Negeri yang Menanam Gelar (Cerpen Komikal-Satirik Anak-Anak Hiperbolis dan Metaforikal) Di balik Pegunungan Permen Karet, terdapat sebuah negeri bernama Sertifikasia. Di sana orang-orang tidak menanam jagung. Tidak menanam padi. Tidak menanam semangka. Mereka menanam gelar. Ya, gelar. Gelar tumbuh di pohon. Doktor tumbuh di cabang bawah. Profesor tumbuh di cabang atas. Sementara gelar yang sangat panjang harus dipanen menggunakan helikopter. Penduduk Sertifikasia sangat bangga. Mereka berjalan sambil membawa sepuluh gelar. Dua puluh gelar. Empat puluh gelar. Bahkan ada seekor kambing yang memiliki gelar lebih banyak daripada jumlah giginya. Suatu hari, seekor anak bernama Dodo bertanya: "Apa yang dilakukan gelar-gelar itu?" Warga terdiam. Mereka belum pernah memikirkannya. Mereka hanya sibuk mengumpulkannya. Malam itu, Dodo melihat seekor burung tua yang tak punya satu gelar pun. Namun burung itu tahu kapan hujan datang. Tahu cara menemukan jalan pulang. Tahu cara membantu an...
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kota di Mana Orang-Orang Lupa Bahwa Mereka Bisa Lupa Aru menemukan fakta itu pada hari ketika jam di dindingnya berhenti berdetak, tetapi waktu terus mengalir—bukan ke depan atau ke belakang, melainkan ke dalam. Jam itu menunjukkan pukul 03.47 WIB, dan tetap menunjukkan pukul 03.47 WIB selama tujuh hari, tujuh malam, dan tujuh interval yang tidak memiliki nama. Di dalam kota itu, orang-orang tidak menyadari bahwa mereka telah berhenti menyadari. Mereka berjalan, berbicara, makan, tidur—tetapi semua itu terjadi dalam mode zuhanden yang telah kehilangan um-zu -nya, alat-alat yang berfungsi tanpa tujuan, bahasa yang diucapkan tanpa makna yang dituju, keberadaan yang vorhanden tanpa pernah menjadi Dasein yang autentik. Kemala duduk di bangku taman yang terbuat dari angka-angka Romawi yang meleleh. Ia sedang merajut sebuah syal dari benang-benang kalimat yang belum sempat diucapkan siapa pun. "Aku tidak yakin aku pernah ada," katanya kepada Aru, meskipun bibirnya tidak bergerak...