PENGADILAN ABU SYAHMAH




KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA




Penyediaan bacaan sastra untuk anak-anak merupakan investasi budaya untuk masa depan bangsa. Adalah suatu kenyataan bahwa anak-anak kita kini lebih akrab dengan Batman yang bisa berayun-ayun dari ketinggian dan terbang untuk menyelamatkan korban kejahatan daripada dengan Gatotkaca dalam cerita wayang yang juga bisa terbang dan berayun-ayun di udara. Anak-anak kita sekarang lebih mengenal Romi dan Yuli atau Romeo dan Juliet ketimbang mengenal Pranacitra dan Rara Mendut atau Jayaprana dan Layonsari.

Pentingnya bacaan anak-anak sudah menjadi kesadaran kolektif bangsa, bahkan sebelum kemerdekaan seperti yang dapat kita lihat pada terbitan Balai Pustaka baik pada masa penjajahan. Pada masa setelah kemerdekaan, misalnya, Balai Pustaka yang telah menjadi badan penerbit Pemerintah telah pula menerbitkan berbagai buku bacaan untuk anak-anak itu. Melalui bacaan anak-anak yang dipersiapkan dengan baik, akan dilahirkan para pembaca yang setelah dewasa akan memiliki kebiasaan membaca yang kuat. Tradisi membaca yang kuat memungkinkan berkembangnya dunia bacaan dan pada gilirannya akan mengenbangkan pula kehidupan kesastraan. Hidup dan berkembangnya kesastraan sebuah bangsa akan bergantung pada para pembacanya yang setia.

Pusat Bahasa sudah sejak lama menyediakan bacaan yang digali dari kekayaan budaya bangsa masa lampau yang berasal dari naskah sastra lama dan sastra daerah. Inventarisasi yang sudah dilakukan sebelumnya telah menghasilkan sejumlah karangan yang berupa salinan dan terjemahan naskah sastra lama ke dalam aksara Latin dan dalam bahasa Indonesia. Penyediaan bacaan anak-anak yang didasarkan pada naskah tinggalan nenek moyang itu hakikatnya merupakan tindak lanjut yang berkesinambungan. Buku yang sekarang ada di tangan para pembaca hakikatnya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pengembangan kesastraan yang disalingkaitkan dengan pembinaan.

Setelah wujud dalam bentuk seperti yang ada di tangan Anda, buku bacaan anak ini telah mengalami proses panjang yang tentu saja melibatkan berbagai pihak sejak naskah itu masih berada di berbagai tempat di tanah air hingga menjadi bacaan anak-anak yang layak baca. Untuk itu, Pusat Bahasa mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah turut serta terlibat dalam rangkaian kegiatan yang berujung pada penerbitan buku bacaan anak-anak ini. Semoga buku ini bermanfaat untuk menambah kecintaan anak Indonesia terhadap sastra Indonesia.


Jakarta, Juni 2010


Yeyen Maryani
Koordinator Intern

•••















UCAPAN TERIMA KASIH




Cerita berjudul Pengadilan Abu Syahmah ini diadopsi dari karya sastra lama berbahasa Melayu berjudul Hikayat Abu Syahmah dari hasil koleksi Museum Negeri Provinsi Kalimantan Barat. Naskah tersebut merupakan hasil transliterasi H. Mirza, Spd. dan Basini dengan narasumber Syahrul Yadi, S.Ag.

Pengadilan Abu Syahmah mengisahkan tentang syiar Islam yang dilakukan oleh Umar bin Khattab r.a. di kota Madinah. Umar rela kehilangan anak sulungnya yang senantiasa membangkang terhadap ajaran Allah. Umar mengusir dan tidak mengakui anak pertamanya sebagai anak kandung sebelum ia kembali ke jalan Allah hingga akhir hayat si sulung. Bahkan, Umar rela menggiring anak bungsunya ke arena pengadilan ketika si bungsu terbukti melanggar larangan yang telah ditetapkan oleh Allah hingga menuju ajalnya di pengadilan.

Walaupun sangat pedih menyaksikan pengadilan serta hukuman yang harus dijalani oleh anak-anaknya, Umar tetap ikhlas dan sabar dalam menghadapi cobaan yang telah digariskan oleh Allah kepadanya. Keikhlasan dan kesabaran tersebut dilakukan Umar semata-mata untuk menegakkan hukum Allah dan untuk mencari rida-Nya, walaupun harus dengan mengorbankan nyawa kedua anaknya.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. H. Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa; Dr. Sugiyono, Kepala Bidang Pengembangan; dan Dr. Dedi Puryadi, Kepala Sub-bidang Pembakuan dan Kodifikasi yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan naskah cerita remaja ini. Akhir kata, mudah-mudahan cerita Pengadilan Abu Syahmah ini bermanfaat dan dapat dijadikan bahan pembelajaran moral bagi anak bangsa di negeri tercinta. Setidaknya, dapat dijadikan sarana untuk memperkenalkan cerita lama kepada remaja pada khususnya, dan masyarakat di seantero Nusantara pada umumnya.


Penulis

•••















1. KHALIFAH UMAR DAN MADINAH




Kota Madinah tampak sepi pada pagi hari. Padang pasir di kota itu tampak gersang dan panas di siang hari. Di sana tidak tampak tumbuhan, hijau rerumputan tidak akan tumbuh di tempat itu. Kalaupun ada tumbuhan hanya satu sampai dua helai lalang yang tingginya dapat mencapai dua meter. Lalang kering itu berwarna kecokelatan dan sebagian telah menghitam karena terbakar terik matahari. Bentuk tumbuhan itu hampir menyerupai lidi. Ketika pagi datang, sebagian peternak di kota itu sibuk membeli rumput di kota tetangga yang dikenal dengan nama kota Tabuk. Kota itu berdekatan dengan Yaman. Di sana udaranya jauh lebih dingin dan bersih dibandingkan dengan kota Madinah karena wilayah tersebut sering diguyur hujan. Tabuk merupakan daerah penghasil rumput sebagai pakan utama kambing, domba, dan unta untuk wilayah sekitar itu termasuk ternak di wilayah sekitar Madinah. Kota Madinah dikenal sebagai kota para khalifah. Salah satu khalifah terkenal di kota itu bernama Umar bin Khattab. Sebagai khalifah terkenal, Umar bin Khattab sangat dihormati dan disayangi oleh hampir seluruh warga kota Madinah sehingga tidak satu pun warga muslim di kota tersebut yang berani membangkang terhadap Umar bin Khattab. Berbeda halnya dengan bangsa Yahudi, mereka justru sangat memusuhi khalifah ternama itu dengan alasan tidak mau mendengar syiar Islam yang dilakukan oleh khalifah kondang itu. Bangsa Yahudi dikenal sebagai pembangkang. Bangsa pembangkang itu tidak mau menjalankan perintah Allah dan tidak mau menghindari segala larangan yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Suatu hari, istri Umar bin Khattab mengandung anak pertama mereka. Saat itu hampir setiap waktu kandungan istri Umar bin Khattab terasa sakit. Sakitnya tiada tertahankan sehingga istri Umar bin Khattab sering pingsan, siuman, dan pingsan kembali. Keadaan itu terjadi berulang kali. Karena sakitnya, istri Umar merasa putus asa dan sering berangan-angan untuk menggugurkan kandungannya. Segala obat telah diminum dan segala tabib telah didatangkan untuk menyembuhkan kandungan istri Umar. Akan tetapi, sakitnya tidak pernah dapat disembuhkan. Suatu ketika istri Umar bin Khattab menyampaikan keinginannya pada sang suami untuk menggugurkan kandungannya, tetapi keinginan buruk itu ditolak dengan alasan takut dilaknat oleh Allah. Istri Umar memohon sekali lagi agar keinginannya dikabulkan sang suami, tetapi tetap saja tidak dikabulkan karena dianggap melanggar ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah sebab menggugurkan kandungan berarti melenyapkan nyawa seseorang dan pekerjaan itu sangat dimurkai Allah. Mendengar penjelasan yang menakutkan itu, istri Umar pun mengerti dan tidak lagi bersikeras untuk menggugurkan kandungan hanya karena alasan sakit.

Dari hari ke hari, minggu ke minggu, istri Umar senantiasa berusaha menabahkan hati dalam menghadapi rasa sakit yang telah diberikan Allah kepadanya. Bahkan, dari bulan ke bulan, ia berusaha sekuat tenaga untuk ikhlas menjalani rasa sakitnya yang tidak tertahankan. Sembilan bulan sudah usia kandungannya dan tibalah saatnya untuk melahirkan. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba dan lahirlah putra pertama penerus generasi Umar bin Khattab. Bayi laki-laki itu diberi nama Abdullah. Abdullah berparas tampan dan berkulit putih. Bayi mungil itu bermata tajam, berambut hitam, ikal, dan tebal. Dari waktu ke waktu, Abdullah tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat dan gagah. Namun, di balik kegagahannya Abdullah termasuk anak pembangkang.

•••















2. ABDULLAH SANG PEMBANGKANG




Sebagai putra khalifah, Abdullah berkelakuan buruk dan suka membangkang terhadap ayah bundanya serta sering melalaikan tugas-tugasnya sebagai umat manusia terhadap sang Pencipta. Abdullah sering tidak salat karena alasan berbagai hal sehingga sering membuat keluarganya merasa berdosa dan prihatin karena peringatan sanak keluarganya tidak pernah didengar. Ayah dan ibu Abdullah tidak pernah bosan dan lelah memperingatkan anak sulungnya itu untuk menjalankan ibadah salat. Akan tetapi, anak khalifah kondang itu senantiasa membantah dan terus membantah sehingga ayah ibunya menjadi sedih dan murka dengan perangai anak sulungnya. Ketika subuh tiba, Abdullah masih tertidur pulas dan tidak pernah tergerak hatinya untuk melakukan salat Subuh.

"Abdullah, mengapa kau tidak segera bangun?" ujar ibunya.

"Aku capek, Bu, dan rasanya masih sangat mengantuk," jawab Abdullah membela diri.

"Secapek apa pun hidupmu kau tetap berkewajiban menunaikan ibadah salat," ucap ibunya menasihati.

"Aku tahu, Ibu, tetapi badanku rasanya lelah sekali. Aku butuh istirahat," bantah Abdullah.

"Setelah salat Subuh, kau bisa tidur kembali. Jadi, tidak ada alasan untuk mengelak," ujar sang ibu menegaskan.

"Berisik! Aku capek sekali dan aku tidak mau waktu istirahatku terganggu oleh apa pun," bantah Abdullah dengan keras.

Ibu separuh baya itu panas hatinya dan mendatangi kamar anak sulungnya itu dengan langkah cepat. Ketika itu, Abdullah sedang telungkup sambil menutupi telinganya.

"Hai, Abdullah, mengapa kau menutupi telingamu dengan bantal? Rupanya kau sedang belajar menjadi tuli, bahkan ketika mendengar suara azan pun telinga kaututupi dengan bantal. Itu pembangkangan namanya! Yang Mahakuasa akan murka! Terlebih hanya karena ingin mendengkur!" bentak ibunya dengan marah.

Abdullah tidak peduli dan ia mendengkur kembali hingga siang hari saat matahari sudah tinggi dan sinarnya terik menyinari bumi.

Ketika waktu zuhur tiba, Abdullah sibuk dengan segala urusan pekerjaan dan permainan untuk melepas lelah setelah beberapa jam memeras otak dan bekerja. Oleh karena itu, Abdullah sering lalai dan lupa salat dengan alasan sibuk dengan pekerjaan. Kelalaiannya sering membuat teman-teman sekerjanya merasa terpanggil untuk menegur dan mengingatkan, tetapi peringatan teman-teman tidak pernah diindahkan, bahkan dianggap sebagai angin lalu.

"Hai, Abdullah! Mengapa kau masih duduk di sini? Bukankah sekarang sudah waktunya salat Zuhur? Teman-teman sudah melangkah ke musala. Mengapa kau tidak menyusul mereka?" tegur Umar teman terdekatnya.

"Tunggu dulu! Tanggung nih! Tinggal sedikit lagi sebab kalau terputus suka lupa kelanjutannya," ujar Abdullah.

"Urusan akhirat justru yang tidak boleh ditunda,” ujar Umar menambahkan.

"Tetapi ini benar-benar tanggung dan takut lupa kelanjutannya," jawab Abdullah membela diri.

"Kalau soal itu mudah caranya. Hentikan dahulu pekerjaan lalu buat catatan-catatan untuk melanjutkan pekerjaan itu. Dengan begitu, insya Allah tidak akan ada pekerjaan yang terlupakan atau terabaikan," kilah Umar menegaskan.

"Mengapa kau jadi mengajari aku bagai khalifah?” ujar Abdullah menunjukkan ketidaksukaannya.

"Maaf, Abdullah, kalau urusan dunia tidak akan ada habisnya selama kita masih hidup. Oleh sebab itu, kita jangan diperbudak olehnya," jawab Umar merendah.

"Aku tidak sudi kau dikte seperti ini!" bantah Abdullah.

"Aku bukan mendikte, tetapi justru sayang kepadamu. Kalau bukan sayang, buat apa aku buang-buang tenaga mendekatimu serta menegurmu. Buang-buang waktu saja!" ujar Umar agak keras.

"Sudahlah, kau duluan saja nanti kalau mau aku menyusul," jawab Abdullah menghindar.

"Benar, ya! Kami menunggumu," sahut teman-teman yang lain.

"Berengsek!" gumam Abdullah geram. "Buat apa mereka mengatur hidupku. Urus saja hidup kalian masing-masing," gerutu Abdullah dengan wajah memerah.

Ketika waktu asar tiba, Abdullah sibuk di perjalanan pulang menuju ke tempat tinggalnya sehingga sering melalaikan salat dengan alasan sedang dalam perjalanan. Hal itu sering diingatkan oleh sang kusir unta agar majikannya, Abdullah, berhenti sejenak di masjid atau musala untuk menunaikan salat Asar agar hati menjadi tenang dan nyaman dalam perjalanan menuju rumah. Walaupun demikian, peringatan itu justru membuat sang kusir dicaci maki karena dianggap tidak sopan dan mendikte atasan.

"Ayo pulang, kita nanti kesorean," ajak Abdullah kepada kusirnya.

"Pak, itu suara azan. Bukankah kita sebaiknya salat Asar dahulu biar tenang di perjalanan?" ujar kusir itu mengingatkan majikannya.

"Ah, gampang. Itu soal kecil," ucap Abdullah tanpa beban.

"Perjalanan kita jauh, Pak! Nanti tidak mendapatkan waktu asar," jawab kusir penuh harap.

"Bisa! Masa tidak bisa. Sampai rumah nanti ‘kan belum magrib, jadi masih bisa untuk salat Asar," ucap Abdullah ringan.

"Benar, Pak! Tidak salah tetapi bagaimana jika kita terkena halangan di jalan?" jawab kusir itu penuh keraguan.

"Sudahlah! Sekarang kita jalan saja biar nanti tidak terlalu malam di jalan," pinta Abdullah tidak sabar.

"Baik, Pak!" seru kusir itu menuruti perintah sang majikan.

Unta berlari menuruni bukit dengan cepat. Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam terlampaui dengan cepat pula. Hari pun makin gelap sebagai pertanda bahwa senja akan tiba. Ketika itu, sang kusir kembali teringat bahwa mereka belum menunaikan salat Asar.

"Maaf, Pak! kita belum salat Asar!" Kusir itu kembali mengingatkan.

"Aduh, tanggung sekali, kita sudah hampir sampai rumah. Mengapa harus berhenti di jalan hanya sekadar untuk salat? Apakah tidak ada pekerjaan lain yang lebih berguna?" bantah Abdullah semena-mena.

"Maaf, Pak! Bagi saya, salat wajib hukumnya, terserah bagi Bapak," jawab kusir itu seolah membantah pendapat sang majikan.

"Terserahlah! Yang pasti aku tidak mau berhenti di jalan hanya untuk sekadar salat sebab lebih cepat sampai di rumah lebih baik bagiku. Aku tidak peduli dengan urusan salat," ujar Abdullah dengan mantap.

Karena tidak diberi kesempatan salat, kusir itu mengendarai unta dengan sangat kencang sehingga nyaris saja terjerumus ke dalam lembah yang sangat dalam.

"Hei, apa-apaan ini! Mengapa kamu jadi seperti orang kesetanan?" bentak Abdullah dengan muka merah.

"Habis saya harus bagaimana?" jawab kusir itu mulai terpancing untuk marah.

"Nanti ‘kan bisa salat di rumah," bentak Abdullah kesal.

"Sudah tidak mungkin sebab jarak menuju rumah masih sangat jauh," ucap kusir itu datar.

"Mengapa tidak mungkin? Biarpun waktu asar hampir habis, tetapi selama waktu magrib belum tiba boleh ‘kan salat Asar?" tanya Abdullah memaksa.

"Boleh-boleh saja, tetapi saya tidak termasuk orang yang bodoh dan suka mengabaikan salat hanya demi perjalanan pulang ke rumah. Semuanya dapat diatur agar tidak salat setelah hampir habis waktunya," jawab kusir itu mengajari majikannya.

"Tadi mengapa kamu tidak salat sebelum unta berangkat untuk pulang?" tanya Abdullah pura-pura perhatian.

"Tadi kata Bapak gampang, bisa diatur. Saya pikir gampang dan bisa diaturnya itu dengan cara berhenti sejenak dan salat di jalan," jawab kusir dengan tegas.

"Lalu apa maumu sekarang?" tanya Abdullah dengan kasar.

"Saya mau berhenti sejenak dan salat di jalan atau salat sebelum kita berangkat tadi. Ternyata, keduanya tidak boleh dipilih," jawab kusir itu membantah.

"Ya sudah, kalau mau turun salat turun saja, tetapi setelah itu jangan harap kau bekerja lagi bersamaku," ujar Abdullah dengan pedas.

"Terima kasih, Pak! Lebih baik saya tidak bekerja lagi dengan Bapak daripada saya harus kehilangan hak-hak saya untuk beribadah," jawab kusir itu sambil berhenti mengendarai unta.

"Oh, baguslah kalau begitu. Besok kamu jangan datang lagi kepadaku," bentak Abdullah dengan mantap.

"Tidak usah diminta, saya juga sudah tahu," jawab kusir itu membela diri.

"Kalau begitu, pergilah kau sekarang juga dan jangan muncul-muncul lagi di hadapanku sebab tidak sudi lagi aku melihat wajahmu," bentak Abdullah dengan berang.

"Baiklah, saya akan pergi sekarang, tetapi serahkan dulu gaji saya bulan ini," pinta kusir itu menuntut haknya.

"Apa katamu! Kau minta gaji. Aku tidak akan memberikan gaji itu padamu sebab kau bekerja belum penuh sebulan," bantah Abdullah dengan sombong.

"Kalau Bapak tidak memberikan hak saya tidak mengapa. Akan tetapi, jangan menyesal kalau Bapak dilaknat malaikat karena makan hak orang. Walau belum genap satu bulan, saya sudah bekerja selama tiga minggu berarti ada hak uang saya sejumlah tiga minggu kerja," bantah kusir itu menjelaskan.

"Aku tidak peduli dengan apa pun, kecuali bila kau menuruti perintahku," bentak Abdullah menyudahi perbalahan itu.

Abdullah terpaksa membawa unta itu sendiri menuju rumahnya. Ketika magrib tiba, putra khalifah itu sampai di rumah tinggalnya. Sesampainya di rumah, ia sibuk berbenah diri untuk membersihkan badan dan melakukan berbagai kebiasaan untuk meluruskan badan serta otot-otot agar kendur dan tidak kaku-kaku setelah lelah bekerja. Hal itu sering membuat istrinya menjadi cerewet dan sibuk mengingatkan serta menasihati agar segera melakukan salat Magrib.

"Kak, mari kita salat Magrib dulu sebelum makan malam," pinta istrinya dengan santun.

"Kau duluan sajalah. Nanti aku menyusul," ujar Abdullah seperti menghindar.

"Mengapa harus aku duluan? Bukankah lebih baik kita salat berjamaah bersama?" tanya istrinya.

"Sudahlah, yang penting kau salat duluan, nanti segalanya akan beres," jawab Abdullah meyakinkan.

"Tidak, aku ingin salat berjamaah bersama Kakak," bantah istri Abdullah.

"Mengapa kau harus bergantung kepadaku?" tanya Abdullah kesal.

"Sebab engkau kepala rumah tangga sekaligus imam dalam rumah tanggaku," ujar istri Abdullah bertahan.

"Aku memang kepala rumah tangga dalam keluarga ini, tetapi bukan berarti engkau harus menggantungkan hidupmu dalam segala hal," sahut Abdullah emosi.

"Dalam hal-hal tertentu yang sangat duniawi aku bisa melepaskan ketergantunganku kepadamu, tetapi dalam hal iman dan takwa aku akan menuntut dirimu sebagai imamku," jawab istrinya seraya memohon.

"Terserahlah! Aku lelah! Aku capek sekali! Jadi, jangan coba-coba mengaturku. Aturlah hidupmu sendiri dan aku akan mengatur hidupku sendiri!" bentak Abdullah ke arah istrinya.

"Jadi, kita harus hidup masing-masing? Baiklah!" teriak istrinya, "Mulai hari ini kita berjalan di rel kita masing-masing. Kita cari makan masing-masing, masak masing-masing, mencuci, menggosok, dan tidur masing-masing."

"Itu lebih baik dan mulai detik ini kita tidak boleh saling bergantung dan tidak boleh saling mengganggu!" tantang Abdullah lebih berani.

"Kalau demikian, lebih baik kembalikan aku ke rumah orang tuaku agar aku tidak pernah mengganggumu," pinta istrinya untuk terakhir kali.

Sesungguhnya, maksud istri Abdullah mulia. Ia mengajak suaminya untuk segera melakukan salat Magrib karena waktu magrib sangat pendek dibandingkan dengan beberapa waktu salat lain seperti Zuhur, Asar, dan Isya. Namun demikian, Abdullah tetaplah sebagai manusia yang buta dan tuli dengan segala perintah Allah sehingga tidak lagi dapat membedakan mana kewajiban dunia dan mana kewajiban akhirat, mana hubungan dengan sesama manusia dan mana hubungan dengan sang Pencipta.

Ketika waktu isya tiba, putra sulung Umar bin Khattab itu sibuk dengan seremonial menjelang tidur, dari sikat gigi, berganti pakaian tidur, dan sibuk dengan berbagai bacaan yang dianggapnya sebagai sarana untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan dan kecerdasan sekaligus sebagai sarana pengantar tidur yang dianggap mewah dan modern sehingga sering lebih dahulu tertidur dengan menggenggam buku atau majalah terbitan terkini yang dapat melalaikan salat Isya dengan alasan capek atau tertidur.

Ketika waktu isya tiba, ayahanda Baginda Umar bin Khattab sering menegur serta mengajak salat Abdullah.

"Nak, ayolah kita bersama-sama ke masjid untuk salat Isya berjamaah," ucap Umar bin Khattab mengajak anaknya.

"Tidak, Ayah! Aku salat Isya di rumah saja. Kalau Ayah mau silakan berangkat saja. Aku tidak dulu," jawab Abdullah menghindar.

"Mengapa kau tidak tertarik untuk salat Isya berjamaah di masjid? Bukankah pahalanya jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan salat sendiri di rumah?" tanya ayahandanya, Umar bin Khattab, dengan sabar.

"Tidak apa-apa, Ayah! Aku sedang ingin di rumah," sahut Abdullah seraya menghindar dari ajakan ayahnya.

"Di masjid banyak teman sepermainanmu. Apakah kamu tidak berkeinginan untuk bertemu dengan teman-temanmu? Rasanya sudah lama kau tidak kumpul-kumpul dengan mereka," rayu ayahnya dengan sabar.

"Tidak, Ayah! Aku sedang tidak ingin bertemu siapa pun," jawab Abdullah meyakinkan ayahnya.

"Ayah tidak percaya kalau kau sedang tidak ingin bertemu siapa pun. Jangan-jangan ada alasan lain yang kau sembunyikan," goda ayahnya.

"Tidak ada, Ayah. Aku sedang capek saja," sahut Abdullah malas-malasan.

"Apa? Capek, katamu! Itu bukan alasan. Allah akan marah bila umat-Nya menangguhkan salat hanya karena capek," sahut ayahnya mulai agak emosi.

"Maaf, Ayah, bukan capek tetapi mengantuk," sahut Abdullah meralat kata-katanya yang seolah keliru.

"Abdullah, sekarang ayah tahu bahwa sesungguhnya kau memang tidak mau salat, bahkan menurut ibu, kamu memang sering melalaikan salat," jawab sang ayah emosi.

Ketika itu, Umar bin Khattab mulai dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya Abdullah termasuk jenis orang yang suka melalaikan salat, bahkan dapat dikatakan sebagai manusia yang sama sekali tidak punya rasa tanggung jawab terhadap kewajiban tersebut. Orang seperti Abdullah termasuk orang yang merugi di sepanjang hidupnya, bahkan sampai pada matinya pun ia akan tetap merugi sebab semua perbuatannya itu akan ditanggung di akhirat kelak.

Bila bulan suci Ramadan tiba, Abdullah tidak pernah berkeinginan untuk berpuasa seperti layaknya umat muslim lain yang berlomba-lomba mencari pahala demi mendapatkan ampunan dan rida Allah agar mendapatkan kemenangan dan kesucian karena sebagian atau seluruh dosa-dosanya diampuni oleh Yang Mahakuasa. Hal itu sering membuat keluarga, sanak saudara, dan teman-teman memperingatkannya agar melaksanakan rukun Islam itu demi kebaikan dirinya kelak di akhirat.

Semua nasihat tidaklah sanggup untuk membukakan mata hati Abdullah. Walaupun dengan berbagai cara, tetap sia-sia dan tidak dapat membuat putra khalifah Umar itu sadar dan takut akan azab sang Pencipta.

Bila waktu berzakat tiba, sang pembangkang itu tidak pernah sudi merelakan sebagian hartanya untuk dizakatkan kepada fakir miskin, janda tua, para jompo, dan anak-anak yatim yang ada di sekeliling wilayah hidupnya. Hal itu dilakukan karena ia merasa bahwa hartanya adalah hasil keringatnya. Jadi, dia tidak merasa perlu menyisakan hartanya kepada kaum duafa. Ia bagaikan tunanetra yang benar-benar gelap hidupnya sehingga tidak bisa lagi diberi penerang dengan cara apa pun, oleh siapa pun, dan dalam situasi atau keadaan yang bagaimanapun.

Putra khalifah terhormat itu sudah telanjur buta dan tuli. Demikian pula dalam kehidupannya sehari-hari di masyarakat Madinah, ia tidak pernah melakukan infak ataupun bersedekah karena takut hartanya berkurang dan habis. Dalam kesehariannya, ia senantiasa mengumpulkan harta benda dan kekayaan sebanyak-banyaknya karena harta dan kekayaan yang banyak dapat mempermudah dirinya untuk mendapatkan apa pun yang ia inginkan tanpa harus bergantung atau merepotkan orang lain. Oleh karena itu, dirinya pun tidak pernah mau direpotkan oleh orang lain termasuk oleh ayah, ibu, sanak famili, dan teman-temannya.

Selain karena sifatnya yang sering malas beribadah, Abdullah juga dikenal karena perangainya yang suka menggoda lawan jenis. Setiap melihat gadis yang berlalu di hadapannya ia tidak lupa memanfaatkan kesempatan untuk menggodanya sehingga ia sering terjebak untuk mengobral janji palsu dari satu janji ke janji yang lain, dari satu kebohongan ke kebohongan lain. Hal itu diketahui oleh ayahandanya, Baginda Umar bin Khattab. Setiap mengetahui anaknya berbohong dan mengobral janji, Umar bin Khattab selalu memperingatkan agar jangan sembarangan membuat janjí terhadap siapa pun karena janji dapat diandaikan sebagai utang dan utang itu wajib dibayar. Akan tetapi, Abdullah tetap tidak menggubris peringatan itu. Bahkan, kadang ia melecehkan peringatan-peringatan yang bertujuan baik dengan berbagai cibiran sehingga sang ayah sering sakit hati dan kecewa dengan perangai anaknya yang tidak terpuji itu. Selain itu, karena perangainya yang suka menggoda lawan jenis sering membuat orang yang digoda merasa terhina dan dilecehkan. Mereka menyampaikan rasa sakit hatinya itu kepada Baginda Umar bin Khattab agar Abdullah dikenai sanksi hukum sesuai dengan kesalahan yang ia lakukan terhadap beberapa kaum perempuan yang telah dihina harga dirinya.

Umar bin Khattab melihat segala perangai buruk putra sulungnya itu ternyata banyak sekali sehingga sulit untuk dimaafkan. Banyak orang yang berdatangan untuk mencari dan menyatakan rasa sakit hatinya kepada Abdullah yang sering tidak bertanggung jawab terhadap berbagai urusan dengan teman sepermainan ataupun teman sejawatnya. Di antara orang-orang yang datang menyatakan sakit hatinya kepada Abdullah, sebagian bermaksud menagih utang yang sudah beranak-pinak sehingga tidak dapat lagi dilunasi oleh putra orang terhormat itu.

Kesabaran Umar bin Khattab sebagai ayah dan sekaligus sebagai khalifah terbaik serasa teruji. Dia harus melakukan tindakan keras dengan cara memaksa Abdullah untuk menyelesaikan segala urusan duniawi itu kepada orang-orang yang bersangkutan sehingga satu per satu urusan-urusan itu dapat diselesaikan dengan bantuan serta bimbingan ayahnya. Meskipun demikian, untuk urusan-urusan akhirat seperti kelalaian salat, puasa, zakat, sedekah, dan infak, khalifah Umar bin Khattab hanya dapat membimbing dan tidak mungkin banyak membantu sebab hubungan manusia dengan Sang Pencipta bersifat pribadi dan tidak mungkin dapat diwakili.

Ketika pengadilan memutuskan untuk menghukum Abdullah, Umar bin Khattab harus mengikhlaskan dan merelakan anaknya untuk dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku di Madinah, yaitu hukum buang. Oleh karena itu, khalifah kondang itu terpaksa mengusir anaknya, bahkan ia juga sudah sangat rela bila anaknya akan dihukum seberat dan sekejam apa pun, asalkan telah sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Semenjak itu, Umar bin Khattab telah menganggap anak sulungnya hilang dan kalaupun suatu saat kembali, ia tidak mau menerimanya sebagai anak selama perangai Abdullah masih seperti orang kafir yang tidak mengenal Allah dan tidak mau tunduk pada perintah-Nya serta tidak mau menjauhi larangan-Nya.

•••















3. KELAHIRAN ABU SYAHMAH




Selang beberapa hari setelah kepergian Abdullah, istri Umar bin Khattab pun hamil kembali. Saat hamil putra bungsunya, istri Umar bin Khattab tampak jauh lebih sehat dan lebih cantik jika dibandingkan ketika hamil anak sulungnya. Istri Umar bin Khattab tampak lebih berbahagia dan bersemangat. Wajahnya selalu cerah dihiasi senyum. Hari-harinya tampak ceria dan tanpa beban di hati sehingga keningnya tidak tampak kerut-merut sebagai pertanda keikhlasan dalam menghadapi hidup.

Minggu demi minggu berlalu, kandungan istri Umar bin Khattab pun semakin membesar sehingga mencapai usia sembilan bulan. Waktu melahirkan pun telah tiba. Umar bin Khattab beserta istri senantiasa menanti kehadiran anak bungsunya itu dengan hati berdebar-debar. Mereka takut kalau perangai anaknya kelak seperti anak sulungnya yang telah mengecewakan mereka karena bertabiat kasar, tidak patuh kepada orang tua, tidak mau menjalankan perintah Allah, dan selalu melanggar larangan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Pasangan suami istri itu sangat berbahagia sekaligus khawatir akan perangai anak bungsunya kelak. Saat malam bulan purnama tiba, istri Umar bin Khattab melahirkan bayi laki-laki. Bayi itu terlihat montok dan sehat; bila dilihat dari suara tangisnya yang menggelegar sehingga seisi rumah ramai dengan suara tangis pada saat bayi itu merasa lapar, haus, atau merasa terusik kenyamanannya karena udara panas atau pada saat udara tiba-tiba berubah menjadi dingin.

Bayi kelahiran bulan purnama itu diberi nama Abu Syahmah. Bayi bermata cokelat indah itu diazankan pada telinga kanannya dan diikamahkan pada telinga kirinya. Sebagai rasa syukur atas kelahirannya, pasangan berbahagia itu membuat selamatan dengan mengadakan pengajian yang melibatkan sanak famili, para tetangga, serta para kerabat dengan memotong dua ekor unta untuk dimasak gulai serta nasi kebuli sebagai makanan khas negara Arab. Bulan demi bulan, Abu Syahmah tumbuh menjadi balita yang lucu, cerdas, dan tampan. Selang beberapa belas tahun kemudian, ia tumbuh menjadi seorang anak yang elok rupanya. Rambutnya hitam tebal bergelombang besar, matanya lebar tajam dan jernih, lehernya yang panjang sangat proporsional dengan bentuk tubuhnya yang besar dan tinggi menjulang. Kesempurnaan fisik Abu Syahmah diakui oleh banyak orang, terlebih oleh kaum wanita.

Selain dikenal karena kesempurnaan fisiknya, Abu Syahmah juga dikenal karena kesempurnaan budi pekertinya. Warga Madinah mengenal Abu Syahmah sebagai sosok anak yang saleh. Hari-hari Abu Syahmah banyak dihabiskan di masjid untuk memperdalam ilmu agama. Mulai dari salat wajib, salat sunah, membaca Alquran, hingga ilmu berzikir senantiasa diperdalam serta dipertajam kualitas kemampuannya sehingga dapat menguasai semua ilmu tersebut dengan baik. Selanjutnya, semua ilmu yang dimiliki diterapkan serta diamalkan sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah.


Ketika waktu zuhur tiba, Abu Syahmah segera mengambil air wudu untuk menunaikan salat. Walau sedang melakukan aktivitas apa pun, bila azan tiba, ia akan segera meninggalkan pekerjaannya dan bergegas ke masjid untuk salat. Demikian pula bila asar tiba, ia akan segera mengambil peralatan salat menuju masjid agar tidak tertinggal oleh jamaah yang lain. Ketika magrib dan isya, ia sering melakukan salat berjamaah bersama ayah ibu tercinta di rumah dan ia sering ditunjuk sebagai imam oleh ayahnya. Demikian pula ketika waktu subuh tiba, ia kembali menjadi imam dan setelah selesai salat ia membaca Alquran bersama ayah bundanya. Abu Syahmah dikenal sebagai anak yang selalu salat tepat pada waktunya.

Ketika bulan Ramadan tiba, ia selalu menunaikan ibadah puasa serta membaca Alquran hingga khatam dan mengeluarkan zakat kepada fakir miskin, para jompo, janda tua atau miskin, dan kepada para musafir serta mualaf yang ada di sekeliling hidupnya. Keseharian Abu Syahmah banyak diwarnai dengan kegiatan infak, sedekah, menolong, serta membela sesama.

•••















4. PERANG SABILILLAH




Suatu hari di kota Madinah sedang terjadi krisis moral. Saat itu banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan baik berupa pencurian, perampokan, pelarian anak perempuan, maupun perjudian, serta peminum arak berserakan di mana-mana. Semenjak itu, Umar bin Khattab berusaha memerangi segala kebatilan itu dengan Perang Sabilillah atau perang di jalan Allah untuk memberantas segala bentuk tindak amoral yang ada di sekitar kota Madinah.

Menjelang Perang Sabilillah, Abu Syahmah meminta izin kepada panglima perang kota Madinah untuk menghadap Baginda, ayahandanya Umar bin Khattab, agar diizinkan ikut Perang Sabilillah. Panglima tidak mengizinkan Abu Syahmah menghadap Baginda Umar bin Khattab sebab Abu Syahmah masih terlalu kecil untuk ikut berperang. Selain itu, Abu Syahmah dianggap belum cukup umur dan belum kuat memegang senjata. Abu Syahmah menangis terisak-isak sebab ia ingin sekali menghadap ayahandanya agar diizinkan ikut ke medan Perang Sabilillah. Akhirnya, panglima perang tidak sampai hati membiarkan Abu Syahmah terus menangis dan mengizinkan Abu Syahmah pergi menghadap ayahandanya, Baginda Umar bin Khattab.

Abu Syahmah menghadap ayahandanya, Baginda Umar bin Khattab, untuk meminta izin ikut dalam Perang Sabilillah. Ayahandanya, Baginda Umar bin Khattab, tidak mengizinkan dengan alasan karena Abu Syahmah masih terlalu kecil untuk ikut berperang dan memang belum cukup umur. Selain itu, juga karena Abu Syahmah belum kuat memegang senjata. Abu Syahmah mengiba dan memohon dengan sangat kepada ayahandanya, Baginda Umar bin Khattab, agar ia diizinkan untuk ikut Perang Sabilillah. Ayahandanya, Baginda Umar bin Khattab, tidak tega membiarkan Abu Syahmah memohon-mohon, akhirnya Abu Syahmah diizinkan ikut dalam perang yang akan datang. Walaupun demikian, ibunda Abu Syahmah tetap tidak mengizinkan sebab Abu Syahmah baru sembuh dari sakit dan masih sangat kurus serta pucat. Abu Syahmah tidak peduli, ia tetap ingin ikut ke medan perang dengan alasan tidak untuk ikut berperang, melainkan hanya untuk mempelajari teknik berperang. Walau dengan berat hati, ibunda Abu Syahmah akhirnya mengizinkan Abu Syahmah pergi ke medan laga asalkan jangan terlalu lama. Abu Syahmah berbahagia mendengar jawaban ibunya dan ia pergi mempersiapkan diri untuk berangkat ke medan perang.

Umar bin Khattab keluar dari Madinah dan akan memulai Perang Sabilillah. Khalifah berwibawa itu berangkat diiringi 130.000 hulubalang, sedangkan Abu Syahmah diiringi oleh sekitar 100 orang berkuda sembrani. Umar bin Khattab memulai peperangannya melawan orang kafir. Ketika itu para kafir di kota Madinah hidup dengan semena-mena. Ada yang berjalan lalu-lalang menggandeng wanita, padahal di kota itu wanita tidak boleh berkeliaran keluar rumah, apalagi digandeng oleh lelaki yang bukan mahramnya, sangatlah dianggap melanggar hukum. Ketika itu, Umar menangkapi pasangan-pasangan liar itu, lalu mereka dibawa ke tempat pengadilan. Meskipun demikian, sebagian dari pasangan itu ada juga yang patuh mengikuti proses hukum yang berlaku di kota itu, walau ada pula yang membangkang dengan melakukan penyerangan yang menyebabkan terjadinya peperangan. Dalam keadaan demikian, Umar bin Khattab sangat tegas dan keras sehingga sebagian dari para kafir itu mati dalam pertempuran melawan dirinya. Selain itu, Umar bin Khattab juga menangkapi para pejudi dan peminum arak dan sebagian dari mereka ada juga yang membangkang serta melakukan penyerangan hingga mati dalam pertempuran melawan Umar bin Khattab. Umar senantiasa memerangi para kafir di kota Madinah sehingga hampir sebagian kafir di kota itu dapat dikalahkan olehnya. Ketika perang belum usai, Abu Syahmah terus mengamati bagaimana sepak terjang ayahnya selama di medan laga sehingga ia merasa mendapatkan ilmu serta pelajaran berharga dari ayahnya. Akan tetapi, ketika perang hampir usai, Abu Syahmah pulang ke Madinah karena alasan kesehatan.


Ketika sampai di Madinah, kesehatan Abu Syahmah semakin memburuk sehingga ibunda Abu Syahmah menjadi gelisah, khawatir, dan bersedih karena penyakit Abu Syahmah sulit disembuhkan. Berbagai obat penawar telah diberikan dan berbagai tabib telah didatangkan, tetapi Abu Syahmah belum juga sembuh. Suatu hari, para sahabat Rasul datang menjenguk dan sekaligus berniat mengobati Abu Syahmah. Akan tetapi, tidak berhasil menyembuhkan penyakit Abu Syahmah. Oleh sebab itu, para sahabat Rasul menyarankan agar Umar bin Khattab sekeluarga bernazar dan berusaha melaksanakan nazar tersebut. Mudah-mudahan nazar tersebut didengar oleh Allah sebab hal yang sama juga pernah dilakukan sahabat Rasul yang bernama Amir Hassan.

Berkat rida Allah, Amir Hassan sembuh dari sakitnya setelah bernazar dan menunaikan nazarnya dengan memberi makan serta pakaian sejumlah fakir miskin. Oleh karena itu, jika Allah meridai Abu Syahmah pun dapat sembuh seperti Amir Hassan. Untuk itu, keluarga besar Umar bin Khattab bernazar dan menunaikannya dengan menafkahi serta membelikan pakaian untuk sejumlah fakir miskin di kota Madinah. Atas izin Allah, akhirnya Abu Syahmah pun dapat disembuhkan.

Kesembuhan Abu Syahmah membuat seluruh keluarga besar Umar bin Khattab berbahagia. Demikian pula dengan para sahabat Rasul, mereka kembali datang berbondong-bondong dan menyalami keluarga besar Umar bin Khattab karena para sahabat Rasul sudah seperti saudara dengan keluarga Umar. Sebagai tanda syukur kepada Allah, para sahabat Rasul menyarankan kepada Umar bin Khattab agar Abu Syahmah membaca ayat suci Alquran. Ketika itu, Umar berkeberatan kalau Abu Syahmah harus mengaji karena Abu Syahmah baru sembuh dari sakit. Untuk itu, Umar bin Khattab menanyakan kesediaan Abu Syahmah untuk membaca Alquran pada acara pengajian itu dan ternyata Abu Syahmah tidak berkeberatan karena putra khalifah kondang itu rindu dengan ayat-ayat Allah. Begitu pula para sahabat Rasul, mereka rindu dengan suara Abu Syahmah yang terkenal merdu serta rindu akan getaran ayat-ayat suci Alquran.

Abu Syahmah mengambil air wudu lalu memakai peralatan salat, kemudian duduk bersimpuh di permadani untuk membacakan ayat-ayat suci. Ayat-ayat itu dikumandangkan oleh Abu Syahmah dengan khidmat dan khusyuk sehingga matanya basah oleh linangan air mata. Demikian pula yang mendengarkan lantunan ayat-ayat itu, mereka menangis terisak-isak karena hatinya tergetar oleh isi dan pesan yang telah disampaikan oleh ayat-ayat tersebut. Selesai mengumandangkan ayat-ayat Allah, Abu Syahmah meminta kepada sekalian yang hadir agar esok hari berkumpul di makam Rasulullah untuk kembali mendengarkan suara Abu Syahmah membacakan ayat-ayat itu agar semua yang hadir diberi kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan dari Yang Mahakuasa.

Esok harinya, keluarga besar Umar bin Khattab dan para sahabat Rasul sudah berkumpul di makam Rasulullah. Ketika itu mereka berdoa bersama dan setelah itu mendengarkan khotbah Umar bin Khattab. Semua yang mendengar khotbah menangis karena hatinya tersentil oleh isi khotbah Umar bin Khattab dan seketika itu juga mereka bersujud di makam karena terdorong oleh rasa rindu yang tiada terperi kepada Rasul sang teladan umat. Selanjutnya, mereka mendengarkan ayat-ayat Alquran yang dikumandangkan oleh Abu Syahmah dengan sangat nyaring dan merdu. Setiap membaca ayat-ayat Allah, Abu Syahmah selalu mencucurkan air mata karena tidak tahan hatinya. Demikian pula keluarga besar Umar bin Khattab dan sahabat para Rasul, mereka menangis terisak-isak, bahkan ada beberapa orang yang menangis sampai meraung-raung karena terusik hatinya oleh isi dan pesan yang ada dalam ayat-ayat itu. Mereka merasa sangat kecil dan tidak berdaya di mata Allah, mereka merasa sangat bergantung kepada Allah. Oleh sebab itu, dalam hal apa pun mereka akan tetap memohon dan meminta kepada Allah sebagai satu-satunya tempat mereka bergantung. Bahkan, saat itu mereka berjanji pada diri mereka masing-masing bahwa tiada Tuhan selain Allah dan tidak akan ada yang menyekutukan Allah. Selain itu, mereka juga berjanji bahwa Nabi Muhammad utusan Allah yang selalu mereka sanjung dan bela sebagai teladan umat segala umat. Semula, sebagian dari mereka hatinya keras bagai nanas. Akan tetapi, setelah mendengarkan ayat-ayat suci itu hati mereka terasa lapang dan sejuk seperti padang gersang di musim kemarau yang tersiram hujan. Selanjutnya, mereka bergerak pulang ke rumah masing-masing.

•••















5. ABU SYAHMAH DAN BANGSA YAHUDI




Di Madinah, Abu Syahmah dikenal karena kemerduan suaranya, terutama ketika membacakan ayat suci Alquran. Oleh sebab itu, hampir sebagian warga Madinah tergila-gila dengan bacaan ayat-ayat suci yang dilakukan oleh Abu Syahmah. Semenjak itu, anak khalifah terkenal itu melakukan amal melalui kemerduan suara serta keahliannya dalam membaca Alquran. Hampir setiap hari ia berjalan mengelilingi kota Madinah untuk mengumandangkan ayat-ayat Allah. Hampir setiap hari pula ia disanjung oleh para pendengarnya. Ketika itu, Abu Syahmah merasa sangat tersanjung dan teringat akan kata-kata ayahandanya, Baginda Umar bin Khattab, bahwa, "Allah tidak akan marah dengan orang yang takabur karena dipuji membaca Alquran dan Allah tidak akan menghentikan orang yang tersanjung karena membaca Alquran itu untuk takabur agar orang itu tetap mengasah kehebatannya dalam membaca ayat-ayat suci.” Selanjutnya, Abu Syahmah memohon izin ayahandanya, Umar bin Khattab, untuk menghibur orang di jalan-jalan dengan membaca Alquran dan Umar bin Khattab mengizinkannya karena itu merupakan salah satu bagian dari syiar Islam yang biasa dilakukan di kota Madinah.

Suatu hari, Abu Syahmah berjalan-jalan untuk mencari angin dan secara tidak sengaja sampai di perkampungan orang-orang Yahudi. Ia ditegur oleh warga Yahudi.

"Hai, Abu Syahmah, hendak ke manakah Tuan hamba dan mengapa Tuan berjalan sampai di kampung kami dan mengapa muka Tuan tampak pucat sekali? Mengapa tubuh Tuan menjadi loyo, kurus, dan kering seperti orang sakit?"

Abu Syahmah menjawab, "Memang benar aku kurus kering sebab baru sembuh dari sakit."

"Oh, itu kena laknat Allah," jawab Yahudi. "Sebaiknya, Tuan mencoba obat kami. Obat ini terkenal sangat mujarab dan ampuh. Kalau mau, Tuan boleh meminum seteguk dahulu selanjutnya kalau cocok boleh ditambah lagi agar Tuan lekas sembuh dan sehat," ucap Yahudi itu dengan mantap dan meyakinkan.

"Berikanlah obatmu nanti aku bayar berapa pun harganya sebab aku memang sedang membutuhkan obat untuk pemulihan badanku yang masih lemah karena belum terlalu sehat," ungkap Abu Syahmah mengiba.

"Tenang sajalah, Abu. Kau tidak perlu membayar obat itu sebab akan kuberikan gratis untukmu asalkan kau sembuh dan sehat saja aku akan senang," kata Yahudi itu.

"Mana obatnya? Tunjukkan dulu padaku biar aku melihatnya," kata Abu Syahmah penasaran.

"Kalau begitu, ikutlah engkau ke rumahku sebab obat itu ada di sana dan tidak mungkin obat mujarab itu kubawa ke luar dari rumahku," pinta Yahudi itu memohon.

Selanjutnya, Abu Syahmah dibawa pergi jauh ke lorong-lorong kota oleh Yahudi yang tidak dikenal. Setelah beberapa saat, sampailah ia di suatu rumah mewah milik warga Yahudi. Abu Syahmah dibawa masuk ke rumah mewah, lalu didudukkan di atas kursi yang sangat megah. Ketika itu, sang Yahudi menuangkan benda cair ke dalam gelas kristal yang kemudian diserahkan kepada Abu Syahmah. Tidak lama kemudian, kepala Abu Syahmah terasa pusing dan serasa berputar, penglihatannya menjadi gelap berkunang-kunang, dan jantungnya terasa berdebar-debar. Abu Syahmah mengigau tak beraturan. Setelah agak sadar, Abu Syahmah marah besar pada Yahudi itu.

"Hai, Yahudi berengsek. Kau telah menipuku. Kau telah menjebakku dengan arak terkutuk itu. Dasar kafir. Kelak tempatmu di neraka jahanam dan sepanjang hidupmu akan dilaknat oleh Allah," teriak Abu Syahmah sempoyongan.

"Hai, Abu Syahmah, cairan itu benar-benar obat dan bukan arak. Kalau tidak percaya, minumlah sekali lagi agar kau lebih yakin," ujar Yahudi itu menghindar.

"Aku tidak percaya, kau pasti berbohong dan aku tidak mau kau bohongi lagi," bantah Abu Syahmah sengit.

Abu Syahmah berjalan keluar untuk mencari jalan pulang ke rumahnya. Akan tetapi, ia sama sekali tidak ingat jalan pulang menuju ke rumahnya. Ia bingung dan mondar-mandir tidak tentu arah. Saat itu datanglah seorang Yahudi cantik menghampirinya.

"Maaf, Abu Syahmah, hendak ke manakah Tuan sebab hari sudah hampir malam? Sebaiknya, Tuan mampir ke rumah hamba. Beristirahatlah sejenak di rumah hamba agar Tuan kembali segar dan dapat menemukan jalan pulang ke rumah," rayu wanita cantik itu dengan lembut.

Karena tidak tahu jalan pulang, Abu Syahmah terpaksa mampir dan menuruti kehendak Yahudi cantik itu. Perempuan cantik itu menggoda Abu Syahmah dengan pakaian yang indah-indah di hamparan keemasan sehingga Abu Syahmah sempat tinggal serumah dengannya.

Ketika matahari terbit dan panasnya membakar kulit, Abu Syahmah baru sadar bahwa ia berada di tempat yang bukan semestinya. Terlebih karena ia tinggal serumah dengan wanita yang bukan mahramnya tanpa ikatan pernikahan. Abu Syahmah sadar dan menyesal sambil menangis ia menampar-nampar dada dan kepalanya hingga jatuh pingsan, lalu sadar dan pingsan kembali berulang kali. Ketika benar-benar sadar, Abu Syahmah baru menyesal sebab tidak mau mendengar saran para warga Madinah agar tidak berdekatan dengan kaum Yahudi. Untuk menjaga namanya agar tetap baik, Abu Syahmah meminta agar Yahudi cantik itu tutup mulut dan tidak menyebarluaskan pengalaman terkutuknya itu kepada siapa pun, terlebih kepada ayahandanya, Baginda Umar bin Khattab. Yahudi cantik itu berjanji tidak akan mempermalukan Abu Syahmah dengan membuka peristiwa aib tersebut.

•••















6. PERUBAHAN PERANGAI ABU SYAHMAH




Semenjak kejadian di perkampungan Yahudi itu, perangai Abu Syahmah berubah total. Perubahan itu diketahui oleh para sahabat Rasul dan mereka berusaha mendekati Abu Syahmah demi kebaikan dan masa depan Abu Syahmah.

"Hai, Abu Syahmah. Mengapa sekarang engkau menjadi sering bangun siang seperti pemalas? Dulu kau tidak begitu. Kok sekarang perangaimu mengalami kemunduran," tegur para sahabat Rasul kepada Abu Syahmah.

"Ah, tidak. Aku masih seperti dulu. Tidak ada perubahan," jawab Abu Syahmah mengelak.

"Kau bohong, Abu. Kami bisa merasakan perubahanmu. Itu tidak baik, Abu Syahmah, sebab rezeki itu datangnya dari pagi sekali. Jadi, kalau kau bangunnya siang untuk mengais rezeki, kau kalah cepat dengan orang yang bangunnya pagi," ujar para sahabat menasihati.

"Habis kalau bangun pagi kepalaku pusing karena kurang tidur," jawab Abu Syahmah membela diri.

"Hai, Abu! Mengapa kau menjadi lupa akan kekuatan air wudu? Dengan berwudu kau akan segar kembali dan rasa kantukmu akan hilang setelah terkena air wudu. Hal itu dapat dilakukan kapan pun, apalagi bila didahului mandi pagi. Kesegaran sudah pasti akan datang kembali," bantah sahabat Rasul.

"Tidak mau, sebab air pagi hari dingin sekali. Aku tidak kuat menanggung dingin," bela Abu.

"Lalu, bila kau sudah bangun siang, mengapa masih juga bermalas-malasan?" ujar sahabat Rasul mengingatkan Abu.

"Bukannya aku bermalas-malasan. Aku cuma tidak tahan dengan terik panas matahari," ucap Abu Syahmah membela diri lagi.

"Abu, sinar matahari juga merupakan rezeki dari Allah dan Allah menciptakan matahari bukan tanpa maksud sebab matahari merupakan salah satu sumber energi dan kehidupan bagi semua makhluk hidup. Jadi, kalau kau terlalu menghindari sinar matahari hanya karena kemanjaan, kau akan merugi. Kami lihat sekarang kau juga jarang salat, mengapa begitu, Abu? Apakah kau tidak takut azab Allah yang pedih bila kau meninggalkan salat?" ujar para sahabat dengan kesal.

"Tidak, aku masih salat walaupun tidak puasa!" jawab Abu Syahmah dengan gemas.

"Mengapa juga kau meninggalkan puasa wajib?" tanya sahabat Rasul jengkel.

"Puasaku sudah tergantikan dengan memberi makan anak yatim dan fakir miskin," bantah Abu Syahmah.

"Memberi makan anak yatim dan fakir miskin sudah menjadi kewajiban bagi kita, tetapi selama kau masih kuat berpuasa, sebaiknya puasa harus tetap dilaksanakan," perintah para sahabat Rasul. "Kau harus tahu, melalaikan puasa wajib sama azabnya dengan melalaikan salat wajib dan sama-sama dapat menggiring orang ke neraka dengan cambukan tujuh ribu kali," ujar sahabat Rasul mengingatkan.

Semenjak melakukan perdebatan dengan para sahabat Rasul, Abu Syahmah banyak mengalami berbagai rintangan yang cukup berarti sehingga ketika melakukan apa pun selalu tidak membawa hasil. Mungkin karena hidup Abu Syahmah tidak diridai Allah sang pencipta alam. Ketika melakukan perdagangan, Abu Syahmah mengalami kegagalan sehingga dagangannya habis dan uang pun habis. Ketika melakukan perjalanan, ia tidak mendapatkan tambahan ilmu apa pun sehingga hanya mendapatkan kelelahan, membuang waktu, dan mendapatkan kesia-siaan.

Abu Syahmah pernah melakukan perjalanan keliling Madinah untuk mencari dan mendapatkan ilmu tambahan, tetapi sia-sia belaka sebab ia tidak mendapatkan apa pun dari perjalanannya itu. Ia bahkan pernah melakukan perjalanan ke kota-kota lain seperti Yaman, Mekah, dan Jedah. Laut Merah di kota Jedah tampak indah, bersih, dan bening. Laut kebanggaan kota itu tampak damai dengan ikan-ikan berkeliaran ke sana kemari seolah menandakan sesuatu. Laut yang megah dan cantik itu permukaannya tertutup daratan negara tetangga. Hamparan air itu tampak terjaga dan tidak ada tanda-tanda pencemaran di sekitarnya. Itu merupakan bukti bahwa kota tersebut tidak dinodai oleh pencemaran lingkungan. Seusai melakukan berbagai perjalanan dan rintangan, akhirnya Abu Syahmah sadar bahwa dirinya sangat kecil di mata Allah.

•••















7. YAHUDI MEMINTA PERTANGGUNGJAWABAN ABU SYAHMAH




Kota Madinah digemparkan oleh penemuan bayi di halaman masjid. Ternyata, bayi itu anak kandung Yahudi cantik yang pernah tinggal serumah dengan Abu Syahmah. Para Yahudi sangat prihatin dengan nasib bayi terlantar itu. Untuk itu, segenap warga Yahudi bersepakat untuk mengantarkan bayi laki-laki itu kepada Khalifah Umar bin Khattab setelah usia bayi mungil itu mencapai empat puluh hari. Namun demikian, kesepakatan itu gagal karena ditentang oleh sebagian Yahudi di perkampungan itu. Selanjutnya, ketika usia bayi tampan itu mencapai empat puluh hari, para Yahudi itu bersepakat untuk mengantarkannya kepada Khalifah Umar bin Khattab.

"Mari kita antarkan cucu Baginda Umar bin Khattab ini ke Madinah supaya seluruh umat Islam tahu dan malu akan kejahatan yang telah dilakukan oleh Abu Syahmah," ajak pemimpin Yahudi.

Sesampainya di Madinah, para Yahudi itu langsung menghadap kepada Khalifah Umar bin Khattab dan langsung menyerahkan bayi lelaki itu kepada Baginda Umar. Umar terkejut dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Wahai, Baginda Umar bin Khattab! Ambillah cucumu ini supaya Tuan tahu dan seluruh umat Islam tahu bahwa kau mempunyai cucu haram," teriak para Yahudi marah.

"Aku tidak tahu ini anak siapa?" bantah Umar bin Khattab.

"Ini anak Abu Syahmah," jawab para Yahudi.

"Aku tidak percaya," jawab Umar membantah.

"Kalau tidak percaya, tanyakan sendiri kepada Abu Syahmah tentang apa yang dilakukannya ketika berjalan-jalan sampai di perkampungan Yahudi!" jelas Yahudi itu dengan geram.

Penjelasan para Yahudi itu membuat Umar berkali-kali terkejut, tidak percaya, dan marah, serta menanyakan ke mana ibu bayi itu?

"Ibu bayi ini pergi entah ke mana dan anak ini terlantar selama empat puluh hari di kampung kami," jawab para Yahudi. "Kalau Tuan tidak percaya, tanyakanlah sendiri kejadian malam laknat itu kepada anakmu Abu Syahmah."

"Hai, Abu Syahmah, benarkah semua perkataan para Yahudi itu? Kalau benar, bertanggungjawablah! Akan tetapi, kalau tidak benar katakanlah tidak," perintah Umar kepada Abu Syahmah.

"Mohon maaf, Ayahanda Baginda. Semua yang dikatakan Yahudi itu tidak benar. Manalah mungkin aku melakukan perbuatan terkutuk itu," sahut Abu Syahmah membela diri.


Umar bin Khattab tidak mau menerima bayi itu dengan alasan Abu Syahmah anak yang baik lagi pula belum pernah beristri. Umar tidak merasa punya alasan untuk menerima bayi yang belum jelas orang tuanya. Ketika itu Umar bin Khattab dipaksa oleh para Yahudi untuk mengamati wajah bayi itu yang mirip dengan Abu Syahmah, bahkan hampir mirip pula dengan Umar bin Khattab. Umar meneliti wajah bayi itu mulai dari rambut, mata, bibir, dan hidung yang ternyata benar mirip sekali dengan Abu Syahmah. Ketika itu, para Yahudi mengancam Umar bin Khattab. Bila Umar tidak mau menerima, bayi itu akan dihanyutkan di Laut Merah. Walau agak ragu, akhirnya Umar bin Khattab menerima bayi itu. Masyarakat Madinah tercengang mendengar keputusan Umar.

"Khalifah saleh itu tidak mungkin punya cucu haram," celetuk sebagian warga Madinah.

Suatu hari datanglah Yahudi cantik itu kepada Umar bin Khattab untuk meminta anaknya. Yahudi cantik itu menjelaskan perihal kejadian malam jahanam itu dari awal hingga akhir. Ia juga menjelaskan bahwa ketika sadar, Abu Syahmah pun menyesal, menangis, serta memukul-mukul kepala dan dadanya sehingga ia berkali-kali jatuh pingsan dan sadar. Mendengar penjelasan Yahudi cantik itu merah padamlah wajah Umar bin Khattab karena malu dengan sidang jemaat dan terlebih dengan seluruh warga kota Madinah. Ketika itu, Umar bin Khattab baru benar-benar yakin bahwa bayi itu adalah cucunya. Untuk itu, Umar mengembalikan bayi lelaki itu kepada ibunya. Selain itu, Umar bin Khattab juga memberikan sejumlah uang kepada perempuan Yahudi itu serta berjanji akan menyantuni bayi itu sampai kapan pun. Ia juga berjanji akan menegakkan hukum di negeri Madinah ini dengan seadil-adilnya agar yang salah dihukum sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Setelah itu, Umar bin Khattab pun kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Umar bin Khattab tidak jadi makan ketika melihat Abu Syahmah yang seolah merasa tidak berdosa dengan segala aib dan kesalahan yang telah dilakukannya, yaitu aib dan kesalahan yang dengan jelas mencoreng nama baik keluarga, agama, serta nama baik segenap warga kota Madinah.

•••















8. PENGADILAN ABU SYAHMAH




Sambil memanggil-manggil Abu Syahmah, wajah Umar bin Khattab terlihat geram dan merah padam. Ibunda Abu Syahmah ketakutan melihat perilaku suaminya, Umar bin Khattab, yang berang tak terkendali. Khalifah itu menanyakan kepada Abu Syahmah tentang perbuatan terkutuknya di malam jahanam itu bersama wanita Yahudi. Abu Syahmah pun terkejut mendengar perkataan ayahandanya, Umar bin Khattab, dan ibunda Abu Syahmah berdebar-debar hatinya menyaksikan murka sang suami.

"Hai, Abu! Pernahkah kau diberi minum oleh seorang Yahudi cantik?" tanya Umar bin Khattab menahan geram tak terhingga.

"Ya, Ayah, tetapi waktu itu aku ditipu oleh Yahudi, cairan itu dikatakannya obat," sahut Abu Syahmah membela diri.

"Kau tidak usah membela diri dan pernahkah kau hidup bersama dengan Yahudi cantik itu?" tanya Baginda Umar menginterogasi.

"Ya, Ayah. Akan tetapi, waktu itu aku digoda oleh kecantikannya," jawab Abu Syahmah membela diri lagi. "Aku telah diperdaya sehingga lupa akan Allah serta Rasul dan lupa akan takut serta malu kepada Ayahanda. Hamba merasa diperintah oleh iblis untuk melakukan perbuatan laknat itu." Abu Syahmah terus membela diri.

Setelah mendengar pengakuan Abu Syahmah, Umar bin Khattab menyarankan agar Abu Syahmah bertobat dan menghindari perbuatan iblis itu dengan membaca Alquran. Selanjutnya, Abu Syahmah membaca Alquran dari awal hingga akhir. Setelah selesai membaca, tangis Abu Syahmah meledak dan ayah serta ibunya turut menangis, demikian pula sahabat Rasul. Setelah itu, Abu Syahmah bersujud dan memohon ampun kepada Allah serta ayah bundanya seraya mencium kaki mereka seraya berkata: "Ayah, Ibu, hamba telah siap, rela, dan rida seandainya hamba harus dihukum karena perbuatan laknat itu." Mereka bertiga berpelukan serta bertangisan dan semua yang menyaksikan pun ikut menangis.

Abu Syahmah dibawa ke tempat pengadilan oleh ayahandanya, Baginda Umar bin Khattab. Ketika itu, ibunda Abu menangis histeris sambil menciumi Abu Syahmah serta memohon kepada suaminya agar Abu Syahmah jangan dibawa ke tempat pengadilan dan sebagai gantinya ia bersedia menanggung dosa serta beban hukuman Abu Syahmah sebab Abu Syahmah terlalu kurus kering dan baru sembuh dari sakit. Selain itu, Abu Syahmah masih terlalu muda untuk menerima hukuman seberat itu. Umar bin Khattab menjawab bahwa sebagai orang tua perasaannya sama. Umar pun rasanya tidak akan sanggup menahan pedih hati bagaikan teriris sembilu serta bagaikan luka parah yang disiram asam limau. Akan tetapi, hukuman tetap tidak dapat ditangguhkan dan dosa seseorang tidak dapat diwakilkan hukumannya kepada orang lain, meskipun orang tersebut sangat kasih dan sayang terhadap si pendosa. Bila menuruti kata hati dan sekiranya hukuman itu dapat digantikan, Umar bin Khattab pun ingin menggantikan hukuman itu. Akan tetapi, tidak ada seorang umat pun yang sanggup menahan hukum serta api neraka jahanam dan hari akhir yang telah ditetapkan oleh Allah. Umar sama sekali tidak berdaya.

Umar bin Khattab memegang tangan Abu Syahmah lalu dituntun ke tempat pengadilan di depan khalayak ramai agar Abu Syahmah melihat wajah-wajah warga Madinah dan agar mereka melihat putra khalifah itu sebagai contoh yang tidak patut ditiru. Ketika itu Abu Syahmah memohon agar ia jangan dihukum di hadapan ibunya sebab takut terlalu menyakiti hatinya. Saat itu Abu Syahmah mengingatkan Umar bin Khattab agar memeriksa kembali orang selain dirinya yang pernah melakukan perbuatan haram dan terkutuk. Umar bin Khattab menjawab bahwa segalanya sudah dilihat dengan saksama dan insya Allah ia tidak keliru mengambil tindakan. Bagi Umar bin Khattab, hukum tetaplah hukum. Siapa pun yang melanggar akan dikenai hukuman tanpa pandang bulu.

Mendengar ketegasan Umar bin Khattab dalam menegakkan hukum, Abu Syahmah sedih sekaligus bangga sehingga air matanya bercucuran tiada henti. Maka kata Umar bin Khattab, "Tabahkanlah hatimu, Anakku, sebab hukum Allah datang secara pasti dan tidak dapat digugat oleh siapa pun."

Abu Syahmah mulai dilucuti bajunya oleh algojo-algojo kota Madinah. Ketika itu ibunda Abu Syahmah memohon kepada Umar bin Khattab agar ia dibawa serta bersama Abu Syahmah merasakan pedihnya siksa Allah. Ketika itu ibunda Abu Syahmah meraung-raung membayangkan pedihnya pecut yang sakitnya berjuta kali lipat dari pecut kuda sembrani. Demikian pula ketika membayangkan pedihnya palu dan godam neraka jahanam yang kedahsyatan pukulannya beribu kali lipat dibandingkan dengan palu dan godam penjara mana pun. Seumur hidup Abu Syahmah tidak pernah merasakan siksa seberat itu, terlebih karena ia habis sakit keras.

"Hai, Tuanku, junjunganku. Anak hamha masih terlalu kecil untuk menerima hukuman seberat itu," ujar ibunda Abu Syahmah.

"Aku tidak mau terpengaruh oleh ratapanmu," ujar Umar bin Khattab.

"Aku tidak bermaksud menggodamu, suamiku," jawab ibunda Abu Syahmah. "Abu Syahmah terlalu kurus dan kering untuk menerima hukumanmu," balas ibunda Abu Syahmah.

"Aku tidak akan mengubah pikiranku," sahut Baginda Umar bin Khattab.

"Aku hanya ingin mengetuk hati nuranimu," balas ibunda Abu Syahmah.

"Aku tetap ingin menegakkan keadilan," ucap Umar bin Khattab dingin.

"Aku tidak peduli dengan keadilan," balas wanita itu kesal.

"Aku akan tetap berada di jalan Allah," gumam khalifah itu tanpa perasaan.

Ketika hukum akan dilaksanakan, Umar bin Khattab mengunci kediaman ibunda Abu Syahmah. Wanita itu berteriak-teriak sambil meronta-ronta minta dilepaskan. Karena tidak dilepaskan, ia menangis terguguk sambil sesekali memukul-mukul pintu yang terkunci.

Abu Syahmah menangis keras-keras ketika mendengar teriakan ibunya. Ketika itu meledaklah tangis ibunda Abu Syahmah lalu roboh pingsan dan ditolong oleh keluarga dan para sahabat Rasulullah. Ketika itu Maharaja Ali baru mendengar kisah pengadilan Abu Syahmah dan seketika itu pula Baginda Ali marah dan hendak memperkarakan para Yahudi yang telah menjebak dan memperdaya Abu Syahmah. Saat itu Umar bin Khattab tidak sependapat dengan Baginda Ali.

"Jangan, Ali! Jangan kau perkarakan para Yahudi itu sebab bisa terjadi perang saudara," Umar bin Khattab melerai.

"Tidak bisa, aku harus memperkarakannya," balas Baginda Ali.

"Tidak Ali, sebab Abu Syahmah juga salah. Mengapa ia cepat tergoda dan mengapa ia mudah dijebak," bantah Umar bin Khattab.

"Aku tidak peduli, penggoda tetap saja penggoda. Jadi andil juga dalam dosa Abu Syahmah," sahut Baginda Ali.

"Terserahlah, tetapi sebaiknya tidak usah melakukan kekerasan," jawab Umar bin Khattab agak kesal.

"Insya Allah," sahut Baginda Ali.

Keesokan harinya, Baginda Ali melakukan perjalanan ke perkampungan Yahudi dan melakukan gerilya dari satu lorong ke lorong lainnya.

"Hai, Yahudi! Keluarlah kalian semua dan katakanlah padaku siapa saja yang andil dalam penjebakan Abu Syahmah? Katakanlah padaku!" teriak Baginda Ali sambil mengacung-acungkan kepalan tangannya.

Para Yahudi mengintip dari rumah mereka masing-masing dan mencari tahu sumber suara itu. Sebagian keluar dan berusaha mencari datangnya suara teriakan tadi.

"Hai, Yahudi. Jangan menghindar dariku. Cepat sebutkan orang-orang yang terlibat dalam penjebakan Abu Syahmah!" teriak Baginda Ali kesal.

Yahudi yang tadi sempat keluar lari dan masuk ke rumah dengan tergesa-gesa dan ketakutan. Pintu segera ditutup lalu bersembunyi di antara tumpukan barang-barang.

Baginda Ali mengejar orang itu dengan cepat dan tiba-tiba "brak" terdengar suara pintu didorong dengan kasar.

"Mana orang yang tadi lari ke dalam? Mana? Bersembunyi di mana dia? Kalau tertangkap akan kucincang dia!" suara Baginda Ali menggeledek memenuhi ruangan.

"Mana dia? Ke mana larinya?"

Tiba-tiba "Grombyang …!" Suara kaleng jatuh mengejutkan Baginda Ali.

"Nah, aku tahu sekarang di mana orang itu," gumam Ali sambil berdiri dan mempercepat langkahnya.

"Hah, mau lari ke mana kau dan jangan coba-coba melawan. Kalau kau melawan akan kupatahkan tanganmu," bentak Baginda Ali berang.

"Ampun ...! Ampun beribu ampun! Aku tidak tahu apa-apa. Jangan tangkap, aku bukan orang yang kau cari. Kau salah! Kau keliru kalau menangkap aku," ujar Yahudi itu gemetar dengan keringat bercucuran.

"Aku tidak akan apa-apakan kau. Jadi jangan ribut, berisik!" bentak Baginda Ali kesal.

Baginda Ali menggiring Yahudi itu dengan kedua tangannya diikat ke belakang. Selanjutnya, Yahudi itu dihujani dengan berbagai pertanyaan di seputar penjebakan Abu Syahmah di malam laknat itu. Setelah mendapatkan banyak informasi, Baginda Ali memerintahkan pengejaran dan sekaligus penangkapan terhadap para Yahudi yang terkait dengan kasus penjebakan Abu Syahmah. Siang harinya para buronan itu pun tertangkap dan dijebloskan ke penampungan sebelum dibawa ke pengadilan oleh Baginda Ali.

Sementara itu, di tempat pengadilan para khalifah sedang melakukan hukum cambuk terhadap Abu Syahmah. Tiba-tiba para khalifah sang juru dera berhenti dan mencucurkan air mata karena rasa kasihan terhadap Abu Syahmah. Terlebih ketika para khalifah itu melihat khalifah Baginda Umar bin Khattab, mereka langsung memohon ampun dan meledak-ledaklah tangis mereka. Namun demikian, Umar bin Khattab tetap pada pendiriannya dan kembali memerintahkan pencambukan.

"Hai, Khalifah, deralah olehmu sesuai dengan hukum yang berlaku agar anakku jera dan tidak akan lagi melanggar larangan Allah. Janganlah engkau merasa belas kasihan akan anakku. Adapun jumlahnya pencambukan harus mencapai seratus dera untuk anakku. Kerjakanlah olehmu seperti hukum yang berlaku dan janganlah engkau ragu dan lupakanlah rasa sayangmu pada anakku. Untuk itu, janganlah sekali-kali engkau ubah deraan untuk anakku dan engkau istimewakan dari orang lain. Jika engkau memberanikan diri mengubah deraan itu niscaya engkau akan menanggung siksaan Allah pada hari kiamat kelak," kata Umar bin Khattab dengan tegas.

Para khalifah sang juru dera ketakutan karena sebelum Umar bin Khattab berkata dalam benak mereka pernah terpikir untuk mengurangi deraan terhadap Abu Syahmah. Pikiran itu muncul karena rasa sayang dan kasihan para khalifah sang juru dera terhadap Abu Syahmah yang berbadan kurus kering karena habis sakit. Selain itu, karena mereka teringat perangai Abu Syahmah yang saleh, jujur, santun, serta bijaksana. Selebihnya, karena rasa sayang dan hormat mereka terhadap baginda Umar bin Khattab yang dikenal baik, keras, dan tegas sehingga para khalifah pun tidak berani mengubah-ubah deraan. Mereka tidak berani mencoba bermain-main dengan hukum yang ditegakkan oleh Umar bin Khattab dan yang terakhir karena para khalifah itu takut akan siksaan Allah di hari kiamat, seandainya ia mengubah-ubah hukuman yang akan dilakukan terhadap Abu Syahmah. Oleh karena itu, walau dengan berat hati dan berurai air mata akhirnya para khalifah sang juru dera itu kembali melakukan penderaan terhadap Abu Syahmah. Terkena deralah Abu Syahmah secara berulang-ulang.


Deraan demi deraan diterima oleh Abu Syahmah. Di awal deraan anak khalifah kondang itu belum merasakan apa-apa. Ia masih tahan dan kuat untuk menanggung semuanya itu dengan hati tabah. Akan tetapi, semakin lama deraan itu menjadi semakin terasa sakit. Rasa sakit itu pun masih dapat ia tahan dari detik ke detik, bahkan dari menit ke menit. Namun, pada akhirnya rasa sakit dari deraan itu semakin sulit untuk ditahan. Ia meringis menahan sakit. Selanjutnya, ia menggelinjang-gelinjang seolah ingin menghindari deraan itu agar tidak mengenai tubuhnya.

Karena tidak kuat lagi menahan rasa sakit, Abu Syahmah berteriak dan berteriak lagi setiap deraan itu sampai di punggungnya. Setiap Abu Syahmah menjerit, para khalifah itu pun ikut menjerit seolah merasakan pedihnya deraan yang diterima anak Umar bin Khattab. Semua yang melihat pun ikut menjerit dan seolah merasakan pedihnya deraan yang dialami anak bungsu Umar. Bahkan, Umar bin Khattab pun sedang menyembunyikan tangisnya karena tidak tahan menyaksikan deraan itu. Demikian pula Baginda Ali, Usman, Amir Hassan, dan Amir Hussin serta segenap sahabat Rasul semuanya menangis terisak-isak karena ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh Abu Syahmah. Suara tangis memenuhi tempat pengadilan sehingga arena itu basah oleh uraian air mata. Ketika semua sibuk dengan kepedihan hati mereka masing-masing, kepala Umar bin Khattab terasa pusing dan pandangan matanya terasa kabur dan gelap. Seketika itu juga ia tidak dapat menahan diri sehingga jatuh pingsan dan tidak berdaya. Khalifah Umar pingsan berkepanjangan dan akhirnya siuman juga setelah dibasuh wajahnya dengan air mawar yang telah didoakan oleh hampir seluruh masyarakat Madinah.

Ketika Umar bin Khattab tidak sadarkan diri, para khalifah pun berhenti melakukan deraan dan ketika Umar sadar, ia menjadi sangat marah karena para khalifah itu berhenti mendera Abu Syahmah.

"Hai, para Khalifah, mengapa engkau berhenti lagi mendera anakku? Aku pingsan bukan karena engkau mendera anakku, tetapi karena aku terlalu letih dan lapar karena sudah beberapa hari ini aku lupa makan dan minum," ujar Umar bin Khattab meyakinkan para khalifah.

"Kami tidak tega, Baginda, terlebih setelah melihat Baginda pingsan. Kami merasa sangat berdosa," ujar para khalifah bersamaan.

"Lakukanlah terus penderaan itu demi aku dan demi menegakkan hukum Allah," ucap Umar tegas.

"Baik, Baginda. Kami akan melakukan sesuai dengan perintah Tuan," jawab para khalifah sambil menunduk malu.

"Jangan sekali pun engkau mengubah palumu karena sekali saja engkau mengubah palu niscaya kau akan merasakan pedihnya siksa serta azab Allah di hari kiamat kelak.'

"Tidak, Baginda, kami tidak akan mengubah palu. Demi Allah itu tidak akan terjadi."

"Bagus, aku memercayaimu untuk melakukan hukuman terhadap anakku karena aku melihat kekuatan mentalmu. Engkau orang yang sangat tegar dan kuat fisik dan mentalmu. Engkau bukanlah termasuk orang yang rapuh atau cengeng dan yang pasti engkau bukanlah tipe orang yang suka mengkhianati kepercayaan Allah yang telah dititipkan-Nya melalui aku," ujar Umar bin Khattab seolah menekan.

"Insya Allah," jawab para khalifah dengan singkat.

"Insya Allah berarti sanggup dan bukan berarti menghindar. Oleh karena itu, lakukanlah semua tugasmu sesuai dengan perintahku dan sesuai dengan hukum yang telah digariskan oleh Allah. Jika engkau mengingkari kepercayaan yang telah Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menanggung dosa dan siksa neraka yang sangat kejam azabnya," tegas Umar terakhir kali.

Para khalifah itu sangat takut akan azab Allah dan mereka kembali berusaha menjalankan tugas sesuai dengan yang telah diperintahkan Umar bin Khattab dan sesuai dengan yang telah digariskan Allah. Walaupun demikian, para khalifah itu tetap tidak dapat menahan tangis karena teringat akan perangai anak khalifah itu. Sebelum kejadian malam tragedi laknat itu, Abu Syahmah dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Madinah sebagai orang yang saleh, gemar berpuasa, tekun salat serta ibadah. Selain itu, ia juga dikenal suka menolong, suka beramal, dan sangat santun.

Ketika Abu Syahmah sedang menjerit kesakitan karena dihujani berbagai deraan, hampir seluruh warga Madinah menangis dan bersedih. Tidak ada seorang pun yang tidak menangis melihat penderitaan anak khalifah Umar bin Khattab. Mereka teringat akan kebaikan-kebaikan dan amal yang sering mereka terima dari anak bungsu khalifah Umar. Deraan yang telah dituliskan Umar bin Khattab sebanyak seratus deraan maka sejumlah itu pula yang harus dilakukan oleh para khalifah sang pendera kepada Abu Syahmah.

Suatu hari para malaikat sangat terkejut melihat kerumunan massa di kota Madinah. Ketika itu para malaikat datang dan menyembah ke hadirat Allah.

"Ya, Rabbi, ya Tuhanku, apakah yang sedang terjadi di dunia sehingga terdengar suaranya sangat gegap gempita sampai ke langit?”

"Hambaku Umar bin Khattab sedang menghukum anak yang dikasihani. Anak itu bernama Abu Syahmah. Umar bin Khattab melakukan itu karena ia takut akan murka dan azab-Ku di akhirat kelak," seru Allah berfirman.

"Ya Allah, ya Tuhanku, izinkanlah kami sebagai hamba-Mu untuk melihat pekerjaan Umar bin Khattab di muka bumi yang sedang menghukum putra bungsunya yang melanggar larangan Allah," ujar para malaikat memohon izin dan sekaligus menyembah.

"Pergilah engkau ke bumi, wahai para malaikat. Lihatlah bagaimana pelaksanaan penderaan terhadap Abu Syahmah anak kesayangan Umar bin Khattab."

Maka para malaikat itu pun turun ke bumi. Tepatnya di tempat pengadilan Abu Syahmah. Ketika itu Umar bin Khattab menasihati anaknya dan berkata.

"Hai, Anakku, cahaya mataku, buah hatiku, dan curahan kasih sayangku. Aku dan ibumu sangat mencintaimu, tetapi apalah dayaku. Aku hanya manusia biasa, aku hanya hamba Allah seperti hamba yang lain. Aku juga memiliki keterbatasan, ketidakmampuan, dan ketidakberdayaan sebagai umat dan sekaligus sebagai hamba Allah," ujar Umar bin Khattab kepada anaknya.

"Duhai Ayahandaku, curahan kasih sayangku serta tempat kubernaung, hamba mengerti, Ayah," jawab Abu Syahmah mengimbangi perasaan ayahnya. "Demikian pula hamba, Ayah! Hamba juga memiliki keterbatasan, ketidakmampuan, dan ketidakberdayaan itu. Kalau tidak memiliki hal itu, tidaklah mungkin hamba dapat terjebak dalam perangkap yang dipasang oleh para Yahudi. Peristiwa malam laknat itu merupakan bukti ketidakberdayaan hamba," jawab Abu Syahmah meyakinkan ayahandanya.

"Aku sangat takut kepada Allah sehingga aku memerintahkan penderaan ini sebab bila tidak dilaksanakan kita akan sama-sama celaka. Kita akan sama-sama merasakan azab dan laknat Allah di akhirat kelak," ucap Umar bin Khattab memperjelas keterangan sebelumnya.

"Terima kasih, Ayah! Hamba berbahagia karena engkau telah menunaikan tugasmu untuk menyelamatkan darah dagingmu dan sekaligus pengikutmu dari ancaman api neraka di akhirat kelak," ucap Abu Syahmah lebih mantap.

"Yang terpenting sabar dan tabahkanlah hatimu, wahai Anakku. Ikhlaskanlah hatimu dalam menjalani deraan ini. Tetapkanlah juga hatimu, wahai Anakku, agar engkau memperoleh kesejahteraan di dalam surga selama-lamanya," pinta Umar bin Khattab kepada putranya.

"Baik, Ayahanda Baginda. Hamba sudah melaksanakan itu semua. Hamha sudah ikhlas lahir batin, dan hamba belajar tentang ilmu ikhlas itu dari engkau, wahai Ayahku. Semula hamba merasa sangat sulit menundukkan hati hamba untuk menjadi manusia yang pandai menciptakan keikhlasan batin dalam diri hamba. Akan tetapi, berkat teladan yang Ayah contohkan pada hamba, segalanya menjadi sangat mudah untuk hamba laksanakan," jawab Abu Syahmah meyakinkan ayahnya.

"Apakah engkau telah yakin dengan segala ucapanmu sebab keyakinanmu itulah yang dapat membebaskan dirimu dari azab serta siksa api neraka di akhirat kelak?” ujar Umar bin Khattab menegaskan.

"Hamba sudah yakin dengan segala ucapan hamba. Bahkan, keyakinan itu sebanding dengan keyakinan hamba terhadap Allah dan terhadap semua keteladanan yang telah engkau berikan kepada hamba," jawab Abu Syahmah dengan mantap.

"Wahai, Anakku, tidakkah kau ingat tentang Nabi Ayub yang tabah terkena deraan dan terbebas dari azab serta siksaan Allah di alam akhirat?" ujar Umar bin Khattab mengingatkan anaknya dari peristiwa dan pelajaran tentang kisah Nabi Ayub yang berhasil memenangkan hari akhir berkat keikhlasan serta ketabahannya dalam menghadapi pengadilan seperti yang dialami Abu Syahmah.

"Ya, junjunganku. Hamba ingat semua pelajaran tentang Nabi Ayub yang begitu tabah dalam menghadapi deraan sehingga ia berhasil mendapatkan kebahagiaan di akhirat,” jawab Abu Syahmah meyakinkan ayahnya.

"Selain itu, ingatkah engkau dengan penderitaan dan keikhlasan Nabi Yusuf ketika mengalami siksaan di dalam penjara?" ujar Umar bin Khattab mengingatkan Abu Syahmah.

"Ingat, Ayahanda Baginda. Bahkan, hamba ingat juga tentang kerendah-hatian Nabi Yusuf walau diberi kelebihan oleh Allah berupa ketampanan rupa," jawab anak bungsu khalifah Umar dengan mantap.

"Apakah kau juga ingat tentang penderitaan dan cobaan Nabi Nuh yang tabah dan ikhlas ketika dikenai bala oleh Allah dan berhasil menghadang badai di tengah lautan?” tanya Baginda Umar bin Khattab.

"Ya, Baginda. Ketika itu Nabi Nuh berhasil membelah laut berkat pertolongan Allah yang seolah sebagai hadiah atas kesabaran, ketabahan, dan keikhlasannya dalam menghadapi nasib yang telah digariskan oleh Allah," sahut Abu Syahmah perlahan.

"Nabi Ibrahim juga berhasil menghadapi cobaan yang dahsyat dari Allah. Kau juga pasti ingat tentang cobaan itu," ucap Umar bin Khattab menguji kecerdasan putranya yang tinggal semata wayang itu.

"Ya, Baginda, Ayahanda. Hamba ingat, saat itu demi menjunjung kebesaran Allah, Nabi Ibrahim dengan sabar dan ikhlas melaksanakan perintah Allah untuk mengorbankan anak kesayangannya," jawab Abu Syahmah sambil mengingat-ingat kembali peristiwa bersejarah itu.

"Nabi Ibrahim mendapatkan kebahagiaan karena anak yang akan dikurbankan ternyata diselamatkan oleh Allah," ujar Umar bin Khattab menambahkan keterangan Abu Syahmah yang belum lengkap.

"Oh, iya. Bahkan ketika itu Allah dengan kebesaran-Nya telah menggantikan Nabi Ismail dengan domba, padahal anak Nabi Ibrahim itu telah siap untuk dijadikan kurban," ucap Abu Syahmah menambahkan.

"Yang pasti, uji kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan itu merupakan salah satu ilmu Allah yang harus direbut dan dimiliki oleh seluruh umat di dunia ini. Akan tetapi, untuk merebut dan mendapatkan ilmu Allah itu tidaklah mudah. Kadang bisa berhasil dan kadang bisa saja gagal. Bergantung kemauan serta kemampuan orang yang diuji itu untuk dapat lulus atau tidak. Kalau orang tersebut sabar, tabah, ikhlas, dan berkemampuan untuk mengatasi cobaan yang diberikan Allah kepadanya, insya Allah orang tersebut tergolong orang yang beruntung dan berhasil mendapatkan ilmu Allah. Akan tetapi, jika orang tersebut tidak memiliki kesabaran, ketabahan, keikhlasan, serta kemampuan dalam menghadapi cobaan Allah, orang tersebut tidak termasuk orang yang beruntung dan tidak berhasil mendapatkan ilmu Allah," ujar Umar bin Khattab mengakhiri pelajaran terhadap anak kesayangannya.

Setelah mendengar seluruh pelajaran yang telah disampaikan oleh ayahandanya, Baginda Umar bin Khattab, Abu Syahmah pun berucap.

"Wahai junjunganku, Ayahandaku, jantung hati permataku, seluruh pelajaran sudah hamba terima dan hamba mengerti. Sekarang hamba telah benar-benar siap, tabah, dan ikhlas untuk menerima segala penderitaan dan cobaan sepahit apa pun dari Allah."

Setelah mendengar seluruh penghayatan dan pengakuan Abu Syahmah akan ilmu Allah, Umar bin Khattab pun dengan wajah yang tegas dan langkah yang mantap, serta suara yang lantang berucap untuk terakhir kalinya kepada Abu Syahmah.

"Hai, Anakku yang sangat kusayangi. Sebenarnya, kaulah satu-satunya tumpuan hidupku di hari tua, kaulah kebanggaanku satu-satunya, kaulah satu-satunya umat ciptaan Allah yang memiliki suara paling merdu tiada bandingnya di tanah Madinah ini, kaulah satu-satunya umat Allah yang suaranya bagaikan suara Rasulullah, kau termasuk umat yang pandai membaca serta menerapkan ajaran ayat-ayat Allah, kau tergolong orang yang beruntung karena diberi kesempatan oleh Allah untuk bertobat," ujar Umar bin Khattab gemetaran.

"Alhamdulillah, Ayahandaku," jawab Abu Syahmah sambil menahan dada.

"Maafkanlah ayahmu. Sebagai manusia, aku tidak berdaya serta tidak punya kesanggupan untuk tidak takut kepada Allah. Aku sangat percaya pada kebesaran Allah sehingga aku takut sekali dengan azab dan laknat Allah. Untuk itu, aku melakukan apa yang sudah seharusnya aku lakukan sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Sekali lagi, maafkanlah aku, permataku. Bersabarlah dalam menjalani hukumanmu. Terimalah kembali deraan itu dan tahanlah rasa sakit itu dengan menyebut nama Allah. Tabah dan ikhlaskanlah hatimu dalam menjalani hukumanmu agar engkau mendapatkan kesejahteraan dan surga di akhirat kelak," pesan Umar bin Khattab kepada anak kesayangannya.

"Kalau engkau lupa diri dan lupa akan semua pesan-pesanku, ingatlah ketabahan serta keikhlasan yang telah berhasil dilakukan oleh Nabi Ayub, Nabi Yusuf, Nabi Ibrahim, dan Nabi Nuh yang begitu sabar, tabah, kuat, dan ikhlas dalam menjalani ujian yang diberikan oleh Allah sehingga mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat serta mendapatkan surga serta terbebas dari Azab Allah di akhirat," seolah pesan terakhir kepada Abu Syahmah.

"Ya, junjunganku. Aku sudah sangat siap dan rida untuk menerima hukumanku sesuai dengan dosa dan kesalahanku. Atas nama Allah aku mau bersabar dan ikhlas menerima hukuman itu. Perintahkanlah para juru dera itu untuk segera melaksanakan tugasnya atas nama Allah," pinta Abu Syahmah.

Umar bin Khattab pun memerintahkan para khalifah sebagai juru dera atas hukuman Abu Syahmah untuk segera kembali melakukan penderaan atas hukuman Abu Syahmah.

"Wahai para Khalifah sang juru dera, lakukanlah kembali tugasmu segera untuk menghukum anakku, Abu Syahmah, atas perintahku berdasarkan hukum yang berlaku dan yang telah ditetapkan oleh Allah sebanyak seratus kali deraan," teriak Baginda Umar bin Khattab dengan nada tegas dan mantap.

Mendengar perintah yang diucapkan Umar bin Khattab, para khalifah sang juru dera pun terus-menerus memalu serta mendera Abu Syahmah tanpa ragu-ragu dan takut, atau malu lagi kepada Baginda Umar bin Khattab.

"Lima puluh ..., lima puluh satu ..., lima puluh dua ...," para juru hitung pun melakukan penghitungan terhadap deraan yang dilakukan oleh khalifah sang juru dera kepada Abu Syahmah.

"Allahu akbar ..., Allahu akbar ..., Allahu akbar ...," Abu Syahmah menerima deraan itu seraya menyebut nama Allah.

"Enam puluh ..., enam puluh satu ..., enam puluh dua ...," para juru hitung berhitung terus sesuai dengan jumlah hitungan deraan yang dilakukan oleh khalifah sang juru dera di kota Madinah.

"La ilaha illallah ..., la ilaha illallah ..., la ilaha illallah ...," Abu Syahmah meneriakkan asma Allah.

"Tujuh puluh ..., tujuh puluh satu ..., tujuh puluh dua ...," sang juru hitung terus melakukan tugasnya.

"Muhammadurasulullah ..., Muhammadurasulullah ..., Muhammadurasulullah!" Abu Syahmah kembali merasakan deraan itu.

"Delapan puluh ..., delapan puluh satu ..., delapan puluh dua ...,” para juru dera dan juru hitung bekerja bersama-sama.

"Subhanallah ..., subhanallah ..., subhanallah ...," Abu Syahmah mulai tidak kuasa menahan sakit.

"Delapan puluh delapan ..., delapan puluh sembilan ..., sembilan puluh ...," para pendera dan juru hitung bersatu padu menjalankan tugasnya.

"Allahu akbar ..., Allahu akbar ..., Allahu Akbar ...," Abu Syahmah semakin lemah dan hampir tidak kuasa menerima deraan itu. Abu Syahmah menjerit sekencang-kencangnya. Mereka yang melihat serta mendengar pun ikut menjerit-jerit histeris bagai merasakan deraan yang sedang dijalani oleh anak khalifah itu.

"Hai, junjunganku, ya, Ayahandaku. Kalau demikian, niscaya matilah hambamu ini karena deraan yang sangat berat. Namun demikian, terus deralah hamba agar hukuman ini cepat selesai dan hamba cepat terlepas dari siksaannya yang sangat dahsyat sakitnya," pinta Abu Syahmah memohon.

"Kendatipun kamu harus mati, matilah karena takdir Allah. Untuk itu, ridalah kamu menjalaninya," bantah Umar bin Khattab.

"Hamba rida, ya, Baginda junjunganku, tetapi mengapa deraan ini tidak juga kunjung usai?" tanya Abu Syahmah mengiba-iba.

"Jikalau sudah genap seratus kali deraannya, selesailah sudah rasa sakitmu," ujar Umar bin Khattab memastikan.

"Kapankah deraan itu genap seratus kali?" tanya Abu Syahmah mohon kepastian jawaban.

"Sebentar lagi deraan itu akan genap seratus kali," jawab Umar bin Khattab seolah memberi kekuatan terhadap anaknya.

"Sebentar laginya kapan? Aku sudah hampir tidak kuat!" bantah Abu Syahmah seolah akan menyerah.

"Jikalau sudah genap seratus kali deraan itu, engkau akan disambut dan dikelilingi bidadari," jelas Umar bin Khattab memberi semangat Abu Syahmah yang seolah sudah tidak sanggup meneruskan deraan.

"Selain itu, apa lagi yang akan terjadi sebab aku sedang membutuhkan hiburan untuk mendapatkan kekuatan menghadapi ujian yang dahsyat ini?” tanya Abu Syahmah.

"Selain disambut serta dikelilingi oleh bidadari, engkau juga akan mendapatkan kenaikan pangkat sebanyak tujuh kali kenaikan di atas kedudukanmu yang sekarang," jawab ayahandanya, Baginda Umar bin Khattab, memberi semangat kepada anaknya yang sudah hampir mencapai titik lemah.

"Jika belum genap seratus deraan, engkau telah menyerah kalah, engkau akan dimasukkan ke neraka jahanam yang azab dan siksaannya jauh lebih berat dan dahsyat jika dibandingkan dengan deraan yang kau alami saat ini," ujar Umar menjelaskan serta meyakinkan Abu Syahmah.

"Aku tidak sanggup menghadapi hukuman yang jauh lebih berat dibandingkan dengan deraan ini. Oleh karena itu, lakukanlah terus deraan terhadapku agar aku dapat cepat bebas serta memperoleh imbalan pahala dari Allah," pinta Abu Syahmah dengan semangat.

"Baiklah,” sahut khalifah sang juru dera dan juru hitung secara bersamaan, sambil bangkit untuk memulai penderaan.

"Ya, Tuanku. Telah hancurjah tubuh hamba terkena deraan yang hampir mencapai seratus kali?’ tanya Abu Syahmah memastikan keadaan tubuhnya yang terkena dera.

"Belum seberapa, Anakku. Keadaan di neraka jahanam akan jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan keadaan tubuhmu saat ini. Oleh sebab itu, janganlah sekali-kali melakukan tindakan yang telah dilarang oleh Allah bila tidak ingin merasakan dahsyatnya sakit dan siksa neraka jahanam. Tidak ada satu pun umat yang tahan dan sanggup menahan azab dan siksa neraka jahanam," ujar Umar bin Khattab menjelaskan.

"Hamba tidak mau merasakan azab dan siksa neraka jahanam. Oleh sebab itu, deralah hamba sampai genap seratus kali deraan agar hamba cepat bebas dari rasa sakit yang tidak tertahankan," jawab Abu Syahmah yang seolah menghindari azab dan siksa neraka jahanam.

"Rasa sakitmu belum seberapa dibandingkan dengan yang dirasakan ayahandamu ini yang dari hari ke hari selalu melihat serta menyaksikan orang-orang di kota Madinah yang melanggar hukum," bantah Umar bin Khattab.

"Mengapa demikian, Ayahanda? Bukankah kesalahan setiap orang ditanggung oleh masing-masing pelaku dan tidak perlu diwakilkan kepada orang lain?" tanya Abu Syahmah tidak mengerti.

"Mengapa demikian katamu! Ayahandamu ini seorang khalifah, jadi harus tetap bertanggung jawab terhadap baik buruknya akhlak warga kota Madinah," jawab Umar bin Khattab menjelaskan.

"Maafkanlah hamba, Ayah!” ucap Abu Syahmah dengan malu-malu.

"Sekarang mengertilah kamu, kalau ayahandamu tidak rela melihat hukum Allah diinjak-injak oleh siapa pun," ujar Umar bin Khattab menegaskan posisinya sebagai khalifah Allah.

Mendengar perkataan Umar bin Khattab, Allah berfirman kepada para malaikat.

"Hai, para malaikat. Itulah tandanya hamba-Ku Umar bin Khattab sayang kepada anaknya bukan hanya kasih sayang dunia, melainkan juga kasih sayang akhirat. Oleh sebab itu, dihukumlah anaknya, bahkan sampai nyaris mati karena didera para khalifah. Aku harus memberi ganjaran kepadanya di akhirat kelak dengan nikmat surga, Aku lepaskan ia dari siksa api neraka."

Para malaikat menyarankan agar Abu Syahmah memohon ampun kepada Allah agar meringankan penderitaannya. Seketika itu Abu Syahmah berdoa kepada Allah.

"Ya Ilahi ..., ya Rabbi ..., ya Saidi ..., ya Ayahanda ..., ringankanlah penderitaan hamba ini .... Wahai Ayahanda … berilah sedikit air karena hamba sudah tidak tahan lagi. Rasanya bagaikan mau terbelah dada hamba karena menahan panas yang luar biasa," pinta Abu Syahmah memelas seraya memohon.

"Hai, Abu Syahmah Anakku, ayah tidak akan memberi air setetes pun kepadamu sebab dibandingkan di neraka kelak, kalau kau minta air niscaya akan diberi air panas yang panasnya tiada dapat ditahan olehmu. Jadi, sebaiknya kau tidak usah menuntut apa-apa," ujar khalifah Umar bin Khattab menjelaskan.

"Ya Tuanku, kasihanilah hambamu ini, kapankah kiranya hamba selesai didera karena tubuh hamba sudah terlalu panas sakit tiada tara," ucap Abu Syahmah mengiba-iba.

"Hai, Anakku! Mungkinkah orang yang sedang disiksa di dalam neraka itu minta diberhentikan siksaannya?" tanya Baginda Umar bin Khattab.

"Jika demikian, mendekatlah ayahanda kepada hamba sebab hamba akan mendoakan Ayah dan Ibu hamba. Hamba akan kembali ke rahmat Allah dan sepertinya kematian hamba sudah hampir dekat. Maafkan dosa-dosaku, Ayah, dan relakanlah kepergian hamba sebab hamba akan pergi selama-lamanya," gumam Abu Syahmah melemah.

Khalifah Umar bin Khattab dadanya terasa sesak menahan sedih dan tangis. Warga Madinah yang menyaksikan penderitaan Abu Syahmah ikut menangis. Ketika itu, Baginda Umar bin Khattab pun berujar.

"Hai, Anakku! Peluklah ayahmu ini. Jika diberi umur panjang niscaya kita akan dapat berpelukan lagi."

"Wahai junjunganku, sebenarnya sayangkah Ayah kepada hamba? Hamba mohon jawaban secepatnya sebab hamba sudah tidak tahan lagi dan sepertinya waktu hamba sudah tidak banyak lagi," ucap Abu Syahmah semakin melemah.

"Hai, buah hatiku dan cahaya mataku, sebagai orang tua tidaklah mungkin hamba tidak menyayangimu. Akan tetapi, karena rasa takutku kepada Allah, aku tetap pada pendirianku untuk memerintahkan penyelesaian penderaan terhadap dirimu. Bila hukumanmu selesai, di akhirat kelak akan tampaklah bukti kasih sayangku kepadamu," jawab Baginda Umar bin Khattab mantap.

"Ayah, pertemukanlah hamba dengan ibu karena saya sangat rindu kepadanya. Sepertinya waktu hamba sudah tidak lama lagi. Sebelum hamba pergi, hamba ingin meminta maaf dan memohon pamit agar dosa-dosa hamba kepadanya dimaafkan," pinta Abu Syahmah memohon lirih.

"Abu Syahmah anakku, janganlah kau ingat-ingat tentang siapa pun, termasuk juga ayah dan ibumu. Lepaskanlah hatimu dan ikhlaskanlah segalanya, termasuk hukuman serta penderaanmu. Saat ini bukanlah waktunya untuk banyak berpikir dan berkata-kata," ucap Umar bin Khattab melelehkan air mata.

Semua yang mendengar jawaban Umar bin Khattab menangis karena tidak tahan melihat penderitaan Abu Syahmah. Demikian pula seluruh penduduk Madinah. Pria wanita, tua muda, di laut, di darat, di hulu di hilir, di kota di desa, di lembah di hutan semua menangis karena mendengar pedihnya penderitaan Abu Syahmah. Ketika itu Umar bin Khattab berkata lagi.

"Hai, Anakku, jikalau tuan akan meninggalkan ayahanda, sampaikanlah pesanku kepada Baginda Rasulullah di surga sana. Sampaikanlah kepadanya mengenai apa yang kau alami di sini dan katakanlah kepadanya bahwa ayah sangat merindukannya."

Belum puas berkata demikian, Umar bin Khattab pun berujar lagi kepada Abu Syahmah.

"Hidup di dunia ini tidak akan lama dan akan lebih lama kehidupan di akhirat. Suatu saat kita akan bertemu lagi di sana sebab kita ibarat daun dan tangkainya yang tidak akan pernah berpisah untuk selamanya." Setelah berkata demikian, Umar bin Khattab tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan.

Abu Syahmah menangisi ayahandanya, Umar bin Khattab, dan berpamitan kepada para sahabat Rasulullah.

"Maafkanlahlah dosa dan kesalahan hamba selama di dunia ini. Rasanya hamba sudah kembali ke rahmatullah dan sepertinya hamba sudah tidak lagi menapak ke bumi, bahkan seperti sudah benar-benar mati. Untuk itu, wahai saudara-saudaraku, kembalikanlah aku ke pangkuan Tuhan yang menciptakan alam semesta ini sebab dari Beliaulah hamba berasal dan kepada Beliaulah hamba ingin berpulang," ucap Abu Syahmah semakin tak berdaya. Saat itu Amir Hassan dan Amir Hussin pun datanglah dan menghadap baginda Umar bin Khattab.

"Ya, junjunganku Khalifah Umar bin Khattab, hentikanlah deraan anakmu itu sebab sebagai sesama umat dan sebagai saudara rasanya kami tidak sanggup mendengar serta menyaksikan penderitaan Abu Syahmah yang berkepanjangan dan tidak berkesudahan." Namun demikian, Umar bin Khattab hanya diam seribu bahasa sambil menatap Abu Syahmah dengan air mata berhamburan bagaikan manikam yang putus talinya. Maka semua orang Madinah pun datang memohon dan bersujud di kaki Umar bin Khattab seraya berkata.

"Hai, junjunganku Amirul Mukminin Umar, jadikanlah kami para warga Madinah ini sebagai pengganti ananda Abu Syahmah karena kami tidak sanggup menyaksikan penderitaan saudara hamba itu dan panaslah hati kami melihat siksa serta azab yang diterima anakmu."

"Duhai, sekalian Tuan-Tuan, jika sekiranya penderitaan Abu Syahmah itu dapat digantikan, hambalah orang pertama yang harus menerima dan menggantikan penderitaan tersebut," jawab Umar bin Khattab menjelaskan. Detik itu pula, menyembahlah Abu Syahmah kepada ayahandanya, Umar bin Khattab, seraya berkata dan memohon.

"Tuanku, Ayahanda. Ampunilah hambamu ini. Akan matilah hamba rasanya karena siksaan yang sangat pedih ini."

"Hai, Anakku. Hal itu terjadi bukan karena kehendakku, melainkan karena kehendak Allah semata. Oleh sebab itu, janganlah engkau menyalahkan aku," jawab Baginda Umar bin Khattab membantah. Maka gemuruh tangis para warga Madinah pun meledak tak terkendali. Jawaban itu didengar oleh ibunda Abu Syahmah dan seketika itu wanita tersebut jatuh pingsan tak berdaya. Ketika itu seluruh penghuni rumah Rasulullah merasa kasihan kepada ibunda Abu Syahmah sehingga mereka membasuhkan air mawar kepadanya hingga wanita itu siuman. Setelah siuman ibunda Abu Syahmah pun berujar kepada seluruh keluarga besar Rasulullah.

"Hai, Tuan sekalian anak istri Rasulullah! Katakanlah kepada Baginda Umar bin Khattab untuk menangguhkan deraan yang belum selesai sebab akan dinazarkan oleh ibunda Abu Syahmah dengan menghajikan anak hamba Abu Syahmah; memberi sedekah kepada fakir miskin sejumlah enam puluh emas dirham; dan memuasakan selama empat puluh hari terhitung dari pembebasan anak hamba."

Setelah selesai ibunda Abu Syahmah berkata, menjawablah seisi rumah Rasulullah kepada Umar bin Khattab.

"Ya, Amirul Mukminin Umar! Akankah kau hentikan deraan terhadap Abu Syahmah itu sebab kami sudah tidak tahan lagi untuk menyaksikan penderaan yang tidak lagi berperikemanusiaan?"

Selesai mendapat serangan dari keluarga Rasulullah, Khalifah Umar bin Khattab pun berucap.

"Apakah Tuan-Tuan benar-benar sayang terhadap anak hamba?"

"Kami sangat menyayangi anak Tuan yang bernama Abu Syahmah. Oleh karena itu, izinkanlah kami menggantikannya untuk menerima sisa deraan itu," jawab keluarga Rasulullah.

Setelah mendengar jawaban tersebut, Umar bin Khattab pun berkata, "Hai, Tuan-Tuan! Hanya Tuhanlah yang tahu perasaan hamba setelah anak hamba, Abu Syahmah, genap mendapatkan seratus kali deraan."

Ketika itu Abu Syahmah memberikan salam kepada keluarga Rasulullah dan para sahabatnya.

"Assalamualaikum, wahai Tuan-Tuan sekalian! Sekarang berpisahlah kita dan akan bertemu kembali pada hari Jumat pada saat kiamat," ujar Abu Syahmah menandakan perpisahan.

Mendengar perpisahan yang diucapkan Abu Syahmah seluruh warga Madinah pun gemparlah. Ada yang memeluk Abu Syahmah. Ada yang menciumi tiada henti, dan ada yang menyentuhkan tangannya kepada tangan Abu Syahmah. Seisi rumah Rasulullah pun bertangisan.

Ketika mendengar kematian Abu Syahmah, ibunda Abu Syahmah jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Setelah siuman ia pun menangis seraya berkata, "Hai, Anakku! Mengapa kau tinggalkan bundamu? Bukankah kau tahu bahwa aku sangat mencintai dan menyayangimu? Abu Syahmah cahaya mataku! Hancurlah harapanku. Sengsaralah hari tuaku tanpamu."


Setelah berkata demikian, ibunda Abu Syahmah pun rebah dan pingsan kembali tak sadarkan diri. Setelah sadar ia pun kembali menangis dan berkata lagi. "Kematianmu sungguh sangat sempurna, duhai Anakku. Hal itulah yang membuat bunda tidak menjadi gila. Siapakah yang kelak menemani bunda ke rahmatullah? Setelah sekian lama kita tidak bersatu, mengapa sekarang kita harus berpisah? Menjelang kematianmu, kau terlalu menderita, Anakku, sehingga badanmu menjadi sangat kurus dan kering. Hancurlah hati bunda setelah kau tinggalkan."

Karena ingar-bingar suara tangis, Baginda Umar bin Khattab pun teringat kembali kepada Abu Syahmah dan seketika itu pula khalifah itu pun pingsan serta tidak sadarkan diri lagi. Ketika itu ayahanda Abu Syahmah dibasuh dengan air mawar dan siuman kembali. Begitu terus secara berulang-ulang. Setelah siuman, khalifah kondang itu memeluk serta mencium Abu Syahmah sepuas-puasnya karena tidak akan bertemu lagi di dunia ini. Setelah itu, ia mundur dan bertanya kepada para khalifah sang juru dera.

"Hai, para Khalifah sang juru dera! Sudah genapkah deraan bagi anak hamba? Jawablah dengan jujur? Kalau sudah katakan sudah dan kalau belum katakan belum!" tanya Umar bin Khattab meminta kepastian.

"Tinggal sepuluh kali lagi, Tuan," jawab para khalifah sang pendera.

"Hai, para Khalifah sang pendera, genapkanlah sepuluh kali lagi agar semua dosa anakku Abu Syahmah lunas dan terbayarkan di akhirat kelak," perintah baginda Umar bin Khattab sambil menangis.

"Baiklah, Tuanku," jawab para pendera itu ketakutan.

"Bangun dan kerjakanlah tugasmu agar engkau tidak berdosa karena melindungi orang salah!” perintah Khalifah Umar bin Khattab menahan sedih.

Khalifah sang pendera itu pun melanjutkan tugasnya sambil menangisi Abu Syahmah hingga deraan itu genap mencapai seratus deraan. Tubuh Abu Syahmah bermandikan darah dan jenazahnya ditidurkan oleh Khalifah Umar bin Khattab sambil menangis histeris dan berkata kepada segenap yang hadir.

"Wahai segenap warga Madinah! Telah genaplah deraan terhadap anakku, Abu Syahmah. Dengan demikian, telah sempurnalah tugasku menegakkan hukum di kota Madinah ini sesuai dengan hukum yang ditetapkan oleh Allah. Selanjutnya, hamba tunduk kepada-Mu, ya, Allah. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah sang pencipta alam, sang pemberi karunia, dan Yang Mahasempurna," gumam Khalifah Umar bin Khattab sambil berurai air mata. Setelah itu, berkatalah Umar bin Khattab kepada para sahabat Rasulullah.

"Duhai, Tuan-Tuan sekalian! Bawalah masuk jenazah anak hamba, Abu Syahmah, ke dalam rumah hamba," seraya memegangi kepala dan pingsan seketika.

Setelah siuman, Baginda Umar bin Khattab kembali berdiri dan ikut mengiringi jenazah anaknya sambil menangis dan berkata, "Hai, Anakku. Siapakah yang akan membaca ayat suci Alquran di kubur Rasulullah sebab tidak ada orang yang sepandai engkau ketika membaca ayat-ayat Allah itu? Tidak ada lagi orang yang membaca Alquran semerdu suaramu," ratap Khalifah Umar bin Khattab sambil berjalan di belakang iring-iringan jenazah Abu Syahmah.

Ketika jenazah sampai di rumah ibunda Abu Syahmah, bunda itu menangis terlolong-lolong sambil menutup muka hingga rebah dan pingsan tidak sadarkan diri lagi. Setelah siuman, ibunda Abu Syahmah bangun dan berkata lagi.

"Duhai Anakku, Abu Syahmah, engkaulah permata hatiku. Mengapa kau pergi meninggalkan bunda sebab bunda rindu akan dirimu?" Sambil bersujud memeluk dan menciumi jenazah ananda Abu Syahmah.

Tubuh Abu Syahmah yang berlumur darah dibersihkan oleh ibundanya seraya berkata, "Aduhai anakku, Abu Syahmah, jangan terlalu lama kita berpisah dan janganlah engkau meninggalkan aku selamanya sebab kita akan bertemu kelak di akhirat serta jangan biarkan bunda menanggung rindu dendam tak tertahankan kepadamu, Anakku.”


Setelah jenazah Abu Syahmah tiba di rumah, Baginda Umar bin Khattab berjalan ke luar rumah menemui Baginda Ali. Ketika itu Baginda Ali memerintahkan agar segala kafir ataupun Yahudi yang berada di dalam penjara dikeluarkan untuk ikut beramai-ramai menguburkan jenazah Abu Syahmah hari itu juga. Ketika itu Sayidina Ali serta Usman seperti diperlihatkan sesuatu. Mereka seperti melihat baginda Rasulullah yang sedang duduk di atas mimbar yang bertakhtakan mutu manikam dan dikelilingi oleh lampu-lampu kristal yang sangat gemerlap cahayanya. Hamparan itu berwarna keemasan dan diwarnai oleh berbagai bunyi-bunyian yang begitu indah dan meriah. Di kanan Rasulullah duduk Abu Syahmah dan di kirinya duduk Sayidina Abu Bakar Assidiq. Di hadapan Rasulullah duduk Abdullah yang dikelilingi buah-buahan serta wewangian, seperti wangi kesturi. Ketika itu Baginda Rasulullah mendekat kepada Sayidina Umar dan bersabda.

"Hai, Umar! Allah Taala dan segenap malaikat di langit telah meridai perbuatan Sayidina Umar bin Khattab dalam menegakkan hukum Allah atas anak yang kau kasihi yang bernama Abu Syahmah."

Mendengar Allah bersabda demikian itu, Abu Syahmah pun mendekap dan memeluk ayahanda Baginda Umar seraya berkata, "Ya, Ayahanda. Berkat kerja keras Ayahanda dalam menegakkan hukum di Madinah, hamba memperoleh kemuliaan. Jika tidak disuruh oleh Baginda Ayahanda Umar bin Khattab untuk menghukum hamba dengan palu dan deraan niscaya hamba tidak akan memperoleh kemuliaan itu dan niscaya hamba akan dipalu dan dibakar siksa api neraka. Wahai, Ayahandaku! Kau telah membantu mengangkat orang yang dikasihi Allah dengan menanggung hukum Allah. Bukankah kasih sayang dan siksaan di dunia lebih ringan dibandingkan dengan siksaan di akhirat dan bukankah siksaan di dunia dapat menjadi obat di akhirat?”

Saat itu Rasulullah bersabda kepada Baginda Usman serta Ali dan Hassan Hussin. "Ceritakanlah olehmu kepada segenap pemegang hukum Allah, surgalah balasannya di akhirat.  Hai .... Umar bin Khattab," ujar Rasul melanjutkan sabdanya lagi.

"Hai, Ali! Jangan kau tangkapi para kafir Yahudi, tetapi suruhlah mereka masuk Islam terlebih dahulu dan jika mereka mau jangan engkau bunuh, hai, Baginda Ali dan Usman."

Ketika itu, terkejutlah Baginda Usman karena terbentur terali besi dan ternyata hari pun telah siang. Saat itu juga bersabdalah Baginda Usman,

"Hai, saudaraku Baginda Umar bin Khattab! Surgalah balasan untuk hambamu dan Ananda Abu Syahmah pun telah bahagia serta sejahtera di alam akhirat."

Sementara itu, para Yahudi yang telah masuk Islam pun mendapatkan pertolongan Allah melalui perantara Baginda Rasulullah dianugerahi pakaian yang bagus-bagus. Maka kata Baginda Ali,

"Hai, saudaraku Yahudi! Tuan sekalian telah memperoleh kemenangan dan rahmat dari Allah atas saudaraku sekalian dan janganlah berprasangka buruk kepada hamba sekalian. Akulah pengganti Ananda Abu Syahmah yang sudah dipanggil oleh Allah dengan cara demikian dan Ananda Abu Syahmah juga telah mendapatkan rahmat Allah Swt., baik di dunia maupun di akhirat serta mendapatkan kebahagiaan untuk selama-lamanya.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BETAWOL