Postingan

“Katalis yang Tidak Pernah Diketahui Namanya” Pada mulanya tidak ada makna, hanya kemungkinan reaksi. Dunia tidak dibangun dari benda, melainkan dari afinitas—dari kecenderungan hal-hal untuk saling mendekat tanpa alasan yang dapat dijelaskan selain bahwa mereka bisa. Kau menyebutnya hidup, tetapi para ahli kimia purba menyebutnya campuran yang belum sempat stabil. Di dalamnya, setiap pertemuan adalah tabrakan energi: molekul-molekul kecil yang saling menyentuh seperti ingatan yang lupa apakah ia pernah terjadi. Ada reaksi yang melepaskan panas, dan kau menyebutnya cinta. Ada reaksi yang menyerap energi dari sekitarnya, dan kau menyebutnya kehilangan. Namun kedua istilah itu tidak pernah benar-benar cocok, sebab sistem tidak mengenal nama—ia hanya mengenal perubahan keadaan. Seorang manusia, dalam laboratorium yang tidak memiliki dinding, berjalan sebagai larutan yang terus menguap dan mengembun sekaligus. Ia membawa dalam dirinya ion-ion masa lalu: percakapan yang belum selesai, keput...
Tata Bahasa bagi Burung yang Tidak Pernah Ada Pada mulanya aku mengira bahasa adalah jendela. Dari sana dunia tampak memasuki mataku seperti cahaya memasuki rumah. Tetapi kemudian seseorang membuka jendela itu, dan yang kulihat bukan dunia, melainkan sebuah peta. Di atas peta itu, gunung-gunung ternyata tersusun dari kata benda, sungai-sungai mengalir sebagai kata kerja, sedangkan laut hanyalah kumpulan tanda baca yang lupa menutup kalimatnya sendiri. Aku berjalan di atas peta itu. Setiap langkah mengubah morfologi tanah. Bukit-bukit meluruh imbuhannya; lembah-lembah kehilangan akarnya. Pohon-pohon menjatuhkan daun-daun berupa fonem yang beterbangan seperti burung kecil. Ketika seekor burung hinggap di bahuku, ia berkicau dalam bunyi yang belum memiliki makna. Aku menyebutnya bahasa purba. Burung itu tertawa, sebab baginya bunyi bukan asal-usul makna; bunyi hanyalah sarang. Lalu aku melihat sarang itu. Ternyata sarang bukan terbuat dari ranting, melainkan dari metafora yang saling meng...