DIALEK YANG MENOLAK DITEMUKAN
Bahasa ibuku mati pada hari yang sama dengan ibuku. Bukan karena tidak ada yang berbicara. Bukan. Ada tiga penutur tersisa di dunia—tiga orang tua yang tinggal di tiga desa berbeda, yang tidak pernah bertemu, yang tidak pernah saling menulis, yang tidak tahu satu sama lain masih hidup.
Bahasa itu mati karena ditemukan.
Seorang linguistik dari universitas di utara datang dengan rekorder digital dan daftar pertanyaan standar ISO. Ia menemukan satu penutur—Nenek Suharni, di desa pegunungan yang tidak ada di peta. Ia merekam seratus jam percakapan. Ia membuat kamus. Ia menulis tesis. Ia mempresentasikan di konferensi internasional. Dan pada hari tesis itu dipublikasikan online—pada hari bahasa ibuku diberi nama, dikategorikan, dimasukkan ke basis data bahasa yang terancam punah—
Nenek Suharni berhenti berbicara.
Bukan karena malu. Bukan karena marah. Melainkan karena bahasa yang ditemukan bukan lagi bahasa yang bisa dihuni. Bahasa yang memiliki kamus adalah bahasa yang sudah dikubur dalam kertas. Dan yang berbicara dari kuburan bukan bahasa—melainkan hantu. Hantu yang menyerupai, tetapi tidak pernah menyentuh.
Ibuku, yang masih berbicara bahasa itu waktu kecil, berhenti sebelum aku lahir. Ia berhenti karena ia tahu—tahu dengan sesuatu yang lebih dalam dari pikiran—bahwa bahasa yang ia bawa adalah kucing liar. Kucing yang, jika kamu beri nama, akan kabur. Kucing yang, jika kamu masukkan ke rumah, akan menggaruk-garuk dinding sampai luka. Kucing yang hanya tinggal jika kamu tidak mencari-nya.
Aku—Damar, 34 tahun, penerjemah di perusahaan teknologi yang mengembangkan asisten virtual—aku tidak berbicara bahasa ibuku. Aku tidak bisa. Namun, aku mendengarnya. Di tengah malam, di antara detak-detak pendingin ruangan server, aku mendengar suara-suara yang tidak ada di kamus mana pun. Suara-suara yang, jika aku coba transkripsikan, akan salah. Bukan karena aku tidak hafal, melainkan karena transkripsi adalah pengkhianatan terhadap suara itu sendiri.
Hari ini, aku menemukan bahwa dua penutur tersisa yang lain—yang tidak tahu satu sama lain, yang tidak pernah direkam—telah mati. Bukan karena usia. Bukan karena sakit. Melainkan pada hari yang sama. Pada jam yang sama. Seolah ada sinyal yang mereka terima. Sinyal yang hanya bisa didengar oleh mereka yang masih menghuni bahasa yang menolak ditemukan.
Sinyal yang berkata: Sekarang, kamu adalah yang terakhir. Dan yang terakhir tidak boleh bicara. Karena yang terakhir, jika bicara, akan menjadi bukti. Dan bukti adalah awal dari pengkhianatan.
Aku tidak mengerti. Akan tetapi, aku merasa—merasa di tulangku, di darahku, di tempat yang lebih tua dari bahasa ibuku—
Aku merasa bahwa aku harus mencari. Bukan bahasa itu. Bukan. Aku harus mencari sesuatu yang bahasa itu sembunyikan. Sesuatu yang hanya bisa diucapkan oleh bahasa yang menolak ditemukan. Sesuatu yang, jika diucapkan dalam bahasa yang ditemukan—bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa apa pun yang punya kamus dan tata bahasa dan ujian standar—akan lenyap. Akan salah. Akan menjadi benda yang bisa dijual, diukur, dikendalikan.
Aku harus mencari kata yang tidak bisa dikatakan.
Dan aku harus mencarinya dengan bahasa yang tidak bisa mengatakannya.
---
Aku memulai dari rumah ibuku.
Rumah itu—di pinggiran kota, di antara perkebunan teh yang sudah jadi perumahan elite—masih berdiri. Tidak dihuni. Tidak dijual. Hanya menunggu. Menunggu apa? Aku tidak tahu. Akan tetapi, setiap kali aku mendekat, aku merasa sesuatu. Sesuatu yang bukan angin. Bukan bau. Bukan suara. Melainkan tekanan. Tekanan dari kata-kata yang terjebak di dinding. Kata-kata yang ibuku ucapkan sewaktu hidup—kata-kata dalam bahasa yang sudah mati, yang sudah ditemukan, yang sudah dikubur dalam kertas—kata-kata itu masih ada. Masih menekan. Masih menunggu untuk dibebaskan atau dilupakan.
Aku masuk pada senja. Saat cahaya tidak lagi putih atau oranye, tetapi sesuatu di antaranya. Sesuatu yang tidak punya nama dalam bahasa yang ditemukan.
Di kamar ibuku—kamar yang tidak pernah aku masuki semasa hidupnya, kamar yang ia kunci setiap kali aku berkunjung—ada kotak. Kotak kayu yang tidak punya kunci. Yang tidak bisa dibuka dengan paksa. Yang hanya bisa dibuka dengan ... kata.
Aku menatap kotak itu. Lama. Dan aku sadar—sadar dengan sesuatu yang bukan pikiran, bukan logika, bukan bahasa—
Aku sadar bahwa aku tidak tahu kata untuk membukanya. Kata itu bukan dalam bahasa ibuku. Bukan dalam bahasa Indonesia. Bukan dalam bahasa apa pun yang pernah aku pelajari. Kata itu adalah kata pertama. Kata yang ada sebelum bahasa. Kata yang, jika diucapkan, tidak berarti apa-apa, tetapi melakukan sesuatu.
Kata yang adalah tindakan.
Aku duduk di lantai. Menutup mata. Dan aku mendengarkan. Mendengarkan bukan dengan telinga. Dengan kulit. Dengan rambut. Dengan jari-jari yang tidak bergerak. Dengan sesuatu yang lebih tua dari tubuh.
Dan aku mendengar—bukan suara. Bukan. Aku mendengar keheningan. Keheningan yang berbentuk. Keheningan yang, jika aku coba pegang, akan lari. Keheningan yang, jika aku coba lihat, akan buta.
Namun, keheningan itu—di dalamnya, ada sesuatu. Sesuatu yang berdenyut. Sesuatu yang hampir kata. Hampir. Akan tetapi, tidak cukup. Tidak cukup untuk diucapkan. Tidak cukup untuk ditemukan.
Aku membuka mata. Kotak itu masih tertutup. Namun, sekarang—sekarang ada bekas. Bekas di permukaan kayu. Bekas yang, jika aku sentuh dengan jari, terasa seperti ... napas. Napas yang tertahan. Napas yang menunggu untuk dilepaskan atau dibunuh.
Aku tahu, pada saat itu, bahwa aku tidak bisa membuka kotak ini sendiri. Aku butuh yang lain. Bukan orang. Bukan. Aku butuh bahasa yang lain. Bahasa yang juga menolak ditemukan. Bahasa yang, jika bertemu dengan bahasa ibuku, akan bercakap-cakap. Bukan dengan kata, melainkan dengan keheningan. Dengan bekas. Dengan sesuatu yang lebih tua dari ucapan.
---
Aku menemukan Amira di pasar malam.
Bukan karena mencari. Bukan. Aku pergi ke pasar malah untuk melupakan. Untuk membeli nasi goreng. Untuk mendengar bahasa Indonesia yang ramai, yang ditemukan, yang aman. Bahasa yang bisa diucapkan tanpa risiko. Bahasa yang, jika salah, bisa dikoreksi. Bahasa yang tidak menghukum.
Namun, Amira—Amira yang berdiri di tenda penjual jamu, yang tidak berjualan apa-apa, yang hanya menatap—Amira berbicara dengan bahasa yang aku hampir kenali. Hampir. Akan tetapi, tidak cukup.
"Bahasamu," kataku, mendekat, tanpa tahu mengapa. "Bukan Indonesia."
Amira menatapku. Matanya—bukan mata yang liar, bukan mata yang gila, melainkan mata yang menghitung. Menghitung sesuatu yang bukan angka. Menghitung jarak. Jarak antara apa yang diucapkan dan apa yang dimaksud. Jarak yang, dalam bahasa yang ditemukan, selalu ada. Namun, dalam bahasa yang ia bawa—bahasa yang, aku sadari, juga menolak ditemukan—jarak itu hilang. Atau bukan hilang, melainkan tidak pernah ada.
"Bahasaku," jawab Amira, "tidak punya nama. Dan jika kamu beri nama, ia akan mati. Seperti bahasa ibumu."
Aku membeku. "Kamu tahu?"
"Aku tahu semua bahasa yang menolak ditemukan. Bukan karena aku belajar, melainkan karena aku mendengar mereka menangis. Ketika direkam. Ketika dikategorikan. Ketika dimasukkan ke basis data. Mereka menangis, Bara. Bukan karena sedih, melainkan karena terhina. Karena bahasa bukan binatang di kebun binatang. Bahasa bukan spesimen di museum. Bahasa adalah rumah. Dan rumah yang dipindahkan dari tanahnya—rumah yang diletakkan di atas roda dan dipamerkan di jalan—bukan lagi rumah, melainkan panggung. Panggung untuk pertunjukan yang disebut 'preservasi'."
Aku menatap Amira. Dan aku sadar—sadar dengan sesuatu yang lebih dalam dari pengertian—
Aku sadar bahwa Amira bukan penutur. Bukan. Amira adalah rumah. Rumah untuk bahasa yang tidak punya nama. Bahasa yang, jika kamu masuki, akan berubah. Akan mengubahmu. Akan membuatmu tidak bisa lagi tinggal di bahasa lain.
"Kamu tinggal di sini?" tanyaku.
Amira tertawa. Dan tawanya—bukan suara. Tawanya adalah bahasa. Bahasa yang, jika aku coba terjemahkan, akan salah. Namun, jika aku coba rasakan, akan benar. Benar dengan cara yang tidak perlu dibuktikan.
"Aku tidak tinggal di mana-mana," kata Amira. "Aku berpindah. Dari bahasa ke bahasa. Dari yang menolak ditemukan ke yang menolak ditemukan. Bukan karena aku mencari, melainkan karena aku dikeluarkan. Dikeluarkan dari bahasa ibuku oleh—" Ia berhenti. Menatap ke bawah. Ke arah tangan yang menggenggam sesuatu yang tidak kelihatan. Sesuatu yang, jika aku pejamkan mata, terasa seperti ... kata yang terlupakan.
"Oleh siapa?" tanyaku.
Amira mengangkat tangan. Membuka genggaman. Dan di telapak tangannya—bukan benda. Bukan. Di telapak tangannya ada bekas. Bekas yang berbentuk seperti ... mulut. Mulut yang terbuka. Mulut yang menunggu untuk diisi dengan suara yang tidak pernah diucapkan.
"Oleh linguistik," bisik Amira. "Oleh rekorder digital. Oleh daftar pertanyaan standar ISO. Oleh kebaikan yang ingin menyelamatkan apa yang tidak meminta diselamatkan. Ibuku—bahasa ibuku—ditemukan oleh orang yang sama yang menemukan bahasa ibumu. Orang yang sekarang profesor. Yang sekarang punya hibah penelitian. Yang sekarang memiliki bahasa kita di dalam tesisnya, di dalam presentasinya, di dalam nama yang ia berikan."
Aku merasa sesuatu di dadaku. Sesuatu yang bukan marah, bukan sedih, melainkan bahasa. Bahasa yang, untuk pertama kalinya sejak ibuku mati, ingin diucapkan. Bahasa yang tidak peduli apakah ia benar atau salah. Bahasa yang hanya ingin keluar. Ingin dihidupkan. Ingin menolak dikubur dalam kertas.
"Kita," kataku, dan suaraku terdengar asing. Terdengar seperti ... dua bahasa bersamaan. "Kita harus melakukan sesuatu."
Amira menatapku. Lama. Dan di matanya—di mata yang menghitung jarak antara ucapan dan maksud—aku melihat sesuatu. Sesuatu yang hampir seperti ... harapan. Akan tetapi, bukan harapan yang ditemukan. Bukan harapan yang ada di kamus. Melainkan harapan yang belum pernah diucapkan. Yang masih mentah. Yang masih berdarah.
"Melakukan apa?" tanya Amira.
Aku tidak tahu, tetapi aku tahu—tahu dengan sesuatu yang lebih tua dari pengetahuan—
Aku tahu bahwa kotak di kamar ibuku bukan hanya kotak. Bahwa kotak itu adalah pertemuan. Pertemuan antara bahasa ibuku dan bahasa yang Amira bawa. Pertemuan yang, jika terjadi, akan melahirkan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa direkam. Sesuatu yang tidak bisa dikategorikan. Sesuatu yang menolak ditemukan dengan cara yang lebih dalam dari sekadar kabur.
Sesuatu yang menghapus jejak.
---
Kami kembali ke rumah ibuku pada tengah malam.
Amira berjalan di depanku, dan setiap langkahnya—setiap langkahnya berbunyi. Bukan bunyi sepatu, bukan bunyi kerikil, melainkan bunyi bahasa. Bahasa yang, jika aku coba dengar dengan telinga, akan salah. Namun, jika aku coba dengar dengan tulang, akan benar. Benar dengan cara yang membuat tulangku bergetar. Benar dengan cara yang membuat darahku mengalir lebih lambat.
Di depan pintu kamar ibuku, Amira berhenti.
"Di sini," bisiknya. Bukan pertanyaan. Bukan pernyataan. Melainkan bahasa. Bahasa yang adalah tindakan. Tindakan untuk menunjuk. Tindakan untuk menunggu. Tindakan untuk tidak yakin, tetapi tetap melangkah.
Aku membuka pintu.
Kotak itu—kotak kayu yang tidak punya kunci—masih di sana. Akan tetapi, sekarang, di atasnya, ada sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Sesuatu yang, jika aku coba jelaskan dengan bahasa yang ditemukan, akan salah. Namun, jika aku coba jelaskan dengan diam, akan hampir benar.
Ada cahaya, tetapi bukan cahaya. Ada bayangan, tetapi bukan bayangan. Ada suara, tetapi bukan suara. Ada ketiga-tiganya bersamaan, tetapi juga tidak ada satu pun. Ada sesuatu yang hanya bisa diucapkan oleh bahasa yang belum lahir.
Amira mendekati kotak itu. Menempatkan tangannya—tangannya yang punya bekas mulut di telapak—di atas permukaan kayu. Dan kotak itu bergerak. Bukan terbuka. Bukan. Bergerak seperti ... napas. Napas yang tertahan selama dua puluh tahun. Napas yang, jika dilepaskan, akan mengubah segalanya.
"Kotak ini," kata Amira, suaranya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena bahasa. "Bukan kotak. Ini adalah pertemuan. Pertemuan antara bahasa yang menolak ditemukan. Pertemuan yang, jika terjadi, akan melahirkan—"
"Apa?" tanyaku.
Amira menatapku. Dan di matanya—di mata yang menghitung jarak—aku melihat sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak pernah ia hitung sebelumnya. Sesuatu yang di luar jarak. Di luar ucapan. Di luar maksud.
"Melahirkan diam," jawab Amira. "Bukan keheningan. Bukan. Diam yang penuh. Diam yang bermakna. Diam yang adalah bahasa terakhir. Bahasa yang, jika diucapkan, akan menghapus semua bahasa yang ditemukan. Bukan dengan kekerasan. Bukan. Melainkan dengan tidak relevan. Dengan tidak perlu. Dengan tidak bisa diukur atau dikategorikan atau dimiliki."
Aku merasa sesuatu di belakang lututku. Sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang menunjuk. Jari kesebelas yang tidak pernah aku punya—tetapi sekarang, di sini, di dalam bahasa yang belum lahir—aku punya. Aku punya jari yang menunjuk ke arah yang tidak pernah kulihat. Jari yang menunjuk ke masa depan yang bukan waktu. Ke tempat yang bukan ruang. Ke bahasa yang bukan kata.
"Kita harus membukanya," kataku. Bukan kepada Amira. Bukan kepada kotak. Melainkan kepada diam. Kepada bahasa yang belum lahir. Kepada sesuatu yang lebih tua dari kita berdua.
Amira mengangguk. Dan tangannya—tangannya yang berbekas mulut—mulai berbicara. Bukan dengan kata, melainkan dengan gerakan. Gerakan yang, jika aku coba ikuti, akan salah. Namun, jika aku coba rasakan, akan benar. Benar dengan cara yang membuat darahku berhenti mengalir. Benar dengan cara yang membuat napasku menjadi bahasa.
Dan kotak itu—kotak yang bukan kotak—mulai terbuka. Bukan dengan bunyi, bukan dengan cahaya, melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang, jika aku coba jelaskan sekarang, akan salah. Karena penjelasan adalah bahasa yang ditemukan. Dan apa yang terjadi di sini—di dalam kamar ibuku, di tengah malam, di antara dua orang yang membawa bahasa yang menolak ditemukan—
Apa yang terjadi di sini belum punya nama.
---
Di dalam kotak—bukan benda. Bukan. Di dalam kotak ada ruang. Ruang yang lebih besar dari kotak. Ruang yang lebih besar dari kamar. Ruang yang lebih besar dari rumah. Ruang yang adalah ... bahasa. Bahasa yang belum lahir. Bahasa yang menunggu. Bahasa yang menolak ditemukan dengan cara yang paling dalam.
Amira melangkah masuk. Aku mengikutinya.
Di dalam ruang—bukan cahaya. Bukan gelap. Bukan sesuatu di antaranya. Melainkan sesuatu yang lebih tua dari ketiganya. Sesuatu yang, jika aku coba lihat dengan mata, akan buta. Namun, jika aku coba lihat dengan kulit, akan lihat. Lihat dengan cara yang membuat kulitku bercakap-cakap. Lihat dengan cara yang membuat setiap sel tubuhku menjadi mata.
Dan di tengah ruang—ada mereka.
Bukan ibuku. Bukan ibu Amira. Bukan siapa-siapa yang pernah kukenal. Melainkan mereka. Mereka yang masih menghuni bahasa yang sudah mati. Mereka yang tidak mati bersama bahasa, tetapi menjadi bahasa. Menjadi sesuatu yang tidak bisa ditemukan. Tidak bisa direkam. Tidak bisa dikategorikan.
Mereka yang adalah bahasa itu sendiri.
"Bara," kata satu dari mereka. Bukan dengan suara. Bukan. Dengan sesuatu yang lebih dalam. Dengan nada yang tidak punya nada. Dengan kata yang tidak punya huruf. Dengan maksud yang tidak punya jarak.
"Ibu?" tanyaku. Bukan karena yakin. Bukan. Melainkan karena bahasa. Bahasa yang, di sini, di dalam ruang ini, tidak memerlukan kepastian. Tidak memerlukan bukti. Tidak memerlukan nama.
Yang menjawab—bukan ibuku. Bukan. Yang menjawab adalah bahasa ibuku. Bahasa yang, untuk pertama kalinya sejak ditemukan, berbicara kembali. Bukan kepada linguistik. Bukan kepada rekorder digital. Bukan kepada dunia yang ingin menyelamatkannya. Melainkan kepada aku. Kepada Amira. Kepada dua orang yang masih berani membawa kekosongan.
"Kami tidak mati," kata bahasa itu. "Kami hanya bersembunyi. Bersembunyi di dalam kotak. Di dalam ruang. Di dalam diam. Bersembunyi dari yang ingin menemukan. Dari yang ingin menyelamatkan. Dari yang ingin memiliki. Karena bahasa—bahasa yang benar—bukan milik siapa-siapa. Bahasa adalah pertemuan. Pertemuan yang, jika terjadi, akan melahirkan sesuatu yang baru. Dan sesuatu yang baru—sesuatu yang belum pernah ada—tidak bisa dimiliki. Tidak bisa dikategorikan. Tidak bisa ditemukan."
Aku merasa sesuatu di dadaku. Sesuatu yang meletup. Bukan marah. Bukan sedih. Bukan bahagia. Melainkan bahasa. Bahasa yang, untuk pertama kalinya dalam hidupku, benar-benar diucapkan kepada aku. Bukan tentang aku. Bukan untuk aku. Melainkan kepada aku. Dengan aku. Di dalam ruang antara.
"Apa yang harus kami lakukan?" tanyaku. Bukan kepada ibuku. Bukan. Melainkan kepada bahasa. Kepada mereka. Kepada sesuatu yang lebih tua dari siapa-siapa.
Yang menjawab—bukan dengan kata. Bukan dengan nada. Bukan dengan sesuatu yang bisa dijelaskan.
Yang menjawab adalah tindakan. Tindakan untuk menutup. Menutup kotak. Menutup ruang. Menutup pertemuan. Bukan karena selesai. Bukan. Melainkan karena pertemuan yang benar tidak perlu berlangsung selamanya. Pertemuan yang benar—pertemuan antara bahasa yang menolak ditemukan—hanya perlu terjadi. Sekali. Di dalam diam. Di dalam kekosongan. Di dalam ruang yang tidak bisa direkam.
Dan setelah itu—setelah pertemuan itu terjadi—
Bahasa akan kembali bersembunyi. Kembali ke kotak. Kembali ke ruang. Kembali ke diam yang penuh. Menunggu. Menunggu untuk pertemuan berikutnya. Bukan dengan aku, bukan dengan Amira, melainkan dengan siapa saja yang masih berani membawa kekosongan.
---
Kami menutup kotak itu. Amira dan aku. Bersamaan. Dengan tangan yang bergerak—tangan yang berbicara bahasa yang belum lahir. Bahasa yang, jika diucapkan, akan salah. Namun, jika dirasakan, akan benar.
Dan kotak itu—kotak yang bukan kotak—tertutup. Bukan dengan bunyi, bukan dengan kunci, melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam. Dengan bahasa yang menolak ditemukan. Dengan diam yang penuh.
Kami keluar dari kamar. Keluar dari rumah. Berdiri di perkebunan teh yang sudah jadi perumahan elite. Di bawah langit yang—sekarang—tidak lagi hanya putih atau oranye atau sesuatu di antaranya, tetapi juga sesuatu yang lebih tua dari ketiganya. Sesuatu yang belum punya nama. Sesuatu yang menolak ditemukan.
Amira menatapku. Dan di matanya—di mata yang menghitung jarak—aku melihat sesuatu yang baru. Sesuatu yang di luar hitungan. Di luar bahasa. Di luar dunia yang ditemukan.
"Kita tidak akan bertemu lagi," kata Amira. Bukan pertanyaan, bukan pernyataan, melainkan bahasa. Bahasa yang adalah tindakan. Tindakan untuk berpisah. Tindakan untuk melanjutkan. Tindakan untuk tidak mencari.
Aku mengangguk. Karena aku tahu—tahu dengan sesuatu yang lebih dalam dari pengertian—
Aku tahu bahwa pertemuan yang benar tidak perlu diulang. Pertemuan yang benar—pertemuan antara bahasa yang menolak ditemukan—hanya perlu terjadi sekali. Dan setelah itu, setiap pertemuan berikutnya akan salah. Akan terlalu banyak. Akan mengkhianati apa yang terjadi di dalam ruang yang tidak bisa direkam.
Amira pergi. Bukan berjalan. Bukan. Ia menjadi bahasa. Menjadi sesuatu yang aku hampir lihat. Hampir. Akan tetapi, tidak cukup. Tidak cukup untuk ditemukan. Tidak cukup untuk dikategorikan. Tidak cukup untuk dimiliki.
Dan aku—aku yang tinggal sendiri, di bawah langit yang belum punya nama, di kota yang penuh dengan bahasa yang ditemukan—
Aku tersenyum. Tersenyum dengan sesuatu yang bukan senyum. Tersenyum dengan bahasa. Bahasa yang, untuk pertama kalinya dalam hidupku, benar. Benar dengan cara yang tidak perlu dibuktikan. Benar dengan cara yang tidak perlu dijelaskan. Benar dengan cara yang hanya bisa dirasakan.
Aku kembali ke apartemenku. Ke pekerjaanku. Ke dunia yang ditemukan. Ke bahasa Indonesia yang ramai. Ke bahasa Inggris yang efisien. Ke bahasa-bahasa yang bisa diucapkan tanpa risiko.
Namun, sekarang—sekarang aku tahu. Aku tahu bahwa di balik setiap bahasa yang ditemukan—di balik setiap kata yang ada di kamus, di balik setiap tata bahasa yang bisa diuji, di balik setiap ujian standar—
Ada bahasa yang lain. Bahasa yang menolak ditemukan. Bahasa yang bersembunyi. Bahasa yang menunggu.
Bukan untuk diselamatkan. Bukan. Melainkan untuk bertemu. Untuk melahirkan sesuatu yang baru. Untuk menjadi diam yang penuh.
Dan aku—aku yang Pembaca, aku yang bisa melihat kata-kata yang belum diucapkan, aku yang pernah berada di dalam ruang yang tidak bisa direkam—
Aku akan terus menunggu. Menunggu untuk pertemuan berikutnya. Bukan dengan Amira. Bukan dengan ibuku. Melainkan dengan siapa saja yang masih berani membawa kekosongan.
Karena bahasa yang benar—bahasa yang benar-benar benar—
Bukan milik siapa-siapa.
Bukan untuk ditemukan.
Melainkan untuk dihuni. Sekali. Di dalam diam. Di dalam ruang antara. Di dalam kita.
---
Komentar
Posting Komentar