WARUNG YANG MENJUAL SISA PERCAKAPAN Judul ini merujuk pada sebuah warung kecil di sudut pasar yang tidak menjual makanan atau minuman, tetapi potongan-potongan percakapan orang lain—dan konflik sudah hadir sejak awal: ketika tokoh utama menyadari bahwa kalimat yang ia beli di sana mungkin lebih menentukan hidupnya daripada pengalaman yang benar-benar ia jalani. Aru pertama kali melihat papan itu saat hujan turun tipis seperti orang yang ragu menangis. Di antara kios sayur dan tukang kunci, ada warung sempit dengan tulisan tangan di atas karton: DIJUAL: SISA PERCAKAPAN. MURAH. Aru mengira itu lelucon. Akan tetapi, di dalamnya, seorang perempuan tua duduk di balik meja kayu. Di atas meja, bukan barang dagangan, melainkan potongan kertas kecil seperti bon belanja. “Apa yang dijual, Bu?” tanya Aru, setengah bercanda. Perempuan itu mengangkat satu kertas. “Ini potongan percakapan suami-istri yang tidak sempat selesai. Ini keluhan anak kepada ayahnya yang tidak pernah diucapkan. Ini perminta...
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
TIGA BAHASA UNTUK KEMATIAN Aru menemukan bahwa ibunya telah mati dua kali. Pertama, kemarin pagi, ketika ibu berhenti bernapas di rumah sakit. Kedua, lima menit yang lalu, ketika Aru menyadari bahwa ia tidak dapat mengingat nama ibunya. Bukan hanya nama—seluruh kata untuk "ibu" telah lenyap dari kepalanya seperti air meresap ke pasir. Ia menatap sertifikat kematian di tangannya, di mana nama "Siti Aminah" tertulis dengan tinta biru yang kini terlihat seperti hieroglif asing. Di seberang ruang tamu, Kemala sedang mencoba menjelaskan situasi ini kepada Amira, yang baru saja tiba dengan seikat bunga krisan putih. "Jadi, ibunya mati," kata Kemala, "tetapi Aru tidak bisa mengatakan bahwa ibunya mati, karena kata untuk 'mati' dan 'ibu' telah ...." "Menghilang," sambung Amira. "Saya mengerti. Saya pernah kehilangan kata 'rabun senja'. Sekarang, saya hanya bisa mengatakan 'waktu ketika matahari pergi untuk minum...