ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI
Sebelum ada suara, sudah ada keheningan yang terlalu keras untuk ditahan.
Bara menemukan partitur itu di dalam telinga kirinya yang sudah tuli—bukan tuli secara medis, melainkan tuli secara puitis: telinganya masih bisa menangkap frekuensi, tetapi frekuensi itu tidak lagi membentuk makna. Suara ibunya memanggil namanya terdengar seperti air mengalir. Suara adiknya tertawa terdengar seperti kaca pecah. Suara azan dari masjid di ujung kampung terdengar seperti angin yang lewat, tidak meninggalkan jejak, tidak meminta izin untuk pergi.
Partitur itu ditemukan pada malam ketujuh setelah pemakaman ayahnya. Bukan malam ketujuh dalam kalender Islam, melainkan malam ketujuh dalam sistem penanggalan yang hanya Bara pahami: sistem yang menggunakan detak jantung sebagai metronom, di mana satu "malam" adalah 86.400 detak, dan satu "tahun" adalah jumlah detak yang dibutuhkan untuk berhenti mencari suara yang hilang.
Ia menemukannya ketika sedang membersihkan telinga dengan kapas—kebiasaan bodoh yang ia lakukan setiap malam, seolah-olah dengan membersihkan telinga ia bisa membersihkan keheningan yang menetap di sana. Kapas itu keluar berwarna cokelat kemerahan, bukan karena darah, melainkan karena sesuatu yang lebih tua: karat. Karat dari apa? Dari partitur yang telah berkarat di dalam telinganya selama ia tidak sadar, selama ia terlalu sibuk mendengarkan dunia luar hingga lupa bahwa di dalamnya ada orkestra yang telah berhenti bermain.
Partitur itu kecil. Seukuran ujung jari kelingking. Terlipat hingga tujuh kali—tujuh lipatan yang masing-masing adalah gerbang menuju sesuatu yang lebih kecil, lebih dalam, lebih tidak mungkin. Ketika ia membukanya, partitur itu melebar. Bukan seperti kertas yang dibuka, melainkan seperti ingatan yang terbuka—perlahan, dengan ragu-ragu, dengan risiko bahwa apa yang terbuka mungkin terlalu besar untuk ditampung.
Pada halaman pertama, hanya ada satu not:
𝄞 — nada yang tidak pernah ditabuh, tetapi terus berdentum di tulang-tulang yang tidak punya nama.
Bara menatap not itu. Ia tidak bisa membaca partitur—ayahnya yang musisi, bukan ia. Ayahnya yang menghabiskan malam-malam dengan rebab tua yang selalu setengah tersetem, ayahnya yang mengatakan bahwa setiap orang punya orkestra sendiri di dalam dada, "Akan tetapi, kebanyakan orang terlalu sibuk mendengarkan radio untuk mendengarnya."
Not itu bergetar. Bukan partiturnya yang bergetar—partitur itu diam, terlalu diam, diam seperti sesuatu yang menahan napas. Yang bergetar adalah udara di sekitarnya. Udara yang tiba-tiba memiliki frekuensi, memiliki ritme, memiliki sesuatu yang hampir bisa disebut nada, tetapi belum cukup berani.
Halaman kedua:
𝄢 — bas dari sesuatu yang terlalu dalam untuk disadari, terlalu lambat untuk dirasakan, tetapi cukup kuat untuk menggetarkan fondasi.
Bara merasa sesuatu di dalam dadanya bergerak. Bukan jantungnya—jantungnya berdetak normal, 68 kali per menit, angka yang ia hitung sendiri dengan jari di pergelangan tangan, angka yang selalu sama meski segalanya berubah. Yang bergerak adalah sesuatu yang lebih lambat dari jantung. Sesuatu yang berdetak sekali setiap beberapa menit, atau sekali setiap beberapa hari, atau sekali setiap beberapa tahun—sesuatu yang tidak punya nama dalam bahasa medis, tetapi mungkin punya nama dalam bahasa yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah kehilangan suara yang paling mereka kenali.
"Ayah," bisik Bara.
Bukan panggilan. Bukan doa. Bukan apa pun yang punya tujuan. Hanya suara yang keluar karena harus keluar, karena ada sesuatu di dalam dada yang membutuhkan bentuk, yang membutuhkan nada, meski nada itu tidak akan pernah sampai ke telinga yang bisa mendengarnya.
Partitur itu berlipat kembali. Sendiri. Bukan karena angin. Bukan karena gravitas. Partitur itu berlipat kembali karena ia menolak—menolak untuk terus terbuka, menolak untuk memperlihatkan lebih banyak, menolak untuk menjadi sesuatu yang bisa dibaca oleh mata yang belum belajar melihat dengan cara yang salah.
"Kau belum siap," kata suara.
Bukan suara dari luar. Bukan suara dari dalam. Suara yang berasal dari partitur itu sendiri—dari not-not yang belum dibunyikan, dari garis-garis yang belum ditarik, dari ruang-ruang kosong yang lebih penuh daripada yang terisi.
"Siap untuk apa?" tanya Bara.
"Untuk mendengar orkestramu sendiri," jawab suara itu. "Orkestra yang sudah mati sejak ayahmu pergi. Bukan karena ia yang memainkannya. Melainkan karena ia satu-satunya yang pernah mendengarnya."
Bara merasa telinga kirinya berdenyut. Bukan sakit. Bukan gatal. Denyut yang terasa seperti panggilan, seperti undangan, seperti permintaan maaf dari sesuatu yang telah lama diam dan kini ingin berbicara.
Ia menempatkan partitur itu kembali ke telinganya. Bukan dengan memasukkannya—ia terlalu besar, partitur itu terlalu kecil. Ia menempatkannya dengan mengizinkannya. Mengizinkan partitur itu untuk menjadi apa yang selama ini ia menjadi: sesuatu yang hidup di dalam telinga, sesuatu yang menunggu untuk dimainkan, sesuatu yang menunggu penabuhnya.
Dan ketika ia melakukan itu, dunia berubah.
Bukan dunia luar. Dunia luar tetap sama: kamar ayahnya yang kini menjadi kamarnya, rebab tua yang tergantung di dinding seperti mayat yang belum dimakamkan, debu yang menari di senter cahaya dari jendela yang retak. Dunia luar tetap sama. Akan tetapi, dunia dalam—
Dalam telinganya, dalam tulang-tulangnya, dalam ruang kosong yang ditinggalkan oleh suara-suara yang tidak lagi bisa diartikan—ada orkestra.
Orkestra yang tidak menggunakan alat musik. Orkestra yang menggunakan kenangan sebagai biola, penyesalan sebagai cello, rindu sebagai piano yang tidak pernah distem dengan benar. Orkestra yang dipimpin oleh konduktor yang tidak punya wajah, hanya punya gerakan—gerakan tangan yang terlalu cepat untuk diikuti, terlalu lambat untuk dipahami, gerakan yang membuat not-not bergerak seperti air, seperti darah, seperti sesuatu yang harus mengalir atau akan mati.
Dan musiknya—
Musiknya adalah sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Bukan karena indahnya. Bukan karena sedihnya, melainkan karena ia adalah konflik dalam bentuk nada: dua nada yang berbunyi secara bersamaan tetapi tidak harmonis, dua ritme yang berjalan paralel tetapi tidak pernah bertemu, dua dinamika yang saling menekan—yang satu ingin menjadi keras, yang lain ingin menjadi pelan, dan keduanya terjebak di tengah, di tempat yang paling sulit didengar, paling mudah dilupakan, paling nyeri.
"Ini konser terakhir ayahmu," kata suara dari partitur.
Bara tidak bisa menjawab. Ia tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa mendengar—mendengar dengan telinga yang sudah mati, dengan tulang yang belum belajar, dengan hati yang terlalu penuh untuk menampung satu nada pun lagi.
"Ayahmu tidak pernah memainkan rebabnya untuk dunia luar," lanjut suara itu. "Ia memainkannya untuk orkestramu. Untuk orkestra yang ada di dalammu. Untuk orkestra yang—" dan di sini, musiknya berubah, menjadi lebih dalam, lebih lambat, lebih seperti perpisahan, "—yang kini harus kau pimpin sendiri."
Bara merasa air mata di pipinya. Air mata yang ia tidak sadari keluar. Air mata yang, jika diteteskan ke partitur, mungkin akan membentuk not-not baru, akan menulis lagu-lagu baru, akan menjadi bahasa untuk sesuatu yang tidak punya kata.
"Namun, aku tidak bisa memainkan musik," kata Bara. "Aku tidak bisa membaca partitur. Aku tidak—"
"Bukan dengan tangan," potong suara itu. "Bukan dengan mata. Dengan yang hilang. Dengan yang tidak bisa dikembalikan. Dengan yang hanya bisa dirasakan oleh telinga yang sudah mati."
Musiknya semakin keras. Bukan keras dalam volume. Keras dalam kehadiran. Keras dalam ketidakmungkinan untuk diabaikan. Keras dalam cara yang membuat Bara ingin menutup telinganya, ingin lari, ingin kembali ke dunia di mana suara hanyalah suara, di mana nada hanyalah nada, di mana tidak ada makna yang tersembunyi di balik getaran udara.
Namun, ia tidak bisa lari.
Karena orkestra ini ada di dalamnya. Bukan di telinganya. Bukan di tulangnya. Di dalam ruang yang ditinggalkan oleh ayahnya—ruang yang tadinya penuh dengan suara rebab, dengan nada-nada yang tidak sempurna tetapi cukup, dengan kehadiran yang tidak perlu dijelaskan untuk dirasakan.
"Ayahmu meninggalkan satu nada yang belum selesai," kata suara itu. "Satu nada yang ia tahan di ujung bow-nya, yang ia tahan di ujung napasnya, yang ia tahan—" suara itu bergetar, pecah, menjadi sesuatu yang hampir seperti tangis, "—yang ia tahan hingga akhir. Nada itu masih ada. Di sini. Di dalammu. Dan kau harus memutuskan: apakah kau akan menyelesaikannya, atau membiarkannya terus berdentum tak berujung?"
Bara menutup mata.
Di dalam kegelapan, ia melihat ayahnya. Bukan ayahnya yang terbaring di rumah sakit, yang pucat, yang mesin-mesin menggantikan napasnya. Ia melihat ayahnya yang lebih muda, yang sedang memainkan rebab di teras rumah, yang senar-senarnya selalu sedikit fals tetapi selalu tepat dalam rasa. Ayahnya yang menatapnya—menatapnya dengan mata yang mengatakan sesuatu yang tidak pernah diucapkan, sesuatu yang mungkin adalah "aku mencintaimu" tetapi dalam bahasa yang lebih tua, lebih dalam, lebih seperti nada daripada kata.
Dan di ujung bow rebab ayahnya, ada sesuatu yang bergetar.
Bukan nada yang sudah dibunyikan. Bukan nada yang akan datang. Nada yang ditahan—nada yang terjebak di antara ada dan tidak ada, di antara bunyi dan sunyi, di antara yang terakhir kali terdengar dan yang pertama kali akan terdengar.
Nada itu memanggilnya.
Bukan dengan suara. Bukan dengan getaran. Dengan kehilangan. Dengan rasa tidak selesai. Dengan konflik yang tidak bisa diselesaikan karena setiap penyelesaian berarti kehilangan, berarti akhir, berarti perpisahan yang tidak bisa diulang.
Dan Bara—yang tidak bisa memainkan musik, yang tidak bisa membaca partitur, yang hanya bisa mendengar dengan telinga yang sudah mati—Bara harus memutuskan.
Apakah ia akan menyelesaikan nada itu?
Atau apakah ia akan membiarkannya berdentum selamanya, menjadi bagian dari orkestranya sendiri, menjadi konflik yang tidak perlu penyelesaian, menjadi lagu yang tidak pernah berakhir?
---
Bara memilih.
Bukan untuk menyelesaikan. Bukan untuk membiarkan. Ia memilih untuk masuk—masuk ke nada yang ditahan, masuk ke ruang di antara ada dan tidak ada, masuk ke konflik itu sendiri dan menjadi bagiannya.
Dunia berubah lagi.
Bukan dunia luar. Dunia luar tetap sama: kamar yang gelap, rebab yang tergantung, debu yang menari. Akan tetapi, dunia dalam—
Dalam telinganya, dalam tulang-tulangnya, dalam ruang yang ditinggalkan oleh ayahnya—ada panggung.
Panggung yang terbuat dari sesuatu yang terlihat seperti kayu yang sudah kering, tetapi terasa seperti kenangan—kenangan yang sudah terlalu sering diinjak, terlalu sering diabaikan, terlalu sering dianggap biasa hingga lupa bahwa ia pernah baru, pernah hidup, pernah berarti.
Di atas panggung, ada kursi.
Kursi untuk pemain biola. Kursi untuk pemain cello. Kursi untuk pemain piano. Kursi-kursi yang semuanya kosong, kecuali satu—kursi di tengah, kursi yang lebih tinggi dari yang lain, kursi yang seharusnya untuk konduktor tetapi kini ditempati oleh sesuatu yang tidak punya bentuk, hanya punya bayangan.
Bayangan yang mungkin adalah ayahnya. Atau mungkin adalah dirinya sendiri. Atau mungkin adalah nada yang ditahan, yang telah lama berada di sini, menunggu, menunggu, menunggu.
"Kau datang," kata bayangan itu.
Bukan suara. Bukan bisikan. Sesuatu yang lebih seperti getaran—getaran yang langsung masuk ke tulang, ke tulang belakang, ke tempat-tempat yang tidak punya nama tetapi punya rasa.
"Aku datang untuk nada itu," kata Bara. "Nada yang ayahku tinggalkan. Nada yang belum selesai."
"Nada itu bukan milik ayahmu," jawab bayangan itu. "Nada itu milikmu. Ayahmu hanya menahannya untukmu. Menahannya hingga kau siap. Akan tetapi—" dan di sini, bayangan itu bergerak, menjadi lebih besar, lebih gelap, lebih seperti sesuatu yang menelan, "—siap untuk apa? Siap untuk menyelesaikannya? Atau siap untuk menjadi nada itu?"
Bara membeku.
Ini adalah konfliknya yang sebenarnya. Bukan memilih antara menyelesaikan atau membiarkan. Bukan memilih antara mengikuti atau meninggalkan. Konfliknya adalah: apakah ia ingin menjadi musik, atau tetap menjadi pendengar?
Karena jika ia menyelesaikan nada itu, ia akan menjadi bagian dari lagu. Ia akan menjadi not yang berbunyi, yang kemudian berhenti, yang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar tetapi juga menjadi tidak ada setelah berbunyi. Ia akan menjadi selesai.
Namun, jika ia tidak menyelesaikannya, jika ia membiarkannya terus berdentum, ia akan tetap menjadi dirinya. Tetap menjadi Bara. Tetap menjadi pendengar yang kehilangan, yang rindu, yang tidak selesai.
"Ada pilihan ketiga?" tanya Bara.
"Tidak ada," jawab bayangan itu. "Tidak ada pilihan ketiga. Itulah yang membuat ini konflik. Jika ada pilihan ketiga, ini hanya akan menjadi masalah yang bisa dipecahkan. Konflik sejati adalah ketika setiap jalan menuju kehilangan. Setiap nada menuju sunyi."
Bara melangkah mendekati kursi konduktor. Kursi yang ditempati bayangan. Kursi yang, ia sadari kini, adalah kursi yang selama ini ditempati oleh ayahnya—bukan secara fisik, melainkan secara kehadiran. Ayahnya yang memimpin orkestra di dalamnya. Ayahnya yang mendengar apa yang tidak bisa didengar. Ayahnya yang menjadi musik untuknya.
"Jika aku duduk di sana," kata Bara, "apa yang akan terjadi?"
"Kau akan menjadi konduktor," jawab bayangan itu. "Kau akan memimpin orkestramu sendiri. Kau akan menentukan ritme, dinamika, arah. Akan tetapi—" dan di sini, bayangan itu menjadi lebih kecil, lebih redup, lebih seperti sesuatu yang pergi, "—kau akan kehilangan kemampuan untuk mendengar ayahmu. Karena konduktor tidak mendengar musik. Konduktor menciptakan musik. Dan yang diciptakan tidak bisa didengar dengan cara yang sama dengan yang ditemukan."
Bara merasa sesuatu di dalam dadanya pecah. Bukan jantungnya. Bukan paru-parunya. Sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, lebih seperti fondasi—fondasi yang selama ini ia pikir kokoh, yang selama ini ia pikir akan bertahan, yang kini ia sadari hanyalah bangunan dari nada-nada yang ditahan, yang ditahan terlalu lama, yang ditahan hingga menjadi karat.
"Ayahmu meninggalkan sesuatu selain nada," kata bayangan itu tiba-tiba.
"Apa?"
"Sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang tidak sempat ia tanyakan. Pertanyaan yang—" bayangan itu berhenti, seolah pertanyaan itu terlalu berat untuk diucapkan, terlalu ringan untuk ditahan, "—pertanyaan yang hanya bisa ditanyakan oleh nada yang belum selesai."
"Apa pertanyaannya?"
Bayangan itu tidak menjawab. Bayangan itu hanya menunjuk—menunjuk ke rebab yang tergantung di dinding kamar, di dunia luar, di tempat yang kini terasa sangat jauh sekaligus sangat dekat. Menunjuk ke senar-senar yang selalu sedikit fals. Menunjuk ke bow yang masih memiliki jejak resin ayahnya. Menunjuk ke yang ditinggalkan.
Bara mengerti.
Bukan dengan pikirannya. Bukan dengan kata-kata. Ia mengerti dengan telinganya yang sudah mati—dengan telinga yang kini bisa mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar oleh telinga yang masih hidup.
Pertanyaannya adalah: Siapa yang akan memainkannya sekarang?
Bukan "siapa yang akan memainkan rebab ini." Bukan "siapa yang akan melanjutkan musikku." Akan tetapi, "siapa yang akan menjadi nada yang belum selesai? Siapa yang akan menahan napas di ujung bow? Siapa yang akan berada di antara ada dan tidak ada, di antara bunyi dan sunyi, di antara yang terakhir dan yang pertama?"
Dan jawabannya—
Jawabannya adalah ia sendiri.
Atau bukan.
Jawabannya adalah bahwa pertanyaan itu tidak memerlukan jawaban. Pertanyaan itu adalah jawabannya. Nada yang ditahan adalah musiknya. Konflik yang tidak terselesaikan adalah orkestranya.
Bara duduk.
Bukan di kursi konduktor. Bukan di kursi pemain. Ia duduk di lantai panggung—lantai yang terbuat dari kenangan yang sudah kering, yang terasa seperti kayu tetapi terdengar seperti sunyi.
Dan ia mulai bernyanyi.
Bukan dengan suara. Bukan dengan kata. Dengan yang hilang. Dengan yang tidak bisa dikembalikan. Dengan yang hanya bisa dirasakan oleh telinga yang sudah mati.
Nyanyiannya tidak punya nada. Tidak punya ritme. Tidak punya bentuk. Ia adalah sesuatu yang lebih seperti getaran daripada suara, lebih seperti kehadiran daripada lagu, lebih seperti pertanyaan daripada jawaban.
Namun, orkestra itu mendengarnya.
Biola-biola yang terbuat dari penyesalan mulai bergetar. Cello-cello yang terbuat dari rindu mulai mengalun. Piano yang terbuat dari cinta yang tidak sempat diucapkan mulai memainkan akor-akor yang tidak pernah distem dengan benar—tetapi cukup, cukup untuk mengiringi, cukup untuk menjadi.
Dan nada yang ditahan—
Nada yang ditahan oleh ayahnya, yang telah lama berdentum di ujung bow, yang telah menunggu di antara ada dan tidak ada—
Nada itu mulai bergerak.
Pelan. Sangat pelan. Seolah masih ragu-ragu, seolah masih belajar, seolah baru saja memutuskan bahwa bergerak ke depan mungkin tidak seburuk yang dikira.
Nada itu naik. Bukan dalam volume. Bukan dalam pitch. Nada itu naik dalam keberanian—dalam keberanian untuk menjadi tidak sempurna, untuk menjadi tidak selesai, untuk menjadi konflik yang tidak memerlukan penyelesaian.
Dan Bara—
Bara yang tidak bisa memainkan musik, yang tidak bisa membaca partitur, yang hanya bisa mendengar dengan telinga yang sudah mati—
Bara menjadi nada itu.
Bukan secara harfiah. Bukan secara fisik. Ia menjadi nada itu dalam cara yang hanya bisa dimengerti oleh musik: ia menjadi sesuatu yang bergetar, yang beresonansi, yang ada dalam frekuensi yang tidak bisa ditangkap oleh alat ukur, tetapi bisa dirasakan oleh tulang, oleh hati, oleh yang tidak punya nama.
Orkestra memainkan konsernya.
Konser yang tidak punya penonton. Konser yang tidak punya panggung. Konser yang hanya ada di dalam telinga yang sudah mati, di dalam tulang yang belum belajar, di dalam ruang yang ditinggalkan oleh seseorang yang pernah mendengar sebelum ia pergi.
Dan ketika konser selesai—
Ketika nada terakhir berhenti bergetar, ketika sunyi kembali menempati tempatnya, ketika debu-debu di kamar berhenti menari—
Bara membuka mata.
---
Ia masih di kamar ayahnya.
Rebab masih tergantung di dinding. Debu masih menari di senter cahaya. Semuanya sama. Akan tetapi, semuanya berbeda.
Partitur di tangannya—partitur yang kecil, yang terlipat tujuh kali, yang terbuat dari sesuatu seperti kulit telur yang sudah kering—partitur itu kini berubah. Bukan berubah bentuk. Bukan berubah ukuran. Ia berubah dalam isi.
Di halaman pertama, entri yang tadinya hanya satu not kini bertambah:
𝄞 — nada yang tidak pernah ditabuh, tetapi terus berdentum di tulang-tulang yang tidak punya nama. → Lihat juga: Bara, yang akhirnya menabuhnya.
Di halaman kedua:
𝄢 — bas dari sesuatu yang terlalu dalam untuk disadari. → Telah disadari pada malam ketujuh, oleh telinga yang sudah mati.
Dan di halaman terakhir—halaman yang tadinya kosong, yang tadinya tidak ada, yang kini ada—ada entri baru:
Bara (n.): Nada yang ditahan, yang akhirnya dilepaskan. Yang tidak selesai, dan karena itu abadi. Lihat juga: anak, yang menjadi ayahnya sendiri; musik, yang menjadi sunyi; sunyi, yang menjadi musik.
Bara menatap entri itu. Entri yang ditulis oleh siapa? Oleh partitur? Oleh ayahnya? Oleh orkestra yang kini telah berhenti bermain, telah kembali ke tidurnya, telah menunggu untuk dipanggil lagi?
Ia tidak tahu. Ia tidak perlu tahu.
Yang ia tahu adalah: konfliknya tidak terselesaikan. Nada yang ditahan tidak selesai diputar. Ia hanya berubah—berubah dari sesuatu yang ditahan menjadi sesuatu yang mengalir, dari sesuatu yang ditunggu menjadi sesuatu yang menunggu, dari sesuatu yang ayahnya menjadi sesuatu yang ia.
Dan itu—itu adalah penyelesaian yang bukan penyelesaian. Itu adalah jawaban yang tetap pertanyaan. Itu adalah musik.
Bara berdiri. Ia berjalan ke rebab yang tergantung di dinding. Ia mengangkatnya. Rebab itu ringan—terlalu ringan, seperti terbuat dari sesuatu yang sudah tidak ada, seperti terbuat dari kenangan yang bisa dipegang tetapi tidak bisa ditimbang.
Ia memegang bow. Bow yang masih memiliki jejak resin ayahnya. Jejak yang kini, ia sadari, adalah jejaknya sendiri juga—jejak dari tangan yang pernah memegang, yang pernah menarik, yang pernah menahan.
Ia menempatkan bow di atas senar.
Bukan untuk memainkan. Bukan untuk membuat musik. Hanya untuk menyentuh—menyentuh sesuatu yang pernah disentuh oleh ayahnya, menyentuh sesuatu yang menghubungkan mereka, menyentuh yang tidak bisa diucapkan.
Dan ketika bow menyentuh senar—
Bunyi yang keluar bukan bunyi rebab. Bukan nada yang bisa dikenali. Bunyi yang keluar adalah suara partitur—suara yang lebih tua dari kata, suara yang lebih dalam dari makna, suara yang adalah konflik itu sendiri dalam bentuk getaran.
"Kau belum selesai," kata suara itu.
"Aku tahu," jawab Bara.
"Dan kau tidak akan pernah selesai."
"Aku tahu."
"Dan itu—" suara itu bergetar, pecah, menjadi sesuatu yang hampir seperti tawa, hampir seperti tangis, "—itu adalah hal terbaik yang bisa kau miliki."
Bara meletakkan kembali rebab. Ia meletakkan bow. Ia tidak memainkannya—tidak malam ini, mungkin tidak malam berikutnya, mungkin tidak pernah. Akan tetapi, ia menyentuhnya. Dan sentuhan itu, ia tahu, adalah awal dari sesuatu yang tidak akan pernah berakhir.
Ia berjalan ke jendela. Jendela yang retak. Jendela yang membiarkan cahaya masuk dalam bentuk yang salah, dalam sudut yang aneh, dalam cara yang tidak bisa dijelaskan.
Di luar, ada kampungnya. Kampung yang sama, yang tidak pernah berubah, yang tidak peduli dengan nada-nada yang ditahan atau dilepaskan. Ada masjid di ujung jalan. Ada azan yang akan segera berkumandang—azan yang, ia tahu kini, bukan hanya suara. Azan adalah panggilan. Panggilan untuk kembali, untuk mengingat, untuk menjadi sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—sangat lama hingga ia lupa kapan terakhir kalinya—Bara ingin mendengar azan itu.
Bukan dengan telinganya yang masih hidup. Telinganya yang masih hidup sudah cukup mendengar. Ia ingin mendengar dengan telinganya yang sudah mati—dengan tulangnya, dengan hatinya, dengan yang tidak punya nama.
Azan mulai berkumandang.
Dan Bara mendengarnya.
Bukan kata-katanya. Bukan maknanya. Ia mendengar getaran di balik kata-kata, nada di balik makna, kehadiran di balik suara. Ia mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar oleh telinga yang masih hidup—sesuatu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang pernah kehilangan, yang pernah merasa tidak selesai, yang pernah menjadi nada yang ditahan.
Ia menutup mata.
Dan dalam kegelapan, ia melihat ayahnya. Bukan ayahnya yang terbaring di rumah sakit. Bukan ayahnya yang memainkan rebab di teras. Ia melihat ayahnya yang menjadi musik—yang menjadi bagian dari orkestra yang tak terlihat, yang menjadi nada yang tak terdengar, yang menjadi cinta dalam bentuk yang tidak perlu diucapkan.
Ayahnya tersenyum.
Senyum yang tidak punya bentuk. Senyum yang hanya bisa dirasakan sebagai getaran. Senyum yang mengatakan: Kau tidak perlu menyelesaikan aku. Kau hanya perlu melanjutkanku. Dalam caramu sendiri. Dalam waktumu sendiri. Dalam nada yang kau tahan sendiri.
Bara tersenyum balik.
Senyum yang baru saja ia pelajari. Senyum yang tidak perlu dijelaskan. Senyum yang adalah jawaban dari pertanyaan yang tidak sempat selesai.
"Allahu akbar."
Azan berlanjut. Dunia berlanjut. Kehidupan berlanjut.
Dan Bara—yang tadinya hanya bisa mendengar keheningan, yang tadinya hanya bisa merasa kehilangan, yang tadinya hanya bisa menahan—
Bara melepaskan.
Bukan melepaskan ayahnya. Bukan melepaskan rindunya. Ia melepaskan kebutuhan untuk menyelesaikan. Kebutuhan untuk memahami. Kebutuhan untuk mengartikan segalanya.
Ia melepaskan, dan dalam pelepasan itu, ia menemukan sesuatu yang lebih besar: ia tidak perlu mengerti untuk bisa mencintai. Ia tidak perlu selesai untuk bisa menjadi. Ia tidak perlu mendengar untuk bisa mendengar.
---
Pagi itu, Bara bangun di lantai kamar ayahnya.
Rebab masih di tangannya. Bow masih di dekatnya. Partitur masih terlipat tujuh kali di saku bajunya. Semuanya sama. Akan tetapi, semuanya berbeda.
Ia berdiri. Ia berjalan ke cermin. Cermin yang tadinya memantulkan wajahnya—wajah yang lelah, wajah yang kehilangan, wajah yang tidak tahu cara melanjutkan. Cermin itu kini memantulkan wajah yang berbeda. Bukan wajah yang bahagia. Bukan wajah yang sembuh. Wajah yang sedang menjadi—sedang menjadi sesuatu yang tidak tahu apa bentuk akhirnya, yang tidak peduli apa bentuk akhirnya, yang hanya tahu bahwa menjadi adalah cukup.
Di balik bahunya, dalam pantulan cermin, ada sesuatu.
Bayangan. Bukan bayangannya sendiri. Bukan bayangan ayahnya. Bayangan yang adalah keduanya—yang adalah nada yang ditahan yang kini telah dilepaskan, yang adalah konflik yang kini telah menjadi musik, yang adalah yang tidak selesai dan karena itu abadi.
Bayangan itu mengangguk.
Bukan pada Bara. Bukan pada siapa pun. Bayangan itu mengangguk pada dirinya sendiri—pada keberhasilan untuk terus ada, untuk terus bergetar, untuk terus menjadi nada meski tidak ada yang mendengar.
Bara keluar dari kamar.
Di dapur, ada ibunya. Ibu yang tidak bisa mengucapkan "meja" tanpa gerakan tangan yang salah. Ibu yang tidak bisa mengucapkan "cinta" tanpa terhenti di tengah jalan. Ibu yang, ia sadari kini, juga punya orkestra sendiri di dalamnya—orkestra yang berbeda darinya, orkestra yang dimainkan dalam bahasa yang berbeda, tetapi orkestra yang sama dalam rasa kehilangannya.
"Morning," kata ibunya.
Bukan "selamat pagi". Bukan "pagi". Hanya "morning"—kata yang tersisa, kata yang masih bisa diucapkan, kata yang mungkin tidak tepat, tetapi cukup.
"Morning, Bu," jawab Bara.
Dan ia duduk di samping ibunya. Bukan untuk berbicara. Bukan untuk menjelaskan apa yang terjadi semalam—penjelasan adalah sesuatu yang tidak lagi ia butuhkan, sesuatu yang tidak lagi ia percayai. Ia duduk untuk berada. Untuk menjadi. Untuk mendengar orkestra ibunya dengan telinganya yang sudah mati.
Ia mendengarnya.
Bukan kata-katanya. Bukan suaranya. Ia mendengar nada di balik kata-kata yang salah, ritme di balik gerakan tangan yang tidak tepat, musik di balik keheningan yang selama ini ia pikir adalah kekosongan.
Ia mendengar ibunya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—sangat lama hingga ia lupa kapan terakhir kalinya—Bara merasa tidak sendirian.
Bukan karena ada orang di sebelahnya. Bukan karena ada suara di sekitarnya. Melainkan karena ia tahu, kini ia tahu, bahwa setiap orang punya orkestra sendiri. Setiap orang punya nada yang ditahan. Setiap orang punya konflik yang tidak terselesaikan—dan konflik itu, jika kau biarkan, jika kau masuki, jika kau jadikan musik, bukan lagi konflik.
Ia adalah kehidupan.
Ia adalah cinta.
Ia adalah yang tidak perlu diucapkan untuk menjadi nyata.
Bara mengambil tangan ibunya. Tangan yang dingin, yang keriput, yang tidak lagi bisa memegang sendok dengan benar. Tangan yang, ia sadari kini, adalah tangan yang sama dengan tangannya—tangan yang menahan, tangan yang melepaskan, tangan yang menjadi.
Ia memegang tangan itu.
Dan di dalam keheningan dapur, di antara suara panci yang mendidih dan suara burung di luar jendela, di antara "morning" yang tidak tepat dan senyum yang tidak sempurna—
Orkestra bermain.
Orkestra yang tidak menggunakan alat musik. Orkestra yang menggunakan pegangan tangan sebagai biola, keheningan bersama sebagai cello, kehadiran sebagai piano yang tidak perlu distem.
Orkestra yang dipimpin oleh konduktor yang tidak punya wajah.
Orkestra yang penontonnya hanya mereka berdua.
Orkestra yang tidak akan pernah selesai.
Karena konfliknya tidak terselesaikan. Nada yang ditahan tidak dilepaskan sepenuhnya. Ia hanya berubah—berubah dari sesuatu yang ditahan menjadi sesuatu yang mengalir, dari sesuatu yang ditunggu menjadi sesuatu yang dinanti, dari sesuatu yang ayahnya menjadi sesuatu yang mereka.
Bara menutup mata.
Dan dalam kegelapan, ia melihat partitur itu. Partitur yang kini memiliki halaman kedelapan. Halaman yang ditulis oleh siapa? Oleh ayahnya? Oleh ibunya? Oleh orkestra yang terus bermain?
Tidak penting.
Yang penting adalah halaman itu ada. Yang penting adalah musik terus berlanjut. Yang penting adalah ia terus berlanjut—tidak selesai, tidak sempurna, tidak terdefinisi.
Namun, ada.
Dalam cara yang hanya bisa dimengerti oleh telinga yang sudah mati.
Dalam nada yang hanya bisa didengar oleh tulang yang belum belajar.
Dalam cinta yang tidak perlu diucapkan untuk menjadi nyata.
---
(Atau belum. Karena orkestra bagi telinga yang sudah mati tidak pernah benar-benar tamat. Mereka hanya menunggu—menunggu seseorang untuk menemukan partitur di dalam telinganya sendiri, untuk membuka lipatan-lipatan yang tersembunyi, untuk mendengar nada yang ditahan, dan untuk akhirnya mengerti bahwa musik bukan tentang berakhir. Musik adalah tentang berlanjut. Tentang menjadi. Tentang ada dalam frekuensi yang tidak bisa ditangkap, dalam ritme yang tidak bisa diikuti, dalam konflik yang tidak bisa terselesaikan—dan karena itu, abadi.)
Komentar
Posting Komentar