STASIUN YANG TIDAK PERNAH MENGUMUMKAN KEDATANGAN
Kereta terakhir tiba pukul 23.47, tetapi Bara sudah berdiri di peron sejak pukul 19.00. Ia tidak menunggu siapa-siapa. Ia menunggu pengumuman —suara dari sepiker gantung yang selalu berbohong, yang selalu mengatakan "kereta akan tiba" padahal kereta sudah lewat, yang selalu mengatakan "penumpang turun" padahal peron kosong melompong seperti mulut orang yang lupa bahwa ia punya lidah. Bara bekerja sebagai petugas pengumuman. Bukan pengumuman kedatangan, bukan. Stasiun ini tidak punya sistem untuk itu. Ia mengumumkan kepergian —kepergian yang belum terjadi, kepergian yang mungkin tidak akan pernah terjadi, kepergian yang terjadi begitu saja tanpa ada yang pergi. "Perhatian, perhatian," suaranya bergema di ruang tunggu yang berisi tiga bangku kayu dan satu nenek yang selalu merajut sesuatu yang tidak pernah jadi. "Kereta api Seribu Bayangan akan diberangkatkan dari jalur tujuh. Penumpang yang akan berangkat, silakan tidak naik." Nenek itu tidak mend...