TUHAN DI DALAM BAHASA

PENGANTAR REFLEKTIF


Prolog: Tuhan di Dalam Bahasa

Barangkali yang paling sulit dari menulis tentang Tuhan adalah menyadari bahwa setiap kata yang digunakan untuk menyebut-Nya sudah lebih dulu gagal. Sebab, begitu nama-Nya diucapkan, bahasa segera retak oleh makna yang terlalu besar. Kata menjadi cermin yang pecah—memantulkan sedikit cahaya, tetapi tak pernah utuh menampung keabadian.

Saya menulis puisi-puisi ini bukan untuk menjelaskan Tuhan, melainkan untuk mendengar gema yang tersisa ketika nama-Nya diucapkan dengan ragu. Barangkali, iman yang sejati tidak berbunyi lantang, tetapi berbisik pelan di antara tanda baca.

Bahasa, betapapun indahnya, selalu terlambat dari makna. Ia berusaha meniru keabadian dengan bunyi yang fana. Maka, ketika puisi mencoba berbicara tentang Tuhan, sesungguhnya ia sedang menulis tentang keterbatasannya sendiri.

Setiap kata yang mencoba mendekati Tuhan selalu berisiko menjadi kekeliruan. Namun, mungkin justru di dalam kekeliruan itu, kita menemukan sejenis kejujuran: bahwa manusia tidak pernah benar-benar mampu menulis tentang yang Mahasempurna tanpa menodai-Nya dengan tata bahasa.

Tuhan yang Mencoba Tidur, Teologi Tanda Baca, Gramatika Ketuhanan, Tanda Seru Ilahi, dan Titik Akhir Penciptaan adalah upaya bermain di wilayah antara iman dan bahasa—antara wahyu dan diksi, antara dogma dan imajinasi.

Di sana, Tuhan bukan tokoh, melainkan metafora tentang keheningan yang berusaha menjadi makna. Dan manusia hanyalah pembaca yang tersesat di tengah kalimat yang tak pernah selesai.

Puisi-puisi di bawah ini tidak mengajarkan apa pun. Ia hanya mengajukan pertanyaan yang terlalu besar untuk dijawab, dan terlalu suci untuk diabaikan. Ia tidak dimaksudkan untuk mendefinisikan Tuhan, apalagi memperdebatkan kebenaran tentang-Nya. Yang ingin dicari justru sesuatu yang lebih samar—bagaimana bahasa, dengan segala keterbatasannya, berusaha menyentuh yang tak terucapkan.

Puisi-puisi ini lahir dari kesadaran akan keterbatasan itu—sebuah percobaan untuk melihat bagaimana bahasa bisa menjadi jendela sekaligus jeruji bagi yang tak terucapkan. Di dalamnya, Tuhan tidak hadir sebagai sosok dogmatis, tetapi sebagai fenomena linguistik yang hidup di antara kata dan diam, di antara tanda baca dan makna.

Keseluruhan puisi-puisi ini tidak bermaksud menggugat iman, melainkan menggugat cara manusia berbicara tentang iman. Sebab mungkin yang ilahi tidak pernah dapat dijangkau oleh bahasa yang terlalu yakin, melainkan justru oleh kata-kata yang ragu—yang tahu dirinya keliru, tetapi tetap berusaha menyebut yang tak terkatakan.

Puisi-puisi ini adalah percobaan kecil untuk menyelami kemungkinan itu: bahwa Tuhan bisa hadir dalam kesalahan tata bahasa, bahwa keraguan bisa lebih religius daripada kepastian, dan bahwa setiap tanda baca—dari koma sampai titik—menyimpan jejak tangan yang pernah menulis Keabadian.

Mungkin, seperti dalam salah satu puisi, kehidupan memang kesalahan paling indah yang pernah diciptakan. Dan barangkali, di dalam kesalahan itulah, kita akhirnya menemukan sesuatu yang menyerupai makna—atau setidaknya, gema sunyi dari-Nya.

Saya tidak tahu apakah ini bentuk doa, atau sekadar percobaan untuk memahami bagaimana kata bisa berdoa tanpa yakin kepada dirinya sendiri. Yang saya sadari, di sini, setiap puisi berangkat dari keyakinan bahwa kesalahan adalah bentuk lain dari pencarian. Bahwa dalam setiap kekeliruan tata bahasa, mungkin terselip sebutir kebenaran yang belum sempat dimengerti.

Jadi, bila ada yang tampak ganjil atau menyinggung di dalam puisi-puisi ini, anggaplah itu bukan penghujatan, melainkan kegugupan seorang penyair yang terlalu ingin berbicara kepada yang tak mungkin dijangkau oleh logika.

Sebab pada akhirnya, mungkin Tuhan tidak menunggu kita untuk menyembah, melainkan untuk berbahasa—meski dengan lidah yang tak fasih, dan kata-kata yang melulu menjauh dari makna-Nya.

_____

Ketika Kata Berdoa

Aku tidak sedang mengajari siapa pun tentang Tuhan. Aku hanya ingin memahami bagaimana bahasa bergetar ketika menyebut nama-Nya.

Barangkali iman lahir dari diam, tetapi penyair selalu gelisah di dalam sunyi itu—ia menulis bukan karena tahu, melainkan karena ingin tahu mengapa tak pernah tahu.

Maka, lahirlah puisi-puisi ini: Eksperimen kecil tentang bagaimana kata bisa salah, tetapi justru di dalam kesalahan itu, mungkin tersembunyi percikan kebenaran yang tak dapat dijelaskan.

Aku tidak menulis untuk menentang siapa pun, apalagi melawan Tuhan. Aku menulis karena rindu pada sesuatu yang tak bisa dijelaskan selain dengan bahasa yang terus goyah—bahasa yang mungkin adalah bentuk doa paling jujur.

Jika di dalam puisi-puisi ini ada kesesatan, biarlah ia menjadi kesesatan yang bersujud kepada-Nya di dalam keabadian.

_____

Epilog: Ketika Bahasa Akhirnya Diam

Mungkin Tuhan tidak pernah benar-benar berbicara. Mungkin sejak awal, yang kita dengar hanyalah gema dari kata yang tidak pernah diucapkan dengan sempurna. Dan seluruh sejarah dunia adalah usaha manusia untuk menafsirkan kesunyian itu.

Saya menulis puisi-puisi ini bukan untuk menjawab apa pun, melainkan untuk mendengar kembali keheningan yang pernah menyebut kita dengan lembut. Sebab barangkali iman bukanlah pengetahuan, melainkan keberanian untuk tinggal di dalam kalimat yang tak selesai.

Bahasa telah menjadi tubuh dari pencarian: ia menggigil, tersandung, salah ejaan, tetapi terus berjalan menuju sesuatu yang tak bisa dinamai. Di sanalah, mungkin, Tuhan menunggu—bukan di rumah ibadah, bukan di surga, melainkan di titik koma terakhir yang kita tulis dengan gemetar.

Dan jika kelak Ia bertanya,
"Untuk apa kau menulis semua ini?"

mungkin saya akan menjawab pelan:
"Karena diam-Mu terlalu indah untuk tidak diucapkan."

Sebab, pada akhirnya, setiap puisi adalah upaya yang tak selesai—dan mungkin, justru di dalam ketidaksempurnaan itu, bahasa dan Tuhan saling menemukan diri mereka:
sama-sama tak terjelaskan,
sama-sama abadi.

__________

TUHAN YANG MENCOBA TIDUR


Tuhan menutup mata-Nya
untuk pertama kali
di dalam keabadian.

Di mimpi-Nya, Ia menjadi manusia—
bernapas, mencintai,
lalu mati dengan lembut
di pangkuan maut.

Ketika Ia terbangun,
Ia menangis,
dan hujan pertama turun
sejak dunia diciptakan.

"Sekarang Aku tahu," bisik-Nya,
"bahwa kehidupan
adalah kesalahan paling indah
yang pernah Kuciptakan."

Sukabumi, 2025

•••

TEOLOGI TANDA BACA


Di surga bahasa,
para malaikat memperdebatkan bentuk wahyu:
apakah Tuhan berbicara dengan tanda tanya,
atau justru dengan tanda seru?

Malaikat pertama berkata:
"Tuhan adalah kalimat perintah yang belum selesai."

Malaikat kedua menjawab:
"Tidak. Ia adalah jeda di antara dua koma,
tempat waktu bersembunyi di sela napas kata."

Dan dari pertikaian itu lahirlah dunia—
sebuah kalimat panjang yang berusaha
memisahkan makna dari dirinya sendiri.

Sukabumi, 2025

•••

GRAMATIKA KETUHANAN


Subjek: Tuhan.
Predikat: Salah.
Objek: Diri-Nya sendiri.

Tuhan menulis: "Jadilah."
Lalu ragu menambahkan koma.
Dunia lahir dari jeda itu—
tempat di mana tanda tanya
menjerit tanpa suara.

Begitulah tata bahasa penciptaan.
Karena hanya yang salah mampu melahirkan
sesuatu yang benar-benar membingungkan.

"Aku menciptakan dunia," kata-Nya,
"bukan karena sengaja,
melainkan karena kalimat pertama
tak bisa dihapus begitu saja."

Sukabumi, 2025

•••

TANDA SERU ILAHI

Pada mulanya,
Tuhan berteriak: "!"
Namun suara itu terlalu cepat
hingga waktu belum sempat tercipta.

Ledakan makna itu menggema
menjadi cahaya, lalu debu,
lalu sesuatu yang kita sebut "ya",
padahal tak seorang pun tahu
apa yang sedang disetujui.

Tanda seru itu kini membeku
di dada setiap yang bernyawa:
denyut nadi, detak jantung,
dan segala hal yang terus berkata
"ada"
tanpa tahu mengapa.

Mungkin itulah doa pertama—
teriakan yang lupa arah pulang,
tetapi terus menggema
di seluruh tata bahasa keberadaan.

Sukabumi, 2025

•••

TITIK AKHIR PENCIPTAAN


Setelah sekian lama,
Tuhan menatap kalimat-Nya sendiri.
Segalanya sudah terlalu panjang,
terlalu banyak anak kalimat
yang saling menuduh sebagai makna.

Ia menghela napas,
lalu menulis satu titik.

Sekejap, cahaya berhenti berjalan.
Waktu kehilangan arah jarum.
Kata-kata jatuh seperti abu
yang mencari kembali huruf asalnya.

"Cukup," bisik-Nya—
dan gema itu menjadi malam.

Sejak itu kita hidup
di antara huruf besar dan tanda baca,
menunggu siapa yang berani
menulis kalimat berikutnya.

Sukabumi, 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BETAWOL