Postingan

KAMUS YANG MENGGUGAT PEMILIKNYA

KAMUS YANG MENGGUGAT PEMILIKNYA Judul ini merujuk pada sebuah kamus tua yang, pada suatu pagi, menolak untuk didefinisikan sebagai benda mati. Ia menggugat pemiliknya bukan di pengadilan, melainkan di ranah yang lebih berbahaya: makna. Pagi itu, Aru membuka kamusnya dan menemukan sebuah kalimat yang tidak pernah ia tulis: PEMILIK: seseorang yang percaya ia memiliki, padahal hanya dimiliki oleh kata-kata yang ia gunakan. Aru menutup kamus itu pelan-pelan. Sebagai leksikografer di kota kecil yang lebih sering kehilangan nama jalan daripada membangun jalan baru, Aru hidup dari merawat makna. Ia percaya, dengan keyakinan yang hampir religius, bahwa dunia ini bisa ditertibkan jika kata-katanya dibereskan. Namun, pagi itu, kata-kata tampaknya sedang membereskan dirinya. Ia membuka kembali halaman tadi. Kalimat itu masih ada. Ia menyentuh kertasnya. Nyata. Tidak ada tinta basah. Tidak ada bekas coretan. Seolah kalimat itu memang sudah ada sejak kamus itu dicetak dua puluh tahun lalu, hanya sa...
TIGA BAHASA UNTUK KEMATIAN Aru menemukan bahwa ibunya telah mati dua kali. Pertama, kemarin pagi, ketika ibu berhenti bernapas di rumah sakit. Kedua, lima menit yang lalu, ketika Aru menyadari bahwa ia tidak dapat mengingat nama ibunya. Bukan hanya nama—seluruh kata untuk "ibu" telah lenyap dari kepalanya seperti air meresap ke pasir. Ia menatap sertifikat kematian di tangannya, di mana nama "Siti Aminah" tertulis dengan tinta biru yang kini terlihat seperti hieroglif asing. Di seberang ruang tamu, Kemala sedang mencoba menjelaskan situasi ini kepada Amira, yang baru saja tiba dengan seikat bunga krisan putih. "Jadi, ibunya mati," kata Kemala, "tetapi Aru tidak bisa mengatakan bahwa ibunya mati, karena kata untuk 'mati' dan 'ibu' telah ...." "Menghilang," sambung Amira. "Saya mengerti. Saya pernah kehilangan kata 'rabun senja'. Sekarang, saya hanya bisa mengatakan 'waktu ketika matahari pergi untuk minum...