RAJA ROKAN
KATA PENGANTAR
Usaha pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena di dalam sastra daerah terkandung warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Upaya pelestarian itu bukan hanya akan memperluas wawasan kita terhadap sastra dan budaya masyarakat daerah yang bersangkutan, melainkan juga pada gilirannya akan memperkaya khazanah sastra dan budaya masyarakat Indonesia. Dengan demikian, upaya pelestarian yang dilakukan itu dapat dipandang sebagai dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.
Sehubungan dengan hal itu, Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber pada sastra daerah. Cerita rakyat yang dapat membangkitkan kreativitas atau yang mengandung nilai luhur dan jiwa serta semangat kepahlawanan perlu dibaca dan diketahui secara meluas oleh generasi muda, terutama anak-anak, agar mereka dapat menjadikannya sebagai sesuatu yang patut dibaca, dihayati, dan diteladani.
Buku Raja Rokan ini bersumber pada terbitan Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta Tahun 1996 dengan judul Asal-Usul Raja dan Rakyat Rokan yang disusun kembali dalam bahasa Indonesia oleh Sulistiati.
Kepada Drs. Utjen Djusen Ranabrata, M.Hum. (Pemimpin Bagian Proyek), Budiono Isas, S.Pd. (Sekretaris Bagian Proyek), Hartatik (Bendahara Bagian Proyek), serta Sunarto Rudy, Budiyono, Rahmanto, dan Ahmad Lesteluhu (Staf Bagian Proyek), saya ucapkan terima kasih atas usaha dan jerih payah mereka dalam menyiapkan naskah buku ini. Ucapan terima kasih saya tujukan juga kepada Dra. Ani Mariani sebagai penyunting dan Armin Tanjung sebagai pewajah kulit dan ilustrator buku ini.
Mudah-mudahan buku ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pembaca.
Kepala Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa
Dr. Hasan Alwi
•••
UCAPAN TERIMA KASIH
Cerita anak ini disadur dari buku berjudul Asal-Usul Raja dan Rakyat Rokan. Buku tersebut ditransliterasi oleh Putri Minerva Mutiara dari naskah berhuruf Arab Melayu. Dalam kitab itu ditulis pula pengarangnya, yaitu Abdullah Scrijve b/z Zelfbestuurde Rokan. Di dalamnya diceritakan asal-usul Raja Minangkabau. Selanjutnya, buku itu diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta pada tahun 1996. Dengan menerjemahkan karya sastra tersebut, cerita itu akan ditulis kembali dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Penulisan cerita rakyat yang berjudul Raja Rokan ini sepenuhnya dibiayai oleh Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun anggaran 1999/2000. Sehubungan dengan ini, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Hasan Alwi, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa; Drs. Abdul Rozak Zaidan, M.A., Kepala Bidang Sastra Indonesia dan Daerah. Ucapan terima kasih disampaikan juga kepada Drs. Utjen Djusen Ranabrata, M.Hum., Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah beserta staf. Atas rahmat Allah Swt. penyusunan buku ini dapat diselesaikan. Amin.
Penulis
•••
1. KERAJAAN PAGARUYUNG
Kerajaan Pagaruyung terletak di kota Benia, Pagaruyung, Sumatra Barat. Meskipun dipimpin seorang wanita, Kerajaan Pagaruyung tersohor dan disegani para pemimpin kerajaan kecil di sekitarnya. Rakyatnya hidup sejahtera. Negara aman dan tenteram. Rajanya bernama Putri Sangka Bulan. Ia berputra tujuh orang, yaitu Sutan Seri Alam, Sutan Sakti Alam, Sutan Alam Perkasa, Sutan Indra Sakti, Sutan Cahaya Mangindra, Sutan Indra Cahaya, dan Putri Sari Bulan.
Dari ketujuh putranya itu, Sutan Seri Alam memiliki tabiat buruk. Memang, ia berwajah tampan, bertubuh tinggi, berkulit kuning langsat, dan berbadan tegap. Akan tetapi, ia angkuh, sewenang-wenang terhadap rakyat kecil, dan suka mencuri. Raja Putri sering berduka memikirkan sifat putra sulungnya. Ia mengharapkan putra sulungnya menjadi penggantinya kelak. Sutan Seri Alam tidak mematuhi peraturan istana. Ia suka bermain judi dan mengadu ayam. Ia menolak mempelajari ilmu kenegaraan, ilmu bela diri, dan berbagai ilmu lainnya. Dengan kasar, ia berkata kepada ibunya.
"Ibunda! Aku ahli waris kerajaan yang sah sekalipun aku tidak mengikuti peraturan di istana ini. Biarlah adik-adikku yang belajar agar dapat membantu diriku kelak sebagai raja."
Putri Sangka Bulan marah mendengar pernyataan anaknya itu.
"Sutan Seri Alam, anakku ... jangan seperti itu jalan pikiranmu. Kaukeliru, justru engkaulah yang harus banyak belajar! Agar kelak, engkau menjadi raja yang bijak."
"Tidak ..., tidak perlu. Sekalipun tidak belajar aku akan sanggup melakukannya, Bu!" Ia berkata demikian sambil bertolak pinggang. Penggawa istana terdiam mendengar perkataan itu. Harapan Putri Sangka Bulan agar anak sulungnya menjadi raja telah musnah. Hampir setiap hari Sutan Seri Alam berada di persabungan ayam bersama pengasuhnya, laki-laki tua yang bernama Bujang Tuo.
Ketika Putri Sangka Bulan sedang bercengkerama dengan putra-putrinya di taman sari, Sang Putri bertanya kepada inang pengasuh, "Sejak tadi aku tidak melihat anak sulungku, ke mana gerangan dia?"
"Ampun junjungan hamba, Sutan Seri Alam tadi hamba lihat pergi bersama Bujang Tuo." Demikian jawab abdinya.
"Tentunya dia menyabung ayam lagi?" tukas sang Putri kesal. "Apa jadinya kerajaan ini kelak jika calon rajanya setiap hari pekerjaannya hanya menyabung ayam!" Demikian ucap sang Putri dengan wajah muram.
Keindahan taman sari yang dipenuhi beraneka macam bunga tidak mampu menghibur hatinya. Bunga angsoka yang indah warnanya, bunga kemuning yang harum baunya, bunga menur putih yang bercahaya mewangi, dan bunga mawar yang semerbak tidak mampu menghibur hati sang Putri. Sesaat sang Putri Sangka Bulan menengadahkan wajahnya ke langit. Ia menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya. Kesedihan itu seolah ingin disimpan sendiri. Para inang pengasuh dan keenam putra-putrinya tertunduk sedih. Percikan air kolam yang disebabkan loncatan ikan menyadarkan lamunan sang Putri. Sambil menghela napas, sang Putri bertitah kepada keenam putra-putrinya.
"Kita cukupkan pertemuan hari ini. Apalagi langit tampak mendung, mungkin hujan sebentar lagi turun." Dengan patuh, keenam putra-putrinya, diiringkan para inang pengasuh, meninggalkan taman sari sambil menundukkan kepala.
Suasana sedih tampaknya hanya terjadi di taman sari. Di persabungan ayam, Sutan Seri Alam bersorak girang bersama pengasuhnya. "Hore, hop, hore, ayo si Kumbang. Ayo terjang, ayo hantam ayam kampung itu!" sorak para petaruh seakan mampu merobohkan panggung tempat penonton. Apalagi di antara penonton ada yang membawa bunyi-bunyian. Gong, tambur, dan gendang ditabuh bertalu-talu memberi semangat kepada ayam aduan. Akhirnya si Kumbang mampu mengalahkan musuhnya. Taji tajam di kaki si Kumbang berhasil melukai leher lawannya. Setelah menggelepar-gelepar sesaat, ayam itu terjungkal mati. Gemuruh sorak penonton membahana. "Hore, hore, hore, si Kumbang menang." Petaruh yang menjagokan si Kumbang turun ke gelanggang. Mereka menari-nari kegirangan.
Sutan Seri Alam dan Bujang Tuo tidak langsung pulang ke istana. Mereka merayakan kemenangan dan singgah di kedai. Teman bermain Sutan Seri Alam ikut merayakan kemenangan itu. "Ayo, Paman Bujang Tuo dan teman-teman, hari ini kita minum serta makan sepuas-puasnya. Aku yang bayar. Aku banyak uang hari ini."
"Terima kasih, Tuan. Ayo, anak-anak, hari ini kita pesta besar." Demikian ujar Paman Bujang Tuo. Berbotol-botol tuak mereka minum. Penganan yang dijual di kedai itu mereka beli semua. Lemang, tapai, kue bugis, onde-onde satu per satu berpindah ke perut mereka. Pemilik kedai pun ikut senang.
"Mimpi apa aku semalam?" gumam pemilik kedai. Keuntungan hari ini berlipat ganda daripada biasanya. Barang dagangannya habis terjual tanpa sisa.
Rombongan Sutan Seri Alam baru pulang menjelang matahari terbenam. Mereka berjalan gontai karena setengah mabuk. Mereka memilih jalan melingkar yang ada di belakang istana. Dengan mengendap-endap, mereka masuk melewati pintu belakang istana. Sutan Seri Alam tidak ingin kedatangannya diketahui ibunda Ratu. "Diam Kumbang, jangan bersuara nanti ibuku mengetahui kedatanganku!" bisik Sutan Seri Alam kepada ayam jantannya.
"Dari mana Tuan Muda, sesore ini baru pulang?" Sapaan para prajurit penjaga pintu belakang tidak diindahkan Pangeran. Ia ingin cepat sampai ke istana putra mahkota tempat tinggalnya.
Sutan Pamuncak, guru Sutan Seri Alam, diam-diam sebenarnya melihat kedatangan putra mahkota. Akan tetapi, ia menganggap saat itu kurang tepat waktunya untuk menyapa anak asuhnya itu. "Sebaiknya nanti malam saja aku menemui muridku,” kata Sutan Pamuncak dalam hati. Tepat ketika kentungan dipukul sembilan kali oleh penjaga, Sutan Pamuncak menuju ke tempat tinggal Putra Mahkota. Karena di serambi muka sepi, Sutan Pamuncak langsung menuju bilik Sutan Seri Alam. Dengan perlahan diketuknya pintu tiga kali sambil berkata, "Tuan Muda, hamba guru istana." Putra Mahkota masih terjaga sehingga mendengar ketukan gurunya. Segera dibukanya pintu biliknya. "Guru, silakan masuk. Angin apa gerangan yang membawa Guru malam ini ke bilikku?" tanya Putra Mahkota.
"Ampun, Tuan Muda. Mohon ampun, hamba ingin berbicara dengan Tuanku," jawab Sutan Pamuncak.
"Baiklah. Segera sampaikan maksud Guru," tukas Putra Mahkota.
"Ananda Putra Mahkota, junjungan hamba, sudah lama hamba ingin bertanya kepada Tuan Muda. Mengapa akhir-akhir ini Tuan Muda jarang datang mengikuti pelajaran yang hamba berikan? Padahal Tuan Muda adalah ahli waris Kerajaan Pagaruyung yang tersohor ini. Hamba khawatir Tuan Muda terlambat memahami adat-istiadat yang harus dikuasai seorang raja.”
"Paman, aku memaklumi kekhawatiranmu. Akan tetapi, tidakkah nanti Paman akan selalu mendampingiku ketika aku menjadi raja?" jawab Sutan Seri Alam.
"Ampun, Tuan Muda. Memang, banyak orang cerdik cendekia yang akan mendampingi Paduka kelak. Akan tetapi, menurut hemat hamba, alangkah baiknya jika Tuan Muda menguasai tata cara pemerintahan. Tuan Muda akan lebih berwibawa di mata rakyat," jawab Sutan Pamuncak.
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan?" tanya Sutan Seri Alam agak kesal. Ia berpikir bahwa ibu dan gurunya sangat cerewet dan kolot.
"Paduka ahli waris Kerajaan Pagaruyung yang hamba hormati. Hamba berharap Tuan Muda sudi mengurangi kesenangan mengadu ayam dan meluangkan waktu untuk belajar," jawab Sutan Pamuncak.
"Paman, tanpa mengurangi maksud baikmu, pembicaraan kita lanjutkan besok pagi saja. Aku sudah mengantuk!" jawab Putra Mahkota. Dengan menyesal Sutan Pamuncak memohon diri kepada Putra Mahkota. "Selamat malam, Paduka, selamat tidur."
Dalam tidurnya ia gelisah. Ia juga sering teringat bahwa ibunya tidak suka kepadanya.
"Engkau harus memahami hak dan kewajibanmu. Ibu berpikir adikmu pun berhak menjadi raja kelak di kemudian hari. Ia tampak lebih pantas menggantikan kamu!" Demikianlah seru ibunya.
"Memang, aku tidak tahu adat! Aku muak dengan segala peraturan di istana yang kuno itu. Aku memang anak sulung, ahli waris kerajaan di Negeri Pagaruyung. Akan tetapi, apa boleh buat, Bundaku sudah tidak mengharapkan aku lagi." Demikianlah gumam Sutan Seri Alam. Ia tampak putus asa.
Semakin hari kenakalannya semakin menjadi. Ia mencuri uang ibunya untuk mengadu ayam, berjudi, dan minum tuak bersama kawan-kawannya. Sementara itu, adik-adiknya dengan tekun berguru kepada Sutan Pamuncak. Sutan Sakti Alam tampak paling menonjol kepandaiannya dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Terbesit dalam hati gurunya bahwa putra kedua kelak akan menjadi raja.
"Yah ... mudah-mudahan, dia dapat menyelamatkan Kerajaan Pagaruyung." Demikian harapan Sutan Pamuncak.
•••
2. KEBESARAN PUTRI SANGKA BULAN
Rakyat Kerajaan Pagaruyung mata pencahariannya adalah berdagang, bertani, dan beternak. Banyak penduduk Pagaruyung yang berhasil menjadi pedagang besar. Mereka mampu meraih keuntungan besar sehingga kaya raya. Para petani dan peternak pun hidup berkecukupan. Mereka menjual hasil bumi dan hewan ternaknya ke negeri lain. Pasar induk yang terletak di pinggir kota ke arah timur tampak selalu ramai. Berbagai macam sayur, seperti bayam, daun singkong, kangkung, pakis, labu, tomat, dan cabai tersusun menggunung di pasar itu. Di bagian belakang pasar, dijual binatang ternak, seperti kerbau, kambing, dan ayam. Lenguhan kerbau, embekan kambing, dan kokok ayam semakin meriuhkan suasana pasar. Siang malam pasar itu terlihat ramai. Suasana pasar yang ramai menandakan bahwa negeri itu makmur.
Banyak raja tetangga ingin bergabung dengan Kerajaan Pagaruyung. Dengan senang hati, Raja Putri Sangka Bulan mengabulkan keinginan mereka. Sebulan sekali mereka menghadiri penghadapan agung di Pagaruyung. Dalam kesempatan itu, mereka tidak lupa membawa upeti untuk sang ratu. Mereka mempersembahkan berbagai jenis hasil bumi, terutama buah-buahan dan sayur-mayur serta kain sutra warna-warni yang halus tenunannya. Kuda penarik gerobak berbaris membawa upeti yang akan dipersembahkan kepada raja.
Upeti itu diterima oleh penggawa kerajaan. Bahan makanan disimpan di dalam gudang atau lumbung istana. Tidak hanya satu atau dua kerajaan kecil yang membawa upeti bagi Kerajaan Pagaruyung. Oleh karena itu, lumbung Kerajaan Pagaruyung selalu penuh bahan makanan. Setiap bulan rata-rata sepuluh utusan singgah di Istana Pagaruyung.
Untuk menyatakan syukur kepada sang Pencipta, sang Ratu berniat mengadakan selamatan. Para raja tetangga diundang untuk merundingkan hajat besar itu. Dengan senang hati, mereka datang. Beberapa raja yang diundang membawa kantong berisi kepingan emas. Sebelum perundingan dimulai, Raja menjamu tamu yang membawa sumbangan khusus itu. Bermacam penganan ditata rapi, di atas talam yang terletak di meja bundar. Tidak jauh dari meja itu terdapat meja yang lebih besar. Di atas meja itu tersaji hidangan khas daerah yang lezat, seperti gulai ayam, gulai ikan, balado, dan dendeng. Berbagai masakan yang lain, seperti panggang ayam, panggang ikan, dan satai juga tersedia di meja itu. Sambal dan lalapan juga disajikan dengan penataan yang indah. Kemeriahan suasana jamuan seperti itu sangat berkenan di hati para undangan.
Putri Sangka Bulan adalah pemimpin wanita satu-satunya di daerah Sumatra Barat. Namun, raja tetangga sangat segan dan hormat kepada Raja Putri itu. Mereka merasa terhormat apabila mendapat undangan ke Istana Pagaruyung.
Setelah jamuan makan selesai, perundingan persiapan selamatan besar dimulai. Karena persiapan sudah matang, perundingan berlangsung tidak terlalu lama.
"Baru berunding sudah demikian meriahnya ya, apalagi nanti hari pelaksanaan perayaan besar itu?" Demikian ujar salah seorang raja yang baru sekali itu mengikuti upacara tersebut.
Usai perundingan, mereka beristirahat di taman sari Putri Sangka Bulan yang elok. Bermacam tarian dipentaskan oleh gadis-gadis cantik. Para raja, terutama raja muda yang masih lajang diperkenankan memilih gadis-gadis itu sebagai calon istrinya. Gadis pilihan itu datang dari berbagai penjuru negeri. Tidak jarang di antara mereka adalah putra raja tetangga itu sendiri. Upacara pertunjukan itu sengaja digelar oleh Raja Putri untuk ajang pergaulan bagi raja-raja yang masih lajang. Selain tamu kerajaan, rakyat juga dizinkan menyaksikan tarian yang lemah gemulai memesona itu. Mereka duduk rapi dalam bentuk setengah lingkaran di tempat yang agak jauh dari panggung kehormatan.
Dalam suasana kebesaran dan kemegahan itu, Raja Putri kadang-kadang tampak bersedih.
"Apa gunanya semua keagungan dan kemewahan ini?"
"Mampukah anak sulungku menggantikan kedudukanku sebagai raja yang lebih sempurna daripada aku?" Raja kecewa menghadapi kenyataan bahwa putra sulungnya akhir-akhir ini semakin susah diatur. Dalam setiap kesempatan, ia berdoa memohon ketabahan.
"Ya, Tuhan ... kuatkanlah imanku untuk membimbing anak-anakku. Jauhkan aku dari keputusaan!" Demikian doa raja.
Ia tersentak dari lamunannya ketika putri bungsunya menghampiri. Wanita perkasa itu segera melontarkan senyum agar tidak terlihat sedih.
"Ada yang Ibunda risaukan? Sepertinya Ibunda menyembunyikan kesedihan. Aku mengerti, Ibu kecewa dengan sikap Kakak. Akan tetapi masih banyak putra lbu yang lain. Ada aku, Bu ... aku sanggup menghiburmu!" Demikian bujuk putrinya. Akan tetapi, Raja Putri tetap menyembunyikan kesedihannya itu. Ia berupaya tampak perkasa di hadapan putrinya.
Malam semakin larut. Pertemuan itu pun selesai. Para raja tetangga mohon diri kepada Raja Putri Sangka Bulan. Wanita yang bijak itu berdiri tidak jauh dari pintu istana untuk melepas tamunya. Tiga orang putra-putrinya berada di tempat itu untuk mendampingi ibunya. Mereka berpakaian seragam. Baju berwarna hijau dengan kain sarung bercorak warna-warni. Ikat kepala berwarna kuning keemasan menambah keserasian pakaian yang dikenakan. Mereka melepas para tamu dengan ramah-tamah. Tidak jarang Putri Bungsu mendapat kerlingan nakal dari para tamu yang masih muda. Meskipun masih kecil, gadis itu tampak cantik jelita. Ia memakai sarung songket berwarna hijau dan baju kurung berwarna kuning. Wajahnya yang jelita semakin memukau dengan pakaian itu. Siapa pun yang memandangnya pasti terpesona.
Sebulan kemudian, penghadapan agung kembali diselenggarakan. Seluruh abdi istana terlibat perjamuan besar itu. Mereka menghias istana, memasak, dan mengatur acara. Para undangan telah hadir pada upacara itu. Ketika Raja Putri bersidang bersama para tamunya, tiba-tiba seorang penggawa datang tergopoh-gopoh melaporkan perihal putra sulungnya.
"Ada apa, Paman? Jika urusan anakku kita selesaikan di luar persidangan!"
"Baik, Tuan Putri, hamba mohon ampun." Seperti biasanya, penggawa itu pergi ke serambi samping yang sepi. Raja Putri Sangka Bulan segera menyusul.
"Paman, semoga kenakalan anakku tidak mengganggu pekerjaanku." Raja khawatir upacara persidangan gagal.
"Tidak, Tuan Putri, hanya kenakalan anak-anak." Demikian jawab prajurit itu. Ia segera melaporkan bahwa Sutan Seri Alam baru saja menghardik Bujang Tuo. Sutan Seri Alam marah karena ayam aduannya kalah. Ia menuduh Bujang Tuo tidak merawat ayamnya dengan baik. Ketika mendengar laporan itu, Raja Putri memerintahkan Sutan Pamuncak menyelesaikan persoalan itu.
"Baiklah, Tuan Putri, hamba yang akan menyelesaikan perkara ini." Sutan Pamuncak segera mendatangi arena aduan ayam. Sebagian pengunjung menyingkir mengetahui kehadiran Sutan Pamuncak. Sampai di arena adu ayam, terlihat Bujang Tuo luka parah terkena cambuk. Kini Sutan Seri Alam sedang berhadapan dengan Sutan Sakti Alam. Karena terdesak, Sakti Alam mengeluarkan ilmu silatnya. Ia berusaha mematahkan perlawanan kakaknya. Perkelahian sengit terjadi. Penonton semakin riuh menyaksikan perkelahian putra raja Pagaruyung.
Dengan penuh kewibawaan, Sutan Pamuncak berhasil melerai dan mengajak Sutan Seri Alam pulang ke istana. Kali ini pangeran yang nakal itu menurut.
"Untunglah Guru segera datang, kalau tidak babak belur juga aku," pikir Sutan Seri Alam dalam hatinya.
Pada hari berikutnya, Sutan Pamuncak mencari siasat. Ia memerintahkan dua orang muridnya dan Sutan Sakti Alam untuk mengawasi tingkah laku Pangeran. Setiap hari, setelah selesai mengikuti pelajaran, ketiga orang itu mengenakan pakaian buruk. Mereka menyamar di tengah-tengah kerumunan anak berandal itu. Penyamaran mereka sangat rapi sehingga tidak diketahui Sutan Seri Alam.
Ketika menyaksikan sikap kakaknya, Sakti Alam berpikir.
"Mengapa kakakku mampu bersikap dewasa di hadapan kawan-kawannya? Apakah ia manja di hadapan ibunda? Ah, aku tidak tahu!" Demikian pikirnya.
Dalam pergaulan, Seri Alam sangat pandai memengaruhi kawannya. Ia selalu membujuk kawannya agar tidak terlalu bertindak kejam terhadap sesamanya. Jika berbicara di hadapan berandal itu, Sutan Seri Alam tampak berwibawa. Mereka segan kepada Seri Alam.
Suatu hari Sutan Seri Alam mencuri uang milik ibunya. Putri Bungsu kebetulan melihat perbuatan kakaknya itu. Ia ketakutan sehingga gemetar. Namun, ia masih berani mengancam kakaknya. Sambil menangis dan menggigil ketakutan, ia berkata,
"Kakak ... perbuatanmu sangat hina. Aku akan melaporkan kelakuanmu kepada ibunda!"
Mendengar ancaman adiknya, Sutan Seri Alam dengan kalap mengejar adiknya. Putri Bungsu segera berlari menghindar. Sutan Seri Alam tidak mampu meraih rambut adiknya. Ia kemudian mengancam dengan wajah dan mata yang merah padam.
"Awas jika berani melapor, akan kugunting rambutmu yang indah itu, dan kuceburkan tubuhmu ke lumpur!"
Gadis kecil itu tidak memedulikan perkataan kakaknya. Ia seolah tidak mendengar ancaman kakaknya. Setelah berada di hadapan ibunya, ia segera melaporkan kejadian yang baru ia saksikan.
"Tenanglah, Anakku, beristirahatlah ke bilikmu."
Gadis kecil itu segera meninggalkan ibunya sambil menangis tersedu. Tidak lama kemudian ibunya telah menemui Sutan Seri Alam.
"Anakku, benarkah apa yang dikatakan adikmu? Kau mencuri uang lbu? Kau seharusnya malu karena tidak mampu memberi contoh baik kepada adikmu!" Demikian ujar Putri Sangka Bulan.
Namun Sutan Seri Alam berusaha mengelak. Ia berkata bahwa uang itu akan dibagikannya kepada orang miskin yang kekurangan makan. Padahal uang itu akan digunakan untuk membeli tuak dan bermain judi bersama teman sepermainannya.
Ibunya bertanya tegas.
"Orang miskin atau orang pemalas? Seandainya benar maksudmu hendak memberi orang miskin, tidak seperti itu caranya! Kau harus melaporkan niatmu itu terlebih dahulu kepada lbu." Ibunya berkata setengah berbisik. Seolah-olah, ia malu jika perkataannya didengar oleh penghuni istana lainnya. Putri Sangka Bulan menahan tangis dengan sekuat tenaga. Ia ingin marah, tetapi tidak kuasa. Wajahnya yang semula cantik bersinar menjadi merah padam. Ia segera meninggalkan putranya.
Melihat ibunya pergi, Sutan Seri Alam segera menghilang dari istana menuju ke arena perjudian. Di sana teman-temannya menyambut dengan ramah-tamah. Mereka senantiasa bergembira ria.
"Pangeran kita sudah datang, ayo kita lanjutkan permainan kita."
Sutan Seri Alam berkata, "Ketahuilah, kawan-kawan, baru saja aku dimarahi ibuku."
"Wah, itu gampang, jangan kau risaukan Pangeranku ha, ... ha, ... ha!" Demikian seru kawannya yang bertubuh kekar dan hitam legam kulitnya. Mereka melanjutkan permainannya setelah Sutan Seri Alam membagi-bagikan uangnya. Mereka asyik bermain seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sambil minum tuak dan makan penganan mereka menghabiskan waktunya hingga sore hari. Kelakuan mereka seperti orang liar layaknya, tidak mengenal peraturan.
Suatu hari, Sutan Sakti Alam yang ditugasi memata-matai kakaknya menghadap Putri Raja. Ia mengatakan bahwa Sutan Seri Alam bersama kawan-kawannya akan pergi dari Kerajaan Pagaruyung. Putri Sangka Bulan tidak terkejut mendengar berita itu. Ia berpikir, meskipun pergi, mereka pasti tidak akan lama. Raja Putri yakin bahwa mereka akan segera pulang.
"Anak semacam itu tidak akan betah hidup menderita di luar istana." Demikian ujar ibunya dengan sengit.
Belum selesai membicarakan kelakuan buruk Sutan Seri Alam, istana digemparkan oleh kenakalan Sutan Seri Alam. Ia mencuri bahan makanan dari gudang dan lumbung padi. Tanpa ragu-ragu ia merampas perhiasan milik Putri Bungsu. Namun, Sutan Seri Alam belum puas sehingga perhiasan ibunya dicuri pula.
Putri Sangka Bulan terperangah menyaksikan sikap anak sulungnya yang memalukan itu. Sebelum pergi, Sutan Seri Alam sempat berkata pada ibunya.
"Ibu dan adik-adik tidak perlu menunggu kepulanganku. Aku akan pergi jauh! Aku akan membuktikan keberhasilanku kepada lbu! Sekalipun tidak menjadi raja di negeri ini, aku akan menjadi raja di negeri lain!" Sutan Seri Alam sama sekali tidak terharu atau berat hati meninggalkan Istana Pagaruyung. Tekadnya telah bulat. Ia bergegas pergi membawa segala perbekalannya. Seluruh keluarga istana hanya termangu-mangu menyaksikan sikap Sutan Seri Alam.
Sutan Pamuncak yang senantiasa berada tidak jauh dari sisi Putri Sangka Bulan berkata dalam hati.
"Untunglah ibunya sangat tabah menghadapi kenakalan anak itu." Kemudian orang tua itu memapah Raja Putri. Ia didudukkan di sebuah kursi yang terletak di pojok ruangan. Para emban dengan cekatan menghidangkan minuman hangat kepada sang Putri. Setelah mereka pergi, tinggal Sutan Pamuncak bersama Raja Putri. "Aku kagum kepadamu, Tuan Putri, Kau ... memang tabah. Syukurlah. Anak itu hanya titipan Tuhan. Jika Tuhan menghendaki ia tumbuh di luar pengawasanmu, Paduka hendaklah ikhlas. Terimalah takdir itu. Mungkin dengan cara itu Sutan Seri Alam akan memperoleh pengalaman. Bukankah pengalaman itu adalah guru yang paling baik. Ia akan lebih percaya diri hidup di luar istana. Ia akan mematangkan jiwanya di tengah masyarakat. Harapan hamba, sang Putri jangan berhenti mendoakan dia. Bukankah doa ibu paling mujarab. Agar ia tetap dilindungi oleh sang Pencipta." Demikian ujar orang tua itu menasihati Raja Putri.
"Perkataan Paman memang benar. Aku menjadi lega karenanya. Selama ini aku merasa berdosa telah mengabaikannya sehingga ia menjadi anak berandal." Demikian keluh Sang Putri. Ia hampir menangis. Matanya tampak memerah.
"Menangislah sang Putri. Hatimu akan lega. Tugasmu sebagai seorang raja besar memang berat. Ingatlah, dia bukan anakmu satu-satunya. Keenam anakmu yang lain berkelakuan baik. Satu di antara mereka akan menggantikan kedudukanmu kelak. Mereka lebih baik daripada kakak sulungnya. Percayalah. Aku telah mendidik Sutan Sakti Alam sebagai pengganti kakaknya. Aku juga telah mengutus tiga orang muridku yang tangguh untuk menyamar masuk ke dalam kelompok anak berandal itu. Mereka ikut berbaur dan berangkat bersama Sutan Seri Alam. Aku yakin bahwa Sutan Seri Alam dapat menimba ilmu dari ketiga muridku yang pintar itu."
Setelah mendengar perkataan Sutan Pamuncak, Raja Putri semakin yakin bahwa putranya akan selamat dalam pengembaraannya.
Ia menangis karena merasakan kesedihan yang mendalam. Ia kemudian mendekati Sutan Pamuncak dan berjongkok sambil mencium lutut gurunya itu. Sutan Pamuncak dengan cepat membangunkan wanita itu. Ia mengingatkan agar sang Putri menyadari kedudukannya sebagai seorang raja. Sang Putri menyadari kekhilafannya.
"Seperti mimpi saja, Paman!"
"Yah, memang kebahagiaan dan kesedihan silih berganti akan mendatangi kita. Oleh karena itu, kita harus siap menghadapinya. Cobalah lebih bertawakal kepada Tuhan. Dalam kesedihan dan kesempitan pasti ada kelonggaran," ujar Sutan Pamuncak.
•••
3. PENGEMBARAAN SUTAN SERI ALAM
Setelah meninggalkan istana, Sutan Seri Alam pergi ke tempat ia berkumpul dan bermain judi dengan temannya. Sutan Seri Alam disambut oleh para berandal itu dengan senang hati. Sutan Seri Alam menjelaskan kepada mereka bahwa ia berniat mengembara. Dengan spontan, teman karibnya menyatakan keinginannya untuk ikut serta. Mereka berjanji akan mengabdi. Pernyataan itu disampaikan dengan sungguh-sungguh. Setelah itu, mereka segera mempersiapkan perbekalan dan membagi tugas.
"Semoga perjalanan kita tidak membosankan." Demikian ujar Sutan Seri Alam.
Seluruh rombongan berjumlah tiga puluh orang termasuk Sutan Seri Alam. Sebagian di antara mereka pasangan suami-istri dan sebagian lagi belum menikah.
"Baiklah …. Siapa yang belum menikah?"
"Tiga orang kawan kami Sutan Mahmud, Sutan Bagindo, dan Bujang Muda." Demikian laporan anak buah Sutan Seri Alam.
"Berarti aku mempunyai kawan senasib, belum berpasangan." Dia berkata begitu sambil tersenyum malu. Tiga bujang itu adalah murid Sutan Pamuncak yang disusupkan ke dalam rombongan. Sutan Seri Alam tidak mengetahui hal itu. Sebelum berangkat, Sutan Mahmud memimpin mereka membaca doa.
"Wah ... kok pakai doa segala?" ujar salah satu anggota rombongan. Sutan Mahmud tidak menanggapi komentar kawannya itu. Namun, sebagian besar dari mereka dengan khidmat mengikuti pembacaan doa demi keselamatan mereka dalam perjalanan nanti.
Tidak ada yang melepas keberangkatan mereka. Hanya pandang curiga dari beberapa pasang mata penduduk. Mereka mengikuti dari jauh keberangkatan para berandal itu. Rombongan terdiri atas pejalan kaki, penunggang kuda, dan iring-iringan pedati berisi bahan makanan.
"Hai, sini ... siapa yang mau duduk di pedati bersama beras, ketela, dan jagung?" kata kusir pedati.
"Aku lebih baik berjalan kaki daripada harus berdekatan dengan wanita yang cerewet itu." Demikian gurau mereka setelah melihat seorang wanita duduk santai di atas barang.
"Uhhh ... awas kamu, aku tidak mau menolong memasak makanan!" Demikian jawab para wanita.
"Sudah-sudah, perjalanan baru kita mulai. Kita jangan banyak bicara. Sebaiknya, kita berdoa agar selamat. Ingat, kita telah jauh dari orang tua." Demikian kata Sutan Seri Alam. Mereka berjalan dengan wajah gembira. Tidak ada satu pun anggota rombongan yang tampak bersedih. Karena terlalu bersemangat dan banyak bergurau, mereka baru merasa lapar ketika hari sudah menjelang sore. Sutan Seri Alam memutuskan untuk beristirahat jika rombongan telah sampai di tepi hutan.
Tidak lama kemudian mereka sampai di tepi sebuah hutan. Sekilas hutan itu tidak terlalu rimbun. Tidak jauh dari tempat mereka berhenti, air mengalir dari sungai kecil. Beberapa batu hitam tampak berserakan di tengah sungai. Seorang anggota rombongan mengambil air sungai dengan tempat minum yang dibawanya. "Segar, ternyata air sungai ini dapat diminum." Mereka segera berhenti dan memasang tenda. Sebagian dari mereka bergegas mencari kayu bakar.
Meskipun hari menjelang sore, mereka mencoba berburu binatang. "Jangan jauh-jauh, nanti kau tersesat!" ujar seorang anggota rombongan mengingatkan keselamatan kawannya. Lebih kurang sepuluh anggota rombongan menerobos masuk ke bagian hutan yang lebih dalam. Ternyata hutan itu banyak ditumbuhi rumpun pohon belukar. Beberapa pohon keras, seperti damar, mahoni, dan sawo juga tumbuh di hutan itu. Tiba-tiba mereka mendengar suara gemeresik dedaunan. "Kawan, tampaknya ada seekor binatang melintas di dekat kita," kata pemimpin rombongan. "Jika mengamati bunyi gemeresiknya, tentu bukan binatang besar." Benar dugaan mereka. Seekor kijang jantan sedang kebingungan mencari akal untuk lari. Mereka mencoba membidiknya. Satu kali … dua kali ... tiga kali anak panah melesat. Akhirnya, lemparan tombak pemimpin rombongan mengakhiri perjuangan kijang jantan itu. Nasib baik, mereka memperoleh seekor kijang jantan yang gemuk. Mereka bersorak kegirangan. Dengan tangkas seorang anggota rombongan mengeluarkan parangnya. Setelah mengamati sejenak pepohonan yang ada di sekitarnya, ia memotong cabang pohon sawo yang lumayan besarnya. Keempat kaki kijang itu diikatkan pada batang pohon sawo itu. Dua orang anggota rombongan memanggul kijang itu.
"Wah, kita bakal makan daging kijang." Sutan Seri Alam mengusulkan agar daging kijang itu tidak dihabiskan sekaligus. Separuh dari daging itu diiris tipis dan dijemur dibuat dendeng. Daging yang sudah dijadikan dendeng itu praktis untuk lauk di perjalanan.
"Benar, Sutan. Kita harus berhemat.” Mereka menyadari bahwa perjalanan masih jauh. Dengan cekatan, mereka melakukan tugasnya masing-masing. Para wanita sibuk mempersiapkan nasi dan lauk untuk makan malam. Salah seorang mengejek kawannya.
"Wah, ... kita makan sore atau makan malam ... ha-ha-ha?"
"Sesukamulah ... makan sore dan makan malam sekaligus." Salah satu dari mereka mencoba mengingatkan sekali lagi. Kita harus banyak prihatin sebelum mencapai cita-cita.
"Beginilah nasib pengembara, tidak tahu waktu. Kapan saja jadi asal ada kesempatan." Mereka makan bersama. Dengan lahap mereka makan bakaran daging kijang hasil buruan itu.
"Perjalanan kita memang mujur, baru selangkah sudah mendapat rezeki!"
"Yah, ... mudah-mudahan seterusnya begini, kita selalu mujur.”
Setelah hari berganti gelap, mereka baru menyadari bahwa saat ini berada di hutan. Yang tampak hanya kegelapan di sekitar mereka. Api unggun yang mereka buat semakin besar nyalanya dan asapnya membubung ke udara. Asap kayu bakar itu mengusir nyamuk hutan yang ganas. Para wanita mulai merebahkan tubuhnya yang kelelahan di kemah yang telah disediakan. Belum lama mereka merebahkan tubuh, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di kemah kaum pria.
Mereka mendengar suara gemeresik seperti suara ranting-ranting patah.
"Ini jelas suara babi hutan." Sutan Bagindo menduga.
"Bagaimana kalau suara itu ular besar yang sedang melata menuju ke kemah kita?" Suasana sangat mencekam. Awas, waspada semuanya, obor jangan jauh dari kita. Kalau perlu seluruh obor dipasang. Ular takut kepada api." Seorang wanita keluar tenda menaburkan garam di sekitar kemah. Dugaan mereka tidak meleset. Rupanya seekor ular besar telah mencium bau anyir, darah kijang buruan mereka.
Sutan Bagindo mencoba menebar pandangan ke berbagai penjuru. Tidak lama kemudian ia melihat seekor ular besar, kira-kira sepanjang sepuluh meter dengan penampang tubuhnya sebesar pohon betung. Dari keremangan cahaya obor, sisik ular itu tampak indah, berwarna hitam dan kuning berkilau. Ular itu membuka mulutnya seolah siap menelan siapa saja yang mendekat. Sutan Bagindo membaca mantra agar ular itu jinak. Dengan penuh keyakinan, ia menangkapnya. Ular itu melilit ke tubuh Sutan Bagindo. Ternyata ular itu belum jinak. Lilitannya semakin erat. Sutan Bagindo bergulingan di tanah meminta tolong. Matanya terbelalak dan mulutnya masih membaca mantra. Kedua kawannya segera mendekat dan membaca mantra. Beberapa wanita sudah menangis ketakutan. Tidak lama kemudian, ular itu mengendurkan lilitannya dan pergi menjauh ke batang pohon mahoni yang cukup besar. Ia seolah-olah tidak lagi berniat mengganggu rombongan manusia itu. Mantra yang dibaca Sutan Bagindo kurang manjur. Setelah dibantu dua kawannya barulah ular itu jinak. Kemudian, ular ditangkap dengan mudah dan dimasukkan ke keranjang bambu.
Mereka tampak santai kembali. Suasana tenang itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba muncul seekor harimau. Harimau itu sebenarnya hanya ingin mengetahui siapakah gerangan tamu yang telah membuat gaduh di hutannya? Kedatangan harimau itu cepat diketahui oleh petugas jaga. Sorot matanya yang berwarna hijau kekuningan bersinar tampak jelas dalam kegelapan malam. Ia telah mencium bau darah binatang. Si Raja Hutan bermaksud menunjukkan kekuasaannya. Seolah-olah ingin berkata kepada para manusia itu.
"Ini rumahku, engkau manusia jangan mencoba mengganggu ketenanganku. Dan jangan menganggu kawan-kawanku di hutan ini!" Ia mengaum keras. Suaranya menggema dan menggetarkan seluruh isi rimba itu. Para wanita menelungkupkan mukanya sambil menutup telinganya. Seketika suasana mencekam muncul kembali. Bahkan, lebih hebat dibandingkan dengan kedatangan ular tadi. Para wanita berlari dari kemah satu ke kemah lain. Akhirnya, mereka menyatu dalam satu kemah yang dijaga oleh beberapa orang pria.
"Sudahlah, tidak apa-apa, sebaiknya kalian tidur kembali." Setelah mendengar anjuran penjaga, para wanita itu berusaha menutup matanya. Akan tetapi, seorang wanita yang tidur di pinggir kemah ketakutan.
"Aku takut berada di pinggir, dekat pintu lagi!" Kawan-kawannya mendengar keluhan itu, tetapi mereka tidak menggubris. Seorang penjaga mendekati kemah itu. Ia mencoba menghibur wanita yang ketakutan itu.
"Sudahlah, kamu tenang saja. Seekor harimau jika menerkam mangsanya akan mengarah ke bagian tengah. Bukan memangsa yang di bagian pinggir. Mendengar perkataan penjaga itu, para wanita yang berada di tengah menjerit sekencang-kencangnya. Mereka terbangun dari tidurnya dan berpeluk-pelukan.
"Oh, rupanya kalian belum tidur, ya …. Mendengar kawannya mengeluh kok diam saja." Tiba-tiba Sutan Seri Alam datang. Ia mengira suatu hal yang tidak diinginkan telah terjadi. Namun, penjaga itu mencoba menjelaskan duduk persoalannya. Sutan Seri Alam tersenyum. Ia menepuk punggung penjaga itu sambil berbisik.
"Ya sudah, hati-hati …. Kalian harus menjaga kemah sampai esok hari."
"Baik, Sutan, hamba siap menunggui mereka."
Kegaduhan sudah mereda. Kini giliran para penjaga yang harus waspada. Tiba-tiba dua sosok bayangan orang menyelinap di balik pohon randu. Kemudian, dua bayangan itu berkelebat naik ke pohon besar. Mereka adalah Sutan Bagindo dan Bujang Muda. Kedua orang itu mengawasi keadaan di sekitar kemah dari atas pohon. Bujang Muda bersila di atas dahan dan duduk dengan tenang. Setelah berkonsentrasi sejenak, ia mulai membaca mantra. Ia bermaksud menjinakkan seluruh binatang buas penghuni rimba itu. Demikian pula yang dilakukan Mahmud Badarudin. Meskipun berada di dalam kemah, ia juga bersemadi.
Mantra yang mereka baca ternyata sangat manjur. Suasana malam kembali tenang dan hening. Harimau dan binatang buas lainnya pergi menjauh dari tempat itu. Para penjaga yang bertugas telah mematikan sebagian api unggun. Kemudian, mereka duduk di sekitar api unggun. Sutan Seri Alam mencoba tidur sejenak. Dalam tidurnya ia bermimpi. Ia bertemu seorang pria tua berjenggot putih. Pria itu berjubah putih. Ular yang baru menghebohkan itu bermahkota dan mendekat kepadanya. Ia tersenyum kepada Sutan Seri Alam dan berpesan, "Anak muda, aku Aji Panalihan. Pesanku, jangan kaubunuh ular yang sudah kautangkap tadi." Mendengar pesan itu, Sutan Seri Alam berjanji mematuhinya. Ia terbangun dari tidurnya. Namun, ia tidak menceritakan mimpinya kepada kawan-kawannya. Ketika matahari pagi mulai memancarkan sinarnya, Sutan Seri Alam mengutus beberapa orang untuk melihat ular yang dikurung di keranjang bambu.
Keajaiban terjadi. Mereka tercengang karena tidak lagi melihat ular itu. Keranjang telah kosong. Sutan Seri Alam ikut menyaksikan kejadian itu.
"Aneh, pintu keranjang masih tertutup. Dinding keranjang tidak ada yang rusak. Lewat mana binatang itu?" Demikian ujar Sutan Seri Alam.
"Sudahlah, kita lupakan saja kejadian ini." Sambil berkata Seri Alam berpikir, "Apakah kejadian ini ada hubungannya dengan mimpiku? Mungkinkah ular itu penjelmaan dari penunggu rimba raya ini? Aku berharap semoga perjalanan kita selamat."
Sutan Seri Alam sejak kejadian itu sering merenung. "Betapa bodohnya aku. Ibu menyuruhku berguru kepada Sutan Pamuncak, tetapi aku menolak. Sekarang aku sadar. Sebenarnya masih banyak bekal yang belum kumiliki untuk pergi merantau. Ternyata harta dan tekad saja tidak cukup. Aku harus memiliki ilmu silat yang cukup tinggi dan ilmu kepemimpinan." Sejak saat itu ia berguru kepada tiga orang kawannya yang pendekar itu.
Pada malam berikutnya, Sutan Seri Alam mengumpulkan kawan-kawannya. Dalam pertemuan itu, ia mencetuskan gagasannya. Sutan Seri Alam mengajak anggota rombongan berguru kepada Mahmud Badarudin, Sutan Bagindo, dan Bujang Muda. Mereka bertiga bersedia dengan senang hati mengajarkan ilmunya kepada anggota rombongan yang lain. Bahkan, kaum wanita pun bersemangat ingin mengikuti pelajaran itu.
Sambil meneruskan perjalanan, mereka mencari hunian tetap. Ketika sampai di sebidang tanah datar yang di dekatnya mengalir sebuah sungai yang cukup besar dan cukup banyak ditumbuhi pepohonan, rombongan berhenti. Setelah berembuk, mereka sepakat tinggal di tempat itu. Sebagian anggota rombongan segera membangun kemah. Sebagian yang lain mencari air dan mencari kayu bakar. Sementara itu, kaum wanita mempersiapkan makanan. Dalam dua hari, sebuah gubuk besar selesai didirikan. Gubuk itu terbuat dari kayu mahoni dan tampak kokoh. Gubuk berbentuk rumah panggung itu cukup menampung tiga puluh orang. Selain itu, dibangun beberapa gubuk kecil. Gubuk itu untuk menyimpan bahan makanan dan peralatan.
Pelajaran mulai berlangsung. Mereka tampak giat belajar ilmu yang diberikan tiga pendekar murid Sutan Pamuncak. Jadwal kerja diatur secara adil. Di samping belajar ilmu silat, mereka bertugas memasak, mencuci pakaian, mengambil air, dan bercocok tanam. Pada hari tertentu mereka mengadakan pesta bersama. Sambil belajar memanah, mereka berburu di hutan sekitar gubuk. Sering mereka mendapatkan seekor kijang besar. Dalam pesta itu, mereka mengadakan pertunjukan silat. Melalui peragaan itu, Sutan Seri Alam dapat mengetahui siapa di antara mereka yang cepat menyerap pelajaran.
Hari demi hari ilmu mereka terus bertambah. Tempat tinggal mereka menjadi padepokan. Penduduk yang tinggal di sekitar hutan itu banyak yang belajar ke padepokan mereka.
Suatu hari, sekelompok gerombolan yang terkenal ganas dan kejam datang memata-matai kegiatan mereka. Semula seorang perampok memergoki dua orang wanita sedang mencuci di kali. Mereka menguntit hingga ke padepokan Pangeran, kemudian hal itu ia laporkan kepada pemimpinnya.
"Kita mengatur siasat untuk menggagalkan rencana dan cita-cita mereka. Kita harus merampas semua harta dan perbekalan mereka agar mereka bercerai-berai. Aku mendengar bahwa pemimpin mereka adalah putra Raja Pagaruyung. Agar berhasil, kita harus menyusun siasat dengan matang." Demikianlah persiapan para gerombolan penjahat itu.
Dengan menyamar, tiga anggota gerombolan berkunjung ke padepokan Sutan Seri Alam. Padepokan Sutan Seri Alam bernama Padepokan Elang Putih. Mereka berpura-pura sebagai pengembara yang tersesat. Tanpa kecurigaan mereka diterima dengan baik oleh Sutan Seri Alam. Setelah mengetahui kekuatan para pendekar di Padepokan Elang Putih, mereka mulai menyerang. Suasana tampak mencekam sebelum penyerangan itu. Suara burung elang bersahut-sahutan di atas hutan belantara.
Sampai di Padepokan Elang Putih, mereka mengendap-endap mengatur siasat. Sekitar pukul sebelas malam, penghuni padepokan itu beristirahat. Hanya Pangeran dan tiga orang guru yang belum tertidur. Mereka masih membicarakan laporan dua orang wanita yang diikuti dua penjahat itu. Tiba-tiba, terdengar suara bunyi burung hantu seperti sandi kawanan penjahat yang akan menyerang. Keempat pendekar itu bersiaga. Bujang Muda segera membangunkan kawan-kawannya untuk bersiap.
Penjahat menyerang dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama menjarah gubuk yang dihuni oleh para wanita. Harta benda milik para wanita mereka ambil dengan paksa. Kepala perampok yang sangat kejam itu merusak gubuk Sutan Seri Alam, bahkan dia berniat menjarah uang dan emas perbekalan Pangeran.
"Mana Sutan Seri Alam?" Demikian pertanyaan seorang pemimpin rampok itu. Tanpa pikir panjang Sutan Bagindo segera menjawab.
"Sayalah Sutan Seri Alam, kita berunding secara baik-baik, apa maumu?" Demikian ucapan Sutan Bagindo dengan tenang. Sementara itu, Sutan Seri Alam berusaha menyelinap ke biliknya dan mengumpulkan harta bendanya untuk diamankan. Bujang Muda dengan sigap membawa lari perbekalan Pangeran bersama tiga orang pendekar wanita. Perkelahian sengit terjadi antara rombongan Bujang Muda dan para gerombolan. Untunglah kekuatan mereka seimbang. Bujang Muda segera menyerahkan bungkusan itu kepada tiga pendekar wanita untuk diselamatkan.
Bujang Muda segera kembali ke Padepokan. Rumah gadang sudah terbakar. Gubuk perbekalan hangus terbakar. Hanya tinggal Mahmud Badarudin dan seluruh penghuni padepokan yang ada. Mereka tampak sedang bertengkar saling menyalahkan. Mahmud Badarudin memaki dan mengejek seorang kawannya. Malin Panjang yang selalu menganggap dirinya paling pintar, malam itu tampak tidak berdaya.
"Kau memang hanya pandai membual. Mana kepandaianmu? Masa kau kalah dengan para wanita yang selama ini hanya pandai menangis? Makanya jangan sombong. Baru pandai bersilat sedikit sudah berlagak jagoan. Kali ini, kita sedang diuji. Raja kita hilang dan kau tidak berani menguntit kepergian mereka." Demikian perkataan Mahmud Badarudin.
"Sudahlah, kita jangan saling menyalahkan. Bagaimana duduk perkaranya?" tanya Bujang Muda. Seorang dari mereka berkisah.
"Setelah Sutan Bagindo mengakui bahwa dirinya adalah Pangeran, ia bertempur melawan raja perampok sakti itu. Ia terluka dan tidak sadarkan diri saat dikalahkan perampok itu. Terpaksa Sutan Seri Alam melawan. Semula mereka tampak seimbang. Tiba-tiba muncul empat orang kawannya dan membawa lari Pangeran dan Sutan Bagindo. Mereka menganggap Sutan Bagindo adalah pangeran." Demikian sambung pendekar lainnya.
Mahmud Badarudin termenung menyesali diri. Ia sangat mengkhawatirkan kedua kawannya yang diculik itu.
Suasana di padepokan menjadi galau. Sebelum pergi, kepala gerombolan itu berteriak, "Jika kalian masih sayang kepada pemimpinmu, serahkan seluruh harta benda kalian itu pada kami! Aku menunggu di sarangku Bukit Bajang Ratu."
Demikian pesan pemimpin gerombolan itu. Para pesilat anggota Padepokan Elang Putih terdiam. Mereka tidak berani melawan perampok itu karena di antara mereka banyak terdapat wanita dan anak kecil. Para wanita mengobati para pendekar yang luka-luka. Mereka sementara tidur di gubuk kecil yang masih utuh.
Para penculik belum sampai ke Bukit Bajang Ratu. Akan tetapi, seorang petapa berjubah putih menghadang. Ia merampas Sutan Seri Alam dari tangan penjahat itu. Dengan gerakan cepat dan sigap ia meraih tubuh Sutan Seri Alam sambil berkata.
"Jangan mencoba mengusik putra Raja Pagaruyung! Akulah lawanmu jika kalian berani, ayo kejar aku." Demikian ujar orang tua itu sambil tertawa terkekeh-kekeh. Para perampok itu terkesima menyaksikan kejadian itu. Mereka tidak berdaya menghadapi kakek tua yang sakti itu.
"Kalau begitu, bagaimana dengan pendekar yang satu ini? Ia telah mengaku sebagai pangeran. Kita ditipunya." Sambil berkata demikian mereka ingin membunuhnya. Untunglah salah seorang dari mereka mengingatkan sehingga Sutan Bagindo terbebas dari kematian.
"Sudahlah, kita tinggal saja ia di sini biar menjadi makanan harimau," ujar kawannya itu. Beberapa lama kemudian, Sutan Bagindo sadar dari pingsannya. Ia mencoba membaca mantra untuk mengurangi rasa sakitnya. Ia mencari obat dedaunan di hutan itu. Ia berupaya menyembuhkan lukanya sambil berdoa kepada Tuhan agar luka-lukanya lekas sembuh.
Sampai di pertapaan, Aji Panalihan merawat luka Sutan Seri Alam. Petapa tua itu teringat kepada Raja Pagaruyung yang dikenalnya dengan baik. Ia tampak khawatir karena racun nyaris mengalir ke seluruh tubuh Pangeran. Sambil merawat pemuda itu, Aji Panalihan memberikan nasihat. Tidak jarang Sutan Seri Alam dihardik jika melawan.
"Apakah seperti itu kelakuanmu di rumah? Kau memang terkutuk! Anak tidak tahu berterima kasih kepada ibumu."
"Aku sebagai petapa ikut bertanggung jawab atas kebesaran Kerajaan Pagaruyung. Apalagi kau sebagai putranya. Jagalah negerimu! Sebagai anak raja kau tidak dapat menghindar dari tugas berat. Semakin menjauh dari kesulitan, hidupmu semakin sengsara. Inilah buktinya. Kau terlunta-lunta di hutan. Sekarang, cobalah berjalan ke sungai dengan kakimu yang masih sakit itu. Rasakan dan hayati penderitaanmu hingga kausadari kesalahanmu!" Demikian gemblengan Aji Panalihan. Sutan Seri Alam hanya menuruti kata petapa tua itu. Ia segera sadar bahwa kakek itulah yang sering menjumpai dirinya dalam mimpi. Namun, Pangeran itu tetap tabah dan teguh pendiriannya. Ia tidak mau kembali ke Istana Pagaruyung.
Aji Panalihan menyadari bahwa pendirian Sutan Seri Alam sangat keras. Oleh karena itu, ia berkata,
"Jika demikian pendirianmu, kau harus tinggal di sini selama beberapa waktu untuk belajar ilmu kesaktian dariku. Hanya dengan ilmu itulah kau dapat hidup mandiri kelak."
"Hamba bersedia mematuhi perintah Guru. Hamba bertobat dan tidak berlaku sewenang-wenang seperti dulu." Sambil meneteskan air mata, Sutan Seri Alam bertobat di hadapan orang tua berwibawa itu. Setelah sembuh ia belajar ilmu bela diri kepada petapa itu. Orang tua itu menghardiknya jika Seri Alam mencoba melawan. Karena fisiknya kuat dan pandai, ia cepat menguasai ilmu wisa naga dan ajian sapu angin.
Setiap malam Sutan Seri Alam teringat kepada ibunya. Ia senantiasa memohon ampun pada Tuhan atas kesalahannya di masa lalu. Ia tidak lupa mendoakan ibunya agar tidak bersedih memikirkan dirinya.
Sementara itu, dengan susah payah Sutan Bagindo berhasil menyusul ke pertapaan itu. Ketika bersemadi, ia bertemu dengan Aji Panalihan. Orang tua itu memberi petunjuk tempat pertapaannya. Sutan Seri Alam sangat senang melihat kehadiran kawan karibnya. Sambil berjabat tangan Sutan Seri Alam berbisik kepada Sutan Bagindo.
"Terima kasih, ternyata kausetia kepadaku. Aku masih tetap akan melanjutkan perjuangan kita." Seri Alam berkata demikian di hadapan gurunya. Aji Panalihan pun berkenan mengangkat Sutan Bagindo sebagai muridnya. Dengan cepat mereka menguasai seluruh jurus yang diajarkan petapa itu. Suatu saat Aji Panalihan melepas kepergian dua pemuda itu dengan pesan agar mereka jangan cepat berputus asa. Sutan Seri Alam menerima senjata pisau bertuah sebagai pegangan selama mereka di perjalanan. Setelah mohon diri mereka pergi dari pertapaan itu.
Suasana di Padepokan Elang Putih pun mencekam. Setiap hari mereka berjaga dengan ketat. Kini mereka mendapat tugas berat, yaitu menyelamatkan harta perbekalan milik Pangeran. Sutan Mahmud dan Bujang Muda dengan tekun berlatih bersama seluruh rombongan. Kepandaian mereka cepat meningkat.
"Kita sudah cukup berlatih, mengapa tidak kita serang saja gerombolan itu. Kita jangan membuang waktu. Kita m perlu membangun kembali pedepokan ini. Sudah hampir tiga bulan Pangeran dan Sutan Bagindo tidak bersama kita. Mudah-mudahan kita akan bertemu kembali setelah padepokan dibangun." Bujang Muda dengan spontan berkata demikian seolah-olah junjungannya pasti akan pulang.
Ternyata benar, setelah gubuk itu selesai dibangun mereka menyambut kehadiran junjungannya. Mereka tampak bahagia dan bercerita tentang pengalaman masing-masing. Mereka menyatakan niatnya menumpas gerombolan penjahat itu. Sutan Seri Alam melarang mereka membalas dendam. "Sebaiknya kita memikirkan perjalanan kita selanjutnya. Kita berharap memperoleh lahan yang tepat untuk mendirikan sebuah kerajaan." Mereka lega karena penjahat itu tidak kembali mengganggu mereka.
Sutan Seri Alam memutuskan segera meninggalkan tempat itu. Ia berniat mencari lahan yang lebih layak untuk dibangun menjadi sebuah istana. Dengan keyakinan dan semangat tinggi, mereka percaya akan dapat mewujudkan cita-citanya. Mereka berangkat bersama-sama meninggalkan tempat itu dengan riang gembira.
•••
4. PENOBATAN SUTAN SAKTI ALAM
Waktu berjalan dengan cepat. Sutan Seri Alam telah empat bulan meninggalkan kerajaan. Putri Sangka Bulan tampak sering masygul. Ia sangat kecewa atas tindakan Sutan Seri Alam. Oleh karena itu, ia mengundang Sutan Pamuncak ke istana. Setelah Sutan Pamuncak hadir, Putri Sangka Bulan menyatakan keinginannya mengadakan hajat besar, yakni menobatkan Sutan Sakti Alam sebagai penggantinya. Ia tidak mengharapkan putra sulungnya datang.
"Saya menghadapi kesulitan, Sutan. Sutan Sakti Alam menolak diangkat menjadi raja. Ia masih mengharapkan kakaknya datang. Tolonglah, Sutan! Saya tidak dapat berkata apa-apa kepadanya."
"Baik, Paduka, hamba akan membujuknya," sahut Sutan Pamuncak.
Seperti layaknya murid yang lain, Sutan Sakti Alam sangat berbakti kepada gurunya. Setelah diberi pengertian, pemuda yang gagah perkasa itu bersedia menjadi raja di Pagaruyung. Perhelatan dilangsungkan dengan sederhana. Upacara tepung tawar pun tidak ketinggalan. Para sesepuh kerajaan menyaksikan upacara itu. Segala sesaji dan perlengkapan upacara telah dipersiapkan. Upacara berlangsung dengan khidmat. Karena Sutan Sakti Alam masih lajang, upacara berlangsung singkat.
Putri Sangka Bulan merasa lega setelah menobatkan putra keduanya. Ia tampak lebih ceria dan murah senyum. Beban di pundaknya telah hilang sebagian. Ia sering bercanda dengan putra dan putrinya. Namun, ia kadang-kadang teringat kepada anak sulungnya. Ia selalu berdoa demi keselamatan anaknya di rantau.
Sambil tersenyum kecil, Putri Sangka Bulan mengelus rambut anak bungsunya. Kemudian, Putri Sangka Bulan memerintahkan inang pengasuh menyajikan minuman sambil bertitah. "Nila Gempita, panggillah tukang kaba (tukang cerita) istana. Aku ingin menghibur diri dan mendengarkan ia berkaba."
"Daulat, Tuan Putri, hamba segera memanggil Demang Palindih."
Tidak lama kemudian, datanglah Demang Palindih. "Daulat, Tuan Putri, hamba datang menghadap."
"Demang, aku ingin menghibur hatiku. Bacakanlah kaba untukku!"
Demang Palindih beringsut maju mendekat ke singgasana sang Putri. Setelah mengatur napas, berkumandanglah kaba "Rambun Pamenan" dari suara merdu mulut Demang Palindih.
Rambun Pamenan dalam cerita berikut ini berhasil membebaskan ibunya dari cengkeraman musuh. Rambun Pamenan adalah seorang pemuda gagah perkasa. Ia pergi dari istana meninggalkan tunangannya yang bernama Puti Dayang Sudah.
Rambun Pamenan menuju Negeri Camin Taruih yang dipimpin oleh seorang raja bernama Rajo Aniayo. Raja tersebut terkenal sangat kejam. Ia sangat suka mengumpulkan wanita-wanita cantik lalu dikawininya dengan paksa. Meskipun wajahnya buruk, ia memiliki beberapa orang istri yang cantik.
Sampai di Negeri Camin Taruih, Rambun Pamenan menumpang di rumah seorang wanita penjual makanan. Ia tidak membawa bekal uang. Oleh karena itu, ia selalu memberikan pakaiannya apabila ikut makan di rumah wanita pedagang makanan itu. Lama-kelamaan pakaian Rambun Pamenan habis. Padahal ia telah mengetahui di mana tempat tinggal Rajo Aniayo. ingin pergi ke rumah raja yang kejam itu. Akan tetapi, ia tidak memiliki pakaian lagi.
Ia terpaksa pindah dari rumah wanita penjual makanan itu. Rambun Pamenan tinggal di rumah wanita pedagang makanan yang lain. Wanita penjual makanan itu baik hati. Ia sangat sayang kepada orang miskin. Rambun Pamenan dianggap anak sendiri. Ia makan dan bertempat tinggal di rumah wanita penjual makanan itu tanpa membayar. Sebagai balas jasa, ia membantu wanita itu berjualan nasi. Semenjak anak itu tinggal di rumahnya, usaha wanita itu semakin maju. Ia bertambah sayang kepada Rambun Pamenan.
Rambun Pamenan suatu ketika bercerita bahwa ibunya telah dipenjara oleh Rajo Aniayo. Wanita penjual makanan itu ternyata mengenal raja yang kejam itu. Ia berusaha mempertemukan pemuda itu dengan ibunya. Rambun Pamenan berhasil menemukan rumah Rajo Aniayo. Semula ia berperang dengan hulubalang penjaga penjara. Awalnya Rambun Pamenan mengalami kekalahan. Namun, dengan bersenjatakan tongkat sakti, ia berhasil mengalahkan hulubalang penjaga penjara itu.
Rajo Aniayo marah setelah mengetahui kehadiran anak Puti Linduang Bulan. Laki-laki yang kejam itu ingin membunuh Rambun Pamenan.
"Kau belum tahu siapa aku, ya .... Anak muda tidak tahu diri." Demikian ujar raja yang bengis itu. Rambun Pamenan tidak menanggapi sesumbar Rajo Aniayo. Ia hanya ingin segera bertemu ibunya. Kedua laki-laki itu berperang tanding. Dengan sangat mudah, Rambun Pamenan berhasil mengalahkan Rajo Aniayo. Ia tewas dengan senjata tongkat sakti milik Rambun Pamenan. Rakyat sangat senang mendengar berita itu. Mereka bersorak gembira mengetahui rajanya yang kejam telah tewas di tangan pemuda yang gagah perkasa.
Puti Linduang Bulan yang terikat di dalam penjara segera dikeluarkan oleh Rambun Pamenan. Kemudian ia dibawa ke rumah wanita pemilik kedai tempat Rambun Pamenan tinggal. Di rumah itu Puti Linduang Bulan mendapat perawatan hingga sembuh. Beberapa hari kemudian rakyat menobatkan Rambun Pamenan menjadi raja mereka.
Setelah Puti Linduang Bulan sembuh dari sakitnya, mereka berpamitan untuk pulang ke tanah airnya di Kampung Dalam. Rambun Pamenan melimpahkan kekuasaan kepada putra pemilik kedai itu yang diberi gelar Sutan Mudo. Kedua pemuda itu diarak ke seluruh penjuru Negeri Camin Taruih. Setelah itu secara resmi Sutan Mudo menggantikan kedudukan Rambun Pamenan. Rakyat di negeri itu ikut melepas keberangkatan Rambun Pamenan bersama ibunya. Rambun Pamenan memanggil burung Garuda.
Burung garuda itu segera datang dan siap membawa terbang Rambun Pamenan bersama Puti Linduang Bulan. Sesampainya di Kampung Dalam, mereka disambut oleh sanak keluarganya. Puti Dayang Sudah segera menemui kekasihnya. Tidak lama kemudian, perkawinan antara Rambun Pamenan dan Puti Dayang Sudah dilangsungkan. Rambun Pamenan diangkat menjadi raja dan mereka hidup bahagia.
Hari sudah larut malam, Putri Sangka Bulan memberi isyarat kepada Demang Palindih untuk menyelesaikan tugasnya. Wajah Tuan Putri tampak berseri menandakan hatinya gembira.
"Demang Palindih, terima kasih. Engkau telah menghibur hatiku. Aku semakin yakin bahwa putraku Sutan Seri Alam dan adiknya, Sutan Sakti Alam, akan membela negerinya. Seseorang yang berkemauan keras dan mau berjuang akan mencapai keberhasilan. Malam ini engkau telah menjalankan tugasmu dengan baik, aku merasa terhibur karenanya." Demikian ujar Sang Putri.
Setelah penobatan, tidak lama kemudian Sutan Sakti Alam menikah. Ia tidak sulit menerima pasangan yang telah ditunjuk oleh ibunya. Gadis itu sangat cantik. Ia pun putri bangsawan di Kerajaan Pagaruyung.
•••
5. KERAJAAN ROKAN
Rombongan Sutan Seri Alam telah menempuh perjalanan satu minggu lamanya. Siang dan malam Sutan Seri Alam tidak lupa berdoa. Ia mohon petunjuk kepada sang Pencipta agar diberi jalan terang yang berakhir pada kesejahteraan rakyatnya. Pada saat seperti itulah ia dilatih bertanggung jawab. Dari hari ke hari sang Pangeran tampak pendiam. Ia jarang bergurau. Kesabarannya bertambah dan tidak cepat marah. Bahkan, ia selalu melerai jika terjadi perselisihan di antara pengikutnya.
Pada hari yang ketujuh, mereka berjalan hampir satu hari penuh. Menjelang sore hari, mereka menemukan kesulitan. Di hadapan mereka terbentang sebuah sungai. Sungai itu tampak lebar dan dalam. Suasana di sekitar sungai itu sunyi. Tidak terlihat rakit penyeberangan atau manusia di sekitar tempat itu. Sutan Seri Alam memerintahkan agar rombongan menghentikan perjalanannya.
"Kita akan bermalam di sini. Sebelum malam tiba siapkan tenda untuk tempat berlindung.”
Sebagian anggota rombongan dengan cekatan menyiapkan segala peralatan. Tiba-tiba seorang kawan mereka datang sambil menari kegirangan.
"Hai, kawan-kawan, kita tidak perlu membuat tenda. Tidak jauh dari tempat ini, di dekat pohon randu tua itu, aku melihat gubuk kosong. Gubuk itu cukup besar." Demikianlah kata Bujang Muda kepada kawan-kawannya. Ia mengajak kawannya membuat rakit penyeberangan.
"Wah, daripada membuat rakit, lebih baik kita lihat dulu kedalaman sungai ini. Siapa tahu sungai itu tidak dalam. Ayo kita mencebur!" Mendengar usul Janang, Sutan Seri Alam mengangguk-angguk tanda setuju. Mereka bergegas menuju tepi sungai. Tiga orang dari mereka langsung menceburkan diri ke sungai itu.
"Aku akan mandi sekalian."
"Wah, ... kalian menyuruh aku melihat kalian mandi, ya ...," ujar Sutan Seri Alam. Mereka tertawa bersama. Ketiga kawan Sutan Seri Alam itu segera menyeberangi sungai. Ternyata sungai itu tidak terlalu dalam. Hanya sebatas pinggang kedalamannya.
"Hore ... kita tidak perlu membuat rakit. Kita gotong saja pedati berisi makanan itu." Mereka bersepakat meninggalkan tempat itu menuju gubuk kosong yang akan dimanfaatkan untuk penginapan.
Malam itu rombongan tertidur lelap. Mereka terlihat lelah setelah berjalan seharian penuh. Sutan Seri Alam terharu mengetahui ketulusan kawan-kawannya. Mereka sangat bersemangat dan selalu bergembira dalam upaya mewujudkan cita-citanya. Ia merasa berdosa karena telah menyeret kawannya dalam penderitaan. Hampir satu malam penuh Sutan Seri Alam tidak dapat memicingkan mata. Ia teringat ibu dan adik-adiknya. Akan tetapi, ia dapat merasakan getaran doa ibu dan saudaranya. Ia pun tidak jemu-jemu berdoa bagi keselamatan mereka.
"Ya, Tuhan, ... Engkau Maha Penyayang. Hanya kepada-Mu aku memohon. Berilah kami tempat hunian yang layak agar kami dapat beribadah kepada-Mu. Amin." Demikian doa Sutan Seri Alam. Menjelang matahari terbit ia baru tertidur. Secara diam-diam Sutan Bagindo memerhatikan Sutan Seri Alam. Ia melarang kawan-kawannya berbuat gaduh karena khawatir Sutan Seri Alam terbangun. Menjelang pagi, sebagian dari mereka menuju sungai untuk mandi. Para wanita sibuk memasak untuk sarapan. Suasana di pagi hari itu tampak ceria.
Tiba-tiba Sutan Seri Alam terbangun dari tidurnya.
"Hari masih belum terlalu siang, Sutan. Teruskan saja Paduka tidur. Saya menjaga di sini."
"Hamba lihat Paduka terlambat tidur tadi malam!"
Sutan Seri Alam tersenyum malu.
"Terima kasih atas perhatianmu, kawan! Doaku untuk menemukan hunian tampaknya terkabul. Menjelang pagi aku baru tertidur. Dalam tidur itu aku bermimpi, bersama kawan-kawan kita berada di satu tempat. Tempat itu datar dan cukup tinggi letaknya. Suasananya indah. Matahari seolah dekat dengan kita dan bersinar terang. Kita semua gembira. Apakah itu pertanda bahwa tidak lama lagi kita akan menemukan hunian itu?" bisik Sutan Seri Alam kepada kawannya.
"Semoga apa yang Tuan impikan benar adanya." Demikian jawab Sutan Bagindo menyambung ucapan pemimpinnya.
Setelah makan pagi, mereka bersiap-siap menyeberangi sungai. Anggota rombongan yang terdiri atas wanita pesilat tidak mengalami kesulitan dalam menyeberangkan barang bawaannya. Sutan Seri Alam menunggang kuda besar dan kokoh. Ia berkata bahwa kuda itu dapat dinaiki tiga orang. Para wanita yang ingin menunggang kuda dapat naik bersama dengan Sutan Seri Alam. Anak-anak balita juga diangkut dengan kuda. Sungai itu tidak dalam, tetapi airnya cukup deras.
Mereka menyeberangi sungai dengan berpegangan pada tambang agar di antara mereka tidak ada yang hanyut terbawa air. Tambang itu berfungsi sebagai penyimpul mereka. Enam orang yang berbadan tinggi bertugas mendorong pedati berisi bahan makanan. Mereka tidak kesulitan mendorong pedati yang cukup berat itu. Dengan kekuatan tenaga murni, mereka mendorong pedati itu. Mereka bersorak ketika melihat pakaian mereka basah sebatas pinggang.
"Tidak apa-apa, jika terembus angin pakaian ini akan kering dengan sendirinya."
"Wah, kalau buang air kecil kita tidak akan ketahuan, ya ... langsung saja." Demikian gurau di antara mereka. Mereka tertawa terkekeh-kekeh memecah kesunyian. Meskipun hari telah siang, mereka terus melanjutkan perjalanan. Mereka ingin cepat sampai ke tujuan. Mereka sangat bersemangat sehingga makan siang pun dilakukan sambil berjalan. Mereka makan ketupat yang di dalamnya terisi cacahan daging ikan. Melihat hal itu, Sutan Seri Alam memutuskan untuk beristirahat sejenak. Rombongan memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan lelah sejenak. Mereka beristirahat di sebuah lapangan yang banyak ditumbuhi pepohonan. Di dekat lapangan itu terdapat sebuah empang yang airnya jernih. Selama beristirahat, di antara mereka ada yang mandi. Bahkan, sebagian di antaranya tertidur. Mereka dibangunkan ketika rombongan akan meneruskan perjalanan.
Menjelang malam hari, rombongan sampai di sebuah pedesaan. Sebagai pendatang, Sutan Seri Alam menemui kepala desa. Rumah kepala desa tidak sulit ditemukan. Selain terletak di tengah pedesaan, rumah kepala desa lebih besar dan bagus dibandingkan dengan rumah penduduk lainnya.
"Betul, sayalah kepala desa. Saya harap Tuan sudi menginap di rumah kami. Para tamu sering menginap di rumahku." Demikian sapa kepala desa yang baik hati itu.
"Terima kasih atas tawaran Bapak. Kami hanya akan bermalam satu malam. Besok kami harus melanjutkan perjalanan."
"Oh, ... kalau begitu, seluruh tamu m dapat menginap di rumahku, sekalipun sebagian rombongan hanya tidur di serambi. Anak-anak kecil dan sebagian wanita dapat tidur di bilik."
Ketika mendengar tawaran itu, seorang anak buah Sutan Seri Alam berbisik. "Paduka, menurut hemat hamba, tawaran itu sebaiknya kita terima." Ia mengharap agar pemimpinnya tidak menyia-nyiakan tawaran itu. Akhirnya, Sutan Seri Alam memutuskan menerima tawaran itu.
Belum lama mereka tertidur tiba-tiba terdengar suara kentungan bertalu-talu. Rombongan Sutan Seri Alam lebih dahulu mendengar suara itu. Sutan Seri Alam cepat bangun dan merapikan pakaian serta mempersiapkan senjata andalannya. Seorang penggawa desa melaporkan kepada kepala desa bahwa telah terjadi perampokan. Kepala desa gugup. Ia segera menyampaikan kejadian itu kepada Sutan Seri Alam. Kepala desa itu meminta bantuan kepada tamunya. Sutan Seri Alam dengan senang hati bersedia membantu. "Suara itu berasal dari rumah raja kami. Mari, Tuan, kita ke arah timur," kata kepala desa.
Sementara itu, di rumah Raja kecil terjadi penjarahan. Sekelompok perampok berusaha merampok harta raja. Selain merampok, mereka berusaha membawa lari anak gadis dan istri raja. Pasukan Sutan Seri Alam datang tepat pada waktunya. Mereka memerangi para gerombolan. Dalam waktu singkat, mereka dapat melumpuhkan perampok itu. Raja kecil dan keluarga lega mengetahui musuhnya lari ketakutan. Kemudian, kepala desa memperkenalkan tamu yang telah menolong mereka. Dengan senang hati, Raja kecil itu memperkenalkan seluruh keluarganya termasuk anak gadisnya.
Raja kecil itu bernama Sutan Rajo Sidi. Kerajaannya bernama Muara Tais. Istri Raja mengusulkan agar Sutan Seri Alam bersama pengiringnya menunda keberangkatan. Keluarga raja berniat mengadakan selamatan penyambutan tamu pada keesokan harinya.
"Kita terima saja usul itu, Sutan. Kita dapat menunda keberangkatan. Siapa tahu penundaan ini merupakan pertanda baik bagi kita." Sutan Seri Alam menerima usul kawan setianya. Dalam hati sempat berpikir, kebetulan, aku ingin mengenal lebih dekat lagi putri raja itu. Tanpa terasa, hari sudah menjelang pagi. Rombongan Sutan Seri Alam kembali ke rumah kepala desa. Sebagian dari mereka melanjutkan tidurnya lagi.
"Ah, aku akan tidur supaya bermimpi bercanda dengan putri bungsu itu dalam acara pesta besok." Demikian perkataan salah seorang anak buah Pangeran Seri Alam.
"Uh ... lagakmu, belum-belum sudah berkhayal."
"Berkhayal boleh 'kan agar panjang umur. Berkhayal tentang sesuatu yang enak-enak, he-he-he, " gumam salah seorang anggota rombongan kepada temannya.
Dalam jamuan itu Sutan Seri Alam terkesan oleh keramahan Putri Bungsu. Putri Raja itu sekilas tampak manja, tetapi cekatan dalam menyelesaikan tugas. Ia pintar memasak. Istri Raja memperkenalkan jenis masakan yang telah dibuat oleh anak gadisnya. Sutan Seri Alam tidak hanya mengagumi kepandaiannya, tetapi juga terpesona oleh kecantikan Putri Bungsu. Sutan Seri Alam berjanji akan kembali singgah ke rumah raja jika mempunyai waktu senggang.
Selain berkenalan dengan Putri Bungsu, Sutan Seri Alam mendapat petunjuk bahwa ke arah timur ada sebuah tempat cukup baik. "Coba kalian tengok jika kalian berkenan. Tidak jauh dari lahan ini," kata Sutan Rajo Sidi. Acara pesta dilanjutkan. Semakin malam semakin meriah. Berbagai jenis tarian disajikan oleh pemuda-pemudi penduduk Muara Tais. Pada keesokan harinya setelah mohon diri, mereka berangkat melanjutkan perjalanan. Ikatan persahabatan di antara mereka terasa sangat mesra. Permaisuri membawakan perbekalan cukup banyak untuk mereka di perjalanan. Permaisuri berpesan agar suatu hari Sutan Seri Alam sudi menjenguk mereka kembali.
Perjalanan sudah hampir dua hari. Sutan Seri Alam mengatur siasat. "Bagaimana jika rombongan kita bagi dua. Enam orang pria berangkat lebih dahulu. Mereka dapat mempersiapkan segala sesuatunya apabila sudah menemukan tempat yang kita idamkan.”
"Kok sepertinya, Tuan sudah menentukan bahwa kita akan segera sampai ke tempat tujuan. Bagaimana jika pendapat kawan-kawan kita itu tidak cocok dengan kehendak Paduka? Sebaiknya Sutan Seri Alam ikut serta dengan mereka." Demikian usul salah seorang dari mereka.
"Baiklah, jika demikian pendapat kalian. Kita akan berangkat dengan menunggang kuda. Rombongan kedua boleh meneruskan perjalanan atau menunggu di tempat ini." Demikian usul Sutan Seri Alam. Setelah bersepakat, rombongan pertama berangkat lebih dahulu.
Belum genap dua hari dua malam, mereka telah menemukan tempat yang diharapkan itu. Terhampar di hadapan mereka sebidang tanah luas yang ditumbuhi pepohonan. Pangeran Sutan Seri Alam segera turun dari kudanya. Ia menuju ke sungai yang mengalir tidak jauh dari tempatnya berada. Ia mencuci mukanya dengan air sungai yang jernih. Anggota rombongan yang lain mengikuti jejak Sutan Seri Alam. "Sejuk benar air sungai ini," kata mereka. Mereka beristirahat sambil makan siang. Kuda-kuda mereka minum air sungai dan makan rerumputan dengan lahapnya.
Pemandangan di tempat itu sangat bagus. Sungai itu bernama Rokan. Aliran sungai tampak indah berkelok-kelok menuju ke hulu sungai. Tidak jauh dari aliran sungai terhampar dataran tinggi yang permukaan tanahnya datar. Daerah itu bernama Kota Sembahyang Tinggi. Setelah jelas mengetahui nama daerah itu, bersujudlah mereka mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan. Mereka kini telah menemukan tanah impiannya. Sebuah lahan yang baik untuk membangun istana dan kerajaan baru. Wajah mereka tampak berseri-seri. Mereka tidak merasa penat walaupun telah menempuh perjalanan beberapa hari.
Tidak jauh dari tempat itu terlihat beberapa pedesaan kecil. Mereka berjanji akan menjalin kerja sama dengan penduduk pedesaan itu. Raja segera mengutus Bujang Muda agar kembali menjemput rombongan kedua.
"Bujang Muda, kawanku, besok kalian berangkat menyusul kawan-kawan kita yang masih tertinggal. Beri kabar kepada mereka tentang berita gembira ini. Kami akan menyiapkan tempat bagi mereka kelak. Kedatangan rombongan kedua akan kami sambut dengan meriah dan dengan masakan khas buatan kita sendiri. Aku bersedia memasaknya," ujar Sutan Seri Alam.
Keesokan hari, Bujang Muda berangkat menyusul kawan-kawannya yang masih tertinggal. Sementara itu, Sutan Seri Alam dan empat kawannya bekerja keras menyiapkan kedatangan rombongan berikutnya. Mereka membeli alat pertanian, seperti sabit, cangkul, dan garu dari penduduk desa tetangga. Selain itu, mereka juga berbelanja di pasar pedesaan itu. Berkat keramahan Sutan Seri Alam, penduduk desa tetangga membantu lima orang itu membangun gubuk untuk tempat tinggal mereka.
Pada hari yang keempat terdengar gemuruh suara rombongan datang. Kelima orang itu segera mempersiapkan diri menyambut kedatangan temannya. Gubuk sudah tersedia. Masakan yang sedap rasanya juga telah tersaji. Mereka bergembira ria mensyukuri rahmat Tuhan. Setelah membersihkan tubuh, mereka menyantap masakan lezat itu. Sebelum bercakap-cakap, raja mengajak mereka bersujud kepada Tuhan. Sebagai rasa syukur mereka beramai-ramai bersemadi memanjatkan doa.
Setelah itu, mereka bersenang-senang hingga larut malam. Mereka menari dan menyanyi bersama. Keesokan harinya sebelum orang-orang terbangun, Sutan Seri Alam, keluar dari bilik tempat tidurnya. Ia menyendiri di tempat yang cukup tenang untuk merenung. Sutan Seri Alam teringat kepada keluarganya yang berada di Pagaruyung. Ia menyadari bahwa selama ini keluarganya pasti mendoakan keselamatannya. Oleh karena itu, ia berdoa agar suatu ketika mereka bertemu kembali.
"Ibu, maafkan segala kenakalanku di masa lalu. Aku tidak bermaksud mengecewakan hati Ibu. Percayalah, Ibu, aku bertekad menjadi pemimpin yang baik meskipun jauh dari Kerajaan Pagaruyung." Demikian bisiknya, seolah-olah ia sedang berjanji di hadapan ibunya.
Menjelang siang hari barulah mereka berunding untuk merencanakan pembangunan istana. Mereka bersepakat membangun istana baru yang megah dan besar. Mereka membagi tugas. Laki-laki yang berbadan tegap ditugasi menebang pohon di sekitar tempat itu sebagai bahan bangunan. Mereka berencana membangun istana yang bentuknya seperti istana di Pagaruyung. Istana yang atapnya terbuat dari kayu siraf dan berbentuk tanduk kerbau. Tambahan hiasan berwarna-warni akan menambah cantiknya bangunan itu. Mereka juga berkeinginan membangun balairung yang luas agar seluruh warga tertampung di istana itu.
Sutan Seri Alam tersenyum mendengar cita-cita mereka. Ia selalu berunding dengan anak buahnya dalam pembangunan istana itu. Mereka berharap agar cita-cita luhur itu terwujud.
Ketiga pendekar murid Sutan Pamuncak tersenyum bahagia. Mereka saling berjabat tangan. Tugas dari gurunya untuk mengawal Pangeran Kerajaan Pagaruyung dapat dilakukannya dengan baik. Mereka ingin berterus terang kepada Sutan Seri Alam tentang keberadaannya.
"Sutan Seri Alam, kami bertiga sudah lama ingin berterus terang. Sebelumnya kami bertiga minta maaf. Paduka telah mengetahui bahwa kami sebenarnya adalah utusan Sutan Pamuncak. Sebagai murid yang baik, hamba bersedia mengemban tugas. Kami bertiga bergabung dengan Paduka agar dapat membantu memecahkan kesulitan Paduka." Sutan Seri Alam hanya tersenyum tanda berkenan. Dia tidak marah sama sekali. Bahkan, ia mengucapkan terima kasih atas kesediaan mereka menyumbangkan tenaga dan pikiran. Jasa Sutan Bagindo dan kawan-kawan bagi rombongan sangat besar.
Untuk itu, Sutan Seri Alam meminta kesediaan ketiga pendekar itu agar mengabdi di kerajaan yang akan didirikannya. Selain itu, Sutan Seri Alam juga mengucapkan penghargaannya kepada Sutan Pamuncak di hadapan ketiga pendekar itu. Ia merasa terharu jika mengingat masa lalunya yang memalukan.
"Seandainya Sutan Pamuncak tidak mendampingi ibuku di istana, dan mengirimkan kalian, aku tidak tahu, apa jadinya aku ini," ucap Sutan Seri Alam di hadapan ketiga sahabatnya yang dihormati.
"Sudahlah, Pangeran, hingga sekarang pun hamba tetap akan setia kepada Paduka. Hamba berjanji tidak akan kembali ke Pagaruyung meskipun sanak saudara kami di sana." Janji ketiga pendekar itu.
"Terima kasih atas kesediaanmu, kawan. Setelah istana kita berdiri kelak, kita akan mengatur pembagian kerja. Tugas kita akan semakin banyak, yakni menyejahterakan seluruh rombongan kita dan pendatang baru lainnya," ujar Sutan Seri Alam
Ketiga pendekar itu lega setelah berterus terang tentang keberadaannya kepada Sutan Seri Alam. Mereka berpikir bahwa ternyata pemimpinnya itu seorang yang bijaksana. Sutan Seri Alam semakin dewasa setelah berpisah dari keluarganya. Ia ternyata seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Rupanya selama ini, Sutan Seri Alam tidak suka kepada adat dan peraturan istana yang sangat ketat dan mengikat. Ia ingin bebas. Sekalipun anak raja, ia ingin bermain dengan semua lapisan masyarakat kaya atau miskin. Ia ingin bermain di luar istana seperti anak sebaya lainnya.
Pembangunan istana Kerajaan Rokan berjalan lancar. Mereka sangat kompak dan bergotong royong dalam menyelesaikan tugasnya. Tidak ada tugas yang dirasakan berat karena pekerjaan dilakukan bersama-sama. Beberapa bulan kemudian, istana sudah berdiri dengan megah. Mereka mengadakan syukuran sederhana. Mereka berniat mengadakan pesta besar ketika penobatan raja kelak. Wanita yang pandai menenun mulai membuat kain songket. Penjahit pilihan mulai menjahit pakaian kebesaran raja. Sutan Seri Alam bersama kepercayaannya telah membagi tugas pemerintahan. Pengikutnya yang dinilai mampu ditugasi di tempat yang kelak akan dikembangkan menjadi daerah baru. Jabatan para penggawa kerajaan telah tersusun. Nama penggawa yang akan diangkat sebagai menteri dan yang akan diangkat sebagai kepala suku telah ditentukan.
Menjelang hari penobatan, Sutan Seri Alam mengutus beberapa orang bawahannya menjemput keluarga Raja Muara Tais. Mereka menjadi tamu kehormatan pada acara penobatan Raja Rokan.
Tepat pada hari penobatan Raja Rokan, keluarga Sutan Rajo Sidi dari Muara Tais telah datang. Mereka membawa rombongan cukup banyak. Selain itu, ia pun membawa bahan makanan dan bahan pakaian yang terbuat dari sutra sebagai buah tangan. Sutan Seri Alam sangat berbesar hati melihat tamu undangan melimpah ruah.
"Ternyata tamuku cukup banyak, semoga upacara itu berjalan lancar," gumamnya di dalam hati. "Pembesar Kerajaan Muara Tais ternyata juga membawa beberapa anak gadisnya. Pembesar Kerajaan tetangga itu sengaja ingin memperkenalkan putrinya kepada para pendekar dari Pagaruyung itu.
Para gadis cantik itu duduk berjajar menunggu tugas yang akan mereka emban. Para wanita di Kerajaan Rokan sangat senang mendapat bantuan istimewa itu. Dengan dibantu para gadis, mereka menyiapkan segala masakan yang lezat-lezat. Para gadis itu mengetahui bahwa wanita dari Pagaruyung pandai memasak. Oleh karena itu, dengan senang hati mereka membantu memasak di dapur.
Pada upacara penobatan, Raja Rokan melaporkan beberapa daerah di sekitar kerajaannya yang telah bergabung. Jumlah mereka cukup banyak. Oleh karena itu, selain menobatkan Raja dan para penggawanya, Raja juga menobatkan kepala suku di daerah bukaan baru. Misalnya suku Melayu dari Padang Panjang yang datang ke Luhak Rokan, Suku Mandailing dan Mais yang datang dari kota Benia Tinggi, Suku Palapang yang berasal dari Muara Tais, Suku Piliang, dan Suku Caniago.
Ketika mendengar sebagian rakyat Muara Tais ikut bergabung dengan Kerajaan Rokan, Raja Muara Tais bergembira. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan niatnya juga untuk bergabung dengan Raja Rokan. Seluruh hadirin bertepuk tangan mendengar pernyataan Raja Muara Tais yang rendah hati.
Upacara berlangsung dengan lancar. Pada penobatan itu Sutan Seri Alam diapit oleh tiga pendekar murid Sutan Pamuncak. Keempat pemuda itu belum ada yang menikah. Mereka terlihat tampan dan perkasa. Pakaiannya hampir seragam. Celana yang mereka kenakan berwarna biru muda dan sarung berwarna-warni coraknya. Pakaian atas berwarna hampir sama, yakni kuning keemasan dipermanis dengan ikat kepala merah tua berbunga hitam. Dalam pertemuan itu, ternyata mereka pandai memanfaatkan situasi. Sekali mendayung dua atau tiga pulau terlampaui.
Mereka telah memilih gadisnya masing-masing. Ketiga pendekar itu menjalin cinta dengan putri pembesar kerajaan tetangga. Sutan Seri Alam melanjutkan hubungannya dengan Putri Bungsu yang pernah dikenalnya. Sebelum mereka berpisah, Sutan Seri Alam berterus terang ingin melamar gadis itu dan segera akan menikahinya. Para tamu merasa senang mendengar pinangan itu. Sutan Seri Alam dan ketiga pendekar itu berjanji akan datang kembali ke istana Muara Tais. Kawan-kawan Sutan Seri Alam sangat bergembira mendengar janji itu.
"Wah, kita bakal mengadakan pesta lagi, Raja dan guru kita akan menikah. Yah, mudah-mudahan upacara itu berjalan lancar," celetuk salah seorang keluarga Kerajaan Rokan. Setelah upacara penobatan, mereka kembali sibuk mempersiapkan pernikahan raja. Namun, Raja berpesan agar upacara itu dilakukan dengan sederhana saja. "Kita baru meniti satu langkah, kemampuan kita masih lemah. Upacara itu juga akan dilakukan sehemat mungkin."
" Jadi, pada upacara nanti empat pasang pengantin berjajar, begitu, Paduka .... Wah, ... luar biasa." Mereka menyatakan salut pada rencana itu. Raja kita tidak tinggi hati. Ia menikah bersama kawan seperjuangannya. Mereka berempat tidak dapat dipisahkan.
Tidak lama kemudian, Kerajaan Rokan menjadi besar karena pemikiran dan kerja keras empat tokoh itu. Mereka bagai empat sekawan yang tidak pernah terpisahkan. Tiga orang kawan Raja Rokan bertempat tinggal tidak jauh dari istana kerajaan. Dari perkawinan itu, mereka telah memperoleh keturunan masing-masing. Kehidupan mereka sangat bahagia. Selain keempat tokoh itu, kawan-kawan lainnya pun memperoleh jabatan dan kekuasaan masing-masing di daerah bukaan baru.
•••
6. KEJAYAAN KERAJAAN ROKAN
Kerajaan Rokan mengalami kemajuan pesat. Penduduk daerah lain banyak yang datang dan menetap di negeri itu. Mereka diizinkan menetap di Rokan dan diberi lahan jika menyumbangkan seekor kerbau dan beberapa keping uang emas. Uang itu kelak dikembalikan dan dipergunakan untuk kepentingan rakyat. Kerbau dipinjamkan kepada petani untuk membajak sawah. Pada setiap pembukaan lahan baru, Raja Rokan mengangkat seorang kepala suku sebagai pemimpinnya. Selain itu, ia bertugas mengawasi pekerjaan yang dilakukan oleh anak buahnya. Kepala suku juga mengatur upeti yang akan dipersembahkan kepada Raja Rokan. Raja Rokan mengadakan pesta bersama rakyatnya jika mengangkat kepala suku. Hampir setiap satu bulan Raja menobatkan kepala suku.
Kabar berita kemajuan Kerajaan Rokan cepat tersiar ke segala penjuru negeri. Seorang pemimpin perompak yang hidup di lautan juga mendengar berita itu. Gerombolan bajak laut itu dipimpin oleh seorang yang bergelar Pendekar Ayam Berkokok. Ia ingin mengadu untung di Kerajaan Rokan. Pendekar Ayam Berkokok mengajak Raja Rokan bertaruh. Jika dapat dikalahkan rakyat Luhak Rokan, ia akan menyerahkan seluruh anak buahnya dan seluruh isi kapal kepada Raja. Akan tetapi, jika menang, ia akan meminta separuh wilayah Kerajaan Rokan.
Ketika mendengar ajakan itu, Sutan Seri Alam tersenyum sinis.
"Itu berarti penghinaan bagi kebesaran Kerajaan Rokan! Mereka harus diberantas, jangan diberi kesempatan. Siapa yang sanggup menghadapinya?"
Para pendekar Kerajaan Rokan berebut ingin maju mengalahkan kepala perompak itu. Sebelum pertarungan dimulai, para pendekar di Kerajaan Rokan berlatih keras untuk meningkatkan kemampuannya. Pada waktu yang disepakati, mereka siap berhadapan. Seluruh rakyat Rokan menyaksikan pertarungan kepala perompak itu dengan pendekar Kerajaan Rokan.
"Apa yang mereka inginkan sebenarnya?" bisik seorang penonton yang mengkhawatirkan keselamatan pendekar dari Rokan.
"Mungkin mereka tidak suka dengan kebesaran Raja Rokan dan hanya ingin mengganggu. Atau ingin menyerah pada Raja, ia malu kemudian mengajak menantang raja, siapa tahu menang?"
"Kita lihat saja nanti, bagaimana sikap anak buah perompak itu jika pemimpinnya kalah. Mereka akan takluk atau mengajak kita berperang.”
Rakyat Rokan bertepuk tangan ketika pertarungan dimulai. Raja ikut hadir menyaksikan pertarungan itu. Dalam pertarungan itu, kekuatan petarung berimbang. Akan tetapi, tidak lama kemudian, kepala perompak itu terlihat keteter. Pertahanannya semakin melemah. Ia mencoba berbuat curang. Secara diam-diam ia mengeluarkan pisau. Perbuatannya diketahui seorang pendekar putri dari Rokan.
"Hai, kawan, jangan berlaku curang! Sebaiknya engkau menyerah saja. Atau engkau ingin kami menangkapmu dan memenjarakanmu!"
Ketika mendengar perkataan pendekar wanita itu, kepala perompak itu malu. Ia membabi buta menyerang lawannya.
"Hai, perempuan, sebaiknya engkau di dapur saja, jangan ikut-ikutan berbicara!"
Para pendekar wanita geram mendengar olok-olok kepala perompak itu. Akan tetapi, mereka berusaha bersabar dan menahan diri. Perompak itu menyerang ke kiri dan ke kanan. Ia menusuk dan menebaskan parangnya dengan membabi buta. Ia tampak putus asa. Serangannya tidak mengenai sasaran, bahkan menguras tenaganya. Ia semakin marah melihat lawannya menghadapinya dengan santai. Sambil tersenyum, pendekar dari Rokan memainkan jurus silatnya sekadar untuk menangkis. Ia tidak melakukan penyerangan sama sekali.
"Hayo, menyerahlah kamu daripada nanti menyesal."
"Aku tidak peduli, lebih baik mati daripada harus menanggung malu." Orang itu semakin nekat.
Pendekar Kerajaan Rokan menyadari keadaan musuhnya. Ia terus melayani sambil menunggu kelemahan musuhnya. Tidak lama kemudian lemaslah si perompak itu. Dengan mudah pendekar dari Rokan merebut pisau itu dan melumpuhkannya. Perompak itu bertekuk lutut di hadapan pendekar dari Rokan. Pendekar itu segera mengangkat bahu musuhnya.
"Kawan, aku tidak menganggap engkau musuhku. Engkau adalah kawanku." Sorak penonton menyebabkan kepala perompak yang tidak berdaya itu tidak mendengar ucapan musuhnya. Akan tetapi, ia dapat merasakan pelukan persahabatan dari tangan lawannya yang memapahnya bangun.
Pendekar Kerajaan Rokan mengajak kepala perompak itu menghadap raja. Raja tersenyum puas menyaksikan hasil pertarungan itu. Ia berjanji akan memberikan sebidang tanah untuk kepala perompak itu agar digarap bersama kawan-kawannya.
"Aku tidak akan menyita seluruh harta bendamu. Namun, aku ingin engkau mematuhi peraturan kami. Setiap pendatang baru harus menyerahkan seekor kerbau dan empat keping uang emas untuk pembangunan negeri." Dengan senang hati, kepala perompak berjanji akan mematuhi peraturan itu. Ia segera pergi menemui anak buahnya.
"Bagaimana, Pendekar Ayam Berkokok, engkau harus menyerahkan seluruh harta kita?"
Kepala perompak itu masih bisa berkata dengan sombong kepada anak buahnya.
"Ah, kita tidak perlu menyerahkan harta kita. Dengan kepandaianku, aku berhasil menipu mereka sehingga aku tidak perlu lagi menyerahkan harta itu." Demikian ucap Pendekar Ayam Berkokok si pembual itu.
Keesokan harinya, ia menghadap Raja Rokan untuk menyerahkan segala persyaratan menjadi warga di Kerajaan Rokan. Raja menyuruh perompak itu berjanji. Ia tidak boleh membuat keonaran di kerajaan itu. Jika sampai terjadi, rakyat Rokan tidak akan segan mengusir mereka. Dengan patuh, Pendekar Ayam Berkokok bersumpah di hadapan raja.
Pada hari yang ditentukan seluruh rakyat Kerajaan Rokan berkumpul. Mereka menghadiri upacara pemberian gelar. Hari itu para bangsawan dan tetua di setiap lahan bukaan baru akan dilantik. Mereka itu, antara lain, Datuk Nan Setia, Datuk Singa, Datuk Diraja, Datuk Dalam, serta beberapa hulubalang yang bergelar, Sambal Seupih, Imbang Langit, Elang Laut, Panglima Camping Berantah Mata Indah. Pendekar Ayam Berkokok mendapat gelar Sapu Rantau. Ia sangat bangga dengan gelarnya itu. Hari itu Pendekar Ayam Berkokok atau Sapu Rantau mengenakan pakaian indah. Ia duduk di kursi depan yang telah disediakan. Ia bergaya seperti pembesar. Para wanita Kerajaan Rokan menggodanya.
"Sapu Rantau, awas kalau masih berlagak sok jagoan. Aku pelintir lehermu."
"Sapu Rantau sebenarnya kemarin cukup aku saja yang melawanmu. Tidak perlu pendekar ampuh, ha-ha-ha ….”
Ia hanya tertawa terkekeh-kekeh mendengar ejekan para wanita itu.
"Wah, kau ini cerewet seperti istriku saja, nanti aku cium kau, ha-ha-ha ….” Demikian jawaban Sapu Rantau membalas olok-olok para wanita itu. Setelah mendengar perkataannya, para wanita itu pergi jauh-jauh. Mereka khawatir jika bekas penjahat itu mengganggunya.
Para tamu undangan sudah hadir. Ketika raja hadir, petugas mengajak hadirin berdiri.
"Hadirin diharap berdiri, Raja Rokan memasuki ruangan."
Hadirin serentak berdiri. Upacara penobatan berjalan dengan lancar. Pendekar Ayam Berkokok terkesan melihat kemegahan upacara itu. Ia menyadari bahwa Kerajaan Rokan bukan kerajaan sembarangan. Kerajaan itu ternyata sangat besar dan berpengaruh. Raja Rokan berwibawa dan dikasihi rakyatnya. Pendekar Ayam Berkokok menyadari bahwa ia adalah orang miskin belaka yang congkak dan tidak tahu diri. Ia berjanji akan mengubah sikapnya yang buruk dan mengabdi kepada raja bersama anak buahnya.
Waktu terus berlalu. Rakyat Kerajaan Rokan hidup tenteram dan damai. Tiba-tiba sekelompok gerombolan menjarah harta penduduk. Mereka penghuni hutan belantara yang malas bekerja. Suasana menjadi kacau ketika perampok itu menyandera seorang gadis kecil yang tidak berdosa. Meskipun para pendekar kerajaan berhasil menangkap penjahat, gadis itu tewas di tangan penjahat itu.
Penduduk Rokan sempat terlintas berpikir. "Mungkinkah pelakunya anak buah Wak Katok, anak buah Pendekar Ayam Berkokok?" Ternyata dugaan mereka salah. Wak Katok berada di rumahnya ketika peristiwa itu terjadi. Bahkan, ia menderita luka-luka karena ikut berperang melawan gerombolan itu. Suasana mencekam segera kembali pulih tenang ketika beberapa ulama datang ke negeri mereka. Para ulama itu mengajarkan agama Islam di negeri itu.
Suasana negeri itu tenang, aman, dan damai kembali. Rakyat mendalami pelajaran agama Islam. Sepanjang hari penggawa kerajaan siap siaga. Kaum muda banyak yang mempelajari ilmu silat. Akibatnya, para perampok takut mengganggu rakyat Rokan.
Setelah mengaji anak-anak pergi ke ladang membantu orang tuanya. Sore hari mereka berada di rumah mengurus ternaknya. Hewan ternak seperti kerbau dijual ke istana. Hewan ternak kambing setiap Iduladha dibeli oleh para keluarga yang melakukan ibadah kurban.
Sementara itu, kaum wanita menenun kain sarung atau songket serta membuat pakaian pria dan wanita. Di antara mereka ada yang berdagang. Mereka sukses sampai ke daerah lain di luar Rokan. Ada pula yang ikut ke sawah bersama suaminya. Setelah itu, mereka pergi ke pasar menjual sayuran. Setelah menyelesaikan pekerjaan duniawi, mereka berbondong-bondong pergi ke surau bersembahyang dan mengaji hingga larut malam.
Hampir setiap tahun beberapa dari rakyat Rokan pergi menunaikan ibadah haji dengan kapal laut. Penduduk yang mampu membayar infak dan sedekah kepada orang miskin. Anak yatim piatu dan janda miskin hidupnya terjamin. Para ulama mengembangkan ajaran Islam di pedesaan. Mereka mengunjungi Istana Rokan menemui Sutan Seri Alam. Dengan senang hati, Raja menerima kehadiran ulama. Raja Rokan menganjurkan agar seluruh kerabat kerajaan mempelajari kitab suci Alquran. Kini Negeri Rokan harum namanya karena seluruh rakyatnya patuh menjalankan syariat Islam dengan baik.
Konon berita baik itu diketahui oleh Putri Sangka Bulan di Kerajaan Pagaruyung. Putri Sangka Bulan yang semakin tua itu terharu dan bahagia mendengar berita tentang negeri anak sulungnya. Ia rindu pada anak sulungnya. Berita gembira itu disampaikan oleh Raja Putri kepada Sutan Pamuncak. Orang tua itu berlinang air matanya karena bahagia.
•••
7. RAJA ROKAN PERTAMA WAFAT
Kerajaan Pagaruyung akan mengadakan hajat besar. Mereka akan menikahkan Putri Sari Bulan. Calon suaminya tampan dan gagah perkasa. Menjelang pernikahan berlangsung, Istana Pagaruyung mendadak kacau. Calon pengantin pria tewas di perjalanan menuju Kerajaan Pagaruyung. Sekelompok gerombolan perampok mengincar harta benda yang dibawa oleh rombongan itu. Calon pengantin ikut berkelahi dan tewas seketika ditikam senjata.
Ketika mendengar berita itu, Putri Sari Bulan pingsan. Calon pengantin perempuan sakit. Banyak tabib datang menolongnya. Akan tetapi, usahanya tidak berhasil. Putri Sangka Bulan kehabisan akal. Ia mengadakan sayembara. Barang siapa yang dapat mengobati putrinya, jika laki-laki akan dinikahkan dengan Putri Sari Bulan dan jika perempuan akan dijadikan saudara Putri Sari Bulan.
Sementara itu, di Negeri Luhak Rokan, Sutan Seri Alam galau dan bersedih. Kesedihan yang dialami keluarga di Pagaruyung dapat dirasakan pula oleh Sutan Seri Alam. Semalam suntuk, Raja tidak dapat memejamkan mata. Ia memberitahukan hal itu kepada Mahmud Badarudin. Untuk mengatasi keadaan itu, mereka berempat berkumpul dan membaca doa bersama. Setelah membaca doa, barulah raja dapat memejamkan mata.
Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu kakek berjanggut putih, yang pernah menolongnya. Ia berpesan, "Nak, pergilah ke Pagaruyung. Ibu dan adik-adikmu membutuhkanmu. Bawalah senjata bertuah yang dulu aku berikan padamu."
Setelah bangun, Raja Rokan mencoba menenangkan pikirannya. Ia mengundang ketiga orang kawan karibnya.
"Kawan, aku akan pergi dalam waktu agak lama. Tugas kerajaan kuserahkan sementara kepada kalian?"
Setelah mendengar perkataan rajanya, ketiga pembesar itu menjawab dengan serentak.
"Baiklah, kami akan mengemban tugas Paduka selama Paduka Raja tidak berada di istana."
Raja merasa puas mendengar kesanggupan kawannya itu. Ia segera mempersiapkan keberangkatannya. Ia pergi bersama adik iparnya yang masih membujang. Di perjalanan mereka lebih banyak berdiam diri. Sutan Seri Alam merasakan kesedihan ibunya. Padahal berita itu belum sampai ke tangannya. Kuda tunggangannya dipacu sekencang-kencangnya. Ia ingin secepatnya sampai ke Pagaruyung.
Kali ini Raja Rokan tidak mengenakan pakaian kebesaran. Ia sengaja menyamar agar tidak menarik perhatian orang. Sesampainya di Istana Pagaruyung, ia melihat suasana tampak muram. Bunga-bunga di halaman istana tampak layu. Tanah tampak berdebu kurang disirami. Lalang tumbuh di pojok-pojok halaman istana. Sudah hampir satu bulan Putri Bungsu sakit keras. Para penggawa istana sibuk mengupayakan kesembuhan Putri Bungsu.
Ibunda Putri Raja tidak pernah memerhatikan siapa saja tamu yang datang. Dan, ia tidak pernah mempertanyakan dari mana asal mereka. Kedatangan Sutan Seri Alam terluput dari pandangannya. Ia hanya melihat pemuda itu sepintas lalu. Ia hanya berharap Putri Sari Bulan segera tertolong. Raja Rokan langsung bersimpuh di depan tempat tidur Putri Sari Bulan. Ia segera mengeluarkan pusaka bertuah dari gurunya. Setelah membaca mantra, pusaka itu diletakkannya di bawah bantal sang Putri. Ia mengangkat kepala adik bungsunya lalu meletakkan senjata bertuah itu. Suhu badan gadis itu sangat tinggi. Ia mengkhawatirkan keselamatan adik bungsunya itu.
Selama tiga jam Sutan Seri Alam berdoa. Adik iparnya, Sutan Mudo meskipun tidak ikut membaca mantra, ikut berdoa bagi kesembuhan putri bungsu itu. Secara perlahan sang Putri mulai membuka mata. Ia mulai sadar. Namun, ia belum mengetahui bahwa yang berada di hadapannya itu adalah Sutan Seri Alam.
Putri Sangka Bulan sangat senang menyaksikan anak gadisnya berangsur sembuh. Ia memeluk sang Putri. Tiba-tiba ia bertanya, "Siapakah gerangan anak muda? Aku seperti sudah pernah melihat dirimu.”
"Benar, Ibu, akulah Sutan Seri Alam, putra sulung Ibu!" Laki-laki itu segera memeluk ibunya walaupun pakaiannya kotor. Putri Sangka Bulan dan Putri Sari Bulan menangis terharu tanda gembira. Seluruh isi istana menjadi gempar. Para penggawa kerajaan segera menyiapkan pakaian untuk tamunya itu.
Setelah puas menghilangkan rasa rindunya, kedua tamu itu mandi dan berganti pakaian. Kini Kerajaan Pagaruyung telah diperintah oleh adiknya, Sutan Raja Alam. Penampilan Raja Pagaruyung tidak banyak berubah. Dia memang jarang mengalami kesulitan hidup seperti Sutan Seri Alam.
"Raut wajahmu tampak sedikit tua, tetapi engkau tetap tampan. Wajahmu kelihatan lebih bijak dan penyabar. Aku bangga kepadamu, Nak. Ternyata doaku dan adik-adikmu didengar oleh Tuhan." Demikian seru ibunya melanjutkan pembicaraannya di ruang makan.
"Aku merasakannya, Bu. Aku yakin Ibu dan adik-adikku pasti mendoakan diriku. Oleh karena itu, aku senantiasa bersemangat." Seri Alam pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Sutan Pamuncak. Perhatian dan kasih sayang orang tua itu merupakan penentu dalam keberhasilannya. Setelah makan, mereka menyaksikan acara kesenian, yaitu tarian yang dibawakan para gadis remaja.
Putri Sari Bulan dipapah oleh inang pengasuhnya. Ia turut menyaksikan acara hiburan. Wajahnya masih tampak pucat, tetapi sudah dapat tersenyum manis. Rajo Mudo terpana melihat gadis itu. Ia berusaha mendekat dan menghibur Putri Bungsu.
"Ternyata engkau pandai menghibur wanita yang sedang dirundung sedih, ya ...!" Demikian ujar Sutan Seri Alam kepada adik iparnya. Pemuda itu merapatkan telunjuk ke atas mulutnya. Pertanda, jangan keras-keras kalau bicara!
Setelah selesai menyaksikan hiburan, Putri Sangka Bulan mengajak anak sulung kesayangannya itu berbincang-bincang. Ia ingin mendengarkan pengalaman putranya itu.
"Aku ingin engkau mengisahkan perjalananmu. Bagaimana kau memperoleh istri? Dia pasti cantik. Kulihat adiknya pun tampan."
Sutan Seri Alam tersenyum puas. Ia gembira dapat membahagiakan hati ibunya.
"Anakku tampan dan gagah, Bu, seperti lbu ...."
"Yang ingin kuketahui dari mana engkau memperoleh berita tentang keadaan adikmu?"
Sutan Seri Alam bertutur kepada ibunya. "Dalam perjalananku menuju Negeri Rokan, aku pernah ditolong seorang petapa. Ia bernama Aji Panalihan. Selain diwejang, aku diajari ilmu bela diri. Menjelang pulang, aku memperoleh bekal sebilah pisau bertuah. Ketika gelisah aku bersemadi memohon petunjuk kepada Tuhan. Tiba-tiba, dalam tidurku aku bermimpi, Kakek Aji Panalihan datang dan memberi tahu aku agar segera datang ke Istana Pagaruyung. Ia mengatakan bahwa Ibu membutuhkan aku. Tanpa berpikir lagi kami segera pergi."
Beberapa hari kemudian wajah Putri Bungsu kembali berseri seperti sedia kala. Ia tampak akrab berkawan dengan Rajo Mudo. Tampaknya pengobat hatinya telah datang. Sutan Seri Alam mengusulkan agar Sari Bulan dikawinkan dengan Rajo Mudo. Ibunya menyetujui sehingga perkawinan segera dilangsungkan.
Dua hari setelah perhelatan. berlangsung. Sutan Seri Alam mohon diri. Dalam perjalanan pulang, ia berniat singgah di Kerajaan Muara Tais. Sutan Seri Alam memberi tahu kepada Sutan Rajo Sidi di Kerajaan Muara Tais bahwa Rajo Mudo telah menikah dengan Putri Sari Bulan.
Setelah mengunjungi Kerajaan Muara Tais, Sutan Seri Alam sampai dengan selamat di Kerajaan Rokan. Seluruh kerabat menyambutnya dengan hangat. Raja bersyukur dan senang karena negara dalam keadaan aman. Raja bertutur bahwa ia merasa puas telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Adik bungsunya telah sembuh dan menikah dengan iparnya. Akan tetapi, ia tidak berhenti memikirkan kesehatan ibunya. Sutan Seri Alam bersedih harus berpisah dengan ibunya ketika itu. Wanita itu tampak tua dan sangat lelah. Selang tiga bulan kemudian, Raja memperoleh berita bahwa Putri Sangka Bulan wafat. Ia sangat berduka atas kematian ibunya. Tanpa terasa ia meneteskan air matanya ketika berdoa bagi arwah ibunya. Ia pun merasakan bahwa dirinya semakin tua. Raja Seri Alam bertitah kepada para pembesar bahwa kelak pengganti dirinya adalah putra sulungnya. Oleh karena itu, upacara penobatan putra mahkota segera diselenggarakan. Dalam penobatan itu, putra mahkota bergelar Tengku Panglima Raja. Raja Seri Alam pun berpesan, jika kelak ia mangkat, hendaknya putra mahkota segera dilantik. Ia akan memberi gelar Tengku Raja Rokan kepada putra mahkota jika kelak telah menjadi raja.
Raja tua yang bijaksana itu mulai mendidik putranya. Kegiatan pemerintahan sedikit demi sedikit telah dipercayakan kepada putra mahkota. Raja Seri Alam mengawasi dan membimbing dari dekat. Perkembangan pengetahuan putra mahkota mengalami kemajuan pesat. Ia adalah anak yang cerdik dan teliti. Selain itu, ia sangat kritis dan tidak segan mempertanyakan kebijakan ayahnya yang kurang dipahaminya. Sutan Seri Alam tersenyum menanggapi perilaku putranya. Ia teringat bahwa dahulu ia pun pernah menentang ibunya. Sutan Seri Alam mampu membimbing putra mahkota karena ia mampu memahami jiwa putranya.
Ia tidak pernah menindas dan mengekang keinginan putranya. Ia sangat percaya akan kemampuan putra sulungnya. Suatu hari genaplah dua puluh lima tahun usia putranya. Raja pun semakin tua dan sakit-sakitan. Tidak lama kemudian Raja Luhak Rokan I meninggal dengan tenang. Ia telah mendirikan kerajaan itu dan memerintah selama 41 tahun. Penggantinya Tengku Panglima Raja segera dilantik dan bergelar Tengku Raja Rokan. Kerajaan Rokan semakin berkembang dan makmur di bawah pemerintahan Tengku Raja Rokan.
Setelah Raja Rokan Pertama wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh keturunannya. Mereka berasal dari keturunan keluarga Kerajaan Pagaruyung. Suatu ketika, Raja Rokan ketiga wafat. Para penggawa menjadi bingung karena tidak ada calon raja dari keluarga Pagaruyung. Di antara mereka tidak ada yang berani menobatkan diri menjadi raja. Mereka takut kena tulah, Oleh karena itu, mereka sepakat mengambil calon raja baru dari istana Pagaruyung. Beberapa orang diutus menjemput calon raja ke Istana Pagaruyung.
Sampai di sana mereka menceritakan duduk persoalannya bahwa pengganti raja Rokan yang baru belum ada. Dengan senang hati, Raja Pagaruyung mengutus seorang kemenakannya. Calon Raja Rokan itu bernama Mahyudin. Ia mendapat tugas menjadi raja di Kota Rokan Tinggi. Ia bergelar Yang Dipertuan Sakti dan menjadi Raja Rokan IV. Selanjutnya, pemerintahan Kerajaan Rokan berlanjut hingga Raja kesepuluh. Pemerintahan Raja Rokan kesembilan, Yang Dipertuan Sakti Ahmad, mulai lemah. Suasana menjadi kacau ketika datang orang yang mengaku "putih" (Paderi). Konon, ia berasal dari Pagaruyung. Mereka ingin menegakkan ajaran Islam dengan keras. Karena penyebaran agama Islam dilakukan dengan kekerasan, rakyat berontak: Pertempuran terjadi di mana-mana. Akibatnya, rakyat menyingkir dari Kerajaan Rokan. Keluarga raja mengungsi ke daerah karena seorang raja dan dua orang putra raja terbunuh oleh orang "Paderi" itu. Akhirnya, kerajaan sementara dipimpin oleh rakyat dari bangsa keempat yang bergelar Dayung Mahudum Suku Mandailing Negeri Pandalian. Ia didampingi Datuk Wazir. Setelah itu, Kerajaan Rokan dipimpin oleh Yang Dipertuan Sakti Nama Ahmad, kemudian Paduka Syah Alam, Datuk Mahudum, dan Sutan Zainal.
Sejak bangsa Belanda datang dan mendirikan pemerintahan tersendiri, sering terjadi pemberontakan di kerajaan itu. Rakyatnya saling membunuh. Raja turun silih berganti hingga Raja Rokan XI yang diangkat oleh Gouverenment, yaitu Tuan Controleur Quast. Rakyat terpaksa berdamai dengan raja, tetapi kerajaan sedikit demi sedikit hancur. Pada tahun 1903 Kerajaan Rokan dinyatakan hancur. Dengan demikian, Kerajaan Rokan telah berdiri sekitar 563 tahun lamanya. Daerah Kota Sembahyang Tinggi sekarang bernama Teluk Sembahyang Tinggi. Demikianlah kisah kebesaran Raja Rokan dan rakyatnya.








Komentar
Posting Komentar