TUHAN SEBAGAI SINTAKSIS: SEBUAH TELAAH TEORETIS ATAS RELASI BAHASA, MAKNA, DAN TRANSENDENSI

"Tuhan tidak tinggal di dunia, tidak berdiam di surga; Ia bersembunyi di dalam sintaksis. Di antara subjek dan predikat, Ia menunggu—sebagai kata kerja yang belum ditentukan. Dan mungkin, itulah sebabnya doa selalu berbentuk kalimat yang menggantung."

Gagasan bahwa "Tuhan bersembunyi di dalam sintaksis" membuka ruang pembacaan yang kaya—baik dalam filsafat bahasa, teori sastra, maupun teologi negatif. Pernyataan tersebut menantang asumsi konvensional tentang kehadiran ilahi: bukan pada ruang kosmologis (dunia atau surga), melainkan pada struktur linguistik yang mengatur bagaimana makna hadir. Dengan kata lain, wacana tersebut memindahkan locus of divinity dari ontologi ke linguistik, dari metafisika ruang ke metafisika ujaran.


Bahasa sebagai Ruang Ontologis

Dalam filsafat bahasa Wittgensteinian, batas-batas dunia ditentukan oleh batas-batas bahasa. Jika demikian, menyatakan bahwa Tuhan berada dalam sintaksis berarti menempatkan Yang Ilahi bukan sebagai entitas supranatural, melainkan sebagai struktur kemungkinan yang membuat makna dapat muncul. Tuhan bukan objek referensial, melainkan kondisi transendental bagi terbentuknya hubungan subjek—predikat.

Sintaksis—susunan hubungan—dalam konteks ini berfungsi seperti noumenon Kantian: tak terjangkau, tetapi memungkinkan fenomena. Dengan cara ini, Tuhan sebagai "kata kerja yang belum ditentukan" justru menandai potensi; bukan bentuk aktual dari sebuah tindakan, melainkan kemungkinan bahwa tindakan dapat terjadi. Secara halus, gagasan ini menegaskan bahwa transendensi lebih mirip tata bahasa daripada takhta surgawi—lebih dekat pada aturan ketimbang arak-arakan malaikat.


Teologi Negatif dan Ketidaklengkapan Makna

Frasa tentang doa sebagai "kalimat yang menggantung" menyentuh langsung wilayah teologi negatif (apophatic theology). Tradisi ini menekankan bahwa Tuhan hanya dapat dikenali melalui ketidaklengkapan: bukan melalui afirmasi, melainkan melalui kekosongan yang menganga dalam bahasa.

Kalimat menggantung—unfinished, unresolved—menandakan bahwa pengalaman religius tidak pernah mencapai closure. Doa, dalam kerangka ini, bukan pernyataan, melainkan ketidaksanggupan menyelesaikan pernyataan. Semacam bilangan tak hingga dalam matematika spiritual: kita bisa mendekatinya, merumuskan limitnya, tetapi tak pernah tiba pada nilai final. Jika doa adalah kalimat yang menggantung, maka sintaksis adalah teologi dalam bentuk gramatikal.


Strukturalisme dan Diasumsikannya Ketidakhadiran

Dalam strukturalisme, makna muncul melalui hubungan diferensial, bukan kehadiran absolut. Menempatkan Tuhan "di antara subjek dan predikat" berarti menempatkan Yang Ilahi sebagai ruang kosong yang memungkinkan relasi itu terjadi. Ia tidak hadir sebagai tanda, tetapi sebagai ketiadaan produktif—persis seperti differance Derridian.

Kekuatan wacana tersebut terletak pada keberanian menafsirkan Tuhan sebagai liminal space---ruang-antara. Ruang ini bukan sekadar celah sintaksis, melainkan medan ketegangan tempat makna belum menetap. Dalam perspektif ini, Tuhan menjadi semacam operator linguistik: Ia tidak diucapkan, tetapi membuat pengucapan mungkin. Sebuah konsep teologis yang, jujur saja, terlihat cukup modernis—hampir seperti Tuhan mendaftar program doktoral di bidang semantik generatif.


Doa sebagai Peristiwa Linguistik

Jika Tuhan adalah kata kerja tak terkonjugasi, doa menjadi upaya manusia mengonjugasinya—upaya yang selalu gagal. Ketidakberhasilan inilah yang justru menciptakan dinamika spiritual: manusia terus mengulang doa, bukan karena jawaban tidak datang, melainkan karena struktur bahasa memang tidak memungkinkan "penyelesaian".

Dengan demikian, doa bukan transaksi, melainkan event. Ia terjadi sebagai tindakan simbolik yang menegaskan relasi manusia dengan ketakterjangkauan. Doa sebagai kalimat yang menggantung menunjukkan bahwa relasi spiritual bersifat performatif, bukan informatif: doa tidak menyampaikan kebenaran, tetapi memproduksi kondisi batin yang memungkinkan manusia bersentuhan dengan yang tak terkatakan.


Teologi sebagai Tata Bahasa Eksistensial

Wacana ini pada intinya memindahkan teologi ke ranah linguistik dan semiotik. Tuhan tidak dipahami sebagai substansi, tetapi sebagai struktur; bukan sebagai entitas, melainkan sebagai relasi. Ia hadir bukan sebagai objek kepercayaan, melainkan sebagai kerapuhan dan kelenturan bahasa yang membuka kemungkinan makna.

Dengan demikian, ungkapan bahwa Tuhan "menunggu sebagai kata kerja yang belum ditentukan" dapat dibaca sebagai metafora paling ringkas tentang kondisi manusia modern: hidup dalam penantian makna yang belum kukuh, hidup dalam tata bahasa eksistensial yang tak pernah selesai. Dan seperti dalam sintaksis, kadang yang paling menentukan bukan kata-kata itu sendiri, melainkan ruang kosong di antaranya---ruang yang justru membuat seluruh kalimat berdiri.

Kalaupun Tuhan memang bersembunyi dalam sintaksis, maka mungkin tugas kita bukan menemukan-Nya, melainkan belajar membaca dengan lebih teliti---dan menerima bahwa sebagian tanda memang diciptakan bukan untuk dituntaskan, melainkan untuk ditafsirkan tanpa akhir.

***

Tuhan di Dalam Sintaksis: Renungan tentang Bahasa, Ketakterjangkauan, dan Keintiman yang Sunyi


Ada sesuatu yang menggugah dalam gagasan bahwa Tuhan tidak tinggal di dunia, tidak berdiam di surga, melainkan bersembunyi di dalam sintaksis. Gagasan ini menggoyahkan intuisi dasar kita tentang kehadiran: alih-alih menatap langit atau menyelam ke kedalaman batin, kita justru diajak menelusuri ruang-ruang kecil dalam bahasa—celah tipis antara subjek dan predikat, tempat segala kemungkinan bermula.

Mungkin di sanalah Tuhan memilih berdiam, pada wilayah yang tidak pernah sepenuhnya kita sadari, tetapi selalu kita gunakan. Tempat paling dekat—tetapi paling luput.


Bahasa sebagai Ruang Pertemuan

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah rumah tempat pikiran kita tinggal. Jika Tuhan bersembunyi dalam sintaksis, itu berarti Ia berada tepat di dalam proses bagaimana kita membangun dunia: saat kita memilih kata, menimbang makna, atau merasakan getaran yang tidak bisa dijelaskan ketika satu kalimat tiba-tiba terasa tepat.

Kehadiran Tuhan di situ—di antara subjek dan predikat—memberi isyarat bahwa transendensi merembes melalui struktur paling sehari-hari: cara kita merangkai pengalaman menjadi ujaran. Kita mungkin tak pernah melihat-Nya sebagai objek, tetapi mungkin kita menyentuh-Nya setiap kali mencoba memahami sesuatu.

Singkatnya, Tuhan ikut hadir ketika kita berusaha membuat dunia dapat diucapkan.


Ketakterucapan sebagai Pengingat Kerapuhan

Pernyataan bahwa doa adalah "kalimat yang menggantung" membawa renungan yang lebih dalam: mungkin pengalaman religius memang selalu berupa ketidaklengkapan. Kita memanggil, tetapi tidak pernah benar-benar tahu kepada siapa kita berseru atau apakah seruan itu mencapai tujuannya.

Namun justru karena ketidakpastian itu, doa menjadi jembatan. Kalimat yang menggantung bukanlah kelemahan, melainkan pengakuan jujur bahwa bahasa punya batas, dan di batas itulah kita menyadari betapa terbatasnya diri sendiri.


Ketidaklengkapan adalah bentuk kerendahan hati.

Dan siapa tahu, mungkin Tuhan senang berdiam di ruang yang belum selesai---karena di sanalah manusia akhirnya berhenti berpura-pura memahami segalanya.


Ruang Kosong sebagai Kehadiran

Dalam setiap kalimat, ada jarak antara nama dan tindakan, antara siapa dan apa yang dilakukan. Jarak itu kecil, tetapi menentukan. Tanpa ruang itu, bahasa tidak bisa bekerja. Dan boleh jadi, di situlah Tuhan bertempat: bukan sebagai isi, melainkan sebagai jembatan; bukan sebagai kata, melainkan sebagai kemungkinan kata.

Kehadiran yang tidak mencolok seperti ini mengingatkan bahwa keilahian mungkin tidak bekerja melalui gejolak, keajaiban, atau tanda dramatis, tetapi melalui struktur halus yang memungkinkan kita memahami dan dipahami. Tuhan bukan metafora dari kata yang besar---Tuhan adalah kondisi memungkinkan bagi kata.

Ada sesuatu yang indah di situ: kehadiran yang tidak menuntut perhatian, tetapi selalu memungkinkan hubungan.


Manusia sebagai Makhluk yang Mencari Makna

Jika doa adalah kalimat yang menggantung, maka manusia adalah makhluk yang hidup dalam kalimat yang belum selesai. Kita selalu sedang dalam proses: mencoba mengutarakan diri, meraba dunia, menafsirkan ulang pengalaman.

Bahwa Tuhan berada dalam sintaksis berarti Tuhan hadir dalam pencarian itu. Bukan sebagai jawaban final, melainkan sebagai energi yang mendorong pertanyaan. Bukan sebagai kepastian, melainkan sebagai dorongan untuk tetap mencari meski tidak akan pernah sepenuhnya menemukan.

Kita bukan disuruh tiba. Kita disuruh terus menyusun kalimat.


Mencari Tuhan dengan Membaca Lebih Teliti

Pada akhirnya, wacana ini menyodorkan kesadaran yang lembut tetapi tajam: jika Tuhan bersembunyi dalam sintaksis, mungkin perjumpaan dengan-Nya tidak terjadi pada momen-momen luar biasa, tetapi pada gerak sunyi ketika kita berupaya mengungkapkan dunia.

Pada koma yang kita letakkan dengan ragu.
Pada kata kerja yang kita tunda.
Pada kalimat yang terasa begitu dekat tetapi tidak pernah sempurna.

Mungkin Tuhan memilih berdiam di sana karena di sanalah manusia menjadi paling manusiawi---rapuh, mencari, dan penuh kemungkinan. Tuhan menjadi seperti jeda: tak terlihat, tetapi tanpa jeda, kalimat tidak bisa bernapas.

Dan mungkin, di situlah keintiman sesungguhnya: bukan pada kehadiran yang megah, melainkan pada kehadiran yang hampir tak terlihat, tersembunyi di antara kata-kata yang kita ucapkan tanpa sadar, menunggu untuk ditemukan tidak oleh mata, tetapi oleh kepekaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BETAWOL