NEGERI PARA JIN

NEGERI PARA JIN


Peta itu ditemukan di dalam dada ayahnya, terlipat rapi di antara tulang rusuk yang patah, ketika Saka menurunkan jenazah dari pohon randu. Peta menuju Negeri Para Jin—tempat di mana permohonan dikabulkan, di mana orang mati bisa hidup kembali, di mana hukum alam dibayar dengan sesuatu yang lebih berharga dari nyawa manusia.

Saka menatap peta di tangannya, lalu menatap jenazah ayahnya yang terhampar di tanah kering. Ayahnya mati karena gantung diri. Bukan karena putus asa, melainkan karena menolak. Menolak pergi ke Negeri Para Jin untuk meminta sesuatu yang sudah lama menjadi rahasia keluarga mereka: ibu Saka tidak meninggal saat melahirkannya seperti yang selalu dikatakan ayah. Ibu Saka ditukar. Ditukar dengan nyawanya sendiri oleh ayahnya yang dulu, dalam keputusasaan yang sama yang kini meracuni Saka.

Ayahnya memilih mati daripada melakukannya lagi. Membiarkan Saka tumbuh tanpa ibu, tanpa ayah, tanpa siapa pun—tetapi hidup. Bebas dari utang para jin.

Namun, Saka baru saja menemukan surat di saku ayahnya. Surat dari dokter: Tumor di otak Anda stadium akhir. Tiga bulan, paling lama. Saka akan ditinggal sendirian di dunia ini.

Tiga bulan. Atau peta ini.

Saka menatap cakrawala di mana matahari terbenam membara, di mana menurut legenda—dan menurut peta—Negeri Para Jin berada. Di balik Gunung Kelud yang menguap, di lembah yang tidak ada di peta manusia, di tempat di mana waktu berjalan mundur dan permohonan adalah mata uang.

Ia bisa pergi. Bisa meminta ayahnya hidup kembali. Akan tetapi, ayahnya mati karena menolak pergi—artinya, ayahnya lebih memilih mati daripada membayar harga yang diminta para jin. Apa harganya? Saka tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Setiap orang yang pergi ke Negeri Para Jin dan kembali, kembali dengan mulut terkunci rapat, hidup dalam diam sampai akhir hayat mereka. Yang tidak kembali ... tidak pernah terdengar lagi.

Atau Saka bisa tidak pergi. Bisa menunggu tiga bulan, menatap ayahnya mati, lalu menatap tumor di kepalanya sendiri tumbuh—karena tumor itu turun-temurun, warisan dari ibunya yang ditukar, dari transaksi yang tidak pernah selesai dibayar.

Ayahnya memilih mati untuk memutus rantai. Akan tetapi, rantai itu, Saka baru sadar, sudah terikat erat di lehernya sejak lahir.

Saka melipat peta, memasukkannya ke baju. Di seberang kebun, tetangga mulai datang untuk membantu mengurus jenazah. Mereka akan bertanya kenapa ayahnya bunuh diri. Saka akan berbohong. Seperti ayahnya berbohong tentang ibunya. Seperti semua orang di desa ini berbohong tentang Negeri Para Jin—mengatakan itu hanya dongeng, hanya mitos, sambil diam-diam mengirim permohonan mereka di malam Jumat Kliwon.

Saka tahu apa yang harus dilakukan. Bukan karena ia ingin, melainkan karena pilihan itu tidak pernah benar-benar ada. Ia bisa membiarkan ayahnya mati sia-sia, membiarkan dirinya mati dalam tiga bulan, membiarkan nama keluarganya pupus dalam keheningan. Atau ia bisa pergi, membayar harga yang tidak ia ketahui, dan mungkin—mungkin—kembali dengan ayahnya yang hidup, atau ibunya yang hilang, atau dirinya sendiri yang sembuh.

Namun, "mungkin" adalah kata yang tidak pernah digunakan para jin. Mereka tidak bertransaksi dengan kemungkinan. Mereka bertransaksi dengan kepastian. Kepastian yang Anda bayar, dengan sesuatu yang Anda tidak tahu Anda miliki sampai mereka mengambilnya.

---

Saka berangkat malam itu juga, meninggalkan jenazah ayahnya di tangan tetangga yang bingung. Ia tidak membawa bekal banyak—hanya peta, sebotol air, dan pisau belati ayahnya yang selalu tergantung di dapur. Peta itu bukan peta biasa. Garis-garisnya berubah setiap kali Saka melihatnya dari sudut berbeda. Jalan yang tadi lurus, kini belok. Sungai yang tadi di sebelah kiri, kini di sebelah kanan. Hanya satu yang tetap: Gunung Kelud di kejauhan, asapnya berwarna hijau di malam hari, bukan putih atau abu seperti seharusnya.

Saka berjalan sepanjang malam. Hutan jati yang biasanya ramai dengan suara jangkrik dan burung hantu, malam ini sunyi seperti kuburan. Bukan sunyi kosong—melainkan sunyi yang menunggu. Seolah seluruh hutan menahan napas, mengamati, memperhitungkan.

Fajar pecah ketika Saka mencapai kaki Gunung Kelud. Akan tetapi, fajar di sini salah warnanya. Langit di sebelah timur berwarna ungu gelap, di sebelah barat berwarna oranye membara. Seolah matahari terbit dan terbenam secara bersamaan. Dan di celah antara dua warna itu, Saka melihatnya: sebuah gerbang batu yang tidak ada di peta manusia, terukir dengan aksara yang bergerak-gerak seperti ular, dijaga oleh sesuatu yang berbentuk manusia tetapi terlalu tinggi, terlalu kurus, dengan mata yang tidak berkedip karena tidak memiliki kelopak.

"Permohonan?" suara penjaga itu seperti batu yang digores. Bukan pertanyaan. Bukan sambutan. Hanya konfirmasi.

Saka mengangguk, mulutnya terlalu kering untuk berbicara.

"Bayarannya belum tentu sama dengan yang dibayar ayahmu," penjaga itu berkata, dan Saka membeku. Penjaga itu tahu. Tentu saja ia tahu. Di Negeri Para Jin, semua orang tahu segalanya. "Ayahmu membayar dengan nyawa istrinya. Kamu ... kamu tidak punya istri. Kamu tidak punya anak. Kamu nyaris tidak punya apa-apa."

"Apa yang bisa saya bayar?" tanya Saka, suaranya pecah.

Penjaga itu tersenyum—jika bisa disebut senyum. Mulutnya terlalu lebar, giginya terlalu banyak, terlalu tajam. "Itu bukan pertanyaan yang benar. Pertanyaan yang benar adalah: apa yang mau kamu bayar?"

Saka menatap gerbang. Di baliknya, ia bisa melihat samar-samar: sebuah kota yang bangunannya terbuat dari sesuatu yang berkilauan seperti kaca, tetapi bergerak seperti air. Jalan-jalan yang tidak menuju ke mana-mana, atau mungkin menuju ke segala tempat. Dan suara-suara—bisikan, tawa, tangis, semua bergabung menjadi satu drone yang menusuk tengkorak.

Ia ingin mengatakan: saya mau ayah saya hidup lagi. Akan tetapi, kata-kata itu terjebak di tenggorokan. Karena jika ayahnya hidup, ayahnya akan tahu bahwa Saka melanggar keinginan terakhirnya. Ayahnya mati untuk memutus rantai, dan Saka akan mengikatnya kembali.

Atau ia bisa meminta yang lain. Bisa meminta tumor di kepalanya hilang. Bisa meminta ibunya kembali—wanita yang tidak pernah ia kenal, yang hanya ada dalam cerita bohong ayahnya. Bisa meminta kekayaan, kekuasaan, cinta—para jin tidak peduli apa yang diminta. Mereka hanya peduli apa yang dibayar.

"Saya mau tahu," kata Saka akhirnya, suaranya lebih kukuh dari yang ia duga, "apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu saya. Bukan versi yang diceritakan ayah saya. Yang sebenarnya."

Penjaga itu mengangguk, seolah menghargai pilihan itu. "Masuklah. Namun, ingat: di Negeri Para Jin, kebenaran juga harus dibayar. Dan kebenaran tentang ibumu ... mungkin lebih mahal dari nyawamu sendiri."

---

Kota para jin tidak memiliki aturan fisika yang Saka kenal. Jalan di bawah kakinya kadang keras seperti batu, kadang lunak seperti lidah. Bangunan di sekelilingnya berubah bentuk setiap kali ia berkedip: dari menara tinggi menjadi gua bawah tanah, dari istana megah menjadi gubuk reyot. Dan makhluk-makhluk yang menghuni kota itu—jin, atau sesuatu yang menyamar sebagai jin—melihatnya dengan mata yang terlalu banyak, terlalu besar, terlalu lapar.

Saka dibawa ke sebuah ruangan yang tidak memiliki dinding, hanya cermin. Cermin di setiap sisi, di atas, di bawah, mencerminkan dirinya dari sudut yang tidak mungkin. Dan di tengah ruangan, sebuah meja batu dengan dua kursi. Di satu kursi, duduk sesuatu yang berbentuk seperti wanita tua dengan tujuh mata di wajahnya. Di kursi lain, kosong—menunggu Saka.

"Permohonanmu: kebenaran tentang ibumu," makhluk itu berkata, suaranya datang dari semua arah sekaligus. "Bayarannya: kenangan. Semua kenanganmu tentang ayahmu. Setiap momen, setiap kata, setiap sentuhan. Ia akan tetap hidup di dunia, tetapi bagimu, ia akan menjadi orang asing. Kamu akan mengenalinya, tetapi tidak akan pernah merasa apa-apa kepadanya."

Saka merasa dunia bergoyang. Ayahnya adalah satu-satunya orang yang ia punya. Ayahnya yang mengajarinya berjalan, membaca, bertahan. Ayahnya yang menangis di malam hari ketika mengira Saka sudah tidur, menangis untuk ibu yang tidak pernah disebut namanya.

"Dan jika saya menolak?" tanya Saka.

"Maka permohonanmu dibatalkan. Kamu pulang. Tumormu tumbuh. Ayahmu tetap mati. Dan ibumu ... ibumu tetap di sini. Seperti ia sudah dua puluh tiga tahun ini."

Saka membeku. "Di sini? Ibu saya di sini?"

Makhluk itu tersenyum dengan tujuh mulutnya sekaligus. "Tentu saja. Ayahmu membayar dengan nyawanya, tetapi bukan untuk kematian. Ia membayar untuk penggantian. Ibumu hidup di sini, bekerja untuk kami, membayar utang ayahmu yang tidak pernah ia setujui. Itulah yang ayahmu sembunyikan darimu. Itulah kenapa ia bunuh diri—bukan karena tumor, melainkan karena ia tidak tahan mengetahui bahwa istrinya masih hidup, menderita, dan ia tidak bisa melakukan apa-apa."

Saka merasa sesuatu pecah di dalam dadanya. Semua ini—kebohongan ayahnya, kematiannya, peta yang ditinggalkan—bukan untuk memutus rantai. Ayahnya meninggalkan peta karena ia ingin Saka menemukan kebenaran ini. Ia ingin Saka membebaskan ibunya. Ia ingin Saka melakukan apa yang ia tidak sanggup lakukan: masuk ke Negeri Para Jin dan membayar harga untuk memperbaiki kesalahannya.

Namun, harga itu—kenangan tentang ayahnya. Semuanya. Setiap hari di sawah, setiap pelukan di malam hujan, setiap kata "aku bangga kepadamu" yang hanya diucapkan ayahnya sekali, di hari kelulusan Saka dari SD.

Jika ia membayar, ia akan kehilangan ayahnya dua kali: sekali dalam kematian, sekali dalam kenangan. Ia akan pulang dengan ibu yang tidak ia kenal, ke rumah yang penuh bayangan orang asing yang pernah menjadi ayahnya, dan tidak merasa apa-apa.

Jika ia tidak membayar, ibunya tetap di sini. Menderita. Tidak diketahui. Dan ayahnya mati sia-sia, meninggalkan peta yang tidak pernah digunakan, bunuh diri untuk tidak ada alasan.

"Ada pilihan ketiga," kata makhluk itu, seolah membaca pikirannya. "Kamu bisa mengganti bayaran. Bukan kenangan tentang ayahmu, melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih ... berharga."

"Apa?"

"Harapanmu. Semua harapan yang pernah kamu miliki, yang pernah kamu rasakan, yang pernah kamu bayangkan. Kamu akan tetap hidup, tetap bernapas, tetap berjalan. Namun, kamu tidak akan pernah lagi merasa ada masa depan. Tidak akan pernah lagi merasa ada yang ditunggu. Setiap pagi akan terasa sama, setiap tahun akan terasa seperti kemarin, dan kamu akan hidup dalam keabadian yang membosankan sampai akhir hayatmu."

Saka menatap cermin-cermin di sekelilingnya. Di satu cermin, ia melihat dirinya pulang dengan ibu, tetapi tidak mengenal ayahnya yang hidup kembali—karena ia juga bisa meminta itu, bukan? Ayahnya hidup, ibunya bebas, tetapi Saka tidak merasa apa-apa pada keluarga yang baru dipulihkannya.

Pada cermin lain, ia melihat dirinya pulang sendirian, tumor tumbuh, tetapi masih memiliki kenangan ayahnya. Masih bisa menangis di makamnya. Masih bisa merasa kehilangan.

Pada cermin ketiga—yang paling gelap, yang paling kabur—ia melihat dirinya pulang dengan ibu dan ayah, keduanya hidup, keduanya bebas, tetapi Saka berjalan seperti mayat berjalan. Tidak ada cahaya di matanya. Tidak ada tujuan di langkahnya. Hanya keberadaan kosong yang terus berlanjut.

Tiga pilihan. Tidak ada yang benar. Tidak ada yang adil. Semuanya adalah bentuk kematian yang berbeda.

---

Saka memilih. Bukan dengan hati, karena hatinya sudah hancur. Bukan dengan pikiran, karena pikirannya sudah kabur. Melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, lebih liar: naluri seorang anak yang hanya ingin ibunya dan ayahnya bebas, meski ia sendiri tidak tahu apa artinya.

"Kenangan saya," kata Saka, "tetapi bukan semuanya. Saya ingin menyimpan satu. Hanya satu."

Makhluk itu mengangguk pelan. "Satu kenangan. Itu bisa diatur. Namun, ingat: kenangan yang tersisa akan terasa seperti film tentang orang asing. Kamu akan tahu bahwa itu ayahmu, tetapi kamu tidak akan pernah merasa itu ayahmu. Satu kenangan tidak cukup untuk membangun cinta. Hanya cukup untuk membangun penasaran. Dan penasaran ... penasaran adalah racun yang lebih lambat dari kehilangan."

"Saya tahu."

"Kenangan mana yang ingin kamu simpan?"

Saka menutup mata. Ia melihat ayahnya dalam ribuan momen: ayah yang tertawa ketika Saka pertama kali berhasil menangkap ikan di sungai. Ayah yang marah ketika Saka bohong tentang nilai ulangan. Ayah yang diam-diam menaruh sepotong tempe goreng di mangkuk Saka karena tahu itu makanan favoritnya. Ayah yang menangis di malam hari. Ayah yang gantung diri di pohon randu.

Dan di tengah semua itu, satu momen yang paling sederhana, paling tidak penting, tetapi yang entah mengapa terasa seperti inti dari segalanya: pagi biasa, Saka berusia tujuh tahun, bangun terlalu pagi, menemukan ayahnya sedang menyapu halaman. Ayahnya berhenti, tersenyum, dan berkata: "Bangunnya cepat. Ayo, kita lihat matahari terbit bersama. Hanya hari ini. Hanya kita berdua."

Mereka duduk di beranda. Matahari terbit. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada percakapan mendalam. Hanya kehadiran. Hanya bersama.

"Yang itu," kata Saka. "Pagi di beranda. Matahari terbit. Hanya itu."

Makhluk itu mengangguk. "Pilihan yang aneh, tetapi pilihanmu."

---

Saka pulang tiga hari kemudian, membawa ibunya yang tidak ia kenal—wanita kurus dengan mata yang terlalu tua untuk usianya, dengan tangan yang gemetar terus-menerus, dengan suara yang serak karena tidak pernah digunakan selama dua puluh tiga tahun. Dan di belakang mereka, berjalan seorang pria yang baru saja "ditemukan" di hutan, selamat dari usaha bunuh diri yang gagal, dengan luka leher yang masih merah dan mata yang penuh rasa bersalah.

Ayahnya hidup. Permohonan Saka dikabulkan: kebenaran tentang ibunya, kebebasan untuk ibunya, dan—karena Saka meminta tanpa sadar—kesempatan kedua untuk ayahnya.

Namun, Saka tidak merasa apa-apa ketika melihat ayahnya. Ia tahu bahwa pria itu adalah ayahnya. Ia tahu bahwa pria itu mencintainya. Akan tetapi, cinta itu terasa seperti fakta dalam buku sejarah: benar, tetapi tidak menyentuh.

Hanya satu kenangan yang tersisa: pagi di beranda, matahari terbit, duduk bersama. Dan setiap kali Saka melihat ayahnya, ia merasa penasaran. Apakah pria ini dulu pernah duduk bersamanya seperti itu? Apakah senyumnya pernah sehangat yang ia lihat dalam kenangan itu? Apakah ia pernah mencintai pria ini, dan pria ini pernah mencintainya?

Penasaran. Racun yang lebih lambat dari kehilangan.

Saka, ibunya, dan ayahnya tinggal di rumah di tepi desa. Ayahnya berusaha keras—terlalu keras—untuk membangun kembali apa yang hilang. Ibu Saka belajar untuk hidup lagi, untuk berbicara lagi, untuk menyentuh tanpa gemetar. Dan Saka ... Saka bangun setiap pagi, duduk di beranda, menunggu matahari terbit.

Namun, matahari terbit tidak pernah terasa sama. Karena dalam kenangan yang tersisa, ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan, cinta yang tidak bisa diidentifikasi, dan kehadiran seorang ayah yang tidak lagi bisa ia rasakan.

Suatu pagi, ketika Saka duduk di beranda sendirian, ibunya datang dan duduk di sebelahnya. Tidak berbicara. Hanya duduk. Dan ketika matahari mulai muncul di cakrawala, Saka merasakan sesuatu yang aneh: bukan kenangan, karena kenangan itu milik ayahnya. Bukan cinta, karena cinta itu sudah hilang. Melainkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum bernama.

Ibu Saka mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Saka. Tangan yang gemetar, tetapi yang mencoba.

"Kamu membayar mahal," ibunya berkata, suaranya masih serak, tetapi jelas. "Untuk aku. Untuk ayahmu. Aku tahu. Para jin ... mereka memberitahuku. Di sana. Selama ini."

Saka tidak menjawab.

"Aku tidak bisa mengembalikan apa yang kamu hilangkan," ibunya melanjutkan. "Akan tetapi, aku bisa ... aku bisa duduk di sini. Setiap pagi. Sampai kamu merasa sesuatu lagi. Apa pun itu. Bahkan jika itu hanya nyaman. Bahkan jika itu hanya tidak sepi."

Saka menatap ibunya—wanita asing yang berutang nyawanya kepadanya. Lalu menatap matahari yang terus naik, membelah langit menjadi emas dan merah. Dan untuk pertama kalinya sejak pulang dari Negeri Para Jin, Saka merasa sesuatu yang bukan penasaran.

Bukan cinta. Belum.

Namun, sesuatu yang bisa menjadi awal. Sesuatu yang bisa, suatu hari nanti, tumbuh menjadi kenangan baru—kenangan yang tidak dibayar kepada para jin, tetapi dibangun sendiri, pagi demi pagi, di beranda rumah di tepi desa, dengan ibu yang belum ia kenal dan ayah yang tidak lagi ia rasakan.

Saka menggenggam tangan ibunya yang gemetar. Tangan itu masih dingin. Masih asing. Akan tetapi, Saka tidak melepaskannya.

Di kejauhan, Gunung Kelud menguap hijau di fajar. Negeri Para Jin masih ada, masih menunggu, masih menawarkan permohonan dengan harga yang tidak pernah setimpal. Namun, di beranda ini, di pagi ini, Saka membuat pilihan baru. Bukan pilihan yang ditawarkan para jin, melainkan pilihan yang ia buat sendiri: untuk tetap hidup, tetap duduk, tetap menunggu, meski tidak tahu apa yang ditunggu.

Karena mungkin—mungkin—kebebasan sejati bukanlah kebebasan dari utang. Melainkan kebebasan untuk memulai lagi, meski dengan tangan kosong, meski dengan hati yang tidak lagi tahu cara merasa, meski dengan kenangan yang tersisa hanya satu.

Satu kenangan. Pagi di beranda. Matahari terbit.

Dan di bawah matahari yang sama, Saka berbisik kepada ibunya—kata-kata pertama yang ia ucapkan dengan suara yang bukan hanya formalitas: "Besok, kita lihat matahari terbit lagi. Hanya hari itu. Hanya kita berdua."

Ibu Saka menangis. Bukan tangis sedih, melainkan tangis seseorang yang baru saja diberi izin untuk hidup.

Dan Saka—yang kehilangan segalanya, yang membayar dengan harga yang tidak bisa dihitung, yang duduk di Negeri Para Jin dan memilih kematian yang berbeda—tersenyum.

Bukan karena bahagia, melainkan karena, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pilihan itu benar-benar miliknya.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

BETAWOL

CERPEN LINGUISTIK