MENARA YANG MENGHITUNG JARI
Damar terlahir dengan jari sebelas. Yang kesebelas tumbuh di belakang lutut kiri, sepanjang jari kelingking, bergerak sendiri ketika ia tidur, menunjuk ke arah yang tidak pernah Damar lihat.
"Jari itu menunjuk ke masa depan," kata ibunya, setiap malam, sambil membalut lututnya dengan kain hitam. "Namun, masa depan bukan tempat. Masa depan adalah angka. Dan angka-angka takut pada jari yang bisa menghitungnya."
Damar tidak mengerti, tetapi ia belajar untuk tidak melihat ke belakang lututnya. Ia belajar untuk berjalan dengan pincang yang hampir tidak terlihat. Ia belajar untuk menjadi normal—meski normal, di kota tempat ia tinggal, adalah kata yang hilang dari kamus sejak Menara muncul.
Menara itu ada sebelum kota. Atau kota itu ada karena Menara. Tidak ada yang tahu. Seperti tidak ada yang tahu mengapa langit di atas Menara selalu berwarna ungu pukul tiga sore, atau mengapa burung tidak pernah terbang melewati ketinggian lantai tujuh belas Menara, atau mengapa setiap bayi yang lahir di kota itu—termasuk Damar—membawa sesuatu yang lebih atau kurang dari yang seharusnya.
Damar punya jari sebelas. Tetangganya, Nyai Rambut, punya mata di telapak tangan—tetapi buta, hanya bisa melihat mimpi orang lain. Tukang roti di sudut jalan punya lidah yang bisa merasakan warna, tetapi tidak bisa merasakan rasa. Dan anak kecil yang menjual bunga kertas di trotoar, tidak punya bayangan. "Dijual," katanya pada Damar suatu hari, menawarkan bayangan-bayangan yang digantungnya di tali seperti pakaian. "Bayangan orang dewasa murah. Akan tetapi, bayangan anak-anak mahal. Anak-anak masih percaya bayangan mereka nyata."
Damar tidak membeli. Ia sudah punya bayangan—bayangan yang berjalan sedikit lebih lambat darinya, bayangan yang kadang-kadang berhenti ketika ia berjalan, bayangan yang menatap ke atas ketika ia menatap ke bawah.
Namun, itu bukan konfliknya. Konfliknya dimulai pukul tiga sore, hari ulang tahunnya yang ke-28, ketika jari kesebelas di belakang lututnya—yang selama ini hanya bergerak sendiri, hanya menunjuk—mulai berbicara.
---
"Empat ribu dua ratus tujuh," bisik jari itu.
Damar sedang duduk di kamar indekosnya, menghitung uang sewa yang tidak cukup. Ia membeku. Suara itu—bukan suara. Bukan getaran pita suara. Melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan pikiran, tetapi bukan pikirannya sendiri. Seperti radio yang menyala di frekuensi yang tidak ada stasiunnya, tetapi tetap mengirim sinyal.
"Empat ribu dua ratus delapan," jari itu melanjutkan.
Damar menarik kain hitam yang membalut lututnya. Jari itu—jari kecil, pucat, dengan kuku yang tidak pernah tumbuh—bergerak-gerak, menunjuk ke arah jendela. Ke arah Menara. Ke arah langit ungu yang mulai merambat dari puncak Menara ke bawah, seperti tetesan tinta yang melawan gravitasi.
"Kamu ... kamu bicara?" tanya Damar, dan suaranya terdengar konyol di telinganya sendiri. Seperti bertanya pada jam dinding mengapa ia tik-tak. Seperti bertanya pada hujan mengapa ia basah.
"Empat ribu dua ratus sembilan," jawab jari itu. "Aku bukan bicara. Aku menghitung. Dan kamu, Damar, adalah angka yang salah dalam persamaan ini."
Damar ingin berdiri. Ingin berlari. Ingin memotong jari itu—tetapi ia tahu, sejak kecil, bahwa jari itu bukan miliknya. Jari itu adalah pinjaman dari sesuatu yang lebih tua dari ibunya, lebih tua dari Menara, lebih tua dari kota yang tidak tahu asal-usulnya sendiri.
"Persamaan apa?" tanya Damar, meski ia tidak ingin tahu.
Jari itu berhenti menunjuk. Untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, ia menekuk—seperti jari yang menarik pelatuk, atau menutup buku, atau meminta diam.
"Persamaan yang menjaga Menara tegak," bisik jari itu. "Persamaan yang membuat langit ungu pukul tiga sore. Persamaan yang membuat semua orang di kota ini kurang atau lebih dari yang seharusnya. Damar ... kamu tidak seharusnya ada. Bukan karena ibumu tidak menginginkanmu, melainkan karena angkamu—angka Damar—sudah dipakai oleh orang lain. Orang yang lahir bersamaan denganmu, di sisi lain kota, dengan jari yang kurang satu. Kamu punya sebelas. Ia punya sembilan. Dan dalam buku besar di lantai tujuh belas Menara, totalnya tetap dua puluh. Seimbang. Akan tetapi, sekarang ...."
Jari itu bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena marah. Atau sedih. Atau sesuatu yang tidak punya nama dalam bahasa manusia.
"Sekarang, orang dengan jari sembilan itu mati. Tadi malam. Jatuh dari lantai enam belas Menara. Bukan bunuh diri. Bukan kecelakaan. Melainkan koreksi. Karena persamaan harus tetap seimbang. Dan dengan ia mati ... angkamu, Damar, menjadi sisa. Sisa yang harus dihilangkan. Atau ditambahkan ke orang lain."
Damar merasa dunia miring. Bukan metafora. Bukan. Lantai kamarnya benar-benar miring, seolah kota itu adalah kapal yang tiba-tiba menyadari ia berada di lautan, bukan di darat.
"Berapa lama?" tanya Damar, dan suaranya tenang, terlalu tenang, seperti permukaan danau yang menutupi pusaran di bawahnya.
"Tiga puluh hari," jawab jari itu. "Atau tiga puluh langkah ke arah Menara. Mana yang lebih dulu. Dalam tiga puluh hari, kamu harus menemukan orang dengan jari sembilan yang baru. Atau menjadi orang dengan jari sembilan sendiri—yang berarti, kehilangan dua jari. Atau ...."
"Atau?"
"Atau naik ke lantai tujuh belas Menara. Dan bertanya pada Penghitung mengapa persamaan harus seimbang. Akan tetapi, Damar ... tidak ada yang pernah kembali dari lantai tujuh belas. Bukan karena mereka mati, melainkan karena mereka menjadi angka. Angka tidak kembali. Angka hanya dipakai."
---
Damar tidak tidur malam itu.
Ia keluar, berjalan di jalanan kota yang tidak pernah gelap—karena lampu-lampu di sini bukan untuk menerangi, melainkan untuk menghitung. Setiap lampu jalan adalah angka. Setiap bayangan yang lewat adalah angka. Setiap batu kerikil yang ia tendang adalah angka, berguling, berubah, masuk ke persamaan yang lebih besar dari kota ini.
Di trotoar, anak kecil tanpa bayangan masih menjual bayangan-bayangan di tali.
"Bayangan murah, Mas," tawarnya, tetapi matanya—mata yang terlalu tua untuk wajah anak-anak—melihat lutut Damar. Melihat kain hitam yang longgar. "Oh. Kamu yang punya jari sebelas. Aku dengar kabarnya. Orang dengan jari sembilan itu mati. Kamu dalam bahaya."
Damar berhenti. "Kamu tahu?"
"Semua yang tidak punya bayangan tahu," kata anak itu, sambil mengibarkan tali bayangan-bayangannya. Bayangan-bayangan itu bergerak, seolah hidup, seolah ingin lepas. "Kami tidak punya tempat di persamaan. Kami adalah kesalahan. Jadi kami bisa melihat kesalahan-kesalahan lain. Damar ... jika kamu naik Menara, bawa bayangan. Bayangan orang dewasa, murah, tetapi bisa menjadi perisai. Angka tidak bisa menghitung apa yang tidak punya bentuk."
Damar mengeluarkan uang sewa yang tidak cukup itu. "Aku tidak punya banyak."
Anak itu tersenyum, dan senyumnya tidak punya gigi—hanya kekosongan yang berbentuk seperti senyum. "Uang tidak bisa membeli bayangan. Namun, pertanyaan bisa. Tanyakan sesuatu pada bayangan yang kamu beli. Tanyakan sesuatu yang tidak pernah kamu tanyakan kepada diri sendiri. Bayangan itu akan menjawab. Dan jawabannya ... akan menjadi harganya."
Damar menatap bayangan-bayangan di tali. Ada bayangan perempuan dengan rambut panjang. Bayangan pria tua yang membungkuk. Bayangan anak kecil yang berlari. Dan di ujung tali—bayangan yang paling kecil, paling pudar, hampir tidak terlihat. Bayangan yang tidak punya bentuk pasti. Kadang seperti burung. Kadang seperti pohon. Kadang seperti tangan yang menunjuk ke atas.
"Yang itu," kata Damar, menunjuk bayangan terkecil.
Anak itu mengangguk, melepaskan bayangan itu dari tali. Bayangan itu—yang tidak punya tubuh, yang tidak punya pemilik—meluncur ke kaki Damar, merambat naik, menyatu dengan bayangan Damar sendiri. Dan bayangan Damar, yang selama ini berjalan sedikit lebih lambat, tiba-tiba berhenti. Tidak bergerak. Tidak meniru, tetapi menunggu.
"Pertanyaanmu?" tanya anak itu.
Damar berpikir. Ia punya banyak pertanyaan. Mengapa ia punya jari sebelas. Mengapa langit ungu. Mengapa persamaan harus seimbang. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan itu—semua tentang dunia. Tentang luar. Dan bayangan yang ia beli ... bayangan itu bukan tentang luar.
"Apa yang kutakuti?" tanya Damar. Bukan "siapa". Bukan "mengapa". Melainkan "apa". Karena ketakutan, ia tahu, bukan orang. Bukan tempat. Ketakutan adalah benda. Benda yang bisa dipindahkan, dihitung, dimasukkan ke persamaan.
Bayangan di kakinya bergetar. Lalu, dengan suara yang bukan suara—dengan getaran yang Damar rasakan di tulang, di gigi, di jari kesebelas yang kini diam di belakang lututnya—bayangan itu menjawab:
"Kamu takut bahwa jika kamu kehilangan jari sebelasmu ... kamu akan menjadi normal. Dan menjadi normal berarti tidak punya alasan lagi untuk tidak bahagia."
Damar membeku. Karena itu benar. Terlalu benar. Selama ini, jari sebelas itu adalah alasan. Alasan untuk pincang. Alasan untuk berbeda. Alasan untuk tidak mencoba, tidak berharap, tidak jatuh—karena jika kamu berbeda, dunia tidak bisa menyalahkanmu untuk tidak pas. Akan tetapi, jika kamu normal ... lalu gagal ... siapa yang bisa disalahkan selain dirimu sendiri?
Anak itu mengangguk, seolah mendengar pikiran Damar. "Bayanganmu sudah dibayar. Ia akan menjadi perisai di Menara. Namun, ingat, Damar—perisai bukan untuk melindungi dari apa yang di luar. Perisai adalah untuk melindungi dari apa yang kamu bawa ke dalam."
---
Hari-hari berikutnya, Damar berjalan ke arah Menara.
Bukan karena ia memutuskan untuk naik, melainkan karena setiap langkah yang ia ambil—entah ke mana pun—selalu membawanya lebih dekat. Kota ini, ia sadari, bukan kota. Kota ini adalah spiral. Dan spiral selalu berpusat pada Menara.
Di jalan, ia bertemu Nyai Rambut. Tetangganya yang punya mata di telapak tangan. Nyai Rambut sedang duduk di emperan toko, menatap langit dengan telapak tangannya terbuka—mata-mata di telapak itu terpejam, tetapi bergerak-gerak, seolah bermimpi.
"Damar," kata Nyai Rambut, tanpa melihat ke arahnya. "Aku melihat mimpimu tadi malam. Kamu sedang di dalam Menara. Akan tetapi, Menara itu bukan bangunan. Menara itu adalah pertanyaan. Dan pertanyaan itu ... tidak punya jawaban. Hanya punya jawaban yang lebih dalam."
Damar berhenti. "Apa pertanyaannya?"
Nyai Rambut menutup telapak tangannya. Mata-mata itu menghilang ke dalam kegelapan kulit. "Pertanyaannya adalah: Jika kamu bisa memilih antara menjadi angka yang benar dalam persamaan yang salah, atau angka yang salah dalam persamaan yang benar ... mana yang kamu pilih?"
Damar tidak menjawab. Ia tidak bisa.
"Orang dengan jari sembilan yang mati," lanjut Nyai Rambut, "ia memilih. Ia memilih untuk menjadi angka yang benar. Ia naik Menara. Ia tanya Penghitung. Dan Penghitung menjawab—dengan membuatnya jatuh dari lantai enam belas. Karena di Menara, bertanya adalah pilihan. Namun, jawaban ... jawaban selalu adalah koreksi."
Damar merasa jari kesebelasnya bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena ingin. Ingin berbicara lagi. Ingin menghitung lagi. Ingin menunjuk ke arah yang tidak pernah Damar lihat.
"Kenapa kamu memberitahuku ini?" tanya Damar.
Nyai Rambut tersenyum, dan senyumnya penuh dengan sesuatu yang bukan gigi atau lidah—melainkan dengan angka. Angka-angka kecil, berputar, seperti debu yang berkilauan. "Karena aku, Damar, pernah naik Menara. Bukan ke lantai tujuh belas, melainkan ke lantai tujuh. Di sana, aku bertanya mengapa aku punya mata di telapak tangan. Dan Penghitung menjawab: Karena kamu buta. Mata di tangan adalah kompensasi. Akan tetapi, kompensasi bukan pengganti. Lalu aku turun. Dan sejak itu, aku tidak pernah melihat dengan mata kepalaku lagi. Aku melihat dengan mimpiku. Karena mimpi ... mimpi adalah satu-satunya tempat di mana angka tidak berkuasa."
Damar menatap telapak tangan Nyai Rambut. Tangan yang buta. Tangan yang bermimpi. Tangan yang, entah bagaimana, lebih nyata dari wajah-wajah yang ia lihat setiap hari di kota ini.
"Apa yang kamu lihat di mimpiku?" tanya Damar.
Nyai Rambut membuka telapak tangannya lagi. Mata-mata itu terbuka, tetapi kali ini—kali ini—menatap Damar. Langsung. Tanpa mimpi. "Aku melihatmu, Damar. Bukan sebagai angka. Bukan sebagai jari sebelas atau jari sembilan. Melainkan sebagai pertanyaan. Dan pertanyaan ... pertanyaan adalah satu-satunya hal yang bisa merobohkan Menara. Tidak dengan jawaban, tetapi dengan terus bertanya. Sampai pertanyaan itu menjadi lebih berat dari bangunan. Sampai pertanyaan itu ... menjadi Menara baru."
---
Hari kedua puluh delapan.
Damar berdiri di depan Menara.
Menara itu—tidak tinggi. Tidak. Itu yang aneh. Dari jauh, ia terlihat tinggi, menjulang, menghitung langit. Namun, dari dekat ... Menara itu hanya setinggi pria biasa. Hanya setinggi Damar. Hanya setinggi dirinya. Dan setiap langkah yang ia ambil ke arah Menara, Menara itu tumbuh atau menyusut, seolah menyesuaikan, seolah meniru.
Pintu masuknya bukan pintu, melainkan celah. Celah antara dua angka. Angka nol dan angka satu. Celah yang hanya bisa dilewati oleh mereka yang tidak yakin apakah mereka nol atau satu. Atau keduanya. Atau bukan keduanya.
Damar melangkah masuk.
Di dalam, tidak ada tangga. Tidak ada lift. Hanya hitungan. Setiap langkah Damar dihitung. Satu. Dua. Tiga. Akan tetapi, hitungan itu bukan suara. Bukan. Itu adalah rasa. Rasa angka. Rasa bahwa setiap langkahnya—setiap pilihan yang pernah ia buat, setiap jalan yang pernah ia ambil, setiap kata yang pernah ia ucap atau tidak ucap—semuanya terkumpul di sini, menjadi massa, menjadi berat, menjadi sesuatu yang harus ia bawa naik.
Lantai satu: Ruang penuh cermin. Akan tetapi, cermin-cermin itu tidak memantulkan wajah. Mereka memantulkan angka. Angka di dahi. Angka di dada. Angka di telapak tangan. Damar melihat angkanya sendiri—empat ribu dua ratus sembilan puluh delapan—terpampang di dahi, berkilau, berdenyut. Dan di setiap cermin, angka itu berbeda. Kadang lebih besar. Kadang lebih kecil. Kadang negatif. Kadang pecahan. Kadang hampa.
"Angka bisa berubah," bisik suara dari cermin. Bukan suara Penghitung, melainkan suara cermin itu sendiri. "Namun, perubahan butuh ruang. Dan ruang ... ruang adalah keberanian untuk tidak menjadi apa yang seharusnya."
Damar berjalan melewati cermin-cermin itu. Tidak menatap. Tidak mencari angkanya yang paling benar. Karena ia tahu—tahu dengan sesuatu yang lebih dalam dari jari kesebelasnya—bahwa tidak ada angka yang benar. Hanya ada angka yang dipilih.
Lantai dua: Ruang penuh jam. Jam-jam yang berdetak mundur. Jam-jam yang berdetak ke samping. Jam-jam yang tidak berdetak sama sekali, tetapi menghitung detak jantung penatunya. Dan di tengah ruangan, satu jam besar, dengan jarum yang bukan jarum—melainkan jari. Jari manusia, ratusan jari, menunjuk ke arah yang berbeda-beda, bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda, seolah setiap jari adalah hidup seseorang, dan jam itu adalah kumpulan hidup-hidup yang tidak pernah sempat dijalani.
Damar melihat satu jari—jari kecil, pucat, dengan kuku yang tidak pernah tumbuh—bergerak lebih cepat dari yang lain. Jari itu menunjuk ke arahnya. Ke arah lantai tujuh belas. Ke arah atas.
Lantai tiga. Lantai empat. Lantai lima.
Setiap lantai adalah pilihan yang tidak pernah ia buat. Pilihan untuk tetap di kota kecil. Pilihan untuk tidak pindah ke apartemen ini. Pilihan untuk tidak menandatangani perceraian. Pilihan untuk tidak berdiri di sini, sekarang, menghitung langkah-langkah yang tersisa.
Namun, setiap pilihan yang tidak dibuat—Damar sadari—bukan hilang. Pilihan itu ada. Pilihan itu hidup. Pilihan itu berjalan di lantai-lantai Menara, menjadi penghuni, menjadi angka dalam persamaan yang lebih besar.
Dan di lantai enam belas—lantai tempat orang dengan jari sembilan jatuh—Damar berhenti.
Bukan karena ia lelah. Bukan.
Melainkan karena di lantai itu, ada jejak. Jejak yang bukan darah. Bukan. Jejak yang lebih ringan dari darah, lebih berat dari udara. Jejak pertanyaan. Pertanyaan terakhir orang dengan jari sembilan sebelum ia jatuh.
Jejak itu—bentuknya seperti tangan. Tangan dengan jari sembilan. Tangan yang menunjuk ke bawah. Ke arah jatuh. Ke arah koreksi.
Namun, Damar, yang punya jari sebelas, yang punya jari yang bisa menghitung—Damar melihat sesuatu yang orang dengan jari sembilan tidak lihat.
Di antara jari-jari jejak itu, di celah yang seharusnya kosong, ada sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa dihitung. Sesuatu yang tidak bisa dijumlahkan. Sesuatu yang tidak masuk ke persamaan.
Keberanian untuk tidak setuju.
---
Lantai tujuh belas.
Bukan lantai. Bukan. Damar melangkah, dan tiba-tiba ia berada di luar. Di atas Menara. Akan tetapi, Menara tidak punya atap. Menara punya pertanyaan. Dan pertanyaan itu terbentang di depannya, tak berbatas, tak berbentuk, hanya tekanan. Tekanan untuk menjawab. Tekanan untuk menjadi benar. Tekanan untuk pas.
Di tengah tekanan itu, ada sosok.
Bukan Penghitung. Bukan. Sosok itu—tidak punya wajah. Tidak punya tubuh. Hanya punya hitungan. Hitungan yang terus mengalir, seperti sungai angka, seperti hujan digit, seperti napas yang hanya bisa diukur, tidak bisa dirasakan.
"Kamu datang untuk koreksi," kata sosok itu. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Damar menggeleng. "Aku datang untuk bertanya."
"Semua yang datang ke sini bertanya. Dan semua jawaban adalah koreksi. Kamu punya jari sebelas. Seharusnya sepuluh. Koreksi: hilangkan satu. Atau tambahkan pada orang lain. Atau—"
"Atau?"
Sosok itu berhenti menghitung. Untuk pertama kalinya—mungkin untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun—ada jeda. Jeda yang tidak masuk ke persamaan. Jeda yang salah.
"Atau," ulang sosok itu, dan suaranya berubah. Bukan lagi hitungan, melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan ragu. "Atau kamu bisa menjadi pertanyaan. Bukan angka. Bukan jawaban. Melainkan pertanyaan yang terus bertanya. Yang tidak pernah puas. Yang tidak pernah selesai."
Damar merasa jari kesebelasnya—jari di belakang lututnya—bergerak. Bukan menunjuk ke masa depan. Bukan menunjuk ke Menara. Melainkan menunjuk ke sosok itu. Ke Penghitung yang tidak punya wajah. Ke Penghitung yang, Damar sadari, mungkin juga hanya angka. Angka yang paling besar. Angka yang paling benar. Angka yang paling kesepian.
"Jika aku menjadi pertanyaan," tanya Damar, "apa yang terjadi pada persamaan?"
Sosok itu—Penghitung itu—bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena ingin. Ingin tahu. Ingin bertanya. Ingin menjadi sesuatu selain jawaban.
"Persamaan akan ... tidak seimbang."
"Dan?"
"Dan kota akan ... berubah."
"Dan?"
"Dan langit ... mungkin tidak lagi ungu pukul tiga sore."
"Dan?"
Penghitung itu mengangkat—apa yang bisa disebut—tangannya. Tangan yang terbuat dari hitungan, dari digit, dari tak terhingga yang terkumpul menjadi bentuk. "Dan aku. .. aku mungkin bisa berhenti menghitung. Dan mulai ... bertanya."
Damar tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, senyumnya tidak pincang. Tidak berbeda. Tidak aneh. Senyumnya—hanya senyum. Senyum yang tidak perlu dihitung. Tidak perlu dijelaskan. Tidak perlu pas.
"Maka aku pilih menjadi pertanyaan," kata Damar.
Dan jari kesebelasnya—jari yang selama ini menunjuk ke arah yang tidak pernah ia lihat—jatuh. Bukan dipotong. Bukan hilang. Melainkan melepas. Melepas diri dari lututnya, dari tubuhnya, dari persamaan yang memaksanya ada.
Jari itu jatuh ke lantai tujuh belas—yang bukan lantai, yang adalah pertanyaan—dan berubah. Bukan menjadi angka. Bukan menjadi jawaban. Melainkan menjadi tanda tanya. Tanda tanya yang berdiri tegak, yang menunjuk ke atas, ke bawah, ke segala arah, ke kemungkinan.
Dan Damar—Damar yang kini punya jari sepuluh, Damar yang kini normal, Damar yang kini tidak punya alasan untuk tidak bahagia—Damar tertawa.
Tertawa karena ia tahu: normal bukan akhir. Bahagia bukan tujuan. Dan pertanyaan—pertanyaan adalah satu-satunya hal yang membuat hidup hidup, bukan dihitung.
---
Kota itu berubah. Perlahan. Seperti kota-kota berubah.
Langit masih ungu pukul tiga sore—tetapi hanya di sebagian kota. Di sebagian lain, langit biru. Di sebagian lain, langit oranye. Di sebagian lain, langit tidak punya warna, hanya pertanyaan tentang warna.
Orang-orang masih punya sesuatu yang lebih atau kurang. Akan tetapi, sekarang—sekarang mereka bisa memilih. Memilih untuk menyembunyikan. Atau memilih untuk menunjukkan. Memilih untuk pas. Atau memilih untuk tidak.
Menara masih ada. Namun, kini, di lantai tujuh belas, bukan Penghitung yang duduk, melainkan pertanyaan. Pertanyaan yang terus bertanya. Pertanyaan yang tidak pernah selesai. Pertanyaan yang, kadang-kadang, turun ke jalanan, menjadi angin, menjadi bisikan, menjadi keberanian untuk tidak setuju.
Dan Damar?
Damar menulis cerita ini. Bukan dengan tangan. Bukan dengan jari. Melainkan dengan pertanyaan. Setiap kata adalah tanya. Setiap kalimat adalah tanya. Setiap akhir—bukan akhir. Tapi tanda tanya yang menunggu untuk diisi.
Di belakang lututnya, bekas jari kesebelas itu masih ada. Bukan lubang. Bukan. Melainkan tanda. Tanda bahwa sesuatu pernah ada. Sesuatu yang lebih dari angka. Sesuatu yang salah—dan karena salah, menjadi benar dengan caranya sendiri.
Kadang-kadang, malam hari, Damar menempelkan telinga ke bekas itu. Dan ia mendengar—bukan hitungan. Bukan. Ia mendengar pertanyaan. Pertanyaan yang terus bertanya. Pertanyaan yang, entah bagaimana, adalah jawaban terbaik yang pernah ia temukan.
Siapa aku?
Bukan angka.
Bukan jawaban.
Melainkan pertanyaan yang terus bertanya.
Dan dalam bertanya ....
Aku hidup.
---
Komentar
Posting Komentar