Postingan

SUARA YANG TIDAK PERNAH MAMPIR

Nara tidak pernah percaya pada kebetulan. Laki-laki itu bekerja sebagai teknisi radio di stasiun pemancar SW ( short wave ) yang sudah usang di pinggiran kota. Setiap malam, dari pukul sepuluh hingga pukul dua dini hari, tugasnya hanya satu: memastikan frekuensi 6.225 kHz tetap hidup. Bukan karena ada yang mendengarkan. Sudah bertahun-tahun tidak ada laporan masuk dari pendengar. Namun, aturan dari dinas pos dan telekomunikasi mengatakan: stasiun pemancar dengan izin siaran harus tetap mengudara, meskipun hanya siaran statis dan bunyi detak jam. Malam itu, seperti biasa, Nara duduk di kursi putar yang sudah keropos. Headphone besar menempel di telinganya. Di meja di depannya, secangkir kopi dingin dan buku catatan berisi hitungan mundur menuju pensiunnya stasiun ini—tiga bulan lagi. Ia memutar kenop. Frekuensi 6.225. Statis. Desis. Lalu, di antara desis itu, sesuatu yang tidak seharusnya ada. Suara. Bukan suara penyiar. Bukan pula suara siaran ulang. Suara itu pelan, seperti orang yan...

PETA YANG TIDAK PERNAH DIGUNAKAN

Nara tidak pernah mengira bahwa peta akan mengkhianatinya. Laki-laki itu adalah seorang kartografer. Pekerjaannya menggambar peta. Bukan peta digital yang bisa diperbesar dan diperkecil dengan ujung jari, melainkan peta kertas. Peta yang digambar dengan tinta, penggaris, dan kesabaran yang tidak masuk akal. Selama dua puluh tiga tahun, ia telah menggambar lebih dari empat ratus peta. Peta kota. Peta provinsi. Peta jalur kereta api yang sudah tidak beroperasi. Peta sungai yang berubah arah karena banjir. Peta wilayah yang tidak pernah dikunjungi siapa pun karena tidak ada jalan menuju ke sana. Namun, ada satu peta yang tidak pernah selesai. Peta itu tergantung di dinding ruang kerjanya, ditutupi kain putih. Setiap pagi, Nara membuka kain itu, memandang peta tersebut selama tepat sepuluh menit, lalu menutupnya kembali. Tidak pernah ia menambahkan satu garis pun. Tidak pernah ia menghapus satu titik pun. Peta itu sudah dalam keadaan yang sama sejak delapan tahun lalu. Peta itu adalah peta...

RITUS NAMA YANG HILANG

Di desa adat Wengi, nama seseorang bukanlah pemberian orang tua, melainkan hasil tabungan dari seluruh perbuatan baik dan buruk yang pernah dilakukan oleh desa itu sendiri selama seratus tahun terakhir. Ketika seorang anak lahir, para tetua akan membuka Lontar Karma—kitab suci yang tidak berisi doa, tetapi catatan utang-piutang moral kolektif—lalu menghitung: seberapa besar dosa desa yang harus ditebus dengan nama anak ini? Semakin berat dosa desa, semakin buruk nama yang akan disandang anak itu selama hidupnya. Nama buruk bukanlah sekadar ejekan. Nama adalah doa yang terkutuk. Seorang anak yang dinamai Genduk Rimpang akan tumbuh dengan kulit keropos seperti umbi busuk. Anak yang dinamai Jaka Sangsaya akan selalu ragu dalam setiap keputusan, bahkan untuk memilih makan pagi dengan nasi atau lauk. Anak yang dinamai Laras Ati hatinya akan selalu sakit, bukan karena penyakit, melainkan karena namanya sendiri meracuni dadanya setiap kali dipanggil. Dan seorang anak yang dinamai Aji Muspr...