DUNIA TANPA DINDING
Dinding pertama yang hilang adalah dinding kamar mandi. Amira menemukannya pada Selasa pagi, ketika ia bangun untuk buang air dan melihat tetangganya, Pak Tarno, sedang menggosok gigi di sisi lain—yang dulunya adalah tembok keramik biru dengan motif ikan koi. Pak Tarno tidak terkejut. Ia hanya mengangguk, berkumur, dan meludah ke lantai yang kini bersambung dengan lantai kamar mandi Amira, tanpa batas, tanpa sudut, hanya kontinuitas keramik putih yang mengkilap sampai ke cakrawala.
"Sudah lama saya tunggu," kata Pak Tarno, seolah ini janji temu yang terlambat. "Dinding itu memisahkan kita dari kebenaran."
Amira ingin berteriak, tetapi suaranya keluar sebagai bunyi piano yang tidak pernah ia mainkan—nada mi yang panjang dan melengking, terdengar dari mulutnya, tetapi berasal dari dada. Di sekitarnya, dinding-dinding lain mulai bergetar. Bukan runtuh. Bukan hancur. Melainkan menarik diri, seperti kulit ulang yang mengelupas sendiri, menampakkan daging yang bukan daging melainkan ruang, ruang yang tidak pernah ada sebelumnya tetapi selalu ada, menunggu untuk dilihat.
Ini bukan mimpi. Amira tahu karena ia mencubit lengannya dan tidak merasa apa-apa—bukan karena tidak ada rasa, melainkan karena lengannya tidak lagi miliknya. Lengannya adalah pintu. Pintu yang terbuka ke koridor panjang di mana bayangan-bayangannya berjalan sendiri, membawa benda-benda yang belum pernah ia miliki: sebuah jam dinding tanpa jarum, seekor kucing tanpa mata, surat-surat yang ditulis dengan bahasa yang belum diciptakan.
---
Kota mulai melar. Bukan membesar—melar, seperti foto yang direntangkan di Photoshop oleh tangan tak terlihat yang mabuk. Jarak dari rumah Amira ke warung kopi yang biasanya lima menit, kini memakan waktu tiga jam perjalanan, tetapi tiga jam itu terasa seperti lima menit karena sepanjang jalan Amira melihat dirinya sendiri: Amira yang sedang berjalan dari arah berlawanan, Amira yang sedang duduk di trotoar menghitung butiran pasir, Amira yang sudah mati dan membusuk tetapi masih tersenyum, bertanya, "Sudah makan?"
Tidak ada yang panik. Warga kota ini—yang kini jumlahnya tidak bisa dihitung karena setiap orang memiliki versi dirinya yang berjalan di sebelah, di belakang, di dalam—terus beraktivitas seperti biasa. Ibu-ibu menjemur pakaian di tali yang menggantung di antara dua titik yang sama. Bapak-bapak main catur dengan bidak yang bergerak sendiri, kadang menolak diperintah, kadang melahap tangan pemainnya. Anak-anak bermain petak umpet di ruang terbuka yang tidak memiliki batas, di mana yang bersembunyi bisa bersembunyi di dalam tubuh yang mencari.
Amira mencoba pulang. Akan tetapi, "rumah" adalah konsep yang mulai goyah. Rumahnya ada—terlihat di kejauhan, atap merahnya seperti lukisan yang tergantung di dinding yang tidak ada—tetapi jarak ke sana tidak konstan. Kadang dekat, kadang jauh, kadang di atas, kadang di dalam. Amira berjalan selama yang ia yakini sebagai tujuh tahun, tetapi ketika ia sampai, hanya lima menit telah berlalu di jam dinding yang kini tergantung di udara tanpa dinding untuk menopangnya.
Di dalam rumah, ayahnya duduk di sofa yang kini berhadapan dengan sofa lain—sofa yang dulu adalah dinding belakang—di mana sesosok yang tampak seperti ayahnya juga duduk, tetapi terbalik, dengan kepala di bawah dan kaki di atas, berbicara dengan suara yang keluar dari perutnya.
"Kamu terlambat," kata ayahnya—yang benar, yang normal, yang masih memiliki gravitasi di tubuhnya.
"Di mana ibu?" tanya Amira.
Ayahnya menatapnya dengan mata yang tidak berkedip karena tidak memiliki kelopak. "Ibu adalah dinding. Dinding adalah yang pertama hilang. Jadi, ibu adalah yang pertama kembali ke asalnya."
"Apa asalnya?"
"Keheningan. Sebelum ada ruang untuk dipisahkan, sebelum ada waktu untuk dilalui, sebelum ada kamu untuk bertanya."
---
Amira mulai mengerti—atau mengira ia mengerti, yang dalam Dunia Tanpa Dinding adalah hal yang sama. Dunia ini bukan dunia yang kehilangan dinding. Dunia ini adalah dunia yang ingat bahwa dinding selalu ilusi. Dinding dibangun untuk membuat manusia percaya bahwa ada "di sini" dan "di sana", ada "aku" dan "kamu", ada "hidup" dan "mati". Tanpa dinding, semuanya adalah satu ruang besar yang tidak memiliki nama, di mana setiap titik adalah setiap titik lain, di mana setiap orang adalah setiap orang lain, di mana Amira yang berdiri di sini juga Amira yang terbaring di liang kubur di sana, juga Amira yang belum lahir, juga Amira yang tidak pernah akan lahir karena ibunya memilih untuk tidak menikah, juga Amira yang adalah ibunya, juga Amira yang adalah dinding yang hilang.
Amira menemukan sebuah cermin di tengah jalan yang tidak menuju ke mana-mana. Cermin itu tidak memantulkan wajahnya. Cermin itu memantulkan keputusannya—keputusan yang belum ia buat, yang akan ia buat, yang sudah ia buat dalam garis waktu yang tidak lagi linear.
Di dalam cermin, ia melihat dirinya memilih untuk membangun kembali dinding. Satu dinding. Apa pun. Hanya untuk memiliki "di sini" yang bisa ia sebut miliknya. Akan tetapi, untuk membangun dinding, ia harus memilih bahan. Dan bahannya adalah kenangan. Setiap batu bata dari kenangan yang hilang. Setiap hebel dari mimpi yang terlupakan. Setiap cat dari warna yang pernah ia lihat, tetapi tidak pernah ia namai.
Dinding pertama yang ia bangun adalah dinding antara dirinya dan ayahnya. Namun, dinding itu berdiri tegak lalu menangis, karena dinding yang memisahkan orang juga memisahkan cinta, dan cinta yang terpenjara menjadi monster yang lebih buruk dari kekosongan.
Dinding kedua adalah antara dirinya dan ibunya—yang sudah menjadi keheningan. Akan tetapi, dinding itu berubah menjadi cermin, dan cermin itu menunjukkan bahwa Amira dan ibunya adalah satu, selalu satu, dan memisahkan mereka berarti memisahkan Amira dari dirinya sendiri.
Dinding ketiga ... Amira berhenti. Ia melihat bahwa setiap dinding yang ia bangun hanya menciptakan ruang yang lebih kecil, lebih sempit, lebih sesak. Dunia Tanpa Dinding mungkin mengerikan. Namun, dinding yang membelahnya menjadi "aku" yang terisolasi adalah kematian yang berbeda—kematian yang masih bernapas.
---
Amira membuat pilihan yang tidak ada dalam cermin. Ia tidak membangun dinding. Ia juga tidak menerima Dunia Tanpa Dinding apa adanya.
Ia menjadi dinding.
Bukan dinding yang memisahkan, melainkan dinding yang menopang. Ia berdiri di antara ayahnya dan versi terbalik ayahnya, menjadi permukaan datar yang memungkinkan keduanya ada tanpa bertabrakan. Ia berbaring di antara ibunya yang adalah keheningan dan dirinya yang adalah pertanyaan, menjadi resonansi yang memungkinkan keheningan dan pertanyaan berdampingan. Ia membentang di antara semua versi dirinya yang tak terhitung, bukan untuk memilih satu, melainkan untuk menjadi ruang di mana semua bisa bernapas.
Ini bukan pengorbanan. Ini bukan pencerahan. Ini adalah adaptasi—adaptasi makhluk yang diciptakan untuk hidup dalam batas, kini belajar untuk menjadi batas itu sendiri, agar yang lain bisa hidup di dalam dan di luarnya.
Ayahnya—yang normal, yang bergravitas—menatapnya dengan mata yang kini memiliki kelopak lagi, karena Amira memberinya permukaan untuk berkedip. "Kamu tidak lagi anakku," katanya. Bukan dengan sedih. Bukan dengan bangga. Hanya dengan fakta.
"Aku tidak pernah anakmu," jawab Amira, dan suaranya keluar dari seluruh permukaannya, bukan dari mulut yang tidak lagi ada. "Aku adalah pertanyaan yang kamu ajukan pada keheningan. Dan keheningan tidak punya anak. Keheningan hanya punya gema."
Pak Tarno muncul dari sisi lain—yang dulunya adalah kamar mandi Amira, yang kini adalah segalanya. Ia membawa sikat gigi yang masih berbusa, meski sudah bertahun-tahun sejak Selasa pagi itu. "Kamu membangun dinding yang baik," katanya. "Akan tetapi, dinding yang baik adalah dinding yang tidak pernah dibangun untuk abadi. Suatu hari, kamu juga akan hilang. Dan ketika itu terjadi, Dunia Tanpa Dinding akan kembali menjadi apa adanya: tanpa kamu, tanpa aku, tanpa siapa pun untuk menamainya."
Amira—yang kini adalah dinding, yang kini adalah ruang, yang kini adalah batas dan tidak-batas sekaligus—merasakan sesuatu yang bisa jadi adalah tawa, bisa jadi adalah tangis, bisa jadi adalah kedua-duanya dalam frekuensi yang tidak bisa didengar telinga manusia.
"Biarkan," katanya, dan kata-kata itu menjadi tekstur pada permukaannya, menjadi retakan kecil yang memungkinkan cahaya masuk dan keluar. "Biarkan aku ada selama aku ada. Dan biarkan aku hilang ketika waktunya. Bukan karena aku menerima. Bukan karena aku menolak. Melainkan karena aku adalah pertanyaan, dan pertanyaan tidak perlu jawaban. Pertanyaan hanya perlu diajukan."
---
Di suatu tempat—yang mungkin adalah kota yang sama, yang mungkin adalah waktu yang sama, yang mungkin adalah tidak-tempat dan tidak-waktu—seorang anak perempuan bangun di pagi Selasa. Ia pergi ke kamar mandi. Ia melihat dinding keramik biru dengan motif ikan koi. Ia buang air. Ia cuci muka. Ia tidak melihat apa-apa yang aneh.
Namun, di sudut kamar mandi, di tempat yang tidak terlihat kecuali dengan mata yang tidak memiliki kelopak, ada retakan kecil. Retakan yang berbentuk seperti senyum. Retakan yang, jika didekati, terdengar seperti nada mi piano yang panjang dan melengking.
Dan jika anak itu—yang mungkin adalah Amira yang belum menjadi dinding, yang mungkin adalah versi Amira yang berbeda, yang mungkin adalah siapa pun yang pernah bertanya—menempelkan telinganya pada retakan itu, ia akan mendengar suara yang bukan suara:
Aku ada. Aku tidak ada. Aku adalah dinding yang memungkinkanmu memiliki "di sini". Jangan bangun dindingmu terlalu tinggi. Jangan biarkan Dunia Tanpa Dinding memakanmu terlalu dalam. Cukup duduk di beranda. Cukup lihat matahari terbit. Cukup jadi pertanyaan yang tidak perlu jawaban.
Anak itu menggelengkan kepala. Ia pergi ke sekolah. Ia tumbuh. Ia lupa tentang retakan itu, atau ia ingat tetapi tidak pernah menyadari bahwa ia ingat. Ia membangun dinding-dindingnya sendiri: rumah, keluarga, nama, identitas. Dinding-dinding yang melindungi dan memenjarakan. Dinding-dinding yang memungkinkannya menjadi "aku" dan mencegahnya menjadi "kita".
Namun, kadang-kadang, di pagi Selasa, ketika cahaya masuk dari jendela dengan sudut yang salah, ia melihat bayangannya di dinding. Dan bayangan itu tidak mengikuti gerakannya. Bayangan itu berdiri tegak, menatapnya, dan bertanya dengan suara yang tidak keluar dari mulut:
"Sudah lama aku tunggu. Dinding itu memisahkan kita dari kebenaran."
Anak itu—yang kini mungkin sudah dewasa, yang mungkin sudah tua, yang mungkin sudah mati dan tidak tahu bahwa ia mati—tersenyum. Bukan karena ia mengerti. Melainkan karena, di suatu tempat di luar dinding, di suatu waktu di luar waktu, ada seseorang yang pernah menjadi dinding untuknya. Dan dinding itu masih ada, masih menopang, masih bertanya, meski tidak ada lagi yang akan menjawab.
---
Di Dunia Tanpa Dinding, tidak ada selesai. Hanya ada retakan yang menunggu untuk ditemukan. Dan di setiap retakan, ada Amira. Ada kamu. Ada pertanyaan yang sama, diajukan berulang-ulang, sampai suatu hari—mungkin—seseorang berhenti mencari jawaban dan mulai menjadi dinding yang menopang.
Komentar
Posting Komentar