NI SUNDARI
NI SUNDARI
I
Di malam bulan paregreg
saat angin turun dari Pangrango,
Ni Sundari melagukan kawih
yang sudah tak dikenal anak-anak kota
"Pupuh ... uing téh moal jadi paranti sieun,
kumaha bisa ngahuma lamun paranti dipingpin ku peurah?"
Ia menyanyi pelan
sembari menyisir rambut sendiri
di antara ayam yang tidur
dan lampu petromaks yang mengecil
Ia bukan ronggeng, bukan sinden,
tetapi suaranya seperti gombong
yang meringis saat dipotong
II
Dulu ia dipaksa jadi istri kedua
oleh kepala kampung
yang bertopeng agama
Ia menolak,
lalu diarak keliling kampung
Disebut "sileungit",
"perempuan bau kawin"
oleh mulut yang fasih
menyebut asma Gusti
Sejak itu, ia memilih tinggal
di sisi leuweung yang tak dijamah
di mana kawih bisa hidup
tanpa dilabeli aib
Dan tiap malam, ia ratapkan:
"Pupuh ...
lamun awi dipaksa jadi bedog,
kapan bisa jadi tutugan
pikeun dangdaunan?"
III
Pada hari pesta panen,
anak-anak muda memanggil Ni Sundari
untuk mengajarkan kawih tua
Ia datang,
tetapi membawa lagu
yang tak sesuai acara
Ia menyanyi tentang tubuh,
tentang dosa yang bukan milik sendiri,
tentang cinta yang dihukum adat
Tamu-tamu meninggalkan panggung
tetapi anak-anak tetap diam
menyimpan suara itu
di tempat yang tak bisa dicuci
oleh ayat suci
IV
Kini, saung tempat Ni Sundari tinggal
ditumbuhi lalang dan suara jangkrik
Namun di malam tertentu
ada yang mendengar suara kawih
bercampur pupuh
di sela-sela embun
"Pupuh ... uing lain ratu, lain parawan,
tapi haté abdi henteu sakadar jero keur didéngé ..."
Dan orang-orang
yang pernah menyebutnya aib
tak berani mendekat
karena tahu:
ratapan yang tak dikubur
bisa menjelma kawih
yang hidup lebih lama dari cemooh
Hegarmanah, 2010
Komentar
Posting Komentar