KANTOR POS YANG MENGIRIM SURAT KE DIRI SENDIRI DI MASA LALU
Aru menemukan amplop itu di laci meja kerjanya, di antara setumpuk formulir pengiriman yang tidak pernah diisi dan segel lilin yang tidak pernah meleleh. Amplop berwarna kuning gading, sudut-sudutnya melengkung seperti ingatan yang terlalu sering dipegang. Di bagian depan, tulisan tangan yang Aru kenali sebagai miliknya sendiri—tetapi lebih muda, lebih ragu, lebih hidup : Kepada: Aru, Kantor Pos No. 7, Jalan Kenangan yang Salah Nama. Dari: Aru, umur 11 tahun, SD Negeri 5, kelas 5B. Perihal: Permohonan maaf yang belum sempat diucapkan. Aru membuka amplop dengan pisau pembuka surat yang gagangnya terbuat dari tulang patah (ia tidak pernah bertanya dari tulang siapa, dan kantor pos ini tidak pernah menjawab pertanyaan yang tidak diajukan). Di dalamnya, selembar kertas milimeter bergaris, bau kapur barus dan air mata yang sudah mengering sebelum jatuh: "Aru yang besar, Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi kalau aku bilang ke Ibu bahwa aku benci dia. Ak...