SUARA IBU DI FREKUENSI 104.7 FM
Radio itu menyala sendiri pukul 03:17 setiap pagi. Bukan alarm. Bukan timer. Hanya frekuensi 104.7 FM—stasiun yang tidak ada di daftar siaran resmi, yang tidak pernah memutar lagu, yang hanya mengeluarkan suara: napas, kadang batuk, kadang gumaman yang terdengar seperti "sayang" tetapi mungkin juga "sayang" dalam bahasa yang belum diciptakan. Arka menemukan radio itu di loteng rumah warisan kakeknya, tiga minggu setelah pemakaman. Kotak kayu berdebu, antena patah setengah, dial frekuensi macet di 104.7. Ia membawanya ke kamar, memasang baterai baru, dan menunggu. Radio itu diam siang dan sore, hidup tepat pukul 03:17, mati lagi pukul 03:23. Enam menit. Setiap malam. Tanpa gagal. Malam ketujuh, Arka mendengar kata yang jelas untuk pertama kalinya: "Jangan pergi ke kebun nanti pagi." Ia pergi. Karena ia tidak percaya pada radio hantu. Karena kebun adalah satu-satunya tempat di rumah ini yang masih terasa seperti miliknya, bukan milik kakek yang mati membawa ...