RADEN LEGOWO PAHLAWAN DARI HUTAN PEREWANGAN
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA
Di dalam sastra ada ilmu, ada kehidupan, dan ada keindahan. Oleh karena itu, sastra dapat menjadi media pembelajaran tentang ilmu dan kehidupan. Hal itu telah terjadi berabad-abad yang lalu. Untuk lebih meningkatkan peran sastra tersebut dalam kehidupan generasi ke depan, Pusat Bahasa berupaya meningkatkan pelayanan kepada anak-anak Indonesia akan kebutuhan bacaan sebagai salah satu upaya peningkatan minat baca dan wawasan serta pengetahuan dan apresiasi seni terhadap karya sastra Indonesia.
Sehubungan dengan itu, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, melalui Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, secara berkelanjutan menggiatkan penyusunan buku bacaan sastra anak dengan mengadaptasi dan memodifikasi teks-teks cerita sastra lama ke dalam bentuk dan format yang disesuaikan dengan selera dan tuntutan bacaan anak masa kini. Melalui langkah ini diharapkan terjadi dialog budaya antara anak-anak Indonesia pada masa kini dan pendahulunya pada masa lalu agar mereka semakin mengenal keragaman budaya bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia.
Bacaan keanekaragaman budaya dalam kehidupan Indonesia baru dan penyebarluasannya ke anak-anak Indonesia dalam rangka memupuk rasa saling memiliki dan mengembangkan rasa saling menghargai diharapkan dapat menjadi salah satu sarana pembentukan jati diri anak bangsa.
Atas penerbitan buku Raden Legowo Pahlawan dari Hutan Perewangan ini saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para penyusunnya. Kepada Sdr. Slamet Riyadi Ali, Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta beserta staf, saya ucapkan terima kasih atas usaha dan jerih payah mereka dalam penyiapan penerbitan buku ini. Ucapan terima kasih saya sampaikan pula kepada Sdr. Indra selaku ilustrator dalam buku ini.
Mudah-mudahan buku Raden Legowo Pahlawan dari Hutan Perewangan ini dibaca oleh segenap anak Indonesia, bahkan oleh guru, orang tua, dan siapa saja yang mempunyai perhatian terhadap cerita rakyat Indonesia demi memperluas wawasan tentang kehidupan masa lalu yang banyak memiliki nilai yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini.
Jakarta, 22 November 2004
Dr. Dendy Sugono
•••
SEKAPUR SIRIH
Anak adalah aset masa depan suatu bangsa. Jatuh bangunnya suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas anak-anak bangsa itu. Berbicara tentang kualitas manusia ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu kualitas intelektual dan kualitas moral. Untuk mengasah dan menajamkan kedua aspek penting yang dimiliki oleh setiap manusia, selain belajar secara formal dan berkelanjutan, juga dapat diperoleh melalui bacaan fiksi. Mungkin orang bertanya, apakah mungkin sebuah cerita mampu mencerdaskan seorang anak. Mengapa tidak? Kita harus meyakini bahwa dalam suatu karya fiksi bukan hanya mengandung imaji, pengalaman, melainkan juga berisi pengetahuan.
Sehubungan dengan itu, untuk mengisi kebutuhan bacaan fiktif yang sangat diperlukan itu, disusun naskah cerita anak Raden Legowo Pahlawan dari Hutan Perewangan. Penulis berharap "siraman" dalam bentuk rohani yang dilakukan ini mampu memotivasi, baik kepada penulis lain maupun terutama kepada anak didik yang masih duduk di bangku SMP agar semakin terbuka.
Penulis
•••
1. PERJANJIAN ANTARA PALUPI DENGAN BUTO IJO
Sudah hampir satu tahun suami Palupi meninggal. Sejak itu ia selalu merasa sepi dan gelisah seorang diri. Kawan-kawan dan tetangga pun jarang datang menengoknya. Dalam kesendiriannya itu Palupi berpikir, "Alangkah senangnya hatiku jika aku mempunyai seorang anak. Tentu sehari-hari dalam meniti sisa hidupku ini aku tidak kesepian lagi." Palupi mengulum senyum membayangkan seorang bocah kecil wanita berlari-lari di kebun samping rumahnya mengejar seekor kupu-kupu. Ia memang sangat membutuhkan seorang anak untuk teman. Oleh karena itu, Palupi tidak henti-hentinya berdoa dengan khusyuk kepada Tuhan mohon untuk dikarunia seorang anak. Tampaknya doa yang dipanjatkan Palupi makbul. Pada suatu malam ia bermimpi ditemui seorang lelaki tua. Wajah lelaki tua itu terkesan teduh, tetapi berwibawa. Palupi semula agak ketakutan berhadapan dengan lelaki itu. Dengan harap-harap cemas sambil memandang lurus ke depan, Palupi hanya mampu pasrah. Tiba-tiba orang tua itu berkata,
"Jangan cemas, Anakku. Aku akan memenuhi permintaanmu. Engkau akan memperoleh seorang anak, tetapi temuilah Buto Ijo yang bertapa di Gunung Lawu."
"Buto Ijo?" celetuk Palupi tanpa sadar.
"Ya, Buto Ijo. Ia berwujud seorang laki-laki bertubuh besar," jawab lelaki tua itu. "Raksasa itu sanggup memberimu seorang anak."
Dengan gagap, Palupi segera mengucapkan terima kasih kepada orang tua itu. "Terima kasih, Kek, … terima kasih. Aku segera akan menjalankan semua pesanmu."
Keesokan harinya Palupi segera pergi menemui Ki Buto Ijo di Gunung Lawu. Beberapa perbekalan, seperti makanan dan minuman telah disiapkan Palupi. Selain beberapa lembar pakaian, ia tidak lupa juga membekali dirinya dengan sebungkus garam dan terasi. Konon menurut kepercayaan leluhurnya, kedua benda yang biasanya berada di dapur itu dapat digunakan sebagai penolak bala.
Palupi sengaja memilih jalan melingkar ke utara karena selain medannya berupa tanah datar, juga sering dilalui orang. Memang. jalur itu agak lebih jauh dibandingkan dengan jalur selatan. Akan tetapi, menurut perhitungan Palupi jalur utara lebih aman. Jalur selatan memang penuh dengan rerimbunan pepohonan, tetapi jalannya banyak yang menanjak dan terdapat binatang buas, seperti harimau masih banyak yang berkeliaran. Setelah dua hari dua malam menempuh perjalanan, sampailah Palupi ke rumah Ki Buto Ijo. Semula Palupi kebingungan karena tempat Buto Ijo seperti yang ditunjukkan lelaki tua dalam mimpinya itu jarang dikenal orang. Jika ada penduduk yang mengetahui pun mereka terkesan ketakutan dan tidak mau menunjukkan rumah Buto Ijo kepada Palupi.
"Maaf, Kisanak, kami tidak mengetahui rumah yang Kisanak maksud," katanya sambil memandang Palupi dengan keheranan. Kemudian mereka menyingkir dengan segera.
Nyaris putus asa Palupi mencari tempat tinggal Buto Ijo. Sambil melepaskan istirahat di bawah pohon gayam yang banyak ditemui di lereng hutan itu, Palupi memohon petunjuk Tuhan. "Ya, Tuhan, temukanlah hamba-Mu ini dengan Buto Ijo." Tidak berselang lama dalam keadaan antara tidur dan terjaga, tiba-tiba Palupi mendengar suara "krosak ... krosak … krosak". Bulu kuduk Palupi meremang mendengar suara itu. Palupi membayangkan sepasang kaki yang besar sedang menuju ke tempatnya dan kaki itu menginjak ranting yang banyak berserakan di tempat itu. Ternyata dugaan Palupi benar. Sesosok tubuh besar tinggi telah berada di hadapannya. Tubuh itu ditumbuhi bulu-bulu kasar. Tatkala mata Palupi sampai ke bagian atas tubuh makhluk itu, ia terkejut. Mata merah nyalang memandangnya seperti akan menelannya bulat-bulat. Palupi mencium aroma aneh dari tubuh itu. "Inikah Buto Ijo yang kucari?" gumam Palupi. Tanpa sadar beberapa patah kata terputus-putus keluar dari mulut Palupi.
"Eng ... engkau ... kah ... Ki Buto Ijo?"
"Hei, manusia, siapakah engkau? Besar juga nyalimu datang ke tempat ini? Tidakkah engkau ketahui bahwa daerah ini di bawah kekuasaanku? Memang benar namaku Buto Ijo."
Dengan hati-hati Palupi mengemukakan maksud tujuannya. Ki Buto Ijo tertawa terbahak-bahak, suaranya keras bagaikan halilintar sehingga Palupi menutup telinganya. Buto Ijo segera berkata.
"Jangan takut, manusia. Aku akan segera memberimu beberapa butir benih untuk ditanam di halaman rumahmu." Setelah berkata demikian Buto Ijo masuk ke tempat tinggalnya, yaitu sebuah gua yang mulutnya ditutupi rerimbunan tanaman menjalar sehingga tidak tampak dari luar. Tak lama kemudian ia keluar sambil membawa benih yang dijanjikan dalam sebuah bungkusan dari sutra berwarna hijau. Buto Ijo kemudian menjelaskan kepada Palupi bagaimana cara menanam benih itu.
Buto Ijo juga berpesan, "Jika anakmu nanti laki-laki, anak itu mutlak menjadi hak milikmu. Akan tetapi, jika anak yang lahir nanti seorang perempuan, anak itu menjadi milikku. Dan, aku akan menjemputnya kelak jika anak itu sudah besar.”
Dengan hati cemas Palupi terpaksa mengangguk tanda setuju. Padahal di dalam hatinya, ia sangat kecewa dengan persyaratan itu. Namun, karena takut kepada raksasa itu, Palupi segera pulang ke rumahnya tanpa berkata apa-apa kecuali mengucapkan terima kasih.
Sesampai di rumahnya, Palupi beristirahat karena perjalanan menemui Buto Ijo itu sangat melelahkan. Malam harinya perempuan itu tidak dapat tidur. Ia berpikir, "Jika benih itu kutanam di halaman, aku akan kesulitan menjaganya terutama di malam hari." Untunglah, menjelang pagi hari setelah memohon petunjuk Tuhan, ia mendapat akal. "Benih itu akan kutanam di sebuah pot sehingga mudah dikeluarkan atau dimasukkan ke rumah." Ia segera mencari pot dan tanah, setelah berdoa dengan khusyuk, ia menanam benih itu dan menjaganya siang dan malam. Jika malam tiba, wanita itu memasukkannya ke rumah. Tidak jarang Palupi melihat secercah sinar terang memancar dari tumbuhan dalam pot itu.
Suatu malam, ketika bunga itu akan mengembang, kuncup bunga itu bersuara. Wanita tua itu terkejut mendengar suara ajaib itu.
"Bu, saya mengucapkan terima kasih atas perhatian Ibu selama menunggu bunga ini. Akan tetapi, saya berpesan semoga Ibu tidak merasa keberatan. Selama tiga malam menjelang akan merekah bunga ini, saya minta agar Ibu tetap meletakkan pot bunga ini di halaman rumah agar dapat menyerap sinar rembulan di malam hari."
Palupi meneteskan air mata haru menyanggupi permintaan suara gaib itu.
"Baiklah, Anakku. Aku akan menuruti semua permintaanmu."
Maka selama tiga; hari-tiga; malam, ibunya menunggu saat yang membahagiakan itu. Tidak henti-hentinya, wanita itu berdoa. Tiba-tiba, di halaman depan rumahnya yang diterangi rembulan itu Palupi menyaksikan pemandangan yang menakjubkan. Beberapa perempuan cantik dengan sayap di punggungnya mengelilingi bunga dalam pot itu. Ternyata mereka adalah bidadari yang turun dari langit melewati pelangi. Bidadari itu menari sambil menyanyi dengan riangnya. Palupi segera mendekati pot bunga itu ketika kuncup bunga itu memanggilnya. "Bu, kemarilah mendekat kepadaku." Setelah mendekat, Palupi menyaksikan dengan mata kepala sendiri, selarik cahaya keluar dari kuncup itu. Kemudian kuncup itu merekah. Terlihat dari salah satu kelopaknya seorang wanita cantik turun dari kelopak bunga itu. Palupi segera menyambut dan mengangkat gadis kecil itu. Ia merasakan bahwa gadis yang berada di pelukannya itu semakin lama memberat dan tubuhnya membesar seperti anak berumur tiga tahun. Palupi menciumi gadis itu sambil tertawa bahagia. Palupi lupa bahwa para bidadari masih berada di sekitar rumahnya. Ia bersama para bidadari itu segera beranjak masuk ke rumahnya, dan meletakkan anaknya di pembaringan. Seorang bidadari yang paling tua di antara mereka, yaitu Dewi Nawangsari berpesan, "Palupi, jagalah anak gadismu dengan baik. Kelak ia akan membawa kebahagiaan bagi keluargamu." Setelah berpesan kepada Palupi, para bidadari kembali ke kahyangan.
Palupi memberi nama anaknya Timun Emas karena benih yang diperoleh dari Buto Ijo mirip benih buah mentimun. Namun, para tetangga setelah mengetahui peristiwa kelahiran Timun Emas dari sekuntum bunga, mereka lebih suka memanggil anak itu dengan nama Bunga. Mereka semua berbahagia menyambut kelahiran Bunga. Karena kesibukannya menjaga dan mengasuh anaknya, Palupi lupa akan perjanjian dengan Buto Ijo. Tanpa terasa, Timun Emas telah berumur lima tahun. Suatu hari, Palupi terkejut tatkala secara tiba-tiba Ki Buto Ijo hadir di rumahnya. Ia tertawa terkekeh-kekeh menyaksikan Timun Emas yang sangat molek. Timun Emas sangat takut menyaksikan seorang raksasa bertubuh besar dan berwarna hijau. Ia berlari ke belakang rumah tanpa menghiraukan ibunya. Palupi segera mengingatkan kepada sang Buto Ijo agar jangan tertawa keras, karena menakutkan anaknya.
Palupi berkata, "Hentikan tawamu yang menakutkan anakku, ia masih kecil, belum tahu apa-apa tentang perjanjian di antara kita."
Raksasa itu pun menjawab. "Aku sudah mengira bahwa anakmu seorang perempuan, karena hingga saat ini kau belum datang melaporkan hal itu kepadaku. Kau pasti takut anakmu kuambil, ha, ha, ha, haaaa."
Wanita tua itu menjawab dengan hati-hati, "Ya, benar Ki. Saya sangat mencintai anak itu, hanya dialah yang selalu menghiburku. Saya mohon jangan kau ambil dia, masih kecil, kasihan. Kau dulu mengatakan jika ia sudah besar barulah akan kau ambil."
Mendengar tutur Palupi, raksasa itu segera menjawab, "Baiklah, dua belas tahun lagi aku akan mengambilnya. Sebagai tanda kasih sayangku kepadanya, aku akan memberinya hadiah sebuah golek emas atau golek kencana, selendang cinde, dan payung motha." Setelah memberikan hadiah kepada Timun Emas, Buto Ijo segera pergi dari rumah Palupi. Wanita itu merasa lega, ia segera berlari ke belakang rumah mencari anaknya. Wanita itu menemui anaknya sedang bermain dengan seekor anak kucing kesayangannya. Ia bertanya kepada Timun Emas.
"Bagaimana, Anakku, kau pasti takut. Ia kakekmu, ia baik lo; ia bernama Ki Buto Ijo. Dia memberimu oleh-oleh golek kencana (boneka emas), selendang, dan payung ini untukmu."
Mendengar penuturan ibunya, ketakutan Timun Emas segera berubah menjadi keceriaan di wajahnya. Timun Emas segera menggendong golek kencana itu dengan selendang cinde dan memayunginya dengan payung motha. Ibunya sangat senang menyaksikan anaknya sekarang sibuk bermain dengan gembira. Tanpa terasa air matanya mengalir karena haru. Palupi segera berlalu dari tempat anaknya. Ia tidak berani menceritakan hal yang sebenarnya karena Timun Emas dianggapnya masih terlalu kecil untuk mengetahui hal itu. "Aku akan menceritakannya kelak setelah anak itu beranjak dewasa," gumamnya dalam hati.
Palupi memanggil seorang guru tari untuk Timun Emas agar pandai menari. Ia juga mengajari anaknya keterampilan memasak dan kebetulan Timun Emas menyukai pekerjaan itu. Palupi membesarkan dan mendidik anak gadisnya seolah-olah tidak akan terjadi apa-apa. Ia selalu berserah diri kepada Tuhan karena ia berkeyakinan bahwa hanya Tuhan yang menentukan umur dan kebahagiaan manusia.
Timun Emas yang di desanya lebih dikenal bernama Bunga, tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang cantik, cerdas, dan baik hati. Seluruh kawannya mencintai dan menjaganya seolah-olah tidak mau kehilangan Bunga. Palupi selalu meneteskan air mata mengenang nasib anak itu. Namun, sebagai seorang ibu ia berupaya keras mendidik anaknya agar menjadi anak yang rendah hati dan pemurah. Setiap pagi ia mengajak gadis itu ke sungai mencuci pakaian bersama kawan-kawannya. Dibiarkannya anaknya bermain air sambil mencuci pakaian. Setelah puas barulah wanita tua itu mengajaknya pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia mengajak anaknya memasak di dapur. Sekalipun mereka memiliki seorang pembantu, Palupi tetap mendidik anaknya agar bisa mandiri kelak. Kawan-kawan Bunga pun mengikuti semua kegiatan yang dilakukan Bunga sehingga mereka semua pandai menari dan memasak. Namun, khusus untuk sebuah tarian yang bernama "Tari Bondan", hanya Timun Emas yang memiliki golek kencana itu yang dapat menarikan tarian itu dengan baik. Suatu hari Timun Emas harus menari bersama bonekanya di hadapan para warga di dusun itu. Seluruh penonton kagum dan terkesima menyaksikan keindahan tubuh Timun Emas yang memancarkan cahaya.
"Wow, bagaikan seorang bidadari turun dari kahyangan." Malahan beberapa orang penonton yang memiliki kemampuan indra keenam dapat menyaksikan beberapa perempuan cantik bergaun putih bersih bercahaya dan bersayap di punggungnya ikut menari bersama Timun Emas. Para bidadari itu menari mengelilingi Bunga. Gerakan mereka serasi dan indah.
"Wow, bukan hanya Bunga yang menari, terlihat olehku tujuh wanita lainnya yang mengelilingi Bunga saat ia menari. Oh, pertunjukkan yang indah sekali!" Mereka bagaikan terkena tenung dan semuanya menjadi linglung. Yang tidak mampu menyaksikan Bunga menari dengan wanita lain semakin penasaran dan memicing-micingkan mata agar mampu melihat tontonan indah itu. Masyarakat di daerah itu semakin kagum kepada Bunga. Laki-laki yang semula ingin berbuat jahil kepada Bunga menjadi segan. Palupi tidak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah diterimanya lewat anak gadisnya itu.
•••
2. BUTO IJO MENAGIH JANJI
Dua belas tahun kemudian, Buto Ijo tidak melupakan rencana yang telah lama dinantikannya. Ia akan menemui Palupi untuk menjemput anaknya, Timun Emas.
"Wah-wah-wah, anak itu pasti cantik jelita. Aku akan segera menjemputnya untuk kuambil sebagai istriku!" Sambil berpikir demikian Buto Ijo mempersiapkan diri untuk berangkat ke Desa Sumber Rejo tempat tinggal Palupi. Raksasa itu menyiapkan sebuah kereta kencana untuk menjemput Timun Emas.
Sementara itu Palupi di rumahnya sedang berjalan mondar-mandir gelisah dan sangat cemas memikirkan nasib anaknya. Dalam keprihatinan yang mendalam, Palupi memanjatkan doa kepada Tuhan agar memperoleh petunjuk sehingga tidak salah langkah dalam melindungi anaknya yang semata wayang itu. Permohonan Palupi dikabulkan oleh Sang Pencipta Alam. Tiga orang bidadari yang dahulu ikut membidani kelahiran Timun Emas sekarang juga ikut membantu Palupi menjaga Timun Emas. Para bidadari berpesan kepada Palupi agar wanita tua itu tidak usah cemas terhadap keselamatan Timun Emas.
"Palupi, sebagai umat Tuhan yang beriman, janganlah engkau cemas. Serahkan sepenuhnya hidup matimu sekeluarga kepada Sang Khalik."
Mendengar perkataan itu, Palupi sangat senang dan tenteram, tanpa terasa air matanya berlinang. Para bidadari itu kemudian memberi empat macam benda kepada Timun Emas sebagai upaya pertahanan dan penjagaan diri dari pengejaran Raksasa Buto Ijo. Keempat benda yang diberikan itu adalah biji mentimun, garam, jarum, dan terasi.
“Timun Emas, mantapkanlah hatimu bahwa Tuhan akan selalu melindungimu dari segala marabahaya. Terimalah pemberian kami ini, semoga berguna dalam upayamu menjaga diri dari keangkaramurkaan Buto Ijo."
Setelah menyerahkan benda itu, bidadari segera terbang pulang ke kahyangan. Legalah hati Palupi, sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, ia menyajikan makanan istimewa. Kawan-kawan Timun Emas datang membantu dan ikut makan bersama. Dalam candanya mereka bertanya, "Apakah Ibu selalu mengajari Bunga memasak?"
Palupi menjawab, "Oh, pasti, Ibu selalu mengajari Bunga memasak di dapur agar ia mampu menjadi istri yang baik kelak. Hanya kepandaian itu yang dapat ibu berikan kepada Bunga. Untunglah, Bunga tidak pernah memprotes. Ia selalu mengerjakan pekerjaan itu dengan senang hati."
Mendengar penuturan ibu Bunga, kawan-kawan Timun Emas semakin sayang kepada Bunga. Setelah berdoa bersama, mereka menikmati hidangan makanan yang lezat rasanya itu. Mereka tampak puas karena masakan yang mereka santap buatan mereka sendiri. Beberapa di antara mereka bahkan ingin menyelenggarakan perhelatan dengan sajian seperti yang mereka makan di rumah Timun Emas. Setelah selesai bersantap, Timun Emas menghibur kawan-kawannya dengan menarikan sebuah tarian keahliannya, yaitu "Tari Bondan". Selama menari Timun Emas menggendong dan memayungi golek kencana. Ia pun menyanyikan sebuah lagu yang sangat indah.
"Anakku yang paling ayu, tak ledung-ledung-ledung'"
"Tak lelo-lelo-lelo-ledung, cup menengo ajo pijer nangis, anakku sing ayu rupane.”
"Apa artinya nyanyian itu?" tanya kawannya yang tidak memahami arti nyanyian Timun Emas. Kawan lainnya menjelaskan dengan singkat.
"Ia menyanyikan bonekanya yang cantik itu dengan kasih sayang agar tidak menangis," komentar beberapa kawan lainnya.
"Sewaktu menari Bunga benar-benar tampak seperti seorang ibu yang sangat halus budinya dan ini sangat mengagumkan," desis Buto Ijo.
Tanpa diketahui oleh Timun Emas dan kawan-kawannya, Ki Buto Ijo sudah cukup lama berada di halaman luar rumah Palupi. Ia mengintai dan menikmati tarian dan nyanyian Timun Emas dari balik jendela. Akan tetapi, ketika menyaksikan banyak orang di rumah itu, ia tidak berani menampakkan wujudnya. Ia bersembunyi menunggu waktu yang tepat untuk menculik Timun Emas. Raksasa itu sangat tergila-gila kepada Timun Emas. Tatapan matanya seperti akan menelan bulat-bulat wanita cantik itu. Buto Ijo sudah mencoba bersabar menunggu saat pagi hari. Ia bersembunyi di balik pohon besar ketika kawan-kawan Timun Emas berhamburan satu per satu keluar rumah yang menandakan acara sudah selesai.
Karena lelah seharian menyiapkan sajian, Palupi tertidur lelap. Dalam tidurnya, Palupi bermimpi seolah-olah Buto Ijo sudah datang dan tidak sabar lagi akan merebut anak gadisnya. Mengetahui kehadiran raksasa itu, ia berteriak dalam tidurnya sehingga Timun Emas terbangun. Palupi menangis dan memeluk putrinya dengan erat. Ia enggan melepaskan anak gadisnya itu. Palupi berpikir bahwa saat inilah yang paling tepat untuk menceritakan segalanya kepada Timun Emas.
"Anakku, Timun Emas. Menurut hemat Ibu, sudah saatnya engkau mengetahui sejarah masa lalu yang melatarbelakangi kelahiranmu." Kemudian Palupi menceritakan kisah yang dialaminya di masa lalu, yakni pertemuannya dengan Buto Ijo.
Timun Emas yang sangat cerdas itu mendengarkan cerita ibunya dengan khidmat dan cermat sampai kisah tersebut selesai. Ia sangat geram mendengar ancaman Ki Buto Ijo. Timun Emas sangat sedih, tetapi tetap berusaha tersenyum di hadapan ibunya yang ketika itu masih tampak cemas memikirkan nasib dirinya.
Mereka tidak menyadari bahwa di luar rumah Buto Ijo sedang menunggu saat yang baik untuk membawa Timun Emas. Timun Emas malam itu sulit memejamkan mata, padahal malam telah larut dan segera menjelang pagi. Pada kesempatan itulah Timun Emas berdoa memohon kepada Tuhan agar selalu memperoleh perlindungan-Nya.
Belum sempat sang Fajar muncul dan memancarkan sinarnya dengan benderang. Buto Ijo telah mengetuk pintu rumah Nyi Palupi dengan sangat keras.
Tok ... tok ... tok.
Sesuai dengan kesepakatan, Palupi dan Timun Emas segera menyadari bahwa mereka dalam keadaan bahaya. Dengan cepat mereka mengetahui apa yang harus dilakukan, Palupi segera membukakan pintu. Sementara itu, Timun Emas dengan sigap mengambil empat benda yang diberikan sang bidadari untuk bekal dirinya tatkala dalam pengejaran Ki Buto Ijo. Timun Emas meloloskan diri dari pintu belakang, sedangkan Buto Ijo tertawa terbahak-bahak di halaman depan rumah. Palupi segera mempersilakan tamunya masuk ke ruang tamu. Palupi berusaha memperlambat niat Buto Ijo dengan menyajikan penganan lezat dan mengatakan bahwa Timun Emas sedang memasak di belakang. Mendengar penjelasan itu, Ki Buto Ijo dengan rakusnya menyantap hidangan yang disajikan Palupi. Beberapa kali raksasa itu menanyakan kepada Palupi mengapa Timun Emas belum selesai memasak dan tidak segera keluar menemuinya.
"Hai, wanita tua, mana anakku yang molek? Engkau sembunyikan di mana dia?" Akhirnya Buto Ijo bergegas ke belakang hendak menemui Timun Emas. Suasana mendadak berubah menjadi kacau ketika Buto Ijo mengetahui bahwa Timun Emas telah melarikan diri.
"Bagaimana dengan kereta kencana yang sudah aku sediakan untuk calon istriku?" katanya marah lalu menendang keras-keras pintu kereta kencana itu.
Palupi terkejut mendengar perkataan Buto Ijo bahwa Timun Emas akan dijadikan istrinya. Dengan hati berdebar, wanita itu masih berlaku manis kepada Buto Ijo. Hal itu dilakukan dengan maksud agar Timun Emas sudah cukup jauh dari rumah. Agar Buto Ijo tidak melampiaskan kemarahannya kepadanya, Palupi berkata, "Kejarlah, Ki, dia mungkin belum jauh dari tempat ini. Aku akan menunggu kereta kencanamu di sini."
Maka, dengan amarah yang luar biasa Buto Ijo mengejar Timun Emas. Bumi seolah bergetar dan langit seperti akan runtuh karena entakan dan langkah kaki raksasa yang sedang marah itu. Dengan sangat lantang ia berteriak.
"Timun Emaaaaas, cucuku yang cantiiik, tunggu kakekmuuuu!" Demikian bujuknya, di sepanjang jalan ia berteriak seperti itu sambil mengejar Timun Emas.
Timun Emas yang cerdik dengan tabah dan gagah berani menjawab teriakan raksasa itu. Demikian serunya. "Ya, kakekkuuuuuu, yang baik hati, aku menunggumu. Ayo terus lari, aku berada tidak jauh darimu!"
Setelah merasa lelah, di siang hari yang panas itu Timun Emas menyebar biji mentimun. Maka tidak lama kemudian, ketika Buto Ijo sampai di tempat itu, ia menemukan kebun mentimun yang lebat buahnya. Sambil berteriak Buto Ijo berkata, "Timun Emas cucuku, aku lapar, akan kunikmati mentimun ini lebih dulu, jangan tinggalkan aku."
Dengan geram dan kesal Timun Emas menjawab, “Silakan, Kek, aku juga akan menikmati mentimun yang ranum itu. Aku tetap menunggumu, Kek!" Timun Emas terus berlari tidak mengenal lelah. Ia hanya beristirahat jika kedua kakinya benar-benar sudah tidak dapat diajak berlari lagi. Waktu istirahat ia pergunakan sebaik-baiknya untuk memulihkan kondisi dengan makan, minum, dan tidak lupa berdoa kepada Tuhan memohon perlindungan-Nya. Ketika Timun Emas sedang dalam keadaan antara tertidur dan terjaga, tiba-tiba terdengar suara gemuruh datang mendekat. Tampaknya Buto Ijo sudah semakin mendekat ke tempat Timun Emas.
"Cucuku, ... jangan kau tinggalkan kakekmu ini. Kemarilah, Cucuku … mendekatlah ... aku tidak akan berbuat buruk kepadamu." Suara Buto Ijo menggelegar semakin dekat. Dengan cekatan Timun Emas segera membenahi barang bawaannya dan berniat meneruskan perjalanannya. Tiba-tiba Timun Emas teringat bahwa dirinya masih memiliki tiga macam bungkusan pemberian bidadari. Segera dikeluarkannya bungkusan berisi garam dan ditaburkannya sambil memohon perlindungan Tuhan.
Tidak lama kemudian, terbentang sebuah danau yang cukup luas di hadapan Timun Emas. Danau itu berwarna kekuning-kuningan. Karena bernafsu ingin menangkap Timun Emas, raksasa itu tanpa berpikir lebih panjang segera menceburkan diri ke danau yang cukup luas dan dalam itu. Dengan susah payah, ia mencoba mencapai tepian di seberang. Tampaknya danau itu sangat asin airnya, sehingga Buto Ijo mengapung ke sana kemari. Kedua tangannya menggapai-gapai dengan gerakan tidak teratur sehingga percikan air danau … beberapa meter ke atas. Setelah berjuang dengan susah payah, raksasa itu akhirnya mencapai tepian danau. Ia kemudian merebahkan dirinya dalam posisi tengkurap dengan napas tersengal-sengal kelelahan. Tidak lama kemudian raksasa itu tertidur pulas. Sementara itu Timun Emas dapat lebih leluasa menghemat tenaga dengan berjalan agak perlahan. Bidadari yang menjaga Timun Emas akan mengingatkan gadis itu jika raksasa itu sudah mendekat ke tempat Timun Emas. Memang, ketiga bidadari itu terkadang sengaja tidak memperlihatkan diri sehingga tidak dapat dilihat mata kasat oleh setiap orang.
Ketika itu Timun Emas sedang bernyanyi dan menari bersama ketiga bidadari di sebuah padang rumput yang cukup luas. Di sekeliling tempat itu beberapa pohon besar, seperti damar, mahoni, randu, dan sawo seolah memagari sehingga mereka tidak terlihat. Gadis itu mencoba menghibur diri. Ia merasa tercekam dengan peristiwa pengejaran oleh Buto Ijo kepadanya. Jika raksasa sudah mendekat, mereka segera pergi meninggalkan menjauh ke tempat yang dianggap lebih aman. Karena berhari-hari berlari dari suatu tempat ke tempat yang lain, Timun Emas mulai kelelahan sehingga jalannya sudah tidak secepat ketika ia baru melarikan diri dari rumah. Oleh karena itu, jarak antara Timun Emas dan Buto Ijo semakin dekat. Hari sudah menjelang sore, raksasa itu sudah hampir berhasil mengejar Timun Emas. Jarak mereka hanya lima meter saja. Namun, Timun Emas sengaja belum menyebarkan bekal yang berikutnya. Ia justru meninggalkan makanan untuk raksasa itu. Raksasa yang sedang lapar itu terpaksa berhenti menikmati makanan yang diberikan Timun Emas. Untuk sesaat Buto Ijo lupa kepada mangsanya. Ia justru memuji-muji dan menyanjung Timun Emas.
"Oh, Cucuku, ternyata engkau gadis yang baik hati. Aku lelah dan lapar m setelah berhari-hari mengejarmu."
Timun Emas tersenyum mendengar pujian raksasa jahat itu. Muncul keheranan di hati Timun Emas. Di satu sisi, raksasa itu ingin menelannya, tetapi di sisi lain mengatakan bahwa Timun Emas cucu kesayangannya. "Ia sungguh sangat jahat dan pembohong. Menganggap aku sebagai cucunya, tetapi ingin menelanku bulat-bulat.”
Setelah melihat raksasa jahat itu selesai makan, wanita malang itu pun menyebarkan bekal yang ketiga, yakni segenggam jarum. Seketika itu juga tumbuh sejenis pepohonan rimbun dan berduri yang sulit dilalui orang. Raksasa Buto Ijo mengeluh kesakitan dan nyaris putus asa karena sekujur badannya luka oleh duri pepohonan itu. Namun, dari kejauhan Timun Emas tetap menghibur dan memberinya harapan.
"Kita sebentar lagi akan bertemu, Kek, hari hampir malam, aku pun lelah dan ingin beristirahat."
Mendengar perkataan Timun Emas, raksasa itu lebih bersemangat dan berjuang keras menempuh jalan yang penuh duri itu. Timun Emas memang sudah sangat kecapaian. Melihat keadaan Timun Emas, ketiga bidadari itu membujuk Bunga agar tetap tabah. "Anak manis, janganlah berputus asa. Percayalah, Tuhan selalu memberikan perlindungan kepadamu. Apalagi engkau masih memiliki bungkusan terakhir, sebarlah itu!"
Maka mulailah Timun Emas menyebarkan bekal terakhir, yaitu segenggam terasi. Timun Emas berkata kepada bidadari yang menemaninya.
"Sebenarnya aku tidak tega membunuh raksasa itu meskipun ia memperlakukanku dengan jahat.” Sambil berkata demikian, ia duduk bersimpuh. Air matanya meleleh di pipi. Ia menyadari ketidakberdayaannya. "Tidak ada pilihan lain kalau aku ingin selamat dari Buto Ijo," gumam Timun Emas. Ia menganggap bahwa dirinya seperti anak yang tidak tahu diri, Buto Ijo sudah banyak memberi kebaikan kepadanya. Bidadari merasa cemas menyaksikan tingkah laku Timun Emas.
"Wahai, Timun Emas yang tabah dan pemberani. Engkau harus menyadari bahwa raksasa itu memberikan boneka emas kepadamu dengan pamrih ingin memilikimu. Oleh karena itu, makhluk seperti itu sangat kejam dan tak layak dikasihani. Engkau harus ingat akan janjimu kepada ibumu bahwa kepergianmu adalah untuk berjuang menyelamatkan nyawamu dari ancaman Buto Ijo."
Mendengar nasihat itu Timun Emas segera sadar, sementara Buto Ijo telah berada di hadapannya. Timun Emas terkejut, dalam situasi ketakutan Timun Emas tetap tidak kehabisan akal. Ia membujuk Buto Ijo agar bersedia menyaksikan Timun Emas menari sambil menyantap hidangan yang telah disediakan. Bidadari sangat senang mengetahui upaya wanita malang yang baik hati itu. Bidadari segera bersemadi mendatangkan hidangan makan malam. Tiba-tiba dengan seizin Tuhan, di hadapan Buto Ijo tersaji sebuah nampan besar yang di dalamnya diisi nasi tumpeng dan beraneka macam lauk pauk. Ayam bakar, tempe bacem, orak-arik ikan teri, telur rebus, dan megana. Sang raksasa makan dengan lahap bersama para bidadari sambil menyaksikan Timun Emas menari. Buto Ijo tertawa terkekeh-kekeh. Suaranya terdengar jauh hingga ke telinga Palupi yang berada jauh di desanya. Palupi menangis tersedu-sedu mengenang anak gadisnya. Ia segera berdoa dengan khusyuk tak putus-putus.
Setelah menari Timun Emas segera duduk bersila. Ia segera membaca mantra dan menyebarkan terasi pemberian bidadari di hadapannya. "Abrakadabra, hanya kepada-Mu Sang Penguasa Jagat, aku berserah diri. Selamatkan hamba-Mu yang hina dan papa ini. Binasakan raksasa jahat yang hendak menganiayaku.”
Suara petir menyambar-nyambar disertai hujan deras pun segera turun. Timun Emas segera menyingkir mencari tempat berteduh. Secara menakjubkan, di tempat terasi itu ditaburkan lalu berubah menjadi danau berlumpur panas terbentang di hadapan Timun Emas. Sebelum danau ajaib itu muncul, terjadi gempa bumi dahsyat mengguncang tempat itu. Pepohonan yang cukup besar dan akarnya menghunjam ke dalam tanah pun banyak yang roboh. Akibatnya, satwa penghuni hutan, seperti berbagai jenis burung. monyet, kucing hutan, dan binatang melata lainnya berhamburan menyelamatkan diri.
Ki Buto Ijo yang sudah merasa lelah ketika itu tanpa berpikir panjang lagi segera menceburkan diri ke kawah berlumpur yang panas dan mendidih itu. Begitu tubuhnya menyentuh lumpur panas itu, Buto Ijo meraung-raung kesakitan. Ia berteriak minta pertolongan kepada Timun Emas.
"Cucuku Timun Emas ... tolong … tolonglah kakekmu yang malang ini. Aku berjanji tidak akan mengejarmu lagi. Cepat ... cep … cep ….” Suara itu semakin menghilang. Tubuhnya yang berat perlahan-lahan tetapi pasti, semakin tenggelam ke lumpur panas itu. Kedua tangannya berusaha menggapai apa saja yang mungkin dapat dipegangnya. Timun Emas berusaha melempar berapa utas akar pohon beringin, tetapi Buto Ijo tidak sanggup lagi meraih akar itu sehingga tewaslah ia diiringi gema teriakan yang semakin lama semakin menghilang.
Timun Emas yang memiliki perasaan halus menangis tersedu-sedu menyaksikan kejadian itu. Ia kasihan kepada raksasa itu. Namun, ia pun geram menyaksikan kejahatan raksasa yang mengaku kakeknya itu. Bidadari menghibur Timun Emas agar tidak menyesali perbuatannya. Para Bidadari menjelaskan agar Timun Emas memohon ampun atas kesalahan yang telah diperbuatnya kepada Tuhan yang menguasai hidup kita ini.
"Raksasa itu memang makhluk angkara murka. Ia telah menolong ibumu untuk memperoleh anak. Akan tetapi, ia meminta balasan yang tidak sanggup dipenuhi oleh ibumu sehingga Tuhan datang menolong ibumu melalui kami." Demikian hibur sang bidadari.
Bidadari segera mengajak Timun Emas agar segera berlalu dari tempat itu. Akan tetapi ia ragu, apa yang harus ia lakukan, akan kembali ke rumah ibunya atau melanjutkan perjalannya. Bidadari sekali lagi memberi nasihat kepada gadis yang tabah itu. "Usaha dan perjuanganmu belum selesai, tinggal selangkah lagi. Setelah itu barulah kamu mencari ibumu."
Timun Emas menuruti nasihat bidadari, kemudian mereka berpisah dan Timun Emas melanjutkan perjalanan seorang diri.
•••
3. TIMUN EMAS DIPINANG RADEN SUMINAR
Pada awalnya Timun Emas kesulitan menentukan arah mana ia akan kembali ke rumah ibunya. Karena cerdas, ia tidak kehabisan akal. Timun Emas pergi ke pinggir hutan mencoba mencari tempat tersembunyi agar terhindar dari manusia yang mungkin ingin menzalimi dirinya. Setelah menemukan tempat yang cukup baik, yaitu sebuah cerukan di bawah pohon mahoni, Timun Emas merebahkan dirinya. Sebelum tidur Timun Emas tidak lupa memohon perlindungan-Nya. Seiring dengan embusan angin malam yang sejuk dan di bawah naungan langit yang ditaburi bintang. gadis itu tertidur. Hingga pagi hari Timun Emas dapat tertidur lelap di bawah pohon mahoni yang cukup rindang itu. Ketika mulai merasakan lapar, ia menjadi bingung. Apa yang harus ia lakukan. Ia berjalan mencari desa terdekat di sekitar tempat itu. Waktu itu hari masih pagi buta. Embun di ujung dedaunan tampak berkelap-kelip bercahaya antara tampak dan tak tampak, bak ditaburi butiran intan baiduri.
Timun Emas setelah berjalan beberapa saat, kira-kira serebusan air, melihat sebuah gubuk yang terbuat dari beberapa bilah kayu yang diikat dan beratapkan rumbia. Ternyata gubuk itu sebuah kedai. Suasana di kedai itu tampak lengang karena penghuninya sedang lelap tertidur. Timun Emas segera berlalu meninggalkan gubuk itu setelah sejenak memeriksa ke dalam gubuk itu. Namun, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggilnya.
"Nak, kemari sebentar, pagi-pagi buta apa keperluan Kisanak datang ke sini dan melongok-longok kami yang sedang tidur.” Sambil mengucak-ngucak matanya, wanita itu berujar, "Melihat kemolekanmu, tentunya Kisanak berasal dari istana? Apakah Kisanak tersesat karena terpisah dari rombongan?" Demikian ujar perempuan pemilik warung itu.
Dengan lemah lembut, Timun Emas menjawab, "Terima kasih, Ibu telah memerhatikanku. Namaku Timun Emas. Aku melewati tempat ini hanya kebetulan saja. Aku memang agak tersesat dan tidak tahu arah. Aku bermaksud pulang ke rumah. Namun, saat ini yang aku butuhkan adalah makanan. Aku sedang lapar karena beberapa hari tidak makan."
Mendengar ucapan Timun Emas, wanita pemilik warung itu terharu. "Kalau hanya sekadar nasi dan lauk-pauk seadanya, sih ada, tetapi itu masakan yang kemarin. Tunggu sebentar, Cah Ayu, aku akan memanasinya lebih dahulu.”
Perempuan itu sebentar ke belakang dan Timun Emas duduk di atas lincak di bagian tengah gubuk itu. Tidak lama kemudian, wanita itu keluar sambil membawa sepiring nasi dan lauk-pauknya sepotong ikan peda dan tahu bacem, serta semangkuk kecil sayur lodeh. "Silakan makan seadanya. Biar engkau tidak masuk angin."
Timun Emas kemudian makan dengan lahap pemberian wanita itu. Karena sudah beberapa hari tidak makan, Timun Emas dalam waktu sekejap hanya meninggalkan piring kosong tanpa sebutir nasi pun yang tinggal.
"Terima kasih, Mbok. Entah dengan cara apa aku dapat membalas kebaikan hatimu."
"Ah, anak cantik, tidak usah engkau memperhitungkan balas budi dengan diriku. Melihat engkau kenyang aku pun sudah senang. Aku sebenarnya masih ingin bercakap-cakap denganmu, Timun Emas, tetapi hari sebentar lagi menjelang siang. Di tempat ini kalau siang hari, kira-kira matahari setinggi sepemenggal galah, banyak lelaki iseng makan siang di warungku ini. Aku khawatir engkau akan diganggu mereka. Oleh karena itu, aku sarankan jangan terlalu lama engkau di sini. Aku akan mengambilkan barang sebungkus nasi untuk bekal perjalananmu. Maafkan aku, ya, Nak, semoga perjalananmu selamat dan menyenangkan." Wanita bijaksana itu memberikan nasi sebungkus kepada Timun Emas.
Dengan rasa terima kasih dan penuh syukur Timun Emas menerima bungkusan itu. "Emmm, dengan senang hati, Bu, aku segera akan pamit. Aku mengerti maksud Ibu, terima kasih atas pemberian makanan ini, semoga Tuhan membalas kebaikan hati Ibu." Setelah berkata demikian Timun Emas segera berlalu dari tempat itu. Ia seperti mendapat petunjuk dari wanita itu bahwa dia harus berhati-hati di perjalanan. Dengan hati waswas, tetapi penuh kewaspadaan, Timun Emas melangkahkan kakinya menuju ke arah selatan. Ia tidak lupa tetap memohon petunjuk Sang Ilahi. Ia memilih berjalan melalui hutan. Menurut pendapatnya, memasuki hutan akan lebih aman daripada berjalan melewati perkampungan karena kemungkinan besar justru di kampung akan menemui gangguan. Berkat doa yang senantiasa menggema di hatinya, ia senantiasa mendapat tuntunan dari Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan memang tidak pernah tidur dan maharahman dan maharahim. Timun Emas berkeyakinan bahwa menghadapi binatang buas akan lebih mudah baginya untuk menjinakkannya. Setelah berjalan lebih-kurang empat m jam, ia berniat istirahat. Dipilihnya tempat yang teduh dekat sebatang pohon petai hutan yang berbatang agak besar, sehingga nyaman untuk dijadikan tempat berteduh.
Setelah menikmati makanan yang dibawanya ia mengantuk dan tertidur. Menjelang sore hari barulah ia terbangun. Tenggorokannya terasa kering. Mendadak seekor tupai dengan jinak mendekatinya. Timun Emas mencoba mengulurkan tangannya. Atas kehendak Tuhan, tupai itu mendekati, bahkan seolah menyerahkan diri untuk dibelai Timun Emas. Dengan riang dibelainya tupai yang lucu itu. Ia bertanya kepada binatang itu. "Tupai, makanmu pasti buah-buahan. Kalau engkau bersedia membagi sebagian makananmu, aku m sangat berterima kasih".
Tupai itu mengerti maksud Timun Emas dan dengan lincah binatang itu segera meloncat dan pergi dari tempat itu. Tidak lama kemudian, ia datang bersama seekor kera dan mereka membawa bermacam buah-buahan antara lain pisang emas, kesemek, jambu batu, dan malaka. Timun Emas sangat gembira menyaksikan kejadian itu. Ia bersyukur kepada Tuhan yang senantiasa memberi rezeki di mana pun ia berada. Timun Emas menerima buah itu dan memakannya dengan lahap. Kedua binatang itu duduk tidak jauh dari Timun Emas sambil mengedip-ngedipkan matanya tanda ikut senang.
Selesai makan buah pemberian binatang tersebut, Timun Emas menggapai kera dan tupai itu. Mereka mengerti maksud Timun Emas dan datang mendekat ke pelukan gadis malang itu. Kera dan Tupai itu ternyata berjenis kelamin betina sehingga diberi nama oleh Timun Emas dengan nama Sara sedang si tupai diberi nama Trinil karena lincahnya. Timun Emas tercenung sejenak, "Apa artinya semua ini? Aku memperoleh dua ekor binatang sebagai sahabat baruku. Ya, barangkali aku untuk sementara waktu harus tinggal di tempat ini."
Timun Emas memutuskan tinggal di tempat itu sambil bertapa mencari ilmu. Dengan diiringi kedua binatang itu, Timun Emas berjalan melihat keadaan di sekitar tempat itu. Tidak jauh dari pohon petai hutan itu, lebih-kurang 30 meter ke arah timur, terdapat sendang kecil bermata air yang jernih warna airnya. Segera tanpa diperintah Timun Emas meraup air sendang itu dengan kedua tangannya dan membasuh mukanya. "Alhamdulillah, sungguh segar air sendang ini. Tuhan, sekali lagi Engkau beri aku kemurahan.” Karena melihat Timun Emas agak ragu meminum air sendang itu, kera dengan menjongkokkan tubuhnya menjulurkan lidahnya meminum air sendang itu. Mengerti maksud kera itu, segera Timun Emas ikut minum air sendang itu dengan menggunakan pelepah daun. "Ah, bukan main, Tuhan memang Maha Pemurah. Aku tidak usah jauh-jauh mencari sumber mata air bersih.”
Siang dan malam dengan ditemani sahabat barunya, Timun Emas berdoa agar Tuhan memberi kemurahan kepadanya dengan kemampuan mengerti bahasa binatang. Karena kesucian hatinya dan kekhusyukan doanya, permintaan Timun Emas segera terkabul. Tengah malam ketika Timun Emas tiba-tiba tersentak terjaga, di hadapannya berdiri tiga bidadari utusan Nabi Sulaiman a.s.
Seperti bidadari yang telah menolongnya dahulu, ketiga bidadari itu pun berparas cantik. Mereka mengenakan pakaian yang indah berwarna putih. Di punggung mereka sepasang sayap melekat dengan indahnya. "Timun Emas, aku Bidadari Nawang Sari bersama kedua saudaraku, Sari Kencana dan Ratna Kencana datang diutus Nabi Sulaiman a.s. menemuimu dengan maksud hendak mengajarkan bahasa binatang kepadamu. Bersujudlah Timun Emas sebagai pengakuanmu kepada kebesaran Ilahi di jagat raya ini."
Dengan tanpa ragu-ragu, Timun Emas bersembah sujud bersama ketiga bidadari itu. Bidadari utusan Nabi Sulaiman a.s. mengajari gadis itu membaca kitab yang berisi pengetahuan berbagai bahasa binatang.
Sinar bulan saat itu memancar dengan terang sehingga mereka tidak menemui kesulitan mempelajari isi buku itu. Dengan kecerdasan yang mengagumkan, hanya dalam waktu semalam, Timun Emas mampu memahami bahasa binatang. "Timun Emas, sebentar lagi fajar menyingsing. Kami bertiga harus segera kembali ke kahyangan. Jagalah dirimu baik-baik dan jangan pernah lupa kau panjatkan doa kepada Sang Ilahi." Dengan cara gaib, ketika bidadari itu perlahan-lahan melayang ke angkasa. Warna putih bercahaya berpendar-pendar mengelilingi tubuh mereka dan sekejap mereka hilang dari pandangan mata Timun Emas.
Dua hari telah berlalu sejak kehadiran bidadari utusan Nabi Sulaiman a.s. Hingga larut malam Timun Emas belum juga tertidur. Kebetulan, Sara dan Trinil pun tidak mau beranjak darinya. Timun Emas keesokan harinya berniat mandi besar di sendang yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ia pergi dari tempat itu bersama Trinil dan Sara. Kera itu mengerti jika majikannya akan pergi mandi ke sendang. Sesaat Sara pergi dan tidak lama kemudian kembali sambil membawa seonggok daun orang-aring. Daun itu berbau harum dan mengeluarkan lendir kalau diremas, dan lendir itu mampu membersihkan dan mengharumkan tubuh serta rambut. Mereka bertiga beriringan menuju sendang. Beberapa meter sebelum sampai di sendang, tiba-tiba Sara meloncat-loncat sambil mengeluarkan suara "cat ... cit ... cat". Wajahnya tegang dan tampak ketakutan. Demikian pula tupai Trinil dengan cepat memanjat pohon sambil mengeluarkan suara "cit … cit … cit … cit" tak keruan kedengarannya. Timun Emas mempunyai firasat ada sesuatu bahaya menghadang di depan. Dengan waspada ia tetap melangkahkan kaki secara perlahan. Ia terkesiap tatkala sudut matanya menangkap gerakan onggokan benda berwarna hitam di tepi sendang. Benda itu bergerak-gerak lembut sambil mengeluarkan suara mendesis.
"Oh, ular ... ular," terputus-putus suara Timun Emas. Ular itu cukup besar dan panjang. Tubuhnya sebesar buluh betung yang sudah tua dan panjangnya lebih kurang 6 meter.
Timun Emas segera menghentikan langkahnya sambil berdoa kepada Tuhan memohon perlindungan. Tidak lupa ia menyapa kepada sang ular, "Hai, ular yang baik hati, kedatanganku ke tempat ini tidak bermaksud mengganggu ketenanganmu. Aku hanya ingin menumpang mandi."
Aneh tetapi nyata, setelah Timun Emas berkata demikian, ular itu segera berlalu dari tempat itu. Ia pun segera mandi dan berkeramas dengan menggunakan daun orang-aring pemberian kera Sara. Air sendang yang segar itu telah menghilangkan penat Timun Emas. Bahkan, pikirannya pun terasa lapang lepas dari impitan berat. Tiba-tiba terdengar jeritan Sara. Timun Emas segera menoleh. Terlihat olehnya kera itu mencoba memasuki lubang pada sebuah pohon beringin besar. Kemudian, ia menepuk-nepuk dua telapak tangannya seolah-olah memberi tahu kepada tuan putri agar segera mendekat ke pohon itu. Timun Emas segera menghampiri pohon beringin berlubang itu. Kera dan Tupai menjerit-jerit kegirangan sambil berloncat kian kemari. Ular besar itu pun segera mendekat seperti ingin bersahabat dengan Timun Emas serta Sara dan Trinil. Timun Emas tersenyum damai dan menggapai-gapaikan tangannya memanggil ular itu. Ular besar itu ternyata jinak dan menuruti semua perintah Timun Emas. Hari itu Timun Emas merasa lebih tenang karena berkawan dengan tiga ekor binatang.
Sementara itu di rumah janda Palupi suasana menjadi ramai. Sepeninggal Timun Emas, kawan-kawan Bunga sering berkunjung menghibur ibu Bunga yang sedih mengenang kepergian anaknya. Selain teman Bunga, rumah Palupi sering disinggahi tamu yang ingin melihat kereta kencana peninggalan Buto Ijo. Kereta kencana itu memang indah. Kereta yang ditarik dua kuda itu terbuat dari kayu jati doreng tua yang dihiasi dengan gambar burung rajawali di bagian samping kanan dan kiri dan hiasan itu terbuat dari emas murni. Dengan empat roda, dua roda besar di depan dan dua roda lebih kecil di belakang. kereta kencana itu cepat larinya. Selain tersedia tempat duduk untuk kusir, di belakang juga tersedia tempat duduk bagi dua orang penumpang. Tempat duduk penumpang dilapisi beledu berwarna biru tua. Layak jika banyak orang yang mengagumi keindahan kereta kencana peninggalan Buto Ijo.
Palupi sudah kembali terbiasa hidup seorang diri. Ia menyadari bahwa usianya sudah tua. "Usiaku sudah tidak muda lagi. Sudah selayaknya aku semakin berpasrah diri ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa.” Setiap hari di waktu luangnya, ia tidak pernah lupa berdoa demi keselamatan anaknya dan memohon ampun atas kesalahan yang telah dilakukannya di masa lalu. Ia merasa telah memaksakan diri dengan memohon dikaruniai seorang momongan kepada Tuhan. Ternyata setelah permohonannya dikabulkan, ia tidak mampu melindungi gadis itu. Kesibukannya sebagai dukun beranak menyebabkan ia semakin sibuk melayani orang sehingga melupakan anaknya yang pergi meninggalkan dirinya.
Alkisah di belahan bumi lain, yaitu di Jenggala berdiri sebuah istana megah dihuni seorang raja bernama Raden Suminar. Raja yang berusia muda itu belum berkeluarga alias lajang. Karena belum memiliki permaisuri, suasana istana kurang semarak. Sebenarnya para pejabat dan penggawa keraton beserta rakyat menginginkan agar Raden Suminar segera menyunting salah seorang putri untuk dijadikan permaisuri. Namun, junjungan mereka memang belum menemukan jodohnya. Pada suatu hari seperti biasanya, Raden Suminar mengadakan perjalanan perburuan di Hutan Dadapan yang letaknya di sebelah barat ibu kota. Sekelompok khusus penggawa kerajaan secara ajeg akan mengiringi Baginda. Lazimnya penggawa itu terdiri atas prajurit pembawa perbekalan. prajurit pembawa peralatan berburu, perwira pengawal, dan sering pula Raden Suminar disertai seorang senapati. Setelah sejumlah perbekalan dan peralatan berburu selesai dipersiapkan, mereka segera berangkat meninggalkan istana. Rombongan mereka berjumlah lima belas orang. Seorang senapati, empat orang perwira, dan sepuluh orang prajurit.
Hampir satu hari penuh mereka belum mendapatkan seekor binatang buruan. Raden Suminar dan pengiringnya heran karena tidak melihat seekor binatang pun melintas di hutan itu. Baginda merasa penasaran, tetapi tidak berputus asa, dan akhirnya diputuskan untuk bermalam di tempat itu. Mereka segera membangun beberapa tenda. Hidangan malam yang mereka bawa dari istana pun disajikan.
"Kita tunggu saja esok hari, mudah-mudahan ada binatang melintas di tempat ini.”
Raden Suminar dan para penggawa menikmati hidangan dengan rasa syukur. Kemudian Baginda beristirahat, sedangkan beberapa penggawa secara bergiliran berjaga di sekitar tenda. Saat itu malam belum terlalu larut, tetapi pengikut Raden Suminar sebagian telah terlelap tidur. Mereka sangat kelelahan. Melihat hal itu, Baginda memutuskan untuk berjaga dan semakin meningkatkan kewaspadaan. "Firasatku mengatakan bahwa malam ini akan terjadi sesuatu. Tidak selayaknya aku tertidur lelap,” pikir Raden Suminar.
Menit demi menit, jam demi jam, waktu terus berlalu, keadaan semakin senyap. Lewat tengah malam, menjelang pagi hari, Baginda merasa tak mampu lagi menahan rasa kantuk. "Ya, Tuhan, berilah kekuatan dan hilangkan rasa kantukku. Hamba-Mu yakin malam ini Engkau akan memperlihatkan sebagian dari kebesaran-Mu kepadaku."
Antara sadar dan tidak sadar karena menahan kantuk, Baginda sayup-sayup mendengar suara musik gamelan mengalun di telinganya. Ia tersentak dan menyebut asma Tuhan. Raden Suminar menggosok-gosok daun telinganya dan tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Ia mencoba meniadakan suara gaib itu. Namun, Baginda tidak kuasa. Semakin lama suara gamelan itu justru semakin jelas terdengar. Ia mencoba memejamkan matanya sambil merenung. "Siapa gerangan yang mengalunkan gamelan di tengah hutan pada tengah malam ini?"
Konon, Timun Emas hampir satu tahun berada di tempat itu. Ia telah menguasai ilmu bahasa binatang yang diajarkan para bidadari utusan Nabi Sulaiman a.s. Di Hutan Dadapan itu Timun Emas bersahabat dengan segala jenis satwa hutan. Bahkan, ia diangkat sebagai ratu oleh kawanan satwa tersebut. Malam itu para bidadari hadir di antara Timun Emas dan binatang penghuni Hutan Dadapan. Bidadari itu ingin menyaksikan "Tari Bondan" yang sudah lama tidak mereka lihat. Dengan kesaktiannya, bidadari itu mampu menghadirkan suara musik gamelan dari kahyangan untuk mengiringi tarian Timun Emas. Suasana di tempat itu semarak. Mereka bergembira dan bersuka ria melepaskan rindu. Sejak pagi berkumpullah seluruh binatang tersebut. Mereka mengumpulkan buah-buahan yang tumbuh di hutan itu, pisang. pepaya, jambu, salak, nanas, dan durian. Untuk santapan Timun Emas, bidadari itu menciptakan beraneka makanan paling lezat dengan kesaktiannya. Nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya, seperti ayam panggang. ikan lele bakar, dan bermacam sayur.
Di bagian tengah kerumunan para binatang penghuni hutan itu, sengaja dikosongkan untuk tempat Timun Emas membawakan Tari Bondan. Sebuah kendi persembahan para bidadari ditaruh tepat di tengah ruang kosong itu. Kendi itu akan dinaiki dan diinjak oleh Timun Emas sebagai penutup tariannya. Sebagai tuan rumah, Timun Emas berupaya menyenangkan hati tamunya. Sambil mengumbar senyum Timun Emas mulai menarikan Tari Bondan dengan lemah gemulai. Perlahan-lahan tetapi penuh keyakinan, ia naik ke kendi. Lalu gadis molek itu memutar-mutarkan badannya di atas kendi sambil mengibas-ngibaskan selendang pelanginya sehingga tampak sangat indah bagi yang melihatnya. Ketujuh bidadari ikut menari mengikuti gerakan Timun Emas. Suara gamelan kahyangan pun mengiringi dengan rampak.
Sementara itu, Raden Suminar semakin gelisah dan memutuskan membangunkan salah seorang prajuritnya bernama Senapati Wirokusumo.
"Ki, ayo temani aku mencari suara gaib yang sejak tadi mengganggu pendengaranku."
Ki Wirokusumo segera terbangun dan bertanya-tanya, "Suara apa, Gusti? Hamba tidak mendengar suara apa-apa."
Raden Suminar segera menggamit Ki Wirokusumo dan berkata, "Ah, sudahlah, jangan bertanya-tanya nanti engkau akan tahu sendiri di sana."
Mereka berjalan di kegelapan malam menuju arah suara gamelan. Hanya sinar bulan yang menuntun langkah mereka agar tidak terantuk bebatuan atau akar pepohonan yang malang-melintang. Hampir satu jam mereka berjalan, tetapi suara itu tiba-tiba semakin lenyap, hanya terdengar sayup-sayup. "Ki, tunggu sebentar. Aku akan bersemadi sejenak mohon petunjuk Tuhan," seru Raden Suminar.
Benar dugaan Raden Suminar, tiba-tiba suara itu terdengar jelas, seolah-olah sudah tinggal seratus meter lagi. Ki Wirokusumo berkata, "Oh, ya, Baginda, hamba mendengar sekarang. Ya, hamba mendengar suara alunan gamelan. Kita ke mana, Baginda?"
Raden Suminar menjawab, "Sudahlah, ikuti aku. Jangan banyak bertanya, kita sudah dekat."
Ki Wirokusumo semakin tercekam dan meremang bulu kuduknya.
"Tengah malam begini ada suara gamelan? Jangan-jangan peri penghuni hutan ini sedang berpesta?" gumam senapati itu.
Setelah sampai di tempat sumber suara, mereka berdua terkesima. Secara bersamaan Raden Suminar dan Ki Wirokusumo mengucak-ngucak matanya beberapa kali sebagai tanda tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Berpuluh-puluh jenis satwa dari berbagai jenis, seperti kera, tupai, ular, babi hutan, kambing hutan, dan beberapa jenis unggas duduk dalam posisi melingkar dan di tengah mereka seorang gadis cantik sedang menari. Gadis molek itu menggendong sebuah golek kencana yang mengeluarkan sinar keemasan.
"Aneh, Gusti. Siapa yang menabuh gamelan? Hamba tidak melihatnya.”
Raden Suminar terdiam tidak menjawab karena ia pun tidak melihat para niyaga yang menabuh gamelan itu. Namun, Baginda melihat dengan jelas gadis penari itu dikelilingi tujuh bidadari yang cantik parasnya. "Ki, sungguh indah. Seumur hidup aku belum pernah melihat tarian seindah ini. Apalagi ketujuh bidadari yang mengikuti gerak tari gadis molek pembawa golek kencana itu."
"Bidadari? Mana bidadari, Gusti, hamba tidak melihatnya?" Ki Wirokusuma dengan mata wadagnya hanya mampu melihat Timun Emas menari seorang diri.
"Coba lihat dengan mata batinmu, Ki. Panjatkan permohonan ke hadirat Ilahi agar Engkau diperkenankan melihat ketujuh bidadari itu."
Ki Wirokusumo segera bersila sambil memejamkan matanya dan bersemadi. Sepeminuman kemudian ia membuka matanya. "Oh, oh …." Terdengar suara Ki Wirokusumo terkagum-kagum, "Benar, Gusti, hamba sekarang melihatnya. Ya … ya, bidadari itu.”
Mereka yang ada di tempat itu, tanpa terkecuali tidak ada yang berkata-kata apalagi bersenda gurau. Seluruh binatang tampak terkesima menyaksikan tarian Timun Emas. Demikian pula Raden Suminar dan Ki Wirokusumo. Mereka berdua bagaikan kena sihir dan hanya mampu menggerak-gerakkan bibirnya tanpa mampu mengucap sepatah kata pun. Kecantikan Timun Emas dan tujuh bidadari itu membuat raja dan senapati itu linglung. Timun Emas mengenakan kemben berwarna hijau dan berselendang kuning yang dipadu kain batik bermotif "Wahyu Tumurun" berwarna cokelat. Dengan lemah gemulai, wanita itu menari sambil mengayun-ayunkan kendinya, tangan kiri menggendong golek emas. Tidak lama kemudian Timun Emas berganti membawa payung berputar-putar mengitari kendi.
"Oh, pantas seluruh binatang tidak berkeliaran ke mana-mana. Mereka sedang berkumpul di sini. Mereka menyaksikan ratunya menari."
Raden Suminar mengangguk tanpa menoleh sedikit pun mendengarkan bisikan senapatinya itu. Sekelompok kera menyeringai sambil menepuk-nepukkan tangannya, kadang-kadang menutup matanya dengan tangan, ia ngeri menyaksikan Timun Emas menari di atas kendi. Sambil menyanyikan lagu buaian kepada anaknya, ia melepas anaknya dari gendongan, kemudian bangkit dan menari-nari memutari bonekanya. Gerakkan tarian yang gemulai dan sangat indah. Raden Suminar bergumam, "Ajaib, baru kali ini aku menyaksikan makhluk terindah ciptaan Tuhan." Demikian bisik Raden Suminar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tanpa sadar berdebar jantung raja muda itu. Pada saat itulah ia baru mengalami perasaan aneh kepada lawan jenisnya. Raden Suminar sedang jatuh cinta kepada Timun Emas. "Hanya dia jodohku, bukan yang lain."
Menjelang fajar pertunjukan gaib itu selesai. Raden Suminar memutuskan untuk kembali ke perkemahan. Bersamaan dengan terbitnya sang surya, mereka sampai di kemahnya lalu tertidur pulas. Kawan yang lainnya tidak berani membangunkan Raden Suminar yang tertidur hingga siang hari. Hanya Wirokusumo yang mengetahui kejadian itu. Raden Suminar melarang Ki Wirokusumo bercerita kepada penggawa yang lain.
Setelah terbangun, raja berkemas dan mengatur tugas kepada pengiringnya. Tiga orang pengikutnya ditugasi berburu ke arah selatan, menjauhi tempat tinggal Timun Emas. Tiga orang penggawa lainnya diperintahkan kembali ke istana untuk membawa kereta kebesaran. Sambil berjalan menuju istana, mereka bertanya-tanya dalam hati, "Mengapa tiba-tiba rajanya memerintahkan demikian, siapa yang akan dibawa-serta dengan kereta kebesaran itu?"
Sementara itu, Raden Suminar dan Ki Wirokusumo dengan langkah pasti menuju tempat penari yang dilihatnya semalam. Ki Wirokusumo tersenyum di dalam hati menyaksikan sikap junjungannya, Raden Suminar, yang sedang jatuh cinta.
•••
4. TIMUN EMAS MENJADI PERMAISURI RAJA JENGGALA
Sesampai di hutan tempat Timun Emas, tinggal Raden Suminar mengintai terlebih dahulu untuk memastikan apakah wanita yang menari tadi malam itu masih ada. Baginda mendekati pohon beringin yang rindang itu sambil bertanya, "Siapakah gerangan Kisanak, manusia biasa atau bidadari dari kahyangan?”
Tanpa ragu-ragu Timun Emas menjawab, "Saya manusia biasa seperti halnya Paduka. Hamba tersesat dan terpaksa memilih untuk tinggal di hutan ini agar aman dari perbuatan jahat manusia. Ibu saya memberi nama kepada saya Timun Emas, tetapi kawan saya memanggil saya Bunga."
Raden Suminar mendengarkan dengan saksama sambil mengangguk-angguk. Setelah itu, Baginda memperkenalkan diri bahwa dirinya bernama Raden Suminar. Mendengar pengakuan itu, Timun Emas segera menyembah bersujud di hadapan Raden Suminar. Baginda tanpa basa-basi segera menuturkan niatnya bahwa ia ingin mempersunting Timun Emas untuk dijadikan permaisurinya.
"Ni Mas, sampai saat ini aku belum memiliki pendamping. Jika tidak berkeberatan, aku ingin menyuntingmu untuk kujadikan permaisuri di kerajaanku," ucap Baginda. Timun Emas tidak mampu menjawab, ia hanya menundukkan wajahnya sambil meneteskan air mata. Dengan sangat santun Timun Emas memohon kepada Baginda agar diberi waktu tiga hari untuk mempertimbangkan lamaran itu.
"Baginda Raden Suminar junjungan hamba. Terasa terangkat martabat hamba yang hina ini mendengar maksud kedatangan Baginda kemari. Namun, Baginda pasti mafhum bahwa ikatan pernikahan tidak dapat begitu saja diputuskan secara sepihak. Kedua belah pihak harus saling mencintai dan menyayangi sampai akhir hayatnya. Oleh karena itu, hamba mohon waktu barang tiga hari untuk memutuskan persoalan ini."
Raden Suminar tidak berkeberatan atas usul Timun Emas. "Baiklah, Ni Mas. Aku terima usulmu. Aku tunggu jawabanmu tiga hari lagi," kata Raden Suminar. Baginda segera pulang bersama penggawa yang mengiringinya kembali ke perkemahan.
Timun Emas segera bersemadi memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha mengetahui. Dalam semadinya itu, ia mengungkapkan rasa syukur atas rahmat Tuhan yang menghindarkan kesulitan dirinya. "Ya, Tuhan pencipta segala yang ada di jagat ini. Hamba-Mu ini hanya mampu meminta, tanpa mampu membalas kebaikan-Mu. Ampunilah hamba yang hina dan papa ini." Atas kehendak-Nya bidadari yang pernah menolong Timun Emas turun kembali ke bumi. Ia memberi isyarat agar Timun Emas menerima lamaran Raden Suminar.
"Timun Emas, kekasih para dewa. Hanya engkaulah yang berhak menentukan masa depanmu. Siapa yang layak menjadi suamimu juga hanya engkau yang lebih mengetahui. Namun, pertemuanmu dengan Raden Suminar sudah digariskan oleh sang Penguasa Jagat Raya. Oleh karena itu, yakinlah dengan bisikan hatimu. Jangan sekali-kali engkau ragu memutuskan sesuatu."
Namun, Timun Emas masih ragu. "Mampukah aku memikul beban yang harus dijalani seorang permaisuri?" tanya Timun Emas.
Bidadari menjawab, "Tuhan memberi tugas hidup seseorang sesuai dengan kemampuannya. Cobaan yang selama ini kaualami cukup berat dan cobaan itu dapat engkau jadikan bekal untuk menempuh hidup baru bersama Raden Suminar. Tuhan akan memberi kekuatan kepada orang yang berjuang untuk masa depan hidupnya."
Timun Emas tersenyum lega mendengar penjelasan bidadari itu.
"Terima kasih, Paduka Bidadari. Paduka selalu hadir dalam kesulitanku. Semoga Tuhan semakin mengasihi Paduka," ucap Timun Emas.
Bidadari segera mohon diri pulang ke kahyangan setelah Timun Emas mengucapkan terima kasih.
Pada hari yang disepakati, Raden Suminar kembali menemui Timun Emas. "Timun Emas, aku datang menemuimu untuk mendengar jawabanmu. Sudahkah Ni Mas mengambil keputusan?" tanya Baginda.
"Paduka junjungan hamba, setelah memohon petunjuk sang Ilahi, hamba dengan rendah hati memberanikan diri untuk menerima lamaran Paduka Yang Mulia." Timun Emas mengucapkan itu dengan nada bergetar. Timun Emas segera menghaturkan sembah dan mencium lutut Raden Suminar di sebelah kanan sebagai pertanda ia bersedia dipersunting Raden Suminar.
Pria perkasa yang tampan itu segera mengangkat bahu Timun Emas sehingga Timun Emas berdiri rapat di hadapan Raden Suminar. Pria itu membelai rambut wanita malang itu sambil berbisik. "Sudah terlalu lama Adinda menderita di tengah hutan ini. Oleh karena itu, izinkan aku membahagiakan dirimu."
Timun Emas menjawab terharu. "Terima kasih atas kemuliaan hati Paduka yang sudi mengangkat martabat hamba yang hina dina ini sebagai istri Paduka."
Ki Wirokusumo bersama penggawa lainnya telah mempersiapkan kereta kebesaran dari istana. Dengan dipapah Raden Suminar, Timun Emas menaiki kereta kebesaran itu. Mereka kembali ke istana. Timun Emas semakin cantik karena sebelumnya telah mengenakan pakaian kebesaran kerajaan yang sudah disediakan oleh Ki Wirokusumo. Pasangan muda-mudi itu tampak serasi, keduanya senantiasa mengulum senyum tanda bahagia. Sepanjang perjalanan rakyat mengelu-elukan mereka.
"Baginda semoga bahagia, ... Baginda dan Putri Timun Emas junjungan kami."
Beraneka bentuk umbul-umbul dan hiasan yang berwarna-warni telah dipajang di sepanjang jalan menuju gerbang istana. Rangkaian janur dengan berbagai bentuk juga tampak menghiasi gedung istana dan gedung milik pembesar kerajaan. Sesampainya rombongan Raden Suminar dan Timun Emas di istana, penggawa beserta penghuni istana menyambut junjungan mereka dengan meriah. Perhelatan besar segera dipersiapkan. Timun Emas tersenyum bahagia sambil mengenang ibunya yang tidak sempat menyaksikan hari bahagia yang sebentar lagi dilaluinya.
Raden Suminar merayakan pernikahannya dengan mengadakan pesta tujuh hari-tujuh malam. Semua rakyat penduduk negeri bergembira ria menyambut pesta pernikahan rajanya itu. Bermacam tontonan digelar di berbagai tempat. Di alun-alun utama yang letaknya di tengah jantung ibu kota dipentaskan pergelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Candrabuana dan mengambil cerita Daupipun Raden Janaka ‘Pernikahan Raden Janaka'. Pertunjukan jatilan dipentaskan di alun-alun timur dekat pintu gerbang belakang istana. Para penari kerajaan pun diberi kesempatan tampil untuk mempertontonkan kemahirannya di Gedung Baluwerti. Selain itu, rakyat diperbolehkan menjajakan makanan dan minuman selama perayaan berlangsung di halaman samping Pasar Pon. Juadah, wajik, lemper, serabi, putu mayang, carabikang, mendut, klepon, dan berbagai jajanan pasar dapat dibeli di tempat itu.
Upacara pernikahan Raden Suminar dan Timun Emas dilaksanakan pada hari Selasa Pon bertepatan dengan hari kelahiran Timun Emas. Pada hari pernikahan itu sejak pagi para undangan yang terdiri atas pejabat keraton serta sanak keluarga raja dan utusan dari kerajaan sahabat sudah memadati Balai Agung. Mereka duduk dengan posisi ditata serupa huruf U dan menghadap dampar kencana yang akan dipergunakan sebagai pelaminan kedua mempelai. Wali Agung kerajaan yang bertindak sebagai juru nikah telah hadir didampingi pejabat Bendahara Raja dan Panglima Agung Kerajaan. Suara gong menggema tiga kali menandakan Raden Suminar dan Timun Emas memasuki ruangan. Kedua calon mempelai memakai busana dengan warna dan corak yang sama. Raden Suminar memakai baju model jas tutup terbuat dari sutra berwarna biru tua yang dipadukan dengan kain jenis truntum, sedangkan Timun Emas berkebaya sutra warna biru tua yang dihiasi bordir keemasan dengan kain jenis truntum pula. Di belakang mereka mengiringi pejabat tinggi, antara lain Menteri Dalam, Senapati Pengawal Istana, Penasihat Istana. Di bagian paling belakang para dayang istana yang berparas cantik mengiringi mengenakan pakaian berwarna kuning gading dan selendang warna hijau pupus.
Hadirin dengan serempak berdiri ketika rombongan mempelai memasuki ruangan. Mata mereka terbelalak kagum melihat kecantikan Timun Emas dan ketampanan junjungan mereka, Raden Suminar. Namun, tidak sepatah kata pun keluar dari mulut. Mereka tak berani bersuara membuka mulut karena saat itu berada dalam suasana resmi di Penghadapan Agung. Setelah calon mempelai duduk di pelaminan dan para dayang bersimpuh di samping kanan dan kiri dampar kencana, Menteri Dalam yang bertindak sebagai pemimpin perhelatan agung itu berdiri di tempat yang sudah disediakan untuk menyampaikan kata sambutan.
"Baginda Junjungan kami serta Putri Timun Emas yang kami muliakan. Hadirin tamu undangan yang kami hormati, perkenankanlah saya sebagai Menteri Dalam sepatah dua patah kata menyampaikan sambutan dalam Perhelatan Agung Kerajaan. Pada hari ini, Selasa Pon, pukul 10.00 pagi kita bersama-sama akan menyaksikan pernikahan agung antara Raden Suminar dan Putri Timun Emas. Acara ini sebenarnya sudah lama kita nantikan. Kita sangat mendambakan kesentosaan dan kejayaan kerajaan ini. Namun, kerajaan tidak sempurna kemuliaannya jika kita tidak dibimbing oleh seorang raja yang sempurna. Padahal kesempurnaan bagi seorang raja, salah satu persyaratannya adalah didampingi oleh seorang permaisuri. Untuk itu, kita wajib bersyukur kepada Tuhan Penguasa Jagat karena keinginan, harapan, dan doa kita telah dikabulkan pada hari ini. Dirgahayu junjungan kita, jaya kerajaan kita."
Menteri Dalam mengakhiri sambutannya dan mempersilakan Wali Agung Kerajaan memimpin upacara pernikahan. Dengan khidmat, Wali Agung Kerajaan berdiri di tengah mimbar. Ia memberi hormat kepada kedua calon mempelai dan pejabat kerajaan yang hadir. Kemudian, Wali Agung Kerajaan mempersilakan kedua mempelai berdiri di tengah mimbar. Dengan diawali ucapan puji dan syukur ke hadirat Ilahi, Wali Agung Kerajaan kemudian membacakan hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh kedua mempelai, baik mempelai laki-laki maupun mempelai perempuan. Setelah pembacaan itu selesai, berikutnya ia memercikkan campuran air bunga mawar yang direndam dalam air suci yang sudah didoai ke badan kedua mempelai. Dengan selesainya upacara pernikahan yang dipandu oleh Wali Agung Kerajaan, maka Raden Suminar resmi telah menikah dengan Timun Emas. Dan sejak itu Timun Emas memperoleh gelar kebangsawanan Putri Sekar Wangi.
•••
5. TIMUN EMAS KEMBAR
Selama mendampingi Raden Suminar, Timun Emas senantiasa berupaya berbuat yang terbaik bagi suami dan seluruh rakyat Kerajaan Jenggala. Ia mengamalkan seluruh ilmu yang didapatnya, baik selama masih berkumpul bersama Palupi maupun selama hidup di tengah hutan. Meskipun istri seorang raja, ia sanggup bercocok tanam di tengah sawah dan perkebunan untuk membimbing para petani agar memajukan usaha berkebun dan bertanam padi. "Yo, Simbok-simbok kemari. Coba lihat cara menabur benih kacang tanah yang benar! Tiap lubang diisi lima butir benih, jangan lebih. Jika satu butir gabuk, maka butir yang lainnya mudah-mudahan tumbuh." Bagai Dewi Sri yang sedang menabur benih kesuburan pada rahim ibu pertiwi, ia menjadi pendorong dan penyemangat bagi para petani untuk meningkatkan hasil kerjanya. Selain ikhlas dan tulus dalam menularkan pengetahuannya kepada sesama, Timun Emas juga memiliki kesabaran dan ketelatenan yang mengagumkan. Selain itu, wanita berhati bersih itu, tidak pernah lupa memanjatkan doa dan senantiasa berikhtiar sehingga doanya cepat terkabul.
Dalam benak Timun Emas hanya terpatri satu keinginan ialah bagaimana ia mampu mengajak para wanita di lingkungan sekitar istana memperoleh kemajuan dalam segala bidang. Kepandaian memasak yang diperolehnya dari Palupi ditularkan kepada mereka. Ia berpikir, "Jika wanita istri pejabat istana memiliki keahlian memasak, keahlian mereka pasti dapat berguna jika keraton menyelenggarakan perhelatan." Dengan tekun dan penuh kesabaran, Timun Emas mengajak para wanita itu menciptakan masakan khas sehingga lahirlah beberapa masakan khas daerah itu, seperti pelas atau bothok, serundeng atau dendeng ragi, orak-arik telur, dan oblok-oblok tempe.
Selain mengajarkan kepandaian memasak, Timun Emas juga menularkan bakat seni yang dimilikinya, yaitu pengetahuan tentang seni tari, seni suara (nembang), dan among saliro atau merawat tubuh para wanita istana. Kaum wanita, baik mereka yang sudah menjelang tua maupun para remaja, bahkan anak-anak senang menimba ketiga keahlian itu dari permaisuri, sehingga suasana di pendopo istana selalu ramai dan tidak pernah sepi oleh pengunjung. Dengan dibantu para bidadari yang senantiasa mendampingi Timun Emas, semua acara terselenggara dengan baik. Melihat keterampilan istrinya, Raden Suminar terharu dan bangga memiliki permaisuri yang dekat di hati kawula. Akan tetapi, kesibukan Timun Emas mengakibatkan ia dan suaminya sangat sulit mencari waktu luang untuk mereka berdua.
Pada suatu malam Raden Suminar berkunjung ke keputren. Saat itu Timun Emas sedang dipijat oleh para emban. Melihat kehadiran Baginda, para emban segera menyingkir memberi kesempatan kepada junjungannya bercengkerama. Raden Suminar berkata mesra kepada istrinya.
"Tidakkah Adinda merasa lelah karena selalu sibuk melakukan berbagai kegiatan di tengah masyarakat? Ingat, Adinda, kita belum memiliki seorang keturunan, aku sudah menginginkan kau menimang anak kita!"
Sang Putri hanya tersenyum mendengar curahan hati Raden Suminar.
"Baiklah, Kakanda. Apa yang tidak sanggup kita lakukan jika kita senantiasa berdoa dan memohon kepada-Nya agar mengabulkan permintaan kita. Aku senantiasa tidak jemu-jemu berdoa, semoga kali ini usaha kita direstui Tuhan." Berkata demikian sambil membaringkan tubuhnya di samping Raden Suminar. Mereka tertidur lelap setelah bercumbu rayu mengukir rasa untuk mewujudkan impiannya.
Para bidadari menyaksikan adegan percintaan dua makhluk yang dicintai Tuhan. Tak jemu-jemu, para bidadari pun berdoa agar Tuan Putri segera memperoleh keturunan.
Suatu hari Raden Suminar mengundang para pembesar dan segenap kawula untuk menghadiri perhelatan di istana. Sebagai istri raja, Timun Emas dengan dibantu istri para petinggi istana sibuk mempersiapkan bermacam sajian untuk perhelatan itu. Pada perhelatan syukuran itu Baginda mengumumkan keinginannya untuk segera memperoleh anak setelah tiga tahun membina bahtera keluarga. Padahal kesibukan yang dilakukan Tuan Putri selama ini telah memperkecil peluang mereka memperoleh momongan. Oleh karena itu, para tamu undangan diharapkan sudi memanjatkan doa untuk kebahagiaan raja dan permaisuri.
"Para petinggi, penggawa, dan kawula istana yang kucintai. Kalian hari ini kuundang di tempat yang agung ini untuk bersama-sama memanjatkan doa kepada Tuhan. Kami yakin dengan doa yang dipanjatkan bersama-sama pasti akan lebih cepat dikabulkan-Nya. Sudah tiga tahun sejak pernikahanku dengan permaisuri, kami belum dikaruniai anak." Demikian sambutan Raden Suminar.
"Sendiko dawuh, Paduka," jawab mereka serentak.
Dengan senang hati, para undangan memanjatkan doa bagi kebahagiaan sang Baginda dan Permaisuri. Sebagai ungkapan terima kasih, Tuan Putri berkenan menyuguhkan tarian "Tari
Bondan".
Mengetahui niat itu, bidadari mengingatkan kepada Timun Emas, "Kau cukup tua untuk menarikan tarian ini!"
Timun Emas segera menjawab, "Ya, aku juga berpikir demikian. Namun, tarian ini permintaan suamiku tersayang. Aku harus melakukannya sekalipun kali ini kau tidak perlu ikut menari bersamaku. Aku dapat menarikannya sendiri dan penabuh gamelan juga telah siap mengiringiku." Demikian jawab Timun Emas, ia mengatakan bahwa tarian ini untuk terakhir kali dilakukannya. Setelah itu ia akan mengajari anaknya agar pandai menari "Tari Bondan" jika anaknya kelak perempuan. Raden Suminar beserta para undangan sangat puas menyaksikan tarian Tuan Putri yang sungguh luar biasa bila dibandingkan dengan tarian penari lainnya.
Sebulan kemudian setelah peristiwa perhelatan itu. Raden Suminar mengajak Timun Emas berburu ke hutan sambil berekreasi. Tuan Putri keheranan mengapa Baginda mengajak dirinya yang ketika itu merasa letih. Akan tetapi, hati wanitanya tidak berani memprotes atau membantah kemauan suaminya. Timun Emas mengikuti rombongan Raden Suminar ke hutan belantara yang selama ini belum pernah dikunjungi manusia. Hutan itu dikenal dengan nama Hutan Perewangan. Nama itu diberikan karena menurut cerita orang, hutan itu sangat angker. Berbagai jenis makhluk halus konon menjadi penghuni hutan itu, seperti gundul pringis, buto bajang, wedon, kuntilanak, dan tuyul. Entahlah mengapa Baginda justru berkeinginan berburu di tempat itu. Mungkin ini tulisan takdir.
Seorang raksasa perempuan atau jin penghuni hutan itu sudah lama menginginkan suami dari golongan manusia. Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, kedatangan Raden Suminar dan rombongannya sangat menggembirakan hatinya. "Ternyata tercapai juga keinginanku bersuamikan seorang manusia," gumam raksasa perempuan itu. Ia mengintai dan diam-diam mengagumi ketampanan raja. Wanita bertubuh raksasa itu berpikir, "Bagaimana caraku menggantikan kedudukan Timun Emas sebagai permaisuri raja?" Ia segera menghadap gurunya dan mengutarakan keinginannya.
"Nini, mengapa tiba-tiba tanpa kabar terlebih dahulu engkau datang ke pertapaanku?" tanya Resi Birawa.
"Duh, Resi sakti junjunganku, tolonglah aku yang sedang kasmaran kepada seorang manusia bernama Raden Suminar. Aku lebih baik mati jika keinginanku tidak kau penuhi. Rama, aku lebih baik lenyap ditelan bumi jika raja itu tidak menjadi suamiku," pinta siluman itu kepada gurunya.
Guru raksasa wanita itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali memenuhi keinginan muridnya yang berhati keras itu. Dengan kemampuan mantranya yang sakti, yaitu ajian Rupo Sewu, ia mengubah wujud raksasa itu menjadi seorang wanita berwajah cantik yang mirip Timun Emas. Seketika suasana di hutan itu yang semula sunyi menjadi hiruk-pikuk. Gemuruh suara satwa mengaum, berdesis, melenguh, atau menjerit karena kepanasan. Sementara angin bertiup kencang diiringi hujan lebat dan badai.
Timun Emas ketika itu berada di kemah bersama dua emban pengasuhnya serta beberapa orang prajurit pengawal. Tiba-tiba seekor burung ketilang hinggap di dahan pohon kenanga dekat tenda Sang Putri sambil bernyanyi. Ia memberi kabar kepada Timun Emas agar waspada. "Putri junjunganku, hati-hatilah karena cobaan berat akan segera datang menimpamu."
Sementara itu, raja yang sedang berburu terkejut menyaksikan istrinya seorang diri menyusul dengan pakaian yang basah kuyup. "Kakanda, kita segera kembali ke istana, dua orang embanku tiba-tiba lenyap entah ke mana. Aku seorang diri takut berada di kemah sehingga menyusulmu."
Raden Suminar sangat terkejut mendengar pengakuan istrinya itu. Penggawa pengiring raja segera berusaha mencari kereta tandu ke kemah tempat sang putri beristirahat. Rupanya tempat itu telah ditutup oleh kekuatan sihir si raksasa wanita itu. Sihir itu menyebabkan Tuan Putri yang sedang menunggu kehadiran Raden Suminar tidak terlihat oleh penggawa kerajaan. Karena kehilangan jejak dan tidak menemukan kemah itu, mereka segera kembali ke istana. Dalam keadaan basah kuyup, sang putri jelmaan raksasa jahat itu menunggang kuda bersama Raden Suminar. Jelmaan Timun Emas sangat senang berada di pelukan raja. Ia bergumam dalam hati. "Horeeee, aku menang, cita-citaku terkabul bersuamikan manusia.”
Sementara itu, hari sudah hampir malam, sang putri yang sesungguhnya gelisah menunggu raja yang tidak kunjung datang. Dua emban pengasuhnya dengan cekatan segera mencari kayu untuk membuat api unggun. Mereka heran dan berkata dalam hati, "Siang itu memang Baginda dan rombongan tidak kembali ke kemah untuk makan siang. Siang itu turun hujan lebat sehingga makanan siang masih utuh." Mereka bertiga makan malam bersama setelah memasang api unggun. Malam semakin larut. Sang putri bangun terjaga dari istirahatnya. Ia berjaga menggantikan dua embannya yang sejak sore hari menjaga dirinya. Maklum, perutnya yang sedang hamil mengakibatkan ia mudah tidur.
Malam semakin larut, terdengar suara burung hantu menegakkan bulu roma. Auman harimau pun ikut memecahkan suasana sepi dan gelap. Timun Emas yang mampu berbahasa binatang memberi tahu Raja Hutan agar jangan mengganggu mereka yang sedang beristirahat di hutan itu. Mendengar perintah sang Tuan Putri, harimau lalu meninggalkan tempat itu. Tidak lama kemudian, Timun Emas terkejut akan kehadiran dua bidadari yang bersimpuh di hadapan Tuan Putri sambil menangis. "Mengapa gerangan bidadariku, apa yang sudah terjadi dengan suamiku? Ia belum juga kembali hingga larut malam.” Demikian ujar Sang Putri.
Bidadari mencoba menghentikan tangisnya sambil bercerita, "Wahai Tuan Putri yang baik hati, Tuan harap bersabar karena cobaan berat menimpamu kembali. Seorang siluman perempuan telah menjelma menjadi dirimu lalu mengajak Raden Suminar kembali ke istana. Saat ini wanita raksasa itu berada di istana menggantikan kedudukanmu."
Lunglai seluruh tubuh Timun Emas mendengar berita itu. Namun, ia tetap mencoba untuk tabah dalam suasana seperti itu. Tanpa memberi tahu emban tentang sesuatu yang sudah terjadi pada dirinya, Timun Emas mencoba mencari tempat tinggal yang lebih nyaman. Ia tidak sanggup memberitahukan peristiwa menyeramkan itu kepada dua embannya. Dengan tabah, ia mempersiapkan batinnya untuk mampu menjalani kembali cobaan berat hidup di tengah hutan. Ia memang pernah menjalani hidup tenteram di tengah hutan. Ia tidak terlalu risau memikirkan hal itu. Namun, selama menjalani cobaan itu, ia berpikir bagaimana upayanya untuk mengalahkan siluman raksasa wanita itu. Sering permaisuri sengaja tidak memejamkan matanya satu malam penuh hanya untuk berdoa demi keselamatan diri dan bayi yang sedang di kandungnya.
Suatu malam, jin yang menjelma permaisuri Timun Emas pergi dari istana, menuju pemukiman Timun Emas di tengah hutan. Setelah sampai, jin itu tidak berani mendekati gubuk Timun Emas. Ia merasakan adanya panas manusia sakti yang sulit dihindari olehnya. Siluman itu mengurungkan niatnya untuk menggoda Permaisuri Timun Emas. Ia berniat suatu hari akan mempersiapkan bekal untuk menyerang Timun Emas agar lenyap dari bumi sehingga dirinya tidak akan terusik lagi.
•••
6. TIMUN EMAS DI HUTAN PEREWANGAN
Kedua emban yang selalu setia mendampingi Tuan Putri Sekar Wangi semakin sayang kepada junjungannya yang penyabar itu. Tiga bulan telah berlalu, kandungan tuan putri semakin membesar, maka emban pengasuhnya mengajukan pertanyaan kepada junjungannya.
"Apa gerangan yang menimpa diri Tuan Putri, hamba tidak mengerti Tuan Putri? Apakah sang Baginda telah sengaja membuang Paduka Tuan Putri di tengah hutan ini setelah mengetahui Paduka hamil?"
Sang putri segera menjawab, "Biyung embanku yang baik hati, jangan cepat berburuk sangka. Tidak demikian yang terjadi, sepeninggal Baginda ke istana, ia belum mengetahui bahwa saya sudah hamil satu bulan. Baiklah, saya akan berterus terang kepada emban berdua yang kuanggap sebagai pengganti ibuku. Akan tetapi, hendaknya emban jangan terkejut karena berita ini mungkin mengakibatkan emban menjadi marah. Sebenarnya, siluman raksasa perempuan bernama Dewi Gandaputri menjelma sebagai diriku dan merebut suamiku. Raden Suminar tidak tahu sampai hari ini bahwa diriku yang sebenarnya masih berada di hutan, sedangkan yang berada di istana adalah siluman."
Mendengar berita itu, kedua mbok emban membelalakkan matanya, mereka menangis sejadi-jadinya karena selama ini dialah yang mengasuh raja sejak kecil. Ia tidak sanggup menghadapi kejadian yang menyedihkan itu. Seharian mereka menangis mengakibatkan mata mereka sembap. Sebagai tanda simpati, mereka berpuasa mengurangi makan sambil berdoa demi keselamatan raja dan Tuan Putri yang sangat dihormati sekaligus dikasihi. Tugas emban menjadi berat, Suti dan Trini harus menjaga keturunan raja yang saat ini masih berada dalam kandungan permaisuri.
Setiap malam, emban memijiti seluruh tubuh Tuan Putri sambil membaca mantra-mantra agar tuannya tidak didekati jin dan peri yang akan datang mengganggu. Sang Putri hanya tersenyum menyaksikan perilaku embannya yang berlebihan mengasihi dirinya. Bagi emban hanya pengabdian sepenuhnya dan setulus-tulusnya yang dapat ia lakukan sebagai abdi kerajaan, ia ingin menyelamatkan keturunan raja sampai titik darah penghabisan. Baginya bukan masalah yang mudah, ia harus berpuasa dan banyak berdoa menjaga Tuan Putri. Satu hal yang menggembirakan, Permaisuri pun selalu tabah dan tersenyum menghadapi kesulitan itu. Permaisuri merasa bersyukur, dalam kedukaan itu dua orang embannya masih mampu menghibur dirinya.
Malam itu rembulan agak malu manampakkan kemolekannya. Sebagian wajahnya tertutup awan. Mungkin ia juga sedang bersedih, seperti halnya Timun Emas. Dalam keheningan malam yang senyap, satwa penghuni Hutan Perewangan terlelap kelelahan. Timun Emas duduk sendirian memandangi keindahan sang Putri Malam. Pikirannya menerawang ke sana kemari. Sebentar ia teringat ibunya, Palupi. Sesaat kemudian, ia ingat suaminya, Raden Suminar. Tanpa terasa setetes demi setetes air matanya meleleh perlahan membasahi pipi. Keheningan malam tiba-tiba terusik dengan bunyi kelepak suara burung. Suara itu memang tidak terlalu keras dan ini menandakan pemilik sayap itu tergolong burung kecil. Burung ketilang yang pernah datang dan memperingatkan peristiwa buruk yang akan menimpa Tuan Putri datang dan bernyanyi merdu di hadapan sang Putri Timun Emas. Ia mengabarkan bahwa Raden Suminar tampaknya sudah menyadari bahwa wanita di hadapannya bukan istri yang sebenarnya. Akan tetapi, ia belum sempat mengemukakan hal itu kepada para penggawa istana karena istri jejadiannya itu pandai sekali merayunya. Burung itu menuturkan bahwa ia melihat tingkah laku raja yang sering merenung. Bahkan, tidak jarang tanpa sebab yang jelas Baginda bersikap kurang ramah kepada istrinya yang dicurigai sebagai jelmaan dari siluman.
Pada kesempatan itu juga, Timun Emas berkata kepada burung ketilang itu. "Hai, burung yang baik hati, terima kasih atas kabar berita yang kaubawa. Sudahlah, aku ikhlas menjalani cobaan ini sampai datang masanya nanti, Tuhan akan menunjukkan jalan terang dan berkah kepadaku."
Burung itu memberi salam dan mohon diri.
Belum lama burung beranjak dari tempat itu, Timun Emas dikejutkan suara burung hantu dan serigala yang melolong. Untuk menjaga hal buruk, ia telah mencoba duduk bersila sambil memejamkan mata untuk berkonsentrasi dan berzikir memohon keselamatan. Namun, rasa kantuk datang menyerang Timun Emas, tiba-tiba napasnya tersengal, kemudian ia merasakan adanya embusan napas lain di dalam dirinya yang tidak menyatu dengan napasnya. Ia meyakini ada makhluk halus merasuk ke tubuhnya yang mulai menggigil. Timun Emas mencoba bertahan tetapi tidak mampu, ia berteriak minta tolong. Bibi emban segera terbangun, mereka berpandangan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Emban Suti segera memeluk Tuan Putri sambil berdoa mohon keselamatan. Seorang lagi beranjak ke dapur mencari segenggam rimpang bernama dlingu bengle. Rimpang itu diyakini orang sebagai pengusir roh jahat. Setelah mencucinya, Trini menumbuk rimpang itu lalu dibalurkan ke sekujur tubuh Sang Putri yang mulai membiru. Sang Putri meronta-ronta dan memukuli perutnya seolah-olah ingin membunuh anaknya sendiri di dalam kandungannya. Kakinya meronta dan matanya terbeliak sambil memaki dan mengancam anak yang dikandungnya. Sekali lagi bibi emban membalur tubuh permaisuri dengan bawang merah dan putih yang telah ditumbuk sambil memegang kuat tangan permaisuri yang memukuli dirinya. Kali ini bibi emban agak putus asa sehingga air matanya berlinang. Ia tidak ingin kehilangan majikannya. Tanpa sadar ia pun merangkul dan menciumi tuan putri bertubi-tubi seolah-olah wanita tidak berdaya itu anaknya sendiri. Ia semakin erat memeluk permaisuri seolah tidak ingin melepaskan wanita malang itu sambil membaca mantra pengusir roh jahat. Tiba-tiba keajaiban datang. tubuh permaisuri seperti menyatu dan mendapat kekuatan baru dari panasnya tubuh Trini. Siluman tidak tahan dan melesat keluar dari badan wadag Permaisuri. Tuan Putri tiba-tiba menangis dan tubuh yang semula kaku melemas kembali, bibi emban menjadi lega, Sang Putri telah sadar dari pingsannya.
Sayup-sayup terdengar suara tawa yang membangunkan bulu kuduk, peri jahat itu pergi sambil terkekeh nyaring di luar gubuk, suaranya semakin menjauh. Barulah mereka sadar roh jahat yang mengganggu adalah siluman yang menjelma sebagai permaisuri di istana. Siluman itu tidak menghendaki Timun Emas mengandung anak Raja. Oleh karena itu, ia sengaja ingin mencelakai permaisuri. Sejak peristiwa itu, emban lebih ketat dan berhati-hati menjaga permaisuri. Tidak jarang emban pun ikut kerasukan dan mengancam akan membunuh permaisuri sehingga terjadi pergumulan sengit antara emban yang kerasukan roh jahat dengan emban yang ingin menjaga permaisuri. Jika peristiwa menegangkan itu berlalu mereka berpelukkan dan menangis sejadi-jadinya, mereka bertiga menjadi semakin akrab dan kompak menghadapi cobaan yang cukup berat itu. Sebagai tolak bala, Trini meletakkan sapu lidi aren buatannya sendiri di bawah amben Permaisuri, juga benda tajam seperti pisau diletakkan di bawah tempat tidur.
•••
7. RADEN SUMINAR BERISTRIKAN RAKSASA
Sejak kembali dari hutan perburuan, Raden Suminar dan permaisuri sering berselisih paham. Raja sering heran karena tanpa sebab yang jelas istrinya sering marah dan membantah terhadap perkataannya. Raden Suminar menyadari bahwa keinginannya mempunyai anak belum terkabul. Untuk itu, mereka harus saling menjalin kasih. Akan tetapi, sering terjadi penolakan dalam hatinya jika ingin lebih akrab dengan istrinya. Hingga suatu malam, Raden Suminar menyaksikan dengan mata kepala sendiri tatkala istrinya memegang boneka emas pemberian Ki Buto Ijo. Perilaku istrinya kepada boneka itu sangat berbeda dari biasanya. Dahulu ketika memegang boneka itu Timun Emas selalu menciumnya sambil menimang ia pun menyanyikan lagu timang-timang. Kali ini boneka itu hanya dipegang erat pada kepala dan lehernya tanpa hati-hati lalu mengelapnya dengan kasar. Sayup-sayup terdengar boneka itu berkata-kata sebagai tanda dipegang tangan wanita itu.
"Kau bukan ibuku, kau bukan ibuku, lepaskan aku!"
Timun Emas jelmaan jin itu terkejut lalu membanting boneka itu hingga terpelanting jatuh dekat kaki Raden Suminar. Sang Baginda segera memungutnya lalu membersihkannya dengan usapan lembut dan membungkusnya kembali dengan selimut. Istri jejadian itu tampak kesal dan bersungut-sungut memandangi boneka itu. Raden Suminar tidak dapat tidur memikirkan peristiwa ganjil yang tampaknya mengundang pertanyaan. Suara boneka yang menyerukan bahwa wanita itu bukan ibunya mengusik benaknya. Ia semakin bertanya-tanya, "Siapa wanita misterius ini? Benarkah ia istrinya yang sah, permaisuri Sekar Wangi, Timun Emas istri raja?"
Sementara itu, dua orang menteri kerajaan Jenggala dengan diam-diam senantiasa memerhatikan gerak-gerik Putri Sekar Wangi yang tampak ganjil. Namun, mereka tidak berani menyampaikan kecurigaannya itu kepada rajanya. Mereka yang setia itu hanya berupaya mencari seorang kiai untuk dimintai pertolongannya. Mereka berdua tekun belajar berbagai ilmu agar kelak jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan mereka berdua dapat menolong. Siang malam Menteri Jero dan Ki Wiro berdoa demi keselamatan rajanya.
Suatu hari Ki Wiro berpapasan dengan permaisuri, ia terkejut ketika wanita itu meminta tolong agar dicarikan seekor burung gagak. Ki Wiro segera pergi ke hutan untuk menangkap burung gagak, tetapi tidak lupa ia bertanya kepada gurunya. Kiai berbalik bertanya.
"Ki Wiro, siapa yang memerintah kamu untuk mencari burung gagak? Bukankah burung gagak itu adalah burung keramat yang tidak boleh dimakan sembarangan orang."
Ki Wiro segera menjawab, "Sang Putri yang memerintah hamba agar mencari burung keramat itu, aku tidak berani menolak."
Maka kiai itu hanya berpesan agar muridnya senantiasa waspada dan berdoa untuk keselamatan muridnya. Setahu gurunya, burung gagak itu dapat dipakai untuk persembahan kepada makhluk halus dan mendatangkannya sekaligus.
Setelah kembali dari hutan, ia segera menyerahkan burung itu kepada permaisuri. Wanita itu memerintahkan emban kepercayaannya untuk membakar burung itu tepat pukul dua belas malam. Mendengar perkataan permaisuri itu Ki Wiro mengajak Menteri Jero untuk mengintai dan menyaksikan perilaku permaisuri. Mendekati pukul dua belas malam, mereka mulai mengendap-endap mencari tempat bersembunyi di balik pepohonan rimbun. Kedua laki-laki itu terbelalak menyaksikan permaisuri sedang ikut membakar burung gagak itu sambil komat-kamit membaca mantra untuk memanggil guru siluman yang berada di Hutan Perewangan. Ki Wiro melihat dengan mata kepalanya sendiri, Permaisuri yang berwajah cantik itu kadang-kadang berubah menakutkan bagai siluman, bercaling seperti raksasa. Tiba-tiba suasana terasa mencekam, angin bertiup kencang, burung hantu bersahutan, suara anjing melolong membangunkan bulu roma. Ki Wiro dan Menteri Jero pun komat-kamit membaca ayat suci pengusir roh jahat. Mereka terkejut menyaksikan asap yang berkepul dari tungku pembakar burung gagak itu menghitam dan membubung tinggi. Kemudian, muncul siluman laki-laki bertubuh besar dan menakutkan, suaranya meraung bagai raksasa terbang di angkasa. Rupanya makhluk jahat itu mengetahui kehadiran Ki Wiro dan Mentri Jero di antara mereka. Ia mengamuk dan mengancam orang yang menghalangi pertemuan dengan permaisuri. Sambil menggigil ketakutan, kedua penggawa raja itu semakin memusatkan perhatiannya membaca doa-doa agar pertemuan kedua makhluk jahat itu gagal. Mereka pun sempat berpikir, mengapa guru mereka tidak diajak serta agar lebih tenang hatinya. Permaisuri jelmaan siluman itu marah dan membelalakkan matanya melihat ke sekeliling tempat itu. Namun, ia tidak berani mencari siapa penyebab gagalnya pertemuan itu. Permaisuri takut, penyamaran dirinya menjadi permaisuri palsu itu akan terbongkar dan dirinya menjelma kembali sebagai siluman.
Permaisuri segera masuk ke keputren diiringi emban kesayangannya. Ia menangis karena kecewa, rencananya untuk meminta kekuatan agar niatnya membunuh Permaisuri Timun Emas itu tidak berhasil. Tinggallah siluman gurunya itu menjadi penasaran, ia bertempur melawan Ki Wiro dan Menteri Jero. Untunglah penggawa kerajaan itu berhasil mengusir raja siluman itu sehingga suasana menjadi tenang kembali. Kedua laki-laki itu kembali ke rumahnya masing-masing dengan lega, tetapi wajahnya kuyu karena kelelahan.
Menteri Jero berkata penasaran. "Jika kita tidak menyaksikan dan mengusir raja jin itu, apa yang akan terjadi ya, Ki ...?"
Jawab Ki Wiro, "Ya, paling-paling wanita siluman itu berulah membuat keonaran di istana.”
Mereka kembali ke rumahnya masing-masing dengan beribu pertanyaan. Namun yang jelas usaha mereka untuk berbuat jahat dapat dicegah dan istana tetap dalam keadaan tenang.
•••
8. TIMUN EMAS BERTEMU PALUPI
Pada saat nanti ketika anaknya hampir lahir, Timun Emas berharap agar ibunya datang menemuinya. Ia yakin si burung ketilang berhasil menemui ibunya dan meceritakan bahwa Timun Emas membutuhkan kehadiran ibunya. Sang bidadari mengetahui kesulitan yang dialami Timun Emas, lalu ia menjelma menjadi seekor burung dara. Timun Emas terkejut mengetahui kehadiran burung dara jelmaan bidadari. Ia menangkap dan mengelus burung dara itu sambil tersenyum senang. Burung itu menyapa istri raja yang budiman itu.
"Wahai, Tuan Putri, apa gerangan yang Paduka risaukan?"
Timun Emas terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Timun Emas kemudian bercerita sambil menjahit pakaian anaknya.
"Aku sebenarnya tidak terlalu merisaukan kelahiran anakku. Namun, di hari yang membahagiakan itu aku akan senang jika ibuku berada di dekatku."
Burung dara segera menjawab, "Oh, itu soal mudah, aku dapat menolongmu mencari ibumu. Bukankah kau sudah mengutus si burung ketilang untuk mencari ibumu?"
Timun Emas hanya dapat tersenyum manis. Setelah Timun Emas memberi tahu nama dan alamat ibunya, burung dara segera melesat terbang ke angkasa menuju desa tempat tinggal Palupi.
Burung dara segera bertengger di atas kayu penjemur pakaian. Palupi rupanya sedang berkemas untuk pergi mencari anaknya. Burung dara sempat mendengar gumaman wanita tua itu, "Ke arah mana aku akan pergi?" Burung dara segera menjelma kembali sebagai bidadari dan mengajak Palupi pergi mencari Timun Emas. Dalam perjalanan, Palupi bercerita kepada bidadari itu.
"Baru saja aku kedatangan tamu seekor burung ketilang yang bercerita tentang anakku si Timun Emas. Aku sangat senang mendengar kisah hidup anakku. Namun, aku sangat sedih ketika mengetahui Timun Emas harus menjalani hidupnya kembali di hutan belantara." Demikian tutur Palupi dengan berlinang air mata. Bidadari segera mengajak Palupi meneruskan perjalanan.
Timun Emas bersenandung merdu sambil tertawa riang bersama kedua embannya. Mereka sedang mempersiapkan jamuan makan untuk menyambut Ratna Palupi. Tidak lama kemudian, terdengar suara nyaring beberapa satwa yang tinggal di hutan dekat pemukiman Timun Emas. Mereka memberikan sambutan kepada tamu yang baru datang memasuki kawasan tempat mereka. Timun Emas keluar dari gubuknya, air matanya tampak menetes ke pipi tanda bahagia ketika melihat ibunya datang dengan tegar dan lincah bersama sang bidadari. Pikir permaisuri, "Oh, ibuku masih awet ayu dan sehat."
"Ibumu tidak seorang diri, Nak. Aku bersama Maya, bidadari yang menemaniku dalam perjalanan." Sambil berucap demikian ia merangkul anaknya yang sedang hamil tua. Palupi terharu dan tidak tega menyaksikan anaknya yang dalam keadaan hamil hidup di tengah hutan.
"Aku bersyukur kepada Tuhan, Nak. Meskipun keadaamu memprihatinkan, tetapi kau tetap gembira. Kau sangat tabah, Anakku. Itu sikap yang paling utama, Anakku. Ketahuilah, Anakku, beberapa hari yang akan datang burung ketilang dan burung dara akan datang ke tempat ini dengan membawa serta kereta kencana pemberian kakek Buto Ijo. Kereta itu dapat kita pakai untuk membawamu ke istana. Aku harus menolongmu mengembalikanmu kepada suamimu. Maafkan ibu yang selama ini tidak mampu menjagamu sehingga kamu hidup terlunta-lunta di hutan. Namun, ibu berpendapat bahwa pengalaman hidupmu selama di hutan bermakna bagi kehidupanmu kelak. Di tengah keheningan hutan ini, kamu dapat merenungi makna kehidupan, dapat beristirahat tanpa terganggu acara kenegaraan, dapat berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan Sang Pencipta Alam sepuasmu. Ya, mungkin memang harus demikian kisah perjalanan hidupmu, Tuhan selalu memberi jalan terbaik untuk umat-Nya. Suamimu pun turut teruji atas kejadian ini. Ia akan merasakan perbedaan sikapmu sebagai wanita jelmaan siluman itu. Siapa tahu beliau segera sadar dan senantiasa tekun memahami agamanya."
Nasihat ibunya itu melegakan hati Timun Emas.
"Selain itu, engkau akan senang mendengar berita tentang kemajuan yang ibu peroleh."
Timun Emas membelalakkan matanya sambil bertanya dalam hati, "Berita apa gerangan?"
Ibunya mulai melanjutkan kisahnya selama mereka berpisah dengan Timun Emas.
"Aku diangkat oleh masyarakat sebagai dukun beranak. Selain panggilan hati, keahlian itu kuperoleh mungkin dari garis keturunan. Konon nenekku dahulu juga seorang dukun beranak. Namun. pengalaman yang berkesan ialah ketika aku menolong istri Ki Waskito melahirkan bayi laki-lakinya. Saat itu dukun beranak yang biasa dimintai tolong sedang pergi jauh menjenguk anak perempuannya yang akan melahirkan. Karena tidak ada orang yang berani menggantikan pekerjaan dukun beranak, maka akulah yang menolong kelahiran itu."
Timun Emas tercengang mendengar tutur ibunya. Ia memeluk ibunya. Air matanya sekali lagi menetes. Kemudian ia berkata kepada ibunya.
"lbu, rupanya Tuhan selalu mendengar doaku dan selalu memenuhi semua kebutuhanku. Persalinanku tidak akan menemui kesulitan dengan kehadiran Ibu di sini."
Menjelang hari kelahiran cucunya, Palupi hampir selesai mempersiapkan segala keperluan persalinan. Berbagai jenis dedaunan, berbagai rimpang, dan akar-akaran yang tumbuh di hutan sekitar pondok Timun Emas dapat dimanfaatkan sebagai obat. Hutan Perewangan yang selama ini dikenal angker ternyata ditumbuhi tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Pada siang hari dengan ditemani seorang emban atau kadang-kadang Timun Emas, Palupi menyusuri sudut-sudut hutan melengkapi obat-obatan yang sudah diperolehnya kemarin. Menjelang sore hari mereka kembali ke gubuknya. Setelah beristirahat sejenak, dengan cara menumbuk mereka meramu bermacam daun, akar, serta umbi untuk dijadikan obat-obatan. Ada jamu yang harus direbus, ada bedak untuk tubuh, ada pilis yang diletakkan di pelipis seorang wanita yang baru melahirkan. Jika malam tiba, mereka beristirahat sambil bercerita tentang pengalaman masing-masing.
Beberapa hari kemudian, Timun Emas merasa bahwa bayi yang dikandungnya segera akan lahir. Dengan perlahan-lahan, ia membangunkan ibu dan mbok embannya. Mereka segera sibuk menyiapkan segala perlengkapan persalinan. Menjelang subuh hujan gerimis turun tidak terlalu kencang. Penghuni hutan bersuara bersahut-sahutan menyambut kehadiran seorang anak raja. Tujuh bidadari mengetahui makna dari tanda keajaiban itu. Pelangi pun tampak di batas cakrawala dan bersamaan dengan itu bidadari berdatangan dari kahyangan. Setelah mengalami rasa sakit beberapa saat, Timun Emas melahirkan seorang bayi laki-laki dengan pertolongan Palupi. Tatkala terdengar suara tangis bayi, bunyi merdu suara satwa penghuni hutan serempak saling menyahut menyambut kelahiran bayi laki-laki itu. Berbagai jenis hewan berduyun-duyun mendekati gubuk ingin mengucapkan selamat datang kepada Pangeran Kecil yang baru hadir ke dunia. Meskipun tanpa ditunggui Raden Suminar, bayi istimewa itu lahir dengan selamat.
Sementara itu, di istana Jenggala, Raden Suminar semalam suntuk tidak dapat memejamkan matanya sedikit pun. Hatinya gelisah tidak menentu meskipun sudah memusatkan pikirannya. Peristiwa berburu yang dilakukan delapan bulan yang lalu tergambar jelas dalam angannya. Ia ingin kembali pergi ke hutan itu untuk melakukan perburuan. "Siapa tahu dalam perburuan itu aku akan menemui keberuntungan. Tidak seperti peristiwa lampau, aku mengalami kejadian janggal penuh misteri yang hingga saat ini belum terungkap," gumam Raden Suminar.
Menjelang pagi hari ia bermimpi, istrinya Timun Emas memberinya seorang bayi dan meminta agar bayi itu diberi nama. Dengan gugup Raden Suminar berpikir sejenak kemudian memberi nama bayi itu Raden Legowo. Setelah terjaga dari tidurnya Raden Suminar menceritakan tentang mimpinya itu kepada permaisuri jelmaan gandarwa.
Dengan sinis, istrinya berkata, "Cerita dalam mimpi Paduka itu hanya merupakan sindiran bagi hamba yang hingga saat ini belum juga dapat memberi keturunan." Wanita itu kemudian pergi dengan membawa dendam. Raja kecewa dan masygul menghadapi istrinya yang memiliki tabiat yang berbeda dibandingkan dengan sifat istrinya di masa lampau.
Sementara itu, di Hutan Perewangan mereka sedang kebingungan memilih nama untuk bayi lelaki itu. Bidadari yang mengetahui sesuatu yang gaib dan kasatmata membisikkan kepada Timun Emas agar memberi nama anak itu Raden Legowo. Tanpa banyak tanya lagi. Timun Emas segera mengumumkan bahwa bayinya diberi nama Raden Legowo. Ia bersyukur dalam kesulitan seperti itu Timun Emas masih dapat berkomunikasi kepada suaminya lewat para bidadari.
•••
9. RADEN LEGOWO MENGOBATI RADEN SUMINAR
Raden Legowo telah menginjak usia remaja, wajahnya tampan mirip ibunya. Dalam usia 15 tahun, ia tumbuh sehat sebagai anak lelaki yang bertubuh tinggi dan kekar. Karena sejak lahir hidup di hutan, ia memiliki keahlian berburu dan memancing ikan. Selain itu, Raden Legowo mempelajari pengetahuan ilmu obat-obatan dari neneknya selama mereka berada di hutan. Kecerdasannya yang melampaui kecerdasan anak sebayanya menyebabkan Raden Legowo mampu meramu obat-obatan untuk bermacam-macam penyakit. Selain itu, dari neneknya ia juga mempelajari ilmu mengurut. Untuk mengetes apakah kemampuannya dalam kedua ilmu itu sudah cukup layak, ia telah mencoba mengobati berbagai jenis binatang yang menderita sakit. Seekor tupai cedera kaki belakangnya karena terpeleset dan jatuh dari pohon. Bocah remaja itu berhasil menyembuhkan kaki tupai yang cedera, setelah mengurutnya dengan minyak sawit. Anak gajah yang kaki depannya terluka karena menginjak potongan kayu runcing juga berhasil disembuhkan dengan menggunakan getah daun dewa. Demikianlah kehidupan Legowo di tengah hutan yang hanya dihuni oleh berbagai macam binatang. Dengan keahliannya itu, Raden Legowo memberanikan diri pergi dari gubuk ibunya di hutan.
Di istana Kerajaan Jenggala diberitakan bahwa Raden Suminar sakit setelah berselisih paham dengan istrinya. Dalam sakitnya itu, Raja Jenggala sering mengigau dan berteriak mengatakan bahwa wanita itu bukan istrinya. Mengetahui gelagat yang membahayakan dirinya, Tuan Putri jelmaan raksasa itu berniat mencelakakan Baginda. Ia memilih cara dengan membubuhi racun pada makanan yang disantap oleh Raden Suminar. Racun yang digunakan untuk mencelakai suaminya tergolong keras dan berbahaya. Racun yang digunakan sejenis warangan, yang mampu melumpuhkan seluruh urat bagi yang terkena racun itu. Raden Suminar tidak mampu bangun dari peraduannya. Ia merasa seluruh otot tubuhnya lemas tak bertenaga. "Ya, Tuhan, ampunilah dosaku. Mengapa aku mengalami penderitaan seperti ini? Ni Mas Timun Emas, pulanglah ke istana. Mari kita usir perempuan jahat ini," igau Baginda. Tuan Putri jelmaan raksasa itu berpura-pura sedih menyaksikan keadaan raja.
Sementara itu, dua orang menteri yang telah mencurigai gelagat Tuan Putri segera bertindak untuk menolong jiwa Baginda. Ia mengumumkan kepada seluruh rakyat Jenggala yang memiliki keahlian pengobatan untuk datang ke istana. Barangsiapa yang mampu menyembuhkan Raja Suminar hingga sehat seperti sediakala akan memperoleh hadiah besar. Jika ia masih berusia muda akan diangkat sebagai putra raja, tetapi jika sudah berusia lanjut akan diangkat sebagai saudara raja. Tabib Palupi mendengar berita itu dari seorang pemburu yang singgah beristirahat di gubuknya. "Apakah Nini Palupi sudah mendengar berita di istana?"
"Belum, Kisanak, berita apa itu? Coba ceritakan," jawab Palupi penasaran.
Pemburu itu melanjutkan penuturannya, "Ni Palupi, Raja Jenggala, Raden Suminar, sekarang sedang menderita sakit aneh. Baginda tidak mampu bangun dari pembaringan. Semua otot badannya serasa putus."
"Ya, Tuhan, apakah benar penuturanmu itu?" Palupi terkejut. Timun Emas yang berada di dekat mereka dengan jelas mendengarkan kisah pemburu itu. Kedua pipinya seketika itu basah karena tetesan air mata yang deras turun membasahi. Sebagai istri sah, ia terpukul mendengar berita itu. Ia merasa terpanggil untuk menyembuhkan penyakit suaminya. Selanjutnya, diutuslah Raden Legowo untuk datang ke istana menolong Baginda Raja Jenggala.
"Oh, belahan jiwaku, Legowo, sebagai umat Tuhan kita harus menolong siapa saja yang membutuhkan uluran tangan kita. Sekarang Raden Suminar, Raja Jenggala, sedang menderita sakit keras. Oleh karena itu, berangkatlah, Nak, ke pusat kerajaan. Cobalah menyembuhkan penyakit junjungan kita itu," tukas Timun Emas kepada putranya.
Hampir setiap hari istana dipenuhi tabib yang berdatangan dari segenap pelosok negeri. Mereka berlomba menunjukkan keahliannya untuk menyembuhkan Baginda. Namun, penyakit raja belum juga sembuh. Tabib-tabib itu tidak mampu mengobatinya. Raden Legowo dengan patuh memenuhi perintah ibundanya. Ia bersiap-siap berangkat ke istana. Dengan bantuan Palupi, berbagai ramuan telah dipersiapkan dan dibungkus di tempat khusus. Sebagian ada yang dimasukkan bumbung bambu, sedangkan yang sebagian lainnya dibungkus daun sirih. Sementara itu, Timun Emas mempersiapkan bekal makanan dan pakaian selama kunjungan Raden Legowo ke Jenggala. Sambil menambal baju usang yang sobek di bagian punggung, Timun Emas berdoa demi keselamatan anaknya di perjalanan dan di istana nanti.
Raden Legowo berangkat dengan membawa bekal yang cukup untuk perjalanan selama dua hari. Sambil berpamitan, Raden Legowo mencium tangan nenek dan ibunya.
"Nenek dan Ibu, izinkanlah Ananda berangkat sekarang. Ananda mohon doa restu Nenek dan Ibu. Semoga Ananda mendapat petunjuk Tuhan, mampu menyembuhkan junjungan kita Raja Jenggala," ucap Raden Legowo.
Setelah berjalan selama dua hari-dua malam, barulah ia sampai ke istana. Raden Legowo langsung menuju gerbang istana yang dijaga prajurit bersenjatakan tombak.
"Hai, anak muda. Apakah engkau juga akan mencoba mengobati Baginda?" tanya mereka kepada Raden Legowo.
"Sendiko, Tuanku, hamba memang datang dari jauh ke sini bermaksud ingin menyembuhkan Raja Jenggala," jawab Raden Legowo.
Semula prajurit penjaga tidak percaya dan sedikit mengejek, tetapi kawannya mengingatkan. "Wah, sudahlah jangan bergurau. Ingat keadaan paduka raja yang perlu pertolongan. Siapa tahu pemuda tampan ini sekalipun masih bocah justru mampu menyembuhkan."
"Benar juga, ya!"
Legowo tidak menghiraukan ocehan para prajurit.
Setelah melalui tiga regol yang dijaga beberapa prajurit, sampailah Raden Legowo ke sebuah ruangan yang sangat luas. Di ruangan itu, tampak seorang pembesar kerajaan, yaitu Menteri Jero sedang duduk merenung sedih, mungkin ia merasa sedih karena Baginda justru semakin parah sakitnya. Prajurit pengiring Raden Legowo berdatang sembah menyampaikan maksud kedatangan pemuda itu. Setelah itu, prajurit itu mohon diri. Menteri Jero dengan saksama memperhatikan Raden Legowo dari atas sampai ke bawah. Terbesit ketidakpercayaan membayang di wajahnya.
Dengan suara berat pejabat itu mengajukan pertanyaan, "Siapa namamu, anak muda? Benarkah engkau memiliki kepandaian mengobati orang sakit?"
"Sendiko, Gusti. Hamba hanyalah anak desa yang tidak memiliki kepandaian. Namun, sebagai makhluk Tuhan hamba akan berupaya menyembuhkan Paduka Raja Jenggala. Hamba yakin sesuatu pekerjaan yang dilandasi niat baik, insya Allah akan dikabulkan-Nya," jawab Raden Legowo.
Raja Jenggala yang berbaring di peraduan sangat terperanjat menyaksikan raut wajah pemuda itu. "Wajah anak muda ini memberi inspirasi dan mengingatkanku pada Timun Emas istriku," batin Raden Suminar dalam hati.
Bukan hanya Raja Jenggala yang tercengang, wanita siluman itu pun terkejut melihat kehadiran pemuda itu. Setelah meminumkan ramuan obat kepada Baginda, pemuda itu mengurut seluruh tubuh raja. Ia menotok setiap persendian karena peredaran darah baginda tersumbat. Pemuda itu menduga bahwa penyebabnya adalah racun. Raden Suminar dan Ki Wirokusumo saling pandang. "Ini pasti perbuatan Permaisuri yang tega meracuni Baginda sehingga lumpuh sekujur tubuhnya," batin Ki Wirokusumo.
Meskipun telah menduga bahwa semua ini adalah perbuatan istrinya sendiri, Raja Jenggala tetap tenang dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Beberapa lama kemudian, setelah minum obat pemberian tabib muda itu, Raden Suminar merasakan tubuhnya dialiri hawa hangat. Kemudian perutnya merasa mual dan tidak lama kemudian raja memuntahkan cairan berwarna hitam dan berbau amis. Raut muka Baginda yang semula kehitam-hitaman, lambat laun berubah memerah dan mulai mampu sedikit demi sedikit menggerakkan jari kaki dan jari tangan.
Melihat perkembangan yang baik itu, petinggi istana yang mendampingi raja gembira dan kembali berharap Baginda akan segera sembuh.
Raden Legowo menganjurkan Baginda untuk sementara waktu tetap beristirahat dan jangan berbicara dahulu. Selama tiga jam Raden Legowo menunggui Baginda. Menjelang sore hari, Baginda Raja Jenggala sudah dapat menggerakkan tangan dan kakinya.
"Siapa namamu, Nak, dan belajar ilmu ketabiban dari siapa kau?" tanya Baginda.
Tanpa ragu, Raden Legowo segera menjawab, "Nama hamba Legowo dan hamba belajar ilmu tabib dari nenek hamba yang bernama Nyi Palupi."
Mendengar pengakuan pemuda itu, raja terkejut bahkan ingin mengangkat kepala dan badannya agar dapat duduk dari tempat tidurnya. Seketika penyakitnya serasa sembuh. Ia meyakini bahwa pemuda di hadapannya itu adalah putranya. Untunglah Menteri Jero yang juga berada di tempat itu melarang raja bangun. Mereka membaringkan kembali tubuh raja agar tertidur kembali.
Seorang menteri segera berbisik kepada raja dan menganjurkan agar tetap berpura-pura sakit. Sementara itu, menteri yang lain akan membuat siasat untuk melenyapkan permaisuri gadungan itu. Ki Wirokusumo keluar dari peraduan raja dan memerintahkan permaisuri agar tetap berada di ruang tamu. Pengobatan sementara ditunda sampai raja terbangun dari tidurnya. Kemudian Wirokusumo pergi menuju rumah seorang dukun sakti yang mampu mengusir roh jahat, yang mengganggu manusia. Dengan singkat ia menceritakan kepada dukun sakti itu tentang penyakit raja. Tanpa banyak bicara, dukun itu menyiapkan diri untuk datang tepat pada waktunya. Tidak lupa dukun itu meminta bantuan dukun sahabatnya agar ikut membantu mengusir roh jahat yang sekarang menyelimuti istana.
Sementara itu, Raden Legowo masih berada di dalam peraduan sang raja. Keajaiban terulang lagi. Golek kencana milik Timun Emas kembali bernyanyi sambil berkata.
"Hai, Raden Suminar yang bijaksana, ketahuilah bahwa dia adalah putramu yang kau tinggalkan di tengah hutan ketika Paduka berburu lima belas tahun yang lalu. Lindungilah dia dari kekejaman Permaisuri jelmaan siluman itu."
Mendengar suara itu, raja berbisik-bisik kepada menteri agar mengatur siasat lebih lanjut. Jantung raja berdetak semakin kuat. Raut mukanya memerah karena gembira bercampur tegang. Seorang dukun diizinkan memasuki bilik raja dan menyatakan bahwa Raja Jenggala tidak diperkenankan lagi bertemu dengan istri jelmaan siluman itu, raja tersenyum mendengar pernyataan dukun itu.
Menteri kepercayaan Raja segera mengumumkan bahwa Raja Jenggala wafat karena racun yang sengaja ditaburkan ke dalam makanan raja oleh permaisuri. Oleh karena itu, sang putri harap segera ditangkap. Permaisuri berhasil ditangkap walaupun dengan susah payah. Raden Legowo tidak beranjak dari tempat tidur raja. Ia ikut menjaga ayahnya dari ancaman para siluman yang menjadi dayang permaisuri.
Sementara itu, Menteri Wirokusumo melakukan perjalanan menuju Hutan Perewangan dengan ilmu saipi angin agar lekas sampai ke gubuk Timun Emas. Timun Emas tidak terkejut menerima kedatangan Ki Wirokusumo. Laki-laki perkasa itu bercerita tentang raja muda, putra Timun Emas. Oleh karena itu, Permaisuri dimohon segera berangkat menuju istana bersama ibunda Palupi. Mereka berangkat dengan menunggang kereta kencana pemberian Ki Buto Ijo. Kereta itu berjalan cepat sekali tanpa menapak di tanah, bagai melayang sehingga sekejap saja mereka telah sampai di istana Jenggala. Para prajurit dan segenap rakyat telah berada di halaman istana. Mereka berebut ingin melihat permaisuri jelmaan siluman dan para emban pengikutnya yang tertangkap dan diikat di salah satu ruangan istana.
Dalam ruang yang agak luas, dukun itu melakukan tugasnya dengan sangat hati-hati. Setelah melengkapi semua peralatan yang diperlukan, ia mencoba mengumpulkan para emban yang diduga jelmaan siluman yang mengawal permaisuri palsu. Setelah terkumpul ternyata berjumlah tujuh orang berikut permaisuri palsu. Tanpa diminta, para dukun lainnya yang memiliki kepandaian mengusir roh jahat ikut serta bergabung di ruang itu. Mereka ingin segera menyelesaikan tugasnya, yakni membersihkan istana dari pengaruh roh jahat. Mereka beramai-ramai membaca mantra, ketujuh siluman itu cemas dan tidak berdaya melawan para dukun yang berjumlah cukup banyak. Setelah membaca mantra, beberapa orang m dukun memerciki air suci dari kendi ke seluruh permukaan lantai dan halaman istana hingga rata.
Istana serasa terguncang bagaikan dilanda gempa bumi, angin ribut datang berembus kencang sekali sehingga banyak batang pohon yang roboh. Sayup-sayup terdengar jeritan para wanita. Sebagian dari mereka ada yang terkekeh-kekeh, semula terdengar jelas dan lama kelamaan menjauh dan menghilang. Setelah ruangan bersih dari asap yang mengepul, para penggawa menyaksikan tujuh onggok abu di pojok ruangan. Hal itu menunjukkan bahwa siluman itu telah musnah. Para Dukun segera memagari seluruh bangunan istana agar siluman itu tidak berani lagi mendekat.
Rakyat dan seluruh keluarga istana merasa lega, Permaisuri Timun Emas dipersilakan memasuki ruang peraduan raja. Pertemuan mereka sangat mengharukan, permaisuri tanpa ragu-ragu memeluk raja yang ketika itu masih belum mampu terbangun dari tidurnya. Akhirnya raja tersenyum dan meraih permaisuri untuk melepas rindunya. Hari demi hari kesehatan raja semakin pulih berkat perawatan permaisuri dan pengobatan yang dilakukan oleh Raden Legowo dan Tabib Palupi.
Raja memohon maaf kepada ibu mertuanya karena dia tidak mampu menjaga istrinya, sehingga harus hidup menderita di tengah hutan melahirkan bayinya. Palupi menggelengkan kepala, "Kau tidak bersalah, itu sudah takdir. Aku sebagai orang tuanya juga tidak sanggup menjaga anakku sehingga harus bertarung menyelamatkan nyawanya seorang diri di hutan. Itu memang sudah suratan Ilahi. Paduka harus ingat, dia adalah wanita istimewa milik Tuhan. Hanya Tuhan yang menyelamatkan dirinya, lain tidak. Berdoalah dan mohon ampun kepada-Nya agar di masa yang akan datang tidak lagi terjadi peristiwa yang menyulitkan. Selain itu mulailah sejak dini mendekat kepada Tuhan dan menekuni ajaran keutamaan.”
Setelah benar-benar sembuh, raja mengadakan perhelatan besar untuk mensyukuri kesembuhannya, menyambut kedatangan permaisuri, serta kehadiran putra raja, yakni Raden Legowo yang kelak akan menggantikan singgasana raja. Perhelatan berlangsung selama satu minggu. Berbagai jenis kesenian dipertunjukkan di halaman istana termasuk Tari Bondan yang hingga saat itu tetap dibina oleh para gadis di lingkungan istana. Permaisuri tersenyum puas menyaksikan murid yang dididiknya melakukan tugasnya dengan baik meskipun ia telah lama meninggalkan istana.




Komentar
Posting Komentar