FISIKA KESEDIHAN DAN MEKANIKA RASA
FISIKA KESEDIHAN DAN MEKANIKA RASA
Ada hukum-hukum yang dibisikkan
oleh ruang hampa kepada dirinya sendiri.
Rumus-rumus itu tidak ditulis—
hanya muncul di sela retakan kesadaran.
Kesedihan, misalnya,
bukan lagi sekadar gravitasi:
ia adalah lubang hitam mini
yang lahir setiap kali hati berdenyut.
Semakin kau menjauh,
semakin ia membengkokkan lintasanmu
kembali ke pusat luka yang tak memiliki nama.
Di laboratorium sunyi, rasa tidak diuji,
tetapi diperlakukan sebagai partikel aneh
yang menolak diprediksi.
Cinta punya momentum,
tetapi rapuh terhadap tumbukan kenangan.
Rindu adalah gelombang panjang
yang menembus ruang antardada,
membelok ketika bertemu diam
seperti cahaya yang terseret
oleh tepi kegelapan—
hingga jarak menjadi ilusi kosmologis
yang pura-pura menjadi tangis.
Kesedihan bekerja dengan hukum konservasi:
ia tidak hilang, tidak lenyap.
Hanya berpindah dari satu ruang batin
ke ruang batin lain
melalui celah yang tak terlihat.
Berubah bentuk,
mengendap di tulang,
menyusup ke detak jam,
atau bersembunyi di balik kalimat
yang kita kira sudah diberi titik.
Kadang ia mengalir perlahan
seperti fluida tak berwarna,
seperti sungai tanpa muara;
kadang menguap tiba-tiba,
lalu mengembun kembali
ketika malam menurunkan
suhu harapan.
Dalam mekanika rasa,
kebahagiaan hanyalah gaya semu,
kegembiraan hanyalah percepatan palsu—
muncul ketika kita bergerak terlalu cepat
menghindari diri sendiri.
Sementara takut adalah diferensial kecil
yang tersembunyi di antara dua helaan napas,
di antara dua pikiran yang saling curiga.
Dan duka?
Ia adalah getaran dasar,
frekuensi purba yang membuat
seluruh tubuh beresonansi
tanpa kita sadari.
Jika kau memaksa
menanyakan persamaan akhir,
yang muncul hanya satu garis kosong
di papan tulis—
kadang mirip cahaya,
kadang berupa air mata.
Fisika kesedihan menolak angka,
menolak kepastian,
menolak hasil eksak,
menolak dimiliki siapa pun.
Ia hanya memberikan diagram tak lengkap
tentang bagaimana hati runtuh,
bagaimana kenangan
mempunyai massa yang berubah-ubah,
dan bagaimana satu kata saja
mampu memicu keruntuhan struktural.
Namun dari reruntuhan itu
selalu tersisa residu cahaya—
luminesensi lembut
yang hanya dapat dilihat
oleh mereka yang pernah hancur
dan tetap memilih berjalan,
meskipun sendirian,
tanpa bayangan.
2015
Komentar
Posting Komentar