Postingan

TRAKTATUM

ARS POLITICA UNTUK NEGERI YANG TERLALU SABAR Di negeri yang sangat cinta ketertiban, kata “kritik” dipenjara dalam etika sopan santun: harus tersenyum saat mengatakan luka, harus menunduk agar dianggap bijak. Maka lahirlah pejabat yang fasih berjanji, seperti burung yang hafal musim panen tapi lupa jalan pulang ke ladang. Mereka membangun masa depan dengan batu-batu retorika: “akan”, “sedang dikaji”, “prioritas”, tiga kata suci yang lebih tahan lama dari jembatan yang runtuh. Di layar kaca, negeri ini tampak rapi, seperti meja makan yang tak pernah disentuh lapar. Sementara di luar frame, orang-orang belajar mengantre untuk hal-hal yang dulu disebut hak dasar. Pemilu adalah festival paling demokratis: di mana janji dijual seperti diskon akhir musim dan ingatan publik hanya bertahan sampai musik kampanye berhenti. Lalu rakyat diajari satu kebijaksanaan baru: bahwa sabar adalah bentuk tertinggi dari kewarganegaraan, dan diam adalah versi paling aman dari partisipasi. Padahal sejarah tida...