Postingan

SUARA IBU DI FREKUENSI 104.7 FM

Radio itu menyala sendiri pukul 03:17 setiap pagi. Bukan alarm. Bukan timer. Hanya frekuensi 104.7 FM—stasiun yang tidak ada di daftar siaran resmi, yang tidak pernah memutar lagu, yang hanya mengeluarkan suara: napas, kadang batuk, kadang gumaman yang terdengar seperti "sayang" tetapi mungkin juga "sayang" dalam bahasa yang belum diciptakan. Arka menemukan radio itu di loteng rumah warisan kakeknya, tiga minggu setelah pemakaman. Kotak kayu berdebu, antena patah setengah, dial frekuensi macet di 104.7. Ia membawanya ke kamar, memasang baterai baru, dan menunggu. Radio itu diam siang dan sore, hidup tepat pukul 03:17, mati lagi pukul 03:23. Enam menit. Setiap malam. Tanpa gagal. Malam ketujuh, Arka mendengar kata yang jelas untuk pertama kalinya: "Jangan pergi ke kebun nanti pagi." Ia pergi. Karena ia tidak percaya pada radio hantu. Karena kebun adalah satu-satunya tempat di rumah ini yang masih terasa seperti miliknya, bukan milik kakek yang mati membawa ...

DUNIA TANPA DINDING

Dinding pertama yang hilang adalah dinding kamar mandi. Amira menemukannya pada Selasa pagi, ketika ia bangun untuk buang air dan melihat tetangganya, Pak Tarno, sedang menggosok gigi di sisi lain—yang dulunya adalah tembok keramik biru dengan motif ikan koi. Pak Tarno tidak terkejut. Ia hanya mengangguk, berkumur, dan meludah ke lantai yang kini bersambung dengan lantai kamar mandi Amira, tanpa batas, tanpa sudut, hanya kontinuitas keramik putih yang mengkilap sampai ke cakrawala. "Sudah lama saya tunggu," kata Pak Tarno, seolah ini janji temu yang terlambat. "Dinding itu memisahkan kita dari kebenaran." Amira ingin berteriak, tetapi suaranya keluar sebagai bunyi piano yang tidak pernah ia mainkan—nada mi yang panjang dan melengking, terdengar dari mulutnya, tetapi berasal dari dada. Di sekitarnya, dinding-dinding lain mulai bergetar. Bukan runtuh. Bukan hancur. Melainkan menarik diri , seperti kulit ulang yang mengelupas sendiri, menampakkan daging yang bukan dag...

NEGERI PARA JIN

NEGERI PARA JIN Peta itu ditemukan di dalam dada ayahnya, terlipat rapi di antara tulang rusuk yang patah, ketika Saka menurunkan jenazah dari pohon randu. Peta menuju Negeri Para Jin—tempat di mana permohonan dikabulkan, di mana orang mati bisa hidup kembali, di mana hukum alam dibayar dengan sesuatu yang lebih berharga dari nyawa manusia. Saka menatap peta di tangannya, lalu menatap jenazah ayahnya yang terhampar di tanah kering. Ayahnya mati karena gantung diri. Bukan karena putus asa, melainkan karena menolak. Menolak pergi ke Negeri Para Jin untuk meminta sesuatu yang sudah lama menjadi rahasia keluarga mereka: ibu Saka tidak meninggal saat melahirkannya seperti yang selalu dikatakan ayah. Ibu Saka ditukar. Ditukar dengan nyawanya sendiri oleh ayahnya yang dulu, dalam keputusasaan yang sama yang kini meracuni Saka. Ayahnya memilih mati daripada melakukannya lagi. Membiarkan Saka tumbuh tanpa ibu, tanpa ayah, tanpa siapa pun—tetapi hidup. Bebas dari utang para jin. Namun, Saka baru...

AIR MATA DI UJUNG JALAN

Langit masih kelabu ketika Sari berdiri di depan gerbang rumah sakit jiwa, tangan kanannya menggenggam surat putusan pengadilan yang baru saja diterimanya pagi ini. Surat itu menyatakan bahwa Ibunya—yang sudah delapan tahun dirawat di sana karena skizofrenia parah—telah secara hukum dinyatakan tidak kompeten untuk menandatangani apa pun, termasuk surat persetujuan operasi jantung yang bisa menyelamatkan nyawa adiknya, Bayu, yang sekarang terbaring kritis di rumah sakit umum seberang kota. Sari menatap bangunan putih itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan: masuk, menemui Ibu, dan memohon—memohon kepada wanita yang delapan tahun lalu mencoba membunuhnya dengan pisau dapur karena "mendengar suara" yang menyuruhnya membersihkan rumah dari "setan berbentuk anak perempuan". Namun, Bayu hanya punya waktu tiga hari. Tiga hari untuk menemukan donor jantung, atau tiga hari untuk mendapatkan tanda tangan dari satu-satunya keluarga yang tersisa ya...