Kota yang Melupakan Wajahnya Sendiri

Bara terbangun dengan wajah asing di cermin. Bukan wajahnya. Bukan wajah siapa pun yang ia kenal. Hanya wajah—mata, hidung, mulut—yang terpasang di kepalanya seperti topeng yang tidak bisa dilepas. Ia berteriak, tetapi suara yang keluar juga asing. Lebih dalam. Lebih tua. Seperti suara orang yang sudah mati.

Di seberang lorong, Amira menulis di dinding kamarnya dengan kapur tulis. Ia menulis nama-nama: Bara. Amira. Ibu. Ayah. Kota. Setiap pagi, ia menulis ulang. Setiap sore, dinding itu kosong lagi. Bukan karena dihapus, melainkan karena kata-kata itu melupakan maknanya sendiri. Bara menjadi sekadar bunyi. Amira menjadi goresan tanpa jejak.

Mereka bertemu di jembatan tua yang melintasi sungai yang tidak mengalir. Sungai itu berisi air mati—air yang tidak mengingat bentuknya sendiri, yang mengalir ke segala arah sekaligus, yang tidak pernah sampai ke laut karena laut sudah melupakan nama "laut".

"Bara?" tanya Amira, meski ia tidak yakin kenapa ia menyebut nama itu. Sesuatu di dalam dadanya bergetar, tetapi getaran itu tidak punya nama.

"Amira," jawab Bara, dan suara asing itu mengucapkan nama itu dengan cara yang terlalu familier, terlalu kehilangan, seperti seseorang yang mengucapkan nama orang yang dicintainya setelah orang itu mati.



Bara dan Amira adalah satu-satunya orang di kota yang masih mencoba mengingat. Akan tetapi, kota ini tidak melupakan secara pasif—kota ini aktif melupakan. Setiap kenangan yang mereka simpan menjadi racun. Setiap nama yang mereka ucapkan memakan mereka dari dalam. Dan yang paling mengerikan: mereka tidak tahu mengapa mereka berusaha mengingat. Mungkin kenangan itu palsu. Mungkin mereka bukan Bara dan Amira. Mungkin mereka hanya dua wajah asing yang kebetulan bertemu di jembatan dan memutuskan untuk saling menyebut nama.

Namun, ada sesuatu yang lebih dalam dari konflik itu. Sesuatu yang lebih dilematis. Karena di kota ini, melupakan adalah anugerah. Orang-orang yang melupakan, bahagia. Mereka tidak kehilangan siapa pun, karena mereka tidak mengingat siapa pun untuk kehilangan. Bara dan Amira, dengan usaha mereka mengingat, adalah orang-orang paling menderita di kota ini. Dan mereka tidak bisa berhenti. Karena berhenti mengingat berarti berhenti menjadi diri mereka sendiri—tetapi menjadi diri mereka sendiri berarti menderita.

---

Mereka berjalan menyusuri jalanan kota. Di sana, rumah-rumah tidak punya pintu—hanya jendela yang terlalu banyak, yang melihat ke dalam, bukan ke luar. Di setiap jendela, ada wajah yang menatap mereka. Wajah-wajah itu tersenyum, tetapi senyumnya tidak mencapai mata. Mata-mata itu kosong, karena sudah melupakan apa artinya melihat.

"Di sana," kata Amira, menunjuk ke sebuah bangunan yang bentuknya berubah setiap kali Bara berkedip. Sekarang bentuknya seperti sekolah. Sekarang seperti rumah sakit. Sekarang seperti kuburan. "Di sana, aku ... kita ... pernah ...."

Kata-katanya terputus. Bukan karena ia tidak bisa melanjutkan, melainkan karena bahasa di kota ini tidak punya kata untuk masa lalu. Ada hanya sekarang dan bukan-sekarang—dan bukan-sekarang adalah kekosongan yang tidak bisa dijelaskan.

Seorang penjual kue mendekati mereka. Tubuhnya transparan, tetapi kue-kuenya kukuh dan utuh, beraroma vanila yang terlalu manis, manisnya seperti racun yang menyamar.

"Beli kue," kata penjual itu. "Kue ini akan membuatmu melupakan bahwa kau pernah ingin mengingat."

Bara menatap kue itu. Perutnya kosong, tetapi sesuatu yang lebih dalam dari perut menolak. "Tidak," katanya, dan penjual itu meleleh menjadi genangan air yang berbicara dalam bahasa yang tidak mereka mengerti.


Malam itu, mereka duduk di bawah pohon yang tidak punya daun—hanya ranting-ranting yang bergetar tanpa angin. Pohon itu bergetar karena ia mencoba mengingat bentuk daunnya, dan kegagalannya menciptakan getaran yang tidak pernah berhenti.

"Kenapa kita mengingat?" tanya Amira. Bukan pada Bara. Pada pohon itu. Pada kota. Pada kekosongan.

Bara tidak menjawab. Ia tahu jawabannya, tetapi jawaban itu tidak masuk akal. Mereka mengingat karena ... karena .... Sesuatu di dalam dadanya berdetak, tetapi detakan itu tidak punya nama. Hanya rasa sakit yang familier, rasa sakit yang seperti rumah.

"Mungkin," kata Bara akhirnya, "mengingat adalah pilihan yang kita buat tanpa alasan. Seperti bernapas. Seperti mati. Kita mengingat karena kita ada, dan kita ada karena kita mengingat. Itu absurditasnya. Lingkaran yang tidak punya awal dan tidak punya akhir."

Amira tertawa. Tawanya terdengar seperti tangisan yang melupakan cara menangis. "Jadi kita menderita tanpa alasan?"

"Kita menderita karena kita memilih untuk menderita. Dan kita memilih itu karena ... karena alternatifnya lebih buruk."

"Apa alternatifnya?"

Bara menatap pohon yang bergetar itu. "Menjadi seperti mereka. Bahagia. Kosong. Mati sambil masih bernapas."


Tengah malam, kota berubah suara. Bukan keheningan—kota ini tidak pernah sunyi. Akan tetapi, suaranya berubah. Dari bisikan menjadi teriakan yang terlalu pelan. Dari langkah kaki menjadi detak jantung ribuan orang yang tidak mengingat bahwa mereka punya jantung.

Dari bayangan, muncul makhluk yang mereka sebut Sang Pelupa. Bukan satu makhluk—melainkan banyak, menyatu menjadi satu. Tubuhnya terbuat dari wajah-wajah yang sudah dilupakan, tumpang tindih, bergerak seperti ombak. Matanya adalah lubang hitam yang tidak menatap, tetapi melupakan apa pun yang dilihatnya.

"Kau masih mengingat," bisik Sang Pelupa. Suaranya adalah gema dari ribuan suara yang berkata "lupakan" secara bersamaan.

Bara berdiri di depan Amira. Tubuhnya gemetar, tetapi bukan karena takut. Karena sesuatu di dalamnya—sesuatu yang ia sebut "keberanian" meski ia tidak yakin kata itu masih punya makna—berkobar.

"Aku mengingat," kata Bara. Dan untuk pertama kalinya, suara asing di mulutnya terdengar seperti miliknya sendiri.

"Kenangan adalah racun," kata Sang Pelupa. "Setiap kenangan yang kau simpan, memakan sedikit dirimu. Kau akan menjadi kenangan itu sendiri. Tidak ada lagi Bara. Hanya cerita tentang Bara. Dan cerita tidak punya jiwa."

Amira berdiri di samping Bara. Tangannya mencari tangan Bara, dan mereka berpegangan dengan cara yang terlalu erat, terlalu putus asa, seperti dua orang yang tenggelam dan saling memegang agar tidak tenggelam—tetapi tahu bahwa mereka akan tenggelam bersama.

"Biarkan kami menjadi racun," kata Amira. "Biarkan kami memakan diri kami sendiri. Setidaknya, kami akan mati sebagai sesuatu yang utuh. Sesuatu yang mengingat."

Sang Pelupa tertawa. Tawanya adalah suara air yang mengalir mundur, suara jam yang berputar berlawanan arah. "Kaupikir mengingat membuatmu utuh? Lihatlah dirimu. Kau tidak tahu wajahmu sendiri. Kau tidak tahu suaramu sendiri. Kenangan yang kau simpan mungkin bukan kenanganmu. Mungkin kau hanya boneka yang diberi ingatan orang lain. Mengingat, dalam kota ini, adalah bentuk kegilaan tertinggi."


Kota mulai berubah di sekitar mereka. Jalanan melengkung seperti tulang punggung yang patah. Bangunan-bangunan menangis cat yang berwarna-warni, warna-warna itu jatuh ke tanah dan membentuk genangan yang merefleksikan wajah-wajah yang tidak pernah ada. Langit menjadi kanvas yang terus berubah—bukan biru, bukan hitam, melainkan warna-warna yang hanya bisa dilihat oleh mata yang sedang menangis.

Bara dan Amira berlari. Namun, mereka tidak tahu ke mana. Setiap arah terlihat sama. Setiap jalan mengarah kembali ke jembatan tua. Kota ini adalah labirin yang tidak punya keluar—bukan karena dirancang begitu, melainkan karena kota ini melupakan bahwa ada dunia di luar dirinya.

Di tengah pelarian, Amira terjatuh. Lututnya terluka, dan darah yang keluar bukan merah—melainkan warna kenangan. Warna yang tidak punya nama, tetapi terlihat seperti senja yang terlalu lama, seperti musik yang terlupakan, seperti ciuman yang tidak pernah terjadi tetapi selalu dirindukan.

Bara berlutut di sampingnya. Tangannya menyentuh luka itu, dan sesuatu terjadi. Sesuatu yang tidak masuk akal. Sesuatu yang melanggar setiap hukum kota ini.

Ia mengingat.

Bukan kenangan baru, melainkan kenangan yang selalu ada, yang terkubur terlalu dalam, yang kota ini tidak bisa hapus. Ia mengingat wajah Amira—bukan wajah asing yang ia lihat sekarang, melainkan wajah yang familier, yang tersenyum, yang menangis, yang tertawa dengan cara yang hanya Amira yang bisa.

"Amira," bisiknya, dan kali ini namanya tidak terdengar asing. Kali ini, namanya terdengar seperti rumah.

Amira menatapnya. Matanya—mata yang selama ini kosong, yang selama ini hanya melihat tanpa mengingat—berkaca-kaca. "Bara?"

Dan dalam sekejap, kota berhenti bergerak. Sang Pelupa membeku. Pohon yang bergetar itu diam. Karena untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, dua orang di kota ini berhasil mengingat satu sama lain.

---

Namun, kenangan itu tidak gratis. Kota ini tidak memaafkan.

Saat Bara dan Amira saling mengenal, tubuh mereka mulai berubah. Bukan menjadi lebih utuh, melainkan menjadi lebih kenangan. Kulit Bara mulai transparan, seperti foto tua yang memudar. Amira menjadi kabur di tepi-tepinya, seperti mimpi yang terbangun terlalu cepat.

"Mengingat memakan kita," kata Amira, suaranya terdengar dari jauh, meski ia berdiri di depan Bara.

"Ya," jawab Bara. Akan tetapi, ia tidak melepaskan tangan Amira.

"Kita akan lenyap."

"Ya."

"Kenapa kita tidak berhenti?"

Bara tersenyum. Senyumnya memudar, tetapi senyumnya nyata. "Karena berhenti mengingat berarti lenyap juga. Akan tetapi, lenyap yang berbeda. Lenyap menjadi ... tidak ada. Sekarang, kita lenyap menjadi sesuatu. Menjadi kenangan. Menjadi cerita. Menjadi ... kita."

Amira mengerti. Atau mungkin tidak. Namun, ia juga tersenyum. Dan dalam delirium psikologis mereka, dalam kegilaan yang hanya bisa dimengerti oleh dua orang yang saling mengingat, mereka melihat sesuatu yang tidak mungkin.

Mereka melihat kota ini dari luar.

Bukan fisik, melainkan dalam bentuk kenangan yang mereka bagi. Kota ini bukan kota. Kota ini adalah diri yang melupakan dirinya sendiri. Setiap warga adalah bagian dari kota yang mencoba mengingat siapa dirinya, tetapi gagal, jadi melupakan, jadi bahagia dalam kegagalan. Bara dan Amira adalah dua sel yang masih mencoba—dua sel yang menolak mati meski tubuh sudah menyerah.

Dan mereka melihat sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang lebih mengerikan. Kota ini tidak selalu seperti ini. Dulu, kota ini punya nama. Punya wajah. Punya kenangan. Akan tetapi, suatu hari—hari yang tidak bisa diingat karena hari itu sendiri dilupakan—kota ini memutuskan untuk melupakan sesuatu yang terlalu menyakitkan. Sesuatu yang begitu besar, begitu fundamental, sehingga melupakannya berarti melupakan segalanya.

Namun, apa itu?

Mereka tidak tahu. Kota ini tidak tahu. Hanya ada rasa sakit yang tersisa, rasa sakit yang tidak punya nama, yang menjadi fondasi dari setiap jalan, setiap bangunan, setiap wajah yang tersenyum tanpa mata.

---

Mereka berdiri di jembatan tua lagi. Tubuh mereka hampir tidak terlihat—hampir sepenuhnya kenangan, hampir sepenuhnya cerita. Namun, tangan mereka masih berpegangan. Dan dalam pegangan itu, ada sesuatu yang lebih nyata dari kota ini.

"Bara," bisik Amira. Suaranya seperti angin yang membawa nama dari masa lalu.

"Amira."

"Apa yang akan kita lakukan?"

Bara menatap sungai yang tidak mengalir. Air mati itu beriak, bukan karena arus, melainkan karena sesuatu di dalamnya—sesuatu yang terkubur, sesuatu yang dilupakan—mencoba bangkit.

"Ada dua pilihan," kata Bara. Suaranya hampir tidak terdengar, hampir menjadi bagian dari angin. "Kita bisa melupakan. Menjadi seperti mereka. Bahagia. Kosong. Hidup selamanya dalam keabadian yang memuakkan."

"Atau?"

"Atau kita terus mengingat. Sampai kita lenyap sepenuhnya. Sampai kita menjadi hanya kenangan. Akan tetapi, kenangan yang nyata. Kenangan yang pernah hidup."

Amira diam. Kota diam. Dunia diam.

Lalu Amira tersenyum. Senyum terakhirnya—atau mungkin senyum pertamanya yang sebenarnya. "Aku memilih mengingat."

Bara mengangguk. Dan dalam keheningan total, mereka melupakan cara untuk melupakan.

Tubuh mereka lenyap. Bukan mati. Bukan pergi. Melainkan menjadi sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa disentuh, tetapi bisa dirasakan. Menjadi getaran di udara ketika seseorang mencoba mengingat nama yang hampir terlupakan. Menjadi rasa sakit yang familier di dada ketika seseorang melihat wajah yang hampir dikenal. Menjadi sesuatu yang kota ini tidak bisa hapus, karena kota ini sendiri adalah produk dari sesuatu yang dilupakan.

---

Waktu tidak lagi punya makna. Atau mungkin waktu tidak pernah punya makna.

Di kota yang melupakan wajahnya sendiri, sesuatu berubah. Perlahan. Tidak terlihat, tetapi terasa.

Seorang anak kecil—wajahnya asing, suaranya asing, tetapi matanya punya sesuatu yang aneh—berjalan di jalanan kota. Ia berhenti di depan dinding kosong. Dinding yang dulu ditulis Amira dengan kapur tulis.

Anak itu meraih dinding. Tangannya gemetar, meski ia tidak tahu kenapa. Dan di ujung jarinya, muncul goresan. Satu kata. Dua huruf. Nama yang tidak ia kenal, tetapi yang menggetarkan sesuatu di dalam dadanya.

Bara.

Anak itu menatap goresan itu. Kota menatap anak itu. Dan untuk sekejap—sangat singkat, sangat lemah, sangat nyaris tidak ada—kota ini hampir mengingat.

Hampir.

Namun, hampir tidak cukup. Hampir tidak pernah cukup.

Goresan itu memudar. Anak itu berjalan pergi, wajahnya kembali kosong, tetapi langkahnya sedikit lebih lambat, seolah-olah menunggu sesuatu yang tidak akan datang.

Di suatu tempat yang tidak ada di peta, di celah-celah antara melupakan dan mengingat, dua suara berbisik. Bukan pada siapa pun. Bukan pada apa pun. Hanya berbisik, karena berbisik adalah satu-satunya cara untuk tetap ada.

"Bara?"

"Di sini, Amira. Selalu di sini."

"Apakah kita pernah ada?"

Bara tidak menjawab. Atau mungkin jawabannya adalah keheningan itu sendiri. Keheningan yang bukan kosong, melainkan penuh. Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa diucapkan, tidak bisa diingat, tetapi selalu ada.

Seperti cinta yang dilupakan.

Seperti rasa sakit yang menjadi rumah.

Seperti dua orang yang memilih lenyap daripada melupakan.

Dan di bawah pohon yang tidak punya daun—pohon yang masih bergetar, masih mencoba mengingat—tumbuh sesuatu yang baru. Bukan daun. Bukan bunga. Melainkan sesuatu yang lebih kecil, lebih rapuh, lebih berani.

Sebuah benih.

Benih dari apa?

Kota tidak tahu. Kota tidak akan pernah tahu. Akan tetapi, benih itu tumbuh. Perlahan. Dalam diam. Dalam kegilaan yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah mengingat.

Dan mungkin—sangat mungkin, sangat kecil, sangat mustahil—suatu hari nanti, kota ini akan bangun dengan wajahnya sendiri. Wajah yang tidak asing. Wajah yang mengingat. Wajah yang menangis karena akhirnya, setelah ribuan tahun, ia tahu siapa dirinya.

Namun, itu adalah cerita lain.

Cerita yang mungkin tidak akan pernah tertulis.

Karena untuk menulisnya, seseorang harus mengingat.

Dan mengingat, di kota ini, adalah kegilaan tertinggi.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

BETAWOL

CERPEN LINGUISTIK