ANAFORA
Ruang sidang itu tidak besar, tetapi entah mengapa suara langkah sepatu hak tinggi Amira bergema seperti di katedral. Mungkin karena dindingnya dilapisi kayu jati tua, atau mungkin karena keheningan di antara derap itu terlalu rapat, seperti kempaan udara sebelum badai menerpa. Amira duduk di kursi tergugat. Jas abu-abunya rapi, kerudungnya biru tua. Di hadapannya, majelis hakim berjumlah tiga orang. Di sebelah kiri, di kursi penggugat, duduk Nara—perempuan berambut pendek dengan kacamata tebal yang membuat matanya tampak lebih besar dari seharusnya. Sidang baru saja dimulai, tetapi konflik sudah mencapai puncaknya bahkan sebelum hakim ketua mengetuk palu. Perkaranya tidak biasa: Nara menggugat Amira atas tuduhan pencurian bahasa. "Penggugat, Nara Kirana, hadir?" tanya hakim ketua. "Hadir, Yang Mulia." "Tergugat, Amira Laksmi, hadir?" "Hadir, Yang Mulia." Hakim ketua membuka berkas perkara, mengernyitkan dahi. Mungkin ia masih mencoba memahami ap...