Postingan

KAMAR 703

Saya menerima kunci kamar 703, padahal hotel ini hanya punya 6 lantai. Resepsionis tersenyum. Gigi depannya berlubang kecil—lubang yang sedetik lalu tidak ada. Saya berkedip. Lubang itu menghilang. Lalu muncul lagi. Seperti lampu kedip di mesin pencetak struk yang rusak. "Selamat menginap, Pak," katanya. Suaranya seperti suara istri saya yang sudah meninggal dua tahun lalu, tetapi resepsionis ini laki-laki. Saya tidak bertanya. Saya sudah lelah bertanya. Hidup terakhir ini rasanya hanya rangkaian pertanyaan yang tidak pernah sampai ke jawaban. Saya memasukkan kunci elektronik ke saku—bentuknya bukan kartu, melainkan koin logam dengan ukiran burung yang sedang terbakar. Saya memutuskan untuk tidak peduli. Namun, di pintu lift, sebuah tangan mencekal pergelangan saya. "Jangan naik ke 703." Perempuan itu. Rambutnya pendek, poni tidak rata, seolah dipotong dengan mata tertutup. Matanya hitam, tetapi tidak seperti warna hitam pada umumnya—hitam ini berkedip. Seperti ada ...

BAHASA IBU

Telepon genggam Aru bergetar. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal. Selamat siang, Aru. Maaf mengganggu. Saya Amira. Kita tidak saling kenal, tetapi saya rasa, secara biologis, kita bersaudara. Ibu kita sama. Aru membaca pesan itu berulang-ulang. Jari-jemarinya membeku di atas meja kerja. Ia baru saja selesai rapat di kantor penerbitan tempatnya bekerja sebagai penyunting senior. Meja kerjanya penuh naskah, tumpukan kertas yang mestinya ia baca hari ini. Namun, satu kalimat itu melubangi seluruh konsentrasinya. Ia melepas kacamatanya, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Kalimat "Ibu kita sama" adalah sebuah proposisi. Dalam linguistik, proposisi memiliki nilai kebenaran: benar atau salah. Akan tetapi, bagaimana membuktikan nilai kebenaran kalimat ini tanpa menghancurkan hidupnya sendiri? Ibunya—Salma—adalah perempuan yang membesarkannya seorang diri. Ayahnya meninggal sebelum ia lahir, begitu cerita yang ia terima selama tiga puluh dua tahun. Sebagai anak laki-laki...

KAMUS UNTUK YANG LUPA BERHENTI

Nara tidak pernah menyangka bahwa pekerjaannya sebagai penyusun kamus akan berakhir dengan dirinya terjebak di dalam kata-katanya sendiri. Itu bermula ketika ia menerima telepon dari rumah sakit pukul dua dini hari. Suara perawat paruh baya di seberang sana terdengar lelah, seperti orang yang sudah terlalu sering menyampaikan kabar buruk. “Selamat malam, apakah ini Nara?” “Ya. Ada apa?” “Kami menemukan seorang perempuan di taman kota. Tidak membawa identitas. Tidak bisa bicara—atau mungkin tidak mau. Namun, di telapak tangannya tertulis nama Anda. Tinta permanen. Dan di punggungnya ....” “Punggungnya?” “Ada ribuan kata. Dari leher sampai pinggang. Seperti ... seperti ensiklopedia yang ditulis di kulit. Kami pikir Anda mungkin kenal dia. Atau setidaknya bisa membantu membaca.” Nara sampai di rumah sakit setengah jam kemudian. Laki-laki itu masuk dengan langkah tergesa, jaket kulitnya masih basah oleh embun malam. Di ruang isolasi, seorang perempuan duduk di ranjang dengan punggung mengh...