MERPATI EMAS DAN MERPATI PERAK




KATA PENGANTAR




Pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena di dalam sastra daerah terkandung warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Upaya pelestarian itu bukan hanya akan memperluas wawasan kita terhadap sastra dan budaya masyarakat daerah yang bersangkutan, melainkan juga akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia. Dengan demikian, upaya yang dilakukan itu dapat dipandang sebagai dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.

Sehubungan dengan hal itu, sangat tepat kiranya usaha Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber pada sastra daerah. Cerita yang dapat membangkitkan kreativitas atau yang mengandung nilai-nilai luhur tentang semangat kepahlawanan perlu dibaca dan diketahui secara meluas oleh anak-anak agar mereka dapat menjadikannya sebagai sesuatu yang perlu diteladani.

Buku Merpati Emas dan Merpati Perak ini bersumber pada terbitan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun 1984 dengan judul Hikayat Merpati Emas dan Merpati Perak yang disusun oleh Mochamad Bakir dalam bahasa Indonesia dan Betawi.

Kepada Dra. Atika Sja'rani (Pemimpin Bagian Proyek), Drs. Muhammad Jaruki (Sekretaris Bagian Proyek), Ciptodigiyarto (Bendahara Bagian Proyek), serta Sujatmo, Sunarto Rudy, Budiyono, Suyitno, dan Ahmad Lesteluhu (Staf Bagian Proyek), saya ucapkan terima kasih atas usaha dan jerih payah mereka dalam menyiapkan naskah buku ini. Ucapan terima kasih saya tujukan juga kepada Drs. Abdul Gaffar Ruskan, M.Hum. sebagai penyunting dan Sdr. Syaifur R. sebagai ilustrator buku ini.

Mudah-mudahan buku ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pembaca.


Jakarta, Januari 1997


Kepala Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa,




Dr. Hasan Alwi

•••















UCAPAN TERIMA KASIH




Hikayat Merpati Emas dan Merpati Perak adalah cerita rakyat Betawi yang ditulis oleh Mochamad Bakir dalam bentuk prosa. Cerita itu ditulis dengan huruf Arab Melayu dan menggunakan bahasa Melayu Betawi. Pengalihaksaraan dilakukan oleh Museum Nasional dan diterbitkan oleh Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Versi alih aksara itulah yang dijadikan dasar penceritaan kembali cerita Hikayat Merpati Emas dan Merpati Perak itu.

Dalam versi saduran ini, judul cerita diubah menjadi Merpati Emas dan Merpati Perak. Ceritanya diungkapkan kembali dalam bentuk sederhana dengan bahasa yang sederhana pula. Dengan demikian, diharapkan cerita ini dapat lebih mudah dipahami dan menarik minat baca anak-anak.

Penyusunan cerita Merpati Emas dan Merpati Perak ini sepenuhnya dibiayai oleh Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun anggaran 1996/1997. Sehubungan dengan itu, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Hasan Alwi, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Babasa dan Dr. Edwar Djamaris, Kepala Bidang Sastra Indonesia dan Daerah. Ucapan serupa saya sampaikan pula kepada Dra. Atika Sja'rani, Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah beserta staf. Atas kepercayaan merekalah, penyusunan ini dapat saya selesaikan.




Penulis

•••















1. PEMIKAT BURUNG




Seperti biasanya, setiap pagi bunyi burung di hutan itu bersahut-sahutan. Binatang lucu dan lincah itu sedang berpesta layaknya. Semua bergembira menyambut pagi yang cerah. Tra ... la ... la, tri ... li ... li, itulah suara kutilang. Tuit ca ... ca … ca, tuit ca ... ca ... ca, itulah kucica bersuara. Suara deruk, perkutut, dan murai berderai menambah meriahnya hutan menjelang siang.

Bersamaan dengan keriuhan suara berjuta unggas hutan di atas pepohonan, nun di bawah sana tampak dua orang berjalan memasuki hutan.

"Lihat, kawan! Penculik bangsa kita sudah datang lagi!" kata salah satu burung.

"Iya, gawat lagi," jawab burung lain.

"Nanti siapa tahu kita yang masuk perangkapnya!"

"Oh, tidak! Kalau kita waspada tidak akan ... hanya burung yang bodoh yang mau terpikat umpan mereka. Kita jangan mau dibodohi oleh makanan basi yang dipasang dalam sangkar mereka!"

"Kalau begitu, lebih baik kita pergi jauh-jauh saja dari sini?!”

"Iya, ya. Betul juga kamu. Mari, kawan-kawan, kita berangkat!"

Lalu, burung-burung itu pun segera terbang serentak menjaubi tempat itu.

Orang yang ditakuti mereka adalah pemburu burung, bernama Merpati Emas dan Merpati Perak. Dua orang itu menangkapi burung untuk dijual pada setiap orang. Orang yang membeli burungnya adalah orang yang hobi memelihara burung. Uangnya mereka gunakan untuk membeli makanan orang tuanya.

Merpati Emas dan Merpati Perak sudah keluar dari hutan. Tempat burung yang mereka bawa sudah tampak penuh berisi macam-macam burung. Mereka berdua menangkap burung dengan cara menaruh burung yang terikat dalam kandang. Burung lain yang mencoba masuk kandang akan terkurung rapat-rapat karena tiba-tiba pintu kandang tertutup. Burung yang terkena jebakan itu kemudian dipindahkan. Lalu, dengan jebakan kosong Merpati Emas dan Merpati Perak kembali menunggu burung. Demikian selalu pekerjaan mereka berdua di dalam hutan.

"Hai, Adikku! Jangan lupa burung merak itu hanya buat Tuan Putri!" kata Merpati Emas.

"Ya, Kakakku! Kita harus menjual burung yang istimewa buat pelanggan kita," jawab Merpati Perak. Di antara para pembeli, rupanya mereka mempunyai pelanggan tetap. Pelanggan mereka yang disebut-sebut sebagai "Tuan Putri" itu adalah Putri Sari Rasmi, putra Raja Sunca Rama yang sedang memerintah Negeri Purani.

Setiap membeli burung, putri itu selalu mengajak mereka bercakap-cakap lama sekali. Pada waktu bercakap-cakap, putri raja itu selalu memandangi wajah penjual burung dengan perasaan kagum.

"Tampan sekali!" pendapat Putri Sari Rasmi dalam hatinya.

"Apa kalian tidak merasa capai? Tiap hari kulit kalian makin bertambah kasap dan hitam karena panas matahari. Tiap hari berkeliling kota. Siang kepanasan, sedangkan malam kedinginan. Apa kalian tidak sayang?” tanya sang Putri pada suatu hari. "Maukah kalian bekerja di istana?" tanya Putri Sari Rasmi.


"Terima kasih atas kebaikan Adik! Akan tetapi, maaf untuk saat ini kami masih senang hidup bebas lepas seperti burung. Jadi, kami akan menjadi canggung apabila berganti hidup terkurung tembok istana," jawab Merpati Emas dan Merpati Perak.

Jawaban mereka di luar dugaan Putri Sari Rasmi. Putri Raja itu menawarkan pekerjaan agar dapat berdekatan tiap hari dengan Merpati Emas dan Merpati Perak.

"Adik yang baik! Janganlah merisaukan keadaan kami. Apabila bukan sekarang, tentu di hari lain kami akan mengabdi di istana bila sudah takdir. Pada saat ini kami masih ingin menjadi pemburu burung!" jawab mereka berdua. "Kami pulang dulu, Dik Putri."

Putri Sari Rasmi termasuk penggemar burung. Untuk burung peliharaannya itu dibuatkannya sangkar yang kokoh dan indah. Sangkar burung itu ditaruhnya di taman tempat bermain agar pemandangan menjadi indah dan segar.

Ketika berada di luar istana, Merpati Emas dan Merpati Perak menyaksikan para penggawa kerajaan bersama para prajurit sedang berlatih bermain pedang dan naik kuda. Mereka berdua tertarik pada kegagahan dan ketangkasan para prajurit itu. Karena itu, mereka menonton latihan prajurit hingga sore. Akibatnya, pada hari itu mereka berdua tidak pulang ke rumahnya. Mereka harus menginap di hutan. Hutan tempat mereka tidur berada di kaki Gunung Biranda Wangi.

Malam itu bulan bersinar terang. Warnanya keperak-perakan. Merpati Perak tidak dapat tidur karena selalu teringat kepada Putri Sari Rasmi. Karena melihat adiknya belum tidur, Merpati Emas pun tidak dapat tidur. Merpati Emas bertanya, "Belum tidur? Kenapa? Apa yang Adik pikirkan?"

"Anu, Kak ...! Apakah sebaiknya saya ini menjadi serdadu kerajaan saja? Saya heran, kenapa saya selalu teringat kepada Putri Sari Rasmi. Dengan menjadi prajurit saya dapat melihat dia tiap hari, kan?" jawab Merpati Perak mengutarakan isi hatinya.

Sesudah mendengar penuturan adiknya, Merpati Emas teringat keadaan dirinya yang miskin. Bagaimana mungkin seorang pemburu burung beristrikan anak seorang raja? Demikian pikir Merpati Emas.

"Dengarkan, Adikku! Bagaimana mungkin kita beristrikan anak seorang raja, sedangkan raja dengan raja saja jarang berjodoh. Lupakan keinginan itu, Dik!" saran Merpati Emas pada adiknya.

"Kak, bukankah Ayah sering bercerita bahwa kita sesungguhnya keturunan raja? Ayah kita, Bujangga Tala, katanya adalah raja yang terusir karena dimusuhi oleh adiknya yang bernama Maharaja Sahriyuna yang ingin menjadi raja. Apabila benar demikian, kenapa tidak kita cari kerajaan milik nenek moyang kita itu?" tanya Merpati Perak kepada kakaknya.

"Memang Kakak ingat, paman kita yang menjadi raja itu memerintah di Negeri Banduburi. Akan tetapi, Kakak tidak tahu di mana adanya negeri itu," jawab Merpati Emas.

"Kita cari sampai dapat!" seru Merpati Perak.

"Namun, untuk mencari saudara yang kaya, Kakak malu sekali, takut tidak diakuinya. Padahal, ayah kita yang pergi dari istana tidak dicegah dan tidak dicarinya. Mungkin kalau kedapatan, ayah kita diusirnya lebih jauh karena takut ayah kita menduduki takhta kerajaan."

Setelah mendengar pendapat kakaknya, Merpati Perak tidak dapat berkata apa-apa.

"Oleh karena itu, hendaknya kita selalu ingat pesan ayah bahwa kita sesama saudara janganlah berdengki-dengkian. Hati yang dengki akan memutuskan tali persaudaraan. Akibatnya, kita sendiri yang sengsara," kata Merpati Emas mengakhiri ceritanya.

Selagi bercakap-cakap, mereka berdua tidak tahu ada seekor merak berbulu keemasan sedari tadi menguping pembicaraan mereka. Merak emas itu merasa heran karena ada dua orang pemuda tampan bercakap-cakap di pinggir hutan. Merak emas menduga para pemuda itu pastilah keturunan raja. Dalam penglihatannya, wajah dua pemuda itu seolah memantulkan sinar bulan yang menerpa. Hal itu semakin menambah ketampanan wajah mereka. Burung merak itu pun berpantunlah.

Beli rujak campur melati
Anak pandu bergelar pangeran
Dasaran turunan raja sakti
Bertemu jodoh putri idaman

Karena mendengar ada suara manusia lain di hutan itu, Merpati Emas dan adiknya menjadi kaget bercampur khawatir. Mereka berdua takut rahasianya diketahui orang. Akan tetapi, di sekeliling kanan dan kiri tidak dijumpai orang. Ketika melihat ke atas pun demikian. Yang mereka lihat hanya seekor burung merak berbulu emas. Ketika dilemparnya, burung itu malah turun dan berpantun.

Janganlah Tuan berbuat murka
Dengar dulu hamba berkata
Maukah Tuan mutiara bertakhta
Mari mengikut pada kita

Alangkah terpesona Merpati Emas dan Merpati Perak melihat seekor burung dapat bernyanyi. Yang lebih menggemaskan lagi, burung merak itu susah ditangkap. Padahal, biasa mereka menangkap burung merak cukup dengan memanggilnya sekali. Apabila dikejar, burung merak itu menghindar. Akan tetapi jika didiamkan, dia pun diam. Akhirnya, karena capai dan mengantuk, mereka pun tertidur pulas sekali.

•••















2. TERKENA TULAH




Negeri Banduburi yang diperintah Maharaja Sahriyuna tiba-tiba dilanda banjir. Para penduduk tidak sempat menyelamatkan diri dan harta bendanya. Semua bangunan di negara itu raib tersapu air. Tak terkecuali istana Banduburi. Di antara para penduduk negeri, hanya Raja Sahriyuna bersama putrinya dan dua orang dayangnya yang dapat menyelamatkan diri. Hanya dalam waktu sekejap negara itu berubah menjadi sebuah lautan.

Menurut kata orang, Raja Sahriyuna terkena murka Tuhan. Dia telah mendengki saudaranya yang lebih tua yang bernama Bujangga Tala. Sahriyuna tidak menuruti peraturan. Yang sebenarnya harus menjadi raja adalah Bujangga Tala. Namun, dengan penuh kedengkian karena takut oleh peraturan, kakaknya dibiarkan pergi, hidup terlunta-lunta.

Dalam amukan gelombang banjir itu Raja Sahriyuna hanyut terombang-ambing di atas sebatang pohon kelapa. Sementara itu, putrinya bernama Budiwangi, ketika air mencapai atap rumahnya, menemukan sebutir kulit tiram di loteng rumahnya. Kulit tiram itu peninggalan nenek moyangnya. Ke dalam kulit tiram itulah Putri Budiwangi bersama dua orang dayangnya berlindung dari amukan air. Sebelum tergenang oleh air yang terus meninggi, Putri Budiwangi berpamitan kepada burung merak kesayangannya. Dengan air mata bercucuran ia berkata, "Hai, merak emas yang baik. Pergilah kamu dari sini. Carilah tempat hidupmu dan tak usah memikirkan diri kami lagi!"



Merak emas menjawab sambil melayang-layang di atas permukaan air, "Aduh, Gusti Putri. Jagalah diri Gusti baik-baik. Masuklah ke kulit tiram. Hamba akan berdoa siang dan malam untuk keselamatan Gusti."

Ketika Putri Budiwangi bersama dua orang pelayannya masuk ke kulit tiram, air pun naik hingga melebihi puncak rumah. Kulit tiram itu pun tenggelamlah. Dengan air mata bercucuran merak emas kesayangan Putri Budiwangi terbang meninggalkan negeri yang tenggelam itu. Merak emas menuju Gunung Birandawangi. Di sana ia bergabung dan menetap bersama burung merak lainnya.

Banjir bandang melanda Negeri Banduburi selama 40 hari 40 malam. Pada hari yang ke-41 air dengan cepat menyurut. Pada saat air surut, benda-benda yang terombang-ambing pun tersangkut. Bagaimanakah nasib Raja Sahriyuna yang rakus? Ternyata ia belum mati. Tubuhnya menyangkut pada sebatang pohon. Badannya kurus kering terbungkus baju yang sudah rapuh.

Dari Gunung Birandawangi merak emas memandangi bekas negeri tuannya. Dari kejauhan, Negeri Banduburi tampak rata seperti sebuah padang tanpa tumbuhan. Merak emas pun terbang mencari tuannya. Setelah sampai, merak itu kebingungan karena tidak melihat suatu apa pun. Ia pun tidak menjumpai siapa-siapa untuk bertanya. Pintu-pintu kota menjadi binasa. Tembok-tembok rubuh dibuatnya.

Di tengah reruntuhan keraton terlihat gerak riak pantulan air. Ke tempat itulah merak emas mendekat. Pada waktu minum air kolam itu, merak emas melihat kulit tiram di dasar kolam.

"Itulah Tuan Putri!" seru merak emas tanpa sadar.

Rupanya, sewaktu air meluap-luap kulit tiram yang berisi Putri Budiwangi itu tersangkut di kolam istana miliknya sendiri. Di dalam ruang kulit tiram mereka berdendang pantun. Permainan itu membuat mereka bertiga menjadi tidak bosan. Akan tetapi, merak emas tidak dapat mengangkat kulit tiram. Padahal, ia sangat rindu karena ingin bertemu dengan putri, majikannya. Akhirnya, ia terbang ke sana kemari mencari orang untuk penolong.

Waktu terbang di atas hutan, merak emas menampak sesosok tubuh bergerak-gerak di bawah. Setelah didekati ternyata sosok itu adalah Raja Sahriyuna yang terdampar dalam hutan. Karena menyaksikan kesengsaraan bekas rajanya itu, merak emas jatuh kasihan. Ia pun pergi mencari buah-buahan untuk diberikan kepada Sahriyuna. Betapa luhur budi seekor merak di hadapan raja larat akibat dengki. Jika lapar, raja diberi makan; jika sakit, ia diobati. Segalanya dilayani oleh seekor binatang unggas.

"Wahai merak yang baik! Tahukah engkau, di mana anak dan istriku berada?" tanya Raja Sahriyuna.

"Mengenai Gusti Putri hamba dapat tunjukkan. Ia terlindung dalam sebuah kulit tiram. Pergilah Tuan ke kolam istana tempat tiram itu!" kata merak emas menunjukkan tempat Putri Budiwangi.

"Hai, burung yang budiman! Adakah engkau menjumpai seorang menteri, pengawal, atau rakyatku?" tanya Raja Sahriyuna lagi kepada merak emas.

"Ya, Tuanku! Jangankan seorang manusia, tanaman cabai hamba saja musnah entah ke mana. Seisi negeri tak ada yang tersisa," kata merak emas menerangkan keadaan Negeri Banduburi setelah musibah banjir berlalu.

Kata raja itu, "Jika begitu, sebaiknya aku pergi saja dari sini. Kalau anakku kedapatan sudah mati dalam kulit tiram itu, akan lebih sedih hatiku. Engkau merak yang budiman! Apabila anakku masih hidup di dunia, jagalah baik-baik. Mulai hari ini juga aku hendak berjalan ke mana kaki mengayunkan langkah. Selamat tinggal!"

Merak itu kemudian mengibas-ngibaskan sayapnya selaku orang menyembah sambil berkata, "Baik, Tuanku! Doakanlah anak Tuan biar mendapat rahmat!"

Selanjutnya mereka berdua berpisah. Merak emas kembali ke kolam tempat tiram.

Raja Sahriyuna pergi sekehendak hati mengikuti langkah-langkah kakinya.

Akan halnya Raja Sahriyuna kini hidup tidak tahu arah dan tujuan. Setiap hari berjalan keluar-masuk hutan. Ketika lewat di pedesaan, ia hanya diteriaki "si Gila" oleh anak-anak. Sepanjang kampung ia diolok dan dilempari batu. Karena salah langkah, semasih di dunia sudah menanggung hukuman. Badannya sudah seperti manusia yang menderita lahir-batin. Kadang ketika pikirannya sedang "terbuka", hatinya bertanya, "Adakah aku ini benar-benar sudah gila?"

"Engkau maharaja! Engkau mabaraja!" Suara itu muncul di balik dada Raja Sahriyuna. Bahkan, suara itu terdengar jelas sewaktu tidur di atas batu, sewaktu berjalan di padang rumput, sewaktu tidur di pohon, atau sewaktu disoraki anak-anak kampung. Semua orang tidak ada yang mau peduli.

Hingga pada suatu hari, Raja Sahriyuna tiba di satu daerah asing. Sewaktu berjalan, ia merasa heran melihat orang-orang duduk di sudut-sudut tertentu. Ada yang duduk di sudut cabang akar, ada yang di atas batu lebar, ada yang di bawah karang, gua, dan banyak lagi. Keadaan pakaian mereka tidak jauh berbeda, compang-camping seperti dirinya.

"Apakah mereka bernasib sama sepertiku?" tanya Raja Sahriyuna dalam bati.

Mau bertanya ia merasa sungkan karena mereka kelihatan khusyuk. Beberapa di antaranya memegangi tasbih. Tasbih digerak-gerakkannya sambil mulutnya komat-kamit.

"Selamat datang, Ki Silah! Adalah Aki datang ke tempat kami ini untuk mencari ketenangan ataukah mencari keributan?" tanya seseorang tanpa diketahui dari mana sumber suaranya.

Raja Sahriyuna menjadi kaget karena suara itu tidak terlalu keras, tetapi cukup mengandung wibawa. "Selamat datang di pertapaan Gampa Anih-Anih. Oh! Rupanya, Ki Silah datang dengan maksud menjauhi keramaian dunia. Syukur, syukur, syukur! Kalau begitu, Ki Silah datang di tempat yang tepat.”

Raja Sahriyuna ingat bahwa selama hidup bergelandangan pernah terlintas dalam pikirannya untuk hidup menyepi menjauhi keramaian dunia. "Jadi," demikian pikirnya, "makhluk yang memiliki suara tanpa rupa itu sudah tahu isi hatiku!"

"Benar, Eyang! Hamba yang penuh dosa ini hendak melebur dosa. Hamba ingin menjauhi keramaian dunia dengan beribadat di tempat sepi ini. Semoga Eyang berkenan," kata Raja Sahriyuna akhirnya mengutarakan isi hatinya.

"Bagus, Anakku! Pada akhirnya kau menyadari segala dosa di masa lalu. Kau termasuk manusia mulia yang menutup sisa hidup dengan jalan tapabrata. Piliblah tempat yang cocok, dan mulailah mengingat Yang Mahakuasa!" kata suara itu.

Raja Sahriyuna memilih tempat di bawah pohon beringin yang rindang daunnya. Tempat itu tampak bersih dan tidak ada selembar daun pun. Ketika Raja Sahriyuna mengambil tempat duduk, di sampingnya sudah ada orang yang duduk. Sekilas tampak orang itu berambut, berjenggot, dan berkumis panjang. Raja Sahriyuna mulai mengheningkan cipta. Tangannya bersedekap, matanya tertutup, dan telinganya hanya mendengarkan suara hati.

Tak berapa lama Raja Sahriyuna pelan-pelan membuka mata. Ia ingin tahu orang yang bertapa di hadapannya. Pada saat yang sama orang yang dilihatnya pun sedang memandangnya. Orang itu pun ingin tahu siapa orang yang baru datang menjadi pertapa. Dengan demikian, untuk beberapa detik mereka berpandangan mata. Lalu, secara berbarengan pula keduanya memejamkan mata. Keduanya takut semadinya tidak diterima Yang Mahakuasa.

•••















3. MENANG SAYEMBARA




Pada suatu hari merpati bersaudara menonton pertandingan di alun-alun kerajaan. Waktu itu mereka sudah menjual burung kepada Putri Sari Rasmi. Hari itu Raja Sunca Rama kembali menggelar ketangkasan bertarung. Pertandingan itu biasa diikuti oleh para pejabat kerajaan. Ada pengawal raja, ada para menteri, para bupati, para prajurit, dan lain-lain. Acara itu diadakan untuk menguji kekuatan atau kesaktian para prajurit kerajaan. Maharaja Sunca Rama sendiri sudah hadir menyaksikan.

Gung!

"Semuanya harap dengarkan! Pertandingan kali ini berhadiah satu lencana kerajaan. Siapa pun yang mendapatkannya akan mendapatkan kemudahan di kerajaan. Sekian pengumuman kami. Dengan demikian, pertandingan bisa dimulai."

Gung! Gung! Gung!

Selesai Patih Kawok-Kawok memberikan pengumuman, tiba-tiba seekor kuda hitam meloncat ke tengah arena.

"Mari, layani aku bermain-main pedang!" teriak penunggang kuda itu menantang lawan.

Dia adalah seorang menteri. Tanpa menunggu lama, segera meloncat pula seekor kuda putih ke tengah arena.

"Ayo, kalahkan aku!" teriak pengawal raja mencoba melayani tantangan menteri.

Akhirnya, mereka berdua bertarung untuk saling merubuhkan. Suatu ketika pengawal raja salah tangkis sehingga pedang lawan mengenai tangannya. Maka, keluarlah darah dari tangannya. Lukanya tidak dalam karena pedang tidak tajam. Karena melihat darah, penggawa itu menjadi menyerah. Ia mundur, seketika bersoraklah kawan-kawan menteri.

"Mana lagi jago kalian? Cepat datang! Aku belum berkeringat. Masa, begitu saja menyerah semua!"

Petarung berpangkat menteri itu sesumbar mencari lawan.

Tidak berapa lama dari arah para pengawal raja sudah muncul petarung. Selanjutnya, mereka bertikam-tikaman, bertendang-tendangan, dan bertombak-tombakan. Lalu, kembali terdengar sorak-sorai karena jagoan pengawal raja tersungkur mencium tanah. Susah sekali ia bangun hingga beberapa petugas membopongnya keluar arena. Bersamaan dengan itu, dari arah rombongan pengawal raja muncul seseorang dengan senjata aneh.

Orang itu berbadan kekar dengan otot-otot yang menonjol. Rupanya, ia sudah biasa bekerja yang berat-berat. Yang lebih aneh lagi adalah senjata yang dibawanya. Dua tangannya memainkan dua buah palu besar hingga mengenai badannya berbunyi plak-plik-pluk. Namun, jagoan menteri itu sedikit pun tidak takut menghadapinya. Godam besar itu ditangkisnya dengan tameng hingga terdengar bunyi berdebam-debam. Sekali-sekali pedangnya menyintuh-nyintuh godam hingga terdengar bunyi plentang-plenting.

Hingga suatu saat, orang-orang menyaksikan palu godam di tangan kanan jagoan raja terpental ke udara, dan terdengar bunyi ketika jatuh ke bumi. Jagoan menteri berhasil melukai tangan kanannya. Dengan satu senjata palu kini terlihat jagoan raja hanya bergerak ke sana kemari menghindari pukulan jagoan menteri. Karena terus-terusan diserang, lama-kelamaan jagoan raja menjadi kehilangan tenaga. Hingga suatu saat badannya bergedebum jatuh terlentang di atas tanah.

Kembali terdengar sorak-sorai dari para penggawa menteri, "Hore! Horre!"

Sementara itu, dari rombongan raja belum terdengar sorak-sorai sekali pun.

Merpati Emas dan Merpati Perak merasa kasihan kepada para pengawal raja.

"Kak, mari kita bantu pengawal raja. Kasihan, dari mula jagoan mereka tidak ada yang menang," kata Merpati Perak.

"Kalau kita tidak diizinkan, malulah kita di depan orang banyak, Dik!" jawab Merpati Emas.

"Masa, tidak boleh! Kita coba saja!" jawab Merpati Perak.

Setelah melihat adiknya dibolehkan mendekati gelanggang pertandingan oleh penjaga, Merpati Emas pun mengikutinya. Pada saat itu jagoan menteri yang menang sudah sesumbar menantang.

"Mana lagi musuhku? Mari, lawan aku!" serunya.

Karena mendapat tantangan demikian, para pengawal raja terdiam semua. Di antara mereka tidak ada yang berani melawan lagi. Mereka merasa bahwa mencoba tampil pun akan kalah juga. Pada saat itu Merpati Perak bertanya kepada Patih Kawok-Kawok.

"Ya, Tuan Patih! Saya bukan pejabat kerajaan, melainkan rakyat biasa. Jika diperbolehkan, saya ingin melawan jagoan menteri. Bolehkah atau tidak?"

"Hai, anak muda yang tampan! Mana tega orang menyentuh kulitmu. Ini adalah perang! Akan tetapi …, kalau kau memang berani silakan saja!"

Akhirnya, penjaga itu membolehkan Merpati Perak ikut bertanding.

Ketika berhadapan, kedua petarung itu pandang-memandang. Suara penonton mendadak senyap. Semua terdiam karena terpukau oleh keberanian dan ketenangan penantang yang masih muda itu.

"Hiaaa!" teriak menteri menerjang Merpati Perak.

"Eit!" kata Merpati Perak berkelit.

Ketika Merpati Perak menghindar, secepat kilat tangannya bergerak memegangi badan lawannya dan memutarkannya di udara. Kira-kira sampai tiga putaran, lawannya diturunkan kembali dalam keadaan berdiri.

"Horeee! Hidup anak muda!" Terdengar sorak membahana dari pihak pengawal raja. Sebaliknya, rombongan menteri bungkam seribu bahasa.

Diputar-putar badannya oleh anak muda, menteri itu merasa terhina. Ia marah besar dan menubruk Merpati Perak. Merpati Perak berkelit dan berhasil menendangnya.

"Blak!" Jagoan menteri itu jatuh telentang dan tidak sanggup bangun lagi. Maju pula seorang kawannya dan langsung menyerang Merpati Perak. Entah dengan cara yang bagaimana, tahu-tahu tubuh penggawa itu meluncur dan jatuh pas dekat penggawa yang pertama. Kedua-duanya tidak dapat bangun lagi.

Bukan main marahnya rombongan menteri. Mereka tidak percaya dapat dikalabkan oleh rakyat biasa.

"Binatang!" seru salah seorang menteri.

Tanpa disangka-sangka, mereka datang sebanyak dua belas orang. Semuanya mengurung Merpati Perak. Karena melihat saudaranya mau dikeroyok, Merpati Emas datang membantu. Maka, terjadilah pergulatan seru antara dua orang pemuda melawan dua belas penggawa. Yang pemuda berasal dari kalangan rakyat biasa, sedangkan yang pejabat adalah para prajurit kerajaan yang terlatih.

Di tempat orang berlaga, tanah dan debu mengepul bergelembung-gelembung ke atas. Debu itu seolah-olah mengurung mereka yang bertempur. Penglihatan penonton menjadi tersamar. Mereka tidak dapat membedakan mana penyerang mana yang diserang. Sesekali dalam kurungan debu itu terdengar teriakan orang kesakitan. Teriakan yang pertama disusul dengan yang kedua. Kadang-kadang dua teriakan sekaligus. Setiap terdengar teriakan pasti disusul oleh bergedebuknya tubuh yang rebah. Rupanya, Merpati Emas dan Merpati Perak berhasil merobohkan lawannya satu demi satu.

Tinggallah kini tiga orang lagi yang melawan merpati bersaudara itu. Yang tiga orang itu tampak ragu-ragu meneruskan perkelahian. Akhirmya, tanpa rasa malu mereka lari meninggalkan arena pertandingan. Sorak-sorai pun kembali membahana dari pibak rombongan raja. Sakit hati mereka sudah terbalaskan oleh Merpati Emas dan Merpati Perak. Raja Sunca Rama sendiri menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kehebatan dua anak muda itu.

"Pasti mereka bukan orang biasa!" kata Raja Sunca Rama dalam hatinya. "Gerakan dan cara-cara mereka bertarung sesuai dengan ilmu berperang." Demikian kesimpulan raja.

Merpati Emas dan Merpati Perak masih berdiri di tengah arena. Mereka menantikan orang lain yang akan mencoba kekuatannya. Rupanya, tidak ada lagi orang yang mau melawan mereka.

"Ayo, siapa lagi yang mau tampil mengadu kesaktian?" tanya Patih Kawok-Kawok kepada para penonton. "Kalau tidak ada lagi, pemenang lencana kerajaan tahun ini akan jatuh kepada kedua anak muda ini!"

"Tunggu!"

Terdengar suara menggelegar dari seseorang. Suara itu berasal dari seorang pejabat bupati. Ia tampak berjalan dengan tenangnya. Tangannya memegang sebuah busur panah berikut beberapa anak panahnya.

"Hai, anak muda! Mari, kita sedikit bermain-main dengan pamanku ini. Peraturannya, kita bergiliran menentukan sasaran bidikan. Apabila bidikan kita sama-sama kena atau sama-sama meleset, berarti pertarungan seri. Akan tetapi, apabila hanya seorang yang kena, dialah pemenangnya!" kata orang itu mengajak bertanding main panah.

Yang pertama membidik adalah pemilik panah. Ia membidik ke arah pohon pala. "Ssstt!" Suara panah meluncur.

"Kena!" seru penonton. Tampak mata anak panah itu menancap pada sebutir buah pala. Buah bergoyang-goyang karena digantungi panah. Kini giliran dua merpati bersaudara menggunakan anak panah. Panah diterima oleh Merpati Emas.

"Adikku, Merpati Perak! Tembakanku sengaja tidak akan kukenakan! Adiklah yang harus menerima hadiah lencana kerajaan supaya Adik dapat keluar-masuk istana melihat Putri Sari Rasmi," kata Merpati Emas kepada adiknya.

Lalu, Merpati Emas membidikkan panah.  "Ssst!"

"Meleset!" seru para penonton.

"Pantas buahnya tidak mau diam. Bergoyang terus kena angin!" kata yang lain.

"Akan tetapi, kalau ia jagoan kan harus kena!"

"Libat, sekarang adiknya mau menembak!"

"Kakaknya saja meleset, apalagi adiknya!" komentar penonton terbadap kegagalan Merpati Emas.

Merpati Perak mulai membidikkan panab ke arah buah pala. Pada saat itu angin tiba-tiba bertiup kencang. Buah pala tampak bergoyang semakin keras. Namun, Merpati Perak tidak merasa gentar ataupun gugup. Ia tarik tali busur, lalu cepat dilepaskan.

"Wukk!" Terdengar suara anak panah yang dilepaskan membelah udara.

"Horree!" Sorak-sorai kembali terdengar menyambut keberhasilan Merpati Perak membidik buah pala.

Pada buah pala itu kini tampak tertancap dua buah anak panah. Yang satu hasil bidikan bupati dan yang lain milik Merpati Perak.

Kini giliran Merpati Perak yang menentukan sasaran bidikan. Merpati Perak ternyata masih membidikkan busur panah ke arah pohon pala tadi. Anak panahnya kembali dilepaskan, dan ... crreb! Mata anak panah itu ternyata mendarat pada seekor burung dara. Anehnya, burung itu tampak tenang-tenang saja. Burung itu tidak meronta-ronta ataupun berusaha terbang. Ia tetap bertengger pada dahan pohon. Rupanya, Merpati Perak tidak bermaksud mematikan burung itu, mata panahnya hanya menembus bulu-bulu di luar kulit, tetapi panah tetap menempel pada tubuhnya.


Busur panah kini di tangan penggawa pihak menteri. Ia harus membidik burung yang sama sampai kena. Busur ditarik. Sambil membidik, ia melangkahkan kaki satu-satu ke depan. Penggawa itu ingin lebih dekat kepada sasaran. Dan ketika panah dilepas, "Plass!" panah tidak mengenai burung.

"Meleset!" seru para penonton.

Bersamaan dengan itu burung di pohon itu pun terbang menjauhi sorak-sorai penonton. Panah bupati sendiri menancap pada pohon. Penggawa itu gagal menembak karena dengan terlalu dekat membidik, burung menjadi merasa diincar bahaya.

"Hidup pendekar muda! Hidup pendekar muda!" seru penonton.

"Anak siapakah mereka? Siapa namanya? Di mana mereka tinggal?" teriak yang lain.

Berbagai pertanyaan keluar dari mulut para penonton. Mereka baru pertama kali melihat merpati bersaudara.

"Mereka adalah penjual burung!" kata orang yang pernah melihatnya.

Kini tak ada lagi orang yang melawan ketangkasan pendekar merpati. Merpati bersaudara lalu ditbawa menghadap raja.

"Kuhadiahkan lencana kerajaan kepadamu yang menang bertanding," kata Maharaja Sunca Rama kepada Merpati Perak. "Perlihatkanlah bintang itu kepada para penjaga istanaku. Engkau akan mendapatkan apa yang kaupinta!"

"Maukab kau menjadi pengawalku?" tanya Raja Sunca Rama.

"Maafkan kami, Tuan Raja! Pada saat ini kami masih ingin hidup bebas, masih ingin bermain sesuka bati. Kalau saat ini kami hidup di istana, tentu adat kami tidak sesuai karena kami dari kampung," jawab Merpati Emas menolak ajakan raja.

Raja ternyata tidak memaksa. Selanjutnya raja memberikan bintang bercap kerajaan kepada dua kesatria merpati kembar. Lencana berbentuk bintang itu diterima oleh Merpati Perak.

•••















4. PUTRI DALAM TIRAM




Sepulangnya dari Negeri Purani, Merpati Perak bertanya kepada kakaknya, Merpati Emas.

"Kakakku Merpati Emas! Ke mana lagi tujuan kita sekarang?"

"Bagaimana kalau kita cari burung merak emas yang dulu bisa berbicara itu?" jawab kakaknya.

"Kalau begitu, baiklah! Kita menuju ke hutan yang dulu burung itu ditemukan," lanjut Merpati Perak.

Mereka berdua pergi ke Hutan Banduburi. Akan tetapi, burung merak emas tidak ditemukan. Mereka terus berjalan hingga menemukan sebuah bekas kolam istana yang hancur terkena banjir. Di sekitarnya banyak orang mengelilingi kolam. Sebagian tampak membuka baju hendak turun berenang. Sebagian lagi hanya menonton di pinggir kolam. Merak emas yang dicari ternyata ada di dekat kolam.

"Hai, Bung! Apa yang mereka cari di kolam itu?" tanya Merpati Emas pada seseorang.

"Mereka kan mencari sebuah tiram berisi putri raja!" jawab orang yang ditanya.

"Siapa yang mengatakan ada tiram di kolam itu?" tanya Merpati Perak.

"Kata burung merak itu, tuh!" jawab orang itu sambil menunjuk seekor burung merak berbulu warna emas di ujung kolam. Setelah melihat burung itu, kedua merpati menjadi ingat, burung merak itu adalah merak emas yang dulu ditemukan di Hutan Banduburi.

Orang itu mengabarkan kepada kedua merpati bahwa sudah banyak orang yang menyelam mencari kulit tiram. Akan tetapi, belum ada seorang pun yang berhasil mendapatkannya. Ada penyelam yang mengatakan bahwa kulit tiram itu mungkin tidak ada dan merak emas hanya berbohong. Ada juga yang mengatakan bahwa di dalam kolam bukannya ada tiram, melainkan ada seekor ular naga besar dan panjang sampai tidak diketahui ujung ekornya. Merak emas mengatakan bahwa apabila tidak ada tiram, dirinya mau dijadikan pengganti tiram.

"Coba, aku ingin lihat. Pegang ujung ikat pinggangku ini, Dik! Tariklah ke atas apabila kuberi tanda tiga kali gerakan tangan," kata Merpati Emas kepada adiknya.

Merpati Emas menyelam dengan tubuh terikat kain. Ujung kain itu dipegangi oleh Merpati Perak. Para penyelam lain mendadak berhenti berenang. Mereka naik ke darat, lalu menunggu hasil pekerjaan Merpati Emas.




Merpati Emas menyelam lama sekali sehingga orang menyangka ia telah mati. Merpati Perak pun menjadi gelisah memikirkan nasib kakaknya. Akan tetapi, ia tidak berani menarik ikat pinggang karena belum ada tanda dari Merpati Emas. Tidak lama kemudian, tiba-tiba tampak air berputar-putar bagai diaduk-aduk. Selanjutnya, dari dalam air muncul warna merah!

"Itu darah!" kata seseorang sambil menunjuk air.

"Naga memakan dia!" kata yang lain.

Masih dalam keadaan berdebar-debar Merpati Perak merasakan tarikan kain dari dalam air. Tarikan itu sebanyak tiga kali. Legalah hati Merpati Perak karena hal itu menjadi tanda dari kakaknya. Jadi, Merpati Emas masih hidup.

Begitu muncul di pinggir kolam, di tangan kanan Merpati Emas sudah terpegang sebuah kepala naga yang terputus dan di tangan kirinya terpegang sebuah tiram. Lidah naga itu terjulur keluar dan lehernya yang putus masih mengucurkan darah. Lalu, dilemparkannya kepala naga itu ke hadapan orang-orang. Seketika itu juga gemparlah orang di pinggir kolam. Mereka menonton kepala naga buntung. Sementara itu, Merpati Emas dan Merpati Perak merasa kesulitan membuka kulit tiram. Mereka ingin melihat isi kulit tiram yang dikatakan berisi putri raja. Agar mereka mudah membukanya, dijemurlah kulit mutiara itu. Sementara itu, di dalam kulit tiram Putri Budiwangi dan dua orang pelayannya, Tun Anggur dan Tun Dalima, merasa gelisah. Mereka bertiga sudah merasa bosan di dalam tiram karena sudah lama tidak melihat dunia luar.

"Sampai kapankah kita akan berada terus-menerus dalam kulit tiram ini?" tanya Putri Budiwangi.

"Sabarlah, Tuan Putri! Kan air masih tinggi, buat apa kita membuka kulit tiram kalau kita nanti kemasukan air?" kata Tun Anggur.

"Betul, Tuan Putri. Lebih baik kita bersabar dan berdoa semoga Tuhan cepat-cepat memberi jalan untuk keselamatan kita!" kata Tun Dalima.

"Untuk menghilangkan kebosanan, bagaimana kalau kita bermain pantun lagi?" ajak Tun Anggur.

"Ayo! Pantun apa yang akan kamu perdengarkan?" tanya Putri Budiwangi menyetujui. "Dengarlah pantun ini, Tuanku!

Aku bernazar sore dan pagi
Siapa memungut aku tiada rugi
Badan dan nyawa aku bagi
Akan kubuat sebagai suami,"

kata Tun Anggur bernyanyi.

"Bisa saja kamu, Tun Anggur! Bagaimana kalau yang memungut engkau itu seekor kucing atau kura-kura?" tanya Putri Budiwangi.

"Tetap aku jadikan suami!" jawab Tun Anggur dengan seloroh pula.

Sesungguhnya perkataan pembantunya itu mengena pada hati Putri Budiwangi. Dalam hatinya, putri itu pun berjanji bahwa siapa pun yang dapat menolongnya, apabila laki-laki, dia akan dijadikan suami. Apabila perempuan, dia akan dijadikan saudara. Apabila masih kecil, dia akan dijadikan adik. Apabila sudah tua, dia akan dijadikan kakak.

Ketika kulit tiram dijemur oleh Merpati Perak, panas matahari pun masuk merembet ke dalam. Putri Budiwangi dan kedua pembantunya merasakan hawa panas. Mereka merasa heran karena menyangka di luar masih banjir. Selama ini mereka hanya merasakan udara dingin.

"Tun Anggur, Tun Dalima! Apa kalian merasakan juga udara panas ini? Dari mana gerangan hawa itu datangnya?" tanya Putri Budiwangi kepada dua pembantunya.

"Betul, Tuan Putri! Barangkali ini pertanda baik. Tuan Putri bakal dapat jodoh!" jawab Tun Anggur bercanda.

"Bagaimana engkau ini? Orang sedang panik malah bercanda!" jawab Putri Budiwangi marah.

"Kalau memang panas, buka saja kulit tiram ini, Tuanku?" kata Tun Dalima menyarankan.

Selanjutnya, Putri Budiwangi mencoba mengangkat tutup tiram bagian atas. Celah kulit tiram yang selama ini tertutup rapat-rapat mulai terbuka. Lewat celah itu mereka bertiga dapat melihat alam luar. Ketika Putri Budiwangi mengeluarkan kepalanya, tampak banyak orang mengelilinginya.  Orang-orang itu merasa heran melihat tiram terbuka sendiri. Dari dalamnya keluar seorang putri yang cantik jelita.

Semua kagum melihat seorang putri cantik keluar dari sebuah kulit tiram. Orang-orang itu berebutan hendak mengambil kulit tiram. Akan tetapi, Merpati Emas dan Merpati Perak mencegahnya. Rupanya, mereka tidak dapat dihalangi. Maka, terjadilah perkelahian antara dua kesatria merpati bersaudara melawan berpuluh-puluh orang.

Merpati Emas dan Merpati Perak kembali beraksi menumpas orang-orang yang dengki. Mereka berdua merupakan keturunan orang sakti. Orang tua mereka adalah Bujangga Tala keturunan raja-raja. Dengan demikian, dalam waktu sekejap para durjana itu dapat dilumpuhkan. Kulit tiram lalu disimpan oleh Merpati Emas di dalam ikat pinggangnya.

Tidak berapa lama muncullah burung merak emas.

"Selamat, Tuanku! Tidak jauh dari dugaan, Tuanlah ternyata pemenang tiram berisi putri raja!" kata merak emas sambil mendarat.

"Kamu datang lagi. Siapakah kamu ini sebenarnya?" tanya Merpati Emas.

"Akulah burung kesayangan Gusti Putri yang berlindung di dalam kulit tiram itu. Mulai sekarang juga hamba harus mengabdi kepada Tuan. Sudah tibalah saatnya Gusti Putri berjodoh dengan Tuan!" kata merak emas menerangkan.

Setelah berkata-kata, terbanglah merak emas sambil berkata, "Sekarang bukalah tiram bertuah itu dan segera berkenalanlah Tuan dengan Gustiku!"

Kulit tiram diletakkan di atas rerumputan. Tiram itu terlihat bergerak-gerak, rupanya penghuninya hendak keluar. Merpati Emas dan Merpati Perak cepat-cepat bersembunyi di balik pepohonan. Mereka menjauh karena takut membuat Putri Budiwangi malu dan tidak jadi keluar.

Putri Budiwangi keluar dari dalam kulit tiram. Kedua pembantunya pun ikut keluar. Mereka berjalan-jalan menghirup udara segar. Ketika berjalan, putri itu melihat Merpati Emas dan Merpati Perak sedang tidur-tiduran di bawah pohon rindang. Karena melihat dua orang pemuda, hati Putri Budiwangi merasa berdebar bercampur senang. Ia merasa senang karena dapat bertemu lagi dengan manusia. Hatinya berdebaran karena merasa malu bercampur senang melihat dua orang pemuda dengan usia yang sebaya.

"Adikkah pemilik kulit tiram di sana itu?" tanya Merpati Emas.

"Kakakkah yang membawa kami ke sini?" kata Putri Budiwangi balik bertanya.

"Selamat, Tuan-Tuanku! Selamat! Kubawakan makanan buat merayakan pertemuan Tuan-Tuan semua!" kata merak emas yang tiba-tiba muncul membawa setumpuk buah-buahan. Entah bagaimana caranya, merak emas membawa apel, mangga, pisang, jeruk, anggur, buah buni, dan lain-lain yang semuanya sudah matang-matang.

"Hai, merak emas yang pandai! Coba engkau terangkan asal-usul Putri berada dalam kulit tiram ini!" pinta Merpati Emas kepada merak emas.

Lalu, diceritakanlah riwayat asal-usul Putri Budiwangi berada dalam kulit tiram. Selanjutnya, mereka sepakat menuju ke tempat tinggal orang tua merpati bersaudara di kampung Kancawanis. Karena perjalanan jauh, mereka menginap di hutan semalam. Saat tertidur, mereka berlima dijaga oleh merak emas. Saat mandi pun merak emaslah yang menunjukkan tempat air.

Menjelang sampai ke rumah ayah-bunda kedua merpati, Merpati Emas memohon kepada Putri dan kedua pembantunya agar masuk ke kulit tiram. Merpati Emas barus menyembunyikan mereka bertiga agar tidak diketahui oleh kedua orang tuanya. Apabila orang tuanya tahu, tentu ia akan marah dan melarang anaknya bergaul dengan perempuan. Bujangga Tala menganggap anak-anaknya masih kecil dan belum masanya berpacaran.

"Jangankan dimasukkan ke tiram, ke dalam api pun aku mau. Segala perintah Kakak pasti kuturuti!" kata Putri Budiwangi.

Lalu, berangkatlah mereka menuju kampung Kancawanis. Ke mana mereka berjalan, ke sana pula merak emas mengikutinya dari udara.

•••















5. RAJA YANG INGKAR JANJI




Setiba di rumahnya Merpati Emas dan Merpati Perak menceritakan berbagai pengalamannya. Bapak dan ibunya mendengarkan dengan penuh perhatian. Diceritakannya tentang pertempuran di tempat sayembara, negeri yang rata dengan tanah akibat banjir, dan burung yang dapat berbicara. Akan tetapi, Putri Budiwangi di dalam kulit tiram tidak diceritakannya.

Dari semua pengalaman anaknya, Bujangga Tala dan Sekar Harum tertarik pada cerita tentang negeri yang hilang.

"Ya, Anakku! Tahukah engkau, ke manakah perginya raja dari kerajaan yang hancur itu?" tanya Bujangga Tala.

"Tahu pulakah engkau, adakah keturunan raja itu yang selamat?" tanya Sekar Harum.

"Tak tahulah kami, Ayah! Sebaiknya Ayah melihat sendiri negeri yang hancur itu. Bukankah Ayah sering mengatakan punya saudara seorang raja? Siapa tahu kerajaan itu milik saudara Ayah!?" kata Merpati Emas memberi saran.

"Tunggulah, nanti suatu saat Ayah akan meninjau negeri itu!" kata ayahnya berjanji.

Sejak kehancurannya Negeri Banduburi memang menjadi negeri mati. Para nakhoda kapal yang kebetulan berlabuh menjadi bingung melihat istana yang hilang. Kemudian, kapalnya pergi lagi karena di pelabuhan tiada seorang pun yang berdagang.

Sementara itu, Putri Sari Rasmi di Negeri Purani sudah sangat rindu kepada Merpati Emas dan Merpati Perak.

"Hai, Tun Angsoka! Apakah engkau pernah melihat lagi tukang burung itu? Sudah dua minggu mereka tidak muncul lagi. Apakah mereka sakit hati karena kita utangi?" tanya Putri Sari Rasmi kepada pelayannya.

"Oh, Gusti Putri! Saya dengar, katanya penjual burung itu mendapat anugerah kemuliaan dari Gusti Raja. Akan tetapi, mereka menolak ajakan Mamanda Gusti untuk menjadi pengawal kerajaan. Mereka tidak datang lagi mungkin merasa ngeri apabila dimurkai Gusti!" jawab Tun Angsoka.

Alangkah sedihnya hati Putri Sari Rasmi. Lama sudah ia tidak berjumpa dengan penjual burung langganannya. Ia teringat akan kebaikan perilaku dan budi bahasa kedua penjual burung.

Tidak jauh dari tempat Putri itu, Raja Sunca Rama memberi perintah.

"Hai, para pengawal! Jika ada dua bersaudara Merpati Emas dan Merpati Perak datang, jangan biarkan mereka masuk!" kata raja di hadapan para menteri dan penjaga gerbang istana. "Kecuali mereka mau menerima pekerjaan yang kuberikan. Sombong mereka! Diangkat menjadi prajurit dan diberi pangkat, mereka tidak mau. Ingat-ingat pesan ini!" kata raja menutup pembicaraan.

"Baik, Gusti Raja!" jawab para pengawal istana.

Apabila Putri Sari Rasmi merasa rindu, Merpati Emas dan Merpati Perak pun demikian. Kedua pemuda itu teringat kembali kepada seorang putri raja, pelanggannya berjualan burung. Mereka berdua lalu bersepakat untuk mencari burung dan menjualnya kembali ke istana. Kepada burung merak emas dipesankan agar jangan ikut.

"Tinggallah engkau di sini. Jagalah ibu-bapakku di rumah!" pesan Merpati Emas kepada merak emas.

Ditinggal pun merak emas tidak kecewa. Ia merasa senang berada di rumah orang tua merpati bersaudara. Ia dapat bermain di taman milik ayah-bunda Merpati Emas dan Merpati Perak dengan bebas. Burung merak itu merasa heran karena taman buatan Bujangga Tala tampak seperti taman istana saja. Dalam hatinya merak itu menduga bahwa Bujangga Tala itu bukan orang sembarangan.

"Mungkin keturunan raja-raja!" katanya dalam hati.

Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, berangkatlah Merpati Emas dan Merpati Perak. Seperti biasa, mereka masuk hutan untuk memikat burung. Burung-burung itu dijualnya kepada orang-orang di kota. Di antara tempat-tempat yang didatanginya, mereka pun mendatangi istana Negeri Purani. Putri raja negeri itulah pembeli burungnya. Akan tetapi, ketika sampai di pintu kota, dua orang penjaga saling menyilangkan tombaknya. Merpati Emas dan Merpati Perak tidak diberi jalan masuk.




"Mulai hari ini, kerajaan tidak mengizinkan kalian masuk ke istana!" cegah penjaga.

"Eh, kenapa kami dicegat? Ada apa ini sebenarnya, Pak Penjaga?" tanya Merpati Perak tidak mengerti.

"Kami diperintah mencegah kalian masuk! Karena kalian telah menolak kehendak raja. Akan tetapi, kalau kalian mau menjadi prajurit istana, kami akan memberi jalan!" tutur penjaga.

"Hai, penjaga! Kalian jangan begitu. Diberi jalan atau tidak, kami tetap akan masuk karena kami harus menagih utang kepada Putri Sari Rasmi!" jawab Merpati Perak.

"Jika kalian memaksa masuk, akan kubunuh kalian!" kata penjaga mengancam.

"Hai, penjaga! Jika kalian mau membunuh kami, ayo bunuhlah. Sekarang juga kami mau masuk!" kata Merpati Emas menantang.

"Kurang ajar!" seru penjaga sambil mencabut pedang dan menusukkannya ke perut Merpati Perak.

Merpati Perak berkelit sedikit. Pedang hanya menusuk angin. Penjaga itu tampak diam saja karena ternyata tangannya terkepit oleh tangan Merpati Perak. Lalu, dengan tenang Merpati Emas mengambil pedang penjaga itu. Penjaga yang lain mencoba menusuk Merpati Emas. Dengan kecepatan secepat kilat Merpati Emas dapat berkelit serta mengimpit pula tangan penjaga itu. Lalu, Merpati Perak pun merampas pedangnya. Gerakan kedua merpati bersaudara saat merampas pedang tampaknya seperti bermain-main saja. Namun, hal itu dapat menimbulkan penjaga-penjaga itu ketakutan. Mereka berlari menuju ke tempat menteri.

Merpati Emas dan Merpati Perak menuju ke pintu gerbang kedua. Para penjaga istana di pintu itu pun melarang kedua kesatria itu masuk. Maka, terjadilah pertarungan. Merpati Emas dan Merpati Perak merasakan ilmu para penjaga pintu gerbang kedua lebih tinggi daripada penjaga gerbang pertama. Akan tetapi, kedua merpati kembar dapat melumpuhkan mereka hingga mereka dapat mencapai pintu ketiga. Begitu seterusnya hingga dua kesatria itu harus melewati penjagaan sebanyak tujuh pintu.

Ketika sampai pada pintu kelima, Raja Sunca Rama sedang mendengarkan laporan menteri. Betapa marahnya raja Negeri Purani itu mengetahui orang yang dibencinya masuk ke istana.

"O, tangkap mereka hidup atau mati!" teriak raja memerintah kepada menteri.

Menteri tidak berani menangkap Merpati Emas dan Merpati Perak seorang diri. Lalu, ia berlari-larian ke sana kemari untuk mengumpulkan para penjaga. Setelah terkumpul sebanyak seratus orang, pergilah mereka mencegat dua kesatria di pintu ketujuh.

Pada saat itu kedua merpati bersaudara sudah tiba di depan pintu ketujuh. Di tempat itulah keluarga raja tinggal. Lawan kedua merpati kembar tiada habis-habisnya. Jatuh sepuluh datang dua puluh. Jatuh dua puluh datang empat puluh. Walaupun begitu, Merpati Emas dan adiknya tidak sampai membunuh mereka. Mereka hanya dibuat pingsan untuk beberapa jam.

Munculnya merpati kembar benar-benar menggemparkan seisi istana Purani. Kabar kedatangannya telah sampai ke telinga Putri Sari Rasmi. Berdebarlah hati sang putri. Walaupun punya kesaktian, Merpati Emas dan Merpati Perak adalah manusia juga yang mempunyai keterbatasan. Untuk melawan gelombang manusia yang tidak habis-habisnya, mereka berdua lelah juga. Akhirnya, mereka tertangkap. Badannya berbasil diikat sampai tidak dapat bergerak. Lalu, mereka dibawa ke hadapan raja.

"Hai, para merpati kudisan! Sungguh aku tidak mengerti. Sudah dilarang masuk, kalian memaksa juga. Akhirnya beginilah jadinya. Apa yang kalian cari di sini?" tanya Raja Sunca Rama.

"Ya, Tuanku! Kami masuk ke istana Tuan karena pertama kami sudah biasa saat berdagang burung. Kedua, kami masuk karena kami sudah memiliki bintang kehormatan pemberian Tuan. Apabila Tuan melarang kami masuk, berarti Tuan sudah melanggar janji. Ketiga, kami mau menagih utang pembayaran burung dari Putri Sari Rasmi, putri Tuan," jawab Merpati Emas dengan tenangnya.

"Kalau Tuan tidak membebaskan kami, Tuan telah ingkar janji!" kata Merpati Perak.

Setelah mendengar putrinya disebut-sebut mempunyai utang, betapa malunya raja. Akan tetapi, karena sedang marah, Merpati Emas dan Merpati Perak tetap dimasukkan ke penjara.

Ketika berada di dalam penjara, Merpati Emas dan Merpati Perak tidak mengerti terhadap jalan hidupnya. Mereka pasrah apabila nasibnya harus demikian. Ketika malam tiba, suasana menjadi sepi. Untuk mengusir kebosanan, mereka mencari batu-batu kecil di lantai untuk bermain dam. Sementara itu, para penjaga penjara pun sudah tidak terdengar berbicara atau tertawa-tawa lagi. Untuk mengusir rasa sepi, Merpati Emas pun mengetuk mutiara sebanyak tiga kali. Maka, keluarlah Putri Budiwangi bersama kedua pelayannya, Tun Anggur dan Tun Dalima.

"Ayo, taruhan! Kalian pegang siapa? Siapa yang kalah taruhan kena getok kepala!" kata Merpati Perak kepada para penontonnya itu.

"Baik, aku pegang Merpati Emas dan kalian pegang Merpati Perak," kata Putri Budiwangi.

Ketika Merpati Emas kalah dalam permainan dam, Putri Budiwangi mendahului mengetok kepala dua pelayannya. Ia takut digetok lebih dulu karena jagoannya, Merpati Emas, ternyata kalah. Tun Anggur dan Tun Dalima tidak menerima kecurangan tuannya. Mereka berdua lalu menggetok kepala Merpati Emas karena Putri Budiwangi hanya berlari-lari tidak mau digetok kepalanya. Begitulah pekerjaan mereka semalaman di dalam kurungan penjara. Sampai mereka tertidur karena mengantuk.

Keesokan harinya tanpa diduga Merpati Emas dan Merpati Perak dibebaskan dari penjara. Tanpa mereka mengerti pula para pengawal menyuruhnya menaiki kendaraan untuk menghadap Raja Sunca Rama. Akan tetapi, merpati bersaudara menolak menaiki kendaraan. Mereka meminta berjalan kaki saja.

"Ada apa gerangan mereka jadi sebaik ini?" gumam mereka berdua dalam hatinya.

"Hari ini kalian bebas!" kata raja, ketika Merpati Emas sudah berada di hadapan raja. "Akan tetapi, ingat! Mulai sekarang kalian jangan bertindak gegabah lagi. Kubunuh kalian kalau mencoba kurang ajar lagi!" kara raja mengancam.

Setelah mendengar ancaman dari raja, pulanglah kedua pahlawan kita ke rumahnya di Kancawanis.

Hanya sebari semalam Merpati Emas dan Merpati Perak ditawan di istana Purani. Kata orang yang tahu, raja membebaskan tawanannya karena permintaan putrinya, Sari Rasmi.

•••















6. PENGGALIAN HARTA KARUN




Di kampung Kancawanis Bujangga Tala ingin melihat negeri yang hilang ditelan bumi. Hal itu diutarakannya kepada Merpati Emas dan Merpati Perak setiba di rumahnya. Disuruhnya mereka membawa alat-alat untuk menggali tanah. Perjalanannya mereka tempuh selama seminggu. Ketika sudah sampai, Bujangga Tala tertarik pada kolam yang masih berair. Karena melihat kolam, ia jadi teringat sesuatu.

"Ya, Anakku! Ingatlah aku sekarang. Inilah sumur di istana Banduburi yang tak pernah kering. Sumur ini selalu mengeluarkan air walaupun kemarau panjang datang," kata Bujangga Tala.

"Benarlah, Anakku! Inilah ujung tiang bendera di depan Balai Agung tempat menyambut kunjungan raja-raja. Jaraknya setengah kilo dari sumur abadi tadi!" kata Bujangga Tala lagi.

Lalu berceritalah ia tentang masa kejayaan Kerajaan Banduburi sewaktu ayahnya bertakhta. Sewaktu mendengarkan, Merpati Emas dan Merpati Perak melihat ayahnya bercerita sambil mencucurkan air mata.

Mereka terus menggali tempat itu. Mereka pun menemukan pedang, tombak, senapan, keris, dan berbagai senjata lainnya. Sebuah mahkota kerajaan dihiasi batu permata juga berhasil ditemukan. Tempat sirih, nampan, piring, serta cangkir terbuat dari tembaga dan perak tak terhitung mereka kumpulkan.

"Besok ibu kalian harus ikut serta!" kata Bujangga Tala. Rupanya, tidak pernah ada yang tahu bahwa di tempat itu ada sebuah istana tertimbun tanah. Barang-barang yang ditemukan semuanya dalam keadaan lengkap milik kerajaan. Dengan demikian, Bujangga Tala berniat menghidupkan dan meneruskan kembali Kerajaan Banduburi. Mereka baru berhenti menggali ketika hari menjadi gelap. Pada malamnya mereka tidur di tempat itu.

Seharian bekerja membuat badan mereka penat. Sejak sore tadi Bujangga Tala sudah tertidur. Akan tetapi, Merpati Emas dan Merpati Perak belum dapat memejamkan mata. Seperti biasanya, apabila malam sudah terasa sepi, Merpati Emas ingin ditemani Putri Budiwangi. Lalu, diketuklah kulit tiram satu kali sehingga keluarlah sang putri seorang. Merpati Emas pun bercandalah dengan Putri Budiwangi.

Setelah melihat kakaknya bersenda gurau dengan Putri Budiwangi, Merpati Perak agak bersedih hati. Ia tidak dapat bergurau dengan Putri Sari Rasmi. Kekasihnya berada jauh di Negeri Purani. Merpati yang satu ini pun teringat nasib dirinya. Punya kekasih berbapak kejam hingga ia mengalami hidup di penjara.

Keesokan harinya Bujangga Tala pulang ke Kancawanis.

"Kalian tinggal di sini dulu dan bangunlah rumah!" kata Bujangga Tala kepada kedua anaknya, merpati bersaudara, "Aku pulang dulu ke Kancawanis. Akan kubawa serta ibu kalian, Sekar Harum!”

Berselang-seling dengan pekerjaan menggali harta, kedua merpati bersaudara pun membangun rumah. Kayu-kayu diambil dari Hutan Banduburi. Bermacam-macam harta peninggalan mereka temukan. Karena lama tertimbun tanah, kadang-kadang barang besi mereka sangka emas. Barang emas pun disangka terbuat dari besi. Entah sudah berapa hari mereka bekerja. Barang perkakas sudah menumpuk bagaikan sebuah gunung. Selain dari itu, merpati kembar pun membangun rumah hingga dua buah lagi. Rumah yang dibuat pertama untuk ibu-bapaknya. Rumah kedua tempat menyimpan harta galian. Rumah yang ketiga buat mereka berdua.

Pada suatu hari mereka menemukan sebuah rangka manusia. Rangka itu mereka dapatkan dengan susah payah. Rangka berada dalam sebuah kamar yang sudah berisi lumpur kering. Pintunya sudah berkarat dan susah dibuka. Akan tetapi, rangka itu berbasil mereka angkat dalam keadaan utuh.




"Mungkin sewaktu banjir orang itu tidak berusaha lari!" kata Merpati Emas.

"Ia mati ketika memakai perhiasan lengkap. Kita tanyakan kepada ayah. Barangkali dia kenal!" kata Merpati Perak.

Setelah dua minggu lamanya, Bujangga Tala pun datang kembali. Sesuai janjinya, ia datang beserta istrinya, Sekar Harum. Bersama mereka pula terdapat burung merak emas yang ikut membawa barang-barang. Merak emas kini sudah terbiasa dengan segala pekerjaan manusia. Selama tinggal di rumah merpati bersaudara, merak emas selalu disuruh bekerja oleh Sekar Harum.

Merpati Emas lalu membawa ayah-ibunya melihat rangka yang ditemukan. Ibunya memerhatikan perhiasan pada tulang-belulang rangka itu.

"Tak salah lagi! Dialah Putri Kemala Suci, permaisuri Raja Sahriyuna!" kata Sekar Harum berseru.

"Inna lillahi ...!" kata mereka berempat.

Menurut Sekar Harum, Putri Kemala Suci adalah orang yang baik budi. Akan tetapi, ia tidak dapat mencegah kerakusan suaminya, Raja Sahriyuna. Kerangka almarhum permaisuri raja itu dikuburkan di tempat itu juga.

Segala perkakas kini sudah bertumpuk. Merpati Emas dan Merpati Perak tiap malam tiada bosan-bosannya menggosok semua perkakas itu. Ada perkakas perang, dan ada pula perabotan rumah tangga, yang sudah tentu menjadi perhiasan berharga. Barang-barang itu berasal dari keluarga raja, para menteri, para pengawal, bahkan berasal dari rakyat biasa yang tempat tinggalnya berdekatan dengan istana. Secara kebetulan semuanya jatuh lagi ke tangan keturunan raja yang sah pula.

Satu per satu barang-barang berharga itu dijualnya. Merpati Emas dan Merpati Perak sudah biasa berjualan burung. Oleh karena itu, ia tidak canggung lagi keluar masuk kampung menawarkan perabotan.

Setiap pagi merpati kembar berangkat membawa pikulan barang. Sorenya mereka pulang dengan membawa sekantung uang. Barang-barang itu selalu dibeli orang karena harganya murah. Di antara barang-barang yang dibawanya terdapat barang-barang antik zaman dulu. Baik barang zaman dulu maupun barang zaman sekarang, dijual dengan harga yang sama. Di antara para pembelinya terdapat yang suka terhadap barang lama.

"Kalian berdua teruslah berdagang!" kata Bujangga Tala suatu malam, "Kita harus melanjutkan kerajaan milik nenek moyang kita. Untuk membangun kerajaan, kita perlu uang!"

Merpati kembar terus berdagang. Uang hasil berdagangnya sudah bertumpuk di atas tikar. Mereka berdua menjual perabotan kepada semua penduduk termasuk penduduk berkebangsaan asing. Oleh karena itu, uang yang diterimanya ada pesmat, dinar, dan gulden.

"Dari mana kalian dapatkan barang sehingga tiap hari berjualan?" tanya seseorang pada merpati bersaudara.

"Kami dapatkan di sebelah utara Pulau Selong!" jawab Merpati Emas, "Di sana aku harus mengalahkan beberapa ekor gajah yang mencegat di jalan. Kalau kita kalah, matilah kena cakarnya!"

Karena mendengar seekor gajah dapat mencakar, orang yang bertanya itu cepat-cepat pergi. Ia takut Merpati Emas keterusan berkata yang bukan-bukan.

Pada suatu bari Merpati Emas dan Merpati Perak pulang berdagang. Mereka berdua merasa kaget. Ada beberapa orang mencegatnya. Pada saat itu mereka sedang berada di tengah hutan.

"Berhenti! Kalau kalian mau hidup, berikan uangmu! Cepat!" kata orang yang paling depan.

"Kalau mau mati, bawa uangmu ke neraka!" kata yang lain.

"Baik, Bang! Ambillah uang ini, Bang!" kata Merpati Emas mengacungkan kantung uang.

Semua perampok itu merasa heran. Calon korbannya tampak tidak takut, bahkan mengasongkan uang. Salah seorang mencoba meraih kantung uang. Akan tetapi, sebelum tangannya sampai, ia sudah kena tendang. Yang ditendang langsung pingsan, menyusul yang lain. Ternyata semuanya bernasib sama dengan orang yang pertama.

"Ayo, ayo! Siapa lagi mau uang, tinggal ambil!" kata Merpati Emas meledek. Tangannya masih terangkat mengacung-acungkan bungkusan uang.

Sisa perampok yang empat orang lagi secara bersamaan berebut kantung. Sebelum terpegang, Merpati Emas melemparkannya kepada Merpati Perak. Tak ketinggalan kaki Merpati Emas menendang perampok terdekat. Tanpa rasa malu para penjahat itu terus memburu kantung yang kini sudah berada di tangan Merpati Perak. Sebelum kantung terpegang, masing-masing sudah merasakan panasnya tamparan kedua merpati. Demikian selamanya, ke mana kantung terbang ke sanalah mereka lari, dan sebuah pukulan mendarat pada tubuhnya.

Hingga suatu waktu Merpati Emas melemparkan kantung ke udara. Sebelum jatuh ke tanab, kantung sudah ditangkap seorang perampok. Akhirnya, berebutanlah mereka, hingga kantung itu sobek berantakan. Terlihat oleh para perampok itu bahwa isi kantung yang berhamburan itu bukanlah uang, melainkan batu kerikil. Mereka telah tertipu. Kemudian, mereka baru menyadari Merpati Emas dan Merpati Perak sudah tidak ada lagi di situ.

•••















7. PENCULIKAN PUTRI




Merpati Emas dan Merpati Perak kini sudah menjadi pengusaha besar. Mereka berdua dikenal sebagai pedagang intan berlian. Barang dagangannya diangkut dengan kereta kuda. Untuk menjaga keamanan barang, digajinya selusin pegawai. Merpati bersaudara sendiri selalu membawa pistol dan pedang ke mana pun mereka pergi. Mereka selalu berhadapan dengan para pengusaha yang kaya-kaya. Oleh karena itu, cara berpakaiannya pun berbeda dari yang dulu.

Kelihatannya mereka tidak pernah lepas dari sepatu berlaras tinggi. Pantalon dan rompi hitam dari bahan wol lengkap dengan topi laken adalah dandanannya sehari-hari. Di balik rompi itu tampak kemeja sutra putih berkilat. Pedang dan pistol bergantung di pinggang kanan dan kiri. Dengan penampilan seperti itu, mereka mirip serdadu Eropa. Oleh karena itu, mereka berdua menjalin hubungan dagang pun dengan berbagai bangsa asing.

Sambil jalan berdagang, mereka tidak susah mencari bahan atau barang untuk membangun negeri. Kayu, batu, kaca, serta bahan-bahan beton cepat didapat karena pedagangnya sudah mereka kenal.

Semasih negeri dibangun, satu demi satu banyak orang yang pindah ke negeri Bujangga Tala. Mereka tertarik untuk berdagang di kota baru. Tukang bangunan serta para kuli galian menyatakan diri ingin terus tinggal di kota baru itu. Mereka dari kampung Kancawanis dibawa serta oleh Bujangga Tala untuk membangun kerajaan.

Negeri yang dibangun Bujangga Tala menjadi semakin ramai saja. Setelah keraton dan rumah para pejabat dibangun, perumahan rakyat pun segera dibangun. Untuk negerinya yang baru itu, Bujangga Tala sudah mempunyai nama. Di pintu kota orang dapat melihat sebuah papan nama baru. Pada papan nama itu tertulis "Padang Temurat". Itulah nama negeri atau kerajaan yang dibangun oleh Bujangga Tala dan kedua anaknya, Merpati Emas dan Merpati Perak.

Padang Temurat berarti suatu daerah tempat bertemunya atau bangkitnya kembali para ratu atau raja. Dalam hal ini, Bujangga Tala sudah membangkitkan lagi kerajaan nenek moyangnya. Dengan dibangunnya kota pelabuhan lama, perdagangan di dalam negeri pun menjadi lancar. Di kota kerajaan didirikan sekolah-sekolah untuk mencerdaskan rakyat. Untuk memperlancar pengaturan segala urusan, diangkatlah empat orang menteri. Masing-masing yaitu menteri pertahanan, menteri perekonomian, menteri pendidikan, dan menteri luar negeri. Dengan demikian, jadilah Negeri Padang Temurat sebagai sebuah kerajaan yang makmur.

Kini Merpati Emas dan Merpati Perak resmilah sebagai putra raja. Akan tetapi, ada satu cita-cita Merpati Perak yang belum terlaksana. Kakaknya, Merpati Emas sudah punya kekasih di dalam kulit tiram. Sementara itu, kekasihnya sendiri jauh berada di Negeri Purani. Itu pun orang tuanya, Raja Sunca Rama, kejam sekali. Pada saat ini Merpati Perak sedang dilanda benci tetapi rindu. Ia benci kepada ayah kekasibnya, tetapi rindu kepada anaknya.

Merpati Perak minta pendapat kakaknya. Menurut Merpati Emas, Putri Sari Rasmi harus dilamar oleh ayahnya. Lamaran harus dalam surat dan dikirim oleh seorang utusan. Bujangga Tala setuju dengan pendapat Merpati Perak, yakni apabila lamaran ditolak, Negeri Purani akan diperangi. Mereka ingin membalas penghinaan Raja Sunca Rama yang telah ingkar janji terhadap merpati bersaudara.

Singkat kata, utusan telah sampai di Kerajaan Purani.

Setelah membacakan surat lamaran, tahulah kini Raja Sunca Rama bahwa Merpati Emas dan Merpati Perak adalah keturunan raja-raja.

"Kalau mereka memang saling suka, tiada salahnya mereka berjodoh!" pendapatnya dalam hati.

"Ya, Tuanku Gusti Raja! Menurut hemat kami, tidak pantaslah Gusti Putri berjodoh dengan bekas hukuman. Apa kata rakyat nanti, Tuan bermenantukan seorang bekas narapidana? Lagi pula, Tuan Gusti tidak perlu takut kepada mereka. Sekalipun dia punya negeri, negeri mereka adalah negeri kecil yang belum terkenal," tutur menteri Kunda Kuandi selaku penasihat raja.

Setelah mendengar hal yang demikian, raja jadi terpengaruh oleh perkataan menteri. Utusan Raja Padang Temurat itu pun pulang ke negerinya membawa surat penolakan.

Dalam beberapa hari ini Merpati Perak menjadi sangat murung. Padahal, seisi kerajaan sedang sibuk mempersiapkan penyerangan ke Negeri Purani. Hanya Merpati Perak sendirian bermenung di atas batu di pinggir kolam taman. Pada saat itu hinggaplah burung merak emas ke dekat Merpati Perak.

"Apakah yang Tuan bimbangkan? Cobalah katakan. Putri mana yang Tuan kenangkan? Nantilah beta terbangkan!" sapa merak emas kepada Merpati Perak.

"Betul katamu merak yang cerdik! Engkau tahu saja kesusahan orang," jawab Merpati Perak. "Kalau engkau mau menolongku, kubuatkan surat. Berikan suratku kepada Putri Sari Rasmi. Dia anak Raja Sunca Rama di Negeri Purani. Akan tetapi, berhati-hatilah! Jangan sampai prajurit mereka tahu sebab engkau akan dibunuhnya!"

Surat buat Putri Sari Rasmi dibungkus kain sutra berwarna merah jambu. Merak emas membawanya terbang dengan menjepitnya oleh dua paruhnya. Ia terbang menuju arah barat dari Kerajaan Padang Temurat.

Di istana Negeri Purani sendiri Putri Sari Rasmi sedang membicarakan merpati bersaudara. Saat itu Putri Sari Rasmi sedang bercengkerama dengan para pelayannya. Mereka berkumpul di taman Balai Pertemuan Agung.

"Hai, Tun Raya! Sudah dengarkah engkau bahwa Merpati Emas dan Merpati Perak itu sebenarnya adalah anak raja?" tanya Putri Sari Rasmi kepada pelayannya.

"Entahlah, Gusti! Mungkin benar juga. Karena tempo hari tersiar kabar Merpati Perak meminang Gusti. Akan tetapi, Gusti Mamanda menolaknya!"

Mendengar hal itu Putri Sari Rasmi berdebarlah hatinya.

"Oh, Tun Raya! Apakah yang harus kuperbuat. Karena mendengar itu, hatiku jadi tidak enak?" kata Putri Sari Rasmi dengan mata berkaca-kaca. "Apakah para pejabat negeri kita tidak tahu bahwa merpati bersaudara itu orang baik-baik?" kata Putri melanjutkan.

Pada saat itu merak emas sudah tiba di taman. Ia bertengger di atas puncak atap Balai Pertemuan Agung. Segala isi pembicaraan Putri dengan para pembantunya didengarnya sudah.

"Tidak salah lagi! Inilah putri yang Tuan Merpati rindukan," pikir merak emas.

Merak emas lalu terbang merendah. Ia menjatuhkan surat di depan Putri Sari Rasmi. Betapa kagetnya Putri melihat seekor burung menjatuhkan sebuah surat.

"Surat apa itu! Sembarangan saja dijatuhkan seekor burung?" pikir putri itu.

Karena penasaran, surat itu dipungut dan dibacanya. Pada saat itu para pelayan kebetulan sedang pergi.

Dengan mnenanggungkan derita dan kerinduan, aku datang lewat kata-kata yang dibawa seekor burung. Adakah perasaan Adik sama dengan perasaanku saat ini? Haruskah kutanggungkan derita karena kasih tak bersambut? Bisakah Adik menjawab pertanyaan itu? Sekian pertemuan kita. Salam dari jauh. Kanda, Merpati Perak.

Selesai membaca, surat dimasukkannya ke lipatan ikat pinggangnya. Saat memandang ke atas, Putri Sari Rasmi menyaksikan merak emas pembawa surat masih bertengger di atas bubungan. Burung itu tiba-tiba berkata,

"Duh, Gusti Putri yang dirindukan! Tahukah engkau bahwa sesungguhnya gustiku saat ini sedang menderita sakit? Obatnya tak pernah dijual di mana-mana, tetapi ada pada diri Gusti Putri juga!" kata burung merak emas membuat semakin heran Putri Sari Rasmi. "Jika Gusti mau mengobatinya, marilah ikut dan tak usah takut. Sambil kita melihat-lihat negeri dari atas awan!"

"Terserah engkaulah, hai burung cerdik! Kalau begini jalannya untuk menemui Merpati Perak, aku ikut engkau!" jawab Putri Sari Rasmi.




Dengan cerdiknya merak emas membawa Putri ke udara. Pada saat itu tidak ada orang yang melihat mereka. Akan tetapi, sewaktu merak emas meraih putri untuk meninggalkan taman Balai Pertemuan Agung, surat di pinggang putri terlepas dan melayang-layang hingga terjatuh di hadapan menteri. Saat surat dibacanya, betapa marahnya menteri. Menteri mengetahui, surat ada hubungannya dengan Merpati Perak. Pada sangkanya ia telah dipermainkan oleh pelempar gelap.

"Bagaikan duri dalam daging!" kata raja ketika menteri melaporkan penemuan surat.

Pada saat itu keadaan di istana Purani sudah demikian heboh. Putri Sari Rasmi dinyatakan telah hilang. Akibatnya, Raja Sunca Rama memarahi para menteri. Para menteri memarahi para pengawal. Para pengawal pun memarahi para pelayan. Mereka semua saling menyalahkan. Kelalaian mereka mengakibatkan Putri menghilang dari istana.

Seluruh penghuni istana Purani tidak ada yang tahu ke mana perginya sang Putri. Hanya Raja Sunca Rama sendirilah yang memperoleh tanda-tanda di mana Putri Sari Rasmi saat ini.

"Surat itu dibuat oleh si keparat Merpati Perak. Saat surat ditemukan, tiba-tiba putriku dinyatakan hilang! Kalau begitu, berarti si keparat itulah yang menculiknya!" gumam Raja Sunca Rama.

"Hai, Menteri! Kirimlah surat ke Negeri Padang Temurat. Kita coba tanya apa Putri ada di sana. Kalau benar ada, kita mohon agar dikembalikan. Kalau mereka tidak mau mengembalikan, katakan negeri itu akan kita hancurkan," kata Raja Sunca Rama berteriak-teriak karena marahnya.

Berbeda dengan raja yang marah-marah, Menteri Kunda Kuandi menulis surat dengan bahasa yang baik-baik. Dalam surat itu menteri bertanya perihal ada-tidaknya Putri Sari Rasmi di Negeri Padang Temurat. Andaikan Putri ada di sana, dimintanya agar cepat-cepat dikembalikan demi menghormati kejayaan negeri masing-masing. Surat itu disampaikan oleh serombongan utusan.

Rombongan utusan Raja Sunca Rama hampir tiba di Kerajaan Padang Temurat. Dari jauh negeri itu tampak seperti sebuah lukisan yang baru selesai. Bentuk-bentuk gedung dan warna-warnanya yang memang serbabaru membuat segalanya tampak cerah. Negeri baru itu begitu cepatnya dibangun, sehingga tampak seperti baru muncul dari dalam tanah. Tanpa terasa rombongan utusan sudah sampai di istana Padang Temurat.

Surat dibaca oleh Merpati Perak.

Terimalah hormat kami. Dengan segala kerendahan hati, kami datang lewat kata-kata, tiada lain hendak bertanya. Adakah putri kami Sari Rasmi, di negeri Tuan? Mohon dijawab dengan benar dan jangan gusar. Bundanya prihatin, tiap hari menangis cemaskan sang Putri! Sekian kata-kata ini. Kami Sunca Rama di negeri Purani.

Selesai membaca surat, Merpati Perak tampak menahan senyum.

"Adakah di antara kalian yang tahu, di mana Putri itu berada? Mengapa utusan ini mencari sampai ke tempat kita? Ketika Putri itu dulu kita pinang, mereka tidak memberikannya?" tanya Bujangga Tala kepada Merpati Emas dan Merpati Perak.

Semua orang yang hadir tidak ada yang menjawab. Tak berapa lama, Merpati Perak bicara karena ia yang paling tahu di mana Putri Sari Rasmi berada.

"Ampunkan saya, Ayahanda! Memanglah Dik Putri Sari Rasmi ada di sini! Merak emaslah yang memboyongnya ke istana kita!" jawab Merpati Perak.

"Jika demikian, baiklah kirim surat jawaban. Biar diketahuinya: Jika dulu kita yang ditolak dan dihinakan, sekarang anaknya mau pada negeri kita!" kata Bujangga Tala.

Surat jawaban ditulis oleh Merpati Emas. Selesai ditulis, Merpati Peraklah yang memberikan surat itu kepada utusan.

"Sampaikan salamku kepada Ramanda Sunca Rama. Katakan bahwa Dik Putri ada di sini. Jika hendak mengambilnya, ambillah dengan senapan dan meriam!" kata Merpati Perak kepada utusan.

Kata-kata Merpati Perak kepada para utusan itu merupakan inti surat. Artinya, Merpati Emas menantang raja Sunca Rama sebagai pembalasan sakit hatinya dulu.

Setelah mengetahui maksud surat, Raja Sunca Rama marah tidak terkira. Mukanya merah padam. Pipinya kembang kempis. Dengan mata yang membara, ia tak pernah berhenti berjalan mondar-mandir seperti orang yang sedang berlatih main drama.

"Merpati bangsat! Merpati bangsat!" katanya terus-menerus dan diulang-ulang.

Pada hari itu juga seisi istana Purani bersiap-siap untuk menyerang Negeri Padang Temurat. Sambil mengatur segala persenjataan yang akan dibawa besok, Menteri Kumanpari berkata, "Masa raja dari gunung berani menulis surat macam begitu! Kalau kudapatkan merpati sundal itu, kuputuskan kepalanya dari badannya!"

Sejak kekalahannya dahulu waktu sayembara, rupanya menteri itu masih dendam kepada merpati bersaudara.

Pada hari yang ditentukan itu, berangkatlah bala tentara Negeri Purani menuju Padang Temurat. Mereka datang membawa barisan tentara berkuda. Ketika melewati tanah pegunungan, barisan itu dari jauh tampak meliuk-liuk seperti seekor ular.

•••















8. PERKAWINAN




Sepanjang jalan pasukan berkuda Kerajaan Purani berseru-seru. Mereka meneriakkan semangat berperang. Penyerangan itu dilakukan secara mendadak. Ketika mereka lewat daerah perkampungan, penduduk menjadi kaget. Pak Tani yang sedang mencangkul berhenti mengayunkan cangkul. Bu Tani yang sedang menanam biji kacang menghentikan tangannya. Pembuat tempe yang sedang mengupas kulit kedelai menghentikan kakinya. Yang sedang menginang hampir menelan susurnya.

Betapa tidak! Gegap gempitanya pasukan yang berlari bagaikan hujan batu berguguran. Tujuh bari perjalanan kaki mereka tempuh kurang dari dua hari. Sebelum memasuki Negeri Padang Temurat, bala tentara Purani dicegat beberapa kali bunyi dentuman meriam.

Tum ... tum ... tum, bum!

Pasukan Kerajaan Purani terpaksa berhenti. Jauh di luar perbatasan Kerajaan Padang Temurat tampak berdiri kemah-kemah. Itulah kemah para prajurit Padang Temurat. Dari situlah datangnya tembakan meriam. Patih Kawok-Kawok memberi aba-aba agar pasukannya membentuk formasi garpu. Fornasi itu dibuat untuk memudahkan penyergapan dari arah depan.

Pasukan Kerajaan Padang Temurat sendiri sudah siap dengan barisan gaya "lembu guyub". Mereka dikomandoi oleh putra raja sendiri, Merpati Emas dan Merpati Perak. Ibarat bertemunya serombongan anjing dengan serombongan kucing, pada saat itu juga pecahlah perang. Dua kerajaan sedang berlaga mengadu kekuatan dan kecerdikan. Peluru meriam beterbangan sepertí buah kelapa dilempar-lemparkan. Hujan panah berdesiran mengancam nyawa tanpa bersuara. Senjata pedang lawan pedang, senjata tombak lawan tombak. Pada saat itu juga darah mengalir di tempat itu.

Ketika hari gelap, mereka yang bertikai menghentikan pertarungan. Di dalam kemah, masing-masing menghitung berapa orang kawannya yang tidak pulang dan berapa yang luka-luka. Yang tidak pulang dianggap gugur dan yang luka segera diobati. Penjagaan pun dilakukan. Sebelum tertidur, masing-masing pasukan yang berseteru berunding mengatur siasat. Bagaimana caranya agar besok dapat memenangkan peperangan.

Di pihak tentara Purani Patih Kawok-Kawok menyarankan agar mengubah taktik berperang. Cara berperang tidak lagi berhadap-hadapan, tetapi harus masuk ke daerah lawan. Cara itu dianggap lebih baik karena dapat membunuh lawan lebih banyak. Untuk menjalankannya diperlukan pasukan berani mati. Taktik itu ternyata dianjurkan juga oleh Merpati Emas dan Merpati Perak dari pihak Kerajaan Padang Temurat.

Esok harinya, ketika langit menjadi terang, semangat para prajurit pun kembali bangkit. Peristiwa adu nyawa pun terjadi lagi. Penerapan taktik berperang yang sama telah mempercepat jatuhnya korban di kedua pihak. Sampai siang belum kelihatan pihak mana yang akan memenangkan peperangan.

Pada detik itu, secara mengagetkan tiba-tiba langit menjadi gelap. Rupanya udara dipenuhi oleh berjuta-juta burung. Lebih mengherankan lagi, burung-burung itu mendekati barisan prajurit Purani. Ketika tepat berada di atas pasukan, burung-burung itu menjatuhkan batu-batu. Seketika paniklah pasukan Purani.




"Tuan Merpati! Tunggulah kemenangan, Tuan. Kawan-kawan hamba telah kusuruh menyerang musuh Tuan!" kata seekor burung merak berwarna emas sambil melayang di atas kepala merpati bersaudara.

"Merak Emas!" teriak Merpati Perak, "Engkau membantu kami!"

Batu-batu itu menimpa kepala. Maka, dipasanglah tameng sebagai payung. Akan tetapi, saat melindungi kepala, badan mereka terbuka sehingga tidak dapat melindungi serangan pedang dan panah. Korban pun tampak berjatuhan di pihak prajurit Negeri Purani.

Di tengah kegalauan itu tiba-tiba secara mengagumkan muncul Menteri Kundar Kuandi di hadapan dua merpati bersaudara. Ia datang untuk melakukan balas dendamnya.

"Bangsat! Terimalah kematianmu!" teriaknya sambil mengayunkan pedangnya ke arah leher Merpati Perak. Sambil memiringkan kepala sedikit, kaki Merpati Perak menggaet kaki patih itu. Jatuhlah sang Patih. Patih Kundar Kuandi menjadi semakin murka. Akan tetapi, karena terlalu bernafsu, serangan patih menjadi tidak terarah. Bagi Merpati Perak melawan orang yang sedang amarah merupakan hal yang gampang.

Akhirnya, Patih Kundar Kuandi dapat diringkus. Badannya diikat supaya tidak dapat melawan lagi. Hanya mulutnya berteriak-teriak tidak keruan. Kemenangan sudah di tangan pasukan Padang Temurat. Merpati kakak-beradik itu memerintahkan agar pasukannya menangkap semua menteri lawan. Setelah melihat para pemimpinnya menyerah, seluruh tentaranya pun menyerah.

"Hore! Hore! Hore!"

Sorak kemenangan bergema dari mulut prajurit Padang Temurat.

Selanjutnya, Merpati Emas dan Merpati Perak akan menemui Raja Sunca Rama di istana Negeri Purani. Mereka berdua ingin berunding dengan raja itu. Raja Sunca Rama tidak ikut berperang karena merasa sudah tua. Demikian pula dengan Raja Bujangga Tala.

Rupanya, kabar kemenangan tentara Padang Temurat melebihi cepatnya lari kuda. Buktinya, ketika sampai di istana Padang Temurat, rombongan merpati bersaudara mendapat ucapan selamat dari Putri Sari Rasmi.

"Oh, Kakak! Syukurlab engkau masih hidup! Sejak istana sepi ditinggal para prajurit, saya selalu mendoakan Kakak agar selamat dari marabahaya," kata Putri Sari Rasmi sambil menitikkan air mata kebahagiaan.

"Terima kasih banyak, Adikku!" jawab Merpati Perak.

"Aku tak ingin engkau meninggalkan diriku. Maka, kusuruh merak emas agar membawa kawan-kawannya untuk membantu Kakak!" kata Putri Sari Rasmi.

"Oh! Jadi, Adik yang menyuruh si burung ikut menyerang tentara sendiri? Luar biasa!" kata Merpati Emas tersenyum.

Para prajurit Negeri Purani yang masih hidup dimasukkan ke penjara. Esoknya merpati kembar bersama rombongan menuju ke istana Purani.

Di atas singgasana, Raja Sunca Rama tertunduk lesu dan tampak semakin tua. Hatinya sangat sedih karena mengetahui pasukannya mengalami kekalahan perang. Ia dikawal oleh beberapa orang tentara. Saat itu Raja Bujangga Tala turut berunding bersama kedua anaknya. Bujangga Tala membuka kata.

"Saudara Sunca, teranglah sudah kini. Serdadu kami terbukti mendapat kejayaan di medan perang. Sekarang apa rencanamu dengan nasib negerimu?" tanya Raja Bujangga Tala. "Mengenai putrimu Sari Rasmi, kami sudah punya rencana tersendiri!" katanya pula melanjutkan.

"Hai, Tala! Tidak usah kau menyindirku dengan perkataan 'nasib negeri-nasib negeri' segala. Karena anakmu menyukai anakku, kenapa tidak cepat-cepat mereka dikawinkan saja? Aku tidak mempunyai anak lelaki. Ambil saja negeriku! Satukan dengan negerimu!" Demikian keputusan Sunca Rama.

"Terima kasih, Saudaraku! Sekalipun bicaramu kasar, aku tahu babwa engkau sebenarnya bijaksana. Aku pun tahu dengan kata-kata 'ambil saja negeriku' itu. Memang sudah teramat sering dua kerajaan berselisih apabila diperintah oleh satu dinasti!" jawab Bujangga Tala.

Tersebarlah ke seluruh negeri masa itu bahwa Merpati Perak dengan Putri Sari Rasmi telah mendamaikan permusuhan antara Kerajaan Purani dengan Kerajaan Padang Temurat. Perkawinan antar anak raja itu berlangsung tujuh hari tujuh malam. Segala macam makanan, minuman, dan hiburan disajikan demi memeriahkan pesta dan memuaskan para undangan.

Sekalipun pesta berlangsung meriah, Bujangga Tala merasakan ada satu kekurangan. Mengapa mempelai pria yang menikah itu mesti putranya yang termuda? Sementara Merpati Emas, anaknya tertua, belum mau menikah juga. Raja hanya mengetahui anak sulungnya itu ke mana pun pergi selalu membawa-bawa sebutir tiram. "Masih kekanak-kanakan!" pikirnya.

•••

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BETAWOL