SUARA YANG TIDAK PERNAH MAMPIR
Nara tidak pernah percaya pada kebetulan. Laki-laki itu bekerja sebagai teknisi radio di stasiun pemancar SW ( short wave ) yang sudah usang di pinggiran kota. Setiap malam, dari pukul sepuluh hingga pukul dua dini hari, tugasnya hanya satu: memastikan frekuensi 6.225 kHz tetap hidup. Bukan karena ada yang mendengarkan. Sudah bertahun-tahun tidak ada laporan masuk dari pendengar. Namun, aturan dari dinas pos dan telekomunikasi mengatakan: stasiun pemancar dengan izin siaran harus tetap mengudara, meskipun hanya siaran statis dan bunyi detak jam. Malam itu, seperti biasa, Nara duduk di kursi putar yang sudah keropos. Headphone besar menempel di telinganya. Di meja di depannya, secangkir kopi dingin dan buku catatan berisi hitungan mundur menuju pensiunnya stasiun ini—tiga bulan lagi. Ia memutar kenop. Frekuensi 6.225. Statis. Desis. Lalu, di antara desis itu, sesuatu yang tidak seharusnya ada. Suara. Bukan suara penyiar. Bukan pula suara siaran ulang. Suara itu pelan, seperti orang yan...