SEBUAH PENGAMPUNAN CINTA
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT BAHASA
Penyediaan bacaan sastra untuk anak-anak merupakan investasi budaya untuk masa depan bangsa. Adalah suatu kenyataan bahwa anak-anak kita kini lebih akrab dengan Batman yang bisa berayun-ayun dari ketinggian dan terbang untuk menyelamatkan korban kejahatan daripada dengan Gatotkaca dalam cerita wayang yang juga bisa terbang dan berayun-ayun di udara. Anak-anak kita sekarang lebih mengenal Romi dan Yuli atau Romeo dan Juliet ketimbang mengenal Pranacitra dan Rara Mendut atau Jayaprana dan Layonsari.
Pentingnya bacaan anak-anak sudah menjadi kesadaran kolektif bangsa, bahkan sebelum kemerdekaan seperti yang dapat kita lihat pada terbitan Balai Pustaka baik pada masa penjajahan. Pada masa setelah kemerdekaan, misalnya, Balai Pustaka yang telah menjadi badan penerbit Pemerintah telah pula menerbitkan berbagai buku bacaan untuk anak-anak itu. Melalui bacaan anak-anak yang dipersiapkan dengan baik, akan dilahirkan para pembaca yang setelah dewasa akan memiliki kebiasaan membaca yang kuat. Tradisi membaca yang kuat memungkinkan berkembangnya dunia bacaan dan pada gilirannya akan mengembangkan pula kehidupan kesastraan. Hidup dan berkembangnya kesastraan sebuah bangsa akan bergantung pada para pembacanya yang setia.
Pusat Bahasa sudah sejak lama menyediakan bacaan yang digali dari kekayaan budaya bangsa masa lampau yang berasal dari naskah sastra lama dan sastra daerah. Inventarisasi yang sudah dilakukan sebelumnya telah menghasilkan sejumlah karangan yang berupa salinan dan terjemahan naskah sastra lama ke dalam aksara Latin dan dalam bahasa Indonesia. Penyediaan bacaan anak-anak yang didasarkan pada naskah tinggalan nenek moyang itu hakikatnya merupakan tindak lanjut yang berkesinambungan. Buku yang sekarang ada di tangan para pembaca hakikatnya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pengembangan kesastraan yang disalingkaitkan dengan pembinaan.
Setelah wujud dalam bentuk seperti yang ada di tangan Anda, buku bacaan anak ini telah mengalami proses panjang yang tentu saja melibatkan berbagai pihak sejak naskah itu masih berada di berbagai tempat di tanah air hingga menjadi bacaan anak-anak yang layak baca. Untuk itu, Pusat Bahasa mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah turut serta terlibat dalam rangkaian kegiatan yang berujung pada penerbitan buku bacaan anak-anak ini. Semoga buku ini bermanfaat untuk menambah kecintaan anak Indonesia terhadap sastra Indonesia.
Jakarta, Juni 2010
Yeyen Maryani
Koordinator Intern
•••
SEKAPUR SIRIH
Alhamdullilah, rasa syukur saya panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa taala, sehubungan dengan rampungnya penulisan cerita anak ini. Cerita anak berjudul "Sebuah Pengampunan Cinta" ini bersumber dari sebuah buku berbahasa Sunda yang berjudul Wawacan Siti Permana karya M.K. Mangundikaria diterbitkan oleh Depdikbud tahun 1978. Pada masa dulu, cerita wawacan sebagai hasil sastra lama biasanya lebih afdol dibacakan dengan cara dinyanyikan. Namun, untuk masa sekarang sangat sulit mendapatkan orang yang bisa mendendangkan wawacan tersebut. Oleh karena itu, cerita tersebut saya sajikan kembali sebagai bacaan ringan dengan pengubahan pada bagian-bagian tertentu yang disesuaikan dengan alam pikiran anak remaja seusia tingkat SMP.
Kesabaran menerima musibah serta usaha untuk mengubah nasib menuju ke arah yang lebih baik, menjadi inti dari kisah cinta remaja pada masa tempo dulu ini.
Jakarta, 12 September 2008
Penulis
•••
1. MENJADI ANAK YATIM
Senja ini, perlahan tetapi pasti, sang penguasa siang berlalu meninggalkan takhtanya. Tanpa ragu, dia berlalu hingga udara menjadi gelap.
Sungguh ajaib memang alam ini, setelah berangsur gelap, berangsur-angsur pula langit berganti cerah. Rupanya, sang rembulan yang bertugas malam sudah siap menggantikan takhta penguasa siang. Di langit timur ia mulai menampakkan diri. Cahayanya memancar menyebarkan sinar keperakan. Langit bersih malam itu, pas purnama tanggal empat belas.
Anjing-anjing melolong di bebukitan sana. Ini suasana yang paling mencekam bagi seluruh penduduk kaki gunung. Karena setiap muncul suasana seperti itu, besoknya kampung akan ditimpa musibah.
Beberapa hari setelah muncul pertanda di malam bulan purnama itu, muncul kabar yang memberitakan bahwa di Kampung Cigereleng banyak orang meninggal akibat terserang penyakit misterius. Bahkan, pagi tadi lurah atau kepala kampung menjadi korban. Sejak itu seisi desa bermuram durja. Mereka semua merasakan duka yang sangat mendalam ditinggal seorang sesepuh yang paling diandalkan untuk selama-lamanya.
Ibu Rohani, istri Lurah, menangis pilu. Tak henti ia meratap. Maklum perempuan.
"Ama! Mengapa Ama pergi lebih dulu. Aku dan si Eneng ditinggal sendirian, huk-huk-huk!" ratapnya di depan jasad kaku suaminya.
Neng Siti Permoni, anak gadis mereka satu-satunya, masih terkulai lemah. Ia tak tahu bagaimana suasana rumah saat itu. Ia tak sanggup lagi berpikir dan tak mampu lagi merasakan kesedihan hati akibat ditinggal orang tua terkasih.
Setelah kepalanya dikompres air dingin, si gadis tersadar.
"Ama ... jangan tinggalkan Siti ...!" ratapnya dengan suara lemah. Setelah itu, ia tenggelam lagi dalam kedukaan.
Seseorang yang sudah tua dengan lemah-lembut mendekatinya dan berkata.
"Sabarlah, Eneng. Tenanglah ... jangan terlalu jadi pikiran. Ayahmu sudah sampai pada waktunya, memenuhi panggilan Sang Pencipta. Siapa tahu esok lusa di antara kita akan menyusul. Jadi ... Eneng sabarlah ...!”
Orang tua itu melanjutkan kata-katanya, "Harap Neng Siti tabah, relakan ayahandamu memenuhi panggilan Sang Pencipta. Kita semua juga suatu saat akan menghadap-Nya. Masih beruntung, Neng Siti mah masih punya ibunda. Kami orang-orang tua, sudah tak berbapak dan tak beribu lagi! Eneng, masih ada tempat mengadu!"
Singkat kisah, jasad kaku sang lurah sudah dikebumikan. Sepanjang ingatan penduduk kampung itu, iring-iringan jenazah kali ini merupakan barisan yang paling panjang. Hal itu menjadi pertanda bahwa almarhum sangat disenangi oleh orang sekitarnya.
Para pengantar jenazah sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Beberapa orang masih bertahan menekuri gundukan tanah merah. Akan tetapi, ketika gerimis turun, satu per satu orang-orang itu bergegas meninggalkan pekuburan sepi yang udaranya mulai dingin.
Dua bulan kemudian, Kampung Cigereleng sudah memiliki lurah yang baru. Lurah pengganti itu juga merupakan orang yang bijaksana. Prestasi dan kebaikannya menyamai almarhum sebelumnya.
Cigereleng termasuk desa yang makmur. Sejak dulu desa itu selalu melimpah hasil buminya. Kelebihan dari hasil bumi itu bisa dijual ke luar desa. Uangnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masing-masing. Letak rumah-rumah dan jalan-jalannya tertata rapi. Hampir setiap rumahnya memiliki halaman yang resik (bersih). Seluruh warganya rajin bekerja atau bertani dan para gadisnya tersohor cantik-cantik. Oleh karena itu, banyak orang kota yang datang untuk mencari jodoh di Kampung Cigereleng. Akan tetapi, di antara semua anak gadis saat itu yang paling cantik hanyalah Neng Siti Permoni, yaitu gadis yang baru menjadi yatim itu.
Sekarang saatnya si gadis beranjak dewasa. Pada saat itu, siapa pun yang memandangnya, baik perempuan maupun laki-laki, tua ataupun muda, pasti memuji kecantikan paras Neng Siti Permoni. Setiap pemuda akan tergila-gila, para pejabat pasti tergoda. Sebagai berkah dari Tuhan, barangkali aura Neng Siti agak dilebihkan dari yang lain-lain. Akan tetapi, kalau tidak waspada, kecantikan malah bisa menjadi penyebab malapetaka.
Akan begitukah dengan Neng Siti?
Sesungguhnya, sebagian besar tamu yang datang berkunjung ke rumah Lurah Cigereleng, bukan sekadar ikut berdukacita begitu saja. Terutama kaum laki-lakinya, di samping melayat, mereka pun ingin melihat dan ingin ditaksir oleh Neng Siti Permoni. Para pejabat yang datang bukan saja berasal dari wilayah setempat, melainkan juga banyak yang datang dari luar kampung, bahkan dari kota Bandung. Pangkat atau kedudukan mereka mulai dari demang sampai yang terendah, yaitu para lurah seperti almarhum, carik (juru tulis), serta ulu-ulu (pengatur air). Jika memerhatikan para tamu yang datang, ternyata luas juga pergaulan Lurah Cigereleng itu.
Bagi Neng Siti sendiri, dari sekian banyak tamu agung, tak ada satu pun yang membuat tertambat hatinya. Saat bertemu para tamu, keramahannya merupakan amal yang wajar sebagai tuan rumah terhadap tamunya. Memang Siti Permoni dilahirkan di desa, tetapi jiwanya terpelajar. Kecantikannya merupakan anugerah yang lain. Itu sebabnya banyak pemuda yang mendambakannya untuk menjadikan istrinya.
Beberapa hari, setelah salat Isya, ibu Siti Permoni datang mendekati putrinya. Saat itu Siti Permoni sedang duduk di ruang tengah rumahnya, duduk di atas karpet buatan Persia. Ketika melihat ibunya yang bersikap agak serius, Neng Siti sedikit merasa heran.
"Oni, anakku sayang, kini ayahmu sudah tiada. Karena itu, apakah engkau tidak akan mencari pengganti ayahmu di rumah ini? Oni kan sudah dewasa. lbu ingin bertanya, jawablah dengan benar dari hatimu yang terdalam .... Begini ... sewaktu kemarin banyak tamu yang melayat, adakah yang sudah Oni pilih?" Ibunya bertanya.
Neng Siti tidak segera menjawab. Ia hanya menunduk, mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab. Bagi ibunya sikap demikian dianggap sebagai keragu-raguan atau bisa jadi belum ada pemuda yang ditaksirnya.
Lanjut ibunya, "Oni, jangan salah paham. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan mencabut umur kita. Oleh karena itu, sebelum saat itu datang, ibu ingin menyaksikan Oni berumah tangga dulu. Katakan saja jangan malu-malu. Siapa pemuda yang kaupilih, ibu berjanji akan membimbing supaya rumah tangga kalian rukun dan tenteram selamanya," kata ibunya membujuk dan mencoba mengetahui isi hati anaknya.
Setelah beberapa saat membisu, Enden Siti lalu menjawab.
"Haruskah Oni memutuskannya sekarang, Ibu? Andai dikatakan juga … akankah laki-laki itu menyenangi Oni juga? Terutama, juga cocok buat Ibu? Jangan-jangan, Oni hanya bertepuk sebelah tangan. Kalau Ibu mengharap jawabannya sekarang ... baiklah! Ibu … laki-laki itu ... boleh Ibu kunjungi, dialah putra lurah yang baru!" jawab Enden Siti Permoni mengejutkan ibunya.
Diam-diam ibunya bergirang hati karena anaknya masih bersikap wajar sebagai seorang gadis yang sudah dewasa.
Ibu langsung memeriksa, "Hah, putra Pak Lurah yang baru? Dia ... itu … Kang Wira Tanu? Oh, ... dasar anak ibu yang cantik, yang pintar, emmmh! Engkau tak salah pilih, Nak! Ibu kira orang jauh ..., kalau dia sih ibu setuju benar. Nak Tanu itu adalah pemuda baik, rajin, dan terpelajar."
Raden Wira Tanu anak lurah Cigereleng yang baru, sesungguhnya adalah idola para gadis di kampung tersebut. Namun, ia belum memutuskan pilihannya. Ia masih muda, berwajah ganteng, sekolah tinggi, baik di pesantren maupun di sekolah Belanda. Sesungguhnya, Wira Tanu sendiri pun sejak lama sudah tertarik kepada Neng Siti Permoni. Tak henti-hentinya setiap waktu ia merengek kepada orang tuanya agar dilamarkan ke orang tua gadis pujaannya itu. Akan tetapi, waktu itu orang tuanya masih menolak karena Den Wira belum selesai sekolah.
Kini, pemuda itu hatinya sedang berbunga-bunga. Ia sudah diberi kabar bahwa lamaran pada Neng Siti Permoni sudah dilakukan dan sudah diterima dengan baik. Begitu juga dengan Neng Siti, sekalipun hatinya senang, ia beranggapan bahwa kebahagian itu tak perlu ditunjukkan secara berlebihan. Dalam tingkah lakunya sehari-hari, apabila berjumpa dengan Den Wira Tanu tunangannya, ia tidak pernah berbuat mesra. Menurutnya, sebagai perempuan Sunda yang baik, harus bisa menahan gejolak jiwa keremajaan. Dalam bertegur sapa pun ia perlihatkan secara wajar dan seperlunya saja. Namun, bagi Den Wira Tanu sikap Siti itu agak mengecewakan.
"Tak kusangka, ... Eneng Siti berbuat begitu pada tunangan sendiri. Atau … itukah yang dinamakan jinak-jinak merpati? Jangankan bisa ngobrol, didekati saja susah. Apa maunya dia sebenarnya? Hmm ... kalau begitu terus-terusan, akan kucoba satu cara …. Lewat surat! Ya, surat!" kata Wira Tanu di dalam hati.
Hati Den Tanu sudah tetap, diambilnya pena, mangsi (tinta), dan kertas. Di sanalah ia curahkan semua isi hatinya lewat tulisan.
Tak ada yang tahu, Den Wira menulis surat cinta sendiri di kamarnya. Tak cukup satu atau dua helai surat ditulisnya. Dalam dua hari ia baru selesai mengarang surat. Setelah selesai, digulungnya kertas surat itu dan diikat dengan tali. Dengan sebuah sado pribadi, ia menuju ke rumah Neng Siti. Tak sampai setengah jam sudah tampak rumah yang dituju. Lalu dengan memberi upah, ia suruh seorang pemuda tanggung menyampaikan surat ke rumah Neng Siti.
Hari sudah lewat isya ketika Neng Siti dengan takzim mengalunkan ayat-ayat suci. Pada saat itu bisa menangkap suara halus jatuhnya benda ringan di atas lantai semen ruang tamu rumahnya. Karena penasaran, ia berhenti mendaras Alquran. Lalu, berjalan mencari sumber suara. Ibunya yang sedari tadi mendengarkan ayat-ayat suci di kamar samping, merasa kaget karena suara anaknya tiba-tiba berhenti. Kemudian ia bertanya:
"Ada apa, Eneng?" tanya ibunya.
"Ada cecak jatuh!" jawab Neng Siti.
Merasa segan terlihat oleh ibunya, surat terus disembunyikan di balik kain bajunya. Tanpa sepengetahuan ibunya pula, sebelum tidur Neng Siti membaca surat misterius yang ditemukan di ruang tamu. Baris-baris surat itu jelas ditulis oleh seorang laki-laki, berbunyi demikian.
Assalamualaikum wr. wb.,Surat sebagai wakil jiwa, benar-benar kulayangkan ke hadapan Eneng! Semoga sudi memaafkan kelancangan ini.Sumpah demi Allah, baru sekali ini saya tak tahan menahan keinginan aneh, terpaksa kulanggar tata krama bagi seorang santri. Dalam kebingungan hati ini, kutulis "ayat-ayat" tak berharga ini.Sudikah Eneng memberikan obat? Bagi penyakit Akang yang bukan disebabkan oleh kuman ataupun virus ... sehingga kejadiannya bagai pungguk merindukan bulan.Terasa-rasa takkan kesampaian, maklum saya anak dusun yang tak punya tata krama.Akang mohon, semoga Eneng mau berterus terang. Mau katakan mau, tidak katakan tidak! Pada hari Ahad, kita pergi ke kawah Tangkuban Perahu!Jangan ragu-ragu, jawabannya titipkan pada Babah Kelontong. Salam sayang,ttd. Perwira yang Tuna
Sekalipun merasa senang hatinya, Neng Siti tidak sampai berjingkrak-jingkrak. Kebahagiaannya cukup ia pendam dalam perasaan saja bahwa cintanya sudah berbalas. Ia bergumam, "Terima kasih, Kang Tanu, semoga cita-cita kita terlaksana!"
Selesai membaca surat, ia langsung membuat jawabannya. Selesai menulis, terus tidur hingga waktu subuh. Pagi-pagi surat balasan yang sudah siap dikirimkan itu digulungnya. Sesuai dengan saran Den Tanu, siangnya surat dititipkan pada Baba Kelontong. Baba ini adalah pedagang barang-barang kelontong keperluan rumah tangga yang biasa keliling kampung, menjajakan dagangannya.
Si Baba yang sudah diberi pengertian oleh Den Wira Tanu, kali ini di hadapan Neng Siti tidak banyak omong seperti biasa. Begitu menerima surat ia pergi membawa pikulannya. Neng Siti yang mendengar gumamnya hanya mendengarkan suara haiya-haiya saja dari mulut orang Cina tua itu.
Menyusul gelisah penantian semalam, kini hati Wira Tanu diserang rasa waswas menanti jawaban. Hatinya baru merasa lega ketika ia melihat Baba Kelontong muncul pada siangnya. Ada perasaan takut dan ada pula rasa senang. Tak sabar menanti jawaban sang pujaan hati.
Dengan menempelkan uang ke tangan Baba Kelontong, surat Eneng Siti pun sudah berada di tangannya. Ia lihat alamatnya, tak salah, buat dirinya. Sebelum dibaca, surat dicium-cium serta dipeluk-peluknya bagai orang sinting. Niatnya hendak buang air kecil saja dilupakannya, keburu merasa senang ingin cepat-cepat membaca.
Isi surat ternyata singkat saja:
Agan, suratmu sudah kubaca, jawaban dariku singkat saja:Aku mojang Sunda yang beragama. Berbeda dari noni-noni Belanda teman Agan di Bandung!Hormat saya,Si Gadis Dusun.
Heran dan tak mengerti, Den Wira Tanu mendapat jawaban seperti itu.
"Tidak romantis! Ternyata, perempuan lebih pandai bersandiwara dengan hatinya sendiri!" desisnya kesal dan jengkel.
•••
2. KEJAMNYA GUNA-GUNA
Di sebuah lereng Gunung Halimun yang berhutan lebat, sebuah sungai meliuk-liuk seolah mengajak kita supaya menghampiri satu-satunya gubuk di sana. Gubuk itu didirikan di sebuah pedataran di samping sebuah bukit cadas. Memang sungai itu berkawan dengan seonggok bangunan yang terbuat dari bilik bambu yang dilewatinya itu. Berkat air sungai itu pula pemiliknya, sepasang tua renta, bisa hidup nyaman sekalipun mereka hidup seadanya di tengah hutan. Kalau memerhatikan gubuk itu, seorang pencuri pun takkan berminat untuk menjarah sesuatu dari dalamnya. Tempat tersebut hanya cocok bagi kaum sufi yang sudah tidak memikirkan kesenangan dunia lagi.
Berlainan dengan keadaan gubuknya yang sederhana dan kondisi penghuninya yang sudah dimakan usia, pekerjaan kakek penghuni "gubuk derita" ini ternyata cukup menyeramkan. Orang mengenalnya dengan nama panggilan Ki Batra.
Ki Batra adalah seorang dukun yang punya kemampuan memengaruhi orang dengan bantuan para setan. Ia sering dipesan orang sirikan untuk mencelakai saingannya! Dengan kata lain, ia adalah seorang paranormal yang mantra-mantranya sangat mujarab, terutama guna-guna untuk pelet atau mantra untuk memengaruhi orang supaya mau mencintai orang lain.
Sekalipun rumahnya terpencil, tak jarang orang mendatanginya, baik siang maupun malam. Para tamunya berasal dari semua golongan masyarakat, mulai dari orang para kaum papa sampai dengan para konglomerat. Bahkan, kabarnya raja pun, kata orang yang tahu, sempat menyambanginya. Mereka yang datang rata-rata orang yang sudah kehabisan cara-cara yang halal.
Suatu hari dari tempatnya bersila di atas sehelai kulit kambing, Ki Batra melihat dua orang tamu tersaruk-saruk sedang menuju rumahnya. Mereka seorang majikan yang ditemani bujang pembantunya yang mengiringi dari belakang sambil memanggul sebuah koper.
"Sampurasun!" seru tamu yang baru datang.
"Rampes!" jawab Ki Batra, "Silakan masuk, tetapi harap dimaklum saja, rumah Aki mah jelek begini, he-he-he!" ujar tuan rumah sambil terkekeh-kekeh.
Setelah sedikit berbasa-basi dan mencicipi hidangan ala pegunungan yang dibuat kakek-nenek, tamu mulai mengutarakan maksudnya.
"Aki ... harap jangan kaget. Kami datang hanya merepotkan Aki! Saya ini punya masalah ... masalah yang teramat berat. Mungkin tak ada orang lain yang mampu mengatasi, kecuali Aki! Karena itu, Aki ... kami mohon dengan sangat, sudilah kiranya Aki mengasihani saya. Badan dan jiwa saya pasrahkan, juga hidup-mati saya, asal maksud hati bisa tercapai," kata sang tamu.
Ki Batra menjawab, "Waduh, Aden! Jangan bersumpah begitu. Sebenarnya, maksud Aden ini bagaimana? Ayo, katakan sama Aki!"
Sang tamu menjawab, "Sesungguhnya ... ada yang membebani pikiran saya. Saat ini saya selalu teringat pada seorang perempuan! Perempuan itu tak mungkin tergantikan oleh siapa dan oleh apa pun. Akan tetapi, nyatanya ia menolak cinta saya! Panas hati ini, Ki! Tambah-tambah perempuan itu bulan depan akan dikawinkan .... Hiing … hik-hik-hik … huuuuk ... uhuk-uhuk ...!" Tamu mengakhiri pengaduannya dengan tangis pilunya.
"Kenapa? Bengek juga, Aden teh? Kalau begitu sama dengan Aki … heh-heh-heh!" komentar dukun Batra sambil melucu.
"Bukan, Ki. Saya barusan sedih. Jadi, begitulah masalahnya, Ki! Tolonglah, Ki!" jawab tamu dengan meratap.
"Siapa nama perempuan itu dan siapa nama ibunya?" tanya Ki Batra.
"Namanya Eneng Siti Permoni, ibunya bernama Enden Rohani!" sahut tamu.
"Harap jangan berkecil hati. Mudah-mudahan berhasil, ada jodoh, ada rezeki. Kalau yang sudah-sudah mah, yang kemarin-kemarin ya berhasil," kata Ki Batra dengan merendah.
Orang kota yang datang berkunjung ke rumah Ki Batra itu belum lama bekerja di kota, tetapi oleh pemerintah sudah diangkat menjadi Mantri Ulu-Ulu (Kepala Urusan Pengairan). Oleh karena itu, ia kerap dipanggil Raden Mantri atau "Jakapetir" julukannya. Untuk pertama kali saja gajinya sudah besar. Takkan lama lagi ia akan menjadi penggede (penguasa) yang kaya di daerahnya. Tinggalnya masih bersama orang tuanya karena ia masih bujangan. Akan tetapi begitu niat kawin, ia menginginkan seorang perempuan yang sudah bertunangan, yaitu Neng Siti Permoni kekasih Den Wira Tanu.
Raden Mantri memerintahkan pembantunya supaya memberikan semua oleh-oleh yang dibawanya. Dengan kegembiraan orang yang bersahaja, tuan rumah menerima hadiah yang mengharapkan pembalasan itu.
Nini Dukun yang membuka semua bungkusan oleh-oleh, segera melihat berbagai jenis biskuit, berbagai manisan seperti anggur, ceremai, dan mangga. Tak ketinggalan sembako seperti beras, dendeng, gula, susu, sirup, rokok, talas bogor, ayam putih-ayam hitam, lengkap dengan bumbu dapurnya. Pakaian ada sarung, kemeja, baju koko, peci, serban, lengkap dengan terompah kulitnya. Untuk Nini Dukun ada batik pekalongan, baju encit bahan batis, selendang lokcan, kerudung renda emas, dan alas kaki kelom geulis.
Si Nini terlihat berwajah cerah. Cepat-cepat ia masuk dapur untuk menyediakan makan para tamu. Setelah beres jamuan makan, juga berbasa-basi ngaler-ngidul, mereka tinggal menanti hari gelap. Satu-satunya kegiatan yang mereka anggap terbaik dalam menghabiskan waktu selama penantian adalah tidur. Apalagi, udara pegunungan bagi orang kota merupakan ajakan yang menentang semangat kerja. Sementara para tamu tertidur, kakek dan nenek dukun sibuk di ladang.
Waktu yang ditunggu akhirnya datang juga. Pada tengah malam barulah Ki Batra mengajak para tamu ke suatu tempat.
"Mari, Gan, ... sekarang kita menuju leuwi (lubuk) untuk mandi supaya terbuka cahaya badan kita," ajak Ki Batra kepada para tamu. "Akan tetapi sebelumnya Aki ingin tahu ... siapa nama Aden sewaktu kecil dan kapan dilahirkan?"
"Dulu ... sewaktu kecil, orang-orang memanggil saya Udi. Sekarang orang memangil saya Den Mantri atau Jakapetir. Tanggal kelahiran saya hari Selasa, tanggal 12 Jumadil Akhir ketika gunung Rakata di Banten meletus," jawab Raden Mantri.
Dukun Batra berpikir sebentar, alisnya naik, bibir sedikit digigit, telunjuk ditempelkan di pelipis, wajahnya menengadahkan, kemudian berkata.
"Oh, ya, mari ... selagi waktu baik, naga sedang menghadap ke timur. Sekaranglah saatnya!" ajak sang dukun yang memandu jalan paling depan. Kedua tamunya mengikuti dari belakang.
Ketika tiba di pinggir sungai besar yang berair deras, dukun mendahului masuk ke sungai yang sedingin cuaca di malam itu. Kemudian, ia memerintahkan Den Mantri untuk berendam di air sungai yang bernama Cimanuk itu. Di malam itu meski tanpa membuka pakaian, udara dingin menembus sampai ke tulang sumsum.
"Min ...! Ayo turun, kayak banci aja kamu!" ajak Den Mantri kepada pesuruhnya. Di dalam air sungai yang dingin itu, ia ingin ditemani.
"Hiiiy! Enggak mau .... Dingiiiin! Aden saja sendiri karena yang melet juga Aden sendiri. Saya mah sudah laku sama si Kenoh orang Garut!" jawab Karimin yang membandel.
Dengan pembakaran kemenyan sebagai penghubung antara dunia masa kini dan para penjaga alam gaib, Ki Batra dan kedua tamunya merendamkan diri di sebuah lubuk yang dalamnya seleher. Setelah dirasa cukup berendam, kemudian sekujur badan Den Mantri dibalut kain kafan bertuah. Dengan panduan Ki Dukun Batra, ia didudukkan di atas sebuah batu ceper yang berwarna hitam yang biasa digunakan untuk ritual. Tangan bersedekap menghadap kiblat untuk mengheningkan cipta.
Sekali lagi, dengan mulutnya yang termonyong-monyong, Ki Dukun meniup-niup bara kemenyan supaya menyala lagi. Lapat-lapat dalam bahasa yang kurang dimengerti oleh Den Mantri, Ki Batra terus berkomat-kamit. IA membacakan mantra ajaibnya. Asap kemenyan yang mengalun putih tipis terbang ke udara seolah satu komunikasi sedang terjadi antara Ki Batra dan penjaga alam gaib.
Setelah beberapa waktu Ki Batra mengais air sungai dengan sebuah gayung. Gayung tersebut bukan sembarang gayung, melainkan gayung yang terbuat dari kulit buah kukuk pilihan, bernama "Si Kukuk Merindu".
Dengan tangan dan muka menengadah ke angkasa, Ki Batra melanjutkan acara ritualnya
"Bismillahi nyingkir sugri nu demit ..., nur-cahya nur-rasa tunggal ...! Heee Siti Permoni poma sia masing tunduk, mangka welas-mangka asih-mangka turut ... ka Raden Mantri ku bantuanna ketip nu asih ... sih sih sih! Cuh!" kata Ki Dukun.
Setelah mengucapkan mantra-mantra, sang dukun mengarahkan mulutnya ke arah Den Mantri sambil menyerukan kata-kata “Puah! Puah!". Den Mantri kaget. Ia mencoba melindungi kepalanya dengan tangannya karena ia menyangka akan diludahi dukun.
Sesudah dirasa beres semuanya, mereka segera berkemas-kemas untuk kembali ke gubuk. Seluruh badan mereka gemetaran karena dingin. Bagi Den Mantri, hal itu menjadi pengalaman yang baru. Ia hadir di tengah alam yang dingin menusuk sumsum. Dengan takzim Ki Batra memberikan petuah terakhirnya.
"Aden, silakan buktikan! Sepulang dari sini, temui Nyi Siti. Setelah berhadapan, bacakan isim ini .... Takkan misleuk, pasti dia jungkir-balik memikirkan Aden!"
Kemudian mereka meninggalkan sungai deras berair dingin itu. Esoknya ketika matahari terlihat memerah di angkasa, Raden Mantri sudah berpamitan pada Ki Batra.
Sehari penuh waktu yang dibutuhkan di jalan, bagi Den Mantri tetap terasa lama sekalipun dalam perjalanan pulang. Pukul lima sore mereka baru sampai di rumah. Sebelum menenangkan badan, Den Mantri memberi beberapa petunjuk kepada pesuruhnya, Si Karimin, mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan esok hari.
"Imin! sebelum subuh tiba, kamu harus bangun. Ambil surat dalam saku celanaku yang digantung di kamar dan kasihkan pada Neng Siti! Hati-hati jangan sampai suratnya hilang!" kata Den Mantri sambil memerintah.
"Kalau dia bertanya dari siapa, katakan saja dari Jakapetir gitu! Sudah, sekarang kamu tidur saja dulu, biar besok enggak ngantuk!"
"Baik, Aden ... mangga! Akan saya laksanakan dengan baik," jawab Karimin yang menyanggupi permintaan tuannya.
Kita kembali ke Kampung Cigereleng, yaitu pada rencana pernikahan Neng Siti Permoni dengan Den Wira Tanu. Rencana pernikahan itu akan dilangsungkan seminggu lagi. Itu adalah waktu bagus bagi dahup-nya atau berjodohnya Den Wira Tanu kepada Neng Siti Permoni.
Namun, ... pada tanggal 7 Juli, Neng Siti mendengar suara siulan bersuit-suit, seperti isyarat bagi dirinya. Karena penasaran, Siti mengintip di sela-sela gorden jendela. Nyata sekali, ia melihat yang datang adalah Wira Tanu, calon suaminya. Tentu saja Siti Permoni segera menyambutnya.
Terkesima di hadapan si cantik, Tanu tak dapat berkata-kata. Badannya tiba-tiba terasa panas-dingin, mendadak demam tanpa sebab, seperti terkena tulah hantu sungai.
Berkat kehalusan budi dan jiwa Siti Permoni, paham betul dia mengambil hati seorang laki-laki, berkata manis.
"Kenapa hanya berdiri saja di luar? Silakan masuk, enggak perlu takut, tetapi dada ini kenapa jadi deg-degan, ya?" tanyanya menggoda.
"Ibumu ada?" tanya Tanu.
"Barusan berangkat ke Pasar Baru sambil sekalian memberi kabar famili di kota. Sekalian minta bantuan buat persiapan kita," jawab Siti Permoni kekanak-kanakan.
"Persiapan apa? Siapa gerangan yang mau nikah?" tanya Tanu. Ia pura-pura tidak mengerti.
"Kan pernikahan Akang Wira Tanu Datar ... tanggal 21 Juli ...!" jawab Siti agak jengkel.
"Ah, mendengar saja baru sekarang ...," jawab Tanu yang masih berpura-pura tidak tahu, "Yang mau kawin siapa? Siapa gerangan gadis yang mau sama dia?" lanjut Tanu dengan tetap menggoda.
"Menunggu memang pekerjaan yang paling membosankan, kata orang. Sabarlah sedikit! Siti tak mau Akang jadi linglung begini! Akang! Akanglah satu-satunya laki-laki yang akan kuhormati selama hidup!" kata Siti Permoni.
"Tentu saja jadi linglung karena hati panas. Eneng direbut Wira Tanu!" jawab Wira Tanu tenang.
Mereka berbicara seolah sedang membicarakan orang lain. Akan tetapi isi pembicaraan bisa membahayakan keduanya. Orang tua bilang, jangan sembarang bicara karena takut dicatat jurig (hantu). Terdapat keyakinan di antara orang-orang tertentu bahwa kata-kata bisa menjadi kenyataan. Orang Medan punya peribahasa, katamu harimaumu!
Sementara Wira Tanu tak kuat menahan gejolak karena berada di dekat pujaan hati, lupa pada kesadaran normalnya, dan hendak merangkul Siti! Untunglah, gerak refleks gadis itu mampu menghindari laki-laki yang sedang mata gelap.
"Heit! Kenapa Akang jadi begini?" serunya, "Apa enggak kasihan sama saya? Sabar ... sabar sedikit, nanti juga untuk siapa lagi? Sekarang belum waktunya. Kenapa sih?" tanya Neng Siti heran.
"Justru karena kamu akan jadi milik saya, kenapa kamu selalu menghindar? Kan cepat atau lambat kita akan menikah akhirnya?" kata Tanu dengan membela diri.
"Saya bersumpah demi Allah demi rasulullah, bukan bermaksud menampik, juga bukan berarti tidak cinta, tidak menurut, bukan sok tahan harga. Akan tetapi, kalau saat ini saya menuruti kehendak Akang, sebelum disumpah oleh penghulu, akan tercorenglah nama baik keluarga kita!" kata Siti Permoni sambil menjelaskan.
Siti Permoni sudah bertindak dengan benar. Bagaimana pun, kehormatan seorang gadis sebelum menikah hingga saat itu masih dianggap sebagai kesucian yang sesuai dengan nilai moral yang dianut. Kehormatan yang sudah rusak, takkan dilirik oleh para pemuda.
Den Tanu sesungguhnya merasa malu dalam hati. Pertama, malu oleh kelakuannya sendiri. Kedua, malu sudah diwejangi oleh seorang gadis. Seharusnya terbalik, dirinyalah sebagai lelaki, harus mengajari seorang gadis yang dicintainya.
•••
3. DIINTAI BAHAYA
Sesungguhnya, Den Tanu merasa bangga kepada calon istrinya yang berbudi. Kepribadiannya yang agung dalam menjunjung sopan santun dan tata krama merupakan nilai plus tersendiri. Sudah cantik tambah bermoral lagi.
Gumamnya dalam hati, "Ini dia yang lebih mahal daripada intan. Seorang wanita utama yang tak gampang kena rayuan!"
Kemudian, Siti Permoni menghadapkan wajahnya. Diperlihatkannya hatinya yang bersih, lalu berkata.
"Akang! silakan duduk dekat saya, ada yang hendak saya katakan!" katanya. "Saya harap Akang mau memaafkan saya. Kata-kata saya tadi mungkin menyinggung perasaan Akang. Akan tetapi, hal itu bukan berarti saya sudah berpaling ke lain hati. Pada saatnya nanti, saya rela berserah diri, baik lahir maupun batin apabila kita sudah dipertemukan oleh penghulu.”
Selanjutnya, Siti Permoni menyuguhkan kue-kue bikinannya sendiri. Dengan tertawa, Wira Tanu mengambil sebutir manisan cermai, lalu dimakannya.
"Enak!" katanya.
"Terima kasih, silakan tambah!" kata Siti.
"Enggak, sudah kenyang!" jawab Tanu.
"Masa makan baru sedikit sudah kenyang?"
Kue-kue itu dibuat oleh Siti sendiri sebagai hasil mengikuti kursus-kursus dari orang Belanda.
Tiba-tiba, Siti meraih tangan Wira Tanu, terus ditariknya sebelum pemuda itu menyadari apa yang terjadi. Rona muka Den Tanu yang berubah memerah, terus digoda Siti dengan memperlihatkan rona gembira bercampur rindu dendam.
"Kang Tanu!" Hanya itu kata yang diucapkan Siti.
Lalu Siti melepaskan pegangannya sambil berkata, "Sebentar, saya mau ke belakang dulu!"
Sementara Siti menuju ke belakang, Tanu coba merenung-renung dalam hati. Ia memuji kesupelan sang tunangan.
"Seorang perempuan kreatif! Sudah cantik, rajin, pintar, dan serba bisa pula. Sudah alim, bisa menjaga diri lagi!" bisiknya.
Tak berapa lama, muncul lagi Siti ke hadapannya.
Mungkin untuk menunjukkan kecantikannya, Siti sengaja datang dengan berganti pakaian, berbedak, berlipstik, dan beraroma minyak wangi. Hal itu tentu membuat Den Tanu terperangah. Seperti tak sadar Den Tanu terus memandangnya tanpa berkedip. Ketika menyaksikan usahanya berhasil untuk memikat sang kekasih, Neng Siti pura-pura tidak mengerti. Padahal, hatinya teramat girang.
"Hei! Kenapa memandang terus begitu? Jadi malu nih. Apakah Akang masih marah sama saya, ya? Jangan dong, Kang! Hmh?" goda Siti.
"Bukan begitu, Neng! Akang ini cuma terkesima. Ck ... ck ... ck ...! Selama hidup, baru sekarang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, seorang perempuan cantik tanpa tandingan, yaitu kembang Cigereleng Neng Siti Permoni! Bedak merek apa gerangan yang Eneng pakai?" kata Wira Tanu diakhiri dengan canda.
Kata-kata Den Wira memang bukan basa-basi. Neng Siti dikiranya Ratu Sejagat yang sedang menjadi turis di tanah Pasundan atau seorang bidadari yang kabur dari kahyangan. Sebenarnya, segala macam rias dan hias bagi Siti Permoni tidak terlalu diperlukan. Kecantikan Siti yang masih muda adalah kecantikan alamiah, sebagai anugerah dari alam dan Tuhan.
"Neng Siti, coba dengar! Setelah kita sedekat ini, mengapa tiba-tiba Akang merasa ragu, menjadi takut, serasa-rasa takkan tercapai cita-cita itu!" lanjut Tanu ragu.
"Ya, ampuuun! Mengapa jadi begini? Cita-cita yang mana tuuuh?" seru Siti Permoni jadi bercanda. "Kakak jangan membayangkan yang bukan-bukan!”
Siti merasa kasihan pada tunangannya itu. Akan tetapi, memang dasarnya Siti adalah wanita berbudi, ia mampu mencari jalan terbaik pada setiap masalah. Ia duduk lebih dekat lagi pada Wira Tanu. Dengan kata-kata lembut penuh kasih sayang ia berkata.
"Duh ..., Engkang buah hatiku! Jangan salah sangka, memang baru-baru ini banyak orang datang berkunjung ke rumah Siti. Mereka mulai dari yang berpangkat paling tinggi, seperti anak demang sampai rakyat biasa penggarap sawah. Semuanya diterima ibu, tanpa dibeda-bedakan. Bahkan, di antara mereka sampai ada yang menginap. Namun, bagi Siti, jangankan ngobrol, untuk melihat saja Siti enggak pernah. Selama di kamar Siti belajar dan mengaji. Yang menemuinya hanya Ibu atau Bapa sewaktu masih hidup. Percayalah, Siti tidak menduakan hati, yang dinantikan hanya Akang seorang!"
Terdengar Wira Tanu dengan suara berat mengucap istigfar, lalu berkata.
"Saya jadi merasa malu, telah melakukan perbuatan bodoh, akibat tak mampu menahan iri. Maukah Eneng memaafkan? Untung Eneng tidak mengikuti ajakan setan yang ada pada diri saya. Bila tidak, kita berdua akan masuk jurang kehinaan. Terima kasih, Neng! Kesucian jiwa Eneng akan menjadi ajimat dalam hidup Engkang!"
Tiba-tiba di dekat tempat duduk mereka, berhenti sebuah kahar (kereta kuda). Enden Rohani baru pulang mengabarkan kepada para famili dan handai tolan tentang rencana perkawinan anaknya. Yang dekat, yang jauh, di kampung, di kota, di gunung, di pantai, semua diberi tahu tentang rencana pernikahan anaknya yang semata wayang. Ketika melihat Enden Rohani, Den Wira Tanu merasa malu karena telah mengunjungi anaknya tanpa sepengetahuannya. Ia mencoba menghindar ke belakang rumah.
Siti Permoni masuk ke kamarnya, ia merapikan rambut yang sedikit rusak. Setelah beres, ia muncul menemui ibunya.
Begitu berhadapan, ibunya merasakan keganjilan pada perilaku putrinya itu.
"Kenapa? Ada apa, Oni, mengeram saja di kamar sakitkah?" tanya ibunya. "Mata jadi merah, agak bengkak. Ada masalah?" sambung ibunya dengan pelan.
Siti menunduk tak menjawab. Ibunya membiarkannya beberapa saat. Apalagi ia masih lelah sepulang dari pantai. Kepalanya terasa pusing karena masuk angin.
"Assalamualaikum!" Tiba-tiba muncul Raden Wira mengucap salam seolah baru datang ke tempat itu. Enden Rohani menjawab salamnya. Pada mulanya keduanya terlihat sungkan karena pertemuan itu tidak diduga.
"Ke mana saja Aden teh jarang kelihatan? Coba lihat, ini anak Ibu kenapa datang tamu diam aja! Ambil minum kek, beri kopi kek! Bukannya malah bengong begitu. Aden! Silakan ngobrol sama si Neneng!" anjur Enden Rohani dibarengi muka manis tanpa pamrih.
Kedatangan Den Wira Tanu ke rumah Neng Siti saat itu, oleh Enden Rohani digunakan untuk membicarakan tanggal dilangsungkan pernikahan antara anaknya dengan Wira Tanu.
Pagi ini adalah hari dilangsungkannya acara akad dan pernikahan antara Neng Siti dan Raden Wira Tanu. Namun, acara belum dimulai karena penghulu belum datang. Petugas pencatat bagi administrasi negara itu biasanya memang kerap datang belakangan. Padahal, segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan sempurna. Balandongan (panggung) di depan dan di samping rumah, sudah diberi rumbe-rumbe dan umbul-umbul. Sementara menanti, para penabuh musik degung terus mengalunkan lagu-lagu Sunda, baik klasik maupun ciptaan baru. Tak ketinggalan setiap ruangan dihias supaya tampak cerah.
Lurah baru sebagai calon besan, datang lebih pagi. Ia harus hadir pada acara nyambungan, yaitu penyerahan bantuan biaya maupun bahan baku sembako dari pihak laki-laki. Sanak, kadang, dan keluarga yang datang, tak ada yang berhampa tangan. Ada yang membawa dalam kepitan, jinjingan, panggulan, gendongan, tatingan, ataupun pikulan.
Orang kaya menyumbang kerbau, kaum miskin dan daif cukup mengirim sayur dan lalapan. Sebagian lagi membawa buah-buahan, seperti mangga gedong, nangka, durian, jambu, sampai pisitan. Hanya ikan basah seperti bandeng, tongkol, teri, tenggiri, udang, cumi-cumi, dan lobster menjadi oleh-oleh para handai tolan asal dari pesisir. Tak diabaikan pula kiriman doa dari pihak yang belum bisa membantu dengan harta.
Suasana Desa Cigereleng mulai dari kaca-kaca (portal depan) hingga buntut kampung penuh oleh lautan manusia yang sekadar ingin memenuhi rasa penasaran memandang sepasang mempelai bersanding. Di tiap sudut dan tempat-tempat dipasang umbul-umbul ataupun janur dengan ragam dekor.
Segala persiapan yang hampir sempurna itu, dilakukan untuk menyongsong hari H yang ditunggu-tunggu. Saat yang dimaksud itu pun kini sudah tiba.
Berita tentang penghulu sedang menuju ke rumah Enden Rohani sudah diketahui semua orang. Kedatangannya langsung disambut dengan salam dan rangkul penuh kehangatan. Beberapa orang yang mengenalnya mencoba berbicara dengan ramah.
Sementara di lain tempat, masih di pagi yang sama, Raden Mantri seperti orang gila, ia berjalan mondar-mandir. Pikirannya hanya tertuju pada hasil yang selama ini diusahakannya bersama Ki Batra. Dalam kegelisahannya berkali-kali ia mengakurkan jam tangan dengan jam gambreng. Ternyata, tidak cocok! Dilihatnya beker, pun berselisih. Tiba-tiba, hatinya marah pada Si Karimin. Pada sangkanya, pekerjaan bujangnya itu akan gagal total.
"Aden lupa, bukan bel yang ngaco, tetapi jam tangannya itu yang mati! Hmmmh, perempuan memang racun dunia!" komentar Karimin bersungut-sungut sendiri. "Niiih, Si Karimin, tak ada cerita enggak dapet. Selama Den Mantri masih menjadi majikan saya, Neng Siti pasti buat Raden!" katanya sesumbar.
Pagi tepat menjelang hari pernikahan Neng Siti dengan Wira Tanu, Raden Mantri dan Si Karimin sedang bersiap-siap hendak menculik pengantin perempuan. Tak seperti biasanya, dengan ikat kepala gaya pendekar Jaka Sembung, celana dan baju komprang (longgar) hitam, serta gesper membelit pinggang model jagoan tempo dulu. Kain sarung menyilang disemat ke bahu, tak ketinggalan belati terselip di pinggang depan. Itu adalah penampilan Karimin sang pengawal Den Mantri itu. Bila diperhatikan, jalannya timpang karena beberapa batu akik sebesar-besar buah kemiri melingkar di jari-jemari tangan kanannya. Gelangnya perak dan kalung rantai. Rokoknya cerutu sebesar buah pisang sekali-kali diisap mulutnya.
"Huuup, ... aaah!" desahnya berkali-kali ketika ia mengisap dan memuntahkan asap batang cerutunya.
Berkali-kali Karimin mengisap cerutu, tetapi dari mulutnya tidak pernah mengeluarkan asap apa pun. Soalnya, api rokoknya sebenarnya sudah mati. Mau menyalakan kembali, alat pemantiknya tidak ada di kantongnya. Mau meminta pada Den Mantri majikannya, segan. Akhirnya, tanpa peduli pada apa pun ia berkelakuan seperti tadi itu.
Setelah Karimin menerima surat titipan dari Den Mantri, ia terus berlalu, melangkah penuh aksi. Dengan muka yang digagah-gagahkan ia menuju ke rumah Neng Siti Permoni.
Kembali menemui rumah Ibu Rohani yang akan mengadakan hajatan besar itu. Kinilah saatnya para undangan datang semua. Di hari Minggu pagi ini kedua calon mempelai segera dinikahkan. Sementara itu, hadirin menunggu, sosok Karimin datang tanpa seorang pun ada yang tahu. Gapura di gerbang masuk berhiaskan umbul-umbul dengan lampu-lampunya yang serba gemerlapan. Lebih masuk ke perkampungan, ia merasa setiap orang yang ditemuinya terlihat cakap-cakap dengan pakaian terbaiknya. Bahkan, kakek-kakek terlihat ganteng-ganteng juga. Agak bingung, Karimin tak tahu ke mana arah yang harus dituju. Sudah sekian lama mencari, tak juga sampai ke rumah Neng Siti. Sebenarnya gampang dicari, cuma pikiran Karimin tidak konsentrasi dan tidak hendak bertanya. Siapa yang tidak akan mengunjukkan rumah yang paling ramai karena mengadakan hajatan pesta perkawinan?
Namun setelah menemukan rumah yang dimaksud, Karimin bingung masuk karena ia merasa tak diundang. Akhirnya, dengan berpura-pura menjadi orang suruhan pemanggul pisang, sekitar pukul tujuh lebih sedikit, ia berhasil memasuki halaman belakang rumah Neng Siti. Halaman belakang yang berdekatan dengan kamar Neng Siti memang sepi. Ke tempat itu tak akan ada orang yang berani mendekat karena akan dianggap tidak sopan. Orang akan merasa risi apabila tidak ada kepentingan yang mendesak dekat-dekat dengan kamar pengantin.
•••
4.PENGANTIN YANG HILANG
Tak jauh dari tempat Karimin menunggu di halaman belakang kamar Neng Siti, tiba-tiba ia melihat penghuni kamar mendekati jendela itu. Si gadis terlihat berdiri pas lurus dengan dirinya, tetapi ia tidak melihat orang. Mungkin Neng Siti berdandan di depan kaca rias. Hal itu, membuat Karimin sedikit salah tingkah.
"Gimana, ya? Apa alasannya supaya tidak mengagetkan Neng Siti?" tanya Karimin yang merasa susah ketika menegur Neng Siti Permoni.
Sementara sinden terdengar mulai menyanyikan lagu "Hayam Ngupuk" diiringi gamelan yang mengalun lambat membawa para pendengar ke alam Pajajaran, ke masa jaya kerajaan Sunda. Semua para undangan, para sesepuh, kiai, haji, serta para pejabat sudah rapi duduk berjajar di tempatnya masing-masing. Para Opas Kompeni (polisi Belanda) sudah bersiap dengan seragam lengkap dan pentungan di tangan, sedangkan pawang sedari kemarin dengan dupa-kemenyannya, sudah menunaikan tugasnya menahan hujan supaya jangan turun di hari itu dan mencegah gangguan makhluk halus.
Setelah dirasa semuanya sudah lengkap berkumpul, seseorang memberi komando sehingga suara-suara manusia serentak berhenti. Seorang ustaz setempat mengawali acara dengan doa.
Di sela-sela keramaian kesibukan persiapan akad nikah, bagaikan seekor musang, Karimin mendekati kamar calon pengantin perempuan. Ia berhasil jongkok mendekat ke bawah jendela. Untung bagi Karimin, di belakang rumah keadaan sepi. Ia pun tahu pengantin perempuan di kamar hanya seorang sendiri.
Semua orang mengenal Karimin sebagai preman kampung di Desa Cigereleng. Ia suka mabuk, suka berkelahi, dan suka mencari gara-gara. Sebagai penganggur, ia diambil Den Mantri untuk menjadi pengawal pribadi.
Dengan dada berdebar karena takut dipergoki orang, Karimin memberanikan diri berdiri. Merasa yakin tak akan ada yang melihat, dirogohnya surat titipan Den Mantri, dan dilemparkannya cepat-cepat ke dalam kamar lewat jendela itu.
Pengantin yang sedang melamun, sekilas sudut matanya dapat menangkap benda terloncat dari jendela masuk ke kamarnya dan jatuh di lantai. Tanpa curiga apa-apa, diambilnya benda itu. Cepat-cepat ia menengok keluar jendela. Terlihat olehnya Karimin sedang jongkok sambil cengar-cengir.
Setelah jelas bahwa bujang Den Mantri yang membawa surat itu, marahlah Siti Permoni.
"He, Karimin! Surat apa yang kamu lempar itu?" tanya Siti penasaran.
"Baca saja dulu!" kata Karimin dengan suara ditahan.
Tanpa bercuriga apa-apa lalu Neng Siti Permoni membuka gulungan kertas dan membaca pengirim dengan kening berkerut karena heran. Setelah membaca, ia kembali pada Si Karimin.
"Apakah Den Mantri sudah kehabisan perempuan? Masa enggak tahu, saya ini punya suami! Kira-kira dong!" cerocos Neng Siti marah.
"Jangan marah dulu, saya hanya disuruh Raden!" jawab si Karimin. "Kalau mau marah, pada dia saja! Kalau memang enggak mau, jangan dibaca. Kalau sempat membaca, saya menunggu jawaban di belakang sini!" kata Karimin.
Siapa pun pasti kenal bunga melati. Berbeda dengan bunga lain, bunga melati seperti memiliki mukjizat. Harum baunya yang menyebar ke mana-mana, tercium manusia masuk lewat hidung, lalu merambah ke dada, dan berakhir di hati ... bisa menyegarkan jiwa. Akan tetapi, dari sebab wangi bunga melati yang dibawa Si Karimin dari Den Mantri, jadi berbahaya!
Sari bunga dalam peles yang diberi nama Cimata Duyung dari dukun Ki Batra sekarang sedang diuji Den Mantri. Seperti kepada makhluk hidup, bunga diberinya sesaji komplit. Pada hari-hari tertentu disembah-sembahnya. Tak ketinggalan berpuasa, dengan niat tidak tulus untuk merampok hati seorang perempuan. Oleh Den Mantri cairan Cimata Duyung itu diulas-ulaskannya pada kertas surat, sesuai petunjuk Ki Batra, tak satu pun syarat yang terlewat.
Sang pengantin merasa penat menunggu kedatangan calon suaminya. Sambil menunggu, ia kembali membaca isi surat untuk memahami sebaik-baiknya. Ketika terdengar alunan nyanyian sinden tadi, Neng Siti mengunci kamarnya.
Dirobeknya sampul surat, secara ajaib saat itu tiba-tiba tercium bau minyak wangi dari dalam surat. Aroma kembang kiriman iblis, masuk ke hidung Neng Siti, langsung menyelinap ke dalam hatinya, menetap di sudut jantungnya terdalam. Ia rasakan kepala jadi sedikit pusing. Itulah saatnya Neng Siti terjerat sihir! Ia hilang kesadaran diri, semangat dan jiwanya sudah di tangan iblis licik.
"Eeee ... e ... eh? Ada apa ini? Pandangan jadi remang-remang begini ..., hati berdebar, pusing, dan bingung. Inikah yang namanya pusing tujuh keliling?" gumam Siti, lalu ia mencuci muka supaya tidak pusing.
Di bak berair bersih, terperanjat ia memandang. Tertampak olehnya di dalam air, sebentuk bayangan wajah bergoyang-goyang. Dia kenal wajah itu ... persis Raden Mantri, Si Jakapetir. Bayangan di air lalu mengajak tersenyum. Secara refleks Siti menjauh. Siti tak bisa berpikir, apa yang menimpa dirinya.
Yang terbayang dalam benaknya tak lain dan tak bukan hanya wajah Raden Jakapetir. Duduk dan berdiri tak membuatnya nyaman. Mencoba tidur, badannya terasa kejang, mencoba berjalan, hanya menambah bimbang. Sesak benar isi dadanya, begini salah begitu salah.
Neng Siti mencoba berkonsentrasi, hatinya berkata-kata, "Sungguh tak habis pikir, Den Mantri alias si Jakapetir ..., bukan orang yang baru kutemui. Kenal sudah sejak lama, sejak sama-sama masih kecil. Sebelumnya, jangankan tertarik, amit-amit! Mengingat sekejap pun tak pernah. Akan tetapi, sekarang aku? Rindu kepadanya begitu menggebu. Hasrat hati ingin bertemu dengan Raden Mantri yang ganteng, cakep? Untuk pasrah menyerahkan jiwa-raga. Terhadap tunangan Si Wira Tanu, ada rasa benci dan jijik, ia tidak ingin melihatnya lagi!"
Sekalipun demikian, Neng Siti tetap sadar diri, "Bila begini caranya, saya pasti kena guna-guna! Bagaimana caranya ... untuk membuyarkan tenung ini?"
Ketika Siti menyadari keadaan dirinya, dia mendengar suara ibunya memanggil-manggil dari luar. Setelah gembok pintu terbuka, ibunya tampak terkejut.
"Masya Allah! Sedang kerja apa, Oni? Hidung merah, mata bengkak, baju basah? Habis nangis ...? Katakan terus terang! Ada apa? Tak ada guntur tak ada angin ... menangis tanpa sebab!”
Siti menjatuhkan diri terduduk di pangkuan ibunya, tetapi ia belum menjawab. Tingkahnya hanya termangu-mangu sambil menangis.
Sang ibu terkejut menyaksikan keanehan anaknya. Ditariknya tangan Siti. Lalu, dibaringkannya di dipan sambil diusap-usapnya. Dalam suasana demikian wajah ibunya jadi bingung.
Pada saat itu, barangkali dalam diri Neng Siti sudah ada kekuatan yang membuyarkan tenung, Neng Siti sudah kembali ingatannya. Merasa dirinya sedang menjadi pengantin, cepat ia berdiri dan langsung mengganti pupur dan merapikan pakaian. Ketika melihat kepulihan anaknya, Ibu Rohani keluar meninggalkannya. Ia tetap harus bersiap-siap, satu jam lagi pengantin laki-laki bakal datang.
Kejadian itu berlangsung hanya beberapa menit saja.
Tanpa disadari ... datang lagi pengaruh sihir Ki Batra pada Neng Siti! Saat itu Neng Siti sedang berkaca di cermin, kembali terlihat wajah Den Mantri! Tergugah lagi hatinya.
Seperti terkena pelet (guna-guna), langsung ditulisnya surat, pendek saja, bunyinya: Surat Akang sudah saya terima, saya menunggu dijemput!
Hanya itu yang sempat ditulisnya. Setelah dilipat dengan cara meremas cepat, surat lalu dilemparkannya ke arah persembunyian Si Karimin tadi. Tanpa menyita banyak waktu Si Karimin sudah menghilang dari halaman belakang kamar Neng Siti Permoni.
Tak sampai setengah jam, di depan jendela kamar Neng Siti sudah berdiri Raden Mantri. Seolah mudah saja bagi Den Mantri datang ke tempat keramaian orang yang lagi berpesta itu.
"Ayolah, Neng, kita pergi ...!" ajak Den Mantri seolah-olah sudah bertemu sejak lama.
Tanpa banyak kata atau pertanyaan, Neng Siti loncat ke pangkuan Den Mantri lewat jendela, lalu mereka kabur tanpa ada yang melihat. Si Karimin membawakan koper milik Neng Siti.
Den Mantri membawa Neng Siti ke rumahnya. Setelah menenangkan diri sebentar, Den Mantri berkata.
"Siti yang baik, jangan khawatir, jangan berpikir yang bukan-bukan! Akang bersumpah demi Allah demi Rasulullah, Akang tak akan mempermainkan Adik! Adik akan saya jadikan istri untuk selama-lamanya, sampai mati sekalipun!"
Jawab Neng Siti, "Kamu salah pilih, Den Mantri. Apa yang diharapkan dari gadis kampung seperti saya? Saya ini bukan orang cantik, bukan orang kaya, juga bukan orang terpelajar. Malah saya sudah yatim!" Neng Siti terhenti sejenak, lanjutnya, "Coba pikirkan ..., apa yang menyebabkan kamu tertarik sama saya? Tertarik tidak sama dengan cinta, maka itu jangan terburu-buru. Akang berniat memperistri saya, harap dipikirkan lagi. Jangan sampai menyesal di kemudian hari. Kecantikan saya suatu saat nanti akan pudar." Demikian Neng Siti Permoni memberikan peringatan di depan penculiknya, Den Mantri.
Di rumah Ibu Rohani, persiapan pernikahan berjalan lancar. Pihak pengantin laki-laki pun sudah tiba dan sudah siap mendengarkan kata-kata penghulu. Saat itu Mas Wira Tanu sudah siap disumpah untuk menjadi laki-laki yang menanggung jiwa dan raga Neng Siti selaku istrinya.
Ketika pengantin perempuan dipanggil supaya keluar dari kamarnya, terjadi keanehan. Neng Siti Permoni tidak mau keluar. Pintu kamarnya tertutup rapat seperti tutup peti mati.
Semua tamu sabar menunggu kedatangan Siti. Namun, kamar Neng Siti tetap tertutup. Kemudian, pintu kamar dibuka paksa oleh seorang laki-laki kuat. Ternyata, kamar kosong tak berpenghuni. Semua tamu berkesimpulan, calon pengantin melarikan diri atau dilarikan seseorang. Gemparlah semua orang.
Ibu Rohani menangis menjerit-jerit. Ia panik tak tahu apa yang harus dilakukan. Sebagai tuan rumah, ia merasa malu kepada calon besan dan calon menantu.
Tak lama terdengar suara-suara kentungan tanda bahaya. Pihak keamanan sudah menyebarkan tanda bahwa kampung sedang rusuh. Serombongan Kompeni (polisi Belanda) datang. Mereka langsung menyebar dan mencari pengantin yang hilang.
Keadaan rumah Bu Rohani kacau dan bising oleh suara tangis kaum perempuan dan anak-anak. Udara mendadak gerah. Para juru masak lupa pada pekerjaannya sehingga masakan menjadi gosong atau apinya padam. Ibu Rohani sudah tak bisa dibawa bicara lagi karena sudah tak sadarkan diri.
Semua orang mencari. Sudut-sudut gelap diterangi, barang-barang yang bertangkup ditelentangkan menghadap ke langit. Yang telentang ditengkurapkan. Sumur, kolong, dan lubang-tubang diperiksa. Lumbung, jamban, sungai, dan jurang tak ketinggalan, semua didatangi. Setiap ladang, kebun, sawah, tegalan, dan rumah digeledah, tetapi Neng Siti seperti dibawa hantu, tetap tak ditemukan.
"Kalau penculiknya ketangkap, jangan ditanya lagi, kita bikin dendeng tubuhnya!" kata seseorang yang membayangkan pencuri tertangkap.
•••
5. DI LUAR DUGAAN
Di rumah Raden Mantri, Neng Siti Permoni sedang dirubung oleh keluarga Raden Mantri. Neng Siti Permoni reda tangisnya maka berkatalah Den Mantri.
"Bagaimana sekarang perasaan, Eneng? Sekarang Eneng berada di rumah saya, saya harap kamu menurut semua perintah di rumah ini!"
Neng Siti menyahut, "Saya mah hanya bisa pasrah."
Ketika mendengar jawaban itu, detik itu juga Den Mantri menarik tangan gadis itu lalu mendekatkan ke wajahnya. Pada detik itu Siti tersadar sekalipun masih dalam pengaruh tenung, tetapi ia masih ingat akan kehormatan pribadi. Ia menghindar tak memberikan pipinya.
"Kenapa begitu, Siti? Katanya sudah pasrah? Mengapa tak mau?" tanyanya sengit. "Coba lihat apa ini?" katanya, sambil tangannya mengacung-acungkan sebuah pistol!
Perlahan pistol ditekankan pada jidat Neng Siti.
"Kalau tak mau menurut ..., dor! Kamu mati!" ancam Den Mantri.
Tindakan Den Mantri tak membuat gugup Siti Permoni. Ia sudah bertekad, lebih baik mati daripada kehormatan dirampok. Ia menjawab tenang dengan suara jelas walau perlahan.
"Raden junjungan saya! Jangan salah duga. Coba renungkan, Aden ini kan anak orang terhormat, bersekolah tinggi, tentu punya kebijaksanaan dan pertimbangan! Tentang diri saya semuanya, tentu Aden sudah tahu. Maklum anak kampung, turunan rakyat biasa. Saya tak punya keahlian apa-apa. Sekolah pun hanya tamat sampai SD.” Neng Siti menghela napas dan berkata, "Tentu orang berpangkat seperti Aden tak akan salah memilih! Silakan renungkan sejenak, bila saya wanita setia, tentu tak akan mau dibawa minggat oleh Aden! Apalagi, saat ini saya sedang menghadapi akad nikah dengan seorang calon suami."
Pada dasarnya Neng Siti adalah perempuan baik. Dikatakan Neng Siti bahwa apabila kehadiran dirinya di rumah Den Mantri hanya untuk dilecehkan, berarti dirinya sudah kena tipu. Ditipu untuk dirusak kehormatan! Apabila mereka berdua antara Den Mantri dan dirinya kawin, apakah Den Mantri tidak akan melakukan penculikan lagi pada rumah tangga orang? Neng Siti tak mau ada lagi penyelewengan dalam perkawinan resmi karena sejak awal sudah diberi contoh buruk!
"Jadi saya harus bagaimana?" tanya Den Mantri seperti orang bodoh.
"Kalau Akang benar-benar mencintai saya sepenuh hati, saya mohon Akang minta keridaan dulu pada Kang Wira Tanu! Begitu keinginan saya, bagaimana caranya Akang memecahkan masalah itu, sepenuhnya saya serahkan sama Akang," tutur Neng Siti yang membukakan segala isi hatinya.
"Benar sekali, semua yang dikatakan Eneng tadi, tak ada yang salah. Akang mengaku salah. Sekarang begini dulu, mari kita menghadap Ama serta Ambu dulu. Selanjutnya, kita dengar apa kata Ama dan Ambu,” ajak Den Mantri sambil membimbing Neng Siti memasuki ruangan lain. Cukup lama mereka mencari tempat yang dimaksud Den Mantri karena ternyata luas sekali gedung agreng (megah) tempat tinggalnya itu.
Tiba di depan salah satu pintu gerbang, terdengar beberapa anjing menyalak dari dalam. Saat itu tampak ayah Den Mantri, yaitu Juragan Demang, sedang mengaso di teras, ia duduk di sebuah kursi goyang ukiran Jepara. Juragan Demang adalah seorang pensiunan bupati.
Ketika mendengar binatang kesayangannya memberi tahu bahwa ada tamu datang, Nyi Demang bersama Enden Cicih, keponakannya, menuju keluar.
Den Mantri segera mendekati ibunya. Ia bicara perlahan saja. Pada intinya ia memerlukan tempat persembunyian bagi Neng Siti karena takut opas Kompeni datang mencarinya.
Setelah mendengar laporan anaknya, ibu Den Mantri terkesima. Ditatapnya wajah putranya lama-lama. Terkejut, marah, dan bingung adalah reaksi Nyi Demang. Padahal, semula ia sudah merencanakan akan menjodohkan Den Mantri kepada Enden Cicih! Itulah sebabnya Enden Cicih disuruh tinggal di rumahnya supaya timbul keakraban di antara anaknya dengan keponakannya itu. Hanya saja rencana itu masih dirahasiakan. Sampai saat ini tak ada yang menduga bahwa Enden Cicih bakal menantu keluarga Juragan Demang. Demikian juga yang bersangkutan, Enden Cicih sendiri, belum diberi tahu.
Nyi Demang lalu membicarakan perihal anaknya itu kepada suaminya. Dalam kemurkaannya, Juragan Demang turun dari kursi goyang lalu angkat bicara sambil menunjuk hidung anaknya.
"Heh, Mantri! Tak dinyana tak disangka kamu punya talajak (perbuatan) gila begitu, ya? Dasar tak tahu malu! Saya yang malu, tahu? Punya anak jadi begal (pencuri) anak perawan yang akan bersuami lagi!" katanya dengan suara menjulang angkasa. "Ayo, menyingkir kamu! Jangan banyak alasan. Kembalikan perempuan itu! Mana Si Karimin, Si Setan Alas, Si Oray Kadut (tukang makan) melulu? Suruh dia mengantar!"
Demikian gonjang-ganjingnya Juragan Demang bila sudah marah. Teriakannya menggelegar ke seantero tembok-tembok gedung rumahnya.
"Lagi pula kenapa harus nyuri-nyuri istri orang. Perempuan masih banyak di dunia! Kalau tercium opas Kompeni, kamu bisa dirante! Memalukan orang tua saja!" sambung Juragan Demang, "Kayak kita bukan turunan menak (bangsawan) saja, mencari bibit anak gunung. Mereka biasanya pemalas dan dusun (bodoh)! Di mana dia sekarang? Coba bawa ke sini! Tak biasanya rumah ini diinjak cacah (miskin) begitu!" tambahnya merendahkan tingkat sosial Neng Siti.
Den Mantri segera memanggil Neng Siti, yang kala itu bersembunyi di balik gerabah vas bunga yang besar buatan Plered. Air matanya terus merebak karena mendengar kata-kata orang tua Den Mantri tanpa bisa menjawab. Di hadapan orang tua mantan pejabat itu mendadak dirinya seolah tak punya arti dan harga. Sakit hatinya tak bisa diganti oleh uang segerobak pun. Akan tetapi sudah kepalang basah, hatinya sudah nekat, saat ini ia harus mengabdi kepada Den Mantri.
Atas ajakan Den Mantri, melangkahlah kaki Neng Siti menapaki lantai dingin teras semen abu-abu mengkilat gedung besar itu. Di belakangnya mengintil si Karimin yang kali ini tanpa banyak bicara. Tiba di hadapan tuan rumah, dengan menyembunyikan rasa takut, ditentangnya wajah orang tua bekas pejabat pembantu Belanda itu.
"Tak dinyana ... anak kampung bisa secantik ini!" gumam Juragan Demang.
"Wuaaah! Cantik apanya! Belum seberapa, cantiknya juga cantik pinggiran!" komentar Nyi Demang sinis, "Heh, Mantri! Si Cicih kurang apa ..., sudah cantik anak menak (bangsawan) pula! Masih saudara lagi!" kata Nyi Demang pada Den Mantri.
Neng Siti lalu bersembah sungkem ke hadapan ibu-bapa Den Mantri. Tak ketinggalan salami Enden Cicih sambil menegurnya dengan sapaan teteh (kakak) tanda menghormat. Padahal, dari segi umur lebih tua Neng Siti.
Kata Nyi Demang, "Cicih! Ajaklah kakakmu ini ke ruang belakang. Takut kalau-kalau dilihat mata-mata Kumpeni. Siapkan kamarnya, bareng di kamar Cicih saja!"
Juragan Demang terpekur prihatin. Ia tak bisa memahami kelakuan anaknya. Mau menyalahkan tak berani, tak menyalahkan juga keliru karena jelas-jelas anaknya berbuat kejahatan.
"Pusing kepala Ama gara-gara kelakuan kamu! Dari dulu sampai sekarang, enggak pernah dewasa-dewasanya. Tak mau menuruti kata orang tua!" seru Juragan Demang pada anaknya. "Tak pernah ingat lagu 'Menjaga Hati', kayak enggak pernah sekolah aja! Segala perbuatan tanpa dipikir panjang. Huh!"
"Perbuatan kamu itu, sama dengan bermain dengan maut. Asal melihat, terus saja berminat! Coba seandainya kamu tertangkap Belanda, kamu bisa dihukum berat! Mentang-mentang punya pangkat Mantri! Sekali berbuat dosa, selamanya pikiran takkan tenang. Dalam tidur pasti sering terbangun, waswas oleh perbuatan. Akhirnya, badan sakit." Demikian sumpah serapah ayah Den Mantri pada dirinya.
"Namun sekarang sudah kasip (terlanjur)!" seru Juragan Demang melanjutkan. "Kamu sudah berbuat maling! Anak perempuan ini boleh saja tinggal di sini. Akan tetapi ingat, ia belum kuperbolehkan bergaul dengan kamu, sebelum ia kaunikahi. Bertemu juga tidak kuperbolehkan! Sekarang coba cari jalan yang rapi! Katakan kepada orang tuanya bahwa kamu sebenarnya tidak bermaksud buruk terhadap Neng Siti! Untuk sementara Siti berada di bawah pengawasanku. Si Cicih yang akan menemani," ujar Juragan mengakhiri petuahnya.
Di rumah Ibu Rohani, keadaan calon pengantin laki-laki, sangat memprihatinkan. Lemas seluruh badan Mas Tanu ketika mendengar calon istrinya diculik orang. Tak lama muncul ibunya, Nyi Lurah, masih menangis, ia datang memeluk dan menghibur anaknya. Wajah Mas Tanu yang pucat bagai mayat, ternyata dari tadi sudah terlelap pingsan.
Ketika menyaksikan anak sendiri tak sadarkan diri, tak kuat menahan sedih, tiba-tiba Nyi Lurah pun ikut pingsan. Keadaan di rumah Neng Siti itu menjadi tambah gempar.
Seorang dukun dipanggil supaya mengatasi keadaan. Pertama-tama Nyi Lurah sudah berhasil disadarkannya. Selanjutnya sang dukun diminta supaya mencari tahu di mana sekarang rimbanya Neng Siti Permoni.
Setelah melengkapi syarat-syarat tertentu dan membacakan mantra-mantra, dengan mata terpejam dan tak sadarkan diri, dukun menyuarakan suara orang dari alam arwah. Suara itu terdengar asing bagi warga Kampung Cigereleng.
"Hooor!" seru dukun memulai bicara, "Pengantin yang hilang, takkan lama. Nanti juga akan pulang sendiri! Kalau dia datang jangan dimarahi ..., hoooor was wis wus-was wis wes ..., hoooor … hooooor, cos ...!" Setelah itu sang dukun tersadar kembali.
Setelah mendengar itu, orang-orang bersyukur dalam hati.
Hilangnya Neng Siti membuat Mas Tanu menilai nasibnya terlalu buruk. Siang-malam kerjanya hanya memanggil-manggil nama kekasihnya, membuat dirinya jatuh sakit. Sebulan ia menanggung sakit badan, tanpa disadari oleh dirinya ataupun orang sekitar, ingatan Den Wira menjadi sakit! Siang-malam kerjanya hanya memanggil-manggil nama kekasihnya dengan tertawa-tawa tanpa alasan.
"Oh, permata hatiku! Sungguh teramat tega dikau meninggalkan daku. Di manakah engkau sekarang berada?" seru Mas Tanu setiap saat. "Tak dinyana tak disangka, Eneng akan menyakiti hati ini. Katanya akan sehidup-semati, nyatanya jadi begini … ohhh!"
Sesungguhnya, hati manusia tak boleh diserahkan sepenuhnya pada sesuatu, termasuk pada orang karena orang yang kita percayai itu bisa berubah. Kalau sudah begitu tentu kita kehilangan hati yang telah kita serahkan itu. Pun laki-laki tak usah mengidamkan wanita cantik! Bisa repot menjaganya dan bisa mendatangkan rasa sakit di hati sehingga orang berkata, perempuan racun dunia! Sesungguhnya, itulah yang dialami Den Wira Tanu!
"Selamat tinggal, Siti! Akang pamit … ingin berpindah ke alam lain! Akan tetapi, ingat selalu satu pesan Akang: Sebelum Akang pulang, Akang mohon diperkenankan berjumpa sekali saja dengan Eneng! Itulah wasiat Akang!" ratap Den Tanu.
Orang yang mendengarkan igauan Mas Tanu bulu kuduknya jadi berdiri, terasa ngelantur, tetapi ada benarnya juga.
Di ruangan lain, Ibu Rohani sambil menangis datang ke hadapan istri lurah baru. Ia mengunjukkan sebuah surat. Dalam keadaan kedua-duanya masih terisak, surat dibaca Nyi Lurah baru.
Hormatku pada Ibu di rumah!Assalamualaikum ....Bismillah ...Ibu ... saat ini saya mempunyai dosa besar, telah membuat malu semua, lebih-lebih kepada Kang Tanu! Hanya saja semua itu bukan niat saya ...!Ada orang berpangkat, yang merayu saya mengajak kawin, tetapi saya tolak! Merasa kehabisan akal, timbul akal busuknya, dia memakai guna-guna, di luar sadar, saya mengikutinya.Pelet yang digunakannya sangat mujarab hingga saya tak kuasa menolaknya!Hanya satu pesan: saya jangan dicari! Asal saja Ibu serta semuanya mau memaafkan saya, kelak saya akan datang sendiri! Kemarahan Ibu, juga Kang Tanu, saya terima, tetapi jangan keterusan. Kang Tanu barangkali enggak mau mengakui saya sebagai istri lagi. Mau apa lagi, sudah begitu suratan takdir, saya mohon semuanya memaklumi.Wasalam.Bakti saya, Pun Siti.
Nyà Lurah dan Ibu Rohani selesai membaca surat. Kemudian, keduanya bertatapan dengan sedih. Sementara itu, Juragan Demang Pensiun senang karena rumahnya jadi bersih dari depan sampai ke belakang. Suasana rumahnya menjadi benar-benar berubah. Nyi Demang dan Enden Cicih juga merasa kagum pada hasil pekerjaan Siti Permoni. Tak henti-hentinya berdecak pada keterampilan tamunya.
"Sudah pandai, berbudi lagi! Perasaan saya ... saya sudah paling pandai ketika duduk di sekolah HIS, menjadi pujian para guru dan penilik! Akan tetapi, si Teteh bisa melebihinya, rasanya dia lebih cakap dan lebih rajin. Saya jadi merasa kalah," bisik hati Enden Cicih.
Acap kali Nyi Demang berkata pada keponakannya itu, "Cicih! Coba lihat adikmu! Jangan bosan belajar sama dia! Dia itu orang binangkit (kreatif), kamu perlu menirunya!" pujinya pada Neng Siti. "Ia tak pernah pilih-pilih kerja kasar kerja halus. Semuanya ia jalani, ibu benar-benar salut!”
Perabotan yang diaturnya sungguh membuat Ibu Demang terkesan. Tata letaknya dan warna disusun serasi, tidak membosankan atau membuat sakit mata yang memandang.
Enden Cicih tak pernah berpisah dari Neng Siti. Keduanya sudah akrab bagai bersaudara saja. Karena sangat erat bergaul, kepandaian Enden Cicih sekarang sudah bertambah berkat didikan gurunya, yaitu Neng Siti.
Neng Siti oleh Nyi Demang dianjurkan harus memanggil "Ambu” kepadanya, sama seperti Den Mantri memanggil ibunya itu selama ini. Hal itu dilakukan supaya di antara mereka tidak terjadi kekakuan, tetapi terjalin rasa kekeluargaan. Demikian juga dengan Juragan Demang, ia ingin disapa Ama oleh Neng Siti sebagaimana anggota keluarga yang lain di rumah itu menyapa dirinya. Apalagi kepada Neng Siti yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri.
Lama-lama Neng Siti kerasan juga di rumah gedung itu. Ia sudah dianggap sebagai anggota keluarga. Namun, bagaimana pun keberadaan Neng Siti di rumah itu sebenarnya bukan atas kehendaknya sendiri. Ia ada di sana karena guna-guna Den Mantri, sedangkan guna-guna, kata orang, hanya bisa bertahan selama beberapa waktu saja.
Pada bulan kedua, Neng Siti mulai merasakan kejanggalan dalam dirinya. Ia sering melamun, merenungkan nasibnya berpisah dengan Mas Wira Tanu. Ia serasa ingin bertemu cepat-cepat kembali. Dilupa-lupakan semakin teringat, dilipur-lipurkan juga semakin terpaut. Bila sudah tak kuat menahan, ia terus mendekap wajah. Terkadang Siti menangis sendiri bila kebetulan tidak ada Enden Cicih.
"Duh, Engkang! Datanglah ke sini, tengoklah saya yang rindu ingin berjumpa! Lupakah Akang sama saya? Jawablah, sayang!" ratapnya dalam hati.
•••
6. TEBUSAN BATIN
Bila sudah tak tahan diserang rasa rindu pada Mas Tanu, Neng Siti suka duduk di taman di belakang rumah. Perdu-perdu yang hijau dan aneka warna bebungaan biasanya cukup memberi kecerahan pada wajahnya dan terlupakan kerinduan pada kekasihnya. Karena taman itu berada di pinggir jalan ramai, terlintas di pikirannya suatu waktu ia bisa melihat Den Tanu lewat. Di tempat itu biasanya ia menikmati angin segar berdua dengan Enden Cicih. Terkadang Den Mantri dan si Karimin menyertai.
Sekali waktu, ketika Siti seorang diri di taman, Den Mantri meraih lengannya untuk mencium. Sebelum terpegang, Neng Siti cepat-cepat menghindar dengan wajah marah. Dalam hatinya ia berkata, "Daripada dicium, lebih baik mati ditembak pistol!" Namun, yang keluar dari mulut Siti lain lagi.
"Saya mohon Aden bersabar dulu! Saat ini hati saya benar-benar sedang keder (repot) banyak pikiran!" pinta Siti.
Dalam pendengaran Neng Siti, Den Mantri menjawab, "Eulis (cantik) jangan merajuk! Akang takkan berbuat kasar lagi. Mari kita masuk, hari sudah magrib!"
Esok paginya, entah karena apa, suasana di Kampung Cigereleng terasa murung bagai hendak dilanda gempa saja. Pelangi yang terbentang di langit menaungi kampung juga terhalang mendung abu-abu kehitaman.
Ternyata, tanda-tanda dari semua itu baru terjawab oleh datangnya serombongan manusia dari arah bebukitan. Selain semuanya bersikap prihatin, mereka juga menunjukkan muka-muka murung. Mereka tidak saling berbicara. Seseorang yang berdiri di jalan, turut bingung. Ada keinginan untuk mencari tahu, tetapi segan bertanya.
"Heh! Itu ... Den Mantri dan si Karimin juga ikut barisan! Coba kamu Lihun, tanya dia, apa yang terjadi,” kata seseorang di pinggir jalan menyuruh kawannya bertanya.
Lihun pergi sebentar. Ketika sudah kembali, ia bercerita gugup.
"Pantas saja!" kata Si Lihun. "Tadi pagi, di pagi buta, Ki Dukun Batra meninggal dunia! Dia dikuburkan secara terburu-buru! Entah kenapa, katanya sih ketika kerandanya hendak diangkat, tiba-tiba melayang sendiri menuju ke pekuburan. Ee ... sekarang mereka baru pulang mengantar dari kuburan."
Setelah tertegun sebentar karena kaget, salah seorang mengucap, "Innalillahi ...! Emh ... pantas saja mereka pada murung ... kiranya Ki Batra si jago pelet kukuk malik itu ...!” serunya mengenang keahlian almarhum.
Selang beberapa saat, dari arah selatan serombongan anak-anak bersorak-sorai ribut sekali. Mereka terlihat sedang mengiringi seseorang yang berjalan limbung. Laki-laki yang berjalan limbung itu berpakaian compang-camping dan kepalanya dibelit sehelai kerudung berenda warna hijau. Di belakangnya anak-anak berteriak-teriak mengolok-oloknya.
"Heeeei, orang gila! Orang gila baru!" teriak seorang anak.
"Hei, gila! Kamu stres, ya?" tanya anak lain.
Sesekali si gila berhenti, kerumunan itu pun berhenti. Bila si gila maju jalan, anak-anak itu pun mengikutinya.
Dengan penampilan kotor, kumuh, dan seluruh pakaian compang-camping, keadaan orang itu mengenaskan sekali. Di antara orang yang memperolokkannya, terlontar kata-kata yang sangat menyakitkan. Tampaknya, setiap orang bebas mengganggunya.
"Dulu dia orang pintar, mungkin durhaka sama ibunya maka ia jadi begitu!" kata seseorang yang menduga-duga.
"Orang gila maling ayam!" kata seorang anak.
"Bukan maling ayam, ... dia jadi gila karena gagal menuntut ilmu kebal!" kata yang menyahuti.
Ada yang mencubit, melempar, meraba, ataupun menarik-narik pakaiannya. Akan tetapi, orang itu tidak memedulikan semuanya. Patut dikasihani, orang gila itu dilempar oleh batu, pecahan genting, bahkan oleh telur busuk! Anehnya, orang-orang malah mendapat kesenangan dengan melihat penderitaannya.
Dengan tenang, ia terus berjalan. Namun, roman mukanya terlihat sedang menanggung kesedihan. Kalau melihat perilaku dan kecompang-campingannya, jelas orang ini sudah bisa disebut gila.
Memang benar dia baru gila. Ia tergila-gila oleh seorang perempuan yang dicintainya, tetapi perempuan itu mendadak menghilang. Padahal, perempuan itu dulu, hampir dikawininya. Pada saat penghulu hendak menikahkan mereka, calon pengantin perempuan menghilang di kamarnya.
Saat itu, orang mereka-reka, apa yang tengah menimpa pengantin perempuan. Dikatakan tidak cinta, kan sudah terlihat sering berjalan berduaan dan saling mengasihi. Pengantin perempuan malah sudah memberikan tanda mata berupa selendang sutra. Kain itulah yang sekarang dibelitkan di kepalanya sendiri.
Memang benar, yang berjalan tersaruk-saruk itu adalah Raden Mas Wira Tanu. Tanpa disengaja ia lalu berhenti di dekat pagar kebun belakang rumah Juragan Demang. Bagaikan ada yang menyuruh, ia duduk bersila dekat pintu taman itu. Sementara itu, anak-anak masih terus "mengelu-elukannya". Mereka mendapat hiburan dengan mengganggu orang itu.
Atas kehendak Tuhan Yang Mahakuasa, tiba-tiba pintu belakang rumah gedung besar terbuka dan keluar Neng Siti dan Enden Cicih. Keduanya merasa heran mendengar ribut-ribut di belakang rumahnya. Ketika di luar, mereka pun kaget karena melihat seorang laki-laki kotor duduk bersila di atas tanah di sebelah luar taman rumahnya.
"Teteh, Teteh ...! Ayo kita laporkan pada Ambu. Ada orang gila mau masuk ke rumah ...!" kata Enden Cicih pada Neng Siti sambil menarik-narik tangan "kakaknya" itu. Yang ditarik tangannya tidak menjawab. Pandangannya terpaku tak bergerak, memandang ke arah orang gila. Sedikit demi sedikit, Neng Siti berjalan mendekati orang gila itu. Tanpa sadar, Enden Cicih pun mengikuti dari belakang.
"Teteh, mau ke mana? Jangan ke sana, nanti rambut Teteh dijambaknya!” teriak Enden Cicih yang memperingatkan kakaknya. Akan tetapi, Neng Siti tidak mendengarnya. Ia berkata-kata dalam hati, "Kenapa laki-laki ini ... menutupi kepalanya dengan selendang sutra … yang … rasanya saya pernah melihatnya? Ooh, barang ini tak salah lagi ..., selendang saya yang dulu ... yang dulu saya berikan kepada Kang Wira Tanu? Jadi, siapa dia? … Hah? Kang Tanu? Ah, tidak mungkin!"
Ketika melihat bentuk badan, potongan wajah, dan rupa kulitnya, Neng Siti merasa tak samar lagi. Lebih-lebih ada bukti selendang yang mirip miliknya dulu. Mungkinkah laki-laki yang diteriaki gila oleh anak-anak itu adalah mantan kekasihnya dulu, yang ia campakkan begitu saja?
"Ingin aku meminta maaf!" jerit hati Neng Siti Permoni, "Mudah-mudahan lelaki ini ... Kang Tanu, Kang Wira Tanu Datar, mungkin dia menjemput saya? Sungguh kasihan ... sayang ...! Engkau berubah sampai begitu jauh!" Demikian rintih Neng Siti dalam hati.
Tanpa bimbang lagi, Neng Siti Permoni mendekati orang itu. Setelah merasa yakin bahwa orang asing itu calon suaminya, tanpa berkata-kata lagi, dirangkulnya si gila itu! Kepala Siti disurukkan ke dada si gila itu.
"Kakang ...! Aduh, Kakang ... ini saya, maafkan saya! Huu ... huuu ... huuu ...!" tangis Neng Siti.
Serentak orang-orang di jalanan memerhatikan pemandangan yang lumayan aneh itu. Seorang wanita cantik terpelihara bersih merangkul seorang gila compang-camping kotor. Mereka menganggap sedang melihat seorang waras yang sedang merangkul seorang gila!
Si gila tak mengerti apa yang menjadi urusan, tiba-tiba seorang perempuan berparfum wangi merangkulnya. Namun atas izin Allah, pada detik itu pikiran Raden Tanu "gila" langsung terbuka dan dapat mengenali suara Neng Siti! Sekalipun demikian, ia tetap berdiam diri, seolah keadaan berjalan seperti anggapan orang, bagaimana dirinya, sehingga tak ada yang tahu bahwa dirinya sudah sadar.
"Duh, Gusti! Kang Tanu sesembahan saya lahir-batin ...! Sungguh tak nyana, Akang, hidup kita jadi begini! Sampai begini engkau nyatanya, badan kurus-rudin, wajah buruk rupa! Yang salah bukan siapa-siapa ... huuu! Saya yang salah, Akang ..., saya! Saya mohon Kang Tanu mau memaafkan saya, huuu ...!" ratap Neng Siti penuh rasa berdosa.
"Hee ... ada orang gila berpelukan!" teriak seseorang di antara kerumunan yang semakin menggerombol itu.
Di tengah ingar-bingar para penonton, sedikit demi sedikit kesadaran dan ingatan Wira Tanu semakin berkumpul di kepalanya. Ia sudah bisa menyadari hangatnya tubuh seorang perempuan yang mengaku kekasihnya dulu dan kini merangkulnya. Wira Tanu sangat terkejut, tanpa berkedip matanya menegasi gadis cantik di hadapannya.
"Siapa perempuan ini? Datang-datang langsung merangkul sambil menangis! Wajahnya cantik .... Apakah mata saya sudah rusak? Karena saya kenal pun enggak! Jangan-jangan kuntilanak!" kata Mas Tanu dalam hatinya, tetapi kesadarannya terus berangsur membaik.
Enden Cicih yang menonton dari jauh, menjadi salah tingkah. Ia merasa berada dalam mimpi. Ketika menggigit tangannya, terasa sakit. Akan tetapi, tetap tak mengerti kakaknya memeluk orang gila.
Rasa heran Enden Cicih sama dengan perasaan herannya Den Tanu yang sejak detik itu sudah tidak gila lagi, tetapi ia masih merasa gamang, bagaimana bersikap yang sebaiknya.
"Dia mengaku-aku sebagai istri saya! Kalau begitu ... dia adalah Neng Siti Permoni? Betulkah? Dulu kamu mempermainkan saya, minggat dari hadapan penghulu! Kalau begitu ..., hmmmh, awas pembalasanku!" gumam Wira Tanu dengan rencananya sendiri.
Dengan memanfaatkan situasi yang ada, Wira Tanu tiba-tiba berdiri melepaskan tangan Neng Siti hingga terjatuh. Selanjutnya ia berjingkrak-jingkrak bagaikan kuda lumping.
"Hoh ... hoh ..., ho ho hio ...! Siapa kamu, hai perempuan ... siapa kamu, huu huu huu ... aku tak tahu?" katanya sambil bernyanyi, entah lagu apa.
Perilaku Tanu semakin membuat hancur hati Neng Siti. Semula ia berusaha menyadarkan Wira Tanu dari sakitnya, tetapi yang terjadi malah semakin parah.
"Kakang, Kang Tanu? Ini saya ... Siti Permoni, istri Engkang! Ingat? Coba lihat selendang yang engkau bawa itu, bukankah itu hadiah dari saya dulu yang saya sulam sendiri? Engkang … maukah Engkang ... memaafkan saya? Saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi!" ikrar Neng Siti sambil mengguncang-guncangkan pundak Wira Tanu.
Namun Wira Tanu tetap menari-nari dengan melambai-lambaikan selendang sutranya. Keadaan tersebut membuat hati Neng Siti amat sangat khawatir. Khawatir Mas Tanunya "hilang" lagi, baik hilang orangnya, maupun ingatannya. Maka pada saat itu pula ia bersujud di tanah untuk memanjatkan doa. Ia memohon kepada Tuhan agar calon suaminya disembuhkan dari sakit gilanya.
Mereka berdua kini sudah dilingkari oleh orang yang menonton. Saat menyaksikan Neng Siti bersujud, semakin gemuruhlah sorak-sorai manusia.
"Heeei! Yang satunya sekarang lagi menungging!" teriak seorang anak lagi.
"Awas mau kentut!" timpal yang lain.
"Pasti bau jengkol!" Yang lain tak kalah komentar.
"Yeeeey ..., jorok!" seru yang lainnya lagi.
Wira Tanu sendiri merasa heran dengan perbuatan Neng Siti bersujud demikian lama. Seolah tidak mau bangkit dari sujudnya.
Ketika menyaksikan kekasihnya berbuat demikian, rasa khawatir kini berbalik menjangkiti dirinya. Maka dari itu, ia dekati kekasihnya, lalu tangannya menepuk pinggul tunangannya untuk menyadarkanya.
"Hey, Ceuceu (kakak perempuan), apa-apaan Ceuceu nungging di sini? Malu tuh dilihat orang banyak!" kata Den Wira Tanu.
Akan tetapi, sentuhan tangan Den Tanu malah menyebabkan badan Siti limbung ke samping. Terlihat matanya terpejam ... rupanya ia tak sadarkan diri. Hal ini semakin membuat terkejut Den Tanu.
"Mati ...! Heey, yang perempuannya matiii!?" teriak penonton dengan suara paling keras.
Wira Tanu menjadi kebingungan. Mau dibawa ke dokter, takut tidak dipercaya karena keadaan dirinya yang compang-camping. Saat itu juga ia angkat tubuh Neng Siti untuk dibawa ke rumahnya sendiri.
Namun pada detik itu terdengar sebuah seruan bernada berat dari suara seorang laki-laki bertubuh tinggi besar.
"Bawa ke sini saja, Jang!" katanya tegas.
Dalam gerak refleks Mas Tanu menengok, di dekatnya sudah berdiri Juragan Demang Pensiun. Tangan Demang mengisyaratkan supaya Neng Siti dibawa masuk ke rumahnya. Den Tanu tak mampu menolak ajakan yang tulus itu. Untunglah saat itu Den Mantri putra Juragan Demang sedang tak ada di rumah.
"Woooh ...." Terdengar seru kekecewaan orang-orang di pinggir jalan, terutama orang-orang yang suka melihat penderitaan sesama.
•••
7. SI MUTIARA HILANG KEMBALI
Di dalam gedung tempat tinggal Juragan Demang, Neng Siti berhasil disadarkan kembali. Menjawab semua pertanyaan tuan rumah atas segala kejadian, Siti Permoni menerangkan sebagai berikut.
"Orang rudin ini ... namanya Mas Wira Tanu Datar … adalah calon suami saya. Dua bulan lalu menjelang kawin, dia saya tinggalkan begitu saja! Setelah saya pergi, ia sangat menderita sampai-sampai hilang ingatan karena terlalu memikirkan saya. Sekarang ia datang menjemput saya dan mengajak saya pulang .... Oleh karena itu, saya harus ikut pulang bersamanya! Terima kasih atas segala kebaikan dan pertolongan Agan Demang sekeluarga. Pada Ambu Demang, Enden Cicih, serta Den Mantri, yang telah menyayangi saya selama tinggal di sini ..., saya ucapkan terima kasih. Semoga Allah subhanahu wa taala membalas segala kebaikan Agan semua di sini!"
"Amiiin!" sahut Enden Cicih mengamini.
Juragan Demang menjawab, "Silakan, Nyai! Silakan saja ... kami tidak berhak menahan kalian berdua. Apalagi sekarang Neng Siti sudah ada yang bertanggung jawab! Hanya saja Ama minta agar Den Tanu, calon suami Eneng, besar pertimbangannya terhadap dosa-dosa anak Ama Si Mantri. Ama mohon jangan memperbesar lagi masalah yang telah lewat karena mau diapakan lagi kalau sudah terjadi." Juragan Demang berhenti sejenak.
"Bukan saya membela anak sendiri, Si Mantri itu sebenarnya tidak salah-salah amat, wajar saja ia sampai berbuat nekat sebab ia memperjuangkan keinginannya untuk mendapatkan perempuan yang tanpa tanding, Neng Siti yang cantik dan manis! Mungkin kalau Ama masih muda, sekalipun harus digantung, Ama rida, asalkan memperoleh gadis secantik Neng Siti. Siapa orangnya yang kuat menahan iman, bila mengetahui rupa dan kepribadian Neng Siti ini?" cerocos Juragan Demang tak henti-henti.
"Menurut hemat Ama, pasti bukan hanya Wira Tanu sendiri yang cinta pada Siti! Mungkin puluhan laki-laki. Oleh karena itu, Den Tanu, kamu harus hati-hati menjaganya!" kata Juragan Demang sambil menutup wejangannya.
"Terima kasih banyak atas wejangan Juragan Sepuh!" sahut Wira Tanu, "Selain itu, besar sekali utang budi saya pada Juragan sekeluarga, mengingat calon istri saya selama dua bulan dirawat, dijaga dianggap anak sendiri, saya terima halalnya!" lanjutnya.
"Insya Allah dijamin halal! Jangan khawatir, Siti di sini kami jaga siang dan malam. Juga ia sibuk bekerja semampunya."
Menjelang pamitan, Neng Siti bersembah sungkem pada Juragan Demang dan istri. Selanjutnya dengan menenteng koper pakaian, ia mengucapkan kata-kata perpisahan terakhir. Ujarnya:
"Kepada Ama, Ambu, Enden Cicih, serta Ema Koki, … saya mohon keikhlasan semuanya untuk memaafkan segala kesalahan saya selama di sini. Tak lupa saya mohon, sampaikan terima kasih pada Den Mantri kalau dia sudah pulang. Atas harapan yang terkandung di hatinya, saya doakan semoga mendapat gadis yang lebih baik dari saya. Mari semuanya .... Assalammualaikum!"
"Waalaikum salam!" jawab semua.
Enden Cicih tersedu-sedu, Juragan Demang juga menitikkan air matanya. Para penghuni rumah gedung itu tetap merindukan Neng Siti Permoni sampai kapan pun. Berat perasaan Neng Siti yang akan berangkat, rindu perasaan yang akan ditinggal. Sebagai kenang-kenangan atas persahabatannya selama ini, Neng Siti menyematkan sebuah cincin zamrud permata hijau di jari manis Enden Cicih. Sementara itu, Enden Cicih menarik tusuk sanggul bermata mirah delima di rambutnya, yang langsung diberikan kepada Siti Permoni.
Sado yang ditumpangi Den Tanu dan Siti Permoni telah jauh meninggalkan gedung tua kediaman Juragan Demang. Sambil meraih tangan Wira Tanu, Siti berkata, "Akang ..., menurutku, kalau jalan lewat sini, tentu nanti kita bertemu dengan rombongan para pelayat Aki Batra. pasti Engkang akan diancam oleh Den Mantri! Lebih baik kita lewat jalan kecil ini, yang akan terus ke Cikaso. Enaknya jalan sini, jaraknya dekat, dingin hawanya karena banyak pepohonan, juga bisa menghindari bahaya!"
"Apakah saya dikira takut sama dia?" Mas Tanu bertanya tegas. "Jangankan hanya satu Mantri, sepuluh Mantri Ulu saya hadapi!" lanjutnya. "Dulu juga, kalau tahu dia malingnya, sudah saya labrak ke rumahnya. Akan saya gerus kepalanya!"
Neng Siti lalu menenangkan kekasih lamanya itu. Ia katakan bahwa kalah menang dalam persaingan hanya akan menjauhkan kembali mereka berdua, "Maka sebaiknya Akang melupakan saja dendam pada Den Mantri dan beri dia ampunan demi cinta kita berdua!" saran Neng Siti pada Den Tanu.
Den Tanu dan Siti tiba di Cikaso. Kebetulan, mereka bertemu dengan bujang ayah Mas Tanu, "Kang Miun! Cepat beri tahu Bapak dan Ibu, katakan saya datang bersama Oni!"
Jarak dari Cikaso ke rumah Wira Tanu tinggal setengah kilometer lagi. Atas berita yang dibawa Miun, seluruh Kampung Cigereleng bergembira. Mereka ingin sekali melihat kedua mempelai "lama" yang sama-sama pernah hilang.
Begitu bertemu, pecahlah sorak kegembiraan. Bagai mutiara hilang yang ditemukan lagi, semua ingin memandangi keindahannya kembali. Rombongan langsung menuju ke Bale Agung.
Di Bale Agung Neng Siti melihat ibunya, "Tobat Ibu ...! Tobat Ibu ...!" teriak Siti. Kemudian, ia tak sadarkan diri.
Setelah sadar, Lurah Cigereleng berbicara pada Neng Siti.
"Sambil menunggu makanan, coba ceritakan ..., sewaktu Oni menghilang itu ..., ke mana dan sama siapa? Seperti dirawu kelong (diculik kelong wewe) saja, hilang tanpa jejak!"
Sebelum Siti menjawab, Wa Adul, penggarap sawah Lurah terdengar berteriak. "Akan tetapi waktu itu saya melihat Eneng, he! Begini mulanya! Suatu malam, sewaktu saya meronda ke sawah timur, terlihat seorang perempuan lewat. Gaya jalannya sih persis sama dengan Neng Siti. Dia diikuti oleh dua laki-laki, yaitu Juragan Mantri dan Karimin!"
"Apakah tidak ditegur oleh Mamang, mau ke mana mereka?" tanya Pak Lurah.
"Tentu saja ditanya. Malah, Karimin yang menjawab. Katanya Den Mantri mengantar Enden Cicih, saudara sepupunya, kembali ke rumah orang tuanya. Saya tidak berkepanjangan, mereka tampak tergesa-gesa!" jawab Wa Adul.
Neng Siti tertunduk malu. Akan tetapi hadirin tertawa-tawa, mereka anggap Wa Adul bodoh tak mau menangkap Siti yang sedang buron. Setelah itu, giliran Neng Siti bercerita tentang semua pengalamannya dari awal sampai akhir, tanpa ada yang terlevwat, sewaktu terkena sihir dukun Ki Batra atas pesanan Den Mantri.
Neng Siti merasa bersyukur karena selama dalam tawanan Den Mantri ia mampu menjaga kehormatannya. Berkat ketegaran dan rasa segan pada ajaran Allah, pistol dan rayuan Den Mantri tak membuat hatinya menyerah. Siti bertekad lebih baik mati daripada menyerahkan kehormatan. Untunglah Juragan Demang beserta istri dan Enden Cicih berada di pihaknya serta turut menjaga keselamatannya.
Lewat enam hari kemudian, Neng Siti sudah benar-benar terlepas dari pengaruh guna-guna. Demikian juga Den Wira Tanu, ia telah benar-benar pulih dari gangguan ingatannya.
"Engkang, mana Mang Lebe (penghulu) yang dulu itu? Silakan kami berdua ijab kabulkan lagi!" pinta Neng Siti pada Den Wira Tanu.
Setelah jamuan makan, pertemuan ditutup. Semua sepakat, pengantin akan dinikahkan lagi keesokan harinya, mengulang kegagalan dulu akibat mendapat aral rintangan.
Akad nikah Neng Siti dengan Den Wira Tanu akhirnya diulang kembali. Pada kesempatan itu Neng Siti berjanji tidak akan mengulanginya lagi perbuatan serongnya pada suami.
"Bila berbuat yang tak benar lagi, saksikan oleh semuanya, saya bersedia dibunuh oleh Den Wira Tanu,” ujar Neng Siti sambil menunjuk pada Wira Tanu.
Terdengar gemuruh hadirin, mereka menganggap ucapan Neng Siti itu sebagai sumpah yang teramat berat apabila dilanggarnya.
Sekembalinya Den Mantri dari melayat, ia dikabari oleh Enden Cicih bahwa Neng Siti sudah pulang. "Neng Siti dijemput oleh calon suaminya, yang kala itu menjadi gila dan pakaiannya compang-camping. Di jalanan ia diarak-arak dan diteriaki sebagai orang gila oleh anak-anak."
Murka hati Den Mantri ketika mendengar laporan Enden Cicih saudara sepupunya itu. Hasil bersusah-payah dan bersabar selama ini hanya berlalu begitu saja. Akan tetapi, mau menyusul pun tak berani, di Kampung Cigereleng ia harus berhadapan dengan para penduduk yang jelas akan membela warganya sendiri. Bingung pikiran Den Mantri, tak tahu harus berbuat apa.
Si Karimin bernyanyi-nyanyi lagu "Kapati-pati". Lagu itu memiliki syair yang tepat untuk menyindir nasib bosnya saat ini. Bahwa orang yang membuat gara-gara pasti mendapat balasan yang justru tidak diinginkan. Dengan kocak, nyanyian Karimin menyarankan bahwa daripada bersedih berkepanjangan lebih baik menghibur diri dengan mengharapkan tibanya saat Neng Siti jadi janda.
Den Mantri tertunduk. Ia menyimak nasibnya yang memang sama dengan syair nyanyian si Karimin. Ia masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Di dalam kamarnya ia menangis sendirian. Terlintas di pikirannya untuk mengirim lagi ajian pelet minyak melati yang dulu ampuh. Sayangnya, minyak itu hanya tersisa setetes lagi.








Komentar
Posting Komentar