PANGERAN INDRA MAULANA




KATA PENGANTAR




Usaha pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena di dalam sastra daerah terkandung warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Upaya pelestarian itu bukan hanya akan memperluas wawasan kita terhadap sastra dan budaya masyarakat daerah yang bersangkutan, melainkan juga pada gilirannya akan memperkaya khazanah sastra dan budaya masyarakat Indonesia. Dengan demikian, upaya pelestarian yang dilakukan itu dapat dipandang sebagai dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.

Sehubungan dengan hal itu, Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber pada sastra daerah. Cerita rakyat yang dapat membangkitkan kreativitas atau yang mengandung nilai luhur dan jiwa serta semangat kepahlawanan perlu dibaca dan diketahui secara meluas oleh generasi muda, terutama anak-anak, agar mereka dapat menjadikannya sebagai sesuatu yang patut dibaca, dihayati, dan diteladani.

Buku Pangeran Indra Maulana ini bersumber pada terbitan Bagian Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta Tahun 1999 dengan judul Hikayat Indra Maulana yang disusun kembali dalam bahasa Indonesia oleh Rr. Dwiantari.

Kepada Drs. Utjen Djusen Ranabrata, M.Hum. (Pemimpin Bagian Proyek), Budiono Isas, S.Pd. (Sekretaris Bagian Proyek), Hartatik (Bendahara Bagian Proyek), serta Sunarto Rudy, Budiyono, Rahmanto, dan Ahmad Lesteluhu (Staf Bagian Proyek), saya ucapkan terima kasih atas usaha dan jerih payah mereka dalam menyiapkan naskah buku ini. Ucapan terima kasih saya tujukan juga kepada Dra. Lien Sutini sebagai penyunting dan Sdr. Urip Widodo sebagai pewajah kulit dan ilustrator buku ini.

Mudah-mudahan buku ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pembaca.


Kepala Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa




Dr. Hasan Alwi

•••















UCAPAN TERIMA KASIH




Cerita anak yang berjudul Pangeran Indra Maulana ini bersumber dari buku Hikayat Indra Maulana yang telah ditransliterasikan dari aksara Arab Melayu oleh Drs. Amran Tasai, M. Hum. Cerita ini diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta tahun 1999.

Karya sastra ini menceritakan kisah seorang anak raja yang bernama Indra Maulana. Ia ditugasi oleh ayahnya untuk mencari obat yang bernama Bunga Pujenggi. Di perjalanan ia bertemu dengan guru Brahmana yang memberi ilmu kepadanya. Semenjak itu, ia menjadi sakti dan dapat menolong kedua saudaranya menjelma menjadi manusia kembali. Pada waktu perang ia selalu menang dalam membela kebenaran. Ia menjadi pahlawan yang tiada tandingannya. Kemudian, ia bertemu dengan seorang gadis yang bernama Putri Nurlela Cahaya. Akhirnya, ia menjadi raja dan Putri Nurlela Cahaya menjadi istrinya. Mereka hidup bahagia, tenteram, dan damai.

Penulisan cerita ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari beberapa pihak. Sehubungan dengan hal itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Hasan Alwi, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa; Drs. Adi Sunaryo, M. Hum., Kepala Bidang Pengembangan; dan Drs. Utjen Djusen Ranabrata, M.Hum., Pemimpinan Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta beserta staf atas peluang dan kebijaksanaannya sehingga cerita ini terwujud.

Mudah-mudahan cerita ini dapat bermanfaat bagi para siswa di seluruh Indonesia.


Jakarta, 27 Agustus 1999


Penulis

•••















1. KELUARGA RAJA AZAM




Tersebutlah sebuah cerita pada zaman dahulu, ada kerajaan besar yang dikelilingi bukit-bukit terjal dan hutan belantara. Nama kerajaan itu adalah Azamnawi dan rajanya bernama Raja Azam. Istana kerajaan itu megah tiada tandingannya. Perabot yang menghiasi ruangan istana itu sangat bagus dan berkilauan.

Lima bangunan yang terdapat dalam kerajaan dikelilingi oleh benteng yang tinggi. Bangunan kerajaan paling tengah yang menghadap ke depan pintu gerbang adalah bangunan khusus untuk menerima tamu kerajaan. Bangunan tersebut diapit oleh dua bangunan lain, yaitu bangunan tempat raja beristirahat di sebelah kanan dan bangunan tempat istri raja beristirahat di sebelah kiri.

Dua bangunan lainnya adalah bangunan tempat pertemuan raja dengan para menteri dan hulubalang serta bangunan tempat anak-anak raja beserta dayang-dayangnya. Taman keputren yang ada di belakang istana digunakan untuk istri raja bercanda ria bersama dayang-dayangnya. Selain itu, juga terdapat kolam renang untuk mandi istri raja beserta dayang-dayangnya yang berbentuk bundar.

Beberapa pot besar terbuat dari batu dan berisi air diletakkan di sekeliling kolam. Pot besar yang berisi air digunakan untuk berhias karena pada zaman dahulu mereka belum mengenal arti sebuah kaca.

Raja Azam adalah raja yang ternama. Ia adalah orang yang kuat dan ditakuti lawan. Raja Azam mempunyai kepribadian yang baik dan disegani orang.

Pada suatu hari Perdana Menteri Dhaka menghadap raja. Ia membicarakan keinginannya agar Raja Azam menikahkan anaknya yang bernama Raja Keinderaan dengan anak Perdana Menteri Dhaka yang bernama Putri Sri Cahaya. Pembicaraan itu disetujui oleh Raja Azam. Kemudian, perdana menteri membuat persiapan untuk pesta pernikahan kedua anak tersebut.

Raja Keinderaan adalah seorang anak raja yang bertubuh tegap, gagah, dan tampan rupanya, sedangkan Putri Sri Cahaya adalah seorang gadis yang berwajah cantik, rambutnya terurai panjang, kulitnya kuning, dan sorot matanya indah.

Perdana menteri, hulubalang, dan dayang-dayang sibuk menghiasi istana dengan perhiasan yang indah-indah. Begitu juga dengan calon pengantin menggunakan pakaian yang indah dan berkilauan.

Di dalam istana kerajaan telah hadir para tamu undangan, sedangkan di luar istana rakyat negeri itu sudah tidak sabar lagi berkumpul untuk menyaksikan pengantin pria dan pengantin wanita.

Tibalah saatnya upacara pernikahan Raja Keinderaan dengan Putri Sri Cahaya. Upacara pernikahan itu berlangsung dengan meriah. Kedua pengantin diarak oleh Raja Azam berkeliling istana.

Setelah berkeliling istana, Raja Azam beserta kedua pengantin, perdana menteri, dan hulubalang memasuki istana kembali. Pengantin itu didudukkan di atas permadani bersama istri raja. Lalu, Raja Azam menjamu tamu-tamu yang datang.

Acara pernikahan telah selesai. Semua tamu mohon pamit ke hadapan Raja Azam untuk pulang ke tempat masing-masing.

Kini suasana di dalam istana sepi kembali dan para pembantu raja sibuk membenahi dan merapikan isi istana.

Kedua pengantin itu menikmati hidup baru. Ketika mereka sedang menikmati keindahan taman, sesekali para dayang mencuri pandang ke wajah pengantin baru yang sedang berbahagia.

Tidak terasa hari pun mulai larut malam. Matahari telah menyembunyikan sinarnya. Suara binatang malam pun mulai berlomba bersahutan, sedangkan seluruh penghuni istana tertidur pulas karena lelahnya.

Beberapa lama kemudian, ketika udara sedang cerah, matahari sibuk menyinari bumi dengan terangnya. Suara burung berkicau menambah semaraknya suasana taman. Raja Azam duduk berdampingan dengan istrinya di pendopo taman. Istri Raja Azam menceritakan kehamilan Putri Sri Cahaya kepada suaminya. Raja Azam sangat senang hatinya begitu mendengar kabar yang menggembirakan.

Putri Sri Cahaya telah mengandung tiga bulan. Semua istri raja dan istri menteri serta istri hulubalang datang ke istana membawa persembahan buah-buahan yang disenangi Putri.

Waktu pun berjalan lama. Tibalah saatnya Putri Sri Cahaya melahirkan seorang anak laki-laki yang amat tampan rupanya. Anak yang baru lahir itu dimandikan dukun bayi dalam jambangan emas. Selanjutnya, Raja Azam mengadakan upacara adat kelahiran anak yang dihadiri oleh para raja, menteri, dan hulubalang.

Bayi itu diberi nama Baginda Indra Mangindra. Ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Mereka berpesta ria selama empat puluh hari empat puluh malam.

Beberapa tahun kemudian Putri Sri Cahaya hamil kembali. Seperti adat kebiasaan yang sudah dilaksanakan di istana, para istri menteri, istri hulubalang, dan rakyat membawa persembahan makanan dan buah-buahan kepada Putri Sri Cahaya.

Setelah cukup waktunya, Putri Sri Cahaya melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan. Baginda raja memberinya nama Maharaja Jingga Mangindra. Kemudian, Baginda Raja melaksanakan kembali adat kelahiran anak.

Maharaja Jingga Mangindra mulai tumbuh besar. Ia bertubuh gemuk dan lucu. Para dayang sering berebutan ingin menggendongnya. Ia pun jatuh ke pelukan dayang yang satu dan dayang yang lainnya. Demikian seterusnya, sampai akhirnya Putri Sri Cahaya mempunyai tiga orang anak. Anak yang paling kecil diberi nama Maharaja Bujangga Mangindra.

Ringkas cerita, ketiga anak itu diasuhnya dengan penuh kasih sayang hingga menjadi tumbuh dewasa.

Suatu hari, di luar ruangan istana, Raja Keinderaan berbicara dalam hatinya, "Ketiga anakku sudah dewasa. Aku akan mencarikan istri untuk mereka." Lalu, Raja Keinderaan masuk mencari istrinya. Setelah bertemu, ia berkata, "Hai, Adinda. Aku ingin menjodohkan anak kita, Indra Mangindra, dengan anak Raja Malila yang bernama Putri Sri Maya dari Kerajaan Tanju Maya."

Istrinya berkata, "Ya, Kakanda. Apa yang Kakanda inginkan jika itu baik, Adinda akan menyetujuinya."

Raja Keinderaan ke luar memanggil Syah Menteri. Syah Menteri datang menyembah kepada Raja Keinderaan seraya berkata, "Tuanku, apakah kehendak Tuanku memanggil hamba?"

Baginda menjawab, "Syah Menteri, tolonglah buatkan aku surat pinangan untuk melamar anak Raja Malila di Kerajaan Tanju Maya."

Syah Menteri menyembah, "Daulat, Tuanku." Seterusnya Syah Menteri membuat surat pinangan. Tidak lama kemudian Syah Menteri menghadap kembali kepada Raja Keinderaan sambil membawa surat itu.

Raja Keinderaan berkata, "Syah Menteri, aku harap engkau mau membawa surat ini ke Kerajaan Tanju Maya." Syah Menteri menyembah, lalu berjalan ke luar. Syah Menteri berjalan menuju Kerajaan Tanju Maya diiringi oleh menteri, hulubalang, dan rakyat.

Di Kerajaan Tanju Maya Maharaja Malila sedang bercakap-cakap dengan para raja dan menteri di balairung.

Beberapa lama kemudian perjalanan rombongan Syah Menteri telah sampai ke depan pintu gerbang kerajaan. Penjaga pintu kerajaan bertanya, "Hai, orang-orang asing, dari mana dan hendak ke manakah kalian?"

Syah Menteri menjawab, "Kami dari Kerajaan Azamnawi ingin menghadap Paduka Raja Malila."

Penjaga pintu kerajaan itu menghadap raja sambil bersujud menceritakan maksud kedatangan tamu yang ada di luar. Raja Malila menyuruh penjaga pintu agar mempersilakan tamu itu masuk. Penjaga pintu menyembah dan kembali menemui Syah Menteri sambil berkata, "Tuan-tuan, silakan masuk."

Begitu mendengar ucapan penjaga pintu, Syah Menteri beserta pengiringnya masuk ke istana menemui Raja Malila. Syah Menteri bersujud kepada Baginda Raja Malila sambil memberikan surat, "Ampun, Tuanku. Hamba dititah oleh Raja Azamnawi untuk menyerahkan surat ini.”

Surat itu diterima oleh Baginda Raja Malila. Baginda lalu menyuruh orang yang bersuara nyaring untuk membacakan isi surat.

Isi surat itu berbunyi, "Yang terhormat Paduka Adinda Maharaja Malila di Kerajaan Tanju Maya. Hamba memohon jika disetujui, sudilah kiranya anak hamba, Maharaja Indra Mangindra, dijodohkan dengan Putri Sri Bulan. Jawaban hamba tunggu dengan segera."

Raja Malila mendengarkan isi surat itu. Raja sangat gembira, "Hai, Menteri! Apa salahnya jika Baginda Raja Keinderaan beserta istri menyukainya, hamba pun menyetujuinya, tetapi hamba mohon agar rencana ini dipercepat karena hamba sudah tua.”

Syah Menteri menjawab, "Baiklah, Tuanku. Pesan Tuanku akan hamba sampaikan.”

Syah Menteri dan pengiringnya dijamu oleh Raja Malila. Selanjutnya, Syah Menteri mohon pamit sambil berjabatan tangan.

Syah Menteri dan pengiringnya berjalan kembali menuju Kerajaan Azamnawi. Tanpa terasa, beberapa lama kemudian, sampailah Syah Menteri ke depan pintu gerbang Kerajaan Azamnawi.

Maharaja Keinderaan sudah lama menunggu rombongan yang belum datang. Beliau kelihatan agak gelisah. Begitu melihat Syah Menteri masuk ruangan kerajaan, Maharaja Keinderaan agak terhibur hatinya. Syah Menteri disambutnya, "Hai, Saudaraku. Bagaimana kabar Maharaja Malila?"

Syah Menteri menjawab, "Ya, Tuanku. Salam dari Baginda Maharaja Malila untuk Tuanku. Surat itu sudah hamba sampaikan kepada beliau dan diterimanya dengan senang hati. Ada permintaan dari beliau bahwa rencana itu segera dilaksanakan karena beliau sudah merasa tua."

Mendengar jawaban Syah Menteri, Maharaja Keinderaan menitahkan menteri beserta hulubalang dan rakyat mempersiapkan perayaan dan menjaga istana selama empat puluh hari empat puluh malam.

Tibalah saatnya pada hari yang telah ditentukan. Maharaja Keinderaan menghiasi Maharaja Mangindra dengan pakaian pengantin yang belum pernah dilihat orang. Maharaja Indra Mangindra telah siap dengan pakaian pengantinnya. dinaikkan orang ke tandu kebesaran Panca Persada tujuh tingkat. Maharaja Indra Mangindra diarak orang banyak menuju Kerajaan Tanju Maya.

Di Kerajaan Tanju Maya Maharaja Malila menitahkan semua menteri dan hulubalang serta rakyatnya untuk berjaga-jaga selama empat puluh hari empat puluh malam.

Putri Sri Bulan memakai pakaian pengantin yang indah berkilauan. Wajahnya bertambah cantik. Semua orang yang melihatnya terpesona. Setelah Putri Sri Bulan dirias, ia duduk di mahligai tujuh tingkat menunggu kedatangan Maharaja Indra Mangindra.

Perjalanan Maharaja Indra Mangindra telah sampai di kerajaan Tanju Maya. Mereka masuk ke istana dan disambut oleh Maharaja Malila beserta para tamu undangan.

Maharaja Indra Mangindra menyembah kepada Maharaja Malila. Maharaja Malila menuntunnya menuju mahligai Putri Sri Bulan. Maharaja Indra Mangindra berdampingan dengan Putri Sri Bulan. Acara adat pengantin pun dimulai. Beberapa lama waktu berselang, acara adat pun selesai. Baginda Raja Malila menjamu para tamu dan rakyat kerajaan itu pun bersuka ria.

Tanpa disadari, waktu telah berjalan lama, maka selesailah acara pesta perkawinan. Para undangan berpamitan kepada Baginda. Mereka berpamitan untuk pulang ke tempat masing-masing.

Baginda Raja Malila beserta istri merasa berbahagia melihat kedua pengantin. Kemudian, kedua pengantin itu dibiarkan berbagi rasa dan berbagi kasih.

Hari pun mulai malam, binatang malam mulai berkeliaran dan mengeluarkan suaranya. Ada suara kodok, ada suara jangkrik, dan ada pula suara anjing menggonggong. Suara mereka bertambah merdu di keheningan malam seolah-olah bersahutan.

Para penghuni istana kecuali para penjaga pintu gerbang tertidur dengan lelapnya seperti dininabobokan oleh suara tadi.

Suatu hari Baginda Raja Malila jatuh sakit. Maharaja Indra Mangindra terkejut melihatnya. Ia memanggil semua ahli nujum dan tabib. Setelah mereka berkumpul, Maharaja Indra Mangindra bertanya, "Wahai, Tuan-tuan. Lihatlah apa pendapat kalian tentang penyakit Baginda Raja Malila ini."

Semua ahli nujum dan tabib menyembah. Mereka menggunakan keahliannya masing-masing. Setelah bermusyawarah, salah seorang dari mereka berkata, "Ampun, Tuanku. Penyakit Baginda adalah penyakit yang sulit diobati karena beliau sudah tua."

Maharaja Indra Mangindra dan istrinya bersedih hati ketika mendengar ucapan tabib itu. Lalu, semua ahli nujum dan tabib itu pun pulang dengan membawa bingkisan dari Baginda.

Tidak lama kemudian, Maharaja Malila meninggal dunia. Istri Maharaja Malila menangis tiada henti-hentinya, begitu juga Putri Sri Bulan. Karena sedihnya, Putri Sri Bulan jatuh pingsan.

Maharaja Indra Mangindra merasa terpukul hatinya, "Wahai, Tuhanku. Apakah nasib yang akan menimpaku nanti? Tolonglah aku diberi petunjuk-Mu."

Seluruh penghuni istana Tanju Maya berdukacita. Mereka kehilangan raja yang baik hati. Kemudian, Maharaja Indra Mangindra mengabari orang tuanya serta seluruh raja bahwa Raja Malila telah berpulang ke rahmatullah.

Di hari yang duka itu banyak orang berdatangan dari seluruh penjuru. Semua raja datang menghormati jenazah Raja Malila. Mereka mengadakan upacara adat kematian. Setelah acara adat kematian selesai, Baginda Raja Malila dikebumikan orang di tempat pemakaman raja-raja.

Selanjutnya, Maharaja Indra Mangindra diangkat menjadi raja menggantikan kedudukan almarhum Baginda Raja Malila. Maharaja Indra Mangindra duduk di atas takhta kerajaan dan memimpin rakyatnya dengan adil dan bijaksana.

Diceritakan kembali keadaan Kerajaan Azamnawi. Raja Keinderaan telah selesai melaksanakan tugas menikahkan putra pertamanya. Kini ia memikirkan hendak menikahkan anaknya yang kedua, Maharaja Jingga Mangindra, dengan anak Maharaja Besar Sri Sina.

Seperti adat kebiasaannya, Raja Keinderaan mengirimkan surat pinangan melalui Syah Menteri kepada Maharaja Besar Sri Sina. Surat pinangan itu diterima dan disetujui oleh Maharaja Besar Sri Sina. Terjadilah perkawinan antara Maharaja Jingga Mangindra dan Putri Sinar Bulan Pagi.

Wajah Maharaja Jingga Mangindra tidak berbeda dengan wajah Maharaja Indra Mangindra. Keduanya sama-sama berwajah tampan. Putri Sinar Bulan Pagi berwajah cantik, berambut ikal panjang, baik hatinya, dan sopan santun tindakannya.

Seperti biasanya, pesta perkawinan anak raja-raja berlangsung dengan meriah dan dilaksanakan selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa melewatkan penjagaan yang ketat untuk keamanan istana.

Sekarang tugas Raja Keinderaan adalah melaksanakan pernikahan anak yang paling bungsu yang bernama Maharaja Bujangga Mangindra dengan anak Maharaja Sialansyah dari Kerajaan Mercu Indra. Kedua pengantin itu tak kalah tampannya dan tak kalah cantiknya jika dibandingkan dengan kedua kakaknya. Raja Keinderaan mengadakan pesta perkawinan dengan meriah. Rakyat pun menikmati kebahagiaan itu.

Pesta perkawinan selesai. Para tamu undangan telah pulang ke tempat masing-masing. Tinggallah para penghuni istana yang disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing. Sesekali mereka beristirahat karena kelelahan dan sesekali mereka bercanda ria.

Hari mulai senja, malam pun telah tiba. Seluruh jendela istana berikut pintunya sudah tertutup rapat. Mereka merebahkan dirinya masing-masing. Ada yang tertidur di lantai beralaskan permadani dan ada juga yang tertidur di atas kursi. Mereka tertidur dengan pulas. Suara kentungan malam yang dibunyikan penjaga istana pun tidak mengusik kepulasan mereka.




•••















2. MENANTI KELAHIRAN ANAK




Matahari mulai masuk ke peraduan. Rumah-rumah penduduk di sekitar istana sudah mulai sepi. Suasana itu menandakan bahwa hari telah malam. Di dalam istana Raja Keinderaan tampak gelisah dalam tidurnya. Sesekali ia membalikkan badannya ke sebelah kanan dan sesekali ke sebelah kiri, sedangkan istri Raja Keinderaan telah tertidur pulas di samping suaminya.

Raja Keinderaan sedang memikirkan nasib ketiga anaknya. Ia telah mencoba untuk memejamkan matanya, tetapi tidak berhasil juga. Di dalam hatinya berkata, "Ya, Allah, Engkau Maha Mengetahui. Hamba sudah semakin tua, tetapi belum juga Engkau karuniai seorang cucu. Karuniailah hamba cucu-cucu dari anak-anakku." Tanpa terasa Raja Keinderaan telah berhasil memejamkan matanya. Hari semakin larut malam. Sesekali terdengar suara kentungan malam diselingi oleh suara krik! ... krik! ... krik! bunyi binatang jangkrik yang bersahutan.

Suara kentungan dibunyikan kembali oleh penjaga malam. Hal itu menandakan bahwa hari telah pagi. Kokok ayam mulai bersahutan menyambut pagi yang cerah. Suara burung-burung pun tidak kalah merdunya. Kegiatan orang sekitar istana mulai ramai kembali. Mereka sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing.

Kini ketiga anak Raja Keinderaan, yaitu Maharaja Indra Mangindra, Maharaja Jingga Mangindra, dan Maharaja Bujangga Mangindra telah menduduki takhta kerajaan dengan adil dan bijaksana. Maharaja Indra Mangindra menggantikan kedudukan Maharaja Malila, Maharaja Jingga Mangindra menggantikan kedudukan Maharaja Besar Sri Sina, dan Maharaja Bujangga Mangindra menggantikan kedudukan ayahnya.

Sinar mentari mulai memancarkan cahayanya melalui sela-sela dedaunan. Angin semilir mulai menampakkan aksinya. Raja Keinderaan duduk di samping istrinya. Mereka menikmati udara sejuk di taman.

Raja Keinderaan menyapa istrinya, "Wahai, Adinda. Udara hari ini sejuk sekali, tetapi sayang tidak sesejuk hati Kakanda karena Kakanda sedang resah."

Istri raja bertanya, "Wahai, Kakanda. Apakah gerangan yang mengganggu pikiran Kakanda sehingga merasa resah?"

Raja Keinderaan menjawab, "Adinda, Kakanda sedang meresahkan nasib anak-anak yang telah lama menikah, tetapi belum juga dikaruniai anak, sedangkan Kakanda sudah semakin tua."

"Kakanda, jika begitu perasaan Kakanda, kita panggil saja ketiga anak itu untuk menghadap," kata istri Raja Keinderaan.

Lalu, Raja Keinderaan menitahkan perdana menterinya untuk memanggil ketiga anaknya. Beberapa lama kemudian ketiga anak Raja Keinderaan datang ke istana kerajaan diiringi oleh menteri, hulubalang, dan rakyatnya.

Anak pertama Raja Keinderaan bertanya sambil bersujud, "Ayahanda yang kami hormati, apakah maksud Ayahanda memanggil kami bertiga?" Raja Keinderaan menceritakan maksudnya, "Ayahanda merasa gelisah karena sampai saat ini kalian belum juga dikaruniai anak. Berdoalah kalian bertiga agar dikaruniai anak," lanjut Raja Keinderaan.

Mereka bertiga mulai berdoa di depan ayahnya. Anak yang pertama berkata dengan doanya, "Ya, Allah. Ya, Rabbi. Ya, Syaidi. Berilah hamba-Mu ini seorang anak yang gagah berani dan sakti." Anak kedua berkata dengan doanya, "Ya, Allah. Ya, Rabbi. Ya, Syaidi. Hamba memohon kepada-Mu, berilah hamba seorang anak laki-laki yang gagah dan berani seperti banteng kekuatannya." Kemudian, anak yang ketiga berkata dengan doanya, "Ya, Allah. Ya, Rabbi. Ya, Syaidi. Aku memohon ke hadapan-Mu, berilah hamba seorang anak laki-laki yang sakti tiada tandingannya seperti ular besar kekuatannya."

Setelah selesai berdoa, ketiga anak raja bersujud di hadapan kedua orang tuanya. Lalu, mereka mundur beberapa langkah menempati tempat semula. Mereka diberi hidangan yang lezat-lezat. Raja pun makan bersama mereka. Acara makan minum telah selesai dan diakhiri dengan makan sirih bersama.

Ketika hari mulai sore, ketiga anak Raja Keinderaan mohon pamit hendak pulang ke tempat masing-masing. Mereka diiringi oleh menteri, hulubalang, dan rakyatnya masing-masing.

Selang beberapa bulan lamanya, Allah Swt. mengabulkan permintaan Maharaja Indra Mangindra. Putri Sri Bulan mengandung tiga bulan. Berita itu sampai kepada semua istri raja dan istri hulubalang. Mereka membawa persembahan makanan dan minuman kesukaan Putri Sri Bulan.

Ketika sampai pada waktunya, pada pagi hari, Putri Sri Bulan mulai merasa tidak tenang. Ia merasa mulas-mulas dan sakit pinggang. Perasaan sakitnya mulai bertambah. Semua dayang sibuk mempersiapkan kelahiran sang bayi, termasuk juga dukun bayi. Di antara mereka ada yang mempersiapkan tempat mandi bayi, ada yang mempersiapkan air hangat berikut kain tebal, dan ada juga yang mempersiapkan air mawar.

Beberapa menit berlangsung lahirlah seorang anak laki-laki yang tampan wajahnya dan bersinar rupanya. Suara tangis anak itu keras memecah keheningan suasana sehingga terdengar oleh orang-orang yang sedang menanti kelahiran di luar ruangan.

Bayi itu dimandikan dukun bayi di dalam jambangan emas yang bertatahkan berlian. Kemudian, ia dibungkus dengan kain penghangat yang harum. Keharuman wewangian itu semerbak ke seluruh ruangan. Putri Sri Bulan tersenyum melihat wajah anaknya. Ia mencium kening anaknya dan menidurkan di sampingnya.

Maharaja Indra Mangindra masuk ruangan dan menyambut kelahiran anak laki-lakinya dengan gembira. Ia menghampiri istri yang dicintainya. Kemudian, ia memeluk dan mencium kening istrinya sebagai rasa terima kasih.

Bayi itu diberi nama Indra Maulana. Seluruh raja, menteri, hulubalang, serta rakyatnya diundang makan dan minum bersama untuk merayakan hari kebahagiaan itu. Selama empat puluh hari empat puluh malam Kerajaan Maharaja Indra Mangindra berpesta pora.

Ketika usia Indra Maulana baru beberapa hari, ia telah mampu makan ketupat. Ia pun telah bisa menggerakkan badannya dengan lincah. Sorot matanya tidak seperti seorang anak bayi lainnya. Ia mampu melihat benda yang ada di sekitarnya.

Setelah Indra Maulana berusia beberapa minggu, ketupat yang ia makan bertambah banyak. Makanan apa pun yang ada di sekitarnya ia makan.

Maharaja Indra Mangindra heran melihat tingkah laku anaknya, sedangkan istrinya semakin senang melihat keadaan Indra Maulana. Ia berpendapat bahwa kelak anaknya akan menjadi anak yang kuat.

Maharaja Indra Mangindra tidak menyadari bahwa permohonannya kepada Allah ingin dikaruniai anak yang kuat telah dikabulkan-Nya.

Usia Indra Maulana sudah genap sepuluh tahun. Maharaja Indra Mangindra sangat sedih hatinya. Ia berpikir dalam hati, "Semakin usianya bertambah, anakku semakin menyantap banyak makanan. Kalau begini caranya, aku akan kekurangan makanan."

Lalu, suara iblis pun datang. Suara itu membuat hati Maharaja Indra Mangindra bertambah waswas. Ia berkata dalam hatinya, "Apa dayaku apabila keadaan menjadi begini. Aku akan membunuh anakku tanpa diketahui orang."

Keesokan harinya Maharaja Indra Mangindra berpamitan kepada istrinya untuk pergi memancing ikan bersama Indra Maulana. Padahal, ia bermaksud akan menceburkan anaknya ke dalam laut.

Istrinya berkata, "Kakanda, bila Kakanda ingin memancing, ajaklah beberapa pengawal untuk menemani Kakanda."

Maharaja Indra Mangindra menjawab, "Kakanda hanya ingin pergi berdua karena ingin menikmati suasana laut bersama Indra Maulana."

"Baiklah, jika Kakanda menghendakinya," kata istri Maharaja Indra Mangindra.

Setelah itu, Maharaja Indra Mangindra pergi bersama Indra Maulana menuju ke tengah laut dengan menggunakan perahu.

Ketika hampir sampai di tengah laut, Indra Maulana berkata, "Ayah, mengapa kita pergi memancing sampai di tengah laut, sedangkan di sini banyak ikan uling yang jahat? Ikan itu akan makan apa saja yang ada di sekitarnya."

Maharaja Indra Mangindra menjawab, "Anakku, justru di tengah laut inilah kita akan mendapat ikan yang banyak."

Kemudian, Maharaja Indra Mangindra melanjutkan perkataannya, "Anakku, tolong pegangi kail pancing ini. Ayah akan turun ke laut."

Indra Maulana melarangnya, "Wahai, Ayah. Janganlah Ayah turun ke laut. Ayah akan dimakan ikan uling. Biarlah Ananda saja yang akan turun ke laut. Bila nanti Ananda tidak muncul ke permukaan laut berarti Ananda dimakan ikan itu. Jika Ananda berhasil muncul ke permukaan laut, berarti Ananda memakan ikan uling itu," lanjut Indra Maulana.

Akhirnya, Indra Maulana terjun ke laut hendak mencari ikan. Maharaja Indra Mangindra telah lama menunggu kemunculan anaknya dari laut, tetapi tidak juga muncul. Dalam hatinya ia mengira, "Kalau begitu rencanaku berhasil. Indra Maulana telah mati."

Maharaja Indra Mangindra kembali ke istana dengan tangan hampa. Ia menceritakan kejadian yang mengerikan kepada istrinya. Istrinya pingsan tidak sadarkan diri. Wajah istrinya diusap dengan air mawar oleh para dayang. Istri Raja Indra Mangindra telah sadarkan diri. Ia berkata sambil menangis, "Wahai anakku, mengapa engkau tega meninggalkan Bunda? kapan lagi Bunda akan bertemu denganmu?”

Maharaja Indra Mangindra berkata, "Sudahlah, Adinda. Adinda jangan menangis ... relakanlah ia pergi walaupun dengan berat hati." Istrinya pun berdiam diri.

Indra Mangindra menyuruh orang membeli kambing, kerbau, ayam, dan bebek untuk membuat makanan adat. Makanan adat itu sudah matang. Lalu, makanan itu dihidangkan di hadapan orang banyak.

Bertepatan dengan waktu itu, Indra Maulana muncul dengan membawa ikan uling yang besar. Maharaja Indra Mangindra terkejut melihatnya, sedangkan istri Maharaja Indra Mangindra senang melihat anaknya datang. Maharaja Indra Mangindra beserta istrinya memeluk dan menciumi anaknya.

Istrinya berkata, "Wahai, Anakku. Bunda sekarang merasa hidup kembali. Senang rasanya Bunda bertemu kembali denganmu." Selanjutnya, Indra Maulana diberi makanan dan minuman yang lezat-lezat.

Beberapa hari kemudian Maharaja Indra Mangindra sakit. Ia bersedih karena belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Para ahli nujum yang ada diundang datang ke istana. Mereka berkumpul untuk mengetahui penyakit Maharaja Indra Mangindra. Setelah melihat penyakit yang diderita Maharaja Indra Mangindra, semua ahli nujum berembuk dan salah satu dari mereka berkata, "Ya, Tuanku. Penyakit Tuanku sulit diobati. Obat itu tidak ada di negeri ini. Obat itu bernama Bunga Pujenggi yang tumbuh di pusat laut sebelah kidul."

Setelah Maharaja Indra Mangindra memberi emas dan perak kepada semua ahli nujum, seluruh ahli nujum itu berpamitan kepada Maharaja Indra Mangindra hendak pulang ke tempat masing-masing. Begitu para ahli nujum pulang, Maharaja Indra Mangindra berpikir, "Jika demikian pendapat ahli nujum itu, sebaiknya aku menyuruh Indra Maulana mencari Bunga Pujenggi agar aku jauh darinya."

Indra Maulana dipanggil oleh ayahnya, "Anakku, tolong carikan Ayah Bunga Pujenggi di pantai laut sebelah kidul agar penyakit Ayah bisa disembuhkan."

Indra Maulana berkata dalam hati, "Aku yakin bila tidak mau disuruh, aku akan dibunuhnya. Daripada aku dibencinya, lebih baik aku pergi jauh darinya."

Indra Maulana bertanya, "Kapankah hamba bisa pergi?"

"Engkau boleh pergi esok hari," jawab Baginda Maharaja Indra Mangindra.

Ibu Maharaja Indra Maulana bersedih hati ketika mendengar anaknya disuruh mencari obat, "Kakanda, mengapa Kakanda tega menyuruh anak yang masih kecil untuk mencari bunga itu? Anakku masih kecil. Ia belum tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Jika ia pergi sendiri, bagaimana nasibnya nanti di perjalanan?" tanya ibu Maharaja Indra Maulana.

Baginda Maharaja Indra Mangindra menyahut, "Jika Adinda tidak memberi izin, aku akan membunuhnya sekarang."

Ibu Maharaja Indra Maulana berdiam diri. Ia bersedih hati harus berpisah kembali dengan anak kesayangannya.

Ayam jantan mulai berkokok bersahutan. Burung-burung bernyanyi di dahan pohon. Suara mereka menyambut pagi hari yang cerah. Ibu Maharaja Indra Maulana sibuk mempersiapkan perbekalan yang akan dibawa oleh anaknya.

Maharaja Indra Maulana telah siap menghadap ayahanda dan bundanya sambil berkata, "Ya, Ayahanda dan Bunda. Ananda pamit akan pergi mencari Bunga Pujenggi.”

Ibu Maharaja Indra Maulana menangis sambil memeluknya. Ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun, tetapi Baginda Maharaja Indra Mangindra menjawab, "Baiklah, Nak. Semoga engkau berhasil."

Maharaja Indra Maulana memeluk ibunya sambil berkata, "Bunda, janganlah Bunda menangis. Ananda pergi tak akan lama dan akan kembali menemui Bunda. Doakan semoga Ananda selamat."

Lalu, Indra Maulana diberi sebentuk cincin dan perbekalan oleh ibunya. Indra Maulana pergi dengan membawa sebilah pedang. Ia ditemani seekor anjing.

Matahari telah menyinari bumi dengan panasnya. Indra Maulana belum juga sampai ke hutan. Ia baru saja menyeka keringatnya dan sesekali beristirahat di bawah pohon yang rindang sambil memikirkan nasibnya. Perbekalan itu dibuka dan ia makan makanan yang ada dan minum beberapa teguk air karena kehausan. Tak lama kemudian, ia melanjutkan perjalanannya.

Kini diceritakan kembali suasana Kerajaan Keratuan tempat Maharaja Jingga Mangindra bertakhta. Istri Jingga Mangindra, yaitu Putri Sri Bulan sedang mengandung tujuh bulan. Semua istri raja dan istri menteri serta istri hulubalang membawa persembahan makanan.

Lepas senja Putri Sri Bulan mulai merasa nyeri di perut bagian bawah. Ia sesekali menyeringai menahan rasa sakit. Proses kelahiran akan tiba. Para dayang dan dukun bayi sibuk mempersiapkan kelahiran bayi, sedangkan Maharaja Jingga Mangindra berlalu-lalang ke sana kemari karena merasa waswas menghadapi keadaan istrinya. Ia tidak lupa berdoa kepada Tuhan Yang Kuasa agar istri dan anaknya diberi keselamatan.

Tiba-tiba, oaaa ... oaaa ..., tangis bayi memecah keheningan malam. Anak yang lahir adalah seorang anak laki-laki berwajah banteng. Setelah dimandikan orang, bayi itu diperlihatkan kepada Maharaja Jingga Mangindra.

Maharaja Jingga Mangindra merasa heran karena bayi itu serupa banteng. Kukunya dari tembaga dan tanduknya dari emas. Maharaja Jingga Mangindra berkata, "Wahai, Adinda. Dosa apakah yang menimpa Kakanda? Kakanda merasa malu. Anak itu tidak mungkin dapat menggantikan kedudukan Kakanda. Lebih baik kita buang saja."

Putri Sri Bulan berkata, "Janganlah Kakanda membuang anak hamba. Biarlah ia hidup bersama kita. Mungkinkah ini merupakan permohonan Kakanda dahulu?"

Maharaja Jingga Mangindra berkata dengan geramnya, "Jika Adinda tidak membuangnya, aku akan membunuhnya sekarang juga." Padahal tanpa disadarinya Allah Swt. telah mengabulkan permintaannya, yaitu mempunyai seorang anak laki-laki serupa banteng tenaganya.

Putri Sri Bulan berdiam diri sambil berpikir. Lalu, ia berkata, "Kakanda, buanglah anak hamba ke gunung atau ke hutan rimba."

Permintaan itu disetujui oleh Maharaja Jingga Mangindra. Dengan segera perdana menteri ditugasi oleh Maharaja Jingga Mangindra untuk membuang anak banteng ke dalam hutan rimba. Anak banteng itu dibuang ke dalam hutan rimba di bawah pohon yang besar. Kemudian, perdana menteri pulang kembali ke istana.

Kini dikisahkan Putri Dewi Asma, istri Maharaja Bujangga Mangindra, di Kerajaan Azamnawi. Allah Swt. memperlihatkan kekuasaan-Nya. Putri Dewi Asma telah mengandung tujuh bulan.

Seperti biasanya para istri menteri dan istri hulubalang sibuk mengirim buah-buahan kesenangan Putri Dewi Asma.

Ketika kandungan sudah mencapai usia sembilan bulan sepuluh hari, Putri Dewi Asma mulai merasakan nyeri di dalam perutnya. Itu pertanda bahwa Putri Dewi Asma akan melahirkan. Ia berdoa, "Ya, Allah. Mudahkanlah aku melahirkan anak, berilah keselamatan dan kesehatan bagi kami."

Di dalam ruangan para dayang dan dukun bayi sedang sibuk mempersiapkan kelahiran bayi, sedangkan di luar ruangan Maharaja Bujangga Mangindra sedang menunggu kelahiran anaknya.

Akhirnya, Putri Dewi Asma melahirkan seorang anak. Anak itu berupa seekor naga bersisik emas, kukunya terbuat dari besi sembrani, dan tenaganya begitu kuat. Setelah melahirkan, Putri Dewi Asma tidak sadarkan diri.

Para dayang dan dukun bayi tidak berani mengatakan kejadian itu kepada Maharaja Bujangga Mangindra.

"Tuanku, Putri telah melahirkan anak. Silakan Tuan melihat anak Tuan," kata salah seorang dayang sambil membukakan pintu.

Maharaja Bujangga Mangindra menemui istrinya. Ketika dilihatnya ada seekor naga, ia menghunus pedangnya.

"Sabarlah, Tuanku. Mungkin anak ini nanti akan berubah wujud. Tuan, anak ini lahir karena doa Tuan," kata Syah Menteri. Jika Tuan tidak menyukainya, simpan saja di Bukit Azamnawi. Nanti kalau Tuan Putri bertanya, katakan saja anaknya sudah meninggal," sambung Syah Menteri.

Maharaja Bujangga Mangindra melihat istrinya pingsan. Ia menyuruh empat orang hulubalang membawa anak naga menuju Bukit Azamnawi.


Selang beberapa lama empat orang hulubalang membawa anak naga ke Bukit Azamnawi. Anak naga itu disimpan di bawah pohon yang rindang. Kemudian, keempat hulubalang itu kembali ke istana.

Para hulubalang telah sampai di istana. Mereka menyeka keringat masing-masing. Lalu, mereka menghadap Maharaja Bujangga Mangindra, "Tuanku, titah Tuanku telah patik kerjakan." Baginda merasa senang hatinya. Mereka diberi bingkisan ala kadarnya.

Pada waktu itu Putri Dewi Asma telah siuman. "Kakanda, mana anak hamba tadi?" tanya Putri Dewi Asma.

"Adinda, setelah anak itu lahir, anak itu telah meninggal dan Kakanda kubur di Bukit Azamnawi," jawab Maharaja Bujangga Mangindra.

Putri berdiam diri dan larut dalam kesedihan.

•••















3. PENCARIAN OBAT OLEH INDRA MAULANA




Perjalanan Indra Maulana telah lama berlangsung. Ia berjalan keluar masuk hutan belantara. Ia telah melewati padang luas dan gunung-gunung yang tinggi. Segala binatang buas yang ia temui tunduk kepadanya.

Semua rintangan telah dilalui oleh Indra Maulana. Sampailah ia ke Bukit Indrakila. Di puncak bukit itu tinggal seorang brahmana yang sedang bertapa.

Indra Maulana naik ke bukit dengan terengah-engah. Sesekali ia meneguk air dari dalam botol sambil menyeka keringat yang ada di lehernya. Lalu, ia bertemu dengan Brahmana. "Hai, Indra Maulana! Marilah duduk dekat Nenek," seru Brahmana.

Indra Maulana heran karena orang itu mengetahui namanya. Indra Maulana bersujud di kaki Brahmana sambil berkata, "Nenek Brahmana, hamba ini dititah ayahanda untuk mencari obat Bunga Pujenggi."

Brahmana tertawa, "Cucuku, bapakmu itu ingin membunuhmu, tetapi bersabarlah, Nak. Jika Cucu mau bertapa selama empat puluh hari, aku akan mengajari segala ilmu untukmu."

Sembah Indra Maulana, "Baiklah, Nenek Brahmana. Keinginan Nenek akan hamba patuhi."

Brahmana berkata dalam hatinya, "Anak ini terlalu arif dan bijaksana. Ia dapat mengetahui namaku. Sudah beberapa anak raja-raja yang datang, tetapi baru kali ini ada orang yang telah mengetahui namaku."

Brahmana membawa masuk Indra Maulana ke istananya. Indra Maulana dipersilakan duduk dan diberi makanan serta minuman oleh Brahmana sambil berkata, "Cucuku, santaplah makanan orang bertapa ini, yaitu ubi, keladi, dan pisang." Lalu, mereka makan bersama.

Indra Maulana bertapa selama empat puluh hari. Brahmana mengajari segala ilmu kepada Indra Maulana sampai waktunya selesai.

Suatu hari Indra Maulana termenung di atas bukit. Ia sedang menikmati udara sekitarnya. Pikirannya menerawang ke dalam istana tempat ayahnya tinggal. Ia teringat tugas yang diberikan oleh ayahnya. Lalu, Indra Maulana bersujud di kaki Brahmana seraya berkata, "Nenek Brahmana, hamba ingin pamit karena hamba akan pergi mencari obat, tetapi hamba belum tahu tempat obat itu. Sudilah kiranya Nenek Brahmana memberi petunjuk?"

Brahmana memeluk Indra Maulana dan menciuminya. "Cucuku, Nenek belum puas memandangmu, tetapi Nenek berpesan jika ada suatu hal yang menjadi keinginanmu, sebut nama nenek dan Nenek akan datang membantumu," kata Brahmana. Kemudian, sambungnya, "Jika Cucuku telah berjalan selama tujuh hari dan bertemu dengan seekor banteng besar, Cucu jangan takut. Ia adalah anak Maharaja Jingga Mangindra, pamanmu sendiri. Jika ia minta dirawat agar bisa menjelma menjadi manusia, panahlah kepalanya dan sebutlah nama nenek karena ia akan berubah menjadi manusia."

Nenek Brahmana berpesan kembali, "Cucu juga akan menemui seekor naga besar. Naga itu ganas. Namun, Cucu jangan takut karena naga itu anak Maharaja Bujangga Mangindra, pamanmu. Ia juga minta dirawat. Ia bisa menjadi temanmu dalam mencari obat."

"Panah ini untukmu. Alat ini dapat mengubah barang yang Cucu kehendaki dan jangan lupa sebut nama nenek," tambah Nenek Brahmana.

Setelah Indra Maulana mendengar pesan Nenek Brahmana, ia berkata, "Baiklah, Nenek. Akan hamba laksanakan perintah Nenek."

Nenek Brahmana memeluknya, "Pergilah, Cucuku, semoga selamat." Kemudian, Indra Maulana pergi menyusuri bukit bersama anjingnya.

Tersebutlah kisah anak banteng yang dibuang ke hutan. Ia dipelihara oleh binatang yang ada di dalam hutan. Mereka bergantian menyusui anak banteng hingga tumbuh besar.

Suatu hari ketika terik matahari menyengat bumi, banteng berjalan terus menelusuri padang rumput sambil mulutnya ternganga. Ia melihat ke langit. Ingin rasanya hujan turun membasahi badannya.

Ketika itu ia mendengar suara aneh entah dari mana datangnya, "Hai, Banteng. Jika engkau ingin berubah menjadi manusia kembali, tunggulah empat puluh hari lagi di waktu siang hari dan tempatnya di sini. Nanti ada seorang manusia berjalan menuju tempatmu. Engkau minta dipelihara olehnya dan engkau akan menjelma menjadi manusia.”


Setelah banteng mendengar suara itu, ia terkejut dan lari dengan cepatnya menuju tempat persembunyian. Napas banteng itu terengah-engah dan ia tak habis pikir, "Suara siapakah itu? Apakah aku ini anak seorang manusia?"

Beberapa waktu telah berlalu tibalah waktu yang ditentukan, yaitu bilangan keempat puluh hari. Pada hari Jumat banteng keluar dari tempat persembunyiannya. Ia menuju ke tengah padang rumput yang luas sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Dari kejauhan samar-samar ia melihat seorang manusia yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Ia berpikir dalam hatinya, "Apakah orang itu yang dimaksud dalam petunjuk suara yang aku dengar?"

Rupanya orang tersebut adalah Indra Maulana. Ia mulai mendekati padang rumput yang luas dan berjalan terus menuju tengah padang rumput tempat seekor banteng berdiri dengan gagahnya.

Banteng itu kepalanya merunduk-runduk. Indra Maulana melihat banteng besar dengan matanya yang berkilauan serta mulutnya ternganga. Tanduknya terbuat dari emas dan kukunya dari suasa.

Indra Maulana berkata, "Hai, Banteng. Mengapa engkau membesarkan dirimu, merunduk, dan menghalangi perjalananku?"

Banteng itu menundukkan kepalanya seperti orang menyembah, "Ya, Tuanku. Tuan yang hamba tunggu-tunggu. Hamba mohon sudilah kiranya Tuan memelihara hamba!"

Mendengar suara banteng itu, Indra Maulana merasa iba. Ia teringat pesan Nenek Brahmana. Kemudian, "Hai, Banteng. Maukah engkau mati?" tanya Indra Maulana.

Banteng itu menyahut, "Apa pun titah Tuanku, akan hamba turuti."

Indra Maulana mulai membidikkan anak panahnya ke arah banteng. Lalu, anak panah itu lepas dari busurnya dengan kencang. Banteng itu pun mati. Sambil memejamkan matanya, Indra Maulana memanggil nama Brahmana. Sekejap itu pun, banteng berubah menjadi manusia yang tampan wajahnya hampir serupa dengan wajah Indra Maulana.

Banteng yang telah berubah wujud menyembah kepada Indra Maulana. Tak lama kemudian Indra Maulana berkata, "Hai, Saudaraku. Kini engkau telah menjadi manusia. Kembalilah ke negeri asalmu untuk menemui orang tuamu di Kerajaan Keratuan."

Anak manusia itu memohon sambil meratap, "Kakanda, janganlah hamba disuruh pulang karena hamba telah dibuang orang ke dalam hutan. Hamba tidak mempunyai orang tua, tetapi Kakandalah penggantinya."

Indra Maulana merasa iba kembali, "Baiklah, anak muda, engkau akan kuberi nama Banteng Alam."

Banteng Alam dan Indra Maulana beserta anjing peliharaannya meneruskan perjalanan keluar masuk hutan, naik turun gunung sepanjang siang dan malam hari untuk mencari Bunga Pujenggi.

Kini diceritakan kembali kisah naga, anak Maharaja Bujangga Mangindra, yang disimpan oleh empat orang hulubalang di Bukit Azamnawi. Naga itu dipelihara oleh ular-ular yang hidup di sekitar hutan. Tubuh naga itu sudah bertambah besar. Naga itu sakti tidak seperti ular biasanya. Sisiknya berwarna emas dan kukunya berwarna hijau.

Naga itu berkeliaran di sekitar semak hutan. Kini ia memberanikan diri merayap hingga sampai ke puncak Bukit Azamnawi. Ia berdiri di atas puncak itu. Terdengarlah suara aneh, "Hai, Naga. Jika engkau mau kembali menjadi manusia, engkau harus menunggu empat puluh hari lagi. Jika ada dua orang manusia berjalan menuju tempatmu, engkau harus minta dipelihara olehnya. Setelah itu, engkau akan berubah wujud menjadi manusia."

Naga mendengar suara aneh dengan jelas. Ia terkejut dan jantungnya berdetak dengan keras. Setelah dilihatnya ke kiri dan ke kanan tiada orang satu pun, ia berjalan merayap dengan cepatnya. Ia berdiam diri di tempat persembunyian. Dengan napas yang terengah-engah, naga berdiam diri sambil bertanya dalam hati, "Apakah aku seorang anak manusia? Akan kuturuti perintah suara itu."

Perjalanan Indra Maulana bersama Banteng Alam telah berlangsung kurang lebih empat puluh hari lamanya. Mereka hampir mendekati tempat persembunyian naga. Sementara itu, naga keluar dari tempatnya. Ia merayap hingga sampai ke puncak bukit.

Di puncak bukit naga menoleh ke kanan dan ke kiri. Terlihat olehnya ada dua orang manusia sedang berjalan. Ia berkata dalam hatinya, "Itukah orang yang dimaksud? Aku akan menunggunya."

Anjing berjalan dan Indra Maulana serta Banteng Alam mengikutinya dari kejauhan. Anjing sampai di Bukit Azamnawi. Ia menyalak-nyalak dengan kerasnya karena mencium bau binatang aneh. Naga sangat marah. Ia merayap ke segala penjuru. Dengan kilatnya ia sudah ada di hadapan anjing. Anjing merasa kebingungan. Naga mengibas-ngibaskan ekornya. Lalu, naga berusaha menerkamnya. Sebenarnya, anjing itu adalah jelmaan seekor ikan uling, cucu Batara Sangu.

Indra Maulana mendengar suara anjing menyalak-nyalak. Ia berpikir bahwa anjingnya menemukan binatang buruan, maka dihampirinya. Akan tetapi, setelah dilihatnya ternyata seekor naga yang besar dan panjang memakai mahkota kemala yang bercahaya, Indra Maulana dengan diam-diam memerhatikan tingkah laku naga.

Kemudian, ia berkata, "Hai, Naga! Mengapa engkau berkelahi dengan anjingku?" Naga mendengar perkataan Indra Maulana. Ia menundukkan kepalanya seperti orang yang sedang menyembah sambil berkata, "Ya, Tuanku manusia. Hamba sedang mengusir anjing agar suara anjing itu terdengar oleh Tuan dan dengan demikian hamba bisa bertemu dengan Tuan."

Indra Maulana bertanya, "Hai, Naga. Mengapa engkau ingin bertemu denganku?"

"Ya, Tuanku. Hamba ingin dipelihara oleh Tuan," jawab naga.

"Baiklah, tetapi antarkan dulu kami ke seberang laut untuk mencari Bunga Pujenggi yang tumbuh di sana," kata Indra Maulana.

Naga menyanggupinya. Kemudian, mereka berjalan menuju ke tepi laut. Sesampainya di tepi laut, Indra Maulana, Banteng Alam, dan anjing naik ke kepala naga. Naga itu berenang dengan lincahnya.

Ombak laut bergulung-gulung. Suaranya bagai halilintar. Gerakan air membuat orang yang ada di atas kepala naga berayun-ayun, tetapi naga tetap berenang dengan lajunya.

Beberapa lama kemudian mereka sampai ke tepi pulau tempat perkumpulan burung garuda. Burung garuda itu menculik anak Raja Syaidil Arifin yang bernama Putri Ratna Kemala.

Putri Ratna Kemala berasal dari Negeri Haibar. Ketika masih kecil, Putri dipelihara oleh burung garuda. Nanti bila Putri sudah tumbuh besar akan menjadi mangsanya.

Putri Ratna Kemala melihat rombongan naga datang menghampirinya. Ia bergetar terkejut dan hendak melarikan diri, tetapi dicegah oleh Indra Maulana. "Tuan Putri jangan berlari karena naga ini sebenarnya seorang manusia. Kami ingin mencari Bunga Pujenggi untuk mengobati seseorang. Jika Tuan Putri tahu, tolong tunjukkan tempatnya. Siapakah Tuan Putri sebenarnya?" tanya Indra Maulana.

Putri Ratna Kemala menceritakan tentang dirinya bahwa ia diculik oleh burung garuda dari pelukan orang tuanya. Ia menangis ingin segera pulang. Jika Indra Maulana mau menolongnya, Putri Ratna Kemala akan menunjukkan tempat bunga yang dimaksud. Bunga Pujenggi merupakan makanan sehari-hari Putri Ratna Kemala. Oleh sebab itu, Putri mengetahui di mana bunga itu tumbuh.

Rombongan Indra Maulana diantar oleh Putri Ratna Kemala menuju suatu tempat. Tempat itu penuh dengan tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak manusia serta tengkorak-tengkorak binatang yang berserakan. Tulang-tulang itu merupakan sisa makanan burung garuda. Indra Maulana tercengang. Lalu, disuruhnya Putri Kemala mengambil Bunga Pujenggi.

Beberapa tangkai Bunga Pujenggi dipetik oleh Putri Ratna Kemala. Kemudian, bunga itu diberikan kepada Indra Maulana sambil berkata, "Kakanda, marilah kita segera pergi dari tempat ini supaya tidak diketahui oleh burung garuda. Sekarang burung garuda itu sedang mencari mangsa."

"Baiklah, Adinda," jawab Indra Maulana. Mereka berjalan menghampiri naga dan naik ke kepala naga dengan segera. Naga merayap dengan cepat menuju ke laut.

Setelah sampai di laut, naga pun berenang dengan cepat menuju ke seberang. Ombak pun kembali bergelombang besar. Suaranya menggelegar bagai halilintar. Penumpang yang ada di atas kepala naga terayun-ayun dengan sendirinya, sedangkan naga berenang dengan tenangnya.

•••















4. PENCULIKAN PUTRI RAJA OLEH BURUNG GARUDA




Di hari yang cerah ketika matahari memancarkan sinarnya, terlihat sepasang burung sedang terbang. Setelah mendekat, ternyata sepasang burung itu sedang sibuk mencari mangsanya.

Istri burung berkata, "Kakanda, tak seekor binatang pun yang kita peroleh pada hari ini. Bagaimana makanan kita nanti?"

Suami burung menjawab, "Baiklah, jika demikian kita pulang."

Istri burung berkata lagi, "Marilah kita pulang dengan cepat karena hatiku merasa tidak tenang."

Kedua pasang burung itu terbang kembali menuju pulau tempat Putri tinggal. Mereka menghampiri tempat Putri, tetapi setelah dicari ke sana kemari Putri tidak juga ditemuinya. Mereka terbang sambil menoleh ke belakang barangkali bisa menemukan Putri.

Mereka terbang sampai ke atas laut. Ketika berada di atas laut, mereka melihat ada seekor naga berenang dengan cepatnya. Sepasang burung garuda itu terbang menukik menghampiri naga yang sedang berenang.

Pada waktu itu Putri merasa sangat senang karena telah berhasil ke luar dari pulau yang dianggapnya sebagai neraka. Putri Ratna Kemala bernyanyi dengan riangnya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia menikmati kencangnya angin laut. Tidak sengaja ia menoleh ke atas langit. Tiba-tiba ia terkejut dan bersedih hati karena melihat sepasang burung garuda terbang. Ia menangis sambil berkata, "Kakanda! Celakalah kita karena burung yang menculik hamba ada di atas sedang terbang."

Indra Maulana berkata, "Janganlah Adinda menangis. Kita akan menghadapi burung itu bersama-sama."

"Hai, Saudara-saudaraku. Terpaksa kita harus berperang melawan burung garuda," ajak Indra Maulana kepada Banteng Alam dan naga.

Banteng Alam menjawab, "Baiklah kalau begitu. Kita harus menepi dulu ke negeri seberang agar Putri dan anjing bisa disembunyikan."

Naga bertanya, "Mengapa Tuan hendak menepi? Tuan takut menghadapinya? Hamba telah lama tidak makan burung garuda."

Indra Maulana menjawab, "Bukan aku yang takut, melainkan Putri yang takut. Lihatlah dia pingsan."

Setelah mendengar perkataan Indra Maulana, naga menepi ke sebuah pulau dan menyembunyikan Putri bersama anjing di semak-semak. Putri telah siuman dan anjing pun menjaga Putri dengan baik.

Sebelum Indra Maulana pergi, Putri Ratna Kemala menciumnya sambil memberi cincin yang diambil dari jari tangannya.

Putri berpesan, "Kakanda jangan pergi lama, jemput hamba kembali." Putri Ratna Kemala memegangi Bunga Pujenggi dengan hati-hati sambil melambaikan tangannya ke arah kepergian Indra Maulana.

Indra Maulana, Banteng Akam, dan Naga berenang kembali menemui burung garuda yang sedang terbang menghampirinya.

Burung garuda bertanya, "Hai, manusia! Mengapa engkau berani mengambil anakku?"

Indra Maulana tersenyum sambil berkata, "Hai, burung yang tidak tahu belas kasihan. Bagaimana engkau dapat mempunyai anak manusia? Wujudmu saja berupa binatang. Anak manusia itu adalah hasil curianmu. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."

Burung garuda sangat marah mendengar perkataan Indra Maulana. Burung itu menyambar Indra Maulana dengan gesitnya, tetapi sambaran burung itu tidak sedikit pun mengenai Indra Maulana.

Burung garuda menyambar lawannya kembali dengan hebat. Mereka berperang di atas laut. Ombak bergemuruh seolah-olah menjadi penontonnya.

Peperangan berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Tidak satu pun di antara mereka ada yang kalah dan ada yang menang.

Peperangan membuat burung garuda kelelahan. Lalu, burung garuda berkata, "Hai, manusia! Baiklah, kita berhenti dulu karena sudah larut malam. Esok hari kita teruskan kembali."

Indra Maulana menyanggupi perkataan burung garuda. Burung garuda itu pun terbang menuju ke suatu tempat. Ia bermalam dan tertidur dengan lelahnya, sedangkan Indra Maulana menemui Putri Ratna Kemala.

Begitu melihat Indra Maulana, Putri senang hatinya. Mereka berpelukan. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Indra Maulana untuk mengantar Putri Ratna Kemala ke pangkuan orang tuanya.

Maharaja Syaidil Arifin sedang duduk dengan istrinya di Negeri Haibar. Putri Ratna Kemala telah sampai ke pangkuan orang tuanya.

Pada suatu hari Putri menghadap ayah dan bundanya untuk meminta izin bermain di taman, "Ayah dan Bunda, hamba mohon diberi izin untuk bermain ke dalam Taman Manda untuk memungut bunga-bungaan dan buah-buahan."

Ayahnya menjawab, "Baiklah, Ananda. Apa yang suka kau kerjakanlah. Pungutlah bunga-bungaan dan buah-buahan yang ada di sana. Esok hari Ananda boleh pergi ditemani para dayang," sambung ayahnya. Kemudian, Ratna Kemala mohon pamit.

Keesokan harinya sinar mentari telah menerangi bumi. Kicauan burung menambah ramainya suasana pagi. Putri Ratna Kemala telah siap menghadap kedua orang tuanya untuk pamit pergi ke taman.

Baginda menyiapkan perbekalan untuk Putri Ratna Kemala. Kemudian, Putri Ratna Kemala bersama kedua orang tuanya berjalan diiringi menteri, hulubalang, dan rakyatnya serta tidak ketinggalan pula para dayang menuju taman yang dimaksud.

Setelah sampai di taman, Putri merasa senang melihat buah-buahan yang telah ranum dan bunga-bungaan yang mewangi. Putri bersuka ria dengan para dayang yang mengikutinya. Mereka memungut buah-buahan dan bunga-bungaan. Sesekali mereka memetik buah-buahan dan bunga-bungaan yang masih ada di dahan pohon.

Maharaja Syaidil Arifin dan Putri Ratna Juwita merasa senang melihat kegembiraan Putri Ratna Kemala. Kegembiraan itu tidak berlangsung lama karena bertepatan dengan waktu itu, sepasang burung garuda menyambar Putri Ratna Kemala. Maharaja Syaidil Arifin bersama Putri Ratna Juwita pingsan tak sadarkan diri melihat anaknya disambar burung garuda, sedangkan para dayang menangisi kepergian Putri. Para pengawal raja mengusung baginda bersama istrinya kembali ke istana.

Semua orang yang ada di dalam istana berkumpul. Baginda bertitah kepada semua raja untuk mencari anaknya. Baginda mengatakan bahwa barang siapa yang dapat menemukan anaknya akan mendapatkan sebuah negeri dan akan dijadikan menantunya.

Berita Putri Ratna Kemala telah hilang terdengar sampai ke Negeri Balantara Dewa. Raja di negeri itu dua bersaudara, yaitu Maharaja Bahrum Dewa dan Maharaja Gardan Dewa.

Kerajaan Balantara Dewa sangat besar. Semua raja yang ada di sekitarnya takluk pada Maharaja Bahrum Dewa. Raja-raja yang takluk itu memberi upeti pada Kerajaan Balantara Dewa setiap tahun.

Kedua raja bersaudara belum beristri karena mereka senang berperang mengadu kesaktiannya.

Pada suatu hari Raja Bahrum Dewa dan Gardan Dewa telah sepakat akan mencari Putri yang hilang. Kedua raja itu pergi dengan diiringi menteri, hulubalang, serta pahlawan yang gagah berani menuju Raja Syaidil Arifin.

Kini diceritakan kembali keadaan Indra Maulana yang akan berperang kembali dengan burung garuda. Indra Maulana dan Banteng Alam telah siap naik ke kepala Naga. Mereka menuju laut dan Naga pun melaju dengan gesitnya di atas air laut.


Sepasang burung garuda telah menanti kedatangan lawannya. Peperangan pun dimulai kembali. Burung garuda menyambar Indra Maulana. Lautan itu gelap karena sinar mentari tidak terlihat.

Ketika mereka sedang sibuk berperang, suara yang terdengar hanya bunyi deru ombak laut yang bergemuruh. Seluruh ikan laut yang ada di bawah mereka saling menimbulkan diri ke permukaan laut seolah-olah ingin melihat apa yang sedang terjadi di atasnya.

Tengah hari telah tiba, burung garuda pun berkata dengan lelahnya, "Hai, Manusia. Engkau belum juga kalah. Tunjukkanlah kesaktianmu agar aku dapat melihat kegagahanmu."

Indra Maulana tersenyum mendengar tantangan burung garuda, lalu ia berkata, "Hai! Binatang yang serakah. Ingatlah ... engkau harus mau menerima kirimanku dari Brahmana."

Indra Maulana mengarahkan anak panahnya ke arah kepala burung garuda. Kemudian, dengan cepat anak panah itu lepas dari busurnya. Anak panah itu tepat mengenai kepala burung garuda. Kepala garuda berdarah. Garuda melayang mundur menyenggol istrinya dan jatuh menimpa Naga, sedangkan sayapnya menutupi Indra Maulana dan Banteng Alam. Anjing Indra Maulana yang menyaksikan peperangan itu tercengang. Ia mengira Indra Maulana dan Banteng Alam telah ditelan burung. Anjing pun terjun ke laut menghampiri tuannya. Setelah sampai pada bangkai garuda, anjing sibuk menggoyang-goyangkan badan burung garuda dengan sedih, tetapi burung itu tidak bergerak juga.

Sementara itu, istri burung garuda terbang melarikan diri. Hatinya merasa sedih karena ditinggal mati suaminya. Ia terbang dengan lelahnya mencari mangsa kembali.

Burung itu kini telah sampai di atas Negeri Bayan Sari. Raja Bayan Sari adalah Maharaja Syahrun dan istrinya adalah Putri Tanjungsari. Mereka mempunyai seorang anak bernama Putri Nurlela Cahaya. Ia seorang anak yang berwajah cantik.

Putri Nurlela telah bertunangan dengan anak Maharaja Bermaperi dari Negeri Marcun. Kedua orang tua Putri Nurlela Cahaya sangat menyayanginya. Karena sayangnya, orang tua Putri Nurlela Cahaya membuat istana bertingkat tujuh belas.

Suatu hari Putri Nurlela Cahaya sedang bergembira dengan inang pengasuh. Tanpa disadari oleh mereka, seekor raja burung garuda terbang merendah dan menukik ke bawah menyambar Putri.

Putri dibawa terbang ke atas Bukit Bayan. Pada waktu burung garuda menyambar putri, mereka yang ada di sekitarnya merasa takut dan lari menyembunyikan dirinya masing-masing.

Maharaja Syahrun terkejut. Keadaan kerajaan menjadi gelap dan angin topan bergemuruh. Seketika itu juga datang seorang inang pengasuh menghadap Maharaja. Syahrun, "Ampun, Tuanku. Putri Nurlela Cahaya diculik oleh seekor burung garuda raksasa."

Maharaja Syahrun dan istrinya bersedih hati. Istri Maharaja Syahrun pingsan tak sadarkan diri. Inang pengasuh menyeka wajah istri Baginda dengan air mawar beberapa kali hingga sadar.

•••















5. BANTENG ALAM DAN NAGA PERTALA




Di suatu tempat tidak jauh dari peperangan, Putri Ratna Kemala disembunyikan oleh burung garuda. Rombongan Bahrum Dewa telah berjalan lama melewati gunung dan bukit untuk mencari Putri Ratna Kemala. Bahrum Dewa telah sampai ke tempat Putri. Mereka melihat seorang anak cantik menangis sambil memegangi Bunga Pujenggi. Bahrum Dewa bertanya, "Putri yang cantik jangan menangis. Siapakah dirimu? Apakah engkau yang bernama Putri Ratna Kemala?" Putri Ratna Kemala mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mari ikut kami ke hadapan kedua orang tuamu," lanjut Bahrum Dewa.

Putri Ratna Kemala berdiam diri tidak menyahut. "Baiklah jika demikian kami akan membuangmu ke laut agar Putri dimakan binatang yang ada di laut," kata Bahrum Dewa.

Putri Ratna Kemala merasa takut mendengar perkataan Bahrum Dewa. Akhirnya, ia memutuskan untuk ikut pergi.

Rombongan Maharaja Bahrum Dewa berjalan menuju Kerajaan Haibar. Mereka telah tiba di depan pintu kota dan bertemu dengan Mama Riskasi, penjaga kota yang bertugas memeriksa tamu asing. Mama Riskasi bertanya, "Akan ke manakah Tuan-tuan ini?"

Hulubalang Bahrum Dewa menjawab, "Hamba datang dari Negeri Balantara Dewa. Raja kami bernama Maharaja Bahrum Dewa. Beliau ingin bertemu Baginda. Raja kami membawa Putri Ratna Kemala yang hilang."

Mama Riskasi mempersilakan mereka menghadap Baginda. Setelah sampai ke istana, mereka disambut oleh Baginda Syaidil Arifin.

Putri Ratna Kemala gembira dapat berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya. Mereka berpelukan sambil menangis.

Rombongan Bahrum Dewa dijamu oleh Baginda Syaidil Arifin dengan makanan yang lezat. Baginda mengadakan selamatan selama tujuh hari tujuh malam.

Baginda Syaidil Arifin berkata kepada Bahrum Dewa, "Anakku, Bahrum Dewa, berhubung Putri Ratna Kemala belum dewasa, bagaimana bila perkawinan ini kita tunda dulu sampai waktunya tiba?"

Bahrum Dewa menjawab, "Apa pun yang Tuan katakan akan patik turuti."

Baginda Syaidil Arifin bersama istrinya senang mendengar ucapan Bahrum Dewa. Lalu, rombongan Bahrum Dewa mohon pamit untuk pulang ke tempatnya.

Keadaan Indra Maulana, Banteng Alam, dan Naga diceritakan kembali. Mereka bertiga berusaha keluar dari impitan badan burung garuda yang telah mati. Anjing yang sedang bersedih itu tercengang melihat ketiga orang temannya masih hidup.

Indra Maulana telah mengetahui bahwa Putri Ratna Kemala diculik rombongan Bahrum Dewa. Oleh sebab itu, ia berkata, "Hai, Saudara. Mari kita cari kembali Putri Ratna Kemala."

Mereka segera mencari Putri di tempat persembunyian, tetapi tidak menemukannya. Mereka bersedih hati. Bertepatan dengan waktu itu juga Naga berkata, "Ya, Tuanku. Peliharalah hamba ke mana Tuan pergi."

Indra Maulana teringat pesan Brahmana. "Maukah engkau mati?" tanya Indra Maulana kepada naga.

Naga menjawab, "Apa pun kehendak Tuan akan hamba turuti."

Indra Maulana mengambil anak panah. Ia mengarahkan anak panah itu tepat di kepala naga. Lalu, anak panah itu melesat dengan cepatnya. Kepala naga berdarah. Naga itu pun mati. Sekejap itu pula Indra Maulana memejamkan matanya sambil memanggil nama Brahmana.

Kemudian, begitu Indra Maulana membuka matanya, seorang anak muda telah ada di hadapannya. Wajahnya mirip Indra Maulana.

"Hai, Saudaraku. Engkau telah sempurna menjadi manusia. Engkau boleh pulang ke negeri asalmu," Indra Maulana berkata.

Anak muda itu menjawab, "Tuanku, ke mana Tuan pergi patik akan ikut. Biarlah patik jadi hamba Tuan."

"Baiklah jika keinginanmu demikian. Engkau akan kuberi nama Naga Pertala," sahut Indra Maulana.

Mereka melanjutkan perjalanannya keluar masuk hutan. Sudah beberapa lama mereka tidak makan dan tidak minum. Mereka beristirahat sejenak melepaskan lelah. Mereka juga merasa lapar. Indra Maulana merasa kasihan melihat kedua saudaranya tidak berdaya. Kemudian, ia mencari makanan sendiri.

Indra Maulana berjalan ke tepi laut. Ia melihat ada seekor ikan besar muncul ke permukaan laut. Ikan dipanahnya dan ikan pun mati. Ikan hanyut sampai ke tepi pantai dan dibawa oleh Indra Maulana ke hadapan kedua saudaranya.


"Saudaraku, bakarlah ikan ini. Aku akan tidur sebentar. Jika sudah matang, kalian boleh makan," kata Indra Maulana.

Banteng Alam dan Naga Pertala mencari kayu untuk membakar ikan. Setelah semua kayu dikumpulkan, mereka mempersiapkan ikan untuk dibakar. Api dinyalakan oleh Banteng Alam dan kayu pun dibakarnya. Mereka mengangkat ikan besar ke atas perapian.

Ikan sedang dalam proses pembakaran. Wangi bakaran ikan mulai mengharum ke semua penjuru. Akhirnya, ikan pun matang.

Naga Pertala mempersiapkan kayu basah untuk alas ikan yang sudah matang. Lalu, Naga Pertala dan Banteng Alam mengangkat ikan bakar ke atas kayu yang telah disediakan.

Banteng Alam mulai membangunkan Indra Maulana untuk makan bersama, tetapi Indra Maulana mempersilakan mereka makan duluan. Kemudian, Indra Maulana meneruskan tidurnya kembali.

Banteng Alam dan Naga Pertala mulai mencicipi ikan bakar. Setelah itu, mereka memakannya dengan lahap sampai kekenyangan. Karena kekenyangan, mereka tidak bisa bangun dari duduknya.

Matahari telah menyembunyikan sinarnya di balik awan. Senja pun telah berlalu dan malam mulai tiba. Indra Maulana terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat ikan bakar tadi masih tersisa banyak. Dengan cepat ia segera duduk dan bertanya, "Adinda, mengapa ikan itu tidak kalian habiskan?"

Banteng Alam menjawab, "Ya, Kakanda. Kami telah kenyang. Perut kami tidak sanggup memakannya."

Setelah mendengar jawaban itu, Indra Maulana bersama anjing peliharaannya menghabiskan sisa ikan bakar. Ikan bakar disantap oleh mereka hingga habis dan yang tersisa tinggal tulangnya. Indra Maulana menusuk tulang ikan dengan pedangnya. Lalu, ia melemparkan tulang ikan ke arah darat laut. Setelah selesai, mereka melanjutkan perjalanannya. Mereka berjalan dengan bantuan cahaya sinar api dari kayu bakar.

Binatang malam yang ada di hutan mulai menampakkan diri. Mereka mengeluarkan ciri khas suaranya masing-masing. Sepanjang perjalanan Indra Maulana dan saudara-saudaranya, tak seekor binatang pun mengganggu mereka. Mereka berjalan terus keluar masuk hutan dan naik turun gunung menuju matahari mati.

Tulang ikan yang dilemparkan oleh Indra Maulana mendarat ke selat, yaitu bukit Negeri Janur, hingga menutupi sungai negeri itu. Air sungai yang tercampur dengan tulang ikan tidak bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika ada orang yang membasuh badannya dengan air itu, tubuhnya menjadi bengkak-bengkak.

Raja Negeri Janur bernama Cindra Rasa. Baginda merasa bersedih hati karena rakyat yang ada di Negeri Janur tidak dapat menggunakan air sungai. Baginda memerintahkan perdana menteri untuk mengeluarkan pengumuman yang berisi, "Barang siapa yang dapat mengangkat tulang ikan yang ada di sungai akan diberi hadiah negeri dan akan dinikahkan dengan anak Baginda yang bernama Putri Cindra Mahadewi, kemudian akan dijadikan raja di Negeri Janur".

Baginda sudah berbulan-bulan tidak menggunakan air sungai dan rakyat pun banyak yang meninggal karena tidak dapat mandi dan minum.

Setelah pengumuman disampaikan oleh perdana menteri kepada khalayak ramai, orang-orang kuat mulai berbondong-bondong menuju ke hulu sungai. Segala macam cara telah dilakukan oleh mereka agar tulang ikan dapat bergeser dari sungai, tetapi usaha mereka sia-sia.

Mereka yang telah berusaha menyingkirkan tulang ikan melapor ke hadapan Baginda bahwa mereka tidak berhasil. Baginda bertambah sedih hatinya setelah mendengar laporan itu.

Indra Maulana berjalan bersama saudara-saudaranya. Mereka telah sampai di seberang Negeri Janur. Ketika memasuki sebuah kampung, mereka heran karena kampung itu sunyi tidak ada penghuninya. Indra Maulana bertanya dalam hati, "Apakah kampung itu telah diserbu musuh?"

Mereka berjalan terus menuju kebun yang ada rumah tuanya. Kebun itu milik Nyai Randa. Ia berjualan bunga dan hidup sendiri. Indra Maulana memberi salam kepada Nyai Randa dan berkata, "Nenek, jika Nenek merasa kasihan kepada kami, berilah kami air minum."

Nyai Randa menjawab, "Cucuku, jika kalian ingin bayam akan Nenek beri, tetapi jika kalian minta air minum, Nenek tidak punya karena air sungai di sini tidak bisa digunakan untuk minum.

"Di hulu sungai itu ada tulang ikan yang membusuk. Baginda Raja negeri ini memberi pengumuman kepada rakyatnya bahwa siapa yang dapat mengangkat tulang ikan akan diberi negeri dan akan dijadikan menantunya. Selain itu, juga akan dijadikan raja," lanjut Nyai Randa.

Indra Maulana berkata, "Nenek, bolehkah kami menginap di sini selama dua atau tiga hari?"

Nyai Randa menjawab, "Silakan, Cucuku, tetapi keadaan Nenek begini."

Indra Maulana pun segera menjawab, "Tidak apa-apa, Nenek, yang penting kami dapat melepaskan lelah dengan tenang."

Indra Maulana menginap di rumah Nyai Randa selama dua hari. Indra Maulana bersama saudaranya ingin menolong Negeri Janur dari kesedihannya. Lalu, Nyai Randa diperintahkan oleh Indra Maulana menghadap Baginda untuk mengatakan bahwa Indra Maulana ingin mencoba membuang tulang ikan jika diizinkan oleh Allah.

Nyai Randa merasa senang hatinya setelah mendengar ucapan Indra Maulana. Nyai Randa menghadap Baginda tanpa berganti pakaian. Ia berlari-lari kecil menuju istana.

Di dalam istana Baginda sedang duduk bersama perdana menteri dan hulubalang. Mereka sedang membicarakan tulang ikan yang telah membusuk. Tak lama kemudian, Nyai Randa telah sampai ke hadapan Baginda. Nyai Randa menyembah sujud, kedua lututnya bergetar dan gugup. Ia tak bisa berkata apa pun karena kelelahan.

Baginda bertanya dengan keheranan, "Nenek tua, mengapa engkau berlari-lari ke hadapanku? Apakah engkau dikejar orang jahat?"

Nyai Randa mencoba menjawab, "Ya, Tuanku. Ampuni Nenek yang sudah tua ini. Nenek disuruh melapor ke hadapan Baginda oleh tiga orang bersaudara. Mereka ingin menolong Tuan."

Baginda Raja merasa senang hatinya setelah mendengar perkataan Nyai Randa. Baginda menyuruh perdana menteri menyambut ketiga orang bersaudara yang ada di rumah Nyai Randa. Nyai Randa pun ikut naik ke kereta bersama perdana menteri menuju rumahnya.

Rombongan kereta kerajaan telah sampai di rumah Nyai Randa. Perdana menteri menemui Indra Maulana. Ia terkejut melihat wajah ketiga bersaudara yang ada di rumah Nyai Randa. Perdana menteri berkata, "Tuanku, sembah salam dari kami. Tuan ditunggu kedatangannya oleh Baginda Raja Cindra Rasa."

Indra Maulana menjawab, "Baiklah, Paman, kita pergi sekarang.”

Ketiga bersaudara beserta anjing peliharaannya menaiki kereta kerajaan. Mereka mengendarai kereta menuju ke istana.

Setelah beberapa lamanya mereka sampai ke hadapan Baginda. Indra Maulana diterima Baginda dan dijamu sekapur sirih. Maksud kedatangan Indra Maulana telah dimengerti oleh Baginda. Baginda pun memerintahkan perdana menteri dan hulubalang untuk mengiringi ketiga saudara itu ke hulu sungai.

Indra Maulana mohon pamit kepada Baginda. Tiga bersaudara itu pergi menuju hulu sungai diiringi oleh perdana menteri dan hulubalang serta rakyatnya.

Orang ramai mengelu-elukan Indra Maulana. Indra Maulana telah sampai di hulu sungai. Ia tersenyum sendiri setelah melihat tulang ikan karena tulang ikan itu adalah tulang yang ia lempar ke selat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghunuskan pedangnya ke arah tulang ikan. Ia pun berkata dalam hatinya, "Oh, rupanya tulang ini yang membuat sengsara seluruh penghuni negeri ini."

Tulang ikan ditusuk oleh Indra Maulana dengan pedang lalu dibuang ke udara. Mereka yang menyaksikan atraksi itu senang kegirangan. Tulang ikan melayang-layang ke udara dan jatuh ke muara Negeri Binam Sahi Matu. Indra Maulana berhasil membuang tulang ikan. Rombongan pun kembali ke istana menghadap Baginda Raja.

Baginda Cindra Rasa menyambut kedatangan ketiga bersaudara. Beliau mengucapkan terima kasih kepada Indra Maulana. Lalu, Baginda berkata, "Anakku, sesuai dengan janjiku, engkau akan kunikahkan dengan putriku dan akan kujadikan raja di negeri ini."

Indra Maulana berkata, "Tuanku, ampuni hamba, bukan hamba menolak, melainkan hamba telah berniat tidak akan menikah dulu sebelum mendapat obat Bunga Pujenggi. Jika Baginda mengizinkan, Putri Baginda akan hamba jodohkan dengan Banteng Alam."

Baginda menyetujui permintaan Indra Maulana. Kemudian, Indra Maulana menceritakan tentang asal mula Indra Maulana bersama kedua saudaranya hingga kisah perjalanan Indra Maulana mencari bunga.

Semua orang yang mendengar kisah Indra Maulana terharu karena sedihnya. Setelah Baginda mengetahui bahwa ketiga saudara itu adalah anak raja, Baginda memberi pakaian kepada ketiga saudara itu.

Keluarga Baginda Cindra Rasa bersiap-siap hendak menikahkan putrinya. Selama empat puluh hari empat puluh malam kerajaan dijaga ketat.

Tibalah waktu pernikahan Banteng Alam dengan Putri Candra Mahadewa. Putri sangat cantik parasnya, begitu juga dengan Banteng Alam amat tampan wajahnya. Wajah mereka seperti bulan dan matahari. Mereka diarak berkeliling dan diadati oleh raja-raja.

Baginda sibuk menjamu para tamu. Lalu, Baginda menobatkan Banteng Alam menjadi raja Negeri Cindra.

Pesta pernikahan telah usai dan para tamu pun pulang. Sementara itu, Indra Maulana sedang termenung. Ia teringat keadaan ayahnya. Lalu, ia menghadap Baginda dan berkata, "Tuanku, hamba ingin meneruskan perjalanan karena hamba masih mempunyai tugas mencari Bunga Pujenggi. Hamba ingin menitipkan Banteng Alam kepada Tuan.”

Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, "Tentu, Anakku, Banteng Alam sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Pergilah mencari obat yang engkau maksud, semoga engkau berhasil."

Baginda menciumi Indra Maulana dan Naga Pertala. Banteng Alam pun tidak ketinggalan merangkul saudara-saudaranya sambil menangis. Mereka pun mohon diri untuk melanjutkan perjalanan.

Kemudian, diceritakan keadaan Negeri Binam Sahi. Raja negeri itu bernama Maharaja Hardan Darus dan istrinya bernama Sri Dewi. Mereka mempunyai seorang putri bernama Putri Nila Kanti. Baginda sedang bersedih karena rakyat yang ada di negeri itu buta. Baginda mengumpulkan ahli nujum untuk mengetahui penyebab penyakit buta yang diderita oleh rakyatnya. Semua ahli nujum menggunakan ilmunya masing-masing, tetapi tak seorang pun mengetahuinya. Baginda pun merasa sedih.

Perjalanan Indra Maulana dan Naga Pertala telah sampai ke sebuah kampung. Kampung itu sunyi. Mereka tak melihat penghuninya. Indra Maulana mulai curiga barangkali kampung itu sedang mengalami musibah. "Adinda, mari kita selidiki kampung ini," kata Indra Maulana kepada Naga Pertala.

Tidak jauh dari tempat Indra Maulana dan Naga Pertala berdiri, terlihat ada sebuah kebun. Di tengah kebun itu ada sebuah rumah yang dikelilingi oleh m pohon-pohonan, seperti pohon buah-buahan dan pohon bunga-bungaan. Penghuni rumah itu bernama Nenek Kebayan. Rambut Nenek Kebayan telah memutih semua, begitu juga giginya telah ompong semua. Pipinya telah berkerut. Kain kebaya yang dipakai Nenek Kebayan tergolong sangat sederhana.

Indra Maulana dan Naga Pertala menghampiri Nenek Kebayan. Nenek Kebayan terkejut melihat wajah kedua saudara itu. Indra Maulana berkata, "Nenek Kebayan, jangan takut ... kami bukan orang jahat. Kami ingin menginap di rumah Nenek, bolehkah, Nek?"

Nenek Kebayan terkejut karena tamu yang ada di hadapannya sudah mengetahui namanya, "Tuanku, hamba mohon ampun karena wajah Tuan yang begitu tampan dan Tuan sudah mengetahui nama hamba. Jika Tuan-tuan hendak menginap di sini, hamba mengizinkan, Tuan."

Mereka memasuki rumah Nenek Kebayan. Indra Maulana dan Naga Pertala diberi makanan apa adanya. Indra Maulana mengucapkan syukur alhamdulillah karena masih ada makanan yang bisa mereka makan.

Indra Maulana bertanya tentang tempat yang sunyi itu kepada Nenek Kebayan.

Nenek Kebayan menjawab, "Tuan, tempat ini sunyi karena rakyatnya menjadi buta. Baginda raja sangat sedih karena tidak seorang pun mengetahui penyebab kebutaan rakyatnya."

Ketika Indra Maulana dan Naga Pertala mencicipi makanan yang dihidangkan oleh Nenek Kebayan, Indra Maulana bertanya kembali, "Nenek, siapakah yang berkuasa di negeri ini?"

Nenek menjawab, "Raja negeri ini bernama Maharaja Hardan Darus, istrinya bernama Sri Dewi, dan anaknya bernama Putri Nila Kanti."

"Jika demikian, Nenek. Tolong sampaikan kepada Maharaja Hardan Darus bahwa ada seorang anak muda yang akan menghadap Baginda untuk membicarakan masalah itu," kata Indra Maulana sambil tersenyum. Indra Maulana berkata, "Jangan-jangan tulang ikan itu yang menjadi penyebabnya.”

Nenek Kebayan menyanggul rambutnya dengan terburu-buru. Ia berlari-lari kecil pergi menuju istana untuk menghadap Baginda. Jalan yang dilewati Nenek Kebayan berbelok-belok. Telah beberapa kali Nenek Kebayan berjalan melewati hutan rimba yang kecil. Dalam perjalanannya, sesekali ia menyeka keringat yang bergelayut di lehernya dan sesekali pula ia berhenti melepaskan lelah sambil mengatur napas yang tidak beraturan.

Setelah terlihat di depan mata berdiri sebuah istana yang kokoh, Nenek Kebayan berhenti sejenak dan mengatur kembali napasnya. Beberapa menit kemudian ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadap Baginda Raja. Ia mulai berlari-lari kecil kembali menuju istana.

Raja Hardan Darus sedang sibuk berbicara dengan para tamu dari Paseban. Mereka membicarakan masalah penyakit di dalam negerinya. Raja Hardan Darus berkata, "Seandainya di antara kalian ada yang dapat memecahkan masalah yang sedang aku hadapi, orang tersebut akan kujadikan menantu serta akan kujadikan raja di negeri ini."

Ketika Baginda Raja Hardan Darus sedang berbicara, tiba-tiba Nenek Kebayan datang menghadap Baginda Raja dengan tergopoh-gopoh dan terengah-engah sambil menyembah.

Baginda Raja Hardan Darus terkejut dan bertanya, "Hai, Nenek tua. Mengapa engkau datang menghadapku dengan terburu-buru?"

Nenek Kebayan menjawab dengan suara terputus-putus, "Aaaampun, Tuanku. Hamba ... datang ke hadapan Tuanku karena ada dua anak muda di rumah hamba akan menghadap Tuanku untuk membicarakan masalah Tuanku."

Begitu mendengar ucapan Nenek Kebayan, dengan serentak Baginda berbicara, "Perdana menteri, sambutlah kedua anak muda itu!"

Perdana menteri menyembah kepada Baginda dan segera berangkat bersama Nenek Kebayan menuju rumah Nenek Kebayan. Perdana menteri berjalan lebih dulu dan Nenek Kebayan mengikuti dari belakang.

Perdana menteri dan Nenek Kebayan telah sampai ke tempat tujuan. Nenek Kebayan membuka pintu rumahnya dengan cepat dan mempersilakan perdana menteri untuk masuk.

Begitu pintu dibuka, perdana menteri terpana memandang wajah Indra Maulana dan Naga Pertala. Wajah kedua bersaudara itu bak bulan purnama. Perdana menteri berkata dalam hatinya, "Kedua anak muda ini bukan orang sembarangan. Mereka pasti anak seorang raja."

Lalu, dengan cepat perdana menteri menyembah sujud kepada Indra Maulana dan saudaranya sambil berkata, "Ya, Tuanku. Salam takzim dari Baginda Raja dan istri. Sudilah kiranya Tuanku datang ke istana kami?"

Indra Maulana dan Naga Pertala menyambut salam perdana menteri. Indra Maulana bangkit dari duduknya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata, "Baiklah, Paman. Kita berangkat sekarang."

Nenek Kebayan cepat-cepat mengambil air minum di dapurnya. Ia menciduk air dalam tempayan dengan gayung yang terbuat dari batok kelapa. Lalu, air itu pun diteguknya. "Aaah … rasa hausku sudah terobati," Nenek Kebayan berbicara sendiri.

Sementara itu, perdana menteri bersama Indra Maulana dan Naga Pertala berjalan ke luar rumah menuju istana. Jauh di belakang mereka, Nenek Kebayan lari terbirit-birit mengikuti Indra Maulana. Anjing peliharaan Indra Maulana terkejut. Kemudian, Nenek Kebayan disambut oleh gonggongan anjing, "Guuuk! … guuuk! ... guuuk!" Nenek Kebayan mengusirnya sambil menggerak-gerakkan tangannya ke arah anjing, "Hus! ... hus! ... hus!" Mereka yang melihat kelakuan Nenek Kebayan itu tertawa terbahak-bahak.

Jalan berbelok-belok dan hutan rimba yang tidak begitu luas telah mereka lalui. Sampailah mereka ke istana. Baginda Raja menyambut kedatangan kedua anak muda yang berwajah tampan dan berkata, "Selamat datang, Anakku. Aku sangat memerlukan pertolonganmu."

Indra Maulana terdiam sejenak, lalu menyembah sambil berkata, "Ya, Tuanku. Hamba akan mengerjakannya sekarang, tetapi satu permintaan hamba, yaitu jika hamba belum kembali ..., Tuanku jangan memperbolehkan seorang pun mandi."

Baginda menyahut dengan segera, "Baiklah, Anakku." Lalu, Baginda menyuruh perdana menteri untuk memberi pengumuman yang berisi permintaan Indra Maulana ke seluruh pelosok negeri itu.

Indra Maulana dan saudaranya mohon pamit kepada Baginda, lalu mereka berjalan menuju gunung.

Perjalanan Indra Maulana dan Naga Pertala berlangsung lama hingga sampai di atas gunung. Mereka mencari hulu sungai. Setelah sampai di hulu sungai, mereka melihat tulang ikan. Indra Maulana tersenyum. Ia menghunuskan pedang ke arah tulang ikan. Tulang ikan dilemparkannya ke udara menuju laut dalam. Setelah selesai, Indra Maulana dan Naga Pertala kembali menuju istana.

Indra Maulana dan Naga Pertala telah menghadap Baginda. Baginda menyambut dengan gembira sambil bertanya, "Anakku, bagaimana kabar rakyatku?”

Indra Maulana menjawab, "Ya, Tuanku. Penyakit rakyat Tuan disebabkan oleh air sungai. Sekarang sungai itu sudah hamba bersihkan dari penyakit. Suruhlah rakyat Tuan mandi di sungai sebagai obatnya."

Baginda pun memerintahkan perdana menteri untuk memberi pengumuman kepada rakyatnya agar mereka mandi di hulu sungai.

Kentungan dipukul oleh orang-orang istana. Mereka berkeliling ke seluruh pelosok yang ada di negeri itu. Rakyat menyambut dengan gembira. Mereka serentak beramai-ramai menuju ke hulu sungai.

Rakyat yang buta itu saling menuntun temannya berbaris menuju hulu sungai dengan dipimpin oleh hulubalang istana. Begitu sampai ke tempat tujuan, mereka berebut air sungai. Ada yang menceburkan dirinya untuk mandi, ada pula yang membasuh mukanya. Mereka mulai dapat melihat kembali. Mereka bersorak kegirangan dan mengucapkan syukur kepada Allah yang menciptakan seisi bumi.

Setelah selesai, mereka pulang ke tempat masing-masing. Baginda Hardan Darus merasa gembira karena rakyatnya bisa melihat kembali. Indra Maulana dan Naga Pertala dipeluknya, "Anakku, aku mengucapkan terima kasih karena kalian telah berhasil menolong negeri ini. Siapakah kalian berdua ini?"

Indra Maulana menceritakan tentang dirinya dan tentang Naga Pertala dari awal sampai akhir.

Kemudian, Baginda berkata, "Jika demikian, aku akan menepati janjiku. Engkau akan kujadikan menantu dan akan kujadikan raja."

Indra Maulana menyembah sambil minta maaf bahwa dirinya tidak akan menikah dulu dan ia juga mengatakan bahwa sebaiknya Putri dijodohkan dengan Naga Pertala.

Baginda menyetujui dan segera memerintahkan perdana menteri untuk berjaga-jaga selama empat puluh hari empat puluh malam. Setelah hari yang keempat puluh tiba, Maharaja Naga Pertala dinikahkan dengan Putri Nila Kanti. Kedua pengantin diarak keliling negeri itu dan suasana pun menjadi ramai.

Sementara itu, Baginda Raja sedang sibuk menjamu para tamu. Begitu acara selesai, para tamu berpamitan hendak pulang ke tempat masing-masing.

Pada pagi hari yang cerah sepasang kupu-kupu sedang terbang berkejar-kejaran. Indra Maulana tersenyum melihatnya. Tiba-tiba ia teringat pesan ayahnya. Lalu, Indra Maulana menghadap Baginda untuk berpamitan akan mencari obat. Indra Maulana juga berpamitan kepada Naga Pertala.

Indra Maulana mulai melangkahkan kakinya keluar istana diiringi anjing peliharaannya. Lambat-laun istana yang kokoh itu telah jauh dari pandangan Indra Maulana. Indra Maulana berjalan dan berjalan terus tanpa mengenal lelah.



•••















6. PEPERANGAN




Sementara itu, di Negeri Bayan Sari Maharaja Syahrun sedang sibuk menyuruh perdana menterinya menyampaikan surat kepada Maharaja Bermaperi. Isi surat itu berbunyi, "Salam Ayahanda kepada Ananda Maharaja Bermaperi. Ayahanda mengabarkan bahwa Putri Nurlela Cahaya telah hilang diculik garuda. Ayahanda minta pertolongan Ananda." Surat itu dibawa oleh perdana menteri menuju Negeri Marcun dengan menunggang kuda. Kuda dipacu dengan segera dan kuda pun berlari dengan kencang.

Perdana menteri telah tiba di Negeri Marcun. Kini ia ada di hadapan Baginda. Ia menyembah sujud sambil berkata, "Ampun, Tuanku. Hamba membawa surat untuk Tuanku dari Maharaja Syahrun."

Surat itu diterima oleh Maharaja Bermaperi dan mulai membukanya. Ia membaca kata demi kata. Ia mengerutkan dahinya sejenak, lalu berkata, "Aku telah mendengar kegagahan burung garuda yang telah membunuh banyak orang. Aku tidak mau mati karena membela nyawa seorang wanita. Suruh saja Raja Syahrun mencari orang lain."

Setelah mendengar perkataan Maharaja Bermaperi, perdana menteri pergi dengan segera tanpa memohon izin. Ia memacu kudanya. Dalam hatinya perdana menteri merasa jengkel, "Mudah sekali Maharaja itu berkata demikian di depan orang banyak.”

Perjalanan perdana menteri telah sampai ke istana. Ia turun dari kudanya dan segera menghadap Baginda sambil menyampaikan kata-kata yang diucapkan oleh Maharaja Bermaperi.

Baginda mencucurkan air mata ketika mendengar laporan perdana menteri, "Nasib apakah yang akan menimpa anakku?"

Para raja, perdana menteri, dan hulubalang diperintahkan oleh Baginda untuk mencari putrinya ke seluruh pelosok negeri. Mereka berbagi tugas. Ada yang mencari ke hutan, ada yang mencari ke bukit, dan ada juga yang mencari ke tepi laut.

Sementara itu, Indra Maulana berjalan diiringi oleh anjing peliharaannya. Indra Maulana merebahkan diri di bawah pohon besar. Seketika itu pun ia tertidur dengan lelapnya.

Indra Maulana terbangun dari tidurnya dan meneruskan perjalanannya. Tanpa terasa ia telah sampai ke pinggir kota. Ia bertemu dengan orang-orang yang membawa senjata. Ia bertanya sendiri, "Ada apakah gerangan di negeri ini?"

Ternyata orang-orang tersebut adalah rombongan dari istana yang akan mencari Putri Nurlela Cahaya.

Burung garuda menjaga Putri di Gunung Bayan. Ketika garuda hendak menengok ke kiri, ia melihat Indra Maulana.

Indra Maulana dapat menemukan Putri Nurlela Cahaya, tetapi ia harus bertarung dengan penjaganya. Burung garuda mulai marah. Ia mengipaskan sayapnya ke arah Indra Maulana. Indra Maulana dengan gesit dapat mengelak setiap serangan burung garuda. Ia melompat sambil menghunuskan pedangnya ... dan akhirnya … koooak! ... koooak! suara burung kesakitan lalu mati.

Putri Nurlela Cahaya menghampiri Indra Maulana dan memeluknya. Setelah itu, Indra Maulana mulai mengerat leher garuda dan memotong lidahnya. Lidah itu dimasukkan ke tas. Indra Maulana mengatakan kepada Putri bahwa ia akan menghadap orang tuanya, sedangkan Putri Nurlela Cahaya disuruh menunggu rombongan istana yang akan menjemputnya.

Sebelum pergi, Indra Maulana memanah anjingnya supaya menjelma menjadi manusia. Ia diberi nama Bermajenggi Batara. Bermajenggi Batara diberi pedang yang terbuat dari tulang ikan oleh Indra Maulana dan disuruh mencari Ratna Kemala.

Di suatu tempat ada seorang anak muda yang bernama si Panta Wirapati. Anak muda itu berjalan hingga sampai pada garuda yang telah mati. Tidak jauh dari tempat itu ada Putri Nurlela Cahaya.

Si Panta Wirapati melihat garuda besar diam tak bergerak. Ia menggoyang-goyangkan badan garuda, tetapi tetap tidak bergerak. Ia berpura-pura bersilat dan melompat-lompat seolah-olah ia sedang melawan garuda. Kelakuan itu dilihat oleh Putri Nurlela Cahaya. Putri Nurlela Cahaya menangis di hadapan anak muda itu. Kemudian, anak muda itu berkata, "Putri, janganlah menangis, lebih baik Putri ikut denganku ke hadapan orang tuamu." Anak muda itu memaksanya. Akhirnya, Putri pun ikut juga. Kini mereka berdua telah menghadap Baginda Syahrun. Si Panta Wirapati menyembah dan menceritakan dirinya berperang melawan garuda hingga mati. Baginda percaya saja dengan omongan pemuda itu, padahal … pemuda itu telah berbohong.

Putri Nurlela benci pada anak muda itu karena ia pembohong. Putri mau dijodohkan dengan si Panta Wirapati jika orang tuanya dapat mengumpulkan seluruh rakyat di negerinya. Sebenarnya Putri berharap dapat bertemu dengan Indra Maulana.


Baginda memerintahkan perdana menterinya untuk mengumpulkan rakyatnya. Dengan segera rakyat pun telah berkumpul. Putri Nurlela Cahaya bersedih hati karena orang yang sedang ditunggu tidak juga datang.

Tiba-tiba ia melihat Indra Maulana sedang berjalan menuju kerumunan orang banyak. Putri Nurlela Cahaya berlari dan menghampirinya. Ia menangis di pelukan Indra Maulana.

Baginda marah melihat putrinya memeluk seseorang. Ia memerintahkan perdana menteri untuk menangkap Indra Maulana.

Ketika Indra Maulana akan ditangkap, Putri menghalanginya dan berkata, "Jangan kalian tangkap. Dialah yang membunuh garuda itu."

Baginda mendengar ucapan anaknya dengan heran, maka Baginda pun bertanya pada si Panta Wirapati, "Hai, anak muda. Benarkah engkau yang membunuh garuda itu?"

Si Panta Wirapati bertanya, "Mengapa Tuan tidak percaya?"

Indra Maulana menyela perkataan anak muda itu, "Jika benar engkau yang membunuh garuda itu, tunjukkanlah lidah garuda kepadaku."

Si Panta Wirapati marah, "Hai! Orang yang sombong. Garuda itu tidak berlidah. Akulah yang telah membunuhnya."

Indra Maulana kesal hatinya. Ia pun memejamkan matanya dan menghidupkan kembali garuda yang telah mati. Seketika itu juga garuda hidup kembali. Garuda menyambar-nyambar si Panta Wirapati dan mengoyak-ngoyak badannya hingga mati.

Baginda ketakutan. Ia menyuruh Indra Maulana membunuh burung garuda. Indra Maulana membunuh garuda dengan anak panahnya, lalu garuda pun jatuh ke bumi dan mati.

Baginda memeluk Indra Maulana sambil menyesali dirinya karena ia telah memaksa akan menikahkan putrinya dengan si Panta Wirapati.

Baginda bertanya pada Indra Maulana mengenai asal mula Indra Maulana. Indra Maulana pun menceritakan siapa dirinya dari awal hingga akhir. Setelah mendengar cerita Indra Maulana, Baginda menjamu Indra Maulana dengan makanan dan minuman yang lezat-lezat. Setelah itu, Baginda menyodorkan tempat sirih yang terbuat dari emas kepada Indra Maulana. Mereka melaksanakan adat makan sirih.

Ketika mereka sedang makan sirih, Baginda memohon kepada Indra Maulana agar mau menerima Putri Nurlela Cahaya menjadi istrinya. Lama juga Indra Maulana berpikir, lalu ia menyanggupi permohonan itu. Baginda merasa senang mendengar jawaban Indra Maulana.

Perdana menteri, hulubalang, dan rakyat sibuk mempersiapkan pernikahan Indra Maulana dengan Putri Nurlela Cahaya. Seperti biasanya istana dijaga ketat oleh perdana menteri dan hulubalang selama empat puluh hari empat puluh malam.

Pada hari yang telah ditentukan dilangsungkanlah pernikahan Putri Nurlela Cahaya dengan Indra Maulana. Kedua mempelai dihiasi pakaian yang indah berkilau. Setelah melaksanakan adat pernikahan, mereka diarak berkeliling istana. Acara pernikahan diadakan semeriah mungkin dan rakyat pun diberi kesempatan untuk ikut bergembira dengan keluarga istana. Baginda pun sibuk menerima para tamu undangan.

Pendek cerita, pesta pernikahan telah selesai. Putri Nurlela Cahaya telah menjadi istri Indra Maulana. Mereka hidup berbahagia. Dalam kebahagiaan hidupnya, Indra Maulana tidak melupakan Nenek Kebayan. Ia mengajak Nenek Kebayan untuk tinggal di istana bersamanya.

Berita tentang pernikahan Indra Maulana dengan Putri Nurlela Cahaya terdengar oleh Maharaja Bermaperi. Maharaja Bermaperi sangat marah karena calon istrinya telah diambil oleh Indra Maulana. Maharaja Bermaperi mengirim utusan kepada Baginda Syahrun untuk berperang di Padang Bayan Sari.

Kedua kerajaan sibuk mempersiapkan senjata peperangannya. Mereka saling menyiagakan barisan pemanah, barisan pedang, dan barisan lainnya. Malam itu di istana Baginda Syahrun bagaikan siang hari karena ribuan obor dipasang di mana-mana.

Menjelang fajar pasukan istana telah dibangunkan oleh suara terompet. Beberapa lama kemudian tambur peperangan yang membuat semangat tempur dibunyikan. Aba-aba keberangkatan pun terdengar. Barisan demi barisan mulai diberangkatkan. Indra Maulana melepas pasukannya dan akan menyusul kemudian.

Pasukan Maharaja Bermaperi telah menunggu lawannya dengan tidak sabar. Dari kejauhan terdengar suara Maharaja Bermaperi menantang perang. Peperangan pun terjadi dengan seru. Suara nyaring pedang beradu terdengar di mana-mana. Darah mereka berceceran. Banyak rakyat Maharaja Bermaperi tergeletak tak berdaya.

Ketika pasukan Maharaja Bermaperi bergelimpangan, datanglah serombongan pasukan dari Negeri Gandung Sari. Ternyata mereka adalah saudara sepupu Maharaja Bermaperi yang akan membantu Maharaja Bermaperi berperang melawan Maharaja Syahrun. Baginda Syahrun telah mendengar bala bantuan untuk Maharaja Bermaperi dan ia pun hendak minta bantuan negara lain untuk menghadapi lawannya, tetapi dicegah oleh Indra Maulana.

Peperangan bertambah seru karena rombongan saudara sepupu Maharaja Bermaperi telah bersatu dengan rombongan Maharaja Bermaperi. Bangkai kuda dan gajah berserakan di mana-mana. Demikian juga dengan mayat manusia. Pasukan Maharaja Bermaperi bercerai-berai karena takut kepada lawannya. Mereka yang tersisa saling menikam dan saling menombak.

Kini giliran Maharaja Bermaperi turun ke medan perang. Ia membunuh siapa pun yang ia hadapi sehingga banyak rakyat Baginda Syahrun yang meninggal dunia.

Indra Maulana melihat Maharaja Bermaperi berperang dengan membabi buta. Dengan segera ia menunggang kuda dan memacu kudanya dengan cepat ke arah Maharaja Bermaperi. Ketika melihat pasukannya tergeletak tak berdaya, ia memejamkan matanya dan menyebut nama Brahmana. Seketika itu juga pasukan Baginda Syahrun hidup kembali.

Pasukan yang hidup kembali menyerbu pasukan Maharaja Bermaperi. Peperangan semakin seru. Sementara itu, Indra Maulana telah sampai di hadapan Maharaja Bermaperi. Maharaja Bermaperi bertanya, "Hai! Anak muda. Berani benar engkau melawanku. Siapakah engkau sebenarnya?"

Indra Maulana menjawab, "Hai! Maharaja Bermaperi. Aku adalah menantu Maharaja Syahrun. Akulah yang mengambil tunanganmu."

Mendengar perkataan Indra Maulana, Maharaja Bermaperi marah. Ia mengayunkan pedangnya ke arah Indra Maulana, tetapi Indra Maulana melompat dengan gesit. Lalu, Maharaja Bermaperi mengeluarkan trisulanya dan menghunusnya ke arah Indra Maulana, tetapi trisula itu pun tidak mengenai Indra Maulana. Akhirnya, ia mengeluarkan panah.

Panah sakti itu tidak dapat melawan Indra Maulana. Kini giliran Indra Maulana mengeluarkan panahnya sambil berkata, "Hai! Maharaja Bermaperi, terimalah ini!" Panah itu melesat dengan cepat dan tepat mengenai kepala Maharaja Bermaperi. Maharaja Bermaperi pun tewas.

Pasukan Maharaja Bermaperi yang melihat kejadian itu menyerah dengan cepat dan sujud di hadapan Indra Maulana. Lalu, Indra Maulana kembali ke istana menghadap Baginda Syahrun.

Baginda Syahrun memeluk Indra Maulana. Demikian juga dengan Putri Nurlela Cahaya. Putri menangis di pelukan suaminya. Indra Maulana menyambut tangan istrinya sambil mengusap air matanya.

Seisi kerajaan Baginda Syahrun mengadakan pesta kemenangan. Baginda menjamu perdana menteri, hulubalang, dan rakyatnya.

Maharaja Bahrun Dewa dan Maharaja Gardan Dewa adalah dua orang bersaudara di Negeri Balantara Dewa. Mereka telah berhasil menemukan Putri Ratna Kemala dan mengantarkannya ke hadapan Maharaja Syaidil Arifin.

Beberapa tahun telah berlalu kedua saudara itu mengirim surat kepada Maharaja Syaidil Arifin melalui utusannya untuk menagih janji agar Putri Ratna Kemala dinikahkan dengan mereka.

Setelah Maharaja Syaidil Arifin membaca surat, ia sangat marah karena tidak mau menikahkan Putri Ratna Kemala dengan keduanya.

Utusan Kerajaan Bahrun Dewa kembali ke istana dan menceritakan semua perkataan Maharaja Syaidil Arifin. Maharaja Bahrum Dewa dan Maharaja Gardan Dewa sangat marah dan akan menyerbu Kerajaan Syaidil Arifin.

Segala persiapan peperangan telah dilakukan oleh Maharaja Bahrum Dewa. Keesokan harinya mereka berjalan menuju Negeri Khaibar. Segala macam bunyi-bunyian terdengar sampai ke luar kota negeri itu. Tak lama kemudian, mereka telah sampai di Padang Bayansyah dekat Negeri Khaibar. Mereka mendirikan tenda-tenda.

Maharaja Syaidil Arifin mendengar kabar bahwa Maharaja Bahrun Dewa telah siap menunggu tantangan pasukan Maharaja Syaidil Arifin. Persiapan perang pun dilaksanakan. Pasukan Maharaja Syaidil Arifin sibuk dengan persiapan masing-masing. Ada yang mempersiapkan gadanya, ada yang mengasah pedangnya, dan ada juga yang sedang memeriksa panahnya.

Keesokan harinya Maharaja Syaidil Arifin memerintahkan Perdana Menteri Kusambi memimpin pasukannya menuju Padang Bayansyah. Pertempuran pun terjadi. Pertumpahan darah tak dapat dihindarkan lagi. Peperangan belum juga selesai hingga pagi hari. Perdana Menteri Kusambi membunuh lawannya dengan berang sehingga pasukan Bahrun Dewa banyak yang lari tunggang-langgang.

Genderang berbunyi tanda peperangan dihentikan. Kemudian, Perdana Menteri Kusambi kembali ke istana dan disambut oleh Baginda dengan senang.

•••















7. KEBAHAGIAAN INDRA MAULANA




Tengah malam Putri Ratna Kemala bermimpi bahwa ia bertemu dengan Indra Maulana. Ia terbangun dari tidurnya. Sementara itu, suara lolongan anjing dan suara burung hantu sayup-sayup terdengar di luar istana. Malam itu malam bulan purnama. Putri Ratna Kemala tampak gelisah. Ia ingin malam cepat berganti pagi, tetapi waktu begitu lama. Ayam jago pun terdengar nyata bersahutan.

Keesokan harinya ia memberitahukan gambaran mimpinya kepada para dayang. Mereka percaya bahwa mimpinya akan menjadi kenyataan.

Ketika sang fajar memancarkan sinarnya dan menghangatkan bumi, Indra Maulana duduk di kediamannya. Ia memikirkan surat dari Baginda Syaidil Arifin. Surat itu berbunyi bahwa Baginda minta bala bantuan perang.

Baginda Syahrun diberi tahu oleh Indra Maulana tentang surat itu. Baginda menyetujuinya. Indra Maulana tersenyum ketika Bermajenggi ingin ikut berperang. Bermajenggi terpikat hatinya oleh Putri Ratna Kemala.

Indra Maulana memerintahkan perdana menteri, hulubalang, dan rakyatnya untuk membantu Baginda Syaidil Arifin melawan Maharaja Bahrun Dewa. Mereka mempersiapkan senjata. Malam pun tiba.

Mentari belum menampakkan dirinya, sedangkan genderang telah berbunyi bertalu-talu. Seisi istana dan rakyat Baginda bangun untuk mempersiapkan perang melawan pasukan Maharaja Bahrum Dewa.

Menjelang pagi terompet yang membangunkan semangat perang dibunyikan dan pasukan Baginda pun berangkat menuju Kerajaan Baginda Syaidil Arifin.

Sementara itu, Pasukan Maharaja Bahrum Dewa sedang bertarung dengan pasukan Maharaja Syaidil Arifin.

Langkah pasukan Indra Maulana telah sampai di tempat peperangan. Mereka bergabung dengan pasukan Maharaja Syaidil Arifin. Bermajenggi membunuh lawannya dengan keji, sedangkan Indra Maulana menghampiri Maharaja Bahrun Dewa dengan kudanya. Keduanya sama-sama sakti. Maharaja Bahrum Dewa menghunuskan pedang saktinya ke arah Indra Maulana, tetapi tidak mengenai tubuh Indra Maulana. Ketika Maharaja Bahrum Dewa tidak bersenjata lagi, Indra Maulana menangkap leher Maharaja Bahrun Dewa dan Maharaja Gardan Dewa. Lalu, diadukan kepalanya dengan keras sehingga tewas. Pasukan Indra Maulana bersorak-sorai. Mereka berpelukan.

Kedatangan Indra Maulana terdengar oleh Putri Ratna Kemala. Cepat-cepat ia mengambil Bunga Pujenggi dan menyambut Indra Maulana dengan tangis kerinduan seorang adik terhadap kakaknya.

Baginda Syaidil Arifin menyambut Indra Maulana dengan senang. Pasukan Indra Maulana dan pasukan Syaidil Arifin dijamu oleh Baginda Syaidil Arifin dengan makanan yang lezat-lezat.

Akhirnya, Indra Maulana dapat bertemu kembali dengan Putri Ratna Kemala yang telah lama dicari. Kebahagiaan mereka pun tak dapat dihindari. Seluruh penghuni istana berpesta pora menyambut kemenangan Indra Maulana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BETAWOL