Postingan

Menampilkan postingan dengan label Regi Kamadhatu

ORANG YANG TAK PERNAH MASUK BUKU PELAJARAN

ORANG YANG TAK PERNAH MASUK BUKU PELAJARAN Ia bukan tokoh nasional, tak pernah duduk di barisan depan saat kemerdekaan dibacakan Namun setiap pukul empat pagi, ia bangun merebus air untuk pejuang, menyembunyikan surat di bawah tikar Ia tidak tahu ideologi Hanya tahu lapar dan bahwa diam bisa berubah menjadi dendam Setelah perang, ia kembali ke pasar menjual singkong dan luka lama Suaminya hilang, anaknya dipanggil "sisa PKI", dan namanya tidak pernah disebut di sekolah Namun negeri ini berdiri di atas punggung orang-orang sepertinya yang tidak pernah diberi halaman di buku pelajaran. Sukabumi, 2020

STOPLES GULA

STOPLES GULA Di dapur sederhana Mak Ijah, ada stoples gula kaca yang selalu terasa lebih berat daripada isinya. Bukan gula yang menambah beban, melainkan serpihan kebahagiaan kecil yang tidak pernah sempat dinikmati— tawa yang tertunda, pelukan yang pupus, pujian yang tak jadi diucapkan, mimpi yang harus ditahan demi membayar listrik. Ketika Mak Ijah membuat teh, kadang ia merasakan air matanya jatuh tanpa sedih. Itu bukan tangisnya— itu adalah kebahagiaan yang tersimpan, yang akhirnya menemukan cara untuk keluar sebagai manis yang lembut. Orang-orang yang minum teh di rumahnya sering bilang rasanya "menguatkan", seolah ada sesuatu yang kembali ke dada mereka. Stoples itu tidak pernah penuh, tetapi tidak juga kosong. Karena kebahagiaan yang tertunda selalu datang lebih dulu ke tempat yang tahu cara merawatnya. Sukabumi, 2020

HANYA KATA

HANYA KATA untuk Lutfi Mardiansyah I Aku tahu, kau sangat suka menulis puisi maka kuberikan tinta palsu, pena dengan ujung buntu, dan kertas yang selalu menolak kata pertama Tulislah, puisi tentang kopi, tentang sepi, tentang ibu, tentang mati, tentang kucing yang percaya reinkarnasi, tentang cinta yang menjadi tanda tanya, tentang bocah kecil yang memakan peta dunia Aku tahu kau sangat suka menulis puisi, maka kutawarkan kata-kata mentah, —belum direbus, belum dipoles, belum dikirim ke kurator— kata-kata seperti: surat tanpa alamat, lampu meja belajar, buku bekas, suara hujan, sepatu tua, tumpukan cucian kotor, kaleng biskuit Khong Guan berisi kenangan, Raisa menari di tengah kampanye capres, sumpah pocong Wiji Thukul, dan popok bayi yang dipakai Stephen Hawking Apa kau pikir itu bukan puisi? Itu puisi, kawan Itu kata-kata yang tak tahu harus menjadi apa Aku tahu, kau mencintai sunyi yang bernyanyi, maka susunlah kata-kata pelan-pelan Kau bedahlah satu-satu hingga kata "kekasih...