KAMUS UNTUK YANG LUPA BERHENTI

Nara tidak pernah menyangka bahwa pekerjaannya sebagai penyusun kamus akan berakhir dengan dirinya terjebak di dalam kata-katanya sendiri.

Itu bermula ketika ia menerima telepon dari rumah sakit pukul dua dini hari. Suara perawat paruh baya di seberang sana terdengar lelah, seperti orang yang sudah terlalu sering menyampaikan kabar buruk.

“Selamat malam, apakah ini Nara?”

“Ya. Ada apa?”

“Kami menemukan seorang perempuan di taman kota. Tidak membawa identitas. Tidak bisa bicara—atau mungkin tidak mau. Namun, di telapak tangannya tertulis nama Anda. Tinta permanen. Dan di punggungnya ....”

“Punggungnya?”

“Ada ribuan kata. Dari leher sampai pinggang. Seperti ... seperti ensiklopedia yang ditulis di kulit. Kami pikir Anda mungkin kenal dia. Atau setidaknya bisa membantu membaca.”

Nara sampai di rumah sakit setengah jam kemudian. Laki-laki itu masuk dengan langkah tergesa, jaket kulitnya masih basah oleh embun malam. Di ruang isolasi, seorang perempuan duduk di ranjang dengan punggung menghadap pintu. Punggung itu memang tertutupi tulisan. Rapi. Kecil. Seperti font 8pt di buku manual. Dan di telapak tangan kirinya yang diangkat, nama NARA ditulis dengan spidol hitam, bukan tinta biasa—seperti sengaja agar tidak bisa dihapus.

Perempuan itu menoleh.

Nara terhenti.

Wajahnya familier. Sangat familier. Seperti kata yang selalu ada di ujung lidah tetapi tak pernah keluar. Seperti definisi yang pernah ia tulis tetapi lupa ia masukkan ke kamus mana.

“Amira?” bisik Nara.

Perempuan itu mengangguk. Matanya basah. Akan tetapi, ia tidak mengeluarkan suara. Mulutnya bergerak seperti ingin membentuk kata, tetapi tidak ada yang keluar. Hanya desis halus, seperti angin yang keluar dari celah buku tua.

“Dia tidak bisa bicara?” tanya Nara kepada perawat.

“Kami tidak tahu, apakah tidak bisa atau tidak mau. Sejak datang hanya diam, tetapi dia merespons. Dia mengerti perintah. Dan dia terus menunjuk telapak tangannya. Nama Anda.”

Nara mendekat. Ia meraih tangan Amira perlahan. Tangannya yang besar dan kasar memegang jemari Amira yang dingin. Di sekitar nama NARA, ada coretan-coretan kecil yang hampir tak terbaca: tolong, rumah, kembali, selesai, kata terakhir.

“Amira, kau bisa menulis? Bukan di tangan, melainkan di kertas?”

Amira mengangguk. Perawat memberinya buku catatan dan pulpen. Amira mengambilnya dengan tangan yang gemetar. Lalu, ia menulis satu kalimat.

Tulisannya jelek. Seperti anak kecil yang baru belajar mengeja, tetapi jelas terbaca:

Aku tidak lupa cara bicara. Akan tetapi, setiap kata yang kukeluarkan berubah menjadi angin. Aku bicara, kau tidak mendengar. Aku berteriak, kau tidak merasa. Yang tersisa hanya menulis. Tolong baca punggungku.

Nara membalikkan badan Amira dengan hati-hati. Punggung itu—Tuhan, punggung itu seperti naskah kuno yang baru ditemukan di gua purbakala. Ribuan kata. Dari tulang belikat hingga pinggang. Ditulis dengan tinta yang sama di telapak tangan. Tinta permanen. Seperti orang yang sengaja menato dirinya sendiri setiap hari, selama bertahun-tahun.

Nara mulai membaca dari atas.

Dan inilah konflik yang tidak pernah ia bayangkan: di punggung Amira tertulis sebuah kamus. Bukan kamus biasa. Kamus yang setiap definisinya merujuk pada satu nama. Nara.

---

Nara (1): kata benda. Laki-laki yang pertama kali mengatakan bahwa kata-kata bisa menyembuhkan. Lihat juga: salah.

Nara (2): kata sifat. Keadaan ketika seseorang percaya bahwa diam lebih jujur daripada berbicara. Contoh: “Dia Nara sekali sore itu.”

Nara (3): kata kerja transitif. Tindakan menulis sesuatu lalu menyembunyikannya di tempat yang tidak akan ditemukan siapa pun. Sinonim: lari, takut. Antonim: selesai.

Dan seterusnya. Ratusan entri. Mungkin lebih dari seribu. Semua tentang Nara. Definisi, etimologi, contoh kalimat. Bahkan ada bagian yang disebut “Frasa Terkait” dan “Kata yang Sering Tertukar”. Di bagian paling bawah punggung, sebelum tulisan itu terpotong oleh pinggang, ada catatan kecil:

Kamus ini dimulai ketika aku kehilangan suaraku. Setiap hari, aku menulis satu entri baru. Hari ini adalah hari ke-1.247. Aku tidak tahu kapan berhenti. Mungkin ketika Nara datang. Atau ketika aku mati.

Nara mundur. Tangannya dingin. Laki-laki itu menarik napas panjang.

“Amira,” katanya pelan. “Ini ... ini semua tentang aku?”

Amira menulis di buku catatan: Tentang kita. Namun, aku hanya bisa menulis setengahnya. Separuh lagi ada di dalam dirimu. Dan kau tidak pernah membacanya.

“Aku tidak pernah tahu,” kata Nara. “Aku bahkan tidak ingat pernah bertemu kau sebelumnya.”

Amira tersenyum. Bukan senyum bahagia. Senyum orang yang sudah lelah menunggu. Ia menulis lagi:

Kita bertemu 1.247 hari yang lalu. Di perpustakaan lama. Kau sedang menyusun kamus bahasa yang punah. Aku sedang mencari kata untuk apa yang aku rasakan. Kau bilang, “Tidak semua perasaan punya nama. Tugas kita bukan menemukan namanya, melainkan menciptakannya.” Lalu kau menciptakan namaku. Amira. Dari kata “amir” yang berarti pemimpin, dan “ra” yang berarti cahaya. Pemimpin cahaya, katamu. Aku percaya. Sejak saat itu, aku menjadi cahayamu. Namun cahaya tidak punya suara.

Nara membaca catatan itu berulang kali. Tidak ada ingatan yang muncul. Hanya sensasi aneh di dadanya—seperti membaca sebuah kalimat dalam bahasa yang tidak ia kenal, tetapi entah bagaimana ia mengerti maknanya.

“Aku tidak ingat, Amira. Aku meminta maaf.”

Amira menggeleng. Ia menulis cepat, seperti orang yang takut kehabisan waktu: Jangan meminta maaf. Kau tidak lupa. Kau sengaja tidak mengingat. Karena mengingat berarti kau harus menyelesaikan kamus yang kau mulai dulu. Kamus tentang kita. Akan tetapi, kau tidak pernah selesai. Kau meninggalkannya di rak nomor 44, lorong paling belakang perpustakaan, di bawah tumpukan manuskrip yang tidak pernah dibuka siapa pun.

Nara terdiam. Perpustakaan lama. Rak nomor 44. Lorong paling belakang.

“Aku akan ke sana,” katanya.

Amira menggeleng keras. Ia menulis: Jangan sendiri. Aku ikut.

---

Perpustakaan lama itu terletak di pusat kota, tetapi seolah berada di dimensi lain. Pintunya kecil, tersembunyi di antara toko roti dan toko sepatu yang sudah tutup. Nara belum pernah ke sini—setidaknya itulah yang ia yakini. Akan tetapi, kakinya bergerak seperti sudah hafal jalan. Begitu juga Amira, yang berjalan di sampingnya dengan buku catatan selalu siap.

Mereka masuk. Bau kertas tua dan debu menyambut. Tidak ada pustakawan. Hanya rak-rak tinggi yang menjulang seperti hutan beton. Lampu kuning berkedip-kedip, seperti denyut jantung yang nyaris mati.

Lorong paling belakang. Rak nomor 44.

Ada satu buku di rak itu. Tebal. Sampulnya cokelat tua tanpa judul. Nara meraihnya. Tangannya yang besar dan sedikit kasar bergetar begitu menyentuh kulit sampulnya—seperti menyentuh ingatan yang sudah lama dikubur.

Ia membuka halaman pertama.

Di sana tertulis, dengan tinta yang sudah setengah luntur:

Kamus untuk Kita yang Tidak Selesai. Disusun oleh Nara dan Amira. Hari pertama.

Nara membalik halaman. Tidak ada entri A sampai Z seperti kamus biasa. Yang ada adalah dialog. Percakapan. Narasi yang berpindah-pindah antara suara Nara dan suara Amira. Setiap halaman adalah satu hari. Setiap hari adalah satu kata yang mereka definisikan bersama.

Halaman pertama: Kata: Awal

Nara: Awal adalah ketika kau masuk ke ruang bacaku dan bertanya tentang kata yang tidak ada. Aku bilang, “Buat saja.” Kau bilang, “Aku tidak bisa membuat kata sendirian. Kata butuh dua orang. Satu yang mengucap, satu yang mendengar.”

Amira: Maka kita berdua adalah awal. Akan tetapi, awal dari apa?

Nara: Awal dari sesuatu yang tidak bisa dinamai. Karena belum ada katanya.

Amira: Maka tugas kita menciptakan katanya. Sepakat?

Nara: Sepakat.

Halaman berikutnya. Kata: Senyap

Amira: Hari ini aku tidak bisa bicara. Bukan sakit, melainkan takut. Takut kata-kataku merusak sesuatu yang rapuh.

Nara: Maka kita butuh kata untuk itu. Senyap bukan diam. Senyap adalah suara yang memilih tidak muncul.

Amira: Bisakah senyap menjadi kata kerja?

Nara: Bisa. Hari ini kau bersenyap. Dan aku mendengarnya.

Amira: Itu kata paling indah yang pernah kau ciptakan.

Nara terus membalik halaman. Matanya semakin basah. Tidak ada ingatan yang muncul secara utuh—tetapi ada sesuatu yang lebih kuat dari ingatan. Ada pengakuan. Tubuhnya mengenali tulisannya sendiri. Hatinya mengenali suara Amira di setiap dialog.

Lalu, ia sampai di halaman terakhir yang bertulis. Tanggalnya 1.247 hari yang lalu. Tepat hari ini tiga tahun lalu.

Kata: Berhenti

Nara: Aku tidak bisa melanjutkan kamus ini.

Amira: Kenapa?

Nara: Karena setiap kata yang kita ciptakan membuat kita semakin terikat. Dan aku takut. Aku takut jika kamus ini selesai, tidak akan ada alasan untuk terus bersama.

Amira: Maka kita tidak perlu menyelesaikannya. Kita bisa berhenti di sini. Dan besok kita mulai lagi.

Nara: Tidak. Aku bukan berhenti sementara. Aku berhenti selamanya. Aku akan lupa semua ini. Sengaja. Aku akan pergi dan tidak kembali.

Amira: Lalu aku?

Nara: Kau akan terus menulis. Karena kau tidak bisa berhenti. Itu kutukanmu. Kau akan menulis namaku di punggungmu setiap hari, sampai kulitmu habis. Dan aku tidak akan pernah tahu. Karena aku memilih untuk tidak tahu.

Amira: Itu kejam.

Nara: Itu satu-satunya cara agar kau bisa hidup tanpaku. Dengan membenciku.

Amira: Aku tidak bisa membenci orang yang tidak kuingat.

Nara: Maka, ingatlah aku sebagai kata yang tidak pernah selesai didefinisikan.

Setelah itu, halaman-halaman berikutnya kosong. Tidak ada lagi dialog. Tidak ada lagi definisi.

Namun, di sela-sela halaman kosong itu, Nara menemukan sesuatu. Selembar kertas tipis, hampir transparan. Di atasnya tertulis dengan tulisan tangan yang berbeda—tulisan Nara, tetapi lebih muda, lebih ragu:

Amira, jika suatu hari kau baca ini, aku meminta maaf. Aku tidak cukup berani untuk tetap tinggal. Namun, aku juga tidak cukup tega untuk mengajakmu pergi. Jadi, aku memilih pergi sendirian. Dan aku menulis ini di buku yang tidak akan pernah aku buka lagi. Semoga kau tidak pernah menemukannya.

Namun, jika kau menemukannya, artinya kau lebih kuat dari aku. Artinya kau tidak berhenti mencari. Artinya kau pantas mendapatkan akhir yang lebih baik dari yang bisa aku tulis.

Selesai. Bukan. Bersambung. Juga bukan. Aku mencintaimu. Itu terlalu mudah. Maka biarkan kosong. Karena tidak semua kata perlu ditulis.

---

Nara menutup buku itu. Ia menatap Amira yang berdiri di sampingnya, diam, hanya dengan buku catatan di tangan.

“Aku yang melakukan ini kepadamu,” kata Nara. Suara baritonnya parau. “Aku yang memilih lupa. Aku yang meninggalkanmu dengan punggung penuh kata-kata tentang aku. Aku yang membuatmu kehilangan suara—bukan karena fisik, melainkan karena trauma.”

Amira menggeleng. Ia menulis: Bukan kau. Aku yang memilih terus menulis. Aku yang memilih tidak berhenti. Aku yang memilih kehilangan suara karena hanya dengan diam aku bisa mendengar tulisanku sendiri.

“Akan tetapi, jika aku tidak pergi—“

Jika kau tidak pergi, kita mungkin akan menghancurkan satu sama lain dengan kata-kata yang tidak pernah cukup. Kau tahu itu. Aku tahu itu.

“Lalu, kenapa kau menulis namaku di punggungmu setiap hari?”

Amira berhenti. Pena di tangannya menggantung di atas kertas. Ia menulis pelan, satu per satu huruf, seperti sedang menulis batu nisan untuk dirinya sendiri:

Karena aku lebih suka sakit karena mengingat daripada mati karena lupa.

Nara tidak bisa menahan air matanya lagi. Laki-laki itu menangis. Bukan isak tangis dramatis, melainkan tangis pelan, seperti orang yang akhirnya mengakui bahwa ia telah melakukan kesalahan besar dan tidak bisa memperbaikinya.

“Amira, aku ingin menyelesaikan kamus ini.”

Amira mengangkat kepala. Matanya terbeliak.

“Aku ingin kita duduk di sini, di rak nomor 44, dan menyelesaikan semua entri yang belum selesai. Setiap kata yang kita ciptakan dulu, tetapi tidak pernah selesai kita definisikan. Aku ingin kita menulis ulang semuanya. Dari A sampai Z. Dari Awal sampai Akhir.”

Amira menggigit bibir. Ia menulis: Akan tetapi, akhirmu dulu adalah pergi. Apa akhirmu sekarang?

“Akhirku sekarang adalah ....” Nara mengambil pulpen dari saku. Ia membuka halaman kosong di buku itu. Lalu ia menulis satu kata: Pulang.

“Itu definisinya,” kata Nara. “Pulang. Bukan kembali ke tempat yang sama, melainkan kembali ke orang yang tidak pernah berhenti menulis namamu meskipun kau sudah pergi. Itu definisi paling jujur yang pernah aku tulis.”

Amira tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyum yang tidak pahit. Senyum yang seperti cahaya.

Ia mengambil pulpen Nara. Di bawah kata “Pulang”, ia menulis: Disetujui. Sekarang mulai dari mana?

Nara membuka halaman pertama. Kata: Awal. Masih kosong di bagian definisi akhir. Mereka belum pernah menyelesaikan kata itu dulu.

“Kita mulai dari awal,” kata Nara. “Namun kali ini, aku tidak akan lari.”

---

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang aneh. Mereka datang ke perpustakaan lama setiap sore. Nara membawa kopi. Amira membawa buku catatan barunya—kali ini untuk menulis suara yang perlahan mulai kembali. Karena ajaibnya, setelah malam itu di rak nomor 44, Amira bisa mengucapkan satu kata. Hanya satu. Akan tetapi, satu itu cukup.

“Nara.”

Suaranya serak, seperti suara orang yang bangun dari koma panjang. Namun Nara mendengarnya. Jelas. Dan untuk pertama kalinya dalam 1.247 hari, Amira merasa kata-katanya tidak berubah menjadi angin.

Mereka menyusun kamus itu dari awal. Bukan kamus tentang satu sama lain, melainkan kamus tentang antara. Tentang ruang di antara dua orang yang saling melukai dan saling menyembuhkan.

Berikut beberapa entri yang mereka tulis ulang:

Rindu (kata benda): Perasaan yang tidak butuh alasan. Ia datang seperti hujan di musim kemarau. Tidak kau undang, tidak bisa kau usir. Yang bisa kau lakukan hanyalah basah.

Maaf (kata kerja transitif): Tindakan mengakui bahwa kau telah salah membaca peta, lalu meminta orang lain untuk menulis ulang arahnya. Tidak mudah, tetapi lebih mudah daripada tersesat selamanya.

Diam (kata sifat): Bukan tidak punya suara, melainkan memilih untuk tidak menggunakan suara karena suara itu bisa melukai. Diam adalah bentuk cinta yang paling tidak disadari.

Berhenti (kata kerja intransitif): Mitos. Karena tidak ada yang benar-benar berhenti. Yang ada hanyalah berlari lebih lambat, atau berpura-pura tidak melihat. Akan tetapi, jika kau benar-benar berhenti, kau mati. Dan kamus ini tidak untuk orang mati.

Setiap entri mereka tulis dalam dua versi: versi Nara dan versi Amira. Kadang berbeda. Kadang persis sama. Namun perbedaan itulah yang membuat kamus ini hidup.

Pada hari ke-1.274—27 hari setelah mereka mulai— mereka sampai di kata terakhir.

Kata: Akhir.

Nara dan Amira duduk berhadapan. Buku itu terbuka di halaman terakhir. Pena di tangan Nara. Pena lain di tangan Amira.

“Aku tidak tahu harus menulis apa,” kata Nara. “Akhir dari apa? Kamus ini? Hubungan kita? Luka lama? Semuanya terasa tidak selesai.”

Amira sudah bisa bicara lebih lancar sekarang. Suaranya masih serak, tetapi kalimatnya utuh.

“Akhir tidak berarti selesai,” kata Amira. “Akhir berarti kau berhenti di satu titik dan memutuskan bahwa titik itu cukup.”

“Lalu apa definisimu?”

Amira menulis di halaman itu. Perlahan. Dengan tulisan tangannya yang mulai membaik:

Akhir: kata yang paling sering disalahpahami. Orang mengira akhir adalah lawan dari awal. Padahal akhir adalah awal yang memilih bentuk yang berbeda. Tidak ada yang benar-benar berakhir. Yang ada hanyalah berubah.

Nara membaca. Lalu ia menulis di bawahnya:

Akhir versi Nara: ketika dua orang—seorang laki-laki dan seorang perempuan—yang pernah saling menulis di punggung masing-masing, memutuskan untuk tidak lagi menulis, tetapi membaca. Akhir adalah ketika kau menutup buku dan menyadari bahwa cerita tidak berhenti di halaman terakhir. Cerita berhenti di mata yang membaca kalimat ini.

Mereka berdua diam. Buku itu tertutup dengan sendirinya—atau mungkin karena angin dari jendela perpustakaan yang reyot.

“Selesai?” tanya Amira.

“Tidak pernah selesai,” kata Nara, “tetapi cukup.”

---

Di punggung Amira, ribuan kata masih tersisa. Nara menawarkan untuk membantunya menghapusnya dengan laser. Atau menutupinya dengan tato baru. Atau apa pun.

Amira menolak.

“Biarkan saja,” katanya. “Itu kamus yang dulu. Sekarang kita punya kamus baru.”

“Namun di punggungmu masih ada namaku. Ribuan kali.”

“Dan sekarang di depan mataku, ada kau. Satu kali. Satu itu sudah cukup untuk mengalahkan ribuan.”

Nara tersenyum. Ia memegang tangan Amira. Tangan besarnya menggenggam jemari Amira dengan lembut. Untuk pertama kalinya, genggaman mereka tidak terasa seperti orang yang sedang bertahan, tetapi seperti orang yang sedang pulang.

Mereka meninggalkan perpustakaan lama itu. Rak nomor 44 tetap berdiri. Buku kamus itu mereka letakkan kembali di rak—tetapi kali ini tidak disembunyikan. Mereka meletakkannya di rak paling depan, dekat pintu masuk. Dengan secarik kertas menempel di sampulnya:

Untuk siapa pun yang membaca ini: kau tidak sendirian. Setiap orang punya kamus rahasia di dalam dirinya. Berisi kata-kata yang tidak pernah selesai didefinisikan. Tugasmu bukan menyelesaikannya sendirian. Tugasmu adalah menemukan seseorang yang mau duduk di rak nomor 44 bersamamu, dan menulis ulang semuanya. Dari awal.

— Nara & Amira

---

Tiga tahun kemudian, seorang perempuan muda masuk ke perpustakaan lama itu. Ia sedang patah hati. Ia tidak tahu harus ke mana. Ia hanya ingat temannya pernah bilang tentang rak nomor 44.

Ia menemukan buku itu. Ia membaca. Ia menangis. Lalu ia tersenyum.

Pada halaman terakhir, di bawah definisi “Akhir” versi Nara dan Amira, ada tulisan baru. Bukan dengan tinta, melainkan dengan pensil. Mungkin ditulis oleh pengunjung sebelumnya. Atau mungkin oleh angin. Tulisannya tipis, hampir tidak terbaca:

Akhir versi aku yang sedang membaca ini: akhir adalah ketika kau menyadari bahwa cerita yang kau baca sedang membaca balik dirimu. Dan di sela-sela itu, kau tidak sendirian.

Perempuan itu menutup buku. Ia tidak menulis apa pun. Ia hanya membawa pulang satu kalimat di dalam kepalanya:

Tidak semua kata perlu ditulis. Beberapa cukup dirasakan. Dan beberapa lagi cukup diembuskan sebagai napas, sebelum kau tidur, saat kau mengucapkan nama seseorang yang tidak pernah benar-benar pergi.

Ia tidak tahu nama itu. Namun ia yakin suatu hari nanti ia akan menemukannya. Atau menemukan seseorang yang mau menciptakannya bersamanya.

Sementara itu, di tempat lain di kota yang sama, Nara dan Amira sedang duduk di teras rumah nomor 44—kali ini rumah mereka bersama. Amira sedang membaca buku. Nara sedang menulis sesuatu di buku catatan kecil.

“Apa yang kau tulis?” tanya Amira.

“Entri baru,” kata Nara.

“Apa katanya?”

“Kata: Bahagia. Namun aku belum selesai mendefinisikannya. Mungkin butuh waktu puluhan tahun.”

Amira tersenyum. “Kalau begitu, kita punya waktu.”

Dan di luar, hujan mulai turun. Namun tidak ada yang menghapus apa pun.

Karena hujan, kali ini, bukan penghapus.

Hujan adalah bahasa lain untuk mengatakan: Aku di sini. Kau di sini. Dan itu sudah cukup untuk memulai satu kamus baru.

---

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI