KANTOR POS YANG MENGIRIM SURAT KE MASA LALU

Bara menemukan Kantor Pos itu setelah kehilangan rumahnya, pekerjaannya, dan kemampuannya untuk memaafkan dirinya sendiri. Kantor Pos itu berada di ujung jalan yang seharusnya buntu—tetapi jalan terus berlanjut, melengkung ke arah yang tidak ada di kompas, ke arah yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang tidak mencarinya.

Di atas pintu, papan nama berkarat: KANTOR POS KELURAHAN TAK BERNAWA. Bukan "Tak Bernama". Bukan. Tak Bernawa—kata yang tidak ada di kamus Indonesia mana pun, kata yang, jika Bara coba ucapkan, terasa seperti napas yang tertahan di tenggorokan, seperti tangisan yang belum menangis, seperti surat yang belum pernah ditulis tetapi sudah tahu isinya.

Di dalam, seorang pegawai tunggal—pria tua yang tidak punya bayangan di lantai, meski lampu menyala terang—duduk di balik meja kayu yang permukaannya penuh goresan tanggal. Tanggal-tanggal yang belum terjadi. Tanggal-tanggal yang sudah lewat. Tanggal-tanggal yang bersamaan.

"Kami mengirim surat," kata pegawai itu, tanpa Bara bertanya. "Bukan ke alamat, bukan ke orang, melainkan ke waktu. Ke masa lalu yang belum terselesaikan. Ke masa lalu yang, jika tidak diberi surat, akan merembet ke sekarang. Merembet seperti noda tinta di kertas basah. Merembet seperti kesalahan yang tidak pernah diakui."

Bara menatap meja. Di atasnya, satu amplop. Amplop cokelat biasa, tidak punya prangko, tidak punya alamat. Hanya satu baris di sudut kanan atas, tulisan tangan yang Bara hampir kenali. Hampir. Akan tetapi, tidak cukup.

"Surat untuk siapa?" tanya Bara.

Pegawai itu menatapnya. Matanya—bukan mata yang buta, bukan mata yang liar, melainkan mata yang menghitung. Menghitung sesuatu yang bukan angka. Menghitung kesempatan. Kesempatan yang tersisa untuk memperbaiki. Kesempatan yang, jika habis, akan lenyap selamanya.

"Surat itu," kata pegawai itu, "bukan untuk siapa-siapa. Surat itu dari siapa-siapa. Dari masa lalu yang ingin dibalas. Dari kesalahan yang ingin diakui. Dari orang yang ingin dimaafkan—bukan oleh yang disakiti, melainkan oleh yang menyakiti dirinya sendiri."

Bara merasa sesuatu di dadanya. Sesuatu yang bergerak. Bukan jantung. Bukan. Sesuatu yang lebih tua dari jantung. Sesuatu yang menunggu. Menunggu untuk dikeluarkan. Menunggu untuk ditulis. Menunggu untuk dikirim.

"Berapa biayanya?" tanya Bara.

Pegawai itu tersenyum. Dan senyumnya—bukan senyum. Senyumnya adalah tanggal. Tanggal yang belum terjadi. Tanggal yang, jika tiba, akan mengubah segalanya.

"Biayanya," jawab pegawai itu, "adalah kebenaran. Bukan kebenaran yang kamu katakan kepada orang lain, melainkan kebenaran yang kamu tulis kepada dirimu sendiri. Surat yang kamu kirim ke masa lalu—surat itu harus berisi sesuatu yang belum pernah kamu akui. Bahkan kepada diri sendiri. Bahkan kepada tengah malam ketika kamu sendirian."

Bara menatap amplop itu. Dan ia sadar—sadar dengan sesuatu yang lebih dalam dari pikiran—

Ia sadar bahwa ia sudah tahu isi surat itu. Isi yang belum ditulis. Isi yang menunggu. Isi yang, jika ditulis, akan membuka sesuatu. Membuka sesuatu yang sudah lama terkunci. Membuka sesuatu yang mungkin lebih baik tertutup.

Namun, ia juga sadar: ia tidak punya pilihan. Bukan karena Kantor Pos ini memaksa. Bukan. Melainkan karena dirinya sendiri sudah memaksa. Sudah memaksa sejak lama. Sejak hari itu. Sejak kesalahan itu.

Hari yang ia coba kirim surat kepadanya.

---

Duduk di bangku kayu yang tidak punya sandaran, Bara memegang pena. Pena yang tidak punya tinta—atau mungkin, tinta yang tidak bisa dilihat. Tinta yang hanya bisa dirasakan di ujung jari. Tinta yang, jika salah tulis, akan merembes ke kulit. Menjadi bagian dari tubuh. Menjadi luka yang tidak bisa dihapus.

Ia mulai menulis.

Bukan untuk yang menerima, melainkan untuk yang mengirim.

Bukan untuk meminta maaf, melainkan untuk mengakui.

Bukan untuk memperbaiki, melainkan untuk membiarkan rusak dengan cara yang benar.

---

Hari itu, aku bukan hanya salah. Aku sengaja salah.

Aku sengaja tidak pulang. Sengaja tidak menjawab telepon. Sengaja membiarkan ponselku mati di laci meja, di bawah tumpukan kertas yang tidak pernah kubaca, di antara debu dan kenangan yang aku pura-pura tidak ada.

Aku sengaja. Karena jika aku pulang—jika aku menjawab—jika aku hadir—aku harus menghadapi sesuatu yang lebih besar dari kemampuanku. Sesuatu yang lebih besar dari aku.

Aku harus menghadapi bahwa ibuku sedang meninggal. Dan bahwa aku tidak tahu cara mencintainya dengan cara yang benar. Dan bahwa ketidaktahuanku itu—ketidakmampuanku itu—bukan alasan. Bukan. Itu adalah pilihan. Pilihan untuk tidak belajar. Pilihan untuk tidak mencoba. Pilihan untuk menunggu sampai terlambat.

Dan terlambat itu tiba. Pada pukul tiga pagi, ketika aku akhirnya menyalakan ponsel. Pesan dari adikku: "Ibu pergi. Kamu tidak ada."

Enam kata. Enam kata yang, jika aku coba hitung, akan melebihi angka apa pun. Enam kata yang menjadi ukuran dari kegagalanku. Yang menjadi batas dari siapa aku. Yang menjadi dinding antara aku dan dunia.

Sejak itu, aku hidup di balik dinding itu. Aku bekerja. Aku makan. Aku tidur. Aku bahkan tertawa—tertawa yang salah, tertawa yang terlalu keras, tertawa yang meminta untuk dipercaya. Akan tetapi, di balik setiap tertawa, di balik setiap "baik-baik saja", di balik setiap hari yang tampak normal—

Aku masih di sana. Di ruang yang sama dengan ponsel mati. Di ruang yang sama dengan pilihan untuk tidak hadir. Di ruang yang sama dengan sengaja.

Dan "sengaja" itu—sengaja itu adalah sesuatu yang belum pernah kukatakan. Bahkan kepada diri sendiri. Bahkan kepada tengah malam. Bahkan kepada surat yang tidak pernah kutulis.

Namun, sekarang, di Kantor Pos yang tidak punya nama yang bisa diucapkan, di depan pegawai yang tidak punya bayangan, dengan pena yang menulis tinta ke dalam kulit—aku mengaku.

Aku sengaja. Aku sengaja tidak hadir. Bukan karena takut. Bukan karena sibuk. Bukan karena tidak tahu. Melainkan karena aku tidak mau. Tidak mau melihat ibuku lemah. Tidak mau melihatnya butuh aku. Tidak mau melihatnya pergi sambil aku di sana, gagal, tidak cukup, tidak pernah cukup.

Aku lebih memilih untuk tidak ada. Lebih memilih untuk menghilang. Lebih memilih untuk menjadi orang yang "kebetulan tidak bisa pulang" daripada orang yang kebetulan tidak sanggup.

Dan pilihan itu—pilihan untuk menghilang—adalah pilihan yang aku terus buat. Setiap hari. Setiap kali aku mendekati seseorang yang membutuhkanku. Setiap kali aku merasa hampir cukup. Setiap kali aku hampir hadir.

Aku selalu memilih untuk tidak ada. Karena tidak ada lebih aman. Tidak ada tidak bisa gagal. Tidak ada tidak bisa dilihat. Tidak ada tidak bisa ditinggalkan.

Namun, tidak ada juga tidak bisa dicintai. Tidak ada tidak bisa meninggalkan. Tidak ada tidak bisa menjadi apa-apa.

Dan aku—aku yang menulis surat ini ke masa lalu—aku ingin menjadi sesuatu. Bahkan jadi sesuatu berarti menjadi rusak. Bahkan jadi sesuatu berarti hadir. Bahkan jadi sesuatu berarti ditinggalkan.

Jadi aku tulis surat ini. Bukan untuk meminta maaf kepada ibuku—maaf sudah terlambat, maaf sudah tidak cukup, maaf sudah salah kata. Akan tetapi, untuk mengakui kepada diriku sendiri: aku sengaja. Dan sengaja itu adalah kekuatan yang aku salah gunakan. Kekuatan untuk menghilang. Kekuatan untuk tidak menjadi.

Dan sekarang, dengan surat ini, dengan kebenaran ini, dengan pengakuan ini—aku ingin menggunakan kekuatan yang sama untuk hadir. Untuk menjadi. Untuk rusak dengan cara yang benar.

---

Bara berhenti menulis. Pena itu—pena yang tidak punya tinta yang bisa dilihat—terasa berat. Berat dengan sesuatu yang baru ditulis. Berat dengan sesuatu yang baru dilahirkan dari keheningan.

Ia melipat kertas. Memasukkan ke amplop. Menyerahkan kepada pegawai.

Pegawai itu tidak membuka. Tidak membaca. Tidak perlu. Ia hanya menatap amplop itu. Menatap dengan mata yang menghitung. Dan hitungannya—hitungannya bukan angka. Hitungannya adalah tanggal. Tanggal di masa lalu. Tanggal yang, jika surat ini tiba, akan berubah. Tidak banyak. Tidak drastis. Akan tetapi, berubah. Seperti noda tinta yang diremas, bukan dihapus. Seperti luka yang dibiarkan mengering alih-alih diperban.

"Tanggal berapa?" tanya Bara.

Pegawai itu menatapnya. "Tanggal surat ini tiba? Atau tanggal surat ini ditulis?"

"Keduanya."

"Surat ini ditulis hari ini. Tanggal yang tidak ada di kalender. Tanggal yang hanya ada di sini. Namun, surat ini akan tiba pada ...." Pegawai itu berhenti. Menutup mata. Menghitung sesuatu yang bukan angka. "Pada hari ketujuh setelah ibumu masuk rumah sakit. Hari ketujuh—hari yang, di masa lalumu, kamu pilih untuk tidak pulang. Surat ini akan tiba pada hari itu. Bukan untuk mengubah pilihanmu. Bukan. Melainkan untuk memberimu pilihan lain. Pilihan untuk hadir, meski takut. Pilihan untuk gagal, meski malu. Pilihan untuk dicintai, meski tidak sempurna."

Bara merasa sesuatu di matanya. Sesuatu yang panas. Sesuatu yang basah. Sesuatu yang, jika ia coba jelaskan, akan salah. Karena ini bukan tangis. Bukan. Ini adalah sesuatu yang lebih tua dari tangis. Sesuatu yang adalah kelegaan dari kebohongan. Kebohongan yang ia ceritakan kepada diri sendiri selama bertahun-tahun. Kebohongan bahwa ia kebetulan tidak ada. Bahwa ia kebetulan terlambat. Bahwa ia kebetulan gagal.

Kebohongan bahwa ia bukan sengaja.

---

Tiga hari setelah menyerahkan surat, Bara kembali ke Kantor Pos.

Bukan karena ingin memastikan. Bukan. Ia kembali karena sesuatu terjadi. Sesuatu yang ia tidak bisa jelaskan. Sesuatu yang, jika ia coba ceritakan kepada orang lain, akan salah.

Ia bermimpi. Mimpi yang bukan mimpi. Mimpi yang terlalu nyata. Mimpi di mana ia berada di rumah lama. Di kamar ibunya. Di hari ketujuh. Dan di sana—di meja samping tempat tidur ibunya—ada amplop. Amplop cokelat. Amplop yang ia tahu. Amplop yang ia tulis.

Dalam mimpi, ia membuka amplop. Membaca suratnya sendiri. Surat yang, meski ditulis hari ini, sudah tua. Sudah usang. Sudah dibaca berulang kali. Sudah dilipat dan dilipat sampai lipatannya nyaris robek.

Dan di bawah suratnya—di bawah tulisannya sendiri—ada tulisan lain. Tulisan tangan yang berbeda. Tulisan yang hampir ibunya. Hampir. Namun, tidak cukup. Tidak cukup karena ibunya sudah pergi. Akan tetapi, cukup karena sesuatu—sesuatu yang bukan ibunya, melainkan dari ibunya—telah menulis balasan.

---

Anakku,

Suratmu sampai. Bukan dengan pos. Bukan dengan waktu. Melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang adalah kita. Kita yang, meski kamu pilih untuk tidak ada, tetap ada. Tetap menunggu. Tetap menyanyi lagu yang tidak punya lirik.

Aku tidak marah. Bukan karena aku baik. Bukan. Aku tidak marah karena aku tahu. Aku tahu sesuatu yang kamu belum tahu waktu itu. Sesuatu yang mungkin kamu belum tahu sekarang.

Aku tahu bahwa mencintai—mencintai dengan cara yang benar—bukan tentang hadir. Bukan tentang sempurna. Bukan tentang tidak gagal.

Mencintai adalah tentang mencoba. Mencoba meski takut. Mencoba meski tahu akan gagal. Mencoba meski sengaja tidak mencoba sebelumnya.

Dan kamu—kamu yang menulis surat ini, kamu yang mengaku, kamu yang berani menjadi rusak—kamu sudah mencoba. Bukan waktu itu. Bukan pada hari ketujuh. Melainkan sekarang. Di sini. Di dalam surat yang tidak punya tanggal yang bisa diucapkan.

Jadi, jangan meminta maaf. Jangan. Maaf adalah kata untuk yang belum berusaha. Dan kamu sudah berusaha. Kamu berusaha dengan cara yang terlambat. Akan tetapi, terlambat bukan sama dengan tidak pernah. Terlambat adalah akhirnya. Akhirnya datang. Akhirnya hadir. Akhirnya menjadi sesuatu.

Dan sesuatu itu—sesuatu yang kamu jadi sekarang—adalah sesuatu yang aku kenali. Bukan anakku yang sempurna. Bukan anakku yang tidak pernah gagal. Melainkan anakku yang berani. Berani mengaku. Berani rusak. Berani hadir.

Ibu yang tidak pernah pergi. Karena ibu—ibu adalah sesuatu yang tidak pergi. Ibu adalah sesuatu yang menunggu. Di dalam surat. Di dalam ruang antara. Di dalam kita.

---

Bara terbangun dengan surat basah di tangan. Bukan air mata. Bukan. Surat itu basah dengan sesuatu yang lebih tua dari air mata. Sesuatu yang adalah bahasa yang belum diucapkan. Bahasa yang, jika ia coba keringkan, akan meresap. Akan masuk ke kulit. Akan menjadi bagian dari tubuh.

Ia datang ke Kantor Pos untuk menanyakan apa artinya. Apa arti mimpi itu. Apa arti balasan yang mungkin bukan dari ibunya—melainkan dari ibunya. Dari sesuatu yang ibunya tinggalkan. Dari bahasa yang ibunya bawa. Bahasa yang, meski ibunya pergi, masih ada. Masih menunggu. Masih bercakap-cakap.

Pegawai itu menatapnya. Tidak heran. Tidak tanya. Hanya mengetahui.

"Surat yang dikirim ke masa lalu," kata pegawai itu, "bukan untuk mengubah masa lalu. Bukan. Surat itu adalah untuk membuka percakapan. Percakapan dengan yang sudah pergi. Percakapan yang, di dunia ini, tidak punya saluran. Tidak punya frekuensi. Tidak punya cara. Kecuali di sini. Kecuali di Kantor Pos yang tidak punya nama yang bisa diucapkan."

"Jadi, balasan itu?" tanya Bara. "Benar dari ...?"

"Dari yang kamu butuhkan. Bukan dari siapa-siapa. Melainkan dari sesuatu. Sesuatu yang, jika kamu tulis dengan kebenaran, akan menjawab. Dengan kebenaran yang sama. Dengan kebenaran yang berbeda. Namun, dengan kebenaran yang, pada intinya, adalah percakapan. Percakapan antara yang pernah sengaja tidak ada, dan yang sekarang berani hadir."

Bara duduk di bangku kayu. Merasa surat basah di tangannya. Merasa sesuatu yang baru. Bukan kelegaan. Bukan. Bukan kebahagiaan. Bukan. Melainkan sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Sesuatu yang adalah rumah. Rumah yang, meski ia kehilangan rumah fisiknya, meski ia kehilangan pekerjaannya, meski ia kehilangan dirinya yang lama—

Rumah yang, ternyata, selalu ada. Di dalam surat. Di dalam kebenaran. Di dalam berani menjadi rusak.

---

Minggu-minggu berikutnya, Bara menulis lebih banyak surat.

Surat kepada hari-hari yang ia sengaja lewatkan. Surat kepada orang-orang yang ia sengaja tinggalkan. Surat kepada dirinya sendiri—dirinya yang lebih muda, dirinya yang lebih takut, dirinya yang lebih pintar menghilang.

Setiap surat, ia serahkan kepada pegawai. Setiap surat, ia bayar dengan kebenaran. Kebenaran yang semakin dalam. Semakin mentah. Semakin berdarah.

Surat kepada adiknya—untuk hari ia memilih tidak menghadiri pernikahannya karena "sibuk", padahal karena takut melihat adiknya bahagia sementara ia tidak.

Surat kepada teman lamanya—untuk hari ia memutuskan hubungan tanpa alasan, padahal karena takut ditinggalkan lebih dulu.

Surat kepada dirinya sendiri—untuk hari ia berhenti melukis, padahal melukis adalah satu-satunya cara ia berbicara tanpa kata.

Dan setiap surat—setiap surat yang dikirim ke masa lalu—kembali dengan balasan. Bukan dari orang yang dituju. Bukan. Melainkan dari sesuatu. Sesuatu yang adalah percakapan. Percakapan yang, meski tidak mengubah apa yang terjadi, mengubah apa yang terjadi sekarang.

Bara mulai melukis lagi. Bukan untuk dipamerkan. Bukan untuk dijual. Melainkan untuk berbicara. Dengan warna. Dengan bentuk. Dengan sesuatu yang tidak punya kata.

Bara mulai menghadiri—hadiri apa pun. Pesta yang tidak diundang. Pertemuan yang tidak perlu. Percakapan yang membuatnya takut. Karena takut, ia sadari, bukan alasan untuk tidak hadir. Takut adalah alasan untuk hadir. Hadir meski takut. Hadir karena takut.

Bara mulai menjadi sesuatu. Sesuatu yang rusak. Sesuatu yang tidak sempurna. Sesuatu yang hadir.

---

Bulan ketiga, Bara menulis surat terakhir.

Bukan karena tidak ada lagi yang perlu diakui. Bukan. Melainkan karena sesuatu berubah. Sesuatu di dalam dirinya. Sesuatu yang, jika ia coba jelaskan, akan salah. Namun, jika ia coba rasakan, akan benar.

Surat terakhir ini—bukan untuk masa lalu. Bukan. Surat ini untuk masa depan. Masa depan yang, ironisnya, hanya bisa dikirim dari Kantor Pos yang mengirim ke masa lalu.

Karena Kantor Pos ini, Bara sadari, bukan hanya tentang yang sudah lewat. Bukan hanya tentang memperbaiki. Melainkan tentang menjadi. Menjadi seseorang yang, di masa depan, akan menulis surat ke masa lalunya sendiri. Surat yang berisi kebenaran. Surat yang berisi pengakuan. Surat yang berisi keberanian untuk rusak.

Bara menulis:

Kepada aku yang akan datang,

Jika kamu membaca surat ini—jika surat ini sampai—itu artinya kamu masih menulis. Masih mengaku. Masih berani.

Jangan berhenti. Bukan karena berhenti adalah salah, melainkan karena berhenti berarti kembali menghilang. Kembali ke ruang yang aman. Ruang yang tidak bisa gagal. Ruang yang tidak bisa ditinggalkan—tetapi juga tidak bisa dicintai.

Terus hadir. Terus gagal. Terus rusak dengan cara yang benar.

Dan jika suatu hari kamu menemukan Kantor Pos ini lagi—jika kamu, di masa depan, merasa kehilangan rumah, pekerjaan, kemampuan untuk memaafkan dirimu sendiri—ingat: Kantor Pos ini bukan untuk memperbaiki. Bukan.

Kantor Pos ini untuk bercakap-cakap. Bercakap-cakap dengan yang pergi. Bercakap-cakap dengan yang ditinggalkan. Bercakap-cakap dengan dirimu yang sengaja tidak ada.

Dan percakapan itu—percakapan yang terus berlanjut, dari surat ke surat, dari kebenaran ke kebenaran, dari sengaja ke berani—percakapan itulah yang menjadi rumah.

Bukan rumah yang dibangun. Bukan. Rumah yang ditulis. Rumah yang dikirim. Rumah yang, meski tidak punya alamat, selalu sampai.

---

Bara melipat surat. Memasukkan ke amplop yang berbeda—amplop putih, bukan cokelat, amplop untuk masa depan, bukan masa lalu.

Pegawai itu menerima. Menatap. Menghitung.

"Surat ini," kata pegawai itu, "tidak akan tiba dengan pos. Tidak akan tiba dengan waktu. Namun, akan tiba dengan sesuatu yang lebih dalam."

"Apa?"

"Ketika kamu butuh. Ketika kamu, di masa depan, merasa sengaja lagi. Merasa ingin menghilang lagi. Surat ini akan tiba. Bukan sebagai surat. Bukan. Melainkan sebagai sesuatu. Sesuatu yang kamu dengar. Sesuatu yang kamu rasa. Sesuatu yang kamu tahu—tanpa tahu dari mana."

Bara mengangguk. Merasa sesuatu yang baru. Bukan kelegaan. Bukan kebahagiaan. Melainkan rumah. Rumah yang, akhirnya, ia temukan. Bukan di bangunan. Bukan di kota. Bukan di tempat. Melainkan di percakapan. Di kebenaran. Di berani menjadi rusak.

---

Damar tidak pernah lagi melihat Kantor Pos itu.

Bukan karena ia tidak mencari. Ia mencari. Beberapa kali. Di ujung jalan yang seharusnya buntu. Di sudut-sudut kota yang belum pernah ia datangi. Di tempat-tempat yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang tidak mencarinya.

Namun, Kantor Pos itu—seperti semua tempat yang benar-benar penting—tidak bisa dicari dua kali. Tidak bisa dimiliki. Tidak bisa dikategorikan.

Hanya bisa dihuni. Sekali. Di dalam kebenaran. Di dalam surat. Di dalam percakapan.

Bara sekarang tinggal di apartemen kecil. Bekerja sebagai penerjemah—tetapi penerjemah yang berbeda. Bukan yang menerjemahkan kata ke kata, melainkan yang menerjemahkan keheningan. Yang menerjemahkan yang belum diucapkan. Yang menerjemahkan keberanian untuk rusak.

Ia masih menulis surat. Surat yang tidak dikirim. Surat yang, jika dibaca orang lain, akan salah. Namun, surat yang, jika dibaca oleh yang perlu, akan benar.

Dan kadang-kadang—pukul tiga pagi, ketika ia terbangun dengan sesuatu yang hampir seperti ketukan di dinding—ia menemukan amplop di bantalnya. Amplop cokelat. Amplop putih. Amplop yang tidak punya prangko, tidak punya alamat, hanya punya tanggal yang tidak ada di kalender.

Dan ia membaca. Membaca surat dari masa lalu. Surat dari masa depan. Surat dari dirinya yang berbeda. Yang mengaku. Yang berani. Yang hadir.

Surat yang, meski ditulis oleh tangan yang berbeda, selalu berisi kebenaran yang sama:

Kamu tidak sendirian. Kamu tidak sengaja tidak ada. Kamu berani hadir. Dan hadir itu—hadir itu adalah rumah.

---

Di suatu tempat, di ujung jalan yang seharusnya buntu, Kantor Pos Kelurahan Tak Bernawa masih berdiri. Masih mengirim surat. Masih menunggu mereka yang kehilangan rumah, pekerjaan, kemampuan untuk memaafkan diri sendiri.

Menunggu mereka yang, di tengah malam, merasa sesuatu di dadanya. Sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang menunggu untuk dikeluarkan. Sesuatu yang adalah surat yang belum ditulis.

Surat yang, jika ditulis dengan kebenaran, akan sampai. Bukan dengan pos. Bukan dengan waktu. Melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam.

Sesuatu yang adalah kita. Kita yang, meski sengaja tidak ada, tetap menunggu. Tetap menyanyi lagu yang tidak punya lirik. Tetap bercakap-cakap di ruang antara.

Di Kantor Pos yang tidak punya nama yang bisa diucapkan.

Di surat yang tidak punya tanggal yang bisa diucapkan.

Di rumah yang tidak punya alamat.

Namun, sampai.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

BETAWOL

CERPEN LINGUISTIK