BALADA KUSNI KASDUT

I
(Untuk yang mencuri karena revolusi tak membagi hasilnya)

Tidak pernah ada tempat yang cukup luas untuk menampung rasa kecewa seorang pejuang. Aku adalah tubuh yang pernah mencium bau mesiu dan menyebutnya kemerdekaan. Namun setelah itu, aku mencium nasi basi dari dapur rakyat yang tak sempat diurus Negara.

Mereka mengangkat tangan ketika "Merdeka!" diteriakkan dengan lantang, lalu menurunkannya saat perut meminta penjelasan. Dan aku—yang pernah menenteng senapan di ladang revolusi, kini dituduh membawa pistol hanya karena lapar punya suara yang tak bisa dibungkam oleh upacara bendera.

Aku mencuri. Bukan karena rakus, melainkan karena Republik ini selalu diam saat aku meminta keadilan. Aku tidak tahu kenapa pahlawan diangkat dari buku tetapi ditinggal dari dapur.

Aku mencuri emas dan kubagi ke petani karena sawah mereka lebih jujur dari pidato penguasa. Mereka menyebutku kriminal karena aku menolak miskin di dalam keheningan. Akan tetapi, mereka lupa bagaimana negeri ini dibangun dari tangan-tangan yang pernah dibayar dengan janji dan peluru.

Maka, lihatlah aku di hadapan regu tembak. Bukan sebagai bandit, melainkan sebagai kalimat yang tak sempat diselesaikan sejarah sebuah bangsa.

"O, tangan yang pernah membela
dan kini memegang pistol karena kecewa."

Pandanglah aku, sebab dari darahku engkau akan melihat betapa kadang Negara lupa membawa pulang orang-orang yang ikut berjuang.


II
(Untuk rakyat yang pernah dia beri emas curian)

Aku menulis ini dengan sisa tinta di kuku dan jendela kecil yang tidak mengizinkan cahaya  menamai harapan. Aku bukan pahlawan, tetapi juga bukan bajingan. Aku hanya laki-laki yang berdiri di garis api dan melihat negaranya mundur dari janji.

Dulu aku mencuri karena tidak tahu cara berbicara pada Negara yang sudah tuli. Kini aku diam karena tahu penjara lebih adil daripada dunia.

Kusni, namaku masih tertulis di hati beberapa petani yang anaknya bisa sekolah karena aku ambil emas dari laci orang yang tak pernah menanam apa-apa. Maka, jika kelak kau sebut aku penjahat, seret juga siapa yang pertama mencuri dari rakyat.


III
(Kusni berbicara kepada dirinya sendiri di sel yang gelap)

Kita pernah berjanji pada kemerdekaan dengan peluru di dada dan puisi di kepala. Namun negeri ini hanya ingat barisan pahlawan yang wafat di upacara. Bukan yang mencuri karena melihat istri tetangga menjual rambut demi bubur.

Kita ingin menulis sejarah tetapi diberi nota penangkapan. Kita ingin ikut upacara, tetapi dikawal sebagai tahanan.

Kau tahu, Kusni, kita tidak pernah kalah. Kita hanya tidak diundang ke pesta yang kita bantu dirikan.


IV
(Suara Kusni pada senja terakhirnya di sel)

Sesudah semua orang pergi, tinggal aku dan bayanganku sendiri.

Ia bertanya:
"Kau masih ingat alasan pertama kenapa kau genggam pistol?"

Aku jawab:
"Karena mulut terlalu lambat untuk menjelaskan rasa lapar."

Di luar, hujan turun seperti pengampunan yang datang terlambat. Sementara aku di sini, sendirian bersama sejarah yang tidak pernah mengingat dengan benar. Sejarah yang melulu melangkah ke arah yang salah.


V
(Diselipkan Kusni di balik kerah bajunya, tak pernah ditemukan)

Yang Mulia, sebelum kau vonis tubuhku, izinkan aku berbicara, tidak sebagai terdakwa, tetapi sebagai sisa. Aku bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang bertanya, mengapa keadilan harus dilamar pakai dasi?

Aku pernah menolak jadi tukang ngibul yang kerja di kantor menstempel angka dan meniduri mimpi orang lain. Maka, aku pilih jalan yang kasar, karena jalan yang sopan hanya untuk mereka yang mewarisi dan diwarisi kursi.

Kau sebut aku berbahaya. Akan tetapi lihatlah, aku hanya seseorang yang tak punya cara untuk mencintai Negara kecuali dengan cara yang tak kalian ajarkan.

Aku menyesal tak sempat mengatakan bahwa revolusi tidak hanya butuh ideologi, tetapi juga roti. Bahwa pistol yang kupegang bukan demi kekuasaan melainkan demi perut yang kelaparan. Dan bahwa keadilan tak dapat menunggu di ruang rapat. Ia harus digenggam meski lewat cara yang dilarang.

Jika aku diberi satu hari lagi, aku ingin kembali bukan untuk mencuri, melainkan untuk bertanya kepada mereka yang menyebutku penjahat:

"Apakah kalian kenyang saat kami kelaparan?"

Dan jika kalian menjawab jujur, beranikah kalian membiarkan peluru memberi jawaban?


VI
(Suara dari tubuh yang akan diakhiri oleh Negara)

Tuhanku, jika aku mati siang ini, jangan jadikan aku martir, tetapi jadikan aku bukti bahwa tidak semua pemberontak bermula dari dendam. Kadang hanya dari lapar dan rasa dipinggirkan.

Beri aku satu embusan sebelum peluru datang untuk menyebut ibu yang menangisi nasibku. Bukan karena aku salah, melainkan karena negeri ini terlalu rajin membuat pengorbanan dari mereka yang tak diundang.

Aku tidak ingin dikenang hanya dari berita atau arsip kelam. Akan tetapi dari satu lambaian tangan kecil di ladang yang masih tahu siapa itu Kusni dan mengapa ia lebih memilih pistol daripada bungkam.

Amin.


VII
(Suara dari rakyat kecil yang mengenangnya)

Kami tak tahu pasti wajahnya seperti apa. Akan tetapi, setiap kali truk aparat lewat dan kami sembunyikan anak-anak, kami teringat kepadanya. Kusni, bukan nama di buku, melainkan nama di balik bungkus nasi yang dulu datang dari amplop tanpa alamat.

Dulu, katanya, ia bekas tentara lalu jadi pencuri. Namun bagi kami, semua itu cuma pakaian yang berganti sementara perut kami tetap menuntut keadilan.

Tak usah tugu, cukup biarkan kami mengingatnya tanpa malu. Karena kami tahu, Negara tak pernah memberi kecuali setelah seseorang benar-benar mati.

Sukabumi, 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BETAWOL