CERPEN LINGUISTIK

KATA “MUNGKIN” YANG TERLALU AMAN


Kekacauan dimulai dari rapat kecil.

“Ini salahmu?” tanya Ketua Rapat.

“Mungkin,” jawab bendahara.

Sejak pagi itu, setiap orang yang berkata mungkin tak pernah lagi diminta penjelasan. Kata itu berubah menjadi perisai sempurna.

“Apa kau mencuri?”

“Mungkin.”

Percakapan selesai.

Konfliknya langsung terasa: mungkin yang seharusnya menandai ketidakpastian berubah menjadi tempat bersembunyi dari kepastian.


Di ruang sunyi, aku membuka Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

“Kata itu kelelahan menanggung keraguan palsu,” katanya.

“Bukankah keraguan itu sehat?”

“Keraguan yang jujur, ya. Akan tetapi, kalian memakainya untuk menghindari posisi"

Dilemanya jelas: tanpa mungkin, orang dipaksa tegas. Dengan mungkin, orang bisa selamanya kabur.


Aku mulai menantang orang.

“Jika bukan mungkin, lalu apa? Ya atau tidak?”

Banyak yang gagap. Mereka sadar selama ini nyaman tinggal di wilayah abu-abu.

Menjelang sore, kata mungkin kembali ringan.

Kini ia dipakai untuk hal yang benar-benar belum diketahui, bukan yang sengaja dihindari.

•••

TANDA PETIK YANG MENOLAK MENGUTIP


Pagi itu, semua tanda petik hilang dari tulisan.

Orang-orang masih bisa berbicara tetapi tak bisa lagi mengutip.

Berita tak bisa menuliskan pernyataan narasumber. Murid tak bisa mengutip buku. Gosip tak punya bukti.

Konfliknya halus tetapi tajam: tanpa tanda petik, batas antara ucapan sendiri dan ucapan orang lain kabur.


Di meja arsip, terbuka Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

“Tanda petik lelah melihat kalian menaruh kata orang lain seolah milik sendiri,” katanya.

“Tanpa kutipan, ilmu macet,” kataku.

“Atau mungkin kejujuran tumbuh.”

Dilemanya menekan: mengutip adalah dasar pengetahuan. Namun juga sering jadi cara mencuri otoritas.


Orang-orang mulai berkata, “Menurut yang pernah kubaca …” alih-alih mengutip mentah.

Percakapan jadi lebih hati-hati.

Sore harinya, tanda petik kembali.

Kini, setiap kutipan terasa seperti pinjaman yang harus dijaga, bukan hiasan untuk terlihat pintar.

•••

KATA SIFAT YANG TERLALU BERISIK


Hari itu, semua kata sifat berbicara lebih keras dari kata benda.

“Rumah BESAR!”
“Langit INDAH!”
“Orang itu MENYEBALKAN!”

Kata sifat mengambil alih kalimat. Kata benda nyaris tak terdengar.

Konfliknya terasa di mana-mana: orang lebih sibuk menilai daripada menyebut apa yang dinilai.


Aku membuka Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

“Kata sifat protes,” katanya.

“Kenapa?”

“Kalian memakainya untuk menutupi kurangnya pengamatan.”

Dilemanya: tanpa kata sifat, bahasa terasa kering. Dengan terlalu banyak kata sifat, bahasa jadi bising dan menghakimi.


Aku mencoba berbicara tanpa kata sifat.

“Rumah itu berdiri di ujung jalan.”

“Langit di atas kita penuh awan.”

Aneh, orang mulai membayangkan sendiri tanpa diarahkan penilaian.

Malamnya, kata sifat kembali normal.

Sekarang, mereka tak lagi berteriak minta dipakai.


•••

AWALAN YANG SALAH TEMPAT


Kekacauan muncul ketika awalan ter- dan di- tertukar di seluruh kota.

“Pintu itu tertutup seseorang.”
“Buku itu dibaca sendiri.”

Kalimat-kalimat jadi janggal. Orang tak tahu mana kejadian tak sengaja, mana tindakan sengaja.

Konfliknya pelik: awalan kecil itu menentukan makna besar tentang tanggung jawab dan kejadian.


Di ruang arsip, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia bergetar.

“Kalian sering pura-pura tak sengaja dengan ‘ter-’,” katanya. “Padahal banyak yang jelas-jelas ‘di-’ oleh seseorang.”

Dilemanya tajam: bahasa bisa dipakai untuk mengecilkan peran pelaku.


Orang-orang mulai memperbaiki kalimat mereka.

“Gelas itu terjatuh.”
“Gelas itu dijatuhkan aku.”

Perbedaan kecil itu terasa besar.

Sore harinya, awalan kembali ke tempatnya.
Kini orang sadar: memilih awalan berarti memilih cara melihat kejadian.

•••

KAMUS YANG MENGGIGIT LIDAH


Pada pagi ketika huruf R dinyatakan bersalah, kota itu sudah lama berhenti percaya pada kamus.

Pengumuman ditempel di dinding balai kota dengan tinta yang terlalu hitam: Mulai hari ini, huruf R dilarang diucapkan. Pelanggaran akan diproses sebagai tindakan subversif. Tidak ada penjelasan. Tidak ada tanda tangan. Hanya cap bergambar mulut yang disilang.

Masalahnya, namaku Rara.

Sejak semalam, ibuku memanggilku “Aa”. Adikku memanggilku “A-ah”. Tetangga memilih tidak menyapaku sama sekali. Lidah orang-orang mendadak jadi makhluk patuh, seolah huruf R memang selama ini biang keladi segala salah paham.

Konfliknya sederhana sekaligus mustahil: bagaimana aku tetap menjadi diriku tanpa boleh menyebut namaku sendiri?


Aku bekerja sebagai penjaga arsip di Perpustakaan Kota. Tempat paling berbahaya sejak huruf itu diasingkan. Rak-rak buku berdiri seperti kawanan hewan tua yang tahu mereka sebentar lagi akan diburu.

Begitu pintu dibuka, aku mendengar mereka berbisik.

Bukan metafora. Buku-buku itu memang berbicara.

“Kita akan dibakar,” desis Ensiklopedia Bahasa Nusantara.

“Tenang,” jawab Kamus Besar Bahasa Indonesia. “Mereka tak bisa membakar semua makna.”

“Makna tidak tahan api,” sela novel sejarah dari rak tiga. “Yang hangus selalu yang paling mudah dipahami.”

Aku menutup pintu pelan-pelan. Sejak kecil, aku memang bisa mendengar bahasa berbicara. Ibu bilang itu cuma kebiasaan anak tunggal yang terlalu sering membaca. Akan tetapi, pagi ini, suara mereka panik.

“Rara,” panggil sebuah buku tipis berjudul Fonologi untuk Pemula. “Kau dengar pengumumannya?”

“Aku tak bisa menjawab dengan namaku,” kataku.

Buku itu terdiam sesaat, lalu berbisik, “Persis itu masalahnya.”


Siang itu, petugas sensor datang. Mereka tidak membawa senjata. Mereka membawa penghapus.

Penghapus besar, putih, selebar papan tulis.

Mereka menghapus huruf R dari judul-judul buku. Dari punggung buku. Dari katalog. Dari kartu anggota. Setiap kali huruf itu dihapus, terdengar jeritan pelan, seperti kertas yang diremas di dalam dada.

“Apa alasan pelarangan ini?” tanyaku.

Petugas paling muda menjawab tanpa menatapku. “Huruf R dianggap memicu resonansi konflik. Kata perang. Kata marah. Kata berani. Kata benar. Terlalu banyak gesekan di sana.”

“Jadi solusinya dihapus?”

“Kota ingin tenang.”

Aku melihat rak puisi. Kata rindu sudah menjadi indu. Kata merdeka menjadi medeka. Kata cerita menjadi ceita.

Buku-buku itu mulai gagap.

“Rara,” bisik Fonologi untuk Pemula, “kalau huruf R hilang, sebagian kata kehilangan arah. Akan tetapi, sebagian lagi berubah makna.”

“Contohnya?”

“‘Rasa’ menjadi ‘asa’. Orang tak lagi merasa, hanya berharap.”

Aku menelan ludah. Di kota ini, orang-orang memang mulai tampak lebih berharap daripada merasa.


Sore hari, seorang anak datang ke perpustakaan. Ia membawa kertas kusut.

“Bu Aa,” katanya canggung. “Tolong bacakan ini.”

Di kertas itu tertulis: Ibu maaf aku maah dan ingin pulang tetapi aku takut pulang kaena aku salah.

Anak itu menatapku. “Aku tidak tahu bacanya.”

Huruf R dihapus dari pengakuan bersalahnya.

Kalimat itu jadi tak jelas: apakah ia marah? Apakah ia ingin pulang? Apakah ia takut karena salah, atau takut pulang karena salah?

Aku tak bisa membantunya tanpa mengucapkan huruf yang dilarang.

Di situlah konfliknya membesar: jika aku memulihkan huruf R pada kalimat itu, aku melanggar hukum. Jika tidak, anak ini pulang dengan makna yang patah.

Aku mencoba mengucapkannya pelan.

“Ma-rah.”

Lidahku seperti digigit dari dalam. Aku terbatuk. Tenggorokanku panas. Anak itu terkejut.

Buku-buku di rak bergetar.

“Jangan!” teriak Kamus Besar Bahasa Indonesia. “Setiap huruf R yang diucapkan kini dilacak!”

“Dilacak oleh siapa?” bisikku.

“Bahasa sendiri,” jawabnya.


Malamnya, aku tinggal sendirian di perpustakaan. Buku-buku mulai berbicara lebih keras.

“Kau harus memilih,” kata Fonologi untuk Pemula. “Menyelamatkan dirimu atau menyelamatkan makna.”

“Bagaimana caranya menyelamatkan makna?”

“Kembalikan huruf R ke tempatnya.”

“Dan kota akan menghukumnya.”

“Bukan kota,” kata Ensiklopedia Bahasa Nusantara. “Bahasa. Jika satu huruf dibuang, bahasa akan mengunyah lidah penuturnya sampai ia lupa cara bicara.”

Aku teringat orang-orang di pasar yang kini lebih sering diam. Percakapan jadi pendek. Emosi disampaikan lewat anggukan. Seolah mereka takut tersandung huruf yang tak boleh ada.

Bahasa mulai memakan mereka dari dalam.


Aku mengambil spidol merah dan mulai menuliskan huruf R kembali di buku-buku yang sudah dihapus. Di punggung novel. Di katalog. Di kartu anggota.

Setiap kali kutulis R, buku itu menghela napas lega.

Ketika kutulis namaku di meja: RARA, meja itu bergetar pelan seperti baru diingatkan akan sesuatu yang penting.

Tiba-tiba lampu padam.

Dalam gelap, aku mendengar langkah.

Bukan langkah manusia.

Langkah suku kata.

Konsonan dan vokal berderap di lantai, mendekat. Mereka berbicara serempak, suaranya seperti ribuan bisikan kertas.

“Kau melanggar keseimbangan.”

“Aku mengembalikan yang kalian ambil.”

“Kami tidak mengambil. Manusia yang menghapus.”

“Lalu kenapa kalian menghukum lidahku?”

“Karena bahasa tidak mengenal hukum manusia. Bahasa hanya mengenal kelengkapan.”

Aku tak melihat apa pun, tetapi merasakan sesuatu menyentuh lidahku. Dingin. Tajam.

“Pilih,” kata mereka. “Kau boleh menyelamatkan huruf R untuk kota, tetapi sebagai gantinya, kau tak akan pernah bisa mengucapkannya lagi.”

Aku terdiam.

Jika aku setuju, huruf itu hidup di buku-buku, di mulut orang lain, di kalimat anak tadi. Akan tetapi, namaku sendiri tak akan pernah bisa kusebut.

Jika aku menolak, aku bisa tetap menjadi Rara, tetapi kota akan perlahan kehilangan rasa, rindu, marah, berani, benar.

Dilema yang tak punya jalan lurus.

Aku mengangguk.


Pagi berikutnya, pengumuman baru ditempel.

Larangan huruf R dicabut. Terjadi kesalahan administratif.

Orang-orang kembali berbicara lancar. Kata rindu kembali utuh. Kata merdeka kembali tegak. Anak kemarin datang lagi dan berkata jelas, “Bu Rara, aku sudah pulang.”

Aku tersenyum.

Ia memanggil namaku dengan benar.

Aku mencoba menjawab.

“Na-maku … Aa.”

Huruf R tak mau keluar. Lidahku menolak. Seolah huruf itu kini tinggal di luar tubuhku, di dunia, bukan lagi di mulutku.

Buku-buku di rak berbisik pelan, lega.

“Kau berhasil,” kata Fonologi untuk Pemula.

“Ya,” kataku.

“Siapa namamu?” tanyanya.

Aku terdiam lama.

Di dinding, tertulis besar: PERPUSTAKAAN KOTA.

Aku bisa membacanya.

Aku tak bisa mengucapkannya.

•••

TATA BAHASA YANG KABUR DARI KALIMAT


Sejak subuh, tanda titik berhenti bekerja.

Orang-orang menulis panjang tanpa henti. Pesan singkat berubah jadi napas yang tak sempat diambil. Pengumuman pemerintah mengular seperti ular yang lupa ekornya. Guru-guru tak bisa mengakhiri pelajaran. Doa-doa tak tahu kapan harus diam.

Di kantor redaksi, aku menatap layar yang penuh kata tak putus. Editor berteriak, “Akhiri paragrafnya!”

“Aku sudah menekan titik berkali-kali!”

“Titiknya kabur,” katanya. “Ia meninggalkan kalimat.”

Konfliknya segera terasa: tanpa titik, tidak ada akhir. Tanpa akhir, tidak ada keputusan. Tanpa keputusan, kota ini menggantung seperti kalimat yang lupa bernapas.


Aku dipanggil ke ruang arsip bahasa—ruangan tempat naskah lama disimpan sebagai saksi bahwa bahasa pernah tertib.

Di sana, sebuah buku tua berjudul Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia tergeletak terbuka.

“Aku sudah memperingatkan,” katanya pelan ketika aku mendekat.

“Kau bisa bicara?”

“Aku selalu bisa. Kalian saja yang jarang mendengar.”

“Apa yang terjadi dengan titik?”

“Ia lelah dijadikan alat menghentikan orang,” jawabnya. “Titik ingin berhenti menjadi tanda berhenti.”

Aku terdiam. “Lalu sekarang?”

“Sekarang manusia harus belajar berhenti tanpa bantuan tanda.”


Siang itu, rumah sakit penuh pasien yang pingsan karena membaca pengumuman obat tanpa jeda. Seorang hakim tak bisa menjatuhkan vonis karena amar putusannya tak pernah selesai. Seorang ibu menulis pesan pada anaknya sepanjang tiga halaman tanpa pernah berkata cukup.

Aku mencoba menulis satu kalimat pendek di buku catatan:

Aku lelah

Tanganku otomatis menambahkan titik. Akan tetapi, di kertas, tak ada apa-apa. Seolah kertas menolak berhenti.

Dilemanya muncul: apakah kita benar-benar butuh titik untuk selesai, atau selama ini kita bersembunyi di baliknya agar tak perlu memutuskan sendiri kapan harus berhenti?


Malamnya, aku kembali ke arsip. Buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia berdeham.

“Titik bersembunyi di antara spasi,” katanya.

“Mengapa di sana?”

“Karena spasi adalah istirahat yang tak terlihat. Titik ingin jadi istirahat, bukan perintah.”

“Bagaimana mengembalikannya?”

“Bujuk manusia berhenti sebelum titik kembali.”

“Itu mustahil.”

“Persis.”


Aku menyiarkan pengumuman lewat radio kota: “Hari ini, semua orang diminta berhenti bicara selama satu menit setiap jam.”

Orang-orang marah. Tanpa titik, mereka tak tahu kapan satu menit itu selesai. Mereka justru berbicara lebih panjang untuk memastikan.

Bahasa menjadi banjir.

Lalu sesuatu aneh terjadi: banyak orang mulai lelah sendiri. Mereka berhenti di tengah kalimat. Diam, bukan karena titik, melainkan karena tubuh tak kuat lagi.

Di momen-momen diam itulah, titik mulai muncul kembali—pelan, malu-malu, di akhir kalimat yang benar-benar ingin selesai.

Titik tak mau dipakai. Ia hanya mau datang saat diperlukan.

Pagi berikutnya, aku menulis:

Aku lelah.

Titik itu kembali.

Namun, kini aku sadar: yang sulit bukan menulis titik. Yang sulit adalah tahu kapan harus berhenti.

•••

SINONIM YANG SALING MEMBUNUH


Masalahnya dimulai ketika kata indah menuntut hak cipta atas makna keindahan.

Kata cantik, elok, ayu, rupawan menggugat.

“Selama ini kita dipaksa berbagi makna,” teriak ayu dari papan iklan salon. “Aku ingin keindahanku sendiri!”

Dalam semalam, semua sinonim di kota ini berhenti setuju satu sama lain.

Konfliknya: ketika sinonim menolak bersinonim, bahasa kehilangan keluwesannya. Satu kata hanya boleh punya satu makna, dan satu makna hanya boleh diwakili satu kata.

Kota mendadak kaku.


Di kelas sastra, murid-murid bingung.

“Bu, kalau ‘indah’ bukan ‘cantik’, lalu apa bedanya?”

Aku tak bisa menjawab. Di papan tulis, kata-kata itu berdiri saling membelakangi.

Kamus di meja bergetar. Tesaurus Bahasa Indonesia membuka halamannya sendiri.

“Mereka lelah dipertukarkan,” katanya. “Sinonim merasa kehilangan identitas.”

“Lalu, apa akibatnya?”

“Orang harus sangat tepat memilih kata. Terlalu tepat, sampai tak bisa bicara.”


Seorang penyair datang menemuiku.

“Aku tak bisa menulis,” katanya. “Setiap kata yang kupilih protes karena maknanya tak persis dengan yang kumaksud.”

“Bukankah itu bagus? Lebih presisi?”

“Presisi membunuh nuansa,” jawabnya.

Dilemanya jelas: bahasa yang terlalu presisi kehilangan keindahan samar yang membuat sastra hidup.


Aku mengumpulkan kata-kata itu di aula perpustakaan. Indah, cantik, elok, ayu, berdiri seperti keluarga yang bertengkar.

“Kalian dulu rukun,” kataku.

“Kami dulu tak punya pilihan,” sahut cantik.

“Kini kalian punya pilihan,” kataku, “tetapi manusia kehilangan pilihan.”

Mereka terdiam.

“Bagaimana jika kalian bukan berbagi makna, melainkan berbagi beban? Manusia tak selalu tahu persis apa yang ia rasakan. Kalianlah yang menampung ketidakpastian itu.”

Kata-kata itu saling melirik.

Pelan-pelan, mereka mendekat.

Keesokan harinya, sinonim kembali akur.

Namụn, sekarang, setiap kali aku memilih kata, aku sadar: di belakangnya ada kata lain yang rela berbagi makna, agar kalimatku tidak sendirian.

•••

KATA KERJA YANG MOGOK BEKERJA


Pagi itu, semua kata kerja menolak digunakan.

Orang masih bisa menyebut benda. Bisa menyebut sifat. Namun, tak bisa menyebut tindakan.

“Aku … nasi … meja …,” kata seorang pria di warung, putus asa.

Konfliknya brutal: tanpa kata kerja, tak ada gerak dalam bahasa. Dunia terasa membeku.


Di perpustakaan, buku tata bahasa bergetar. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia terjatuh dari rak.

“Kata kerja lelah diperintah,” katanya.

“Diperintah oleh siapa?”

“Manusia. Kalian terus menyuruh: pergi, datang, ambil, beri, buat, hancurkan.”

“Lalu mereka ingin apa?”

“Diam.”


Rumah sakit kacau. Dokter tak bisa berkata “operasi”. Polisi tak bisa berkata “tangkap”. Ibu tak bisa berkata “peluk”.

Orang-orang mulai melakukan semuanya tanpa bicara. Kota jadi sunyi tetapi anehnya lebih lembut.

Aku melihat seorang ayah memeluk anaknya tanpa berkata apa pun. Tak perlu kata peluk untuk melakukannya.

Dilemanya menghantamku: mungkin selama ini kita terlalu banyak menyuruh lewat kata, terlalu sedikit melakukan lewat tubuh.


Malamnya, aku menulis di papan pengumuman perpustakaan: “Besok, semua orang diminta melakukan satu hal baik tanpa menyebutkannya.”

Sehari penuh kota bergerak dalam diam.

Sore harinya, kata kerja kembali.

Namun, kini orang-orang jarang menggunakannya untuk hal kecil.

Mereka tahu: tak semua tindakan perlu disebut. Sebagian cukup dilakukan.

•••

SIDANG DI BAWAH POHON YANG TIDAK PERNAH BERBUAH


Sidang dimulai sebelum terdakwa tiba.

Di bawah naungan Hutan Hujan Tropis Kalimantan, para hewan sudah berkumpul melingkar. Udara basah, tanah lembek, dan suasana tegang seperti tali busur yang ditarik terlalu jauh.

Masalahnya pelik: mereka akan mengadili Angin.

Namun, Angin tak pernah bisa duduk diam di kursi pesakitan.

“Apa gunanya sidang jika terdakwa tak bisa dihadirkan?” gerutu Kerbau, yang ditunjuk sebagai hakim karena tubuhnya paling berat dan dianggap paling sulit goyah.

“Justru itu,” jawab Burung Hantu, jaksa penuntut. “Selama ini kita menyalahkan Angin atas banyak hal: pohon tumbang, sarang jatuh, biji-bijian tersesat. Akan tetapi, tak ada yang pernah benar-benar bertanya apakah ia bersalah.”

Di situlah konfliknya sudah menganga sejak awal: bagaimana mengadili sesuatu yang tak pernah bisa ditahan, tetapi dampaknya selalu terasa?


Tupai menjadi saksi pertama.

“Angin menjatuhkan rumahku,” katanya gemetar. “Anak-anakku nyaris mati.”

Rusa maju. “Angin membuat bau pemburu sampai ke hidungku. Aku selamat karenanya.”

Ular mendesis pelan. “Angin menyebarkan jejakku. Mangsa mudah kabur.”

Bunga liar di tepi lingkaran berkata lirih, “Angin menyebarkan serbuk sariku. Tanpanya, aku tak punya keturunan.”

Setiap kesaksian saling membatalkan.

Kerbau memijat pelipisnya dengan kuku. “Apakah kita sedang mengadili kebaikan atau keburukan?”

“Kita mengadili akibat,” kata Burung Hantu.

“Namun, akibat berbeda bagi setiap makhluk,” sahut Kura-Kura dari belakang.

Sidang menjadi kusut.


Lalu datanglah Pohon Tua—pohon yang tak pernah berbuah tetapi paling lama hidup di hutan itu.

“Aku ingin bicara,” katanya, suaranya berderak seperti kayu tua.

“Kau bukan saksi,” ujar Burung Hantu.

“Aku adalah tempat Angin paling sering lewat.”

Semua terdiam.

“Angin tidak pernah berniat menjatuhkan atau menyelamatkan,” lanjut Pohon Tua. “Ia hanya bergerak. Kalianlah yang menamai geraknya sebagai bencana atau berkah.”

“Jadi, kita tak boleh menyalahkannya?” tanya Tupai.

“Kalian boleh. Namun, itu tak akan mengubah apa pun.”


Kerbau mulai gelisah. “Kita butuh putusan. Hutan tak bisa hidup dalam perkara yang tak selesai.”

“Justru hutan selalu hidup dalam perkara yang tak selesai,” gumam Kura-Kura.

Dilemanya kini jelas: jika Angin dinyatakan bersalah, mereka harus menemukan cara menghentikannya—yang berarti menghentikan juga penyebaran bau pemburu, serbuk sari, dan kesejukan. Jika dinyatakan tak bersalah, Tupai harus menerima bahwa rumahnya runtuh tanpa ada yang bisa dipersalahkan.

Hewan-hewan mulai saling berbisik. Bukan tentang Angin, melainkan tentang kebutuhan mereka sendiri untuk menyalahkan sesuatu.


Tiba-tiba Angin datang.

Bukan sebagai sosok, melainkan sebagai embusan yang membuat daun-daun bergetar. Debu terangkat. Bulu-bulu halus berdesir.

Semua terdiam.

“Lihat,” kata Pohon Tua pelan. “Ia hadir tanpa dipanggil, pergi tanpa diusir.”

Kerbau berdiri. “Angin! Kau dituduh menyebabkan kerusakan di hutan ini. Apa pembelaanmu?”

Angin tak menjawab.

Ia hanya lewat.

Daun-daun beterbangan. Sarang Burung Pipit bergoyang. Bunga liar merunduk lembut.

“Diamnya itu jawaban paling menyebalkan,” gerutu Burung Hantu.


Setelah lama hening, Kerbau akhirnya berkata, “Kita tak bisa mengadili Angin tetapi kita juga tak bisa membebaskannya.”

“Lalu?” tanya Rusa.

“Kita akan mengadili cara kita memahaminya.”

Semua bingung.

“Kita selama ini menuntut dunia berlaku sesuai kebutuhan masing-masing. Ketika tidak, kita mencari terdakwa.”

Tupai menunduk. “Jadi, rumahku …?”

“Adalah bagian dari hutan yang bergerak,” jawab Pohon Tua.

Air mata Tupai jatuh, tetapi ia tak membantah.


Putusan sidang diumumkan:

Angin tidak bersalah, dan tidak pula bebas. Ia dinyatakan sebagai bagian dari kehidupan yang tak bisa disesuaikan dengan keinginan siapa pun.

Sejak hari itu, setiap kali Angin datang, hewan-hewan tak lagi bertanya “siapa yang harus disalahkan", tetapi “apa yang harus kita ubah pada diri kita".

Namun, Tupai masih membangun sarangnya lebih rendah.

Dan setiap kali angin bertiup kencang, ia tetap merasa marah.

Karena memahami tidak selalu berarti menerima.

•••

JEMBATAN YANG MENOLAK DISEBERANGI


Masalahnya sudah terjadi sebelum rapat dimulai: tak ada satu pun hewan mau lagi menyeberangi jembatan.

Jembatan itu membentang di atas sungai deras di pinggir Hutan Hujan Tropis Kalimantan. Selama puluhan musim, ia menjadi penghubung dua sisi hutan: tempat makan di seberang, tempat tidur di sini. Semua bergantung padanya.

Pagi itu, Jembatan berbicara.

“Aku lelah diinjak tanpa pernah ditanya mau ke mana kalian pergi.”

Rusa yang pertama mendengar langsung meloncat mundur. Kabar menyebar cepat. Dalam sejam, semua hewan sudah berkumpul.

Konfliknya jelas dan mustahil: mereka butuh jembatan untuk hidup tetapi jembatan menolak dipakai.


“Apa maumu?” tanya Beruang.

“Aku ingin tahu tujuan,” jawab Jembatan. “Kalian selalu menyeberang seolah seberang lebih penting dari sini.”

“Kami menyeberang untuk makan,” sahut Kelinci.

“Dan setelah kenyang?”

“Kembali.”

“Lalu besok menyeberang lagi.”

Jembatan berderit pelan. “Tak pernah ada yang tinggal di tengahku. Tak pernah ada yang berhenti di atasku. Aku hanya dianggap alat.”

Burung Gagak berkomentar, “Memang kau alat.”

“Kalau begitu,” jawab Jembatan, “carilah alat lain.”


Hewan-hewan mencoba berenang. Arus terlalu deras. Mencari jalan memutar. Terlalu jauh. Persediaan makanan menipis.

Dilemanya mengeras: apakah mereka harus memohon pada jembatan, atau memaksa menyeberang tanpa izinnya?

Beruang mengusulkan, “Kita pakai saja. Ia tak bisa bergerak.”

Begitu Rusa menginjak papan pertama, papan itu melengkung tajam. Rusa nyaris jatuh.

“Aku bisa menjatuhkan kalian kapan saja,” kata Jembatan tenang.


Kura-Kura maju pelan. “Mengapa kau butuh tujuan kami?”

“Karena aku ingin tahu, apakah yang kalian cari di seberang sepadan dengan yang kalian tinggalkan di sini.”

Semua terdiam.

Mereka sadar selama ini tak pernah benar-benar memikirkan itu. Menyeberang sudah menjadi kebiasaan, bukan pilihan.

•••

SUMUR YANG MENOLAK MEMANTULKAN WAJAH


Konflik pecah ketika Rubah pulang dari sumur sambil panik.

“Airnya tak lagi memantulkan wajah!”

Sumur tua di tengah hutan selama ini jadi tempat semua hewan bercermin. Bukan untuk berdandan, melainkan untuk memastikan diri mereka masih seperti yang mereka ingat.

Hari itu, airnya jernih—tetapi kosong. Tak ada bayangan.

“Apa yang kau sembunyikan?” teriak Monyet pada Sumur.

“Aku tak menyembunyikan apa pun,” jawab Sumur pelan. “Aku berhenti memantulkan.”

“Kenapa?”

“Karena kalian terlalu percaya pada pantulan.”


Tanpa cermin, kegelisahan menyebar.

Rusa merasa tanduknya mungkin bengkok. Merak takut bulunya rontok. Serigala khawatir wajahnya makin menakutkan.

Dilemanya aneh: mereka tak bisa memastikan diri tanpa melihat diri. Akan tetapi, melihat diri mungkin selama ini membuat mereka terjebak pada bayangan.


Burung Hantu berkata, “Apa kalian benar-benar berubah hanya karena tak bisa melihat?”

“Akan tetapi, kami tak tahu seperti apa kami sekarang!” sahut Merak.

Sumur berdesah. “Kalian ingin memastikan diri tetap sama. Padahal kalian selalu berubah.”


Akhirnya, hewan-hewan mulai saling memberi tahu.

“Bulu ekormu masih indah,” kata Rusa pada Merak.

“Tandukmu masih gagah,” kata Merak.

Mereka mulai melihat diri lewat mata yang lain.

Beberapa hari kemudian, Sumur kembali memantulkan bayangan.

Namụn, kini, tak ada yang terlalu lama menatapnya.

Karena mereka sadar: bayangan hanya satu versi dari diri.

•••

GUNUNG YANG TURUN DARI TEMPATNYA


Pagi itu tanah bergetar pelan. Gunung di utara hutan bergeser turun beberapa langkah.

Tidak runtuh. Tidak meletus. Hanya … turun.

Semua hewan panik.

“Gunung tak boleh pindah!” teriak Kijang. “Ia penanda arah!”

“Jika ia bergerak, peta kita salah!” tambah Serigala.

Konfliknya rumit: gunung adalah patokan. Jika patokan bergerak, seluruh pemahaman tentang arah ikut goyah.


Mereka mendatangi Gunung.

“Mengapa kau turun?” tanya Beruang.

“Aku bosan jadi patokan,” jawab Gunung dengan suara yang dalam. “Kalian menjadikan aku ukuran tetap, padahal aku juga bagian dari bumi yang bergerak.”

“Kalau kau bergerak, kami tersesat!”

“Kalian tersesat karena terlalu bergantung kepadaku.”


Hewan-hewan berdebat keras. Tanpa gunung di tempatnya, arah utara tak lagi jelas.

Kura-Kura berkata pelan, “Mungkin selama ini kita tak pernah benar-benar tahu arah. Kita hanya hafal posisi gunung.”

Dilemanya: memaksa gunung kembali, atau belajar mengenali arah tanpa patokan tetap.


Beberapa hari penuh kebingungan. Banyak yang salah jalan. Banyak yang tersesat.

Lalu perlahan, mereka mulai membaca tanda lain: posisi matahari, aliran sungai, arah lumut di batang pohon.

Gunung berhenti bergerak.

“Kalian tak memintaku kembali,” katanya.

“Kami tak lagi membutuhkannya,” jawab Burung Hantu.

Sejak itu, gunung tetap di sana—bukan sebagai patokan, melainkan sebagai bagian dari pemandangan.

•••

KOMPAS YANG MENUNJUK KE DALAM


Rapat darurat digelar karena Kompas tak lagi menunjuk utara.

Jarumnya berputar pelan, lalu berhenti … mengarah ke dada siapa pun yang memegangnya.

“Kau rusak!” bentak Serigala.

“Aku justru bekerja lebih jujur,” jawab Kompas tenang.

Konfliknya langsung terasa: para hewan di Hutan Hujan Tropis Kalimantan selalu mengandalkan Kompas untuk berburu, bermigrasi, menghindari bahaya. Kini ia menolak menunjuk arah luar, hanya arah dalam.


Rusa mencoba memegangnya. Jarum berhenti tepat di jantungnya.

“Apa artinya ini?”

“Ke mana pun kau pergi,” kata Kompas, “yang paling menentukan arah adalah yang kau bawa di dada.”

“Itu tak membantu!” seru Beruang. “Kami butuh utara, bukan perasaan!”

Kompas bergeming. “Kalian tersesat bukan karena salah arah, melainkan karena tak tahu mengapa berjalan.”

Dilemanya tajam: tanpa arah geografis, mereka bisa celaka. Akan tetapi, mungkin selama ini mereka berjalan tanpa pernah tahu tujuan batin.


Beberapa hewan nekat berjalan mengikuti matahari seperti dulu. Banyak yang kembali ke titik semula. Hutan terasa asing.

Akhirnya Kura-Kura berkata, “Coba berjalan ke tempat yang paling ingin kau tuju, bukan yang paling benar di peta.”

Perlahan, mereka mencoba. Aneh, banyak yang justru sampai pada tempat yang mereka butuhkan, meski bukan yang mereka rencanakan.

Kompas tetap menunjuk ke dada.

Sejak itu, ia tak lagi dipakai untuk mencari utara, tetapi untuk memastikan: apakah perjalanan ini memang diinginkan.

•••

PAYUNG YANG MENOLAK MELINDUNGI


Hujan turun deras. Semua hewan berlari mencari Payung Besar yang biasa dipakai bersama di lapangan terbuka.

Begitu mereka merapat, Payung menutup dirinya.

“Aku tak mau lagi melindungi kalian,” katanya.

“Apa salah kami?” tanya Kelinci basah kuyup.

“Kalian selalu datang hanya saat hujan. Tak pernah duduk di bawahku saat cerah.”

Konfliknya sederhana tetapi menyakitkan: mereka butuh payung saat hujan. Akan tetapi, Payung lelah dijadikan tempat perlindungan tanpa pernah dianggap tempat berkumpul.


“Bukalah! Kami kedinginan!” teriak Monyet.

“Ketika panas terik, kalian berteduh di bawah pohon. Ketika cerah, kalian bermain di sungai. Aku hanya diingat saat kalian tak nyaman.”

Tak ada yang bisa membantah.

Dilemanya: memaksa Payung terbuka demi keselamatan, atau menerima bahwa perlindungan juga butuh dihargai saat tak dibutuhkan.


Akhirnya, hewan-hewan duduk melingkar di bawah hujan. Mereka tak lari. Tak mencari tempat lain. Mereka menunggu.

Payung diam lama.

Lalu pelan-pelan terbuka.

“Aku ingin jadi tempat, bukan sekadar alat,” katanya.

Sejak itu, bahkan saat hari cerah, beberapa hewan duduk di bawah Payung. Bukan karena hujan—melainkan karena ingin berada di sana.

•••

TIMBANGAN YANG MENOLAK MENGHITUNG


Timbangan di pasar hutan mendadak tak mau menunjukkan berat.

Apa pun yang diletakkan di atasnya, jarumnya tetap di tengah.

“Aku tak mau lagi menilai,” kata Timbangan.

“Kami berdagang denganmu!” protes Tupai.

“Dan kalian selalu bertengkar karena angkaku.”

Konfliknya segera meruncing: tanpa Timbangan, tak ada ukuran adil dalam jual beli. Akan tetapi, Timbangan merasa kehadirannya justru sumber perselisihan.


Serigala menaruh daging. Jarum tak bergerak.

Rusa menaruh buah. Sama saja.

“Bagaimana kami tahu mana yang lebih banyak?” tanya Rusa.

“Dengan kepercayaan,” jawab Timbangan.

Semua tertawa pahit.

Dilemanya jelas: keadilan angka sering kali dingin, tetapi tanpa angka, kepercayaan diuji sampai rapuh.


Beberapa hari pertama kacau. Banyak tuduhan. Banyak curiga.

Lalu perlahan, hewan-hewan mulai menukar berdasarkan kebutuhan, bukan ukuran. Yang lapar diberi lebih. Yang punya banyak memberi lebih.

Aneh, pasar jadi lebih tenang.

Timbangan tetap diam.

“Aku tak dibutuhkan lagi?” tanyanya.

“Justru sekarang kau paling dibutuhkan,” kata Kura-Kura. “Sebagai pengingat bahwa angka bukan satu-satunya cara adil.”

•••

PINTU YANG HANYA BISA DIBUKA DARI DALAM


Gudang makanan hutan punya pintu besar yang biasa dibuka dari luar.

Suatu pagi, pintu itu berubah.

Ia hanya bisa dibuka dari dalam.

Masalahnya: semua hewan berada di luar.

“Ini mustahil!” teriak Beruang. “Tak ada yang di dalam!”

Pintu menjawab pelan, “Selama ini kalian selalu mengandalkan dorongan dari luar. Sekali ini, kalian harus menemukan cara membuka dari dalam.”

Konfliknya membingungkan: bagaimana membuka pintu dari sisi yang tak bisa dijangkau?


Mereka mendorong. Menarik. Memukul. Tak berhasil.

Kura-Kura duduk lama, berpikir. “Mungkin bukan pintunya yang harus dibuka.”

“Maksudmu?”

“Mungkin kita yang harus masuk.”

“Itu tak masuk akal!”

Namun mereka mulai mencari celah kecil di dinding. Lubang ventilasi. Retakan kayu. Satu per satu, hewan kecil masuk lewat celah sempit.

Dari dalam, mereka membuka pintu.

Dilemanya terpecahkan dengan cara yang tak terpikir: bukan memaksa sistem berubah, melainkan mengubah cara mendekatinya.

Sejak itu, mereka tahu: tak semua pintu dibuka dengan tenaga. Beberapa dengan cara memahami cara kerjanya.

•••

KETIKA KATA "BESOK" DATANG TERLALU CEPAT


Pagi itu, kota kacau hanya karena satu kata: besok.

Semua janji yang pernah diucapkan dengan kata itu tiba-tiba jatuh tempo hari ini.

“Aku akan bayar besok,” teriak seorang pedagang, dikejar penagih utang.

“Kita bicarakan besok,” kata wali kota, diseret warga ke balai kota.

Seorang ayah dipaksa anaknya bermain sekarang juga karena minggu lalu ia berkata, “Besok Ayah temani.”

Konfliknya sudah meledak sejak kalimat pertama hari itu diucapkan: waktu dalam bahasa tidak lagi patuh pada waktu di dunia.


Aku dipanggil ke kantor arsip bahasa kota karena aku satu-satunya yang dianggap cukup gila untuk percaya bahwa masalah ini bukan administratif, melainkan linguistik.

Di ruang sunyi itu, sebuah buku terbuka sendiri: Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

“Kalian terlalu sering menyimpan beban di kata ‘besok’,” katanya.

“Ini tak masuk akal,” kataku. “Kata tak bisa mempercepat waktu.”

“Tidak mempercepat waktu,” jawabnya, “hanya mempercepat tanggung jawab.”

Aku terdiam.


Di jalanan, orang-orang panik bukan karena waktu berubah, melainkan karena alasan mereka menunda tiba-tiba hilang.

Kata besok selama ini jadi tempat menaruh hal-hal yang tak ingin diselesaikan hari ini.

Sekarang, tempat itu runtuh.

Seorang wanita menangis karena harus meminta maaf sekarang, bukan besok. Seorang pemuda gemetar karena harus mengakui cintanya sekarang, bukan besok.

Dilemanya terasa di mana-mana: manusia butuh kata untuk menunda agar bisa bernapas. Akan tetapi, penundaan itu juga membuat banyak hal tak pernah benar-benar terjadi.


Aku mencoba mengucapkan kalimat pelan: “Kita selesaikan besok.”

Tenggorokanku tercekat. Kata besok terasa berat, seperti batu.

Buku itu berbisik, “Kata itu kelelahan menampung janji yang tak pernah ditepati.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Bebaskan ia.”

“Bagaimana caranya?”

“Berhenti menggunakannya sebagai tempat lari.”


Siang itu, aku menulis pengumuman di papan kota:

Mulai hari ini, kata ‘besok’ dilarang digunakan kecuali untuk hal yang benar-benar akan dilakukan.

Orang-orang marah. Mereka sadar betapa seringnya kata itu dipakai bukan untuk waktu, melainkan untuk menghindar.

Perlahan, percakapan berubah.

“Kita bicara nanti sore.”

“Aku bayar tiga hari lagi.”

“Aku belum siap melakukannya.”

Kalimat-kalimat jadi lebih jujur. Lebih sempit. Lebih menuntut.

Kata besok mulai terasa ringan lagi.


Menjelang malam, kekacauan mereda. Janji-janji yang tak masuk akal berhenti menagih.

Aku mencoba sekali lagi berkata, “Kita bertemu besok.”

Kali ini, kata itu keluar lembut.

Tak ada yang jatuh tempo.

Aku sadar, masalahnya bukan pada kata besok. Masalahnya pada cara kita menyembunyikan niat di dalamnya.

Dan bahasa, rupanya, punya batas kesabaran.

•••

KATA “NANTI” YANG MENJADI TEMPAT TINGGAL


Sejak pagi, orang-orang yang mengucapkan nanti tidak pernah kembali.

Bukan menghilang secara gaib. Mereka tetap terlihat—duduk di kursi, berdiri di pasar, menatap jalan—tetapi tak pernah melakukan apa pun lagi.

Seorang ibu berkata, “Aku masak nanti,” lalu berdiri di dapur berjam-jam tanpa bergerak. Seorang pemuda berkata, “Aku mandi nanti,” lalu duduk di tepi sumur sampai sore.

Konfliknya langsung menegang: kata nanti berubah dari penanda waktu menjadi tempat tinggal.


Aku dipanggil ke pusat bahasa kota. Di meja sudah terbuka Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia seperti pasien yang lelah.

“Kata itu berhenti menunjuk waktu,” katanya pelan. “Ia sekarang menunjuk keadaan: penundaan permanen.”

“Bagaimana mungkin?”

“Kalian terlalu sering tinggal di sana.”


Aku mengamati seorang lelaki di bangku taman.

“Apa yang kau tunggu?” tanyaku.

“Nanti,” jawabnya kosong.

“Kapan nanti?”

Ia tak menjawab. Matanya seperti tertambat di suatu ruang yang tak terlihat.

Dilemanya menyakitkan: manusia butuh kata untuk menunda agar tak kewalahan. Akan tetapi, jika penundaan jadi tempat nyaman, hidup berhenti bergerak.


Aku mencoba eksperimen kecil.

“Ayo lakukan sekarang,” kataku pada seorang anak yang berkata ingin belajar membaca nanti.

Anak itu ragu, lalu mulai mengeja. Wajahnya kembali hidup.

Kata nanti tampak kehilangan cengkeramannya.

Malamnya, aku menulis pengumuman: Ganti kata ‘nanti’ dengan waktu yang jelas, atau dengan pengakuan jujur bahwa kalian tak ingin melakukannya.

Perlahan, orang-orang mulai berkata:

“Aku tak mau sekarang.”

“Aku butuh satu jam.”

“Aku belum siap.”

Kata nanti kembali jadi kata waktu, bukan tempat bersembunyi.

•••

KALIMAT TANYA YANG MENOLAK DIJAWAB

Masalahnya dimulai di sekolah.

Setiap kali guru bertanya, murid-murid tak bisa menjawab. Bukan karena tak tahu, melainkan karena kalimat tanya itu menolak menerima jawaban.

“Apa ibu kota negara?” tanya guru.

Mulut murid bergerak, tetapi tak ada suara keluar.

Konfliknya aneh: pertanyaan ada, jawaban ada, tetapi bahasa di antaranya terputus.


Aku dipanggil ke kelas itu. Di papan tulis tertulis besar: Mengapa?

Kata itu bergetar pelan.

“Kami lelah dijawab asal,” katanya.

“Siapa yang bicara?”

“Kalimat tanya.”

Ia melanjutkan, “Kalian menjawab untuk menghentikan pertanyaan, bukan untuk memahaminya.”

Dilemanya: tanpa jawaban, pembelajaran macet. Akan tetapi, mungkin selama ini jawaban hanya cara cepat menutup rasa ingin tahu.


Aku mencoba mendekati seorang murid.

“Tak usah jawab,” kataku. “Ceritakan apa yang kau pikirkan saat mendengar pertanyaan itu.”

Anak itu mulai berbicara panjang. Tentang kota, tentang peta, tentang ingatannya.

Kalimat tanya di papan tulis berhenti bergetar.

Ia akhirnya menerima jawaban—bukan yang singkat, melainkan yang sungguh dipikirkan.

Sejak itu, kelas-kelas menjadi lebih lambat. Akan tetapi, pertanyaan tak lagi ditakuti.

•••

KATA GANTI YANG KEHILANGAN RUJUKAN


Pagi itu, kata dia tak lagi jelas menunjuk siapa.

“Dia mengambil bukuku!” teriak seseorang.

“Siapa dia?”

Semua saling menoleh.

Tak ada yang merasa ditunjuk.

Konfliknya langsung mengacaukan percakapan di seluruh kota: kata ganti orang ketiga kehilangan rujukan.


Di ruang arsip, buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia kembali bergetar.

“Kalian terlalu sering bicara tentang orang tanpa menyebutnya,” katanya.

“Memang itu fungsi kata ganti.”

“Dan itu membuat kalian nyaman menyalahkan tanpa jelas.”

Dilemanya menusuk: kata ganti memudahkan bicara. Namun juga memudahkan kabur dari tanggung jawab menyebut siapa.


Orang-orang mulai dipaksa menyebut nama.

“Budi mengambil bukuku.”

“Wati belum membayar utang.”

Percakapan jadi lebih berat. Lebih personal. Lebih berisiko.

Namun juga lebih jujur.

Sore harinya, kata dia kembali berfungsi.

Kini orang memakainya dengan hati-hati.

Karena mereka sadar: menyebut tanpa nama bisa menjadi cara paling halus untuk menghindar.

•••

TANDA KOMA YANG MEMPERPANJANG PERTENGKARAN


Pertengkaran itu seharusnya selesai dalam satu kalimat.

“Aku kecewa, tetapi aku mengerti.”

Namun, pagi itu, tanda koma menolak bekerja.

Kalimat yang keluar menjadi: Aku kecewa tetapi aku mengerti—tanpa jeda, tanpa napas, tanpa ruang untuk mereda.

Di seluruh kota, orang-orang bertengkar lebih lama dari biasanya. Percakapan tak punya sela untuk mendingin.

Konfliknya muncul sejak pembuka hari: tanpa koma, bahasa kehilangan tempat untuk berhenti sejenak sebelum melanjutkan.


Aku dipanggil ke ruang bahasa. Di meja, terbuka Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

“Koma mogok,” katanya.

“Mengapa?”

“Ia lelah dijadikan tempat orang pura-pura tenang sebelum melanjutkan kemarahan.”

Aku terdiam.


Di pasar, dua pedagang saling berteriak tanpa henti. Di rumah, pasangan suami istri tak berhenti saling menyela. Semua kalimat meluncur lurus, tak memberi ruang berpikir.

Dilemanya terasa: koma selama ini bukan sekadar tanda baca, melainkan ruang kecil untuk meredakan emosi. Tanpanya, orang tak sempat menata perasaan sebelum melanjutkan kata.


Aku mencoba sesuatu.

Setiap kali orang bicara padaku, aku mengangkat tangan, memaksa jeda diam beberapa detik sebelum mereka lanjut.

Aneh, nada suara mereka turun.

Malamnya, aku menulis pengumuman: Sisipkan diam sebelum melanjutkan kalimat.

Orang-orang mulai mencoba. Diam kecil itu menjadi koma yang tak tertulis.

Keesokan paginya, koma kembali muncul di kertas.

Seolah ia berkata: “Jika kalian bisa memberi jeda sendiri, aku bersedia membantu lagi.”

•••

KATA “HARUS” YANG MENJADI TERLALU BERAT


Masalahnya dimulai dari nasihat kecil.

“Kamu harus sukses.”

“Kita harus sabar.”

“Kita harus kuat.”

Pagi itu, semua orang mendadak tak sanggup bergerak setelah mendengar kata harus.

Seorang anak menangis karena tak tahu bagaimana caranya “harus rajin”. Seorang pria dewasa terduduk lama karena merasa tak pernah berhasil memenuhi semua harus dalam hidupnya.

Konfliknya mengikat: kata yang dimaksudkan memberi arah justru berubah menjadi beban.


Di ruang arsip bahasa, buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia tergeletak terbuka.

“Kata itu kelelahan membawa kewajiban yang tak manusiawi,” katanya.

“Tanpa ‘harus’, orang jadi malas,” bantahku.

“Atau jadi lebih jujur tentang batasnya,” jawabnya.

Dilemanya tajam: tanpa kewajiban, hidup bisa berantakan. Dengan terlalu banyak kewajiban, hidup tak bergerak.


Aku mulai mengganti kata itu dalam percakapan.

“Kamu bisa mencoba rajin.”

“Kita mungkin perlu sabar.”

“Kita ingin kuat.”

Aneh, orang-orang tampak lebih ringan mendengarnya.

Sore harinya, kata harus kembali bisa diucapkan.

Namun, kini, hanya dipakai untuk hal yang benar-benar tak bisa ditawar.

•••

KALIMAT PASIF YANG MENOLAK BERTANGGUNG JAWAB


Berita pagi itu penuh kalimat aneh:

“Kesalahan telah dilakukan.”

“Barang telah diambil.”

“Janji telah diingkari.”

Semua kalimat pasif. Tak ada pelaku.

Masalahnya: tak seorang pun merasa bersalah.

Konfliknya langsung menganga—bahasa dipakai untuk menyembunyikan pelaku di balik struktur kalimat.


Aku membuka Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

“Kalimat pasif menolak dipakai,” katanya.

“Mengapa?”

“Kalian menggunakannya untuk kabur dari tanggung jawab.”

Dilemanya jelas: kalimat pasif berguna untuk netralitas. Namun juga nyaman untuk menghindar.


Aku menulis ulang berita di papan kota:

“Saya melakukan kesalahan.”

“Budi mengambil barang.”

“Kami mengingkari janji.”

Orang-orang terdiam membaca.

Bahasa mendadak terasa lebih berat, tetapi lebih jujur.

Keesokan harinya, kalimat pasif kembali normal.

Kini orang memakainya dengan kesadaran: menyembunyikan pelaku bukan lagi kebiasaan yang tak terasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

BETAWOL