KISAH BURUNG ABHA DAN GALUH CANDRAKIRANA
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA
Anak-anak, apa yang kamu lakukan setelah pulang sekolah? Membantu orang tua, bermain dengan teman, atau membaca buku? Nah, sebetulnya semua itu bagus. Kalau kamu membantu orang tua, atau kamu bermain untuk menghilangkan kejenuhan, jangan lupa sisihkan waktu untuk membaca apa pun yang kamu suka. Pekerjaan membaca itu menyenangkan karena kamu akan terbiasa dengan buku, majalah, surat kabar, atau bacaan lainnya. Kebiasaan membaca akan melatih kamu mendapatkan berita, pengetahuan, ilmu, atau hiburan dari apa yang kamu baca. Surat kabar dan majalah adalah sumber berita, buku itu sumber ilmu, dan buku cerita itu memuat kisah pengalaman tentang kehidupan. Semua itu bagus untuk dibaca supaya kamu tahu berita, ilmu, dan tentang kehidupan.
Nenek moyang kita memiliki kisah-kisah tentang kehidupan ini. Kisah-kisah itu diceritakan kepada anak cucu, termasuk kita. Mereka menyebutnya dongeng. Ada dongeng Sang Kancil, Sangkuriang, Timun Emas, Petani, Terjadinya Danau Toba, Malin Kundang, dan sebagainya. Kita, bangsa Indonesia, memiliki seribu satu dongeng yang hidup di seluruh wilayah negeri Indonesia. Sudah bertahun-tahun lalu Pusat Bahasa telah meneliti dan mengumpulkan dongeng-dongeng itu. Dongeng atau cerita rakyat itu banyak berisi petunjuk, petuah/nasihat, atau pengalaman dalam menjalani kehidupan ini. Isi dongeng-dongeng itu ternyata masih cocok dengan kehidupan kita sekarang. Kini dongeng-dongeng itu telah diceritakan kembali dalam buku cerita anak. Nah, bacalah buku-buku cerita anak yang sudah banyak dihasilkan Pusat Bahasa. Satu di antara cerita anak itu adalah buku yang akan kamu baca ini.
Buku yang berjudul Kisah Burung Abha dan Galuh Candrakirana ini memuat dua kisah, yaitu petualangan burung Abha mencari pasangan hidupnya dan petualangan Raden Inu Kertapati mencari pengalaman hidup untuk bekal menjadi raja. Cerita ini merupakan cerita rakyat dari daerah Jawa. Semoga buku ini memberi manfaat bagimu dalam memperkaya wawasanmu tentang kisah-kisah kehidupan ini.
Jakarta, 17 Juli 2008
Dr. H. Dendy Sugono
•••
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Swt. karena atas rida-Nya saya dapat menyelesaikan penulisan naskah cerita anak yang berjudul Kisah Burung Abha dan Galuh Candrakirana. Usaha keras saya untuk mewujudkan penulisan naskah ini didasarkan pada kesadaran bahwa siswa sekolah dasar sangat membutuhkan bahan bacaan yang bermutu, yang memuat ajaran kebijaksanaan, dan yang berguna bagi pembentukan mental dan daya intelektual mereka. Namun, saya memahami bahwa sesuatu yang saya sampaikan ini hanya merupakan sekelumit pencerahan bagaikan setitik untuk memenuhi kehausan. Sehubungan dengan itu, saya ucapkan terima kasih kepada Dr. Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, Dr. Sugiyono, Kepala Bidang Pengembangan, dan Dra. Dad Murniah, M.Hum, Kepala Sub-bidang Publikasi dan Informasi, yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk menulis cerita anak ini. Saran dan kritik yang membangun selalu saya tunggu demi penyempurnaan di masa yang akan datang.
Penyusun
•••
A. KISAH BURUNG ABHA
1. BURUNG ABHA DI SANGKAR EMAS
Cerita ini dikisahkan dari sebuah Kakawin Manuk Abha yang diceritakan seorang pelipur lara. Dahulu kala, ada seekor burung bernama manuk Abha atau burung Abha yang cantik. Pagi itu burung Abha berkicau, bersuka ria di halaman samping istana, pagi yang cerah surya cemerlang mengajak semua penghuni istana gembira. Burung Abha berbulu hijau tua, bergaris-garis kuning, dan bersuara merdu. Jika Abha merasa senang, ia menggerakkan tubuhnya, maka bulu di sekitar tengkuknya berkembang bagaikan kipas berwarna biru di bagian luar dan bagian dalam berwarna kuning, sangat menakjubkan. Seluruh bulu di tubuh Abha terlihat kemilau. Selain itu, Abha bermahkota hitam bergaris putih di atas kepalanya. Paruh si Abha yang panjang itu berwarna merah dan kuning di ujungnya. Paruh itu bagai pedang yang memperlihatkan kokoh dan cantiknya burung tersebut. Burung Abha mirip seperti burung Enggang di daerah Sulawesi. Namun, ia hidup terkurung di sangkar emas dalam istana megah dan indah milik Raja Keling. Sesekali Raja mencari burung itu lalu bercanda dengan burung kesayangannya.
"Abha, ayo dong, mana bunyinya? Sudah diberi makan apa kau tadi?"
Si Abha segera berkata, "Aku sudah makan pisang, pepaya, dan menir jagung. Aku sudah kenyang, Tuan."
Raja yang mengagumi burung cantik itu selalu memuja kebesaran Tuhan Yang Mahakaya dengan ciptaan-Nya. Setelah puas memanjakan matanya dengan menyaksikan makhluk Tuhan yang indah, Raja yang selalu sibuk itu kembali menunaikan tugasnya.
Sementara itu, Abha melakukan pekerjaan rutin menyanyi menghilangkan kesepian selama berada di sangkar emas. Si Abha selalu berteriak-teriak memanggil kawannya burung Bayan yang diperbolehkan terbang bebas di luar sana. Ia berpikir, "Mengapa aku ini harus dikurung di sangkar? Apakah karena tubuhku yang indah ini menjadikan aku sengsara? Ah, tak mungkin. Sekalipun sangkar ini indah dan makanan selalu tersedia, aku merasa jenuh. Aku ingin sekali terbang yang jaauuuh ... sekali." Demikian pikir burung Abha. Burung Bayan tahu penderitaan kawannya, si Abha. Ia selalu menghibur dan bercerita tentang kawan-kawannya di hutan, di perkebunan, atau di rumah-rumah mewah kepunyaan para petinggi kerajaan.
Suatu hari, ketika burung Bayan mendekati kawannya, Abha bertanya, "Hai, burung Bayan, kau sudah lama tidak pernah mengunjungiku, ke mana saja kau pergi?”
Dengan senang hati Bayan menjawab, "Oh, ... aku nyaris saja tersesat tidak bisa kembali ke daerah ini, untung ada burung Dara yang menunjukkan aku ke sini sehingga aku dapat menemui kamu kembali."
Dengan sangat antusias burung Abha menyambung ceritanya, "Oh, begitu, kasihan kamu. Burung Dara itu memang pandai mencari arah jalan, ya!"
"Burung Dara memang selalu diperintah para raja untuk membawa surat kepada kawannya di negeri yang jauh sehingga ia terbiasa pergi ke mana-mana," jawab burung Abha.
Sambil mencari ranting tempat bertengger, burung Bayan menyambung ceritanya.
"Ada cerita menarik, kawanku. Di hutan Pulau Jawa, aku bertemu seorang kawan, ayam hutan yang tampan bernama Blorok. Ia hidup di tengah rimba, bersama keluarganya. Tubuhnya tidak terlalu besar, tetapi kokoh. Bulunya sangat indah sehingga terlihat cemerlang dan perkasa. Bulu di ekornya panjang tegak ke atas berwarna merah dan hitam. Ia disebut Blorok karena bulu di tubuhnya berwarna hitam dan putih. Bulu di sekitar ekornya terlihat berjuntai seperti beras yang tumpah. Adiknya perempuan bernama si Blirik, kebetulan warna bulunya pun hampir serupa dengan si Blorok. Suaranya merdu, nyaring, dan lantang jika berkokok menyambut pagi hari. Ia sangat sedih hidup terpencil tidak punya kawan di sana. Aku ingin sekali mengajakmu agar ayam hutan terhibur. Ia pasti suka berkawan denganmu. Kamu juga selalu mengeluh kesepian, ingin pergi dari sangkar."
Burung Abha yang ternyata betina ikut bersedih mengenang nasib ayam hutan yang tampan itu. Tiba-tiba, burung Abha jatuh cinta dan sangat ingin mencari si ayam hutan yang malang itu.
"Hai, burung Bayan, tolonglah aku agar dapat keluar dari sangkar ini.”
Bayan menjawab, "Mengapa tidak kerasan? Di sini mau makan sudah tersedia. Kamu belum tentu senang jika sudah berada di luar sana. Banyak gangguan yang menyusahkan dirimu."
Burung Abha menjawab tidak mau kalah, "Hai, Bayan, aku ini burung yang tabah dan suka kepada tantangan, kamu tidak perlu khawatir," seru si burung Abha.
Burung Bayan yang baik hati berpikir. "Bagaimana, ya? Nanti aku cari akal dulu, esok aku datang ke sini, ya, kautunggu saja."
Burung Abha mengangguk seperti tidak sabar ingin pergi. Keesokan harinya, setelah berhasil menemukan akal, burung Bayan segera pergi mencari Gelatik yang cantik-cantik. Ia mengajak Gelatik warna hijau, kuning, oranye, cokelat, dan biru.
"Hai, kawan, sedang apa? Maukah kau kuajak pergi ke sangkar burung Abha kawanku? Ia sedih, ingin lepas dari sangkarnya. Abha merasa jenuh dan sepi tinggal di sangkar. Kita harus menolongnya. Ayo ke sana!" ajak burung Bayan kepada lima ekor Gelatik itu.
Sampai di dekat burung Abha, mereka bercicit-cicit sehingga burung Abha yang sedang terkantuk-kantuk segera terbangun dan berloncatan ke sana kemari. "Oh, kawan, selamat datang burung Bayan, kenalkan aku kepada Gelatik yang mungil dan cantik itu!"
Bayan segera memperkenalkan burung Abha kepada para Gelatik.
Tidak lama kemudian, Pak Ahmad Swastika yang merawat burung datang untuk membersihkan kandang burung itu, burung Abha pun dikeluarkan untuk dimandikan. Biasanya Pak Swastika menjemur burung Abha di ranting pohon dengan mengikatkan kaki burung ke ranting dengan seutas tali. Namun, pagi itu ia menjadi lupa mengikat kaki si Abha karena terpesona melihat kawanan Gelatik yang cantik.
Pak Ahmad jongkok bersembunyi di dekat rimbunan pohon. Abha yang belum terikat di ranting segera menyingkir sambil berpura-pura berjemur. Burung Abha diam-diam bersembunyi agar dapat lolos dari cengkeraman Pak Swastika. Sementara itu, Pak Swastika berpikir keras ingin menangkap kelima burung Gelatik yang cantik-cantik itu. Pak Swastika tanpa sadar meraih sangkar milik burung Abha yang kosong. Sangkar itu dipakai untuk menjebak Gelatik. Ia memasukkan makanan agak banyak ke kandang dan membuka pintu kandang itu. Pandangan matanya selalu tertuju kepada burung Gelatik. Kemudian burung Gelatik dengan waspada mendekati kandang yang diberi makanan. Kawanan Gelatik hanya bertengger di kandang dan makan makanan sisa yang tercecer di sekitarnya. Sementara itu, burung Bayan mengedipkan matanya mengajak burung Abha agar segera terbang bersamanya.
"Ayo cepat, jangan ragu-ragu, kita berangkat segera. Pak Swastika sedang asyik ingin menangkap Gelatik."
Tanpa disadarinya Pak Swastika telah menghilangkan burung Abha milik Raja Keling, sedangkan burung Gelatik masih sulit ditangkap. Ketika teringat akan burung Abha, Pak Swastika terkejut dan mencari-cari burung Abha. Matanya terbeliak dan menengok ke sana kemari. Ia menjadi panik dan marah sambil bertanya-tanya dalam hati. "Ke mana gerangan burung Abha. Wah, celaka, kena marah aku ini?"
Pagi yang cerah itu tidak menyenangkan bagi Pak Swastika, ia kehilangan burung kesayangan rajanya. Ia berdoa agar junjungannya tidak terlalu kecewa mengingat burung Abha yang hilang. Ia tidak mau sarapan karena mengenang nasibnya yang buruk pagi itu. Dengan berdoa, hatinya menjadi lega, "Semoga Tuhan mendengar doaku."
Dengan sangat gembira burung Abha pergi jauh meninggalkan Istana Keling menuju Pulau Jawa. Ia gembira berada di sepanjang jalan. Dari atas, burung Abha menyaksikan sungai yang berkelok-kelok, sawah menguning terhampar di mana-mana. Namun, si Abha masih belum berani turun makan padi.
Ia kadang-kadang bertemu sekawanan burung Kuntul yang cantik. Badannya terlihat langsing, apalagi kalau ia terbang bersama kawan-kawannya. Bulunya berwarna seragam dengan kawan lainnya. Di bagian atas bulunya berwarna hitam. Kemudian, pada bagian bawah badannya terlihat berbulu putih, dengan paruhnya yang panjang menambah keindahan tubuhnya.
"Wah, itu burung apa, Kak, cantik sekali bersama-sama kawan-kawannya yang bertubuh sama."
Bayan menjelaskan. "Ia bernama burung Kuntul, tetapi ia bukan burung sejenis dirimu. Ia hidup di rawa-rawa dan di tempat yang tinggi."
Suatu ketika, setelah terbang beberapa hari, burung Bayan berkata bahwa keesokan hari ia akan kembali ke daerah tempat tinggalnya. "Hai, Abha, besok kau melanjutkan pengembaraan sendiri, ya! Hati-hati di jalan, jangan sampai tubuhmu yang indah dan mulus itu disambar burung Gagak liar. Dia sangat kejam kepada mangsanya." Demikian pesan burung Bayan, sahabatnya.
Burung Abha hanya mengangguk tanda menuruti nasihat kawannya. Bayan berkata mengajak kawannya. "Sekarang kita tiba di hutan Pulau Bali. Hutan itu sangat lebat, banyak pohon buah-buahan yang lezat-lezat. Kita turun makan dan beristirahat di sana sebelum kita berpisah."
Mendengar ucapan Bayan yang budiman itu, si Abha sangat sedih, "Setelah ini aku terbang sendirian, ya?"
Burung Bayan tersenyum, lalu berkata, "Ayo, jangan takut, kawan itu berada di mana-mana, tenang saja, kau berdoa mudah-mudahan sebelum kutinggalkan kau sudah punya kawan."
Akhirnya, mereka makan buah sawo manila yang berada di hutan dengan lahapnya. Sudah sekian hari mereka tidak makan dan minum. Setelah itu, Bayan mencari ranting pohon yang agak tinggi untuk beristirahat. Tanpa berpikir panjang, burung Abha mengikuti dan bertengger di sebelah burung Bayan. Bayan juga mengajak Abha agar terbang ke atas pohon buah ara berwarna merah.
"Wah, enak sekali buah ini, aku belum pernah memakannya."
"Ya, memang manusia tidak mungkin memperoleh buah yang hanya tumbuh di hutan. Buah ara ini semula ada di Sulawesi. Burung Enggang yang membawa buah ini dengan paruhnya yang besar ke sini hingga tumbuh di Pulau Bali."
Setelah beristirahat, Bayan budiman itu bertanya kepada Abha, "Sudah, ya, kau tega berpisah denganku. Aku tahu, kau bertekad ingin pergi ke Pulau Jawa karena terpikat oleh ayam hutan, si Blorok itu, ‘kan." Bayan berkata begitu sambil tertawa berjingkrak-jingkrak. "Aku ikut berdoa agar kelak kau berhasil menemukan kekasihmu."
Burung Abha tersenyum manis sambil bergumam. "Yah ... belum juga bertemu. Semoga saja, aku tidak mengalami godaan sebelum bertemu dengan si Blorok."
Bayan menasihati bahwa dirinya sudah tua, ia tidak layak pergi jauh tanpa tujuan bersama Abha yang masih muda. Dengan mengenang kegagahan dan ketampanan si Blorok, Abha bersemangat pergi mencari pujaan hati yang diimpikannya.
Sedang enak-enak bercengkerama tiba-tiba datang anak kera membawa setongkol jagung muda yang sangat enak. "Hai, kera, kawanku, makan apa kau? Boleh aku mencicipi makananmu?"
Kera dengan ramah menjawab, "Oh, boleh. Satu tongkol ini bisa untuk kalian berdua. Tongkol ini besar, kok, aku sampai berat membawanya. Silakan ambil, aku akan meminta lagi kepada ibuku."
Abha segera menjawab, "Terima kasih, kawanku yang baik. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu," katanya sambil memungut jagung itu dan membagi kepada burung Bayan.
"Aku sedikit saja. Silakan kaumakan dulu, aku sisanya saja."
Namun, Abha sangat menghargai Bayan yang lebih tua. Ia berkata, "Jangan begitu, yang tua mencicipi lebih dahulu, setelah itu barulah aku yang menghabiskannya."
Bayan tersenyum lalu mulai memakan jagung dengan lahap. Ia menyudahi makannya sebelum kenyang dan menyerahkannya kepada burung Abha yang masih belia. "Silakan dihabiskan agar kau lebih kuat menempuh perjalanan yang panjang," kata si Bayan dengan keibuan.
Dengan malu-malu burung Abha melahapnya. Mereka jarang sekali makan jagung muda yang manis itu sehingga terlihat ia sangat menikmati. Mereka biasanya makan jagung tua yang kering, ditumbuk dan dicampur dengan berbagai jenis makanan lainnya, seperti jewawut, ketan hitam, dan menir beras.
Sebelum berpisah, burung Bayan mengajak Abha terbang ke luar hutan. Mereka bertengger di atas pohon di pinggiran hutan. "Jika istirahat di sini, kau bisa turun ke sawah sana memakan padi milik petani. Tidak apa-apa, petani menyaksikan tubuhmu yang indah pasti mengizinkan padinya kaumakan barang sepuluh butir. Ini ‘kan demi kelangsungan hidupmu, jangan takut-takut." Bayan berpesan kepada kawannya yang masih belum berpengalaman mencari makan sendiri di luar sangkarnya. "Jika bertemu kebun jagung, kau belum tentu bisa makan buahnya karena terbungkus rapat dengan bajunya. Tadi siang karena bernasib baik, kita diberi jagung muda oleh kera kanak-kanak yang baik hati. Sudah, ya. Pandai-pandai menjaga diri, semoga Tuhan melindungimu," kata Bayan sebelum berpisah dengan burung Abha.
Si Abha yang masih muda meneteskan air mata, sambil berkata, "Semoga kelak kita berjumpa lagi."
Mereka berpisah, Bayan mengibas-ngibaskan sayapnya sebelum terbang menjauh. Sementara si burung Abha masih tertegun dan merenung akan masa depannya yang masih belum tampak cerah. Tanpa terasa hari mulai malam, Abha segera mencari dedaunan yang lebih rimbun untuk menjaga dirinya dari serangan burung liar.
•••
2. BURUNG ABHA BERTEMAN DENGAN BURUNG CANGAK
Dari kejauhan terlihat Gunung Agung menjulang tinggi, seolah menunjukkan bahwa dunia ini sangat luas dan agung. Abha merasa dirinya sangat kecil, ia m berharap cemas mengenang nasibnya di luar sangkar emas. Ia segera mendekat kepada Sang Pencipta Alam. "Inikah yang disebut kebebasan? Dapatkah aku bertahan hidup di luar sangkar emas? Lindungilah hamba yang lemah ini Tuhan!" Diam-diam sebelum tertidur, Abha mencoba berdoa untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kacau seorang diri.
Malam itu terkesan sepi, udara dingin menyengat karena terpaan angin kencang dari arah persawahan. Abha semakin memejamkan mata ketika sesekali mendengar burung hantu berbunyi mengingatkan agar malam itu banyak berdoa dan bersyukur kepada Tuhan.
Keesokan harinya terlihat matahari bersinar cerah. Sekawanan burung terbang dari arah timur ke barat. Burung-burung di hutan berkicau ramai saling memberi tahu bahwa hari telah siang. Suara kera tua yang menggema memenuhi hutan belantara dan menyatakan bahwa saatnya kita bekerja mencari makan untuk hari ini. Mereka, seisi hutan tertawa riang meskipun belum tahu mau makan apa hari ini. Burung Abha pun menjadi sadar bahwa dirinya tidak sendiri di dunia ini. Maka, burung Abha mencoba turun ke sawah untuk memakan beberapa butir padi di sawah. Setelah puas dan kenyang, Abha mencoba terbang di sekeliling tempat itu.
Dari kejauhan, ia melihat seekor burung berbulu hitam dan putih. Burung itu berada di rawa-rawa sedang mencari ikan. Burung Abha yang merasa sendiri berusaha mendekati burung tersebut. Maka mereka berkenalan, burung Cangak itu adalah burung jantan yang pongah dan suka berbohong. Ia berkenalan dengan si Abha yang cantik dan anggun. Namun, Cangak masih merahasiakan dirinya yang tidak sama dengan burung Abha. Burung Abha bertanya kepada Cangak itu.
"Mengapa kau mencari makan di rawa-rawa, apa yang kaudapatkan?" Demikian pertanyaan Abha ingin tahu.
Burung Cangak jantan itu menutupi bahwa ia pemakan ikan dan belut di sawah atau di rawa-rawa, sedangkan Abha pemakan buah-buahan dan biji-bijian. Ia rupanya tertarik kepada burung Abha yang cantik itu. "Aku akan merayu Abha agar mau jadi kawan karibku. Aku harus berhati-hati mendekatinya agar ia senang padaku." Cangak dengan hati-hati dan penuh rekayasa mengatakan bahwa dirinya akan pergi mencari obat untuk kawannya yang sakit, tetapi belum juga bertemu.
Maka, Abha bertanya, "Siapa kawannya itu? Bolehkah aku berkenalan dengannya?"
Dengan hati-hati Cangak segera bercerita, "Oh, jangan ... berbahaya, dia bukan sebangsa burung. Kawanku itu seekor anak harimau yang sedang terluka. Induknya meninggalkan begitu saja karena ia terluka digigit serigala. Aku mencoba mencari ikan untuk makan anak harimau itu," cerita Cangak berbohong. Padahal, ikan yang dicarinya itu untuk dirinya sendiri.
Abha segera menjawab, "Wah, kasihan anak singa itu, ia memang harus ditolong, aku juga pernah diberi jagung oleh anak seekor kera yang baik."
Cangak segera menjawab, "Akan tetapi, kau tak perlu berkenalan dengan anak singa itu. Jangan-jangan tubuhmu yang cantik itu diterkam olehnya."
Kilah si Cangak mencegah keinginan si Abha untuk berkenalan karena anak singa itu memang tidak ada. Hanya rekaan Cangak saja yang suka berbohong. Ia ingin dianggap baik oleh si burung Abha.
"Kalau begitu kau baik sekali, siapa namamu?"
Cangak belum menjawab pertanyaan Abha, tetapi sudah menanyakan diri si Abha.
"Sebelum kau bertanya tentang diriku, aku akan bertanya lebih dahulu tentang dirimu. Ada apa gerangan burung secantik dirimu berani pergi ke alam bebas ini?"
Dengan bersemangat dan berniat minta tolong si Abha bercerita. "Aku nekat pergi dari sangkar indahku di Negeri Keling karena ingin mencari ayam hutan bernama Blorok yang hidup di hutan Pulau Jawa. Apakah kau bisa menolongku menunjukkan di mana ia berada?"
Burung Cangak tertegun mendengar pengakuan Abha. "Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba," pikir si Cangak yang pongah dan pembohong itu.
"Oh, kalau begitu kamu tidak usah sulit-sulit mencarinya karena akulah si ayam hutan yang sedang kaucari."
Burung Abha terkejut dan agak kecewa karena ayam hutan yang dibayangkannya tidak seperti itu. Ia bertubuh kekar dan berjengger merah. Abha bertanya, "Ini ‘kan masih di Pulau Bali?"
Hatinya kecewa dan tidak terlalu gembira berkenalan dengan burung jantan itu. Namun, sebagai burung yang nekat dan tidak tahu malu, Cangak tetap memaksa agar Abha mau berkawan dengannya dan tidak pergi ke mana-mana.
Cangak berkata," Dulu memang aku di Pulau Jawa, tetapi sekarang aku pun ingin mengembara seperti kamu. Tinggallah kau di sini bersamaku, di hutan ini kita banyak kawan sesama burung lainnya. Aku akan selalu menyenangkan dirimu," bujuk si Cangak menipu Abha.
Burung Abha seperti terjerat oleh rayuan burung Cangak. Akan tetapi, Abha berjanji tidak mau diperistri oleh Cangak. Setiap hari Cangak mengajak Abha mencari buah-buahan di hutan. Setelah kenyang, Abha ditinggalkan seorang diri. Cangak terbang jauh ke atas pohon bersama Cangak lainnya dan mencari ikan di rawa-rawa tanpa setahu burung Abha. Lama-kelamaan si Abha tidak betah berada di hutan itu. Ia mencoba mencegah kepergian Cangak agar dirinya tidak sepi seorang diri. Namun, Cangak dengan kejamnya berkata. "Sudahlah, kau ‘kan sudah kenyang. Mau apa lagi? Aku akan pergi ke rawa untuk mencari ikan agar anak harimau itu tidak mati kelaparan. Kau mau ikut aku ke rawa? Di sana banyak buaya, kau akan dicaplok nanti jika ada di sana," kata Cangak yang suka berbohong.
Dengan menunduk sedih, Abha mempersilakan kawannya itu pergi. Sehari-harian Abha seorang diri bertengger di pohon yang tidak terlalu tinggi.
Abha merenung seorang diri, benarkah dia si ayam hutan bernama Blorok? Bagiku dia tidak menarik seperti yang aku bayangkan. Blorok yang diceritakan si Bayan sangat tampan dan baik hati, aku menjadi sangsi. Setelah lelah termenung, ia tertidur di atas ranting pohon buah ara. Sehari-hari pekerjaannya hanya menunggu Cangak datang menemaninya menjelang malam. Kadang, Abha pun bersedih sendiri teringat indahnya ketika berada di dalam sangkar emas. Bayan budiman sering datang menemaninya dan mendongeng untuknya. Mereka bercakap-cakap hingga sore hari dan tertidurlah si Abha dengan mimpi yang indah. Ia bertemu dengan ayam hutan yang sebenarnya, Abha bertanya, "Hai, Blorok, kamu ayam hutan yang aku cari bukan? Kenalkah kau dengan burung Bayan yang sangat baik hati? Ia menceritakan kesedihanmu kepadaku sehingga aku berusaha mencarimu sekarang ini."
Blorok tersipu malu mendengar kisah burung Abha yang cantik dan anggun. "Kalau begitu, kau sangat baik hati, mau menemani aku selamanya. Terima kasih atas ketulusanmu," seru si Blorok yang sangat bahagia saat itu. Udara di hutan itu terasa nyaman, tidak panas sekalipun di siang hari. Namun, tidak juga dingin sehingga mereka senang bercengkerama berdua.
Mimpi si Abha terusik ketika tiba-tiba Cangak datang dan membangunkan dari tidurnya. "Hai, kawan, ini aku datang membawa buah jambu batu untukmu. Ayo, segera dimakan, manis sekali. Aku sudah mencicipinya," seru Cangak berbohong, padahal ia tidak suka makan buah-buahan. Ia lebih suka makan ikan dan daging.
Setelah mencoba memakan buah itu, Cangak bertanya. "Hai, kekasihku, maukah kau menjadi istriku? Percayalah, kita sesama burung, kau burung yang baik dan aku burung perkasa dan jantan. Lihat paruhku yang kekar ini, sanggup untuk membawa tongkol jagung yang besar."
Mendengar ocehan burung Cangak, Abha bertambah benci kepada kawannya. Ia tahu dirinya dibohongi, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Ia bertanya, "Jika kau memang baik, antarkan aku ke Pulau Jawa. Aku ingin hidup dan menetap di sana. Mau ‘kan, kau memang burung yang baik. Aku hanya mau menjadikan dirimu sebagai kawan karibku saja. Maafkan aku," ujar burung betina yang lemah lembut itu.
Burung Cangak yang pongah sangat kesal dan berniat jahat ingin membunuh Abha. "Awas jika berani meninggalkan aku, akan kubunuh kau."
Untunglah, burung Kuntul segera datang menemui burung Abha. Saat itu udara cerah, awan berarak tertiup angin sepoi menghapus warna biru terang dan indah. Dari jauh terdengar seekor burung kecil mencicit mencari induknya. Tiba-tiba muncul di hadapan Abha seekor burung Kuntul. Ia menyapa dengan ramahnya.
"Hai, burung Abha yang cantik, dari mana asalmu dan mengapa dirimu yang secantik itu berani mengembara di hutan seperti ini? Hati-hati kau diperdaya burung Cangak yang pongah dan suka berbohong itu."
Sebagai sahabat yang baik, Abha menjaga agar Cangak tidak terlalu dimusuhi si Kuntul. "Ya, aku sebagai seekor burung perempuan yang tidak berdaya, aku hanya membutuhkan perlindungan. Cangak baik kepadaku," si Abha menutupi kesalahan Cangak. Abha bertanya kepada kawan barunya, "Akan tetapi, aku sedang mencari kawan yang mau menemani aku terbang ke Pulau Jawa."
Kawannya segera menyela, "Ya, masalah itu jangan terlalu dipikirkan. Kita pergi main-main ke sebelah utara danau itu. Di sana banyak kawanku, nanti aku perkenalkan dengannya."
Mendengar ajakan Kuntul yang baik itu, Abha bersedia pergi ikut dengan burung Kuntul. Sampai di tempat yang nyaman, hinggaplah burung Kuntul itu mengajak Abha.
"Jangan terlalu tinggi, aku bukan burung sejenismu. Aku tidak berani hinggap terlalu tinggi," kata Abha.
"Akan tetapi, kawan-kawan kita ada di atas, Cangak pun kalau main dengan kawannya di sana. Atau, ia suka ke rawa-rawa di sana mencari ikan dan belut makanan kesukaannya," jawab Kuntul.
Mendengar ucapan Kuntul, burung betina itu terperanjat. "Apakah Cangak sebangsa denganmu, pemakan ikan?"
Kuntul segera menjawab, "Kok malah bertanya, memangnya kamu tidak tahu? Ia sejenis denganku suka makan ikan."
Abha terkejut mendengar ucapan burung Kuntul yang baik hati. "Aku sudah diperdaya oleh Cangak, kurang ajar!" Ia segera pergi bersama kawannya.
Mereka segera melihat sekawanan burung yang baru saja terbang dan hinggap di dekat mereka. Ternyata mereka burung Peperuk, Pelatuk, dan beberapa Kuntul lainnya. Setelah berkenalan, Kuntul bercerita, "Kawan kita ini ingin sekali merantau ke Pulau Jawa, siapa yang mau menemani sampai di sana." Kawanan burung yang baru dikenal itu berkomentar.
"Wah, daripada terbang jauh-jauh, sudahlah di sini saja menjadi kekasihku atau sahabatku." Teman si Kuntul segera menyela.
“Kau ini sama saja dengan si Cangak, hanya mencari kesempatan saja, tidak mau berniat menolongnya," ujar si Kuntul yang baik hati.
Burung Abha tersenyum manis tanpa dapat berbuat apa-apa. "Semua burung memang sama saja. Hanya burung Bayan yang baik hati," gerutunya di dalam hati. Abha hanya dapat berdoa terus-menerus agar usahanya merantau ke sana terkabul. Sekali lagi Kuntul mendesak Abha ingin tahu. "Kau sudah lama berkenalan dan hidup bersama-sama Cangak, mengapa ia tidak mau mengantarmu ke Pulau Jawa? Sudah menjadi istri si Cangak kau ini?"
Abha tersenyum malu, "Ya, belumlah, masa aku mau menikah dengan kawan yang suka berbohong kepadaku. Ia mengaku kalau dirinya ayam hutan bernama si Blorok yang sedang kucari, dan ia merayu akan mengawiniku. Aku menolak dan hingga saat ini aku hanya bersahabat.”
"Oh, begitu. Makanya hati-hati, ya, mulai sekarang, kau tidak perlu bertemu lagi. Ia pasti sudah cemburu dan mengancam akan membunuhmu.” Kuntul memperingatkan diri si Abha.
Burung cantik itu terlihat cemas pada wajahnya.
"Kalau begitu, ya, sudah antarkan aku kembali ke Keling saja menemui burung Bayan budiman. Aku menyesal telah tersesat dan tidak mampu bertahan di perantauan," gerutu si Abha sambil meneteskan air mata.
Kuntul dan kawan-kawannya merasa kasihan dan menghibur si Abha yang cantik. "Ohhh, hoooh ..., Abha, Abha. Kau ini sungguh-sungguh tidak merasa bahwa dirimu cantik sehingga tidak menyadari bahaya mengancam."
"Ya, aku sadar, dan hingga saat ini selalu berdoa agar cita-citaku terkabul. Ternyata hingga saat ini aku masih selamat," ujar Abha dengan manja.
Kuntul tersenyum dan gemas menyaksikan burung cantik yang sangat jujur ini. "Sekarang begini saja, Kau memilih kembali ke burung Bayan, atau menunggu di sini aku cari si ayam hutan bernama Blorok di Pulau Jawa? Kau perempuan tidak pantas mencari ayam jantan dengan bersusah payah, cantik!" jelas si Kuntul.
Setelah merenung sebentar, Abha menjawab. "Aku tidak memilih semua, aku hanya ingin mengembara ke Pulau Jawa."
Mendengar jawaban Abha yang cerdik, Kuntul tertawa terbahak-bahak, "Kau ini memang keras kepala. Ya, sudah, besok kita berangkat menuju ke Pulau Jawa."
Setelah mereka berpikir bersama, burung Cukcak yang biasanya ceriwis menyarankan agar Kuntul dan Abha berangkat besok untuk menghindari balasan Cangak si pembual itu kepada Abha. Cukcak bersama Peperuk dan Pelatuk kembali ke Negeri Keling mengajak si Bayan yang baik hati itu agar kita tidak tersesat di hutan Pulau Jawa. Kuntul menjawab dengan senang hati.
"Oke, kalau begitu kami berdua menunggu di daerah Banyuwangi sebelum kita melanjutkan ke Pulau Jawa." Setelah sepakat demikian, mereka segera berpencar menuju tempat masing-masing.
•••
3. BURUNG ABHA BERTEMU DENGAN AYAM HUTAN
Sementara itu, inilah kisah si ayam hutan bersama keluarganya yang bertempat tinggal terpencil di tengah hutan. Ayam hutan jantan bernama Blorok itu sangat setia kepada keluarganya karena ayahnya telah mati. Ia harus pandai dan luwes melayani ibu dan adik-adiknya. Ia bertekad sebelum adiknya menikah, Blorok tidak mau menikah. Saat itu ia baru saja menikahkan si Blirik dengan ayam Cemani Jantan yang gagah dan pemberani. Ayam Cemani itu berbulu hitam, bahkan seluruh tubuh hingga darahnya berwarna hitam. Ayam sakti dan kebal akan segala penyakit itu telah memikat adik perempuan satu-satunya di keluarga si Blorok.
Dua orang adik laki-laki si Blorok telah menikah dan telah pergi meninggalkan keluarga. Kini tinggal si Blorok menunggu ibu dan adiknya dengan sabar dan tulus ikhlas. Ia bekerja keras mencari makan untuk ibu dan adik perempuannya. Selain bekerja keras, ia pun senang berpuasa dan berdoa demi masa depannya agar senantiasa bahagia.
Sementara itu, burung Cukcak, Peperuk, Pelatuk telah sampai ke pondok si burung Bayan. Burung yang budiman itu gembira menerima tamunya. Bayan mempersilakan tamunya bermalam di rumahnya sambil membicarakan duduk persoalan kehadirannya di rumah itu. Malam itu Cukcak bercerita tentang keadaan burung Abha yang masih berada di Pulau Bali. Ia terhambat di tempat itu karena bersahabat dengan burung Cangak dan kawannya itu mencegah kepergian si Abha. Mendengar penuturan si Cukcak, burung Bayan sangat bersedih. Akhirnya, mereka sepakat daripada terlalu lama menunggu sebaiknya esok hari kita berangkat ke Banyuwangi menyusul si Kuntul dan putri Abha.
"Ya, … memang burung Abha adalah seekor burung betina yang tidak pantas mencari pejantan. Oleh karena itu, kita beramai-ramai mengantar putri Abha itu agar si Blorok lebih menghargai putri Abha," usul si burung Bayan.
Sementara itu, burung Kuntul telah sampai di Banyuwangi bersama Abha. Dalam bercengkerama, mereka kadang bergurau dan Kuntul ternyata juga ingin mencari kesempatan. Ia bertanya kepada Abha. "Wahai Putri Abha yang cantik dan anggun, setelah kita bergaul sekian lama, apakah Dinda tidak tertarik ingin hidup bersamaku?"
Mendengar pertanyaan si Kuntul, burung Abha tertawa terpingkal-pingkal. Lalu menjelaskan dengan lemah lembut dan jujur.
"Wahai Kuntul yang baik hati, setelah berteman denganmu masalah yang aku hadapi kelihatannya hampir dapat diselesaikan dengan baik. Hal itu menunjukkan bahwa kamu adalah sahabat yang baik. Untuk itu, aku sekali lagi mengucapkan terima kasih, semoga Tuhan membalas amal kebaikanmu," seru si burung Abha.
Pikir si Kuntul, "Burung betina ini memang seorang wanita dan calon ibu yang baik. Ia pandai membawa diri dan selalu disegani kawan-kawannya, termasuk diriku. Baru kali ini aku bertemu burung betina yang baik hati dan pemberani." Diam-diam si Kuntul mengagumi teramat sangat kepada si Abha.
Tanpa terasa, rombongan burung Bayan telah sampai di Banyuwangi dan langsung menemui burung Abha. "Wah, Adindaku, aku yang sudah setua ini terpaksa harus pergi bersama para burung yang masih lajang untuk menemanimu mencari si Blorok. Oleh karena itu, kita jangan menunda lagi, esok hari harus segera berangkat. Lokasi tempat tinggal Blorok masih jauh, yakni di Jawa bagian tengah, yakni di daerah Purwokerto. Di sana terdapat hutan lindung yang masih terjaga dan dilindungi rakyat di sekitarnya. Rakyat di sekitarnya, memanfaatkan dengan bertanam tumpang sari sambil menjaga kelestarian hutan. Mereka tidak pernah menebangi kayu yang tumbuh di hutan itu. Selain menanam tumpang sari, mereka sesekali mencari ranting kayu yang jatuh di tanah dan mengering. Kayu itu dipakai untuk memasak di dapur. Oleh karena itu, binatang ataupun tumbuh-tumbuhan yang berada di hutan itu senantiasa terlindung. Benar-benar bernama hutan lindung. Dengan adanya hutan yang masih lestari, daerah itu selalu berudara segar, jarang terjadi peristiwa banjir. Kali di sekitar perumahan mereka memercikkan airnya dengan deras dan bening dari pegunungan menuju ke lautan. Sungguh kota yang indah dan damai. Para penduduknya pun hidup dengan tenang diatur oleh syariat agama yang benar dan konsekuen. Para orang tua tidak perlu mengajari anaknya, dengan memberi contoh bersikap baik dan bermartabat, maka si anak akan mencontoh dengan sendirinya."
Demikian kisah yang dituturkan si Bayan kepada kawan-kawannya sebelum mereka beristirahat. Maka kata si Cukcak, "Wah, kalau begitu beruntung putri Abha, ya. Ia akan senang tinggal di habitat yang terlindungi, jangan-jangan banyak anaknya nanti." Mereka yang mendengar tertawa riang. Sementara, si Abha yang bahagia itu tersenyum manis.
Keesokan harinya, mereka berangkat menuju daerah Purwokerto. Tiga hari lamanya, baru mereka sampai di Purwokerto. Hal itu terjadi karena mereka singgah di beberapa tempat untuk beristirahat. Setelah mengucap salam, burung Bayan masuk terlebih dahulu bersama burung Abha. Ayam hutan yang tidak mempersiapkan apa-apa terkejut dan tergopoh-gopoh menyambut tamunya.
"Silakan duduk, mari-mari saya mengambil kursi dari dalam bilik." Sekali lagi si Blorok mempersilakan tamunya yang masih berada di luar.
Ibu si Blorok bernama Pandan karena bulunya hijau kehitam-hitaman ikut keluar menyambut tamunya. Di dapur, si Blirik menyiapkan minuman untuk tamunya.
Setelah siap minuman tersaji dan mereka sudah duduk dengan nyaman dan teratur, Blorok bertanya dengan sopan dan berwibawa. "Ada apa gerangan Kakak Bayan yang berbudi datang berbondong-bondong ke rumah kami? Tentu dengan senang hati keluarga kami senang menyambut kehadiran para tamu."
Dengan tenang dan teratur, Bayan yang penyabar itu bercerita. "Begini, Adindaku ayam Blorok, dahulu kala setelah kita bertemu dan Dinda bercerita tentang semua permasalahan dan kehidupan Dinda, maka hamba ini senantiasa terpikir ingin menolong, kalau bisa. Kebetulan, hamba pun mengenal si putri Abha ini yang semula bersemayam di sangkar emas milik Raja Keling. Ia bercerita tentang dirinya yang juga kesepian. Setelah saya teringat Dinda, berceritalah hamba kepada si putri Abha ini. Anehnya, baru hamba bercerita tentang Paduka, ia sudah jatuh hati. dan tertarik ingin mencarinya. Padahal, dia seorang putri yang tidak pernah hidup bebas di luar istana. Hamba semula mengkhawatirkan keadaan si Abha ini, tetapi setelah hamba berpikir, alangkah kasihannya, jika ia harus mencari Dinda Blorok seorang diri. Akhirnya, kami semua mengantar si Abha dengan berbondong-bondong," kisah burung Bayan yang diakhiri dengan derai tawa para tamu dan tuan rumah.
Mendengar kisah si burung Bayan, pemuda Blorok sangat tersanjung dan bahagia. Ia kemudian sekaligus meminta bantuan agar burung Bayan dan kawan-kawan jangan terburu-buru kembali ke rumahnya.
"Kita sekaligus mengadakan pesta perkawinan agar lebih praktis, kami telah menikah sebelum kawan-kawan meninggalkan kami," usul Blorok yang langsung disepakati para tamunya. Mereka segera bergerak melakukan tugas menyambut perhelatan.
Burung Bayan yang sakti berkata, "Sudahlah, Dinda Blorok tidak perlu bersusah-susah, kami sudah berbekal ilmu sehingga tidak perlu bersusah-susah bekerja keras. Semua kita serahkan kepada yang empunya kerja." Maka Bayan yang baik hati segera bersemadi memohon agar dipersiapkan segala sesuatunya untuk peranti perkawinan Abha dan Blorok. Tiba-tiba, di pelataran sudah berjajar meja yang dilengkapi segala makan penganan yang lezat-lezat. Acara berlangsung dengan khidmat, seluruh penghuni di hutan itu ikut hadir menyaksikan acara perkawinan agung itu. Putri Abha sangat bahagia bersanding dengan Blorok yang gagah dan tampan. Abha meneteskan air mata bahagia. Tidak lupa, ia mengucapkan terima kasih kepada Bayan yang berbudi itu. Setelah acara pernikahan selesai mereka beristirahat sejenak sambil menikmati udara segar di hutan itu. Tampaknya kawan-kawan si Abha sangat betah dan senang berada di daerah itu. Mereka enggan pulang. Burung Bayan berkata, "Makanya, sering-seringlah kelak kalian datang mengunjungi Pak Blorok dan Ibu Abha. Mereka akan senang." Seluruh tamu dan tuan rumah tertawa dan mereka memohon diri pulang ke rumah masing-masing.
Hari-hari berlalu menyenangkan, Abha dan Blorok bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan mereka. Lima tahun kemudian, Blorok dan Abha yang bahagia itu dikaruniai dua ekor burung Merak yang cantik, laki-laki dan perempuan. Ketika mengerami anaknya, si Blorok tidak mengizinkan istrinya pergi jauh dan bekerja di rumah. Si Abha hanya mengerami telurnya yang akan menetas. Suaminya mencarikan makan dan menyediakan untuk si Abha. Waktu sudah mulai akan menetas, telur itu seperti bergerak dan menggelinding karena anak ayam itu mematuk-matuk kulit telur. Ibunya, si Abha berteriak memanggil suaminya dan memberi tahu anaknya akan menetas dari cangkang telur. Si Blorok dan neneknya mendekat dan membantu melepaskan anaknya dari cangkang telur. Telur yang memang tampak besar itu akhirnya melahirkan seekor burung Merak. Bulunya hijau tua, kemilau, dan bergaris kuning. Abha sangat bahagia, ia mengerami terus anaknya yang baru lahir agar tidak kedinginan. Setelah beberapa hari dierami, anak burung itu mulai kuat. Abha melolohnya dengan makanan pemberian Blorok. Setelah tumbuh cukup besar, ia selalu menghibur ayah, ibu, nenek, dan bibinya dengan menari. Kedua Merak itu berjingkat-jingkat sambil bergandengan. Kemudian, ketika semua tertegun, keduanya melebarkan ekornya yang indah menyerupai kipas berwarna-warni. Di ujung bulunya terlihat gambar bundar menambah indahnya motif bulu itu.
Suatu hari burung Bayan dan kawan-kawannya mengunjungi keluarga si Blorok. Mereka kagum dengan kecantikan anak-anak si Abha. Burung Bayan merenung mengenang nasib si Abha dan si Blorok di masa lalu. Mereka memang burung yang baik dan mau berjuang untuk kebahagiaan di masa depannya. Demikian pikir si Bayan.
Tidak hanya keluarga yang mengagumi burung Merak itu. Seluruh binatang di hutan itu mencari waktu dan kesempatan untuk melihat keindahan si burung Merak. Mereka semua bersyukur atas kelahiran si burung Merak.
Kini, si Abha sedang mengerami telurnya untuk kelahiran anaknya yang ketiga dan selanjutnya. Mereka berdoa semoga anaknya yang akan menetas menjadi burung yang cantik seperti kakaknya. Burung Merak yang cantik itu akhirnya beranak-pinak yang cantik. Siapa yang berkunjung ke hutan itu akan terpukau oleh pemandangan indah di dalam hutan itu.
•••
B. KISAH GALUH CANDRAKIRANA
1. GALUH DIGANTUNG
Dahulu kala si empunya cerita mengisahkan kehidupan Batara Nayakesuma dan istrinya. Mereka adalah seorang raja berputra lima orang anak, empat orang laki-laki dan seorang perempuan. Setelah dewasa, semua anak Nayakesuma menjadi raja. Anak pertama, di Kerajaan Kuripan; anak kedua di Kerajaan Daha; mereka tampak akrab. Kemudian, putra ketiga memerintah di Kerajaan Gegelang; dan putra keempat bertugas memimpin di Kerajaan Singasari. Anak bungsu Raja, yakni putri kelima tidak didudukkan menjadi Raja, Ratu Emas bermukim di Panggung Wetan, dekat istana kakaknya, Raja Daha. Kakaknya yang sangat menyayangi adiknya sehingga tidak lepas dari pengawasannya.
Suatu ketika Raja Kuripan bercita-cita mempunyai anak laki-laki dan Raja Daha juga ingin mempunyai anak perempuan. Oleh karena itu, mereka berdoa dan berjanji jika cita-citanya terkabul akan menjodohkan kedua anak itu menjadi suami istri.
Beberapa bulan kemudian cita-cita dua raja itu terkabul dan tujuh tahun kemudian anak tersebut meningkat remaja. Raja Daha berniat memenuhi janjinya, beliau mengutus penggawanya untuk pergi ke Istana Daha guna melamar Raden Galuh Candrakirana untuk Raden Panji Inu Kertapati. Akan tetapi, sebelum Panji Inu Kertapati menginjak dewasa, ia tidak menuruti nasihat ibunya. Ia lebih suka pergi menghabiskan waktu di luar istana karena gemar berburu.
"Aku hanya menyukai permainan gamelan, lainnya tidak sehingga aku lebih suka pergi berburu. Namun, Ibuku tidak suka aku selalu berkeliaran di hutan."
Pengiringnya berkata mengingatkan, "Sebaiknya Paduka jangan pergi terlalu sering, Paduka harus paham bahwa Ibunda Permaisuri tidak suka Paduka menghabiskan waktu untuk berburu."
Maka, di istana, permaisuri raja marah menyaksikan kegiatan putranya di istana terbengkelai. Ia memang lebih mengutamakan berburu binatang di hutan daripada belajar ilmu bela diri, memanah, bermain tombak di atas kuda, dan berlatih gamelan. Pelajaran itu harus ditempuh sebagai syarat seorang calon raja. Mengingat hal itu, permaisuri pun menjadi ragu akan kemampuan Raden Inu Kertapati.
"Apakah anak itu mampu menjadi raja pengganti ayahnya?"
Karena kesal melihat perilaku anaknya, permaisuri menyatakan isi hatinya kepada Raja. "Bagaimana kalau adiknya, Raden Carang Tinangluh saja yang lebih layak sebagai pengganti ayahnya?"
Mendengar ucapan dan kemarahan ibunya, Panji Inu Kertapati bersedih. Ia bertekad segera pergi meninggalkan istana bersama beberapa orang pengikutnya. Tanpa memberi tahu orang tuanya dan tanpa air mata, pemuda gagah dan tampan itu pergi mengembara. Rasa cinta kepada keluarga disisihkannya demi masa depannya. Ia berkata bahwa dirinya sanggup mewujudkan cita-citanya, sekalipun berada di luar istana. Ia bercita-cita untuk tetap menikah dengan tunangannya Candrakirana sekalipun ibunya menyia-nyiakan dirinya.
Pembantunya yang setia Jurudeh Tuah dan Persanta mengikuti Panji Inu Kertapati bertapa dan mencari ilmu ke Gunung Silamancur. Dengan cerdik dan cekatan Raden Inu Kertapati cepat menguasai ilmu dari gurunya di pegunungan itu. Untuk merahasiakan keberadaan Inu Kertapati, mereka mengubah namanya, Panji Inu Kertapati menjadi Ajar Arga Patih, Persanta menjadi Peputut Kudang Pepari, dan Jurudeh Tuah berganti nama Peputut Jati Sari.
Sementara itu, Raja Kuripan dan Raja Daha yang telah mempersiapkan hari perkawinan Inu Kertapati menjadi kecewa dan sedih mendengar berita kepergian pemuda itu. Raja Daha mengingatkan saudara tuanya, Raja Kuripan. "Sudahlah, Kakanda, jangan khawatir, Raden Inu sudah dewasa, kita berdoa saja suatu saat ia kembali."
Raja Kuripan pun berpesan, "Adinda, misalkan anakku Inu kembali ke istanamu, terimalah ia dengan baik, hargailah ia sebagai orang dewasa agar tidak merasa kecewa. Ia memang berwatak keras, tetapi ia sangat bertanggung jawab, maafkan atas kecerobohan anakku." Demikian pesan Raja Kuripan kepada adiknya Raja Daha ketika mereka bertemu dan membicarakan hubungan dan pertunangan Raden Inu dengan Candrakirana.
Diam-diam, Galuh Candrakirana yang sudah menjadi tunangan Raden Inu menjadi bersedih mendengar berita itu. Bersamaan dengan masalah itu, datanglah enam orang pemuda ke Istana Daha untuk melamar Candrakirana. Namun, Raja Daha belum mengizinkan dengan alasan putrinya masih kecil.
“Aku juga tidak berminat dengan keenam pemuda itu, Ayah." Demikian kata putrinya.
Karena lamarannya ditolak, keenam pemuda itu mengalihkan niatnya untuk melamar pekerjaan di Istana Daha. Mereka adalah kesatria dari Medanda, Pangerirama, Pajang, Tumasik, Belantara, dan Nusantara. Mereka sebagai pemuda kadang-kadang berpikir buruk. Suatu hari kelak, mereka akan melamar lagi, jika lamaran mereka ditolak juga, maka enam pemuda itu akan menggempur Kerajaan Daha hingga tumpas.
"Kurang ajar! Jual mahal sekali Raja Daha itu, calon mantunya 'kan sudah pergi, tunggu apa lagi!" Demikian kata salah satu dari mereka.
Suatu hari, datang ke Istana Daha seorang kesatria bernama Kelana Jaladri, ia jelmaan Batara Guru. Kelana Jaladri mengajukan teka-teki, adu memanah, dan bermain gamelan dengan para pendekar Daha. Selain itu, Kelana Jaladri menantang Sang Nata Daha agar mau bertaruh, putrinya, Candrakirana menjadi milik Jaladri jika pemuda itu menang. Raja Daha sangat khawatir, ia menyerahkan tugas itu kepada enam kesatria untuk melayani Kelana Jaladri.
Raja bersabda, "Aku serahkan ke pundakmu, seluruh teka-teki itu harus kaujawab."
Enam pemuda itu menjawab serempak, "Titah Paduka hamba junjung tinggi, hamba mohon doa restu agar mampu menjalankan tugas hamba."
Enam pemuda itu berjuang menjawab teka-teki yang cukup sulit. Akan tetapi, enam kesatria itu tidak berhasil menjawab teka-teki Jaladri. Raja menjadi murka. Patih Daha segera meminta kepada Jaladri agar mau mengundurkan acara jawaban teka-teki itu hingga tiga bulan lagi. Jaladri setuju atas permintaan Patih, ia segera pergi dari Istana Daha.
"Segala usul dan permohonan Paduka hamba junjung tinggi. Saya tetap menunggu jawaban itu sampai kapan pun."
Keenam pemuda yang tidak mampu melaksanakan tugasnya, pergi dari Istana Daha karena malu.
Kebetulan, Candrakirana ingin menyaksikan wayang yang dimainkan oleh seorang dalang perempuan. Oleh karena itu, Raja Daha segera mengutus Patih untuk mencari orang yang dapat menjawab teka-teki dan seorang wanita yang pandai bermain gamelan. Kebetulan, Raden Inu Kertapati yang sedang bertapa mendapat tugas dari Batara Guru untuk pergi ke Daha. Batara Guru segera mengubah Raden Inu bersama pengiringnya menjadi wanita, Raden Inu menjadi Ken Pengoda Asmara, bersama pengiringnya bernama Ken Mayalara dan Ken Mayasari.
Salah satu pembantunya berkata, "Aku menjadi Ken Mayalara? Dan Pangeran bernama Ken Pengoda Asmara? Memangnya, Raden Inu harus menggoda asmara siapa, ya?" ucap Ken Mayalara yang tidak ditanggapi kawannya.
"Kamu cerewet, ah," seru kawannya agak jengkel.
Maka berangkatlah mereka menuju Kerajaan Daha.
•••
2. RADEN GALUH CANDRAKIRANA MENIKAH
Kehadiran rombongan Ken Pengoda Asmara diterima dengan senang hati oleh keluarga Raja Daha. Ken Pengoda Asmara melakukan tugasnya sebagai dalang perempuan dengan sangat menakjubkan. Candrakirana memuji dan mengagumi Ken Pengoda Asmara, sampai lupa kepada kekasihnya Raden Inu yang belum kembali. Ken Mayasari abdinya berbisik kepada kawannya.
"Wah, usaha Pangeran mendekati kekasihnya berhasil, ya. Putri Candrakirana terlihat mabuk kepayang. Untung dia menjelma sebagai perempuan. Kalau tahu ia adalah Raden Inu, sudah habis pemuda itu."
Kawannya tersenyum simpul membayangkan kasih asmara tuannya.
"Wah, lelakon-lelakon."
Namun, mereka merasa senang proses perjuangan mencari kekasihnya sudah di depan mata, mereka berdoa selalu agar junjungannya segera berhasil menyunting kekasihnya.
Jika memerhatikan ketampanan Raden Panji dan Raden Galuh Candrakirana memang sangat sepadan kecantikan dan ketampanannya. Mereka bagaikan bulan dan matahari, cemerlang indah dipandang mata. Tubuhnya yang semampai, kuning langsat, wajahnya cantik dan tampan, ucapannya lembut dan sopan, senyumnya manis dan memikat siapa saja yang melihatnya. Ketika menjadi seorang wanita, Raden Inu pun terlihat cantik dan memikat siapa saja yang melihat.
"Akulah pemuda kesatria unggul daripada segala para ratu yang mempunyai kuasa penuh di tanah Jawa ini. Dan, akulah penakluk segala para ratu yang agung-agung. Dan, tiadalah bandingku." Demikian seru Raden Panji Inu Kertapati dalam menempuh cita-citanya.
Setelah sampai waktunya, Kelana Jaladri datang menagih jawaban itu. Kebetulan Ken Pengoda Asmara sedang bersiap-siap akan melakukan pertunjukan Tari Topeng. Karena terpikat kepada Ken Pengoda Asmara, Jaladri meminta kepada Raja Daha agar wanita penari itu diberikan padanya sebagai pengganti Galuh Candrakirana. Mendengar perkataan itu, Ken Pengoda Asmara marah dan menantang ingin mendengarkan teka-teki itu."
Setelah mengetahui isi teka-teki itu, ia menyatakan sanggup menjawab teka-teki tersebut dan teka-teki itu akan dijawab di Gunung Arga Silamancur kelak. Karena, teka-teki itu sangat panas. Teka-teki itu mudah, tetapi soal mengungkap penyamaranku dengan Jaladri, jika terungkap di hadapan umum akan tidak baik. Demikian ucapan Raden Inu kepada dua abdinya yang setia.
"Hati-hati, Tuan, acara bisa bubar jika dituruti."
Maka acara segera dilanjutkan dengan bermain gamelan dan memanah rambut di dalam lubang cincin oleh Ken Pengoda Asmara. Kemudian, Ken Pengoda Asmara meninggalkan Kerajaan Daha untuk menyelesaikan jawaban teka-teki Kelana Jaladri di Gunung Silamancur. Perjalanan mereka masing-masing tidak lama karena menggunakan Aji Saipi Angin. Dalam sekejap saja Raden Inu telah sampai di tempat yang mereka janjikan.
Demikian pula Jaladri, ia segera menghilang dan muncul di Arga Silamancur. Setelah sampai, mereka berhadapan. Sebelum Ken Pengoda Asmara menjawab teta-teki, Kelana Jaladri tersenyum sambil meraba-raba jenggotnya di dagu. Ia menebak dan berkata, "Jangan ingkar, Ki Sanak, Ken Pengoda Asmara adalah nama samaranmu setelah menjelma perempuan untuk menghibur Putri Galuh Candrakirana. Namamu yang sebenarnya adalah Raden Panji Inu Kertapati, Pangeran Kerajaan Kuripan."
Maka seketika perempuan itu berubah menjadi Raden Inu. Kemudian, Raden Inu segera menyembah kepada Jaladri dengan takzim. Raden Inu pun mulai menjawab teka-teki itu, ia berkata, "Ampuni hamba, jawabannya itu mirip dengan jawaban yang Paduka katakan, yakni Kelana Jaladri tidak lain adalah jelmaan Dewa Sukmakarta."
Jaladri segera menghilang dan menjelma menjadi dewa, dan kembali ke kahyangan. Dewa Sukmakarta mengucapkan terima kasih atas jawaban itu.
"Tanpa jawabanmu, aku tidak bisa kembali ke kahyangan di alam kedewaan," serunya, kemudian menghilang ditelan angin. "Aku tidak dapat kembali ke kahyangan jika teka-teki itu belum terjawab." Ia pun minta diri kembali ke alam dewa.
Dewa jelmaan Jaladri memerintahkan agar Ken Pengoda Asmara kembali ke Istana Daha dan menjelma menjadi laki-laki kembali dengan nama Kudawaningbaya, demikian juga pengiringnya, bernama Mertakati dan Mertasari.
"Wah, rupanya tambah ruwet tugas kita, ya, Gan." Demikian ujar kedua anak buah Raden Inu.
"Yaah, kita jalani sajalah, Ki!" jawab Raden Inu tanpa berekspresi. Itu tandanya ia masih mampu melakukan tugasnya dengan ringan.
Sementara itu di Daha, Galuh Candrakirana sakit keras sepeninggal Ken Pengoda Asmara. Gadis itu tidak mau makan, tidak ada dukun yang mampu mengobatinya. "Aduhai, Yunda Pengoda Asmara, aku butuh kehadiranmu di sisiku sebagai pengganti kekasihku Raden Inu yang masih belum kembali. Hanya Paduka yang sanggup menghibur hamba yang sedang duka." Demikianlah rintihan putri Raja Daha yang sedang kehilangan pengasuhnya, tubuhnya panas. Tugas Raden Inu benar-benar berhasil telah menggoda asmara si Candrakirana.
Candrakirana terlalu rindu dan tidak mau berpisah dengan Pengoda Asmara. Petunjuk dalam mimpi Raja bahwa anaknya akan sembuh dengan bunga ganda puraloka yang ditanam di kahyangan.
Keenam kesatria kembali diperintah mencari bunga itu. Namun, mereka tidak berhasil memperoleh bunga itu sekalipun mereka sudah bersusah payah. Raja sangat khawatir akan kegagalan keenam pemuda itu. Ia terus berdoa untuk keselamatan anaknya. Dengan terpaksa, dibuatlah sayembara. Siapa yang dapat menyembuhkan anakku, dialah yang menjadi suaminya. Raja harus berbuat seperti itu karena telah putus asa. Ia sadar bahwa putrinya sudah bertunangan, tetapi semua itu hanya Allah yang menentukan.
Seketika, para pemuda di Daha terkejut dan tertarik mendengar berita itu. "Ayo, siapa yang sanggup aku dukung, Kau Kuncoro, maukah menjadi calon menantu Raja? Aku sanggup mendukung dan mengantarmu menghadap Raja." Mereka berharap-harap cemas, khawatir gagal memenuhi syarat-syarat yang diajukan Raja.
Ken Pengoda Asmara yang sudah menjelma menjadi pria yang bernama Kudawaningbaya segera menyanggupi mencari obat untuk Sang Putri. Ia bersama pengiringnya berangkat ke Kahyangan Antaboga dan membawa serta bunga tersebut ke Istana Daha. Setelah diobati, ternyata bunga itu dapat menyembuhkan penyakit Candrakirana. Maka, sesuai dengan janji Raja bahwa siapa yang berhasil menyembuhkan putrinya akan diangkat menjadi menantu Raja.
Konon, Kudawaningbaya yang tak lain Raden Inu diangkat menjadi Adipati Tambakbaya dan dinikahkan dengan Candrakirana. Namun, keluarga istana tidak ada yang mengetahui bahwa Tambakbaya itu adalah Raden Inu.
"Ya tho, memang putri cantik itu jatah tuan kita, ya, Gan. Akhirnya, mereka menikah. Wah, memang, Raden Panji berhasil mencapai cita-citanya. Jika Raja Kuripan tahu, maka senanglah dia."
Yang satunya menyambung. "Lha iya, mau ke mana lagi sudah takdir mereka berjodoh. Namun, kasihan Candrakirana tidak mengetahui bahwa Tambakbaya itu adalah kekasihnya sendiri, Raden Inu. Wah, aku jadi sangat penasaran, ingin memberi tahu wanita malang itu."
Ketika bersanding di pelaminan, terlalu sangat cantik dan tampan keduanya. Tercengang orang dibuatnya, disangka bidadari dari kahyangan turun menjelma. Terlalu manis wajahnya bagai laut madu yang diapit lautan. Tidak ada yang jemu memandang dua mempelai itu. Namun, jauh di lubuk hati Candrakirana menangis teringat kekasihnya Raden Inu yang entah ke mana. Ia sebenarnya tidak ingin berkhianat, tetapi nasib menentukan ia harus berlaku seperti itu.
Sementara kejadian di Istana Kuripan, Raden Carang Tinangluh, adik Raden Inu, bermaksud datang ke Daha untuk menyelamatkan tunangan kakaknya yang selalu diperebutkan oleh para kesatria. Ia merasa kasihan terhadap Candrakirana. "Aku khawatir Raden Candrakirana akhirnya salah memilih jodoh. Aku hanya ingin memperjuangkan masa depannya."
Akan tetapi, Permaisuri Kuripan menuduh putranya ingin ikut mempersunting putri Daha. Raden Carang Tinangluh sakit hati mendengar tuduhan ibunya, ia segera pergi dari Istana Kuripan mencari kakaknya Raden Inu Kertapati. Ia berhasil menemukan kakaknya Raden Inu yang tidak lain adalah Tambakbaya. Kemudian, Raden Carang Tinangluh bertapa untuk sementara.
Bersamaan dengan itu, musibah kembali datang menimpa Kerajaan Daha. Suatu hari, Ratu Bengawan Awan mengirim utusan ke Daha untuk meminang Candrakirana sekalipun ia tahu bahwa wanita itu adalah istri Tambakbaya yang dianggap pemuda desa. Ratu Bengawan bahkan mengutus Ken Seroja untuk mengirim guna-guna bagi Candrakirana agar melupakan Tambakbaya. Guna-guna berhasil merasuk ke tubuh Candrakirana sehingga wanita itu selalu gelisah dan selalu ingin marah. Katanya, "Makanya, aku ini sebenarnya wanita pengkhianat, telah menikah dengan pria lain yang bukan kekasihku. Aku merasa berdosa mendahului menikah sebelum ada berita apa-apa dari kekasihku," gerutu sang Putri Daha setelah guna-guna itu merasuk ke tubuhnya.
Utusan Ratu Bengawan yang membawa surat lamaran dicaci maki oleh Tambakbaya dan diusir pulang.
"Apakah Ki Sanak tidak tahu bahwa seorang istri tidak boleh dilamar atau menerima lamaran dari siapa pun? Jadi, perbuatan Ki Sanak keliru. Mengapa Ki Sanak mau saja diperintah Ratu Bengawan? Aku terpaksa mengusir Ki Sanak agar tidak membuat rusuh dalam keluargaku," tutur Tambakbaya ketika mengusir tamunya untuk pergi dari Istana Daha.
Raja bersedih menyaksikan peristiwa itu. "Oh, Pangeran, Tuhanku. Cobaan apa lagi yang akan menimpa anakku? Apakah semua ini kesalahanku? Ampuni hamba, Tuhanku," bisik Raja Daha kepada sang pencipta alam semesta.
Guna-guna telah terlanjur masuk, tanpa disadari Candrakirana telah terpedaya dan mengharap kehadiran Ratu Bengawan Awan. Selain itu, Ratu Emas, bibinya juga menginginkan Tambakbaya pergi. Dia berkata menghasut kemenakannya,
"Sudahlah, Nak, Tambakbaya suamimu itu memang tidak layak mendampingi dirimu, lupakan saja."
Ketika berhadapan dengan suaminya, Candrakirana tanpa sadar sudah berani memarahi Tambakbaya, bahkan mengusir suaminya agar pergi dari Istana Daha.
"Kanda Tambakbaya, jika Kanda marah kepada tamu yang melamar diriku, sebaiknya Kanda pergi dari istana ini. Aku tidak membutuhkan Kanda lagi."
Tambakbaya terkejut, "Oh, begitu maumu, ya sudah," jawab Tambakbaya.
Tambakbaya marah dan tersinggung hatinya sehingga saat itu juga Tambakbaya pergi dari Daha bersama bala tentaranya. Ia berusaha ingin membalaskan dendamnya kepada Ratu Bengawan Awan. Sementara itu, untunglah adiknya, Raden Perbatasari berhasil mengobati sakit guna-guna Galuh Candrakirana sehingga wanita itu sadar dan menyesali perbuatannya.
"Oh, Tuhan, ada apa gerangan kesalahanku sampai-sampai suamiku, Tambakbaya, pergi dari istana? Aku salah besar, Ayahanda pasti akan menghukumku."
Adiknya Perbatasari segera menasihati kakaknya, "Makanya banyak berdoa kepada Allah agar terjaga dari kejahatan orang lain."
Candrakirana menjadi gelisah dan menangisi kepergian suaminya.
"Apa jadinya kalau Paduka Ayahanda Raja mengetahuinya?"
Nasi sudah menjadi bubur. Tambakbaya telah pergi dari rumahnya. Seluruh isi istana pun merasa kehilangan Tambakbaya dan mengkhawatirkan Kerajaan Daha dari serangan Bengawan Awan.
"Kita harus waspada, mungkin pasukan Bengawan Awan akan menyerang Kerajaan Daha. Siapkan pasukan untuk menjaga istana," komentar salah seorang penggawa kerajaan.
Diam-diam, pasukan Tambakbaya dibantu Satriya Pengerirama dan lima orang saudara Tambakbaya menghadang pasukan Bengawan Awan yang akan menyerang Daha. Tambakbaya benar-benar melampiaskan dendamnya kepada Ratu Bengawan Awan karena ia merasa tidak bersalah.
"Jangan main-main denganku, ia mau mencoba mengusik kedudukan diriku sebagai rakyat jelata. Ia mau menertawakan aku, semoga perjuanganku menegakkan kebenaran dapat kujalankan baik-baik demi nama besar Kerajaan Kuripan dan Daha," bisik hatinya memberi semangat dalam melakukan perjuangan.
Pertempuran segera terjadi di luar kota. Para prajurit ikut tegang menyaksikan Ratu Bengawan Awan berhadapan langsung dengan Raden Inu alias Tambakbaya yang sedang marah seperti banteng terkena luka. Sebaliknya, Ratu Bengawan Awan yang ternyata jauh lebih tua dapat menyaksikan wajah lawannya yang tampan, menarik, dan pemberani. Hati Ratu Bengawan agak lemah seolah ia telah mundur selangkah menyesali perbuatannya.
"Wah, rupanya aku salah langkah. Ada orang lain yang memengaruhi diriku sehingga bertindak bodoh. Kini nasi sudah menjadi bubur. Aku harus menghadapi pemuda tampan dan sakti mandraguna ini. Pantas sekali kalau Raja Daha sangat menyayangi menantunya, ia memang layak menggantikan Kerajaan Daha."
Ratu Bengawan merasa bersalah. Sebaliknya, Raden Inu yang kesal menyaksikan kebodohan Ratu Bengawan membentak musuhnya.
"Hai, Ratu Bengawan yang ompong! Jangan melamun! Ayo bertanding melawan hamba, orang kebanyakan dari keluarga petani. Siapa tahu nasibmu baik dapat mendampingi putri Raja Daha, ha-ha-ha," ujar Raden Inu yang sedang marah dan dendam.
Mereka segera bertarung, perlawanan tidak seimbang sehingga anak muda itu dengan mudah mengalahkan Bengawan Awan. Setelah tewas, prajurit Daha segera memenggal kepala Ratu Bengawan Awan untuk dipersembahkan kepada Raja Daha. Kepala beserta seluruh harta bawaan yang akan dipergunakan untuk melamar putri Raja Daha akan dilaporkan kepada Raja Daha sebagai barang bukti kesalahan Ratu Bengawan Awan.
Jurudeh Tuah pembantu Raden Inu bergumam, "Makanya, jangan cari perkara. Pangeran Raja Kuripan kok ditantang, ya, ya sudah, apes Ratu Bengawan tewas."
Orang tua itu sebenarnya juga tidak tega menyaksikan mayat Ratu Bengawan Awan yang tampak tidak berharga lagi. Seorang Raja meninggal dunia dengan sia-sia, tidak terhormat. "Wah, kasihan, ya, Gan?"
Kawannya menjawab, "Lha iya, habis bagaimana, melakukan tindakan bodoh itu namanya!"
Dengan rasa puas Tambakbaya mengirimkan kepala Bengawan Awan beserta seluruh tawanan dan seluruh harta rampasan. Selain itu, Adipati Tambakbaya juga mengirimkan surat kepada Raja Daha. Surat itu menjelaskan bahwa dirinya, Tambakbaya adalah Raden Panji Inu Kertapati dari Kuripan. Selain mustaka (kepala) Raja Bengawan Awan, para prajurit juga membawa harta benda seserahan milik Raja Bengawan Awan sebagai bukti niat buruk Bengawan Awan kepada hamba. Semoga Paduka Paman Raja Daha memaklumi kekhilafan hamba. Sekaligus hamba mohon pamit, titip Adinda Raden Galuh, istri hamba. Demikian surat Raden Inu kepada Raja Daha.
Orang tua itu terkejut dan sangat menyesal bahkan sampai meneteskan air mata setelah membaca surat dari Tambakbaya. "Oh, Anakku Raden Inu, kau ternyata kemenakanku sendiri. Aku sudah berdosa menyia-nyiakan kamu, Nak!" serunya sambil merintih-rintih layaknya seorang kakek tua.
Ia sangat khawatir terkena marah kakaknya, Raja Kuripan yang telah menitipkan anaknya kepadanya.
"Mengapa anak itu tidak mau berterus terang bahwa dia itu kemenakanku, calon mantuku? Menyusahkan orang tua itu namanya, anak sekarang, ya ampun," seru Sang Raja menyesali kejadian yang tragis itu.
Suasana di istana menjadi terlihat sepi, para emban tidak berani mondar-mandir. Apalagi para pembantu di dapur, mereka bingung. “Ini bagaimana, mau masak tidak? Saya sudah belanja, kok."
Kawannya bersungut-sungut dan berkata. "Nanti kalau kamu masak, siapa yang mau makan? Raja masih murka. Apa kita kolu, bisa menelan nasi, kalau keadaan begini? Prihatin dulu ikut berdoa agar Pangeran Tambakbaya segera mau kembali ke istana."
Akhirnya, para pembantu meneruskan pekerjaannya memasak, tetapi hanya sedikit untuk persediaan yang tidak tahan lapar. "Ini hanya memasak untuk mereka yang tidak tahan lapar dan sakit!" kata salah seorang dari pembantunya.
Tidak lama kemudian, Raja Daha memanggil putrinya lalu memarahi Candrakirana yang telah mengusir suaminya.
"Putriku Candrakirana, Ayah menyesal akan kecerobohanmu. Ayah merasa bersalah karena Raja Kuripan, dahulu telah berpesan agar aku merawat baik-baik Raden Inu jika ia kembali ke Istana Daha. Aku harus berkata apa kepada ayahnya jika kejadiannya sudah terlanjur begini?"
Candrakirana tidak bisa berkata-apa-apa, ia hanya memohon maaf kepada ayahnya sambil menangis. Wajahnya yang kuning langsat berubah menjadi merah jambu, apalagi pucuk hidungnya yang selalu mengeluarkan lendir. Matanya tampak memerah dan rambutnya tidak tersisir rapi lagi.
Candrakirana semakin sedih dan menyesal ketika mengetahui bahwa Tambakbaya itu adalah Inu Kertapati yang sangat dicintainya. "Oh, Kakang, mengapa Kakanda tega berbuat seperti itu, apa salahku? Apa beratnya mengatakan bahwa dirimu Raden Inu sejak dahulu kala? Kau pun salah tidak memberi kesempatan padaku hingga berbahagia menikah denganmu. Selama ini aku setengah hati mencintaimu karena kukira kau bukan Raden Inu. Aku merasa mengkhianati kekasihku. Sekarang aku baru tahu bahwa kau sudah membohongi aku. Oh, Tuhan, maafkan hamba yang tidak tahu ini. Hanya Paduka yang memahami kesulitan hamba, Tuhanku."
Untuk menebus kesalahannya, gadis itu terpaksa pergi dari Istana Daha diiringi Ken Bayan dan Ken Sanggit, mereka mencari suaminya. Perilakunya yang keras hati menjadi terlihat di saat ia mengalami kesulitan. Ia nekat pergi tanpa izin orang tuanya. Padahal, Tambakbaya telah menitipkan istrinya pada Raja Daha.
Pengiringnya mencoba membujuk, "Tuan Putri, janganlah ke mana-mana di saat gawat seperti ini, kasihan Ayahanda. Beliau nanti akan semakin sulit ditinggal Paduka."
Candrakirana tidak menghiraukan nasihat emban. "Ah, kau ini bikin aku bingung. Lalu aku harus bagaimana? Enak-enak diam di rumah tidur di kasur empuk, sementara suamiku entah tidur di mana." Berkata demikian sambil meneteskan air matanya kembali.
Emban segera menghibur, "Oh, ya, ya, baiklah, mari berangkat.”
Emban berpikir, perkawinan masih dalam usia muda memang sulit. Mereka belum dewasa sehingga segala sesuatunya diselesaikan dengan emosional.
Sementara itu, Tambakbaya tidak ikut menyerahkan kepala Ratu Bengawan ke istana sehingga perjalanan mereka telah jauh. Raden Inu sama sekali tidak khawatir kalau-kalau istrinya menyusul kepergiannya. Padahal wanita cantik itu pergi bersama dua emban setianya mengikuti suami yang dicintainya.
"Wahai Kakandaku, terasa benar sakitku setelah engkau tidak berada di sisiku. Aku memang telah ceroboh dan khilaf mengusirmu tanpa berpikir panjang." Sehari-hari Candrakirana berdoa semoga berhasil menemukan suaminya.
Doa Candra Kirana terkabul. Ketika ia sedang tidur, tiba-tiba datang rombongan Raden Inu bersama pengiringnya. Semula merasa senang melihat rombongan Candrakirana. Raden Inu (Tambakbaya) mencoba mendekati wanita itu. Namun, hatinya tiba-tiba berubah menjadi benci ketika teringat kesalahan istrinya. Ia memandang istrinya, tetapi Raden Inu masih marah dan ingin membalas sakit hatinya kepada istrinya yang telah mengusir dirinya. Ia berpikir keras untuk menghukum istrinya agar kelak tidak berbuat salah lagi.
Ia segera menyuruh Mertakati dan Mertasari untuk menggantung istrinya bersama dua pengiringnya di atas pohon randu. Secara gaib, tanpa terasa Candrakirana dan dua embannya telah tergantung di atas pohon kapuk randu. Ketika sadar dan bangun dari tidurnya, Candrakirana telah berada di atas pohon bersama pengiringnya. Ia tahu, pasti ini perbuatan suaminya, ia memaklumi kemarahan pria itu.
"Sabarlah, Bibi Emban, kita sedang dihukum oleh Kanda Raden Inu. Kita berdoa saja agar ada yang mau menolong," ujar Candrakirana yang tabah.
Ken Bayan yang masih tergantung di atas pohon itu mengeluh. Jika bergerak maka tubuhnya terayun-ayun, ia menjerit-jerit. Sang Putri hanya tersenyum, makanya tenang jangan bergerak.
"Wah, Tuan Putri, bagaimana tenang, saya ini ingin buang air kecil?"
Ken Sanggit tertawa terkekeh-kekeh dan Candrakirana hanya tersenyum, lalu berkata dengan tenangnya.
"Kok susah-susah, ya, kencing saja nanti 'kan airnya turun sendiri ke bawah, tidak bakal muncrat ke wajahmu."
Mendengar perkataan tuannya, kedua emban tertawa terpingkal-pingkal sehingga Ken Bayan tambah ingin kencing, akhirnya weeer. Kawannya menggoda, “Aasyiiik, wah enaknya."
Mereka bertiga tertawa lebar.
Candrakirana akhirnya mengingatkan kembali pada embannya, "Sudah-sudah, sedang susah kamu ini malah cengengesan."
Mereka sadar, "Oh, iya, baik, Tuan Putri."
Tiba-tiba, datang angin kencang sehingga tali penggantung mereka berayun-ayun. Mereka ketakutan, "Wah, jatuh aku ini nanti, bagaimana Tuan Putri?"
Candrakirana mengingatkan. "Hus, tenang, berdoa."
Tidak lama kemudian angin reda dan muncul seorang Dewa menolong tiga wanita itu turun ke bumi kembali. Brol, tali penggantung terputus mereka jatuh terpelanting.
"Aduh, duh, duh, sakit pantatku." Kedua abdi tuan putri mengaduh. Setelah itu, ketiga wanita tersebut menyembah dan mengucapkan terima kasih atas pertolongannya.
Dewa itu menyarankan Candrakirana menyamar sebagai seorang pria agar senantiasa selamat di perjalanan.
"Dunia ini tidak aman bagi perempuan yang mengembara seperti kamu. Belum apa-apa kamu sudah digantung," kelakar Dewa itu.
Lalu Dewa memberi nama masing-masing, Candrakirana menjadi Mesa Citra Asmara, kemudian Ken Bayan bernama Carang Kembang, dan Ken Sanggit bernama Carang Sari. Setelah berkata demikian, Dewa memberi restu dan mengucapkan selamat jalan, lalu menghilang.
Suasana lengang kembali, "Jadi kita sudah jadi laki-laki, ya?" tanya Carang Sari. Mereka berdandan dan berpakaian layaknya laki-laki.
"Aku sudah pantas dengan pakaian ini."
"Alah, kamu berpakaian apa saja tetap wagu. Tahu tidak wagu, tetap kelihatan lucu dan aneh."
Mesa Asmara tersenyum melihat tingkah abdinya setelah berpakaian laki-laki. "Kalau Tuan Putri masih tetap cantik, sekarang jadi bagus kelihatannya dengan pakaian laki-laki. Mudah-mudahan semangat kita juga seperti laki-laki!" gurau mereka sebelum melanjutkan perjalanannya.
•••
3. RADEN GALUH CANDRAKIRANA BAHAGIA
Mesa Asmara beserta dua abdinya langsung berangkat ke Istana Gegelang. Mereka berniat melamar pekerjaan dan ingin mengabdi di Gegelang, istana kerajaan pamannya.
"Jika sampai di sana, Bibi Emban harus merahasiakan identitas kita karena kita sudah berperan sebagai laki-laki. Kita harus hati-hati bertindak, ya, Bi, jangan keliru," pesan Candrakirana.
Demikian pula, Tambakbaya alias Raden Inu, tujuan mereka sama, yakni ingin bekerja dan mengabdi di Gegelang. Sampai di Istana Gegelang, ia menyembah kepada raja yang tidak lain adalah pamannya sendiri. Kehadiran Raden Inu diketahui oleh Candrakirana.
"Ia tidak tahu bahwa aku menjelma sebagai pria bernama Mesa Citra," ujar Candrakirana kepada abdinya.
Mereka bergaul akrab, Mesa Citra dan Tambakbaya yang sudah menyamar sebagai Mesa Kelana. Ken Sanggit berbisik pada kawannya.
"Hai, lihat Tuan Putri pandai menyimpan rahasia, Tuan Tambakbaya tidak menyadari kalau Mesa Citra adalah istrinya sendiri. Dia hanya tahu bahwa Mesa Citra Asmara seorang laki-laki yang ramah, hi-hi-hi, rasain lu, sang Putri aman dan berhasil."
Dalam pergaulan, Raden Inu sangat menyenangi Mesa Citra. Dalam melaksanakan tugas, mereka sering berjalan bersama. Suatu ketika Kerajaan Gegelang terancam musuh. Hal itu terjadi karena putri Raja Gegelang bernama Raden Galuh Kumuda Agung menolak lamaran Ratu Mentaun. Penolakan itu disebabkan oleh Putri Raja Gegelang sudah punya tunangan bernama Raden Carang Tinangluh, pemuda itu adik Raden Inu. Oleh karena itu, Mesa Kelana alias Raden Inu bersama Mesa Citra berperang melawan Ratu Mentaun.
Sementara itu, di Istana Daha, adik Candrakirana, bernama Raden Perbatasari menyusul kakaknya ke Gegelang. Demikian pula adik Raden Inu, Carang Tinangluh juga mencari kakaknya sampai ke Kerajaan Gegelang. Saat itu kebetulan sedang berlangsung perang melawan Ratu Mentaun. Akhirnya, kedua adik Candrakirana dan Raden Inu membantu Kerajaan Gegelang hingga perang berakhir.
Kemenangan di pihak Kerajaan Gegelang, mereka berpelukan antara adik dan kakaknya masing-masing.
Candra Kirana memeluk Raden Perbatasari, adiknya. "Wahai, Adikku, Perbatasari, mengapa kamu sampai berada di sini?"
Raden Perbatasari menjelaskan, "Hamba sangat mengkhawatirkan Paduka Kakang Mbok." Dia berkata demikian sambil menangis.
Galuh Candrakirana yang tampak tegar hanya mengangguk-angguk. Namun, rahasianya telah terbongkar. Mesa Citra ternyata istrinya sendiri.
Dengan bersungut-sungut Raden Inu berkata. "Wah, kena tipu juga aku ini, oke tidak apa-apa. Mungkin ia ingin memaafkan aku," pikir Raden Inu karena ia menyaksikan sendiri pertemuan kedua wanita itu.
Tambakbaya segera ingin pergi, tetapi Raden Perbatasari menghalangi kepergian kakak iparnya. Ia bahkan menganjurkan agar kakaknya berbaikan kembali. Tambakbaya alias Mesa Kelana mau kembali berdamai dengan istrinya. Jika gagal, istrinya menolak berdamai, ia akan pergi merantau ke tanah Melayu. Demikian ujarnya kepada Raden Perbatasari.
Kemudian, Perbatasari menghubungi dan meminta agar kakaknya memaafkan kesalahan Raden Inu. Namun, Candrakirana masih mendendam atas kejahatan suaminya yang telah menggantung dirinya di atas pohon kapuk randu.
Candrakirana bercerita kepada adiknya sambil menangis. Bibi emban, Ken Sanggit menambahkan. "Iya, Tuan Putri, kami bertiga digantung di atas randu sampai seperti peri kahyangan kesangsang, terkencing-kencing lagi, wah, celaka sekali, bayangkan!"
Mendengar cerita itu Raden Perbatasari tersenyum dan meredakan kemarahan kakaknya. Namun, ia tidak berhasil. "Ampun, Kakang Mbok, hamba rasa kesalahan Paduka sangat besar, yakni mengusir suami sendiri dan berniat ingin menerima lamaran pria tidak bertanggung jawab." Demikian ucapan adiknya yang sedang menasihati kakaknya. Ia bersedih dan mengadukan hal ini kepada Raden Inu.
"Saya tidak dapat membujuk Ayunda, bagaimana ini, tugas saya sampai di sini tidak lain hanya ingin mendamaikan Kakang dengan Ayunda Candrakirana, ini pesan Ayahanda Raja Daha."
Raden Inu mengangguk-angguk sambil berpikir keras. "Baiklah, aku akan berusaha menemui kawanku untuk minta pertolongan. Kau tenang saja di sini, jaga kakakmu yang keras kepala itu." Berkata demikian lalu pergi dari Istana Gegelang entah ke mana.
Raden Inu berusaha keras mencari Dewa Sukmaludra. Kawannya itu pernah berjanji akan menolong Raden Inu jika ia berada dalam kesulitan. Hal itu karena Raden Inu pernah menolong Dewa Sukmaludra ketika dikutuk oleh Batara Guru. Oleh karena itu, Sukmaludra berkenan menolong Raden Inu yang sedang sedih karena istrinya tidak mau diajak berdamai.
Malam itu udara terasa sejuk segar, angin lemah gemulai gembira seolah berdesis dan menyanyi mendendangkan irama gembira dan riang. Sang Panji telah sampai di hadapan Sukmaludra. Mereka gembira melepas kerinduannya. Lalu, Sang Panji menceritakan kesedihannya mengenang istrinya yang selalu mengajak bertengkar.
Setelah tahu duduk persoalannya, Sukmaludra berpikir, "Kasihan Raden Inu, ia pernah menolongku dari kutukan Batara Guru. Aku akan senantiasa berdoa untuknya agar kembali rukun dengan istrinya. Inilah saatnya aku membalas budinya." Demikian niat baik Sukmaludra, ia segera bersemadi memohon kepada Yang Mahakuasa agar kawannya dapat berdamai dengan istrinya. Sukmaludra yang sudah sering berzikir dan berdoa mendekatkan diri kepada Allah itu segera memohon agar Raden Panji Inu Kertapati segera berdamai. Doanya segera terkabul.
Di lain tempat, Raden Carang Tinangluh berkasih-kasihan dengan tunangannya Putri Gegelang. "Untunglah Kakang Panji Inu Kertapati dan iparku, Candrakirana berada di sini. Aku pun selalu berniat ingin segera datang ke Gegelang, rupanya kekasihku hampir dicuri orang," katanya sambil memeluk dan membelai rambut kekasihnya dengan kasih sayang.
Setelah dibantu doa oleh Dewa Sukmaludra, Candrakirana dengan mudah kembali berbaikan dengan Raden Inu. Namun, persoalan silih berganti, belum lama mereka berada di Istana Gegelang tiba-tiba terdengar berita tentang Kerajaan Kuripan yang diserang Sato Kewan.
Konon ceritanya demikian, Raja Kuripan, ayah Raden Inu dan Raden Carang Tinangluh bersedih. Kedua putranya meninggalkan istana tanpa pamit. Padahal, Raja Kuripan sudah semakin tua sehingga tugas-tugasnya sebagian besar diserahkan kepada patih kerajaan.
"Paman Patih, aku sudah menganggapmu adik kandungku sendiri. Oleh karena itu, uruslah segala keperluan rakyat kita. Aku semakin tua, aku hanya ingin berdoa agar anak-anakku selamat di rantau dan segera ingat untuk pulang kembali ke Kuripan," ujar raja.
"Dengan segala kekurangan hamba, maka tugas Paduka hamba selesaikan sebaik-baiknya, hamba juga ikut prihatin dan senantiasa berdoa semoga Raden Inu dan Raden Carang Tinangluh segera kembali ke istana. Kita perlu tenaga anak muda, hamba sendiri semakin tua," ucap sang Patih kepada Raja Kuripan.
Suatu malam yang kelam, tiba-tiba Raja dan seluruh rakyat di Kuripan menjadi gelisah mendengar deru angin kencang dan bunyi suara bermacam-macam binatang. Seperti suara macan mengaum, suara gajah menyeringai, kera menjerit bersahutan dalam jumlah sangat banyak sehingga membuat bulu roma berdiri. Suara itu semakin keras dan dekat. Seseorang yang merasa sakti memberanikan diri keluar rumah. Tiba-tiba, orang itu seperti disambar seekor kera hutan, orang itu terkapar mati dengan luka-luka. Demikian seterusnya, mayat bergelimpangan di mana-mana.
Raja telah mengerahkan bala tentaranya untuk mengusir kawanan Sato Sembawa yang sangat ganas itu. Namun, bala bantuan itu pun satu per satu tewas. Raja semakin panik, ia berdoa mohon pertolongan kepada Sang Khalik. Ketika tertidur, Raja bermimpi bahwa yang dapat membasmi Sato Sembawa adalah seorang kesatria yang pernah menyamar sebagai wanita dan seorang wanita yang pernah menyamar sebagai pria. Raja masih belum dapat menerka impian itu.
Sementara itu, di Gegelang putra Raja Kuripan sudah bersiap-siap akan kembali ke Kuripan. Mereka mendengar berita musibah di Kuripan dari seorang prajurit Kuripan. Raja Gegelang pun ikut serta dengan rombongan itu. Sesampai di Kerajaan Kuripan, mereka pun mendengar gemuruh angin dan teriakan para Sato Sembawa. Raden Inu segera menghentikan langkahnya. Ia mengajak rombongan untuk berdoa. Setelah doa selesai mereka melanjutkan perjalanannya dengan mempercepat langkah.
Sebelum masuk ke istana, tiba-tiba rombongan itu tidak dapat meneruskan langkah. Seakan-akan ada tabir tipis yang menghalang langkahnya. Mereka terpental kembali ke belakang jika nekat melangkah. Candrakirana segera berpikir bahwa dewa telah memagari daerah ini agar Sato Sembawa tidak lari ke kerajaan lainnya.
Candrakirana menggandeng tangan suaminya sambil berbisik kita satukan ilmu kita untuk melepas tabir pagar ini. Kedua suami istri itu memejamkan mata dan membaca mantra menyatukan ilmunya hingga keluar tenaga dalam. Sinar terang berwarna biru terpancar dan melepas pagar halus yang menutupi jalan mereka menuju istana. Setelah berdoa, tabir penghalang itu hilang bersamaan dengan hilangnya suara gemuruh bunyi angin dan Sato Sembawa. Mereka melangkah sambil bersyukur, ternyata tanpa berperang, Sato Sembawa itu hilang dengan sendirinya.
"Oh, ajaib, benar-benar dewa penolong Tuan kita ini, ya?"
Kawannya berkata, "Aah, kamu ini cerewet, aku sedang ketakutan ini, tiba-tiba ada yang menyambar kita bagaimana?" Demikian katanya serius.
Ken Sanggit malah mengejek, "Wah, kamu ini penakut."
Sampai di Istana Kuripan, Raja menyambut anak-anaknya sambil tersenyum lega, bahkan air matanya meleleh karena terharu. Beliau berkata, "Hanya kehadiranmu, Nak, yang dapat menghapus bencana ini. Semoga kehadiranmu membawa berkah."
"Amin, amin ya rabbal alamin," seru yang lain.
Mereka beristirahat, kemudian merundingkan perkawinan Raden Galuh Kumuda dengan Raden Carang Tinangluh yang belum sempat dilaksanakan karena banyak sekali halangan. Saat itu seluruh keluarga raja berkumpul, yakni Raja Gegelang, Raja Daha, Raja Singasari, dan Raja Kuripan. Namun, mereka masih mempersoalkan putri Raja Singasari yang belum memperoleh jodoh. Oleh karena itu, para Raja mencari jalan keluar untuk menikahkan putri Raja Singasari. Raden Inu diminta untuk menikahi Raden Candrakesuma, putri Raja Singasari sebagai istri kedua. Mendengar berita itu, Candrakirana ikut gembira, ia berpesan, "Wahai Kanda Raden Inu, janganlah Yunda Candrakesuma itu dijadikan istri kedua karena ia masih saudara sepupu kita. Semua saudara wanita kita telah menjadi permaisuri. Oleh karena itu, angkatlah ia sebagai Permaisuri Anom, dan aku sebagai Ratu istri."
Raden Inu menyetujui kebijakan istrinya. Candrakirana memang bersifat peramah, tulus ikhlas, baik hati, cantik, sabar, bijak, dan penyayang kepada siapa pun. Kecantikan dirinya menjadi semakin indah bersinar karena pancaran hatinya yang suci.
Seluruh orang tua dari Kerajaan Kuripan, Kerajaan Daha, Kerajaan Gegelang, dan Kerajaan Singasari sangat gembira persoalan keluarga besar itu telah selesai. Hal itu terwujud karena sifat baik hati dan gotong-royong yang mereka lakukan.
Keesokan harinya, penobatan Raden Inu berlangsung dengan gelar Ratu Anom Kesuma Indra, pernikahan Raden Inu dengan Candrakesuma pun segera berlangsung. Mereka bertiga, Raden Inu bahagia diapit dua istrinya yang cantik. Paras kedua istrinya bagai pinang dibelah dua, cantik berseri, mirip seperti kembar layaknya. Selain itu, dalam waktu yang sama juga Raden Carang Tinangluh menikah dengan putri Gegelang, Raden Galuh Kemuda Agung. Kebahagiaan kedua mempelai tidak terkirakan. Mereka tampak cantik dan gagah bagai bulan dan matahari. Selain melangsungkan pernikahan, Raja Gegelang pun mengumumkan bahwa Raden Carang Tinangluh diangkat menjadi Raja Gegelang menggantikan mertuanya.
Setelah peristiwa pernikahan berlangsung mereka merasa lega, terutama Raden Panji Inu Kertapati. Ia telah mampu menunjukkan jati dirinya bahwa dirinya mampu melakukan satu perbuatan mulia. Demikian juga Raden Galuh Candrakirana, ia seorang wanita yang tabah, pemberani, sabar, dan tulus ikhlas dalam menjalani takdir hidupnya.




Komentar
Posting Komentar