CERPEN LINGUISTIK
KAMUS YANG KEHILANGAN KATA “IBU”
Kamus itu menghapus kata ibu tepat pada hari Mira harus memanggil ibunya untuk terakhir kali.
Ia menyadarinya di ruang tunggu ICU, ketika mencoba menenangkan diri dengan membuka kamus kecil yang selalu ia bawa. Kebiasaan lama sejak kuliah linguistik: kalau panik, baca definisi. Dunia terasa lebih rapi saat kata-kata punya pagar.
Ia membuka huruf I.
Ibis. Iblis. Ibu kota.
Tidak ada ibu.
Mira mengedip. Membalik halaman. Mengulang. Kata itu benar-benar hilang, seperti tak pernah ada. Bukan tercoret. Bukan robek. Tidak pernah dicetak.
Dadanya bergetar.
Pagi tadi, dokter berkata ibunya hanya punya waktu beberapa jam. Mereka menunggu keputusan Mira: lanjutkan alat bantu hidup, atau lepaskan. Tanda tangan itu harus ia berikan sebelum magrib.
Dan sekarang, satu-satunya kata yang paling ia butuhkan—lenyap dari bahasa.
Ia menutup kamus, membukanya lagi. Tetap tidak ada.
Ia membuka ponsel. Mencari di kamus daring. Mengetik: ibu.
Saran otomatis muncul: ibu kota? ibuprofen? ibuk?
Tidak ada ibu.
Ia mencoba mesin pencari. Hasilnya artikel aneh: “Perubahan Leksikal Spontan dalam Bahasa Sehari-hari”. Ia tidak ingat pernah mendengar fenomena ini. Atau mungkin ia lupa, karena kata yang menjelaskannya sudah hilang.
Ia berdiri, berjalan ke lorong rumah sakit. Mendekati perawat.
“Saya mau tanya … kalau seseorang yang melahirkan kita, biasanya kita sebut apa?”
Perawat itu mengernyit. “Maksudnya?”
“Kata untuk … orang itu.”
Perawat tertawa kecil. “Ya … orang tua perempuan?”
“Bukan. Yang lebih dekat. Yang kita panggil sejak kecil.”
Perawat terdiam. Matanya bergerak, mencari di udara. Seperti orang lupa nama warna.
“Ih … aneh, ya. Saya tahu maksud Embak, tetapi … kok enggak ingat katanya?”
Mira merasa lantai rumah sakit berubah lunak seperti spons.
Ini bukan kamusnya. Ini bahasa.
Ia duduk kembali di kursi ruang tunggu. Otaknya seperti dipenuhi kabut. Ia mencoba mengingat suara masa kecilnya:
“Bu—”
Suaranya terhenti. Lidahnya seperti menabrak dinding tak terlihat.
Ia dapat mengingat wajah perempuan itu. Dapat mengingat pelukannya. Bau minyak kayu putih. Suara batuknya. Akan tetapi, kata untuk menyebutnya hilang.
Dan bersama hilangnya kata itu, muncul sesuatu yang jauh lebih mengerikan:
Perempuan di ICU itu mulai terasa seperti orang asing.
Bahasa adalah jembatan ingatan. Dan jembatan itu runtuh.
Ia masuk ke kamar.
Perempuan itu terbaring, dipenuhi selang. Mira duduk di samping ranjang.
“Aku di sini …,” katanya pelan.
Namun, ia tidak tahu harus memanggilnya apa.
Tanpa kata itu, hubungan mereka terasa kabur. Seperti foto yang kehilangan fokus.
Ia sadar konflik yang sebenarnya bukan lagi soal alat medis. Bagaimana ia bisa memutuskan hidup-mati seseorang yang bahkan tak bisa lagi ia sebut dengan benar?
Jika ia menandatangani pelepasan alat bantu, siapa yang ia lepaskan? Jika ia menolak, siapa yang ia pertahankan?
Jam di dinding berdetak lambat. Waktu terasa seperti tinta yang mengering.
Ia membuka kamus lagi, putus asa. Huruf M.
Makan. Mandi. Mata.
Ia berharap menemukan jejak di definisi lain. Tidak ada.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang membuat napasnya tercekat:
Jika kata ibu hilang dari bahasa, berarti ia hilang dari semua orang. Artinya, di luar sana, jutaan manusia kini tak punya kata untuk memanggil perempuan yang melahirkan mereka.
Mungkin … pelan-pelan, mereka juga mulai tak merasakan kedekatan itu. Hubungan biologis tetap ada. Hubungan linguistik lenyap. Dan yang terakhir biasanya lebih kuat.
Perempuan di ranjang itu membuka mata sedikit. Bibirnya bergerak. Mira mendekat.
“… ra .…”
Ia mencoba memanggil nama Mira.
Mira menahan tangis.
“Ya … aku di sini."
Perempuan itu mencoba lagi. Suaranya serak.
“… Nak .…”
Mira gemetar.
Kata anak masih ada, tetapi pasangannya sudah tidak. Relasi itu kini timpang: ada anak tanpa .…
Ia sadar satu hal yang menyayat: mungkin kata itu dihapus bukan dari kamus, melainkan dari ingatan manusia karena sudah tidak dibutuhkan lagi.
Mungkin dunia perlahan tidak lagi mengenali konsep itu. Mungkin kasih sayang itu sedang punah, dan bahasa hanya mengikuti.
Perawat masuk. “Embak, dokter meminta keputusan sekarang.”
Formulir disodorkan.
Mira memandang tanda tangan yang harus ia buat.
Jika ia menandatangani, ia mengakhiri hidup seseorang yang tidak bisa ia sebut apa-apa. Jika ia tidak menandatangani, ia mempertahankan seseorang yang perlahan kehilangan makna dalam bahasanya.
Ia menatap wajah di ranjang itu. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, hampir tak berbentuk kata, ia berbisik:
“… Bu .…”
Tiba-tiba dadanya seperti disambar listrik. Kata itu kembali. Seperti memecah kaca di kepalanya.
Ia mengulang lebih keras, “Ibu.”
Perawat menoleh. “Ibu?”
Seperti gema, kata itu menyebar. Perawat itu mengulang pelan, “Ibu .…”
Di lorong, seseorang berkata, “Ibu .…”
Seperti virus kebalikan, kata itu menular kembali.
Mira menangis. Ia menandatangani formulir. Bukan karena logika medis. Bukan karena kepastian. Melainkan karena ia akhirnya tahu siapa yang sedang ia lepaskan.
Beberapa menit kemudian, mesin berbunyi panjang.
Mira memeluk tubuh itu.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak takut kehilangan bahasa.
•••
PETA YANG MENOLAK UTARA
Peta di dinding ruang tamu itu mengubah arah utara tepat ketika Nara harus memutuskan ke mana ia akan pulang.
Ayahnya hilang tiga hari lalu di hutan perbatasan. Tim pencari sudah kembali. “Jejaknya buntu,” kata mereka. “Seperti ditelan ruang.”
Di meja, peta tua peninggalan ayah terbentang. Biasanya utara di atas. Namun, pagi ini, utara berpindah ke kiri. Lalu perlahan turun, seperti malu dilihat.
Nara memutar peta. Utara ikut bergerak, menghindar.
Konfliknya sederhana dan mustahil: ia harus berangkat sekarang sebelum hujan turun. Akan tetapi, tanpa utara, semua arah menjadi tuduhan.
Ia menatap kompas. Jarumnya berputar gelisah, seolah membaca peta, bukan bumi.
“Kalau utara tidak mau ada di atas,” gumamnya, “apa artinya pulang?”
Ayahnya selalu berkata, “Pulang itu bukan tempat. Itu arah yang kamu percaya.”
Sekarang arah itu menolak dipercaya.
Jika ia mengikuti kompas, ia mengkhianati peta ayahnya. Jika ia mengikuti peta, ia mengkhianati bumi.
Di sudut peta ada catatan tangan ayah: Kalau tersesat, dengarkan bahasa lumut.
Nara berangkat.
Di hutan, ia menemukan batang-batang pohon penuh lumut. Ia mendekat. Lumut-lumut itu membentuk huruf kabur: U T A R A.
Namun, huruf-huruf itu perlahan menyusun ulang diri menjadi: A R T U.
Bukan utara.
Pintu.
Ia sadar konflik yang sebenarnya: ia tidak sedang mencari arah. Ia sedang diminta memilih, apakah ayahnya masih bagian dari dunia ini atau sudah melewati “pintu” yang tak bisa dipetakan.
Jika ia memaksa mencari, ia mungkin tak pernah pulang. Jika ia pulang sekarang, ayahnya mungkin menunggu di suatu tempat yang tak punya koordinat.
Hujan mulai turun.
Nara menutup mata.
Untuk pertama kalinya, ia berjalan tanpa utara—hanya mengikuti kalimat ayahnya yang tersisa di kepala.
•••
JAM YANG MENOLAK PUKUL TIGA
Jam dinding di kantor polisi itu berhenti di pukul tiga tepat saat Nara harus memberi alibi.
Ia duduk di ruang interogasi. Di luar, hujan deras. Di dalam, detak jam keras—lalu mendadak berhenti.
Pukul tiga.
“Di mana Anda pukul tiga sore?” tanya penyidik.
Nara membuka mulut. Ingatannya kosong, seperti halaman yang dihapus.
Ia ingat pukul dua. Ia ingat pukul empat. Namun, pukul tiga seperti lubang hitam di kepalanya.
“Jawab,” kata penyidik.
Nara menatap jam. Jarumnya tak bergerak. Seolah waktu sendiri menolak menjadi saksi.
Konfliknya kejam: tanpa pukul tiga, ia tampak bersalah. Dengan mengarang pukul tiga, ia mungkin mengkhianati kebenaran yang tak ia ingat.
“Kalau saya bilang saya tidak ingat?”
“Semua orang ingat pukul tiga kalau tidak bersalah.”
Nara tertawa kecil. “Bagaimana kalau pukul tiga memang tidak pernah terjadi?”
Penyidik terdiam.
Lampu berkedip. Di luar, sirene lewat.
Nara tiba-tiba sadar: mungkin bukan ingatannya yang hilang. Mungkin satu jam dari dunia benar-benar terhapus.
Jika ia memaksa mengisi kekosongan itu, ia menciptakan kebohongan yang akan jadi sejarah. Jika ia jujur tentang kekosongan itu, ia jadi pelaku yang paling masuk akal.
Jam tetap di pukul tiga.
Dan Nara harus memilih: menciptakan waktu, atau dihukum oleh waktu yang tidak pernah ada.
•••
FOTO YANG KEHILANGAN WAJAH
Album keluarga itu menghapus wajah Dara tepat ketika ia pulang untuk meminta maaf.
Ia membuka halaman demi halaman. Semua foto ada: ayah, kakak, nenek, bahkan kucing lama. Hanya wajahnya yang kosong—oval putih seperti kabut.
“Aneh, ya,” kata kakaknya. “Dulu kamu paling fotogenik.”
Dara menyentuh kertas itu. Tangannya dingin.
Ia pulang karena sepuluh tahun lalu pergi tanpa pamit setelah bertengkar hebat dengan ibunya. Ia ingin meminta maaf sebelum ibunya operasi besar besok pagi.
Namun, sekarang, bukti bahwa ia pernah menjadi bagian keluarga ini menghilang.
Konfliknya menusuk: bagaimana meminta maaf kalau jejak keberadaanmu saja tak diakui realitas?
Jika ia memaksa mengingatkan mereka, ia tampak seperti orang asing yang memaksa masuk kenangan orang lain. Jika ia diam, ia benar-benar menjadi orang asing.
Ibunya keluar dari kamar, menatapnya lama.
“Kamu … mirip seseorang,” kata ibunya pelan.
Dara menahan napas. “Siapa?”
Ibunya menggeleng. “Lupa.”
Dara nyaris runtuh.
Ia sadar: mungkin ingatan keluarga bekerja seperti foto. Saat wajah dihapus, rasa bersalah juga ikut hilang.
Jika ia berhasil mengembalikan wajahnya ke foto, ia juga mengembalikan luka lama ibunya. Jika ia membiarkannya hilang, ibunya bisa operasi besok tanpa beban kenangan pahit.
Malam itu, Dara duduk memandangi album. Ia bisa menggambar ulang wajahnya di sana. Atau membiarkan dirinya tidak pernah ada.
Dan untuk pertama kalinya, meminta maaf terasa lebih egois daripada menghilang.
•••
SURAT YANG DATANG SEBELUM KEMATIAN
Pagi itu, sebelum kopi sempat mendidih, Aru sudah membaca surat kematiannya sendiri.
Amplop cokelat itu tergeletak di bawah pintu, tanpa prangko, tanpa nama pengirim. Hanya namanya tertulis di depan dengan tinta biru yang ia kenali betul—tulisannya sendiri.
Ia membukanya dengan jari gemetar.
Aru, kamu akan mati malam ini, pukul 21.40. Bukan karena penyakit. Bukan karena kecelakaan. Kamu akan mati karena pilihanmu sendiri. Jika kamu ingin selamat, jangan lakukan apa yang sangat ingin kamu lakukan malam ini.
Jam di dinding menunjukkan 06.12.
Aru duduk lama di kursi dapur. Ia membaca surat itu berulang-ulang sampai huruf-hurufnya seperti merayap keluar dari kertas. Ia mencoba mengingat: apa yang sangat ingin ia lakukan malam ini?
Lalu ia ingat.
Malam ini ia berencana mengunjungi ibunya di rumah sakit.
Ibunya sudah tiga bulan koma. Dokter bilang, kecil kemungkinan sadar. Suster bilang, kadang orang koma bisa mendengar. Kakaknya bilang, percuma datang tiap malam, tidak ada perubahan.
Namun, Aru tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu.
Sebelum koma, ibunya memegang tangannya erat dan berbisik, “Kalau Ibu tak bangun-bangun, cabut saja selangnya. Ibu sudah lelah.”
Permintaan itu menghantuinya. Setiap malam ia datang, duduk di samping ranjang, memandangi selang oksigen, menimbang-nimbang keberanian.
Dan malam ini—entah kenapa—ia merasa siap.
Ia menatap kembali surat itu.
Jika kamu ingin selamat, jangan lakukan apa yang sangat ingin kamu lakukan malam ini.
Jadi … kalau ia pergi ke rumah sakit dan menuruti permintaan ibunya, ia akan mati?
Atau … kalau ia tidak pergi, ibunya akan terus terjebak di antara hidup dan mati?
Aru tertawa pendek. “Bagus. Hidup berubah jadi teka-teki murahan.”
Ia mencoba rasional. Mungkin ini lelucon. Mungkin ia pernah menulisnya saat mabuk. Mungkin seseorang iseng. Akan tetapi, bagaimana orang itu tahu rencananya malam ini? Bahkan ia sendiri baru memutuskannya dini hari tadi.
Sepanjang hari, ia tidak bisa bekerja. Pikirannya seperti tali kusut:
Jika surat ini benar → ia mati.
Jika surat ini salah → ibunya menderita lebih lama.
Menjelang sore, ia menemukan detail lain di surat itu yang membuat dadanya mengeras.
Di bagian bawah ada kalimat kecil:
Kamu sudah pernah menerima surat ini. Dan kamu tetap pergi.
Tangannya dingin.
Sudah pernah?
Ia memeriksa laci meja, buku catatan, email, ponsel. Tidak ada jejak. Namun, ada sesuatu yang aneh: di kalender ponselnya, tanggal hari ini memiliki tanda bintang. Ia tidak ingat pernah menandainya.
Pukul 19.10.
Ia berdiri di ruang tamu, kunci mobil di tangan.
Ia bisa saja tidak pergi. Tinggal di rumah. Mengunci pintu. Selamat.
Ibunya tetap koma, tetapi ia hidup.
Ia bisa pergi. Mungkin surat ini bohong. Mungkin ini hanya paranoia. Ia menuruti permintaan ibunya. Ia menjadi anak yang baik.
Dan mungkin mati.
Ia duduk lagi.
Ia sadar satu hal yang lebih mengerikan daripada kematian: jika ia tidak pergi, ia akan hidup dengan satu pertanyaan yang tidak pernah selesai—bagaimana jika surat itu salah?
Pukul 20.02.
Aru mengambil jaket.
Dalam perjalanan, pikirannya semakin kacau. Ia merasa seperti sedang berjalan di jalur yang sudah pernah ia lalui. Lampu merah yang sama. Pedagang nasi goreng yang sama. Lagu di radio yang sama.
Déjà vu itu bukan perasaan. Itu kepastian.
Ia pernah menjalani malam ini.
Pukul 20.47, ia tiba di rumah sakit.
Koridor lengang. Bau disinfektan menusuk. Ia masuk ke kamar ibunya. Mesin berdetak pelan. Tubuh ibunya kurus, nyaris seperti bayangan manusia.
Ia duduk. Menatap selang oksigen. Surat itu seperti berbicara di kepalanya.
Kamu sudah pernah menerima surat ini. Dan kamu tetap pergi.
Aru berbisik, “Ibu, aku tidak tahu mana yang benar. Kalau aku cabut ini, mungkin aku mati. Kalau tidak, Ibu yang terus begini.”
Untuk pertama kalinya, ia menyadari: ini bukan pilihan antara hidup dan mati. Ini pilihan antara hidup dengan rasa bersalah atau mati dengan rasa lega.
Jam di dinding kamar berdetak keras.
21.38.
Dua menit lagi.
Tangannya menyentuh selang. Ia berhenti. Ia menangis pelan.
“Aku capek, Bu .…”
21.39.
Ia menarik napas panjang.
Lalu—
Ia melepaskan tangannya dari selang. Ia tidak jadi mencabutnya. Ia terduduk lemas di kursi.
21.40.
Tidak ada apa-apa. Ia masih hidup. Ia tertawa histeris. “Surat bodoh. Aku hidup!”
Lalu, mesin di samping ranjang berbunyi panjang.
Piiiiiiiiiiiiiiii—
Ia menoleh.
Ibunya meninggal.
Perawat berlari masuk. Dokter dipanggil. Aru berdiri terpaku.
Ia tidak menyentuh apa pun. Ia tidak melakukan apa pun. Akan tetapi, ibunya tetap meninggal.
Beberapa menit kemudian, ketika ia keluar dari kamar, kakinya lemas. Di saku jaketnya, ia merasakan sesuatu.
Amplop cokelat.
Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkannya.
Namanya tertulis di depan. Tinta biru. Tulisannya sendiri.
Ia belum pernah menulis ini.
Perlahan ia membuka. Di dalamnya hanya satu kalimat:
Terima kasih sudah memilih hidup. Maaf, kali ini Ibu yang harus mati.
•••
HUTAN YANG TUMBUH DARI IMBUHAN
Hutan di utara kota tidak ditumbuhi pohon. Ia ditumbuhi imbuhan. Me-, di-, ter-, ber-, per-, ke-an.
Mereka menempel di udara seperti daun. Orang yang berjalan melewatinya pulang dengan bentuk baru.
Seorang lelaki masuk sebagai “lihat”. Keluar sebagai “melihat”. Tubuhnya terasa lebih aktif.
Seorang perempuan masuk sebagai “buka”. Keluar sebagai “terbuka”. Ia tidak bisa menutup diri lagi.
Aku masuk sebagai “tahu”. Keluar sebagai “ketahuan”.
Sejak itu, orang-orang mudah membaca wajahku.
•••
STASIUN YANG DIPENUHI KALIMAT TIDAK LANGSUNG
Di stasiun ini, tidak ada yang berbicara langsung. Semua percakapan berbentuk kalimat tidak langsung.
Ia mengatakan bahwa ia akan pergi. Mereka bertanya apakah kereta sudah datang.
Suara-suara terdengar seperti jarak. Orang-orang jarang saling menatap. Seolah setiap ucapan harus melewati orang ketiga sebelum sampai.
Aku mencoba berbicara langsung kepada seseorang. “Aku menunggumu.”
Suasana menjadi sunyi.
Papan jadwal berhenti berdetak. Rel-rel terasa terlalu dekat.
Orang itu menatapku seperti aku baru saja melompati jarak yang selama ini menjaga kota tetap aman.
•••
TOKO YANG MENJUAL ANTONIM
Di sudut kota, ada toko kecil yang hanya menjual antonim.
Jika kau membeli “terang”, kau juga harus membawa pulang “gelap”.
Jika kau memilih “tenang”, kau akan diberi “gelisah” sebagai bonus.
Orang-orang datang untuk menyeimbangkan hidup mereka.
Aku membeli “ingat”. Penjaga toko memberiku “lupa”.
Sejak itu, setiap kali aku mengingat sesuatu dengan jelas, bagian lain dari hidupku memudar tanpa alasan.
•••
KAMUS YANG MENGHAPUS PEMILIKNYA
Kata pertama yang hilang dari tubuh Ibu adalah namanya. Bukan ingatannya. Bukan wajahnya. Bukan suaranya. Namanya.
Pagi itu, di meja makan, aku memanggilnya seperti biasa.
"Ibu."
Ia menoleh. Tersenyum. Mengambil cangkir teh. Mengaduk gula.
Namun, ketika aku berkata, "Bu, nama Ibu siapa?"
Sendok di tangannya berhenti. Bukan karena lupa, melainkan karena pertanyaan itu terdengar keliru. Seperti bertanya: Apa warna dari angka satu?
Ia membuka mulut, menutupnya lagi. Mengernyit. "Aneh," katanya pelan. "Kok rasanya tidak perlu, ya.'
Aku tertawa. Ia ikut tertawa.
Akan tetapi, sepanjang hari, sesuatu di rumah itu terasa berpindah tempat. Seperti lemari yang digeser dua sentimeter ke kanan. Tidak terlihat, tetapi tubuh terus menabraknya.
Di rak buku ruang tamu, ada sebuah kamus tua yang tidak pernah kami beli. Sampulnya kain cokelat. Tidak ada judul. Tidak ada penerbit. Tidak ada tahun.
Buku itu selalu ada di sana, seperti anggota keluarga yang pendiam.
Malamnya, aku membukanya.
Pada halaman pertama tertulis:
Nama: kata yang menempel pada manusia agar manusia bisa dibedakan dari yang lain.
Aku tertawa kecil. Lalu, kubuka halaman berikutnya.
Kosong.
Halaman berikutnya.
Kosong.
Halaman berikutnya.
Kosong.
Seakan kamus itu hanya memiliki satu definisi.
Hari kedua, kata "Ibu" tidak lagi terdengar tepat.
Bukan salah. Hanya ... tidak pas.
Ketika aku mengucapkannya, rasanya seperti memakai sepatu milik orang lain.
Ia tetap menjawab, tetapi kami sama-sama merasa sedang pura-pura.
"Panggil aku apa saja," katanya santai.
Aneh. Tidak ada kegelisahan. Tidak ada ketakutan.
Justru aku yang merasa panik. Karena sesuatu sedang terlepas, dan hanya aku yang menyadarinya.
Hari ketiga, aku membuka kamus itu lagi.
Definisinya berubah.
Nama: bekas tempelan yang tertinggal setelah seseorang terlalu lama dipanggil.
Aku menutup buku itu pelan. Aku tidak ingat pernah membaca kalimat itu sebelumnya.
Hari keempat, Ibu tidak lagi mengenal namaku.
Bukan lupa. Ia memanggilku dengan gerakan tangan. Dengan tatapan. Dengan suara tanpa panggilan. Dan anehnya—aku tetap tahu ia memanggilku. Seolah nama selama ini hanya gangguan kecil dalam percakapan.
Kami mulai berbicara tanpa kata ganti orang, tanpa sapaan, tanpa panggilan.
Aneh. Lebih lancar. Lebih jujur. Lebih dekat.
Hari kelima, aku membuka kamus itu dengan gemetar.
Definisinya berubah lagi.
Nama: jarak tipis antara manusia dengan manusia lainnya.
Aku mulai mengerti. Kamus itu tidak menjelaskan apa pun. Ia hanya mencatat sesuatu yang sedang terjadi.
Hari keenam, aku mencoba mengingat namaku sendiri. Rasanya seperti mencoba mengingat bau hujan tiga bulan lalu.
Aku tahu pernah ada, tetapi tidak bisa menggenggamnya.
Di cermin, wajahku tampak asing. Bukan karena berubah, melainkan karena tidak lagi memiliki label.
Aku bukan siapa-siapa. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku—rasanya ringan.
Hari ketujuh, kamus itu hanya berisi satu kalimat:
Jika semua nama hilang, siapa yang tersisa?
Aku duduk lama di lantai. Ibu duduk di sampingku. Kami tidak saling memanggil, tidak saling menyebut, tetapi kami tahu. Kami masih ada. Tanpa kata. Tanpa penanda. Tanpa jarak.
Malamnya, aku menyadari sesuatu yang membuatku takut. Bukan karena kami kehilangan nama, melainkan karena kami tidak membutuhkannya.
Dan jika nama memang tidak diperlukan—maka selama ini kami hidup di dalam sesuatu yang tidak pernah kami perlukan.
Pagi terakhir, rak buku itu kosong. Kamus itu hilang. Aku tidak ingat pernah memilikinya.
Ibu duduk di meja makan.
Ia tersenyum. Aku tersenyum. Kami saling memahami tanpa menyebut apa pun. Tanpa menyadari apa pun yang hilang. Tanpa merasa ada yang kurang. Hanya ada dua keberadaan yang tidak perlu dibedakan.
Di dalam keheningan itu—tidak ada lagi yang perlu diberi nama.
•••
KOTA YANG DIJAHIT DENGAN JARUM WAKTU
Di kota ini, setiap orang memiliki jahitan di tubuhnya. Bukan bekas luka. Bukan operasi. Jahitan yang aktif.
Benang tipis keluar dari kulit, menjulur, masuk lagi, menyilang di dada, di punggung, di leher. Setiap orang berbeda pola. Ada yang seperti jaring laba-laba. Ada yang seperti peta sungai. Ada yang seperti tulisan tangan yang tak bisa dibaca.
Tidak ada yang ingat kapan mulai dijahit. Tidak ada yang merasa pernah dijahit.
Namun, setiap pagi, orang-orang bangun dengan pola baru di tubuh mereka. Dan semua orang tahu satu hal tanpa pernah diberi tahu: benang itu adalah waktu mereka.
Aku pertama kali sadar ketika jahitanku menyangkut pada gagang pintu.
Aku hendak keluar rumah. Benang di dadaku tertarik. Ada rasa nyeri yang bukan nyeri. Seperti ingatan yang ditarik paksa.
Aku melihat ke bawah. Benangku kusut. Padat. Bertumpuk. Seperti seseorang menjahit tanpa pola, terburu-buru.
Sementara tetanggaku, seorang lelaki tua yang sering duduk di kursi rotan, memiliki jahitan yang rapi, jarang, hampir lurus.
Ia terlihat ringan. Aku terlihat penuh.
Di pasar, orang-orang berjalan hati-hati agar benang mereka tidak saling terkait. Kadang tetap terjadi.
Dua orang berhenti, saling menatap canggung, lalu dengan pelan melepaskan benang dari tubuh masing-masing.
Tidak ada marah. Tidak ada maaf. Hanya pemahaman sunyi bahwa waktu mereka sempat tersangkut.
Beberapa orang memilih menyendiri karena benangnya terlalu panjang dan mudah terseret ke mana-mana. Beberapa orang memilih keramaian karena benangnya pendek dan mereka takut menghilang.
Aku mulai memerhatikan pola.
Semakin sering aku memikirkan masa lalu, benang di punggungku menebal. Semakin sering aku memikirkan masa depan, benang di dadaku memanjang.
Ketika aku berhenti memikirkan apa pun, benang itu mengendur. Hampir lepas. Saat itulah aku merasa paling takut.
Suatu malam, aku terbangun karena rasa tertarik yang kuat. Benangku menegang. Aku mengikuti arahnya keluar rumah.
Di ujung gang, seorang perempuan berdiri. Benang dari tubuhnya terulur panjang, menyilang jalan, masuk ke dadaku.
Kami saling memandang. Tidak saling kenal, tetapi benang kami saling menjahit.
Ia tidak bicara. Aku tidak bicara. Kami hanya berdiri, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.
Lalu perlahan, benang itu mengendur sendiri. Kami berpisah.
Sejak malam itu, pola di dadaku berubah. Ada simpul baru yang tidak pernah bisa kurapikan.
Orang-orang di kota ini tidak pernah membicarakan jahitan. Seperti kita tidak pernah membicarakan cara bernapas.
Namun, semua tindakan mereka menyesuaikannya. Orang yang jahitannya terlalu padat berjalan lambat. Orang yang jahitannya longgar sering lupa jalan pulang.
Ada yang tiba-tiba jatuh di jalan karena benangnya putus. Tubuhnya tetap ada, tetapi tidak ada yang bisa menemukannya lagi.
Aku mulai mencoba sesuatu. Setiap kali kenangan datang, aku menolaknya. Setiap kali bayangan masa depan muncul, aku mematikannya. Aku melatih diri hidup hanya di detik ini.
Perlahan, jahitanku menipis. Benang di tubuhku semakin jarang. Aku merasa ringan. Terlalu ringan. Orang-orang mulai sulit melihatku di keramaian.
Suatu hari, seorang pedagang menabrakku tanpa sadar. Benangnya menembus tubuhku seperti menembus udara. Ia tidak meminta maaf. Ia tidak tahu aku ada.
Aku pulang dengan panik.
Di cermin, jahitanku tinggal beberapa helai tipis. Seperti tubuh yang nyaris tidak lagi terikat pada apa pun.
Aku sadar sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun: Terlalu banyak waktu membuat kita berat. Terlalu sedikit waktu membuat kita hilang.
Malam berikutnya, aku sengaja duduk di ruang tamu, memanggil kenangan satu per satu. Wajah ayah. Bau dapur ibu. Suara hujan masa kecil.
Perlahan, benang itu kembali muncul dari kulitku. Menebal. Menyilang. Menyakitkan. Aku menangis lega.
Untuk pertama kalinya, rasa sakit itu terasa seperti keberadaan.
Keesokan paginya, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat.
Di ujung benang-benang orang lain, ada jarum kecil. Sangat kecil. Hampir tak terlihat. Dan jarum itu tidak diam.
Ia menjahit.
Bukan kita yang dijahit oleh waktu. Kitalah yang tanpa sadar menjahit diri kita sendiri. Dengan ingatan. Dengan harapan. Dengan penyesalan. Dengan ketakutan.
Aku melihat lelaki tua di kursi rotan. Jahitannya rapi karena ia jarang mengingat dan jarang berharap.
Ia hidup tipis. Nyaris tidak terikat. Nyaris tidak ada. Dan mungkin itulah sebabnya ia tampak damai.
Hari itu, aku berhenti berjalan hati-hati. Aku membiarkan benangku terseret. Tersangkut. Tersilang dengan banyak orang. Rasanya kacau. Rasanya berat. Rasanya hidup.
Di tengah keramaian pasar, benang-benang itu saling mengikat tanpa bisa dihindari.
Orang-orang berhenti. Saling menatap.
Kami semua terjerat. Tidak ada yang bisa bergerak. Dan untuk pertama kalinya, kami menyadari sesuatu yang selalu ada: Kota ini bukan dijahit oleh waktu. Kota ini dijahit oleh kita yang terus menolak lepas dari waktu.
Malamnya, banyak orang tidur dengan tubuh penuh simpul. Aku juga.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak ingin merapikannya. Karena di antara kusut itu, aku tahu persis di mana batas tubuhku berada. Bukan di kulit. Bukan di tulang. Melainkan di tempat benang-benang itu paling tegang.
Di sanalah aku berakhir. Dan yang lain dimulai.
•••
RUMAH YANG DIBANGUN DARI TATA BAHASA
Di rumah ini, kalimat menentukan arah pintu. Aku tahu karena semalam pintu dapur berpindah ke langit-langit setelah aku mengatakan, "Aku tidak tahu harus ke mana lagi."
Pagi ini, aku bangun dan menemukan jendela berubah menjadi tanda kurung. Cahaya masuk dalam bentuk sisipan. Udara terasa seperti keterangan tambahan yang bisa dihapus tanpa mengubah makna utama ruangan.
Aku berjalan hati-hati.
Lantai rumah adalah kalimat majemuk. Jika salah menginjak anak kalimat, tubuh dapat terseret ke ruang yang belum selesai.
Aku pernah jatuh ke klausa bawahan selama dua hari. Di sana tidak ada waktu. Hanya penjelasan yang tidak pernah menjadi inti.
Ibuku dulu tinggal di ruang aktif. Ia menyukai kalimat-kalimat yang punya subjek jelas dan predikat tegas. Ruangnya kokoh. Dindingnya lurus. Langit-langitnya tidak pernah ragu.
Aku tinggal di ruang pasif. Di kamarku, segala sesuatu terjadi tanpa pelaku. Kursi diduduki. Air diminum. Lampu dimatikan. Tidak pernah jelas oleh siapa.
Awalnya terasa nyaman. Lama-lama aku tidak yakin, apakah aku benar-benar ada di dalam tindakan-tindakan itu.
Di lorong, ada rak panjang berisi kata sambung. Setiap kali aku mengucapkan "tetapi", lorong memanjang. Setiap kali aku mengucapkan "dan", lorong bercabang.
Aku belajar berbicara dengan sangat pelan, sangat hemat, karena rumah ini mendengarkan struktur, bukan suara.
Suatu sore, seorang tamu datang. Ia berdiri di depan rumah dan berkata, "Bolehkah saya masuk?"
Kalimat itu membuat sebuah pintu muncul di dinding yang sebelumnya rata.
Aku mempersilakannya.
Ia duduk di kursi yang terbentuk dari kata benda yang belum pernah kupakai. Kursi itu goyah, seperti identitas yang baru belajar berdiri.
Kami berbicara sebentar. Setiap pertanyaannya memunculkan jendela baru. Setiap jawabanku menggeser letak atap. Rumah ini tidak menyukai dialog. Rumah ini menyukai pernyataan.
Malamnya, aku mengatakan tanpa sengaja, "Aku merasa seperti keterangan yang tidak penting."
Seketika, kamarku menyempit. Dinding bergerak mendekat. Langit-langit turun perlahan. Aku berdiri di tengah ruang yang semakin menjadi catatan kaki.
Aku mencoba memperbaikinya. "Aku penting."
Tidak terjadi apa-apa. Rumah ini tidak mengenal penegasan. Ia hanya tunduk pada susunan.
Aku mengubah kalimatku. "Aku adalah subjek."
Dinding berhenti bergerak. Langit-langit naik sedikit. Udara kembali berbentuk kalimat utuh.
Sejak itu, aku berhati-hati dengan tata bahasa pikiranku. Karena rumah ini tidak membedakan antara yang diucapkan dan yang disusun di kepala.
Hari-hari berikutnya, aku mulai menemukan ruangan-ruangan yang tidak pernah ada sebelumnya.
Sebuah ruang tanya, penuh tanda tanya yang menggantung dari plafon seperti lampu. Di sana, semua benda ragu-ragu terhadap bentuknya sendiri.
Sebuah ruang seru, penuh sudut tajam dan gema yang keras. Tidak nyaman ditinggali lama-lama.
Sebuah ruang elipsis .…
Aku tidak pernah berhasil keluar dengan ingatan utuh dari sana.
Tamu itu kembali. Ia berdiri di depan rumah dan tidak mengatakan apa pun.
Tidak ada pintu. Ia menatapku dari luar, menunggu.
Aku sadar sesuatu. Rumah ini tidak dibangun dari dinding. Rumah ini dibangun dari struktur yang mengizinkan sesuatu masuk.
Aku berkata, "Silakan."
Pintu muncul lagi.
Ia masuk.
Kami duduk tanpa bicara.
Rumah tetap kukuh.
Untuk pertama kalinya, tidak ada yang berpindah.
Lalu ia berkata pelan, "Kamu sering tinggal di kalimat orang lain."
Lantai bergetar. Sebuah retakan muncul di antara ubin-ubin klausa. Aku ingin menyangkal, tetapi rumah ini membenci bantahan yang tidak terstruktur.
Aku berkata, "Aku tidak tahu kalimat mana yang milikku."
Atap runtuh menjadi koma-koma kecil yang berjatuhan seperti hujan keraguan.
Kami berdiri di tengah rumah yang berubah menjadi paragraf tanpa titik. Ruangan memanjang tanpa henti. Lorong-lorong saling menelan. Kata sambung berjatuhan dari rak. Semua menjadi satu kalimat yang tidak pernah selesai.
Aku merasa tubuhku ikut memanjang, menjadi frasa yang terseret jauh dari subjeknya.
Aku mencoba berkata sesuatu untuk menghentikan semua ini, tetapi sebelum sempat menyusun kalimat, aku sadar: Selama ini aku tidak tinggal di rumah. Aku tinggal di tata bahasa yang kupakai untuk memikirkan diriku sendiri.
Aku menarik napas.
Untuk pertama kalinya, aku tidak menyusun apa pun.
Tidak ada subjek. Tidak ada predikat. Tidak ada keterangan.
Rumah berhenti. Diam. Rata. Seperti halaman kosong.
Tamu itu berdiri di depanku.
Untuk pertama kalinya, ia tidak dibingkai oleh kalimat apa pun. Dan aku tidak perlu mengucapkan sesuatu agar ia tetap ada.
•••
SUNGAI YANG MENGALIR DARI KATA KERJA
Di kota ini, air tidak mengalir dari hulu ke hilir. Air mengalir dari kata kerja ke akibatnya.
Ketika seseorang berkata "meninggalkan", parit-parit kecil terbuka di jalan, dan air mengalir menjauhi rumah-rumah.
Ketika seseorang berkata "kembali", genangan-genangan terbentuk di halaman depan.
Semua orang belajar berbicara dengan hati-hati agar tidak kebanjiran oleh tindakannya sendiri.
Aku tinggal di rumah yang sering tergenang.
Bukan karena hujan, melainkan aku sering memakai kata kerja yang tidak selesai.
"Akan pergi."
"Ingin memulai."
"Nyaris menyerah."
Air setinggi mata kaki mengendap di ruang tamu, menunggu sesuatu benar-benar dilakukan.
Di pasar, orang-orang menimbang kata sebelum mengucapkannya.
Seorang ibu pernah berkata "membuang" terlalu keras.
Selokan meluap.
Barang-barang di kiosnya hanyut, meski tangannya tidak bergerak sedikit pun.
Ia berdiri kering, dikelilingi benda-benda yang basah oleh tindakannya sendiri.
Aku mulai memerhatikan bahwa air paling deras mengalir dari orang-orang yang jarang bertindak.
Kata kerja mereka menumpuk, tak pernah sampai ke muara.
Kota ini penuh genangan niat.
Suatu hari aku berkata, "Aku mencintaimu," kepada seseorang yang berdiri di depan pintu.
Tak ada yang terjadi.
Lantai tetap kering.
Ia menatapku lama, lalu berkata pelan, "Kata kerjamu tidak menemukan objek."
Di luar, parit-parit tetap kosong.
Malamnya, aku berkata sendirian, "Aku berhenti."
Dari bawah ranjang, air mulai merembes. Bukan deras. Hanya cukup untuk membasahi telapak kaki.
Aku tidak tahu apa yang sedang kuhentikan, tetapi sungai kecil itu tahu.
•••
KEBUN YANG DITANAMI KATA BENDA
Di halaman belakang rumahku, tanah dipenuhi kata benda. Batu, kursi, kenangan, wajah, musim, suara. Mereka tumbuh dari tanah seperti tanaman. Jika tidak dipetik, mereka membesar dan mengambil ruang.
Aku pernah membiarkan "penyesalan" tumbuh terlalu lama. Akarnya merusak fondasi dapur. Sejak itu aku rajin memanen.
Tetanggaku menanam banyak "harapan". Kebunnya rimbun. Sulit dilalui. Ia sering tersesat di antara daunnya sendiri.
Suatu sore, aku menanam kata "aku". Kupikir ia akan kecil. Ternyata ia tumbuh paling cepat. Batangnya keras. Dahannya banyak. Daunnya menutupi cahaya untuk kata benda lain.
Kebunku menjadi teduh oleh diriku sendiri. Aku kesulitan merawat yang lain.
•••
JALAN YANG DIBUKA OLEH KATA DEPAN
Di kota ini, arah ditentukan oleh kata depan.
Ketika orang berkata "ke", jalan memanjang. Ketika orang berkata "dari", jalan memendek. Ketika orang berkata "di", semua berhenti.
Orang-orang jarang mengatakan "di".
Kota ini panjang sekali. Tak ada yang betah menetap.
Aku mencoba hidup dengan "di".
"Aku di sini."
Jalan di bawah kakiku berhenti tumbuh. Orang-orang menabrakku karena mereka masih bergerak oleh "ke" dan "dari".
Aku berdiri seperti titik yang tidak disukai peta.
Seorang lelaki berhenti di depanku.
Ia berkata, "Aku di sini juga."
Untuk pertama kalinya, dua orang tidak bergerak. Jalan di sekitar kami pun bingung, tidak tahu harus memanjang atau memendek.
•••
TUBUH YANG DIPENUHI TANDA BACA
Sejak kecil, kulitku dipenuhi tanda baca. Titik di bahu. Koma di pergelangan tangan. Titik dua di leher.
Setiap kali aku ragu, koma di tanganku terasa gatal. Setiap kali aku yakin, titik di bahuku terasa hangat.
Suatu hari, tanda tanya muncul di dada. Aku tidak ingat menanyakannya. Sejak itu, napasku pendek-pendek. Paru-paruku seperti ruang interogasi.
Aku bertemu seseorang tanpa tanda baca apa pun di tubuhnya. Kulitnya polos. Kalimat-kalimat di sekitarnya terdengar datar, panjang, melelahkan.
Aku sadar tanda baca bukan hiasan. Ia adalah cara tubuh mengatur jeda dari dirinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar