ORANG YANG PERNAH BERPERANG
ORANG YANG PERNAH BERPERANG
untuk pejuang yang dilupakan sejarah
I
Ia pulang tanpa sambutan
Hanya tanah yang basah
dan pintu rumah yang dipaku dari dalam
Karena ibu sudah lama wafat
dan istrinya
menikah dengan tetangga
Bajunya masih bau mesiu,
tetapi tak ada yang peduli
Karena perang telah usai
dan negara sibuk mencetak sertifikat
bagi mereka yang berseragam,
tetapi tak pernah menembak
Ia—yang dulu menahan nyawa
di antara peluru dan sumpah,
kini hanya jadi tukang kebun
di halaman gedung
yang dulu ikut ia bebaskan
II.
Setiap tanggal 17
ia berdiri di kejauhan
Menonton bendera naik
dengan kepala tegak
dan dada yang diam-diam gemetar
Ia hafal lagu kebangsaan
lebih dari hafal jadwal makan
Karena dulu ia menyanyikannya
di lubang persembunyian
Bersama teman-teman
yang kini hanya tinggal
di salib kayu kecil
tak berlabel
Anaknya bertanya:
“Bapak pernah jadi pahlawan?”
Dan ia hanya tersenyum
seperti orang yang tahu
bahwa menjadi pahlawan
tak selalu membuatmu dikenang
III.
Malam hari
ia menyalakan radio butut
dan mencatat nama-nama
yang disebut dalam pidato
Tak ada namanya
Tak pernah ada
Lalu ia tidur
di bawah foto lama
berbingkai retak
di mana ia dan empat kawannya
berdiri di tengah lumpur
membawa bendera
yang dijahit tangan sendiri
Pagi esoknya
ia bangun
membasuh wajah
dan berkata pada cermin:
“Aku tidak butuh monumen
cukup satu orang
yang masih ingat
aku pernah berperang.”
Sukabumi, 2020
Komentar
Posting Komentar