Postingan

PADA HARI KETIKA KEMATIAN BELUM DICIPTAKAN Pada mulanya, segala sesuatu terus bertambah. Bunga tidak pernah layu. Buah tidak pernah jatuh. Daun tidak pernah menguning. Anak-anak tidak pernah menjadi tua. Sungai terus mengalir tanpa pernah mencapai laut. Gunung terus meninggi tanpa pernah selesai. Dunia menjadi sangat penuh. Begitu penuh hingga benih kehilangan tempat untuk tumbuh. Maka Tuhan berjalan mengelilingi ciptaan-Nya. Ia melihat bahwa kelahiran telah memiliki rumah. Tetapi perpisahan belum. Lalu, dengan kelembutan yang bahkan malaikat tidak sanggup memahaminya, Ia menciptakan kematian. Bukan sebagai hukuman. Melainkan sebagai ruang kosong. Agar akar dapat memperoleh tanah. Agar musim semi mempunyai alasan untuk datang kembali. Agar pelukan memiliki arti. Agar air mata mengenal harapan. Konon, ketika kematian lahir, seluruh bunga menangis. Namun pohon-pohon tua justru menundukkan dahannya. Mereka tahu sesuatu yang belum dipahami bunga. Bahwa daun yang gugur tidak pernah benar-be...