Postingan

KANTOR POS YANG MENGIRIM SURAT KE DIRI SENDIRI DI MASA LALU

Aru menemukan amplop itu di laci meja kerjanya, di antara setumpuk formulir pengiriman yang tidak pernah diisi dan segel lilin yang tidak pernah meleleh. Amplop berwarna kuning gading, sudut-sudutnya melengkung seperti ingatan yang terlalu sering dipegang. Di bagian depan, tulisan tangan yang Aru kenali sebagai miliknya sendiri—tetapi lebih muda, lebih ragu, lebih hidup : Kepada: Aru, Kantor Pos No. 7, Jalan Kenangan yang Salah Nama. Dari: Aru, umur 11 tahun, SD Negeri 5, kelas 5B. Perihal: Permohonan maaf yang belum sempat diucapkan. Aru membuka amplop dengan pisau pembuka surat yang gagangnya terbuat dari tulang patah (ia tidak pernah bertanya dari tulang siapa, dan kantor pos ini tidak pernah menjawab pertanyaan yang tidak diajukan). Di dalamnya, selembar kertas milimeter bergaris, bau kapur barus dan air mata yang sudah mengering sebelum jatuh: "Aru yang besar, Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi kalau aku bilang ke Ibu bahwa aku benci dia. Ak...

STASIUN YANG TIDAK PERNAH MENGUMUMKAN KEDATANGAN

Kereta terakhir tiba pukul 23.47, tetapi Bara sudah berdiri di peron sejak pukul 19.00. Ia tidak menunggu siapa-siapa. Ia menunggu pengumuman —suara dari sepiker gantung yang selalu berbohong, yang selalu mengatakan "kereta akan tiba" padahal kereta sudah lewat, yang selalu mengatakan "penumpang turun" padahal peron kosong melompong seperti mulut orang yang lupa bahwa ia punya lidah. Bara bekerja sebagai petugas pengumuman. Bukan pengumuman kedatangan, bukan. Stasiun ini tidak punya sistem untuk itu. Ia mengumumkan kepergian —kepergian yang belum terjadi, kepergian yang mungkin tidak akan pernah terjadi, kepergian yang terjadi begitu saja tanpa ada yang pergi. "Perhatian, perhatian," suaranya bergema di ruang tunggu yang berisi tiga bangku kayu dan satu nenek yang selalu merajut sesuatu yang tidak pernah jadi. "Kereta api Seribu Bayangan akan diberangkatkan dari jalur tujuh. Penumpang yang akan berangkat, silakan tidak naik." Nenek itu tidak mend...