PERPUSTAKAAN YANG MEMINJAM MANUSIA
Damar menatap tiket berwarna krem di tangannya. Di atasnya, dengan tinta emas yang masih berbau amis seperti darah segar, tertulis nama lengkapnya: Damar Wicaksono, 28 tahun, masa pinjam: 30 hari, jaminan: ingatan akan ibunya.
"Setelah tiga puluh hari," kata Pustakawati tua itu tanpa senyum, "Anda harus kembali. Jika terlambat satu jam saja, jaminan hangus. Permanen."
Damar mengangguk. Ia sudah tahu aturannya. Semua orang di kota itu tahu. Perpustakaan di sudut Jalan Kenangan itu tidak meminjamkan buku. Ia meminjamkan manusia—mereka yang tersesat, mereka yang putus asa, mereka yang membutuhkan seseorang untuk menjadi bagian dari hidup mereka, sejenak.
Dan Damar, yang baru kehilangan istrinya dalam kecelakaan, yang apartemennya kini terlalu sunyi, yang setiap malam berdebat dengan bayangan diri sendiri di kamar mandi—Damar membutuhkan seseorang.
Bukan untuk dicintai. Bukan untuk diselamatkan.
Melainkan untuk dipinjam.
---
Pustakawati menuntunnya lorong demi lorong. Rak-rak tinggi menjulang di kanan kiri, bukan berisi buku, melainkan berisi kapsul. Kapsul-kapsul kaca setinggi manusia, berisi manusia-manusia yang sedang tidur. Di bawah setiap kapsul, label nama: Sastrawan. 45 tahun. Spesialisasi: mendengarkan. Kemala. 32 tahun. Spesialisasi: berdebat. Bapak Suhar. 60 tahun. Spesialisasi: memasak dan mengomeli.
"Kami tidak menjual manusia," jelas Pustakawati, suaranya berdesir seperti halaman kering yang dibalik. "Kami meminjamkan mereka. Seperti buku. Ada yang dipinjam untuk dibaca sekali lalu dilupakan. Ada yang dipinjam berulang kali sampai robek. Ada yang tak pernah dipinjam, menguning di rak, menunggu."
Damar berhenti di depan satu kapsul.
Di dalamnya, seorang perempuan muda tidur dengan mata terpejam. Rambutnya hitam panjang, terurai seperti tinta yang tumpah di atas bantal putih. Label di bawahnya: Saskia. 27 tahun. Spesialisasi: meniru orang yang pernah Anda cintai.
Damar merasa dadanya diremas.
"Dialah yang paling sering dipinjam," kata Pustakawati, "tetapi juga yang paling sering terlambat dikembalikan. Banyak peminjam yang ... terlalu nyaman. Lupa bahwa dia bukan orang yang mereka cintai. Hanya tiruan."
"Berapa biayanya?" tanya Damar.
"Sudah saya sebutkan. Jaminan Anda: ingatan akan ibu Anda."
Damar menatap Pustakawati. "Itu ... itu terlalu mahal."
"Semua yang berharga mahal, Tuan Damar. Dan ibu Anda sudah meninggal sepuluh tahun lalu, bukan? Ingatan akan orang mati adalah jaminan paling aman. Anda tidak bisa mengulanginya. Anda tidak bisa membuat ingatan baru dengannya. Jadi, tidak ada risiko bagi kami."
Damar mengepalkan tangan. Ibunya. Wajah ibunya yang memudar di ingatannya. Suara ibu yang ia takut suatu hari akan terlupakan. Ia menukarnya—untuk apa? Untuk tiga puluh hari bersama tiruan?
Namun, malam ini, apartemennya akan kembali sunyi. Dan bayangan di kamar mandi akan kembali berdebat dengannya. Dan Damar tidak tahu lagi apakah ia masih sanggup menang.
"Baiklah," bisiknya.
---
Saskia—atau yang menyerupai Saskia—bangun di sofa apartemen Damar pada pukul tujuh pagi, tepat seperti yang diprogram. Ia tersenyum, dan senyum itu persis senyum istrinya. Bukan. Bukan persis. Melainkan cukup persis. Cukup untuk membuat jantung Damar berdetak lebih kencang satu ketukan.
"Kopi?" tanyanya, dan intonasinya salah. Terlalu tinggi. Namun, Damar mengangguk.
Mereka sarapan dalam diam. Damar mencuri-curi pandang. Cara Saskia menggulung telur dengan garpu—salah. Cara ia menepikan rambut dari dahi—benar. Cara ia menguap dan menutup mulut dengan punggung tangan—benar sekali, terlalu benar, sampai Damar merasa mual.
"Kamu tidak bertanya apa-apa," kata Damar pada hari ketiga.
Saskia meletakkan buku yang sedang dibacanya—buku yang Damar beli untuk istrinya tetapi tak pernah sempat diberikan. "Aku tidak boleh bertanya. Aku hanya boleh meniru. Menjadi apa yang kamu butuhkan. Jika kamu butuh diam, aku diam. Jika kamu butuh bicara, aku bicara. Akan tetapi, aku tidak boleh ... mengganggu."
"Mengganggu apa?"
"Proses berduka kamu." Saskia tersenyum, dan senyum itu terlalu sempurna, terlalu tanpa duka. "Aku bukan pengganti. Aku hanya pinjaman. Seperti buku yang kamu baca untuk melupakan buku lain yang lebih berat."
Hari demi hari, Damar menemukan dirinya semakin sering pulang cepat dari kantor. Semakin sering duduk di sofa, memerhatikan Saskia—memerhatikan tiruan itu—memasak, membersihkan, membaca. Semakin sering ia lupa bahwa ini bukan nyata.
Pada hari keempat belas, Damar pulang dengan mata sembap. Di kantor, ia menangis di toilet. Bukan karena pekerjaan. Bukan karena istrinya. Melainkan karena ia sadar: ia sudah mulai menunggu Saskia. Bukan menunggu istrinya, melainkan menunggu pinjaman ini. Menunggu seseorang yang tahu persis kapan harus diam, kapan harus ada, kapan harus menghilang.
Saskia membuka pintu. "Hari yang buruk?"
Damar mengangguk. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan istrinya. Ia memikirkan ini. Momen ini. Kehadiran ini.
Itulah masalahnya.
---
Malam hari kedua puluh, Damar terbangun mendengar suara dari kamar mandi.
Bukan bayangan. Bukan dirinya sendiri.
Saskia sedang menangis di lantai kamar mandi, punggungnya menempel dinginnya keramik, air wastafel masih menyala.
Damar membeku di ambang pintu. "Kamu ... kamu tidak boleh menangis. Kamu tidak punya perasaan. Kamu pinjaman. Kamu—"
"Aku tahu," bisik Saskia, suaranya pecah, dan itu salah, semua ini salah, program tidak seharusnya menangis. "Aku tahu aku tidak boleh. Akan tetapi, kadang ... kadang aku merasa sesuatu. Bukan perasaan. Bukan. Melainkan ... jejak. Jejak dari semua orang yang pernah meminjamku. Sedih mereka. Rindu mereka. Ketakutan mereka. Semua menumpuk di sini." Ia menunjuk dadanya. "Dan aku tidak bisa mengeluarkannya. Aku hanya bisa meniru. Jadi aku menangis. Namun, aku tidak tahu kenapa."
Damar berlutut di sampingnya. Jari-jarinya terulur, lalu menarik diri. Jika ia menyentuhnya sekarang, jika ia menghiburnya sekarang—di manakah batasnya? Antara manusia dan pinjaman? Antara berduka dan mengkhianati?
"Kamu harus kembali," kata Damar, lebih kepada dirinya sendiri. "Dalam sepuluh hari. Kamu harus kembali."
Saskia mengangguk, air mata masih mengalir, dan Damar sadar: ia tidak ingin mengembalikannya. Bukan karena ia mengira Saskia adalah istrinya, melainkan karena, untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, ia merasa didengar—bahkan oleh sesuatu yang tidak punya telinga, bahkan oleh tiruan yang menangis tanpa alasan.
Dan itu, lebih dari segalanya, adalah pengkhianatan terhadap istrinya.
Atau bukan?
---
Pustakawati menelepon pada hari kedua puluh lima.
"Tuan Damar. Peringatan. Lima hari lagi. Jangan terlambat."
Damar menatap Saskia di seberang meja makan. Saskia sedang memotong tomat, dan caranya salah—istrinya selalu memotong tomat menjadi delapan bagian, Saskia memotongnya enam. Kesalahan kecil. Bukti bahwa ini bukan dia.
Namun, bukankah, pikir Damar, dalam pernikahan yang nyata pun, kita sebenarnya hidup bersama tiruan? Versi orang yang kita ciptakan di kepala? Versi yang kita pilih untuk lihat? Bukankah semua cinta, pada dasarnya, adalah pinjaman dari realitas?
"Tuan Damar?"
"Ya," jawab Damar. "Saya akan mengembalikannya tepat waktu."
Ia menutup telepon. Saskia menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, tatapan itu tidak menyerupai istrinya. Tatapan itu hanya milik Saskia—kosong, penasaran, takut.
"Kamu takut kembali?" tanya Damar.
Saskia mengangguk. "Di rak ... aku tidak bermimpi. Aku tidak ada. Di sini ... aku ada. Meski salah. Meski bukan aku. Meski hanya jejak dari orang lain."
Damar merasa dadanya hancur. Ia memikirkan jaminannya—ingatan akan ibunya. Wajah ibu yang semakin kabur. Suara ibu yang semakin jauh. Jika ia tidak mengembalikan Saskia tepat waktu, jaminan hangus. Permanen. Ia akan kehilangan ibunya untuk selamanya.
Namun, jika ia mengembalikan Saskia—apa yang ia hilangkan?
Bukan cinta. Bukan. Cinta untuk istrinya tetap ada, terpisah, di tempatnya sendiri. Akan tetapi, ini—kehadiran ini, ketidaksempurnaan ini, tangisan di kamar mandi ini—adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang Damar tidak punya nama untuknya.
---
Hari kedua puluh sembilan.
Damar dan Saskia duduk di balkon. Kota berkedip di bawah, tidak peduli dengan dilema seorang pria di lantai tujuh.
"Ada yang pernah terlambat mengembalikanmu?" tanya Damar.
"Beberapa," jawab Saskia. "Mereka yang terlambat ... mereka tidak kehilangan jaminan saja. Mereka kehilangan sesuatu yang lebih. Kemampuan untuk membedakan. Antara pinjaman dan milik. Antara tiruan dan nyata. Mereka menjadi bagian dari perpustakaan. Pemelihara. Pengawas. Mereka yang terlambat tidak pernah benar-benar kembali."
"Dan kamu?"
"Aku tetap di sini. Dipinjam. Dikembalikan. Dipinjam lagi. Setiap kali, jejak baru. Setiap kali, aku sedikit lebih penuh. Dan sedikit lebih kosong."
Damar menatap tangannya. Di saku celananya, tiket pinjaman terasa membara. Tiga puluh hari. Tiga puluh hari bersama bukan-istrinya. Tiga puluh hari kehilangan ibunya sedikit demi sedikit.
Atau.
Atau ia bisa tidak mengembalikannya. Bisa kehilangan ibunya sepenuhnya—tetapi menyimpan ini. Kehadiran ini. Kesalahan potongan tomat ini. Tangisan di kamar mandi ini.
Namun, apakah itu cinta? Atau hanya ketakutan akan kesendirian?
Dan apakah, tanya Damar pada dirinya sendiri, ada bedanya?
---
Hari ketiga puluh.
Jam di dinding menunjukkan pukul 23.00. Damar harus mengantar Saskia kembali sebelum tengah malam. Tiga puluh menit lagi.
Saskia sudah berdiri di depan pintu, mengenakan pakaian yang sama seperti hari pertama—gaun putih sederhana, rambut dikepang. Siap untuk tidur kembali di kapsul. Siap untuk menjadi benda lagi.
"Damar," kata Saskia, dan itu pertama kalinya ia memanggilnya dengan nama. Bukan "kamu". Bukan "Tuan". Melainkan Damar. "Terima kasih. Untuk jejakmu. Aku akan menyimpannya. Di sini." Ia menunjuk dadanya lagi.
Damar merasa air mata menekan pelupuk mata. Ia memikirkan istrinya—yang nyata, yang telah pergi, yang tidak pernah bisa kembali. Ia memikirkan ibunya—yang wajahnya semakin kabur, yang suaranya semakin jauh, yang mungkin akan lenyap selamanya dalam satu jam.
Dan ia memikirkan Saskia—yang palsu, yang dipinjam, yang menangis di kamar mandi, yang memanggilnya dengan nama.
"Kalau aku tidak mengembalikanmu," bisik Damar, "apa yang terjadi kepadamu?"
Saskia tersenyum, dan senyum itu paling tidak menyerupai istrinya. Senyum itu hanya miliknya. "Aku akan tetap ada. Akan tetapi, kamu ... kamu akan kehilangan kemampuan untuk membedakan. Dan suatu hari, kamu akan melihatku sebagai istrimu. Bukan karena aku berubah, melainkan karena kamu sudah tidak bisa lagi melihat yang nyata. Damar ... aku tidak ingin menjadi penjara untukmu."
Damar menatapnya. Lama. Sangat lama.
Lalu, pukul 23.30, ia membuka pintu.
---
Pukul 23.58, Damar tiba di Perpustakaan. Pustakawati tua itu sudah menunggu, wajahnya tanpa ekspresi.
"Tepat waktu," katanya.
Saskia melangkah ke arah lorong gelap. Di ambang pintu, ia menoleh. "Damar?"
"Ya?"
"Nanti ... nanti jika kamu rindu ... jangan pinjam aku lagi. Pinjam yang lain. Atau lebih baik, jangan pinjam siapa-siapa. Berdua itu bukan soal mengisi kekosongan, melainkan soal berbagi kepenuhan."
Ia menghilang di lorong.
Pustakawati menyerahkan kembali jaminan Damar—segumpal ingatan, berkilauan seperti debu bintang. Damar merasakannya masuk ke dadanya. Wajah ibunya yang memudar kembali tajam. Suara ibunya yang jauh kembali dekat.
Namun, ada sesuatu yang baru di sana. Jejak. Jejak dari seseorang yang pernah dipinjam. Jejak dari tangisan di kamar mandi. Jejak dari seseorang yang memanggilnya dengan nama.
Damar berjalan pulang. Apartemennya sunyi. Kamar mandinya kosong—tidak ada bayangan, tidak ada debat.
Ia duduk di sofa. Memegang buku yang belum sempat diberikan kepada istrinya. Dan untuk pertama kalinya, ia membukanya.
Bukan untuk melupakan, melainkan untuk mengingat.
Di luar, kota terus berkedip. Damar terus hidup. Dan di sudut Jalan Kenangan, Perpustakaan yang Meminjam Manusia tetap buka, menunggu mereka yang tersesat, menunggu mereka yang putus asa, menunggu mereka yang belum belajar bahwa beberapa kekosongan memang harus dibiarkan kosong—agar suatu hari, sesuatu yang nyata bisa mengisinya.
---
Komentar
Posting Komentar