BUNG SANTRI GAGAL
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA
Sastra itu menceritakan kehidupan orang-orang dalam suatu masyarakat, masyarakat desa ataupun masyarakat kota. Sastra bercerita tentang pedagang, petani, nelayan, guru, penari, penulis, wartawan, orang tua, remaja, dan anak-anak. Sastra menceritakan orang-orang itu dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan segala masalah yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan. Tidak hanya itu, sastra juga mengajarkan ilmu pengetahuan, agama, budi pekerti, persahabatan, kesetiakawanan, dan sebagainya. Melalui sastra, orang dapat mengetahui adat dan budi pekerti atau perilaku kelompok masyarakat.
Sastra Indonesia menceritakan kehidupan masyarakat Indonesia, baik di desa maupun di kota. Bahkan, kehidupan masyarakat Indonesia masa lalu pun dapat diketahui dari karya sastra pada masa lalu. Karya sastra masa lalu masih cocok dengan tata kehidupan masa kini. Oleh karena itu, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional meneliti karya sastra masa lalu, seperti dongeng dan cerita rakyat. Dongeng dan cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia ini diolah kembali menjadi cerita anak.
Buku Bung Santri Gagal ini terdapat pelajaran yang dapat diperoleh dari membaca buku cerita ini karena buku ini memang untuk anak-anak, baik anak Indonesia maupun anak luar Indonesia yang ingin mengetahui tentang Indonesia. Untuk itu, kepada peneliti dan pengolah kembali cerita ini saya sampaikan terima kasih.
Semoga terbitan buku cerita seperti ini akan memperkaya pengetahuan kita tentang kehidupan masa lalu yang masih cocok dengan kehidupan masa kini. Selamat membaca dan memahami cerita ini untuk memperluas pengetahuan tentang kehidupan ini.
Jakarta, Mei 2007
Dendy Sugono
•••
SEKAPUR SIRIH
Kisah Bung Santri Gagal semula adalah sebuah cerita yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1920-an, berjudul Ki Santri Gagal. Naskah ini tidak mencantumkan nama pengarangnya. Mengingat permasalahan yang digarap dalam cerita tersebut masih relevan untuk masa sekarang, maka penulis mengangkat kembali sebagai cerita anak yang cocok untuk siswa SMP.
Penceritaan kembali kisah Bung Santri Gagal ini bertujuan untuk menarik minat baca di kalangan anak-anak. Pilihan jatuh pada khazanah kesusastraan yang bersumber dari kebudayaan bangsa sendiri, agar remaja mempunyai pengimbang bagi bacaannya yang bersumber dari kebudayaan luar.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Drs. Slamet Riyadi Ali, Koordinator Penyusunan Naskah Sastra Cerita Rakyat, Pusat Bahasa, Tahun 2005, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menulis cerita ini.
Penulis
•••
1. ORANG PELIT
Inilah cerita unik tentang siswa sekolah pada masa dahulu. Waktu itu, kita masih dijajah Belanda. Bagaimana kebandelan anak-anak pada zaman itu? Bagaimana dia gagal menempuh cita-cita dan cintanya? Apa yang jadi penyebabnya? Masa itulah, zamannya kakek-nenek atau buyut-buyut kita masih kanak-kanak.
Semuanya berawal dari satu keluarga yang dikepalai oleh seorang bapak bernama Pak Elom. Dia bukan keturunan terhormat, bukan pula orang yang terlalu kaya, melainkan dari kalangan orang kebanyakan saja.
Nama Pak Elom, bukan nama asli. Dipanggil "Pak Elom" karena anaknya yang pertama perempuan bernama Neng Elom. Semua orang tak ada yang tahu, siapa nama asli orang tua Neng Elom sebenarnya. Anak bapak Elom yang kedua laki-laki, namanya Ujang Bandi.
Dia tinggal di Kampung Cikopo. Kampung ini memang terkenal sebagai kampungnya orang-orang yang berhasil. Untuk itu, orang-orang tertentu terpancing untuk merasa iri hati. Sangat berlainan dengan kebanyakan kampung di sekitarnya. Rumah-rumah di Kampung Cikopo rata-rata sudah ditembok, sedangkan rumah-rumah di kampung-kampung lain hanya terbuat dari bilik anyaman bambu. Rumah-rumah tersebut rata-rata berbentuk panggung, sebagai bentuk khas rumah-rumah adat di Jawa Barat.
Pak Elom dapat dikatakan sebagai orang yang berhasil. Luas sawahnya, luas ladangnya, bergerombol sapi dan kerbaunya. Lumbung padinya menggelembung, berderet sampai lima-enam baris. Penyebab dirinya demikian, sama sekali bukan dapat dari warisan. Sungguh, dia mendapatkannya dengan kegigihannya bertani. Sedikit pun tak terselipi barang orang lain.
Namun sudah sifat manusia, ada saja kekurangannya, Pak Elom terlalu "matre". Perasaan kaya menjadikan dirinya takut kehilangan, takut jatuh miskin. Jadilah, ia seorang yang sangat pelit. Padahal, masa kanak-kanaknya menjadi sanjungan setiap orang karena kebaikannya.
Pak Elom dikatakan orang-orang sebagai "si Bakhil" atau "si Korun". Julukan itu disebabkan cara makannya saja yang memanfaatkan beras murah yang sudah hancur dan bercampur gabah. Lauknya ikan asin peda seekor, tersisa sampai tiga-empat hari. Ikan asin itu mula-mula dipepes dibungkus daun labu, pantang dimakan habis pada kesempatan pertama. Besoknya pepes itu dihangatkan lagi dicampur ampas tahu. Penghabisan, ketika peda itu tinggal duri-duri dan kepalanya saja, ditaruhnya di atas piring, lalu dituangi air panas. Jadilah kuah pelengkap nasi. Demikian menu makannya dipertahankan sampai berhari-hari. Perbuatan itu bagi dia sudah menjadi satu kenikmatan yang besar.
Cara berpakaiannya, sungguh memalukan. Bajunya sudah bertambal-tambal, pecinya yang lusuh itu bersobekan di tepi-tepinya. Mandi seminggu sekali. Di tiap cekungan kakinya terlihat biang daki yang tebal sekali, seperti kulit katak darat saja. Apa enaknya hidup seperti itu? Bukankah hanya siksaan hidup dengan cara demikian?
Pada suatu hari, Ujang Bandi anak Pak Elom bertandang ke rumah Ki Amdani. Saat itu Ki Amdani sedang bercerita tentang masa muda Pak Elom. Ujang Bandi berada di rumah Ki Amdani sambil menyambangi sahabat karibnya, Acep Deden, anak laki-laki Ki Amdani. Mereka berdua asyik mendengarkan pengalaman orang tua itu.
"Bandi, coba dengar, ya!" kata Ki Amdani memulai. "Bapak ingin cerita tentang ayahmu. Siapa tahu ada gunanya buat kalian berdua." Lalu, Ki Amdani melanjutkan sebagai berikut.
Dulu ... dulu sekali, Pak Elom ayahmu itu, Bandi, adalah teman sepermainan saya. Sifat Pak Elom sewaktu kecil itu, sungguh amat terpuji. Ia baik, sabar, dan suka menolong orang yang kesusahan. Yang terpenting dari semuanya adalah kebiasaan berhematnya. Apakah dia suka jajan atau mengemil? Jangan salah ... tidak sama sekali!
Saya dan teman-teman sering bertanya pada dia, apa sebabnya sampai tidak pernah jajan? Jawabnya hanya satu, "kotor," katanya.
"Kalau begitu, Pak ... kenapa Juragan Lurah enggak melarang para pedagang kaki lima? Kan sudah jelas, kotoran itu biangnya penyakit?" tanya Ujang Bandi.
"Hus, lain lagi!" jawab Ki Amdani, lalu melanjutkan ceritanya.
Tak ada larang-melarang. Kalau dilarang, pedagang bakal kehilangan mata pencaharian, dong, dan tak bisa membayar pajak kepada Kangjeng Gupernemen. Tambahan lagi, para pedagang di pinggir jalan itu besar sekali pertolongannya kepada orang-orang yang sedang berpergian jauh, yaitu menyediakan makan dan minumnya. Malahan pemerintah juga menganjurkan kepada rumah-rumah di pinggir jalan supaya menyediakan sebuah gentong berisi air bersih lengkap dengan gayung dan kain penutupnya yang rapat.
Kanjeng Gupernemen bukannya tak tahu soal itu. Bahwa hasil perdagangan kaum pribumi belum banyak yang bagus pengolahannya. Beliau sesungguhnya tidak masa bodo. Justru sangat memerhatikannya. Yang terpenting baginya adalah bagaimana menumbuhkan pengertian. Bila sudah tahu soal kebersihan, sifat rajin pasti mengikuti. Nyatanya di tiap kecamatan yang dikunjungi beliau, tak berapa lama didirikanlah sekolah-sekolah, malah sudah sampai ke desa-desa.
"Tunggu, Pak. Belum ngerti nih saya! Kan di sekolah itu kabarnya hanya belajar matematik dan menulis saja?" sela Acep Deden.
"Heh, jangan salah, Nak! Di sekolah itu selain belajar menulis dan berhitung, dipelajari juga berbagai ilmu pengetahuan, seperti pertanian, bahasa Walanda, budi pekerti, menggambar, dan selain dari itu," sahut Ki Amdani.
Ujang Bandi yang benar-benar tertarik oleh cerita Ki Amdani, lalu bertanya.
"Ternyata Bapak tahu soal sekolahan, ya? Katanya orang-orang tua zaman dulu itu enggak mau sekolah?"
"Betul! Bapak enggak sekolah, tetapi karena saya sering bertanya, ya ... tak percuma tahu sedikit-sedikit tentang ilmu. Sewaktu Mas Ulis syukuran tedak siti putranya, Bapak bertanya dulu soal sekolah. Lalu beliau bercerita tentang sekolah Belanda. Kenapa Bapak banyak bertanya karena ingin menambah pengetahuan," jawab Ki Amdani.
Sudah biasa, setelah mendengar cerita Ki Amdani, pulangnya Ujang Bandi suka dibekali makanan untuk dibawa ke rumahnya. Hal itulah yang paling menggembirakan Ujang Bandi.
•••
2. KUNJUNGAN SEORANG COMBLANG
Nama istri Pak Elom adalah Nyi Sulbiah, tetapi ia cukup dipanggil Ambu Elom saja. Kedua anaknya, Neng Elom, anak perempuannya dan anak laki-lakinya Ujang Bandi, cukup mereka sayangi. Neng Elom semakin besar, semakin menunjukkan rupa yang cantik. Kulit kuning bersih seperti pisang emas dengan tubuh tinggi langsing. Tindak-tanduk dan gerak-geriknya tak seperti orang desa kebanyakan. Hal itu berkat mencontoh perilaku para tetangganya yang keturunan menak atau bangsawan.
Waktu itu, Neng Elom sedang menjadi bahan pembicaraan di seluruh kampung. Apalagi anak-anak bujangnya, setiap sore, mereka berlomba bersolek untuk memikat Neng Elom. Umur Neng Elom sudah enam belas tahun, lagi masa genit-genitnya kata orang Jakarta sekarang. Kegembiraan orang tuanya sudah tak ada bandingannya, menyaksikan anak gadisnya tumbuh demikian cepat. Berkah Tuhan juga, semakin hari semakin dewasa dan cantik.
Pada suatu malam selepas isya, Bapak Elom sekeluarga sedang berkumpul, lagi asyik merubungi lampu ajug di tengah rumah. Si bapak sibuk menganyam jala ikan. Istrinya menginang sambil mencari kutu di rambut Neng Elom. Si Bandi asyik sendiri menimang-nimang katepilnya sambil tiduran.
"Bapak!" sapa Ambu Elom pada suaminya, "Tadi siang saya melihat Ujang Onon putra Mas Parta, naik sepeda lewat depan rumah ... dan saya kaget benar. Mengapa itu anak cepat besar? Semula tak menyangka bahwa dia itu Ujang Onon, lantaran pangling. Dulu sewaktu diantarkan sekolah ke Bandung sih, masih kecil benar."
Sahut Bapak Elom, "Ah, ... benar, anak-anak zaman sekarang mah cepat besarnya ...."
"Punten!” Tiba-tiba seseorang memberi salam dari luar.
"Mangga calik!" jawab Bapak Elom.
"Silakan masuk," tambah Ambu Elom.
Pintu pun terbuka, masuklah orang yang mengetuk pintu tadi.
"Wala-walaaah ..., ternyata Kang Emad! Coba, Bu, gelar tikar dan bikin kopi panas!" perintah Pak Elom.
"Selamat berjumpa! Rasanya ... sudah lama sekali, ya? Ke mana saja?" tanya Ambu Elom sambil menggelar tikar.
"Begitulah! Akang ini kan ikut-ikut Juragan Said, ke Betawi. Menyaksikan perkara "Si Bos" dengan saudaranya, Juragan Haji Gofur, ke pengadilan hukum perdata."
"Oh ... iya, bukannya perkara itu sudah diselesaikan secara damai, kok tiba-tiba hangat lagi? Bagaimana akhirnya, Kang? Saya ingin tahu ceritanya," tanya Pak Elom.
Maka, berceritalah Kang Emad tentang pengalamannya dari awal hingga akhir, tentang majikannya yang menang perkara di Pengadilan Negeri Bandung. Setelah selesai, Pak Elom bertanya.
"Duilah. Kalau begitu, Juragan Haji ini sedang berbunga-bunga hatinya … dapat rezeki nomplok ganti rugi Rp1 miliar. Begitulah, dasar pembawaan orang kaya, ada saja jalan menambah pada kekayaannya itu. Jangan-jangan, nambah lagi istrinya? Hua ha-ha ha-ha ha-ha .... Bukankah sekarang sudah tiga?" tanya Pak Elom tertawa geli.
"Hah ..., hah-hah-hah ... ha!" Kang Emad balas tertawa, sambil menepis lutut Pak Elom, terus berkata, "Kalau menurut peribahasa, Akang ini serasa pucuk dicinta ulam tiba. Ke mana barusan si Eneng?"
"Ke dapur, lagi memasak air sama ibunya. Emang ada apa nanya-nanya si Elom?" tanya Pak Elom tak mengerti.
"Akang ini ..., sebabnya datang ke sini ... bukan tanpa tujuan. Akang membawa pesan Bos Said itu,” jawab Kang Emad. Lalu melanjutkan agak serius. "Sekiranya disetujui oleh engkau berdua ... dan cocok dengan yang bersangkutan, anak gadismu itu akan dilamar oleh Juragan Haji Said. Ia akan dijadikan istri keempat! Nah, ini sebagai tanda pengikat." Brusss ...! Setumpukan uang sebanyak Rp10 juta dijatuhkan ke atas tikar oleh Bang Emad.
"Tetapi ... nanti dulu. Apakah ... di sini sudah ada peminat si Eneng? Tetapi eu ..., itu tak boleh jadi, uang itu tak boleh dijadikan pemutus!" kata Pak Elom sambil menunjuk uang di atas tikar.
"Tadi saya bilang, bila disetujui orang tuanya serta cocok dengan yang bersangkutan, sudah cukup! Sebab yang bersangkutan sih ... wajib menuruti segala perkataan orang tuanya. Tak perlu ditanya panjang-panjang. Kata orang, tahu besok kawin pun, tak ada halangan apa-apa. Sebab kita orang tua yang punya kewajiban. Bukankah begitu?" tanya Bang Emad lagi menambahkan.
"Kalau Bapak sih ... tinggal mendoakan saja. Senang sih senang, tetapi entah kenapa, hati ini kok ragu, ya? Jangan-jangan Juragan Haji memperistri anak saya ini hanya untuk sementara saja, tidak untuk selamanya. Buktinya, di mana-mana sudah banyak bekas istrinya itu, baik yang asalnya janda maupun yang perawan. Nah, itulah yang membuat ragu," jawab Bapak Elom mengemukakan keraguan.
"Kenapa ...? Kenapa harus begitu, Pak Elom? Percayalah ... Haji Said kali ini tak akan mengecewakan si Eneng,” jawab Kang Emad meyakinkan keraguan Pak Elom.
Lalu, Bapak Elom melanjutkan, "Semakin tipis kepercayaan ini, bila ingat pada Nyi Ipik, anaknya Majasik. Kalau tak salah, dalam kenyataannya, dia dikawin oleh Juragan Haji itu hanya sebulan setengah. Hmh … bagaimana rasanya bila anak sendiri sampai begitu?" tanya Pak Elom sambil memandang wajah tamunya.
Akan tetapi, disebabkan demikian menariknya cerita Kang Emad, reka-perdayanya itu masuklah ke hati Pak Elom. Akhirnya lamaran diterimanya.
Setelah selesai bagian penting pembicaraan Kang Emad dengan Bapak Elom, muncullah dari pintu dapur Ambu Elom membawa poci. Kemudian menyusul Nyi Elom menating nampan berisi kue-kue. Ketika jamuan sudah di depan tamu, Ambu Elom menyilakan.
"Bang, silakan dicicipi. Enggak ada apa-apa, maklum orang kampung. Tak ada makanan bagus. Enggak seperti di Bandung. Ini mah sekadar lumayan saja, sekadar penawar perut kosong," tambah Ambu Elom.
"Ah! Kenapa harus merepotkan ... dan mesti gimana lagi, kue-kue begitu enaknya dikatakan sekadarnya? Ayo, mari semuanya! Nyam-nyam-nyam ...," kata Bang Emad sambil mengunyah kue.
Begitu mata Ambu Elom melirik ke arah kaki lampu minyak, ia tercengang melihat uang ratusan ribu bertumpuk.
"Bapak! Uang apa ini banyak-banyak?" tanyanya kaget kepada suaminya.
Kemudian, suaminya menceritakan dari awal sampai akhir maksud Kang Emad datang melamarkan putri mereka untuk Haji Said. Ambu Elom tidak banyak berbicara, ia hanya berkata, "Heh, soal itu sih tak bisa mendahului si Eneng!"
Neng Elom yang menguping di balik dinding, kesadarannya terasa kabur, saking tak mau dikawinkan kepada kakek-kakek, serta dimadu lagi.
Sementara itu, tamu terus berbicara hal lain. Berbicara ke sana kemari, diselingi tawa-tawa kegelian bila ada hal-hal lucu dalam obrolan itu.
Teng ... teng ... teng. Sembilan kali suara penanda waktu di jam tua Pak Elom menjadi pemicu Kang Emad untuk memastikan usahanya datang ke rumah Pak Elom.
"Eeh, ternyata sudah malam. Sekarang, Akang ingin dengar dari lisan si Eneng sendiri, coba bawa ia ke sini," kata Kang Emad sambil memerintahkan Neng Elom dibawa ke hadapannya.
Di hadapan tamu, gadis itu tak pernah menjawab apa-apa. Hanya matanya tiba-tiba sembap dan mengeluarkan air mata. Pak Elom lalu berkata.
"Eh, Nyai, sekarang sudah sampai pada nasib kamu. Sudah saatnya, Nyai dinikahi oleh Juragan Haji Said orang kaya dari Cimaung itu. Bapa dan Ambu sangat setuju karena dia kaya banyak harta bendanya, melimpah sandang pangannya. Kan di dunia ini hanya kesenangan yang dicari. Biar pun ganteng seperti Arjuna, kalau tak punya apa-apa, buat apa?"
Nyi Elom tak menjawab apa-apa, "Ah, biarkan saja dulu. Enggak usah ditanya panjang-panjang. Maklum anak gadis, suka maluan. Tetapi kita bisa menebak, kalau hatinya bersedia. Kan saking senangnya, tu-tu-tuh lihat ...! Sampai keluar air matanya," kata Kang Emad menduga-duga.
Setelah tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi, lalu tamu pamit. Sebelum pergi, ia berpesan.
"Silakan itu uang diterima dan segera menghitung-hitung hari baiknya," kata Bang Emad sambil menyalami kedua orang tua Nyi Elom. Ia pun pulang.
•••
3. RENCANA YANG MEMATIKAN
Ujang Onon, setelah selesai sekolah menengah, ia langsung dapat pekerjaan di Kantor Pos Bandung. Dia belum beristri dan mengurus makannya sendiri. Di Bandung, Ujang Onon indekos bersama kawan sepekerjaannya, malah memilih sekamar bersama.
Pada suatu hari, hari Minggu, Ujang Onon pulang ke kampung di Cikopo dengan naik sepeda. Pada masa itu sepeda adalah kendaraan pribadi yang masih dianggap mewah. Ketika sampai di sekitar rumah Pak Elom, dia terkejut melihat seorang gadis yang lagi berdiri di ambang pintu depan. Kebetulan di seberang sana, ia melihat ada warung es. Terus dia turun dari sepeda, pura-pura merasa haus, lalu duduk di bangku seraya memesan es jus asam.
Selama menyantap sirup, tatapannya terus-terusan tertuju ke arah gadis itu. Dalam benaknya, Ujang Onon berkata-kata seperti berikut, "Walaupun di Bandung ..., takkan ada perempuan cantik seperti dia! Cantik segalanya ..., dari belakang, dari samping, dari depan ... apalagi."
Demikian pula dengan Neng Elom, ketika ditatap oleh Ujang Onon, dia memalingkan muka. Akan tetapi, giliran Jang Onon menengok ke arah lain, sudut mata Neng Elom melirik Jang Onon, sambil berpura-pura mengerjakan sesuatu, … lirikan seorang gadis yang sudah terpikat. Dalam benak Neng Elom berkata, "Lebih baik saya mati menjadi burung siit, daripada tidak jadian sama dia!"
Menurut dongeng yang populer masa dulu di masyarakat Jawa Barat, burung siit uncuing berasal dari seorang laki-laki yang kehilangan kekasihnya karena direbut oleh anak raja. Karena putus asa, laki-laki itu lalu menjelma jadi burung siit yang kerjanya terbang ke sana kemari mencari-cari kekasihnya sambil berbunyi seperti bunyi burung tersebut.
Sudah setengah jam, Jang Onon mangkal di warung. Sehabis itu, ia lalu melanjutkan perjalanannya, tetapi perasaannya tergoda terus. Sebentar-sebentar menengok ke belakang. Nyai Elom sekalipun ditengok-tengok, dia seolah-olah tidak peduli. Malah terus saja masuk ke rumah. Padahal dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan bahagia.
Singkat cerita, Neng Elom dan Ujang Onon sudah berpacaran. Keduanya sudah saling berjanji akan selalu bersama sehidup-semati, saling setia. Jadi ..., sewaktu Bang Emad berkunjung ke rumahnya itu, mereka berdua sudah saling mengikat janji akan sehidup semati.
Besoknya, setelah kunjungan Kang Emad, kira-kira pukul tujuh pagi, Kang Emad mendatangi Haji Said di sawah. Dilihatnya Haji Said ada di sebuah dangau di tengah kolam, mengaso sejenak sehabis memeriksa kitri-kitri yang ditanam di sepanjang tambak. Selagi dari jauh juga, Haji Said sudah memanggil-manggil, melambai-lambaikan tangannya. Secepatnya Kang Emad sudah ada di hadapan Haji Said, duduk bersimpuh di rumput dengan perasaan ajrih.
"Bagaimana cerita tadi malam, berhasil?" tanya Haji Said.
"Kabar bagus, Pak Haji!" jawab Kang Emad.
"Coba ceritakan, bagus bagaimana?" perintah Haji Said.
Kang Emad pun berceritalah tentang kunjungannya ke rumah Bapak Elom tadi malam dari awal sampai akhir. Malah, ia melebih-lebihkan ceritanya itu supaya lebih menarik hati. Hal itu menyebabkan Haji Said tertawa terpingkal-pingkal. Sampai-sampai destarnya terlepas tak terasa. Di saat tertawa, mulutnya terlihat gelap melompong karena semua giginya sudah ompong. Saking nikmatnya tertawa, dia pun tersedak sampai terkentut-kentut.
"Bagaimana coba ..., bila dibandingkan dengan kecakepan Anom ke-3?" tanya Haji Said.
"Yaaa ..., Agan! Anom ke-3 itu kan susah tandingan dalam kecantikannya. Tetapi sama yang ini mah, bukan menyepelekan ..., tak sampai seujung kukunya. Baik kecantikannya, juga gerak-geriknya. Lebih ..., lebih … pokoknya serba lebih semuanya. Cara Nyai Elom berjalan ...? Hmh … melenggang-lenggok seperti seekor macam berjalan. Ah, pokoknya hataaaam, kata orang Garut mah!" jawab Bang Emad.
"Kalau begitu, Mad, jadi dong kaulan saya sama kamu. Dulu kan saya bilang, kalau sukses, uangmu akan turun satu-satu. Uang yang kamu jalankan itu, dalam tempo setahun menjadi satu-dua berikut bunganya. Besar kan? Sama yang lain sih, tetap sepuluh-dua belas, seperti aturan biasa," kata Haji Said menghitung utangan yang dipinjam Kang Emad sebagai upah.
"Terima kasih, Juragan. Kebaikan Agan saya junjung ke atas kepala," jawab Kang Emad.
"Bagaimana waktunya, apa sudah dihitung-hitung oleh Pak Elom?" tanya Haji Said.
"Justru belum. Pak Elom mungkin hanya menerima putusan Agan Haji saja," jawab Kang Emad.
"Kalau menurut hari baik sih, acaranya harus dalam bulan Rayagung tanggal 12. Jadi, kira-kira tinggal sebulan lagi dari sekarang. Sekarang Hapit tanggal 10, kan?" jawab Haji Said.
"Barangkali," jawab Kang Emad malas menghitung.
"E-e-eh! Kalau dipakai ngobrol sih, hari rasanya cepat sekali. Tuh lihat, sudah pukul 1.00, saatnya sembahyang. Jadi, begitu saja. Bila sudah dekat waktunya, kamu tentu kupanggil lagi," kata Haji Said berencana.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Sementara itu, semenjak pacaran, Ujang Onon hampir setiap minggu pulang ke rumahnya. Pas di depan warung es, harus berhenti. Sebab, Neng Elom biasanya ada di situ, sedang bertandang di warung bibinya. Tentang perhatiannya pada Ujang Onon, ia meminta bibinya supaya jangan diceritakan kepada orang, bahkan kepada bapaknya dan emaknya.
Pada suatu hari, hari itu Minggu, Jang Onon pulang ke kampungnya. Begitu sampai di warung itu, Neng Elom sudah ada di sana. Ia sedang terbengong-bengong dengan wajah mengiba, pucat, dan kehilangan semangat.
"Akang heran, kenapa wajahmu lain dari biasanya? Sakit?" tanya Ujang Onon.
"Ah, enggak. Enggak apa-apa," sahut Neng Elom menutupi.
"Coba, bicara terus terang saja, apa yang jadi gara-garanya sehingga kamu begitu? Walaupun disembunyikan, wajah orang yang punya masalah sih, tetap kelihatan," kata Jang Onon.
Maka berceritalah Neng Elom tentang kunjungan tamu yang datang malam itu ke rumahnya.
"Sekarang, saya terpaksa berterus terang," katanya memulai. “Pada tanggal 10 bulan Hapit, bakda isya, datang tamu ke rumah. Maksudnya mau ketemu Bapak. Saat itu, Ema, Bapak, dan saya semuanya ada di rumah. Tamu itu suruhan Haji Said yang berniat melamar saya dengan membawa uang Rp10 juta untuk pengikat. Ringkasnya, Emak dan Bapak menerima. Malah kemarin dulu, suruhan Haji Said datang lagi masuk memastikan bahwa hari kawin tanggal 12 bulan Rayagung.
Ketika Bapak bertanya tentang kesediaan saya, saya tak bisa bicara. Bibir rasanya tak bisa digerakkan, mulut serasa dibungkam. Hanya air mata yang keluar. Begitu orang suruhan itu melihat saya mengeluarkan air mata, dia bilang sama Bapak, 'Ah, biar saja enggak usah ditanya panjang-panjang, maklum anak perawan, masih malu. Kan kelihatan kalau dirinya mau, saking gembiranya, sampai bercucuran air matanya.' Hih, dia tega benar menyimpulkan demikian. Dia benar-benar keterlaluan. Apakah dia tidak tahu, perempuan juga manusia? Apakah dia tidak tahu, perempuan juga merasakan senang dan susah. Jadi, kapan saatnya, derajat perempuan bisa sama dengan laki-laki? Yaaa ..., jangan diinjak-injak begitu lah! Sampai dianggap seperti makhluk yang tidak punya perasaan!"
Setelah itu, ia pun menangis.
Setelah Ujang Onon mendengar cerita Neng Elom yang panjang lebar itu, Ujang Onon benar-benar kaget dan diam seribu bahasa. Untuk beberapa saat, ia tak dapat bereaksi. Setelah agak lama, ia baru bisa berbicara.
"Heh, Eneng! Akang menyesal benar, tetapi harus bagaimana lagi. Menurut Akang, hanya ada satu jalan. Eneng harus berterus terang bahwa Eneng tak suka dikawinkan dengan haji itu. Bila, bapakmu mengerti, ia tentu tidak jadi mengawinkan Eneng dengan Pak Haji. Tetapi, ... itulah susahnya ... karena sudah menerima uang pengikat. Ah, walaupun begitu tak jadi soal, tinggal dikembalikan saja. Seandainya, haji itu tidak menerima pembatalan dan lalu memperpanjang urusan, kita takkan kalah karena tak ada tanda hitam di atas putih," kata Ujang Onon memberi jalan keluar.
Ketika sudah lewat magrib, di rumah Neng Elom, terjadi pembicaraan antara anak dan bapak tentang perjodohan itu.
"Ayah, saya belum berniat punya suami. Bila punya suami pun, saya mau sama laki-laki yang seusia yang cocok dengan hati dan tidak beristri banyak," papar Neng Elom.
Begitu mendengar perkataan anaknya, Bapak Elom sangat marah dan sambil membentak berkata.
"He, anak kurang ajar! Pada siapa kamu mau menurut? Kalau begitu, kamu hanya memikirkan diri sendiri saja. Siapa pun yang punya pikiran sepeti kamu, bukan orang baik-baik, bukan perempuan calon ibu rumah tangga. Anak perempuan itu harus patuh pada kata orang tua saja. Beda dengan anak laki-laki. Lihat tuh Uan Entum, anaknya Seh Mubarok, tahunya akan dikawinkan kepada Seh Soleh pun sekitar dua-tiga hari sebelum hari pernikahannya. Jadi, dia baru tahu bakal suaminya itu, di waktu kawin itu saja. Nyatanya, mereka baik-baik dan bahagia."
"Yang begitu untung namanya, Ayah. Kebetulan sama-sama cintanya, sama-sama mudanya. Itulah yang disebut berjodoh. Orang tua setuju dan yang bersangkutan cocok," jawab Neng Elom. Lalu, ia melanjutkan pembelaannya.
"Bagaimana kalau kebetulan tak cocok? Yaaa, seperti saya ini, hanya dapat Datuk Meringgih. Bagaimana bisa harmonis bersuami-istri karena memang bukan pasangannya. Hal itu, sama juga dikawinkan dengan kakek sendiri. Hmhhh, maafkan saya, Ayah. Saya tidak bersedia ...!" jawab Neng Elom memberi keputusan.
"He, dasar anak tak bisa diatur .... Coba dengar yang baik. Kamu bersuamikan dia itu tentu takkan sampai kekurangan harta benda. Mau sekolah lagi juga, kamu bisa. Suatu saat nanti, bila Haji Said mati, kamu tentu dapat warisan yang banyak. Bisa jadi nambah. Sebab, dia tidak punya anak sama sekali. Selain itu, kamu tentu akan hidup terhormat. Walaupun kita bukan turunan berpangkat, kalau kaya, kita takkan sampai tidak dihargai orang. Pendeknya, mau tak mau, dipaksa, kamu harus nurut sama orang tua," seru bapaknya yang berbicara masih dalam kemarahannya.
Dikabarkan esoknya, Neng Elom jatuh sakit, sakit ulu hati. Hal itu disebabkan, dia menyesali sikap bapaknya yang tidak mau menerima alasan penolakannya. Semakin tipislah harapannya untuk berjodoh dengan Ujang Onon.
Singkat cerita, akibat sakit selama empat belas hari, Neng Elom akhirnya meninggal. Ibu-bapaknya terlihat sangat berprihatin, kecewa, dan sangat bersedih ditinggal mati anak perempuan satu-satunya.
•••
4. UANG PENGIKAT DIAMBIL LAGI
Haji Said menerima kabar bahwa Neng Elom pujaannya meninggal, penyesalanlah yang ditanggungnya karena batal menyuntingnya. Besoknya, ia menjemput Bang Emad dan mengajak ke tempat Pak Elom.
Ketika Haji Said datang di tempat Bapak Elom, tuan rumah terlihat sedang duduk berhadap-hadapan dengan istrinya. Roman mukanya tampak menanggung susah. Ketika tamu masuk, Ambu Elom cepat menggelar tikar.
Duduklah Haji Said, ia lantas bersama Bang Emad menyalami tuan rumah bergantian. Kata Haji Said, "Mohon dimaafkan saja, saya kemarin tak bisa datang lantaran ada halangan."
"Hal itu sudah kami maafkan jauh-jauh sebelumnya," jawab Pak Elom.
"Eu ..., memang jodo, pati, dan rezeki tak gampang dipastikan. Hal itu jangan menjadi pikiran, bebaskan saja, dan relakan dengan ikhlaskan. Buang segala kerumitan yang pelik-pelik itu. Hanya itu pesan dari saya," pesan Haji Said.
Jawab Pak Elom, "Terima kasih, Pak Haji telah mengingatkan. Semoga, kami cepat melupakan."
"Sakitnya maag?" tanya Haji Said.
"lya ... itu, ulu hati pedih," jawab Bapak Elom.
Haji Said melanjutkan dengan lebih serius, "Saya datang kemari ini, ada maksud dan tujuan. Yang pertama, turut berdukacita atas kematian Neng Elom. Kedua ..., saya akan mengambil kembali uang yang Rp10 juta ...?"
Bapak Elom, "Uang apa itu, Pak Haji?"
"Uang pengikat itu? Nah, si Emad inilah yang dulu membawanya. Sebab, menurut kepantasan di mana pun, kalau salah satu pihak terkena musibah, perjanjian akan batal. Dengan timbulnya masalah itu, uang yang Rp10 juta itu harus kembali. Malah, saya sudah sangat adil, uang itu tidak kena rente. Hal itu, hitung-hitung sumbangan kematian. Coba hitung saja oleh Pak Elom, nilai uang dalam satu bulam itu kan 10 persen?" kata Haji Said.
Pak Elom, saat mendengar kata-kata menyakitkan dari Pak Haji, tamunya, tanpa berbasa-basi, uang itu dikembalikan.
Setelah itu, Haji Said dengan Bang Emad pulang.
Di sekitar Tegallega, sewaktu Jang Onon jalan sore-sore dengan kawannya, ia bertemu dengan Asmawi, suaminya bibi Elom si tukang warung es.
"Selamat berjumpa, Mang! Mau nonton apa gerangan? Jalan-jalan santai, ya?" tanya Jang Onon.
"Dari belanja. Emh, kebetulan! Begini ..., supaya tahu saja, Neng Elom kemarin dulu meninggal dunia. Mulanya sih, ingin mengabari ke rumah Encep, tetapi enggak sempat," jawab Asmawi.
Jang Onon kaget setengah mati, "Meninggal? Kena apa?"
"Terserang maag. Sakit ulu hati," jawab Asmawi.
"Kalau begitu, supaya ngobrolnya enak, mari kita ke rumah!" ajak Jang Onon.
"Ah, ini sudah terlalu sore dan takut hujan. Tuh di atas, mendung sudah berat begitu," jawab Asmawi.
Setelah itu, keduanya lalu berpisah ke tujuan masing-masing.
Jang Onon sejak menerima kabar kematian Neng Elom, roman mukanya berubah drastis. Kalau kurang tabah, pasti berakibat fatal.
Namun, karena pada dasarnya Ujang Onon orang yang berpendidikan, ia tidak terbawa suasana duka. Kesedihan hatinya tertutup dengan hobinya membaca. Dengan bacaannya yang luas, ia mengambil contoh-contoh yang positif bagi ketenangan jiwanya.
Sudah dua tahun, Neng Elom meninggal. Atas kehendak Yang Mahasuci, Ambu Elom mengandung lagi. Bapak Elom, yang semula berwatak pelit, berubah seratus delapan puluh derajat. Hampir setiap hari Jumat, ia mengadakan kenduri, mensyukuri istrinya yang mengandung lagi. Sifatnya yang pelit itu hilang setelah mendapat ajaran dari Kiai Sadang.
Kata Kiai itu, "Dunia, kalau salah memanfaatkannya, akan menyiksa. Oleh sebab itu, jangan terlalu duniawi, jangan terlalu mencintai harta benda. Namun jangan salah paham, agama melarang orang untuk kaya.”
Asal mula yang menjadi lantaran Pak Elom datang ke tempat kiai itu adalah sebagai berikut.
Sejak kematian Neng Elom, anaknya, dirinya tak putus-putusnya mencari penawar atau obat, bagaimana caranya agar jangan terus-menerus ingat kepada anaknya, almarhum.
Ketika ada yang memberi petunjuk bahwa di anu ada seorang dukun anu, yang ahli dalam hal itu, didatangilah. Sebelumnya, Pak Elom sudah berusaha tidak tanggung-tanggung, mencari dukun mulai yang letaknya dekat-dekat … sampai di Cirebon, Betawi, malahan sampai ke Banten. Namun, satu pun tak ada hasilnya. Malah semakin memperparah jiwanya. Sampai ada jimat isim yang mengharuskan agar ngabungbang (tirakat saat bulan purnama) dan pada hari-hari tanggal kelahiran dan hari anaknya tewas.
Bapak Elom yang semula susah mengeluarkan uang untuk hal yang berguna pun, sekarang uangnya ia sebar-sebarkan untuk mencari dukun. Sawah beratus bau dan kerbau berpuluh pasang sudah habis terjual. Badannya kurus dan pucat akibat tirakat dan capai karena berpergian terus.
Oleh siapa Bapak Elom tersiksa? Bukankah oleh harta bendanya?
Sejak Bapak Elom mulai merasakan rugi segala-galanya, serta sudah merasa sangat payah, maka terdamparlah ia ke tempat sang kiai. Pertolongan besar pun tiba, wejangan kiai itu ternyata mujarab dan ketika dijalankan merasa ada hasilnya.
Sampai sejauh itu, Pak Elom masih beruntung karena tak sampai mengakibatkan dirinya ke "Sirnaraga". Andaikan tidak tertolong oleh kiai, ia benar-benar akan hilang sirna raganya dan tinggal jiwanya bergentayangan.
Ringkas cerita, setelah sampai pada hari baiknya, Ambu Elom pun melahirkan. Dengan demikian, Ujang Bandi jadi punya adik lagi. Bayinya laki-laki lahir mulus. Seorang dukun beranak sudah siap untuk mengurus segala sesuatunya, sesuai dengan adat kebiasaan. Ketika upacara selamatan sudah dilakukan, serta waktunya "turun bumi", bukan pesta kecil-kecilan dilakukan Pak Elom. Dipotongnya seekor kerbau dan sepuluh ekor kambing. Sedangkan bayi itu diberi nama Kurnia.
Sekarang, kita kembali pada Ujang Onon. Sekalipun masih muda dan hidup di Bandung, Jang Onon menjadi tempat orang melancarkan pujian karena sikapnya yang tidak mau royal atau bisa mengatur uang.
Dalam setiap kunjungan ke Pos-Separbang (Post-Spaarbank), dalam satu bulan ia bisa menyimpan sisa gajinya. Ia pun jadi nasabah Asuransi Jiwa Bumi Putra (Levensverzekering Maatschappij Boemi Poetra) yang berpusat di Magelang. Akhirnya, terkabar berita bahwa Jang Onon sudah beristrikan anak Wedana pensiun. Istrinya itu anak baik, rajin, serta terpelajar.
Berbeda dengan tata cara, perkawinannya sama sekali jauh dari sempurna. Seorang anak laki-laki bujangan yang belum punya penghasilan sepeser pun, sudah dikawinkan. Demikian pula anak perawannya, belum cukup umur dipaksa harus kawin. Alasan bapaknya, selagi masih hidup bapak-emak atau kakek-nenek, ingin menyaksikan saatnya anak-cucu punya jodoh. Persoalan makan dan pakaian anak dan menantu, biar orang tua yang bantu.
Demikian pula anak lajang yang dikawinkan tadi itu, karena umurnya belum cukup, persoalan suami-istri belum tahu. Malah belum bisa memasak-menanak nasi atau membuat sambal sekalipun. Terlebih-lebih keterampilan seperti jahit-menjahit, bordir, tisik, merenda, dan seterusnya, luput sama sekali.
Oleh sebab itu, besar manfaatnya untuk bangsa pribumi, sebab Kanjeng Gupernemen sudah mengeluarkan peraturan larangan keras kepada orang yang mengawinkan anaknya yang belum cukup umurnya. Siapa pun yang melanggar peraturan itu diancam hukuman berat.
Kita juga wajib mengucap syukur kepada Paduka Kanjeng Tuan J.C.J. van Bemmel almarhum serta Nyonya. Beliaulah yang terhitung untuk pertama kalinya membuka pintu kemajuan bagi kaum perempuan. Dari sejak beliau menjabat Inspektur di Afdeling I, tak pernah berhenti berusaha supaya kaum perempuan pribumi, khususnya perempuan Sunda, menjadi maju dan mengetahui kewajiban seorang perempuan. Beliau dengan dibantu nyonya, di tiap-tiap wilayah bawahan Pasundan (kabupaten), malah di distrik-distrik atau onderdistrik, yang sudah ada Sekolah II menyerukan bab kewajiban perempuan.
Dalam setiap penyuluhan, beliau selalu menerangkan, bahwa, "Kemajuan suatu bangsa bergantung kepada kemajuan kaum perempuannya. Apabila pada bangsa yang hendak maju itu keadaan perempuannya masih bodoh dan belum tahu kewajibannya, bangsa itu akan jauhlah sampai pada cita-citanya."
Jadi, bila orang Sunda ingin maju, majukan dulu kaum perempuan. Majulah kaum perempuan! Harus tetap diingat bahwa ibu kita pun perempuan.
Sekarang segala usaha Paduka Kanjeng Inspektur itu sudah membuahkan hasil. Secara serempak mulai di Sekolah II ada pelajaran pekerjaan tangan dan olahan-olahan.
•••
5. SALAH DIDIK
Pertumbuhan badan si Kurnia berkembang pesat, sehat, dan bongsor. Siang malam kedua orang tuanya sangat memerhatikan keselamatannya, tetapi dalam mendidiknya mengambil cara yang salah.
Apakah si Kurnia pernah menangis? Tidak. Apa pun kemauannya selalu dipenuhi. Maka ia tak pernah menangis. Apabila, ia sudah ingin main naik kambing-kambingan, bapaknya harus merangkak, lalu ibunya menaikkan si Kurnia ke atas punggung bapaknya. Mulut bapaknya tak henti-hentinya harus membunyikan suara kambing, bila berhenti pecahlah tangisnya. Pada saat itu, Jang Bandi kakak si Kurnia sudah jarang ada di rumah karena ikut dagang tembakau bersama pamannya ke Bandung.
Saat itu si Kurnia sudah berumur enam tahun, manjanya sudah tak ketulungan. Setiap tukang dagang jajanan yang dilihatnya, harus dibelikan. Ditolak, pasti menggampar kedua orang tuanya. Oleh karena itu, pada saat besarnya nanti, setiap didikan bapak dan Ambu Elom tak ada bekasnya.
Mau apa lagi kalau sudah begitu? Yang demikianlah yang dikatakan "salah didik" itu.
Semestinya seorang ayah atau ibu itu diakrabi oleh anaknya. Itu bukan berarti serba boleh. Sangat celaka bila orang tua sampai kalah oleh anak. Hal itu mengandung arti semua hasil ajaran orang tua tak digubris lagi oleh anaknya.
Apa yang dikerjakan Ambu Elom, misalnya ketika menenangkan anaknya yang menangis malam-malam, hanya cukup dengan cara menakut-nakuti, katanya "Jangan menangis, takut bungaok, takut jurig", atau macam-macam takhayul lainnya.
Cara-cara di atas mengandung dua macam bahaya. Pertama, bila jatuh pada anak yang penakut, ia akan menjadi seorang penakut selamanya dan percaya pada macam-macam takhayul. Kedua, bila jatuh pada anak tabah, ia akan menganggap ibu-bapanya sudah memberi contoh-contoh bohong.
Si anak akan berkata, "Ema bilang nanti kita dibawa kelong-lah dibawa jurig-lah, atau dibawa korod-lah, tetapi buktinya? Tak ada! Kalau begitu, larangan Ema bahwa kita jangan suka berbohong itu tak usah saya turuti karena Ema juga suka berbohong sama kita."
Pembaca tentu ingat pada si Acep Deden anak Ki Amdani. Sekarang, ia sudah Kelas II, serta sangat cerdas karena ayah-ibunya mendidiknya secara benar.
Apakah ke sekolah diberi uang jajan besar-besar? Tidak, uang jajan diberi secukupnya saja buat beli cendol. Sebab, sebelum berangkat, ia harus makan dulu. Dengan begitu, di sekolah ia tidak akan kelaparan. Terkadang anak itu ada yang memberinya uang, oleh bapaknya disuruhnya ditabung.
Ki Amdani bukanlah orang kaya, hanya bisa dibilang orang cukup. Kehidupannya bersahaja, makan dan pakaian tidak jelek-jelek benar. Yang menjadi sebabnya adalah karena Ki Amdani itu punya sifat "bersih hati". Ia tidak merasa susah karena celaka, dan tidak menjadi girang karena mendapat untung. Ia berpendapat, "Perasaan susah dan senang atau untung-rugi itu adalah pemberian dari Yang Mahasuci. Seluruh makhluk pasti mengalaminya, hanya syaratnya kita harus melakukan ikhtiar (usaha). Tegasnya harus banyak suka daripada duka."
Apakah manusia bisa terus-terusan berada dalam kemujuran? Tidak. Atau langgeng dalam kenahasan? Juga tidak. Maka dari itu, ketika mujur kita harus bisa menyisakan rezeki buat bekal saat kita terkena apes.
Seekor tekukur pada musim panen akan berbunyi nyaring di sawah karena merasa makanan sangat berlimpah. Ia makan sekenyangnya ketika di sawah saja. Bagaimana bila musim paceklik? Ia berbunyi asal saja karena susah makan. Sebagai penawar lapar, dipatukinya biang teki yang rasanya pahit.
Lain dengan burung kakaktua, dalam musim panen, setelah kenyang mengisi temboloknya, ketika pulang dengan paruhnya dibawanya makanan ke dalam lubang kayunya. Dibangunnya satu lumbung buat bekal di musim susah.
Selain itu, masih banyak lagi teladan dari binatang. Semut misalnya, menjadi contoh sebagai makhluk rajin bekerja dan bergotong royong. Demikian juga tawon, ketabahannya dalam bekerja sungguh mengagumkan.
Demikianlah, perihal Ki Amdani yang menyebabkan anaknya maju, cerdas, tabah, dan tekun karena tidak salah didik.
Pada suatu sore, di rumah Ki Amdani terdengar gerendengan orang sedang mengobrol. Lama-kelamaan, suara itu terdengar keras. Ternyata itu suara Pak Elom.
"Itulah, Ki Amdani, sudah pasrah Akang ini. Namun mau apa lagi. Mengajari sudah, tetapi sama sekali tak ada bekasnya. Rupanya, daripada menurut malah dia suka melawan sama orang tua. Kini hanya tinggal bingungnya saja Akang ini. Akang tidak tahu lagi bagaimana cara mendidik anak itu. Tiap hari hanya bermain sepuas-puasnya. Sekali disuruh mandi, harus dengan cara yang lemah-lembut, itu pun belum tentu mau, harus diberi upah dulu," kata Pak Elom mengadukan kebandelan si Kurnia.
"Tobat! Bukannya saya mengajari berenang seekor bebek. Mungkin bisa diterima, saya ingin bercerita sedikit, terutama tentang anak Akang yang berubah menjadi anak bandel," kata Ki Amdani memulai pendapatnya.
"Silakan, tak masalah. Saya akan mendengar,” jawab Pak Elom.
Lanjut Ki Amdani, "Kalau menurut pendapat saya, yang menjadi penyebab anak Akang jadi sangat bandel adalah karena terlalu dimanja. Terlalu diturut segala kehendaknya. Siapa pun terhadap anak pasti sayang, tetapi seyogianya perasaan itu jangan sampai dirasakan si anak. Anak harus merasa segan terhadap orang tua, jangan merasa ketakutan. Perbuatannya yang tak pantas harus dihalangi, sambil menerangkan bahayanya, jangan merasa cukup dengan kata pamali saja. Terkadang seorang anak bermain sambil melakukan hal-hal yang bermanfaat. Bila dianggap baik, wajib kita memberinya pujian, sambil mengemukakan kegunaannya.
Bila larangan kita tidak didengarnya, harus diancam dengan satu hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Serta setiap ucapan kita harus sesuai dengan perbuatan. Sering orang tua berkata: Kalau kamu bermain pulang sampai larut, akan kuikat kamu! Begitu terjadi si anak pulang telat, nyatanya tidak diapa-apakan, hanya sekadar diomeli.
Kapan anak itu akan merasa segan kepada orang tuanya, dia akan mengerti bahwa dulu juga tidak jadi diikat.
Ada pula orang tua yang pemberang, sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit main gampar. Kelak, jika sudah besar, anak itu akan kebal dan tak akan menyayangi orang tuanya. Menurut pertimbangan saya mah, baik disekolahkan saja."
"Anu ..., kalau disekolahkan, saya takut dia jadi berubah agamanya. Kan, Jang Onon anaknya Mas Parta itu, bila pulang kampung, seperti sudah jadi Belanda saja. Pakai sepatu, celana panjang, topi, ... dan rompi segala. Blangkon sudah ditinggalkan," kata Bapak Elom.
"Eh, jangan keliru, Kang, pakaian tak ada halangannya buat keislaman. Nyatanya bangsa Turki yang sudah bercelana pantalon sehari-hari, mereka juga tetap Islam. Hanya saja saya masih belum setuju dengan orang-orang yang meninggalkan kebangsaannya, seperti Jang Onon itu. Baiknya jangan dulu mencopot ikat kepala yang menjadi ciri khas orang-orang di Jawa. Akan tetapi, nanti ke depan, mungkin tak lagi menjadi halangan karena sudah begitulah terbawa oleh peredaran dunia," jawab Ki Amdani panjang lebar.
"Oh, iya, tadi dari rumah saya ini ingin dengar cerita Akang tentang sekolah," Pak Elom memohon.
Maka berceritalah Ki Amdani perihal masa sekolahnya sewaktu masih kanak-kanak di zaman Belanda yang penuh disiplin, tetapi yang membuat muridnya pandai-pandai dan pandai berbahasa Belanda.
"Nah, kalau begitu sih, Kang. Saya mohon tolong si Kurnia diunjukkan kepada Juragan Guru," pinta Pak Elom.
"Baik, kebetulan kata anak saya, besoklah saatnya Juragan Mantri Guru menerima murid-murid baru," jawab Ki Amdani.
Ketika waktu masuk isya, Pak Elom pamitan pulang.
Esoknya, Ki Amdani dan Kurnia sudah menghadap Juragan Mantri Guru dan langsung diterima.
Bapak Elom sangat bergembira karenanya, punya anak diterima sebagai seorang murid sekolah. "Moga-moga saja anak itu jadi manusia baik." Begitu kata hatinya berdoa.
Kurnia pergi ke sekolah setiap pagi. Akan tetapi ... celaka! Hanya kuat seminggu, tiba-tiba Kurnia mogok tidak mau masuk sekolah lagi. Bapak Elom sudah capai mengomelinya. Suatu saat, Pak Elom mata gelap, ditempelenglah si Kurnia. Akan tetapi, ia masih tetap mogok. Ibunya tiba-tiba muncul dari dalam rumah, sambil berteriak,
"Tobaaaaat, dasar orang miring tak pernah ngaca. Anak masih kecil pakai disiksa segala. Tak sudii … anakku dibegitukan. Sedari kecil ditimang-disayang, sekarang malah dihancurkan. Ceraikaaaan!" katanya mengancam minta bercerai.
Mendengar keributan, para tetangga datang berbondong-bondong. Ada yang ikut menangis, tetapi serba salah. Ki Amdani pun datang dan berbicara kepada Bapak Elom.
"Sudahlah, Yi. Jangan dilawan." Pak Elom lalu menyingkir.
Baru saat senja hari Pak Elom berani pulang ke rumahnya. Tampak istrinya sedang meluluri anaknya dengan air tanaman honje. Si Kurnia terus panas-dingin.
Ketika Ambu Elom melihat suaminya datang lagi, melototlah matanya sambil berkata, "Noh, lihat! Gimana kalau sudah begini? Jangan-jangan akan seperti si almarhum!"
Bapak Elom langsung merangkul Kurnia, tangannya mengelus-elus kepala anaknya. Ia menangis dengan bibir termencong-mencong.
"Ah, Ujang, kasep! Sudahlah kalau kamu tak mau sekolah, Bapak tak akan memaksa. Asal jangan keterusan sakit saja. Cepat sembuh, ya. Nanti kalau sudah sembuh, kita beli baju beledu baru dan kita makan di restoran. Pulangnya kita naik delman, ya?" bujuk sang bapak.
Lewat lima hari si Kurnia sembuh dan ... keluar dari sekolah!
•••
6. BUNG SANTRI GAGAL
Pada hari Jumat, sewaktu Ambu Elom menanak nasi di dapur, terdengar orang mengucap salam di teras depan. Setelah menjawab salam, Ambu Elom keluar, ternyata Kiai Sadang sudah berdiri di ambang pintu. Si tamu lalu dipersilakan masuk.
"Ke mana bapaknya?" tanya kiai.
"Ke sana ... ke ladang, nun, meninjau empang yang rusak bendungannya, nun. Silakan duduk-duduk saja dulu, akan kupanggil ke sini dia," jawab Ambu Elom penuh hormat.
Kiai lalu duduk di bangku yang dialasi kulit domba.
Ambu Elom diikuti si Kurnia tergesa-gesa mencari suaminya. Di empang suaminya sedang mengangkut induk ikan-ikan berikut anak-anaknya. Dipindahkannya ke kolam hulu karena kolam hilir benar-benar kering kerontang. Berteriaklah Ambu Elom memanggil.
"Bapak! Di rumah ada kiai!"
"Kiai? Sudah lama?" tanya Pak Elom.
"Barusan!" jawab Ambu Elom.
"Syukur. Ini yang namanya rezeki kiai, ada saja jalannya. Heh, Ambu ..., entah kenapa tambakan bobol. Empang jadi kering. Jadilah kiai akan makan induk ikan. Kamu pergi saja duluan! Aku akan membetulkan dulu bendungannya," seru Bapak Elom.
"He-eh, jangan lupa bawa empat induknya, sebagian kubawa sekarang. Yang warna hijau, ya, supaya pelem!" saran Ambu Elom.
Setelah itu, Bapak Elom mengambil induk hijau sebanyak empat ekor, lalu diikatnya dan ditenteng si Kurnia. Begitu tiba di rumah, ikan itu terus dimasak. Yang dua ekor dipepes, yang dua ekor lagi buat oleh-oleh kiai.
Tak lama, muncullah Bapak Elom, serta terus menyalami kiai.
Kata kiai, "Sebabnya Akang datang ke sini ..., satu perkara sudah rindu, sudah lama tak ketemu. Perkara kedua, ingin tahu keadaan anak bungsu kalian. Bagaimana, sudah disekolahkan belum?"
Bapak Elom menjawab, "Justru itu ..., sudah sih sudah disekolahkan, tetapi tidak beres. Hanya kuat seminggu, keburu sakit panas. Setelah sakit, ia tak mau lagi sekolah. Dipaksa diapa-apakan pun tetap tak mau. Malah sampai dikerasi, akhirnya timbul kasihan. Teringat Neng Elom almarhum. Jangan-jangan akan berumur pendek pula. Itulah sebabnya anak itu, saya keluarkan dari sekolahnya."
"Lha-lha-lha, salah besar, Akang, takut sama umur. Akang seperti tak percaya pada Yang Mahasuci. Kan ajal itu tak dapat ditolak. Sekalipun Tuan Dokter ahlinya macam-macam penyakit, kalau sudah saatnya, tetap saja tewas. Kanjeng Nabi sendiri bisa tewas.
Heh, Akang! Apa pun yang tergelar di dunia ini akan mengalami kematian, kena rusak, tak ada yang abadi, tak ada yang langgeng. Hanyalah Tuhan Yang Mahasuci yang langgeng dunia-akhirat," kata kiai berpetuah.
Lalu kiai melanjutkan, "Kanjeng Nabi mewajibkan, baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, buat bekal di dunia dan di akhirat. Caranya bermacam-macam, bisa lewat sekolah dan bisa lewat pesantren.
Sekarang, bagaimana kabarnya anakmu? Katanya sekolahnya tak selesai? Kalau begitu, coba suruh masuk pesantren, jangan dibiarkan begitu saja, kasihan!
Saya tak memaksa supaya anakmu dipesantrenkan di tempat saya. Bukan itu! Maksud saya adalah untuk sementara asal masuk saja dulu ke pesantren. Ke mana bakatnya nanti, itu urusan nanti. Supaya anak itu dalam hidupnya punya ilmu, jangan sampai buta sama sekali, sebab orang bodoh sangat direndahkan di dunia," kata kiai menutup anjurannya.
"Eh, sesungguhnya perkataan Kiai barusan sudah terasa oleh saya. Hidup tanpa ilmu itu gampang tertipu. Masalah anak saya, saya serahkan saja pada Kiai. Saya sebagai orang tuanya mau diputihkan atau dihitamkan terserah Kiai saja, nun," jawab Bapak Elom.
Saat itu pintu terbuka, muncullah Ambu Elom, dia berkata, "Ayo, pada makan dulu, tetapi maaf tak ada lauknya, nun."
Maka makanlah sang Kiai dan Bapak Elom bersama-sama menyantap pepes ikan. Sehabis makan, muncul penganan untuk cuci mulut. Sambil menikmati makanan ringan, Kiai terus melanjutkan ceritanya.
"Jadi, begitulah. Bila Adi percaya sama Akang, silakan saja. Mudah-mudahan Akang bisa mengajari dan mendidik anakmu. Silakan segera menghitung hari baik, kalau mau mengikuti cara-cara bidah. Hal itu sebenarnya bidah, itu hanyalah kepercayaan bangsa kita saja, tak ada dalam ajaran agamanya. Hari itu sama saja, semuanya bagus. Hanya di antara hari yang tujuh jumlahnya itu, pada setiap kepercayaan atau agama, pasti ada satu yang dimuliakan. Misalnya, hari Jumat bagi agama kita, Islam. Hari Ahad (Minggu) dimuliakan oleh orang Kristen.
Semua khurafat itu sumbernya dari primbon orang-orang tua kita zaman dulu, yaitu kepercayaan orang Hindu sewaktu nenek moyang kita menganut agama itu. Sedangkan kita sekarang sudah berganti agama. Jadi, sebaiknya buang saja kebiasaan-kebiasaan kuno yang tidak seberapa perlunya dan hanya menghalangi kemajuan saja itu!" kata Kiai sambil berkhotbah.
Bapak Elon, "Minta waktu saja, moga-moga tidak ada halangan ..., bulan depan. Kalau sekarang-sekarang ... takut terlalu diburu-buru. Sebaiknya 'dibersihkan' dulu, nun."
"Baik, Akang kelamaan, nih," jawab Kiai.
Istri Bapa Elom muncul dari dapur sambil menjinjing seikat induk ikan, lalu berseru.
"Pak Kiai! Terimalah ini sekadar lumayan saja, biar dibuka istrinya di rumah, nun!"
Terus seikat induk ikan itu diterima oleh Kiai sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu Kiai pulang.
Sebulan sejak kunjungan Kiai, Bapak Elom menyunat si Kurnia. Kendurinya besar juga, segala acara diadakan. Ketika lukanya sudah kering, Ambu Elom sibuk memasak buat bekal suaminya yang akan mengantar si Kurnia ke pesantren. Setelah sedia, berangkatlah Bapak Elom dengan anaknya.
Mereka bepergian naik delman. Waktu zuhur mereka tiba di pesantren. Kiai menerima mereka dengan segala keramahannya, seperti biasa. Di pesantren, Bapak Elom menginap semalam. Besoknya, subuh, ia baru pulang.
Di pesantren, si Kurnia tinggal tidak di pondok, tetapi di rumah Kiai. Ia ditempatkan di satu kamar khusus, tidak memasak sendiri, tetapi diurus oleh Kiai.
Saat itu si Kurnia sudah mengenal kawan-kawannya. Di antara kawannya ada yang sangat akrab dengan dirinya bernama si Santa. Si Santa adalah seorang anak yang sangat badung. dan bisa mengambil hati orang. Maka, jadilah ia ikut kenyang dengan makanan si Kurnia. Malah tidur pun lebih sering di tempat si Kurnia.
Sedangkan belajarnya malas. Setelah baru ketahuan bahwa si Kurnia ini payah luar biasa, tambah-tambah sering main.
Pada suatu hari, setelah diajari oleh gurunya, dia langsung ke luar dari pondok bersama si Santa, maksud mereka akan bermain.
Kata si Santa, "Jang, kamu ada uang? Nanti saya ganti."
"Punya," jawab si Kurnia polos.
"Nah, kebetulan. Uang kita pakai centring (lotre bergambar uang logam) di Kampung Garduh," kata si Santa.
Kurnia, "Centring itu, apa?"
"Sst! Kita lihat saja nanti, pokoknya asyik," jawab si Santa.
Singkatnya, bermain centringlah si Santa dengan anak-anak Garduh, sedangkan si Kurnia hanya menyaksikan. Kebetulan, saat itu, si Santa sedang mujur dan menang besar. Jadi ikut senanglah si Kurnia, terus perolehan itu dibaginya menjadi dua bagian.
Besoknya, main lagi juga. Akan tetapi sekarang si Kurnia juga ikut main. Kebetulan saat itu menang lagi, tentu saja membuat keduanya menjadi semakin senang. Malah sekarang ditambah dengan main kobak (permainan kemiri di lubang tanah) dan keplek (gaple).
Perihal Kurnia, belajar mengajinya menjadi semakin tidak teratur. Sudah keadaan otaknya payah, tambah-tambah tidak punya minat.
Pada suatu waktu, Kurnia kalah main, panaslah hatinya. Mau menebus kekalahan, sudah tak punya modal. Dia hanya bisa terbengong-bengong dalam kebingungan. Ia lalu menjual totopongnya (tutup kepala) yang sedang dipakai. Uang itu langsung dipakai main keplek dan kobak berduaan. Akan tetapi dasar lagi nahas, maka ludes lagilah. Setelah itu baru mereka pulang.
Sesampainya di pondok, secara kebetulan komandan santri melihat keduanya pulang dalam keadaan hanya bercelana kolor saja. Dia sudah tahu bahwa ikat kepalanya pun sudah dilegonya, uangnya buat main judi. Kabar itu didapat dari kawannya yang baru pulang dari pasar.
Pemimpin santri lalu menghadap kepada Kiai melaporkan kelakuan kedua anak itu. Kiai teramat masygulnya.
Setelah itu, sorenya, Kiai memanggil para santri untuk memberi wejangan hal peraturan hidup di dunia.
Ucapan Kiai, "Yang terpenting dari peraturan kehidupan ..., hmm ..., ada tujuh perkara yang semuanya dibentuk oleh huruf 'M’. Namun sekarang saya akan membahas satu perkara saja dulu. Dari yang satu perkara itu berpencar menjadi berpuluh-puluh dahan dan cabang. Saya berani menjamin bahwa bila semuanya diterangkan takkan ada faedahnya, tak akan ada yang nyantol. Biar satu macam, asal nempel. Sekarang mari kita menerangkan masalah main.
Siapa yang tak suka main? Tentu semuanya suka, terlebih anak-anak. Akan tetapi ada salah satu main yang membahayakan bagi manusia, yaitu judi. Judi itu taruhannya duit, maka diberi namalah ia sebagai "taruhan". Semula, yang biasa berjudi adalah kaum menak, tetapi karena sifat main-mainnya yang menurut orang sangat mengasyikkan, maka permainan itu ditiru oleh rakyat kebanyakan. Lama-kelamaan permainan itu menjadi judi bagi orang-orang dewasa, seperti mengadu ayam dan sintir.
Kalah ataupun menang dari judi, tak ada yang enak. Bila kalah, hati jadi panas, ingin menebus kekalahan, semuanya dijual dan digadaikan, sampai-sampai "penutup kutu" pun dijual.
Bila menang pun, kita membuat orang lain tidak ikhlas. Hasil judi membuat orang makan rezeki yang tak halal. Akibatnya tidak membawa berkah bagi badan. Hal itu berbeda dengan hasil keringat dari kerja yang halal, yang tidak dilarang pemerintah maupun agama.
Tiap penjudi selamanya gelisah. Kesehatan pun terganggu karena kurang tidur dan kurang olahraga.
Coba tunjukkan, di mana atau siapa orangnya yang sudah kaya karena judi? Tidak ada .... Sudah, hari ini sekian saja dulu, tuh si Ehon kelihatan sudah ngantuk. Besok kita teruskan lagi," kata Kiai menutup wejangannya. Kemudian semua bubar menuju kamarnya masing-masing untuk istirahat.
•••
7. TERBUAI CINTA
Sejak para santri diwejang oleh Kiai, banyak yang merasa beruntung karena sudah tahu caranya untuk menghadapi hidup. Akan tetapi tidak bagi si Santa dan si Kurnia. Hatinya meng-gerundel, keduanya marah kepada orang yang melaporkan kelakuannya kepada Kiai.
"Jang, tidak salah lagi, yang melaporkan kita ini, tentu Kang Ibra karena dialah yang sering melarang kita," kata si Santa kepada Kurnia.
"Betul, mentang-mentang dia jadi pemimpin santri. Ah, saya mah enggak betah di sini teh euy! Besok mau minggat aja," kata si Kurnia sambil mengemukakan niatnya untuk keluar dari pesantren.
"Betul! Akan tetapi sebelum minggat, saya ingin membalas dulu sama si Ibra. Malam nanti, Ujang harus ikut saya," kata si Santa.
"Memang mau apa?" tanya si Kurnia.
"Ah, lihat saja nanti, tidak akan dikatakan sekarang," jawab Santa berahasia.
Siang sudah berganti malam. Para santri sudah pada tidur pulas. Suara-suara ngorok mereka sudah terdengar. Suasana sudah benar-benar sepi. Di luar hanya terdengar suara jangkrik bersahutan dengan walang.
Bila kita saat itu terbangun tengah malam, sangat menyeramkan! Meremang seluruh bulu kuduk.
Cahaya lampu pondok tampak temaram, serasa mau meninggalkan kehidupan.
Tak berapa lama, tampak dua bayangan hitam bergerak mengendap-endap, melangkah perlahan sambil saling berbisik-bisik di antara mereka.
Kata yang seorang, "Sebelah mana kamar Ibra?"
"Yang itu tuh, yang ujung," jawab yang seorang lagi.
"Heh, jangan terlalu keras ngomongnya, nanti orang-orang bangun!" hardik orang yang pertama.
Setelah sampai di kamar yang dituju, mereka berhasil membuka pintu. Sret-sret ... salah seorang mencoret-coret muka Ibra. Bibir korban lalu diberinya berkumis.
Kata yang seorang, "Jenggotnya juga, Santa!"
Selanjutnya para santri yang lain pun dapat giliran, ada yang pakai kumis, atau coretan-coretan lain sekenanya.
"Hi-hi-hi," tawa yang seorang. "Lucu, kayak dalam film saja."
"His, jangan tertawa!" kata yang seorang lagi.
Setelah sudah kebagian semua, keduanya kembali keluar.
Kita tinggalkan dua anak jahil itu, kini beralih ke luar. Saat itu, seorang maling mau masuk ke pondok. Ketika si Kurnia membuka pintu, 'Des!' sebuah bogem mentah mendarat di ulu hatinya, saat itu pula kontan tubuh Kurnia rubuh karena pingsan.
Sebelum kabur, gaplok-gaplok maling itu menggampar dulu si Santa, sampai tubuhnya oleng dan darah keluar dari hidungnya. Masih untung, mengingat bukan bacokan. Semula si Santa ingin mengaduh, tetapi dia sadar, takut kena sangka bahwa dirinyalah yang akan maling. Akhirnya, ia terus menggendong si Kurnia.
Waktu subuh, para santri sudah bangun untuk sembahyang Subuh. Saat itu, Kiai lagi tak ada di pondok, tetapi sedang bepergian. Yang akan menjadi imam adalah Ki Ibra. Entah mengapa, dinginnya subuh itu benar-benar terasa menusuk kulit. Jadi, tak ada santri yang mandi, tetapi sekadar cuci muka dan wudu saja. Setelah selesai berwudu, lalu sembahyang berjamaah. Setelah salat rampung. santri-santri terkejut melihat muka Ki Ibra yang saat itu terlihat kotor corat-coret. Kata seorang santri, "Kang, kenapa tuh ada kumis bertamu?"
"Kumis apa sih?" tanya Ibra.
Setelah itu, terjadilah saling tunjuk, saling ejek, sambil tertawa-tawa. Sebagian ada yang merengut marah. Mereka baru tahu bahwa masing-masing pun mukanya bercorat-coret.
"Takkan salah, pasti ini perbuatan si Santa," kata si Tayib. "Mari kita datangi kamarnya, pasti ini perbuatan dia. Buktinya, ia dan Kurnia sekarang tak ikut sembahyang."
Di pondoknya si Santa sedang memijiti ulu hati si Kurnia.
"Hei, Santa! Ngaku! Kamu yang jahil ini, ya?" tanya Ki Ibra sambil menunjuk muka sendiri.
"Cabok saja! Jangan dilama-lama," teriak yang lainnya.
"Walah-walah, sabar dikit dong. Sebenarnya ada apakah gerangan, kelihatannya terburu-buru benar? Lagi pula muka dicorat-coret begitu, kenapa? Mau main drama?" tanya si Santa sambil tertawa meledek.
"Jangan ngomong, pasti kamu biang keroknya," kata si Tayib.
"Lho-lho-lho! Akang menuduh saya? Masa saya berani ngelunjak begitu, amit-amit. Tambahan saya sejak sore tak beranjak ke mana-mana. Tuh … mengobati Jang Kurnia yang lagi sakit ulu hati. Ini kan kelihatan masih memijit. Malah kira-kira pukul 12, saya rencana akan mengabarkan pada semuanya. Tetapi dasar nasib, lampu padam. Baru selangkah kepala sudah kena pintu. Coba lihat hidung ini sampai bengkak begini. Syukur sekarang ditengok."
Para santri itu percaya saja, berkat pandainya si Santa berbohong.
Kata si Tayib, "Ha, jangan-jangan yang menyoreti kita ini jin, takut saya!"
Sahut Ki Ibra, "Ah, tak mungkin! Jin yang ada di pesantren bukanlah jin kafir. Yang suka jahil itu kan jin kafir."
Setelah itu terus semuanya kembali sambil bersungut-sungut.
Terkabarkan sakitnya si Kurnia terus parah. Si Santa lalu mengabarkannya kepada Bapak Elom. Tak berapa lama, Bapak Elom tiba di pesantren. Saat itu juga ia langsung minta izin untuk membawa anaknya pulang selama masih sakit. Sepuluh hari si Kurnia sakit di rumahnya, tetapi ketika sembuh pun, ia mogok tak mau ke pondok lagi.
Sekarang si Kurnia mendapat julukan "Bung Santri Gagal". Gagal sekolah Belanda dan menjadi santri juga gagal.
Kini masanya Bung Santri Gagal sudah akil balig. Siang malam kerjanya ngendon di tempat judi. Kalau tidak, dia ada di tempat-tempat perempuan nakal. Biaya yang ia pakai untuk berfoya-foya itu, ia curi dari orang tuanya.
Kini, giliran yang terkabarkan sakit payah adalah Pak Elom. Ia jatuh sakit akibat memikirkan anaknya. Hanya bertahan setengah bulan, sang ajal lalu menjemput nyawa Pak Elom. Bung Santri Gagal hanya pada hari bapaknya meninggal sajalah wajahnya tampak berduka. Setelah bapaknya dikuburkan wajahnya kembali seperti biasa. Hatinya berbinar-binar karena bakal mendapat warisan orang tuanya berdua dengan si Bandi kakaknya.
Menginjak matangpuluh, ... hari peringatan kematian bapaknya, Ambu Elom-lah yang kegiliran ajal. Maka rencana Bung Santri Gagal menjadi semakin mulus saja. Pada saatnya, jasad Ambu Elom pun dikuburkan.
Ki Santri Gagal menerima harta waris bertumpuk-tumpuk. Sawah 10 hektar, kerbau 6 pasang, belum padi dan uang dalam koper.
Ki Santa yang kini terpisah dari Kurnia, merasa tidak betah berada di pesantren. Lalu ia hengkang pula menuju Ki Santri. Bung Santri yang melihat kedatangan sobatnya, tentu saja menjadi senang, serta melarang kembali ke pesantren.
Borosnya kini semakin menjadi-jadi karena ada uang dan ada teman. Selain dipakai berjudi, juga dipakai membeli isim-isim, pelet, dan jimat-jimat yang menurutnya bisa memudahkan segala urusan.
Di tempat peristirahatan kedua orang tuanya ada seorang wedana pensiun sangat kaya. Beliau punya anak perempuan masih perawan, namanya Enden Kori. Saat itu, dialah kembangnya di kawasan itu.
Pada suatu kesempatan, Enden Kori berangkat ke pasar. Ia mengenakan kain atas paris merah jambu, berkerudung sutra banggala gading, kain bawah ciamisan, selop beledu merah, pajung tasik, dan menenteng tas tangan non-non Belanda bergaya gadis Eropa. Ia berjalan lurus tak menengok kiri kanan. Memanglah sejak kecil ia sudah bergaul dengan bangsa Belanda.
Setibanya di pasar, ia masuk ke satu toko Cina mencari bahan pakaian. Di sana sudah ada Bung Santri Gagal yang akan menjual emas. Begitu melihat Enden Kori, napasnya kontan memburu, air ludah menggeremang dalam mulut, bibir bergerak-gerak penasaran. Kebetulan kain bahan yang diminati Enden Kori itu ada di samping tempat Kurnia berdiri.
"Maaf, Kang! Tolong ambilkan kain yang berwarna oren itu!" kata Enden sambil tersenyum menunjuk kain.
Bung Santri cepat-cepat meraih kain itu, lalu disodorkannya. Kata Enden Kori, "Terima kasih!" Begitulah cara orang-orang terpelajar, bila mendapat pertolongan tak lupa mengucapkan terima kasih. Namun perkataan "terima kasih" Enden Kori dalam pikiran Bung Santri dianggapnya ada maksud-maksud tertentu.
Bung Santri tinggal terpana, begitulah keadaannya orang yang tergila-gila. Mantra dihabiskan semua, tetapi .... Tunda yang lagi mabuk kepayang, kita sekarang tengok dulu Kampung Cikopo, rumahnya Bung Santri Gagal. Di sana ada penerus profesi comblang dulu yang dipegang Kang Emad. Namanya Wasita. Di kampung, ia bekerja sebagai kepala pengurus sawah milik ayahnya Enden Kori.
Pada suatu kesempatan, sore-sore, ia berkunjung kepada Bung Santri Gagal, begitu nongol langsung dipersilakan.
"Kenapa? Kok kelihatannya seperti yang keracunan jengkol saja? Tampak kurang segar. Kalau mau segar harus punya pacar?! Kan banyak gadis yang cakep-cakep. Ada Nyi Ison anaknya Kang Tohir, cantik sekali," tanya Wasita.
"Ah, Mang! Belum mikir-mikir kalau bukan sama ... ah malu mengatakannya!" jawab Kurnia ragu-ragu.
"Malu bagaimana, coba sama siapa? Siapa tahu Mamang bisa menolong," jawab Wasita.
"Yaaaah, kalau begitu ... baik saya katakan. Sebenarnya saya ini bertemu dengan Enden Kori di toko. Sejak bertemu sampai sekarang, terus saja teringat dia. Siang-malam terbayang-bayang. Saya ini harus bagaimana?" ungkap Kurnia berterus terang.
"Heh, yang begitu mah urusan kecil. Kenapa enggak dulu-dulu bicara sama Emang? Mungkin sekarang sudah ada di sini. Sebenarnya, Mamang juga sudah tahu tentang keadaan Ujang yang begitu itu dari Enden sendiri, waktu Mamang mengantarkan sewaan. Saat itu, Enden sedang di kebun bunga, sedang memetiki bunga ros, sudah dipetik lalu dicium. Ah, manis sekali. Andaikan si Mamang ini jadi bunga, ah, mungkin sudah melayang terbang ke atas awan. Serasa dipeluk-ciumi di mega-mega yang berarak, ha-ha-ha!" papar Wasita berkhayal.
"Namun baru tahu isi hati Enden setelah ia berada di rumah. Saat itu dia bertanya pada Mamang. Katanya, Paman, bunga ini benar-benar indah, apalagi bila memetiknya bareng-bareng orang Cikopo, yang sombong sewaktu di pasar itu, tuh. Tanya Emang, siapa Enden orang Cikopo itu? Jawabnya, Ah, Mamang … pakai pura-pura lupa segala. Padahal, tak ada duanya di Cikopo. Mamang jadi maklum, serta terus akhirnya Enden beramanat, ingin dibelikan gelang emas sepasang bikinan toko Rich & Co.”
Kurnia yang mendengar kata-kata Wasita demikian, semangatnya kontan terbang, saking gembiranya. Dasar orang tak bersekolah, mendengar kata-kata manis tak dipikir panjang, langsung percaya begitu saja. Dia tak tahu bahwa bila tidak diperhitungkan, gula akan menindih semut.
"Mang, terima kasih sudah menyampaikan pesan Enden. Kalau hanya itu, tak seberapa. Tak akan sampai menjual sawah sebahu. Berapa harga gelang itu?" tanya Kurnia.
"Juragan Wedana dulu membelinya Rp12 juta," sahut Wasita.
"Terima ini uang Rp12,5 juta buat membeli gelang itu sekalian ongkos jalannya. Bagusnya Emang yang membelinya, supaya tak tertipu," pesan Kurnia.
Uang sudah diterima Wasita, ia terus pulang sambil tertawa dalam hati. Sebelum pergi, ia berkata, "Emang berangkat ke Bandung itu nanti subuh. Ujang harus percaya, si bunga pujaan itu tak akan sampai tidak didapatkan."
Ringkas cerita, subuh Wasita berangkat, zuhur ia sampai. Di Bandung ia terus ke Pasar Baru untuk membeli sepasang gelang kuningan seharga Rp200 ribu. Terus dibelinya segala macam makanan dan sembako, pulangnya naik kahar. Istrinya yang melihat kedatangan suaminya belanja banyak-banyak, senang benar hatinya.
Sore-sore menjelang magrib Wasita mengunjungi Kurnia. Kurnia yang melihat kedatangan Wasita langsung menyambut dan mempersilakannya.
"Wah-wah! Kalau bukan Emang yang beli, takkan dikasihkan. Kata Tuan Rich karena harganya sudah naik, maklum musim perang. Akan tetapi Akang katakan, jangan begitu sama sahabat, kan ini suruhan Juragan Wedana pensiun, sudah itu barulah diberikan," papar Wasita tak tanggung berbohong.
"Gelang sekarang kita kirimkan, pakai surat dari Ujang, Emang malah sudah bikin suratnya 'ni, digubah pakai lagu Sinom.
Coba dengarkan akan Emang baca sebagai berikut.
•••
8. KEMURAHAN TUHAN
Surat bersampul merah jambu ini wakil dariku, sebagai tanda menjumpai, ke hadapan Eneng yang cantik.
Sejak bertemu denganmu di pasar, tak pernah terlupa. Terbayang saja dalam kepala, tergambar dalam angan-angan, terayun-ayun dalam jantung, melepuh dalam rabu, menelusuri jalur darah, raga dan sukma terasa melayang di awang-awang.
Makan tak enak, minum terasa tuak, nasi dingin ibarat ampas, tak terasa apa-apa, bila malam sering mimpi, memimpikan dikau yang kujumpai di toko, menunjuk barang dengan telunjuk lentik, terdengar suaranya merdu menusuk kalbu.
Mungkin aku bertepuk sebelah tangan, siapa tahu engkau lupa, tak ingat seujung jari, padaku yang prihatin, dasar bukan tandingan, katak hendak menjadi lembu, ibarat ketimun lawan durian, burung pungguk merindukan bulan, begitu kata peribahasa.
Sekalipun begitu, hati takkan mundur, siapa yang menghalangi, mudah-mudahan saja dipungut ayahmu, lumayan buat bujang, atau buat penyabit rumput, sukarela setengah mati meladeni.
Sekian saja dulu, air mata keburu keluar, merembes tak tertahan. Serta ini kupersembahkan satu permintaan, sepasang gelang, semoga berkenan, kutunggu jawabannya.
Demikian bunyi surat Kurnia yang akan dibacakan Enden Kori.
"Gimana, bagus enggak kalau begitu?" tanya Wasita.
Jawab Kurnia, "Tentu saja, lebih dari setuju, Kang!"
Padahal, surat itu sesungguhnya teguran Wedana Pensiun ayah Enden Kori buat Wasita yang melanggar etika, berbunyi demikian:
Ke hadapan Wasita,
Saya teramat heran, dapat kabar bahwa kamu dari penggarap sawah sudah berani memunguti uang rakyat sebahu Rp50 ribu. Menurut pendapat saya, tak pantas benar. Bukannya menolong kepada sesama, ini malah mengisap.
Hormat saya,
Wedana Pensiun
Kemudian Wasita berpamitan pulang, sambil membawa surat dan sepasang gelang terbungkus saputangan.
Esoknya, Wasita sudah kembali lagi ke hadapan Kurnia. Ia membawa oleh-oleh yang terbungkus saputangan kemarin itu.
"Nih, rokok pemberian Enden. Tak pernah gagal orang tua mah. Coba cicipi," katanya tenang.
Maka diisapnyalah rokok itu, asapnya yang keluar dari mulutnya membubung bergulung-gulung ke atas.
Wasita berkata, "Gimana? Terasa sedapnya, apa ada sir-nya?"
"Iyalah!" jawab Kurnia pendek.
"Ni dia surat balasan dari Enden, saya baca kembali, ya?" kata Wasita yang lalu membaca surat sebagai berikut.
Kuterima surat dalam keadaan bahagia. Engkau ternyata begitu orangnya. Tak ada pertimbangan, dasar sama orang hina, lama nian sejak dulu, tak ada kabar berita.
Sesungguhnya diriku ini, sejak berjumpa itu, siang malam selalu teringat, satu detik pun tak terlupa, tetap cinta tak pernah putus, badan menjadi kurus, tergila-gila terhadapmu. Seumpama tinggal sehari lagi, tak sempat menerima surat, biar aku mati, sebab rindu padamu, yang bisa menyihir berahi dan mengguna-gunai, kubenci tetapi kurindu.
Gelang emas kiriman itu, kuterima dengan baik, sebelum kucoba memakainya, kuciumi dulu sebentar, tanda salut padamu, ketika semburat senja makin matang, berkilauan cahayanya. Susah membalasnya bagiku, sebagai tanda balasan, lumayan hanya rokok, dengan tembakau buruk, malu dan sungkan rasa diri, potret nanti menyusul, takut engkau cepat bosan.
Surat kusimpan kujaga baik-baik, di dalam lemari pakaian, ditebari wewangian, juga pewangi sumarsana, eros gulo tunjungtutur, melati dan cempaka. Tambahan pula, itu pun harap jangan marah, pabila berkenan, melengkapi gelang. ingin pasangannya peniti berlian, harganya tinggal tanya di toko Rich & Co.
Suratnya tak ditandatangani karena malu, bukan ahli bahasa, tulisan pun ceker ayam, sejelek pengirimnya, mohon maafkan nanti jumpa lagi.
Yang menanti,
Enden K.
"Aduuuuuuh! Mungkin inilah permatanya surat," kata si Kurnia setelah mendengarkan surat panjang Enden Kori.
"Memang tak penasaran berkorban, nantinya kembali juga, bila sudah menikah. Kan barang istri barang suami juga?" tanya Wasita.
"Betul, memang begitu, Mang! Tetapi gimana nih, sudah enggak punya uang? Yang tinggal hanya sawah empat bahu lagi," tanya Kurnia memelas.
"His, gampang, baiknya jual lagi aja, buat memenuhi permintaan Enden," saran Wasita.
"Begitu, saya hanya mengikut saja," jawab Kurnia.
"Ujang! Jangan ragu-ragu. Kan ceritanya sekarang Ujang sedang menjerat. Uang yang keluar nanti datang lagi berlipat-lipat. Apalagi dapat Enden. Bukan untung tuh! Hanya permintaan Emang, jangan sekali-kali Ujang membuang Emang bila sudah bercerita dengan Enden, Juragan Wedana tak sampai tiga tahun lagi juga akan meninggal, mengingat sudah parah penyakitnya. Warisan jatuh kepada sang anak semua. Coba, sawahnya saja 150 hektar, belum lagi uang dan toko di pasar," jawab Wasita panjang lebar.
"Kepada siapa dijualnya?" tanya Kurnia.
"Kita harus begini, sawah akan kita jual kepada Rama Juragan Pangsiun sendiri. Memang, sungguh lucu, sekarang kita jual, nanti bila Rama sudah meninggal, kembali lagi kepada kita," kata Wasita seolah akan bersiasat.
Singkat cerita, sawah si Kurnia sudah laku dijual sesuai rencana. Kemudian uangnya diatur sebagaimana mereka sudah rencanakan.
Setelah persiapan beres, berangkatlah Wasita ke Bandung untuk membeli peniti pesanan Enden Kori. Ketika sampai di Dayeuh Kolot, secara kebetulan bertemu dengan Tuan Seh pedagang batu mulia dan macam-macam barang perhiasan lainnya. Wasita pun membeli peniti permata.
Sepulang dari toko di Bandung. peniti itu sudah ada di tangan Kurnia. Peniti itu akan diberikan kepada Enden Kori, bersama surat seperti yang sudah-sudah.
Selang sehari, sesudah mengurus perihal peniti, muncullah Wasita ke hadapan Kurnia, sambil berkata sebagai berikut.
"Kemarin Enden tak sempat membalas surat, sebab lagi sibuk oleh pekerjaan. Hanya ada pesannya, malam nanti, kira-kira pukul satu harus berangkat ke Tamansari. Ujang jangan datang duluan, tetapi harus setelah ada Enden dan akan menunggu di taman belakang. Menurut perkataannya sih, ia ingin bercerita panjang."
Setelah berpesan, kemudian Wasita pulang. Kurnia girang bukan main. Sebab, dalam pertemuan nanti, ia akan mengikat pertunangan dengan Enden Kori.
Dikisahkan baru pukul 12, Ki Santri Gagal sudah ada di Tamansari. Ketika menengok ke sana kemari, tiba-tiba terdengar orang berteriak "maling". Mereka yang datang itu adalah para pengawal Juragan Pangsiun. Ternyata kawan-kawan Juragan Pangsiun itu sudah mendapat perjanjian dari Wasita.
Saat mencium bahaya, larilah Bung Santri secepat-cepatnya. Karena yang mengepung itu tidak dengan sesungguhnya, selamatlah Bung Santri. Kurnia berlari ke selatan, para pengepung ke utara.
Esoknya, datanglah Ki Suli—kawannya Juragan Pangsiun juga—ke hadapan Kurnia memberitahukan bahwa Kurnia akan didakwa oleh Juragan Wadana Pangsiun, sebab sudah berani mengganggu putrinya. Malah gelang dan peniti sudah dirampas berikut suratnya sebagai barang bukti.
Ki Suli itu, masih suruhannya Wasita juga.
Kata Ki Suli, "Sebenarnya saya kasihan sama kamu."
Selagi begitu, muncullah Wasita.
"Ada apa ini, kelihatannya serius benar?" katanya pura-pura.
Maka diceritakanlah oleh Kurnia sebagaimana perkataan Ki Suli tadi.
Ki Suli mendapat kedipan mata dari Wasita, supaya pulang, setelah memahami itu, pulanglah Ki Suli.
"Perkara ini bakal susah. Keputusannya mungkin di Pengadilan Negeri Bandung. Dan Agus diancam hukuman lima tahun dibuang keluar Pulau Jawa, sebab melanggar aturan Gangguan Umum pasal 168 tahun 1917. Dan kenapa malam itu, kata Enden ditunggu-tunggu sampai pukul dua, enggak nongol-nongol. Dia hanya mendengar ada pengepungan maling pada pukul dua belas," papar Wasita dengan mimik seolah tanpa dosa.
"Kan saya yang dikepung itu, untungnya enggak ketangkap," kata Kurnia.
Tanya Wasita pura-pura kaget, "Ya, kenapa? Disuruh pukul satu malah datang pukul dua belas. Ah, memang sial!”
"... Ah, tetapi saya yakin pukul satu, Mang!" jawab Kurnia.
"He, seperti meragukan Enden. Tetapi biar saja karena sudah lewat. Sekarang mari kita membicarakan hal yang tadi itu. Anu, sampai sekarang dakwaan itu tak terpikirkan cara untuk mengelakkannya. Hanya, bagaimana kalau begini, ini juga baru mudah-mudahan .... Bagaimana kalau sangkal saja oleh Ujang, tak terima dituduh mengganggu Enden. Hanya dengan begitu Ujang bisa selamat, tetapi gelang dan peniti melayang," kata Wasita memberi saran.
"Masalah barang, saya enggak ngotot, asal jangan sampai dibuang saja badan ini," jawab Kurnia polos.
"Ya, kita berdoa saja, sebelum polisi mengambil Ujang, biar Mamang yang menghadapi lebih dulu," kata Wasita pura-pura membantu.
Terus Wasita pulang. Esoknya sudah datang lagi ke hadapan Ki Santri.
"Berkah, Ujang selamat! Mamang sangkal saja bahwa sama sekali Ujang tak pernah memberikan gelang dan peniti kepada Enden. Ketika Juragan menyinggung-nyinggung perkara pengepungan maling, dia sudah mencurigai Ujang, tetapi semuanya Mamang bantah terus. Hanya sekarang Juragan Pangsiun timbul kebenciannya kepada anak sendiri, sampai disiksanya," ungkap Wasita.
"Terima kasih, yang penting bagi saya saat ini adalah selamat. Tetapi sayang dengan nasib Enden!" ungkap Kurnia.
Setelah itu Wasita pulang, serta dalam hati kegirangan karena berhasil memperdayai Kurnia sampai mendapatkan sejumlah uang yang besar. Bukan sekarang saja sebenarnya ia mendapat keuntungan dengan jalan menipu itu.
Kita tinggalkan Wasita, kembali kepada Kurnia alias Bung Santri Gagal. Sekarang ia sudah tak punya barang apa-apa lagi. Rumah dan tanahnya habis terjual, uangnya sudah lama habis dipakai berjudi. Tidurnya sudah tak tentu di mana, apalagi makannya, hanya terkadang saja.
Sementara Ki Santa, saat Agus Kurnia mengalami kesengsaraan, ia tak mau mendekatinya karena tak ada bahan untuk diisapnya. Kurnia tak diliriknya dengan sebelah mata.
Setelah mengalami kebangkrutan, lalu Bung Santri pergi tanpa tujuan. Tanpa sepengetahuannya, ia sudah sampai di Kota Bandung. Di kota berhawa hangat itu, ia hidup bergelandangan. Makan dengan cara mengemis. Sementara Bung Santri Gagal sampai di Bandung, Ujang Bandi, kakaknya, juga baru sampai di Kampung Cikopo untuk menjenguk keluarganya. Betapa kagetnya Ujang Bandi melihat rumahnya sudah dihuni oleh orang lain.
Dalam kesedihan dan kebingungannya untung ia bertemu Ki Amdani yang sekarang sudah sangat tua. Dari Ki Amdani, ia mendapat keterangan bahwa Kurnia sudah menjual rumah itu. Ki Amdani lalu bercerita tentang kematian Neng Elom yang gara-gara tidak mau disuruh kawin paksa. Juga tentang kematian kedua orang tuanya (Bapak dan Ambu Elom) yang meninggal karena makan hati. Betapa pilu hati Ujang Bandi mendengar berbagai musibah yang menimpa keluarganya.
Namun Ki Amdani dan semua tetangga tidak bisa memberi tahu ke mana perginya Den Kurnia. Akhirnya, Ujang Bandi pada hari itu juga cepat-cepat kembali ke Bandung.
Kembali kepada Bung Santri yang bergelandangan di Bandung. Suatu waktu, ia mengemis ke satu rumah gedung yang cukup bagus.
"Gan ... kasihan, Gan, ... minta uang buat makan!" ratap Bung Santri sambil menadahkan tangannya.
"Bu! ... ada musafir, Bu! Dia lapar katanya ...!" seru seorang anak perempuan kecil berumur tiga tahun.
"Mana, ... di mana musafirnya? Tuh, kasih receh!" perintah ibunya dari dalam.
Namun, tiba-tiba, anak kecil tadi sudah muncul dengan membawa sepiring nasi komplit dengan lauk-pauknya dan diberikan kepada peminta-minta itu.
"Nuhun, ... Neng, katampi!" kata pengemis.
Musafir itu menerima nasi lalu dimakannya di sudut halaman dekat pohon talas hias. Entah perasaan apa yang muncul, di antara pengemis dan anak kecil ini tiba-tiba timbul rasa yang aneh. Keduanya seolah sudah saling mengenal sebelumnya. Padahal baru bertemu saat itu saja.
Secara kebetulan waktu itu sebuah dokar berhenti di depan rumah itu. Lalu turun penumpangnya yang ternyata Ujang Bandi si empunya rumah gedung.
"Bapak pulang!" seru si anak perempuan kecil, sambil berlari keluar menyongsong bapaknya.
Si peminta-minta yang sedang makan ketika melihat pribumi datang, terlihat kaget setengah mati. Sementara setelah membayar dokar, si bapak mengangkat anak kecil itu ke pangkuannya sambil berjalan menuju ke pintu rumah. Ia juga merasa kaget ketika dilihatnya seorang musafir duduk bersila di sudut halaman, yang juga sedang memerhatikan dirinya.
"A ... a, adik Kurnia ...?" tanya pribumi terbata-bata.
"Akang Bandi?" balas musafir tak kalah heran.
"Ini teh Kang Kurnia? Kenapa jadi begini? Ke mana saja Akang selama ini, tak ada kabar berita?" tanya Bandi.
Tanpa menghiraukan bau badan si musafir, Ujang Bandi merangkul adiknya yang kemarin dicarinya ke kampungnya.
Tentu saja istri Ujang Bandi terheran-heran menyaksikan suaminya sesenggukan sambil memeluk seorang pengemis.
Satu jam kemudian, "pengemis" itu sudah mandi dan berpakaian rapi, pakaian kepunyaan Ujang Bandi. Diceritakan oleh Ujang Bandi kepada istrinya dari A sampai Z perihal adiknya yang bernama Kurnia alias Bung Santri Gagal. Tanpa tawar-menawar, Kurnia sudah dimaafkan oleh sang kakak, Ujang Bandi. Sejak saat itu, ia tinggal bersama kakaknya sambil membantu usaha toko kakaknya.
•••







Komentar
Posting Komentar