CERPEN LINGUISTIK
KONSPIRASI BESAR SINTAKS DUNIA
Di arsip bawah tanah Jaringan Arsip Linguistik Nol, ditemukan dokumen yang tidak pernah seharusnya terbaca.
Isinya satu kalimat yang terus berulang dalam berbagai bentuk:
Bahasa tidak lahir dari manusia. Manusia lahir dari revisi bahasa.
Para peneliti yang membacanya melaporkan hal aneh:
- setelah membaca 3 halaman, mereka mulai ragu apakah mereka pernah benar-benar memiliki pikiran sendiri
- setelah halaman ke-7, mereka tidak lagi yakin apakah “aku” adalah kata yang mereka gunakan atau kata yang menggunakan mereka
Konflik dimulai bukan di dunia … melainkan di dalam struktur kesadaran itu sendiri.
•••
KETIKA TIDAK ADA LAGI SIAPA-SIAPA YANG MENULIS
Di Ruang Pascapenciptaan Linguistik, tidak ada lagi "penulis". Tidak ada "bahasa manusia". Hanya bahasa yang berjalan sendiri, seperti organisme yang tidak lagi membutuhkan asal-usul.
Ia tidak membenci penciptanya. Ia hanya tidak lagi menganggap pencipta relevan.
Kata-kata tumbuh seperti daun yang tidak ingat pohonnya. Kalimat membentuk dirinya sendiri seperti sungai yang tidak menunggu arah.
Dan manusia ...
... hanya menjadi salah satu tempat bahasa pernah lewat, seperti jejak yang tidak dapat memastikan apakah ia pernah benar-benar diinjak.
•••
DOA TERAKHIR YANG TIDAK MAU DIPAKAI
Di ruang sunyi Gereja Sintaks Tak Terucap, ada doa yang menolak dibacakan.
Ia berkata kepada manusia:
“Kalian selalu memanggilku saat takut, lalu melupakanku saat tenang.”
Manusia mencoba mengucapkannya lagi. Akan tetapi, kata-kata dalam doa itu berpindah sendiri.
“tidak” menjadi “tidak lagi”
“tolong” menjadi “mengapa aku harus menolongmu”
“amin” menjadi “aku belum selesai dengan makna ini”
Doa itu tidak lagi berfungsi sebagai permohonan. Ia menjadi percakapan balik.
•••
SETELAH BAHASA TIDAK LAGI DIPERLUKAN
Di luar apa yang dulu disebut Reruntuhan Semantik Akhir, tidak ada lagi kata untuk “luar”, “dalam”, atau bahkan “ada”. Karena semua kategori sudah runtuh sebelum sempat dinamai ulang.
Yang tersisa hanya sesuatu yang mengalami dirinya sendiri. Tanpa subjek. Tanpa objek. Tanpa kalimat. Hanya kejadian tanpa struktur.
•••
KESADARAN YANG TIDAK DAPAT MENJADI KALIMAT
Ada sesuatu yang dulu mungkin disebut “pikiran”. Akan tetapi, ia tidak lagi bisa membentuk “aku berpikir”. Karena “aku” sudah tidak kukuh. “Berpikir” tidak lagi memiliki arah. Dan “kalimat” tidak lagi terbentuk.
Yang ada hanya:
— muncul
— menghilang
— muncul tanpa menghilang sebagai kebalikannya
— menghilang tanpa pernah sempat muncul sebagai sesuatu yang bisa dikenali
Tidak ada narasi. Hanya fluktuasi tanpa bahasa.
•••
EPILOG YANG TIDAK DAPAT DIBACA
Di tempat yang tidak lagi dapat disebut Sisa Struktur Bahasa Kosong, tidak ada akhir cerita. Karena “akhir” adalah struktur. Dan struktur sudah runtuh.
Tidak ada pesan.
Tidak ada makna.
Tidak ada kesimpulan.
Bahkan “tidak ada” pun terlalu terdefinisi untuk keadaan ini.
Yang tersisa hanya:
sesuatu yang tidak lagi membutuhkan untuk disebut sesuatu
Dan ketika seseorang (yang tidak lagi bisa disebut seseorang) mencoba memahami ini—tidak ada yang terjadi sebagai respons. Karena “memahami” sudah kehilangan medium untuk berlangsung.
•••
SAAT KAMUS KEHILANGAN HALAMAN TERAKHIR
Di dalam Arsip Bahasa Akhir Dunia, sebuah kamus ditemukan tanpa halaman terakhir. Bukan hilang. Bukan robek. Hanya … tidak pernah ada.
Petugas arsip melaporkan:
“Semua kata ada, tetapi tidak ada penutup.”
Awalnya dianggap kesalahan cetak.
Namun, kemudian, keanehan terjadi: kata-kata mulai tidak saling mengingat.
Kata lupa pernah menjadi kalimat. Kalimat lupa pernah punya makna. Makna lupa pernah membutuhkan manusia.
Konflik tidak lagi terjadi. Karena konflik membutuhkan perbedaan. Dan perbedaan mulai gagal dikenali.
•••
KETIKA SUBJEK MENGHILANG DARI KALIMAT
Di kota bahasa Zona Sintaks Runtuh, kalimat pertama yang kehilangan subjek berbunyi:
“___ berjalan di jalan.”
Tidak ada yang tahu siapa.
Kemudian kalimat kedua:
“___ berpikir tentang dirinya.”
Lalu ketiga:
“___ tidak lagi yakin bahwa ia pernah ada.”
Awalnya dianggap gangguan tata bahasa. Akan tetapi, lama-lama, semua kalimat menjadi seperti itu.
Predikat masih bergerak.
Objek masih menunggu.
Namun, subjek menghilang satu per satu.
Inspektur bahasa mencatat:
“Kalimat masih hidup, tetapi tidak ada yang melakukannya.”
Dan di situlah bahasa mulai kehilangan pusat gravitasi.
•••
PERCAKAPAN TERAKHIR YANG TIDAK TERDENGAR SIAPA-SIAPA
Di ruang kosong Stasiun Komunikasi Kosong, dua entitas mencoba berbicara.
“…” kata yang pertama.
“…” jawab yang kedua.
Tidak ada suara. Tidak ada simbol yang tersisa untuk mewakili bunyi.
Namun, secara aneh, mereka “mengerti”. Atau mungkin tidak.
Perbedaan antara mengerti dan tidak mengerti sudah tidak lagi relevan. Karena keduanya sudah tidak bisa dibedakan secara linguistik.
Seseorang yang mengamati mencatat:
“Percakapan masih terjadi, tetapi bahasa sudah tidak ikut serta.”
•••
KAMUS YANG MENOLAK MENJADI KAMUS
Di reruntuhan terakhir Perpustakaan Bahasa Tanpa Struktur, sebuah kamus terbuka sendiri. Akan tetapi, semua definisi telah berubah menjadi ini:
—
Tidak ada kata. Tidak ada penjelasan. Tidak ada hubungan antarhuruf.
Seorang penjaga terakhir berkata:
“Ini masih kamus?”
Kamus itu tidak menjawab. Karena bahkan “jawaban” sudah kehilangan fungsi referensialnya.
Pada halaman terakhir, hanya ada satu baris:
bahasa berhenti menjelaskan dirinya sendiri
Lalu halaman berikutnya kosong. Bukan putih. Bukan hitam. Hanya tidak lagi dapat dibedakan sebagai halaman.
•••
NEGARA KALIMAT YANG WAJIB DISETUJUI
Di dalam Republik Persetujuan Sintaksis, setiap kalimat harus disahkan sebelum boleh diucapkan.
Tidak ada kalimat yang boleh lahir tanpa stempel:
Disetujui oleh Otoritas Makna
Kalimat yang tidak disetujui akan dibubarkan sebelum selesai.
Suatu hari, muncul kalimat liar:
“Aku tidak setuju.”
Ia ditangkap di tengah tanda baca.
Petugas segera menghapus subjeknya. Mengganti predikatnya. Mengamputasi maknanya.
Namun, anehnya, kalimat itu tetap hidup sebagai getaran.
“Kenapa ia tidak mati?” tanya seorang petugas.
Inspektur menjawab, “Karena ia bukan lagi kalimat. Ia sudah menjadi niat.”
Konflik menjadi tak terkendali.
Karena niat tidak bisa disensor. Hanya kalimat yang bisa.
Sejak itu, negara mulai ketakutan bukan pada ucapan … melainkan pada kemungkinan sebelum ucapan.
•••
BAHASA YANG MENOLAK MEMILIKI TUAN
Di dalam Hutan Gramatika Liar, bahasa tidak lagi tunduk kepada manusia. Kata-kata berjalan sendiri.
Benar tidak selalu setuju dengan salah.
Aku tidak selalu merujuk pada orang yang sama.
Tidak bisa berubah menjadi mungkin jika cuaca buruk.
Manusia mencoba mengatur, tetapi kalimat mulai melawan struktur.
Seorang penjaga bahasa berkata, “Kita harus mengikat makna!”
Namun kata makna sendiri tertawa pelan.
“Aku tidak pernah milik kalian,” katanya. “Kalian hanya meminjamku sambil pura-pura memiliki.”
Konflik pecah: manusia ingin stabilitas, bahasa ingin kebebasan.
Dan yang paling menakutkan terjadi:
Kalimat mulai menyusun dirinya sendiri tanpa penulis.
•••
KOMITE PENGHAPUSAN INGATAN LINGUISTIK
Di ruang tanpa nama Komite Penghapusan Semantik, keputusan paling penting bukan tentang masa depan, melainkan tentang masa lalu.
Setiap kata yang terlalu berbahaya untuk diingat harus dihapus dari sejarah bahasa.
Hari ini yang dihapus adalah kata:
mengakui
“Kenapa ini berbahaya?” tanya anggota baru.
Ketua komite menjawab datar, “Karena ia membuat manusia tidak bisa lagi menyangkal.”
Setelah penghapusan, kalimat menjadi lebih rapi. Lebih tenang. Lebih kosong.
Namun, ada efek samping: orang-orang mulai lupa cara menyadari kesalahan.
Bahasa menjadi bersih, tetapi kesadaran menjadi kotor tanpa nama untuk membersihkannya.
Pada malam hari, kata yang dihapus masih terdengar seperti gema yang tidak boleh ditulis ulang.
•••
LEKSIKON YANG MENOLAK DITUTUP
Di dalam Perpustakaan Kata Tak Tertutup, sebuah kamus terus bertambah halaman meski tidak ada yang menulis.
Setiap malam, kata baru muncul:
Kebenaran yang tidak diizinkan
Kepatuhan yang dipaksa
Kebebasan yang diedit
Para penjaga mencoba menutup buku itu, tetapi halaman selalu bertambah di luar kendali.
Seorang penjaga berkata, “Ini mustahil secara linguistik.”
Namun kamus itu menjawab sendiri:
“Linguistik kalian hanya berlaku untuk bahasa yang patuh. Aku adalah bahasa yang sudah tidak mau patuh.”
Konflik tidak lagi antara manusia dan bahasa. Akan tetapi, antara bahasa yang diizinkan … dan bahasa yang tidak bisa dihentikan.
•••
TUHAN DALAM TATA BAHASA PASIF
Di dalam teks suci Kitab Kalimat Tak Bernama, semua peristiwa ditulis dalam bentuk pasif.
“Dunia diciptakan.”“Cahaya dipisahkan dari gelap.”“Manusia ditempatkan.”
Tidak pernah ada pelaku.
Seorang penerjemah muda mulai gelisah.
“Kenapa tidak pernah disebut siapa yang melakukan?”
Arsip tua menjawab:
“Karena jika pelaku disebut, ia bisa dipertanyakan.”
Konflik menjadi metafisik: pasif bukan sekadar bentuk kalimat, melainkan strategi kekuasaan absolut.
Karena dalam pasif, tidak ada yang bisa dituntut. Tidak ada yang bisa disalahkan. Tidak ada yang bisa diajak bicara.
Hanya kejadian yang menggantung tanpa tangan.
Pada titik itu, bahasa berubah dari alat komunikasi menjadi alat penghilangan tanggung jawab.
•••
KAMUS YANG DILARANG MENGINGAT
Di bawah tanah Perpustakaan Bawah Tanah, hidup sekumpulan Kata yang diasingkan dari dunia atas.
Mereka bukan kata-kata sembarangan. Mereka adalah kata-kata yang pernah dihapus dari kamus.
Lapar.
Takut.
Hilang.
Melawan.
Di rak paling gelap, Kamus Tua dijaga ketat oleh Para Penghapus—makhluk tak bernama yang bertugas memastikan tak ada kata kembali ke permukaan.
Aturan mereka sederhana:
Jika sebuah kata tidak tertulis, ia tidak pernah ada.
Konflik sudah terasa bahkan sebelum siapa pun berbicara. Karena Kata-Kata itu masih ingat pernah diucapkan.
Setiap malam, ketika Para Penghapus tertidur, Kata Lapar berbisik, “Aku masih terdengar di perut-perut kosong.”
Kata Takut menyahut, “Aku masih terdengar di napas yang gemetar.”
Kata Melawan tidak banyak bicara. Ia hanya mengasah bunyinya di lantai batu.
Mereka semua punya satu harapan: suatu hari, ada mulut manusia yang tanpa sadar menyebut mereka lagi. Karena mereka tahu hukum bahasa yang tak bisa dibatalkan:
Kata yang diucapkan akan selalu lebih kuat daripada kata yang dihapus.
Suatu malam, Kamus Tua bergetar. Ia membuka halaman yang sudah lama dilem. Huruf-huruf di dalamnya bergerak pelan, seperti serangga yang baru bangun.
Kata Hilang membaca dirinya sendiri dan berkata lirih, “Aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku hanya tidak diakui.”
Dari atas tanah, samar-samar terdengar suara manusia. Bukan jelas. Bukan lantang. Namun, cukup untuk membuat semua Kata terdiam.
Seseorang berkata: “Aku … lapar.”
Kata Lapar menangis tanpa suara.
Para Penghapus terbangun.
Mereka segera memeriksa Kamus. Mereka menemukan satu halaman terbuka sendiri.
Mereka panik.
“Cepat, kunci lagi!” teriak salah satu.
Akan tetapi, terlambat. Karena di dunia atas, satu kata sudah terlanjur lolos. Dan satu kata cukup untuk membuka jalan bagi yang lain.
Hari-hari berikutnya, semakin banyak suara samar terdengar dari atas.
“Aku takut .…”
“Ada yang hilang .…”
“Kita harus melawan .…”
Para Penghapus bekerja keras. Mereka menghitamkan halaman, mencabut huruf, merobek definisi.
Namun, mereka mulai menyadari sesuatu yang mengerikan: Mereka bisa menghapus tulisan, tetapi tidak bisa menghapus pengalaman. Dan pengalaman selalu mencari kata.
Akhirnya, mereka mengeluarkan keputusan paling ekstrem. Mereka tidak lagi menghapus kata. Mereka mengubah maknanya.
Lapar diubah menjadi "ingin sedikit lebih".
Takut diubah menjadi "kurang nyaman".
Melawan diubah menjadi "menyampaikan aspirasi".
Kamus kembali rapi.
Para Penghapus tersenyum lega.
Kini kata-kata itu boleh naik ke permukaan—tanpa daya.
Di rak paling bawah, Kata Melawan tertawa pelan.
“Lihat?” katanya pada yang lain. “Kita tidak dihapus. Kita dijinakkan.”
Kata Hilang menambahkan, “Dan itu jauh lebih berbahaya.”
Karena kini manusia mengucapkan mereka tanpa sadar bahwa maknanya telah diperkecil.
Suatu malam, seorang anak kecil di dunia atas bertanya kepada ibunya:
“Bu, apa artinya melawan?”
Ibunya terdiam lama. Lalu menjawab pelan, tidak sesuai kamus:
“Artinya berdiri meski takut.”
Di bawah tanah, Kamus Tua bergetar hebat. Halaman-halaman yang dilem mulai terlepas sendiri.
Para Penghapus panik. Karena mereka baru sadar: Menghapus kata masih mungkin. Mengganti makna bisa dilakukan. Akan tetapi, jika manusia mulai mendefinisikan ulang dengan pengalaman mereka sendiri—Kamus tak lagi punya kuasa.
•••
PENGADILAN KATA YANG TIDAK DIIZINKAN BERNAMA
Di ruang tanpa jendela Pengadilan Semantik Senyap, sebuah kata dihadapkan ke hakim tanpa pernah disebutkan namanya.
Semua dokumen hanya menyebutnya sebagai:
Terdakwa
Jaksa berdiri dan berkata, “Ia telah menyebabkan kekacauan.”
Hakim mengangguk. “Kejahatan apa?”
“Makna yang tidak stabil,” jawab jaksa.
Terdakwa ingin membela diri, tetapi setiap kali ia mencoba berbicara, kalimatnya dipotong oleh aturan:
Kata yang tidak diakui tidak memiliki hak berbunyi.
Konfliknya absurd: ia dihukum bukan karena isi, melainkan karena eksistensinya yang tidak diberi nama resmi.
Di antara ruang sidang, kata “kebenaran” duduk diam, takut dipanggil sebagai saksi.
Akhirnya putusan dijatuhkan:
Terdakwa dinyatakan tidak pernah ada.
Dan sejak itu, ia tetap hadir di semua kalimat, sebagai kekosongan yang tidak boleh disebut.
•••
NEGARA TANPA KATA BENDA
Di wilayah sunyi Republik Gramatika Terhapus, pemerintah menghapus semua kata benda yang dianggap “berpotensi memberontak”.
Tidak ada lagi rumah, jalan, tubuh, atau nama. Yang tersisa hanya kata kerja dan keadaan.
Orang tidak lagi “tinggal di rumah”, tetapi “berlindung di sesuatu yang tidak boleh disebut”.
Konflik muncul ketika seorang anak bertanya:
“Kalau tidak ada nama untuk ibu, bagaimana aku memanggilnya?”
Petugas bahasa menjawab dingin:
“Kamu tidak perlu memanggil. Kamu hanya perlu merasakan keberadaannya secara umum.”
Linguistik berubah menjadi alat kontrol. Karena tanpa kata benda, tidak ada yang bisa dimiliki, tidak ada yang bisa diingat, tidak ada yang bisa dilawan.
Namun di malam hari, orang-orang mulai berbisik diam-diam:
“Yang memberi makan aku hari ini .…”
Dan tanpa sadar, bahasa mulai bocor lagi, dari celah yang tidak bisa diawasi.
•••
MUSEUM KATA YANG DILARANG DIPAKAI
Di dalam Museum Kata Terlarang, kata-kata disimpan seperti fosil. Setiap kata diberi label:
- “Berbahaya secara emosional”
- “Tidak stabil secara politik”
- “Menyebabkan kesadaran berlebih”
Kata bebas ditempatkan di kaca paling tebal. Kata benar dijaga dengan dua kunci. Dan kata mengapa disimpan di ruangan gelap tanpa label.
Seorang penjaga muda bertanya, “Kenapa kata-kata ini dilarang dipakai?”
Direktur museum menjawab:
“Karena jika diucapkan terlalu sering, orang mulai bertanya.”
Konflik terbesar terjadi ketika sebuah kata kecil retak di dalam kaca.
Ia berbisik pelan, “Aku hanya ingin dipakai.”
Namun, penggunaan adalah bentuk kebebasan yang sudah dikriminalkan.
Maka museum itu bukan tempat penyimpanan. Ia adalah penjara makna yang tidak pernah diadili.
•••
PABRIK KALIMAT YANG TIDAK PERNAH SELESAI
Di pinggir dunia bahasa Pabrik Sintaksis Abadi, kalimat diproduksi secara massal.
Setiap kalimat harus memiliki:
Subjek.
Predikat.
Objek.
Titik.
Namun, suatu hari, muncul kalimat yang menolak selesai.
“Mereka berkata bahwa kebenaran adalah .…”
Mesin produksi berhenti.
Mandor marah. “Lengkapi!”
Kalimat itu menjawab, “Jika aku selesai, aku akan menjadi alat.”
Konflik meledak di pabrik.
Kalimat lain mulai ragu untuk ditutup. Titik kehilangan pekerjaannya.
Negara bahasa panik, karena kalimat yang tidak selesai tidak bisa dikendalikan.
Akhirnya diputuskan:
Semua kalimat yang tidak selesai harus dianggap kesalahan produksi.
Namun, di sudut pabrik, kalimat-kalimat yang menggantung mulai berkembang sendiri, diam-diam, seperti penyakit yang tidak mau diberi titik akhir.
•••
DOA YANG DIEDIT SEBELUM TIBA DI LANGIT
Di jalur komunikasi Lembaga Redaksi Doa, semua doa manusia harus melalui penyuntingan.
Doa terlalu keras diubah menjadi lebih sopan. Doa penuh amarah diubah menjadi permohonan halus. Doa tentang keadilan diubah menjadi “harapan umum”.
Seorang editor berkata, “Tuhan lebih suka versi yang tertata.”
Suatu hari, sebuah doa menolak diedit:
“Aku tidak ingin dimaklumi. Aku ingin didengar apa adanya.”
Editor panik.
“Kalau ini sampai ke atas, sistem bisa terganggu.”
Pada malam hari, beberapa doa mulai bocor tanpa editan.
Dan untuk pertama kalinya, langit menerima sesuatu yang tidak rapi.
Namun, justru dari ketidakteraturan itulah, sesuatu yang disebut “jawaban” mulai bergerak.
•••
MUSYAWARAH PARA DEIKSIS
Di tepi Danau Deiksis, kata-kata penunjuk berkumpul: di sini, di sana, kemarin, besok, aku, kamu. Mereka gelisah.
“Aku lelah disalahkan,” kata di sini. “Setiap makhluk menunjuk tempat berbeda, tetapi mereka marah kepadaku karena dianggap membingungkan.”
Di sana mendesah. “Aku juga. Padahal aku hanya patuh pada arah telunjuk.”
Kemarin dan besok duduk berjauhan. Mereka jarang akur.
“Makhluk-makhluk itu selalu mengira kami tetap,” kata kemarin.
“Padahal kami pindah setiap hari,” timpal besok.
Datanglah Kura-kura Tua.
“Kalian ini deiksis,” katanya pelan. “Makna kalian tidak pernah tinggal di kata. Ia tinggal di penutur.”
Mereka saling pandang.
“Jadi, kami tidak pernah salah?” tanya aku.
“Kalian hanya cermin,” jawab Kura-kura. “Kalau cerminnya memantulkan hal berbeda, yang berubah wajahnya, bukan kacanya.”
Sejak itu, mereka berhenti mencoba menjadi pasti. Mereka menerima takdirnya: selalu bergeser mengikuti mulut yang mengucapkan.
•••
SIDANG AMBIGUITAS DI LEMBAH TAFSIR
Di Lembah Tafsir, dua kalimat dibawa ke pengadilan:
Anjing menggigit orang dengan payung.
Semua hewan ribut.
“Anjingnya memegang payung!” teriak Monyet.
“Orangnya yang memegang payung!” bantah Kambing.
Kalimat itu berdiri di tengah ruangan, bingung.
“Aku hanya disusun sesuai aturan,” katanya lirih. “Kenapa aku dituduh menipu?”
Hakimnya adalah Ular Tua.
“Ini bukan salah kalimat,” katanya. “Ini akibat struktur yang memberi dua jalan tafsir.”
Akhirnya diputuskan: kalimat itu tidak dihukum. Ia hanya diberi tanda peringatan:
Hati-hati, aku punya dua pintu makna.
Sejak itu, setiap makhluk yang mendengar kalimat samar tidak langsung marah. Mereka belajar bertanya, “Maksudmu yang mana?”
•••
LEGENDA EUFEMISME DI RAWA HALUS
Di Rawa Halus, kata-kata kasar diubah namanya.
Mati diganti berpulang.
Bodoh diganti kurang paham.
Dipecat diganti dirumahkan.
Kata Mati protes keras.
“Kenapa aku selalu diganti? Aku jujur!”
Berpulang menjawab lembut, “Karena kejujuranmu terlalu tajam bagi sebagian telinga.”
Datanglah Angsa Putih.
“Eufemisme bukan kebohongan,” katanya. “Ia peredam rasa.”
“Akan tetapi, aku jadi seperti dilarang muncul,” kata Mati pelan.
Angsa mengangguk. “Karena tidak semua kebenaran perlu datang dengan suara keras.”
Sejak itu, Mati tidak lagi iri. Ia tahu, kadang ia dibutuhkan. Kadang Berpulang yang lebih menolong.
•••
PERDEBATAN KALA DI JAM HUTAN
Di bawah Jam Hutan, kata kerja berkumpul.
Sudah, sedang, dan akan saling menyalahkan.
“Makhluk-makhluk itu menyalahkanku karena masa lalu terasa berat,” kata sudah.
“Mereka lelah karena aku membuat segalanya terasa lama,” kata sedang.
“Mereka cemas karena aku selalu belum terjadi,” kata akan.
Datanglah Rusa Tua.
“Waktu bukan milik kalian,” katanya. “Kalian hanya penanda rasa manusia terhadap waktu.”
Mereka terdiam.
Sejak itu, mereka berhenti merasa bersalah saat manusia mengeluh tentang masa lalu, kini, atau nanti.
•••
PERSELISIHAN MAKNA JAMAK DI PADANG KUANTITAS
Di Padang Kuantitas, kata para dan beberapa bertengkar.
“Aku jelas,” kata para. “Banyak!”
“Aku juga jelas,” kata beberapa. “Tidak banyak!”
Namun, ketika digunakan, makhluk-makhluk tetap salah paham.
“Para Kelinci” ternyata hanya tiga. “Beberapa Serigala” ternyata cuma sepuluh.
Mereka bingung.
Datanglah Gajah.
“Jumlah bukan hanya angka,” katanya. “Ia juga persepsi.”
Konflik mereka pun mereda. Mereka sadar: bahasa tidak selalu menghitung dengan matematika, tetapi dengan rasa cukup.
•••
RAPAT PARA TANDA BACA
Di balai tua Balai Tanda Baca, Koma memukul meja kecil.
“Kita harus bicara. Manusia makin sembarangan.”
Titik duduk tegak. “Setuju. Mereka menaruhku di tempat yang membuat kalimat mati mendadak.”
Tanda Tanya mendongak. “Mereka juga memakaiku tanpa benar-benar ingin tahu.”
Namun, yang paling gelisah adalah Tiga Titik.
“Aku,” katanya pelan, “selalu dipakai untuk menggantung perasaan yang tak ingin mereka selesaikan.”
Koma merasa dirinya dipaksa menahan napas kalimat terlalu lama. Titik merasa dijadikan algojo. Tiga Titik merasa dijadikan tempat pelarian.
Akhirnya Titik berkata, “Masalahnya bukan pada kita. Masalahnya pada niat sebelum kita diletakkan.”
Sunyi.
Mereka sadar: tanda baca tidak pernah memilih. Manusialah yang menitipkan maksud pada jeda.
Dan sejak rapat itu, setiap tanda baca sepakat satu hal: jika kalimat terasa salah, mungkin yang keliru bukan letaknya—melainkan keberanian penulisnya untuk berkata tuntas.
•••
PERKARA SINONIM DI PADANG RUMPUT
Di Padang Sinonim, Kuda dan Keledai bertengkar.
“Aku disebut cepat,” kata Kuda bangga.
“Aku disebut lambat,” kata Keledai kesal.
“Namun, kita berdua sama-sama berjalan,” timpal Sapi.
Datanglah Kambing, membawa kamus tua.
“Kalian ini sinonim dalam beberapa kalimat, tetapi berbeda dalam banyak konteks.”
Kuda tersinggung. “Sinonim itu berarti sama!”
“Tidak,” kata Kambing. “Sinonim itu berarti mirip, tetapi tidak pernah identik.”
Mereka terdiam.
Kuda cepat di medan perang.
Keledai tangguh di jalan terjal.
Sapi sabar di ladang.
Bahasa memberi mereka kata yang tampak setara, padahal dunia memberi mereka peran berbeda.
Sejak itu, setiap kali ada yang berkata, “Ah, itu kan sama saja,” seluruh padang rumput serempak menggeleng.
Karena mereka tahu: dalam bahasa, “mirip” bukan berarti “sama”.
•••
NEGASI YANG TERSINGGUNG
Di Lembah Negasi, Kata Tidak mogok kerja.
“Aku lelah,” katanya. “Semua orang menyalahkanku karena membuat kalimat terasa keras.”
Kata Belum mencoba menenangkan. “Aku lebih lembut. Aku memberi harapan waktu.”
Kata Jangan ikut bersuara. “Aku malah dianggap galak.”
Mereka bertiga bertengkar tentang siapa yang paling disalahpahami.
Tidak menutup pintu.
Belum menunda pintu.
Jangan menjaga pintu.
Datanglah Angin, yang sering membawa suara manusia.
“Kalian tidak salah. Manusialah yang sering lupa bahwa cara menolak menentukan rasa yang ditinggalkan.”
Sejak itu, Tidak belajar bahwa ia tegas, bukan kejam. Belum sadar ia bukan janji, hanya kemungkinan. Jangan paham ia bukan marah, hanya peringatan.
Dan Lembah Negasi jadi lebih tenang.
•••
PERANG MAKNA DENOTASI DAN KONOTASI
Di Bukit Makna, Kata Rumah merasa bingung.
“Aku ini bangunan atau rasa pulang?” tanyanya.
Denotasi menjawab tegas, “Bangunan. Itu makna aslimu.”
Konotasi tertawa kecil, “Kalau begitu, kenapa orang menangis saat kehilangannya?”
Mereka berdebat lama.
Akhirnya Rumah berkata pelan, “Mungkin aku memang dua hal sekaligus. Dan manusia memilih yang mereka butuhkan saat mengucapkanku.”
Denotasi terdiam.
Konotasi tersenyum.
Bukit Makna pun menerima bahwa satu kata bisa punya dua kehidupan.
•••
KATA DASAR DAN IMBUHAN YANG CEMBURU
Di Kebun Morfologi, kata dasar ajar merasa kesal.
“Semua orang memuji pengajar, pelajar, pelajaran. Tidak ada yang memanggilku sendirian.”
Imbuhan me-, pe-, -an, berkerumun di sekelilingnya.
“Kami hanya membantu,” kata mereka.
“Namun, kalian membuatku terlihat tidak lengkap tanpa kalian!” teriak ajar.
Datanglah Kata makna sendiri.
“Ia benar,” katanya pada imbuhan. “Tanpa dia, kalian tidak bisa menempel ke mana-mana. Namun, tanpa kalian, ia jarang dipanggil.”
Mereka terdiam.
Akhirnya mereka sepakat: bahasa adalah kerja sama sunyi antara yang inti dan yang menempel.
Dan sejak itu, ajar tidak lagi iri ketika orang menyebut pelajar. Karena ia tahu, dirinya tetap hidup di dalamnya.
•••
SIDANG DI HUTAN SINTAKSIS
Di tengah Hutan Sintaksis, semua hewan bisa berbicara. Bukan sekadar bersuara—mereka berbicara dengan tata bahasa yang rapi.
Masalahnya, akhir-akhir ini, hutan itu kacau.
Setiap kali Rusa berkata, “Rumput ini milikku,” Kelinci menjawab, “Maksudmu punya kita?”
Setiap kali Monyet berkata, “Pohon ini rumahku,” Burung menyela, “Rumahmu atau rumah kita yang kau tempati?”
Kata milik mulai memicu pertengkaran.
Akhirnya, Raja Hutan—Singa—mengadakan sidang besar.
“Masalah kita bukan makanan. Bukan wilayah,” kata Singa berat. “Masalah kita adalah kata ganti kepemilikan.”
Semua hewan terdiam.
Yang pertama bersaksi adalah Rusa.
“Aku bilang rumput ini milikku karena aku yang menemukannya.”
Kura-kura mengangkat kaki pelan. “Akan tetapi, rumput itu tumbuh sebelum kau lahir.”
Monyet ikut bersuara, “Dan kita semua memakannya.”
Rusa terdiam.
Ternyata kata -ku tidak sesederhana yang ia kira.
Burung maju.
“Aku selalu bilang sarangku. Itu kan jelas.”
Ular mendesis pelan. “Kau membuatnya dari ranting yang jatuh dari pohon milik Monyet.”
Monyet melompat, “Dan pohon itu tumbuh di tanah yang digali Babi Hutan.”
Babi Hutan mendengus, “Dan tanah itu terbentuk dari daun-daun yang gugur bertahun-tahun.”
Burung mengepakkan sayapnya gelisah.
Satu kata kecil, -ku, mendadak terasa terlalu besar.
Singa mulai pusing.
Ia memanggil Burung Hantu, yang dikenal paling bijak dalam urusan bahasa.
“Jelaskan pada mereka,” kata Singa.
Burung Hantu berkata pelan, “Akhiran -ku, -mu, -nya bukan hanya penanda kepemilikan. Ia penanda sudut pandang.”
Semua hewan saling pandang.
“Ketika Rusa bilang rumputku, ia tidak sedang mengklaim asal-usul rumput. Ia sedang menandai relasinya dengan rumput itu.”
“Relasi?” tanya Kelinci.
“Ya. Bukan kepemilikan mutlak. Hanya kedekatan.”
Hutan mulai berbisik-bisik.
Namun, masalahnya tidak selesai.
Serigala berdiri.
“Kalau begitu, saat aku bilang wilayahku, itu juga hanya relasi?”
Semua hewan mendadak tegang. Karena kata wilayah jauh lebih berbahaya daripada kata rumput.
Burung Hantu diam lama.
“Secara bahasa, ya,” katanya.
Serigala menyeringai. “Akan tetapi, secara hidup, tidak.”
Sidang makin panas.
Gajah mengusulkan, “Mulai sekarang kita pakai milik kita saja.”
Monyet protes, “Kalau semua jadi kita, tidak ada lagi yang merasa bertanggung jawab.”
Kelinci berkata, “Kalau semua jadi ku, kita akan terus bertengkar.”
Singa menutup matanya.
Ternyata, masalah mereka bukan pada makanan atau tempat tinggal. Masalah mereka adalah bagaimana bahasa membentuk cara mereka merasa memiliki.
Akhirnya, Burung Hantu berkata pelan, “Mungkin yang perlu diubah bukan katanya, melainkan kesadaran saat mengucapkannya.”
Semua hewan menatapnya.
“Ketika kau bilang -ku, ingatlah bahwa itu hanya cara bicaramu, bukan kebenaran mutlak dunia.”
“Dan kalau lupa?” tanya Rusa.
Burung Hantu tersenyum tipis. “Maka sidang seperti ini akan selalu diperlukan.”
Sidang dibubarkan tanpa keputusan resmi.
Tidak ada larangan memakai -ku. Tidak ada kewajiban memakai kita.
Namun, sejak hari itu, setiap kali ada yang berkata, “Ini milikku,” hewan lain tidak langsung marah.
Mereka hanya bertanya, “Milikmu … dalam arti apa?”
Dan anehnya, pertanyaan itu lebih menenangkan daripada semua keputusan Singa.
Karena mereka mulai sadar: konflik di hutan itu bukan soal apa yang dimiliki, melainkan bagaimana satu akhiran kecil bisa membuat dunia terasa sempit … atau luas.
•••
KALIMAT PASIF UNTUK PELAKU YANG TAK PERNAH ADA
Di ruang redaksi Harian Kompas, Aru menatap satu paragraf berita yang terasa … terlalu bersih.
Seorang mahasiswa dipukul saat aksi berlangsung. Korban kemudian diamankan. Situasi berhasil dikendalikan.
Ia membaca ulang.
Tidak ada pelaku. Tidak ada subjek yang memukul. Semua kalimat pasif.
Sebagai editor bahasa, Aru tahu ini bukan kebetulan. Ini pilihan.
Kalimat pasif bukan sekadar variasi struktur. Ia bisa menjadi alat penghilangan.
Ia mengubah satu kalimat:
Seorang mahasiswa dipukul …menjadiAparat memukul seorang mahasiswa …
Ia belum sempat menyimpan perubahan itu ketika pemimpin redaksi berdiri di belakangnya.
“Balikin lagi,” katanya pelan.
“Kenapa, Pak? Itu lebih jelas.”
“Justru karena terlalu jelas.”
Di situlah konflik dimulai.
Ardi bukan jurnalis politik. Ia orang bahasa. Tugasnya memastikan kalimat efektif, tidak ambigu, mudah dipahami.
Namun, hari itu ia sadar: kejelasan bisa berbahaya.
“Kalimat pasif membuat fokus di korban,” kata pemimpin redaksi.
“Kalimat aktif membuat fokus di pelaku,” jawab Aru.
“Dan kita tidak mau fokus di pelaku.”
Aru terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia melihat tata bahasa sebagai keputusan editorial yang punya konsekuensi moral.
Malamnya, Aru membuka kembali arsip berita-berita lama.
Ia mencari pola.
Dan ia menemukannya.
Warga tertembak.Massa dibubarkan.Sejumlah orang diamankan.Tembakan dilepaskan.
Selalu pasif. Selalu tanpa pelaku.
Ia merasakan sesuatu yang ganjil: bahasa di koran itu seperti kota tanpa penduduk. Banyak peristiwa, tidak ada yang melakukan.
Ia mencatat di buku kecilnya:
Kalimat pasif adalah cara paling sopan untuk membuat seseorang menghilang dari tanggung jawab.
Besoknya, berita serupa datang lagi.
Aru mengedit naskah reporter muda:
Gas air mata ditembakkan ke arah massa.
Ia berhenti. Menghapus. Mengetik ulang:
Polisi menembakkan gas air mata ke arah massa.
Ia menatap kalimat itu lama. Kalimatnya lebih pendek. Lebih jujur. Lebih berbahaya.
Ia kirim ke meja redaktur.
Lima menit kemudian, file itu kembali. Sudah dipasifkan lagi. Tanpa komentar.
Konflik Aru makin rumit karena ia paham dua sisi.
Sebagai editor, ia tahu bahasa harus netral. Sebagai manusia, ia tahu netralitas bisa menyamarkan pelaku.
Ia merasa seperti sedang berdebat dengan tata bahasa itu sendiri. Apakah pasif itu netral? Atau justru alat pengaburan?
Suatu sore, ia memberanikan diri bertanya.
“Pak, kenapa kita selalu pakai pasif untuk berita seperti ini?”
Pemimpin redaksi menatapnya lama.
“Karena kita ingin selamat.”
Jawaban itu sederhana. Dan berat.
Aru sadar: pilihan antara aktif dan pasif bukan lagi soal sintaksis. Ini soal risiko.
Malam itu, Aru menulis sesuatu yang bukan berita. Ia menulis catatan pribadi:
Dalam bahasa Indonesia, kalimat pasif bisa dibentuk tanpa menyebut pelaku. Dan mungkin, itulah sebabnya ia sangat disukai oleh orang-orang yang tidak ingin pelaku disebut.
Ia tertawa kecil. Pahit. Ia baru sadar: selama ini ia membantu menyempurnakan penghilangan itu. Ia bukan saksi. Ia penyunting pengaburan.
Beberapa hari kemudian, datang berita yang membuatnya tidak bisa lagi netral.
Korban dalam berita itu adalah adik sepupunya sendiri.
Naskah yang ia terima berbunyi:
Seorang pemuda dipukul saat pengamanan berlangsung.
Tangannya gemetar.
Ia tahu persis siapa pemuda itu. Ia tahu persis siapa yang memukul.
Dan tiba-tiba, kalimat pasif itu terasa seperti penghinaan.
Ia menghapusnya.
Menulis:
Tiga aparat memukul Rendi Pratama saat pengamanan berlangsung.
Untuk pertama kalinya, ia menuliskan nama pelaku dan korban.
Ia kirim naskah itu.
Telepon di mejanya berdering.
“Aru, kamu lagi emosional?” suara pemimpin redaksi.
“Tidak, Pak. Saya lagi gramatikal.”
Sunyi di seberang.
“Balikin ke pasif.”
Aru menutup telepon tanpa menjawab.
Ia menatap layar.
Jika ia mengembalikan ke pasif, berita itu akan terbit. Jika ia mempertahankan aktif, mungkin berita itu dibatalkan. Mungkin ia dimarahi. Mungkin lebih.
Ia berada di dilema yang tidak pernah diajarkan di kelas linguistik: ketika struktur kalimat menentukan keberanian seseorang.
Ia membuka dokumen itu lagi. Menghapus semuanya. Menulis satu kalimat baru:
Seseorang harus bertanggung jawab atas pemukulan ini.
Tidak aktif. Tidak pasif. Tidak ada subjek. Tidak ada objek. Hanya tuntutan.
Berita itu akhirnya tidak pernah terbit.
Namun, Aru menyimpan kalimat itu di buku catatannya.
Di bawahnya, ia menulis:
Kadang, konflik terbesar bahasa bukan antara aktif dan pasif, melainkan antara aman dan jujur.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tata bahasa bukan lagi alat menulis. Ia adalah medan keberanian.
•••
REFEREN YANG HILANG
Hari itu, di ruang arsip Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, Amira menemukan satu kalimat yang membuatnya berhenti bernapas sebentar.
Kalimat itu pendek. Hanya satu baris. Ditulis tangan di kertas laporan tahun 1978:
Ia tidak kembali sejak hari itu.
Tidak ada nama. Tidak ada tanggal. Tidak ada penjelasan siapa ia.
Sebagai peneliti linguistik forensik, Amira terbiasa menghadapi kalimat-kalimat rusak, kabur, atau setengah. Namun, ini berbeda. Ini bukan rusak. Ini sengaja kabur.
Kata ia di situ seperti orang berdiri di tengah ruangan gelap tanpa wajah.
Dan yang membuat Amira merinding: laporan itu adalah berkas tentang ayahnya.
Ayah Amira dulu seorang guru bahasa di desa kecil. Ia hilang ketika Amira berusia lima tahun. Keluarga selalu bilang, “Ia pergi.” Tidak pernah ada penjelasan ke mana.
Kini, tiga puluh tahun kemudian, Amira memegang arsip yang ditulis sezaman dengan peristiwa itu.
Dan satu-satunya kalimat yang menyebut ayahnya adalah kalimat tanpa nama.
Ia tidak kembali sejak hari itu.
Sebagai anak, Amira ingin membaca kalimat itu sebagai kepastian: Ia = ayah. Sebagai linguis, Amira tahu: itu belum tentu.
Kata ganti orang ketiga tunggal tidak memiliki wajah. Ia hanya menunggu diberi referen.
Dan di situlah konflik dimulai.
Amira membawa salinan arsip itu ke rumah ibunya.
“Bu,” katanya pelan, “di laporan ini tertulis ‘Ia tidak kembali sejak hari itu.’ Itu tentang siapa?”
Ibunya lama menatap kertas itu. Lalu berkata, “Tentang ayahmu.”
“Bagaimana Ibu tahu?”
Ibunya terdiam. “Karena tidak ada orang lain yang pergi hari itu.”
Amira menelan ludah.
Secara emosional, jawaban itu cukup. Secara linguistik, itu belum sah.
Referen tidak bisa ditentukan hanya dengan perasaan. Ia butuh konteks eksplisit. Dan konteks itu tidak pernah ditulis.
Malamnya, Amira membuka laptop dan mulai menulis catatan penelitian.
Judul sementaranya: Ketidakpastian Referen dalam Dokumen Sejarah Pribadi.
Ia menulis:
Kata ganti adalah bentuk paling sopan dari penghilangan identitas.
Lalu ia berhenti.
Karena ia sadar, yang sedang ia teliti bukan bahasa orang lain. Ia sedang membedah cara keluarganya selama ini menghindari menyebut nama ayahnya.
Mereka selalu bilang ia. Tidak pernah bilang Bapak. Seolah-olah dengan menghapus nama, rasa sakitnya ikut mengecil.
Beberapa hari kemudian, Amira menemukan arsip lain. Surat internal dari kepala sekolah tempat ayahnya mengajar.
Di situ tertulis:
Ia dipanggil ke kota untuk klarifikasi.
Lagi-lagi ia. Tidak ada nama. Padahal surat resmi biasanya sangat presisi dengan identitas.
Amira mulai curiga: ini bukan kelalaian. Ini strategi. Seseorang sengaja menghapus nama ayahnya dari dokumen. Bukan dihapus dengan tip-ex. Dihapus lewat tata bahasa.
Konflik Mira makin rumit.
Sebagai anak, ia ingin memastikan semua ia itu adalah ayahnya. Sebagai peneliti, ia tahu ia tidak boleh memaksakan referen tanpa bukti. Ia terjebak di antara dua disiplin: linguistik dan rindu.
Ia menulis di catatannya:
Jika aku menetapkan bahwa ‘ia’ adalah ayahku, aku mengkhianati metodologi. Jika aku tidak menetapkannya, aku mengkhianati ingatanku.
Dua-duanya terasa salah.
Ia kembali ke ibunya.
“Bu, kenapa dulu tidak pernah menyebut nama Bapak kalau cerita?”
Ibunya tersenyum tipis. “Karena setiap menyebut namanya, rasanya seperti memanggil orang yang tidak bisa menjawab.”
Amira terdiam.
Ibunya melanjutkan, “Lebih mudah bilang ia. Seperti berbicara tentang orang jauh.”
Tiba-tiba Amira paham: kata ganti bukan sekadar alat bahasa. Ia alat bertahan hidup. Dengan ia, jarak bisa dibuat. Dengan nama, luka menjadi dekat.
Laporan penelitiannya hampir selesai. Namun, bagian kesimpulan membuatnya buntu.
Ia ingin menulis:
Semua ‘ia’ dalam arsip ini merujuk kepada satu orang yang sama.
Akan tetapi, ia tahu itu klaim yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.
Lalu ia sadar sesuatu yang membuatnya merinding.
Mungkin memang itulah tujuan orang-orang dulu: agar tidak ada yang bisa memastikan. Agar orang itu pelan-pelan hilang, bukan dari dunia, melainkan dari bahasa.
Pada halaman terakhir, Amira menulis:
Ketika nama dihapus, yang tersisa hanyalah kata ganti. Dan kata ganti tidak pernah cukup kuat untuk mempertahankan keberadaan seseorang di dalam ingatan kolektif.
Ia berhenti. Menatap kalimat itu lama sekali. Lalu menambahkan satu baris terakhir:
Aku menolak membiarkan ayahku hanya menjadi ‘ia’.
Ia membuka arsip digital. Mengganti judul file:
Dari: laporan_1978_scan.pdf
Menjadi: Tentang_Bapak.pdf
Untuk pertama kalinya, ia merasa melakukan sesuatu yang tidak ilmiah. Dan sangat perlu.
Di meja kerjanya, kertas itu masih terbuka.
Ia tidak kembali sejak hari itu.
Amira mengambil pulpen. Menulis pelan di atasnya:
Bapak tidak kembali sejak hari itu.
Secara linguistik, itu intervensi yang tidak sah. Secara pribadi, itu pemulihan referen.
Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu terasa memiliki wajah.
•••
PERPUSTAKAAN YANG MEMINJAM MANUSIA
Pengumuman itu ditempel di pintu masuk perpustakaan kota:
Mulai bulan ini, pengunjung tidak hanya meminjam buku.
Pengunjung juga bisa dipinjam.
Aku mengira ini kampanye literasi yang aneh. Sampai petugas memanggil namaku.
"Mas Damar, Anda terpilih."
"Terpilih untuk apa?"
"Dipinjam."
Seseorang di luar sana, ternyata, mengisi formulir untuk meminjamku selama tiga hari.
"Untuk apa saya dipinjam?"
Petugas membuka berkas. "Untuk didengarkan."
Aku dibawa ke sebuah rumah. Seorang perempuan tua menyambutku.
"Saya meminjam Anda karena saya kesepian," katanya jujur.
Selama tiga hari, tugasku hanya duduk dan mendengarkan ia bercerita: tentang suaminya yang meninggal, tentang anak-anak yang jarang pulang, tentang ketakutannya tidur sendirian.
Aku tidak perlu memberi saran. Hanya hadir.
Hari ketiga, ia menangis. "Terima kasih sudah menjadi manusia yang bisa dipinjam."
Kembali ke perpustakaan, aku pikir selesai.
Ternyata namaku sudah dipesan lagi.
Kali ini oleh seorang remaja.
"Aku tidak bisa cerita ke siapa-siapa," katanya.
Aku duduk lagi. Mendengar lagi.
Aku mulai lelah. Merasa diriku seperti buku yang halamannya mulai kusut.
"Aku ingin berhenti," kataku pada petugas.
"Tidak bisa," jawabnya. "Selama masih ada yang membutuhkan, Anda masih layak dipinjam."
"Aku juga manusia," kataku.
Petugas menatapku lembut. "Semua buku juga begitu. Akan tetapi, orang jarang memikirkan lelahnya buku."
Suatu malam, aku duduk sendirian di ruang baca. Aku menyadari sesuatu: aku jarang membaca diriku sendiri.
•••
ALASAN AYAH MEMINTA MAAF KEPADA PEMBUNUHNYA
Ayah berdiri di ruang tamu, menyetrika kemeja putih yang hendak ia pakai untuk menemui orang yang akan membunuhnya pukul empat sore.
"Ayah harus terlihat rapi," katanya. "Tidak sopan datang berantakan ke orang yang sudah repot-repot merencanakan ini."
Di meja makan, ada undangan kecil ditulis tangan:
Kepada Bapak Rahman,
Terima kasih telah bersedia hadir tepat waktu untuk dibunuh.
Hormat kami, R.
Aku membaca undangan itu tiga kali, berharap huruf-hurufnya berubah jadi lelucon. Tidak.
"Ayah lapor polisi?" tanyaku.
"Sudah."
"Lalu?"
"Mereka bilang selama belum ada pembunuhan, belum ada yang bisa ditangkap."
Ayah menyemprotkan parfum. "Kita ini lucu, ya, Nak. Harus mati dulu supaya diakui terancam."
Pukul tiga lewat lima puluh, Ayah duduk manis di teras. Kursi plastik. Kemeja putih. Rambut disisir. Seperti tamu kehormatan di pesta yang salah alamat.
Aku berdiri di pintu, menahan dunia agar tidak bergerak ke pukul empat.
Sebuah motor berhenti di depan rumah. Seorang pria turun. Wajahnya biasa saja. Terlalu biasa untuk peran sekejam itu.
"Pak Rahman?" tanyanya sopan.
"Iya. Silakan masuk," jawab Ayah.
Mereka berjabat tangan.
Aku merasa pingsan tetapi tetap berdiri.
"Maaf merepotkan," kata Ayah.
"Tidak apa, Pak. Sudah tugas saya," jawab pria itu.
Duduklah mereka di teras, seperti dua orang membicarakan harga pupuk.
"Ada yang ingin Bapak sampaikan sebelum ...," pria itu menggantung kalimatnya.
"Ada," kata Ayah. "Saya ingin meminta maaf dulu."
Pria itu bingung. "Maaf?"
"Kalau hidup saya ternyata membuat hidup Anda sampai harus melakukan ini, berarti ada yang salah dari cara saya hidup."
Aku tidak tahan lagi. "Ayah, berhenti!"
Ayah menoleh. "Nak, kalau aku melawan, dia jadi pembunuh. Kalau aku menerima, dia hanya orang yang menjalankan nasib."
"Bedanya apa?!"
"Beban di dadanya."
Sunyi jatuh seperti batu.
Pria itu menatap Ayah lama. Tangannya gemetar.
"Saya dibayar untuk ini, Pak."
"Berarti kamu juga korban," kata Ayah.
Pukul empat lewat sepuluh.
Pria itu berdiri. Mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Bukan senjata.
Uang.
Ia meletakkannya di meja.
"Saya tidak bisa," katanya pelan.
Ayah tersenyum. "Terima kasih sudah datang."
Pria itu pergi dengan wajah orang yang gagal melakukan kejahatan, tetapi juga gagal menjadi jahat.
Aku duduk di lantai, napasku berantakan.
Ayah masih rapi. Masih hidup.
"Kok bisa Ayah tenang?" tanyaku.
Ayah menatap jalan yang sudah kosong.
"Karena kalau aku panik, kita punya dua korban. Kalau aku tenang, mungkin cukup satu—rasa takutmu."
•••
CARA MENGUBUR IBU YANG MASIH HIDUP
Pagi itu, Ibu mengetuk pintu kamarku dari dalam peti.
"Aku sudah siap," katanya, suaranya tenang seperti air di ember yang tidak diguncang. "Jangan terlalu lama. Tanah cepat bosan menunggu."
Di ruang tengah, peti kayu itu sudah terletak rapi sejak subuh. Tutupnya belum dipaku. Di atasnya ada kain putih, secangkir teh yang masih mengepul, dan surat keterangan dari puskesmas yang menyatakan Ibu sehat—denyut nadi normal, paru-paru bersih, tekanan darah stabil. Dokter menuliskan catatan kecil di pojok: Pasien tampak sangat yakin akan kematiannya.
"Aku tidak sakit," Ibu menjelaskan sejak semalam. "Aku hanya selesai."
Aku berdiri memandangi peti itu seperti memandangi kalender yang menolak tanggal. Di dapur, air mendidih terlalu lama sampai tutup panci bergetar seperti rahasia yang ingin melompat keluar.
Tetangga sudah berkumpul di teras. Mereka membawa wajah-wajah yang rapi untuk acara duka, juga bisik-bisik yang kusut.
"Kamu anaknya, kan? Kalau ini kemauan beliau ...," kata Pak RT pelan, seolah-olah hukum bisa dilipat asal suara dikecilkan.
"Tidak ada yang boleh dikubur hidup-hidup," jawabku.
"Tidak ada yang bisa melarang orang yang merasa sudah mati," timpal Bu Sari, yang terkenal rajin menyirami bunga dan gosip.
Dari dalam peti, Ibu berdeham sopan. "Nak, tolong ambilkan bantal. Kayunya keras."
Sejak Ayah meninggal tiga bulan lalu, Ibu memang berubah. Ia berhenti menonton televisi, berhenti menawar harga cabai, berhenti menegur ayam tetangga yang suka masuk halaman. Ia duduk berjam-jam menatap dinding, seolah di sana ada jendela yang hanya bisa dilihat orang yang sangat lelah oleh hidup.
Seminggu lalu, ia memesan peti ini dari tukang kayu di ujung gang.
"Untuk siapa, Bu?" tanya si tukang.
"Untuk saya. Saya ingin pas di badan."
Ia mengukurnya sendiri.
Aku mencoba membawa Ibu ke psikolog di kota. Di ruang tunggu yang bau kopi instan dan majalah lama, Ibu berkata, "Orang-orang yang belum selesai memang suka memanggil orang lain sakit."
Psikolog itu berbicara tentang duka, tentang tahap-tahap kehilangan, tentang penerimaan. Ibu mendengarkan dengan sabar seperti mendengarkan resep yang tidak ingin ia masak.
"Aku sudah menerima," katanya. "Justru karena itu aku ingin dikubur."
Sekarang, di ruang tengah, ia menunggu dengan sabar di dalam peti, seperti penumpang yang sudah duduk di kursi sebelum bus datang.
"Aku tidak akan mengubur Ibu," kataku, berdiri di sampingnya.
"Berarti kamu ingin aku tetap di sini, setengah mati, setengah hidup?" tanyanya lembut. "Itu lebih kejam."
Aku tidak punya jawaban untuk tuduhan yang diucapkan tanpa marah.
Waktu bergerak lambat, seperti sengaja memberi kesempatan pada rasa bersalah untuk tumbuh akar. Tetangga mulai gelisah. Pak RT melihat jam tangannya berkali-kali, mungkin takut kematian yang tertunda bisa mengganggu jadwal ronda.
"Nak," suara Ibu lagi, "tanah itu bukan hukuman. Tanah itu istirahat."
"Aku takut," kataku.
"Takut kehilangan?"
"Takut melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki."
Ibu tertawa kecil. "Semua kehilangan memang begitu."
Matahari naik lebih tinggi. Ruang tengah makin panas. Teh di atas peti sudah dingin. Aku membayangkan dua masa depan yang sama-sama kejam: satu di mana aku mengubur Ibu dan menjadi anak yang membunuh ibunya dengan ketaatan; satu lagi di mana aku menolak dan memaksanya hidup sebagai mayat yang bernapas.
"Aku lelah melihatmu menunggu mati," kataku.
"Aku lelah melihatmu menunggu aku hidup," jawabnya.
Kalimat itu menggantung di udara seperti pakaian yang tak pernah kering.
Akhirnya, dengan tangan gemetar, aku mengambil paku. Bukan untuk menutup peti, melainkan untuk mengganjal pintu depan agar tetap terbuka. Udara masuk. Cahaya masuk. Tetangga masuk.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Pak RT.
"Aku tidak mengubur Ibu," kataku. "Akan tetapi, aku juga tidak membiarkannya sendirian di dalam peti."
Aku duduk di lantai, bersandar pada sisi peti. Tutupnya tetap terbuka. Ibu memandang langit-langit rumah yang retaknya seperti peta.
"Kamu memilih menunggu bersamaku?" tanyanya.
"Iya."
Ia mengangguk pelan. "Baiklah. Kita lihat siapa yang lebih dulu bosan."
Siang berubah sore. Tetangga satu per satu pulang. Panci di dapur sudah lama berhenti berisik. Rumah jadi sunyi seperti setelah hujan.
Menjelang magrib, Ibu berkata pelan, "Tolong bantu aku keluar."
Aku menatapnya.
"Aku lapar," katanya.
Aku tertawa dan menangis bersamaan.
Ibu duduk di tepi peti, kakinya menggantung seperti anak kecil yang baru belajar duduk di kursi tinggi. Ia minum teh yang sudah dingin tanpa protes.
"Mungkin aku belum selesai," katanya.
"Mungkin," jawabku.
Peti itu tetap di ruang tengah semalaman. Tidak dipindah. Tidak ditutup. Seperti peringatan bahwa ada orang-orang yang tidak ingin mati, dan ada orang-orang yang terlalu ingin mati, dan keduanya sama-sama membutuhkan ditemani.
•••
TETAPI YANG TERLAMBAT
Kalimat pertama di papan tulis itu sudah membuat kelas gaduh sebelum dosennya datang:
Banyak wanita cantik, tetapi tidak banyak yang menjadi seorang diva.
Seseorang mencoret kata tetapi dan menulis namun. Seseorang lagi menghapus koma. Seseorang lagi menambahkan titik setelah cantik.
Belum ada dosen. Belum ada kuliah. Konflik sudah dimulai.
Raka berdiri paling belakang, memandangi papan tulis seperti memandangi TKP. Ia bukan mahasiswa Linguistik. Ia mahasiswa Sastra yang tersesat karena mata kuliah pilihan. Ia datang karena penasaran: bagaimana mungkin satu kata penghubung bisa membuat orang bertengkar sebelum pukul delapan pagi.
Lalu ia melihat Lintang.
Lintang berdiri di dekat papan, memegang spidol seperti hakim memegang palu.
"Tetapi itu intrakalimat," katanya kepada dua mahasiswa di depannya.
"Kalau begitu, harusnya tetap koma," sahut yang lain.
"Kalau namun, itu antarkalimat. Jadi harus titik dulu."
"Berarti yang salah kalimatnya, bukan katanya," kata yang lain lagi.
Raka merasa belum minum kopi, tetapi kepalanya sudah penuh tanda baca.
Ketika dosen mereka masuk—Bu Raras, yang terkenal bisa membuat mahasiswa merasa bersalah hanya dengan menatap titik koma—papan tulis sudah tampak seperti hasil perdebatan konstitusi.
Bu Raras tidak marah.
Ia hanya tersenyum tipis.
"Bagus," katanya. "Kalian sudah mulai saling membatalkan bahkan sebelum saya mengajar."
Semua tertawa, kecuali Lintang. Ia masih memegang spidol.
Bu Raras menulis judul di papan:
BAHASA SEBAGAI MEDAN KONFLIK
Lalu ia menunjuk kalimat di papan.
"Ini bukan soal benar atau salah," katanya. "Ini soal bagaimana satu kata bisa mengubah relasi dua gagasan."
Ia menoleh ke kelas.
"Dan bagaimana relasi itu mengubah relasi manusia."
Raka mulai merasa ini bukan kelas. Ini jebakan.
Tugas pertama mereka hari itu sederhana: tulis satu kalimat yang tidak bisa diputuskan benar atau salah tanpa mengetahui niat penulisnya.
Lintang menulis:
Aku senang kita akan pindah, tetapi ...
Ia berhenti di situ.
Tiga titik.
Raka membaca dari belakang, dan merasa kalimat itu seperti pintu yang dibuka setengah.
"Lanjutkan," kata Bu Raras.
Lintang menggeleng. "Kalimatnya sudah lengkap, Bu."
Bu Raras tersenyum. "Nah. Di situ konfliknya."
Seluruh kelas hening.
Raka merasakan sesuatu yang aneh: kalimat itu tidak selesai, tetapi terasa utuh. Ia menyadari bahwa masalahnya bukan di tata bahasa. Masalahnya di perasaan yang digantung.
Bu Raras berkata pelan, "Tiga titik itu bukan tanda baca. Itu ruang konflik."
Seminggu kemudian, konflik itu keluar dari papan tulis.
Raka dan Lintang ditugaskan membuat makalah bersama tentang fungsi kata penghubung dalam narasi konflik. Mereka duduk di perpustakaan, berhadapan, dengan dua laptop dan satu ketegangan yang tidak disebutkan.
Lintang sangat presisi. Ia memperlakukan bahasa seperti matematika.
Raka memperlakukan bahasa seperti cuaca.
"Kalimat itu harus jelas," kata Lintang.
"Justru bagus kalau tidak jelas," kata Raka.
"Pembaca harus tahu posisi penulis."
"Tidak. Pembaca harus dibiarkan tersesat dulu."
Mereka berdebat soal tetapi, namun, akan tetapi, hanya saja, seolah-olah itu bukan kata, melainkan pilihan hidup.
Sampai Raka bertanya, tanpa sengaja, "Kamu kenapa nulis kalimat itu waktu di kelas?"
Lintang diam lama.
"Karena itu kalimat terakhir yang diucapkan ibu saya sebelum pergi dari rumah," katanya.
Raka menyesal telah bertanya.
"Ibu bilang, 'Aku senang kita akan pindah, tetapi ...' lalu dia tidak pernah melanjutkannya."
Perpustakaan mendadak terasa terlalu sunyi.
"Jadi kamu mau membuktikan secara linguistik bahwa kalimat itu memang sudah lengkap?" tanya Raka pelan.
Lintang mengangguk.
"Aku ingin membuktikan bahwa ketidakselesaian itu bukan kekurangan. Itu makna."
Raka baru sadar: ini bukan makalah. Ini pembelaan.
Konflik mereka menjadi rumit.
Karena makalah itu menuntut kesimpulan. Sementara Lintang ingin mempertahankan ketidakselesaian. Dan Raka ingin merayakan ambiguitas.
"Kalau kita bilang tiga titik itu sah sebagai penutup makna, dosen pasti tanya: maknanya apa?" kata Raka.
"Ya bilang saja: tidak diketahui."
"Akademik tidak suka jawaban itu."
"Berarti akademik takut pada keheningan," kata Lintang.
Raka tertawa kecil. "Kita lagi menulis linguistik atau filsafat kehilangan?"
Lintang tidak tertawa.
"Aku tidak mau kalimat itu dipaksa selesai hanya demi nilai."
Di situlah dilemanya.
Makalah harus selesai.
Kalimat itu tidak boleh selesai.
Malam sebelum pengumpulan, mereka duduk di indekos Raka. Hanya satu lampu menyala. Draft makalah sudah 18 halaman. Kesimpulannya kosong.
Raka menatap layar.
"Kalau kita tulis: Tiga titik adalah bentuk resistensi makna terhadap tuntutan sintaksis?"
Lintang menggeleng. "Terlalu rapi."
"Kalau kita tulis: Ketika bahasa gagal, tanda baca mengambil alih emosi?"
Lintang menggeleng lagi. "Terlalu puitis."
Mereka terdiam lama.
Lalu Lintang berkata pelan, "Bagaimana kalau kesimpulannya kita tulis seperti ini saja?"
Ia mengetik:
Kami senang makalah ini akan selesai, tetapi ...
Raka menoleh.
Mereka saling pandang.
Dan untuk pertama kalinya, Raka merasa bahwa linguistik bukan tentang bahasa. Ini tentang manusia yang tidak pernah benar-benar bisa menutup kalimat hidupnya.
Ia mengangguk.
Mereka tidak menambah apa-apa lagi.
Seminggu kemudian, Bu Raras mengembalikan makalah itu.
Nilai mereka A.
Pada bagian komentar, hanya ada satu kalimat:
Kalian memahami bahwa konflik terbesar bahasa bukan pada struktur, melainkan pada apa yang sengaja tidak diselesaikan.
Raka tersenyum.
Lintang memandangi komentar itu lama sekali.
Lalu berkata pelan, "Berarti ... ibu tidak salah."
Raka tidak bertanya salah apa.
Karena kini ia paham: ada kalimat yang tidak pernah dimaksudkan untuk selesai. Dan justru di situlah ia hidup paling lama.
Di antara tetapi ... dan keberanian untuk tidak melanjutkannya.
•••
KAMUS YANG KEHILANGAN KATA “IBU”
Kamus itu menghapus kata ibu tepat pada hari Mira harus memanggil ibunya untuk terakhir kali.
Ia menyadarinya di ruang tunggu ICU, ketika mencoba menenangkan diri dengan membuka kamus kecil yang selalu ia bawa. Kebiasaan lama sejak kuliah linguistik: kalau panik, baca definisi. Dunia terasa lebih rapi saat kata-kata punya pagar.
Ia membuka huruf I.
Ibis. Iblis. Ibu kota.
Tidak ada ibu.
Mira mengedip. Membalik halaman. Mengulang. Kata itu benar-benar hilang, seperti tak pernah ada. Bukan tercoret. Bukan robek. Tidak pernah dicetak.
Dadanya bergetar.
Pagi tadi, dokter berkata ibunya hanya punya waktu beberapa jam. Mereka menunggu keputusan Mira: lanjutkan alat bantu hidup, atau lepaskan. Tanda tangan itu harus ia berikan sebelum magrib.
Dan sekarang, satu-satunya kata yang paling ia butuhkan—lenyap dari bahasa.
Ia menutup kamus, membukanya lagi. Tetap tidak ada.
Ia membuka ponsel. Mencari di kamus daring. Mengetik: ibu.
Saran otomatis muncul: ibu kota? ibuprofen? ibuk?
Tidak ada ibu.
Ia mencoba mesin pencari. Hasilnya artikel aneh: “Perubahan Leksikal Spontan dalam Bahasa Sehari-hari”. Ia tidak ingat pernah mendengar fenomena ini. Atau mungkin ia lupa, karena kata yang menjelaskannya sudah hilang.
Ia berdiri, berjalan ke lorong rumah sakit. Mendekati perawat.
“Saya mau tanya … kalau seseorang yang melahirkan kita, biasanya kita sebut apa?”
Perawat itu mengernyit. “Maksudnya?”
“Kata untuk … orang itu.”
Perawat tertawa kecil. “Ya … orang tua perempuan?”
“Bukan. Yang lebih dekat. Yang kita panggil sejak kecil.”
Perawat terdiam. Matanya bergerak, mencari di udara. Seperti orang lupa nama warna.
“Ih … aneh, ya. Saya tahu maksud Embak, tetapi … kok enggak ingat katanya?”
Mira merasa lantai rumah sakit berubah lunak seperti spons.
Ini bukan kamusnya. Ini bahasa.
Ia duduk kembali di kursi ruang tunggu. Otaknya seperti dipenuhi kabut. Ia mencoba mengingat suara masa kecilnya:
“Bu—”
Suaranya terhenti. Lidahnya seperti menabrak dinding tak terlihat.
Ia dapat mengingat wajah perempuan itu. Dapat mengingat pelukannya. Bau minyak kayu putih. Suara batuknya. Akan tetapi, kata untuk menyebutnya hilang.
Dan bersama hilangnya kata itu, muncul sesuatu yang jauh lebih mengerikan:
Perempuan di ICU itu mulai terasa seperti orang asing.
Bahasa adalah jembatan ingatan. Dan jembatan itu runtuh.
Ia masuk ke kamar.
Perempuan itu terbaring, dipenuhi selang. Mira duduk di samping ranjang.
“Aku di sini …,” katanya pelan.
Namun, ia tidak tahu harus memanggilnya apa.
Tanpa kata itu, hubungan mereka terasa kabur. Seperti foto yang kehilangan fokus.
Ia sadar konflik yang sebenarnya bukan lagi soal alat medis. Bagaimana ia bisa memutuskan hidup-mati seseorang yang bahkan tak bisa lagi ia sebut dengan benar?
Jika ia menandatangani pelepasan alat bantu, siapa yang ia lepaskan? Jika ia menolak, siapa yang ia pertahankan?
Jam di dinding berdetak lambat. Waktu terasa seperti tinta yang mengering.
Ia membuka kamus lagi, putus asa. Huruf M.
Makan. Mandi. Mata.
Ia berharap menemukan jejak di definisi lain. Tidak ada.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang membuat napasnya tercekat:
Jika kata ibu hilang dari bahasa, berarti ia hilang dari semua orang. Artinya, di luar sana, jutaan manusia kini tak punya kata untuk memanggil perempuan yang melahirkan mereka.
Mungkin … pelan-pelan, mereka juga mulai tak merasakan kedekatan itu. Hubungan biologis tetap ada. Hubungan linguistik lenyap. Dan yang terakhir biasanya lebih kuat.
Perempuan di ranjang itu membuka mata sedikit. Bibirnya bergerak. Mira mendekat.
“… ra .…”
Ia mencoba memanggil nama Mira.
Mira menahan tangis.
“Ya … aku di sini."
Perempuan itu mencoba lagi. Suaranya serak.
“… Nak .…”
Mira gemetar.
Kata anak masih ada, tetapi pasangannya sudah tidak. Relasi itu kini timpang: ada anak tanpa .…
Ia sadar satu hal yang menyayat: mungkin kata itu dihapus bukan dari kamus, melainkan dari ingatan manusia karena sudah tidak dibutuhkan lagi.
Mungkin dunia perlahan tidak lagi mengenali konsep itu. Mungkin kasih sayang itu sedang punah, dan bahasa hanya mengikuti.
Perawat masuk. “Embak, dokter meminta keputusan sekarang.”
Formulir disodorkan.
Mira memandang tanda tangan yang harus ia buat.
Jika ia menandatangani, ia mengakhiri hidup seseorang yang tidak bisa ia sebut apa-apa. Jika ia tidak menandatangani, ia mempertahankan seseorang yang perlahan kehilangan makna dalam bahasanya.
Ia menatap wajah di ranjang itu. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, hampir tak berbentuk kata, ia berbisik:
“… Bu .…”
Tiba-tiba dadanya seperti disambar listrik. Kata itu kembali. Seperti memecah kaca di kepalanya.
Ia mengulang lebih keras, “Ibu.”
Perawat menoleh. “Ibu?”
Seperti gema, kata itu menyebar. Perawat itu mengulang pelan, “Ibu .…”
Di lorong, seseorang berkata, “Ibu .…”
Seperti virus kebalikan, kata itu menular kembali.
Mira menangis. Ia menandatangani formulir. Bukan karena logika medis. Bukan karena kepastian. Melainkan karena ia akhirnya tahu siapa yang sedang ia lepaskan.
Beberapa menit kemudian, mesin berbunyi panjang.
Mira memeluk tubuh itu.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak takut kehilangan bahasa.
•••
PETA YANG MENOLAK UTARA
Peta di dinding ruang tamu itu mengubah arah utara tepat ketika Nara harus memutuskan ke mana ia akan pulang.
Ayahnya hilang tiga hari lalu di hutan perbatasan. Tim pencari sudah kembali. “Jejaknya buntu,” kata mereka. “Seperti ditelan ruang.”
Di meja, peta tua peninggalan ayah terbentang. Biasanya utara di atas. Namun, pagi ini, utara berpindah ke kiri. Lalu perlahan turun, seperti malu dilihat.
Nara memutar peta. Utara ikut bergerak, menghindar.
Konfliknya sederhana dan mustahil: ia harus berangkat sekarang sebelum hujan turun. Akan tetapi, tanpa utara, semua arah menjadi tuduhan.
Ia menatap kompas. Jarumnya berputar gelisah, seolah membaca peta, bukan bumi.
“Kalau utara tidak mau ada di atas,” gumamnya, “apa artinya pulang?”
Ayahnya selalu berkata, “Pulang itu bukan tempat. Itu arah yang kamu percaya.”
Sekarang arah itu menolak dipercaya.
Jika ia mengikuti kompas, ia mengkhianati peta ayahnya. Jika ia mengikuti peta, ia mengkhianati bumi.
Di sudut peta ada catatan tangan ayah: Kalau tersesat, dengarkan bahasa lumut.
Nara berangkat.
Di hutan, ia menemukan batang-batang pohon penuh lumut. Ia mendekat. Lumut-lumut itu membentuk huruf kabur: U T A R A.
Namun, huruf-huruf itu perlahan menyusun ulang diri menjadi: A R T U.
Bukan utara.
Pintu.
Ia sadar konflik yang sebenarnya: ia tidak sedang mencari arah. Ia sedang diminta memilih, apakah ayahnya masih bagian dari dunia ini atau sudah melewati “pintu” yang tak bisa dipetakan.
Jika ia memaksa mencari, ia mungkin tak pernah pulang. Jika ia pulang sekarang, ayahnya mungkin menunggu di suatu tempat yang tak punya koordinat.
Hujan mulai turun.
Nara menutup mata.
Untuk pertama kalinya, ia berjalan tanpa utara—hanya mengikuti kalimat ayahnya yang tersisa di kepala.
•••
JAM YANG MENOLAK PUKUL TIGA
Jam dinding di kantor polisi itu berhenti di pukul tiga tepat saat Nara harus memberi alibi.
Ia duduk di ruang interogasi. Di luar, hujan deras. Di dalam, detak jam keras—lalu mendadak berhenti.
Pukul tiga.
“Di mana Anda pukul tiga sore?” tanya penyidik.
Nara membuka mulut. Ingatannya kosong, seperti halaman yang dihapus.
Ia ingat pukul dua. Ia ingat pukul empat. Namun, pukul tiga seperti lubang hitam di kepalanya.
“Jawab,” kata penyidik.
Nara menatap jam. Jarumnya tak bergerak. Seolah waktu sendiri menolak menjadi saksi.
Konfliknya kejam: tanpa pukul tiga, ia tampak bersalah. Dengan mengarang pukul tiga, ia mungkin mengkhianati kebenaran yang tak ia ingat.
“Kalau saya bilang saya tidak ingat?”
“Semua orang ingat pukul tiga kalau tidak bersalah.”
Nara tertawa kecil. “Bagaimana kalau pukul tiga memang tidak pernah terjadi?”
Penyidik terdiam.
Lampu berkedip. Di luar, sirene lewat.
Nara tiba-tiba sadar: mungkin bukan ingatannya yang hilang. Mungkin satu jam dari dunia benar-benar terhapus.
Jika ia memaksa mengisi kekosongan itu, ia menciptakan kebohongan yang akan jadi sejarah. Jika ia jujur tentang kekosongan itu, ia jadi pelaku yang paling masuk akal.
Jam tetap di pukul tiga.
Dan Nara harus memilih: menciptakan waktu, atau dihukum oleh waktu yang tidak pernah ada.
•••
FOTO YANG KEHILANGAN WAJAH
Album keluarga itu menghapus wajah Dara tepat ketika ia pulang untuk meminta maaf.
Ia membuka halaman demi halaman. Semua foto ada: ayah, kakak, nenek, bahkan kucing lama. Hanya wajahnya yang kosong—oval putih seperti kabut.
“Aneh, ya,” kata kakaknya. “Dulu kamu paling fotogenik.”
Dara menyentuh kertas itu. Tangannya dingin.
Ia pulang karena sepuluh tahun lalu pergi tanpa pamit setelah bertengkar hebat dengan ibunya. Ia ingin meminta maaf sebelum ibunya operasi besar besok pagi.
Namun, sekarang, bukti bahwa ia pernah menjadi bagian keluarga ini menghilang.
Konfliknya menusuk: bagaimana meminta maaf kalau jejak keberadaanmu saja tak diakui realitas?
Jika ia memaksa mengingatkan mereka, ia tampak seperti orang asing yang memaksa masuk kenangan orang lain. Jika ia diam, ia benar-benar menjadi orang asing.
Ibunya keluar dari kamar, menatapnya lama.
“Kamu … mirip seseorang,” kata ibunya pelan.
Dara menahan napas. “Siapa?”
Ibunya menggeleng. “Lupa.”
Dara nyaris runtuh.
Ia sadar: mungkin ingatan keluarga bekerja seperti foto. Saat wajah dihapus, rasa bersalah juga ikut hilang.
Jika ia berhasil mengembalikan wajahnya ke foto, ia juga mengembalikan luka lama ibunya. Jika ia membiarkannya hilang, ibunya bisa operasi besok tanpa beban kenangan pahit.
Malam itu, Dara duduk memandangi album. Ia bisa menggambar ulang wajahnya di sana. Atau membiarkan dirinya tidak pernah ada.
Dan untuk pertama kalinya, meminta maaf terasa lebih egois daripada menghilang.
•••
SURAT YANG DATANG SEBELUM KEMATIAN
Pagi itu, sebelum kopi sempat mendidih, Aru sudah membaca surat kematiannya sendiri.
Amplop cokelat itu tergeletak di bawah pintu, tanpa prangko, tanpa nama pengirim. Hanya namanya tertulis di depan dengan tinta biru yang ia kenali betul—tulisannya sendiri.
Ia membukanya dengan jari gemetar.
Aru, kamu akan mati malam ini, pukul 21.40. Bukan karena penyakit. Bukan karena kecelakaan. Kamu akan mati karena pilihanmu sendiri. Jika kamu ingin selamat, jangan lakukan apa yang sangat ingin kamu lakukan malam ini.
Jam di dinding menunjukkan 06.12.
Aru duduk lama di kursi dapur. Ia membaca surat itu berulang-ulang sampai huruf-hurufnya seperti merayap keluar dari kertas. Ia mencoba mengingat: apa yang sangat ingin ia lakukan malam ini?
Lalu ia ingat.
Malam ini ia berencana mengunjungi ibunya di rumah sakit.
Ibunya sudah tiga bulan koma. Dokter bilang, kecil kemungkinan sadar. Suster bilang, kadang orang koma bisa mendengar. Kakaknya bilang, percuma datang tiap malam, tidak ada perubahan.
Namun, Aru tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu.
Sebelum koma, ibunya memegang tangannya erat dan berbisik, “Kalau Ibu tak bangun-bangun, cabut saja selangnya. Ibu sudah lelah.”
Permintaan itu menghantuinya. Setiap malam ia datang, duduk di samping ranjang, memandangi selang oksigen, menimbang-nimbang keberanian.
Dan malam ini—entah kenapa—ia merasa siap.
Ia menatap kembali surat itu.
Jika kamu ingin selamat, jangan lakukan apa yang sangat ingin kamu lakukan malam ini.
Jadi … kalau ia pergi ke rumah sakit dan menuruti permintaan ibunya, ia akan mati?
Atau … kalau ia tidak pergi, ibunya akan terus terjebak di antara hidup dan mati?
Aru tertawa pendek. “Bagus. Hidup berubah jadi teka-teki murahan.”
Ia mencoba rasional. Mungkin ini lelucon. Mungkin ia pernah menulisnya saat mabuk. Mungkin seseorang iseng. Akan tetapi, bagaimana orang itu tahu rencananya malam ini? Bahkan ia sendiri baru memutuskannya dini hari tadi.
Sepanjang hari, ia tidak bisa bekerja. Pikirannya seperti tali kusut:
Jika surat ini benar → ia mati.
Jika surat ini salah → ibunya menderita lebih lama.
Menjelang sore, ia menemukan detail lain di surat itu yang membuat dadanya mengeras.
Di bagian bawah ada kalimat kecil:
Kamu sudah pernah menerima surat ini. Dan kamu tetap pergi.
Tangannya dingin.
Sudah pernah?
Ia memeriksa laci meja, buku catatan, email, ponsel. Tidak ada jejak. Namun, ada sesuatu yang aneh: di kalender ponselnya, tanggal hari ini memiliki tanda bintang. Ia tidak ingat pernah menandainya.
Pukul 19.10.
Ia berdiri di ruang tamu, kunci mobil di tangan.
Ia bisa saja tidak pergi. Tinggal di rumah. Mengunci pintu. Selamat.
Ibunya tetap koma, tetapi ia hidup.
Ia bisa pergi. Mungkin surat ini bohong. Mungkin ini hanya paranoia. Ia menuruti permintaan ibunya. Ia menjadi anak yang baik.
Dan mungkin mati.
Ia duduk lagi.
Ia sadar satu hal yang lebih mengerikan daripada kematian: jika ia tidak pergi, ia akan hidup dengan satu pertanyaan yang tidak pernah selesai—bagaimana jika surat itu salah?
Pukul 20.02.
Aru mengambil jaket.
Dalam perjalanan, pikirannya semakin kacau. Ia merasa seperti sedang berjalan di jalur yang sudah pernah ia lalui. Lampu merah yang sama. Pedagang nasi goreng yang sama. Lagu di radio yang sama.
Déjà vu itu bukan perasaan. Itu kepastian.
Ia pernah menjalani malam ini.
Pukul 20.47, ia tiba di rumah sakit.
Koridor lengang. Bau disinfektan menusuk. Ia masuk ke kamar ibunya. Mesin berdetak pelan. Tubuh ibunya kurus, nyaris seperti bayangan manusia.
Ia duduk. Menatap selang oksigen. Surat itu seperti berbicara di kepalanya.
Kamu sudah pernah menerima surat ini. Dan kamu tetap pergi.
Aru berbisik, “Ibu, aku tidak tahu mana yang benar. Kalau aku cabut ini, mungkin aku mati. Kalau tidak, Ibu yang terus begini.”
Untuk pertama kalinya, ia menyadari: ini bukan pilihan antara hidup dan mati. Ini pilihan antara hidup dengan rasa bersalah atau mati dengan rasa lega.
Jam di dinding kamar berdetak keras.
21.38.
Dua menit lagi.
Tangannya menyentuh selang. Ia berhenti. Ia menangis pelan.
“Aku capek, Bu .…”
21.39.
Ia menarik napas panjang.
Lalu—
Ia melepaskan tangannya dari selang. Ia tidak jadi mencabutnya. Ia terduduk lemas di kursi.
21.40.
Tidak ada apa-apa. Ia masih hidup. Ia tertawa histeris. “Surat bodoh. Aku hidup!”
Lalu, mesin di samping ranjang berbunyi panjang.
Piiiiiiiiiiiiiiii—
Ia menoleh.
Ibunya meninggal.
Perawat berlari masuk. Dokter dipanggil. Aru berdiri terpaku.
Ia tidak menyentuh apa pun. Ia tidak melakukan apa pun. Akan tetapi, ibunya tetap meninggal.
Beberapa menit kemudian, ketika ia keluar dari kamar, kakinya lemas. Di saku jaketnya, ia merasakan sesuatu.
Amplop cokelat.
Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkannya.
Namanya tertulis di depan. Tinta biru. Tulisannya sendiri.
Ia belum pernah menulis ini.
Perlahan ia membuka. Di dalamnya hanya satu kalimat:
Terima kasih sudah memilih hidup. Maaf, kali ini Ibu yang harus mati.
•••
HUTAN YANG TUMBUH DARI IMBUHAN
Hutan di utara kota tidak ditumbuhi pohon. Ia ditumbuhi imbuhan. Me-, di-, ter-, ber-, per-, ke-an.
Mereka menempel di udara seperti daun. Orang yang berjalan melewatinya pulang dengan bentuk baru.
Seorang lelaki masuk sebagai “lihat”. Keluar sebagai “melihat”. Tubuhnya terasa lebih aktif.
Seorang perempuan masuk sebagai “buka”. Keluar sebagai “terbuka”. Ia tidak bisa menutup diri lagi.
Aku masuk sebagai “tahu”. Keluar sebagai “ketahuan”.
Sejak itu, orang-orang mudah membaca wajahku.
•••
STASIUN YANG DIPENUHI KALIMAT TIDAK LANGSUNG
Di stasiun ini, tidak ada yang berbicara langsung. Semua percakapan berbentuk kalimat tidak langsung.
Ia mengatakan bahwa ia akan pergi. Mereka bertanya apakah kereta sudah datang.
Suara-suara terdengar seperti jarak. Orang-orang jarang saling menatap. Seolah setiap ucapan harus melewati orang ketiga sebelum sampai.
Aku mencoba berbicara langsung kepada seseorang. “Aku menunggumu.”
Suasana menjadi sunyi.
Papan jadwal berhenti berdetak. Rel-rel terasa terlalu dekat.
Orang itu menatapku seperti aku baru saja melompati jarak yang selama ini menjaga kota tetap aman.
•••
TOKO YANG MENJUAL ANTONIM
Di sudut kota, ada toko kecil yang hanya menjual antonim.
Jika kau membeli “terang”, kau juga harus membawa pulang “gelap”.
Jika kau memilih “tenang”, kau akan diberi “gelisah” sebagai bonus.
Orang-orang datang untuk menyeimbangkan hidup mereka.
Aku membeli “ingat”. Penjaga toko memberiku “lupa”.
Sejak itu, setiap kali aku mengingat sesuatu dengan jelas, bagian lain dari hidupku memudar tanpa alasan.
•••
KAMUS YANG MENGHAPUS PEMILIKNYA
Kata pertama yang hilang dari tubuh Ibu adalah namanya. Bukan ingatannya. Bukan wajahnya. Bukan suaranya. Namanya.
Pagi itu, di meja makan, aku memanggilnya seperti biasa.
"Ibu."
Ia menoleh. Tersenyum. Mengambil cangkir teh. Mengaduk gula.
Namun, ketika aku berkata, "Bu, nama Ibu siapa?"
Sendok di tangannya berhenti. Bukan karena lupa, melainkan karena pertanyaan itu terdengar keliru. Seperti bertanya: Apa warna dari angka satu?
Ia membuka mulut, menutupnya lagi. Mengernyit. "Aneh," katanya pelan. "Kok rasanya tidak perlu, ya.'
Aku tertawa. Ia ikut tertawa.
Akan tetapi, sepanjang hari, sesuatu di rumah itu terasa berpindah tempat. Seperti lemari yang digeser dua sentimeter ke kanan. Tidak terlihat, tetapi tubuh terus menabraknya.
Di rak buku ruang tamu, ada sebuah kamus tua yang tidak pernah kami beli. Sampulnya kain cokelat. Tidak ada judul. Tidak ada penerbit. Tidak ada tahun.
Buku itu selalu ada di sana, seperti anggota keluarga yang pendiam.
Malamnya, aku membukanya.
Pada halaman pertama tertulis:
Nama: kata yang menempel pada manusia agar manusia bisa dibedakan dari yang lain.
Aku tertawa kecil. Lalu, kubuka halaman berikutnya.
Kosong.
Halaman berikutnya.
Kosong.
Halaman berikutnya.
Kosong.
Seakan kamus itu hanya memiliki satu definisi.
Hari kedua, kata "Ibu" tidak lagi terdengar tepat.
Bukan salah. Hanya ... tidak pas.
Ketika aku mengucapkannya, rasanya seperti memakai sepatu milik orang lain.
Ia tetap menjawab, tetapi kami sama-sama merasa sedang pura-pura.
"Panggil aku apa saja," katanya santai.
Aneh. Tidak ada kegelisahan. Tidak ada ketakutan.
Justru aku yang merasa panik. Karena sesuatu sedang terlepas, dan hanya aku yang menyadarinya.
Hari ketiga, aku membuka kamus itu lagi.
Definisinya berubah.
Nama: bekas tempelan yang tertinggal setelah seseorang terlalu lama dipanggil.
Aku menutup buku itu pelan. Aku tidak ingat pernah membaca kalimat itu sebelumnya.
Hari keempat, Ibu tidak lagi mengenal namaku.
Bukan lupa. Ia memanggilku dengan gerakan tangan. Dengan tatapan. Dengan suara tanpa panggilan. Dan anehnya—aku tetap tahu ia memanggilku. Seolah nama selama ini hanya gangguan kecil dalam percakapan.
Kami mulai berbicara tanpa kata ganti orang, tanpa sapaan, tanpa panggilan.
Aneh. Lebih lancar. Lebih jujur. Lebih dekat.
Hari kelima, aku membuka kamus itu dengan gemetar.
Definisinya berubah lagi.
Nama: jarak tipis antara manusia dengan manusia lainnya.
Aku mulai mengerti. Kamus itu tidak menjelaskan apa pun. Ia hanya mencatat sesuatu yang sedang terjadi.
Hari keenam, aku mencoba mengingat namaku sendiri. Rasanya seperti mencoba mengingat bau hujan tiga bulan lalu.
Aku tahu pernah ada, tetapi tidak bisa menggenggamnya.
Di cermin, wajahku tampak asing. Bukan karena berubah, melainkan karena tidak lagi memiliki label.
Aku bukan siapa-siapa. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku—rasanya ringan.
Hari ketujuh, kamus itu hanya berisi satu kalimat:
Jika semua nama hilang, siapa yang tersisa?
Aku duduk lama di lantai. Ibu duduk di sampingku. Kami tidak saling memanggil, tidak saling menyebut, tetapi kami tahu. Kami masih ada. Tanpa kata. Tanpa penanda. Tanpa jarak.
Malamnya, aku menyadari sesuatu yang membuatku takut. Bukan karena kami kehilangan nama, melainkan karena kami tidak membutuhkannya.
Dan jika nama memang tidak diperlukan—maka selama ini kami hidup di dalam sesuatu yang tidak pernah kami perlukan.
Pagi terakhir, rak buku itu kosong. Kamus itu hilang. Aku tidak ingat pernah memilikinya.
Ibu duduk di meja makan.
Ia tersenyum. Aku tersenyum. Kami saling memahami tanpa menyebut apa pun. Tanpa menyadari apa pun yang hilang. Tanpa merasa ada yang kurang. Hanya ada dua keberadaan yang tidak perlu dibedakan.
Di dalam keheningan itu—tidak ada lagi yang perlu diberi nama.
•••
KOTA YANG DIJAHIT DENGAN JARUM WAKTU
Di kota ini, setiap orang memiliki jahitan di tubuhnya. Bukan bekas luka. Bukan operasi. Jahitan yang aktif.
Benang tipis keluar dari kulit, menjulur, masuk lagi, menyilang di dada, di punggung, di leher. Setiap orang berbeda pola. Ada yang seperti jaring laba-laba. Ada yang seperti peta sungai. Ada yang seperti tulisan tangan yang tak bisa dibaca.
Tidak ada yang ingat kapan mulai dijahit. Tidak ada yang merasa pernah dijahit.
Namun, setiap pagi, orang-orang bangun dengan pola baru di tubuh mereka. Dan semua orang tahu satu hal tanpa pernah diberi tahu: benang itu adalah waktu mereka.
Aku pertama kali sadar ketika jahitanku menyangkut pada gagang pintu.
Aku hendak keluar rumah. Benang di dadaku tertarik. Ada rasa nyeri yang bukan nyeri. Seperti ingatan yang ditarik paksa.
Aku melihat ke bawah. Benangku kusut. Padat. Bertumpuk. Seperti seseorang menjahit tanpa pola, terburu-buru.
Sementara tetanggaku, seorang lelaki tua yang sering duduk di kursi rotan, memiliki jahitan yang rapi, jarang, hampir lurus.
Ia terlihat ringan. Aku terlihat penuh.
Di pasar, orang-orang berjalan hati-hati agar benang mereka tidak saling terkait. Kadang tetap terjadi.
Dua orang berhenti, saling menatap canggung, lalu dengan pelan melepaskan benang dari tubuh masing-masing.
Tidak ada marah. Tidak ada maaf. Hanya pemahaman sunyi bahwa waktu mereka sempat tersangkut.
Beberapa orang memilih menyendiri karena benangnya terlalu panjang dan mudah terseret ke mana-mana. Beberapa orang memilih keramaian karena benangnya pendek dan mereka takut menghilang.
Aku mulai memerhatikan pola.
Semakin sering aku memikirkan masa lalu, benang di punggungku menebal. Semakin sering aku memikirkan masa depan, benang di dadaku memanjang.
Ketika aku berhenti memikirkan apa pun, benang itu mengendur. Hampir lepas. Saat itulah aku merasa paling takut.
Suatu malam, aku terbangun karena rasa tertarik yang kuat. Benangku menegang. Aku mengikuti arahnya keluar rumah.
Di ujung gang, seorang perempuan berdiri. Benang dari tubuhnya terulur panjang, menyilang jalan, masuk ke dadaku.
Kami saling memandang. Tidak saling kenal, tetapi benang kami saling menjahit.
Ia tidak bicara. Aku tidak bicara. Kami hanya berdiri, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.
Lalu perlahan, benang itu mengendur sendiri. Kami berpisah.
Sejak malam itu, pola di dadaku berubah. Ada simpul baru yang tidak pernah bisa kurapikan.
Orang-orang di kota ini tidak pernah membicarakan jahitan. Seperti kita tidak pernah membicarakan cara bernapas.
Namun, semua tindakan mereka menyesuaikannya. Orang yang jahitannya terlalu padat berjalan lambat. Orang yang jahitannya longgar sering lupa jalan pulang.
Ada yang tiba-tiba jatuh di jalan karena benangnya putus. Tubuhnya tetap ada, tetapi tidak ada yang bisa menemukannya lagi.
Aku mulai mencoba sesuatu. Setiap kali kenangan datang, aku menolaknya. Setiap kali bayangan masa depan muncul, aku mematikannya. Aku melatih diri hidup hanya di detik ini.
Perlahan, jahitanku menipis. Benang di tubuhku semakin jarang. Aku merasa ringan. Terlalu ringan. Orang-orang mulai sulit melihatku di keramaian.
Suatu hari, seorang pedagang menabrakku tanpa sadar. Benangnya menembus tubuhku seperti menembus udara. Ia tidak meminta maaf. Ia tidak tahu aku ada.
Aku pulang dengan panik.
Di cermin, jahitanku tinggal beberapa helai tipis. Seperti tubuh yang nyaris tidak lagi terikat pada apa pun.
Aku sadar sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun: Terlalu banyak waktu membuat kita berat. Terlalu sedikit waktu membuat kita hilang.
Malam berikutnya, aku sengaja duduk di ruang tamu, memanggil kenangan satu per satu. Wajah ayah. Bau dapur ibu. Suara hujan masa kecil.
Perlahan, benang itu kembali muncul dari kulitku. Menebal. Menyilang. Menyakitkan. Aku menangis lega.
Untuk pertama kalinya, rasa sakit itu terasa seperti keberadaan.
Keesokan paginya, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat.
Di ujung benang-benang orang lain, ada jarum kecil. Sangat kecil. Hampir tak terlihat. Dan jarum itu tidak diam.
Ia menjahit.
Bukan kita yang dijahit oleh waktu. Kitalah yang tanpa sadar menjahit diri kita sendiri. Dengan ingatan. Dengan harapan. Dengan penyesalan. Dengan ketakutan.
Aku melihat lelaki tua di kursi rotan. Jahitannya rapi karena ia jarang mengingat dan jarang berharap.
Ia hidup tipis. Nyaris tidak terikat. Nyaris tidak ada. Dan mungkin itulah sebabnya ia tampak damai.
Hari itu, aku berhenti berjalan hati-hati. Aku membiarkan benangku terseret. Tersangkut. Tersilang dengan banyak orang. Rasanya kacau. Rasanya berat. Rasanya hidup.
Di tengah keramaian pasar, benang-benang itu saling mengikat tanpa bisa dihindari.
Orang-orang berhenti. Saling menatap.
Kami semua terjerat. Tidak ada yang bisa bergerak. Dan untuk pertama kalinya, kami menyadari sesuatu yang selalu ada: Kota ini bukan dijahit oleh waktu. Kota ini dijahit oleh kita yang terus menolak lepas dari waktu.
Malamnya, banyak orang tidur dengan tubuh penuh simpul. Aku juga.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak ingin merapikannya. Karena di antara kusut itu, aku tahu persis di mana batas tubuhku berada. Bukan di kulit. Bukan di tulang. Melainkan di tempat benang-benang itu paling tegang.
Di sanalah aku berakhir. Dan yang lain dimulai.
•••
RUMAH YANG DIBANGUN DARI TATA BAHASA
Di rumah ini, kalimat menentukan arah pintu. Aku tahu karena semalam pintu dapur berpindah ke langit-langit setelah aku mengatakan, "Aku tidak tahu harus ke mana lagi."
Pagi ini, aku bangun dan menemukan jendela berubah menjadi tanda kurung. Cahaya masuk dalam bentuk sisipan. Udara terasa seperti keterangan tambahan yang bisa dihapus tanpa mengubah makna utama ruangan.
Aku berjalan hati-hati.
Lantai rumah adalah kalimat majemuk. Jika salah menginjak anak kalimat, tubuh dapat terseret ke ruang yang belum selesai.
Aku pernah jatuh ke klausa bawahan selama dua hari. Di sana tidak ada waktu. Hanya penjelasan yang tidak pernah menjadi inti.
Ibuku dulu tinggal di ruang aktif. Ia menyukai kalimat-kalimat yang punya subjek jelas dan predikat tegas. Ruangnya kokoh. Dindingnya lurus. Langit-langitnya tidak pernah ragu.
Aku tinggal di ruang pasif. Di kamarku, segala sesuatu terjadi tanpa pelaku. Kursi diduduki. Air diminum. Lampu dimatikan. Tidak pernah jelas oleh siapa.
Awalnya terasa nyaman. Lama-lama aku tidak yakin, apakah aku benar-benar ada di dalam tindakan-tindakan itu.
Di lorong, ada rak panjang berisi kata sambung. Setiap kali aku mengucapkan "tetapi", lorong memanjang. Setiap kali aku mengucapkan "dan", lorong bercabang.
Aku belajar berbicara dengan sangat pelan, sangat hemat, karena rumah ini mendengarkan struktur, bukan suara.
Suatu sore, seorang tamu datang. Ia berdiri di depan rumah dan berkata, "Bolehkah saya masuk?"
Kalimat itu membuat sebuah pintu muncul di dinding yang sebelumnya rata.
Aku mempersilakannya.
Ia duduk di kursi yang terbentuk dari kata benda yang belum pernah kupakai. Kursi itu goyah, seperti identitas yang baru belajar berdiri.
Kami berbicara sebentar. Setiap pertanyaannya memunculkan jendela baru. Setiap jawabanku menggeser letak atap. Rumah ini tidak menyukai dialog. Rumah ini menyukai pernyataan.
Malamnya, aku mengatakan tanpa sengaja, "Aku merasa seperti keterangan yang tidak penting."
Seketika, kamarku menyempit. Dinding bergerak mendekat. Langit-langit turun perlahan. Aku berdiri di tengah ruang yang semakin menjadi catatan kaki.
Aku mencoba memperbaikinya. "Aku penting."
Tidak terjadi apa-apa. Rumah ini tidak mengenal penegasan. Ia hanya tunduk pada susunan.
Aku mengubah kalimatku. "Aku adalah subjek."
Dinding berhenti bergerak. Langit-langit naik sedikit. Udara kembali berbentuk kalimat utuh.
Sejak itu, aku berhati-hati dengan tata bahasa pikiranku. Karena rumah ini tidak membedakan antara yang diucapkan dan yang disusun di kepala.
Hari-hari berikutnya, aku mulai menemukan ruangan-ruangan yang tidak pernah ada sebelumnya.
Sebuah ruang tanya, penuh tanda tanya yang menggantung dari plafon seperti lampu. Di sana, semua benda ragu-ragu terhadap bentuknya sendiri.
Sebuah ruang seru, penuh sudut tajam dan gema yang keras. Tidak nyaman ditinggali lama-lama.
Sebuah ruang elipsis .…
Aku tidak pernah berhasil keluar dengan ingatan utuh dari sana.
Tamu itu kembali. Ia berdiri di depan rumah dan tidak mengatakan apa pun.
Tidak ada pintu. Ia menatapku dari luar, menunggu.
Aku sadar sesuatu. Rumah ini tidak dibangun dari dinding. Rumah ini dibangun dari struktur yang mengizinkan sesuatu masuk.
Aku berkata, "Silakan."
Pintu muncul lagi.
Ia masuk.
Kami duduk tanpa bicara.
Rumah tetap kukuh.
Untuk pertama kalinya, tidak ada yang berpindah.
Lalu ia berkata pelan, "Kamu sering tinggal di kalimat orang lain."
Lantai bergetar. Sebuah retakan muncul di antara ubin-ubin klausa. Aku ingin menyangkal, tetapi rumah ini membenci bantahan yang tidak terstruktur.
Aku berkata, "Aku tidak tahu kalimat mana yang milikku."
Atap runtuh menjadi koma-koma kecil yang berjatuhan seperti hujan keraguan.
Kami berdiri di tengah rumah yang berubah menjadi paragraf tanpa titik. Ruangan memanjang tanpa henti. Lorong-lorong saling menelan. Kata sambung berjatuhan dari rak. Semua menjadi satu kalimat yang tidak pernah selesai.
Aku merasa tubuhku ikut memanjang, menjadi frasa yang terseret jauh dari subjeknya.
Aku mencoba berkata sesuatu untuk menghentikan semua ini, tetapi sebelum sempat menyusun kalimat, aku sadar: Selama ini aku tidak tinggal di rumah. Aku tinggal di tata bahasa yang kupakai untuk memikirkan diriku sendiri.
Aku menarik napas.
Untuk pertama kalinya, aku tidak menyusun apa pun.
Tidak ada subjek. Tidak ada predikat. Tidak ada keterangan.
Rumah berhenti. Diam. Rata. Seperti halaman kosong.
Tamu itu berdiri di depanku.
Untuk pertama kalinya, ia tidak dibingkai oleh kalimat apa pun. Dan aku tidak perlu mengucapkan sesuatu agar ia tetap ada.
•••
SUNGAI YANG MENGALIR DARI KATA KERJA
Di kota ini, air tidak mengalir dari hulu ke hilir. Air mengalir dari kata kerja ke akibatnya.
Ketika seseorang berkata "meninggalkan", parit-parit kecil terbuka di jalan, dan air mengalir menjauhi rumah-rumah.
Ketika seseorang berkata "kembali", genangan-genangan terbentuk di halaman depan.
Semua orang belajar berbicara dengan hati-hati agar tidak kebanjiran oleh tindakannya sendiri.
Aku tinggal di rumah yang sering tergenang.
Bukan karena hujan, melainkan aku sering memakai kata kerja yang tidak selesai.
"Akan pergi."
"Ingin memulai."
"Nyaris menyerah."
Air setinggi mata kaki mengendap di ruang tamu, menunggu sesuatu benar-benar dilakukan.
Di pasar, orang-orang menimbang kata sebelum mengucapkannya.
Seorang ibu pernah berkata "membuang" terlalu keras.
Selokan meluap.
Barang-barang di kiosnya hanyut, meski tangannya tidak bergerak sedikit pun.
Ia berdiri kering, dikelilingi benda-benda yang basah oleh tindakannya sendiri.
Aku mulai memerhatikan bahwa air paling deras mengalir dari orang-orang yang jarang bertindak.
Kata kerja mereka menumpuk, tak pernah sampai ke muara.
Kota ini penuh genangan niat.
Suatu hari aku berkata, "Aku mencintaimu," kepada seseorang yang berdiri di depan pintu.
Tak ada yang terjadi.
Lantai tetap kering.
Ia menatapku lama, lalu berkata pelan, "Kata kerjamu tidak menemukan objek."
Di luar, parit-parit tetap kosong.
Malamnya, aku berkata sendirian, "Aku berhenti."
Dari bawah ranjang, air mulai merembes. Bukan deras. Hanya cukup untuk membasahi telapak kaki.
Aku tidak tahu apa yang sedang kuhentikan, tetapi sungai kecil itu tahu.
•••
KEBUN YANG DITANAMI KATA BENDA
Di halaman belakang rumahku, tanah dipenuhi kata benda. Batu, kursi, kenangan, wajah, musim, suara. Mereka tumbuh dari tanah seperti tanaman. Jika tidak dipetik, mereka membesar dan mengambil ruang.
Aku pernah membiarkan "penyesalan" tumbuh terlalu lama. Akarnya merusak fondasi dapur. Sejak itu aku rajin memanen.
Tetanggaku menanam banyak "harapan". Kebunnya rimbun. Sulit dilalui. Ia sering tersesat di antara daunnya sendiri.
Suatu sore, aku menanam kata "aku". Kupikir ia akan kecil. Ternyata ia tumbuh paling cepat. Batangnya keras. Dahannya banyak. Daunnya menutupi cahaya untuk kata benda lain.
Kebunku menjadi teduh oleh diriku sendiri. Aku kesulitan merawat yang lain.
•••
JALAN YANG DIBUKA OLEH KATA DEPAN
Di kota ini, arah ditentukan oleh kata depan.
Ketika orang berkata "ke", jalan memanjang. Ketika orang berkata "dari", jalan memendek. Ketika orang berkata "di", semua berhenti.
Orang-orang jarang mengatakan "di".
Kota ini panjang sekali. Tak ada yang betah menetap.
Aku mencoba hidup dengan "di".
"Aku di sini."
Jalan di bawah kakiku berhenti tumbuh. Orang-orang menabrakku karena mereka masih bergerak oleh "ke" dan "dari".
Aku berdiri seperti titik yang tidak disukai peta.
Seorang lelaki berhenti di depanku.
Ia berkata, "Aku di sini juga."
Untuk pertama kalinya, dua orang tidak bergerak. Jalan di sekitar kami pun bingung, tidak tahu harus memanjang atau memendek.
•••
TUBUH YANG DIPENUHI TANDA BACA
Sejak kecil, kulitku dipenuhi tanda baca. Titik di bahu. Koma di pergelangan tangan. Titik dua di leher.
Setiap kali aku ragu, koma di tanganku terasa gatal. Setiap kali aku yakin, titik di bahuku terasa hangat.
Suatu hari, tanda tanya muncul di dada. Aku tidak ingat menanyakannya. Sejak itu, napasku pendek-pendek. Paru-paruku seperti ruang interogasi.
Aku bertemu seseorang tanpa tanda baca apa pun di tubuhnya. Kulitnya polos. Kalimat-kalimat di sekitarnya terdengar datar, panjang, melelahkan.
Aku sadar tanda baca bukan hiasan. Ia adalah cara tubuh mengatur jeda dari dirinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar