Postingan

ANAFORA Ruang sidang itu tidak besar, tetapi entah mengapa suara langkah sepatu hak tinggi Kemala bergema seperti di katedral. Mungkin karena dindingnya dilapisi kayu jati tua, atau mungkin karena keheningan di antara derap itu terlalu rapat, seperti kempaan udara sebelum badai menerpa. Kemala duduk di kursi tergugat. Setelan blazer abu-abunya rapi, kerudungnya biru tua. Di hadapannya, majelis hakim berjumlah tiga orang—dua lelaki, satu perempuan. Di sebelah kiri, di kursi penggugat, duduk Nara—lelaki berambut pendek dengan kacamata tebal yang membuat matanya tampak lebih besar dari seharusnya. Ia memakai setelan jas hitam yang usianya mungkin sudah sepuluh tahun, tetapi terawat dengan baik. Di kerahnya tersemat peniti kecil berbentuk huruf 'N'. Sidang baru saja dimulai, tetapi konflik sudah mencapai puncaknya bahkan sebelum hakim ketua mengetuk palu. Perkaranya tidak biasa: Nara menggugat Kemala atas tuduhan pencurian bahasa. "Penggugat, Nara Adityavarma, hadir?" tan...
KEHENINGAN KEHILANGAN BAYANGAN Keheningan memiliki sebuah bayangan. Setiap kali manusia berhenti berbicara, bayangan itu tumbuh semakin panjang. Namun dunia semakin bising. Pidato menyusul pidato. Notifikasi mengejar notifikasi. Pendapat berkembang biak lebih cepat daripada pemikiran. Suatu malam Keheningan menyadari bayangannya hilang. Ia mencarinya ke gunung. Ke laut. Ke perpustakaan. Ke rumah-rumah ibadah. Tidak ada. Akhirnya ia menemui Tuhan. "Apakah Engkau melihat bayanganku?" Tuhan bertanya balik. "Kapan terakhir kali manusia benar-benar mendengarkan?" Keheningan mencoba mengingat. Ia tidak sanggup. Sudah terlalu lama setiap telinga dipenuhi jawaban sebelum sempat melahirkan pertanyaan. Tuhan lalu membuka telapak tangan-Nya. Di sana terbaring bayangan kecil yang kurus. "Aku menemukannya di sela-sela sebuah doa." "Mengapa di sana?" "Karena orang itu berhenti berbicara sebelum selesai meminta." "Lalu?" "Ia memilih men...