SUARA IBU DI FREKUENSI 104.7 FM

Radio itu menyala sendiri pukul 03:17 setiap pagi. Bukan alarm. Bukan timer. Hanya frekuensi 104.7 FM—stasiun yang tidak ada di daftar siaran resmi, yang tidak pernah memutar lagu, yang hanya mengeluarkan suara: napas, kadang batuk, kadang gumaman yang terdengar seperti "sayang" tetapi mungkin juga "sayang" dalam bahasa yang belum diciptakan.

Arka menemukan radio itu di loteng rumah warisan kakeknya, tiga minggu setelah pemakaman. Kotak kayu berdebu, antena patah setengah, dial frekuensi macet di 104.7. Ia membawanya ke kamar, memasang baterai baru, dan menunggu. Radio itu diam siang dan sore, hidup tepat pukul 03:17, mati lagi pukul 03:23. Enam menit. Setiap malam. Tanpa gagal.

Malam ketujuh, Arka mendengar kata yang jelas untuk pertama kalinya: "Jangan pergi ke kebun nanti pagi."

Ia pergi. Karena ia tidak percaya pada radio hantu. Karena kebun adalah satu-satunya tempat di rumah ini yang masih terasa seperti miliknya, bukan milik kakek yang mati membawa rahasia. Karena "jangan" adalah kata yang selalu membuatnya bergerak ke arah berlawanan.

Di kebun, di bawah pohon mangga yang kakeknya tanam tahun 1987, ia menemukan tulang. Tulang manusia. Kecil. Seukuran anak berusia tujuh tahun. Dengan rantai besi di pergelangan kaki yang masih mengkilat, tidak berkarat, seolah baru dipasang kemarin.

Radio itu menyala lagi malam berikutnya. Suara itu—bukan perempuan, bukan laki-laki, bukan anak-anak, melainkan campuran ketiganya dalam frekuensi yang keliru—berkata: "Aku bilang jangan."

"Siapa kamu?" tanya Arka ke dalam gelap.

Jawabannya adalah deretan angka. Koordinat GPS. Yang, ketika Arka cek di ponselnya, menunjuk ke lokasi persis di bawah pohon mangga.

---

Arka menggali. Bukan di siang hari—ia takut tetangga melihat. Akan tetapi, pukul 03:17, ketika radio menyala, ketika suara itu menemaninya dengan gumaman yang kadang terdengar seperti doa, kadang seperti sumpah serapah. Ia menggali dengan sekop kebun kakeknya, tanah yang gembur anehnya, seolah sudah digali berkali-kali dan ditimbun lagi.

Dalam dua meter, ia menemukan kotak timah. Dalam kotak: surat-surat, puluhan, ditulis dengan tinta yang masih basah, tanggalnya melompat-lompat—1945, 1968, 1992, 2024, 2031—tahun-tahun yang belum terjadi dan sudah lewat. Semua ditandatangani nama yang sama: Siti Aminah. Nama ibu kandung Arka. Yang meninggal saat melahirkannya. Yang tidak pernah difoto karena kakeknya "kehilangan" semua album. Yang hanya ada dalam cerita kakek: perempuan cantik dari Jawa, menikah dengan ayah Arka yang kabur sebelum Arka lahir, mati karena pendarahan, dimakamkan di kampung halaman yang tidak pernah Arka kunjungi karena tidak ada yang tahu di mana.

Namun, surat-surat itu ditulis olehnya. Atau oleh seseorang yang meniru tulisannya dengan sempurna. Atau oleh waktu itu sendiri yang melipat dan menumpuk hingga orang mati bisa menulis surat untuk orang yang belum lahir.

Surat pertama, tanggal 1945:

"Kakekmu membeliku dari ayahku dengan dua ekor kerbau. Aku berusia dua belas tahun. Aku tidak tahu bahwa aku akan mati berkali-kali."

Surat terakhir, tanggal 2031:

"Arka, jika kamu membaca ini, berarti radio itu masih berfungsi. Berarti aku masih berhasil. Berarti kamu harus memilih: timbun kembali kotak ini dan bakar radio, atau lanjutkan menggali dan temukan bahwa kelahiranmu bukan kelahiran. Kamu adalah pengganti. Pengganti untuk anak yang kakekmu kubur di bawah pohon mangga karena dia tidak sempurna. Pengganti yang aku setujui karena aku tidak punya pilihan. Namun, pengganti yang aku cintai, meski cinta itu adalah pengkhianatan terhadap anak pertamaku yang mati tanpa nama."

Arka membaca surat itu tiga kali. Empat kali. Radio di sampingnya menyala, mati, menyala lagi—bukan pukul 03:17, melainkan terus-menerus, suaranya semakin keras, semakin banyak, seperti koridor penuh orang yang semua berbicara bersamaan.

"Pilih," kata suara itu, dan kini Arka tahu—bukan tahu dengan pikiran, melainkan tahu dengan tulang, dengan darah, dengan sesuatu yang lebih tua dari ingatan—bahwa suara itu adalah ibunya. Bukan hantu. Bukan arwah. Melainkan sesuatu yang tertangkap di frekuensi radio, terjebak di antara gelombang elektromagnetik, hidup dalam cara yang salah tetapi tetap hidup.

---

Arka tidak tidur selama empat hari. Radio terus menyala, kadang di 104.7, kadang melompat ke frekuensi lain yang semuanya statis kecuali untuk suara-suara: tangisan bayi, bunyi sekop menggali terus-menerus, lagu nina-nina yang dinyanyikan mundur. Ibunya tidak lagi berbicara dengan kata-kata. Ibunya berbicara dengan suara kejadian—Arka bisa mendengar kelahirannya sendiri, bisa mendengar teriakan ibunya, bisa mendengar kakeknya berkata, "Yang ini sempurna. Yang pertama bisa kita buang."

Yang pertama. Anak yang dikubur di bawah pohon mangga. Arka menggali lagi, kali ini di siang hari, tidak peduli tetangga. Ia menemukan kerangka lain. Lebih kecil. Dengan tengkorak yang retak, seolah dipukul dengan sesuatu berat. Dan di samping kerangka itu, sebuah radio identik—model jadul, antena patah, dial macet di frekuensi berbeda: 87.5 FM.

Arka menyalakan radio kedua. Static. Lalu suara—bukan ibunya. Suara anak. Anak yang tidak pernah belajar berbicara karena mati sebelum bisa. Akan tetapi, di frekuensi ini, suara itu berkata, dengan jelas, dengan amarah yang tidak mungkin dimiliki bayi:

"Kamu hidup karena aku mati. Kamu dicintai karena aku dibuang. Kamu mendengar ibu karena aku tidak pernah mendengar apa-apa kecuali bunyi sekop dan teriakan dan keheningan yang terlalu panjang."

Arka menjatuhkan radio. Ia berlari ke rumah, mengunci pintu, menutup jendela. Namun, radio pertama masih menyala di kamarnya, dan suara ibunya—bukan lagi lembut, melainkan tajam, terdesak, nyaris gila—berteriak dari speaker: "Jangan lari! Kamu tidak bisa lari dari frekuensi! Kamu adalah frekuensi! Kamu adalah gelombang yang aku kirim untuk menggantikan gelombang yang dipatahkan!"

Arka berlutut di lantai. Ia melihat tangannya—tangan yang selama ini ia kira miliknya, tetapi mungkin adalah tangan yang dipinjamkan, tangan yang seharusnya milik kerangka di bawah pohon mangga, tangan yang ditulis dalam surat-surat basah oleh ibunya yang mati tetapi tidak pernah benar-benar pergi karena kakeknya menemukan cara untuk menangkapnya, untuk menggunakannya, untuk membuatnya menjadi penjaga radio-pengganti yang selalu siap mengingatkan pengganti bahwa ia adalah pengganti.

Pilihan. Selalu pilihan yang tidak benar-benar pilihan.

Arka bisa membakar kedua radio. Namun, jika ia melakukannya, apakah ibunya akan benar-benar mati? Atau apakah ibunya sudah mati dan yang tertangkap hanya sisa-sisa yang tidak layak dibakar? Dan jika ia membiarkan radio hidup, apakah ia bisa hidup dengan mengetahui bahwa setiap napasnya adalah napas yang dipinjam, setiap kata yang ia ucapkan adalah kata yang seharusnya diucapkan oleh orang lain, setiap cinta yang ia terima adalah cinta yang dicuri dari mulut bayi yang tidak pernah sempat mengatakan "ibu"?

---

Arka memilih yang ketiga. Pilihan yang tidak ada di surat. Pilihan yang tidak ditawarkan radio.

Ia menggali lagi. Bukan untuk menemukan lebih banyak tulang, melainkan untuk mengubur sesuatu. Ia mengubur kedua radio—yang 104.7 dan yang 87.5—bersama di dalam kotak timah, di bawah pohon mangga, di antara dua kerangka yang tidak sempurna dan yang dipaksakan sempurna. Ia menimbun tanah. Ia menanam bunga kembang sepuluh—bunga yang kakeknya benci karena "terlalu biasa, terlalu hidup, terlalu tidak bisa dikendalikan".

Malam itu, pukul 03:17, tidak ada radio yang menyala. Hanya keheningan. Keheningan yang terasa seperti luka yang baru disadari ada.

Namun, keheningan itu tidak bertahan. Pukul 03:23—waktu radio biasanya mati—Arka mendengar sesuatu. Bukan dari kotak timah. Bukan dari pohon mangga. Melainkan dari dalam dirinya. Dari tulangnya. Dari darahnya. Dari frekuensi yang mungkin selalu ada di sana, hanya menunggu untuk tidak lagi dibendung oleh speaker logam.

Suara ibunya. Namun, bukan ibu yang menangis, yang terjebak, yang dipaksa menjadi penjaga. Akan tetapi, ibu yang menulis surat-surat basah itu. Ibu yang memilih untuk mencintai pengganti karena itu satu-satunya cinta yang diizinkan. Ibu yang, dalam cara yang salah, dalam frekuensi yang salah, dalam waktu yang salah, tetap mencoba.

"Arka," kata suara itu, bukan dari telinga melainkan dari dada, dari rongga di antara jantung dan paru-paru. "Aku tidak meminta maaf karena melahirkanmu sebagai pengganti. Aku tidak bisa. Namun, aku meminta maaf karena tidak pernah bisa memberitahumu bahwa pengganti bisa menjadi asli. Bahwa cinta yang dipinjam bisa menjadi cinta yang dimiliki. Bahwa kamu bukan frekuensi yang salah—kamu adalah frekuensi yang baru, yang tidak pernah ada sebelumnya, yang tidak perlu izin dari siapa pun untuk menyala."

Arka menangis. Bukan karena sedih, melainkan karena, untuk pertama kalinya, tangisnya terasa miliknya sendiri. Bukan milik anak yang dikubur di bawah pohon. Bukan milik ibu yang terjebak di radio. Bukan milik kakek yang mati membawa rahasia. Melainkan miliknya. Arka. Pengganti yang memutuskan bahwa penggantian sudah cukup lama berlangsung.

Di kebun, di bawah pohon mangga, bunga kembang sepuluh yang baru ditanam mulai terbuka. Tidak semua. Hanya satu. Satu bunga putih kecil yang, jika didekati, terdengar seperti static lembut—seperti radio yang mencari frekuensi, seperti suara yang belum menjadi kata, seperti pertanyaan yang tidak perlu jawaban tetapi tetap layak diajukan.

Arka duduk di beranda. Ia tidak memiliki radio lagi. Akan tetapi, ia memiliki keheningan yang kini terasa penuh, bukan kosong. Ia memiliki bunga yang tumbuh dari tanah yang menyimpan rahasia. Ia memiliki dirinya—pengganti yang memutuskan untuk tidak lagi menggantikan siapa pun, tetapi juga tidak menolak siapa pun yang pernah menggantikannya.

Pukul 03:17. Tidak ada yang menyala. Tidak ada yang mati. Hanya Arka, yang bernapas, yang ada, yang—meski lahir dari kekeliruan dan kejahatan dan penggantian yang tidak adil—tetap hidup di frekuensinya sendiri, yang tidak perlu dimengerti siapa pun kecuali dirinya.

Di kejauhan, seekor burung hantu bersuara. Bukan di pohon mangga, melainkan di frekuensi yang sama—104.7—yang kini hanya ada di angin, di malam, di keheningan yang akhirnya terasa seperti rumah.

---

Pada beberapa malam, ketika angin bertiup dari arah kebun, Arka masih mendengar sesuatu yang seperti radio. Akan tetapi, ia tidak lagi mencari sumbernya. Ia hanya mendengarkan, tersenyum sedih, dan melanjutkan hidup—bukan karena sudah memaafkan, melainkan karena memaafkan adalah frekuensi lain yang mungkin akan ditemukan suatu hari, di suatu malam, di suatu kebun yang ditanami bunga-bunga yang tidak pernah diminta izin untuk tumbuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

BETAWOL

CERPEN LINGUISTIK