KISAH SEWAJARNYA




KATA PENGANTAR




Banyak kisah yang mewarnai kehidupan pada zaman perjuangan dulu. Mas Saleh Sastrawinata merekam beberapa kisah tersebut dalam buku yang berjudul Kisah Sewajarnya ini.

Kisah-kisah yang kalau kita lihat pada zaman sekarang barangkali bernuansa lucu dan mengharukan, pada zaman perjuangan dulu banyak mewarnai kehidupan masyarakat kita. Oleh karena itu, dengan membaca buku ini, kita akan dapat membayangkan dan merasakan penderitaan dan kesulitan hidup yang dialami oleh para pendahulu kita.

Semoga dengan membaca buku ini timbul rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada mereka.




Balai Pustaka

•••















1. PECI




Sejauh ingatanku, semasa aku masih duduk di sekolah rendah di kota Bandung, tak banyak kulihat kaum laki-laki memakai peci.

"Bendo" atau ikat kepala model Osvia, banyak dipakai orang Priangan dan menjadi impian orang yang berjiwa “menak" atau priayi Pasundan.

Yang biasa memakai peci kebanyakan hanya orang-orang Sumatra saja. Yang disebut orang kopiah Padang waktu itu, ialah peci daripada sutra mengkilap.

Orang tuaku sampai pada hari meninggalnya belum pernah kulihat memakai peci, bahkan ikat kepalanya pun tidak mau seia sekata dengan bendo model Bandung. Ya, boleh dikata, modelnya model sama tengah. Sunda bukan Jawa pun bukan.

Maklumlah, ia berasal dari daerah perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Jadi, kalau di hari Lebaran, aku tidak dibelikannya peci, orang pun tak perlu heran!

Entah karena pandainya si penjual peci, entah karena kuatnya pengaruh orang-orang yang berasal dari Pulau Andalas dalam pergaulan hidup di Jawa, lambat laun ternyata, bahwa jumlah kaum muda yang memakai peci makin bertambah besar.

Dan sewaktu aku duduk di sekolah Menengah Gubernemen, kulihat kebanyakan guru-guru Perguruan Nasional memakai peci, baik orang Sunda maupun orang Jawa. Berpantalon dan berpeci, baru menjadi mode dalam golongan orang-orang yang berpolitik kiri saja, sehingga mereka itu mendapat sebutan Kaum Merah dari golongan amtenar-amtenar Binnenlands Bestuur.

Orang yang berpeci adalah komunis!

Zaman berkisar; jarum sejarah terus berputar! Ia tidak pedulikan kesenangan atau kebencian manusia terhadap peci itu!

Perkumpulan pemuda bersemi di sana-sini. Jarum persatuan menusuk tiap semangat pemuda, menyadarkan generasi baru untuk memperkokoh tali persaudaraan. Jiwa muda yang sangat gampang kena pengaruh dari luar yang sangat kuat atau luar biasa itu, tidak pula terlepas dari pengaruh golongan orang-orang yang berpeci tadi.

Banyak kawan-kawanku yang tergabung dalam perkumpulan Indonesia Muda, berpeci pula ke sekolah!

Bersamaan dengan populernya peci itu, gerakan swadesi bangun pula di mana-mana.

Mode yang paling baru pada waktu itu, ialah: bersarung pelekat swadesi, bersandal bekas ban mobil, berdasi atau tidak dan berpeci.

Gerakan swadesi ini menambah populernya peci dalam masyarakat, sehingga hati para takut-peci itu menjadi bertambah kecil.

Penenun pelekat sibuk, penenun bahan pakaian lurik juga repot kebanyakan kerja, tetapi pembuat peci pun tidak kalah repot.

Di pasar-pasar, orang yang meneriakkan jualan peci tidak kalah gembiranya oleh mereka yang menawarkan dagangan kacang goreng.

Bertentangan sekali dengan hukum propaganda perdagangan, maka sekarang tukang membuat ikat kepala pun memakai peci!

Tidak heran, atau lebih baik dikatakan, tak usahlah kita herankan kenyataan itu, sebab manusia adalah makhluk yang tak akan terlepas dari penyakit khilaf. Banyak manusia yang tidak konsekuen, lupa pada yang lama karena suka pada yang baru!

Gambar orang memakai peci dipergunakan di mana-mana sebagai alat propaganda untuk bermacam-macam barang dagangan, untuk tembakau sek yang harum baunya, mentega margarin yang gurih rasanya, untuk menyehatkan badan manusia, sigaret Ambarawa, dan teh Pasirnangka!

Tukang potret pun tak hendak ketinggalan dalam usaha reklamenya.

Gambar manusia berikat kepala, berjas tutup, berkain panjang, segera dikalahkan oleh gambar manusia angkatan baru yang berpantalon, berdasi, dan berpeci!

Potret Bung Karno berpeci sambil bertopang dagu, kiraku bukan reklame pedagang peci untuk pecinya, atau alat propaganda supaya orang menaksir Bung Karno! Kiraku bukan itu yang dimaksud, melainkan ada tendensi yang lebih dalam dan lebih agung lagi daripada itu.

Namun ia tak terluput juga dari siasat dagang para produsen peci, yang mempergunakannya sebagai alat propaganda!

Mau tidak mau!

Sebab, bukti-bukti menyatakan, bahwa mode pakaian ala Bung Karno itu justru menarik perhatian para pemuda yang berjiwa nasionalis dan last but not least, juga melancarkan jalan perdagangan peci.

Rasa persatuan dan rasa kebangsaan menjadi semakin kokoh.

Cara berpakaian yang bercorak kedaerahan terdesak terus!

Jarum sejarah masih terus berjalan.

Perang dunia kedua pecahlah! Tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa.

Waktu itu aku berada di Solo. Dalam bulan Maret tanggal 5 tahun 1942, tentara Jepang masuk ke kota Solo.

Pada saat yang bersejarah itu, aku berada di kantorku, yaitu di muka rumah Gubernur Belanda.

Di tepi jalan kulihat orang-orang berjejal-jejal menonton.

Apa yang ditonton, belum lagi diketahui orang dengan pasti.

Namun mereka sudah tahu dengan yakin, bahwa Jepang hendak mengusir Belanda dari singgasana penjajahannya.

Kebetulan, pada saat itu aku berdiri di tingkat atas kantorku, sehingga dengan leluasa dapat kulihat sandiwara yang akan dimainkan itu.

Di sebelah kiriku berdiri saudaraku sendiri. Akan tetapi, siapakah orang yang berdasi di sisiku sebelah kanan itu?



Tuan Belanda yang berpeci!

Baru waktu itulah kulihat kombinasi dua warna benda yang ganjil. Kulihat peci itu kurang enak duduk di atas kepala yang berambut pirang itu.

Namun aku sedikit maklum maksud Tuan Belanda itu. Ialah supaya peci itu kuasa memengaruhi warna kulit, mata dan rambutnya, sehingga tidak kelihatan kualiteitnya yang asli.

Ia tak banyak bicara, sebab tidak paham "de Inlandsetaal”.

Hanya, kalau orang-orang bersorak, ia pun turut berteriak "hura, hura!" Kalau orang-orang mengacungkan jempol tanda memuji para pahlawan yang baru mendarat itu, ia pun melambaikan tangan, kalau orang-orang tertawa lega, ia meringis seperti monyet disiram air dingin.

Rupanya, sekadar untuk memenuhi tata tertib kesopanan semata, hanya proforma, ia menawarkan sigaretnya kepada orang-orang Indonesia di kiri kanannya.

Suatu perbuatan yang takkan dilakukan terhadap si Inlanders itu, jika Jepang tidak unggul dalam peperangan melawan bangsanya dan sekarang datang mengusir.

Kali ini peci itu mendapat kehormatan, yaitu duduk di atas kepala orang kulit putih yang dahulu suka menghinanya.

"Keadaan memaksa, apa boleh buat." Demikian kira-kira pikir Tuan Belanda itu, ketika hendak memberikan tempat kehormatan kepada peci itu.

Esok harinya kulihat toko Tionghoa di Pasar Gede penuh dengan pembeli peci.

Tauke toko itu memang tukang dagang dan tetap tukang dagang yang tak mau kenal dengan rasa sosial. Untuk peci yang tadinya berharga hanya beberapa picis saja itu, sekarang orang disuruh membayarnya beberapa rupiah.

Dan harus uang perak yang berdering pula!

Uang kertas? Tauke itu ogah menerimanya!

Seorang serdadu Jepang masuk ke kamar kantorku. Ia bertanya: "Ada Orandakah?"

Kami sahut: "Tidak ada!"

Tiba-tiba ia menunjuk-nunjuk kepada kepala temanku yang tidak berpeci. Kami menggelengkan kepala.

Serdadu itu mengerutkan keningnya sambil memandang kami dengan matanya yang sipit itu.

"Mana ... eeeeh ... eeeeh ... ini?" katanya pula sambil menunjuk kepada peci temanku yang lain.

Sekarang maklumlah kita mengapa derajat peci dengan mendadak meningkat demikian tingginya!

Keadaan lekas berubah. Hiroshima dibom atom!

Dewa-dewa Negeri Matahari bertekuk lutut pada Sekutu.

Proklamasi Republik Indonesia berkumandang di seluruh pojok dunia. Tuan-tuan besar dan para menteri Republik Indonesia hampir semua memakai peci.

Kedudukan peci naik lagi setingkat.

Sejarah masih terus berjalan dengan melangkaui bermacam-macam peristiwa. Api revolusi berkobar terus dengan garangnya, menjerat segala macam makhluk dan isi alam ke dalam kancahnya!

Serdadu Sekutu mendarat di pelabuhan Jakarta.

Keadaan di ibu negeri Republik Indonesia yang pertama menjadi guncang. Hati manusia gelisah, rusuh, karena pertempuran, dan penyembelihan manusia.

Orang-orang Republik yang ada di daerah pendudukan Sekutu dicurigai oleh kedua pihak. Yaitu, pihak Sekutu memandang mereka sebagai musuh, pihak Republik memuduh mereka pengkhianat bangsa dan negara. Alhasil, demikian pandangan orang-orang yang picik.

Dulu, waktu bangsa Indonesia masih dijajah Belanda, kebanyakan orang menganggap, siapa berpeci adalah nasionalis hebat.

Namun kiraku, anggapan seperti itu akan berubah dengan tak usah merendahkan derajat peci sebagai alat penutup kepala bangsa Indonesia.

Peci akan tetap dipandang orang sebagai bagian dari pakaian nasional Indonesia!

•••















2. AKANG GAMBANG TUKANG BECAK




Namanya yang asli, artinya nama pemberian orang tuanya, ialah Kasur.

Mengapa begitu?

Ah, itu urusan orang tuanya sendiri. Kasur sendiri merasa tak perlu menuntut atau menggugatnya.

"Apakah gunanya," demikian pikir Kasur, "menggugat nama yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk kupakai? Menyesali orang tuaku yang sudah meninggal tidak pula ada faedahnya."

Memang, ketika ia masih kecil, badannya luar biasa gemuknya.

"Seperti gulungan kasur." Demikian cerita yang didengar olehnya dari mulut orang tuanya dahulu, sebelum meninggal.

Akan tetapi, pada suatu ketika nama itu menimbulkan pertanyaan orang juga, karena keadaan sebenarnya tidak sesuai lagi dengan makna nama panggilan itu.

Sang alam dan sang waktu kiranya sudah kuasa memengaruhi keadaan isi dunia ini, dan tidak terkecuali pula makhluk seperti Kasur itu.

Konon ceritanya tersiar, ketika Kasur pulang kembali dari kerja paksa sebagai romusa di daerah Banten, badannya rusak karena penyakit malaria.

Mukanya pucat, matanya cekung, rambutnya kerdil, tulang rusuknya jelas kelihatan berleret-leret rapi seperti bilahan gambang layaknya.

Jepang datang menjajah Indonesia dengan membawa kebudayaannya sendiri untuk mendesak kebudayaan yang sudah lama ada di sini. Diadakannya berbagai perubahan dalam segala macam hal.

Dengan sekaligus disuruhnya mengganti semua yang lama dengan yang baru, yang serasi dengan kebudayaan nenek moyangnya sendiri.

Nama kantor, nama jalan, nama ini, dan nama itu, semua harus diganti dan tidak dikecualikan nama Kasur.

Hanya bedanya, pergantian nama Kasur itu tidak terjadi atas perintah Gunseikan, tetapi atas kehendak kawan kenalannya sekampung yang juga sudah kena pengaruh ingin mengubah apa-apa yang lama dengan yang baru.

Maka sekembali Kasur dari Banten, ia dapat gelaran baru, yaitu Akang Gambang.

Yang menjadi pokok alasan pergantian nama itu, tak lain dan tak bukan, ialah tulang iganya yang berleret-leret di dadanya itu seperti bilahan gambang laiknya.

Karena semangat nrimo sudah menjadi adat tabiatnya sejak ia dilahirkan ke dunia yang fana ini, maka Kasur tidak protes, tidak membantah, tetapi menerima semata.

Pekerjaan di kantor-kantor di Jakarta, pada waktu itu tertutup semua bagi Akang Gambang, oleh karena ia buta huruf dan buta bahasa Nippon.

Dari kata-kata Nippon yang sebanyak dan seindah (untuk Nippon sendiri, tentu) itu, hanya dua perkataan saja yang tak dapat dilupakan Akang Gambang.

Yaitu kata-kata: "bagero" dan "arigato".

Mungkin selama hidupnya kedua perkataan Nippon itu tetap melekat pada otaknya dan kemudian akan tetap menjadi kenang-kenangan yang pahit bagi anak cucunya.

Sebabnya begini: Dengan kawan-kawannya se-tonari gumi¹ Akang Gambang menuntut kursus Nipponggo, oleh karena pada masa itu bahasa Nippon berkuasa dan berpengaruh.

Akan tetapi otak Akang Gambang agaknya sudah tumpul. Betapapun besarnya kegiatan Nipponsan mengajar bahasa yang bertuah itu, tetapi pelajaran Akang Gambang tidak maju-maju juga.

Karena jengkelnya, tangan tuan Nippon itu menyambar kepala Akang Gambang dengan diikuti kata bagero berulang-ulang.

Sesudah menerima tamparan sebagai pencairkan otak itu, Akang Gambang disuruh pula mengucapkan "arigato" sambil membungkukkan badan sembilan puluh derajat.

"Nasibku sendiri yang jelek." pikir Akang Gambang.

Ia tak melawan, tidak berontak. Malahan ia mengucap syukur kepada Yang Mahaadil, Penyayang dan Pengasih, karena otaknya tidak hancur.

"Tuhan masih adil." Demikian pikir Akang Gambang, karena ia masih dapat mendayung becak.

Untuk menjadi pendayung becak tak perlu ijazah Nipponggo, yang hanya berharga lima rupiah itu.

"Kalau Nippon mau," begitulah olok Akang Gambang sambil mendayung, "biarlah kubeli lima rupiah setiap otak orang Nippon yang ada di sini buat lauk-pauk anak biniku, daripada aku disuruh mengorbankan otakku sendiri kepada mereka!"

Kawan-kawannya suka benar mendengarkan senda gurau Akang Gambang yang jenaka itu.

Akan tetapi alangkah kasihan mereka, jika Akang Gambang kelihatan payah mendayung becaknya yang memuat Tuan-Tuan Nippon yang gemuk-gemuk itu.

Urat kaki Akang Gambang tampak membendul seperti usus ayam membelit-belit betisnya. Napasnya sesak dan mendengus-dengas seperti desus lokomotif sedang langsir. Bola matanya membelalak seperti mata kerbau yang baru disembelih, tulang rusuknya bergerak-gerak turun naik menurut irama napasnya yang hampir habis itu. Sekujar badannya basah kuyup oleh keringat.

Dengan sabar tawakal Akang Gambang mendayung, terus mendayung dan sekali lagi mendayung sampai pada tempat yang dituju.

Pada getaran hawa panas yang naik ke udara dari jalan aspal yang kena sinar matahari itu, seolah-olah tampak olehnya tiga pasang mata mamusia yang kurus kerdil.

Dari mulut ketiga manusia setengah hidup itu, seolah-olah keluar kata-kata, "lapar, lapaar, lapaaaaaaar!"

Bini dan dua orang anaknya, menanti-nanti kedatangan Akang Gambang membawa uang hasil penjualan keringat.

Kata-kata yang mengerikan itulah mendorong Akang Gambang bermandi keringat di panas matahari.

Kalau Akang Gambang sedang melepaskan lelah di dekat hotel-hotel atau restoran, di mana Tuan-Tuan Nippon sedang beriang gembira makan mimum, maka terbayanglah lagi ketiga pasang mata tadi di mukanya.

Bayangan ketiga makhluk itu seolah-olah menyuruh dia menjulurkan tangan minta makanan pada Tuan-Tuan itu.

Maka segeralah ia memalingkan muka, lalu mendayung lagi, supaya hilang rasa dirinya hina.

Akang Gambang merasa dirinya masih berharga sebagai manusia, apabila ia melihat orang-orang berkerumun di tempat sampah, mengais-ngais kotoran seperti ayam, menjlat-jlat daun seperti anjing jalang.

"Alhamdulillaaah, nasibku tidak seperti orang-orang itu," kata Akang Gambang dalam hatinya.

Otak Akang Gambang yang sesederhana itu belum lagi kuasa memecahkan soal-soal yang pelik, seperti: apa sebab ia hidup melarat, apa sebab orang-orang Belanda dan Jepang hidup senang, sedang bangsanya tetap melarat seumur hidup.

Pusat pikiran dan titik tujuan usahanya pun sederhana saja: sesuap nasi untuk hari ini!

Ia tidak mengerti soal menjajah atau dijajah, apalagi soal kapitalisme, imperialisme, atau kolonialisme.

Oh, tidak, tidak. Ia tidak mengerti soal itu semua! Yang menjadi soal terpenting baginya, ialah bagaimana cara mendapat duit untak membeli nasi. Bukan ia tidak ingin hidup senang seperti Tuan-Tuan Belanda dulu atau seperti Tuan-Tuan Nippon pada waktu itu! Oh, hidup senang semacam itu selalu termimpi-mimpikan olehnya setiap malam.

Namun impian seindah itu bagi dia tetap menjadi impian belaka.

"Sekarang tak kualami sendiri, mudah-mudahan besok atau lusa oleh anak cucuku." Demikianlah ia menghibur hatinya.

Ia belum berputus asa.

Roda zaman terus berputar dengan tidak menghiraukan manusia yang sedang atau masih mimpi!

Sampailah jarum sejarah itu pula titiknya yang tertentu.

Pada suatu hari Akang Gambang melepaskan lelah sehabis mendayung becaknya dekat radio umum, yang “sering membohong sering menganjur-anjurkan menanam jarak, bekerja gotong royong, kerja sama dengan Dai Nippon”.

Demikianlah alhasil pendapat Akang Gambang tentang radio itu.

Biasanya, Akang Gambang tidak pedulikan omong kosong radio itu.

Akan tetapi kali ini ia terpaksa juga mendengarkannya karena ajakan teman-temannya tukang becak.

Pada roman muka teman-temannya kelihatan sinar getaran jiwa yang mengandung pengharapan.

Pengharapan apa?

Entah, Akang Gambang belum lagi kuasa menebaknya. “Proklamasi. Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia!" Demikian antara lain terdengar oleh Akang Gambang dari corong pesawat radio umum itu.

Seperti kerbau yang kebingungan jalan, Akang Gambang melihat berkeliling, menatap muka teman-temannya.

Macam-macam tingkah laku teman-temannya itu.

Ada seorang temannya yang mula-mula kelihatan kuyu, mendadak mengepalkan tangan dengan penuh semangat sambil berteriak: "Merdeka, Bung! Akur. Merdeka, Bung!"

"Ha-ha-ha, merdeka, merdeka, Bung!" sahut temannya yang lain, sambil ngluyur mendayung becaknya.

Topi, peci, saputangan beterbangan ke udara disertai pekik sorak, jok becak dipukul-pukul, belnya didering-deringkan sehingga menjadi hiruk-pikuk.

Akang Gambang merasa malu kalau disebut ketinggalan kereta api oleh teman-temannya.

Maka ia pun turut tertawa, turut berjingkrak-jingkrak, turut mengacungkan tangannya seperti tingkah orang yang tenggelam minta tolong.

Ia pun turut berteriak "merdeka!"

Apakah merdeka itu berarti tambahnya lapar atau hilangnya bahaya lapar, entah, ia belum yakin.

Namun ia merasa bangga, karena sudah turut menggembirakan hari proklamasi kemerdekaan tanah airnya.

Beberapa hari kemudian sesudah peristiwa itu, tampak oleh Akang Gambang serdadu-serdadu Nippon bermobil-mobil, bertruk-truk lengkap dengan senjata mereka menuju ke jurusan Bogor.

Gaya dan roman muka Tuan-Tuan Nippon itu tidak segagah dan segalak dulu lagi, waktu mereka mendarat dan mengusir Belanda.

Romannya seperti ayam kalah bersabung.

Bendera Merah Putih berkibar di muka rumah Presiden Sukarno, di gedung Pegangsaan Timur. Juga becak Akang Gambang dihiasi dengan bendera kertas merah putih.

Waktu mobil Presiden keluar dari halaman rumahnya, kebetulan sekali Akang Gambang ada di tepi jalan di sana, Bung Karno mengacungkan tinjunya sambil berteriak, “merdeka!”


Akang Gambang berjingkrak seperti anak kecil baru dibelikan balon-balonan. Ia pun berteriak sekuat tenaga, "Merdeka, merdeka, Bung Karno!"

Kesenangan hati Akang Gambang diberi salam merdeka oleh Bung Karno, tiada tara bandingannya.

Semangatnya memberi salam merdeka sekarang bertambah hebat. Setiap orang diberi salam merdeka.

Sambil mendayung, bel becaknya didering-deringkannya dengan irama, diringi dendang lagu es lilin.

"Tarik suara! Sendiri jun?" seru empok-empok di tepi jalan yang geli melihat kelakuan Akang Gambang.

"Siapa ketawa di sana?" sahut Akang Gambang dengan tersenyum kecil.

"Boleh korting sedikit, Bung, kan merdeka," kata Akang Gambang dengan sikap seperti miliuner, kepada penumpangnya yang turun.

Si pemumpang hatinya lega! Akang Gambang hatinya bangga karena merasa sudah turut berjasa pada perjuangan nusa dan bangsa.

Seperti tingkah laku seorang pahlawan yang menang dalam pertempuran, Akang Gambang melangkahkan kaki menuju ke gubuknya.

Mukanya bersinar-sinar, hatinya gembira, disebabkan peristiwa-peristiwa istimewa itu. Dadanya penuh dengan keinginan hendak menceritakan kepada anak istrinya tentang: berita penting di radio, salam merdeka dengan Bung Karno, gedung istana Bung Karno, bendera Merah Putih dan, tentang Indonesia merdeka!

Dalam khayalnya sudah tampak kelihatan anak bininya mengerumuni dia dengan muka gembira dan dengan pekik merdeka yang bersemangat, meriah. Tampak juga dirinya sendiri berdiri di depan mereka itu dengan sikap dan gaya Bung Karno sedang angkat bicara.

Makin dekat ia ke gubuknya yang sudah doyong akan roboh itu, makin berdebar dadanya karena ingin segera bercerita. Kedua orang anaknya, telanjang bulat dan kotor karena lumpur, menyambut kedatangan Akang Gambang dengan teriakan, "Oree … Bapak datang! Bawa duit, Pak?"

Kakaknya menyambungi: "Mak nangis, Pak! Bapak bawa beras?”

Hati Akang Gambang menjadi agak kecut, karena sambutan anak-anaknya yang tak diduga akan demikian macam. Namun seperti laku diplomat yang hendak menghindarkan ketegangan, Akang Gambang tersenyum lalu mengacungkan tinjunya: "Merdeka!"

Kedua orang anak itu melihat dengan keheran-heranan, seperti melihat tukang sulap sedang memainkan kartu. Mulut mereka menganga. Kakaknya melihat kepada adiknya sambil mengedipkan mata dan menyeringai.

Istri Akang Gambang keluar dari dapur. Rambutnya kusut, matanya kelihatan kuyu. Ia duduk di tanah menunggu suaminya menyerahkan uang pendapatan narik becak.

Dengan tidak menghiraukan sedikit juga pada suasana yang agak buruk itu, Akang Gambang mulai juga dengan ceritanya seperti yang sudah direncanakan. Dengan gembira perkataannya meluncur dari mulutnya, dengan penuh semangat tangannya bergerak-gerak menggambarkan orang-orang bersalam merdeka dengan Bung Karno! Dengan megah diceritakannya tentang Bung Karno yang memberi salam merdeka kepada dia sendiri!

"Aku sendiri gembira, karena dapat turut berjasa dalam perjuangan. Setiap penumpang becakku kuberi korting!” katanya sambil menyerahkan segulung kecil uang kertas, yang jumlahnya jauh lebih kurang dari setoran biasanya.

Muka bini Akang Gambang mendadak menjadi merah, matanya melotot, uang di tangannya diremas: "Jadi, jadi …!" katanya dengan geram.

"Jadi karena merdeka, Abang korting juga makan anak bini Abang, Apa Abang sudah gila? Sudah gila, hah!" Caci maki dan kata yang pedas-pedas meluncur dengan derasnya dari muhut bini Akang Gambang, seperti peluru lepas dari mulut mitraliur.

Sebentar kemudian terdengar bunyi piring dan cangkir seng terbanting pada tempayan kosong, disambung oleh suara tangis bini Akang Gambang,

Akang Gambang bukan ahli debat, bukan ahli filsafat!

Ia bungkam! Ia tak dapat mendebat protes bininya!

Diam-diam ia pergi ke rumah teman sekampungnya, yaitu Bung Arif.

Maksudnya mencari jalan untuk menghindarkan meluasnya pemberontakan dalam rumah tangganya itu.

Setelah Akang Gambang selesai membuka pembicaraan, Bung Arif tersenyum tawar. Akang Gambang menunggu sambutan Bung Arif dengan termangu-mangu seperti sikap santri menghadapi kiai, yang sedang memberi wejangan.

Makin tenang sikap Bung Arif, makin gelisah hati Akang Gambang, sehingga ia merasa perlu meneguk air teh dari cangkir di hadapannya untuk mendinginkan hatinya.

Akhirnya Kang Gambang mulai lagi berbicara dengan pengharapan supaya soalnya diperhatikan lagi dan dikupas.

Katanya: "Sesungguhnya, Bung Arif, aku minta pemandangan Saudara. Di mana sebenarnya letak kesalahan dalam melakukan tugasku. Coba pikir, bagaimana kesungguh-sungguhan hatiku menaati perintah dan seruan pemimpin kita Bung Karno! Waktu ia menganjur-anjurkan supaya kita bekerja gotong-royong, romusa dan sebagainya, aku sendiri turut menyumbang tenaga dengan penuh semangat sampai rusak badanku diserang penyakit malaria di sana! Waktu ia sudah menjadi presiden, kutaati juga amanatnya supaya diperbesar cinta pada tanah air dan bangsaku, sebab sekarang kita sudah merdeka dan berdaulat, katanya. Aku pun terus menarik becak, memeras keringat!

Dan karena cintaku kepada bangsaku memang sungguh-sungguh, dengan rela aku memberikan korting sepantasnya kepada para penumpang becakku. Pikirku, itulah sumbangsihku atas anjuran presiden kita! Coba, bagaimana lagi aku harus berjuang, tetapi istriku belum juga dapat mengerti kemauan zaman, agaknya. Katanya sambil membantingkan piring seng: ‘Untukku apa artinya merdeka, berdaulat dan macam-macam omong kosong seperti itu lagi, kalau gubuk kita masih doyong-doyong juga hendak roboh, kalau perut anak kita buncit karena berisi angin dan karena penuh dengan bualmu tentang merdeka!’ Coba, coba Bung Arif pikir, siapakah yang benar dan siapakah yang salah! Berilah aku pemandangan, Bung Arif!”

Seperti laku seorang hakim yang hendak menjatuhkan keputusan atas sesuatu perkara, setelah mendengarkan, dan seterusnya, memerhatikan dan seterusnya, menimbang dan seterusnya, pembelaan si terdakwa, maka mulailah Bung Arif berbicara.

"Asal saja kautaati sepenuhnya segala petunjuk jalan yang kuberikan," kata Bung Arif memajukan syarat mutlak.

Akang Gambang mengangguk-angguk kegirangan.

Ibarat seorang pasien yang masih ingin hidup seratus tahun, menyerahkan diri kepada kehendak dokter yang merawatnya, maka dengan ikhlas Akang Gambang berjanji hendak menaati segala syarat yang diminta oleh Bung Arif.

Dengan cara yang sangat sederhana dan mudah diterima oleh otak Akang Gambang, Bung Arif memberikan nasihatnya.

Setelah lama bersoal jawab, maka dengan hati puas Akang Gambang berkata: "Aku takkan ingkar pada janji. Besok aku mulai dengan perjuangan hidup baru menurut syarat-syarat seperti dikatakan oleh Bung itu!"

Dengan semangat baru, Akang Gambang membuat halaman baru dalam perjuangan hidupnya: pagi-pagi benar ia mencangkul di kebun dan menanam sayur-sayuran serta memelihara ternak dan tanaman jeruk Bung Arif, hasil kebun itu dibawanya ke kota, ke kantor koperasi hasil bumi yang dipimpin Bung Arif sendiri, petang hari Akang Gambang menuntut kursus Pemberantasan Buta Huruf; sehabis sembahyang Magrib ia mengikuti kursus organisasi koperasi yang diadakan oleh teman Bung Arif.

"Nah, Saudara, dengan jalan demikianlah kita mengisi kemerdekaan negara kita untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuran kita," kata Bung Arif kepada keluarga Akang Gambang setahun kemudian.

"Terima kasih, Bung Arif, baru sekarang aku agak paham arti bernegara merdeka dan berbangsa berdaulat, berkat pimpinanmu, Saudara," sahut Akang Gambang.

__________
¹ Rukun tetangga

•••















3. PENUH HARAPAN




Kendaraan bersimpang siur di Jalan Kampung Melayu, yaitu jalan raya yang menuju ke kota Bogor. Klakson mobil, dering bel becak dan sepeda, sahut-menyahut menusuk-nusuk kulit genderang telinga.

Muka kaum buruh kelihatan meriah gembira pada hari Minggu itu karena kemarinnya baru menerima gaji. Tambahan pula hari cerah cuaca menambah suasana gembira.

Dengan muka yang berseri-seri pemuda dan pemudi memenuhi bus-bus yang menuju ke pemandian Zandvoort atau ke Bogor, seolah-olah menyindir kaum gerilya yang sedang berjuang mati-matian di hutan belukar.

Koride kaum wanita bermacam-macam model, bebe, dan kebayanya beraneka warna.

Berlenggang-lenggok gadis-gadis remaja berjalan, berpesiar dan berbelanja ke Pasar Baru atau ke toko Babah Gemuk di Pasar Senen.

Di perhentian bus di muka Toko Trio, mobil yang datang dan berangkat silih berganti, seperti orang bermain estafet.

Apabila ada bus baru tiba di situ, maka berkerumunlah si penjaja roti dan kue-kue, masing-masing menawarkan barang dagangannya.

Keaktifan para pedagang itu tidak mengalahkan kegiatan para pengemis dalam mencari rezeki. Baik yang masih kanak-kanak maupun yang sudah tua, setengah telanjang atau berpakaian compang-camping, para pengemis itu menadahkan tangan atau kaleng kosong, meminta sedekah kepada para penumpang bus.

Perkataan "maaf" atau sikap acuh tak acuh para penumpang bus itu, kadang-kadang menyebabkan tumbuhnya rasa sedih hati orang yang lemah budi, sekalipun tidak demikian halnya bagi si pengemis itu sendiri yang sudah biasa menelan perkataan-perkataan pahit semacam itu.

Di antara manusia yang berpakaian mentereng, tidak sedilkit bersimpang lalu para pengemis yang merupakan barang loakan masyarakat.

Suara merayu sedih yang meluncur dari mulut makhluk yang kelaparan itu merupakan suara sumbang dalam simfoni suara riang gembira yang terdengar berkumandang dari mulut manusia yang hidup kemewah-mewahan.

Dunia penuh dengan pertentangan!

Gambaran seperti itu kelihatan di mana-mana. Ya, di sehruh dunia ini. sampai di tempat yang sekecil-kecilnya sekalipun. tidak terkecualikan pula di tempat bus seperti tersebut di atas.

Di sana, di dekat tempat orang berjualan gado-gado dan es sirup tampak seorang perempuan muda genit bermain mata dengan seorang serdadu berambut pirang. Mata. bibir, kaki, dan tangannya bermain dengan aksinya untuk menarik perhatian mangsanya.

Tiga orang pengemis, perempuan tua lagi buta beserta anaknya dua orang yang setengah telanjang, menghampiri si genit itu sambil menadahkan kaleng bekas tempat sardencis.

Pengemis dan kaleng yang senasib dan sepenanggungan sebagai sampah, dalam hakikatnya semaksud dan setujuan pula, yaitu mengharapkan isi.

Lubang kaleng yang menganga itu tidak bedanya dengan mulut si pengemis yang kelaparan itu.

Baju kumal yang bertambalan beraneka warna dan kaleng kosong yang sudah penyek itu merasa diri sangat rendah mendekati kebaya sutra merah dan kain jelamprang si genit itu.

Dengan sikap merendahkan, si rambut pirang dan brengunnya melihat kepada si korban penjajahan yang berdiri terhuyung-huyung di depannya itu.

Seorang tuan yang berpakaian mentereng dan memegang tas kulit bertali yang bergantungan pada tangannya membuang muka ketika rombongan pengemis itu menghampiri dia.

"Minta sedekah juragaaaaaan; orang buta kasihan Tuaaan.” Suara merayu-rayu meluncur dari mulut pengemis itu.

"Sedekaaaah Juragaaaaan," sambung anaknya yang menuntun dengan roman muka yang mengandung penuh harapan.

Seperti seorang ahli politik yang mempergunakan alat apa saja dalam mencapai maksudnya, maka si genit pun memperalat si pengemis itu untuk menarik perhatian yang lebih besar lagi dari si rambut pirang itu.

Sambil meringkik seperti kuntilanak, dimasukkannya sejumput kacang dalam kaleng kosong yang ditadahkan si pengemis itu.

Anak pengemis meyakinkan benda yang dimasukkan ke kalengnya itu, kalau-kalau ada juga uang kertas terbawa masuk dengan kacang itu.

Uang, ya, uang, sekali lagi uang yang diharapkannya, sekalipun ia sendiri adalah korban perbuatan manusia yang serakah uang!

Serta rombongan pengemis itu berjalan dari situ, si genit meringkik lagi seperti bunyi pekik kehormatan pada rombongan prajurit yang baru lewat.

Seorang perempuan pedagang gado-gado dekat si genit itu. Bi Lastri namanya, mengerut-ngerutkan keningnya.

Matanya sebentar melihat ke langit seperti sedang mencari bintang, sebentar melihat ke tanah seperti hendak menembus bumi.

Si genit itu menarik perhatiannya juga, sebab ia memang sudah pernah lihat dia. Akan tetapi ia lupa namanya!

Sebentar kemudian ia tersenyum.

"Ooooooh ingat aku sekarang; Saridah namanya," kata Bi Lastri dalam hatinya.

Maka terbayanglah dengan hidupnya riwayat Saridah pada waktu yang sudah lampau.

Saridah adalah bekas tetangganya di Cikampek. Suaminya bernama Parta.

Pada sebelum aksi militer Belanda yang pertama, Parta adalah anggota laskar rakyat, yang "menjaga keamanan" daerah Cikampek, katanya.

Melihat pakaian yang seragam itu memang hati Rita bangga.

Binkap model Jepang serta pedang katana dan pistol menambah seram hati orang yang melihatnya.

Sepanjang pengetahuan Sulastri, begitulah namanya yang sebenarnya, belum pernah Parta turut bertempur di garis depan, seperti lain-lain pahlawan yang sejati.

Daerah "penjagaan" Parta melulu meliputi pekarangan stasiun dan Pasar Cikampek, yaitu tempat bertemu kaum catut besar dan kecil.

Petang hari ia pulang dari stasiun; naik delman yang setengah penuh dengan bermacam-macam sayur-sayuran, buah-buahan, dan daging kambing tanda terima kasih dari kaum pedagang, katanya.

Sambil tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala ke kiri dan kanan, ia memberi salam kepada setiap orang yang berpapasan jalan dengan dia.

Aksinya seperti juara tinju yang baru mengalahkan lawannya.

Pakaian seragamnya itu, boleh dikatakan, tak pernah lepas dari badannya, begitu pula pistolnya.

Petang hari, kalau ia makan angin dengan Saridah, maka orang-orang pada melirik melihat kemewahan pakaian Nyonya Parta.

Orang-orang berbisik-bisik: "Toko berjalan, hasil berjuang di garis belakang.”

Kerdip mata orang-orang dan kerinyut bibir yang berarti, mengantarkan kedua orang pahlawan yang sedang pelesir. menonton doger di Pasar Cikampek itu.

Sulastri jarang sekali bertemu dengan suaminya, Supardi, yang menjalankan tugas di Bekasi, garis pertahanan yang termuka.

Dari pagi sampai malam ia menyumbangkan tenaga di lembaga dapur umum bersama kedua orang anaknya, Suparto dan Supartini.

Begitu tentara NICA menyerbu Cikampek, begitu cepat Parta menghilang dari daerah itu. Begitu pula kaki tangannya.

Ke mana mereka pergi, setan pun tidak peduli!

Namun konon kabarnya, mereka mundur teratur sebagai siasat yang sudah diperhitungkan masak-masak.

Saridah sendiri masih bercokol di Cikampek dengan barang perhiasannya yang selemari penuh itu.

Orang-orang lari sara-bara menjauhi musuh, Saridah kebingungan memendam intan berliannya dalam tanah.

Namun Saridah bukan buaya baru lahir; bagi dia semboyan yang paling jitu ialah: "Lain dulu lain sekarang! Ada uang abang sayang, tak ada nang abang payah.'"

Sebab, begitu suaminya menghilang, begitu Saridah mencari perlindungan pada musuh yang baru datang

Dengan demikian terjaminlah harta bendanya!

Ketika Belanda mengadakan pembersihan di Cikampek, Sulastri menjadi sasaran pula karena tercatat dalam blacklist.

Untung Sulastri sudah melenyap pindah ke Jatinegara.

Dengan jalan memburnh jahit pakaian dan berjualan gado-gado, Sulastri mempertahankan hidupnya sampai ia dapat menemukan Supardi, yang kabarnya ditahan di penjara Glodok.

Tempat jualannya ialah di perhentian bus depan Toko Trio tadi itu.

"Wah, melamun saja, ni!" Tiba-tiba Sulastri dikejutkan oleh suara anak muda di depannya.

Saleh, begitulah nama anak muda itu, adalah teman seperjuangan Supardi, yang rupanya mempunyai tugas baru di daerah pendudukan.

Kedua orang itu tak banyak berkata-kata, hanya yang kelihatan mereka bertukar kode.

Dari Saleh Sulastri tahu, bahwa Supardi dipindahkan ke Nusakambangan.

Selain dari itu Saleh berkata: "Dua bulan yang lalu aku dipesan Supardi menguruskan naskah karangannya. Sudah kuberikan karangan itu kepada penerbit di Jakarta yang kebetulan mengadakan sayembara mengarang roman. Lumayan, Tri, kalau hhus dan mendapat hadiah untuk ganjel perut."

Saleh tersenyum.

Namun serta ia melihat ada orang yang sangat boleh jadi mata-mata, maka Saleh segera angkat kaki dari situ.

Sulastri merasa agak kecewa mendengar kabar suaminya dipindahkan ke Nusakambangan.

Sambil bernapas panjang, 1a membereskan perabotannya, karena hari sudah siang dan pula karena dagangannya habis.

Sementara itu kedua orang anaknya datang menjemput.

"Sudah pukul satu, Mak, mari kita pulang," kata Suparto dan Supartini.

"Ngemis, Empoooo." Tiba-tiba terdengar suara merayu-rayu seorang pengemis yang kakinya buntung sebelah.

Pakaiannya penuh dengan tambal-tambalan; topinya dari pandan yang sudah cabik-cabik dan kotor. Umurnya kira-kira 40 tahun. Jalannya sudah payah benar, karena tuanya dan karena ia berkaki sebelah.

Setelah diberi sebungkus nasi, pengemis itu berjalan dengan payahnya. Akan tetapi tampak oleh Sulastri mata pengemis itu bersinar kegirangan karena terima kasihnya diberi sedekah.

"Mungkin ia korban keganasan NICA," kata Sulastri pada dirinya sendiri. "Nasib," keluhnya.

Sulastri berjalan sambil mengiringkan kedua orang buah matanya menuju ke rumah.

Setelah mengaso sebentar, petang harinya ia pergi lagi berjualan goreng pisang dan air kopi di depan stasiun.

Demikian pekerjaan Sulastri setiap hari. Tak ada tempo yang dibuang-buang tidak keruan.

Malam harinya sebehum tidur ia rajin mengikuti berita-berita dari surat .kabar.

Kalau Sulastri mau, sebetulnya tentu ia dapat bekerja di kantor pemerintah Belanda, karena ia mempunyai diploma HIS dan diploma mengetik.

Akan tetapi ia memegang teguh janjinya takkan mengecewakan hati suaminya dan teman-teman seperjuangannya.

"Daripada aku dicap pengkhianat bangsa, karena bekerja di kantor pemerintah Belanda, lebih baik aku berjualan. Tambahan pula lapangan penghidupan tidak hanya terbatas pada pekerjaan di kantor-kantor saja. Di mana dan sejak kapan pula kaum buruh kantoran menjadi kaya?” pikir Sulastri.

Pada suatu hari, setengah tahun sejak Supardi ditawan, ketika Sulastri habis mandi petang hari, ia mendapat kabar dari tetangganya, bahwa menmurut pengumuman radio, para tawanan perang dengan secepat mungkin akan dibebaskan.

"Ya, mudah-mudahan saja anak Bibi bisa lekas bertemu dengan bapaknya. Kasihan mereka masih kecil-kecil," kata tetangganya dengan perasaan kasih sayang.

"Kabar penting apa saja di surat kabar hari ini?" tanya Sulastri.

"Belum lagi saya baca. Kalau mau membacanya lebih dulu, bolehlah," kata tetangganya itu.

Hari sudah remang-remang

Beduk Magrib berbunyi. Suparto dan Tini asyik belajar dekat ibunya yang sedang membaca koran.

Tiba-tiba perhatian Sulastri terpikat pada berita pengumuman "Komisi Sayembara Mengarang Roman”.

"Hadiah pertama dijatuhkan pada karangan "Catatan Harian Seorang Pahlawan Gerilya" oleh: Supardi," demikianlah bunyi pengumuman itu.

Sebentar Sulastri termenung, mengingat-ingat kejadian-kejadian yang lalu.

Sulastri ingat akan cerita Saleh tentang karangan suaminya itu. Maka ia tak lagi ragu-ragu, bahwa si pemenang hadiah pertama itu pasti Supardi suaminya.

Hati Sulastri berdebar-debar.

Rasanya ia hendak tertawa, karena kabar yang menggirangkan itu. Akan tetapi tiba-tiba perasaan itu ditekan oleh rasa sedih mengingat suaminya sedang ditawan.

Rasa gembira dan sedih bercampur aduk menambah gelisahnya hati Sulastri.

"Astagfirullahalazim," Sulastri membaca istigfar lalu minum air dingin untuk menenteramkan hatinya.

Beduk Isya berbunyi.

Sulastri memutup pintu depan dan jendela. Sebuah pelita digantungkan di tiang gantung di depan, supaya di situ tidak terlalu gelap

Pikiran Sulastri tetap kusut. Telinganya yang kiri mengiang seperti memberi alamat baik; pelupuk matanya yang kanan berkedut-kedut tidak berhenti-hentinya.

"Alamat menangis," bisik Sulastri dalam hatinya.

Terdengar tiba-tiba ada orang dari luar mengetuk-ngetuk pintu.

Tiga pasang bola mata pandang-memandang; keadaan menjadi sunyi seperti di kuburan.

Supartini bangkit dari kursinya lalu menyembunyikan muka pada pangkuan ibunya. Suparto bergerak hendak membukakan pintu, tetapi tak jadi, karena dilarang ibunya.

Sekali lagi pintu diketuk-ketuk orang itu dari luar.

Sulastri belum juga mau membuka pintu. Suparto sudah tak sabar, lalu ia pergi mengintai dari celah-celah dinding.

Matanya melotot, mulutnya ternganga karena keheran-heranan: "Pengemis yang buntung kakinya, Bu."

Suparto berbisik-bisik.

"Lastri!" panggil orang dari luar itu.

Pikiran Sulastri makin kusut. Badannya menggigil ketakutan, kalau-kalau orang di luar itu penjahat.

Sambil merangkul kedua orang anaknya, Sulastri berdiam diri menahan napas.

"Tini, Parto, ini Bapak datang!" kata orang di luar itu.

"Bapak, Bu!" teriak Suparto sambil memburu ke pintu! Seperti anjing pemburuan lepas dari rantai, ketiga orang itu menuju ke satu tujuan: pintu!

Demikian besar pengaruh perkataan "Bapak" itu, sehingga hilang lenyap syak wasangka Sulastri dengan sekejap mata.

Pintu dibuka, tetapi segera ibu dan anak itu berdiri tertegun.

Sebatang tubuh manusia setengah hidup, kurus kering, kotor, tampak seperti patung di depan mereka.

Mata orang itu tidak kedip-kedip menatap ketiga muka manusia di depannya itu. Mukanya membatu.


Satu kaki biasa, dua kayu penopang menahan manusia itu berdiri seperti terpancang di tanah!

Supardi yang bersifat tenang dan tidak biasa mudah memperlihatkan deburan rasa hati, masih juga berdiri seperti patung di depan istri dan anaknya.

Drama tersebut hanya terjadi dalam beberapa detik saja, sebab, sebentar kemudian Sulastri memeluk Supardi dengan akibat yang biasa terjadi, kalau sang istri bertemu kembali dengan suaminya yang telah lama tak bertemu.

Ratap, tangis, dan air mata mengambi peranan yang istimewa!

Biarpun mata Sulastri belum lagi mau percaya, bahwa orang buntung kaki itu betul-betul Supardi, suaminya, tetapi pancaindranya itu dikalahkan oleh kekuatan getaran rasa hatinya, yang memberikan keputusan yang menentukan.

Keempat orang anak beranak itu duduk berkumpul di serambi tengah rumah.

Dengan panjang lebar Supardi dan Sulastri ganti-berganti tanya-menanya pengalaman masing-masing, kabar-mengabarkan penderitaan selama berpisahan.

Suparto dan Tini pun mendapat bagian untuk bercerita atau untuk ditanya!

"Parto, Tini, sudah besar sekarang, ya. Masih sekolahkah kalian?" tanya Supardi sambil mengusap-usap rambut kedua orang anaknya.

"Aku kelas lima, adik kelas tiga, Pak," sahut Suparto.

Kaki Supardi yang buntung lebih menarik perhatian Supartini.

"Mengapa kaki Bapak buntung, Pak?"

Supardi menyingkapkan kaki celananya yang bergelambir, supaya ujung kaki yang buntung itu kelihatan.

"Kena mortir. Tulangnya pecah, jadi harus dipotong: tetapi tidak mengapa, Bapak masih punya satu lagi ditambah kayu ini," kata Supardi sambil menunjukkan kayu penopang

Setelah selesai makan-makan, Sulastri ingat pada pengumuman Komisi Sayembara di surat kabar itu.

Pandangan dua pasang mata terpusatkan pada pengumuman yang penting itu.

"Benar karanganku. Berjasa juga Saleh untuk kita, sebab kalau tak disampaikannya tentu takkan begini hasilnya," kata Supardi dengan hati lega.

Surat kabar itu dilipatnya, lalu obrolan diteruskan.

Sambil memandang kepada dua orang anaknya yang sedang tidur, Sulastri berbisik: "Apabila isi rumahku lengkap, bahagia dan sentosalah hatiku, Mas. Kesunyian dalam hidupku hilang, serta kau kembali mememuhi kekosongan dalam jiwaku. Tampak olehku kedua orang anak kita itu tidur nyenyak dengan hati bahagia, karena bapaknya sudah melengkapi isi rumah."

Sambil mengepulkan asap rokok, Supardi mengangguk-angguk.

Ia setuju dengan ucapan Sulastri yang sederhana tetapi dalam artinya itu.

Ia merasa kembali sebagai anggota masyarakat yang lumrah. Rasa bahagia yang menyelimuti seluruh diri pribadinya pada saat itu tidak seukuran dengan rasa bahagia ketika penyerbuannya tiga tahun yang lalu berhasil dengan gilang gemilang.

Sulastri merenungkan nasibnya di hari datang

Bayangan si pengemis yang buntung, yang pernah diberinya sebungkus nasi pada masa yang telah lalu itu, menyelinap dalam ingatan Sulastri.

Rasa hatinya yang berat dan roman mukanya kelihatan agak mendung, agak tercumbu oleh rasa bangga karena keperwiraan suaminya.

Ia tidak percaya, bahwa suaminya harus minta-minta juga untak memberi makan isi keluarganya. Akan tetapi di samping itu, ia belum tahu apa yang hendak dikerjakan suaminya yang sudah cacat itu.

Ibarat air ditiup angin darat, beralun dan berombak, demikianlah pula rasa cemas dan percaya bergelombang dan merajuk dalam sanubari Sulastri dalam menghadapi masa datang.

Sulastri melihat kepada air muka Supardi yang tenang dan menyinarkan keilkhlasan hati itu.

Supardi sedang membuka-buka buku catatannya yang sudah kumal.

Senyum Supardi membahagiakan dan membesarkan hati Sulastri.

Pagi-pagi buta Sulastri sudah bangun seperti biasa.

Sepatah dua patah kata dorongan suaminya telah memberi keteguhan hati Sulastri dalam perjuangan hidup selanjutnya.

Sulastri dan Supardi melepaskan pandangan pada kedua orang anak mereka yang berjalan bergandengan tangan pergi ke sekolah.

"Mereka akan meneruskan perjuangan kita, Lastri," bisik Supardi.

Sulastri mengangguk dan tersenyum.

Supardi bangkit dari kursinya hendak berangkat ke kantor penerbitan untuk menguruskan karangannya. Sulastri pergi ke pasar.

Setiap orang melihat kepada pahlawan yang tak berbintang itu, yang hanya dikenal oleh teman-teman seperjuangannya saja, yang merasa lebih bahagia kembali menjadi manusia biasa dalam masyarakat normal daripada disanjung-sanjung seperti badut atau pahlawan yang berebut-rebutan kursi di panggung sandiwara.

Siang harinya, ketika Sulastri kembali dari pasar, hatinya digembirakan oleh mesin jahit dan gelang emas.

"Ini, untukmu, Lastri, ini untuk Parto dan Tini, ini untukku sendiri, mesin tulis dan kertas tik," kata Supardi.

"Mari kita memulai penghidupan baru yang sesuai dengan tenaga kita sekarang, Lastri. Kau menjahit aku mengarang," katanya pula.

Sulastri berbisik, "Apakah penghargaan pemerintah atas jasamu, Mas?"

"Aku tak menjual jasa. Apa yang sudah kuperbuat untuk tanah air dan bangsaku itu tugas kewajibanku. Selanjutnya jangan kita mengharap-harap pertolongan orang lain. Kita percaya pada kekuatan diri kita scndiri!" sahut Supardi sambil terus mengetik karangannya.

Setiap hari dari mulai pagi sampai malam hari, Supardi bersama istrinya tampak asyik bertekun bekerja. Yang terselenggara hanyalah bunyi mesin tulis bergelitik dan mesin jahit bergelesir-gelesir menggembirakan hati dan menghidupkan semangat kerja suami istri yang sedang memunaikan tugas hidup mereka, menurut panggilan darma mereka masing-masing.

Biarpun di luar alam-hidup Supardi, orang-orang ramai berebut-rebutan kursi, guling-menggulingkan lawan; sekalipun ia tahu banyak manusia memboros-boroskan uang negara untuk kepentingan diri sendiri, tetapi sedikit pun tiada dipedulikannya. Supardi dan Sulastri bekerja, bekerja dan sekali lagi bekerja sebagaimana telah direlakan oleh Tuhan Yang Mahaadil dengan penuh harapan.

•••















4. GIGI EMAS




Mas Karto berasal dari Gombong. Sudah dua tahun setengah ia bekerja sebagai opsiner di onderneming Sukamandi.

Gajinya tidak seberapa besar, hanya cukup buat sekadar hidup sederhana saja.

Mas Karto termasuk golongan pegawai yang rajin dan taat pada perintah tuan besarnya, sehingga ia pernah menerima surat pujian dan tambahan gaji seringgit sebulan.

Oh, bukan main senang hati Mas Karto melihat surat pujian yang bercap kroon dan singa "Je Maintiendrai" itu!

Hatinya bangga melihat kertas yang berpengaruh itu dan yang sekarang diberi berkaca berbingkai sebagai hiasan dinding.

Berapa juta ringgit keuntungan yang diperoleh tuan besarnya Mas Karto tidak tahu. Juga berapa jauh perbedaan nasib antara dia dan tuan-tuan kulit putih itu, belum lagi masuk kesadaran politik Mas Karto.

Ia sungguh-sungguh masih buta politik.

Di samping hadiah yang membanggakan hatinya itu, Mas Karto pun menerima hadiah dari kuli-kulinya, yaitu nama kehormatan "Mas Siner Asem".

Sebabnya, ialah karena terhadap golongan marhaen ini, Mas Karto tidak pernah bermuka ramah atau bertutur kata manis.

Mukanya selalu kelihatan masam!

Akan tetapi jika Mas Karto disebut orang yang berbudi tengik, tidak juga 100% benar.

Sebab jika ia berhadapan dengan tuan besarnya suka juga ia tertawa, walaupun tertawanya itu agak dibuat-buat dan mengandung rasa takut serta malu.

Patut ia menjadi opsiner kesayangan tuan besarnya, sebab ia cakap mengambil hati majikannya dan cakap memerintah serta menguasai kuli-kulinya.

Akan tetapi, lambat laun sindiran dan ejekan kuli-kulinya itu menimbulkan kesebalan hatinya juga.

Hatinya jengkel bukan buatan, jika jumlah kuli-kulinya makin lama makin susut.

Mbakyu Karto sering menyatakan kecemasan hatinya, jika ia mendengar desas-desus dan kata-kata umpatan orang-orang yang dendam hati terhadap suaminya.

"Kita mencari keselamatan diri, tak usahlah uang dan pangkat dikejar-kejar jika akan membahayakan diri kita," kata Mbakyu Karto.

Rupanya cerita dan nasihat istrinya itu masuk juga di hati Mas Karto, sebab tak pernah dibantah malahan selalu didengar dan diperhatikan sepenuhnya.

Sehari sesudah Lebaran, Mas Karto kedatangan tamu jauh, yaitu Mas Dullah dari Deli dan Mas Wahid dari Singapura.

Kegirangan hati mereka tidak terkira besarnya!

Maklumlah, sebab mnereka baru kali ini bertemu muka, setelah berpisahan lima tahun lamanya!

Mas Dullah dan Mas Wahid sekarang sudah lain benar tingkah lakunya dan cara mengatur pakaiannya.

Tambahan pula kemakmuran daerah seberang itu tampak benar pada kemewahan pakaian dan perhiasan saudara-saudaranya itu; pantalon dan jas wol hitam, sepatu merek Booth, saputangan fantasi warna merah, kacamata biru berpinggiran emas, arloji saku dari emas, cincin dua tiga pasang juga dari emas dan akhirnya delapan gigi berlapisan emas yang mengkilap-kilap.

Percakapan kedua saudara itu seperti tidak akan habis-habisnya. Masing-masing menceritakan pengalamannya sendiri, sesudah mereka berpisah, meninggalkan Pulau Jawa untuk mencari penghidupan di perantauan.

Mas Karto memang sudah lama mendengar, bahwa di onderneming Deli orang-orang hidup makmur.

Sebab ternyata kepadanya, bahwa setiap orang yang baru kembali dari sana, hampir rata-rata banyak membawa uang emas atau perhiasan emas.

Sepanjang kebaya perempuan-perempuan dari seberang itu, dari dada sampai ke bawah, berderet peniti dinar emas. Tambahan pula perhiasan tangan dan telinga mereka emas juga.

Ya, seolah-olah tanah seberang itu gudang emas layaknya.

Akan tetapi kedua orang tamu jauh itu, sekali-kali tidak bermaksud mempropagandakan kemakmuran negeri perantauan itu.

Mas Karto merasa dirinya sangat melarat berpangkat opsiner di onderneming Sukamandi, kalau melihat kemewahan pakaian kedua saudaranya dari perantauan itu.

Perasaan bangga terhadap surat pujian tuan besarnya, yang tergantung di dinding itu, sekarang berubah menjadi perasaan sedih dan melarat, karena pengaruh emas yang menghiasi diri saudara-saudaranya itu.

Mas Dullah banyak berceritakan kehidupan dan adat-istiadat orang-orang di Deli.

Kalau ia tengah bercakap-cakap, sering ia tertawa-tawa, seolah-olah memperlihatkan gigi emasnya.

Mas Wahid, yang sekali-kali menyisipi percakapan itu dengan gambaran kehidupan orang-orang di Singapura, tempo-tempo tersenyum manis. Juga seperti yang memperlihatkan gigi taringnya yang berlapiskan emas itu.

Karena Mas Karto dari mudanya tinggal di tanah Jawa saja, maka sopan santun Jawanya masih nyata benar kelihatan.

Lain sekali dengan tingkah laku kedua orang saudaranya itu.

Mas Dullah dan Mas Wahid memang berasal dari satu kampung dengan Mas Karto, sehingga tampak nyata pada penglihatan Mas Karto perubahan adat-istiadat kedua orang perantauan itu.

Kebetulan sekali perlop Mas Wahid dan Mas Dullah itu agak lama juga, sehingga keduanya sering pelesir di sekitar onderneming Sukamandi.

Kadang-kadang mereka suka turut dengan Mas Karto ke pabrik atau turut turne memeriksa kebun nanas.

Oleh karena Mas Dullah juga opsiner di kontrakan Deli, maka pekerjaan yang bersangkutan dengan pergaulan dengan kuli-kuli itu tidak asing lagi baginya.

Sambil berjalan, Mas Dullah suka bercerita, bahwa kuli-kuli di Deli, jika dikerasi bukannya makin lunak malahan makin keras kepala, sehingga sering timbul percekcokan mulut yang kadang-kadang suka menimbulkan perkelahian atau penganiayaan.

Dan Belanda kuasa onderneming di sana tidak seangkuh Belanda di sini.

"Kami dari tanah Jawa dan banyak lagi dari asal Melayu masuk Sarekat Islam, sehingga persatuan buruh onderneming sangat kuat," kata Mas Dullah.

"Jadi," katanya pula, "orang Belanda kuasa onderneming di sana tidak berani amat berbesar kepala atau berbuat sewenang-wenang."

Banyak-banyaklah lagi yang diceritakan Mas Dullah kepada Mas Karto itu, sehingga Mas Karto merasa, bahwa pengetahuannya amat sangat picik.

Dan karena Mas Dullah itu pandai berkelakar, maka nasihatnya mudah sekali diterima dan dipahamkan oleh Mas Karto.

Memang sebenarnya sikap angkuh dan keras tutur kata, bukanlah sifat Mas Karto yang asli.

Hanya pergaulan dengan orang-orang kulit putih onderneming yang kasar-kasar itulah maka fiil perbuatan Mas Karto menjadi kasar pula.

Tambahan lagi, karena tak ada orang yang membimbing dia ke arah tujuan hidup yang sewajarnya, maka jiwanya sangat mudah dipengaruhi orang.

Rupanya segala nasihat dan cerita Mas Dullah serta Mas Wahid itu berbekas pada jiwa Mas Karto, sebab sehari demi sehari tampaklah perubahan-perubahan dalam sikap hidupnya itu.

Kedua orang saudaranya itu minta permisi pulang, setelah mereka cukup sepuluh hari berlibur di Sukamandi.

"Sering-sering bersurat kemari, Mas!" kata Mas Karto kepada Mas Dullah.

"Baiklah, asal jangan bosan membacanya saja," sahut Mas Dullah sambil tertawa, sehingga tampak kuning gigi emasnya yang mengkilap-kilap kena sinar matahari itu.

Pada suatu hari Minggu, beberapa bulan sesudah itu, Mas Karto duduk-duduk di serambi muka sambil memerhatikan burung tekukurnya dalam sangkar yang tergantung pada tonggak bambu.

Ketika burung itu berbunyi, disahutinyalah dengan siul yang meniru-niru bunyi burung itu. Lalu ia menjenguk melihat kepada lonceng di dinding.

Tersenyumlah ia!

Rupanya bunyi burung tekukur itu memberi alamat baik kepada Mas Karto.

Kiranya ada suatu cita-cita yang sudah lama diidam-idamkan oleh Mas Karto cuma menunggu saatnya yang baik saja lagi.

Petang harinya ia pergi ke sobatnya, yaitn seorang Cina mindring, yang suka mondar-mandir pergi ke Betawi.

Apa yang dipercakapkan kedua orang sobat kental itu agaknya tidak perlu kita ketahui.

Setahu kita, Mas Karto minta perlop seminggu kemudian ia pergi ke Betawi.

Di kota besar ini banyak dilihat oleh Mas Karto.

Namun satu hal yang tak dilupakannya, tujuannya yang paling istimewa, yaitu mengunjungi toko Cina tukang gigi.

Tiga jam Mas Karto duduk menengadah ke loteng dengan mulut ternganga.

Ia menurut semata-mata pada segala perintah dan kemauan tukang gigi itu. Akhirnya, bebaslah ia dari kungkungan si Babah itu.

Dengan hati lega, karena gigi mukanya sudah mengkilap kuning, Mas Karto meninggalkan tempat tukang gigi itu.

Ia tak lupa pula untuk memberi persen setali kepada bujang Babah itu sebagai tanda pelepas kaul karena idam-idamannya kabul.

Sambil berjalan menuju ke Pasar Baru, sebentar-sebentar Mas Karto menyeringai, karena bibirnya merasa diganjal.

Dirogohnya kaca bundar kepunyaan istrinya dari dalam sakunya dan bercerminlah ia sambil menyeringai dan tersenyum.

Tempo perlopnya masih empat hari lagi, jadi masih cukup waktu untuk melihat-lihat keadaan di kota Betawi.

“Ah, aku singgah dulu pada tukang potret," kata Mas Karto pada dirinya sendiri.

Dalam waktu tiga hari potret itu selesailah.

Keesokan harinya, pada kira-kira tengah hari, Mas Karto sudah duduk di lori dorong yang membawa dia dari Pasirbungur ke Sukamandi.

Si pendorong lori itu kenal pada Mas Siner Asem, tetapi ia tidak memedulikannya.

"Orang kecut muka buat apa disapa-sapa!" demikian pikir si pendorong lori itu.

Akan tetapi ia tak tahu, bahwa Mas Siner Asem sekarang sudah menjadi manusia baru.

Mas Karto tersenyum, lalu menyeringai sambil menyodorkan rokok merek MacGillavry kepada si pendorong lori itu.

"Ngerokok, Kang?" kata Mas Karto sambil nyengir lalu meringis.

"Nuhun, Mas," kata si pendorong lori sambil ragu-ragu menarik sebatang rokok yang ditawarkan kepadanya.

Dengan agak malu ia memerhatikan mulut Mas Karto.

"Duilaaah, rupanya baru pelesir ke Betawi, ni, bawa rokok putih!"

Mas Karto tersenyum lagi, lalu nyengir dan kemudian tertawa kaku.

Karena si pendorong lori itu banyak hubungan dengan orang-orang onderneming Sukamandi, maka cerita "Mas Siner Asem bergigi emas" itu lekas tersiar ke seluruh pojok onderneming.

Setiap kuli Mas Karto tahu, bahwa muka sepnya sekarang tidak asem lagi, malah sebaliknya murah senyum obral ketawa.

Kuli-kuli Mas Karto sekarang merasa mujur, sebab tuannya kini rajin tertawa karena gigi emasnya.

Akan tetapi, Mas Karto sekarang sering bentrokan dengan istrinya yang menjadi agak cemburu pada perempuan-perempuan pemintal serat nanas yang tampaknya seperti berlomba-lomba "adu ayu", genit-genit dan sering jalan beriring-iring melewati rumah Mas Karto.

Justru setelah Mas Karto bergigi emas.

Namun di samping prasangka yang hanya lemah itu, hati Mbakyu Karto sekarang agak tenteram juga, karena kata-kata umpat dan serapah orang-orang pada suaminya agak berkurang.

Ini adalah suatu alamat baik, karena perubahan sikap Mas Karto terhadap kuli-kulinya.

Sekarang kuli-kuli Mas Karto boleh dikatakan banyak yang betah bekerja di bawah perintahnya, tidak lagi seperti pada masa yang lalu, ketika orang yang masuk dan yang ke luar silih berganti.

Entah karena pengaruh yang langsung dari gigi emasnya itu, entah karena pengaruh cerita-cerita saudara-saudaranya dari seberang itu, tetapi sejak kunjungan mereka itu, tampak benar kemajuan-kemajuan pada diri Mas Karto.

Selain daripada ramah-tamah sering tertawa, juga sikap merendahkan diri terhadap tuan besarnya, sekarang hampir-hampir tidak tampak kelihatan lagi.

Dahulu ia biasa memakai jas tutup dan berikat kepala yang berbendul di bagian belakangnya, tetapi sekarang ia berjas buka dan berpeci.

Sekadar buat senjata, supaya jangan terlalu gampang diperbodoh Tuan-Tuan kulit putih yang selalu berbahasa Belanda itu, maka Mas Karto rajin pula menuntut kursus bahasa Belanda di sekolah partikelir Perguruan Rakyat.

Kemajuan-kemajuan dalam jiwa Mas Karto itu rupanya kurang menyenangkan hati Tuan-Tuan onderneming, sebab sikap ramah-tamah mereka yang dulu itu, sekarang berganti dengan sikap angkuh dan merendahkan.

Kesalahan-kesalahan Mas Karto selalu diintip-intip, supaya banyak alasan untuk melepas dia dari pekerjaannya, kalau tiba waktunya untuk itu.

Namun keadaan berubah sangat cepatnya.

Sebelum waktu untuk melepas Mas Karto itu tiba, tuan besar yang lama sudah diganti dengan yang baru.

Tuan Besar Jepang naik panggung sejarah di Indonesia.

Keadaan di onderneming Sukamandi tidak menjadi bertambah baik.

Kuli-kuli Mas Karto sekarang sering mendapat tamparan dan caci maki dari Tuan-Tuan Nippon.

Sikap Mas Karto terhadap kuli-kulinya dicela kurang semangat.

Kuli-kuli Mas Karto banyak yang mangkir tidak masuk kerja, karena konon kabarnya, mereka mencari beras.

Pegawai-pegawai kantor yang tadinya biasa rajin bekerja di belakang meja tulis, sekarang berganti-ganti meninggalkan kantor, pergi mencari beras.

Mas Karto sendiri tidak mengerti, mengapa beras yang dulu demikian banyaknya itu sekarang mendadak hilang tidak ketahuan ke mana perginya. Setiap hari ia melihat orang-orang, laki perempuan pergi mencari beras sampai ke Subang dan Rengasdengklok.

Pakaian Mas Karto satu demi satu dikeluarkan dari dalam kopernya untuk dijual, karena gajinya tidak cukup untuk membeli beras sehari-hari.

Ketika ia didatangi propagandis Himpunan Kebaktian Rakyat, yang berusaha mengumpulkan perhiasan buat kepentingan negara, katanya Mas Karto menarik napas panjang.

Sebab, apa pula lagi yang harus dikorbankannya?

Pakaiannya sudah habis, duit pun tidak ada! Ya, cuma gigi emasnya saja lagi satu-satunya barang yang berharga.

Apakah ini pun mesti dicoplok dan diserahkannya juga kepada negara Asia Timur Raya?

Setelah panjang lebar propagandis itu menceritakan dan menjelaskan maksudnya yang "suci dan luhur" itu, akhirnya hati Mbakyu Karto menjadi jengkel.

Hati Mbakyu sebal, karena si propagandis itu bersikap sedikit memaksa supaya maksudnya tercapai.

Mas Karto sendiri sudah jemu mendengarkan bual dan bujukan si propagandis itu yang tidak mau lekas pergi meninggalkan tempat duduknya.

Karena kantuknya, Mas Karto menguap-nguap, sehingga gigi emasnya tampak mengkilap-kilap.

Tiba-tiba si propagandis itu berkata lagi; "Akan tetapi barangkali Tuan ada simpan barang emas, biarpun sedikit, Tuan, tentu ia sangat besar artinya bagi pemerintah."

Ibarat api disiram minyak bensin, secepat kilat kantuk Mas Karto lenyap dan timbul amarahnya yang amat sangat!

Hilanglah kesabaran hati Mas Karto!

Terasa benar olehnya, bahwa si propagandis itu meminta gigi emasnya!

"Ya, Rabbi, minta ampun!" kata Mas Karto dengan badan gemetar, "Tuan rupanya mau minta gigi saya! Saya mau tahu, sejak kapan dan negeri mana pernah minta-minta gigi orang? Terlalu, terlalu! Apa saya mesti coplok-coploki gigi saya ini? Tuan boleh pergi dan bilang kepada pemerintah: Karto tidak sudi mencoploki giginya!" Hati Mas Karto sungguh-sungguh meradang! Hampir-hampir si propagandis itu ditempeleng kalau tidak segera dipisah oleh Mbakyu Karto.

Untung si propagandis itu lekas pergi sambil menggerutu dalam mulutnya, "Perlu apa giginya? Bah! Aku cuma perlu emasnya!"

Malam harinya Mas Karto dan istrinya tidak dapat lekas tidur karena kejadian siang harinya itu.

Mbakyu Karto mengingatkan suaminya, bahwa ada kemungkinan hal tadi pagi itu berekor panjang dan dapat mengakibatkan tidak baik. Lama benar kedua orang laki istri itu berunding,

Mereka merasa tidak betah lagi hidup di Sukamandi, karena sumber penghidupan di sana makin lama menjadi bertambah sempit bagi mereka.

Ada benarnya juga perkataan Mbakyu Karto itu, sebab Jepang memang sangat bengis. Segala perintahnya mesti dituruti.

Kalau sudah berurusan dengan kempei tentu makin bertambah celaka lagi nasib mereka. Perkataan Mas Karto boleh jadi diterima oleh si propagandis itu sangat kasar dan mungkin menimbulkan dendam hati.

Kemudian ia mungkin mencari jalan buat mencelakakan mereka.

Selain dari itu selama Mas Karto bergigi emas, sedang keadaan hidup mereka sangat morat-marit, tentu ia hanya menjadi tertawaan orang banyak semata.

Keputusan perundingan malam itu sudah bulat.

Sebentar kemudian, Mbakyu Karto sudah memegang cermin di muka mulut Mas Karto yang menganga itu.

Mas Karto sendiri mencungkil-cungkil lapisan emas itu dengan kakaktua.

Lama juga selesainya pekerjaan yang ganjil dan agak menggidikkan hati Mas Karto itu, tetapi akhirnya terlepaslah keempat lapisan emas itu.

Daging rahangnya ada juga yang sedikit berdarah kena pencungkil.

"Ah jamak," kata Mas Karto dengan hati lega.

Bibirnya sekarang tidak lagi merasa diganjal.

Sekarang apa lagi?

Kedua orang itu berpikir sambil membalik-balik dan membersihkan emas lapisan itu.

Waktu malam sudah larut. rupanya baru ada kata sepakat. Esok harinya pagi-pagi sekali Mas Karto pergi membawa bungkusan berisi jas tutupnya dan kain pelekat yang agak luntur, emas lapis dan entah apa lagi.

Waktu pulang kembali, ia membawa bungkusan pula berisi barang keras, sebab kedengaran berdenting-denting bunyinya.

Setelah dibuka, tampaklah pisau cukur. gunting rambut, gunting mesin, wadah sabun dengan kuasnya, kain cita semeter persegi, ya, pendek kata alat tukang pangkas rambut secukupnya, walaupun twedebans.

Dapatlah kita terka jurusan mana yang hendak dituju oleh Mas Karto sekarang.

Hari sudah pukul delapan. Mbakyu Karto berkemas-kemas, sementara suaminya pergi ke pabrik.

Ketika Mas Karto pulang, barang-barangnya sudah beres dipak. Kemudian mereka menghitung-hitung uang buat bekal di jalan.

Mas Karto sudah minta lepas dari pekerjaannya; itu hari juga!

Karena ia sudah berhak atas uang gaji bulan itu, cukuplah uangnya buat ongkos kereta api ke Jatinegara. Ia sudah mengambil keputusan untuk tidak lagi bekerja, di mana kemerdekaan jiwanya sangat terikat. Ia akan menempuh jalan hidup baru, yaitu menjadi tukang cukur di Jatinegara.

Sebulan kemdian, orang melihat di pasar Rawabangke sebuah rumah kecil, tetapi bersih, di mana tergantung papan nama yang bertuliskan: Tukang Cukur MERDEKA.

Sekarang Mas Karto dan istrinya hidup bebas dengan tidak ada yang memerintahkan dari atas dan tidak usah pula menindas orang bawahannya.

Mas Karto mencukur dan istrinya membuka warung kopi di sebelahnya.

•••















5. HANYA BAYANGAN




Di jalan luar kota Jakarta, yang tidak beraspal, yang kiri-kanannya diapit sawah, ladang, dan kebun buah-buahan, terdengar berderak-derak bunyi roda mengerkah batu kerikil mengunyah tanah, dibarengi derap kaki kuda kacang kurus kerdil.

Tiada gedung mentereng megah mewah memagari jalan, jarang-jarang jip, mobil, atau truk yang lari kesetanan mengganggu tamasya alam tenang di sana. Sawah luas, ladang lebar kaki bukit dan gunung, mengajak para penumpang sado itu melupakan kota ramai, kota Jakarta, yang baru saja mereka belakangi.

Matahari mulai condong ke sebelah barat, hendak berlindung di sebelah ke belakang gunung, tampaknya. Hawa panas terik kota Jakarta berganti dengan hawa sejuk daerah perkampungan.

Bang Amat, kusir sado, memegang tali kekang kudanya sambil ngantuk. Hatinya ayem karena hari itu pendapatannya ada sedikit lebihan daripada hari-hari yang lalu.

"Alhamdulillah," bisik hatinya, "hari Jumat, hari baik ini memberi aku berkah."

Kudanya pun, yang kurus kerdil itu, merasa girang juga, karena sebentar lagi ia boleh mengaso meluruskan urat-uratnya yang sudah hampir kejang itu. Setengah karung dedak yang tadi dibeli oleh tuannya menambah ketenteraman hatinya, sehingga ia tidak perlu ambil pusing untuk turut memikirkan keramat tidaknya hari Jumat itu baginya.

Kantuk Bang Amat menulari empat orang manusia penumpang sadonya, yaitu Aminah, Hamid suami Aminah, dan dua orang anak mereka, yang masing-masing memegang payung-payung kertas berwarna-warni, tanda mata dari meriam si Jagur.

Bang Hamid seanak bininya telah melepaskan kabul, berziarah ke tempat-tempat yang keramat di Pasar Ikan, karena sawahnya menghasilkan padi lebih banyak daripada dugaannya. Sebab yang kedua, ialah karena kedua orang anaknya selamat tidak mati kena wabah cacar.

Bagi Bang Hamid belum lagi menjadi persoalan yang mendalam, apakah berziarah ke tempat meriam si Jagur itu bertentangan atau tidak dengan ucapan kedua kalimat syahadat yang diikrarkannya dengan patuh setiap waktu sembahyang.

Mungkin ia berpegang pada cerita-cerita orang yang telah kembali dari naik haji, yang mengisahkan, bahwa orang-orang bakal haji di Mekah, berziarah ke tempat Batu Hitam dan Gua Setan.

Karena itu mungkin ia bertanya dalam hatinya:

"Apa bedanya dengan perbuatanku berziarah ke tempat keramat Luar Batang dan meriam si Jagur?”

Namun ini hanya kemungkinan-kemungkinan semata. Kiranya Bang Hamid belum sampai ke sana pikirannya.

Ia berpikir sederhana: "Hasil sawahku bertambah banyak, anakku tidak mati dicengkam setan cacar; jadi aku bernazar, ziarah ke Luar Batang dan meriam si Jagur, habis perkara!"

Lain hal lagi yang direnungkan Aminah!

Pikiran Aminah sedang kacau! Soal kemiskinan yang dideritanya bercampur dengan soal gelang emas mata berlian soal pemujaan manusia keramat yang dikubur di Luar Batang dengan soal penghormatan manusia yang masih hidup dan gila hormat!

Pernah ia mendengar dari mulut orang tuanya: "Sayid Hoesien, yang dikuburkan di Luar Batang itu, orang suci. Betapa takkan disanjung-sanjung, dipuja-puja oleh manusia yang masih hidup ini. Namanya masih harum dan terus hidup, kuburannya berkeramat, dimuliakan setiap orang!"

Namun Aminah belum mengerti apa yang disebut suci itu dan apakah tidak ada lain syarat hidup, yang kuasa menarik penghormatan dan permuliaan manusia.

Melihat kenyataan-kenyataan di sekitar kampungnya sendiri, ia lebih percaya kalau harta itu lebih berdaya menarik penghormatan daripada kerajinan bersembahyang dan tafakur. Tidak sedikit haji-haji yang kaya lebih dihormati daripada kiai-kiai yang melarat, sekalipun kesucian hati haji-haji itu belum dapat ditentukan. Jadi tidak mustahil kalau Sayid Hoesein itu pun waktu hidupnya bukan orang miskin! Demikianlah hati dan pikiran Aminah bersoal jawab dalam keadaan setengah ngantuk itu.

Kecuali kedua orang bocah cilik yang sedang tidur nyenyak di pangkuan orang tuanya, ketiga orang lainnya dalam sado itu, masing-masing merenungkan urusannya sendiri untuk menghabiskan waktu dalam kesunyian.

Tiba-tiba sado mereka berpapasan jalan dengan sebuah jip tentara yang lari cepat seperti setan keparat.

"Hihuuuu, abah aya neng? Ha-ha-ha!"

Teriakan dan gelak tertawa seorang anak muda mengikuti jip yang hilang di belakang sado itu.

"Gla bener dah, hampir keserempet roda sado kita!" Bang Amat menyumpahi setan yang tak ada, sambil membetulkan pecinya yang sudah bau apak itu.

"Siapa orangnya, kenal, Bung?"

Bang Hamid seolah-olah menolong mengurangi kedongkolan hati Bang Amat.

"Si Sarpin gila; anak si Sapii, mentang-mentang udah jadi tentara!"

"Sarpin kampung kita, Bang?"

Bang Hamid memanjangkan cerita.

"Iyyya, siapa lagi sih!"

Bang Amat berkata dengan sendirinya, seperti di dunia yang lebar ini tak ada dua tiga puluh lusin nama Sarpin.

Cerita tentang si Sarpin terputus sampai di situ, tetapi menggoreskan kesan dalam hati Aminah dan mendebarkan jantungnya.

Pikiran Aminah melayang ke waktu yang sudah lalu, ketika ia masih perawan dalam hubungannya dengan Sarpin. Banyak sudah kata-kata cumbuan cinta mesra didengar Aminah dari mulut Sarpin, dan tidak sedikit pula tanda mata yang diterima Aminah dari dia.

Namun belum lagi harapannya yang manis itu menjadi kenyataan, orang tuanya melarang dia berhubungan dengan Sarpin.

Dan disuruhnya pula mengembalikan segala pemberian Sarpin dengan disertai hardikan: "Aku tak suka melihat kau berhubungan dengan anak si Sapii! Tak tahu kau siapa Sapii orang Rawabuaya itu? Garong, perampok, kaburan; mengerti?"

Gadis yang masih remaja itu belum tahu akan macam udang yang bersembunyi di balik batu; dan alangkah sakit hatinya kalau kesukaannya disumpahi orang lain begitu kejam. Akan tetapi apa daya, Aminah tak berani melanggar larangan orang tuanya. Cinta kasihnya pada Sarpin terpaksa disimpan dalam lubuk hatinya.

Tak lama kemudian, Aminah dikawinkan pada Hamid, seorang petani yang sederhana dari kampung itu juga.

Keesokan harinya, sesudah perkawinan Aminah berlangsung, Sarpin menghilang dari kampungnya; entah karena apa.

Kabarnya ia pergi berdagang ke Wetan, tetapi wallahualam seorang pun tak ada yang tahu apa yang dimaksud hatinya.

Setelah tiga tahun berkelana, Sarpin muncul kembali ke kampungnya, beberapa hari yang baru berselang ini; ia berpakaian seragam. "Sarpin masuk tentara!" begitulah berita sampai di telinga Aminah, yang menyebabkan matanya bersinar-sinar.

Betapa takkan menggirangkan hati Aminah berita itu.

Tidakkah tentara termasuk golongan manusia yang disanjung-sanjung sampai matinya? Tidakkah setiap hati gadis atau janda tua muda di kampungnya merasa bangga kalau dilamar oleh seorang anggota tentara? Bukankah semboyan mereka;

"Jadi istri tentara dulu, baru mati bahagia?”

Betapa takkan bahagia, kalau setiap hari naik mobil sedan; hidup mewah meriah, tinggal di gedung mentereng, uang tak kekurangan: pakaian banyak?

Dalam khayal, Aminah menikmati kehidupan sebagai istri tentara ciptaannya sendiri, sehingga Bang Hamid dan kedua orang anaknya itu hilang dari alam pikirannya.

Suatu senyuman manis tersimpul pada bibir Aminah, kemudian diikuti oleh keluh dan napas panjang.

Ucapan Sarpin baru-baru ini masih melekat pada hatinya:

"Biarlah engkau sudah punya anak, Am, aku masih cinta padamu. Terimalah ini sebagai tanda mata dari aku."

Sarpin masih juga mengganggu hati Aminah!

"Kutunggu selama hidupku sampai kau menjadi istriku, Am," kata Sarpin pula, sambil menyampaikan sebungkus barang perhiasan.

Melihat gelang emas, subang, dan kalung berlian gemerlapan di tangannya, Aminah bengong tak kuasa berkata apa-apa. Benda yang berkilauan itu, menyilaukan mata dan mengguncangkan iman Aminah, sampai-sampai ia tak tahu apa yang harus diperbuat. Setelah pikirannya agak tenang, larilah ia ke rumah temannya untuk menitipkan barang-barang itu agar tidak ketahuan oleh lakinya.

Itulah sebabnya, maka hati Aminah menjadi gelisah, waktu Bang Amat tadi menyebut-nyebut nama Sarpin.

"Ah, alangkah bahagianya menjadi istri tentara!" demikian hatinya berbisik.

Khayal seindah itu menyiksa diri Aminah yang dalam kenyataannya hanya bersuamikan Hamid yang sederhana itu saja.

Aminah bernapas panjang selalu, kalau angan-angannya terbentur pada kenyataan yang dianggapnya kejam itu.

Sekalipun anaknya sudah dua orang, tetapi jiwa muda Aminah belum lagi kuasa menerima segala nasihat orang-orang tua tentang rahasia hidup di dunia ini.

Kalau Bang Hamid setiap malam Jumat asyik membaca Alquran, Aminah malahan menyanyi "Kalau ibuku cari menantu; pilihlah dia sersan mayorku ..." sambil meninabobokan anaknya.

"Pikirku lebih berfaedah mempersoalkan perkara hidup di dunia sekarang ini daripada berbicara tentang soal di akhirat nanti," demikian gerutu Aminah kalau bapaknya dan Hamid tengah asyik berakar pikiran mengenai ilmu hidup sejati.

Hamid jarang lama berada di rumah, sehingga jarang ngobrol dengan istrinya.

Pagi-pagi buta ia sudah pergi ke sawahnya; dan waktu magrib sampai isya, ia ada di surau bersama orang-orang kampung yang lain mempersoalkan agama.

"Hukuman dan ganjaran Tuhan adalah yang paling adil," demikian Hamid menjawab suatu pertanyaan temannya.

"Kita tak usah berdendam kesumat pada mereka yang mengkhianati kita, tetapi harus menerima percobaan itu dengan hati sabar dan iman yang teguh."

Kemudian Hamid menguatkan pendiriannya itu dengan dasar Surah Al-Asri.

Orang-orang kampung yang duduk di sekelilingnya bertekun mendengarkan kata-kata Arab yang meluncur dari mulut Hamid.

"Artinya," katanya menerangkan. "Demikian masa, sesungguhnya manusia di dalam kerugian, terkecuali orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berbuat baik dan orang-orang yang suka berwasiat dengan kebenaran dan berwasiat dengan sabar.”

Beberapa kepala manusia mengangguk-angguk tanda setuju dengan makna surah yang baru diucapkan Hamid itu.

Di surau yang luasnya 4 x 6 m² itu, Hamid menjadi pusat perhatian orang-orang kampung yang ada di sana. Perkataannya didengar dan diperhatikan dengan suatu penghormatan juga biarpun sedikit, ya, amat sangat kecil jumlahnya daripada penghormatan yang mungkin diberikan oleh rakyat pada pembesar negara atau pemimpin rakyat yang berumah di gedung besar.

Pada suatu hari ketika Bang Hamid kembali dari sawahnya, Aminah bermuka masam dan bernapas panjang pula seperti biasanya.

Bang Hamid berkata dengan suara yang berat: "Sial betul; tanaman palawija kita saban malam dicuri orang (berhenti sejenak, hening). Kita yang menanam dengan susah payah, orang lain memungut hasilnya dengan gampang."

Aminah tidak memedulikan keluh suaminya, ia sudah lama merenung dan mencari saat yang sebaik-baiknya untuk mengeluarkan isi hatinya yang sudah lama dipendam itu.

"Aku tidak mengerti mengapa aku terus-menerus sial begini!"

Hamid berhenti berbicara, seperti mengharap kata sambutan dari istrinya. Sebentar keduanya hening.

Tiba-tiba Aminah berkata: "Karena aku barangkali?"

Hening lagi sebentar.

Hamid mengerutkan kulit keningnya; menatap muka istrinya.

Aminah sendiri merasa kaget, mengapa ia mendadak berkata begitu, seperti disuruh setan iblis mengeluarkan kata-kata demikian.

Ia menjadi gugup.

"Mengapa kau berkata begitu?" Hamid bertanya dengan herannya.

Mulut Aminah bungkam. Hatinya berdebar-debar, pikirannya gelap!

Kemudian peristiwa itu sampailah pada puncaknya, air mata Aminah banjir!

Makin bingung hati Hamid melihat tingkah laku istrinya.

"Mengapa berkata begitu, mengapa menangis?" desak Hamid; "Aku sama sekali tak mengerti!" Akan tetapi Aminah tidak juga menjawab, ia terus menangis seperti gadis ditinggal mati oleh tunangannya.

Keadaan bertambah gaduh, karena kedua orang anak Aminah pun menangis dan merengek-rengek tak keruan yang diminta. Air mata keluar sekaligus dari tiga pasang mata dengan tujuan yang berlain-lainan.

"Rurrr!" Sebuah truk polisi berhenti di muka rumah Hamid. Bunyi derap sepatu yang berpaku menyeramkan hati orang, membuat rasa hati seorang banci menjadi jantan pilihan!

Komandan polisi langsung menuju pintu rumah Hamid, di mana sedang terjadi pengeluaran kelebihan air mata.

"Di sini rumah Aminah?" tegur alat kekuasaan negara itu dengan tegas.

Mulut Hamid seperti terkunci, karena pengaruh pistol dan senapan para anggota polisi itu.




Tadi kepalanya penuh dengan seribu satu macam pertanyaan, sekarang ditambah dengan satu macam lagi, menjadi seribu dua macam pertanyaan.

Komandan polisi mengulangi pertanyaannya, sekarang dengan suara membentak buat memperlihatkan, bahwa ia masih bergigi.

Baru Hamid menganggukkan kepala; jawabnya pendek. "Betul."

Sementara itu Aminah menjenguk ke luar. Mendadak mukanya yang basah karena air mata itu menjadi pucat.

Tampak olehnya Sarpin; kedua tangannya diborgol, ia diapit oleh beberapa orang polisi.

"Siapa Saudara? Kakaknya, adiknya, bapaknya atau ...?" Komandan polisi menyelidik.

"Saya?" Hamid bertanya pula, membuang-buang waktu.

"Saya lakinya!" sambung Hamid ketakutan melihat mata komandan yang galak itu.

"'Saudara kenal pada orang ini?" Komandan menunjuk pada Sarpin.

"Kenal; ada apa?" Bang Hamid turut-turut menyelidik juga.

Komandan polisi memnjuk lagi pada Sarpin dan berkata: "Ia mengaku menyerahkan barang curian dari toko emas di Pasar Senen kepada empat orang istrinya sendiri dan kepada Aminah, istri Saudara. Saudara tahu akan barang-barang itu?"

Badan Aminah mendadak gemetar, mendengar keterangan bahwa Sarpin sudah beristri empat orang! "Barang apa, saya tidak tahu, Pak!"

Hamid menggelengkan kepala.

Komandan polisi mengancam, "Ingat Saudara, kalau Saudara tidak menolong, menunjukkan tempat menyimpan barang-barang itu, Saudara sendiri pasti mendapat banyak kesulitan!"

"Astagfirullah," Hamid mengucapkan istigfar, melihat kepada Aminah minta ditolong menjawabkan.

Seluruh badan Aminah masih gemetar, kakinya serasa tidak menginjak lagi bumi. Hampir-hampir ia jatuh pingsan, kalau tak dipegang oleh Hamid.

"Sabar, Pak, sabar dulu! Saya betul-betul tidak mengerti apa artinya ini semua," kata Hamid agak lancar.

Namun sementara itu beberapa orang polisi sudah mulai menggeledah seluruh ruangan rumah Hamid.

Pandangan Aminah berkunang-kunang; segala macam seperti berpusing dan berdansa-dansa di depan matanya.

Seolah-olah Sarpin menari-nari dengan keempat istrinya, segala perhiasan, emas intan, berlian, gemerencing beterbangan rumah gedung berputar-putar, mobil sedan jungkir balik di depan penjara! Orang-orang jembel bernyanyi-nyanyi! Beberapa saat kemudian ia sadar kembali. Ia merasa ada di pangkuan suaminya. Kedua orang anaknya kedengaran menangis di sampingnya.

Waktu Aminah membuka matanya tampak lagi komandan polisi yang masih menunggu keterangan dari padanya.

Dengan suara putus-putus ia minta supaya polisi berhenti mencari, "Tidak akan ketemu, biar aku sendiri mengambilnya!"

Seluruh mata tertuju pada diri Aminah.

Sebentar melihat pada Sarpin yang masih tetap memundukkan kepala. Kemudian ia melihat pada muka lakinya yang masih kebingungan itu.






"Ikuti saya, Pak," kata Aminah kepada komandan polisi.

Semua orang yang ada di situ mengikuti Aminah,
tidak terkecualikan orang-orang kampung, yang datang
berkerumun seperti wartawan yang mengharapkan
kabar penting dari jenderal yang baru kembali dari daerah
pertempuran.

"Dari dulu gue udeh ngire, die tentara palsu!" bisik
seseorang pada teman di sampingnya sambil menunjuk
pada Sarpin.

Segala cemooh dan ejekan dilemparkan pada Sarpin
tentara gadungan itu.

Sesudah selesai dilakukan penggeledahan, Hamid dan
istrinya diperintahkan turut naik truk ke kantor polisi.

Dalam truk terlihat beberapa orang yang juga ditangkap
hari itu, antara lain Sapii dan empat orang perempuan.

Orang-orang kampung masih juga berkerumun waktu
truk itu sudah berangkat. Masing-masing memperlihatkan
kecakapannya bercerita tentang peristiwa yang menggemparkan itu, menurut khayalnya sendiri-sendiri.

Waktu Hamid dan Aminah kembali dari kantor polisi,
dengan sendirinya orang-orang kampung situ datang lagi
mengerumuni kedua orang laki istri itu. Setelah selesai
Bang Hamid mendalangkan lakon si Sarpin itu, hadirin
masing-masing memberikan komentar prodeo.

Seseorang angkat bicara; "Jadi, bini si Sarpin itu ada empat."

"Hebat!" sahut temannya bicara.

"Patut ia merampok buat kasih makan keempat
bininya!" sambung temannya yang lain.

Pembicara pertama berpidato lagi; "Aku sudah menyangka dari dulu, si Sarpin mustahil bisa diterima masuk tentara. Tentu ia masuk tentara palsu! Dasar anak Sapii! Mustahil sapi beranakkan kambing, tentu sapi juga, bukan?"

Gerak tangan dan beliak mata si pembicara seolah-olah hendak meyakinkan pikiran orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang dianggapnya tolol-tolol semua itu, bahwa omongannya benar-benar bisa dipercaya.

Ia meneruskan obrolannya yang mirip dengan suara putusan hakim, "Sebaiknya ia ditembak mati sekaligus dengan Sapii. Ini juga pengacau di kampung kita! Akur apa tidak?"

"Akuuur!" sahut orang-orang yang dianggap tolol itu.

Kemudian musyawarah itu bubar dengan tidak ada mengambil putusan apa-apa.

Kalau muka Sarpin terbayang di mata Bang Hamid, seluruh tubuhnya gemetar. Darahnya naik dan mendidih!

Ingin ia menyergap, mencincang musuhnya itu. Ingin ia membanting istrinya sampai remuk redam.

"Jahanam, uh, manusia jahanam!"

Bang Hamid menyungut-nyungut.

Dalam hatinya bersimpang siur macam-macam prasangka akan perhubungan Aminah-Sarpin. Hatinya geram! Panas!

Namun peluk cium kedua orang anaknya-usap tangan halus mereka pada pipinya-suara mereka yang lemah lembut, meredakan kembali hatinya yang berkobar meluap-luap itu.

Ya, anaknya yang tak berdosa itu, makhluk yang masih mengharapkan kasih sayang dan peluk mak kandungnya sendiri. "Hukuman Tuhan adalah yang seadil-adilnya," bisik hati Bang Hamid, "serahkan kepada-Nya!”

Sesungguhnya Tuhan telah berkuasa mengubah Aminah menjadi manusia baru, yang rajin sembahyang dan bertobat.

Hati Aminah yang selama itu ditutupi selalu oleh selaput hitam, sekarang terbuka bebas guna menerima segala cahaya kebenaran.

Dengan rasa syukur, karena ia mempunyai suami yang beriman teguh yang dapat dijadikan imam dalam hidupnya, Aminah mengucapkan "alhamdulillah" ke hadirat Yang Mahaadil.

Dalam heningnya, tampak membayang dua orang manusia, yang berada dalam kuburan keramat Luar Batang dan yang meringkuk dalam penjara Nusakambangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BETAWOL