PERJUANGAN SUTAN PANGADUAN
KATA PENGANTAR
Pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena di dalam sastra daerah terkandung warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Upaya pelestarian itu bukan hanya akan memperluas wawasan kita terhadap sastra dan budaya masyarakat daerah yang bersangkutan, melainkan juga akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia. Dengan demikian, upaya yang dilakukan itu dapat dipandang sebagai dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.
Sehubungan dengan hal itu, sangat tepat kiranya usaha Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber pada sastra daerah. Cerita yang dapat membangkitkan kreativitas atau yang mengandung nilai-nilai luhur tentang semangat kepahlawanan perlu dibaca dan diketahui secara meluas oleh anak-anak agar mereka dapat menjadikannya sebagai sesuatu yang perlu diteladani.
Buku Perjuangan Sutan Pangaduan ini bersumber pada terbitan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun 1981 dengan judul Sutan Pangaduan dan Sutan Limbah Tuah yang disusun oleh Chairul Harun dalam bahasa Indonesia.
Kepada Dra. Atika Sja'rani (Pemimpin Bagian Proyek), Drs. Muhammad Jaruki (Sekretaris Bagian Proyek), Ciptodigiyarto (Bendahara Bagian Proyek), serta Sujatmo, Sunarto Rudy, Budiyono, Suyitno, dan Ahmad Lesteluhu (Staf Bagian Proyek), saya ucapkan terima kasih atas usaha dan jerih payah mereka dalam menyiapkan naskah buku ini. Ucapan terima kasih saya tujukan juga kepada Drs. Abdul Gaffar Ruskan, M.Hum. sebagai penyunting dan Sdr. Agus Sri Danardana sebagai ilustrator buku ini.
Mudah-mudahan buku ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pembaca.
Jakarta, Januari 1997
Kepala Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa,
Dr. Hasan Alwi
•••
UCAPAN TERIMA KASIH
Cerita anak ini disadur dari buku berjudul Sutan Pangaduan dan Sutan Limbak Tuah. Buku tersebut disadur dari buku karya Chairul Harun, yang di dalamnya menggambarkan cerita rakyat Minangkabau. Kemudian, buku itu diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, 1981. Dengan penyaduran tersebut, cerita itu akan ditulis kembali dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Penyusunan cerita rakyat berjudul Perjuangan Sutan Pangaduan ini sepenuhnya dibiayai oleh Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun anggaran 1996/1997. Sehubungan dengan itu, saya sampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Hasan Alwi, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa; Dr. Edwar Djamaris, Kepala Bidang Sastra Indonesia dan Daerah. Ucapan terima kasih disampaikan juga kepada Dra. Atika Sja'rani, Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah beserta stafnya. Atas rahmat Allah Swt., penyusunan buku ini dapat saya selesaikan. Amin.
Penulis
•••
I. SUTAN PANGADUAN MENERIMA AMANAT
Udara dingin menusuk tulang di malam gelap yang semakin pekat. Suara burung hantu dan desiran angin menambah suasana hikmat di Ranah Kualo Pantai Camin. Malam itu langit tak berbintang, bulan pun mengintip di balik awan. Seolah bulan ingin mengetahui apa yang akan terjadi di bumi ini. Demikianlah suasana malam itu. Sutan Pangaduan gelisah dan sulit memejamkan matanya. Anak yang baru berumur tujuh tahun itu tampak lebih dewasa dibandingkan dengan usianya.
Nenek Sutan Pangaduan bernama Ambun Sani dan kakeknya bernama Tuanku Haji Mudo. Mereka sangat menyayangi cucunya yang telah dirawatnya sejak kecil. Kedua orang tua itu merupakan ayah-ibu Puti Andam Dewi. Sutan Pangaduan sesaat menjenguk nenek dan kakeknya di bilik sebelah. Mereka tampak tertidur pulas, sedangkan dirinya sulit memejamkan matanya. Ia mencoba berdoa dan tanpa disadarinya ia tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu ayahnya, Sutan Sabirullah.
Dalam mimpinya itu, ayahnya tersenyum sambil berkata-kata. "Ayah senang kini kau telah pandai berdoa. Dengan pandai berdoa, berarti kalian sudah kuanggap dewasa. Anakku Sutan Pangaduan, dengarkan pesan ayah kandungmu. Kini usiamu genap tujuh tahun. Meskipun masih kecil, kau sudah harus mengetahui bahwa ibumu, Puti Andam Dewi, sedang sengsara dalam tawanan musuh. Kau telah kehilangan ibu dan ayahmu ketika masih berumur tujuh hari. Ibumu diculik oleh Rajo Unggeh Layang dan ayahmu lenyap di Gunung Ledang. Dahulu kala Rajo Unggeh Layang tidak berhasil mengeluarkan ibumu dari dalam kandungan. Akulah yang berhasil mengeluarkannya. Oleh karena itu, aku menjadi suaminya. Pesanku, jemputlah ibumu dan bebaskan dari tawanan Rajo Unggeh di Taluak Sinalai Tabang Papan. Bila Ibumu meninggal, kau boleh menuntut balas atas kematiannya. Berdoalah kepada Tuhan jika menemui kesulitan. Aku tetap menjagamu."
Suara itu terdengar dengan jelas oleh Sutan Pangaduan. Ia terbangun, tetapi tidak dapat menyaksikan lagi ayahnya yang baru saja menemui dirinya. Hanya cahaya yang masih tampak menerangi ruang tempat tidurnya. Anak itu segera turun dari ranjangnya dan membuka jendela kamarnya. Di luar tampak awan tipis terapung rendah. Di atas awan itu ia melihat ayahnya berpakaian serbaputih sedang melambaikan tangan sambil tersenyum padanya. Ayahnya berpesan lagi kepadanya.
"Ingat, Anakku, sebelum berangkat mencari Rajo Unggeh Layang, temuilah kakakmu yang bernama Sutan Limbak Tuah di Banda Mua. Temuilah ia dengan pakaian kerajaan milik ayah. Percayalah, ayah akan menjagamu sepanjang perjalananmu." Mendengar pesan tersebut, Sutan Pangaduan bertanya sekali lagi, "Siapakah Sutan Limbak Tuah? Benarkah ia kakakku?" Pertanyaannya tidak terjawab dan bayangan itu semakin jauh menghilang. Sutan Pangaduan termenung mengenangkan peristiwa itu. Hingga esok hari ia tidak dapat lagi memejamkan matanya.
Setelah nenek dan kakeknya terbangun, ia segera menceritakan semua peristiwa yang baru dialaminya. Kedua orang tua pengasuhnya itu sangat terharu mendengar tutur cucunya itu. Mereka berpikir mungkinkah anak yang baru berusia tujuh tahun itu dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Padahal, nenek dan kakeknya mengetahui bahwa ibu tirinya Puti Gondan Ganto sangat kejam dan tidak menyukai Sutan Pangaduan.
Sementara itu, di ranah Taluak Banda Mua, Sutan Limbak Tuah tertidur nyenyak di atas peraduannya. Kamarnya besar bertirai indah dan berlantai marmer dengan alas permadani dari Parsi. Ranjangnya terbuat dari kayu jati berukir dengan motif kepala burung dan bunga teratai. Raja itu adalah kakak Sutan Pangaduan, anak dari ibu tirinya yang bernama Puti Gondan Ganto Sori.
Sutan Limbak Tuah pun mengalami hal yang sama seperti adiknya. Ia memperoleh amanat dari ayahnya, Sutan Sabirullah, sebagai berikut.
"Anakku, Sutan Limbak Tuah Raja di Banda Mua. Ayah punya seorang anak dari ibu permaisuriku di Kualo Pantai Camin. Ia bernama Sutan Pangaduan dan bergelar Parampuan. Ia akan datang menemuimu atas perintah ayah. Terimalah ia dan sambutlah seperti layaknya seorang raja. Adakan pesta besar dengan mengundang raja tetangga. Ia akan memakai keris Gando Erak dan Pedang Jenawi. Selain itu, ia memakai hiasan rambut terbuat dari emas murni bertatahkan intan. Ingat, Anakku, meskipun masih muda, Sutan Pangaduan sangat sakti. Ia tempatmu bertanya dan berlindung. Ingat, Anakku, jika kau tidak melaksanakan perintah ayahmu, kau akan berdosa dan neraka tempatmu." Setelah berkata demikian, barulah raja tersadar dari mimpinya.
Keesokan harinya raja merenungi makna mimpinya itu. Ia tidak keberatan atas kehadiran adiknya itu. Akan tetapi, ia mengerti bahwa ibunya, Puti Gondan Ganto Sori, pasti tidak menyenangi kehadiran anak tirinya. Wanita itu pasti akan khawatir suatu ketika Sutan Pangaduan akan merebut dan menggantikan takhta kerajaan milik Sutan Limbak Tuah karena anak itu keturunan permaisuri Raja Sabirullah yang bergelar Gombang Patuanan.
Dugaan Sutan Limbak Tuah ternyata benar. Setelah ia bercerita kepada ibunya, wanita itu menolak penyelenggaraan pesta besar guna menyambut kedatangan Sutan Pangaduan. "Aku tidak setuju jika kau mengadakan sambutan secara besar-besaran. Kalau perlu masukkan ia ke dalam penjara." Demikian ujarnya.
Sementara itu, di desa Kualo Pantai Camin Sutan Pangaduan minta diri kepada neneknya. Suasana mengharukan itu berlangsung sangat singkat. Sutan Pangaduan sengaja tidak memberi tahu kawan-kawan sepermainannya. Hanya disaksikan oleh nenek dan kakeknya, ia berangkat dengan mengenakan pakaian kerajaan yang tampak longgar baginya. Oleh karena itu, meskipun sedih, nenek dan kakeknya tersenyum simpul menyaksikan cucunya berpakaian longgar itu. Akan tetapi, Sutan Pangaduan tidak memedulikan dan berangkat dengan semangat yang tinggi.
Ia yakin bahwa Tuhan melindungi dirinya. Selain itu, berkat doa restu ayah, kakek, dan neneknya ia akan berhasil menemukan ibunya. Dengan berbekal ketupat dan gula enau dari neneknya, ia berangkat. Sebagai ucapan selamat berpisah, Puti Ambun Sani memeluk cucu yang dicintainya itu sambil meneteskan air matanya. Akan tetapi, wanita tua itu tiba-tiba teringat bahwa cucunya itu sangat cerdas dan baik hati, suka menolong, dan bijak dalam bertindak. Oleh karena itu, ia melepas dengan lega.
"Nenek, doakan cucumu dapat pulang dengan selamat."
Puti Ambun Sani hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya tanda berduka. "Berangkatlah, Cucuku. Pesan nenek, janganlah menoleh ke belakang sebelum cita-citamu tercapai. Berdoalah kepada Tuhan jika kau menemui kesulitan di perjalanan. Dan, pandai-pandailah membawa diri di mana kau berada."
Cucu yang setia dan patuh kepada orang tua itu hanya mengangguk-angguk saja mendengar pesan neneknya.
Desa Kualo Pantai Camin yang indah dan tenang itu menjadi sunyi. Karena seorang pahlawan telah pergi menunaikan tugas suci, menjemput ibu tercinta, Puti Andam Dewi.
•••
2. SUTAN PANGADUAN MENEMUI SUTAN LIMBAK TUAH
Sutan Pangaduan berangkat tanpa pamit kepada kawan-kawan yang dicintainya. Perasaan duka meliputi dirinya ketika meninggalkan tanah kelahirannya. Ia berjalan--menyusur pantai, menyeberangi sungai, dan menembus hutan belantara tanpa mengenal lelah.
Ia segera menaiki perahu dan membuka pakaian kebesarannya agar tidak basah terkena air. Dibungkusnya pakaian itu dan diletakkan di atas perahu. Langit di sebelah barat indah berwarna-warni. Ia pun tertegun menyaksikan matahari seperti bola api besar terapung di tepi laut. Tanpa disadari lautan mulai tampak gelap, mendung tiba, gelombang semakin keras, dan angin bertiup kencang. Ia menjadi takut dan panik ketika mengetahui hujan telah turun. Sambil mendayung tanpa tujuan ia berteriak memanggil ayahnya. Sutan Pangaduan bertanya kepada dirinya sendiri. "Mengapa ayah tega menyengsarakan diriku?" Tiba-tiba muncul gelombang besar dan Sutan Pangaduan terdampar di sebuah pulau berhutan.
Saat itu matahari pagi mulai bersinar, udara segar. Ia segera melanjutkan perjalanannya. Seperti layaknya anak kecil lainnya, ia tertarik jika menyaksikan binatang kecil di tengah hutan, yakni kelinci, kijang, atau kera. Ia menghentikan perjalanannya sambil beristirahat. Ia sempat bermain-main dengan sekawanan kelinci yang tampak bersahabat dengannya. Suatu ketika, ia ketakutan melihat harimau dan ular besar melintas perlahan di hadapannya. Akan tetapi, anehnya binatang buas itu tidak mengganggu. Macan tersebut menghentikan langkahnya dan menundukkan kepalanya seperti menghormati Sutan Pangaduan. Sutan Pangaduan melirik sambil berdoa, "Ya, Tuhan, lindungilah hamba dari keganasan binatang buas itu."
Setelah lelah berjalan, ia mencoba istirahat dan membuka bekal ketupat pemberian neneknya. Ketika ia makan dengan lahap, tiba-tiba seekor kera betina menghampirinya dan mengacungkan tangannya. Kera itu meminta ketupat yang sedang dimakannya. Sutan Pangaduan tersenyum dan memberikan ketupat yang tinggal tiga perempat itu. Kera tersebut kegirangan dan lari ke dalam hutan menemui anaknya. Sutan Pangaduan merasa haus. Ia tertidur di tempat itu karena tidak berhasil mencari air minum.
Ketika terbangun, ia terkejut menyaksikan perbuatan kera yang diberi ketupat olehnya. Kera tersebut bersama dua ekor anaknya datang terbungkuk-bungkuk membawa buah-buahan segar. Buah-buahan itu diletakkan di hadapan Sutan Pangaduan dan menepuk-nepuk punggung Sutan Pangaduan sambil menjerit-jerit. Seolah-olah ia berkata agar buah itu dimakan. Sutan Pangaduan mengangguk-angguk dan segera memungut buah tersebut agar tidak ditepuk-tepuk oleh kera itu lagi.
Setelah selesai mencicipi buah pemberian kera itu, Sutan Pangaduan mengelus-elus anak kera sambil mengucapkan terima kasih. Induk kera itu seolah mengerti dan tampak senang menyaksikan anaknya bermain-main dengan Sutan Pangaduan. Tidak lama kemudian Sutan Pangaduan melanjutkan perjalanannya dengan diiringi oleh lambaian kawanan kera yang bersahabat itu.
Sutan Pangaduan hampir sampai ke ranah Taluak Banda Mua. Sebelum sampai di kerajaan itu, ia berniat beristirahat. Tiba-tiba terlihat olehnya sebuah gubuk di tengah hutan. Ia segera mendekati gubuk yang dihuni oleh seorang penjudi bernama Tuo Karam. Laki-laki berwajah menyeramkan itu terkekeh-kekeh melihat kehadiran seorang bocah berpakaian raja yang tampak longgar itu. Ia berpikir, "Jika kujual, pakaian itu tentu harganya mahal dan cukup untuk membayar utangku." Ia terkejut mendengar sapaan Sutan Pangaduan yang sangat lantang. Katanya, "Hai, Pak Tua. Aku bertanya, berapa jauh Banda Mua dari sini dan di mana tempat tinggal Raja Sutan Limbak Tuah?" Mendengar pertanyaan itu, Tuo Karam mencurigai anak ini berniat membunuh raja. Ia segera bertanya, "Hai, anak muda. Apakah kehadiranmu berniat buruk?"
Mendengar pertanyaan itu, Sutan Pangaduan tersenyum. Tuo Karam tersinggung melihat perilaku bocah di hadapannya itu. Ia berusaha menampar, tetapi Sutan Pangaduan mengelak. Demikian seterusnya hingga laki-laki itu mengeluarkan pedangnya dan berusaha membunuh anak tersebut. Sutan Pangaduan mengelak sambil tersenyum menyaksikan kakek yang tampak kepayahan itu.
Sutan Pangaduan bertanya lagi kepada orang tua itu. "Seperti itukah caranya orang tua menyambut kedatangan tamu? Belum apa-apa engkau sudah berniat membunuh."
Orang tua itu semakin marah mendengar ucapan Sutan Pangaduan, tetapi ia ingin menarik keuntungan dari pertemuannya dengan anak muda yang cerdik ini. Oleh karena itu, ia berusaha mengekang amarahnya. "Kau telah melanggar adat negeri ini. Naik ke pondokku tanpa izin. Kau telah melakukan kesalahan dan patut membayar denda."
Laki-laki tua itu tidak memedulikan penjelasan Sutan Pangaduan. Anak itu berkata bahwa "Aku telah memanggil-manggil dari luar, tetapi tidak ada yang menyahut. Lalu dengan apa aku harus membayar denda, aku tidak punya uang?”
Laki-laki tua itu menjawab, "Aku ingin kau menyerahkan hiasan rambutmu." Akan tetapi, Sutan Pangaduan hanya memberikan destarnya. Tuo Karam menolak. Akhirnya, Sutan Pangaduan menyerahkan hiasan rambutnya dengan perasaan kecewa. Belum seberapa jauh ia melangkah pandangannya tertumbuk pada sebuah taman bunga yang sangat indah. Ia segera menemukan sekuntum bunga yang sangat cantik dan harum baunya. Bunga itu berwarna merah kekuning-kuningan dengan serbuk putih bercampur lembayung. Dengan sangat hati-hati, ia memetik setangkai.
Tanpa disadari olehnya, seorang kakek tua yang senasib dengan Tuo Karam sedang mengintai. Orang tua itu pun ingin memanfaatkan kehadiran anak itu. Ia segera menangkap anak itu dan menuduh Sutan Pangaduan melanggar peraturan karena memetik bunga milik raja tanpa izin. Hukumannya denda, padahal anak itu tidak memiliki uang. Mereka bertarung. Karena kalah, orang tua itu segera menunjukkan jalan menuju kerajaan Sutan Limbak Tuah. Sutan Pangaduan pun memberikan pakaian kebesarannya yang diinginkan oleh orang tua penjudi itu.
Sesampai di kerajaan, Sutan Pangaduan menemui kesulitan untuk bertemu dengan kakaknya. Karena pakaian kebesaran yang harus dikenakannya itu sudah bertukar dengan pakaian lusuh yang compang-camping pemberian kedua orang tua penjudi itu. Sementara itu, istana Sutan Limbak Tuah tampak megah dan indah. Di halaman muka tampak bunga-bungaan berwarna-warni tertata rapi. Prajurit kerajaan pun tampak gagah dengan pakaian mewah.
Sutan Pangaduan tertegun berdiri di pintu gerbang istana. Para penjaga tampak mencurigai sebelum ia sempat bertanya. Ketika anak itu bertanya, mereka tertawa terbahak-bahak dan menganggap Sutan Pangaduan orang gila. Mereka benar-benar tidak mau menerima kehadiran seorang anak miskin berpakaian compang-camping.
"Hai, Prajurit. Katakan pada Rajamu, aku bernama Sutan Pangaduan. Aku ingin bertemu kakakku.”
Prajurit itu mengejek sambil menertawakan tamunya. Setelah mereka lelah berperang barulah raja mengetahui kedatangan adiknya. Rupanya raja lupa pesan ayahnya bahwa ia barus menyambut dengan baik. Ia telah mendapat pengaruh dari ibunya agar jangan mau menerima adik yang miskin papa itu. Wanita yang kejam itu berkata.
"Usir dia. Kalau tidak mau, ... tangkap dan gantung dia!"
"Sudah hamba usir, Bunda!" ujar hulubalang.
"Kenapa belum juga pergi?”
"Hamba tidak mampu mengusirnya. Lihatlah, tangan hamba telah bengkak karena menamparnya." Demikian kata hulubalang sambil memperlihatkan tangannya yang seperti udang dipanggang
Sutan Limbak Tuah segera menemui adiknya, setelah ibunya memerintahkan agar ia menangkap anak miskin itu. Ia sangat terkejut melihat wajah bocah itu yang mirip dengan dirinya. Dalam bati, ia sangat iba, tetapi mengingat kehendak ibunya terpaksa ia memerangi adiknya juga.
Ibunya, Ganto Sori berkata, "Kalau Ananda tidak mau menangkap dan menghukum, aku akan meninggalkan istana ini.”
"Baiklah, aku akan menangkapnya. Mungkin ia hanya seorang anak gila." Demikian ujar Sutan Limbak Tuah kepada ibunya untuk menutupi kesalahan adiknya.
Sutan Limbak Tuah langsung membabat leher adiknya dengan perasaan ngeri. Akan tetapi, Sutan Pangaduan masih hidup, menyaksikan kejadian ini kakaknya tampak geram. Selanjutnya, anak kecil yang tidak berdosa itu hanya mengelak serangan raja yang kejam itu sehingga kakaknya lelah. Sutan Limbak Tuah kalah dan pingsan. Untunglah, Putri Lepo Cota menolong menyadarkan raja itu. Kemudian dengan berbagai upaya akhirnya Sutan Pangaduan tertangkap dan dibuang ke danau yang penuh lintah dan buaya.
Di danau itu orang tidak akan selamat lebih dari satu jam setelah dibuang. Karena darahnya habis terisap oleh lintah dan tubuhnya dikoyak-koyak oleh buaya. Untunglah darah Sutan Pangaduan mengandung racun. Lintah-lintah itu mati sebelum mengisap darahnya. Demikian juga buaya yang mendekat tidak berdaya mengoyak tubuh anak itu sedikit pun.
Malam hari telah tiba. Sutan Pangaduan yang berada di atas perahu dengan tubuh terikat tali itu menangis. Ia berteriak memanggil ayahnya karena menyesali dirinya yang malang itu. Ia juga merasa kesal. Mengapa ayahnya tidak menolongnya dalam perkelahian itu hingga ia ditawan di tempat itu. Tidak ada suara yang menjawab pertanyaan itu. Yang terdengar hanya bunyi cacing tanah. Kemudian, ia berkata.
"Kalau aku tahu ayah bermaksud menjebakku, aku tidak akan meninggalkan kampung halamanku. Aku tidak akan meninggalkan nenek dan kawan-kawanku." Anak itu terus bergumam hingga akhirnya ia melihat kehadiran ayahnya di balik awan dan tersenyum.
"Anakku, jangan mengumpat dan menyesali ayahmu. Kau anak raja, kau perlu merasakan betapa pahitnya menjadi tawanan. Kelak setelah menjadi raja, kau akan lebih bijaksana. Ayah tidak berniat memberi kesulitan. Kaulah tempat ayah menghimpun ilmu dan segala kepandaian ayah."
"Ingat, Anakku, walaupun kau sebagai adik, kaulah yang patut menjadi kakak dan melindungi keluarga dalam kesulitan. Sekarang lepaskanlah tubuhmu dari ikatan tambang yang tampak rapuh itu; ayah akan menolongmu."
Tiba-tiba turun hujan lebat. Seluruh kampung gempar menyaksikan banjir yang tiba-tiba melanda daerah itu. Sutan Pangaduan dengan mudah dapat meloloskan diri dari air bah yang menakutkan itu. Ia kembali ke istana menemui kakaknya.
Menyaksikan kehadiran bocah sakti itu, seluruh penghuni istana terkejut. Tanpa disadari Sutan Limbak Tuah datang memeluk adiknya. Akan tetapi, Sutan Pangaduan mengelak dan bertanya mengapa tidak dari tadi ia bersikap manis.
Mendengar pertanyaan itu, raja balik bertanya. "Adikku, ke mana pakaian kerajaan yang seharusnya kau kenakan ketika menghadapku kemarin? Di mana hiasan kepalamu, siapa yang telah merampas pakaian itu?"
Mendengar pertanyaan kakaknya, Sutan Pangaduan bertanya kembali. "Mengapa pertanyaan itu tidak kau ajukan sejak kemarin? Mengapa kau mengusir aku? Apakah karena aku mengenakan pakaian compang-camping?"
Raja gusar mendengar pertanyaan adiknya. Ia berusaha menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada adiknya. Lalu, ia pergi ke hutan seorang diri. Untunglah Puti Lepo Cota datang menolong. Sutan Pangaduan segera memerintahkan Lepo Cota agar mengerahkan penggawa kerajaan untuk mencari raja di tengah hutan. Ia tidak mau masuk ke istana jika kakaknya belum pulang. Bersamaan dengan itu, di tengah hutan Raja Limbak Tuah meratap dan memohon ampun kepada ayahnya karena ia tidak mematuhi perintah ayahnya. Ia takut dikutuk menjadi seekor kera seperti yang dikatakan ayahnya.
Lepo Cota segera memerintahkan kepada empat orang penggawa untuk mencari raja. Dengan segala permohonan, akhirnya raja kembali ke istana. Mereka damai kembali, tetapi raja belum juga lupa akan permasalahan yang dihadapi adiknya. Ia bertanya dengan penuh kesabaran, siapa yang telah merampas pakaian dan hiasan kepala adiknya. Kemudian, Sutan Pangaduan menceritakan kisah perjalanannya hingga sampai ke istana. Raja sangat marah mendengar tutur adiknya. Ia berpikir,
"Jika pakaian itu tidak hilang, peristiwa yang memalukan itu tidak akan terjadi." Setelah itu, Sutan Limbak Tuah memerintahkan para prajurit agar menangkap dua orang penghuni hutan yang telah merampok adiknya itu. Semula raja bermaksud akan memancung kepala penjahat itu. Namun, Sutan Pangaduan segera mencegah karena pancung tidak setimpal dengan perbuatan mereka.
Setelah peristiwa itu, kerajaan tenang kembali. Namun, Sutan Pangaduan hanya beberapa hari saja berada di istana. Sikap manis Ganto Sori dirasakan tidak ikhlas. Bahkan, sikap ramah-tamah yang sangat berlebihan itu menyebabkan ia tidak kerasan tinggal di istana. Anak yang perasa itu mengerti bahwa di balik keramahan ibunya itu tersembunyi kekejaman hatinya. Untunglah suatu hari neneknya datang dari Medan Baik. Puti Lendo Jati merupakan ibu Sutan Sabirullah. Ia datang untuk mengajak cucu kesayangannya itu ke Medan Baik. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Sutan Pangaduan. Mereka berangkat bersama Putri Lepo Cota. Gadis itu pun rupanya sudah tidak betah tinggal di istana itu.
•••
3. SUTAN PANGADUAN MENUNTUT ILMU
Sutan Pangaduan tampak senang berada di istana neneknya, Puti Lendo Jati, yang terletak di Medan Baik. Nenek dan para bakonya, atau saudara sepupunya sangat menyayanginya. Di istana itu Sutan Pangaduan mendapat pelajaran silat dari neneknya. Bakat alam yang dipunyainya membuat ia cepat menangkap pelajaran itu.
Selain belajar silat, ia juga cepat memperdalam kitab Alquran. Bakonya atau sepupu dari keluarga ayahnya yang bernama Puti Lepo Cota telah hafal isi Alquran beserta tafsirnya. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh Sutan Pangaduan hingga Lepo Cota merasa kewalahan. Kadang-kadang neneknya ikut membantu menjawab pertanyaan yang sulit-sulit. Hanya dalam waktu seratus hari Sutan Pangaduan telah menguasai pelajaran ilmu silat dan kitab suci Alquran.
Pada suatu malam yang tenang, Sutan Pangaduan didatangi kembali oleh ayahnya, Sutan Sabirullah. Orang tua itu mengingatkan kembali tugas anaknya untuk menjemput ibunya. Ia berkata, "Anakku, dalam perjalananmu, ajaklah kakakmu Sutan Limbak Tuah. Jika ia menolak, katakan ayah akan mengutuknya, ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berurat, dan di tengah-tengah digirik kumbang. Berangkatlah besok. Jangan Ananda tangguhkan. Jangan berlalai-lalai." Ayahnya sangat disiplin mendidik putranya yang masih kanak-kanak itu. Keesokan harinya Sutan Pangaduan menceritakan beban berat yang ditugaskan ayahnya itu kepada neneknya. Neneknya sangat sedih mengetahui nasib cucunya.
Ia tidak tega menyaksikan beban berat yang dipikul cucunya. Ia menyesali perbuatan anaknya, Sutan Sabirullah.
"Anakku, Sutan Sabirullah, mengapa Sutan Pangaduan dibebani tugas yang belum patut dipikulnya? Ia masih kecil." Neneknya memberi saran agar ia ikut serta bersamanya. Demikian pula Lepo Cota, ia juga ingin turut serta bersama Sutan Pangaduan menumpas Rajo Unggeh Layang. Namun, Sutan Pangaduan tidak peduli, ia menolak saran itu. Ia segera mohon diri akan pergi ke Banda Mua menemui kakaknya, sesuai dengan perintah ayahnya.
Puti Lendo Jati tidak dapat mencegah kemauan cucunya itu karena ia mengetahui tabiat cucunya yang sangat keras hati itu. Dengan berat hati, orang tua itu melepas kepergian cucunya. Ia telah puas dapat menurunkan ilmunya pada cucu kesayangannya. Neneknya berpikir, "Cukup bekal ilmu silat Sutan Pangaduan untuk berperang melawan Rajo Unggeh Layang."
Ketika sampai di Banda Mua, Sutan Pangaduan menceritakan pengalamannya kepada kakaknya. Sutan Limbak Tuah terkejut mendengar pesan ayahnya yang berat itu. Ia menolak pesan itu dan mengajukan beberapa orang prajuritnya untuk mengiringi adiknya sebagai pengganti dirinya. Sutan Pangaduan tidak bersedia diiringi prajurit karena dianggapnya akan merepotkan dirinya saja di sana. Meskipun Sutan Limbak Tuah mengurangi jumlah prajurit hingga hanya tujuh orang yang tampak kuat, Sutan Pangaduan tetap menolak hingga ketujuh prajurit itu merasa tersinggung. Untuk membuktikan ketangguhan mereka, Sutan Pangaduan melawannya. Hanya beberapa gebrakan saja mereka kewalahan, dan jungkir-balik dibuatnya.
Tujuh prajurit tangguh yang semula menghina Sutan Pangaduan yang masih kanak-kanak itu menjadi terperangah. Tujuh prajurit itu mengakui kesaktian dan kelincahan Sutan Pangaduan yang tiada tandingannya. Menyaksikan perkelahian itu, Raja Banda Muah pun menjadi mantap ingin ikut serta mendampingi adiknya. Namun, mereka mendapat hambatan ketika minta diri kepada ibunya. Puti Ganto Sori sangat mengkhawatirkan kepergian Sutan Limbak Tuah. Oleh karena itu, Ganto Sori berusaha mencegah keberangkatan Sutan Limbak Tuah. Ganto Sori meracuni Sutan Pangaduan dengan tujuan agar keberangkatan mereka batal.
Sikap ibu tirinya yang sangat mencurigakan itu selalu diamati oleh Sutan Pangaduan. Ia merasa ada sesuatu yang mengancam dirinya. Sebagai tindakan berjaga-jaga, ketika makan siang telah dihidangkan, Sutan Pangaduan menyelinap keluar. Kebetulan ditemuinya seekor anjing. Ia segera memberi sekepal nasi kepada anjing itu. Ternyata anjing tersebut mati seketika setelah memakan nasi yang telah dibubuhi racun oleh ibunya. Sutan Pangaduan yang pemberani itu segera membeberkan kelicikan Ganto Sori di hadapan raja.
"Mengapa Ibu tega meracun adikku? Mengapa Ibu bermaksud membunuhnya?" tanya Sutan Limbak Tuah pada ibunya sambil menangis.
Ibunya menjawab. "Ibu melakukan semua itu untuk kepentinganmu, Nak! Supaya kau tidak meninggalkan ibumu dan rakyatmu."
"Ia memahami maksud ibunya yang licik itu. Kemudian, ia segera berpamit. "Aku akan berangkat. Jangan Ibu berusaha merintangi aku lagi. Kalau Ibu merintangi, Ayah akan mengutuki kita."
Puti Gondam Ganto Sori menggigit bibir. Ia kecewa rencananya gagal. Sutan Limbak Tuah semakin mengetahui kekejaman ibu kandungnya. Oleh karena itu, ia segera mengajak adiknya berangkat hari itu juga. Ibunya menangis meraung-raung menyaksikan kepergian kedua anaknya. Mereka tidak sempat mendapat doa restu dari wanita yang kejam itu,
•••
4. SUTAN PANGADUAN MENAKLUKKAN RAJO UNGGEH LAYANG
Sutan Limbak Tuah bersama Sutan Pangaduan berangkat dengan perahu kerajaan. Sutan Pangaduan memohon kepada kakaknya untuk mengemudikan perahu. Namun, kakaknya menolak. Dengan diam-diam, ia duduk di buritan membaca doa agar perjalanannya cepat sampai dengan selamat. Doanya terkabul. Angin di buritan bertiup kencang mendorong laju perahu. Sampai di tengah lautan angin bertiup dari tujuh arah. Perahu meluncur melalui gelombang seolah-olah terbang. Sutan Limbak Tuah merasakan pening di kepala, matanya pedih bagai disayat angin, perut terasa mual. Adiknya memerhatikan wajah Limbak Tuah yang pucat pasi. Kemudian, Sutan Pangaduan memerintahkan kakaknya agar pindah ke bagian tengah perahu dan mengikatkan dirinya di tiang layar. Sutan Limbak Tuah menurutinya. Setelah itu, ia pingsan karena ketakutan. Di buritan Sutan Pangaduan berpikir keras dan mengatur siasat untuk mengalahkan Rajo Unggeh Layang.
Mereka sampai di tempat tujuan. Raja yang kejam itu segera menyambut kedatangan kedua orang tamunya. Perilakunya tampak manis dan hormat. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Sutan Pangaduan. Ia menggunakan tipu muslihatnya dengan berpura-pura damai. Ia berkata bahwa kehadirannya akan menjenguk Andam Dewi karena telah rindu padanya. Selain itu, ia juga merestui dan memohon kepada Rajo Unggeh Layang agar raja bersedia dinikahkan dengan Andam Dewi. Raja yang kejam itu sangat gembira mendengar pernyataan Sutan Pangaduan. Ia memang telah lama ingin menikahi wanita tawanannya yang sangat cantik dan halus budi itu. Akan tetapi, telah tujuh tahun lamanya Andam Dewi menolak. Kini ia berhadapan dengan anaknya yang telah menyetujui. Selanjutnya, ia segera memeluk anak kecil yang cerdik itu sebagai ucapan terima kasih. Kesempatan yang baik itu tidak disia-siakan oleh Sutan Pangaduan. Dia segera menusukkan keris Gando Erak ke tubuh raja yang kejam itu. Rajo Unggeh Layang mati seketika. Tubuhnya terkulai di perahu Sutan Pangaduan, tanpa diketahui oleh prajuritnya.
Menyaksikan keberanian adiknya itu, muncul keberanian Sutan Limbak Tuah untuk ikut berperang. Sutan Limbak Tuah memang tidak dapat berperang, tetapi ia takut menolak kehendak ayahnya. Oleh karena itu, adiknya menyarankan agar Limbak Tuah berpegangan kencang di belakangnya.
Mereka turun dari kapalnya dan menyaksikan ratusan bala tentara yang siap menghadang. Mereka pun sempat melihat ke dalam istana, tepatnya di ruang atas. Ibunya melambaikan tangan menyambut kedatangan anaknya. Wanita yang kurus dan pucat pasi itu nyaris tidak dikenali oleh Sutan Pangaduan. Ia iba menyaksikan penderitaan ibunya. Semangat untuk membebaskan ibunya pun semakin berkobar.
Para prajurit akhirnya mengetahui bahwa rajanya telah terbunuh oleh tamu yang tidak diundang itu. Mereka segera menyerang dari segala penjuru. Sutan Pangaduan bertahan dan membunuh setiap musuh yang berani mendekat. Satu per satu musuhnya tewas di tangannya. Ketika hampir memenangkan pertempuran, Sutan Limbak Tuah kelelahan. Matanya terbelalak dan mulutnya terkatup erat dan jatuh pingsan. Menyaksikan peristiwa itu, adiknya mencoba melindungi. Ia menjadi lengah dan akhirnya kakak beradik berhasil ditawan oleh musuh. Para prajurit beramai-ramai menyiksa dua orang anak Sutan Sabirullah. Kedua tubuh itu diikat dan dimasukkan ke jala rantai besi.
"Bawa tawanan kita ke Bukit Pangidaman." Demikian perintah Datuk Lelo Rajo.
Menyaksikan peristiwa ini, Puti Andam Dewi jatuh pingsan. Setelah siuman kembali, ia mengeluh. "Oh, Anakku, Buah Hatiku, Pahlawanku. Jangan takut, Nak, Ibu akan selalu berdoa untukmu, Nak! Ya, Allah, tolonglah anakku dan jauhkanlah dari cobaan berat yang ia tidak dapat menerimanya." Demikian ratap seorang ibu yang sedang cemas memikirkan anaknya.
Sementara itu, seekor burung garuda bernama Burung Terbang Meman dari Mekah hendak menengok Sutan Pangaduan. Burung itu tidak melihat bocah cerdik itu di rumah neneknya. Ia terbang ke seluruh pelosok dan menemukan bocah pemberani itu sedang dalam kesulitan. Ia segera memberi tahu perihal itu kepada kawannya yang bernama Rambak Cino. Kemudian, ia melapor kepada junjungannya, Puti Sari Makah.
Puti Sari Makah merupakan anak kandung Sutan Sabirullah dari selirnya berketurunan Arab. Wajahnya sangat cantik dan suka membela orang lemah. Mereka bertempat tinggal di Mekah. Suatu ketika Puti Sari Makah memperoleh hadiah dari pamannya sepasang burung garuda bernama Burung Terbang Meman dan Rambak Cino. Kedua burung itu bertugas sebagai penghubung antara Makah dan Ranah Minang. Oleh karena itu, ia selalu menengok Sutan Sabirullah di atas Gunung Ledang. Kemudian, sekali-kali ia menengok anak keturunan Sutan Sabirullah di Ranah Minang.
Ketika mengetahui kesulitan yang dialami kedua anak Sutan Sabirullah, ia segera memberi tahu Puti Sari Makah. Setelah mendengar berita musibah itu, ia segera pergi ke Ranah Minang menemui saudara-saudaranya. Dengan menunggang burung garuda itu, ia datang ke Medan Baik. Di sana ia bertemu neneknya dan Puti Lepo Cota. Wanita itu memberitahukan maksud kedatangannya dan mengajak bakonya pergi ke Taluk Sinalai Tabang Papan.
Tanpa berpikir panjang, kedua gadis itu segera pergi menunggang garuda piaraan Sari Makah. Di perjalanan Lepo Cota senang melihat keindahan alam dari atas. Tidak lupa mereka juga selalu berzikir dan membaca doa demi keselamatannya dalam perjuangan itu.
Diam-diam pikiran Sari Makah selalu tertuju kepada kedua saudara tirinya itu. Ia mengatur siasat untuk mengalahkan musuhnya kelak.
•••
5. PUTI SARI MAKAH MENGALAHKAN PANGLIMA SIANTOSI
Kedatangan Puti Sari Makah dan Puti Lepo Cota ke istana Rajo Unggeh Layang dimaksudkan untuk menyelamatkan Sutan Pangaduan dan Sutan Limbak Tuah. Akan tetapi, sebelum berhasil menemukan kedua orang itu, mereka disambut oleh Panglima Siantosi yang bertubuh besar, berhidung mancung, dan berkulit putih. Panglima Siantosi disebut orang kafir, yaitu julukan masyarakat Minang kepada para penjajah Belanda. Kedua gadis itu bingung karena mereka tidak bertemu pasukan Rajo Unggeh Layang. Rupanya pasukan Belanda telah menguasai negeri itu. Dialah penjajah negeri yang sangat senang memanfaatkan situasi yang kacau seperti itu. Penjajah ingin menggantikan kedudukan Raja Unggeh Layang yang telah binasa. Oleh karena itu, Lepo Cota berbisik kepada Sari Makah. "Sebaiknya kita pura-pura menyerah saja, dia sangat licik."
Panglima itu bernama Siantosi; ia tampak tertarik akan kehadiran dua orang tamunya. Kedua gadis itu memang sangat cantik, tetapi Sari Makah lebih cantik daripada Kepo Cota. Oleh karena itu, Sari Makah segera mencari akal. Gadis cantik itu berusaha membujuk rayu Siantosi, kemudian Lepo Cota berpura-pura menjadi pembantunya. Ketika Siantosi mengajak mereka makan, Sari Makah segera mengajukan persyaratan. "Saya bersedia makan dengan Tuan, tetapi kami akan memasak sendiri." Kemudian, Lepo Cota segera berperan menjadi juru masak di dapur.
Siantosi tanpa diperintah mengusir para pengawal. Ia ingin bercakap-cakap berdua saja dengan Sari Makah. Dalam situasi seperti itu, Sari Makah lebih leluasa bercakap-cakap dengan Siantosi. Gadis cerdik itu berhasil mengorek rahasia orang-orang kafir bagaimana cara mereka menguasai Pulau Perca itu. Siantosi menjelaskan bahwa tugasnya adalah mengadu domba raja-raja kecil di sepanjang pantai. Apabila raja-raja itu telah musnah, orang-orang kafir seperti dirinya itulah yang akan menjadi raja. Selanjutnya mereka akan mengawini penduduk asli yang muslim, seperti halnya Puti Andam Dewi. Wanita malang itu hidup sengsara karena menolak diperistri oleh Rajo Unggeh dan orang kafir. Sari Makah berpikir, berarti kami harus menumpas dua kelompok musuh: yaitu prajurit Rajo Unggeh Layang beserta keluarganya. Selain itu, orang kafir yang berada di tempat ini pun harus kami tumpas. Pikirnya, "Oh … betapa beratnya tugas kami! Ayahku, Sutan Sabirullah, bantulah kami menumpas musuh ayah!"
Puti Sari Makah teringat pada neneknya, Puti Lendo Jati. Dalam ingatan Sari Makah, Puti Lendo Jati berseru sambil meneteskan air matanya, "Kasihan menantuku Puti Andam Dewi, ia sengsara dipenjarakan oleh Rajo Unggeh Layang. Seharusnya kitalah yang tua-tua ini yang membebaskan dia. Jangan cucuku si Sutan Pangaduan yang mendapat tugas berat itu. Ia masih sangat kecil, aku sungguh tidak tega melepas dia berperang melawan musuh yang kejam." Karena teringat ucapan neneknya, tumbuh semangat membara pada diri Puti Sari Makah.
Setelah Lepo Cota selesai menaburi masakan dengan racun, ia mempersilakan Panglima Siantosi mencicipi hidangan tersebut. Dengan tetap ramah, Sari Makah mengajak Siantosi makan bersama. Selesai makan, tiba-tiba Panglima Siantosi tewas karena makanan yang terkena racun itu. Mulutnya menyemburkan darah segar. Sari Makah merasa lega karena satu orang pemimpin musuh telah tewas. Tiba-tiba beberapa orang prajurit masuk ke ruang itu dan menyaksikan peristiwa kematian Siantosi. Selanjutnya, perang segera berkobar.
Kedua gadis itu berperang dengan gagah berani. Lalu, mereka menuju ke kaki Gunung Sabut. Menurut Siantosi, Sutan Pangaduan dan Sutan Limbak Tuah dipenjarakan di tempat itu. Hari telah senja. Pasukan musuh banyak yang tewas di tangan Sari Makah dan Lepo Cota. Akan tetapi, bala bantuan orang kafir itu terus mengalir.
Telah tujuh hari lamanya kedua gadis itu bertempur. Sari Makah mencari akal dan meninggalkan Puti Lepo Cota berperang sendirian. Sari Makah berlari ke arah Gunung Lentik Sabut. Dari atas bukit, ia menyaksikan dengan jelas gerak pasukan musuh. Bala bantuan memasuki arena pertempuran dari sebuah lubang pintu masuk ke markas besar pasukan musuh.
Disertai dengan berzikir, Sari Makah berusaha mengumpulkan tenaganya. Akhirnya, ia berhasil menutup lubang pintu itu dengan sebuah batu besar. Ia berteriak seorang diri karena kegirangan. "Oh ... Tuhan, terima kasih, Engkau telah membantu aku menghadang musuh itu dari pintu rahasia.” Demikian serunya dalam hati. Setelah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ternyata benar dugaan Sari Makah, setelah berhasil membendung bala bantuan musuh, ia mendapat musuh baru.
Seorang raja yang beristana di awan sangat terkejut menyaksikan pertempuran hebat. Ia asyik memerhatikan peristiwa berdarah itu lewat teropong intannya. Raja itu bernama Sianggarai, saudara Rajo Unggeh Layang. Raja di atas awan itu sangat dendam ketika mengetahui bahwa Unggeh Layang telah tewas. Meskipun sangat sakti, ia masih mendatangkan bala bantuan. Raja itu dapat menghilang dan berubah bentuk, tetapi saat itu ia merasa ragu-ragu menghadapi keluarga Sutan Sabirullah, musuh kakaknya itu.
Perjuangan Sari Makah dan Lepo Cota hampir berhasil. Mereka tinggal selangkah mencapai tempat penyiksaan Sutan Pangaduan dan Sutan Limbak Tuah. Raja Sianggarai tidak kalah siasat. Ia memerintahkan jin dan iblis turun ke bumi untuk menipu dan menyesatkan kedua gadis itu agar tak berhasil menemukan Pangaduan dan Limbak Tuah. Tiba-tiba tubuh kedua gadis itu terasa berat. Mereka ingin sekali beristirahat. Sari Makah mengajak saudaranya untuk beristirahat di kapal milik Sutan Pangaduan yang ditinggalkan begitu saja di pinggir pantai.
"Oh, lelahnya aku, musuh sudah musnah. Mari kita istirahat di kapal milik Sutan Limbak Tuah. Kita tidak perlu mencemaskan keselamatan kedua adik kita karena kedua orang itu keramat dan sakti," ujar Lepo Cota. Sari Makah sependapat dengan Lepo Cota. Di samping merasa lelah, ia sangat yakin bahwa kedua adiknya tidak akan tewas direbus dalam kancah besar di puncak Gunung Lentik Sabut.
Sudah berhari-hari mereka beristirahat. Mereka selalu tidur nyenyak, bahkan bermimpi indah-indah. Jika terbangun, mereka lupa dengan tugasnya. Mereka terpengaruh oleh bujukan jin dan setan yang dikirim oleh Raja Sianggarai.
Perang tertunda karena kelalaian Sari Makah dan Puti Lepo Cota. Sementara itu, Raja Sianggarai menyiapkan bala bantuan di kerajaan kakaknya, Unggeh Layang. Di balik kesibukan raja berhati kejam itu, Burung Terbang Meman bersama Rambak Cino tetap menjaga saudaranya yang sedang berperang. Kedua burung itu menjelma menjadi burung pipit sehingga mudah bertengger di tempat yang tersembunyi. Mereka belum mengetahui bahwa Lepo Cota dan Sari Makah sedang tidur dan tidak sadarkan diri karena telah ditenung. Mereka hanya menunggu di sekitar perahu tempat peristirahatan dua orang gadis itu dan tidak berani mengganggu. Setelah hampir satu hari satu malam, Terbang Meman mencoba membangunkan kedua gadis itu, tetapi tidak berhasil. Menyaksikan gelagat ini, Rambak Cino segera memberi tahu Sutan Sabirullah di Gunung Ledang.
Sutan Sabirullah sangat murka mendengar laporan Rambak Cino si burung setia itu. Pertapa itu segera bersemadi. Ia membangunkan Puti Sari Makah dan menyadarkan anak gadisnya agar waspada. Sementara itu Sari Makah yang sedang asyik tertidur bermimpi bertemu ayahnya.
Ia tampak gembira, tetapi ayahnya bermuka cemas. Oleh karena itu, Sari Makah mencoba bertanya. "Apakah gerangan yang mencemaskan Ayah?" Orang tua itu menjawab. "Anakku, tidakkah engkau sadari bahwa dirimu dalam keadaan tersihir? Dari Mekah engkau berniat membantu membebaskan adikmu, tetapi sekarang engkau bersenang-senang, menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran seperti itu. Tugasmu belum selesai, tinggal satu langkah lagi." Mendengar perkataan ayahnya, Sari Mekah sangat terkejut seperti bangun dari mimpi.
Sari Makah segera mohon ampun kepada ayahnya. Ia tidak segera membangunkan Lepo Cota. Ia bergegas mencari air wudu untuk bersembahyang. Ia membaca doa dan berzikir untuk memulihkan kekuatannya kembali. Tak lupa ia berdoa kepada Tuban agar saudaranya Lepo Cota segera sadar dari mimpi-mimpi indahnya. Doanya terkabul, bahkan dia mendapat petunjuk agar berpakaian jubah putih dan tak membawa senjata berat. Setelah Sari Makah bersembahyang, Lepo Cota telah bangun dari tidurnya. Kedua wanita itu bergegas mengenakan jubah putihnya.
Dua gadis itu berkata seolah-olah terkejut. "Rupanya musuh menghampiri tempat tinggal kita. Kita harus segera menghadang mereka!"
Pertempuran kembali berkobar. Musuh hampir habis dibasmi kedua gadis itu. Sari Makah dan Puti Lepo Cota berhasil menemukan sarang para penggawa Rajo Unggeh Layang di balik lubang yang sudah ditutup oleh Sari Makah. Ia melihat Datuk Paduko Lelo Rajo dan Ampang Limo Basi. Kedua panglima itu terkejut menyaksikan kedatangan dua gadis itu. Mereka mengira Sari Makah dan Lepo Cota telah pulang ke kampung halamannya.
Sari Makah bertanya, "Datuk Paduko, bukankah Datuk seorang muslim? Mengapa kini menjadi budak orang kafir?"
Datuk Paduko sangat geram mendengar pertanyaan gadis itu. Lepo Cota waspada mengawasi para panglima. Ampang Limo Basi berusaha melarikan diri, tetapi tidak berhasil. Ia dihadang oleh Lepo Cota.
Puti Lepo Cota tidak melewatkan kesempatan itu. Ia lekas-lekas menanyakannya, "Ke mana dua orang saudaraku dan Puti Andam Dewi kau sembunyikan?"
Datuk Paduko Lelo Rajo menjawab. "Carilah sendiri."
Lepo Cota menjadi marah, ia berkata, "Kalau begitu, kau memang ingin mati, ya...?" Sambil berkata begitu ia mengibas-ngibaskan jubahnya.
Lelo Rajo pontang-panting dan terhuyung- huyung ke arah Sari Makah. Wanita itu pun segera mengibaskan jubahnya. Lelo Rajo terpental ke arah Lepo Cota, demikian seterusnya. Orang itu menjadi bulan-bulanan hingga akhirnya rebah tidak bernyawa lagi. "Silakan kau enyah ke neraka, hai pengkhianat!" Demikian seru Lepo Cota setelah melihat musuhnya tidak berdaya. Kedua gadis itu lega karena pengkhianat bangsa yang bersekutu dengan orang kafir itu tewas.
Puti Sari Makah dan Puti Lepo Cota menggeledah istana batu hitam. Mereka mencari Puti Andam Dewi, Sutan Pangaduan, dan Sutan Limbak Tuah yang sedang ditawan.
Sementara itu, Sutan Palampaui, sepupu Sutan Pangaduan, memperoleh tugas dari ibunya untuk membantu bakonya atau sepupunya. Ia datang dari Bandar Langit dengan mengendarai perahu. Sari Makah sangat senang melihat kehadiran bakonya itu. Ia segera mengajak Sutan Palampaui untuk membebaskan saudaranya yang ditawan. Sutan Palampaui tidak lupa membawa air penyambung hayat dan tujuh helai lidi.
Sutan Palampaui mengamati keadaan di sekitar tempat itu. Ternyata masih banyak perahu musuh yang merapat di tempat itu. Ia menembaki perahu-perahu tersebut dengan sangat gencar sehingga perahu itu tenggelam. "Perahu-perahu musuh itu cukup besar dan tangguh karena memiliki senjata modern dan banyak mesiu milik orang kafir. Aku harus menumpasnya lebih dulu agar tidak merepotkan gerak kami nantinya." Demikian pikirnya.
Selain itu, Sutan Palampaui sempat melihat ke kiri dan ke kanan. Ia mencari dua ekor burung pipit yang pandai berbicara tadi. Ia yakin bahwa kedua burung itu pasti jelmaan Burung Terbang Meman dan Rambak Cino. Ternyata burung yang dicari itu tidak tampak lagi.
Sari Makah menegur dengan kesal, "Ayo ... kau sedang mencari apa lagi, kita harus segera mencari Sutan Pangaduan? Kita sebaiknya menuju ke arah itu, mungkin burung pipit itu ada di sana. Mereka pasti sudah menyelidiki lebih dahulu dan akan menunjukkan pada kita kelak." Demikianlah ajak Sari Makah yang sudah lebih dahulu mengenal medan pertempuran.
Sari Makah menggandeng Sutan Palampaui. Pria itu tiba-tiba melepaskan pegangan saudaranya ketika mendengar suara merdu. Mereka melihat seorang wanita berparas cantik sedang menyanyi. Melihat wanita itu berparas cantik, Palampaui ingin mendekati. Untunglah Sari Makah selalu waspada. Ia sempat mencegah pemuda itu sambil berkata, "Jangan kau turuti nafsu setanmu. Wanita yang bernyanyi itu adalah iblis penggoda yang dikirim oleh Sianggarai agar kita terlena. Cobalah kau berzikir agar tidak terpengaruh bisikan setan itu."
Sutan Palampaui sadar dan segera melantunkan ayat-ayat Alquran. Dengan seketika, nyanyian aneh itu hilang.
Sementara itu, di medan pertempuran, mayat prajurit yang tewas berserakan di mana-mana. Lepo Cota dan Sari Makah bersepakat membersihkan tempat itu dari mayat tersebut. Lepo Cota berdoa kepada Allah memohon agar air laut menyapu bersih tempat itu. Ia segera mengajak dua orang saudaranya agar menyingkir karena air bah akan segera datang. Tidak lama kemudian air bah datang menghanyutkan mayat yang bertumpuk di sekitar istana. Setelah air surut, tempat itu telah bersih. Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanannya.
Dalam perjalanan mereka bertemu dengan dua ekor burung pipit jelmaan burung Terbang Meman dan burung Rambak Cino. Burung itu berdoa sehingga berubah kembali ke wujudnya sebagai burung garuda. Kemudian, dua burung itu mengajak Sari Makah, Lepo Cota, dan Sutan Palampaui terbang menuju tempat penahanan Sutan Pangaduan dan Sutan Limbak Tuah.
Sampai di tempat penahanan mereka menjerit, menangis, dan meraung-raung menyaksikan penderitaan Limbak Tuah dan Pangaduan. Mereka segera menurunkan belanga besar tempat merebus Limbak Tuah dan Pangaduan. Meskipun air hampir habis, bara api masih tetap menyala sehingga hawa panas terasa hingga jarak lima meter. Karena memiliki ilmu kekebalan, mereka selamat dari bara api yang menempel di tubuhnya.
Selanjutnya, Sari Makah, Lepo Cota, dan Palampaui membuka ikatan di pinggang kedua saudaranya. Tubuh Sutan Pangaduan dan Sutan Limbak Tuah nyaris membusuk, tetapi kedua orang itu masih hidup meskipun sudah tidak bernapas lagi. Sari Makah, Lepo Cota, dan Palampaui berdoa memohon agar nyawa Pangaduan dan Limbak Tuah kembali ke jasadnya. Sutan Palampaui menggunakan air penghidupan dan mencambukkan tujuh batang lidi ke tubuh Pangaduan dan Limbak Tuah. Seketika mereka terbangun, tetapi tubuhnya masih lemah.
Untuk memulihkan kesehatannya, Lepo Cota berusaha mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh dua orang saudaranya itu. Tubuh yang semula kaku dan dingin itu menjadi lemas dan hangat kembali. Sutan Pangaduan terbangun lebih dahulu dan bercerita mengenai pengalamannya. Kemudian, Sutan Limbak Tuah terbangun dari tidurnya.
Pertemuan mereka sangat mengharukan. Sari Makah sambil berlinang air mata memeluk dan mencium kedua saudara tirinya yang tabah menghadapi cobaan. Cukup lama mereka berbincang-bincang. Kemudian kelima orang itu bersama-sama berusaha membebaskan Puti Andam Dewi untuk dibawa kembali ke Medan Baik.
Sebelum berangkat, Sari Makah dan Lepo Cota berdoa memohon petunjuk ke arah mana mereka harus mencari. Setelah mendapat petunjuk, barulah mereka berangkat. Tidak lama setelah mereka berjalan, tampak oleh mereka sebuah menara kaca yang cukup tinggi. Di puncak menara itulah Andam Dewi ditawan.
Semula Sutan Pangaduan bersedia naik hingga ke puncak menara itu.
"Jangan," kata Puti Lepo Cota.
"Kenapa?" tanya Sutan Palampaui.
"Tidak ada jaminan Ibu dapat selamat sampai di bawah. Kita harus bersama-sama naik. Karena menara itu dibuat oleh Sianggarai, perjalanan ke atas menara penuh bahaya.”
Perdebatan terjadi. Mereka kesulitan mencari jalan menuju menara tinggi itu.
Setelah berpikir keras, Lepo Cota menemukan jalan keluar. Wanita itu dapat mendatangkan air bah. "Jika air menggenang hingga ke ujung menara itu, mereka akan sampai ke puncaknya."
Mereka segera membagi tugas. Kedua wanita itu. menjaga tiang perahu layar yang akan ditumpanginya agar tidak tenggelam di air.
Kemudian, Puti Lepo Cota berdoa. Ia berzikir dan menggunakan tenaga dalamnya untuk mendatangkan air pasang. Ia berusaha agar gelombang laut yang datang mengalir dengan tenang. Ia mengendalikan angin agar genangan air pasang tidak deras. Dengan memegang tiang layar perahu, mereka berusaha mengapung hingga sampai di ujung menara.
Sampailah mereka di tempat Puti Andam Dewi dikurung. Untuk membuka jendela, terpaksa Sari Makah membuka mahkotanya yang terbuat dari intan. Ia menggosokkan mahkota itu pada kaca jendela sehingga hancur berantakan. Empat orang penyelamat itu berhasil menemui Andam Dewi.
Sementara itu, Raja Sianggarai tidak rela melepaskan begitu saja wanita tawanannya. Ia melepaskan petir bertubi-tubi. Sari Makah sempat terkejut dan mahkotanya yang dipegangnya terlepas dari genggamannya. Akan tetapi, ia mencoba tetap tenang dan tidak menceritakan perihal mahkotanya yang terlepas itu kepada saudaranya. Dalam ruangan yang indah itu, terbujur tubuh Puti Andam Dewi yang dicarinya selama ini. Wanita itu tidak menikmati keindahan hiasan rumah yang terdiri atas bermacam-macam kaca. Ia hanya merasakan penderitaan akibat belenggu yang mengikat tubuhnya hingga tidak dapat bergerak.
Lepo Cota dengan sangat hati-hati melepas rantai yang membelenggu leher Puti Andam Dewi. Perlahan-lahan ia membangunkan wanita yang lemah fisiknya itu. Setelah terbangun, wanita itu terkejut dan hampir tidak percaya menyaksikan pemandangan yang aneh itu. Berulang kali ia mengusap matanya. Kemudian Sutan Pangaduan berkata.
"Akulah Sutan Pangaduan anak Sutan Sabirullah." Setelah itu, ia juga memperkenalkan seluruh saudaranya yang telah membantu dalam membebaskan Puti Andam Dewi. Sementara itu, Sari Makah terjun ke dasar air mencari mahkota intan yang terjatuh. Tanpa disadari air pasang hampir surut. Ketika mereka keluar dari ruangan, puncak menara telah sejajar dengan tanah. Tanpa mereka sadari, bangunan menara itu putus bagian bawahnya. Lepo Cota segera mencari Sari Makah. Ia menyaksikan saudaranya tampak lesu dan bersedih.
Lepo Cota mencoba bertanya kepada Sari Makah mengenai hal yang sedang dirisaukannya. Sari Makah berusaha menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak ingin mengubah suasana haru dan bahagia itu menjadi suatu kekecewaan di hadapan Ibu Andam Dewi. Ia segera menghampiri ibu tirinya dan memeluk erat-erat sebagai tanda kasih.
Wanita tua itu berkata, "Syukurlah, kalian tampak rukun-rukun walaupun tempat tinggal kalian berjauhan. Kalian masih dapat saling bekerja sama. Memang begitulah seharusnya bersaudara itu. Aku mengucapkan terima kasih kepadamu, Lepo Cota, Sari Makah, dan Sutan Palampaui."
Ibu Andam Dewi mencoba bangkit dari tempat tidurnya, tetapi rebah kembali karena tenaganya masih belum pulih. Keempat muda-mudi itu segera memancarkan kekuatan tenaga dalamnya untuk memulihkan kekuatan ibunya. Lalu, mereka berunding akan pulang ke Medan Baik.
Tiba-tiba datang Reno Laut. Wanita itu merupakan adik Rajo Unggeh Layang. Ia berpura-pura bersedih karena dirinya telah sebatang kara di dunia ini. Ia ingin ikut bersama mereka ke Medan Baik. Ia bersedia menjadi budak Puti Andam Dewi. Reno Laut minta dikasihani oleh Sutan Pangaduan. Ternyata Sutan Pangaduan terpengaruh rayuan itu. Padahal di balik semua itu, Reno Laut ingin mengetahui kediaman Andam Dewi dan akan menculiknya kembali. Wanita berhati iblis itu masih dendam atas kematian kakaknya yang bernama Rajo Unggeh Layang.
Kepura-puraan Reno Laut telah diketahui oleh Sari Makah. Gadis yang cerdas itu berusaha mengingatkan Lepo Cota agar membatalkan keinginannya mengajak Reno Laut. Akan tetapi, tidak berhasil. Sutan Pangaduan bersikeras akan membawa Reno Laut ke Medan Baik.
Kemudian, Reno Laut menemui Puti Sari Makah. Dalam percakapannya, ia mengatakan bahwa dirinya telah menemukan mahkota intan itu dan menyerahkannya kepada Puti Sari Makah. Puti Sari Makah terkejut. Ia mengetahui bahwa hal ini merupakan siasat Reno Laut agar diterima menjadi pembantu Puti Andam Dewi dan diajak ke Medan Baik. Sari Makah tetap menolak, akhirnya Reno Laut menyerahkan mahkota berlian kepada Sutan Pangaduan. Reno Laut berharap agar Sutan Pangaduan mampu membujuk Sari Makah menerima mahkota itu.
Puti Sari Makah tetap menolak. Ia membuang mahkota itu ke laut meskipun membutuhkan mahkota pemberian ayahnya. Untunglah burung garuda kesayangannya dapat mengambil kembali mahkota itu dari laut. Burung itu menyerahkan mahkota itu kepada ibu Puti Sari Makah. Kemudian, Puti Sari Makah berkata kepada Sutan Pangaduan. "Adikku, engkau harus hati-hati terhadap wanita itu. Jika perlu, kau bunuh saja. Gadis itu musuh orang tua kita. Saya khawatir dia akan kembali menculik ibu." Demikian ujar Sari Makah dengan kesal.
Setelah perdebatan antara Sutan Pangaduan dan Sari Makah selesai, mereka pulang ke Medan Baik. Puti Sari Makah pulang ke Mekah dengan hati kecewa.
•••
6. SUTAN PANGADUAN MENJADI RAJA
Puti Lendo Jati sangat bahagia menyambut kedatangan cucunya yang baru saja berperang melawan musuh yang terkenal kekejamannya. Wanita tua itu menanyakan cucunya yang tidak tampak saat itu, yakni Puti Sari Makah. Dijelaskan bahwa gadis itu langsung pulang ke Mekah. Puti Sari Makah tidak setuju bila Reno Laut ikut bersama mereka. Akan tetapi, Sutan Pangaduan terlanjur menyanggupi mengajak Reno Laut.
Mendengar cerita cucu-cucunya, Puti Lendo Jati ikut kecewa. Ia merasa prihatin. Ia menyadari bahwa dalam keluarga itu terdapat musuh. Musuh yang senantiasa mengintai keselamatan kerajaan itu. Wanita tua yang cukup berpengalaman itu sependapat dengan cucunya Puti Sari Makah. Untuk menepis rasa waswas dalam dirinya, ia selalu berdoa agar anak dan cucunya terhindar dari malapetaka. Di lain pihak Reno Laut mengetahui kewaspadaan Puti Lendo Jati. Ia menjadi tidak senang. Wanita berhati kejam itu selalu mengintai dan mencari kesempatan untuk menghancurkan keluarga itu. Padahal Sutan Pangaduan telah melupakan dan memaafkannya.
Suatu hari Sutan Limbak Tuah mohon diri kepada neneknya karena sudah cukup lama berada di Kerajaan Medan Baik. Ia mohon diri setelah menyaksikan penobatan Sutan Pangaduan menjadi raja di daerah itu. Acara penobatan cukup meriah dan dihadiri seluruh kerajaan kecil yang berada di sekitar daerah tersebut. Puti Andam Dewi terlihat sangat bahagia menyaksikan buah hati satu-satunya menjadi raja di negeri leluhurnya walaupun ayah kandungnya tidak dapat menyaksikan.
Sementara itu, di Kerajaan Tambang Bunga hiduplah seorang putri raja yang sangat cantik. Ia bernama Puti Sari Melur. Ayahnya, Raja Kaliullah, telah berusaha mengadakan sayembara untuk memilihkan jodoh bagi anaknya. Akan tetapi, Sari Melur belum juga menemukan pasangan yang cocok. Suatu malam raja tersebut bermimpi bertemu Sutan Sabirullah. Pertapa itu menganjurkan agar Puti Sari Melur segera meminang Raja Medan Baik yang bernama Sutan Pangaduan karena raja itu belum mempunyai istri. Oleh karena itu, Raja Tambang Emas segera datang ke Medan Baik. Di istana Medan Baik, Puti Sari Melur diterima dengan ramah oleh raja. Sutan Pangaduan ternyata juga bermimpi yang sama. Dia mendapat petunjuk akan berjodoh dengan seorang putri raja yang bernama Sari Melur.
Tidak lama kemudian kerajaan kembali ramai karena akan diadakan pesta pernikahan Sutan Pangaduan. Setelah perkawinan berlangsung, Sutan Pangaduan pindah ke istana Sutan Kaliullah. Karena ayah mertuanya telah tua dan sakit-sakitan, Sutan Pangaduan memerintah tiga wilayah kerajaan, yakni Kerajaan Tambang Bunga, Bandar Bunga, dan Medan Baik. Sementara itu, Puti Andam Dewi pulang ke Kualo Pantai Camin, rumah orang tuanya.
Beberapa bulan kemudian, istri Sutan Pangaduan mengandung. Semenjak itu tingkah laku Sutan Pangaduan menjadi aneh. Ia sering bicara seorang diri. Mengetahui hal itu, Sari Melur memberanikan diri bertanya kepada suaminya. Sutan Pangaduan menjawab bahwa selama ini ia selalu teringat kepada ibunya, Andam Dewi. Ia ingin menjemput ibunya, tetapi tidak tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil.
Suatu malam Sari Melur bermimpi buruk tentang mertuanya, Andam Dewi. Keesokan harinya ia bercerita kepada suaminya. "Kejadian apa yang akan menimpa ibumu karena aku memimpikannya ditelan ikan besar dan dibawa entah ke mana?" Mereka membaca kitab nujum milik Sutan Kaliullah. Kitab itu meramalkan bahwa Puti Andam Dewi kembali diculik oleh Sianggarai dan Reno Laut. Sutan Pangaduan sangat terkejut dan mencemaskan ibunya. Akan tetapi, ia berusaha menutupi kegelisahannya karena istrinya masih hamil. Ia berkata bahwa mimpi merupakan bunga tidur.
Sutan Pangaduan semakin gelisah dan tampak murung. Istrinya memberi saran agar Sutan Pangaduan segera pergi mencari ibunya. Sari Melur meyakinkan suaminya bahwa jika terjadi sesuatu pada suaminya, maka anak yang kelak lahir akan membela. Sementara itu, upaya Reno Laut bersama kakaknya, Sianggarai merencanakan akan menculik Andam Dewi kembali. "Kesempatan baik ini jangan kita sia-siakan. Kita harus dapat merebut kembali Andam Dewi. Akibatnya Sutan Pangaduan tidak akan bahagia karena mengenang ibunya. Cita-cita kita untuk menghancurkan keluarga Sutan Sabirullah akan tercapai." Demikian rencana Sianggarai.
Dengan diam-diam, kedua orang itu menyamar sebagai orang suruhan Sutan Pangaduan. Mereka pergi ke Kualo Pantai Camin menjemput Andam Dewi untuk dibawa ke Kerajaan Tambang Bunga. Andam Dewi merasa senang karena ia memang sudah rindu kepada Sutan Pangaduan. Di perjalanan menuju rumah Sutan Pangaduan, wanita malang itu baru menyadari bahwa dirinya berada di tangan musuh. Reno Laut dan Sianggarai berubah menjadi sangat bengis dan memaksa wanita itu pergi menjauh dari kerajaan anaknya.
Di Istana Tambang Bunga Sutan Pangaduan merasa tidak tenang hatinya. Menjelang malam Sutan Pangaduan berpamitan kepada istrinya. Ia harus pergi untuk merebut ibunya kembali dari tangan musuhnya. Sutan Pangaduan menangis terharu di hadapan istrinya. Ia sangat mengagumi ketabahan istrinya.
Baru kali ini Sari Melur menyaksikan suaminya mengeluh dan menangis kepadanya. Wanita yang sedang hamil tua itu memahami bahwa suaminya sedang risau. "Tenanglah, Suamiku. Kau tidak perlu memikirkan aku. Aku mampu melahirkan tanpa dihadiri oleh ibumu atau engkau sekalipun, tidak apa-apa ...! Sekarang kau harus segera berangkat mencari ibumu."
Sutan Pangaduan berdoa memohon kepada Allah agar diberi jalan terang sehingga mencapai kebahagiaan. Kemudian ia memutuskan untuk berangkat keesokan harinya. Ia berpesan kepada istrinya. "Istriku, perhatikan pepohonan yang kutanam di halaman rumah itu. Jika suatu hari pohon itu layu, berarti aku berada dalam bahaya. Doakan agar aku selamat pulang kembali ke istana. Jangan katakan pada siapa pun jika ibu kita ditawan Raja Sianggarai! Tabahkan hatimu jika engkau akan melahirkan!" Sambil berkata Sutan Pangaduan memeluk dan membelai rambut istrinya. Jika lahir anak laki-laki, beri ia nama Sutan Parhimpunan. Jika lahir anak perempuan beri ia nama Puti Sari Alam. Setelah berpesan kepada istri yang dicintainya, ia segera berangkat.
Hati Sari Melur sangat sedih, tetapi ia sembunyikan kesedihan agar suaminya tenang di perjalanan. Ia berdoa memohon perlindungan Tuhan. "Walaupun harus berpisah, lindungilah kami berdua, ya, Allah." Demikian ratap wanita yang sedang hamil tua itu kepada Tuhannya.
Kandungan Sari Melur telah genap sembilan bulan. Ia selalu bangun malam bari dan berjalan ke luar halaman karena merasa gerah di dalam kamarnya. Sambil berdoa ia memandangi bunga yang ditanam suaminya. Tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh. Gempa besar terjadi. Air laut pasang dengan cepat. Gelombang itu menelan apa saja yang ada di depannya. Pada malam itulah lahir bayi laki-laki putra Sutan Pangaduan.
Puti Sari Melur tertidur sewaktu kelahiran bayinya. Seolah-olah bayi itu tidak ingin menyusahkan orang tuanya. Wanita itu bermimpi terbang ke langit. Waktu bermimpi terbang itulah bayinya lahir tanpa rasa sakit yang dideritanya. Ketika terbangun, wanita itu tidak melihat bayinya. Yang terlihat hanyalah sebuah lubang pada lantai.
Ia pergi ke dapur merebus air. Dengan air yang hangat ia membasuh tubuhnya. Kemudian ia pergi ke kamar mengambil pedang Jenawi pusaka Sutan Kaliullah. Dengan pedang terhunus, ia turun dan mengorek bayinya yang terbenam pada sebuah lubang. Kemudian, Sari Melur memangku bayi laki-laki itu di pangkuannya. Lalu ia berkata, "Kau bernama Sutan Parhimpunan, jika kau keturunan Sutan Sabirullah dan anak Sutan Pangaduan, kau akan tahan menghadapi segala ujian."
Wanita yang tegas dan pemberani itu meletakkan bayi yang masih merah itu di tikar dan memancungnya. Ternyata bayi itu tidak terluka oleh bacokan pedang yang tajam. Puti Sari Melur masih kurang puas. Ia pergi ke belakang merebus air di kuali besar hingga mendidih. Bayi itu dicelupkan ke dalam air. Sutan Parhimpunan kegirangan dan bermain air mendidih di kuali besar itu. Selanjutnya wanita itu beristirahat dan meninggalkan bayi itu sendirian di dapur.
Setelah terbangun, ia pergi ke belakang menyaksikan putranya. Air mendidih dalam kuali yang berada di atas api membara itu hampir habis. Saat itu bayinya sedang merangkak keluar dari kuali itu. Selanjutnya, ia membuat ayunan untuk tempat tidur anaknya. Kini telah tujuh hari umur bayi itu. Meskipun tak pernah disusui dan diberi makan, anaknya tumbuh sehat. Pada malam itu, Sari Melur menyaksikan pohon tanaman suaminya layu. Hal itu menandakan bahwa suaminya berada dalam bahaya. Sari Melur segera menggendong anaknya dan berangkat mencari suaminya malam itu juga. Wanita yang pemberani itu berangkat dengan menaiki perahu kertas milik ayahnya.
Di perjalanan dia bertemu dengan seekor Buraq. Burung itu mencium bau bayi. Kebetulan ia sangat lapar. Buraq mencoba mendekati perahu yang berisi seorang ibu dengan bayi. Ia tidak pernah berhasil mendekati perahu. Setelah berhasil mendekat, ia terkejut karena merasakan arus panas yang menyengat. Lalu ia bertanya kepada penumpang perahu kertas itu. "Hai, siapa namamu orang cantik? Aku ingin mengenalmu!"
Puti Sari Melur menjawab. "Aku Puti Sari Melur dan ini anakku Sutan Parhimpunan."
Mendengar pengakuan wanita itu, Buraq terkejut. Ternyata wanita itu adik dan kemenakannya sendiri. Buraq yang pandai bicara itu bertanya, "Mengapa kamu malam-malam begini berlayar seorang diri di angkasa?”
Kemudian, Sari Melur menceritakan kejadian yang menimpa suaminya.
Setelah mendengar tutur kemenakannya, Buraq berusaha mencegah kepergian Sari Melur. "Sebaiknya, kau pulang saja, Adikku! Tidak ada yang mampu mengalahkan Sianggarai, kecuali Sutan Sabirullah."
Puti Sari Melur berkeras hati akan pergi mencari suami dan ibu mertuanya. Dia berkata dengan tegas. "Aku akan mencoba mencarinya. Bila aku gagal, kelak anakkulah yang akan menggantikannya.”
Buraq memaklumi dan bangga atas keberanian wanita itu. Kemudian, ia berkata, "Kalau begitu kita berpisah. Aku tidak dapat membantumu karena ada keperluan lain yang harus aku selesaikan. Terimalah tiga helai buluku. Jika perlu bantuanku, bakarlah buluku ini. Aku akan segera datang membantumu."
Setelah berkata demikian Buraq pergi meninggalkan kemenakannya.
•••
7. SUTAN PANGADUAN MENYADARI
KESALAHANNYA
Sementara itu Sutan Pangaduan berlayar seorang diri dengan perahu milik Sutan Limbak Tuah. Belum jauh perjalanannya, Sutan Limbak Tuah dan Sutan Palampaui menyusul akan memberi bantuan. Sutan Pangaduan sangat senang atas perhatian saudaranya itu. Akan tetapi, ia menolak bantuan itu. Ia berkata, "Sebaiknya kakakku kembali ke negerimu. Tidak baik rakyat ditinggal lama-lama. Kau tidak perlu mendampingiku. Aku mohon doamu agar aku berhasil menyelamatkan ibuku."
Setelah mengalami kesulitan, Sutan Pangaduan menyesali kekeliruannya. Ia menyesal tidak pernah mengindahkan saran kakaknya. "Maafkan aku yang bodoh ini kakakku Sari Makah. Engkau benar, Reno Laut mengikuti keluarga kita dengan maksud membalaskan dendam kakaknya, Rajo Unggeh Layang. Kini aku telah menyengsarakan ibu, istri, anak, dan diriku sendiri. Oh, Tuhan, ampunilah dosaku. Mestinya aku harus tegas menolak permohonan wanita iblis itu."
Dalam perjalanan Sutan Pangaduan bertemu dengan Rajo Bujang. Semula mereka bertanding menunjukkan kesaktiannya masing-masing. Meskipun sembilan hari bertarung, mereka tetap tampak seimbang. Kemudian mereka memperkenalkan asal-usul keluarganya. Ternyata Rajo Bujang merupakan kakak Puti Andam Dewi. Sutan Pangaduan tidak dapat menolak bantuan pamannya itu. Mereka pergi ke Gunung Lentik Sabut.
Sianggarai mengetahui kehadiran dua laki-laki itu. Ia menghujani kedua orang itu dengan peluru dan mengerahkan empat puluh orang prajurit tangguh. Dengan tipu muslihat, Sutan Pangaduan dan Rajo Bujang dapat diringkus. Mereka tidak sadarkan diri setelah memakan buah-buahan. Seluruh tenaga dalamnya habis disedot oleh musuhnya. Dalam keadaan tidak berdaya, mereka diikat dan dibawa ke dalam tanah dekat tempat Puti Andam Dewi ditawan.
Tanpa diketahui Sutan Pangaduan, Sari Melur menyusulnya. Wanita yang setia kepada suaminya itu berhasil membunuh musuhnya. Satu per satu pasukan kafir dibunuhnya pada malam hari.
Sementara waktu Sari Melur dan anaknya bertempat tinggal di hutan belantara tempat para jin bersemayam. Para jin dan setan lari tunggang langgang melihat kehadiran Sutan Parhimpunan. Ibunya membuatkan buaian anaknya dari Embun Perak di antara pohon-pohon besar. Pada siang hari, Sari Melur menenun pakaian anaknya yang akan dikenakan kelak bila telah besar. Pakaian itu ditenun dari angin dan api. Selama setahun, ia menenun pakaian itu. Sutan Parhimpunan tampak kecil jika memakai pakaian itu. Setelah berpikir, Sari Melur menyadari bahwa dirinya telah menyia-nyiakan waktu selama satu tahun.
Sari Melur segera melancarkan serangan kembali tanpa mengenal lelah. Siang-malam ia berperang sampai lupa makan dan minum. Bahkan, anaknya pun terlantar.
Raja Sianggarai terkejut menyaksikan jumlah bala tentaranya menyusut. Ia mengetahui hal itu atas dengan teropong intannya. Segera ia melapor kepada neneknya, raja jin Rebut Kapo-Kapo. "Baiklah, Cucuku, nenek akan berusaha melumpuhkan semangat wanita sakti itu. Akan kuculik anaknya agar ia sibuk mencarinya."
Setelah lelah berperang Sari Melur kembali ke tempat buaian anaknya. Ia terkejut mengetahui anaknya tidak ada lagi di buaiannya. Ia mencari ke sana kemari. Tuhan memberi petunjuk. Ketika tertidur di sebuah batu, ia bermimpi seolah-olah mendapat bisikan. "Hai, Puti Sari Melur, carilah anakınu ke puncak Gunung Lentik Sabut."
Dengan susah payah, ia mencari puncak Gunung Lentik Sabut. Ia berdoa mohon petunjuk kepada Tuhan agar dapat menemukan anaknya kembali. Tiba-tiba ia mendengar suara bayi menangis. "Oh, … itukah suara anakku, di manakah kau, Nak?" Sambil mencari arah suara itu, ia menundukkan kepalanya di sebuah batu besar. Ternyata anaknya telah terimpit di batu besar itu. Rebut Kapo-Kapo geram. Bayi itu telah disiksanya, dibacok, dibanting, dan dibakar. Akan tetapi, bayi itu tidak juga mati. Oleh karena itu, ia mengubur hidup-hidup bayi itu di bawah batu besar.
Puti Sari Melur bersemadi mengumpulkan tenaga dalamnya untuk mencongkel batu itu. Ia lega setelah dapat melepaskan bayinya dari impitan batu besar itu. Wanita itu segera menyusui bayi itu. Baru satu kali itu Sutan Parhimpunan menyusu ibunya. "Oh, Tuhanku, maafkan hamba yang ceroboh ini. Atas kehendak-Mu, semoga bayi ini lekas besar setelah menyusu padaku. Semoga kelak ia dapat membantuku mencari ayahnya. Lindungilah keluarga kami, ya, Tuhan!" Demikianlah doa Sari Melur ketika sedang menyusui anaknya. Setelah menyusu kepada ibunya, bayi itu mendadak dapat berjalan dan tubuhnya tumbuh sehat. Sejak itu Sutan Parhimpunan tidak pernah lepas dari gendongan ibunya. Sambil berperang, Sari Melur pun tetap menggendong anaknya di belakang. Berkali-kali tali penggendong itu putus.
Suatu ketika Raja Sianggarai mengancam. Ia akan menculik anaknya kembali jika Sari Melur tidak menghentikan peperangannya. Wanita itu tidak memedulikan ancaman itu, bahkan ia tidak memedulikan ketika anaknya hilang. Wanita itu tetap membabat musuh-musuhnya yang berada di dekatnya.
Raja Sianggarai menggunakan berbagai cara untuk membinasakan musuhnya yang masih bayi itu. Sianggarai menjatuhkan bayi itu tepat di dekat ibunya. Kemudian, ia melancarkan pedangnya ke bumi dengan dikendalikan oleh jin. Putus menjadi dua tubuh Sutan Parhimpunan dan Sari Melur. Satu potong berada di bumi dan satu potong lagi tubuh kedua orang itu berada di lautan.
Sutan Kaliullah yang berada di pertapaan gelisah. Hatinya tidak tenang dan selalu ingin mengetahui keadaan anaknya. Ketika singgah ke Tambang Bunga, ia tidak menemukan anak dan cucunya. Dari atas terlihat olehnya dua potongan tubuh di atas lautan. Ia mengetahui tubuh itu milik anak dan cucunya. Ia segera mencari dua potongan yang lain. Potongan itu ditemukan di daratan. Karena bersinar, potongan mayat dengan mudah dapat ditemukan.
Orang tua sakti itu sangat iba menyaksikan anak dan cucunya telah tewas. "Oh, Anakku, mengapa engkau tidak pernah bercerita kepadaku jika kau mendapat kesulitan?" Orang tua itu menilai bahwa anaknya sangat setia kepada suaminya. Oleh karena itu, ia segera berdoa memohon kepada Tuhan agar anaknya dihidupkan kembali. Sutan Kaliullah berdoa dan mohon pada Allah untuk mendatangkan empat puluh empat orang suci dari negeri Mekah. Allah mengabulkan permohonan umat-Nya. Orang-orang suci itu memohon kepada Tuhan agar menghidupkan Puti Sari Melur dan Sutan Parhimpunan.
Permohonan orang-orang suci dan Sutan Kaliullah terkabul. Akhirnya mereka hidup kembali setelah tubuh mayat itu disatukan oleh Sutan Kaliullah. Para aulia atau orang suci itu segera menyalami anak dan ibu yang baru saja hidup kembali. Lalu mereka kembali ke Mekah. Sutan Kaliullah pun segera memohon diri kepada anak dan cucunya. Sewaktu berpisah, ia berpesan.
"Anakku, Sari Melur dan Cucuku, Sutan Parhimpunan, berhati-hatilah kau menghadapi musuhmu. Jika kalian benar-benar berniat membebaskan Sutan Pangaduan, berdoalah mohon kepada Tuhan. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang berat jika kau tidak mampu menerimanya. Hanya itu pesanku." Demikianlah ujar pertapa sakti itu sebelum berpisah.
Kepandaian Sutan Parhimpunan semakin menonjol. Ibunya sering kewalahan menjawab pertanyaan yang dikemukakan anaknya. Ketika menyaksikan iring-iringan prajurit Sutan Parhimpunan bertanya. "Ibu, siapakah mereka, mengapa ia membawa senjata rencong?"
Ibunya menjawab, "Itu pasukan musuh ayahmu yang harus kita tumpas, Nak! Kita harus memeranginya agar ayahmu bebas dari tawanan Raja Sianggarai."
Bocah cerdik itu berpikir keras setelah mendengar penjelasan ibunya. Ia mengusulkan agar dirinya saja yang maju perang melawan musuhnya itu. "Ibu, kalau begitu izinkan saya saja yang menumpas para prajurit itu."
Ibunya tidak segera menjawab. Wanita itu gugup dan bingung. "Jangan, Anakku. Engkau belum dewasa, Nak. Ibu tidak melarang kau membebaskan ayahmu jika kelak kau dewasa!"
Anak kecil itu tetap merajuk. Bahkan, berkata, "Jika Ibu tidak mengizinkan hamba dan memberi restu, berarti Ibu ada di pihak musuh."
Wanita itu tidak berdaya mencegah kemauan anaknya.
Kemudian, ibu yang setia itu berdoa agar anaknya selamat dalam pertempuran. Sutan Parhimpunan bergegas pergi dari buaian embun perak ciptaan ibunya. Ia tampak dewasa sewaktu mengenakan pakaian yang ditenun oleh ibunya dari api dan angin. Semula ibunya mengira pakaian itu masih terlalu besar bagi anaknya. Namun, setelah dikenakan, pakaian itu menjadi pas di badan anak itu. Secara ajaib, tubuh Sutan Parhimpunan mengembang besar menyesuaikan dengan pakaian kebesaran itu. Ia menggunakan tali untuk mengikat pedang Jenawi yang cukup panjang itu. Tali itu diikatkan ke pinggang hingga senjata itu dapat tertarik.
Orang tertawa menyaksikan perilaku anak kecil itu. Para prajurit tidak menyadari bahwa bocah cerdik di hadapannya itu musuh yang akan membunuhnya. Tidak lama kemudian pecah pertempuran sengit. Pertarungan yang sangat tidak berimbang. Seorang bocah melawan ratusan prajurit.
Dalam peperangan itu, Sutan Sabirullah dan Sutan Kaliullah, membantu dengan memberikan kekuatan batinnya. Pedang yang berat menjadi terangkat karena kekuatan dua orang pertapa tersebut. Sedikit demi sedikit pasukan Raja Sianggarai binasa.
Beberapa hari setelah bocah perkasa itu membinasakan musuhnya, bala bantuan terus mengalir. Sutan Parhimpunan mulai berpikir, "Bagaimana cara menghancurkan musuh dengan cepat? Aku akan lelah jika menghadapi satu per satu."
Ia memerhatikan sinar matahari yang memancar ke bumi. Anak yang cerdas itu menyadari bahwa matahari memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Oleh karena itu, ia memohon kepada Tuhan agar kekuatan matahari itu membakar musuh yang berada di hadapannya. Permohonan Sutan Parhimpunan dikabulkan Tuhan. Tidak lama kemudian terjadi kebakaran besar di hutan. Seluruh prajurit musuh terbakar hangus di hutan itu.
Setelah menyaksikan tumpukan mayat di sekitarnya, ia berdoa sekali lagi. Kali ini ia memohon agar didatangkan air bah dari lautan yang letaknya tidak jauh dari tempat itu. Tuhan mengabulkan doanya. Air bah yang dahsyat segera datang dan menyapu habis seluruh mayat yang berada di hutan. Suasana menjadi tenang kembali. Pepohonan di hutan itu segera tumbuh kembali berkat doa bocah yang tabah itu.
Setelah selesai berdoa, ia terkejut karena dirinya berada di atas pepohonan. Tiba-tiba muncul seorang wanita memakai cadar. Ia mengira musuh belum tumpas seluruhnya. Ia menantang dan mengajak wanita itu berkelahi. Segera terjadi perkelahian. Wanita itu hanya menghindar sambil tertawa terbahak-bahak. Sutan Parhimpunan semakin gencar menghantam ke kiri dan ke kanan. Bocah itu tampak kesetanan dan ingin segera membunuh wanita yang sakti itu. Lama-kelamaan wanita itu tampak kelelahan dan jubahnya tersingkap karena tersangkut ranting pohon.
Sutan Parhimpunan mencuri pandang ingin mengetahui siapa wanita itu. Ia terkejut setelah mengetahui bahwa wanita itu adalah ibunya sendiri. "Oh, Ibu, maafkan aku, anakmu yang ceroboh ini, sama sekali aku tidak mengenali Ibu. Bunuhlah anak durhaka ini, percuma saja kau membesarkan aku. Aku hendak membunuhmu, Bu." Demikian ratapan anak yang mencintai ibunya itu. Wanita bijak itu merangkul dan mengelus rambut anaknya. Sambil berlinang air mata ibu itu berkata.
"Tenanglah, Anakku, ibu mengerti engkau telah berbakti kepada ayahmu. Sekalipun masih kanak-kanak, engkau memiliki tekad kuat seperti layaknya orang dewasa. Engkau mampu menumpas habis ratusan prajurit dengan keimananmu. Kini tugasmu belum selesai. Kau harus membebaskan ayah dan nenekmu. Selain itu, musuh besar penghalang kita adalah Rebut Kapo-Kapo. Engkau harus waspada menghadapinya." Setelah berkata demikian wanita itu memerintahkan anaknya agar segera berangkat menghancurkan musuhnya.
Sebelum membunuh Rebut Kapo-Kapo, ia harus menghadapi pengawalnya, yaitu iblis berkepala empat. Kepala itu selalu dilambung-lambungkan di atas ombak, sedangkan kaki iblis itu dijulur-julurkan ke pantai. Iblis yang berjumlah empat puluh empat itu tinggal di Pulau Rantak Sewan. Ia berdoa memohon kepada Tuhan agar diizinkan menyaksikan wujud para iblis itu. Setelah dapat menyaksikan wujud iblis itu, ia dapat membinasakannya.
Sutan Parhimpunan memerlukan waktu sembilan hari untuk membunuh iblis itu. Walaupun lelah, ia langsung menuju ke tempat tinggal Rebut Kapo-Kapo di Gunung Lentik Sabut. Ia baru beristirahat setelah sampai di kaki gunung itu. Ia melihat sebuah batu besar menghalangi jalan. Kemudian, ia memilih tempat yang bersih di dekat batu itu dan duduk. Karena kelelahan, ia tertidur. Dalam tidurnya, ia mendapat petunjuk Sutan Sabirullah.
"Wahai, Cucuku, Sutan Parhimpunan, kau tidak dapat membunuh Rebut Kapo-Kapo dengan pedang jenawimu. Segala ilmu yang kau punyai belum memadai dibanding ilmu nenek sihir itu. Oleh karena itu, berusahalah agar dapat dirimu masuk ke perut wanita tua itu. Datanglah engkau kepadanya sebagai seorang anak yang ingin berguru. Lunakkan keganasannya dengan lidahmu." Bocah penurut itu terbangun dari tidurnya setelah kakeknya menghilang dari mimpinya.
Ia segera menemui Nenek Rebut Kapo-Kapo dan anak itu berkata.
"Ampun hamba Nenek Raja Jin. Hamba mengetahui bahwa siapa saja dilarang masuk ke tempat tinggal Nenek. Karena ingin menemui Nenek, hamba memberanikan diri datang kemari."
Mendengar ucap Sutan Parhimpunan, Nenek Raja Jin itu balik bertanya. "Apa tujuanmu datang ke tempat peristirahatanku ini?”
"Hamba berniat menjadi murid Paduka. Hamba mendengar bahwa kesaktian Nenek sangat tersohor sampai ke delapan penjuru angin. Semoga Nenek bersedia menerima hamba sebagai murid."
Nenek Raja Jin itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia bangga mendengar pujian yang disampaikan Sutan Parhimpunan dengan sangat halus itu. Tanpa berpikir lagi nenek itu menerima Parhimpunan sebagai muridnya. Bocah cerdik dan pemberani itu diperbolehkan bertanya tentang segala ilmu yang dituntutnya. Akan tetapi, ia tidak boleh sekalipun membantah perintah yang diberikan oleh Rebut Kapo-Kapo. Sutan Parhimpunan menyanggupi persyaratan itu.
"Digantung hamba tinggi, dibuang hamba jauh. Segala perintah Nenek akan hamba laksanakan," kata Sutan Parhimpunan.
Rebut Kapo-Kapo sebenarnya sudah lama ingin menurunkan ilmunya kepada manusia. Kini cita-citanya tercapai. Ia memamerkan segala kepandaiannya, seperti menyemburkan api dari mulut. Lidah api sepanjang ratusan depa menyembur dari mulut Rebut Kapo-Kapo.
Sutan Parhimpunan ikut mencoba pula. Rebut Kapo-Kapo tertawa terbahak-bahak karena dari mulut bocah itu yang menyembur bukan api, melainkan air liur. Kemudian, nenek itu berkata.
"Atur pernapasanmu, Hirup udara sebanyak mungkin. Tahan dalam perutmu lama-lama. Semburkan melalui pangkal lidah. Ulang berkali-kali," kata Rebut Kapo-Kapo.
Sutan Parhimpunan mencoba menjalankan apa yang diperintah nenek itu, tetapi masih tetap menyemburkan air liur bukan api. Malahan makin banyak. Nenek jahat itu tidak lagi tertawa melihat kesungguhan Parhimpunan. Ia bersungguh-sungguh ingin mengajarinya.
"Mungkin ada yang ganjil dari lidah Nenek hingga mampu menyemburkan api," kata Sutan Parhimpunan.
"Tidak ada yang berbeda. Pangkal lidahku seperti pangkal lidahmu," kata Rebut Kapo-Kapo.
"Bolehkah hamba melihat?" tanya Sutan Parhimpunan.
"Boleh, silakan," jawab Rebut Kapo-Kapo.
Raja jin itu membuka mulutnya lebar-lebar. Tanpa disadari nenek itu, bocah sakti itu memperkecil tubuhnya. Lalu, ia melompat masuk ke mulut nenek itu. Bukan main marahnya nenek tua itu.
Di dalam perut, Sutan Parhimpunan memotong tali jantung musuhnya. Kemudian dengan cepat, ia merobek-robek isi perut Rebut Kapo-Kapo hingga tewas. Ia keluar dengan membelah perut Nenek Raja Jin itu.
Setelah sampai di tempat tinggal ibunya, ia segera menceritakan pengalamannya ketika membunuh nenek Rebut Kapo-Kapo. Anak itu heran karena ibunya tidak memuji. Bahkan, ia pura-pura tidak mendengar, lalu ujarnya.
"Beristirahatlah untuk beberapa waktu. Kalahkanlah rasa banggamu. Karena rasa banggamu yang berlebihan itu akan menyebabkan engkau sombong dan melupakan Allah. Bersihkanlah tubuhmu dan sanubarimu dari napas, air ludah, dan darah serta bau Rebut Kapo-Kapo."
"Mengapa Ibu mengatakan demikian?"
"Baumu sangat busuk. Wajahmu tidak lagi seperti wajah manusia. Sanubarimu telah berkabut," kata Sari Melur.
Sutan Parhimpunan menangis tersedu-sedu.
"Apa yang harus ananda lakukan, Bunda?” tanya Parhimpunan.
Mendengar pertanyaan putranya, ibu yang mencintai putranya itu merasa iba. Air matanya menetes membasahi pipi.
"Masuklah kembali engkau ke dalam buaian Embun Perak. Engkau harus berpuasa selama setahun. Yang boleh engkau makan hanya angin dan minum air embun."
Sutan Parhimpunan menuruti perintah ibunya. Ia berpuasa dan selalu berzikir dalam buaian Embun Perak. Sementara itu, ibunya menenun angin dan api dari cahaya matahari hingga menjadi seutas tali. Tali itu dapat disimpan di dalam kuku meskipun tali tersebut sangat panjang dan kuat. Tali itu dapat dipergunakan sebagai tangga untuk mencapai ke istana Sianggarai.
Setahun telah berlalu. Sutan Parhimpunan telah mengakhiri puasanya. Tubuhnya kini semakin dewasa. Parasnya semakin tampan, bersih, dan bersinar. Kesaktiannya pun bertambah. Namun, ia tetap sayang dan patuh kepada perintah ibunya. Ia tidak pernah mengeluh menghadapi cobaan yang berat sekalipun. Bahkan, ia selalu ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya. Walaupun masih kecil, Sutan Parhimpunan yakin bahwa Tuhan akan selalu menolong dan melindunginya.
•••
8. SUTAN PARHIMPUNAN PENJAGA RANAH MINANG
Setelah memakai pakaian kebesaran buatan ibunya, Sutan Parhimpunan mohon diri untuk pergi menumpas Raja Sianggarai. Ibunya sempat mengingatkan Parhimpunan yang akan pergi berjuang.
"Tunggu, Anakku, kita harus ingat bahwa tujuan kita meninggalkan Kerajaan Tambang Bunga adalah membebaskan ayahmu dan nenekmu. Oleh karena itu, sebaiknya utamakanlah membebaskan kedua orang itu. Mereka sangat menderita di dalam kurungan musuh. Setelah mereka bebas, engkau boleh minta pendapat ayahmu. Apakah Raja Sianggarai perlu dibunuh atau tidak?" Sambil berkata, ia menyerahkan tali ajaib itu. "Simpanlah tali ini ke dalam kukumu, dan pergunakan jika perlu."
Bocah pemberani itu mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia memeluk ibunya serta mohon doa restu.
Sutan Parhimpunan menuju Negeri Sanabari. Sesampainya di negeri itu, ia mengagumi keindahannya. Ia berjalan menyusuri jalan dan lorong bertembok tebal. Dalam negeri yang maju itu, ditemui beberapa bangunan pabrik dan rumah megah peninggalan orang kafir. Dengan mempergunakan ilmu pukau, Sutan Parhimpunan berhasil mengelabui penjaga pintu gerbang kota. Ia berjalan-jalan seperti pelancong layaknya hingga akhirnya merasa lelah.
Anak itu berjalan terus menuju suatu perbukitan berbatu-batu. Dari lereng bukit itu, tampak keindahan alam dan perkampungan yang tertata rapi. Di kejauhan tampak olehnya sekawanan burung pulang menuju sarangnya yang menandakan hari hampir malam. Awan putih berarak, mengambang sangat rendah, dan langit tampak memancarkan cahaya berwarna-warni. Matahari hampir tenggelam. Ia makan buah-buahan sekadar menghilangkan rasa dahaga. Kemudian, ia menemukan segunduk batu besar yang pipih. Bocah sakti itu mencoba merebahkan badan dan tidur di atas batu itu.
Keesokan harinya menjelang subuh ia terjaga dari tidurnya. Didengarnya suara gaduh di bawah batu. Suara besi yang beradu dengan besi dan suara orang bercakap-cakap. Ia mempertajam pendengarannya sehingga suara itu semakin terdengar jelas. Lalu, dicobanya mengangkat batu tersebut. Batu tidak terangkat karena sangat berat. Ia mencoba memutar batu ke arah kanan dan tidak berhasil. Kemudian, ia menarik napas dalam-dalam. Karena masih penasaran, ia mencoba sekali lagi menggeser batu itu ke arah kiri. Ternyata batu sebesar itu berhasil dengan mudah digeser. Betapa terkejutlah ia karena di bawah batu itu terdapat lubang besar menuju ke bawah tanah. Sutan Parhimpunan kemudian memasuki lubang besar itu. Lubang besar itu berujung di suatu ruangan.
Sesampainya di dalam ruangan, ia melihat beberapa pekerja sedang menempa besi membuat senjata. Tubuh mereka besar dan berotot kuat. Mereka bekerja dengan badan setengah telanjang. Tubuh mereka bersimbah keringat. Telinga mereka hampir tuli karena setiap saat mendengar suara bising di pabrik senjata yang dirahasiakan itu. Namun, pendengaran mereka peka sehingga mengetahui kehadiran Sutan Parhimpunan.
Mereka menegur Parhimpunan, "Siapa kau? Anak kecil tersesat di sini, ayo pergi! Nanti ibumu mencari. Atau ingin kupenggal lehermu."
Mendengar sapaan yang kasar itu, Sutan Parhimpunan balas menghardik. "Akulah yang akan memenggal lehermu hingga putus." Demikian serunya.
Mendengar ucapan bocah itu, mereka penasaran dan menyerang. Sutan Parhimpunan langsung memenggal leher seorang pekerja. Melihat hal itu, pekerja yang lain lari tunggang-langgang. Mereka ngeri menyaksikan kelihaian bocah itu mengayunkan pedang besar.
Sutan Parhimpunan mengejar terus hingga ke ruang bagian paling bawah. Di tempat itu ia melihat beberapa tawanan. Akan tetapi, ia tidak mengenal para tawanan itu. Lalu ia membuka rantai yang membelenggu tawanan, yang ternyata Sutan Pangaduan dan Rajo Bujang. Sutan Pangaduan merasa tidurnya terusik sehingga ia marah dan menampar anak itu. Selanjutnya, pertarungan antara ayah dan anak tak dapat dihindarkan. Puti Andam Dewi dan Tuanku Rajo Bujang tersenyum melihat kejadian itu. Sutan Pangaduan marah kepada mamaknya atau pamannya karena tidak membantu malahan menertawakannya.
Rajo Bujang dan Andam Dewi mengetahui bahwa anak kecil yang mirip dengan Sutan Pangaduan adalah anak Sutan Pangaduan. Perkelahian berhenti dan berubah mengharukan setelah mereka saling memperkenalkan diri. Sutan Parhimpunan memohon maaf kepada ayahnya. Mereka segera meninggalkan tempat terkutuk itu.
Puti Sari Melur sangat bahagia bertemu suami, ibu mertua, dan paman Rajo Bujang. Sari Melur dan Sutan Parhimpunan juga mendengar cerita tentang Rajo Bujang yang ikut tertawan. Setelah beristirahat, Sari Melur menginginkan agar mereka lekas pulang beristirahat, Sari Melur menginginkan agar mereka lekas pulang ke Tambang Bunga. Wanita itu berniat akan menyelenggarakan upacara kekah bagi anaknya, Sutan Parhimpunan. Pada upacara itu, Sari Melur bermaksud mengundang Lepo Cota, Sari Makah, dan Sutan Palampaui. Untuk memanggil pamannya, ia membakar sehelai bulu Buraq. Tidak lama kemudian Buraq muncul dan siap menerima perintah kemenakannya.
Beberapa bari kemudian, mereka pun berkumpul. Lepo Cota dan Sutan Palampaui hadir lebih dulu daripada Sari Makah. Dalam pertemuan itu, mereka saling melepas rindu. Setelah saling menurutkan pengalamannya, Sari Makah mengetahui bahwa Puti Andam Dewi baru saja mengalami musibah. Apa yang selama ini dikhawatirkan ternyata benar terjadi.
Sutan Pangaduan tidak berani memandang wajah Sari Makah karena merasa berdosa. Sebenarnya Sari Makah iba mengetahui perubahan sikap adiknya. Akan tetapi, keangkuhannya menyebabkan ia pura-pura tidak mengetahui kekikukan Sutan Pangaduan.
Selanjutnya, mereka berbincang mengenai acara kekah yang akan diadakan Sari Melur, Sutan Parhimpunan menolak rencana ibunya sebelum musuh keluarga ditumpas habis.
"Ananda tidak bersedia dikekahkan sebelum musuh besar Sutan Sabirullah dihancurkan. Karena menghadapi musuh keluarga, seluruh keluarga Sutan Sabirullah harus bersatu lahir dan batin. Kalau keluarga Sabirullah tidak merasa senasib, tidak sehina semalu, musuh tidak akan dapat dikalahkan," kata Sutan Parhimpunan.
Mendengar perkataan itu, Puti Sari Makah dan Lepo Cota berpandangan. Keduanya merasa bahwa yang baru saja bicara itu bukan Sutan Parhimpunan, melainkan almarhum Sutan Sabirullah. Oleh karena itu, Sari Makah dengan ikhlas memaafkan adiknya. Diam-diam ia menghampiri Sutan Pangaduan dan berkata sambil menepuk bahu adiknya.
"Adikku, apakah dengan bermuram durja dan bermenung kau dapat mengalahkan Sianggarai? Aku telah memaafkanmu. Tegakkan kepalamu, dan pulihkan semangatmu."
Sutan Pangaduan lega hatinya karena dimaafkan. Sambil tersedu ia mengulurkan tangannya meminta maaf kepada Sari Makah. Semua yang menyaksikan peristiwa itu gembira. Mereka bersepakat bahwa Sutan Parhimpunan dipercaya memimpin serangan terhadap Sianggarai.
Bocah cerdik itu segera berperan. Langkah pertama, sebagai penghormatan ia menugasi kakeknya Rajo Bujang untuk membunuh Sianggarai di istananya. Anak itu memberi tahu bahwa Sianggarai dapat berubah wujud. Mereka harus waspada. Sambil berkata, ia mengeluarkan seutas tali ajaib dari balik kukunya. Tali itu ditebarkan ke langit menuju istana milik Sianggarai. Karena Sianggarai dapat berubah wujud, kalian harus membunuh apa saja yang dijumpai.
Rajo Bujang berangkat dengan semangat berkobar-kobar. Di istana Sianggarai ia melihat seekor ayam kinantan. Ia tidak bertemu dengan Sianggarai. Ia tidak tahu bahwa raja kejam itu telah berubah wujud menjadi seekor ayam kinantan. Rajo Bujang segera turun ke bumi dan melaporkan apa yang dilihatnya.
Sutan Parhimpunan kecewa mendengar laporan kakeknya. Ia segera meminta Sari Makah memanjat ke istana musuhnya. Di istana langit, gadis itu hanya melihat seekor ular besar. Ia mengira ular itu merupakan binatang peliharaan Sianggarai. Padahal ular itu penjelmaan Sianggarai. Sari Makah segera turun ke bumi dan melapor kepada kemenakannya itu.
Mendengar laporan bibinya, Sutan Parhimpunan kembali kecewa. "Sekarang giliran Bibi Lepo Cota. Berangkatlah,” seru anak itu.
Tidak lama kemudian, gadis itu pun turun ke bumi dengan membawa berita kegagalan. Lepo Cota tidak melihat sama sekali Raja Sianggarai di istananya.
Sutan Parhimpunan menoleh kepada ayahnya. Sutan Pangaduan tampak sangat bingung. Ia ragu-ragu menjalankan tugas itu. Ia khawatir akan gagal lagi seperti saudara-saudaranya. Dengan perlahan dan sabar Sutan Parhimpunan berkata.
"Kalau Ayah bimbang, biarlah ananda yang akan pergi membunuh Sianggarai."
Seluruh mata tertuju kepada Sutan Pangaduan. Laki- laki itu duduk terenyak. Masa tawanan yang panjang dan rasa bersalah, bukan saja melemahkan tubuhnya, melainkan juga batinnya. Puti Sari Melur kasihan melihat penderitaan suaminya.
Sutan Parhimpunan menaiki tangga menuju ke istana Sianggarai. Ia terpesona menikmati pemandangan yang indah dari atas. Raja Sianggarai melepaskan sinar indah untuk memengaruhi Parhimpunan. Semula ia merasa terpengaruh oleh sihir raja kejam itu. Akan tetapi, Parhimpunan mampu mengatasinya. Ia segera menuju istana Sianggarai. Ia memeriksa seluruh ruangan istana.
Parhimpunan kagum menyaksikan kursi kencana warna-warni bertatahkan permata indah. Lampu-lampu kristal berwarna pelangi bergantungan. Seluruh ruangan itu terbuat dari gading bertatahkan intan. Tampak dinding-dinding tembok berlapiskan kaca dan emas. Ia telah meneliti seluruh sudut ruangan. Parhimpunan bermaksud membunuh binatang sekecil sekalipun.
Tiba-tiba ia mendengar bunyi kokok ayam kinantan. Ia pontang-panting mencari suara itu seperti orang gila layaknya. Dengan menyadari kelicikan Sianggarai, Parhimpunan mengubah dirinya menjadi seekor musang. Sianggarai segera mengubah dirinya menjadi seekor ular. Parhimpunan tidak mau kalah. Ia menjelma menjadi ular yang lebih besar dan memburu mangsanya dengan cepat.
Karena merasa terancam, Sianggarai mengubah dirinya menjadi seekor tikus. Parhimpunan tetap mewaspadai gerak-gerik Sianggarai. Dengan cepat, ia menjelma menjadi seekor kucing. Kucing itu melompat menerkam tikus. Ia menyuruk ke sana kemari memburu tikus. Raja Sianggarai kewalahan.
Sianggarai mengubah dirinya menjadi seekor elang. Bocah itu mengimbangi dan menjelma sikok, yaitu burung yang lebih buas dari elang. Sikok mengejar elang dengan cepat sehingga Sianggarai nyaris putus asa. Ia mengembalikan seluruh tenaga dalamnya dan menjelma menjadi burung garuda berkepala tujuh dan bersayap tujuh. Parhimpunan tidak mau kalah dan menjelma sebagai burung garuda besar yang berkepala tujuh pula.
Pertarungan sengit terjadi di udara sehingga matahari tertutup oleh dua ekor burung itu. Seluruh keluarga Sutan Sabirullah berdoa dengan khusyuk sambil berzikir. Mereka memohon kepada Allah agar Sutan Parhimpunan dapat memenangkan peperangan itu. Mereka sangat mengkhawatirkan keselamatan anak itu.
Untuk mengindari kejaran Sutan Parhimpunan, Sianggarai mencoba terbang lurus ke atas seolah-olah menuju matahari. Sutan Parhimpunan terbang lebih cepat hingga dapat mendahului musuhnya. Mengetahui hal ini, Sianggarai lekas menukik ke bawah hingga menembus ke dasar lautan. Tanpa diketahuinya burung jelmaan bocah sakti itu sudah berada di dasar lautan menunggunya.
Raja berkata, "Hai, anak muda. Engkau memang keturunan Sutan Sabirullah yang paling tangguh. Ilmu tenaga dalammu tinggi. Namun, aku mengetahui kelemahanmu. Engkau tidak dapat terbang ke langit lapis tujuh dan tidak dapat menembus bumi," ujar Sianggarai.
Parhimpunan balik berkata, “Aku memang tidak sanggup. Jika engkau sanggup, apakah engkau bersedia menjadi guruku?”
Sianggarai menjawab, "Aku bersedia, tetapi engkau harus menjadi budakku seumur hidup."
Mendengar jawaban musuhnya, Parhimpunan teringat tipu daya Sianggarai. Lalu, segera berkata dengan lantang. "Aku tidak sudi menjadi budakmu. Semua ucapanmu itu bohong belaka. Engkau tidak dapat menembus langit dan menembus bumi."
"Oh, betapa cerdiknya cucu Sabirullah, aku benar-benar kehabisan akal olehnya," Demikian pikir Sianggarai. Ia berusaha mencari akal untuk melumpuhkan musuhnya.
Tiba-tiba anak itu berkata, "Orang pandai dan sakti akan mudah dikenal, seperti kakekku."
"Apa tanda yang dimiliki kakekmu hingga ia mudah dikenal?" tanya Sianggarai dengan bersemangat.
Lalu, anak itu menjawab, "Menurut nenekku, Andam Dewi, kakekku, Sutan Sabirullah pangkal lidahnya berbulu dan memancarkan sinar yang gemerlap keputih-putihan bila ia membuka mulutnya."
"Aku juga demikian, pangkal lidahku berbulu dan dapat mengeluarkan api bila aku menghendaki. Cobalah kau lihat pangkal lidahku ini."
Kesempatan seperti itu sangat dinanti-nantikan oleh Parhimpunan. Sianggarai segera menjulurkan lidahnya dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Kesempatan itu tidak disia-siakan dan Sutan Parhimpunan segera melompat masuk ke mulut raja pongah itu. Dengan cepat ia memutus tali jantung dan merobek-robek isi perut Sianggarai. Seketika itu, raja yang kejam tewas di tangan Sutan Parhimpunan. Seluruh keluarga Sutan Sabirullah menjadi lega. Setelah sampai di bumi, Sutan Parhimpunan menerima seluruh kesaktian paman, bibi, kakek, dan ayah serta ibunya. Seluruh ilmu mereka diturunkan kepadanya.
Sutan Parhimpunan tidur hingga beberapa hari di dalam perahu yang ditumpanginya. Dalam perjalanan itu, datanglah Puti Reno Laut untuk membalas dendam kematian kakaknya, Raja Sianggarai. Mereka segera membangunkan Sutan Parhimpunan dari tidurnya. Anak itu geram karena musuhnya tidak kunjung habis sehingga ia terganggu tidurnya.
Parhimpunan menyaksikan ribuan bajak laut ciptaan Reno Laut mengerumuni perahunya. Jarak mereka semakin dekat. Ia melihat salah satu kapal bajak laut itu dikemudikan oleh seorang wanita. Wanita itu berwajah seram menakutkan dan rambutnya dapat menjelma menjadi gelombang laut.
Parhimpunan masuk ke lubang meriam di kapalnya. Ia lalu memerintahkan kepada Rajo Bujang agar melepaskan meriam ke kapal yang dikemudikan wanita itu. Parhimpunan segera melepas tali ajaib dari kukunya untuk menjerat Reno Laut. Kemudian, ia menjelma menjadi burung garuda. Burung itu menarik rambut Reno Laut dan memutar-mutar tubuh wanita iblis itu di atas lautan. Angin limbubu datang dari langit, akibat putaran tubuh Reno Laut.
Para serdadu wanita iblis itu terpelanting dan kapal mereka tenggelam. Tiba-tiba rambut Reno Laut terlepas dari batok kepalanya. Sutan Parhimpunan segera membakar tubuh wanita itu dan melemparkannya ke laut. Tidak lama kemudian, permukaan laut berubah menjadi lautan api. Sutan Parhimpunan dan keluarganya selamat karena Sutan Palampaui yang ikut berlayar dengan mereka dapat menerbangkan perahu ke angkasa.
Kapal itu berlayar kembali setelah permukaan laut menjadi tenang. Sutan Pangaduan masuk ke bilik kapal. Anak itu terkejut menyaksikan seluruh keluarganya berkerumun di pembaringan neneknya.
Puti Andam Dewi berkata kepada Sutan Parhimpunan yang mendekati pembaringannya. "Oh, Cucuku, maafkan nenekmu karena tidak sempat menumpahkan kasih sayang kepadamu."
Parhimpunan tidak dapat menahan rasa haru. Kemudian, Andam Dewi memeluk cucu kesayangannya dan mencium keningnya. Tiba-tiba Sutan Pangaduan mencium bau wangi. Semua yang ada dalam ruangan itu mencium bau bunga rampai yang semerbak. Mata Puti Andam Dewi terpejamkan. Tubuhnya tidak lagi bergerak, napasnya telah berhenti. Sutan Parhimpunan meraung. Segenap keluarga meraung, meratap, dan menangis. Sementara itu, Sutan Sabirullah alias Gombang Patuanan telah berdiri tegak di dekat kerumunan anak cucunya. Ia berkata dengan sangat berwibawa.
"Hentikan ratap tangis kalian. Pernyataan sedih sudah cukup kalian lakukan untuk menunjukkan kecintaan kalian. Tidak ada yang harus disesali. Kalian telah menunaikan tugas kalian dengan baik. Puti Andam Dewi tampaknya menderita, tetapi ia bahagia. Sejak lahir ia sudah mempunyai suratan. Tugasnya ialah melahirkan Sutan Pangaduan dan menjadi tawanan. Secara lahiriah Andam Dewi yang menjadi tawanan. Akan tetapi, secara batiniah orang kafir ingin menawan dan menguasai negeri ini. Andam Dewi hanyalah alat dan lambang Ranah Minangkabau. Kini Andam Dewi telah selesai menjalankan kewajibannya. Tugas menjaga negeri ini selanjutnya terletak di tangan kalian.
Bermacam godaan akan kalian hadapi. Kalian dapat saja terkecoh karena tidak dapat membedakan antara racun dan makanan enak. Kalian mungkin sulit membedakan antara tipu muslihat dan keramah-tamahan. Namun, kalau kalian selalu arif dan waspada, negeri ini dapat kalian selamatkan.” Demikianlah sabda Sutan Sabirullah. Kali ini ia datang dengan menampakkan diri seperti manusia biasa.
Baru kali ini Sutan Parhimpunan melihat wujud gaib kakeknya. Anak itu terpana karena wajah kakeknya mirip dengan wajah ayah dan dirinya sendiri. Bahkan, suara mereka tidak dapat dibedakan. Anak itu segera bersujud di hadapan kakeknya. Sutan Sabirullah kemudian melanjutkan percakapannya.
"Wahai, Cucuku, Parhimpunan. Tampaknya kau yang paling kecil. Akan tetapi, kaulah yang paling tua di ruangan ini dalam memahami ilmu dan kebijaksanaan. Kaulah yang menjadi anutan. Oleh karena itu, kaulah yang layak memimpin mereka. Kau tidak boleh lengah siang dan malam. Itu kewajiban seorang pemimpin. Jangan biarkan mata hatimu tertidur meskipun sedetik."
Sutan Parhimpunan balik berkata, "Kakekku, cucumu akan memegang teguh seluruh amanatmu. Sedetik tidak akan hilang, sebaris tidak akan lupa."
Sutan Sabirullah mengusap kepala anak dan cucu-cucunya satu per satu. Kemudian ia memandang tajam kepada anak bungsunya, Sutan Pangaduan sambil bersabda.
"Ternyata kau lebih muda dari anakmu. Mengapa kau bimbang memahami suratan nasib? Mengapa imanmu belum juga teguh? Kau belum boleh jadi raja dan belum pantas menjadi ikutan orang banyak. Bawalah istrimu pergi bertapa! Sebelum itu ikutlah pergi dengan kakakmu ke tanah suci. Mantapkan tauhid dalam dirimu. Selain itu, biarkan anakmu Sutan Parhimpunan menjadi pelayan kebajikan, kearifan, dan kebijaksanaan. Percayalah bahwa anakmu mampu menjalankan tugas ini." Setelah berkata Sutan Sabirullah menjemput istrinya Puti Andam Dewi.
Orang tua itu memerintahkan kepada seluruh anak cucunya agar keluar dari ruangan itu. Kecuali Sutan Parhimpunan yang tetap tinggal di tempat itu. Sutan Parhimpunan kemudian menutup pintu kamar.
"Cucuku, aku akan menyempurnakan ilmumu sebagai aulia atau orang suci. Kau dapat mengawal Ranah Minang ini ratusan tahun lamanya meskipun secara resmi kau telah dinyatakan mati."
Sutan Parhimpunan disuruh kakeknya duduk bersila. Lalu, tubuh Puti Andam Dewi diletakkan di pangkuan Sutan Parhimpunan. Sutan Sabirullah berdiri di belakang cucunya. Kedua tangannya diletakkan di ubun-ubun Sutan Parhimpunan.
"Kau akan melihat malaikat, Cucuku.” Demikian seru orang tua itu.
"Aku takut, Kek." bocah itu tampak ketakutan.
"Jangan takut, dalam diri tiap manusia ada malaikat yang mencatat dosa dan pahala. Kini kedua malaikat itu akan meninggalkan tubuh nenekmu. Sebelum roh nenekmu menjauh, lepas dari tubuhnya, pusatkan perhatianmu. Ikutilah bacaan doa yang aku baca ini."
Seberkas cahaya keluar dari tubuh neneknya melalui ubun-ubunnya. Tubuh Puti Andam Dewi naik perlahan-lahan bersama Gombang Patuanan. Nenek dan kakeknya lenyap dari penglihatannya. Sesaat Sutan Parhimpunan jatuh pingsan. Beberapa waktu kemudian mereka melanjutkan perjalanannya.
Setelah mengarungi samudra beberapa hari sebagian dari mereka kembali ke kampung halamannya masing-masing. Rajo Bujang melanjutkan petualangannya dengan perahu itu. Sutan Parhimpunan menolak kembali ke istana ayahnya. Ia ingin tetap tinggal di tepian pantai Ranah Minang.
Ia menugaskan dirinya menjadi pengawal abadi Ranah Minang. "Ananda akan tetap berjaga di sini. Begitu pesan kakek. Silakan Ayahanda dan Ibunda pulang. Ananda terus di sini siang malam."
Dengan perasaan terharu, Sutan Pangaduan dan Puti Sari Melur berpisah dengan putra satu-satunya itu.
Menuruti nasihat Sutan Sabirullah, Sutan Pangaduan dan Puti Sari Melur akan bertapa. Sebelum itu, mereka akan menunaikan ibadah haji terlebih dulu ke tanah suci, Mekah. Oleh karena itu, Sutan Pangaduan menugasi bakonya, Puti Lepo Cota, memerintah kerajaan. Sejak itu rakyat hidup aman dan sejahtera di bawah kepemimpinan Puti Lepo Cota dan penjagaan Sutan Pangaduan.
Setelah Puti Lepo Cota, tampuk kepemimpinan kerajaannya dipegang Sutan Pangaduan dan Limbak Tuah. Raja-raja berikutnya sering melupakan Sutan Parhimpunan. Akibatnya, raja-raja itu mendapat kutuk, laknat, dan tidak mampu memerintah negeri dengan baik.







Komentar
Posting Komentar