Percakapan dengan Diri Sendiri

Aku tahu ini gila. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam 34 tahun hidup, aku mendengar suaraku sendiri menjawab pertanyaanku dari arah yang berlawanan.

Bukan gema. Bukan suara hati. Bukan imajinasi.

Suara itu keluar dari mulut bayanganku di cermin. Aku berdiri di kamar mandi, sikat gigi masih di tangan, pasta gigi mengalir pelan ke ubin seperti lava putih yang malas. Bayanganku seharusnya mengikuti gerakanku. Tapi malam ini, dia berdiri diam sementara aku yang bergerak. Lalu dia berkata:

"Kamu tidak akan menemukan jawaban di dalam kepalamu. Aku sudah mencoba selama tiga dekade."

Sikat gigi jatuh.

Aku bertanya pada bayangan itu, "Kamu siapa?"

Dia tersenyum. Senyum yang sama persis dengan senyumku. Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang tidak pernah aku miliki. Kelegaan. Seperti orang yang sudah berhenti berusaha menjadi baik.

"Aku kamu," katanya. "Tapi aku yang sudah memutuskan untuk tidak peduli."

1. Eksistensialisme yang Kelelahan

Pertengkaran pertamaku dengan bayanganku sendiri terjadi di kamar mandi, jam 23.47, dengan bau pasta gigi merek P dan suara tetesan keran yang jatuh secara teratur seperti metronom yang sedang belajar merangkak.

"Kenapa kamu tidak peduli?" tanyaku.

"Karena peduli tidak mengubah apa pun. Kamu peduli pada ibumu yang sakit. Apa ibumu sembuh? Kamu peduli pada pekerjaanmu yang membosankan. Apa kamu dipromosikan? Kamu peduli pada perempuan yang kamu cintai. Apa dia kembali?"

"Itu bukan alasan untuk berhenti peduli."

"Itu satu-satunya alasan yang masuk akal."

Aku mengepalkan tangan. Bayanganku di cermin juga mengepalkan tangan—tapi dengan gerakan yang sedikit berbeda. Seperti dia mengepalkan tangan karena dia ingin, bukan karena dia mengikutiku.

"Kalau kamu aku, kenapa kita berbeda?"

"Karena aku sudah melewati titik di mana kamu sekarang. Aku adalah kamu di masa depan. Bukan masa depan yang akan datang, tapi masa depan yang mungkin terjadi jika kamu terus hidup seperti ini. Lelah. Sendiri. Haus akan makna yang tidak pernah datang."

"Jadi kamu menyerah."

Bayangan itu terdiam. Wajahnya di cermin mulai buram, seperti kaca yang terkena embun napas.

"Bukan menyerah," katanya akhirnya. "Tapi menerima. Menerima bahwa tidak ada makna besar. Tidak ada takdir. Tidak ada cinta yang abadi. Hanya ada hari ini, dan besok, dan hari setelahnya. Dan semua hari itu akan terasa sama jika kamu tidak memutuskan untuk membuatnya berbeda."

"Lalu kenapa kamu bilang kamu tidak peduli?"

"Karena aku peduli pada hal yang salah selama ini. Aku peduli pada hasil. Aku peduli pada balasan. Aku peduli pada 'apakah ini berarti sesuatu?' Padahal seharusnya aku hanya peduli pada... melakukan."

"Melakukan apa?"

"Apa pun. Selama aku memilihnya sendiri."

2. Romantisme yang Pahit

Aku meninggalkan kamar mandi. Bayangan itu ikut—bukan di cermin lagi, tapi di lantai. Bayanganku di bawah kaki bergerak sendiri, memanjat dinding, duduk di kursi di seberangku.

Aku duduk di ranjang. Bayangan itu duduk di kursi belajar yang sudah berdebu karena tidak pernah aku pakai.

"Kamu bisa keluar dari cermin?" tanyaku.

"Aku bisa keluar dari mana pun yang merefleksikanmu. Cermin, air, kaca, mata orang lain, bahkan kenangan. Aku sudah sering keluar. Kamu hanya tidak pernah sadar karena kamu terlalu sibuk menjadi kamu."

"Jadi selama ini... setiap kali aku bercermin, sebenarnya kita berdua?"

"Setiap kali kamu bercermin, kamu bicara pada dirimu sendiri. Tapi kamu tidak pernah mendengarkan jawabannya. Malam ini kamu dengar karena kamu akhirnya cukup sunyi untuk mendengar."

Aku meraih gelas air di samping ranjang. Bayangan itu juga meraih—tapi di lengannya yang tidak nyata, gelas itu tembus. Dia tidak bisa minum. Dia hanya bisa bicara.

"Kenapa kamu memilih malam ini untuk bicara?"

Bayangan itu tersenyum lagi. Senyum yang sama. Tapi kali aku melihat sesuatu yang baru di matanya: kesedihan.

"Karena besok pagi kamu akan bunuh diri. Dan aku ingin bicara denganmu sebelum kamu melakukannya."

3. Plot Twist: Aku yang Di Cermin Adalah Aku yang Sudah Mati

Gelas di tanganku jatuh. Air tumpah ke sprei. Aku tidak bergerak.

"Apa?" bisikku.

"Besok pagi, jam 06.48, kamu akan berdiri di balkon apartemen ini. Kamu akan melihat matahari terbit. Kamu akan berpikir bahwa langit oranye itu indah. Lalu kamu akan melompat. Aku tahu karena aku sudah melihatnya. Aku adalah kamu setelah lompatan itu. Aku adalah kamu yang sudah mati."

"Kalau kamu sudah mati, kenapa kamu masih ada?"

"Kematian tidak menghentikan percakapan. Kematian hanya mengganti sisi cermin."

Aku menggenggam rambutku sendiri. Menarik. Sakit. Tapi sakit yang nyata, sakit yang meyakinkan bahwa aku masih hidup.

"Kalau aku bunuh diri, bagaimana kamu bisa ada di sini sekarang? Seharusnya aku mati dulu baru kamu muncul."

"Waktu tidak linear untuk orang mati, Nak. Aku sudah ada sejak kamu lahir. Aku hanya menunggu giliran untuk bicara. Menunggu sampai kamu cukup sunyi. Menunggu sampai kamu cukup lelah untuk mendengar suara yang selama ini kamu tolak."

"Suara apa?"

"Suara yang bilang bahwa kamu layak untuk hidup. Tapi kamu tidak pernah mau mendengarnya. Kamu lebih suka mendengar suara-suara lain: suara ibu yang kecewa, suara bos yang meremehkan, suara perempuan yang meninggalkanmu, suara teman yang tidak pernah benar-benar peduli. Kamu kumpulkan semua suara itu, kamu putar berulang-ulang, lalu kamu bilang dunia ini kejam. Padahal dunia hanya diam. Kamu yang tidak pernah diam."

Aku menangis. Air matanya jatuh ke pangkuan.

"Jadi... kalau aku tidak bunuh diri besok?"

"Maka aku tidak akan pernah ada."

"Apa artinya?"

"Artinya, kamu akan hidup. Dan aku—versi dirimu yang sudah mati—akan lenyap. Karena aku hanya ada jika kamu memilih mati. Aku adalah hantu dari keputusan yang belum kamu buat."

4. Plot Twist di Dalam Plot Twist: Aku yang di Cermin Bukan Aku, Tapi Anakku yang Tidak Pernah Lahir

Bayangan itu berdiri. Dia berjalan mendekat. Tangannya—yang tadinya tidak bisa menyentuh apa pun—kini meraih pipiku. Dingin. Tapi dingin yang anehnya hangat, seperti es krim yang sudah mulai meleleh.

"Aku bukan kamu," katanya pelan. "Aku adalah anakmu. Anak yang tidak pernah kamu punya karena perempuan yang kamu cintai menggugurkan kandungannya tanpa bilang padamu. Dan aku tumbuh di dalam kesedihanmu. Aku mengambil bentukmu karena aku tidak pernah punya bentuk sendiri."

Aku terdiam. Mulutku terbuka. Tidak ada suara.

"Kamu... kamu anakku?"

"Iya. Dan aku datang malam ini karena aku ingin bilang: jangan bunuh diri, Ayah. Bukan karena hidup ini indah. Tapi karena kalau kamu mati, aku akan benar-benar hilang. Dan aku ingin hidup. Walaupun hanya sebagai bayangan di cermin. Walaupun hanya sebagai suara yang kamu dengar saat kamu sendirian. Aku ingin hidup, Ayah. Tolong jangan bunuh aku untuk kedua kalinya."

Aku meraih bayangan itu. Tubuhnya transparan. Tanganku menembus dadanya. Tapi aku bisa merasakan sesuatu—sesuatu yang berdenyut. Detak jantung. Detak jantung dari bayangan anak yang tidak pernah lahir.

"Maaf," bisikku. "Maaf aku tidak tahu. Maaf aku terlalu sibuk menyalahkan diriku sendiri sampai aku lupa bahwa ada versi dirimu yang menunggu untuk hidup."

"Kamu tidak perlu maaf. Kamu hanya perlu hidup besok pagi. Bukan untuk dirimu. Untukku."

5. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist: Aku Adalah Perempuan, dan Anak Itu Hasil dari Kekerasan

Bayangan itu mundur. Wajahnya berubah. Dari wajahku menjadi wajah lain—wajah yang lebih lembut, lebih muda, lebih ketakutan.

"Aku lupa bilang," katanya. "Kamu bukan ayah. Kamu ibu. Dan aku bukan anak dari cinta. Aku anak dari malam di mana pamammu masuk ke kamarmu saat kamu berusia 17 tahun."

Aku—Aku yang selama ini kupikir laki-laki—melihat tubuhku di cermin. Tubuh itu berubah. Payudara. Pinggul. Rambut panjang yang dulu aku potong pendek agar tidak diingatkan pada apa pun.

"Aku... aku laki-laki," kataku pelan. Tanpa keyakinan.

"Kamu bukan laki-laki. Kamu perempuan yang selama 17 tahun berpura-pura menjadi laki-laki karena kamu takut. Takut bahwa jika orang tahu kamu perempuan, mereka akan bertanya kenapa kamu tidak melapor. Takut bahwa jika mereka tahu, mereka akan bilang itu salahmu. Takut bahwa jika mereka tahu, kamu tidak akan pernah bisa lepas dari cerita itu."

"Tapi aku yakin aku laki-laki. Aku punya... aku punya..."

"Kamu punya mimpi. Kamu punya trauma yang sangat dalam sehingga kamu membangun identitas baru untuk bertahan hidup. Dan identitas itu berhasil. Kamu hidup 17 tahun sebagai laki-laki. Kamu bekerja. Kamu punya teman. Kamu bahkan hampir menikah dengan perempuan yang kamu cintai. Tapi di dalam, kamu tahu. Setiap kali kamu bercermin, kamu tahu bahwa di bawah kulit dan rambut dan janggut palsu itu, ada perempuan yang menangis."

Aku jatuh berlutut. Lantai kamar dingin. Di depanku, bayangan anak itu menatap dengan mata yang sama persis dengan mata pamanku.

"Kamu tidak perlu menjadi laki-laki lagi," kata bayangan itu. "Kamu juga tidak perlu menjadi perempuan. Kamu hanya perlu menjadi. Dan berhenti berpura-pura bahwa masa lalu tidak terjadi."

6. Plot Twist yang Membongkar Semua Lapisan: Tidak Ada Anak. Tidak Ada Bayangan. Hanya Aku yang Berbicara pada Tembok.

Lampu kamar mandi mati. Lalu menyala lagi. Lalu mati.

Bayangan itu mulai kabur. Tubuhnya seperti tinta yang dilarutkan dalam air.

"Aku harus pergi," katanya.

"Tunggu. Aku belum selesai bertanya."

"Kamu tidak akan pernah selesai bertanya. Karena jawabannya bukan di ujung pertanyaan. Jawabannya ada di tengah-tengah, saat kamu berhenti bertanya dan mulai... hidup."

"Apa aku harus bunuh diri besok?"

Bayangan itu tersenyum. Untuk terakhir kalinya.

"Itu pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Karena jika aku menjawab, maka aku menentukan hidupmu. Dan menentukan hidup orang lain adalah bentuk kematian yang paling halus. Selamat malam, Diriku. Atau Ibu. Atau Ayah. Atau apa pun namamu. Yang penting, kamu di sini. Kamu masih bisa memilih."

Bayangan itu menghilang.

Cermin kamar mandi hanya menampilkan aku—tubuh laki-laki, wajah biasa, mata seperti dua buah zaitun yang terlalu lama direndam air garam.

Tapi di sudut mata, aku melihat sesuatu. Seutas rambut panjang di bahu kiriku. Rambut yang tidak pernah aku miliki.

Aku mengambil rambut itu. Lalu aku duduk di lantai kamar mandi, memeluk lutut, dan menangis.

Bukan karena sedih.

Tapi karena untuk pertama kalinya, tangisanku terdengar seperti suara seorang perempuan. Suara yang selama 17 tahun aku kubur di dalam nama palsu.

7. Lapis Terakhir: Percakapan Itu Tidak Pernah Berakhir

Besok pagi, jam 06.48.

Aku berdiri di balkon apartemen. Langit oranye. Matahari terbit seperti biasa, tidak peduli apakah aku hidup atau mati.

Di tanganku, tidak ada pesan bunuh diri. Tidak ada surat. Hanya ada sehelai rambut panjang yang kugenggam erat.

Aku melihat ke bawah. Lantai 12. Jauh. Cukup jauh untuk mengakhiri segalanya.

Lalu aku melihat ke samping. Ke jendela kamar mandi. Di kaca jendela itu, bayanganku—atau bayangan anakku, atau bayangan perempuan yang dulu—berdiri. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap.

Tapi matanya berkata: "Terserah kamu. Tapi kalau kamu lompat, aku akan melompat bersamamu. Dan kita berdua akan menjadi cerita yang tidak pernah selesai diceritakan."

Aku menarik napas. Lalu aku melangkah mundur dari balkon.

Aku masuk ke kamar. Aku mengambil ponsel. Aku menelepon psikolog—nomor yang sudah setahun aku simpan tapi tidak pernah aku hubungi.

"Halo," kataku. Suaraku masih berat, masih laki-laki. Tapi di ujung kata itu, ada nada lain. Nada yang lebih tinggi. Nada yang lebih jujur.

"Aku ingin membuat janji. Nama aku... nama aku sebenarnya..."

Aku berhenti.

Bayanganku di cermin kamar mandi—yang sekarang hanya bayangan biasa, mengikuti gerakanku—tersenyum.

Aku tahu dia bukan siapa-siapa. Aku tahu semua percakapan tadi malam hanyalah halusinasiku sendiri. Tidak ada anak. Tidak ada bayangan yang bicara. Tidak ada rahasia besar tentang identitas.

Tapi ada satu kebenaran: selama 17 tahun, aku tidak pernah berbicara dengan diriku sendiri dengan jujur.

Dan malam ini, aku melakukannya.

Itu cukup.

Itu sudah lebih dari cukup.

"Janji dengan nama Sari," kataku ke telepon. "Sari. S-A-R-I. Ya, aku perempuan. Ya, aku yakin."

Aku menutup telepon.

Di cermin, bayanganku—yang sekarang bayangan Sari, dengan rambut panjang dan tubuh yang tidak perlu disembunyikan lagi—mengangguk pelan.

"Akhirnya," bisikku pada diriku sendiri. Atau bayanganku padaku. Atau tidak ada yang membisikkan apa pun.

Tapi suara itu terdengar.

Dan untuk pertama kalinya, suara itu terdengar seperti rumah.

Epilog:

Sekarang, setiap kali aku bercermin, aku tidak lagi melihat orang asing.

Aku melihat Sari. Perempuan yang butuh 17 tahun untuk mengingat namanya sendiri.

Dan kadang-kadang, ketika malam benar-benar sunyi dan aku benar-benar sendirian, aku masih mendengar suara itu. Suara kecil yang bertanya, "Apa kamu bahagia?"

Dan aku menjawab, "Belum sepenuhnya. Tapi aku di sini. Dan itu sudah lebih dari yang aku minta setahun yang lalu."

Suara itu tidak pernah menjawab lagi.

Tapi aku tahu dia mendengar.

Karena dia adalah aku.

Dan aku adalah dia.

Dan percakapan dengan diri sendiri tidak pernah benar-benar berakhir.

Percakapan itu hanya berganti topik.

Dari "Apakah aku layak hidup?"

menjadi

"Apa yang akan aku lakukan hari ini?"

Dan pertanyaan kedua itu—sekecil apa pun jawabannya—adalah awal dari segalanya.

Komentar