PERCAKAPAN TERAKHIR YANG TIDAK TERDENGAR SIAPA-SIAPA
ORKESTRA Nama saya Aru. Saya adalah konduktor orkestra yang tidak pernah percaya bahwa musik itu nyata. Bukan karena tuli—saya mendengar dengan sempurna. Bukan karena tidak berbakat—saya belajar di konservatorium terbaik, di bawah guru yang pernah menangis ketika saya memainkan Adagio Mahler. Saya tidak percaya pada musik karena saya tahu, dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, bahwa musik bukanlah bunyi . Musik adalah kepercayaan yang diberi bentuk waktu . Dan saya, Aru, tidak pernah bisa memberikan kepercayaan pada apa pun. Sampai saya menemukan orkestra ini. Orkestra tidak punya nama. Tidak punya gedung. Tidak punya penonton yang membayar tiket. Yang ia punya hanyalah partitur —partitur yang ditulis dengan tinta yang berubah warna sesuai dengan siapa yang membacanya, di atas kertas yang terasa seperti kulit yang masih hangat, dengan notasi yang tidak ada di sistem musik Barat maupun Timur. Notasi itu adalah gambar . Gambar tumbuhan yang tidak pernah saya lihat. Gambar hewan yan...