KAMUS YANG MELAHIRKAN KATA-KATA YANG BELUM DIKATAKAN

Damar menemukan bahwa ibunya tidak mati. Ia hanya terlupakan—bukan oleh dunia, melainkan oleh bahasa.

Kata "ibu" masih ada, tetapi artinya sudah bergeser. Sekarang "ibu" berarti seseorang yang pernah ada di ruangan yang sama denganmu saat kamu lahir. Bukan yang melahirkanmu. Bukan yang mencintaimu. Hanya yang kebetulan berada di sana.

Dan Damar, yang berusia tujuh tahun ketika ibunya "terlupakan", sekarang berusia dua puluh delapan. Ia tidak ingat wajah ibunya. Bukan karena memori pudar, melainkan karena tidak ada kata untuk wajah itu. Wajah ibunya adalah wajah yang belum pernah dideskripsikan—dan dalam dunia di mana deskripsi adalah keberadaan, sesuatu yang tidak dideskripsikan tidak ada.

Kota Damar—kota yang tidak punya nama, karena nama adalah kontrak dan kontrak bisa dilanggar—dihuni oleh orang-orang yang berbicara dengan hati-hati. Setiap kata yang diucapkan menjadi. Setiap kata yang ditahan lenyap. Bukan metafora. Bukan. Jika kamu mengatakan "pohon", pohon tumbuh dari tanah di sudut jalan. Jika kamu mengatakan "hujan", langit membuka diri dan mencurahkan air. Akan tetapi, jika kamu berhenti mengatakan "hujan"—jika seluruh kota berhenti, bersamaan, dalam satu detik yang sama—hujan itu menghilang. Bukan berhenti. Bukan. Menghilang. Seolah tidak pernah ada. Seolah air yang basah di wajahmu hanya ingatan palsu dari bahasa yang pernah berkuasa.

Dan Damar? Damar adalah Pembaca. Bukan pekerjaan. Bukan gelar. Melainkan kondisi. Kondisi langka di kota ini—kondisi yang membuatnya dapat melihat kata-kata yang belum diucapkan. Kata-kata yang mengambang di udara seperti debu, menunggu untuk diadopsi oleh mulut yang berani. Kata-kata yang, jika tidak diucapkan tepat waktu, akan membusuk. Membusuk di udara, menjadi bau yang tidak punya nama, menjadi keheningan yang terlalu berat untuk didiamkan.

Hari ini—hari Damar menemukan bahwa ibunya tidak mati—ia sedang duduk di perpustakaan kota. Perpustakaan yang bukan tempat menyimpan buku, melainkan tempat menyimpan kata-kata yang dicuri.

---

Perpustakaan berbau seperti mulut yang baru bangun tidur. Bau belum-berkata. Bau kata-kata yang terjebak di antara gigi, menunggu untuk dilepaskan atau ditelan kembali.

Damar duduk di meja kayu yang permukaannya penuh goresan—bukan goresan pisau, melainkan goresan huruf. Huruf-huruf yang pernah mencoba keluar dari kayu, tetapi gagal. Kayu, di kota ini, adalah makhluk yang bisu. Tidak bisa berkata. Tidak bisa dikatakan. Hanya bisa digores.

"Kamu mencari sesuatu," kata Pustakawati.

Bukan pertanyaan. Pustakawati tidak pernah bertanya. Ia hanya menyatakan—karena pertanyaan, di kota ini, adalah kata-kata yang berbahaya. Pertanyaan membuka ruang. Dan ruang yang terbuka bisa diisi oleh siapa saja. Atau apa saja.

Damar mengangguk. "Saya mencari kata yang hilang."

"Semua kata yang hilang ada di sini. Akan tetapi, tidak semua bisa ditemukan. Beberapa ... beberapa sudah terlupakan. Bukan oleh orang, melainkan oleh bahasa itu sendiri. Bahasa adalah makhluk yang rakus. Ia melahirkan kata baru setiap hari, tetapi ia juga memakan kata lama. Kata yang tidak lagi berguna. Kata yang tidak lagi diucapkan."

Damar merogoh saku celananya. Mengeluarkan selembar kertas. Kertas yang tidak bertulis—karena tulisan, di kota ini, adalah kata yang ditahan. Kata yang ditahan bisa melarikan diri dari tinta. Bisa kembali ke udara. Bisa menjadi milik siapa saja yang berani mengucapkannya pertama kali.

Namun, kertas ini punya bekas. Bekas tekanan pena. Bekas yang, jika Damar pejamkan mata dan rasakan dengan jari-jarinya, membentuk sesuatu. Sesuatu yang hampir seperti ... nama.

"Pustakawati," bisik Damar, "ada kata yang tidak boleh diucapkan di kota ini. Kata yang, jika diucapkan, bisa ...."

"Menghidupkan yang terlupakan?"

Damar membeku. "Kamu tahu?"

Pustakawati tersenyum. Dan senyumnya—bukan senyum. Bukan. Senyumnya adalah kata yang belum diucapkan. Kata yang mengambang di sudut bibirnya, berkilau, berdenyut, menunggu untuk dilahirkan atau dibunuh.

"Semua Pustakawati tahu," katanya. "Akan tetapi, kami tidak boleh mengatakan. Kami hanya boleh menyimpan. Dan menyimpan, Damar, bukanlah keberanian. Menyimpan adalah ... pengkhianatan terhadap kata-kata itu sendiri."

Ia berdiri. Berjalan ke lorong gelap di belakang rak-rak. Rak-rak yang bukan berisi buku, melainkan berisi botol. Botol kaca, berisi cairan yang berwarna-warna. Cairan yang—jika Damar pejamkan mata dan dengarkan dengan sesuatu yang lebih dalam dari telinga—berbisik.

"Kata-kata yang dicuri," jelas Pustakawati, mengambil satu botol. Cairan di dalamnya berwarna biru tua, hampir hitam, bergerak-gerak seperti sesuatu yang hidup. "Kata-kata yang pernah diucapkan, tetapi kemudian ditarik kembali. Ditarik oleh penuturnya. Ditarik oleh kota. Ditarik oleh bahasa yang berubah pikiran. Kata-kata ini ... mereka tidak mati. Mereka hanya terpenjara."

Damar menatap botol itu. Dan di dalam cairan biru tua, ia melihat sesuatu. Bukan bayangan. Bukan. Ia melihat bentuk. Bentuk yang bergerak, yang meronta, yang mencoba membentuk bibir, lidah, pita suara.

"Kata apa itu?" tanya Damar.

Pustakawati menatapnya. Lama. Sangat lama. Seolah menatap bukan Damar, melainkan sesuatu yang ada di belakang Damar. Sesuatu yang berdiri di bahunya, yang berbisik di telinganya, yang menunggu untuk diucapkan.

"Kata itu," bisik Pustakawati, "adalah nama ibumu."

Damar merasa dunia—bukan dunia. Kota. Kota ini—bergetar. Bukan gempa. Bukan. Getaran bahasa. Getaran yang terjadi ketika sebuah kata yang terlupakan hampir ditemukan. Ketika sebuah nama yang terpenjara hampir dibebaskan.

"Akan tetapi," lanjut Pustakawati, "ada konsekuensi. Nama ibumu tidak diucapkan selama dua puluh satu tahun. Bukan karena orang takut, melainkan karena kota melarang. Kota melarang nama itu karena ... karena nama itu adalah kunci. Kunci untuk sesuatu yang kota ini tutup. Sesuatu yang kota ini lupakan. Sesuatu yang, jika terbuka, bisa membuat bahasa ini ... berubah."

Damar menatap botol di tangan Pustakawati. Cairan biru tua itu bergerak lebih kencang. Lebih putus asa. Seolah tahu. Seolah mendengar. Seolah menunggu.

"Apa yang terlupakan?" tanya Damar.

Pustakawati tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan botol itu. Dan ketika tangan Damar menyentuh kaca dingin, ia mendengar—bukan dengan telinga. Dengan tulang. Dengan darah. Dengan sesuatu yang lebih tua dari kata—

Ia mendengar suara ibunya. Bukan memanggil. Bukan. Menyanyi. Menyanyikan lagu yang tidak punya lirik. Lagu yang hanya terdiri atas nada. Nada yang, sebelum ada bahasa, adalah satu-satunya cara untuk mengatakan aku ada. aku di sini. aku mencintaimu.

---

Damar membawa botol itu pulang.

Apartemennya—unit yang tidak punya nomor, karena nomor adalah kata yang menghitung, dan menghitung berarti membatasi—berbau seperti kata "sendiri". Bau yang tidak bisa dihilangkan dengan parfum. Bau yang hanya bisa diubah dengan mengucapkan sesuatu yang lain.

Namun, Damar tidak mengucapkan apa-apa.

Ia duduk di lantai. Menatap botol. Menunggu.

Dan tengah malam—ketika kota tidur, ketika kata-kata beristirahat, ketika bahasa adalah makhluk yang paling lemah—botol itu berbicara.

Bukan dengan suara. Bukan. Botol itu retak. Retakan kecil, di bagian bawah, di mana kaca paling tipis. Dan dari retakan itu, cairan biru tua merembes. Merembes ke lantai. Merembes ke kata-kata yang terukir di goresan kayu meja. Merembes ke udara yang penuh dengan kata-kata yang belum diucapkan.

Dan dari cairan itu, sesuatu tumbuh.

Bukan pohon. Bukan bunga. Bukan makhluk. Melainkan bentuk. Bentuk yang bergerak, yang berubah, yang mencoba menjadi sesuatu. Sesuatu yang Damar hampir kenali. Hampir. Akan tetapi, tidak cukup.

Karena untuk mengenali, Damar butuh kata. Butuh nama. Butuh deskripsi. Dan deskripsi ibunya—semua deskripsi itu—sudah terlupakan. Bukan oleh Damar, melainkan oleh kota. Oleh bahasa. Oleh waktu yang berjalan hanya untuk kata-kata yang masih diucapkan.

"Bunda," bisik Damar.

Dan kata itu—kata "bunda"—bukan nama ibunya. Bukan. "Bunda" adalah kata yang masih ada. Kata yang masih diucapkan. Akan tetapi, "bunda" sekarang berarti seseorang yang pernah ada di ruangan yang sama denganmu saat kamu lahir. Bukan yang melahirkanmu. Bukan yang mencintaimu.

Bentuk itu bergetar. Seolah menolak kata "bunda". Seolah tahu bahwa kata itu keliru. Bahwa kata itu tidak cukup. Bahwa kata itu adalah penjara yang lebih kecil dari botol kaca.

Damar menatap bentuk itu. Dan ia sadar—sadar dengan sesuatu yang lebih tua dari bahasa, lebih tua dari kata, lebih tua dari kenal—

Ia sadar bahwa ibunya bukan seseorang. Bukan. Ibunya adalah hubungan. Hubungan yang tidak bisa dijelaskan dengan satu kata. Hubungan yang tidak bisa dikurung dalam satu nama. Hubungan yang, jika ingin hidup, butuh seluruh bahasa. Butuh setiap kata yang pernah diucapkan. Butuh setiap kata yang belum diucapkan. Butuh segala-galanya.

Dan kota ini—kota yang melupakan—kota yang hanya menyimpan kata-kata yang berguna—kota yang memakan kata-kata yang usang—

Kota ini tidak punya cukup bahasa untuk ibu.

---

Pagi itu, Damar pergi ke Tukang Kata.

Bukan tukang servis. Bukan tukang jahit. Tukang Kata adalah makhluk yang, konon, bisa membuat kata. Bukan menemukan. Bukan mencuri. Melainkan melahirkan. Melahirkan kata-kata baru dari kekosongan. Dari keheningan. Dari tempat di mana bahasa belum pernah menginjak.

Tukang Kata tinggal di pinggiran kota. Di tempat di mana jalan berakhir. Bukan karena tidak ada jalan lagi, melainkan karena kata "jalan" tidak bisa diucapkan lebih jauh dari sini. Kata "jalan" habis. Seperti napas. Seperti percaya.

Damar menemukan Tukang Kata sedang duduk di batu. Tidak melakukan apa-apa. Hanya menunggu. Menunggu apa? Menunggu kata yang belum ada. Menunggu seseorang yang berani datang dengan kekosongan yang cukup besar untuk diisi.

"Kamu ingin membuat kata," kata Tukang Kata. Bukan pertanyaan. Tukang Kata tidak pernah bertanya. Tukang Kata hanya tahu. Karena untuk membuat kata, kamu harus sudah kehabisan kata. Dan kehabisan kata adalah kondisi yang bisa diumumkan dari jarak kilometer.

Damar mengangguk. "Saya ingin membuat kata untuk ... untuk hubungan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata yang ada."

Tukang Kata tersenyum. Dan senyumnya—bukan senyum. Bukan. Senyumnya adalah proses. Proses pembuatan kata. Kata yang belum selesai. Kata yang masih mentah.

"Hubungan seperti itu," kata Tukang Kata, "butuh bukan satu kata. Butuh bahasa baru. Bahasa yang tidak punya aturan. Bahasa yang tidak punya kamus. Bahasa yang, setiap kali diucapkan, berubah. Karena hubungan yang hidup—hubungan yang benar-benar hidup—tidak bisa diikat oleh kata yang sama. Kata yang sama adalah kuburan. Kuburan untuk makna yang pernah hidup."

Damar duduk di batu di sebelah Tukang Kata. "Bagaimana cara membuat bahasa baru?"

Tukang Kata mengangkat tangan. Tangan yang tidak punya jari. Tangan yang, sebaliknya, penuh dengan garis. Garis-garis yang bergerak, yang berubah, yang membentuk sesuatu yang hampir seperti huruf. Bukan huruf, melainkan sebelum huruf.

"Bahasa baru," kata Tukang Kata, "tidak dibuat dengan mulut. Tidak dengan tangan. Tidak dengan pikiran. Bahasa baru dibuat dengan luka. Luka yang belum pernah diucapkan. Luka yang, jika diucapkan dengan kata yang ada, akan salah. Karena kata yang ada sudah terkontaminasi. Terkontaminasi oleh penggunaan. Terkontaminasi oleh waktu. Terkontaminasi oleh orang-orang yang mengucapkannya tanpa merasakannya."

Damar menatap tangannya sendiri. Tangan yang biasa. Tangan yang, seumur hidupnya, hanya mengucapkan kata-kata yang sudah ada. Kata-kata yang aman. Kata-kata yang pas. Kata-kata yang tidak cukup.

"Luka saya," bisik Damar, "adalah bahwa saya tidak bisa mengatakan ibu saya. Bukan karena saya tidak punya kata, melainkan karena kata yang ada ... kata 'ibu' ... sudah tidak lagi berarti dia. Kata 'ibu' sudah menjadi orang lain. Menjadi konsep. Menjadi sesuatu yang bisa diucapkan tanpa merasakan. Dan saya ... saya ingin merasakan. Saya ingin diketahui. Oleh bahasa. Oleh kota. Oleh dunia. Bahwa ibu saya adalah dia. Bukan konsep. Bukan kata. Melainkan seseorang yang, jika saya ucapkan namanya, dunia akan bergetar."

Tukang Kata menatapnya. Lama. Dan garis-garis di tangannya—garis-garis yang bergerak, yang berubah—tiba-tiba berhenti. Berhenti di satu bentuk. Bentuk yang Damar tidak kenali. Bentuk yang tidak ada di kamus mana pun. Bentuk yang, jika Damar pejamkan mata dan rasakan, terasa seperti ... tangisan yang belum pernah menangis. Atau tawa yang belum pernah tertawa. Atau cinta yang belum pernah mencintai.

"Kata itu," kata Tukang Kata, "sudah ada. Bukan di dalammu. Bukan. Melainkan di antaramu dan dia. Di ruang yang terbentuk ketika kamu berada di sini, dan ia—di mana pun ia berada—berada di sana. Ruang itub... ruang itu adalah kata. Kata yang tidak bisa diucapkan sendiri. Kata yang hanya bisa diucapkan bersama. Kata yang, jika kamu ucapkan sendiri, akan setengah. Dan setengah bukanlah kata. Setengah adalah kebohongan."

Damar tidak mengerti. Akan tetapi, ia merasa—merasa di tulangnya, di darahnya, di tempat yang lebih tua dari pengertian—

Ia merasa bahwa Tukang Kata benar.

Ibunya tidak mati. Ibunya tidak terlupakan. Ibunya ada. Di ruang antara. Di ruang yang terbentuk oleh jarak. Jarak yang bukan kilometer. Jarak yang bukan waktu. Jarak yang adalah kata yang belum diucapkan.

Dan untuk mengucapkan kata itu—kata yang ada di ruang antara—Damar butuh yang lain. Bukan Tukang Kata. Bukan Pustakawati. Bukan kota ini.

Damar butuh ibu itu sendiri.

---

Damar kembali ke apartemennya.

Bentuk dari cairan biru tua masih ada. Namun, kini—kini bentuk itu menipis. Menipis seperti kata yang nyaris dilupakan. Menipis seperti percaya yang tidak diucapkan. Menipis seperti cinta yang dibiarkan menguap.

Damar duduk di depan bentuk itu. Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh satu tahun, ia berbicara. Bukan kepada bentuk. Bukan kepada ibunya. Melainkan kepada ruang antara.

"Bunda," katanya. Dan kali ini—kali ini—kata itu bukan "bunda" yang ada di kamus. Kata itu adalah panggilan. Panggilan yang tidak punya arti selain aku di sini, aku mencarimu, aku tidak menyerah.

Bentuk itu bergetar.

"Kamu tidak mati," lanjut Damar. "Kamu tidak terlupakan. Kamu hanya ... kamu hanya terkunci. Terkunci di kata yang tidak bisa diucapkan. Terkunci di bahasa yang tidak cukup. Terkunci di dunia yang hanya mengakui apa yang bisa dihitung."

Bentuk itu mulai bersuara. Bukan suara. Bukan. Melainkan getaran. Getaran yang, jika Damar pejamkan mata, terasa seperti ... nada. Nada dari lagu yang tidak punya lirik. Lagu yang dinyanyikan oleh ibunya—bukan ibunya yang ada di kamus, melainkan ibunya yang ada di ruang antara.

Dan Damar—Damar yang Pembaca, Damar yang bisa melihat kata-kata yang belum diucapkan—Damar mendengar. Mendengar sesuatu yang bukan suara. Mendengar sesuatu yang adalah jawaban. Jawaban yang tidak terucap. Jawaban yang hanya bisa dirasakan.

Jawabannya adalah: Aku juga di sini. Aku juga mencarimu. Aku juga tidak menyerah.

Namun, jawaban itu—jawaban yang tidak terucapkan—tidak cukup. Tidak untuk kota ini. Tidak untuk bahasa ini. Tidak untuk dunia yang hanya mengakui apa yang bisa diucapkan.

Damar butuh lebih. Ia butuh membuat kata itu—kata yang ada di ruang antara—nyata. Nyata di dunia ini. Nyata di bahasa ini. Nyata di kota yang melupakan.

Dan untuk itu, Damar butuh melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Ia butuh mengucapkan kota itu salah.

---

Damar pergi ke pusat kota.

Pusat kota—bukan geografis. Bukan. Pusat kota adalah tempat di mana kata-kata paling sering diucapkan. Tempat di mana bahasa paling kuat. Tempat di mana melupakan adalah kekuatan yang paling dahsyat.

Di sana, ada Monumen. Monumen yang bukan untuk peristiwa. Bukan untuk pahlawan. Monumen untuk kata-kata yang masih diucapkan. Kata-kata yang, setiap hari, diucapkan oleh ribuan orang, menjadi tebal. Menjadi berat. Menjadi nyata.

Dan di puncak Monumen, ada Kata Terakhir. Kata yang, konon, adalah kata pertama yang diucapkan di kota ini. Kata yang menjadi benih. Benih untuk semua kata yang lahir setelahnya. Kata yang, jika diubah, bisa mengubah seluruh bahasa.

Namun, tidak ada yang tahu Kata Terakhir itu apa. Tidak ada yang bisa tahu. Karena Kata Terakhir adalah kata yang tidak bisa diucapkan dua kali. Kata yang, setelah diucapkan, menghilang. Menjadi sesuatu yang lain. Menjadi bahasa itu sendiri.

Damar berdiri di bawah Monumen. Menatap puncaknya. Menatap kekosongan di mana Kata Terakhir seharusnya berada.

Dan ia berbicara. Bukan kepada orang. Bukan kepada kota. Bukan kepada bahasa. Melainkan kepada kekosongan.

"Kamu salah," katanya. Dan suaranya—suaranya bukan suara. Suaranya adalah pertanyaan. Pertanyaan yang, jika diucapkan kepada kekosongan, bisa memaksa kekosongan untuk menjawab.

"Kamu salah," ulang Damar, lebih keras. "Kamu mengatakan bahwa ibu saya terlupakan. Kamu mengatakan bahwa nama ibu saya tidak bisa diucapkan. Kamu mengatakan bahwa hubungan kami—hubungan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata yang ada—tidak ada. Akan tetapi, kamu salah. Karena hubungan kami ada. Di ruang antara. Di kata yang belum diucapkan. Di keheningan yang lebih berat dari bahasa."

Kota bergetar. Bukan fisik. Bukan. Kota bergetar bahasa. Setiap kata yang sedang diucapkan—setiap "pohon", setiap "hujan", setiap "jalan"—terguncang. Seolah meragukan diri mereka sendiri. Seolah mendengar, untuk pertama kalinya, suara yang meragukan bahasa itu sendiri.

Dan dari puncak Monumen—dari kekosongan di mana Kata Terakhir seharusnya berada—sesuatu turun.

Bukan cahaya. Bukan suara. Bukan makhluk. Melainkan kata. Kata yang belum pernah ada. Kata yang baru lahir. Kata yang—ketika Damar melihatnya, ketika Damar merasakannya—ia tahu. Ia tahu bahwa kata itu adalah jawaban. Jawaban untuk pertanyaan yang tidak diucapkan. Jawaban untuk luka yang tidak diceritakan. Jawaban untuk cinta yang tidak punya nama.

Kata itu—bentuknya tidak bisa dijelaskan. Bukan huruf. Bukan nada. Bukan getaran. Melainkan sesuatu yang lebih tua dari ketiganya. Sesuatu yang, jika Damar coba ucapkan, akan salah. Karena kata ini bukan untuk diucapkan sendiri. Kata ini untuk diucapkan bersama. Bersama ibunya. Di ruang antara. Di pertemuan.

Dan Damar—Damar yang tahu bahwa ia tidak bisa mengucapkan kata ini sendiri—Damar menangis. Bukan karena sedih. Bukan. Menangis karena kata itu terlalu berat. Terlalu penuh. Terlalu nyata untuk satu orang saja.

---

Damar kembali ke apartemen.

Bentuk dari cairan biru tua hampir tidak terlihat. Hampir menghilang. Akan tetapi, Damar tahu—tahu dengan kata baru yang ada di dadanya, yang belum bisa diucapkan, yang menunggu—

Ia tahu bahwa bentuk itu bukan ibunya. Bukan. Bentuk itu adalah jembatan. Jembatan yang dibangun oleh kata-kata yang terpenjara. Jembatan yang, jika Damar berani melintasi, akan membawanya ke ruang antara.

Damar duduk di lantai. Menutup mata. Dan ia berjalan. Bukan dengan kaki. Bukan dengan tubuh. Melainkan dengan kata. Kata baru yang ada di dadanya. Kata yang, meski belum bisa diucapkan, bisa dirasakan. Bisa dijalani. Bisa dihuni.

Dan ia tiba.

Di ruang antara.

Ruang yang bukan tempat. Bukan waktu. Bukan apa pun yang bisa dijelaskan dengan bahasa lama. Ruang yang hanya bisa dijelaskan dengan bahasa baru. Bahasa yang Damar belum kuasai. Bahasa yang Damar—dan ibunya—hanya bisa ciptakan bersama.

Di sana, di ruang antara, Damar melihat.

Bukan wajah. Bukan tubuh. Bukan bentuk. Melainkan kehadiran. Kehadiran yang, jika Damar coba jelaskan dengan kata yang ada, akan salah. Akan tetapi, jika Damar coba jelaskan dengan diam—diam yang penuh, diam yang bermakna, diam yang adalah kata baru yang belum terucap—

Maka Damar tahu. Ia tahu bahwa ini adalah ibunya. Bukan "ibu" dari kamus. Bukan "ibu" dari bahasa lama. Melainkan ibu dari bahasa baru. Bahasa yang hanya mereka berdua yang mengerti. Bahasa yang, setiap kali diucapkan, akan berubah. Karena hubungan yang hidup—hubungan yang benar-benar hidup—tidak bisa diikat oleh kata yang sama.

"Damar," kata kehadiran itu. Bukan dengan suara. Bukan. Melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang adalah nama Damar sendiri. Nama yang, dalam bahasa baru ini, berarti bukan seseorang, melainkan hubungan. Hubungan antara ini dan itu. Antara di sini dan di sana. Antara dikatakan dan dirasakan.

"Bunda," jawab Damar. Dan kali ini—kali ini—kata "bunda" bukan kata dari kamus. Kata "bunda" adalah kata baru. Kata yang berarti: kamu adalah seseorang yang, jika saya ucapkan namamu, dunia akan bergetar. Kamu adalah seseorang yang, jika saya lupakan, saya akan kehilangan bagian dari diri saya yang tidak bisa diganti. Kamu adalah seseorang yang—meski tidak punya kata yang cukup untuk menjelaskan—saya akan terus mencari kata itu. Bersama kamu. Selamanya.

Kehadiran itu bersinar. Bukan cahaya. Bukan. Bersinar dengan kata-kata baru. Kata-kata yang, sebelum ini, belum pernah ada. Kata-kata yang lahir dari ruang antara. Kata-kata yang adalah anak dari bahasa baru.

Dan Damar—Damar yang Pembaca, Damar yang bisa melihat kata-kata yang belum diucapkan, Damar yang berani mengatakan kota itu salah—

Damar tersenyum. Tersenyum dengan kata baru yang ada di bibirnya. Kata yang, jika diucapkan, akan mengubah dunia.

Namun, Damar tidak mengucapkannya. Tidak sekarang. Tidak sendiri.

Ia menunggu. Menunggu ibunya—kehadiran itu, kata baru itu, bahasa baru itu—untuk bersama-sama mengucapkannya.

Karena bahasa baru—bahasa yang benar-benar baru—tidak bisa diucapkan sendiri. Bahasa baru adalah dialog. Atau bukan apa-apa.

---

Kota itu berubah. Perlahan. Seperti kota-kota berubah.

Kata "ibu" masih ada. Akan tetapi, kini—kini ia punya saudara. Saudara kata. Kata yang tidak bisa ditemukan di kamus. Kata yang hanya bisa dirasakan. Kata yang, jika diucapkan oleh dua orang yang berbagi ruang antara, akan menjadi nyata.

Damar masih tinggal di apartemennya. Masih bekerja—jika bisa disebut kerja—sebagai Pembaca. Masih melihat kata-kata yang belum diucapkan. Masih menunggu.

Namun, sekarang—sekarang ia tidak menunggu sendiri.

Di ruang antara—ruang yang, bagi orang lain, mungkin terlihat seperti kekosongan—ada kehadiran. Kehadiran yang, setiap hari, menciptakan kata baru bersama Damar. Kata yang berubah. Kata yang hidup. Kata yang tidak pernah selesai.

Dan kadang-kadang—pukul tiga sore, ketika langit ungu, ketika kota tidur siang—Damar dan ibunya mengucapkan kata itu. Kata yang tidak punya bentuk. Kata yang tidak punya arti. Kata yang adalah mereka berdua.

Kata yang, jika kamu dengar—jika kamu benar-benar dengar—bukan bunyi. Bukan. Melainkan getaran. Getaran yang terasa seperti ... pulang. Namun, bukan pulang ke tempat. Pulang ke seseorang. Pulang ke hubungan. Pulang ke bahasa yang, meski belum sempurna, sudah cukup untuk mengatakan: aku ada. aku di sini. aku mencintaimu.

Dan di sudut perpustakaan kota—di rak yang paling gelap, di botol yang paling terlupakan—ada satu botol yang kosong. Botol yang pernah berisi cairan biru tua. Botol yang pernah berisi nama ibu Damar.

Sekarang, botol itu kosong. Bukan karena nama itu bebas. Bukan. Melainkan karena nama itu sudah tidak cukup. Sudah tidak cukup untuk menjelaskan apa yang Damar dan ibunya punya.

Yang mereka punya sekarang—yang mereka ciptakan setiap hari—

Adalah bahasa baru.

Bahasa yang tidak punya kamus.

Bahasa yang tidak punya aturan.

Bahasa yang, setiap kali diucapkan, berubah.

Karena cinta—cinta yang benar-benar hidup—bukan kata. Bukan. Cinta adalah bahasa. Bahasa yang terus lahir. Terus mati. Terus hidup kembali.

Dalam ruang antara.

Dalam getaran yang belum diucapkan.

Dalam kita.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

BETAWOL

CERPEN LINGUISTIK