Kota yang Melarang Warganya Mengucapkan Kata "Besok"

Bara menatap langit-langit kamarnya yang berlumut. Ia sudah tidak tidur selama tujuh hari, bukan karena insomnia, melainkan karena ia takut—takut bahwa dalam tidurnya, lidahnya akan mengkhianatinya dan mengucapkan kata yang terlarang.

Di luar jendela, kota itu bangun dalam keheningan yang bukan keheningan. Ada suara langkah kaki, ada suara gerobak, ada suara napas ribuan orang yang sengaja ditahan agar tidak membentuk kata besok. Bara mendengar tetangganya, Pak Tarno, berbisik kepada istrinya: "Aku akan membeli ikan nanti." Bara tahu, Pak Tarno sebenarnya ingin mengatakan besok. Semua orang tahu. Akan tetapi, tidak ada yang berani mengatakannya.

Penjaga bahasa kota—yang mereka sebut Sang Penyensor—tidak pernah tidur. Mereka adalah makhluk tanpa wajah yang berjalan di antara bayangan, mendengarkan setiap getaran udara, setiap vibrasi pita suara. Siapa yang mengucapkan besok, lenyap. Bukan mati. Lenyap. Seperti kata itu sendiri yang tidak pernah benar-benar ada.

Bara berdiri. Ia memegang selembar kertas di tangannya. Kertas itu berisi satu baris tulisan tangan ibunya, yang lenyap tiga tahun lalu: "Besok kita akan pergi dari sini."

Itu adalah konfliknya. Bara ingin pergi. Namun, untuk pergi, ia harus merencanakan. Dan untuk merencanakan, ia butuh kata besok. Akan tetapi, kata itu adalah jebakan yang memakan ibunya. Jika ia mengucapkannya, ia lenyap. Jika ia tidak mengucapkannya, ia terjebak selamanya di kota yang waktunya tidak pernah bergerak ke depan—karena tidak ada besok.

---

Bara berjalan ke pasar. Di sana, ia melihat waktu terjual seperti sayur mayur. Ada penjual yang menjual "kemarin" dalam kantong-kantong kain, dan ada yang menjual "sekarang" dalam stoples-stoples kaca. Akan tetapi, tidak ada yang menjual besok. Tidak pernah ada.

Seorang anak kecil mendekatinya. "Pak," bisik anak itu, matanya besar seperti kolam tanpa dasar. "Apa yang ada setelah malam ini?"

Bara membeku. Ia tahu jawabannya. Semua orang tahu. Akan tetapi, tidak ada yang bisa mengatakannya. Bara berlutut, sejajar dengan anak itu. "Ada ... nanti," ucapnya, dan lidahnya terasa seperti mengunyah pasir.

Anak itu tersenyum. Senyumnya terlalu lebar, sampai ke telinga. "Ibu saya bilang, sebelum dia lenyap, bahwa nanti adalah kebohongan yang diterima orang-orang yang takut pada kebenaran."

Anak itu pergi, dan Bara menyadari bahwa anak itu tidak meninggalkan bayangan.


Malam itu, Bara duduk di tepi sungai kota. Air sungai itu bukan air—ia adalah kumpulan kata-kata yang belum terucapkan, beriak-riak dalam diam. Bara melihat bayangannya di permukaan kata-kata itu. Bayangannya tidak meniru gerakannya. Bayangannya sedang berbicara, tetapi Bara tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya.

"Apa artinya hidup," tanya Bara kepada bayangannya, "jika tidak ada besok?"

Bayangannya tersenyum miris. "Apa artinya hidup, jika ada besok? Besok adalah janji yang mungkin tidak ditepati. Tanpa besok, kita hidup dalam keabadian sekarang. Keabadian yang memuakkan."

Bara ingin membantah. Akan tetapi, ia tahu bayangannya benar. Di kota ini, tidak ada harapan. Tidak ada penantian. Tidak ada impian yang ditunda. Semua terjadi sekarang, atau tidak terjadi sama sekali. Itulah absurditasnya: kota ini "aman" dari kecewaan, karena tidak ada yang diharapkan. Akan tetapi, kota ini juga mati, karena tidak ada yang dituju.


Tiba-tiba, sungai kata-kata itu beriak lebih kencang. Dari dalamnya, muncul sesosok makhluk—bukan manusia, bukan hewan, melainkan konsep. Makhluk itu adalah personifikasi dari kata-kata yang terlarang. Tubuhnya terbuat dari kalender yang terbakar. Matanya adalah dua jam pasir yang berpasir ke atas, bukan ke bawah—mengukur waktu yang belum datang, bukan yang sudah lewat.

"Kau ingin mengucapkan besok," bisik makhluk itu. Suaranya seperti gema dari mulut ribuan orang yang lenyap.

Bara mengangguk.

"Kau tahu risikonya."

Bara mengangguk lagi.

Makhluk itu mendekat. "Akan tetapi, tahukah kau mengapa kata itu dilarang?"

Bara menggeleng.

"Karena besok adalah kata paling berbahaya dalam bahasa manusia. Besok adalah revolusi. Besok adalah perubahan. Besok berarti hari ini tidak cukup. Dan kota ini ... kota ini dibangun oleh mereka yang takut hari ini tidak cukup, jadi mereka menghapus kemungkinan bahwa ada hari lain."

Makhluk itu menunjuk ke langit. Di sana, bulan tidak bulat penuh, juga tidak sabit. Bulan itu adalah setengah lingkaran yang tidak pernah bergerak—karena tidak ada besok untuk melengkapkannya.


Bara berlari. Jalanan kota berubah bentuk di sekitarnya. Bangunan-bangunan menangis, dinding-dinding melengkung seperti punggung orang yang terlalu lama membungkuk. Warna-warna tidak lagi menuruti spektrum—merah bercampur dengan suara, biru bercampur dengan rasa pahit. Kota ini bukan lagi kota fisik, melainkan proyeksi dari kecemasan kolektif ribuan penghuninya.

Ia sampai di rumah. Di meja, kertas ibunya masih menunggu. "Besok kita akan pergi dari sini."

Bara mengambil pena. Tangan gemetar. Ia ingin menulis rencana. Namun, setiap kali ia mencoba menulis besok, tintanya berubah menjadi darah. Bukan metafora. Darah sungguhan, merah, berbau besi.

Ia menyeka. Menulis lagi. Darah lagi.

Lalu ia mengerti: kota ini tidak hanya melarang pengucapan besok. Kota ini melarang konsep besok itu sendiri. Bahkan dalam pikiran, bahkan dalam tulisan, bahkan dalam mimpi—besok adalah dosa yang tidak bisa diampuni.


Kemudian, Bara teringat sesuatu. Teringat ibunya, yang meski lenyap, pernah berani menulis kata itu. Ibunya yang pernah berani berharap.

Bara menutup mata. Ia membayangkan besok bukan sebagai waktu, melainkan sebagai tempat. Sebuah negeri di mana matahari terbit karena orang-orang menantikannya, bukan karena mekanisme kosmik yang dipaksakan. Sebuah negeri di mana anak-anak bisa bertanya "apa yang ada setelah malam ini?" dan mendapat jawaban yang sebenarnya. Sebuah negeri di mana ibunya masih ada, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai masa depan.

Air mata Bara jatuh. Bukan karena sedih. Karena untuk pertama kalinya dalam tujuh hari, ia merasa hidup. Karena berharap pada besok—meski besok terlarang—adalah tindakan paling manusiawi yang pernah ia lakukan.


Tengah malam. Bara berdiri di tengah alun-alun kota. Di sekelilingnya, ribuan warga terbangun dari tidur mereka. Mereka merasakan sesuatu yang salah. Ada yang berani melawan.

Bara mengangkat kedua tangannya. Ia akan mengucapkan kata itu. Bukan untuk dirinya. Bukan untuk ibunya. Melainkan untuk semua orang yang hidup dalam keabadian sekarang yang memuakkan.

Mulutnya terbuka.

Namun, lidahnya tidak bergerak.

Ia mencoba lagi. Tidak bisa.

Lalu ia melihat—Sang Penyensor sudah di sana, di belakangnya, tangan tanpa jari meremas pita suaranya. Bara tidak bisa berbicara, tetapi ia masih bisa berpikir.

Dalam keheningan total, Bara memutuskan: jika ia tidak bisa mengucapkan besok, ia akan menjadi besok.

Ia berlari ke menara jam kota. Menara yang jarumnya tidak pernah bergerak, karena tidak ada besok untuk dituju. Bara memanjat. Sampai di puncak, ia melihat seluruh kota dari atas—kota yang terjebak dalam satu momen yang berulang-ulang, seperti lukisan yang tidak pernah selesai.

Bara meraih jarum jam. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia harus memutarnya. Satu detik ke depan. Satu detik menuju besok.

Namun, jarum itu tidak bisa digerakkan. Kota ini terlalu kuat. Konsepnya terlalu mapan.

Bara menatap langit. Ia berteriak dalam hati—bukan dengan suara, melainkan dengan tekad. Dan dalam delirium psikologisnya, ia melihat sesuatu yang tidak mungkin: ibunya, melayang di antara bintang-bintang yang tidak bersinar, karena bintang-bintang adalah cerminan dari besok yang belum datang.

"Putus asa," bisik ibunya, tetapi suaranya datang dari dalam pikiran Bara. "Bukan dengan melawan, melainkan dengan menerima."

Bara bingung. Menerima? Menerima apa?

"Menerima bahwa besok tidak perlu diucapkan. Besok hanya perlu diyakini."

---

Bara turun dari menara. Ia berjalan pulang. Di tengah jalan, ia bertemu anak kecil dari pasar.

"Pak," tanya anak itu lagi. "Apa yang ada setelah malam ini?"

Bara berhenti. Ia menatap anak itu. Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tersenyum—senyum yang benar-benar tulus, bukan senyum orang yang takut.

"Ada aku," jawab Bara. "Ada kau. Ada kita. Dan itu ... itu cukup."

Anak itu mengernyit. "Akan tetapi, bukankah kita butuh kata untuk itu?"

Bara menggeleng. "Tidak. Kita hanya butuh keberanian untuk melanjutkan."

Bara berjalan melewati anak itu. Ia tidak mengucapkan besok. Ia tidak menulis besok. Ia tidak bahkan berpikir kata itu secara eksplisit. Akan tetapi, dalam setiap langkahnya, dalam setiap napasnya, ada sesuatu yang baru—sesuatu yang tidak pernah ada di kota ini sebelumnya.

Harapan tanpa nama.

---

Keesokan harinya—atau apa yang warga kota sebut "hari setelah malam ini"—Bara tidak ada di kamarnya. Kertas ibunya juga tidak ada. Pena berdarah itu tidak ada.

Namun, di dinding kamarnya, tumbuh lumut baru. Lumut yang bentuknya aneh—bukan hijau, melainkan warna-warna yang tidak punya nama. Warna-warna yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang pernah melihat besok, meski tidak pernah mengucapkannya.

Di pasar, anak kecil itu tersenyum. Senyumnya masih terlalu lebar. Akan tetapi, kali ini, bayangannya kembali—dan bayangan itu tidak mengikuti gerakannya. Bayangan itu berjalan ke depan, sedikit lebih cepat, seolah-olah menunjukkan arah.

Sang Penyensor masih berkeliaran. Namun, kini, ada tempat-tempak di kota yang tidak bisa mereka masuki—bukan karena dilarang, melainkan karena mereka tidak bisa memahami tempat-tempat itu. Tempat-tempat di mana waktu tidak berhenti, tetapi juga tidak bergerak. Tempat-tempat di mana besok bukan kata, melainkan perasaan.

Dan di suatu tempat—mungkin di kota, mungkin di luar kota, mungkin di celah-celah realitas—Bara berjalan. Ia tidak tahu ke mana. Ia tidak perlu tahu. Karena untuk pertama kalinya, ia tidak terjebak di sekarang. Ia bergerak. Ke depan. Menuju sesuatu yang tidak ia namai.

Menuju besok.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

BETAWOL

CERPEN LINGUISTIK