KAMUS ANAK-ANAK YANG BELUM DILAHIRKAN
Sebelum ada kata, sudah ada kebisingan yang tidak bisa diartikan.
Amira menemukan kamus itu di dalam perut ibunya yang sudah mati—bukan mati secara biologis, melainkan mati dalam bahasa: ibunya sudah tidak bisa lagi menemukan kata-kata untuk sesuatu yang paling sederhana. "Meja" menjadi "benda itu". "Cinta" menjadi "perasaan yang ..." diikuti dengan gerakan tangan yang tidak pernah sama. "Amira" menjadi "kamu", lalu "dia", lalu akhirnya hanya tatapan kosong yang mungkin mengenali, mungkin tidak.
Kamus itu tergeletak di dalam laci samping tempat tidur ibunya, di antara botol-botol obat yang sebagian sudah tidak punya nama—hanya warna, hanya bentuk, hanya janji yang tidak pernah ditepati. Kamusnya tipis. Hanya tujuh halaman. Tujuh halaman yang, jika diperhatikan dengan cermat, bukan terbuat dari kertas, melainkan dari sesuatu yang terasa seperti kulit telur yang sudah kering—tipis, transparan di bagian-bagian tertentu, dan jika dipegang terlalu lama, akan meninggalkan bekas lembap di ujung-ujung jari.
Pada halaman pertama, hanya ada satu entri:
Ada (v.): Untuk menjadi sesuatu yang bisa dilihat oleh mata yang belum belajar melihat.
Amira membaca ulang. Tiga kali. Lima kali. Tujuh kali—karena tujuh adalah jumlah halaman, dan tujuh adalah jumlah hari dalam seminggu, dan tujuh adalah jumlah kata yang ibunya masih ingat dengan benar sebelum segalanya menjadi "benda itu" dan "perasaan yang ...".
Entri kedua:
Tidak ada (v.): Untuk menjadi sesuatu yang terlalu nyata sehingga mata yang sudah belajar melihat menolak untuk mengakuinya.
Amira merasa sesuatu di dalam dadanya bergerak. Bukan jantungnya—jantungnya berdetak normal, 72 kali per menit, angka yang ia hitung sendiri dengan jari di pergelangan tangan. Yang bergerak adalah sesuatu yang tidak punya nama, sesuatu yang mungkin adalah "rasa" tetapi "rasa" sudah menjadi salah satu kata yang ibunya tidak bisa ucapkan lagi, sehingga kata itu mulai terasa asing di mulut Amira sendiri, mulai terasa seperti benda asing yang ditemukan di jalan, yang mungkin berharga, mungkin berbahaya, yang kau tidak tahu harus dibawa pulang atau ditinggalkan.
Entri ketiga:
Ibu (n.): Ruang yang tadinya penuh, lalu menjadi kosong, tetapi tetap memiliki bentuk kosongnya. Lihat juga: gema, bayangan, sisa.
Amira menutup kamus.
Ia tidak ingin membaca lebih lanjut. Atau lebih tepatnya, ia sangat ingin membaca lebih lanjut, dan itulah yang membuatnya takut. Karena kamus ini bukan kamus biasa. Kamus ini adalah sesuatu yang berbicara kembali—setiap kali kau membaca sebuah entri, entri itu membacamu. Setiap kali kau mencoba memahami sebuah kata, kata itu mencoba memahami kau.
Dan Amira tidak yakin ingin dimengerti oleh sesuatu yang terbuat dari kulit telur kering.
Namun, kamus itu tidak mau ditutup.
Bukan karena magnet. Bukan karena lipatan yang salah. Halaman-halamannya menempel pada jarinya, seperti lidah yang menempel pada gigi yang retak, seperti kenangan yang menempel pada benda yang seharusnya tidak berarti apa-apa. Amira mencoba melepaskannya. Ia mencoba meletakkannya. Akan tetapi, kamus itu tetap ada di tangannya, terbuka pada halaman keempat, yang entri yang belum sempat ia baca kini memancarkan cahaya yang terlalu redup untuk disebut cahaya, tetapi terlalu nyata untuk disebut bayangan.
Halaman keempat:
Anak (n.): Versi seseorang yang belum selesai ditulis, yang menulis ulang penulisnya.
Amira membeku.
Ini tentang dirinya? Atau tentang sesuatu yang lain? Atau tentang sesuatu yang belum ada, yang mungkin akan ada, yang mungkin sudah ada tetapi dalam bentuk yang tidak bisa dikenali?
Ia melihat ke sekeliling kamar ibunya. Kamar yang kini menjadi kamarnya, kamar yang menjadi ruang tamunya, kamar yang menjadi dapurnya, kamar yang menjadi segalanya karena rumah ini terlalu besar untuk satu orang yang masih belajar cara menjadi satu orang. Dindingnya berwarna kuning pudar—dulu putih, kata tetangga, tetapi kuning pudar kini, kuning seperti halaman buku yang terlalu sering dibaca, kuning seperti kulit telur yang sudah kering.
Di sudut, ada kursi goyang. Kursi yang dulu diduduki ibunya setiap sore, setiap pagi, setiap waktu yang tidak bisa dipisahkan menjadi "pagi" atau "sore" karena ibunya tidak lagi mengenali perbedaannya. Kursi itu kosong sekarang. Akan tetapi, tidak benar-benar kosong. Ada sesuatu di atasnya—benda yang tidak bisa disebut "bantal" karena bentuknya salah, tidak bisa disebut "selimut" karena teksturnya salah, sesuatu yang hanya bisa disebut "yang ditinggalkan".
Amira mendekati kursi. Kamus masih di tangannya, terbuka, menatap, menunggu. Ia duduk di kursi. Kursi itu bergoyang—pelan, seperti napas, seperti sesuatu yang masih hidup tetapi hampir tidak.
Dan ketika kursi itu bergoyang, Amira melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Di depannya, di tengah ruangan yang seharusnya kosong, ada seorang anak.
Bukan anak kecil. Bukan anak yang bisa disebut "balita" atau "remaja" atau "bayi". Anak yang usianya tidak bisa ditentukan—mungkin lima tahun, mungkin lima ratus, mungkin belum dilahirkan, mungkin sudah mati sebelum sempat dilahirkan. Anak yang wajahnya adalah wajah yang Amira tidak kenali tetapi mengenali, wajah yang mungkin adalah wajahnya sendiri jika dilahirkan pada waktu yang berbeda, di dalam tubuh yang berbeda, di dalam cerita yang berbeda.
"Kau membaca kamusnya," kata anak itu.
Bukan suara. Bukan bisikan. Bukan apa pun yang bisa didengar oleh telinga. Akan tetapi, Amira mendengarnya—di dalam tulangnya, di dalam detak jantungnya yang masih 72 kali per menit, di dalam ruang kosong yang ditinggalkan oleh kata-kata yang ibunya tidak bisa ucapkan.
"Kamu siapa?" tanya Amira.
"Pertanyaan yang salah," jawab anak itu. "Yang benar: apa aku. Dan jawabannya: aku adalah entri yang belum ditulis. Aku adalah halaman kedelapan. Aku adalah kata yang belum ada bahasanya."
Mira menatap anak itu. Anak itu tidak berdiri, tidak duduk, tidak melayang. Anak itu ada—hanya ada, dalam cara yang tidak memerlukan posisi, tidak memerlukan orientasi, tidak memerlukan penjelasan.
"Kamus ini punya tujuh halaman," kata Amira.
"Punya," anak itu mengangguk—atau setidaknya, sesuatu yang terlihat seperti anggukan terjadi di tempat lehernya seharusnya berada. "Akan tetapi, tujuh adalah angka yang ragu-ragu. Tujuh selalu ingin menjadi delapan. Delapan adalah angka yang berdiri tegak, yang tidak jatuh, yang melihat ke depan dan ke belakang secara bersamaan."
Amira melihat kembali ke kamus di tangannya. Tujuh halaman. Tujuh entri. Tujuh kata yang mungkin adalah semua kata yang ibunya masih ingat, atau mungkin semua kata yang ibunya sengaja tinggalkan, atau mungkin—
"Kau ingin menulis halaman kedelapan?" tanya anak itu.
Amira tidak menjawab. Karena ini adalah konfliknya—konflik yang sudah ada sebelum bahasa, konflik yang tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata karena kata-kata adalah bagian dari masalahnya.
Jika ia menulis halaman kedelapan, ia akan menambahkan sesuatu yang tidak ada. Ia akan menciptakan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak diciptakan. Ia akan menjadi penulis dari sesuatu yang tidak meminta untuk ditulis.
Namun, jika ia tidak menulis, kamus itu akan tetap berhenti di tujuh. Dan tujuh, seperti kata anak itu, adalah angka yang ragu-ragu. Tujuh adalah sesuatu yang belum selesai. Tujuh adalah ibunya yang masih bisa mengucapkan tujuh kata dengan benar—tetapi tidak delapan, tidak sembilan, tidak seratus.
"Jika aku menulis," kata Amira perlahan, "apa yang harus kutulis?"
Anak itu tersenyum. Senyum yang tidak punya gigi, tidak punya bibir, tidak punya wajah—senyum yang hanya bisa dirasakan sebagai kemungkinan, sebagai janji yang belum diberikan, sebagai ruang yang menunggu untuk diisi.
"Kau harus menulis entri untuk 'menulis'," kata anak itu. "Kau harus menulis apa artinya menulis sesuatu yang tidak bisa ditulis. Kau harus menulis—" dan di sini, suara yang bukan suara itu berubah, menjadi lebih berat, lebih tua, lebih seperti sesuatu yang sudah menunggu terlalu lama, "—kau harus menulis aku."
---
Amira membuka kamus lagi.
Halaman kelima:
Menulis (v.): Untuk membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada, dengan risiko bahwa sesuatu yang ada akan menjadi tidak ada.
Halaman keenam:
Mati (v.): Untuk berhenti menjadi subjek dan menjadi objek dari kenangan orang lain. Lihat juga: ditinggalkan, sisa, yang.
Halaman ketujuh—terakhir:
Hidup (v.): Untuk terus menjadi subjek meski tidak yakin subjek dari apa.
Amira menatap tiga entri terakhir ini. Tiga entri yang, jika dibaca secara berurutan, membentuk kalimat yang tidak pernah diucapkan: Menulis mati hidup. Atau: Hidup menulis mati. Atau: Mati hidup menulis. Semuanya benar. Semuanya salah. Semuanya adalah sesuatu yang ibunya mungkin rasakan tetapi tidak bisa ucapkan, sesuatu yang ibunya mungkin ingin sampaikan tetapi tidak punya kata-katanya, sesuatu yang kini Amira pegang di tangannya seperti bom yang tidak tahu kapan meledak.
"Kata ibumu yang terakhir," kata anak itu, yang kini duduk—atau berada—di seberang Amira, di kursi goyang yang seharusnya tidak bisa menampung dua orang, "bukan kata. Yang terakhir adalah suara. Suara yang terdengar seperti—" anak itu berhenti, seolah mencari kata yang tepat di dalam kamus yang belum ditulisnya, "—terdengar seperti pertanyaan yang tidak sempat selesai."
Amira mengingat. Ia ingat malam terakhir. Ia ingat ibunya yang terbaring, mata terbuka tetapi tidak melihat, mulut bergerak tetapi tidak mengeluarkan suara yang bisa dikenali. Suara terakhir itu. Ya. Suara yang terdengar seperti "M—" lalu berhenti. Bukan "Mira". Bukan "Maaf". Bukan "Mati". Hanya "M—" dan kemudian sunyi.
"Apa yang ingin ia katakan?" tanya Amira.
"Itulah yang harus kau tulis," jawab anak itu. "Kau harus menulis apa yang tidak sempat ia katakan. Kau harus menulis halaman kedelapan. Dan halaman kedelapan itu—" anak itu menatap Amira dengan mata yang mungkin tidak ada, "—adalah kamu."
Amira merasa kursi goyang itu bergerak lebih cepat. Bukan karena ia menggerakkannya. Bukan karena angin. Kursi itu bergerak karena waktu—waktu yang tiba-tiba memutuskan untuk bergoyang, untuk tidak lagi berjalan lurus, untuk menjadi sesuatu yang bisa dirasakan sebagai gerakan, sebagai perubahan, sebagai kehidupan yang tidak bisa dijelaskan oleh jam dinding.
"Bagaimana caraku menulis sesuatu yang tidak tahu?" tanya Amira.
"Dengan tidak menulis apa yang kautahu," jawab anak itu. "Dengan menulis apa yang kaurasa. Dengan menulis apa yang kautakuti. Dengan menulis—" anak itu mengulurkan tangan, tangan yang transparan di bagian-bagian tertentu, seperti halaman kamus, seperti kulit telur yang sudah kering, "—dengan menulis aku."
Amira melihat tangan anak itu. Tangan yang tidak punya garis-garis telapak, tidak punya kuku, tidak punya bekas luka. Tangan yang bersih—terlalu bersih, bersih seperti halaman kosong, bersih seperti sesuatu yang belum terjadi.
"Jika aku menulismu," kata Amira, "apa yang akan terjadi kepadamu?"
"Aku akan menjadi ada," jawab anak itu.
"Dan jika aku tidak?"
"Maka aku akan tetap tidak ada. Akan tetapi, tidak ada di sini—" anak itu menunjuk ke kamus, ke halaman-halaman yang tipis, transparan, rapuh, "—tidak ada di sini berbeda dengan tidak ada di sana. Di sini, tidak ada adalah sesuatu. Di sana, tidak ada adalah tidak ada sama sekali."
Amira tidak mengerti. Atau mungkin ia mengerti terlalu banyak sehingga tidak bisa memilih mana yang harus dipercaya. Ia melihat ke kamus lagi. Tujuh halaman. Tujuh entri. Tujuh kata yang mungkin adalah semua yang ibunya tinggalkan untuknya—bukan rumah, bukan uang, bukan foto-foto yang sudah mulai memudar. Hanya tujuh kata. Dan sekarang, permintaan untuk menulis yang kedelapan.
"Katakan kepadaku," kata Amira, "siapa sebenarnya ibuku? Bukan definisinya di kamus ini. Bukan 'ruang yang tadinya penuh'. Siapa dia? Sebelum bahasa meninggalkannya. Sebelum ia menjadi 'benda itu' dan 'perasaan yang ...'. Siapa dia?"
Anak itu terdiam. Sangat lama. Lama hingga Amira berpikir mungkin waktu telah berhenti bergoyang, mungkin kursi ini telah berhenti bergerak, mungkin segalanya telah berhenti menunggu jawaban.
"Lihatlah entri pertama lagi," kata anak itu akhirnya.
Amira membuka halaman pertama. Ada: Untuk menjadi sesuatu yang bisa dilihat oleh mata yang belum belajar melihat.
"Kau melihatnya?" tanya anak itu.
"Aku melihat kata-kata," jawab Amira.
"Bukan. Lihatlah di balik kata-kata. Lihatlah apa yang tidak tertulis. Lihatlah—" anak itu berdiri, atau setidaknya menjadi lebih tinggi, lebih dekat, lebih nyata, "—lihatlah ruang di antara huruf-hurufnya."
Amira menatap. Ia menatap dengan mata yang belum belajar melihat—atau mungkin, dengan mata yang sudah terlalu lama belajar melihat sehingga lupa cara melihat dengan cara yang salah. Ia menatap hingga huruf-huruf itu mulai bergerak, mulai bergetar, mulai membuka celah di antara mereka.
Dan di celah itu, ia melihat.
Ia melihat ibunya. Bukan ibunya yang sakit, yang pucat, yang tidak bisa mengucapkan "meja" tanpa gerakan tangan yang salah. Ia melihat ibunya yang lebih muda, yang sedang menulis—menulis di atas kertas yang terlihat seperti kulit telur yang sudah kering, menulis dengan pena yang tidak mengeluarkan tinta tetapi mengeluarkan sesuatu yang lebih berat, lebih pekat, lebih seperti yang ingin dikatakan tetapi tidak bisa.
Ibunya sedang menulis kamus ini.
Tujuh entri. Tujuh kata. Tujuh halaman yang ia tinggalkan sebelum bahasa sepenuhnya meninggalkannya. Tujuh halaman yang, Amira kini mengerti, bukan untuk ibunya. Tujuh halaman yang untuk anaknya yang belum dilahirkan.
"Kau," bisik Amira kepada anak itu.
"Bukan," jawab anak itu. "Bukan aku. Bukan kau. Sesuatu di antaranya. Sesuatu yang belum. Sesuatu yang mungkin. Sesuatu yang ibumu tulis tetapi tidak selesai, yang ia tinggalkan tetapi tidak bisa tinggalkan, yang ia—" anak itu berhenti, seolah entri untuk kata yang ingin diucapkannya belum ditulis, "—yang ia cintai sebelum ia tahu apa artinya cinta."
Amira merasa air mata di pipinya. Air mata yang ia tidak sadari keluar. Air mata yang, jika dilihat dari dekat, mungkin berisi huruf-huruf kecil yang belum tersusun menjadi kata, yang belum diberi makna, yang belum dihuni oleh siapa pun.
"Jadi, aku harus menyelesaikannya?" tanya Amira.
"Bukan menyelesaikan," kata anak itu. "Melanjutkan. Menulis halaman kedelapan. Dan halaman kesembilan. Dan halaman kesepuluh. Sampai—" anak itu tersenyum lagi, senyum yang tidak punya bentuk tetapi punya berat, "—sampai kau mencapai kata yang tidak bisa ditulis. Dan di situlah kau akan berhenti. Bukan karena tidak bisa melanjutkan, melainkan karena kau akhirnya mengerti bahwa beberapa kata tidak perlu ditulis. Beberapa kata hanya perlu dirasakan."
Amira melihat ke kamus. Tujuh halaman. Tujuh entri. Tujuh kata yang ibunya tulis dengan pena yang tidak mengeluarkan tinta, dengan tangan yang mulai lupa cara menulis, dengan hati yang masih—meski segalanya mulai hilang—tahu apa yang ingin disampaikan.
Dan kini, gilirannya.
Untuk menulis halaman kedelapan.
Untuk menulis entri untuk "anak yang belum dilahirkan".
Untuk menulis dirinya.
---
Amira mengambil pena.
Bukan pena yang ia bawa. Pena yang tiba-tiba ada di tangannya—pena yang terbuat dari sesuatu yang terasa seperti tulang yang sangat halus, seperti ranting yang sudah kering, seperti sesuatu yang pernah hidup tetapi kini menjadi alat untuk menciptakan.
Ia membuka halaman baru di kamus.
Namun, kamus itu tidak punya halaman baru. Tujuh halaman. Hanya tujuh. Tidak ada tempat untuk halaman kedelapan.
"Tempatnya ada," kata anak itu, "tetapi tidak di sini. Tidak di antara halaman tujuh dan penutup. Tempatnya di antara halaman satu dan dua. Di antara halaman tiga dan empat. Di antara—" anak itu menunjuk ke celah-celah yang Amira lihat sebelumnya, celah di antara huruf-huruf, di antara kata-kata, di antara yang ada dan yang tidak, "—di antara yang sudah tertulis dan yang belum."
Amira mengerti. Atau setidaknya, ia berpikir ia mengerti. Ia menempatkan penanya di antara halaman tiga dan empat—di antara "Tidak ada" dan "Ibu"—dan ia mulai menulis.
Namun, tidak ada tinta yang keluar.
"Tinta yang salah," kata anak itu. "Kau tidak bisa menulis halaman kedelapan dengan tinta. Halaman kedelapan harus ditulis dengan sesuatu yang lebih berat. Sesuatu yang lebih pekat. Sesuatu yang—" anak itu mengulurkan tangan lagi, dan kali ini, tangannya menyentuh dada Amira, menyentuh tempat di mana sesuatu bergerak yang bukan jantung, "—sesuatu yang ada di sini."
Amira menatap anak itu. "Kau ingin aku menulis dengan—"
"Dengan apa yang kaurasa," sambung anak itu. "Dengan apa yang kautakuti. Dengan apa yang kausinggung. Dengan—" dan di sini, suara yang bukan suara itu bergetar, pecah, menjadi sesuatu yang hampir seperti tangis, "—dengan cinta yang tidak tahu cara mengatakannya."
Amira menutup mata.
Ia merasa. Ia merasa segalanya. Ia merasa ibunya yang menulis tujuh entri ini dengan tangan yang mulai lupa, dengan hati yang masih ingat. Ia merasa kekosongan yang ditinggalkan, ruang yang tadinya penuh, yang tetap memiliki bentuk kosongnya. Ia merasa dirinya yang belum selesai ditulis, yang menulis ulang penulisnya. Ia merasa anak itu—anak yang belum dilahirkan, yang mungkin tidak akan pernah dilahirkan, yang mungkin sudah ada dalam bentuk yang berbeda.
Dan dari perasaan itu, sesuatu keluar.
Bukan tinta. Bukan darah. Bukan air mata. Sesuatu yang tidak punya nama, yang tidak punya warna, yang tidak punya bentuk—tetapi punya berat. Sesuatu yang jatuh dari ujung pena ke halaman yang tidak ada, yang menempel, yang meresap, yang menjadi.
Amira membuka mata.
Di antara halaman tiga dan empat, ada sesuatu yang baru. Bukan halaman. Bukan kata. Sesuatu yang lebih seperti gambar—tetapi bukan gambar yang bisa dilihat dengan mata. Gambar yang bisa dilihat dengan rasa. Gambar yang, jika kau coba jelaskan dengan kata-kata, akan menjadi:
Seorang wanita. Bukan tua, tidak muda. Di tangannya, sebuah kamus yang tipis. Di matanya, sesuatu yang belum selesai. Di mulutnya, sebuah kata yang tidak sempat selesai—"M—" dan kemudian sunyi. Akan tetapi, di sekitarnya, di ruang di antara huruf-huruf, di celah-celah yang tidak terlihat, ada sesuatu yang lebih besar dari kata. Ada kehadiran. Ada cinta yang tidak tahu cara mengatakannya, tetapi tetap mencoba. Ada ibu.
Dan di bawah gambar itu, tertulis:
M (n.): Awal dari segala sesuatu yang tidak sempat selesai. Lihat juga: maaf, mungkin, mencintai, milikku.
Amira menatap entri itu. Entri yang ia tulis tanpa tinta, tanpa kata, tanpa cara. Entri yang hanya bisa ada karena ia merasa, karena ia takut, karena ia cinta.
"Kau menulisnya," kata anak itu.
Suara yang bukan suara itu kini berbeda. Lebih ringan. Lebih dekat. Lebih seperti suara.
"Akan tetapi, aku tidak menulis tentangmu," kata Amira. "Aku menulis tentang ibuku. Tentang 'M'. Tentang awal yang tidak selesai."
"Dan itulah aku," jawab anak itu. "Aku adalah awal yang tidak selesai. Aku adalah 'M' yang tidak sempat menjadi kata. Aku adalah—" anak itu berhenti, seolah entri untuk dirinya sendiri akhirnya mulai terbentuk, "—aku adalah kemungkinan. Dan kemungkinan, Mira, tidak perlu selesai untuk menjadi nyata."
Amira melihat anak itu. Anak yang usianya tidak bisa ditentukan, yang wajahnya adalah wajah yang tidak dikenali tetapi dikenali, yang keberadaannya adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.
"Apa yang akan terjadi kepadamu sekarang?" tanya Amira.
"Aku akan pergi," jawab anak itu. "Bukan karena kau menulis, melainkan karena kau akhirnya mengerti bahwa menulis bukan tentang menyelesaikan. Menulis adalah tentang memulai. Dan kau sudah memulai. Halaman kedelapan sudah ada. Yang perlu kulakukan sekarang adalah—" anak itu tersenyum, dan kali ini, senyumnya punya bentuk. Punya gigi. Punya bibir. Punya wajah yang, Amira sadari, adalah wajahnya sendiri saat masih kecil, "—yang perlu kulakukan sekarang adalah menjadi sesuatu yang lain. Kemungkinan yang lain. Awal yang tidak selesai, di tempat lain, di waktu lain, di cerita lain."
Anak itu mulai memudar. Bukan lenyap. Bukan pergi. Memudar seperti tinta yang meresap ke kertas, seperti gambar yang menjadi bagian dari kanvas, seperti kenangan yang tidak lagi memerlukan wujud untuk menjadi nyata.
"Tunggu," kata Amira. "Siapa namamu? Siapa aku sebenarnya? Apa artinya semua ini?"
Anak itu—yang kini hampir sepenuhnya transparan, hampir sepenuhnya menjadi bagian dari halaman yang tidak ada—menggeleng. Bukan dengan kepala. Bukan dengan tubuh. Dengan kehadirannya.
"Nama-nama adalah untuk yang sudah selesai," kata anak itu. "Kau belum selesai, Mira. Kamu belum selesai. Kamus ini belum selesai. Dan itu—" suara yang hampir tidak ada itu terdengar seperti tawa, seperti tangis, seperti sesuatu di antaranya, "—itu adalah hal terbaik yang bisa kaumiliki."
Dan kemudian, anak itu pergi.
Bukan pergi. Bukan lenyap. Bukan mati. Anak itu menjadi—menjadi bagian dari kamus, menjadi bagian dari halaman kedelapan, menjadi bagian dari celah-celah di antara huruf-huruf yang Mira akan terus baca, terus cari, terus rasa.
---
Mira duduk di kursi goyang itu hingga pagi.
Kursi yang bergoyang pelan, seperti napas, seperti sesuatu yang masih hidup. Kamus di tangannya. Tujuh halaman yang ditulis ibunya. Satu halaman yang ditulisnya. Dan celah-celah di antaranya—celah-celah yang kini penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat tetapi bisa dirasakan, tidak bisa diucapkan tetapi bisa dimengerti.
Ketika matahari terbit, Amira berdiri.
Ia berjalan ke meja rias. Ia membuka laci. Ia meletakkan kamus itu kembali—bukan di antara botol-botol obat, melainkan di tempat yang terlihat, yang bisa dijangkau, yang ada.
Dan di samping kamus, ia meletakkan sesuatu yang baru.
Sebuah pena. Pena yang terbuat dari tulang yang sangat halus, dari ranting yang sudah kering, dari sesuatu yang pernah hidup. Pena yang tidak mengeluarkan tinta, tetapi mengeluarkan sesuatu yang lebih berat, lebih pekat, lebih seperti yang ingin dikatakan.
Di atas meja, ia meninggalkan secarik kertas. Kertas kosong. Atau hampir kosong—di sudut kanan bawah, ada noda. Noda minyak, atau noda air mata, atau noda sesuatu yang tidak punya nama. Noda yang, jika dilihat dari sudut tertentu, membentuk wajah seseorang yang mungkin adalah Amira sendiri, atau mungkin ibunya, atau mungkin anak yang belum dilahirkan.
Dan di atas kertas itu, tertulis:
"Untuk yang akan menemukan ini: kamus ini tidak selesai. Dan tidak perlu selesai. Yang perlu kaulakukan adalah melanjutkannya. Menulis halaman berikutnya. Menjadi entri untuk kata yang belum ada. Menjadi—"
Amira berhenti menulis.
Karena ia menyadari sesuatu. Sesuatu yang mungkin adalah hal terpenting yang ia pelajari dari semua ini.
Kamus tidak perlu selesai.
Cerita tidak perlu selesai.
Ia tidak perlu selesai.
Yang penting adalah terus menulis. Terus menjadi. Terus ada—dalam cara yang belum dipelajari, yang belum didefinisikan, yang belum menjadi kata.
Amira meninggalkan kamar itu. Bukan untuk terakhir kalinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia meninggalkan kamar itu dengan sesuatu yang bisa disebut harapan—meski ia tidak yakin harapan untuk apa, meski ia tidak tahu apa yang akan datang, meski ia hanya memiliki tujuh entri yang ditulis ibunya dan satu entri yang ditulisnya sendiri dan celah-celah yang tak terhitung di antaranya.
Di koridor, ia bertemu dengan tetangga. Tetangga yang selama ini hanya melihatnya dengan tatapan kasihan, dengan "bagaimana keadaan ibumu", dengan diam-diam yang lebih keras dari kata-kata.
"Selamat pagi," kata tetangga itu.
Dan Amira—Amira yang selama ini hanya bisa mengangguk, atau tersenyum pahit, atau berbalik pergi—Amira menjawab:
"Selamat pagi. Ibu saya sudah menulis kamus. Dan saya—saya sedang melanjutkannya."
Tetangga itu menatapnya bingung. Tentu saja bingung. Bagaimana mungkin tidak bingung? Bagaimana mungkin seseorang memahami apa artinya "menulis kamus" ketika yang mereka lihat hanyalah seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya, yang harus merawatnya sendiri, yang kini berdiri di koridor dengan mata merah dan senyum yang tidak bisa dijelaskan?
Namun, Amira tidak peduli.
Karena untuk pertama kalinya, ia merasa seperti subjek lagi. Subjek dari ceritanya sendiri. Subjek dari kamusnya sendiri. Subjek dari hidupnya yang belum selesai, yang mungkin tidak akan pernah selesai, dan itu tidak apa-apa.
Ia keluar dari rumah. Matahari sudah tinggi. Langit biru—biru biasa, bukan mazarin. Namun, di sudut-sudut langit itu, di celah-celah awan, Amira melihat sesuatu. Sesuatu yang mungkin adalah anak itu, yang mungkin adalah ibunya, yang mungkin hanyalah cahaya yang dipantulkan dengan cara yang salah.
Sesuatu yang tersenyum kepadanya.
Senyum yang tidak punya bentuk.
Senyum yang hanya bisa dirasakan.
Dan Amira—yang kini memegang pena yang tidak mengeluarkan tinta di saku jaketnya, yang merasakan berat kamus yang tidak terbawa tetapi selalu ada, yang tahu bahwa halaman kedelapan sudah ditulis dan halaman kesembilan menunggu—Amira tersenyum balik.
Senyum yang baru saja ia pelajari.
Senyum yang tidak perlu dijelaskan.
Senyum yang adalah jawaban dari pertanyaan yang tidak sempat selesai.
"M—"
Dan kali ini, "M" itu tidak berhenti. Ia berlanjut. Menjadi sesuatu yang lebih besar dari kata. Menjadi sesuatu yang tidak perlu diucapkan untuk menjadi nyata.
Menjadi cinta.
---
TAMAT
(Atau belum. Karena kamus anak-anak yang belum dilahirkan tidak pernah benar-benar tamat. Mereka hanya menunggu—menunggu seseorang untuk membuka laci, untuk menemukan kertas yang terbuat dari kulit telur kering, untuk membaca tujuh entri yang ditinggalkan, dan untuk akhirnya mengerti bahwa menulis bukan tentang menyelesaikan. Menulis adalah tentang membiarkan. Membiarkan kata-kata menjadi apa yang mereka inginkan. Membiarkan cerita menjadi apa yang ia butuhkan. Membiarkan diri sendiri menjadi—belum selesai, belum terdefinisi, belum ada—tetapi sedang menjadi.)
Komentar
Posting Komentar