KUMPULAN CERPEN MINI

Cara Mengubur Ibu yang Masih Hidup


Pagi itu, Ibu mengetuk pintu kamarku dari dalam peti.

"Aku sudah siap," katanya, suaranya tenang seperti air di ember yang tidak diguncang. "Jangan terlalu lama. Tanah cepat bosan menunggu."

Di ruang tengah, peti kayu itu sudah terletak rapi sejak subuh. Tutupnya belum dipaku. Di atasnya ada kain putih, secangkir teh yang masih mengepul, dan surat keterangan dari puskesmas yang menyatakan Ibu sehat—denyut nadi normal, paru-paru bersih, tekanan darah stabil. Dokter menuliskan catatan kecil di pojok: Pasien tampak sangat yakin akan kematiannya.

"Aku tidak sakit," Ibu menjelaskan sejak semalam. "Aku hanya selesai."

Aku berdiri memandangi peti itu seperti memandangi kalender yang menolak tanggal. Di dapur, air mendidih terlalu lama sampai tutup panci bergetar seperti rahasia yang ingin melompat keluar.

Tetangga sudah berkumpul di teras. Mereka membawa wajah-wajah yang rapi untuk acara duka, juga bisik-bisik yang kusut.

"Kamu anaknya, kan? Kalau ini kemauan beliau ...," kata Pak RT pelan, seolah-olah hukum bisa dilipat asal suara dikecilkan.

"Tidak ada yang boleh dikubur hidup-hidup," jawabku.

"Tidak ada yang bisa melarang orang yang merasa sudah mati," timpal Bu Sari, yang terkenal rajin menyirami bunga dan gosip.

Dari dalam peti, Ibu berdeham sopan. "Nak, tolong ambilkan bantal. Kayunya keras."

Sejak Ayah meninggal tiga bulan lalu, Ibu memang berubah. Ia berhenti menonton televisi, berhenti menawar harga cabai, berhenti menegur ayam tetangga yang suka masuk halaman. Ia duduk berjam-jam menatap dinding, seolah di sana ada jendela yang hanya bisa dilihat orang yang sangat lelah oleh hidup.

Seminggu lalu, ia memesan peti ini dari tukang kayu di ujung gang.

"Untuk siapa, Bu?" tanya si tukang.

"Untuk saya. Saya ingin pas di badan."

Ia mengukurnya sendiri.

Aku mencoba membawa Ibu ke psikolog di kota. Di ruang tunggu yang bau kopi instan dan majalah lama, Ibu berkata, "Orang-orang yang belum selesai memang suka memanggil orang lain sakit."

Psikolog itu berbicara tentang duka, tentang tahap-tahap kehilangan, tentang penerimaan. Ibu mendengarkan dengan sabar seperti mendengarkan resep yang tidak ingin ia masak.

"Aku sudah menerima," katanya. "Justru karena itu aku ingin dikubur."

Sekarang, di ruang tengah, ia menunggu dengan sabar di dalam peti, seperti penumpang yang sudah duduk di kursi sebelum bus datang.

"Aku tidak akan mengubur Ibu," kataku, berdiri di sampingnya.

"Berarti kamu ingin aku tetap di sini, setengah mati, setengah hidup?" tanyanya lembut. "Itu lebih kejam."

Aku tidak punya jawaban untuk tuduhan yang diucapkan tanpa marah.

Waktu bergerak lambat, seperti sengaja memberi kesempatan pada rasa bersalah untuk tumbuh akar. Tetangga mulai gelisah. Pak RT melihat jam tangannya berkali-kali, mungkin takut kematian yang tertunda bisa mengganggu jadwal ronda.

"Nak," suara Ibu lagi, "tanah itu bukan hukuman. Tanah itu istirahat."

"Aku takut," kataku.

"Takut kehilangan?"

"Takut melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki."

Ibu tertawa kecil. "Semua kehilangan memang begitu."

Matahari naik lebih tinggi. Ruang tengah makin panas. Teh di atas peti sudah dingin. Aku membayangkan dua masa depan yang sama-sama kejam: satu di mana aku mengubur Ibu dan menjadi anak yang membunuh ibunya dengan ketaatan; satu lagi di mana aku menolak dan memaksanya hidup sebagai mayat yang bernapas.

"Aku lelah melihatmu menunggu mati," kataku.

"Aku lelah melihatmu menunggu aku hidup," jawabnya.

Kalimat itu menggantung di udara seperti pakaian yang tak pernah kering.

Akhirnya, dengan tangan gemetar, aku mengambil paku. Bukan untuk menutup peti, melainkan untuk mengganjal pintu depan agar tetap terbuka. Udara masuk. Cahaya masuk. Tetangga masuk.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Pak RT.

"Aku tidak mengubur Ibu," kataku. "Akan tetapi, aku juga tidak membiarkannya sendirian di dalam peti."

Aku duduk di lantai, bersandar pada sisi peti. Tutupnya tetap terbuka. Ibu memandang langit-langit rumah yang retaknya seperti peta.

"Kamu memilih menunggu bersamaku?" tanyanya.

"Iya."

Ia mengangguk pelan. "Baiklah. Kita lihat siapa yang lebih dulu bosan."

Siang berubah sore. Tetangga satu per satu pulang. Panci di dapur sudah lama berhenti berisik. Rumah jadi sunyi seperti setelah hujan.

Menjelang magrib, Ibu berkata pelan, "Tolong bantu aku keluar."

Aku menatapnya.

"Aku lapar," katanya.

Aku tertawa dan menangis bersamaan.

Ibu duduk di tepi peti, kakinya menggantung seperti anak kecil yang baru belajar duduk di kursi tinggi. Ia minum teh yang sudah dingin tanpa protes.

"Mungkin aku belum selesai," katanya.

"Mungkin," jawabku.

Peti itu tetap di ruang tengah semalaman. Tidak dipindah. Tidak ditutup. Seperti peringatan bahwa ada orang-orang yang tidak ingin mati, dan ada orang-orang yang terlalu ingin mati, dan keduanya sama-sama membutuhkan ditemani.

•••

Alasan Ayah Meminta Maaf kepada Pembunuhnya


Ayah berdiri di ruang tamu, menyetrika kemeja putih yang hendak ia pakai untuk menemui orang yang akan membunuhnya pukul empat sore.

"Ayah harus terlihat rapi," katanya. "Tidak sopan datang berantakan ke orang yang sudah repot-repot merencanakan ini."

Di meja makan, ada undangan kecil ditulis tangan:

Kepada Bapak Rahman,
Terima kasih telah bersedia hadir tepat waktu untuk dibunuh.
Hormat kami, R.

Aku membaca undangan itu tiga kali, berharap huruf-hurufnya berubah jadi lelucon. Tidak.

"Ayah lapor polisi?" tanyaku.

"Sudah."

"Lalu?"

"Mereka bilang selama belum ada pembunuhan, belum ada yang bisa ditangkap."

Ayah menyemprotkan parfum. "Kita ini lucu, ya, Nak. Harus mati dulu supaya diakui terancam."

Pukul tiga lewat lima puluh, Ayah duduk manis di teras. Kursi plastik. Kemeja putih. Rambut disisir. Seperti tamu kehormatan di pesta yang salah alamat.

Aku berdiri di pintu, menahan dunia agar tidak bergerak ke pukul empat.

Sebuah motor berhenti di depan rumah. Seorang pria turun. Wajahnya biasa saja. Terlalu biasa untuk peran sekejam itu.

"Pak Rahman?" tanyanya sopan.

"Iya. Silakan masuk," jawab Ayah.

Mereka berjabat tangan.

Aku merasa pingsan tetapi tetap berdiri.

"Maaf merepotkan," kata Ayah.

"Tidak apa, Pak. Sudah tugas saya," jawab pria itu.

Duduklah mereka di teras, seperti dua orang membicarakan harga pupuk.

"Ada yang ingin Bapak sampaikan sebelum ...," pria itu menggantung kalimatnya.

"Ada," kata Ayah. "Saya ingin meminta maaf dulu."

Pria itu bingung. "Maaf?"

"Kalau hidup saya ternyata membuat hidup Anda sampai harus melakukan ini, berarti ada yang salah dari cara saya hidup."

Aku tidak tahan lagi. "Ayah, berhenti!"

Ayah menoleh. "Nak, kalau aku melawan, dia jadi pembunuh. Kalau aku menerima, dia hanya orang yang menjalankan nasib."

"Bedanya apa?!"

"Beban di dadanya."

Sunyi jatuh seperti batu.

Pria itu menatap Ayah lama. Tangannya gemetar.

"Saya dibayar untuk ini, Pak."

"Berarti kamu juga korban," kata Ayah.

Pukul empat lewat sepuluh.

Pria itu berdiri. Mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Bukan senjata.

Uang.

Ia meletakkannya di meja.

"Saya tidak bisa," katanya pelan.

Ayah tersenyum. "Terima kasih sudah datang."

Pria itu pergi dengan wajah orang yang gagal melakukan kejahatan, tetapi juga gagal menjadi jahat.

Aku duduk di lantai, napasku berantakan.

Ayah masih rapi. Masih hidup.

"Kok bisa Ayah tenang?" tanyaku.

Ayah menatap jalan yang sudah kosong.

"Karena kalau aku panik, kita punya dua korban. Kalau aku tenang, mungkin cukup satu—rasa takutmu."

•••

Mengapa Nenek Menyimpan Hujan di Lemari?


Setiap kali hujan turun, Nenek membuka lemari pakaian dan memasukkan sesuatu yang tak terlihat ke dalam stoples.

"Apa itu, Nek?"

"Hujan yang tidak jadi turun," jawabnya.

Padahal di luar, hujan deras sekali.

"Apa maksudnya?"

"Hujan yang tidak sampai ke orang yang membutuhkannya."

Sejak kakek meninggal, Nenek percaya hujan sering salah alamat.

Ia menadah udara dengan stoples kosong, menutupnya cepat-cepat, lalu menyimpannya di lemari di antara kebaya dan kapur barus.

Suatu hari, kemarau panjang datang. Sawah retak. Sumur mengeluh.

Orang-orang mulai berdoa meminta hujan.

Nenek membuka lemarinya.

"Akhirnya dipakai juga," katanya lega.

Ia membuka satu stoples.

Tidak ada apa-apa.

Ia tuang ke ember.

Kosong.

Ia tuang ke tanah.

Kering.

Aku menatapnya.

"Nek ...."

Nenek duduk pelan di lantai.

"Hujannya hilang," katanya.

"Mungkin memang tidak pernah ada, Nek."

Nenek menggeleng. "Ada. Akan tetapi, mungkin hujan juga bisa mati kalau terlalu lama disimpan."

Kami duduk di depan lemari penuh stoples kosong.

Di luar, langit tetap cerah tanpa ampun.

"Berarti selama ini Nenek ...," kataku pelan.

"Menunda memberi," potongnya.

Wajahnya runtuh.

"Orang-orang butuh hujan waktu itu, tetapi Nenek simpan. Nenek kira bisa dipakai nanti. Ternyata hujan tidak suka ditunda."

Ia menangis tanpa suara.

•••

Hari Ketika Istriku Lupa Cara Mencintaiku


Pagi itu, istriku menyeduh kopi untuk dua cangkir, lalu bertanya, "Maaf, Anda siapa?"

Aku tertawa, mengira ini bercanda.

Ia tidak tertawa.

Ia memandangku seperti tamu yang terlalu lama duduk di rumah orang.

"Kamu istriku," kataku pelan.

"Maaf. Saya tidak merasa punya suami."

Kami ke dokter. Hasilnya normal. Ingatan utuh. Ia ingat nama, pekerjaan, tanggal lahirnya.

Hanya satu yang hilang: perasaannya kepadaku.

Ia ingat menikah. Ia ingat pesta. Ia ingat foto-foto.

Namun, semua itu terasa seperti membaca biografi orang lain.

"Aku tahu kita menikah," katanya, "tetapi aku tidak bisa menemukan rasa itu di dalam diri."

Aku pulang bersamanya seperti mengantar orang asing ke rumahku sendiri.

Di ruang tamu, ia duduk canggung.

"Biasanya saya duduk di mana?" tanyanya.

"Di situ," kataku, menunjuk sofa yang sama.

Ia duduk.

Tidak ada yang berubah di rumah. Hanya maknanya yang copot.

"Mungkin ini sementara," kataku.

"Mungkin ini jujur," jawabnya.

Hari-hari berikutnya, ia memperlakukanku sopan. Terlalu sopan. Seperti resepsionis hotel yang ramah tetapi tidak peduli siapa tamunya.

Aku menunjukkan foto-foto lama. Video pernikahan. Chat mesra kami.

Ia tersenyum sopan melihatnya.

"Itu terlihat bahagia," katanya.

"Kita bahagia," koreksiku.

Ia menggeleng pelan. "Kalian bahagia."

Malamnya, kami tidur di ranjang yang sama, dipisahkan jarak yang tidak bisa diukur dengan penggaris.

"Aku bisa belajar mencintaimu lagi," kataku.

Ia menatap langit-langit.

"Itu yang membuatku takut. Kalau cinta bisa dipelajari, berarti dulu mungkin aku juga hanya mempelajarinya."

Aku terdiam.


Seminggu kemudian, ia duduk di depanku.

"Aku ingin jujur," katanya. "Aku tidak ingin berpura-pura mencintaimu hanya karena kita sudah menikah."

"Lalu?"

"Kita mulai dari awal. Kalau perasaan itu datang lagi, kita lanjut. Kalau tidak ... kita tidak menyiksa kenangan.”

Aku menatap orang yang dulu kucintai, sekarang meminta izin untuk mencoba mencintaiku lagi.

•••

Kota yang Melarang Orang Pulang


Pengeras suara di terminal mengumumkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun:
"Mulai hari ini, semua warga dilarang pulang ke rumah masing-masing. Demi ketertiban bersama."

Orang-orang tertawa dulu, mengira ini promosi acara. Lalu gerbang terminal ditutup. Jalan-jalan dijaga. Polisi berdiri dengan wajah yang tidak cocok untuk bercanda.

Aku sedang membeli tiket pulang ketika pengumuman itu dibacakan.

"Mas, ini serius?" tanyaku pada petugas loket.

Ia mengangguk. "Serius sejak tadi pagi. Sudah ada suratnya."

"Surat apa?"

"Surat yang membuat rumah bukan lagi tempat kembali."

Di seberang jalan, orang-orang berdiri memegang tas, bingung seperti kata-kata yang kehilangan kalimatnya.

Seorang ibu memeluk anaknya erat. "Rumah kita di sana," katanya, menunjuk gang kecil yang kini diblokade.

Seorang bapak marah-marah, memaki aparat. "Rumah saya! Saya bayar pajak!"

Aparat itu hanya berkata, "Bapak boleh tinggal di kota tetapi tidak boleh pulang."

Kalimat itu terdengar seperti teka-teki yang kejam.

Aku menelepon Ibu.

"Bu, katanya kita tidak boleh pulang."

Ibu tertawa di seberang sana. "Ya sudah, jangan pulang. Menginap saja di luar."

"Ini bukan bercanda, Bu. Rumah kita dijaga."

Sunyi.

"Ada apa?" tanya Ibu pelan.

"Aku tidak tahu."

Menjelang sore, balai kota penuh orang. Wali kota berdiri di podium, wajahnya tegang seperti orang yang tahu ia akan dibenci.

"Kami menemukan sesuatu," katanya. "Selama ini, rumah bukan lagi tempat istirahat. Rumah menjadi tempat orang menyimpan marah, menyimpan kecewa, menyimpan kebencian yang tidak pernah keluar."

Orang-orang mulai ribut.

"Rumah telah berubah menjadi gudang emosi yang membusuk," lanjutnya. "Kami ingin warga berhenti sebentar. Tidak pulang. Tidak mengulang."

"Bapak sinting!" teriak seseorang.

"Bisa jadi," jawab wali kota jujur.

Malam pertama, kota berubah jadi penginapan raksasa. Orang tidur di masjid, di warung, di trotoar, di kantor. Lampu-lampu tetap menyala seperti kota yang tidak diberi izin gelap.

Aku tidur di kursi taman, menatap langit. Untuk pertama kalinya, aku sadar: aku tidak tahu harus pulang ke mana selain alamat yang sudah dilarang.

Hari kedua, orang mulai lelah marah. Mereka mulai berbicara dengan orang asing. Berbagi makanan. Berbagi cerita.

Seorang pria berkata kepadaku, "Saya baru sadar, saya pulang tiap hari tetapi tidak pernah benar-benar sampai."

Seorang perempuan berkata, "Mungkin rumah saya memang bukan tempat yang ingin saya datangi."

Hari ketiga, berita mulai keluar: beberapa orang yang nekat menerobos blokade rumah mereka, pingsan di ruang tamu sendiri. Ada yang muntah-muntah. Ada yang menangis histeris tanpa tahu kenapa.

Seolah-olah rumah mereka menyimpan sesuatu yang terlalu lama tidak dibersihkan.

Aku mulai takut pada rumahku sendiri.

Hari kelima, wali kota mengumumkan: "Besok, kalian boleh pulang."

Orang-orang bersorak. Menangis. Berpelukan.

Aku berjalan menuju gang rumah dengan langkah pelan, seperti mendekati seseorang yang pernah menyakitiku.

Pintu rumah terbuka.

Tidak ada yang berubah. Sofa. Televisi. Foto keluarga.

Namun, ada yang terasa berbeda: sunyi yang dulu akrab, kini terasa janggal.

Ibu duduk di meja makan.

"Kamu lama sekali," katanya.

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku: apakah ini tempatku ingin kembali?

•••

Anak yang Menggugat Orang Tuanya karena Dilahirkan


Surat panggilan sidang itu datang pagi-pagi.

Penggugat: Raka, 17 tahun.
Tergugat: Orang tuanya sendiri.

Alasan gugatan: Dilahirkan tanpa persetujuan.

Ruang sidang penuh wartawan. Hakim berkali-kali mengetuk palu agar tawa berhenti.

Raka berdiri dengan wajah serius.

"Saya tidak pernah dimintai izin untuk hidup," katanya, "tetapi saya dipaksa menanggungnya."

Ibunya menangis. Ayahnya pucat.

Hakim bertanya, "Apa yang kamu tuntut?"

"Saya ingin pertanggungjawaban," jawab Raka. "Hidup ini sulit. Kalau ini keputusan mereka, mereka harus bertanggung jawab atas akibatnya."

"Semua orang lahir tanpa izin," kata hakim.

"Justru itu masalahnya," jawab Raka.

Ruang sidang mendadak sunyi.

Raka mulai menjelaskan: tentang tekanan sekolah, kecemasan, ketakutan akan masa depan, rasa tidak pernah diminta tetapi harus menjalani.

"Ayah Ibu memutuskan punya anak karena ingin bahagia. Akan tetapi, bagaimana kalau anaknya tidak bahagia?"

Ibunya terisak. "Kami mencintaimu ...."

"Cinta tidak otomatis membuat hidup mudah," potong Raka.

Ayahnya akhirnya bicara, suara gemetar. "Kalau waktu bisa diulang, Ayah tetap akan memilih kamu."

Raka menatapnya lama. "Itu berarti Ayah memilih kebahagiaan Ayah lagi, bukan kebahagiaan saya."

Hakim terlihat lelah oleh pertanyaan yang tidak ada pasalnya di undang-undang.

"Lalu apa yang kamu mau?" tanya hakim.

Raka diam cukup lama.

"Aku ingin mereka mengakui bahwa hidup ini bukan hadiah. Kadang ini beban. Dan mereka yang memberikannya harus berani mendengar itu."

Ibunya bangkit dari kursi, mendekati anaknya.

"Kami tidak tahu hidupmu seberat ini," katanya.

"Karena kalian terlalu sibuk yakin sudah memberi yang terbaik," jawab Raka.

Tidak ada keputusan yang bisa ditulis hakim hari itu.

Sidang ditunda.

Di luar gedung, wartawan menunggu putusan yang tidak pernah datang.

•••

Perpustakaan yang Meminjam Manusia


Pengumuman itu ditempel di pintu masuk perpustakaan kota:

Mulai bulan ini, pengunjung tidak hanya meminjam buku.
Pengunjung juga bisa dipinjam.

Aku mengira ini kampanye literasi yang aneh. Sampai petugas memanggil namaku.

"Mas Damar, Anda terpilih."

"Terpilih untuk apa?"

"Dipinjam."

Seseorang di luar sana, ternyata, mengisi formulir untuk meminjamku selama tiga hari.

"Untuk apa saya dipinjam?"

Petugas membuka berkas. "Untuk didengarkan."

Aku dibawa ke sebuah rumah. Seorang perempuan tua menyambutku.

"Saya meminjam Anda karena saya kesepian," katanya jujur.

Selama tiga hari, tugasku hanya duduk dan mendengarkan ia bercerita: tentang suaminya yang meninggal, tentang anak-anak yang jarang pulang, tentang ketakutannya tidur sendirian.

Aku tidak perlu memberi saran. Hanya hadir.

Hari ketiga, ia menangis. "Terima kasih sudah menjadi manusia yang bisa dipinjam."

Kembali ke perpustakaan, aku pikir selesai.

Ternyata namaku sudah dipesan lagi.

Kali ini oleh seorang remaja.

"Aku tidak bisa cerita ke siapa-siapa," katanya.

Aku duduk lagi. Mendengar lagi.

Aku mulai lelah. Merasa diriku seperti buku yang halamannya mulai kusut.

"Aku ingin berhenti," kataku pada petugas.

"Tidak bisa," jawabnya. "Selama masih ada yang membutuhkan, Anda masih layak dipinjam."

"Aku juga manusia," kataku.

Petugas menatapku lembut. ""Semua buku juga begitu. Akan tetapi, orang jarang memikirkan lelahnya buku."

Suatu malam, aku duduk sendirian di ruang baca.

Aku sadar sesuatu: aku jarang membaca diriku sendiri.

•••

Rumah Sakit yang Melarang Pasien Sembuh


Pengumuman itu ditempel di dinding ruang tunggu, di antara poster cuci tangan dan jadwal dokter:

Mulai hari ini, pasien dilarang sembuh tanpa izin manajemen.

Aku membacanya dua kali, mengira ini satire yang salah tempat. Akan tetapi, perawat memanggil namaku dengan wajah terlalu serius untuk bercanda.

"Pak Ardi, hasil pemeriksaan Bapak sudah bagus," katanya pelan. "Akan tetapi, Bapak belum boleh pulang."

"Kenapa?"

"Izin sembuh Bapak belum turun."

"Izin dari siapa?!"

"Izin dari rumah sakit."

Aku duduk di ranjang dengan infus yang sudah tidak diperlukan, tetapi tetap terpasang seperti tanda kepemilikan. Di sebelahku, seorang ibu tua batuk-batuk kecil.

"Sudah lama di sini, Bu?"

"Tiga bulan," jawabnya. "Padahal saya sudah sehat dari bulan lalu."

"Kenapa tidak pulang?"

Ia tersenyum pahit. "Anak saya baru rajin datang sejak saya sakit."

Kalimat itu menampar pelan.

Di koridor, seorang bapak berdiri di jendela, menatap parkiran.

"Saya di sini karena di rumah tidak ada yang menunggu," katanya.

Dokter datang sore itu.

"Secara medis, Anda baik," katanya.

"Lalu?"

"Secara sosial, kami khawatir."

"Khawatir apa?"

"Banyak pasien yang kembali sakit setelah sembuh. Karena di luar, tidak ada yang memperlakukan mereka seperti di sini: diperhatikan, disapa, ditanya kabarnya."

Aku tertawa kering. "Jadi, saya ditahan karena kesepian?"

"Karena kemungkinan kesepian," koreksi dokter.

Malamnya, aku menelepon istriku.

"Kapan kamu pulang?" tanyanya.

"Katanya belum boleh sembuh."

Ia tertawa, mengira aku bercanda.

Aku tidak tertawa.

Beberapa hari di sana, aku mulai melihat pola: orang-orang tidak ingin sembuh karena sembuh berarti kembali ke rumah yang sunyi, pekerjaan yang menekan, relasi yang dingin.

Rumah sakit menjadi satu-satunya tempat di mana mereka merasa dianggap penting.

Suatu pagi, aku mencabut infusku sendiri.

Perawat panik. "Pak, jangan!"

"Aku mau sembuh tanpa izin," kataku.

Aku berjalan keluar dengan langkah gemetar. Tidak ada yang menahanku. Mereka hanya menatap seperti orang melihat pasien kabur dari kenyamanan.

Di pintu keluar, aku sadar: mungkin yang ditahan bukan tubuhku, melainkan ketakutanku menghadapi hidup yang tidak seramah ruang perawatan.

•••

Pria yang Menjual Waktunya Sedikit Demi Sedikit


Ia membuka lapak kecil di pinggir jalan, di antara penjual gorengan dan tukang kunci.

Papan kardusnya bertuliskan:
Jual Waktu. Murah. Bisa Eceran.

Orang-orang awalnya mengira ia gila.

Sampai seorang mahasiswa mendekat.

"Bang, satu jam berapa?"

"Untuk apa?" tanya pria itu.

"Tenggat tugas."

Pria itu mengangguk. "Seratus ribu."

Mahasiswa itu tertawa, lalu entah kenapa benar-benar membayar.

Pria itu menutup mata sebentar. Wajahnya mengerut seperti orang menahan nyeri.

"Sudah," katanya.

Mahasiswa itu melihat jamnya. Waktu terasa lebih panjang. Kepalanya lebih jernih. Ia bisa mengerjakan tugas tanpa panik.

Kabar itu menyebar cepat.

Orang-orang mulai antre.

Ibu rumah tangga membeli dua jam untuk bisa tidur tanpa memikirkan cucian.

Pegawai kantor membeli tiga jam agar rapat terasa cepat berlalu.

Seorang anak kecil membeli setengah jam supaya ayahnya pulang lebih cepat.

Setiap transaksi membuat pria itu tampak lebih tua.

Rambutnya memutih dalam hitungan hari.

Kulitnya mengendur.

Aku mendekatinya.

"Bang, ini benar-benar waktu hidupmu?"

Ia mengangguk. "Waktu itu bisa dipindah, asal ada yang mau kehilangan."

"Kenapa kamu jual?"

Ia tersenyum. "Karena waktu orang lain selalu terasa kurang. Waktuku terasa terlalu panjang."

Seminggu kemudian, ia sudah tampak seperti kakek-kakek.

Orang-orang masih antre.

"Ada diskon, Bang?" canda seseorang.

Ia tertawa kecil, batuk.

"Aku nyaris habis," katanya.

"Berhenti saja," kataku.

Ia menggeleng. "Banyak yang masih butuh."

"Kalau kamu mati?"

"Berarti waktuku benar-benar laku."

Suatu pagi, lapaknya kosong.

Hanya papan kardus yang tersisa.

Orang-orang kecewa. Marah. Mereka masih ingin membeli.

Aku sadar sesuatu: mereka bukan membeli waktu. Mereka membeli pelarian dari cara mereka menggunakan waktu sendiri.

•••

Sekolah yang Mengajarkan Cara Gagal


Di gerbang sekolah itu tertulis besar:
Selamat Datang di Sekolah Kegagalan.

Orang tua yang mengantar anaknya tampak ragu.

"Apa benar ini sekolah?" tanya seorang ibu.

Kepala sekolah tersenyum. "Sangat."

Di kelas pertama, guru berkata, "Hari ini kita belajar bagaimana gagal wawancara kerja."

Anak-anak bingung.

"Kalian akan kami latih ditolak," lanjut guru.

Mereka diajarkan cara menghadapi nilai jelek, ditertawakan teman, ide yang diabaikan.

Tidak ada ranking. Tidak ada juara.

Hanya daftar panjang kegagalan yang harus dialami.

Seorang murid pulang menangis.

"Aku ditolak pura-pura sama guru," katanya.

Ibunya marah-marah ke sekolah.

Kepala sekolah menjelaskan, "Kami sedang membangun otot mental yang jarang dipakai di sekolah lain."

Beberapa bulan kemudian, anak-anak itu berubah.

Mereka lebih berani mencoba.

Tidak panik saat salah.

Tidak hancur saat kalah.

Namun, masalah muncul saat mereka ikut lomba dengan sekolah lain.

Mereka kalah.

Dan … tertawa.

Sekolah lain bingung.

"Kalian tidak sedih?"

"Kami sudah latihan gagal," jawab mereka santai.

Orang tua mulai khawatir.

"Anak saya jadi tidak ambisius," protes seorang ayah.

Kepala sekolah menjawab, "Mungkin selama ini yang terlalu ambisius bukan anak-anak, melainkan orang tuanya."

Konflik memuncak ketika pemerintah mengirim surat: sekolah ini dianggap menurunkan standar kompetisi.

Kepala sekolah dihadapkan pilihan: ubah kurikulum atau ditutup.

Ia mengumpulkan murid-muridnya.

"Kita mungkin akan gagal mempertahankan sekolah ini," katanya.

Anak-anak tersenyum.

"Tidak apa-apa, Pak. Kami sudah siap."

•••

Kantor Pos yang Mengirim Surat ke Masa Lalu


Pagi itu, antrean di Kantor Pos Indonesia cabang kecil dekat pasar tampak lebih panjang dari biasanya. Bukan karena orang ingin mengirim paket, melainkan karena sebuah papan pengumuman baru dipasang di dekat loket tiga:

Melayani pengiriman surat ke masa lalu.
Syarat: hanya boleh satu lembar. Tanpa amplop. Tanpa perangko.

Orang-orang membaca, tertawa, lalu tetap mengantre.

Aku ikut antre karena penasaran, bukan percaya.

Di depanku, seorang bapak memegang kertas lusuh. Tangannya gemetar seperti orang yang sedang memegang keputusan.

"Serius ini, Embak?" tanyanya pada petugas loket.

Petugas itu tidak tersenyum. "Serius, Pak. Tulis tanggal tujuan di pojok kanan atas. Tahun berapa surat ini ingin sampai."

"Kalau tidak sampai?"

"Selalu sampai. Masalahnya: dibaca atau tidak."

Giliranku tiba.

"Ada yang bisa dibantu?" tanya petugas.

"Ini betulan?" tanyaku.

"Iya."

"Bagaimana caranya?"

"Kami tidak mengurus caranya. Kami hanya menerima suratnya."

Aku berdiri agak lama di meja kecil yang disediakan, memegang kertas kosong. Tiba-tiba aku sadar: menulis ke masa lalu jauh lebih sulit daripada menulis ke masa depan. Ke depan kita bisa berjanji. Ke belakang, kita hanya bisa menyesal.

Aku menulis:
Untuk diriku, 12 tahun lalu.
Jangan meminjamkan uang itu. Jangan percaya pada orang itu. Dan tolong, pulang lebih cepat hari itu.

Tanganku berhenti. Hari itu.

Hari ketika adikku kecelakaan, dan aku tidak ada di rumah karena lembur membantu teman yang kemudian menipuku.

Aku menuliskan tanggal di pojok kanan: 2014.

Petugas mengambil kertas itu, membacanya sekilas, lalu memasukkannya ke laci tanpa ekspresi.

"Sudah?" tanyaku.

"Sudah."

"Tidak ada cap? Tidak ada apa-apa?"

"Kalau diberi cap, masa lalunya jadi tahu ini resmi," jawabnya datar.

Aku pulang dengan perasaan aneh, seperti baru saja melempar batu ke danau yang sangat jauh.

Keesokan harinya, aku bangun dengan kepala berat. Ada sesuatu yang terasa bergeser tetapi aku tidak tahu apa.

Di meja makan, Ibu menatapku heran.

"Kamu kenapa?" tanyanya.

"Kenapa?"

"Kamu tidak jadi berangkat kerja?"

"Memang aku tidak kerja?"

Ibu mengernyit. "Kamu sudah berhenti tiga tahun lalu. Kamu buka bengkel kecil di belakang rumah, ingat?"

Aku berdiri, jantungku berisik.

Bengkel?

Aku berjalan ke belakang rumah. Ada papan nama: Bengkel Dika Motor. Catnya sudah pudar.

Aku tidak pernah membuka bengkel.

Atau … pernah?

Di dalam, ada peralatan. Ada oli. Ada bau besi yang akrab tetapi asing.

Seorang tetangga lewat. "Mas, motor saya sudah bisa diambil?"

Aku menatapnya kosong.

Ingatan mulai masuk pelan-pelan seperti air merembes: aku tidak pernah meminjamkan uang pada temanku dulu. Kami bertengkar. Aku tidak lembur hari itu. Aku pulang cepat.

Adikku tidak kecelakaan.

Ia masih hidup.

Aku berlari masuk rumah.

"Di mana Rani?" tanyaku.

Ibu bingung. "Di kamar. Lagi tidur."

Aku membuka pintu kamar.

Adikku ada di sana. Bernapas. Utuh. Hidup.

Kakiku lemas.

Air mataku jatuh tanpa izin.

Ia bangun, kaget melihatku menangis.

"Kenapa, Kak?"

Aku tidak bisa menjawab. Karena di kepalaku, ada dua kenangan yang sama-sama terasa nyata: satu di mana ia sudah mati delapan tahun lalu, satu di mana ia tidak pernah mati.

Aku keluar rumah, berjalan cepat menuju kantor pos itu.

Papan pengumuman masih ada. Antrean masih ada.

Petugas yang sama menatapku.

"Kamu sudah menerima balasan dari masa lalu?" tanyanya tenang.

"Apa yang kalian lakukan?"

"Kami hanya mengirim surat."

"Hidupku berubah!"

"Memang itu yang biasanya terjadi."

"Aku punya dua ingatan sekarang!"

Petugas itu mengangguk. "Karena masa lalumu punya dua kemungkinan. Kamu sekarang membawa keduanya."

"Ini gila!"

"Tidak. Ini konsekuensi."

Di kursi tunggu, seorang perempuan menangis pelan.

"Aku menulis supaya tidak menikah dengan suamiku," katanya. "Sekarang anakku tidak pernah lahir."

Aku menatapnya ngeri.

"Apa maksudnya?"

"Aku bahagia. Namun, aku kehilangan seseorang yang hanya ada di versi hidup yang lain."

Kepalaku berputar.

"Kalian harus menghentikan ini!"

Petugas menatapku lama. "Kamu mau adikmu tetap hidup?"

"Iya!"

"Berarti kamu juga harus menerima hidup lain yang hilang."

Aku pulang dengan kepala penuh suara.

Di kamar, aku menatap foto keluarga. Versi lama dan versi baru bertabrakan di kepalaku.

Di versi lama: foto dengan bingkai hitam setelah pemakaman.

Di versi baru: foto adikku tersenyum lebar saat ulang tahunnya yang ke-20.

Malamnya, aku tidak bisa tidur.

Aku sadar sesuatu yang mengerikan: setiap perubahan di masa lalu tidak menghapus yang lama. Ia hanya menambahkan yang baru di atasnya. Dan aku satu-satunya yang mengingat keduanya.

Keesokan harinya, aku kembali ke kantor pos.

"Aku mau kirim surat lagi."

Petugas mengangguk. "Silakan."

Tanganku gemetar.
Untuk diriku, kemarin.
Jangan pernah mengirim surat ke masa lalu.

Aku menuliskan tanggal kemarin.

Kertas itu dimasukkan ke laci.

Aku pulang.

Kepalaku terasa kosong.

Di meja makan, Ibu menatapku.

"Kamu kenapa melamun?"

"Tidak apa-apa."

"Rani tadi telepon. Katanya mau main."

Rani.

Aku tersenyum.

Aku masih ingat semuanya.

Dan aku sadar sesuatu yang membuatku merinding:

Surat terakhirku tidak pernah mencegah surat pertama.

Karena di masa laluku kemarin, aku sudah mengirimnya.

•••

Museum yang Menyimpan Kesalahan yang Tidak Pernah Terjadi


Gedung itu berdiri di ujung kota, bekas gudang beras yang diubah menjadi ruang pameran sunyi. Di depannya terpasang papan sederhana:
Museum Kesalahan yang Tidak Pernah Terjadi.

Tidak ada foto tokoh, tidak ada tanggal peresmian. Hanya jam buka dan harga tiket yang murah, seolah-olah yang dijual bukan benda, melainkan rasa.

Aku masuk karena penasaran, bukan karena mengerti.

Di meja depan, seorang penjaga tua memberiku peta ruangan. Tidak ada penjelasan. Hanya nomor-nomor galeri.

Galeri pertama berisi etalase kosong. Di bawahnya ada keterangan kecil:
Di sini disimpan kata-kata kasar yang tidak jadi diucapkan seorang ayah kepada anaknya, 1998.

Aku menatap ruang kosong itu lama. Tidak ada apa-apa. Namun, entah kenapa, rasanya penuh.

Di galeri kedua, ada kursi kayu tua. Keterangan di bawahnya:
Kursi tempat seorang perempuan hampir memutuskan pergi dari rumah, tetapi memilih bertahan, 2007.

Aku duduk sebentar di kursi itu. Kayunya dingin. Tiba-tiba dadaku terasa berat, seperti ikut menimbang keputusan yang tidak pernah jadi diambil.

Semakin jauh masuk, aku mulai memahami pola museum ini: semua yang dipamerkan adalah hal-hal yang hampir terjadi. Kesalahan yang tertahan satu detik sebelum lahir.

Ada telepon genggam retak.
Pesan marah yang sudah diketik, tetapi dihapus sebelum dikirim.

Ada piring pecah yang dilem.
Piring yang hampir dilempar saat pertengkaran, tetapi ditaruh kembali ke meja.

Ada pintu dengan cat mengelupas.
Pintu yang hampir dibanting oleh seorang remaja, tetapi akhirnya ditutup pelan.

Setiap benda di sini adalah bukti bahwa dunia tidak hanya dibentuk oleh apa yang terjadi, tetapi juga oleh apa yang berhasil ditahan.

Di galeri paling belakang, ada cermin besar.

Tidak ada keterangan.

Aku berdiri di depannya, menatap wajahku sendiri.

Baru aku sadar: mungkin di sini disimpan semua kesalahan yang aku tidak pernah lakukan. Semua amarah yang kutelan. Semua kata yang tidak jadi keluar.

Penjaga museum muncul di belakangku tanpa suara.

“Banyak orang tidak sadar,” katanya pelan, “hidup mereka jauh lebih ditentukan oleh kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan.”

Aku mengangguk tanpa menoleh.

“Namun, ada masalah,” lanjutnya.

“Apa?”

“Kesalahan yang tidak terjadi jarang diingat. Padahal merekalah yang paling berjasa menjaga hubungan tetap utuh.”

Aku menatap cermin itu lebih lama. Ingatan-ingatan kecil muncul: pesan yang tak kukirim, pintu yang tak kubanting, hinaan yang kutelan.

Hal-hal yang dulu terasa sepele, sekarang tampak seperti pilar.

Saat keluar, aku melihat buku tamu. Orang-orang menulis hal yang aneh-aneh:

Terima kasih karena mengingatkan bahwa aku pernah menahan diri.
Aku baru sadar betapa banyak bencana kecil yang tidak jadi terjadi.

•••

Taman yang Menumbuhkan Bayangan, Bukan Pohon


Taman kota itu tampak biasa dari luar. Rumput, bangku, jalan setapak. Akan tetapi, orang-orang datang bukan untuk duduk atau piknik.

Mereka datang membawa bayangan.

Di pintu masuk, ada papan kecil:
Silakan tanam bayangan Anda di tanah yang tersedia.

Aku melihat seorang pria berdiri di tengah taman, menatap tanah kosong di kakinya. Matahari tepat di atas kepala, bayangannya pendek dan pekat.

Ia berlutut, menekan kedua tangannya ke tanah seperti menanam bibit.

Beberapa jam kemudian, dari tanah itu tumbuh sesuatu yang samar. Bukan pohon. Bukan rumput. Melainkan bentuk gelap menyerupai dirinya sendiri.

Semakin sore, bentuk itu semakin jelas.

Aku bertanya kepada penjaga taman.

“Ini apa?”

“Bayangan yang tidak pernah sempat diakui pemiliknya,” jawabnya.

“Kenapa ditanam?”

“Karena banyak orang hidup sambil menginjak bayangan mereka sendiri.”

Aku memerhatikan orang-orang yang datang. Ada yang menanam bayangan dengan wajah lega. Ada yang menangis. Ada yang ragu-ragu.

Taman itu dipenuhi bentuk-bentuk gelap yang berdiri diam, seperti hutan yang terbuat dari sisi-sisi diri yang selama ini disembunyikan.

Aku berdiri di bawah matahari, melihat bayanganku sendiri.

Aku ragu.

Apa yang akan tumbuh jika kutanam?

Semua sifat yang kutolak? Semua ketakutan? Semua keinginan yang tidak pernah kuakui?

Akhirnya aku berlutut juga.

Tanahnya hangat.

Beberapa waktu kemudian, sesuatu mulai muncul. Bentuknya mirip denganku, tetapi tidak sepenuhnya. Wajahnya tampak lebih jujur. Lebih lelah.

Aku duduk menatapnya lama.

Untuk pertama kalinya, aku merasa melihat diriku yang tidak pernah kuberi tempat.

Penjaga taman berdiri di sampingku.

“Kalau sudah tumbuh, apa yang harus dilakukan?” tanyaku.

“Dirawat.”

“Bagaimana cara merawat bayangan?”

“Dengan tidak lagi berpura-pura ia tidak ada.”

•••

Stasiun yang Tidak Pernah Mengumumkan Kedatangan


Di stasiun itu, tidak pernah ada pengumuman kereta datang.

Pengeras suara hanya mengumumkan keberangkatan.

Orang-orang duduk di bangku, menatap rel kosong, menunggu sesuatu yang tidak pernah dipastikan.

“Kereta dari mana yang akan datang?” tanyaku kepada petugas.

Ia mengangkat bahu. “Kami tidak pernah tahu. Tugas kami hanya melepas yang pergi.”

“Namun, orang-orang di sini menunggu .…”

“Mereka selalu menunggu sesuatu.”

Aku memerhatikan penumpang. Wajah-wajah penuh harap, lelah, cemas. Mereka memegang tiket tanpa tujuan jelas.

Seorang perempuan berkata kepadaku, “Saya menunggu suami saya pulang.”

"Sudah berapa lama?"

“Lima tahun.”

Seorang anak kecil menatap rel dengan mata berbinar. “Ayahku janji akan kembali.”

Seorang pria tua duduk diam, menatap kosong. “Saya menunggu versi diri saya yang dulu.”

Stasiun ini bukan tempat orang bepergian. Ini tempat orang menunggu hal-hal yang tidak pernah benar-benar datang.

Kereta sesekali lewat, tetapi tidak pernah berhenti.

Orang-orang tetap duduk.

Tidak marah. Tidak pergi.

Hanya menunggu.

Aku duduk cukup lama hingga sadar: mungkin mereka bukan menunggu kedatangan. Mereka menunggu keberanian untuk pergi dari tempat itu.

•••

Desa yang Menukar Nama Setiap Tujuh Tahun


Di desa itu, tidak ada nama yang bertahan lebih dari tujuh tahun.

Setiap awal tahun ketujuh, lonceng tua di balai desa dibunyikan tiga kali. Setelah itu, semua orang berkumpul membawa secarik kertas berisi nama mereka saat ini. Kertas-kertas itu dimasukkan ke kendi tanah liat, dikocok lama, lalu dibagikan kembali secara acak.

Sejak kecil, aku tahu suatu hari namaku akan hilang.

Masalahnya, tahun ini aku baru saja mulai merasa cocok dengan namaku sendiri.

Namaku sekarang: Aruna.

Nama itu terasa pas. Tidak terlalu berat. Tidak terlalu ringan. Aku sudah menulisnya ratusan kali di buku catatan, di sudut meja, di kaca berembun setelah mandi. Rasanya seperti akhirnya menemukan pakaian yang ukurannya benar.

Lonceng dibunyikan pagi itu ketika matahari masih malu-malu.

Orang-orang berjalan ke balai desa dengan wajah yang campur aduk: ada yang pasrah, ada yang sedih, ada yang tampak tidak peduli. Anak-anak kecil justru terlihat senang, karena bagi mereka nama hanyalah bunyi yang belum sempat menjadi beban.

Di depan balai desa, kendi besar sudah diletakkan di meja kayu. Kepala desa berdiri di sampingnya, wajahnya khidmat seperti pemimpin upacara pemakaman.

Karena memang, dalam cara tertentu, ini adalah pemakaman.

Pemakaman identitas yang sudah mulai mengakar.

Satu per satu, orang memasukkan kertas nama mereka.

Aku memegang kertas bertuliskan “Aruna” cukup lama sebelum memasukkannya. Rasanya seperti melepaskan tangan seseorang yang belum siap dilepas.

Kertas itu jatuh ke dalam kendi dengan suara kecil yang terdengar terlalu keras di kepalaku.

Setelah semua terkumpul, kendi dikocok lama sekali. Bunyi kertas-kertas saling beradu seperti hujan yang tertahan.

Lalu pembagian dimulai.

Orang-orang membuka kertas baru mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada yang tertawa. Ada yang menghela napas panjang. Ada yang langsung melipat kertasnya tanpa melihat.

Giliranku tiba.

Tanganku gemetar saat membuka kertas itu.

Namaku yang baru: Samin.

Aku menatap huruf-huruf itu lama. Samin. Nama yang terasa asing, seperti sepatu orang lain yang harus kupakai.

Di sekitarku, orang-orang mulai saling memanggil dengan nama baru mereka, masih canggung, masih salah sebut.

“Bu Lestari—eh, maaf—Bu Raka!”

Tawa kecil pecah di sana-sini, tetapi ada kesedihan tipis yang tidak diakui.

Aku pulang dengan langkah lambat.

Di rumah, Ibu menatapku.

“Dapat nama apa?” tanyanya.

“Samin.”

Ibu mengangguk. “Bagus. Kuat.”

“Aku tidak merasa kuat,” jawabku pelan.

Ibu tersenyum tipis. “Tidak ada yang pernah merasa cocok di awal.”

Di desa ini, semua dokumen diganti setiap tujuh tahun. Buku nikah. Ijazah. KTP. Bahkan batu nisan di kuburan.

Tidak ada yang bisa mencari seseorang dengan nama lamanya. Tidak ada yang bisa menelusuri masa lalu seseorang lewat arsip.

Desa ini percaya: nama yang terlalu lama dipakai membuat orang lupa bahwa dirinya bisa berubah.

Namun, aku mulai merasakan sisi lain dari tradisi ini.

Aku pergi ke rumah sahabatku.

“Atik!” panggilku refleks.

Ia menoleh. “Jangan pakai nama itu lagi.”

Aku terdiam.

“Namaku sekarang Jaya,” katanya.

Kami duduk berhadapan, merasa seperti dua orang yang baru berkenalan, padahal kami tumbuh bersama sejak kecil.

Aku sadar sesuatu yang menyakitkan: ketika nama berubah, cara kita memanggil kenangan juga ikut berubah.

Malam itu, aku membuka kotak tua di bawah tempat tidur. Isinya buku-buku lama, foto-foto, surat-surat kecil yang pernah kuterima.

Semuanya ditujukan kepada Aruna.

Nama yang sekarang tidak lagi resmi ada.

Apakah kenangan itu masih milikku, kalau namaku bukan lagi itu?

Beberapa hari kemudian, aku pergi ke makam Ayah.

Batu nisannya sudah diganti. Nama Ayah sekarang berbeda dari yang kukenal.

Aku berdiri lama di depannya, merasa seperti orang asing yang berziarah ke kuburan orang yang tidak dikenalnya.

Air mataku jatuh pelan.

Bukan karena Ayah mati, melainkan karena namanya mati untuk kedua kalinya.

Aku mulai mempertanyakan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya: kalau nama bisa diacak setiap tujuh tahun, bagaimana kita memastikan bahwa diri kita yang dulu masih berlanjut ke diri kita yang sekarang?

Atau jangan-jangan, memang tidak ada yang berlanjut?

Suatu sore, aku mendatangi kepala desa.

“Kenapa kita harus melakukan ini?” tanyaku.

Ia menatapku lama sebelum menjawab.

“Dulu, sebelum tradisi ini ada, desa kita penuh dendam turun-temurun. Orang diingat bukan karena siapa dia sekarang, melainkan karena siapa dia dulu. Nama menjadi beban sejarah.”

“Lalu?”

“Kami memutuskan memotong ingatan itu. Setiap tujuh tahun, orang diberi kesempatan menjadi orang lain tanpa harus pindah tempat.”

Aku terdiam.

“Apakah berhasil?” tanyaku.

Ia tersenyum tipis. “Dendam memang berkurang tetapi orang juga jadi sulit merasa utuh.”

Malamnya, aku menatap cermin lama di kamar.

“Aku Aruna,” bisikku pelan.

Lalu, “Aku Samin.”

Kedua kalimat itu terasa sama-sama benar dan sama-sama salah.

Di meja, ada kertas kecil sisa upacara kemarin. Kertas yang dulu bertuliskan namaku.

Aku tidak membuangnya.

Aku melipatnya pelan dan menyimpannya di dompet.

Diam-diam, aku memutuskan sesuatu: desa boleh memanggilku Samin. Dokumen boleh mencatatku sebagai Samin.

Namun, di dalam kepalaku, Aruna tidak akan mati.

Karena aku mulai mengerti konflik sebenarnya dari tradisi ini:

Bukan soal mengganti nama, melainkan soal siapa yang berhak menentukan apakah masa lalu kita masih boleh ikut hidup di dalam diri kita sekarang.

•••

Gedung Pengadilan yang Mengadili Penyesalan


Gedung itu tampak seperti pengadilan biasa: pilar tinggi, tangga lebar, bendera berkibar malas di halaman. Bedanya hanya satu papan kecil di pintu masuk:

Hari ini: Sidang Penyesalan.

Orang-orang datang bukan membawa pengacara, melainkan kenangan.

Di ruang tunggu, tidak ada keluarga yang menangis atau wartawan yang menunggu putusan. Yang ada hanya wajah-wajah lelah yang memeluk sesuatu yang tak terlihat: keputusan lama yang belum selesai di dalam kepala.

Aku datang karena satu hal yang tak pernah berhenti kembali setiap malam: hari ketika aku memilih tidak mengangkat telepon dari adikku.

Ia menelepon tiga kali. Aku sedang rapat. Aku pikir bisa menelepon balik nanti. Malamnya, ia sudah di rumah sakit karena kecelakaan. Ia selamat, tetapi sejak itu suaranya selalu terdengar seperti jarak.

Di meja pendaftaran, seorang petugas menuliskan namaku tanpa bertanya banyak.

“Kasus apa?” tanyanya.

“Penyesalan karena tidak mengangkat telepon.”

Ia mengangguk, seolah itu perkara umum.

Ruang sidang dipenuhi orang. Di kursi terdakwa, tidak ada siapa-siapa. Yang duduk di sana adalah sebuah kursi kosong dengan label: Keputusan yang Sudah Terjadi.

Hakim masuk tanpa jubah. Wajahnya tenang seperti orang yang sudah terlalu sering mendengar cerita yang sama dengan detail berbeda.

Sidang dimulai.

Satu per satu orang maju.

Seorang ibu menangis karena pernah berkata kasar kepada anaknya sebelum anak itu pergi merantau dan tak pernah kembali. Seorang pria tua menyesal menolak pekerjaan di kota lain karena takut, lalu hidupnya terasa kecil sejak itu.

Hakim mendengarkan tanpa memotong.

Ketika giliranku tiba, aku duduk di kursi saksi. Kursi terdakwa tetap kosong.

“Apa yang kamu sesali?” tanya hakim.

“Hanya satu panggilan telepon yang tidak kuangkat.”

“Lalu apa yang kamu inginkan dari sidang ini?”

“Aku ingin dihukum,” jawabku jujur.

“Kenapa?”

“Karena rasa bersalah ini tidak punya bentuk. Kalau ada hukuman, mungkin ia terasa selesai.”

Hakim menatapku lama.

“Apakah kamu bisa kembali ke hari itu?”

“Tidak.”

“Apakah kamu tahu pasti jika kamu mengangkat telepon, semuanya akan berbeda?”

Aku diam.

Tidak. Aku tidak pernah tahu.

Mungkin kecelakaan itu tetap terjadi. Mungkin tidak.

Penyesalanku berdiri di atas kemungkinan, bukan kepastian.

Hakim mengetuk meja pelan.

“Pengadilan ini tidak mengadili perbuatan. Ia mengadili ilusi bahwa masa lalu masih bisa diperbaiki.”

Ruang sidang sunyi.

“Kamu tidak bersalah karena tidak mengangkat telepon,” lanjutnya. “Kamu hanya manusia yang tidak tahu masa depan.”

“Akan tetapi, rasanya seperti salah,” kataku pelan.

“Itu karena kamu hidup di masa sekarang dengan pengetahuan yang tidak kamu miliki waktu itu.”

Aku menunduk.

Hakim memberikan putusan yang aneh:

“Kamu dibebaskan dari kewajiban menyalahkan dirimu sendiri.”

“Bagaimana caranya?”

“Itu bukan urusan pengadilan. Itu urusanmu dengan waktu.”

Aku keluar gedung itu dengan perasaan ganjil. Tidak lebih ringan tetapi lebih jelas.

•••

Pasar yang Memperjualbelikan Kenangan Orang Lain


Pasar itu hanya buka hari Minggu. Lapaknya sederhana, tetapi yang dijual bukan sayur, bukan pakaian.

Yang dijual adalah kenangan.

Di setiap meja, ada stoples-stoples kaca berisi sesuatu yang tak terlihat, dengan label kecil:
Kenangan pertama kali jatuh cinta, usia 16.
Kenangan dimarahi ayah sampai menangis.
Kenangan makan bersama keluarga yang sudah tidak lengkap.

Orang-orang datang untuk membeli, bukan menjual.

Aku berhenti di satu lapak yang dijaga perempuan tua.

“Kenangan apa yang paling laku?” tanyaku.

“Kenangan bahagia yang sederhana,” jawabnya. “Orang rindu hal-hal kecil yang tidak mereka punya.”

Aku memegang satu stoples.

Labelnya: Kenangan pulang sekolah disambut ibu di teras.

Ibuku selalu sibuk waktu kecil. Aku jarang disambut di teras.

“Berapa?”

“Murah tetapi hati-hati. Setelah dibuka, kenangan itu akan terasa seperti milikmu.”

Aku membelinya.

Di rumah, aku membuka stoples itu.

Tiba-tiba, ada perasaan hangat mengalir di dadaku. Gambaran seorang ibu berdiri di teras, tersenyum, menyambut anaknya pulang. Anak itu berlari kecil, merasa ditunggu.

Aku tersenyum tanpa sadar.

Namun, beberapa menit kemudian, kepalaku mulai sakit.

Karena aku tahu: itu bukan masa kecilku.

Besoknya, aku kembali ke pasar.

“Kenapa rasanya menyakitkan?” tanyaku.

“Karena kenangan itu tidak punya tempat di sejarah hidupmu,” jawab perempuan itu. “Ia hanya menempel di perasaan, bukan di kenyataan.”

Orang-orang di sekitar tampak bahagia setelah membeli kenangan. Mereka tertawa sendiri. Ada yang menangis.

Namun, wajah mereka juga terlihat bingung, seperti orang yang tidak yakin apakah yang mereka rasakan sah.

Aku mulai menyadari sesuatu: orang tidak membeli kenangan karena ingin tahu masa lalu orang lain. Mereka membeli karena ingin mengganti masa lalu mereka sendiri.

Akan tetapi, masa lalu tidak bisa diganti. Ia hanya bisa ditumpuk oleh rasa yang tidak punya akar.

Judulnya menjelaskan semuanya. Pasar itu tidak menjual kenangan. Ia menjual ilusi bahwa kita bisa memilih masa kecil, keluarga, dan momen yang dulu tidak kita miliki.

Dan ilusi itu, pelan-pelan, menyakitkan.

•••

Hotel yang Mengizinkan Tamu Menginap di Versi Hidup yang Lain


Hotel itu tidak punya bintang di papan namanya. Hanya tulisan kecil di kaca pintu:
Tersedia kamar untuk menginap di versi hidup Anda yang berbeda.

Resepsionisnya tidak menanyakan KTP. Ia hanya menanyakan satu hal: “Versi yang mana yang ingin Anda kunjungi?”

Aku berdiri lama di depan meja, mencoba memahami pertanyaan itu.

“Apa maksudnya versi?” tanyaku.

“Versi hidup yang mungkin terjadi kalau dulu Anda memilih hal yang berbeda,” jawabnya datar.

Kepalaku langsung dipenuhi satu keputusan: hari ketika aku menolak beasiswa ke luar negeri karena takut jauh dari rumah.

“Kalau saya menerima beasiswa itu?”

Resepsionis mengangguk. “Kamar 304.”

Kunci diberikan. Tidak ada lift. Tangga menuju lantai tiga terasa lebih panjang dari semestinya.

Saat pintu kamar kubuka, aku tidak menemukan ranjang atau lemari. Yang ada adalah sebuah apartemen kecil dengan jendela besar menghadap kota asing.

Di meja, ada laptop dengan namaku di layar. Dinding penuh buku bahasa yang tidak pernah kupelajari.

Dan di cermin, ada aku—lebih kurus, rambut lebih panjang, wajah lebih lelah.

Ia menoleh, sama terkejutnya.

“Kamu siapa?” tanyanya.

“Aku … kamu. Versi lain.”

Kami duduk lama, saling menatap seperti dua orang yang mengenali diri sendiri tetapi tidak sepenuhnya setuju.

Versi diriku itu bercerita tentang hidupnya di luar negeri. Tentang karier yang baik. Tentang kesepian yang panjang. Tentang hubungan yang gagal karena jarak dengan keluarga.

“Kamu beruntung tidak datang ke sini,” katanya pelan.

“Kenapa?”

“Karena aku sering berharap punya alasan untuk pulang.”

Aku menelan ludah.

“Aku sering berharap punya keberanian untuk pergi,” jawabku.

Kami tertawa kecil. Pahit.

Malamnya, aku tidur di sofa apartemen itu. Tidur dengan perasaan aneh: seperti menginap di hidup yang bukan milikku tetapi sangat mungkin menjadi milikku.

Pagi hari, resepsionis sudah menunggu di lobi.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Aneh,” jawabku. “Ternyata hidup lain juga tidak sempurna.”

Resepsionis tersenyum tipis. “Itu tujuan hotel ini.”

“Supaya apa?”

“Supaya tamu berhenti menyalahkan hidup yang mereka pilih.”

•••

Kantin yang Menyajikan Rasa Bersalah


Kantin itu selalu penuh saat jam makan siang. Bukan karena makanannya enak, melainkan karena menu utamanya bukan makanan.

Menu utamanya: rasa bersalah.

Di papan tulis tergantung daftar menu:
Rasa bersalah karena membentak ibu
Rasa bersalah karena mengabaikan teman lama
Rasa bersalah karena memilih diri sendiri

Orang-orang datang, duduk, memesan, lalu terdiam lama di meja mereka.

Aku duduk karena penasaran.

Pelayan datang tanpa membawa buku catatan.

“Mau pesan rasa bersalah yang mana?” tanyanya.

“Apa maksudnya ini?”

“Setiap orang punya rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar ia rasakan sampai selesai. Di sini, kami membantu merasakannya sampai tuntas.”

Aku memilih satu yang paling dekat: rasa bersalah karena jarang pulang menjenguk orang tua.

Pelayan mengangguk, lalu pergi.

Tidak ada makanan datang. Tidak ada minuman.

Tiba-tiba, dadaku terasa sesak. Ingatan-ingatan lama bermunculan tanpa bisa ditahan: panggilan Ibu yang tak kujawab, undangan makan malam yang kutolak, alasan sibuk yang berulang-ulang.

Air mataku jatuh begitu saja.

Aku duduk di sana hampir satu jam, tenggelam dalam rasa yang biasanya hanya lewat sebentar di kepala.

Saat pelayan kembali, rasanya aneh: lebih ringan.

“Sudah?” tanyanya.

“Apa yang kalian lakukan?”

“Kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya memberi ruang bagi rasa bersalah yang biasanya kamu hindari.”

Aku melihat meja-meja lain. Ada yang menangis. Ada yang menunduk lama. Ada yang tampak lega.

•••

Perpustakaan yang Meminjamkan Masa Depan


Di pintu masuk perpustakaan itu tertulis aturan yang aneh:
Buku tidak boleh dibawa pulang.
Masa depan boleh dibaca di tempat.

Aku masuk karena penasaran, bukan karena percaya.

Petugas perpustakaan menatapku seperti sudah mengenal riwayat hidupku.

“Mau baca masa depan yang mana?” tanyanya.

“Apa maksudnya?”

“Kalau kamu terus hidup seperti sekarang, itu rak sebelah kiri.
Kalau kamu mengubah satu kebiasaan kecil mulai hari ini, rak sebelah kanan.”

Aku memilih kiri dulu.

Buku itu tebal. Isinya bukan ramalan mistis, melainkan rangkaian hari-hari biasa: bangun, bekerja, menunda, lelah, tidur. Tahun demi tahun. Tidak ada tragedi besar. Tidak ada keberhasilan besar. Hanya hidup yang lewat tanpa benar-benar dijalani.

Halaman terakhir membuatku gelisah: aku tua, duduk sendiri, membaca berita tentang orang-orang yang berani melakukan hal yang dulu juga ingin kulakukan.

Aku menutup buku itu dengan tangan gemetar.

“Sekarang yang kanan,” kataku.

Buku kedua jauh lebih tipis.

Isinya tidak spektakuler. Hanya satu perubahan: aku mulai bangun lebih pagi untuk menulis, setiap hari, tanpa alasan.

Perubahan kecil itu menjalar: aku bertemu orang-orang baru, pindah pekerjaan, pindah kota, gagal, bangkit lagi. Hidupnya lebih berantakan, tetapi lebih hidup.

“Apa ini pasti terjadi?” tanyaku.

Petugas tersenyum. “Bukan. Ini hanya kemungkinan yang paling logis.”

Aku sadar konfliknya bukan di masa depan, tetapi di masa kini: perubahan yang tampak kecil ternyata menuntut keberanian yang terasa besar.

Aku keluar dari perpustakaan dengan beban yang aneh: sekarang aku tahu masa depan bukan sesuatu yang jauh. Ia bergantung pada hal kecil yang paling malas kulakukan hari ini.

•••

Klinik yang Menyembuhkan Ingatan yang Tidak Pernah Terjadi


Klinik itu tidak menerima pasien dengan penyakit fisik.

Di papan namanya tertulis:
Kami menangani ingatan yang tidak pernah terjadi, tetapi terasa sangat nyata.

Aku masuk karena satu alasan: aku selalu merasa pernah mengecewakan seseorang, padahal tidak tahu siapa.

Dokter di dalam tidak memeriksa tekanan darah. Ia hanya bertanya, “Ingatan apa yang menghantui Anda?”

“Aku merasa pernah gagal menyelamatkan seseorang. Akan tetapi, aku tidak ingat kapan.”

Dokter mengangguk. “Itu bukan ingatan. Itu ketakutan yang terlalu sering kamu bayangkan.”

Ia memintaku memejamkan mata dan menceritakan detailnya.

Aku menggambarkan adegan: seseorang memanggil namaku, aku terlambat datang, ia pergi selamanya.

“Apakah itu pernah terjadi?” tanya dokter pelan.

Aku terdiam.

Tidak.

“Namun, kenapa terasa nyata?”

“Karena kamu terlalu sering membayangkannya. Otakmu memperlakukannya seperti kenangan sungguhan.”

Aku keluar dari klinik dengan kesadaran yang mengganggu: ternyata aku dihantui bukan oleh masa lalu, melainkan oleh kemungkinan buruk yang tidak pernah terjadi.

•••

Stasiun yang Mengumumkan Kereta yang Tidak Pernah Datang


Setiap sore, stasiun itu ramai.

Pengeras suaranya rutin mengumumkan:
Kereta menuju “Nanti Saja” akan segera tiba di jalur tiga.

Orang-orang berbaris rapi. Wajah mereka penuh harap.

Aku menunggu bersama mereka selama satu jam.

Tidak ada kereta datang.

“Apa keretanya terlambat?” tanyaku kepada petugas.

“Tidak pernah ada kereta,” jawabnya santai.

“Lalu, kenapa diumumkan terus?”

“Karena orang-orang butuh alasan untuk tidak berangkat hari ini.”

Aku memerhatikan antrean. Mereka membawa koper: rencana usaha, niat olahraga, keinginan minta maaf, keinginan pindah kerja.

Semua menunggu kereta yang tidak pernah datang.

Aku sadar, aku juga memegang koper: naskah yang belum pernah kukirim.

•••

Pengadilan yang Mengadili Niat Baik


Ruang sidangnya penuh.

Terdakwa bukan penjahat. Mereka adalah orang-orang yang selalu berniat baik.

Hakim memanggil satu per satu.

“Saudara berniat mengunjungi ayah di rumah sakit?”

“Iya, Yang Mulia.”

“Namum tidak pernah datang?”

“Terlalu sibuk.”

Hakim mengetuk palu. “Bersalah.”

Orang berikutnya.

“Berniat meminta maaf?”

“Iya.”

“Sudah dilakukan?”

“Belum sempat.”

“Bersalah.”

Aku duduk di bangku penonton, keringat dingin. Aku tahu kalau dipanggil, aku juga bersalah.

Di pengadilan itu, niat baik tidak dihargai. Hanya tindakan yang dihitung.

Saat namaku dipanggil, aku berdiri gemetar.

“Apa pembelaan Anda?” tanya hakim.

Aku terdiam lama, lalu berkata pelan, “Saya kira niat baik sudah cukup.”

Seluruh ruang sidang hening.

Hakim menatapku lama. “Itu kesalahan paling umum.”

•••

Toko yang Menjual Alasan


Di etalase toko itu terpajang berbagai alasan dalam botol kaca:
Terlalu lelah
Tidak punya waktu
Takut gagal
Menunggu momen yang tepat

Orang-orang datang, membeli alasan, lalu meminumnya sebelum pulang.

Aku membeli satu botol kecil: Takut gagal.

Penjaga toko berkata, “Itu produk paling laris.”

“Kenapa?”

“Karena setelah meminumnya, orang merasa sah untuk tidak mencoba.”

Aku tidak jadi membelinya.

Tiba-tiba aku sadar konfliknya bukan di dunia luar, melainkan di kebiasaan kecil yang terus kupelihara: mengumpulkan alasan agar tidak perlu berani.

Judulnya menjelaskan semuanya tanpa perlu penjelasan panjang.

•••

Kota yang Melarang Warganya Mengucapkan Kata “Besok”


Larangan itu diumumkan tanpa sirene, tanpa aparat, tanpa poster besar. Hanya satu kalimat yang tiba-tiba muncul di semua layar ponsel, televisi, papan reklame, dan jam digital di perempatan jalan:
Mulai hari ini, kata “besok” dilarang digunakan di wilayah kota.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada ancaman hukuman. Hanya larangan.

Anehnya, semua orang langsung mematuhinya.

Di kantor, orang-orang mulai berbicara dengan canggung.

“Kita rapat … setelah hari ini,” kata manajer.

“Saya akan kirim laporan … di hari yang belum terjadi,” kata staf.

Bahasa mendadak pincang. Kalimat-kalimat terasa seperti berjalan dengan satu kaki.

Aku bekerja sebagai penulis naskah iklan. Hari pertama larangan itu, pekerjaanku langsung kacau. Hampir semua slogan bertumpu pada janji: besok lebih baik, besok lebih cerah, mulai besok hidup berubah.

Kini semua harus diganti.

Yang paling aneh bukan kekacauan bahasa. Yang paling aneh adalah perubahan perilaku.

Orang-orang mulai jarang menunda.

Karena mereka tidak bisa lagi berkata, “Nanti saja, besok.”

Kalimat itu hilang. Dan bersamanya, kebiasaan menunda ikut retak.

Tetanggaku yang sudah bertahun-tahun ingin memperbaiki atap rumah, tiba-tiba memanggil tukang sore itu juga.

Temanku yang selalu ingin meminta maaf kepada ayahnya, pulang malam itu juga.

Orang-orang berhenti menabung rencana. Mereka mulai mengeksekusinya.

Awalnya terasa produktif. Kota menjadi lebih hidup. Jalanan lebih ramai oleh orang-orang yang melakukan hal yang selama ini hanya mereka rencanakan.

Namun, seminggu kemudian, keanehan mulai terasa.

Rumah sakit penuh.

Banyak orang kelelahan.

Banyak yang kehabisan uang.

Banyak yang membuat keputusan besar tanpa persiapan matang.

Karena tanpa “besok”, semua terasa mendesak untuk dilakukan hari ini.

Seorang ibu menangis di halte bus karena memaksa diri mengunjungi semua saudara yang selama ini ia tunda kunjungi. Tubuhnya tak kuat.

Seorang pemuda menjual motornya demi membuka usaha yang belum dipikirkan matang-matang. Tiga hari kemudian ia menyesal.

Ternyata “besok” selama ini bukan hanya alasan menunda. Ia juga rem pengaman.

Aku mulai merasa ada yang salah.

Aku mencoba melanggar larangan itu.

Di rumah, aku berkata pelan kepada diriku sendiri, “Aku akan mengerjakan ini besok.”

Kata itu terasa asing di lidah. Seperti mengucapkan kata dari bahasa kuno.

Tidak ada yang terjadi. Tidak ada alarm. Tidak ada hukuman.

Namun, anehnya, aku merasa sangat bersalah.

Seolah-olah aku baru saja melakukan sesuatu yang tidak etis.

Di situlah aku sadar: larangan itu tidak butuh polisi. Ia sudah masuk ke kesadaran kita.

Beberapa minggu kemudian, efek yang lebih gelap muncul.

Orang-orang mulai kehilangan kemampuan merencanakan.

Anak-anak tidak lagi mengerti konsep waktu yang akan datang. Mereka bingung ketika guru berkata, “Ujian akan diadakan … setelah hari ini.”

Investor kabur dari kota. Tidak ada yang bisa membuat proposal jangka panjang tanpa kata itu.

Pasangan-pasangan mulai sering bertengkar.

“Kita mau ke mana hubungan ini?”
“Aku tidak tahu. Kita hanya punya hari ini.”

Kota menjadi sangat hidup, tetapi sangat pendek napas.

Aku duduk di kafe, mendengarkan percakapan orang-orang yang kini terasa seperti potongan-potongan hari tanpa jembatan.

Di situ aku memahami konflik yang sebenarnya: kata “besok” bukan sekadar penunjuk waktu. Ia adalah tempat manusia menyimpan harapan, penundaan, perencanaan, dan juga ilusi.

Tanpanya, hidup jadi terlalu nyata. Terlalu dekat. Terlalu sekarang.

Aku mulai mencatat diam-diam di buku kecilku: setiap kali ingin mengatakan “besok”, aku tetap menuliskannya.

Buku itu penuh.

Dan semakin penuh, aku merasa semakin waras.

Suatu malam, listrik di seluruh kota padam selama satu jam. Semua layar mati. Semua pengumuman hilang.

Dalam gelap, dari jendela rumahku, aku mendengar seseorang berteriak di jalan:

“Besok kita perbaiki ini!”

Sunyi.

Lalu, dari rumah lain, suara lain menyahut, pelan tetapi jelas:

“Iya. Besok.”

Besok.

Kata itu kembali beredar dari mulut ke mulut seperti sandi rahasia.

Tidak ada yang menegur. Tidak ada yang menghentikan.

Keesokan harinya, layar-layar kembali menyala. Namun, pengumuman larangan itu tidak pernah muncul lagi.

Anehnya, kota tidak kembali seperti dulu.

Orang-orang kini lebih hati-hati memakai kata itu.

Mereka tidak lagi berkata “besok” untuk menunda tanpa alasan.

Namun, mereka juga tidak lagi takut mengucapkannya untuk merencanakan.

Seolah-olah kami baru saja belajar bahwa “besok” adalah alat yang bisa menolong, tetapi juga bisa menipu.

Dan konflik yang sejak awal ada di pembuka judul itu akhirnya terasa jelas: kota ini bukan sedang dilarang mengucapkan sebuah kata.

Kota ini sedang dipaksa memahami bagaimana ia selama ini memperlakukan waktu.

•••

Museum yang Memamerkan Kesalahan Kecil yang Mengubah Hidup


Di pintu masuk museum itu tertulis:
Yang dipamerkan di sini bukan kesalahan besar.
Hanya kesalahan kecil yang ternyata mengubah seluruh hidup.

Tiketnya murah. Pengunjungnya tidak ramai.

Ruang pertama memajang sebuah pesan singkat yang tidak pernah dikirim: “Maaf kalau aku berlebihan.”
Di bawahnya, keterangan kecil: Tidak terkirim. Hubungan berakhir. Dua orang menikah dengan orang lain yang tidak benar-benar mereka cintai.

Ruang kedua memamerkan alarm yang dimatikan lima menit lebih lama.
Keterangan: Terlambat datang wawancara. Tidak diterima kerja. Rantai kejadian berikutnya berlangsung 27 tahun.

Ruang ketiga hanya memajang satu kata yang salah ketik dalam email penting.

Aku berjalan pelan, membaca satu demi satu, merasa aneh karena semua kesalahan itu tampak remeh. Tidak dramatis. Tidak tragis saat terjadi.

Namun, dampaknya panjang.

Di ruang terakhir, ada cermin.

Di bawahnya tertulis: Kesalahan kecil Anda belum kami pajang. Karena Anda masih melakukannya berulang-ulang.

Aku berdiri lama di depan cermin, menyadari konflik yang pelan-pelan mengeras: hidup sering berubah bukan karena keputusan besar, melainkan karena keteledoran kecil yang kita anggap tidak penting.

•••

Desa yang Mengubur Nama Asli Warganya


Di desa itu, setiap orang memiliki dua nama.

Satu nama untuk dipakai sehari-hari.
Satu nama asli yang dikubur saat mereka lahir.

Nama asli disimpan di dalam kotak kayu dan dikubur di ladang belakang rumah.

Tidak ada yang boleh membukanya.

Katanya, nama asli terlalu jujur. Terlalu tepat menggambarkan siapa kita sebenarnya.

Aku lahir di desa itu, tetapi selalu penasaran dengan kotak kayu milikku.

Suatu malam, aku menggali tanah itu.

Kotaknya kecil. Terkunci rapat. Namun, mudah dibuka.

Di dalamnya hanya ada secarik kertas.

Tertulis satu kata: Pengecut.

Tanganku gemetar.

Aku merasa marah. Tersinggung. Tidak terima.

Akan tetapi, semakin kupikir, semakin kata itu terasa mengganggu karena terlalu dekat dengan kenyataan.

Besoknya, aku melihat orang-orang desa berjalan seperti biasa, memanggil satu sama lain dengan nama yang sopan dan netral.

Aku sadar, konflik di desa ini bukan soal nama melainkan soal bagaimana kita semua hidup memakai nama yang nyaman, sementara kebenaran tentang diri kita dikubur rapi.

•••

Kantor Pos yang Mengirim Surat ke Diri Sendiri di Masa Lalu


Kantor pos itu hanya melayani satu jenis kiriman: surat ke masa lalu.

Syaratnya sederhana: tulis penyesalan terbesar Anda, pilih tanggal di masa lalu, dan mereka akan mengirimkannya.

Aku menulis panjang sekali. Tentang keputusan-keputusan bodoh. Tentang kata-kata yang salah. Tentang orang-orang yang hilang.

Petugasnya membaca sekilas, lalu bertanya, “Anda yakin ingin mengirim ini?”

“Tentu. Supaya aku yang dulu tidak melakukan kesalahan yang sama.”

Petugas itu menggeleng pelan.

“Surat ini tidak akan mengubah masa lalu.”

“Lalu untuk apa dikirim?”

“Supaya Anda sadar: Anda hanya ingin mengirim surat ini karena sekarang Anda sudah tahu akibatnya.”

Aku terdiam.

Ia melanjutkan, “Orang di masa lalu itu tidak punya pengetahuan yang Anda miliki sekarang. Kalaupun surat ini sampai, ia tetap akan membuat pilihan yang sama.”

Aku keluar tanpa mengirim surat.

•••

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

BETAWOL