8 Gram

Dokter memberi tahu aku bahwa aku hanya punya waktu delapan menit untuk hidup. Namun jam di dinding rumah sakit menunjukkan pukul 09.17, dan delapan menit kemudian, pukul 09.25, aku masih bernapas. Lalu pukul 10.00. Lalu pukul 12.00. Lalu tiga hari kemudian.

Aku tidak mati.

Yang mati adalah meja di samping ranjangku.

Meja itu—meja kayu murah dengan cat putih mengelupas—tiba-tiba roboh. Tidak ada yang menyentuhnya. Tidak ada angin. Tidak ada gempa. Kayunya lapuk dalam sekejap, seperti meja itu sudah berusia seribu tahun dan baru memutuskan untuk menyerah.

Perawat yang masuk untuk mengecek tensiku hanya diam. Lalu dia menulis sesuatu di buku catatannya tanpa berkata apa-apa. Wajahnya pucat. Bukan karena takut, melainkan seperti dia baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

"Apa yang terjadi?" tanyaku.

Dia tidak menjawab. Dia hanya mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah pesan singkat dari dokter yang merawatku:

"Pasien di ruang 207 jangan diberi tahu apa pun tentang waktu kematiannya. Dia tidak akan mati. Yang di sekitarnya yang akan mati."

---

Aku dipindahkan ke ruang isolasi. Bukan karena aku menular, melainkan karena setiap kali aku tidak mati pada waktu yang seharusnya aku mati, sesuatu di sekitarku mati sebagai gantinya.

Hari pertama: meja.

Hari kedua: lampu di atas ranjangku padam. Bukan bolanya putus. Lampu itu mati seperti benda yang kehabisan nyawa. Padahal lampu tidak punya nyawa.

Hari ketiga: tanaman dalam pot di sudut ruangan layu dalam satu jam. Daunnya menguning, lalu cokelat, lalu menjadi debu.

Hari keempat: seekor tikus yang bersembunyi di balik lemari ditemukan mati. Tidak ada luka. Tidak ada racun. Tikus itu hanya ... berhenti.

Hari kelima, perawat yang merawatku—perempuan muda bernama Sari, yang setiap pagi selalu menyapaku dengan senyum yang sama—tidak masuk kerja. Aku bertanya kepada perawat lain. Mereka hanya diam. Namun dari balik pintu, aku mendengar bisikan:

"Jantungnya berhenti tadi malam. Tidak ada riwayat penyakit. Umur 26 tahun. Sehat."

Aku menutup mata.

Aku tidak ingin mati, tetapi aku juga tidak ingin menjadi pusat kematian bagi semua yang berada di dekatku.

---

Seorang profesor fisika datang ke ruanganku pada hari ketujuh. Dia tidak memakai jas dokter. Dia memakai kemeja flanel merah dan celana jin yang sobek di lutut. Matanya cekung, seperti orang yang sudah lama tidak tidur.

"Nama saya Budi," katanya. "Saya peneliti dari universitas. Saya di sini untuk mempelajari ... fenomena Anda."

"Fenomena?"

"Setiap manusia, secara teoretis, memiliki 'sisa waktu' yang melekat pada tubuh mereka. Seperti massa. Seperti energi. Waktu adalah zat. Dan Anda—Anda kehilangan kemampuan untuk mengonsumsi waktu Anda sendiri. Jadi, tubuh Anda menarik waktu dari lingkungan terdekat. Makhluk hidup, benda mati, apa pun yang memiliki 'usia'—Anda menariknya."

"Jadi, saya ... vampir waktu?"

Profesor Budi tertawa, tetapi tawanya pahit. "Vampir waktu membutuhkan darah. Anda tidak membutuhkan apa pun. Anda hanya ada. Dan keberadaan Anda adalah bencana bagi segala sesuatu yang memiliki batas waktu."

"Bisa disembuhkan?"

Dia diam. Lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku jaketnya. Di halaman pertama, tertulis satu angka:

8

"Apa itu?" tanyaku.

"Dosis harian Anda. Delapan menit. Delapan menit waktu hidup yang seharusnya Anda habiskan, tetapi Anda tidak habiskan. Setiap hari, Anda kelebihan delapan menit. Dan delapan menit itu harus diambil dari tempat lain. Dari meja. Dari lampu. Dari tikus. Dari perawat."

"Jadi, kalau saya mati dalam delapan menit ...."

"Maka semua akan normal. Meja akan tetap berdiri. Lampu akan tetap menyala. Sari—perawat itu—akan tetap hidup."

"Namun dokter bilang saya tidak akan mati."

"Karena delapan menit Anda sudah lewat. Tubuh Anda sudah melewati ambang kematian. Sekarang Anda tidak punya jatah mati. Anda akan hidup selamanya. Dan setiap hari, Anda akan membunuh delapan menit dari sesuatu atau seseorang di sekitar Anda."

---

Aku keluar dari rumah sakit pada hari kesepuluh. Bukan karena sembuh, melainkan karena rumah sakit itu mulai kehilangan pasien. Bukan pasien yang meninggal karena sakit, melainkan pasien yang tiba-tiba sehat, lalu meninggal keesokan harinya tanpa sebab. Seperti tubuh mereka menyerah pada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Profesor Budi mengantarku pulang. Di dalam mobil, dia bilang, "Saya menemukan sesuatu. Di rekam medis Anda, ada kejanggalan. Dua puluh tujuh tahun yang lalu, saat Anda lahir, ibu Anda dinyatakan meninggal saat melahirkan. Namun kemudian dia hidup kembali. Dokter bilang itu keajaiban."

"Ibu saya?"

"Dia meninggal tiga menit. Lalu jantungnya berdetak lagi. Tiga menit. Dan Anda—Anda lahir dengan berat 2,8 kilogram. Tiga menit, 2,8 kilogram. Angka-angka itu tidak acak."

"Maksudnya?"

"Waktu yang ibu Anda curi dari kematian ternyata berpindah ke Anda. Tiga menit. Akan tetapi dalam perjalanannya, tiga menit itu membelah diri. Menjadi delapan menit. Delapan menit setiap hari. Matematika waktu tidak sama dengan matematika biasa."

"Jadi, ibu saya ...."

"Ibu Anda sekarang sehat. Namun setiap hari, ketika Anda kelebihan delapan menit, dia kehilangan delapan menit dari umurnya. Dia tidak mati lebih cepat. Akan tetapi dia ... menghilang. Sedikit demi sedikit. Seperti cat yang luntur."

Aku teringat sesuatu. Tiga bulan terakhir, setiap kali aku bertemu ibu, dia tampak lebih pudar. Bukan kurus. Bukan sakit. Melainkan seperti fotokopian-fotokopian—semakin lama semakin buram, semakin tidak jelas, semakin seperti hantu yang lupa bahwa dia pernah menjadi manusia.

---

"Saya punya teori lain," kata Profesor Budi. Kami sudah sampai di depan rumahku. Rumah itu tampak sama seperti biasa. Namun di pagar depan, tanaman rambat yang kemarin masih hijau sekarang menguning.

"Apa?"

"Delapan menit itu tidak harus jatuh secara acak. Anda bisa mengarahkannya. Jika Anda fokus kepada seseorang atau sesuatu, delapan menit itu akan tertuju kepada mereka. Bukan menyelamatkan Anda, melainkan memindahkan beban."

"Jadi, saya bisa memilih siapa yang mati?"

"Bukan mati. Kehilangan waktu. Delapan menit sehari. Jika Anda mengarahkannya pada pohon, pohon itu akan cepat tua. Jika Anda mengarahkannya pada batu, batu itu akan cepat lapuk. Jika Anda mengarahkannya kepada manusia ...."

"Manusia akan kehilangan delapan menit umurnya setiap hari?"

"Tepat. Delapan menit sehari. 2.920 menit setahun. Kurang lebih dua hari. Setiap tahun, orang itu akan menua dua hari lebih cepat dari yang seharusnya. Tidak fatal. Namun dalam seratus tahun ...."

"Dia akan mati 200 hari lebih awal."

"Atau dia akan menjadi lebih cepat tua. Tergantung seberapa kuat tubuhnya."

Aku menatap tanganku. Delapan menit. Angka kecil. Akan tetapi angka kecil yang diulang setiap hari, tanpa henti, selamanya—itu bukan angka kecil lagi. Itu adalah siksaan. Untukku. Untuk semua orang di sekitarku.

"Jadi, satu-satunya cara," kataku pelan, "adalah mengarahkan delapan menit itu pada sesuatu yang tidak hidup. Agar tidak ada yang terluka."

"Benar. Namun semakin banyak benda mati yang Anda serap, semakin lama Anda hidup, semakin besar ... ruang kekosongan di sekitar Anda. Suatu hari, Anda akan tinggal di padang pasir. Tidak ada meja. Tidak ada lampu. Tidak ada tumbuhan. Tidak ada hewan. Hanya Anda. Dan delapan menit yang terus mencari tempat untuk jatuh."

---

"Kenapa Anda peduli kepada saya?" tanyaku tiba-tiba.

Profesor Budi terdiam. Wajahnya yang cekung itu tiba-tiba tampak lebih cekung. Seperti masker yang mulai meleleh.

"Karena," katanya pelan, "saya adalah kamu. Dari masa depan."

Aku tertawa. "Apa?"

"Saya adalah Anda. Namun Anda yang sudah hidup 60 tahun lebih lama. Anda yang sudah kehilangan segalanya. Anda yang sudah tinggal sendirian di gurun karena semua benda di sekitar Anda sudah mati. Anda yang kemudian menciptakan mesin waktu—bukan untuk mengubah masa lalu, melainkan untuk kembali ke saat ini dan memberi tahu diri Anda sendiri bahwa ada cara lain."

"Cara lain apa?"

"Delapan menit itu tidak harus dihabiskan untuk membunuh. Delapan menit bisa dihabiskan untuk ... memberi."

"Memberi apa?"

"Memberi waktu. Jika Anda fokus bukan pada menyerap, melainkan pada melepaskan—melepaskan delapan menit dari tubuh Anda ke lingkungan—maka Anda tidak akan mencuri. Anda akan memberi. Dan apa yang Anda berikan akan kembali kepada Anda dalam bentuk yang berbeda."

"Namun saya tidak tahu cara melepaskan."

Profesor Budi—aku dari masa depan—tersenyum. Senyum yang pahit, senyum yang sudah lama tidak digunakan. "Kamu akan belajar. Akan tetapi, kamu harus kehilangan semuanya dulu. Seperti aku."

"Kehilangan apa?"

"Semua. Rumah. Ibu. Teman. Nama. Bahkan bayangan. Sekarang aku hanya seonggok daging yang berjalan di antara debu. Namun aku masih memiliki delapan menit. Dan delapan menit itu, setiap hari, aku berikan pada angin. Pada pasir. Pada kehampaan. Dan kehampaan itu ... kehampaan itu mulai berbicara kepadaku. Dia bilang, 'Terima kasih. Aku tidak sendirian lagi.'"




6. Plot Twist Terakhir: Tidak Ada Delapan Menit. Yang Ada Hanya Kesepian yang Berwujud Waktu.

Profesor Budi menghilang. Tidak perlahan. Tidak dramatis. Dia hanya... tidak ada. Seperti dia tidak pernah datang. Seperti dia adalah halusinasi yang lahir dari keputusasaanku.

Tapi di mejaku, ada sebuah buku catatan. Buku catatan kecil dengan sampul cokelat. Di halaman pertama, tulisan tanganku sendiri—tapi tangan yang lebih tua, lebih gemetar:

"Delapan menit itu tidak nyata. Kamu tidak mencuri waktu dari siapa pun. Yang kamu curi adalah perhatian. Setiap hari, kamu punya delapan menit di mana kamu benar-benar hadir. Delapan menit di mana kamu tidak melamun, tidak khawatir, tidak tenggelam dalam kepalamu sendiri. Delapan menit hadir seutuhnya. Dan ketika kamu hadir, dunia di sekitarmu mati—bukan karena kamu jahat. Tapi karena dunia tidak terbiasa dengan kehadiran yang sesungguhnya. Dunia terbiasa dengan manusia yang setengah ada. Kamu terlalu nyata. Dan kenyataanmu membakar mereka."

Aku membaca ulang. Lalu membaca lagi. Lalu meletakkan buku itu di pangkuan.

Di luar jendela, matahari terbenam. Warna jingga. Seperti biasa. Tapi tidak biasa. Karena untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihatnya. Bukan sekadar memandang. Tapi melihat.

Delapan menit.

Mungkin ini yang dimaksud. Bukan kutukan. Bukan penyakit. Tapi kesadaran. Kesadaran bahwa selama ini aku hidup dalam mode tidur. Dan sekarang, untuk delapan menit setiap hari, aku bangun.

Dan segala sesuatu di sekitarku mati karena mereka tidak bisa mengikuti intensitas seorang manusia yang benar-benar hidup.

Epilog:

Sekarang, setiap pagi, aku bangun dan memilih.

Aku bisa menggunakan delapan menit itu untuk hadir sepenuhnya—dan melihat dunia di sekitarku layu, tua, mati.

Atau aku bisa menggunakan delapan menit itu untuk tidur lagi—dan membiarkan dunia tetap hidup, tapi aku tidak pernah benar-benar merasakannya.

Pilihan yang sulit.

Tapi setiap hari, aku memilih yang pertama.

Bukan karena aku kejam.

Tapi karena lebih baik menjadi api yang membakar selama delapan menit daripada menjadi abu yang tidak pernah hangat.

Di ruang rumahku yang sekarang hampir kosong—meja sudah lapuk, lampu sudah padam, tanaman sudah mati, tikus-tikus sudah pergi—aku duduk di lantai. Tanpa kursi. Tanpa apa pun.

Hanya aku.

Dan delapan menit.

Dan di luar jendela, matahari terbit.

Dan untuk delapan menit berikutnya, aku adalah manusia paling hidup di dunia yang mati.

Karena aku memilih untuk menjadi.

Sekeras itu.

Senyata itu.

Sesingkat itu.

Delapan menit.

Selamanya.

Komentar