STOPLES GULA
STOPLES GULA
Di dapur sederhana Mak Ijah,
ada stoples gula kaca
yang selalu terasa lebih berat
daripada isinya.
Bukan gula yang menambah beban,
melainkan serpihan kebahagiaan kecil
yang tidak pernah sempat dinikmati—
tawa yang tertunda,
pelukan yang pupus,
pujian yang tak jadi diucapkan,
mimpi yang harus ditahan
demi membayar listrik.
Ketika Mak Ijah membuat teh,
kadang ia merasakan air matanya
jatuh tanpa sedih.
Itu bukan tangisnya—
itu adalah kebahagiaan yang tersimpan,
yang akhirnya menemukan cara
untuk keluar sebagai manis yang lembut.
Orang-orang yang minum teh di rumahnya
sering bilang rasanya "menguatkan",
seolah ada sesuatu yang kembali ke dada mereka.
Stoples itu tidak pernah penuh,
tetapi tidak juga kosong.
Karena kebahagiaan yang tertunda
selalu datang lebih dulu
ke tempat yang tahu cara merawatnya.
Sukabumi, 2020
Komentar
Posting Komentar