DRAFT PUISI
AMBANG
Sebelum suara
belajar menjadi bunyi,
ada getar
yang belum tahu ke mana.
Di sana
sesuatu
menunggu
tanpa objek.
Bukan aku.
Bukan juga sunyi.
Hanya ruang
yang sedang mencoba bernapas.
Lalu
kata kerja
jatuh
pelan.
Bukan untuk menamai,
melainkan
membuka.
Menjadi
bukan perintah,
melainkan
retakan pertama
di dalam diam.
Dari celah itu
waktu
mulai ragu
apakah ia harus berjalan.
Cahaya
tidak datang,
ia beralih.
Dan yang tersisa
bukan makna,
melainkan
kehadiran
yang belum selesai.
Aku tidak menulis ini.
Bahasa
sedang
berlalu
melalui tanganku.
•••
FONEM
Sebelum makna
belajar berdiri,
ada bunyi
yang jatuh
tanpa tujuan.
Ba
—bukan bayi,
bukan awal,
hanya bibir
yang hampir bertemu.
Di sela napas itu
dunia
gagal lahir
sebentar.
Lalu bunyi
mengaku
sebagai dirinya sendiri
dan keberadaan
mendapat izin
untuk bergetar.
•••
MORFEM
Aku belum utuh
ketika tiba.
Aku membawa
potongan makna
di punggungku:
ber–
–kan
–lah
Aku bukan kata,
aku kemungkinan
yang menempel.
Ketika kau menambahkan aku,
sesuatu berubah
tanpa suara.
Dunia kecil,
tetapi berbeda.
Itu cukup
untuk disebut
kejadian.
•••
SINTAKSIS
Kata-kata
berdiri
dalam antrean
yang tidak mereka pilih.
Satu maju terlalu cepat,
makna
tersandung.
Satu terlambat,
hening
mengambil alih.
Di antara urutan itu
aku menyadari:
arti bukan isi,
melainkan
posisi.
Dan keberadaan
adalah soal
siapa
berdiri
di mana.
•••
DEIKSIS
Di sini
bukan tempat.
Ia bergerak
bersama jari
yang menunjuk.
Sekarang
bukan waktu.
Ia lenyap
begitu disebut.
Aku
bukan subjek.
Aku hanya
yang sedang
berbicara.
Bahasa
menarik lantai
dari bawah kita
dan menyebutnya
konteks.
•••
SEMANTIK
Makna
tidak tinggal
di kata.
Ia bersembunyi
di jarak
antara yang dikatakan
dan yang gagal dipahami.
Setiap kali aku mengerti,
sesuatu
sudah berpindah.
Seperti cahaya
yang tiba
terlambat
di mata bintang.
•••
PRAGMATIK
Aku berkata
“diam”.
Ruangan
berubah.
Bukan karena arti,
melainkan karena
siapa yang berkata,
kapan,
dan kepada siapa.
Bahasa
tidak netral.
Ia tahu
cara
menekan tombol.
Dan kita menyebutnya
komunikasi,
padahal
itu peristiwa.
•••
METABAHASA
Aku berbicara
tentang kata
yang sedang berbicara.
Cermin
menghadap cermin.
Tak ada jalan keluar,
hanya
kedalaman.
Pada titik ini
bahasa
berhenti menunjuk
dan mulai
menatap.
Aku tidak lagi tahu
siapa yang menggunakan siapa.
Mungkin
itulah
tata bahasa
kejadian.
•••
ASPEK
Belum selesai
bukan berarti
tidak terjadi.
Aku sedang jatuh
dan itu cukup.
Tidak perlu akhir
untuk membuat dunia
bergerak sedikit.
Aspek
menahan waktu
agar kejadian
tidak cepat berlalu.
•••
MODUS
Jika aku berkata
mungkin,
dunia tidak runtuh—
ia hanya
menunggu.
Jika aku berkata
harus,
sesuatu
menyempit.
Bahasa
memilih sikap
terhadap yang ada,
dan kita menyebutnya
modus.
•••
DIATESIS
Aku memecahkan gelas.
Gelas pecah.
Pecah terjadi.
Subjek
berpindah-pindah
seperti kesalahan
yang enggan mengaku.
Tindakan
mencari siapa
yang akan menanggungnya.
Bahasa
menawarkan posisi,
bukan kebenaran.
•••
REFEREN
Aku menyebut pohon,
tetapi yang datang
hanya bayangan.
Kata
selalu tiba lebih dulu
daripada benda,
dan benda
tak pernah sepenuhnya
mengejar.
Referen
bukan tujuan,
melainkan
kerinduan.
•••
TANDA
Ini bukan hal itu.
Ini bekasnya.
Tanda
adalah luka kecil
di permukaan dunia,
tempat sesuatu
pernah lewat.
Kita membaca
bukan untuk menemukan,
melainkan untuk tahu
bahwa sesuatu
sudah pergi.
•••
ARKAIS
Kata lama
tidak mati.
Ia hanya
berpindah
ke lapisan bawah.
Di sana
ia bekerja diam-diam,
membentuk rasa
yang tak kita sadari
asalnya.
Sejarah
bernapas
melalui fonem.
•••
WACANA
Tak ada satu kalimat
yang sendirian.
Ia membawa
bayangan kalimat lain
yang pernah diucapkan,
pernah dilarang,
pernah dilupakan.
Wacana
adalah kerumunan
yang menyamar
sebagai suara tunggal.
•••
INTERTEKS
Aku membaca
dan menemukan
tanganku sendiri
di margin orang lain.
Tidak ada teks murni.
Hanya pertemuan
jejak-jejak.
Menulis
adalah mengakui
bahwa kita
selalu datang
terlambat.
•••
ARSIP
Bahasa menyimpan
lebih banyak
daripada yang kita ingat.
Setiap kata
membawa
masa lalu kecil
yang menempel.
Arsip
bukan gudang,
melainkan
cara dunia
lupa
secara teratur.
•••
KEHENINGAN
Ini bukan
ketiadaan.
Ini bahasa
yang berhenti
agar dunia
bisa lewat.
Jika kau mendengarnya,
jangan diisi.
Biarkan
ia bekerja.
•••
EROR
Kalimat ini
tidak selesai karena
Kesalahan
adalah celah
tempat kemungkinan
menyelinap.
Bahasa
tidak runtuh
saat gagal.
Ia belajar
cara lain
untuk ada.
•••
ITERASI
Aku mengulang
bukan karena lupa,
melainkan karena
belum cukup terjadi.
Setiap ulang
sedikit berbeda.
Itulah cara bahasa
mendekati
yang tak bisa disentuh
sekali saja.
•••
ADA
Aku tidak tahu
apa itu Ada.
Aku hanya tahu
ia muncul
ketika kata
berhenti menjelaskan.
Pada titik itu,
bahasa
tidak berkata apa-apa—
dan dunia
akhirnya
hadir.
•••
FONETIK MALAM HARI
Kata itu
mengunyah bunyinya sendiri
di lorong tenggorokan.
Ka-ka-ka—
bukan gagap,
hanya fonem
yang ketakutan
akan makna.
Dokter berkata:
ini normal.
Bahasa sering bermimpi
ia sedang dicekik puisi.
•••
SEMANTIK HITAM
Makna itu
tinggal di gang sempit
tanpa alamat.
Setiap kali kucari,
ia berganti arti
dan pura-pura mati.
Kamus menutup pintu:
“Kami hanya menyimpan
yang sopan.”
Sisanya
hidup liar
di catatan kaki.
•••
DEIKSIS PARANOID
Di sini
mengintip ke mana-mana.
Sekarang
menghilang saat ditanya.
Aku
bukan aku
setelah kalimat selesai.
Bahasa menaruh kamera
di setiap kata tunjuk
dan bersumpah
tidak merekam apa-apa.
•••
DIATESIS INTEROGASI
Aku memukul kalimat itu.
Kalimat itu memukulku.
Pukulan terjadi.
Siapa pelakunya?
Bahasa mengangkat bahu
dan menuliskan laporan
dengan tinta pasif.
•••
REFERENSI HILANG
Aku menunjuk sesuatu.
Kata itu datang,
benda tidak.
Kata minta maaf:
“Aku sudah berusaha.”
Referen terakhir terlihat
lari ke arah metafor
sambil tertawa.
•••
ALOFON
Bunyi itu
mengganti wajahnya
saat lampu dimatikan.
Aku mendengar /t/,
tetapi yang datang
adalah bayangan /d/
dengan kuku panjang.
Makna bersumpah:
“Bukan aku.”
Fonologi tertawa
di belakang tenggorokan.
•••
LEKSIKON BAWAH TANAH
Ada kata
yang tidak boleh naik
ke permukaan.
Ia hidup
di sela etimologi,
berbisik
pada kata lain
saat kita tidur.
Kamus menyangkalnya.
Namun mimpi tahu
nama-namanya.
•••
KEHENINGAN STRUKTURAL
Diam
bukan kosong.
Ia penuh aturan
yang tidak diucapkan.
Jika kau melanggarnya,
bahasa tidak marah—
ia hanya
menghilangkanmu
dari kalimat.
•••
ADA (ABSTRAK)
Ada
bukan sesuatu.
Ia hanya
tekanan
sebelum kata.
Begitu disebut,
ia runtuh
menjadi makna.
Dan kita menyebutnya
dunia.
•••
SEKOLAH IKAN (VERSI YANG TIDAK LULUS AKREDITASI)
Ikan-ikan kecil
didaftarkan sebagai kata benda
dalam kalimat air.
Guru menulis di papan kaca:
DUNIA = AIR
lalu menghapus kata siapa
karena bukan bagian dari silabus.
Tata bahasa berenang lurus:
subjek di depan,
predikat di belakang,
makna diikat tali plastik
agar tidak berkutik.
Murid yang bertanya
apakah ombak itu verba
atau hanya kesalahan ejaan arus,
disuruh diam—
terlalu banyak tanda tanya
bisa meretakkan akuarium.
Di perpustakaan,
semua buku basah
dan tak satu pun bisa ditutup:
halaman-halaman terus mengalir
ke arah yang sama.
Ujian akhir bersifat objektif:
pilih satu jawaban yang benar—
A. air abadi
B. air cukup
C. air tidak bertanya
D. diam
Nilai sempurna diberikan
pada ikan
yang mampu mengucapkan dunia
tanpa membuka mulut,
dan mati tanpa mengubah definisi.
•••
LITURGI TATA BAHASA
Pada mulanya adalah kata,
dan kata itu dikoreksi.
Iman diukur
dari kepatuhan pada ejaan.
Mereka yang berdoa
dengan metafora
dituduh bidah stilistika.
Tuhan direvisi
menjadi catatan kaki.
•••
ARSIP TUBUH
Tubuh disimpan
sebagai dokumen.
Tulang diberi nomor,
darah diringkas
menjadi abstrak penelitian.
Rasa sakit
dianggap lampiran opsional
yang sering hilang.
Sejarah mencatat:
tubuh pernah hidup,
tetapi sumbernya
tidak dapat diverifikasi.
•••
LOGIKA RUANG TUNGGU
Semua orang menunggu
tanpa tahu apa.
Kursi disusun
menurut alfabet nasib.
Nomor antrean
lebih tua dari waktu.
Panggilan tidak pernah datang,
tetapi ketidakhadiran
tetap dicatat.
•••
PROSEDUR STANDAR BERMIMPI
Mimpi wajib mengikuti format:
Pembuka jelas,
konflik terukur,
akhir tidak ambigu.
Mimpi yang kabur
dikembalikan ke alam bawah sadar
untuk diperbaiki.
Subjek terbangun
tanpa imajinasi.
•••
EPITAF UNTUK BAHASA
Di sini berbaring bahasa,
mati bukan karena diam,
melainkan terlalu sering digunakan.
Makna-makna setia
ikut dikuburkan
tanpa upacara.
Bunga dilarang,
metafora bisa tumbuh sembarang.
•••
KURSUS SINGKAT MENJADI DIAM
Hari pertama:
belajar tidak menjawab.
Hari kedua:
tidak bertanya.
Hari ketiga:
tidak berpikir keras—
cukup berpikir aman.
Peserta lulus
ketika tidak lagi
terlihat ada.
•••
KITAB SUCI (EDISI REVISI)
Ayat-ayat dipangkas
agar efisien.
Mukjizat diubah
menjadi keterangan tambahan.
Segala paradoks
diberi tanda perlu klarifikasi.
Kitab tetap suci,
hanya isinya
lebih mudah dipatuhi.
•••
SAKRAMEN SUNYI
Sunyi dibagikan
seperti roti.
Umat menelannya
tanpa suara.
Yang menanyakan rasa
dianggap kurang percaya.
Sunyi bekerja perlahan,
mengenyangkan
tanpa makna.
•••
KREDO DALAM KURUNG
Aku percaya
(pada yang diizinkan).
Aku tunduk
(pada definisi resmi).
Aku ragu
(hanya secara internal).
Kredo ini sah
karena semua keberatan
sudah diberi tanda kurung.
•••
TATA IBADAH HURUF BESAR
Nama-Nya ditulis
dengan kapital penuh.
Huruf kecil dianggap
kurang hormat.
Siapa pun yang menyebut Tuhan
tanpa tipografi tepat
dianggap merendahkan
Yang Mahatinggi dan editor.
Sebab kesucian
diukur dari format.
•••
DOA IMPERATIF
Berilah kami hari ini
jawaban yang jelas.
Jauhkan kami dari metafora,
karena kami lemah tafsir.
Lindungi kami dari makna ganda,
dan dari pertanyaan
yang tidak punya pilihan ganda.
Amin.
(Tidak perlu tambahan.)
•••
PENYESALAN RESMI
Kami menyesal
atas pertanyaan berlebih.
Kami bertobat
dari tafsir pribadi.
Kami kembali
ke makna bersama
yang sudah diuji
dan disederhanakan.
Ampuni kami
karena sempat berpikir.
•••
CATATAN AKHIR
Ibadah selesai.
Tuhan tidak berkomentar.
Bahasa merapikan altar.
Dan iman pulang
dengan rapi,
tanpa luka,
tanpa pertanyaan—
tanpa Tuhan.
•••
SYARAT SAH DOA
Doa sah apabila:
tidak ambigu,
tidak personal,
tidak berlebihan.
Doa yang putus asa
ditandai emosional.
Doa yang jujur
ditangguhkan.
Doa yang patuh
diproses lebih jauh.
•••
PENGAJIAN DEFINITIF
Hari ini dibahas:
arti “kehendak”.
Kesimpulan:
kehendak adalah apa pun
yang terjadi.
Pertanyaan lanjutan
dihentikan demi ketertiban.
Diskusi dinyatakan selesai
sebelum dimulai.
•••
DOA DENGAN BATAS KARAKTER
Doa dibatasi
maksimal seratus kata.
Air mata tidak dihitung
sebagai argumen.
Permohonan yang panjang
dicurigai tidak efisien.
Tuhan membaca ringkasan,
lalu melewatkan sisanya.
•••
PENJELASAN RESMI TENTANG MISTERI
Misteri dijelaskan
seperlunya saja.
Bagian yang tidak bisa dijelaskan
dinyatakan suci.
Dengan begitu,
ketidaktahuan terdengar
seperti kebajikan.
Umat pulang
dengan kepala tenang
dan iman kosong.
•••
DOA YANG TERLALU JELAS
Kami berdoa.
Tanpa simbol.
Tanpa perumpamaan.
Tanpa risiko salah tafsir.
Tuhan mendengar
dengan baik,
lalu tidak menemukan
alasan untuk datang.
•••
TEOREMA KETIADAAN
Jika sesuatu tidak dapat dibuktikan,
ia tetap mungkin ada.
Jika dapat dibuktikan,
ia menjadi objek.
Keduanya sama-sama
kehilangan keajaiban.
Kesimpulan:
iman dan logika
saling membunuh
dengan sopan.
•••
TEOREMA KETIDAKLENGKAPAN
Dalam sistem yang cukup kuat,
ada kebenaran
yang tidak bisa dibuktikan.
Bukan karena salah,
melainkan karena
sistem terlalu kecil.
Logika menunduk.
Keheningan menang
tanpa pembuktian.
•••
EPITAF UNTUK ANGKA
Di sini berbaring angka.
Ia mati
bukan karena salah,
melainkan karena dipercaya
terlalu jauh.
Dunia masih berjalan,
tetapi sekarang
tanpa alasan.
•••
BIOLOGI
Tubuh tidak setia pada kesadaran.
Ia menua, berubah, rusak tanpa izin.
Bukan karena membenci,
melainkan karena hidup
tidak pernah berniat
untuk abadi.
•••
GRAVITASI
Bukan cinta yang menarik,
melainkan massa.
Yang berat jatuh ke pusat,
yang ringan terlempar.
Alam semesta tidak memilih—
ia hanya konsisten
dalam ketidakpedulian.
•••
HUKUM PERTAMA
Segala sesuatu
ingin tetap seperti adanya.
Termasuk penderitaan.
Perubahan membutuhkan gaya,
dan tidak semua orang
cukup bermassa
untuk diberi dorongan.
•••
PERSAMAAN
Jika aku menderita
dan kau juga,
maka kita setara.
Persamaan dinyatakan seimbang
meski kedua ruas sama-sama berdarah.
Keadilan tercapai
ketika rasa sakit dan Isak tangis
saling meniadakan di papan tulis.
•••
PETA
Peta tidak pernah berbohong.
Ia hanya memilih
apa yang pantas diketahui.
Dan kita percaya,
karena lebih mudah
menyalahkan ruang
daripada sejarah.
•••
SKALA
Skala menentukan
apa yang layak terlihat.
Kuburan massal
mengecil jadi titik.
Rumah sakit jadi ikon.
Luka hilang
bukan karena sembuh,
melainkan karena diperkecil.
•••
DONGENG YANG MENUNGGU DI AMBANG PINTU
Sebelum huruf diajarkan,
orang-orang tua di desa suka bilang
bahwa dunia sudah punya bahasa sendiri—
bahasa yang hanya mau muncul
bila seorang anak berjalan tanpa takut.
Mereka berkata,
di hutan sebelah sungai
tinggal roh kecil bernama Serat-Angin,
yang mengajari anak-anak
bagaimana menakar rasa penasaran
dengan menimbang daun di telapak tangan.
Kadang, bila malam sedang murah hati,
bayangan pohon membentuk cerita
tentang raksasa yang lupa marah,
atau peri yang kehilangan nama
lalu meminjam nama dari batu sungai.
Anak-anak mendengar semuanya
dengan mata lebar seperti jendela.
Dan ketika huruf akhirnya tiba,
mereka menggunakannya
untuk menuliskan kembali kisah-kisah itu—
bukan karena diwajibkan,
melainkan karena dongeng-dongeng itu
meminta tempat untuk tinggal
di buku kehidupan.
•••
SEPATU BUTUT
Pak Jassin, tukang reparasi sepatu,
punya sepasang sepatu butut
yang tidak pernah ia jual.
Konon sepatu itu bisa memanggil pulang
langkah-langkah yang hilang—
langkah yang sempat tertahan
oleh ketidakberanian,
atau dipupuskan oleh hidup
yang tidak pernah memihak.
Jika seseorang memakainya,
ia akan merasakan langkah-langkah kecil
menyusul dari belakang,
seperti riwayat yang ingin
diberi kesempatan kedua.
Seorang ibu pernah mencobanya,
dan mendengar langkah putranya
yang sudah merantau sepuluh tahun
ikut berjalan di sampingnya,
walau tak ada siapa pun di sana.
Ia menangis,
bukan karena takut,
melainkan karena sepatu itu mengingatkan:
yang terbuang tidak selalu hilang,
kadang hanya menunggu
tempat untuk kembali berjalan.
Sukabumi, 2021
•••
ETIMOLOGI DOA
Doa berasal dari bunyi
yang tidak tahu ke mana
ia mesti menggema.
Kemudian Tuhan
mengumpulkannya
seperti koin yang jatuh
di lantai sejarah.
•••
GRAMATIKA KASIH
Tuhan tidak menulis kalimat lengkap.
Ia menyisakan ruang.
Manusia mengisinya
dengan takut,
dengan harap,
dengan salah paham
yang tulus.
Kita menyebutnya doa,
padahal hanya bahasa
yang lelah menanggung makna.
Setiap kata gugur sebelum tiba,
tetapi jatuhnya didengar telinga.
•••
bayang-bayang
untuk V
bayangmu
terpecah berkeping
di ruang seribu dinding
kipas tua di kamar indekos
berderit keras menahan napas
dalam celsius yang bengis
jarum jam menggigit udara
sementara aku
menulis huruf-huruf yang terhambur
dari bibir yang tak sanggup berujar
dalam temperatur yang getir
suara-suara yang hilang
meminjam matamu
menatapku dari arah
yang tak kukenal
di sini, awal adalah akhir
dan akhir adalah jeda
di antara kita
yang selalu menunggu kata
yang tak mungkin tiba
bandung, 2011
•••
TATA BAHASA KEJADIAN
Sebelum apa pun disebut,
Tuhan berdeham pelan.
Lalu Ia menaruh kata kerja
di tengah kekosongan.
"Menjadi."
Seketika segalanya
menjelma puisi.
Sukabumi, 2026
•••
ABJAD PERTAMA
Tuhan bangun paling pagi.
Ia meniup debu
dari mulut sunyi.
Lalu berkata pelan—
bukan perintah,
melainkan gagap pertama
sebuah kata.
Cahaya mencium lidah dunia.
Huruf belum ada.
Makna masih belajar meraba.
Sukabumi, 2026
•••
GEOMETRI YANG MENGUNYAH SUDUTNYA SENDIRI
Masa kecil adalah segitiga
yang menolak memenuhi jumlah 180 derajat.
Kadang jadi 200,
kadang jadi 17,
kadang mogok total—
menyatakan bahwa
sudut berhenti bekerja
dan memilih libur panjang.
Garis tidak lurus—
ia membelot,
membentuk simpul,
lalu tertawa miring,
mengajak titik menari
tanpa alamat,
tanpa koordinat.
Permainan adalah kurva fraktal
yang berlipat,
mengulang luka
sembari mengunyahnya,
tumbuh—
dan sembuh—
serupa tawa
yang tak mau dewasa.
Huruf akhirnya datang
sebagai bangun datar teratur,
dengan rahang definisi
dan gigi regulasi.
Namun anak-anak sudah tinggal
di ruang yang lebih dulu
mengunyah sudut-sudut itu
bulat-bulat,
menelannya,
lalu berserdawa
tanpa suara.
Sukabumi, 2026
•••
SEMANTIK LUKA
Aku mencoba memahami 'aku'
sebagai makna yang berpindah tempat.
Namun setiap tafsir
membuka luka baru di huruf pertama.
Barangkali aku tak butuh arti,
cukup tanda baca
yang bisa menutup rahasia
dengan tanda koma.
Sukabumi, 2026
•••
KOSAKATA YANG TUMBUH DI KEBUN RAHASIA
Sebelum huruf dikenal,
kosakata dunia tumbuh liar
di kebun rahasia
tempat cahaya berbicara.
Ada kata yang berbentuk kupu-kupu,
hinggap di pundak lalu menghilang.
Ada kata yang berakar di tanah basah,
memerlukan dua musim hujan
untuk mengerti artinya.
Ada kata yang melompat
seperti anak rusa,
tak bisa ditangkap
kecuali oleh tawa.
Anak-anak memetik kata-kata itu
tanpa tahu bagaimana mengeja;
mereka hanya memahami
bahwa setiap kata memiliki rasa,
suhu, dan ritme sendiri.
Ketika alfabet akhirnya datang
untuk memberi nama,
dunia tersenyum:
nama hanyalah pakaian,
tetapi makna sudah lama tumbuh
di kebun yang tak terjamah.
Sukabumi, 2026
•••
SEBELUM ALFABET MENGIKAT SEPATU
Sebelum huruf belajar berbaris rapi,
anak-anak sudah jadi penyair kecil
yang mencatat awan dengan telunjuk.
Mereka menuliskan dunia
di papan tulis tak terlihat—
tempat coretan liar
dianggap risalah penting.
"Biarkan mereka jatuh cinta
kepada rumput dahulu,
baru nanti kepada buku," kata Bu Guru.
"Sebab apa gunanya 'A' dan 'B'
tanpa petualangan yang membuat dada
berdebar seperti tanda tanya?"
Sukabumi, 2026
•••
TUBUH DAN TANDA
Tuhan bersembunyi
di sela napas,
di koma yang menahan isak,
di titik yang membuat doa
tak terasa tergesa.
Sukabumi, 2026
•••
SINTAKS MELAWAN ISTANA
Di negeri ini,
kata kerja dipenjara tanpa subjek,
karena bertindak dianggap makar
jika tak diawali "izin atasan".
Presiden adalah tanda titik.
Menghentikan kalimat
sebelum rakyat sempat beristirahat.
Parlemen sibuk mengamendemen koma,
agar jeda penderitaan
terlihat seperti gaya bahasa,
bukan jerit ketakutan
yang lupa caranya disusun.
Kami, rakyat,
hanyalah imbuhan terikat:
di-, ke-, dan ter-
selalu menempel pada kesalahan,
menempel pada laporan,
menempel pada tuduhan,
tak pernah berdiri sebagai nomina merdeka.
Dalam Kamus Resmi Negara,
lapar disinonimkan dengan sabar,
upah diterjemahkan sebagai doa,
dan keadilan
diberi catatan kaki:
"lihat juga:
lihat juga:
lihat juga—
mitos."
Bahasa dipaksa sopan,
bahkan saat perut kami tak mengerti tata bahasa.
Kami dilarang menggunakan tanda seru,
karena emosi dianggap
kekeliruan ejaan.
Maka kami memberontak
dengan kesalahan gramatikal.
Kami rombak struktur.
Kami rusak SPOK.
Kami biarkan predikat mendahului negara.
Kalimat-kalimat liar turun ke jalan:
tanpa subjek,
tanpa izin,
tanpa sensor redaksi.
Puisi ini pun melanggar aturan:
ia tertawa di pemakaman logika,
menyebut tirani sebagai
kata sifat busuk
yang tak layak diwariskan
ke anak kalimat.
Jika kekuasaan adalah bahasa baku,
maka kami memilih dialek luka,
aksen marah,
dan logat perlawanan
yang tak bisa dibakukan.
Karena terkadang,
revolusi paling berbahaya
bukan datang dari senjata,
melainkan dari satu kalimat sederhana
yang menolak diakhiri
oleh titik kekuasaan.
•••
MORFOLOGI PENJARA
Negara memotong kata
seperti sipir memotong waktu kunjungan.
Akar kata kami dicabut,
disisakan imbuhan perintah:
harus-, wajib-, demi stabilitas-.
Kata rakyat mengalami afiksasi berlebihan
hingga maknanya bengkak
dan tak bisa lagi berjalan.
Sementara kata elite
tetap telanjang,
tak tersentuh prefiks tanggung jawab.
Di sel bahasa,
kami belajar satu hal:
yang bebas bukan makna,
melainkan siapa yang menafsirkannya.
•••
FONOLOGI KEKERASAN
Suara sepatu aparat
adalah aliterasi paling fasih:
duk duk duk—
ritme demokrasi dipukuli sampai sinkope.
Teriakan dipatahkan
menjadi fonem tak bermakna.
Tangis direduksi
jadi gangguan suara latar.
Negara mencintai keheningan,
bukan karena damai,
melainkan karena sunyi
tak bisa bersaksi.
Kami belajar berteriak
tanpa suara,
menggetarkan makna
langsung ke tulang dada.
•••
BAHASA SETELAH NEGARA
kata
kata
kata
jatuh dari mulut
seperti gigi tua
tak lagi tahu rahang siapa
subjek mati duluan
predikat menyusul
objek dikubur massal
oleh kalimat resmi
tinggal keterangan:
di bawah,
sejak kapan,
entah sampai kapan
negara berkata:
tenang
namun tenang tidak punya arti
selain tidak bergerak
agar mudah dihitung
kami berbicara
tanpa bahasa
karena setiap kata
sudah direkrut
menjadi aparat
•••
PUISI TANPA IBU BAHASA
aku lahir
tanpa tata bahasa
tanpa bahasa ibu
karena ibuku dibungkam
oleh ejaan resmi
aku belajar berbicara
dari luka
yang tidak tahu metafora
selain perih yang nyata
kalimatku pincang
tetapi berjalan lebih jauh
daripada pidato
yang berdiri megah
tetapi kosong
•••
DIALEKTIKA YANG MOGOK KERJA
tesis: kami lapar
antitesis: negara kenyang
sintesis: statistik
filsafat dibeli murah
lalu dipakai menambal lubang
di pidato yang bocor
kami menolak berpikir maju
kami berpikir miring
karena lurus
sudah dipagari
Hegel mati lagi
melihat ini
•••
PUISI YANG SENGAJA GAGAL MENJADI PUISI
ini bukan metafora
ini sisa kalimat
yang tak laku di pasar ide
tidak ada keindahan
selain fakta bahwa
ia masih berdiri
jika puisi harus indah
agar sah
maka luka kami ilegal
sejak awal
puisi ini tidak minta dibaca
ia hanya ingin
tidak dihapus paksa
oleh negara
•••
EPISTEMOLOGI MULUT TERTUTUP
kami tahu
karena dilarang tahu
kami paham
karena disuruh bodoh
pengetahuan datang
bukan dari buku
melainkan dari celah
antara larangan dan kebutuhan
di situlah kesadaran tumbuh
kurus,
keras kepala,
dan sulit dijinakkan
•••
BAHASA TANPA MASA DEPAN
tidak ada rencana lima tahun
untuk kata-kata ini
tidak ada visi
tidak ada roadmap
hanya langkah tergesa
menghindari sepatu kekuasaan
bahasa ini hidup hari ini
karena besok
terlalu diawasi
•••
NEGARA SEBAGAI LELUCON YANG TERLALU PANJANG
Di negeri ini,
bahasa tidak lagi dipakai untuk berbicara
tetapi untuk menutup mulut
dengan senyum resmi.
Kata-kata dilatih baris-berbaris,
diajari hormat kepada kebohongan,
lalu diberi seragam makna
agar tampak sah saat menindas.
Pemerintah berbicara panjang
untuk mengatakan satu hal:
tenang, semua terkendali—
padahal yang dikendalikan
hanya mikrofon.
Korupsi bukan kejahatan,
ia hanya metafora yang terlalu jujur.
Uang berpindah tangan
seperti kata ganti orang ketiga:
selalu disebut,
tak pernah diakui.
Kami hidup di antara istilah-istilah besar:
stabilitas, pembangunan, demi kepentingan nasional,
kata-kata raksasa
yang kakinya menginjak rumah kami
tanpa pernah melihat ke bawah.
Humor menjadi gelap
karena realitas lebih dulu mematikan lampu.
Kami tertawa bukan karena lucu,
melainkan karena jika berhenti tertawa
kami harus mulai berteriak—
dan teriakan mahal izinnya.
Bahasa rakyat retak,
dipenuhi jeda aneh,
kalimat setengah jadi,
seperti hidup yang selalu diganggu
oleh konferensi pers.
Kami belajar satu hal penting:
tirani paling efektif
tidak melarang kata,
ia membiarkannya hidup
tanpa arti.
Maka perlawanan tidak datang
dalam slogan bersih
atau kalimat sempurna,
tetapi dalam gumaman,
ironi,
dan tawa yang terdengar salah tempat.
Kami merusak makna
karena makna sudah lebih dulu dirusak.
Kami menertawakan kekuasaan
karena itu satu-satunya cara
membuatnya terlihat kecil.
Dan di antara puing-puing bahasa ini,
kami berbisik satu sama lain—
bukan janji,
bukan manifesto,
hanya kesadaran bersama:
bahwa negara takut
bukan pada senjata,
melainkan pada rakyat
yang berhenti percaya
pada cerita resminya.
Puisi ini tidak menawarkan solusi.
Ia hanya menolak ikut serta
dalam sandiwara yang sama.
Kadang,
penolakan adalah bentuk bahasa
yang paling jujur.
•••
TEORI KONSPIRASI YANG TERNYATA KEBIJAKAN
Dulu kami curiga,
sekarang kami membaca peraturan.
Apa yang dulu disebut paranoia
kini dicetak rapi di lembar negara.
Pengawasan dinamai perlindungan,
pembungkaman dinamai keamanan,
pencurian dinamai prosedur.
Jika ini semua lelucon,
mengapa tiketnya mahal
dan keluarnya sulit?
•••
FILSAFAT ANTREAN PANJANG
Kami berdiri
lebih lama dari janji kampanye.
Di antrean,
kami belajar metafisika sederhana:
waktu bergerak lambat
untuk yang menunggu,
dan sangat cepat
untuk yang sudah di dalam.
Petugas berkata: sabar,
kata yang tidak pernah dipakai
oleh mereka
yang mengucapkannya.
•••
PUISI YANG TIDAK INGIN MENJADI HARAPAN
Harapan terlalu sering dipakai
untuk menunda tanggung jawab.
Puisi ini memilih pesimis
dengan jujur,
daripada optimis
dengan sponsor.
Ia tidak berkata
“semua akan baik-baik saja”,
karena itu kalimat
yang paling sering berkhianat.
Ia hanya berkata:
kami masih di sini,
dan itu sudah cukup
untuk membuat kekuasaan
menutup mulut.
•••
KEBUN BINATANG BERNAMA NEGARA
Singa duduk di kursi kaca,
menyebut dirinya penjaga rimba,
padahal ia tak pernah berburu
selain anggaran.
Kera-kera pintar
menghitung pisang dengan kalkulator,
lalu menyebutnya konservasi.
Burung beo dilatih bicara:
“demi stabilitas, demi stabilitas,”
hingga lupa
bagaimana suara angin terdengar.
Rakyat adalah kura-kura
yang diminta berlari,
lalu disalahkan karena lambat.
Setiap malam,
penjaga kebun berkata:
semua hewan aman.
Yang tidak aman
adalah yang berpikir
kandang ini bisa dibuka.
•••
PATUNG
Mereka mendirikan patung
dari janji yang mengeras.
Katanya untuk mengenang,
padahal untuk menutup
kuburan yang belum selesai digali.
Setiap retak ditambal
dengan cat patriotik.
Setiap kritik
disebut lumut liar.
Aneh:
patung itu lebih dijaga
daripada manusia
di sekitarnya.
•••
DOA YANG DIKELOLA NEGARA
Kami diajari berdoa
dengan bahasa resmi.
Tuhan dipanggil
seperti pejabat tinggi:
jauh, sibuk,
dan hanya bisa diakses
oleh yang punya kartu khusus.
Jika doa tak terkabul,
bukan sistem yang salah—
imanmu kurang sesuai regulasi.
Surga dijanjikan
sebagai kompensasi
atas neraka yang rapi
di bumi.
•••
BENDERA
Bendera dikibarkan
untuk menutup pandangan.
Di bawahnya,
tangan-tangan sibuk
bertukar sesuatu
yang tidak pernah
masuk buku sejarah.
Siapa pun yang menunjuk ke bawah
dituduh tidak mencintai warna.
Padahal
yang kami pertanyakan
bukan kainnya,
melainkan apa
yang disapu ke bawahnya.
•••
PARA DEWA ADMINISTRASI
Di puncak gunung bernama Arsip,
tinggallah para dewa
dengan wajah manusia
dan tangan penuh stempel.
Dewa Prosedur memakan korban
bukan dengan api,
melainkan formulir yang tak selesai.
Dewa Stabilitas
mengutuk desa-desa
agar selalu hampir sejahtera,
tak pernah cukup untuk memberontak.
Setiap doa harus lewat loket.
Setiap keajaiban
menunggu tanda tangan.
Para imam berkata:
ini kehendak langit.
Padahal langit
sudah lama berhenti bicara
sejak namanya dipakai
untuk membenarkan segalanya.
•••
NUBUAT YANG DIREVISI
Kitab tua berkata:
akan datang masa keadilan.
Kitab baru berkata:
ayat itu salah tafsir.
Para penafsir duduk melingkar,
memotong nubuat
agar muat di anggaran.
Rakyat menunggu akhir zaman,
tanpa sadar
mereka hidup di tengahnya,
hanya tanpa naga—
yang ada cuma manusia
dengan kuasa terlalu besar.
•••
JAM DINDING DI KANTOR PELAYANAN
Jam itu berdetak pelan,
hampir sopan.
Ia tidak berteriak,
tidak memukul,
tidak mengancam.
Ia hanya membuatmu menua
di kursi plastik
sambil memegang nomor antrean
yang tak pernah dipanggil.
Waktu diambil sedikit demi sedikit,
seperti pajak paling sempurna:
tanpa protes,
tanpa bukti luka.
•••
LAMPU JALAN
Lampu menyala setiap malam
di persimpangan yang sama.
Ia tidak mencegah kejahatan,
hanya memastikan
semuanya terlihat biasa.
Di bawahnya,
orang-orang belajar
bagaimana hidup dalam terang
tanpa merasa aman.
Gelap tidak berbahaya.
Yang berbahaya
adalah terang
yang membuat kita
berhenti bertanya.
•••
KURSI KOSONG
Kursi itu selalu kosong
di ruang rapat.
Tidak ada nama,
tidak ada suara.
Aneh,
semua keputusan
selalu menyenangkannya.
Tak ada yang berani duduk di sana,
karena semua tahu:
itulah tempat
yang paling berkuasa.
•••
PENGUMUMAN
Hari ini pelayanan ditutup lebih awal.
Mohon maklum.
Besok buka seperti biasa,
jika memungkinkan.
Terima kasih
atas pengertiannya.
(Catatan kecil:
hidup Anda bukan prioritas.)
•••
PELAJARAN KEWARGANEGARAAN
Anak-anak diajari
cara mencintai negara:
dengan menghafal,
bukan mempertanyakan.
Nilai tertinggi
diberikan pada yang rapi,
bukan yang jujur.
Kelak mereka dewasa
dan bingung
mengapa dunia tidak bekerja
seperti buku pelajaran.
•••
DOA PENDEK
Tuhan,
tolong jaga negeri ini
agar tetap aman.
Aman bagi yang berkuasa,
tenang bagi yang lelah,
dan sunyi bagi yang ingin bicara.
Amin.
•••
RITUAL PERSEMBAHAN TAHUNAN
Setiap tahun,
desa memilih persembahan:
bukan kambing,
melainkan akal sehat.
Ia diarak ke alun-alun,
dibakar dengan slogan,
abunya ditebarkan
ke formulir dan baliho.
Para tetua berkata:
tanpa ini, panen gagal.
Anehnya,
panen tetap gagal—
tetapi ritual
selalu dianggap berhasil.
•••
DEWA PENJAGA GERBANG
Di gerbang kota berdiri dewa
berwajah ramah.
Ia tidak menolak siapa pun,
hanya bertanya:
berapa lama kau bisa menunggu?
Yang sabar boleh masuk.
Yang lapar belajar sabar.
Yang mati dianggap
belum lengkap syaratnya.
•••
MITOS PAHLAWAN
Dulu pahlawan melawan naga.
Kini pahlawan melawan kritik.
Legenda dipersingkat
agar muat di spanduk.
Bagian tentang kesalahan
dihapus
demi kenyamanan bersama.
Anak-anak tumbuh
mengenal pahlawan
tanpa konflik,
tanpa keraguan,
tanpa manusia.
•••
NOMOR ANTREAN
Selembar kertas kecil
dengan angka.
Ia memutuskan
siapa yang didengar hari ini.
Angka itu netral,
kata petugas.
Benar.
Peluru juga netral
sebelum diarahkan.
•••
FORMULIR
Nama: __________
Alamat: __________
Keluhan: __________
Catatan:
Keluhan tidak menjamin perubahan.
Silakan tanda tangani
di sini
untuk menyatakan
Anda telah didengar.
•••
UCAPAN SELAMAT
Selamat atas pembangunan baru
di daerah Anda.
Mohon maaf
jika rumah Anda termasuk
yang terdampak.
Kemajuan memang
tidak selalu adil.
•••
DEWA PALSU
Para dewa palsu turun ke kota
tanpa kilat, tanpa wahyu,
hanya map tebal
dan senyum prosedural.
Mereka tidak meminta iman,
cukup kepatuhan harian
dan sedikit lupa ingatan.
Dewa Kemakmuran berbicara angka
yang tak pernah lapar.
Dewa Ketertiban mencintai barisan
lebih dari manusia di dalamnya.
Dewa Moral mengganti dosa
dengan pasal-pasal ganjil.
Kuil-kuil dibangun dari kebiasaan:
antrean, formulir, pidato mingguan.
Doa-doa dipendekkan
agar tidak kritis dan efisien.
Setiap kegagalan disebut cobaan.
Setiap keberhasilan disebut bukti.
Dan setiap pertanyaan
dianggap penghinaan terhadap langit.
Para dewa ini tidak meminta darah,
mereka meminta waktu—
sedikit demi sedikit,
sampai hidup terasa wajar
dalam keadaan rusak.
Mereka berkata:
kami akan selalu ada.
Dan itulah kebohongan
yang paling ingin mereka wariskan.
•••
REPUBLIK BURUNG BEO
Di alun-alun,
burung beo terlatih
mengulang kalimat yang sama
dengan intonasi berbeda.
Rakyat terharu—
mereka menyebutnya diskusi publik.
Seekor burung kecil mencoba bernyanyi
lagu lain.
Ia segera dikasihani:
“Kasihan, belum belajar bicara benar.”
•••
PETA
Peta negeri ini sangat bersih.
Tak ada kuburan,
tak ada antrean,
tak ada air mata.
Hanya garis lurus
menuju pusat.
Jika kau tersesat,
itu bukan karena peta salah,
melainkan karena kakimu
terlalu tergesa melangkah.
•••
BINATANG YANG BELAJAR DIAM
Binatang paling selamat
di negeri ini
bukan yang kuat,
melainkan yang cepat belajar
kapan harus diam.
Mereka hidup lama,
bahkan diwariskan,
hingga anak-anaknya percaya
diam adalah naluri,
bukan hasil latihan.
•••
KANDANG TRANSPARAN
Kandang dibuat dari kaca
agar tampak bebas.
Binatang-binatang bisa melihat luar,
bahkan memotretnya,
asal tidak menyentuh.
Penjaga berkata:
kalian beruntung—
kandang ini modern.
Dan semua binatang setuju,
karena tak ada kata
untuk bebas
yang masih berlaku.
•••
PABRIK BURUNG HANTU
Burung hantu dilatih terjaga
bukan untuk melihat kebenaran,
melainkan untuk mengawasi tidur orang lain.
Mata mereka besar,
suara mereka kecil.
Mereka bangga disebut bijak,
meski tak pernah bertanya
siapa yang menyalakan lampu
dan untuk siapa.
•••
ARSIP
Segalanya disimpan rapi
agar tak perlu diingat.
Arsip tidak berbohong.
Ia hanya memilih
apa yang layak bertahan.
Di rak paling atas,
tersimpan kesalahan besar—
terlalu tinggi
untuk dijangkau korban.
•••
INSTRUKSI PERAWATAN
Cuci tangan
sebelum menyentuh masalah.
Gunakan sarung bahasa
agar tidak terinfeksi empati.
Jika terjadi iritasi nurani,
hentikan penggunaan kebenaran
dan hubungi atasan.
•••
LAPORAN CUACA
Hari ini cerah
di pusat kota.
Hujan lokal
di beberapa rumah yang tak tercantum peta.
Tidak ada badai,
hanya perubahan iklim sosial
yang masih diteliti.
•••
RAJA YANG SANGAT BAIK
Dahulu ada raja
yang sangat baik
sampai semua orang
dilarang mengkritiknya.
Jika ada yang lapar,
raja berkata:
“Tenang, perutmu sedang belajar sabar.”
Jika ada yang bertanya,
raja tersenyum:
“Pertanyaan membuatmu lelah.
Tidurlah.”
Anak-anak menyukai raja itu
karena di buku pelajaran
ia selalu tertawa kegirangan.
•••
MESIN PERMEN
Di alun-alun ada mesin besar
yang mengeluarkan permen
jika anak-anak antre rapi.
Permennya manis,
tetapi selalu satu rasa.
Jika ada anak bertanya
mengapa rasanya sama,
mesin berhenti sebentar
lalu mengeluarkan poster:
Jangan Merusak Ketertiban Bermain.
Anak-anak belajar:
lebih aman mengunyah
daripada berpikir mengapa.
•••
NEGERI BALON
Di negeri balon,
semua masalah diselesaikan
dengan meniup.
Jika harga naik,
tiup balon.
Jika rumah hilang,
tiup balon.
Balon-balon makin besar
hingga menutup langit.
Anak-anak senang
karena langit tak pernah runtuh—
balonlah yang meledak,
pelan-pelan.
•••
KOTA RAPI
Di Kota Rapi,
semua rumah berwarna sama
agar tidak ada yang merasa berbeda.
Anak-anak diajari mewarnai
hanya di dalam garis.
Jika ada warna keluar sedikit,
guru berkata:
“Bagus, tetapi jangan diulang.”
Kota itu indah di foto.
Tak ada yang tahu
ke mana perginya
anak-anak yang suka mencoret.
•••
TOPENG HADIAH
Setiap ulang tahun,
anak-anak mendapat topeng.
Topengnya lucu,
tersenyum lebar.
Jika anak menangis,
ibunya berkata:
“Pakai topengmu.
Jangan rusak suasana.”
Lama-lama anak lupa
wajah mana
yang sebenarnya.
•••
SEKOLAH BURUNG MERPATI
Burung merpati belajar terbang
dalam lingkaran.
Guru berkata:
“Terbang jauh berbahaya.
Di luar sana angin tidak teratur.”
Murid terbaik
adalah yang paling jarang
mencoba ke luar lingkar.
•••
KUE UNTUK SEMUA
Ibu kota memanggang kue besar
untuk semua anak.
Kuenya dipotong rapi.
Beberapa dapat remah.
Panitia berkata:
“Yang penting semua kebagian.”
Anak-anak mengangguk,
karena mereka belum tahu
rasa kenyang selain kata.
•••
KAMUS RIMBA
Di rimba ini,
singa menyusun kamus.
Ia menetapkan:
menggeram berarti kepemimpinan,
menggigit berarti keseimbangan,
lari berarti provokasi.
Kelinci-kelinci belajar kosakata baru
agar tidak salah mati.
Mereka menghafal definisi
lebih cepat daripada melompat-lompat.
Jika ada rusa bertanya
mengapa kata adil
tidak ditemukan,
singa menutup buku
dan berkata:
itu istilah kuno,
tidak relevan dengan hutan modern.
•••
SEKOLAH IKAN
Ikan-ikan kecil
masuk sekolah akuarium.
Guru berkata:
“Air ini adalah dunia.”
Peta laut digambar
tanpa tepi.
Murid yang bertanya
tentang ombak
disuruh mengulang kelas,
karena terlalu imajinatif.
Ujian akhir sederhana:
seberapa lama kau bisa
berenang melingkar
tanpa bertanya
siapa yang menuang air.
•••
RIMBA BAHASA
Di rimba ini,
binatang tidak berlari,
mereka berkonjugasi.
Singa adalah kata kerja aktif:
memerintah, menentukan, menghapus.
Ia tak pernah berubah bentuk,
hanya subjeknya yang berganti
sesuai musim kekuasaan.
Ular adalah kalimat bersyarat.
“Jika ..., maka ...,”
melata perlahan
membuat semua keputusan
terlihat logis.
Kelinci adalah kata keterangan:
barangkali, nanti, harap maklum.
Ia cepat,
karena selalu bisa mundur
tanpa terlihat berlari.
Burung beo adalah tanda petik.
Ia mengulang suara
tanpa pernah memilikinya.
Semakin sering diulang,
semakin dianggap benar.
Burung hantu adalah catatan kaki.
Ia tahu banyak,
datang terlambat,
dan jarang dibaca.
Serigala adalah kata aman.
Ia muncul setiap malam
dan selalu lapar,
karena rasa takut
tidak pernah kenyang.
Kambing adalah objek penderita.
Kalimat selalu berjalan tanpanya,
tetapi semua kesalahan
jatuh di punggungnya.
Kura-kura adalah tanda koma.
Ia memperlambat segalanya
agar keputusan besar
tak pernah sampai titik.
Di tengah rimba
berdiri Kamus Besar.
Bukan untuk membaca,
melainkan untuk menutup kepala
yang berpikir terlalu jauh.
Suatu hari,
huruf-huruf kecil bersekongkol.
Mereka membentuk kata baru
yang belum tercantum.
Kata itu tidak keras,
tidak puitis,
hanya jujur.
Rimba gemetar.
Singa mengaum definisi.
Ular menawarkan syarat.
Beo berteriak:
“kata ini berbahaya!”
Namun kata itu sudah terucap.
Dan seperti semua makna
yang tak bisa dikurung,
ia mulai hidup—
berpindah mulut ke mulut,
menolak dijinakkan.
Di rimba bahasa,
itulah satu-satunya bentuk lema
yang benar-benar ditakuti kekuasaan.
•••
SPESIES LANGKA: PERTANYAAN
Pertanyaan dulunya burung bebas.
Kini ia dilindungi ketat—
agar tidak berkembang.
Jika tertangkap hidup-hidup,
ia dipajang di museum:
“Beginilah bentuk
rasa ingin tahu dahulu.”
Anak-anak menatap kagum,
tanpa tahu
mereka sedang melihat
nenek moyangnya.
•••
MIGRASI KATA
Saat musim berubah,
kata-kata bermigrasi.
Janji pindah ke arsip.
Harapan ke poster.
Keadilan ke puisi.
Hanya satu kata
yang tidak pernah pergi:
tertib—
ia selalu menemukan rumah
di mana pun ketakutan tumbuh.
•••
Komentar
Posting Komentar