LILIANI DAN LOLOSANDA
KATA PENGANTAR
Khazanah sastra Nusantara dicoraki dan sekaligus diperkaya oleh karya-karya sastra yang menggambarkan dinamika dan tingkat kehidupan masyarakat daerah yang bersangkutan. Dinamika dan tingkat kehidupan yang terekam dalam karya sastra daerah itu memperlihatkan kemantapan budaya, antara lain yang berupa ajaran dan nasihat yang amat berguna bagi para pembaca sastra daerah khususnya dan bagi generasi muda bangsa Indonesia pada umumnya. Itulah sebabnya kekayaan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam sastra daerah di Nusantara itu perlu dilestarikan.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk melestarikan kekayaan budaya Nusantara itu adalah dengan menerjemahkan nilai-nilai yang terkandung dalam sastra daerah itu ke dalam cerita anak-anak. Upaya seperti itu bukan hanya akan memperluas wawasan anak terhadap sastra dan budaya masyarakat Nusantara, melainkan juga akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia itu sendiri. Dengan demikian, hal itu dapat dipandang sebagai upaya membuka dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.
Sehubungan dengan hal itu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber dari sastra daerah.
Buku Liliani dan Lolosanda ini bersumber pada terbitan Bagian Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun 1987 dengan judul Tolbok Haleon yang disusun kembali dalam bahasa Indonesia oleh Drs. Zaenal Hakim. Ucapan terima kasih saya tujukan kepada Dra. Maini Trisna Jayawati sebagai penyunting dan Sdr. Dasep Abdullah sebagai ilustrator buku ini.
Mudah-mudahan buku ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pembaca.
Jakarta, Januari 1999
Kepala Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa,
Dr. Hasan Alwi
•••
UCAPAN TERIMA KASIH
"Tolbok Haleon" adalah sebuah roman rakyat daerah Tapanuli Selatan yang ditulis oleh Sutan Panguraban dalam bentuk prosa. Cerita itu ditulis dengan huruf Latin dan menggunakan bahasa Batak. Penerjemahan dilakukan oleh Aisyah Ibrahim dan diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Versi terjemahan itulah yang berjudul Lilian Lolosan dijadikan dasar penceritaan kembali cerita ini.
Dalam versi saduran ini, judul cerita diubah menjadi Liliani dan Lolosanda. Ceritanya diungkapkan kembali dalam bentuk sederhana dan dengan bahasa yang sederhana pula. Dengan demikian, diharapkan cerita ini dapat lebih mudah dipahami dan menarik minat baca anak-anak.
Penyusunan cerita Liliani dan Lolosanda ini sepenuhnya dibiayai oleh Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun anggaran 1998/1999. Sehubungan dengan itu, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Hasan Alwi, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, dan Drs. A. Rozak Zaidan, M.A., Kepala Bidang Sastra Indonesia dan Daerah. Ucapan yang sama saya sampaikan pula kepada Dra. Atika Sja'rani, Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, beserta staf. Atas kepercayaan merekalah penyusunan ini dapat saya selesaikan.
Penulis
•••
1. KASIH IBU
Di sebuah kampung, wilayah Padang Sidempuan, hiduplah seorang ibu penjual kue. Suaminya sudah meninggal. Ia harus bekerja sendiri. "Aku berdagang agar anakku bisa makan tiap hari." Demikian pikir si ibu. Sekalipun hidup susah, ibu itu dapat menyekolahkan anaknya yang bernama Lolosanda ke Sekolah Raja. Oleh karena itu, si Lolosanda di kawasan Padang Sidempuan itu termasuk salah seorang anak kampung yang bisa baca-tulis.
Di Padang Sidempuan itu terdapat sebuah pabrik getah. Para pekerja, yang mengambil getah dari pohon-pohon di hutan, selalu berdatangan. Pabrik yang mengolah getah menjadi bahan karet, penyamak kulit, dan campuran sirih itu, selalu ramai. Setiap hari pabrik itu juga sering didatangi oleh banyak pedagang dari berbagai bangsa seperti Belanda, Melayu, Jawa, Keling, dan Batak.
Di kota itu sering diadakan lomba balap kuda. Perlombaan itu membuat kota semakin ramai. Meskipun balapan kuda merupakan kesenangan tuan-tuan Belanda, ada juga satu dua bangsa pribumi yang menyenangi. Yang menjadi joki banyak, apalagi yang menontonnya. Si Lolosanda pun sangat menyenangi balapan itu. Bila sudah terlalu asyik menonton, Si Lolosanda pulang ke rumah sampai larut malam. Maka, dimarahi ibunyalah dia.
"Kalau mau nonton kuda, bilang dulu! Nanti orang-orang bisa mencarimu ke sana kemari." kata ibunya sambil menjewer kupingnya.
Setiap pagi, begitu ayam jantan berkokok, ibu si Lolosanda sudah bangun. Ia langsung bekerja, membuat kue-kue. Membuat wajik, bugis, pisang rebus, dan onde-onde, adalah keahliannya. Karena sudah terbiasa, ibu si Lolosanda bisa mengerjakannya dengan cepat sekali.
Matahari mulai menyinari perkampungan. Seperti biasanya, ibu si Lolosanda sudah meletakkan jualannya di muka rumahnya.
"Maen! Coba bungkus lima biji dicampur saja. Saya mau sarapan!" kata seorang kuli. Laki-laki itu akan berangkat ke pabrik getah.
"Baik, Ompung!" jawab ibu si Lolosanda sambil membungkusi kue-kue. Orang-orang menyukai kue-kue bikinan ibu si Lolosanda. Kata mereka, kue-kue dari ibu si Lolosanda amat lezat, bersih lagi.
Berbeda dengan ibunya yang sangat rajin, si Lolosanda adalah seorang anak yang malas. Jangankan membantu ibunya, berdiam di rumah sehari saja ia tidak mau. Kerjanya hanyalah membuat susah hati ibunya. Bila di rumah, ia selalu mengundang teman-temannya bermain di rumahnya. Bila sudah demikian, nasi dan kue-kue jualan ibunya habis tandas. Bagaimana tidak, kawan-kawannya itu dengan bebas dan lahapnya menyikat semuanya.
"Hai, Nak! Ubahlah kelakuanmu itu! Bisa habis dagangan ini bila terus-terusan dimakan teman-temanmu!" tegur ibunya pada suatu hari.
"Ala! Biarlah, Ma, aku juga sering diberi buah-buahan oleh kawan-kawanku itu," jawab si Lolosanda.
Lolosanda memang sering diajak bermain di kebun buah-buahan milik orang tua teman-temannya. Di sana mereka memetik limau, manggis, jambu, dan duku yang sudah matang. Padahal, buah-buahan itu ditanam untuk dijual. Oleh karena itu, pemiliknya sering merasa jengkel. Apalagi anak-anak itu sering membuang kulit buah-buahan di sembarang tempat.
Sekalipun si Lolosanda nakal, ibunya tetap menyayanginya. Apalagi Lolosanda adalah anak satu-satunya. Setiap malam, sehabis sembahyang, ibunya senantiasa berdoa.
"Ya, Tuhanku! Insyafkanlah anakku. Aku mohon, luluhkanlah hatinya agar ia menjadi sayang kepadaku!" Demikian pinta ibunya kepada Tuhan.
Tiap kali kawan-kawannya bermain ke rumahnya, ibunya pasti mengeluh. Ia sering kekurangan uang belanja. Apabila uangnya dibelanjakan dagangan, ia tidak bisa membeli beras. Sebaliknya, bila membeli beras, ia tidak memiliki sisa untuk membeli bahan-bahan dagangan. Akan tetapi, Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ibu si Lolosanda terkadang mendapat pertolongan yang tak diduga-duga, seperti yang dialaminya hari ini.
"Mari kita ke pasar, Ma Lolosan!" ajak tetangga-tetangganya.
"Ya, duluan sajalah!" jawab ibu si Lolosanda.
Matahari bertambah tinggi. Bertambah gelisahlah hati perempuan setengah baya itu. Dirasakan perutnya makin perih. Ia bingung. Uangnya tinggal lima ribu rupiah. Uang itu tidak cukup untuk belanja ke pasar.
"Mengapa belum pergi ke pasar, Ma?" tanya Datu Marzuki ketika melihat ibu si Lolosanda masih duduk-duduk di tangga rumahnya.
"Ah, saya memang mau pergi, Datu! Akan tetapi, uang saya tidak cukup," jawab ibu si Lolosanda sambil menitikkan air mata.
"Oh, kalau begitu pakai dulu uang ini!" kata Datu sambil mengasongkan selembar uang puluhan ribu rupiah. Ibu si Lolosanda memberanikan diri menerimanya.
"Enggak usah cepat-cepat kau kembalikan uang itu. Kalau kau sudah punya, baru kembalikan," tambah sang Datu.
Orang-orang di kampung itu sudah mengetahui bahwa Datu Marzuki selalu berbuat baik terhadap ibu si Lolosanda. Datu itu ingin memperistrinya. Hanya saja, janda itu belum memberikan jawaban "ya" kepada Datu itu. Datu sering kali menolak pembayaran uang yang dipinjamkannya, "Kapan saya meminjami uang sama engkau?" tanya Datu Marzuki pura-pura kaget. Bila sudah begitu, ibu si Lolosanda tidak bisa memaksa lagi. Uang itu dimasukkannya lagi ke balik kutangnya.
Berkat pertolongan Datu itu, ibu si Lolosanda pulang dari pasar dengan keranjang yang penuh. Di rumah, anaknya sudah menunggu. Rupanya, ia sudah pulang main.
"Ha! Ema sudah pulang. Cepat masak, Ma. Aku sudah lapar!" katanya kepada ibunya. Anak nakal itu tidak pernah mengasihani orang tuanya. Memikirkan sifat anaknya itu, ibunya merasa sedih sekaligus gembira. Ia bersedih karena pikiran anaknya belum dewasa. Ia gembira karena anaknya tidak pernah murung. Si Lolosanda memang seorang anak periang.
"Sama apa kita makan hari ini, Ma?" tanya si Lolosanda kepada ibunya yang sedang menanak nasi.
"Sama sayur asem," jawab ibunya.
"Bah! Asem! Kita potong ayam, Ma. Biar aku tangkap di belakang rumah," jawab si Lolosanda bersemangat.
"Kalau terus-terusan diambil, habislah ayam kita!" jawab ibunya.
"Enggaklah, Ma! Kan beranak-cucu lagi!" kata si Lolosanda balik menjawab dengan kocak.
"Bila ternak punya keturunan, mengapa uang kita tidak?" tanya ibunya pula.
"Itu karena ayam diciptakan oleh Tuhan, sedangkan uang hanya buatan manusia. Jadi, kalahlah bikinan manusia!" jawab si Lolosan tidak kehabisan kata-kata.
"Kalau begitu, bagaimanakah caranya agar kita bisa terus-menerus tetap memiliki uang?" tanya ibunya ingin mengetahui pendapat anaknya.
"Uang itu kita pegang terus, biar kita sampai kelaparan karena tidak belanja apa-apa!" jawab si Lolosanda seenaknya.
"Nah! Justru karena itu, supaya kita tidak kelaparan, uang harus kita belanjakan. Untuk mengganti uang yang sudah dibelanjakan, kita harus mencarinya dengan jalan bekerja! Jadi, ... kapan kau mau bekerja supaya mendapatkan uang?" tanya ibunya agak menyindir si Lolosanda.
"Wah, wah, wah! Kok jadi begini? Baik, baik, aku akan bekerja di pabrik getah milik toke itu!" jawab anaknya seenaknya.
•••
2. MENJADI ANAK TOKE
Lolosanda merasa bebas bermain ke mana saja. Bersama teman-temannya ia bisa berada di sungai, di danau, di hutan, di sawah, di alun-alun, atau di halaman rumah orang. Di sungai mereka berenang. Di danau mereka bersampan. Di hutan mereka mencari buah-buahan atau menangkap burung. Di sawah mereka memancing belut. Ke pasar malam mereka datang bila ada komidi putar. Di depan rumah orang mereka bermain gasing, kelereng, meniup seruling, atau hanya duduk-duduk saja.
"Engkau jangan main di sungai," cegah ibunya. Ibunya cemas sekali bila mendengar laporan bahwa anaknya bermain di sungai.
Pada suatu hari, si Lolosanda bersama temannya sedang berangin-angin di depan pabrik Toke Ho. Mereka bercengkerama sambil melihat kesibukan para kuli. Para pekerja itu ada yang mengangkat barang, ada yang menurunkan barang. Berkarung-karung hasil bumi, seperti kacang tanah, biji kopi, gula, dan tembakau, diturunkan atau dinaikkan ke gerobak.
"Aku punya tebakan, apabila seekor gajah bengkak hamil, apanya yang paling besar?" tanya teman si Lolosanda.
"Kupingnya!" jawab salah seorang.
"Salah," sangkal anak pemberi tebakan.
"Perutnya!"
"Salah juga.
"Habis, apanya dong?" tanya yang lain.
"Yang paling besar dari seekor gajah bengkak hamil adalah kandangnya," jawab si pemberi soal tebakan.
"Uuuu!" seru anak-anak serentak, "Itu sih bukan tebakan. Itu namanya membual!" sambung mereka pula.
"Sekarang tebak. Apanya yang lebih dulu, apabila seekor kucing menyeberangi jalan?" tanya kawannya yang lain.
"Ya, kepalanya dulu, tentu," jawab salah seorang.
"Hah, kepalanya dulu? Jadi, badannya ditinggal?" sangkal pemberi soal tebakan.
"Kakinya yang kanan dulu."
"Masih salah."
"Habis, apanya, sih? Jawabannya salah terus?" tanya yang lainnya marah.
"Ya, jalannya dulu dong dibangun. Kalau tidak ada jalan, bagaimana bisa kucing itu menyeberang? Betul, kan?"
Si Lolosanda tidak ikut bermain tebakan. Sedari tadi tangannya memegangi sesobek kertas koran. Kertas kotor itu ia pungut entah di mana. Tulisan koran itu berbahasa Belanda. Dari sobekannya yang masih tinggal, tampak gambar foto Ratu Wilhelmina. Dialah ratu dari Negeri Belanda, negeri bersalju nun jauh di sana. Si Lolosanda melihat foto ratu berwajah sangat cantik itu.
Dari dalam toko, Toke Ho memandang keluar halaman. Toke itu memerhatikan anak-anak tanggung, kawan si Lolosanda. Perhatiannya tertuju kepada si Lolosanda, yang sedari tadi memegangi sobekan koran. Perbuatannya itu, di mata Toke berbangsa Tionghoa itu sangat ganjil.
"Anak kampung pegang kolan, ho? Apa dia bisa baca? Ho, ho, sekolah di mana dia? Haiyya!" kata sang Toke bicara sendiri. "Oe jadi ingin tau, siapa dia sebenalnya!"
Toke itu bertubuh serbabulat. Tangannya memegang tongkat. Topi kecilnya tampak seperti hanya menempel di kepalanya. Yang paling istimewa, rambutnya panjang dijalin ke belakang. Kemudian ia mendekati si Lolosanda. Dengan pakaian khas tanah leluhurnya, ia terkesan sebagai orang Cina totok.
"Haiyya! Kamu baca apa, ho? Kolan? Di situ ada kabal apa, ho?" tanya sang Toke kepada Lolosanda. Ia menunjuk koran dengan tongkatnya.
"Kabar rencana tunangan Ratu Wilhelmina dengan Pangeran Bernard, Ba," jawab Lolosanda.
Selanjutnya sang Toke mengajak Lolosanda berbicara agak lama. Toke Ho mendapat informasi tentang Lolosanda dan keluarganya. Setelah merasa cukup, Toke itu kembali masuk ke rumahnya.
Esoknya, seorang laki-laki datang ke rumah Lolosanda. Ia memperkenalkan diri sebagai suruhan Toke Ho. Ia ditugasi menjemput Lolosanda.
"Mulai hari ini, Nak Lolosanda boleh bekerja di toko Toke Ho." Demikian laki-laki itu menerangkan maksud kedatangannya.
"Syukurlah! Mungkin Tuhan mengabulkan doaku agar si Lolosanda berubah tabiatnya," kata ibu Lolosanda dalam hati.
"Aku pergi, Ma! Kalau ada teman, katakan aku ada di toko Baba Ho," kata si Lolosanda sambil pergi bersama orang suruhan itu.
"Baiklah, Nak, hati-hati bekerja! Ingat nasihat ibu. Jangan sekali-kali engkau membuat malu siapa pun!" kata ibu si Lolosanda memberikan nasihat.
Setibanya di pabrik Toke Ho, didapatinya para kuli sedang sibuk bekerja. Ada yang mengisi peti, ada yang menimbang karet, ada yang membuka karung, dan sebagainya. Usaha dagang Toke Ho tergolong maju. Jumlah gerobaknya yang tampak di halaman saja sebanyak dua puluh buah.
"Salam, Baba!" kata Lolosanda begitu melihat Toke Ho.
"Ho, kau sudah latang?" balas Toke Ho, kemudian mempersilakan Lolosanda duduk di samping sebuah meja besar. "Ho! Itu meja keljamu!" kata Toke itu sambil menunjuk meja. Di sini ada buku-buku, kertas, dan pena bulu angsa.
"Kau tulis ini," kata Toke sambil menyerahkan kertas pada Lolosanda. Lolosanda menerima kertas-kertas bergaris, berkotak-kotak, dan berjalur-jalur. Pada hari pertama itu, sebenarnya Lolosanda sudah diajari mengerjakan surat-menyurat perdagangan.
Beberapa bulan kemudian, sang Toke sudah menganggap Lolosanda sebagai seorang pemuda cakap dan baik perangainya. Lama-kelamaan Lolosanda dianggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Lolosanda sendiri merasa betah bekerja pada Toke Ho. Kini ia sudah menyatakan "selamat tinggal" pada kenakalan masa lalu semasa bersama teman-temannya dulu.
Di samping sebagai tempat bekerja, pabrik itu pun sudah dianggapnya sebagai rumah sendiri. Ia selalu pulang ketika hari menjelang larut malam.
Mengapa Lolosanda sangat betah tinggal di rumah baba itu? Dapat dikatakan, sejak pertemuan pertama, mereka langsung menjadi sahabat. Lama kelamaan majikannya, yang dipanggil "Baba Ho" itu, mengajarkan ilmu bela diri Tiongkok asli.
"Belajallah bela dili kalena di dunia ini banyak olang jahat." kata toke itu. "Tetapi, ingat! Kalu udah jago jangan dipake sombong. ya!" Demikian pesan majikannya. IImu bela diri yang dipelajarinya adalah jurus-jurus kuntauw.
•••
3. MELUMPUHKAN HARIMAU
Lima tahun sudah lamanya si Lolosanda bekerja di pabrik milik Toke Ho. Selama bekerja, ia tidak pernah mengecewakan tuannya. Urusan surat-menyurat maupun soal pengaturan barang selalu memuaskan majikannya itu.
"Haiyya, kelani! Ini Oe telima telegam dari Singapol, ho. Bacalah!" kata majikannya sambil mengasongkan telegram.
Lolosanda membaca telegram itu. Telegram itu berisi permintaan agar pabrik menyediakan lembar-lembar bahan karet sebanyak-banyaknya. Tawaran harga dua kali lipat dari biasanya.
"Bagaimana calanya ho, supaya kita bisa dapat balang sebanyak itu, ho?" tanya Toke Ho.
Mendengar pertanyaan itu Lolosanda sebentar berpikir. Tak lama kemudian ia bicara.
"Begini, Ba. Menurut saya, lebih dulu kita harus datangi agen-agen di pelosok. Setiap agen kita beri uang muka. Dengan uang muka, mereka akan bisa mengupah penduduk kampung untuk pergi ke hutan mencari getah."
"Haiyya! Saya pelcaya sama kamu, ho! Tetapi bagusnya engkau sendili yang pelgi. Kasih kabal sama olang kampung agal mau masuk hutan, ho?" kata Toke Ho memberi saran kepada Lolosanda.
"Baiklah, Ba! Subuh nanti sediakan saya seekor kuda. Saya ingin sampai di Sipirok sebelum pukul tujuh," kata Lolosanda pada Toke Ho.
Esok harinya, di sepanjang jalan Sidempuan—Sipirok sayup-sayup terdengar seru-seruan penunggang kuda.
"Ha! Heba, hss! Ck, ck, ck!" seru penunggangnya, mulutnya sibuk. Sesekali, terdengar pula bunyi "Tar!" dari sebuah lecutan cambuk. Sang kuda akhirnya mau juga mempercepat jalannya. Saat itu matahari baru sedikit memperlihatkan wajahnya di antara sela-sela cabang pepohonan. Hutan, gunung, dan perkampungan masih diselimuti hawa dingin sisa malam tadi.
Penunggang kuda itu ternyata seorang pemuda berumur kira-kira sembilan belas tahun. Dialah Lolosanda. Ia mengenakan pakaian laki-laki bangsa Eropa. Bajunya berompi, pantalon warna gelap, dan sepatu laras tinggi. Ia tampak gagah duduk di atas pelana. Raut wajahnya tenang dan bercahaya. Kulit mukanya licin sering tersentuh air.
Pagi hari itu juga, kira-kira pukul tujuh sampailah Lolosanda di Sipirok. Itulah desa terdekat yang dikunjungi Lolosanda. Desa itu adalah desa pertama yang akan mendengar kabar kenaikan harga getah. Di desa itu Lolosanda menjumpai beberapa bandar. Mereka akan diajaknya berunding. Beberapa di antara mereka adalah Bang Kodair, Bang Duang Daing, dan Bang Dugol Degol.
Malam harinya, lewat beberapa menit setelah azan Isya, para bandar sudah berkumpul di rumah Bang Duang Daing. Mereka duduk bersila, berkeliling membentuk lingkaran, memenuhi ruang tamu. Mereka ingin mendengar kabar baru dari Lolosanda. Mereka sangat ingin mendengar kabar baru tentang perdagangan hasil bumi.
"Saudara-saudara, Bapak, Abang, serta Paman sekalian! Ada telegram yang mengabarkan harga barang termasuk karet, sudah naik berlipat ganda. Bagaimana, apakah Abang sekalian dapat mengumpulkan getah dalam waktu lima hari ini?" kata Lolosanda mengawali musyawarah itu.
"Saya mempunyai lima pikul getah dan sepuluh pikul mayang tembaga," kata Bang Duang Daing.
"Saya punya rotan seratus batang!" kata Bang Dugol Degol.
"Saya tembakau empat gerobak!" balas Bang Kodair.
"Setop dulu!" kata Lolosanda. "Terima kasih atas perhatian Abang semua. Akan tetapi, yang lebih penting adalah bagaimana menyediakan barang itu secepatnya dan sebanyak-banyaknya? Saya perhatikan perkebunan di jalan tadi, hasil hutan yang kita perlukan itu sangat melimpah. Cuma, siapa orang yang akan membawanya ke kampung ini?” kata Lolosanda mengakhiri pembicaraannya.
"Negeri kita kaya!" kata seseorang.
"Menurut pendapat saya, mulai besok kita umumkan bahwa harga barang sudah naik. Orang-orang pasti rajin masuk ke hutan," kata Bang Dugol Degol yang duduk dekat pintu dapur.
"Kalau menurut saya, mana telegram itu sekarang? Coba berikan pada saya. Saya akan bawa ke pasar. Akan saya katakan bahwa sekarang harga getah sudah naik. Pasti mereka percaya. Kalian belum tahu kan bahwa bangsa kita lebih memercayai telegram daripada lurahnya? Lagi pula, mereka akan menganggap kita sangat berwibawa sewaktu kita memegang telegram itu!" kata Bang Kodair.
"Ha-ha-ha!" Terdengar tawa di seluruh ruangan itu. Hadirin merasa geli mendengar perkataan Bang Kodair.
"Baiklah, sekarang Saudara-saudara akan saya beri uang muka. Tugas selanjutnya saya serahkan kepada Abang semua. Bagaimana caranya mengerahkan orang-orang supaya mau masuk hutan. Lima hari lagi saya datang kemari dengan sebuah truk,” kata Lolosanda mengakhiri pertemuan, "Saya mau beristirahat dulu. Besok mau melihat-lihat pemandangan di desa ini."
Esok paginya, di awal hari Minggu itu, Bang Duang Daing mnenemui Lolosanda.
"Bagaimana, apa perlu si Busrok menemani Tuan?" tanya Bang Duang Daing kepada Lolosanda. Saat itu si Lolosanda sedang mengenakan sepatu bot karet panjang sebetis. Dengan sepatu itu, kaki akan tetap bersih. Kakinya tidak akan terkena tanah atau air sekalipun di tempat yang jeblok.
"Ah, tidak usahlah. Biar saya jalan sendiri," jawab Lolosanda.
Pada hari itu si Lolosanda benar-benar menghibur dirinya. Sepuasnya ia melihat-lihat suasana desa. Ia berjalan ke mana pun langkah kakinya berayun. Hawa pegunungan yang segar membuatnya tidak merasa lelah. Sesekali ia berhenti. Lama ia mengagumi pemandangan alam yang menarik perhatiannya. Ia pandangi burung-burung di pohon, bunga-bunga di semak, dan liku-liku sungai di lembah. Ia juga berhenti di kedai penduduk untuk sekadar makan kue-kue. Ia pun berbicara dengan penduduk desa. Mereka terheran-heran melihat pakaian Lolosanda. "Seperti Tuan Olanda," kata mereka. "Olanda " adalah perkataan penduduk di situ untuk menyebut Belanda. Kini keringatnya sudah kering dan perut pun terisi. Ia pun berjalan lagi untuk menikmati keindahan alam.
Kini di hadapan si Lolosanda terdapat jalan bersimpang tiga. Pada ruas jalan yang sebelah kanan didapatinya orang-orang berlarian. Mereka berteriak-teriak minta tolong. Ada yang terjatuh, lalu berdiri dan berlari lagi. Semuanya tampak ketakutan.
"Ada apa, Bang? Kenapa pada berlarian?" tanya Lolosanda pada salah seorang.
"Ada harimau masuk kampung!" jawab yang ditanya.
Mendengar jawaban itu Lolosanda menjadi penasaran. Dengan setengah berlari ia meninggalkan orang-orang yang ketakutan.
"Mau ke mana, Bang?" tanya seseorang pada Lolosanda.
"Mau lihat harimau!" jawab Lolosanda.
"Jangan sok jagoanlah. Binatang itu bukan lawanmu,” jawab laki-laki itu.
Lolosanda tidak mendengar perkataan laki-laki itu. Ia malah mempercepat larinya menuju kampung.
Begitu sampai di kampung, keadaan sudah sepi. Kampung itu telah ditinggalkan penghuninya. Pada saat itu Lolosanda dengan jelas mendengar suara-suara auman harimau. Setelah mengetahui sumber suara, Lolosanda mendekati tempat itu tanpa bersuara. Suara datangnya dari belakang rumah yang diapit jalan simpang tiga.
"Astaga!" seru Lolosanda.
Di hadapannya, seekor harimau sedang berusaha membongkar sebuah kandang kambing. Di dalam kandang itu terdapat beberapa ekor kambing yang bertiarap. Rupanya mereka sangat ketakutan.
Pada saat harimau itu lengah, secepat kilat Lolosanda menerkam binatang buas itu dari belakang. Lolosanda tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melumpuhkan binatang itu. Dengan memegangi tengkuk binatang itu, ia memukuli kepala "kucing besar" itu hingga pingsan. Binatang itu tidak dibunuhnya, tetapi hanya dibuat pingsan saja.
Setelah harimau itu dapat dilumnpuhkan, tiba-tiba orang berdatangan ke tempat itu. Mereka ingin menyaksikan makhluk yang ditakutinya selama ini terkapar di tanah. Kepada warga kampung Lolosanda memohon agar binatang itu tidak dibunuh, tetapi harus dilaporkan kepada yang berwajib. Di tangan yang berwajib binatang itu akan dilestarikan agar tidak punah.
"Terima kasih, anak muda! Anak telah membasmi pencuri ternak di kampung kami," kata seseorang yang sudah tua. Di sampingnya berdiri seorang gadis, anaknya.
"Abang, mampir dulu ke rumah!" kata gadis itu.
"Oh, ya! Kalau enggak salah, anak ini baru pertama kali datang ke sini, ya?" tanya orang tua itu. Lolosanda menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Nah, kalau begitu sudilah kiranya anak mampir ke rumah kami," ajak si orang tua itu, kemudian.
Lolosanda tidak berani menolak permintaan orang tua itu. Ia pun menyanggupi untuk mampir sebentar di rumah orang tua itu. Di rumah orang tua itu Lolosanda disuguhi air kopi hangat dan makanan ringan hasil tanaman penduduk di situ.
"Ini anak saya, Liliani namanya," kata orang tua itu memperkenalkan nama anaknya kepada tamunya.
"Terima kasih. Nama saya Lolosanda," balas Lolosanda turut memperkenalkan dirinya,
"Harimau itu sudah tiga kali menjarah kampung ini," kata si orang tua memulai obrolan kepada Lolosanda. "Kini ia datang lagi. Rupanya mangsanya di hutan sudah habis sehingga ia masuk kampung mencari makanan milik penduduk."
"Sekalipun demikian, Pak. Saya harap harimau itu jangan dibunuh. Pada saat ini jumlah binatang itu sudah langka. Oleh karena itu, pemerintah berusaha melindungi binatang-binatang yang dianggap nyaris punah. Seperti yang saya lakukan, apabila ada harimau masuk kampung, hendaknya cukup dibuat pingsan atau cukup dilumpuhkan saja. Selanjutnya binatang itu harus dilaporkan kepada pemerintah untuk diurus sebagaimana mestinya,” kata Lolosanda menerangkan.
Pada saat kedua laki-laki itu asyik ngobrol, Liliani hanya berdiam diri mendengarkan. Setelah obrolan mereka rasakan cukup lama, Lolosanda pun berpamitan minta diri.
Ketika Lolosanda meninggalkan rumah itu, Liliani melambaikan tangannya sebagai tanda terima kasih atas perkenalannya. Ia melambai-lambaikan tangannya lewat jendela rumahnya.
•••
4. PERKENALAN PERTAMA
Setiba di rumahnya, Lolosanda masih teringat pada gadis yang melambaikan tangan lewat jendela rumahnya. Dialah anak Pak Tua di Sipirok siang tadi. Setiap hari pekerjaannya hanya menghapalkan nama-nama hari. Pada malam Jumat nanti ia akan datang lagị ke kampung itu untuk mengambil hasil hutan yang telah dipesannya.
"Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, ... malam Jumat!" gumam Lolosanda pula. Ia mengharapkan segera datang hari Kamis. Pada hari itu ia akan mengambil getah. Oh, bukan! Mungkin agar ia bisa kembali menjumpai gadis Sipirok itu. Nah, itu yang betul! "Kedua-duanya memang betul!" gumam Lolosanda pula.
Untunglah perilakunya tidak dilihat oleh Toke Ho, majikannya. Sebetulnya ia merasa ngeri jika teringat akan perkelahiannya dengan harimau siang tadi. Baru kali itulah ia berkelahi dengan binatang. "Untunglah harimau itu dapat aku kalahkan," katanya menenangkan hatinya sendiri.
Sampailah hari yang dinantikan itu: hari Kamis. Kali ini ia berangkat menumpang truk. Truk itu akan mengangkut hasil bumi. Ia sendiri duduk di samping sopir. Setibanya di Sipirok, pembantu toke itu menuju rumah Duang Daing. Rumah itu sudah ditentukan sebagai tempat menampung segala hasil hutan.
"Bagaimana, banyak hasilnya?" tanya Lolosanda pada salah seorang bandar.
"Lumayan!" jawab orang itu dengan suara nyaring.
"Kalau begitu timbanglah dulu. Kalau perlu uang sekarang, naik saja ke kamar! Saya mau istirahat dulu karena badan saya terlalu capek," kata Lolosanda. Lalu ia meniti anak tangga satu per satu menuju ke tempat istirahatnya. Di dalam kamarnya sudah terdapat secangkir kopi. Bang Duang Dainglah yang menyediakannya.
Malam pun tiba. Gelap memerangkap kawasan desa itu. Lolosanda turun dari rumah Duang Daing. Ia menuju simpang tiga. Ia mengharapkan bisa bertemu dengan gadis itu. "Apa yang diperbuatnya saat ini? Di manakah sekolahnya?" tanya Lolosanda dalam hatinya. Ia ingin berlama-lama berbicara dengannya. Akan tetapi, gadis itu rupanya tidak pernah sedang berada di luar rumahnya. Dari jalan simpang tiga itu ia sudah dapat melihat rumah gadis itu. Pertama-tama ia memerhatikan jendela rumah. Dari situ ia mengharapkan muncul gadis itu.
Kita dahului si Lolosanda. Bagaimanakah keadaan si gadis Liliani di rumahnya? Sejak pukul lima sore ia sudah merasa gelisah. Kerjanya hanya mondar-mandir, duduk, lalu berdiri, kemudian duduk lagi. Ia ingat betul bahwa pada hari Minggu yang lalu seorang pemuda asing telah mengalahkan harimau di depan rumahnya. Pada hari Sabtu ini, ia berharap pemuda itu muncul kembali. Seharian penuh ia memerhatikan jalanan. Ia menanti pemuda yang sesungguhnya tidak dikenalnya.
"Astaga! Ada apa, Liliani? Dari tadi kerjamu hanya mondar-mandir saja? Kau mau bersuami, ya?" tanya ibunya sambil cepat-cepat menengok ke jalan. "Mana? Siapa yang kaunantikan?" tanya ibunya menggoda.
"Mudah-mudahan laki-laki yang kau nantikan itu, Si Galunggung!" kata ibunya sambil terus keluar kamar.
Selang betberapa lama, di jalan terdengar suara langkah orang berjalan sambil mengobrol. Liliani tak sabar, segera menengok ke jalanan.
"Persetan! Itu laki-laki yang paling saya benci. Kalau sekiranya diisap setan, senanglah hati saya!" serapahnya, ketika diketahuinya yang lewat adalah si Galunggung bersama kawannya. Segera ditutupnya kembali jendela itu supaya ia tidak melihat bayangan kedua orang itu. Liliani sangat membenci si Galunggung.
Bunyi langkah kedua orang itu sudah lenyap. Liliani kembali membuka jendela. Dan, entah ke mana si pemuda asing itu tak juga kunjung datang.
"Ah, mungkin dia tak akan muncul lagi?" bisik Liliani. Hanya rasa lemaslah yang dirasakan di seluruh tubuhnya.
Kesedihan Liliani ternyata tak berlangsung lama. Mula-mula pemuda itu terlihat di ujung jalan. Lama-kelamaan bayangannya menjadi jelas karena ia sudah semakin dekat. Pemuda itu kini ditemani Bang Kodair. Berbeda dengan kejadian empat hari yang lalu, saat terjadi kehebohan ketika muncul harimau lapar dari hutan, pada saat ini Liliani sangat ingin bertemu kembali dengan Lolosanda.
Di luar remang-remang. Di balik jendela, Liliani mendengarkan Lolosanda berbicara dengan seorang laki-laki.
"Kapan Abang datang?" tanya Bang Kodair.
"Tadi pukul empat," jawab Lolosanda, "Dapat barang apa kita? Sudah berapa banyak?" lanjutnya pula.
"Kami sedikit bertengkar dengan bandar dari Pergarutan. Mereka merasa diboikot karena petani menjual barangnya hanya pada kami. Salahnya sendiri, mereka tidak mau memberi harga agak tinggi," kata Kodair mengabarkan soal pekerjaannya.
"Baiklah! Sekarang saya pergi dulu. Kita ketemu lagi di masjid.”
Jendela di atas itu sudah ditutup. Tiba-tiba Liliani sudah duduk di tangga depan rumahnya. Dengan jelas ia terlihat oleh Lolosanda.
"Assalamualaikum!” Liliani memberi salam.
"Waalaikumsalam!" jawab Lolosanda.
"Kudengar tadi Abang berbicara dengan Bang Kodair," kata Liliani.
"Betul sekali. Sedang apakah Adik sore-sore duduk di luar?" tanya Lolosanda.
"Sedang mencari angin. Kelihatannya Abang orang baru di sini?" tanya Liliani.
"Ya. Pekerjaanlah yang membuat saya ada di tanah Sipirok ini. Saya sendiri orang Sidempuan," jawab Lolosanda.
"Kami seluruh penduduk desa, berbeda dengan orang kota. Orang-orang kota rata-rata banyak uang sehingga ia bisa membeli apa pun yang diinginkannya. Sekalipun barang itu mahal, mereka masih bisa berusaha untuk mendapatkannya. Menurut kami mereka itu merupakan orang-orang yang berbahagia. Orang kota tak pernah kelaparan. Berbeda dengan kami yang di kampung. Ternak yang dimakan harimau entah kapan akan terganti lagi. Niat untuk menembak harimau sebagai hama kampung pun belum bisa dilaksanakan. Dari mana kami bisa beli bedil? Penghasilan kami dari bertani hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Kami hanya bisa pasrah. Oleh karena iu, saya pesankan kepada Abang agar Abang mau ikut menjaga kampung kami.”
"Kalau begitu, baiklah. Maksud kunjungan Abang ke Sipirok ini adalah untuk berdagang sekaligus menjaga keamanan," kata Lolosanda mencoba menggembirakan hati Liliani.
Kedua muda-mudi itu akhirnya berikrar untuk saling bersahabat. Hal itu sudah menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi mereka.
"Sekarang Abang pulanglah dulu. Barangkali kalau ayah datang, ia akan marah melihat saya masih di luar malam-malam," kata Liliani.
"Selamat malam!" kata Lolosanda pamitan. Lolosanda pun segera berlalu. Ia menuju ke rumah Duang Daing, sudah tentu. Di tempat itulah ia menginap dan mengurus semua pekerjaannya.
Sebenarnya percakapan antara gadis dengan pemuda seperti itu, belumlah lazim di kampung Liliani. Oleh karena itu, betulkah pertemuan antara Liliani dengan Lolosanda pada malam itu akan aman-aman saja? Kita tunggu saja.
Siang harinya.
"Tok-tok-tok! Uwak, di sini ada Bang Galunggung?" kata seorang pemuda, di luar, kepada penghuni rumah.
"Tidak ada! Kapan dia berada di rumah, kalau belum menjelang pagi," kata ibu si Galunggung. "Duduklah! Engkau tidak datang membantu kami hari ini. Garapan sawah menjadi lama," sambung perempuan tua itu.
"Bagaimana kalau Uwak mencari menantu saja, supaya ada yang membantu?" kata si pemuda itu memberi saran.
"Itulah yang kami bicarakan tadi dengan ayah si Galunggung. Barangkali kamu, Bingkarung, punya pilihan yang pantas bakal jodohnya Si Galunggung?" tanya perempuan tua itu.
"Itulah, Wak. Kedatangan saya ini justru ingin melaporkan pada si Galunggung. Gadisnya yang di simpang tiga itu ada yang mengganggu," tutur si Bingkarung.
"Busyet! Siapa yang berani mengganggu si 'Putri Malu' di simpang tiga itu?" tanya ayah si Galunggung agak berang.
"Tak tahulah, Wak! Yang jelas mereka berdua sudah berani melanggar adat. Keduanya berbicara bisik-bisik lama sekali. Padahal waktu itu malam hari. Kita pun tak kenal dia,” jawab si Bingkarung yang entah kenapa matanya seperti mata bengkarung.
"Kalau begitu, katakan kepada abangmu! Besok kita lamar gadis itu!" kata ayah si Galunggung.
"Entahlah, Wak. Setiap kita ajak ia ngomong soal gadis itu, ia selalu bilang bahwa Liliani belum mau disapa laki-laki." jawab Bingkarung, "Ia tampaknya seperti berputus asa dan menganggap dirinya bertepuk sebelah tangan," lanjutnya pula.
'Apa yang ia katakan tentang gadis itu?" tanya Uwak perempuan.
"Ia katakan bahwa Liliani lagi mencari laki-laki seperti yang ada di hutan!" jawab Bingkarung membingugkan uwaknya.
Pembicaraan mereka bertiga tidak mendapatkan kata sepakat. Akhirnya, ayah si Galunggung memutuskan melamar gadis Liliani untuk anaknya.
•••
5. BERTANDANG
Orang tua si Galunggung sangat risau. Anaknya yang paling besar belum juga mendapatkan jodoh. Si Galunggung akan mendapat sebutan doli-doli angkola. Doli-doli angkola artinya laki-laki tua yang belum kawin karena tidak ada perempuan yang mau.
"Sebenarnya bukan tidak ada perempuan yang mau dijadikan jodohnya," kata seseorang, "melainkan si Galunggungnya yang terlalu memilih.”
Beberapa gadis telah dikenalkan kepadanya untuk dipilih menjadi istrinya. Anak gadis iu satu per satu dikata-katainya setiap cacat dan kekurangannya. Dalam angan-angannya hanya ada satu perempuan yang dianggap cantik di dunia ini, yaitu Liliani anak Boru Matnali yang rumahnya di pertigaan jalan itu.
"Kata dukun Mangurop Butong, si Galunggung itu mempunyai rintangan," berkata ibunya, "untuk menghilangkan rintangan itu harus diadakan upacara hangalan," lanjutnya pula.
"Rupanya kau masih percaya pada dukun yang kerjanya cuma menipu itu?" kata Manyingkadut, suaminya.
"Itu kan sebagai salah satu jalan juga. Lagi pula banyak yang berhasil ditolongnya." jawab istri Manyingkadut.
"Kau tampak seperti orang pintar. Nyatanya kau hanya bisa omong saja. Ah, sudahlah! Besok kita adakan upacara,” kata ayah si Galungung mengakhiri perdebatan.
Keesokan harinya.
Upacara hangalan diadakan di rumah orang tua si Galunggung. Semua mata tertuju pada Datu Mangurop Butong. Setelah segala persyaratan terpenuhi, mulailah sang dukun menyibukkan diri dengan mantra-mantranya. Kelakuan dukun itu aneh sekali. Mantra yang ia ucapkan tak dimengerti orang. Segala tindakannya tampak hanya asyik sendiri. Setelah selesai berkomat-kamit, barulah ia berbicara dengan bahasa sehari-hari.
"Nah, inilah sekapur sirih dari kami. Memang selama ini kami salah. Kami sudah jarang menghormat moyang di alam arwah sana. Akibatnya, segala keinginan cucu kami tak terlaksana. Namun, setelah persembahan malam ini, semogalah jalan hidup cucu kami, si Galunggung, tidak mendapat halangan lagi," kata Datu Mangurop Butong dengan tangan menadah ke atas.
Si Galunggung tampak duduk bersila dekat ibunya. Di sekelilingnya tampak berbagai penganan. Itulah jamuan untuk hadirin malam itu. Di antara penganan itu terdapat nasi dengaı lauk-pauknya. Makanan lainnya berupa kue-kue, buah-buahan, dan minuman seperti teh, nira, dan tuak. Hanya minuman tuak yang memabukkan. Di antara makanan-makanan itu terdapat satu jenis makanan yang tidak boleh dimakan orang lain. Hanya si Galunggung seoranglah yang boleh memakannya, yaitu ikan mas yang diasapi.
"Sewaktu si Galunggung berusia tiga bulan dalam kandungan, ada satu makanan yang sangat saya inginkan. Sayang tidak sempat tersedia, yaitu ikan yang diasapi. Maka dari itu, dengan memakan ikan itu mudah-mudahan cita-cita si Galunggung selalu tercapai." cerita ibunya itu.
"Amin!" kata sebagian orang di situ.
Selesai berdoa, mereka dipersilakan menikmati hidangan.
"Silakan makan," kata ibunya kepada hadirin.
Sementara itu, si Galunggung disuapi ibunya. Ibunya pun makan dari piring yang sama. Si Galunggung pada saat itu diperlakukan seperti seorang anak yang sedang disunat. Apa boleh buat! Hal itu memang menjadi salah satu syarat yang harus dijalankan.
Lewat beberapa hari setelah acara itu, ibu si Galunggung berkunjung ke rumah Liliani.
"Begini, Eda! Sebetulnya dulu sudah ada orang suruhanku datang ke sini. Akan tetapi, saya tidak tahu ujung pangkal perkataan mereka. Itulah sebabnya, Eda, saya datang sendiri kemari. Saya ingin dengar engkau bicara. Pokoknya, minta penegasannya," kata ibunya si Galunggung kepada ibu Liliani.
"Apa yang harus saya katakan, Boru! Sebenarnya sayalah yang paling susah. Terlebih lagi, ibaratnya saya ini memeram pisang, sedangkan engkau hanya memeram batu. Lama diperam pun batu tak akan membusuk. Begitulah susahnya punya anak perempuan. Rupanya kainginan kita tidak sama dengan keinginan anak-anak. Sekarang bagaimana akal kita, saya ikut Boru saja," jawab ibu Liliani. Ia menyerahkan urusan kepada ibu si Galunggung.
"Begitu besar keinginan saya untuk bersanak keluarga dengan engkau, Eda," kata ibunya si Galunggung. "Kalau Eda setuju, supaya anakmu senang menerima tamu laki-laki, pada saat anakku bertandang nanti, anakmu harus ditemani oleh teman-temannya yang paling disukai. Demikian pula dengan si Galunggung. Ia akan membawa teman-temannya yang pandai bercanda," lanjut ibunya si Galunggung.
Selanjutnya, ibu si Galunggung mendekati Ibu Liliani. Ia membisikkan satu rahasia. Ibunya Liliani mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
Pada hari ketiga, setelah kedua orang tua itu mengadakan pembicaraan, terdengar gelak tawa beberapa orang gadis di rumah Liliani. Rupanya pada hari itu Liliani telah kedatangan tiga sahabatnya. Mereka masing-masing bernama Naso, Nai, dan Nan. Sebenarnya agak jarang mereka bisa berkumpul seperti itu. Kunjungan mereka adalah untuk memberi selamat kepada Liliani. Menurut kabar, Liliani akan dikunjungi oleh pemuda yang baru dikenalnya itu.
"Hai, coba kalian libat si Liliani! Hanya badannya saja bersama kita. Mungkin hatinya pergi entah ke mana," kata Naso menggoda.
"Saya tahu sekarang. Ia merindukan seseorang! Bagus sekali pekerjaan laki-laki itu," kata Nai, "Saya sudah melihatnya. Laki-laki itu tinggi semampai!" lanjut Nai.
Liliani mengangkat bahu dan berkata, "Kalian ini macam-macam saja. Di mana kalian lihat? Sumpah deh, saya belum pernah satu kali pun bertegur kata dengan laki-laki!"
"Janga berpura-pura. Saya sudah melihatnya. Ia gagah sewaktu naik kuda," kata Nan sambil tertawa-tawa, lalu ia pura-pura berdeklamasi, "Oh, malam yang berbintang. engkaulah buah hatiku!"
Menyaksikan kelakuan Nan, Liliani agak terkejut. Rupanya, pembicaraannya sehabis magrib dulu dengan Lolosanda sudah ada yang mengetahuinya. Seketika, merahlah warna mukanya.
"Yang paling penting, pada malam ini ia akan datang! Lihat sajalah, ia pasti bawa kudanya!" kata Naso pula.
"Ah, kalian! Dasar! Lagi pula siapa yang mau sama saya. Saya kan tukang menolak?" bantah Liliani mencoba menyembunyikan rasa malunya.
"Kalau enggak suka, biar saya suka!" potong Nan.
"Coba kita lihat nanti! Apakah masih menolak apabila ia sudah datang," kata Naso pula.
Para pemuda yang akan bertandang belum muncul juga. Sambil menunggu, para gadis itu lalu makan bersama.
"Trek!" Terdengar bunyi pintu didorong dari luar.
"Awas, ada setan!" teriak Naso sambil menggeser duduknya.
Pelan-pelan pintu terbuka, lalu terlihat kepala seorang laki-laki menyembul dari pintu.
"Hai, kau Abang Kodair!" teriak gadis-gadis itu.
"Mari kita duduk di luar! Di dalam kelihatannya sempit sekali," kata Bang Kodair, "Oh, ya, hampir lupa! Terutama buat engkau, Liliani, Abang membawa kabar gembira," lanjutnya.
Melihat kedatangan Bang Kodair, Liliani tersenyum bahagia. Akan tetapi, betapa herannya ia, di luar tiba-tiba tikar sudah digelar. Di antara orang-orang yang datang itu, ia melihat ibunya duduk berdampingan dengan ibu si Galunggung. Di antara para tamu itu tidak terlihat Lolosanda. Ia hanya melihat si Galunggung, laki-laki yang dibencinya. Ia mengira Bang Kodair akan datang bersama kekasihnya. Liliani pernah melihat Bang Kodair berjalan dengan kekasihnya itu.
"Maksud kedatangan kami," kata Bang Kodair membuka kata, "adalah untuk mempererat tali kekeluargaan. Boru kita ibu si Galunggung menitipkan sekadar oleh-oleh. Ia mengakui, oleh-oleh ini bukan barang mahal. Namun, ia berjanji. Apabila barang ini diterima, sebagai bukti diterimanya si Galunggung dalam keluarga ini, ia akan menambahnya nanti," kata Bang Kodair menuturkan maksudnya.
"Baik, Bang Kodair. Indah betul kata-kata Abang kedengaran di telinga kami! Akan tetapi, air sungai ada hulu ada muaranya. Engkau lihat sendiri Bang Kodair. Kami yang mendengar kata-kata Abang ada berempat. Pada siapakah janji si Galunggung itu ditujukan?" tanya Naso.
"Tentu saja pada gadis yang tidak pernah dicelanya!" jawab Bang Kodair pendek.
Mendengar jawaban iu, betapa geram hati Liliani. Ia tidak diberi kesempatan untuk berkata. Ia hanya menyaksikan orang beramai-ramai membuka hadiah dari si Galunggung itu. Bersorak-sorailah mereka, setiap nama barang itu disebut satu per satu. Yang membuat pandangan Liliani menjadi gelap adalah ketika adiknya memberikan gelang emas kepada si Galunggung. Ia tahu, adiknya tadi masuk ke kamar dalam untuk mengambil gelang itu. Perbuatan adiknya mengandung arti bahwa martandang sudah diterima. Sesungguhnya, Liliani tidak menyesali Bang Kodair yang suka berganti teman. Suatu saat berteman dengan Lolosanda, lain kali dengan si Galunggung. Ia justru menyesali ulah dari orang tuanya dan orang tua si Galunggung.
Menjelang sore, matahari di Sipirok masih terang menyinari awan. Sang awan bergerak perlahan-lahan, bertumpuk-tumpuk, berputar-putar, bergulung, bergerak ke sana kemari. Awan itu pertama-tama menyerupai anak kecil, sedang berlari-larian, kemudian berubah menjadi seperti seekor kucing. Lalu berganti lagi menjadi sebentuk makhluk aneh. Akhirnya, terjelmalah rupa seorang laki-laki yang sedang duduk bertopang dagu. Wujud awan tersebut menjadi perhatian semua penduduk.
"Tuh, lihatlah! Rupa laki-laki bertopang dagu itu ada artinya." Salah seorang perempuan di tepian sungai.
"Apa pula arti bentuk awan itu?" tanya kawannya sambil memeras kain yang dicucinya.
"Ini kata orang tua-tua, lo! Katanya, kalau ada awan berwujud seperti itu, nanti bakal ada seorang laki-laki mendapat kesedihan di kampung kita ini," jawab perempuan yang agak tua itu.
"Ah, apalah yang akan diderita seorang bujang. Tak ada hal yang membuat dia susah. Jalan-jalan semua licin bagi mereka. Beda dengan kita, kaum perempuan. Laki-laki tak mengenal susah," kata seorang gadis berbadan gemuk.
"Seorang laki-laki yang sudah bertunangan, lalu gadisnya dilarikan orang, apakah itu bukan kesedihan yang amat sangat?" tanya perempuan agak tua itu.
Mendengar kata-kata terakhir itu, terdiamlah semua perempuan di tepian sungai itu.
"Laki-laki yang baru melamar seseorang gadis, di kampung kita ini, hanyalah si Galunggung. Jadi engkau mau mengatakan dia akan ditinggalkan tunangannya, si Liliani itu?" tanya salah seorang.
"Saya bukan mau meramal nasib si Galunggung. Saya hanya mengatakan kebiasaan di kampung ini, apabila melihat awan serupa laki-laki bertopang dagu itu," jawabnya.
•••
6. MENGHINDARI BAHAYA
Matahari mulai meninggi. Orang yang lalu lalang di jalanan pun mulai jarang. Rumah di simpang tiga tampak sepi. Di dalamnya seorang gadis sedang menjahit pakaian. Ia menangis. Air matanya membasahi kain yang dipegangnya. Ia tak kuat menahan kesedihan. Orang tuanya menerima lamaran orang yang tidak disenanginya.
Di rumah itu ia seorang diri saja. Ibu-bapaknya belum pulang. Mereka berdagang kain di pasar. Adiknya pergi bermain, entah ke mana.
Dengan tak disangka-sangka, tiba-tiba sesosok tubuh laki-laki sudah ada di depan Liliani.
"He, mengapa kau masuk kamar? Pergi dari sini! Kalau tidak, saya gampar kepalamu!" kata gadis itu mengancam.
"Jangan engkau coba-coba berontak atau berteriak. Kau kini sudah jadi tunangan saya. Macam-macam sedikit saja, saya bacok dengan kelewang aceh ini, tahu?" kata laki-laki itu. Ia adalah si Galunggung. Senjata yang dipegangnya berkilauan saking tajamnya.
Liliani merasa seolah-olah berhadapan dengan seekor harimau luka. Suara laki-laki itu bergetaran. Mulutnya menyeringai, kedua matanya merah.
"Barangkali sudah gila laki-laki ini," pikir Liliani. "Apa maumu?" tanya Liliani tegas.
"Malam Jumat kemarin, waktu sore-sore, saya melihat kamu. Ayo, mengaku. Siapa laki-laki itu?" tanya si Galunggung.
Tiba-tiba dag-dig-duglah dada Liliani. "Bakal berabe, nih," kata Liliani dalam hatinya. "Apa yang saya rahasiakan, ketahuan juga. Rupanya laki-laki ini selalu memata-matai saya," lanjutnya masih dalam hati.
"Jangankan malam Jumat, tiap hari pun kau dapat melihat saya!" jawab Liliani.
"Diam!" teriak laki-laki itu marah. “Saya mendapat kabar kau bercakap-cakap dengan seorang laki-laki. Sering-seringlah berbuat begitu. Akan kupukul laki-laki itu sampai mampus!" ancamnya.
"Oh, itu kiranya yang membuat kau marah. Orang itu menanyakan rumah Ompung Sumurung karena ada yang mau disampaikannya. Jadi, menurutmu kalau orang menegur, aku tak boleh menjawab? Kalau pendapatmu begitu, orang akan menyebut kamu si Raja Cemburu!" kata Liliani mencoba mengalih persoalan.
"Tidak usahlah kau alihkan persoalan ini. Kau memang tukang bohong! Saya tahu, laki-laki itu seperti unggas hinggap di pagar, tetapi nantinya akan ke padi juga. Tahukah kau, semua yang makan gaji itu biasanya hanya membual. Dia juga sama. Lihat saja cara dia berpakaian, kancingnya, cincinnya, jam tangannya, dan sepatu yang dipakainya membuat dia seperti badut!" kata si Galunggung menjelek-jelekkan Lolosanda.
"Mengapa kau kata-katai orang yang tidak bersalah? Biar mati, saya tidak sudi melihatmu lagi!" teriak gadis itu marah.
"Oh, sampai berani begitu, ya? Sekarang bikinlah obat keramas dari daun sirih itu, agar kau terhindar dari guna-guna laki-laki itu!" suruh si Galunggung sambil menolakkan tubuh Liliana hingga terjerembap ke lantai.
Pada kesempatan itu, Liliani meraih kaleng tempat ludah sirih. Dengan cepat ia melemparkan kaleng itu ke muka si Galunggung. Berbarengan dengan itu tangan Liliani membuka gembok jendela. Lewat jendela itulah Liliani meloncat keluar. Si Galungggung hendak mengejar, tetapi tidak jadi. Ia merasa malu. Muka dan bajunya kotor terkena siraman air ludah bekas sirih. Ia pulang berkerudung kain, seperti seorang pencuri ayam saja.
Sejak masuknya si Galunggung ke dalam rumahnya, perasaan Liliani makin kalut saja.
Pada waktu matahari sudah terbenam dan Lolosanda kebetulan sedang lewat, ia segera mengadukan nasibnya. "Abang yang baik. Saya harap Abang mau menolong saya. Bawalah saya pergi jauh. Saya takut si Galunggung!" katanya sambil terisak-isak.
"Kalau begitu, baiklah! Abang sebenarnya juga ingin bertindak begitu, setelah mendengar kabar tentang martandang si Galunggung ke rumah Adik!" kata Lolosanda manyanggupi permintaan Liliani.
Setelah itu, pembantu toke itu kembali melanjutkan perjalanannya ke pasar. Sesampainya di pasar ia memanggil Kodair. Dilambai-lambaikannya tangannya, agar sahabatnya itu datang padanya.
"Bang Kodair," kata Lolosanda setelah mereka berhadapan. "Menurut pendapat saya, kita ini bersaudara. Persaudaraan ini tidak boleh dirusak begitu saja!" sambung Lolosanda.
"Ya, saya juga merasa begitu. Akan tetapi, saya heran. Apa salah saya? Abang serius sekali," kata Kodair merasa heran.
"Ah, tidak. Hanya minta tolong sedikit saja. Saya dengar si Galunggung itu saudara Abang. Ia pun sudah martandang ke rumahnya Liliani," kata Lolosanda perlahan sekali. "Nah, oleh sebab itu, malam nanti saya hendak minta bantuan Bang Kodair. Malam nanti saya hendak melanggar adat; saya akan menculik gadis itu!" kata Lolosanda. "Saya mohon agar Abang menahan si Galunggung. Usahakan saya terhindar dari bahaya." lanjutnya sambil memasukkan lima keping koin emas ke dalam kantong Bang Kodair.
Setelah “dipaksa" menerima uang Belanda itu, Bang Kodair terdiam sebentar. Ia bingung, apakah dirinya harus berpihak kepada si Galunggung ataukah kepada Lolosanda. Dilihatnya uang dari pembantu toke ternyata lebih besar daripada dari si Galunggung. Saudara sepupunya itu hanya memberi uang tiga keping koin perak, sebagai upah mengantar si Galunggung ke rumah Liliani. "Ah, saya pilih Bang Lolosanda saja!" Kodair akhirnya memutuskan pilihannya.
"Tak apa! Pergi sajalah, Bang. Laki-laki tunangannya itu akan kujaga. Ia akan kuajak bermain halma. Juga akan kuajak mengobrol ke sana kemari, biar tidak terus-terusan ingat kekasihnya itu," jawab Bang Kodair menyanggupi.
Setibanya di tempat pemondokan, Lolosanda merebahkan diri. Ia menanti larutnya malam. Ia menunggu semua orang tertidur lelap.
"Dapatkah saya menolong gadis itu dari penderitannya?" pertanyaan itu terus mengiang-ngiang di telinganya.
Sewaktu ia berpikir-pikir, hujan pun turun deras sekali. Dengan demikian, orang-orang jadi malas keluar. Tukang ronda pun tertidur di gardunya masing-masing.
"Teng, teng, teng, ...!" Lonceng berbunyi sebanyak dua belas kali. Bangkitlah Lolosanda dari tempat tidur. Ia mengenakan mantel karena takut terkena udara dingin dan takut masuk angin. Setelah itu, ia siapkan kuda kesayangannya. Kuda yang selalu digunakan dalam perjalanan yang jauh itu bernama si Jaran Kepang. Sepanjang jalan, hujan masih rintik-rintik. Sekeliling perkampungan tampak gelap semata. Lolosanda pun segera menuju ke arah simpang tiga. Kudanya ia sembunyikan di balik rumpun bambu. Selanjutnya, Lolosanda pergi ke arah rumah di simpang tiga untuk menyambut sahabat wanitanya itu.
Tindakan Lolosanda itu mirip sekali dengan kisah Romeo dan Juliet karangan Shakespeare. Shakespeare adalah pengarang terkenal dunia. Ia kelahiran negeri Inggris. Sebagaimana terjadi dalam kisah itu, persahabatan di antara kedua muda-mudi itu pun mendapat gangguan. Akhirnya, demi persahabatan yang abadi, mereka berdua minggat dari rumah. Mereka pergi ke suatu tempat yang jauh. Romeo dalam kisah dari Tapanuli ini, berasal dari Sidempuan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya ia diberi julukan "Romeo dari Sidempuan".
Liliani tetap menunggu. Ia sebenarnya lebih gelisah karena ia seorang perempuan. Matanya tidak dapat dipejamkan. Tak lama setelah hujan reda, ia mendengar suara ketukan halus pada daun jendela.
"Mari kita pergi sekarang." Terdengar suara pelan dari balik jendela.
Mendengar kata-kata itu, bergetarlah seluruh tubuhnya. Ia sangat takut. Perasaannya seperti menghadapi maut saja. Meskipun demikian, ia memberanikan diri juga.
"Phuh!" Liliani memadamkan lampu, lalu lewat jendela ia melompat ke luar. Selanjutnya, ia berjalan dituntun oleh laki-laki yang menjemputnya di kegelapan malam itu.
•••
7. MENJADI KAFIR HITAM
Pada pagi itu kota Sipirok dilanda kesedihan. Ceritanya berawal dari rumah Liliani. Sebelum pergi ke pasar, kedua orang tua Liliani selalu sarapan terlebih dulu. Selesai makan ia memanggil-manggil Liliani, tetapi kamar anaknya itu tampak sepi-sepi saja. Karena terkunci dari dalam, ayah Liliani terpaksa mendobrak paksa pintunya. Pintu terbuka, tetapi kamar kosong melompong! Liliani hanya meninggalkan baju partanding di atas tempat tidurnya. Baju partanding adalah kain yang ditinggalkan seorang gadis sebagai tanda ia pergi kawin lari. Semua temannya yang biasa bergaul, sudah ditanyai. Semua menjawab "tidak tahu" ke mana Liliani pergi.
Yang paling merasa sedih atas hilangnya Liliani tentu saja si Galunggung, di samping kedua orang tuanya. Di samping bersedih, si Galunggung juga harus menanggung malu karena lamarannya gagal. Oleh karena itu, ia amat benci terhadap orang yang mengajak Liliani pergi kawin lari.
"Belum puas hatiku, bila belum mencincang tubuhnya," bisik si Galunggung ditujukan kepada Lolosanda, yang sudah menduganya sebagai penculik tunangannya.
Lalu, ke manakah Lolosanda melarikan Liliani pada malam itu? Waktu tempuh Sipirok--Sidempuan adalah sehari-semalam dengan jalan kaki. Mereka memerlukan waktu lima jam dengan berkuda. Di rumahnya, ibu Lolosanda menerima mereka dengan penuh sukacita. Pada hari itu juga diadakan selamatan atas pernikahan Lolosanda dengan Liliani. Ibarat peribahasa, ibunya Lolosanda dapat dikatakan tertimpa durian runtuh. Ia mendapat menantu cantik tanpa diduga-duga.
Pada suatu hari, Toke Ho menyuruh Lolosanda mengunjungi tempat yang sangat jauh. Lolosanda merasa heran, tetapi ia memenuhi perintah itu.
"Aku merasa bakal ada kejadian penting di sini.” Demikian batin Lolosanda sebelum berangkat.
Apa yang diduganya, ternyata benar. Beberapa hari setelah Lolosanda meninggalkan Sidempuan, mendadak pabrik atau toko majikan dan rumah ibunya terbakar. Si jago merah melahap habis setiap barang yang dijumpainya. Akan tetapi, untunglah tidak ada korban jiwa. Berita koran mengabarkan bahwa kebakaran itu disengaja. Namun, polisi belum berhasil menciduk pelakunya. Sebagian orang mengatakan bahwa kebakaran itu dilakukan oleh komplotan perusuh di bawah pimpinan si Rambut Api. Toke Ho sudah tidak punya harta benda lagi. Ia akan pindah ke Medan. Di sanalah tinggal saudaranya. Lolosanda sendiri diam-diam membawa istri dan ibunya ke Singkel. Di kota kecil itu mereka berdagang kecil-kecilan.
Sejak berada di Singkel, Lolosanda memiliki banyak waktu luang. Warungnya cukup ditunggui oleh istrinya. Tugas Lolosanda hanya berbelanja barang. Itu pun tidak usah dilakukannya setiap hari.
Pada suatu hari, Lolosanda tidur-tiduran di sebuah dangau di tengah-tengah ladang orang. Pepohonan yang rimbun tumbuh di sekitarnya. Hawa terasa segar sampai di rongga dada. Tanpa diketahuinya, datanglah seorang kulit putih ke tempat itu.
"Saya lihat, Tuan senang berbaring-baring di gubuk yang terasing ini," sapa Belanda itu pada Lolosanda.
"Oh, saya memang senang melihat-lihat alam, hutan, sawah ladang, atau gunung-gunung, Meneer," jawab Lolosanda.
"Apa Tuan sudah dengar ada banyak kerusuhan di negeri ini? Banyak orang Belanda dibunuhi? Banyak perampok mengganggu orang-orang lewat?" kata bangsa kulit putih itu menyelidik.
"Saya tahu semuanya, Meneer! Akan tetapi, saya tidak susah dibuatnya," kata Lolosanda tenang.
"Tentu laki-laki ini orang pemberani." kata orang Belanda itu dalam hatinya. Kemudian ia berkata, "Baiknya engkau bekerja pada kami."
Selanjutnya, kedua orang itu meninggalkan ladang. Mereka berdua naik kereta kuda. Mereka melaju menuju Benteng Belanda. Di dalam bangunan itu Lolosanda diwawancarai. Mulai hari itu ia mempunyai tugas sebagai mata-mata.
Pada malam harinya Lolosanda minta izin kepada istrinya. Ia minta didoakan supaya selamat menumpas kaum perusuh.
Lolosanda berangkat sendirian. Ia menuju ke sebuah jalan besar di daerah Muara Cinadangi yang biasa dilalui oleh para rampok.
Menurut perkiraan Lolosanda, ia akan segera dihadang oleh para rampok. Akan tetapi, sudah sekian lamanya, para rampok belum muncul juga. Ia pun memperlambat langkahnya. Suasana sepi yang mencekam, menambah ketegangan malam itu.
Tiba-tiba, dari arah yang berlawanan, Lolosanda melihat seseorang berjalan dengan pakaian compang-camping. "Hanya seorang pengemis," kata Lolosanda dalam hati.
"Kasihani saya, Tuan. Kasihanilah saya ...!" Si compang-camping itu mengemis pada Lolosanda.
Lolosanda pun memberinya uang. Seketika itu juga, tanpa diduga-duga, orang itu menarik dengan keras tangan Lolosanda. Lolosanda merasa hendak dibantingnya ke tanah. Dengan sigap, pada saat itu juga Lolosanda balik menggenggam tangan orang itu. Terjadilah tarik-menarik tangan. Badan mereka tampak maju-mundur. Akhirnya, dengan jurus silat dari Toke Ho, Lolosanda berhasil mengempaskan badan orang misterius itu.
"Tobat!" teriak orang itu kesakitan.
Berbarengan dengan itu, tiba-tiba bermunculanlah beberapa orang bersenjata tajam. Mereka mengepung Lolosanda.
"Kalau mau selamat, serahkan barang-barangmu! Engkau jangan coba-coba melawan anak buah si Rambut Api," kata salah seorang dari mereka.
Sementara itu, kawanan rampok lainnya tertawa-tawa sambil mengurung Lolosanda. Lolosanda tidak mau menyerah begitu saja. Ia mencoba mengumpulkan seluruh tenaganya. Ia pun kembali mengingat-ingat jurus silat yang dulu dipelajari dari Toke Ho.
Tanpa dapat dihindari, terjadilah pertempuran satu lawan berpuluh-puluh perampok. Lolosanda dengan gagah berani menghadapi mereka. Satu per satu penjahat itu dapat dijatuhkan.
"Ampun!" seru mereka menyerah.
"Di mana pemimpinmu? Bawa saya ke sana!" kata Lolosanda. Karena sangat ketakutan, mereka akhirnya membawa Lolosanda ke sebuah gua, tempat si Rambut Api, pemimpin mereka. Begitu berhadapan, keduanya kaget seperti disengat kalajengking.
"Si Galunggung!" seru Lolosanda.
"Keparat Lolosanda!" seru si Rambut Api.
"Wah, wah, wah! Rupanya mereka sudah saling kenal, ya?" kata beberapa anak buah si Rambut Api.
Si Galunggung dulu gagal memperistri Liliani. Kini ia mempunyai julukan si Rambut Api. Ia tetap merasa dendam kepada Lolosanda. Apalagi kini Liliani menjadi istri Lolosanda. Ia tetap mengangap Lolosanda sebagai musuh. Menurut Lolosanda, si Galunggung sekarang berbeda dengan si Galunggung dulu. Kini rambutnya berwarna merah menyala. Itulah sebabnya ia dijuluki si Rambut Api. Warna merah pada rambutnya itu mungkin sebagai akibat terlalu sering terkena api. Terkena api sewaktu membakari rumah-rumah penduduk.
"Tangkap dia!" perintah si Rambut Api.
Pertempuran pun terjadi lagi.
"Dor!" Lolosanda mencoba membunyikan pistol supaya kawanan itu mau menyerahkan diri. Mereka malah semakin gencar melakukan serangan. Lolosanda dengan lincah meloncat ke sana kemari menghindari bacokan. Sesekali ia berhasil memukul roboh para perampok itu.
Para penjahat itu akhirnya berhasil menggiring Lolosanda ke suatu tempat. Alangkah kagetnya Lolosanda saat itu. Lantai tempatnya berpijak, tiba-tiba amblas ke bawah. Tubuhnya meluncur jatuh ke ruangan bawah tanah. Di tempat itu terdapat beberapa kerangka manusia berserakan. Beberapa ekor tikus tampak menghuni rongga-rongga tengkorak tersebut. Sungguh menyeramkan suasana tempat itu.
"Di mana istrimu kau sembunyikan?" tanya si Rambut Api dari mulut sumur. Suaranya bergema ke setiap lorong dan dinding-dinding gua.
"Mengapa kau tetap memaksa orang yang tak menyukaimu?" tanya Lolosanda.
"Kau tidak mau mengatakannya? Baik, baik! Rupanya kau mau lebih lama tinggal di sumur itu," jawab si Rambut Api.
Sehari semalam Lolosanda disekap di sumur maut itu. Pada hari kedua, datanglah seseorang tak dikenal.
"Nama saya Tangkual. Kelihatannya, anak ini orang baik-baik." tanya orang tua itu sambil memperkenalkan diri.
Tanpa menunggu jawaban, orang tua itu melontarkan tali ke mulut sumur terus menarik Lolosanda ke atas. Mereka berdua kemudian keluar lewat pintu rahasia. Hanya Tangkual seorang yang tahu jalan rahasia itu.
Sambil berjalan, Tangkual menceritakan kisah dirinya. Ia adalah orang baik-baik. Namun, ia terpaksa tinggal di tempat para penjahat. Kedua orang tuanya dibunuh para penjahat. Ia sendiri dibiarkan hidup. Itulah sebabnya ia mengetahui jalan rahasia di gua itu.
Ketika hari belum begitu panas, Lolosanda dan Tangkual tiba di Benteng Belanda. Mereka melaporkan sarang si Rambut Api.
Tak lama kemudian dari Benteng itu keluar serombongan tentara berkuda. Saat matahari condong ke barat pasukan itu sudah tiba kembali. Mereka berhasil meringkus si Rambut Api dengan beberapa kawannya.
"Dasar kafir hitam. Cuh!" kata si Rambut Api sambil meludah di hadapan Lolosanda. Si Rambut Api menganggap Lolosanda telah berpihak kepada Belanda.
Si Galunggung diganjar hukuman penjara selama lima belas tahun. Akan tetapi, baru dua hari kamarnya kedapatan sudah kosong. Kata orang ia bisa menghilang. Belanda mengumumkan hadiah sebesar lima ratus keping koin emas untuk menangkap si Galunggung, hidup atau mati.
•••
8. LUPUT DARI MAUT
Di rumah Lolosanda kini ikut tinggal Tangkual. Tangkual menganggap Lolosanda dan Liliani sebagai anaknya sendiri. Pekerjaan Tangkual hanya sekadar membantu-bantu keluarga itu. Mengambil air, menyabit rumput, menyapu, atau pun mengambil kayu bakar adalah pekerjaannya sehari-hari. Pada suatu hari Tangkual mencari kayu bakar ke hutan. Di sana ia melihat seseorang yang sedang membawa sebuah peti kayu. Tangkual mengintainya. Orang itu masuk ke sebuah gua. Di depan gua ada dua orang penjaga.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Tangkual dalam hati. Peristiwa itu diceritakannya kepada Lolosanda.
"Orang itu pasti membawa candu," kata Lolosanda. "Candu adalah barang terlarang,” lanjutnya.
Candu sering disalahgunakan oleh orang berandalan. Mereka mengisap candu supaya bisa mengkhayal. Dengan mengkhayal mereka bisa melupakan kesusahan hidup. Akibatnya, karena sering mengisap candu badan menjadi rusak.
Pada malam harinya Lolosanda dan Tangkual memeriksa gua itu. Supaya bisa masuk, mereka menyamar. Dengan membawa kotak asli tetapi palsu, mereka dibiarkan masuk oleh penjaga. Sepanjang lorong tampak terang. Beberapa obor dipasang pada dinding-dinding gua itu. Akhirnya, mereka sampai ke sebuah ruangan gudang. Di tempat itu terdapat berpuluh-puluh kotak berisi candu. Kotak disusun bertumpuk-tumpuk hingga meninggi. Seorang penjaga menerima kotak yang dibawa Lolosanda dan Tangkual. Penjaga itu merasa kaget. Kotak dari kedua orang itu dirasakan aneh. Ketika dibuka, penjaga itu berteriak:
"Penyelundup! Tangkap penyelundup!"
Kotak itu ternyata berisi batu bata.
Seketika itu bermunculan beberapa orang mengepung Lolosanda dan Tangkual.
"Tangkap!" serentak para penghuni gua itu berteriak. Mereka berusaha menangkap buruannya. Lolosanda dan Tangkual mencoba lari ke arah pintu gua. Akan tetapi, dari arah itu pun sudah terdapat beberapa penghadang. Kini sudah tidak ada lagi jalan untuk lolos.
"Menyerahlah kalian, hai, tikus-tikus busuk!"
Tak ada jalan lain bagi Lolosanda dan Tangkual. Mereka berdua akhirnya terlibat dalam perkelahian. Maka, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang. Dua lawan berpuluh-puluh orang. Beberapa kawanan bandit itu berhasil dilumpuhkan. Akan tetapi, mereka bagaikan gelombang air bah. Rubuh satu datang seribu.
Lama kelamaan tenaga Lolosanda dan Tangkual terkuras juga. Mereka berdua pun menyerah. Badan mereka diikat. Seperti binatang, mereka diseret, lalu dijebloskan ke kamar penyiksaan. Masing-masing berada di tempat terpisah.
Esok harinya, pemimpin mereka datang menengok tahanannya. Dari dekat barulah jelas bagi Lolosanda dan Tangkual. Pemimpin penyelundup ini ternyata membungkus kepalanya dengan kain hitam. Dua buah lubang dibuat pada kain itu agar matanya dapat melihat keluar.
"Keparat!" Orang itu berkata geram, "Beri mereka jamuan.”
Lolosanda merasa pernah mendengar suara orang itu, sekalipun suaranya terhambat kain. Jamuan bagi para penjahat itu adalah penyiksaan, yakni pemaksaan mengisap asap beracun.
Beberapa saat asap merasuk ke dalam rongga paru-paru Lolosanda. Ia pun tak sadarkan diri. Sementara itu, di tempat terpisah Tangkual mendapat hukuman cambuk. dicambuki hingga bajunya robek-robek. Karena tidak tahan menahan rasa sakit, ia pun jatuh pingsan.
Sudah dua hari dua malam Lolosanda dan Tangkual belum pulang ke rumahnya. Di rumah, Liliani sangat mencemaskannya. Sambil menangis ia melapor kepada opas Belanda.
"Mulanya mereka katakan mau pergi ke gua di hutan. Konon, ada orang membawa kotak masuk ke gua itu," kata Liliani kepada seorang opas di Benteng Belanda.
Mendengar laporan Liliani, pada saat itu juga para opas itu berkemas-kemas. Dengan berkuda mereka menelusuri setiap sudut hutan. Dalam rombongan itu ikut pula Liliani. Sampailah mereka di hutan Sibual-buali. Pasukan itu menyebar ke segenap penjuru. Dengan begitu, mereka bisa cepat menemukan gua itu.
Namun, mulut gua itu kini sudah disekat. Penyekatnya adalah kayu-kayu gelondongan yang disusun rapat. Batang kayu yang satu dengan yang lainnya dijalin rapat oleh tali laso.
Seorang opas memeriksa pintu gua itu. Ia meraba-rabanya. Terkadang ia membauinya. Setelah itu, ia berbicara kepada salah seorang. Yang diajak bicara mengangguk-angguk. Selanjutnya, para polisi Belanda itu bergerombol di depan gua itu. Sebagian sedang membuat sesuatu. Mereka menggunakan alat-alat seadanya. Tak berapa lama, pekerjaan mereka selesai. Salah seorang menaruh sesuatu di depan pintu gua. Itulah bahan peledak untuk menjebol pintu gua.
"Blaar!" Terdengar suara ledakan. Penyekat lubang gua itu kini sudah jebol.
"Hore!" Para serdadu Belanda itu bersorak. Mereka melihat pintu gua luluh-lantak. Tanpa dikomando lagi, pasukan berkuda itu terus merangsek ke dalam gua. Di lorong-lorong itu mereka belum menjumpai seorang pun penghuni gua. Barulah setelah tiba di gudang candu, langkah mereka tertahan. Tampak Lolosanda tak berdaya di dalam tahanan. Leher dan kedua tangannya terpasung pada satu bidang kayu. Rantai membelit di tubuhnya.
"Bang Lolosanda!" teriak Liliani.
Lolosanda masih dapat mendengar teriakan istrinya. Akan tetapi, ia tidak bisa lagi mengangkat kepalanya. Selama di dalam gua ia terus-menerus mendapat siksaan dari Raja Candu. Nasib Tangkual lebih parah lagi. Entah sudah meninggal entah belum. Bagaikan karung goni, badannya menggelosoh di bawah. Liliani hendak memburu suaminya. Bila tidak dipegangi para opas, Liliani sudah memburu ke arah Lolosanda.
"Jangan, Nyai! Di sana amat berbahaya!” kata serdadu itu.
"Ha-ha-ha! Juliet hendak menolong Romeo! Dalam kisah dari Inggris itu, Romeo mati lebih dulu. Jadi, supaya persis, Romeo dari Sidempuan ini pun harus mati lebih dulu! Penjaga, turunkan!" perintah si Raja Candu.
Orang yang diperintah itu lalu mengulur gulungan rantai. Sedikit demi sedikit badan Lolosanda miring ke depan. Sampai akhirnya mukanya mendekati permukaan kuali tempat ramuan beracun itu. Menyaksikan hal itu, bagai disengat kalajengking, Liliani tiba-tiba melompat hendak menolong suaminya. Ia akhirnya disandera oleh kawanan penjahat itu.
"Hai, tikus-tikus candu! Menyerahlah kalian semua. Tempat ini sudah dikepung!" kata pemimpin serdadu Belanda.
"Hai, Bule, dengar dulu! Kami tidak akan menyerah sampai kapan pun. Tak mungkin kalian mampu menangkap kami! Kalau kalian belum kenal aku, lihatlah aku!" kata pemimpin mereka itu sambil membuka selubung kepalanya.
"Si Rambut Api!" seru para opas.
"Si Galunggung!" seru Liliani.
Setelah kabur dari penjara, si Galunggung menjadi penadah candu. Ia selalu memakai selubung kepala agar tidak dikenali orang. Sejak membakari rumah, ia menjadi buron polisi. Pemerintah menjanjikan lima ratus keping uang emas bagi penangkap Galunggung, hidup atau mati.
"Dan kau, Liliani! Sejak dulu aku mengasihimu. Sekarang engkau datang sendiri kepadaku. Kalau begitu, mari kita pergi berdua! Selamat tinggal semuanya!!" teriak si Galunggung sambil membopong Liliani.
Menakjubkan sekali! Tiba-tiba dinding dan tanah tempat berpijak si Galunggung berputar. Tahu-tahu ia sudah berpindah tempat ke balik dinding di ruangan sebaliknya. Semua orang baru tersadar. Si Galunggung bersama Liliani sudah hilang dari hadapan mereka. Keduanya lolos lewat jalan rahasia.
Menyaksikan kejadian itu, Lolosanda yang masih lemah ingin memburunya. Namun apa daya, ia hanya bisa meratap lirih.
"Liliani, ... Liliani!" serunya pelan.
Selanjutnya Lolosanda tidak sadarkan diri.
"Bang! Abang sudah bangun?" tanya suara perempuan.
"Makanlah dulu buburnya, Bang." Lolosanda mendengar suara itu lapat-lapat, antara ada dan tiada. Menurutnya, suara itu adalah suara istrinya. Dalam hatinya ia bertanya, “Bukankah ia pergi dibawa si Galunggung?”
Ketika membuka kelopak matanya, ia menjadi semakin kaget. Ia mendapati dirinya sedang terbaring di tempat tidur. Tubuhnya terbaring di atas seprai yang bersih dan wangi. Di sampingnya, dengan tersenyum, istrinya menatapnya.
"Bang, kita sudah di rumah, Bang!" kata istrinya.
Lolosanda kemudian bangun. Saat itu ia melihat Tangkual masuk ruangan.
"Oh, Paman Tangkual! Bagaimana kita bisa ada di sini? Yang saya ingat, Liliani kan diculik si Galunggung?" tanya Lolosanda.
"Itulah ganasnya racun ramuan si Rambut Api. Di samping rasa sakit di dada dan kepala, juga membuat orang bermimpi seram dan menakutkan," kata Tangkual menerangkan.
"Bagaimana cara Paman bisa keluar dari gua itu?" tanya Lolosanda.
Tangkual menjawab, "Pada saat saya sadarkan diri, Nak Lolosanda masih pingsan. Ketika tangan saya meraba-raba dinding batu, saya menemukan sebuah jalan rahasia. Tanpa disengaja tangan saya menggeser sebuah batu penutup jalan keluar itu. Setelah ditelusuri, lorong itu berakhir di sebuah dinding bukit yang terjal. Saya turuni tebing itu, hingga bisa pulang ke rumah. Tak lupa saya lapor pada opas Belanda. Tak lama kemudian para opas mengepung gua itu. Dalam penggerebekan itu si Galunggung tertembak. Ia berusaha melarikan diri. Semua anak buahnya tertangkap. Kini mereka dijebloskan ke dalam penjara. Seluruh candu disita oleh opas dan kemudian dibakar!”
"Cerita Paman itu ada kesamaannya dengan mimpi saya,” kata Lolosanda.
"Memang hampir sama. Mungkin waktu itu Nak Lolosanda tidak benar-benar pingsan. Nak Lolosanda masih bisa mendengar dan berpikir. Cuma, karena antara sadar dan tidak sadar, kejadian dalam mimpi Nak Lolosanda itu tidak sama betul dengan kejadian sebenarnya," kata Tangkual menjelaskan.
"Ya, sudahlah, Paman, yang penting kita selamat dan bisa berkumpul lagi," kata Liliani.
Sejak saat itu mereka hidup tenteram. Oleh penduduk di situ, Lolosanda diangkat menjadi kepala desa.
•••








Komentar
Posting Komentar