Diketahui Namanya” Pada mulanya tidak ada makna, hanya kemungkinan reaksi. Dunia tidak dibangun dari benda, melainkan dari afinitas—dari kecenderungan hal-hal untuk saling mendekat tanpa alasan yang dapat dijelaskan selain bahwa mereka bisa. Kau menyebutnya hidup, tetapi para ahli kimia purba menyebutnya campuran yang belum sempat stabil. Di dalamnya, setiap pertemuan adalah tabrakan energi: molekul-molekul kecil yang saling menyentuh seperti ingatan yang lupa apakah ia pernah terjadi. Ada reaksi yang melepaskan panas, dan kau menyebutnya cinta. Ada reaksi yang menyerap energi dari sekitarnya, dan kau menyebutnya kehilangan. Namun kedua istilah itu tidak pernah benar-benar cocok, sebab sistem tidak mengenal nama—ia hanya mengenal perubahan keadaan. Seorang manusia, dalam laboratorium yang tidak memiliki dinding, berjalan sebagai larutan yang terus menguap dan mengembun sekaligus. Ia membawa dalam dirinya ion-ion masa lalu: percakapan yang belum selesai, keput...