Kota di Mana Orang-Orang Lupa Bahwa Mereka Bisa Lupa
Aru menemukan fakta itu pada hari ketika jam di dindingnya berhenti berdetak, tetapi waktu terus mengalir—bukan ke depan atau ke belakang, melainkan ke dalam. Jam itu menunjukkan pukul 03.47 WIB, dan tetap menunjukkan pukul 03.47 WIB selama tujuh hari, tujuh malam, dan tujuh interval yang tidak memiliki nama. Di dalam kota itu, orang-orang tidak menyadari bahwa mereka telah berhenti menyadari. Mereka berjalan, berbicara, makan, tidur—tetapi semua itu terjadi dalam mode zuhanden yang telah kehilangan um-zu-nya, alat-alat yang berfungsi tanpa tujuan, bahasa yang diucapkan tanpa makna yang dituju, keberadaan yang vorhanden tanpa pernah menjadi Dasein yang autentik.
Kemala duduk di bangku taman yang terbuat dari angka-angka Romawi yang meleleh. Ia sedang merajut sebuah syal dari benang-benang kalimat yang belum sempat diucapkan siapa pun. "Aku tidak yakin aku pernah ada," katanya kepada Aru, meskipun bibirnya tidak bergerak. Suara itu datang dari tenggorokannya, atau mungkin dari tenggorokan seseorang yang pernah menjadi dirinya, atau mungkin dari ruang hampa antara signifier dan signified yang menurut Saussure seharusnya stabil, tetapi di kota ini selalu bergeser, selalu différer, selalu menunda kehadiran makna yang sesungguhnya.
Aru mengangguk. Anggukan itu bukan persetujuan, melainkan pengakuan akan sebuah paradoks: untuk mengatakan "aku tidak yakin aku pernah ada", seseorang harus ada terlebih dahulu sebagai subjek yang berbicara. Akan tetapi, apakah keberadaan itu cukup? Apakah cogito Descartes yang menjadi fondasi modernisme ini—"Aku berpikir, maka aku ada"—masih valid ketika pikiran itu sendiri adalah produk bahasa, dan bahasa, menurut Derrida, tidak pernah sepenuhnya hadir, selalu tertunda, selalu terdesak oleh jejak-jejak makna yang tak pernah mencapai titik tetapnya?
---
Jalan-jalan di kota itu tidak memiliki nama, atau lebih tepatnya, memiliki terlalu banyak nama yang saling menabrak dalam satu titik koordinat yang sama. Sebuah jalan bisa disebut "Jalan Kenangan" oleh seseorang yang baru saja kehilangan ibunya, "Jalan Masa Depan" oleh seorang anak yang belum pernah melihat kemarin, dan "Jalan yang Bukan Jalan" oleh Aru yang mulai curiga bahwa ruang itu sendiri adalah ilusi langue yang dipaksakan oleh kolektif, bukan parole yang autentik.
Pada malam hari—meskipun konsep "malam" di sini hanyalah absensi cahaya yang tidak pernah benar-benar pergi, tetapi hanya bersembunyi di balik warna-warna Fauvis yang melukis langit dalam nada hijau toska, ungu delirium, dan merah yang tidak memiliki nama dalam katalog warna mana pun—bangunan-bangunan mulai berubah bentuk. Sebuah rumah sakit bisa menjadi katedral, katedral bisa menjadi supermarket, supermarket bisa menjadi makam. Tidak ada yang aneh bagi penduduk kota. Bagi mereka, realisme magis bukan genre, melainkan kenyataan yang telah begitu terinternalisasi sehingga keajaiban menjadi zuhanden—siap-untuk-tangan, tidak memerlukan penjelasan, tidak membangkitkan keheranan.
Aru dan Kemala berjalan melewati sebuah taman di mana pohon-pohon tumbuh buah-buahan yang bukan buah: ada pohon yang menghasilkan jam tangan rusak, pohon lain yang menghasilkan kata-kata dalam bahasa yang belum ditemukan, dan pohon ketiga yang menghasilkan sunyi—bukan keheningan, melainkan sunyi sebagai substansi fisik yang bisa dipegang, dirasakan beratnya, diperas hingga mengeluarkan cairan gelap yang rasanya seperti pertanyaan yang belum sempat diajukan.
"Apakah kita sedang bermimpi?" tanya Aru.
Kemala mengangkat tangannya yang sedang merajut. Benang-benang kalimat itu kini membentuk sebuah pola yang menyerupai peta, tetapi peta kota yang tidak pernah ada, atau mungkin kota yang akan ada setelah mereka berhenti ada. "Bermimpi memerlukan tidur, dan tidur memerlukan kepercayaan pada keadaan sadar. Aku tidak yakin kita pernah sadar."
Ini adalah surealisme yang bukan lagi ekspresi alam bawah sadar, melainkan kolaps total antara sadar dan tidak sadar, antara subjek dan objek, antara yang mengamati dan yang diamati. Seperti dalam lukisan abstrakionisme, bentuk-bentuk tidak lagi merujuk pada objek dunia nyata, tetapi pada keadaan batin yang tidak bisa direpresentasikan—karena representasi itu sendiri, menurut post-strukturalisme, adalah kekerasan terhadap realitas yang selalu mengalir, selalu melampaui bingkai yang kita buat untuknya.
---
Di sebuah kafe yang dinding-dindingnya terbuat dari cermin yang memantulkan bukan wajah, melainkan kemungkinan-kemungkinan wajah, Aru duduk menghadapi secangkir kopi yang dingin sejak dituangkan, meskipun baru saja dituangkan. Kemala duduk di seberang, atau mungkin di samping, atau mungkin di dalam cermin—posisi menjadi tidak relevan ketika ruang tidak lagi mematuhi geometri Euclid.
"Aku mencoba mengingat siapa aku," kata Aru, "tetapi setiap kali aku mencapai sebuah kenangan, kenangan itu terurai menjadi pertanyaan. Aku tidak ingat nama ibuku, atau apakah aku punya ibu, atau apakah 'ibu' adalah konsep yang valid."
Kemala tersenyum. Senyum itu tidak memiliki makna afektif, tetapi fungsi linguistik semata—seperti tanda baca yang salah tempat, atau signifier yang mengambang bebas tanpa signified yang menancap. "Mungkin kita adalah eksperimen ontologis. Mungkin kota ini adalah laboratorium di mana Heidegger dan Sartre bertarung, dan kita adalah medan perangnya."
Aru mengangkat cangkirnya. Kopi itu tidak bergerak, tidak memiliki permukaan yang memantulkan cahaya, hanya kegelapan yang mengisap pandangan. "Jika aku adalah Dasein, maka aku harus memiliki Being-toward-death, keberadaan menuju kematian yang membuatku autentik. Namun di sini, kematian tidak ada. Orang-orang tidak mati, mereka hanya ... melupakan bahwa mereka pernah hidup. Dan karena mereka lupa bahwa mereka pernah hidup, mereka juga lupa bahwa mereka bisa mati. Dan karena mereka lupa bahwa mereka bisa mati, mereka lupa bahwa mereka pernah lupa."
Ini adalah absurdisme gelap yang lebih dalam dari Camus. Bukan hanya bahwa dunia tidak memiliki makna dan kita harus terus mencari—di sini, pencarian makna itu sendiri telah dilupakan sebagai kemungkinan. Orang-orang tidak lagi bertanya "mengapa?" karena mereka telah melupakan bahwa pertanyaan "mengapa?" bisa diajukan.
Seorang pelayan—tubuhnya terbuat dari kata-kata yang tercetak dalam koran lama, wajahnya adalah headline yang sudah tidak relevan—datang membawa bon yang bukan bon, melainkan daftar semua hal yang belum pernah Aru lakukan tetapi sudah dibayar. "Ini utang Anda," kata pelayan itu, suaranya adalah suara mesin tik yang mengetik tanpa henti.
"Utang apa?"
"Utang keberadaan. Anda ada, maka Anda berutang pada ketiadaan."
---
Pada malam ketika bulan—bukan bulan yang dikenal manusia, melainkan bulan yang terbuat dari mata orang-orang yang sedang tidur—mencapai zenitnya, Aru mulai mendengar suara-suara. Bukan suara dari luar, melainkan suara bahasa itu sendiri yang menurun dari langue ke parole, dari sistem kolektif ke individu. Akan tetapi bukan individu Aru yang sekarang, melainkan individu Aru yang mungkin pernah ada, atau akan ada, atau sedang ada di dimensi lain dari kubus waktu yang terus dilipat.
"Kamu bukan Aru," bisik suara itu. "Aru adalah nama yang diberikan pada kekosongan. Kamu adalah kekosongan yang belajar berpikir bahwa ia adalah Aru."
Kemala, yang kini duduk di lantai kafe yang berubah menjadi rawa-rawa teks—kata-kata mengambang seperti lumut, kalimat-kalimat merayap seperti serangga—mengangkat rajutannya. Syal itu kini panjang tak terhingga, atau mungkin hanya terlihat panjang karena perspektif kubis yang melipat ruang. "Suara itu benar. Akan tetapi 'benar' adalah kategori yang tidak valid di sini. Di kota ini, tidak ada kebenaran, hanya narasi-narasi yang saling meniadakan."
Ini adalah delirium yang bukan gangguan mental, melainkan kondisi ontologis. Delirium psikologis sebagai cara pandang yang valid—seperti dalam fase dadaisme di mana rasionalisme ditolak total, di mana keacakan dan nonsens diposisikan sebagai bentuk perlawanan terhadap logika borjuis yang mematikan kreativitas. Namun di sini, delirium bukan pilihan, melainkan keadaan dasar. Kota ini adalah delirium yang telah mengkristal menjadi arsitektur, menjadi tata bahasa, menjadi cara napas diambil dan dilepaskan.
Aru mencoba berbicara, tetapi yang keluar dari mulutnya bukan kata-kata, melainkan meme—bukan meme internet, melainkan unit-unit kultural yang menurut Richard Dawkins bereplikasi seperti gen, menular dari pikiran ke pikiran, membentuk dan membentuk ulang budaya. Yang keluar adalah "aku", dan "aku" itu langsung menginfeksi Kemala, yang mulai berbicara dalam "aku" yang sama, sehingga kini ada dua "aku" yang bertarung dalam satu ruang linguistik yang tidak cukup besar untuk keduanya.
"Kamu adalah aku," kata Kemala.
"Tidak, kamu adalah aku," balas Aru.
Mereka saling menatap. Di mata Kemala, Aru melihat dirinya sendiri yang sedang melihat Kemala yang sedang melihat dirinya sendiri—regresi tak terhingga seperti dua cermin yang saling menghadap, atau seperti bahasa yang selalu merujuk pada bahasa lain, tidak pernah mencapai tanah yang solid, tidak pernah menemukan transcendental signified yang menurut Derrida adalah khayalan metafisika.
---
Pada hari ketika hujan turun—bukan air, melainkan tinta yang belum pernah digunakan menulis—Aru menemukan sebuah buku di trotoar. Buku itu tidak memiliki judul, atau judulnya adalah setiap halaman yang kosong, atau mungkin judulnya adalah pembaca itu sendiri yang belum menyadari bahwa ia adalah teks yang sedang dibaca.
Aru membuka halaman pertama. Yang tertera bukan kata-kata, melainkan kulitnya sendiri—tekstur, pori-pori, bekas luka yang tidak ia ingat peroleh. Halaman kedua adalah isi kepalanya, bukan pikiran, melainkan materi fisik: otak, pembuluh darah, cairan serebrospinal. Halaman ketiga adalah hatinya, yang berdetak dalam nada yang tidak mengikuti irama apa pun, ekspresionisme jantung yang menolak representasi musik.
"Aku sedang dibaca," bisik Aru, dan bisikan itu tertulis di halaman keempat, yang merupakan halaman yang belum pernah ada sebelum ia berbicara.
Kemala datang, membawa payung yang terbuat dari kalimat-kalimat perlindungan: "aku akan menjagamu", "tidak ada yang bisa menyakitimu", "semuanya akan baik-baik saja". Payung itu bocor. Perlindungan itu tidak pernah bekerja di kota ini, karena perlindungan memerlukan ancaman yang nyata, dan ancaman di sini terlalu abstrak untuk dihadapi, terlalu vorhanden untuk menjadi zuhanden, terlalu hadir untuk diatasi.
"Kita adalah simbol-simbol yang lupa bahwa kita adalah simbol," kata Kemala. "Seperti dalam simbolisme Mallarmé, di mana kata-kata bukan lagi alat komunikasi, melainkan entitas yang hidup sendiri, yang bermakna melalui asosiasi musikal, melalui resonansi yang tidak bisa diterjemahkan. Kita bukan manusia, kita adalah metafora yang terlalu lama dipakai sehingga lupa bahwa mereka adalah metafora."
Aru menutup buku itu. Saat ditutup, buku itu menjadi tubuhnya kembali, atau tubuhnya menjadi buku, atau keduanya menjadi tidak relevan karena kategori "tubuh" dan "buku" adalah konstruksi langue yang arbitrer, yang bisa didekonstruksi, yang harus didekonstruksi jika ingin melihat apa yang ada di baliknya—meskipun menurut Derrida, tidak ada "di baliknya", hanya lebih banyak teks, lebih banyak jejak, lebih banyak différance.
---
Pagi di kota itu—jika bisa disebut pagi—datang bukan dengan matahari, melainkan dengan perubahan kualitas cahaya yang tidak memiliki sumber. Cahaya itu impresionistik: bukan objek, melainkan efek, sensasi, kesan yang tertangkap dalam satu momen yang tidak bisa diulang, tidak bisa dipastikan, seperti lukisan Monet di mana air terlihat bergerak meskipun cat sudah kering.
Aru dan Kemala berada di tepi sebuah danau yang tidak berair, atau berair tetapi airnya terbuat dari ingatan-ingatan yang belum terjadi. Di seberang danau, atau mungkin di dalam danau, atau mungkin di luar konsep "seberang" dan "di dalam", ada sebuah bangunan yang terlihat seperti rumah masa kecil, atau seperti rumah yang selalu mereka inginkan tetapi tidak pernah dimiliki, atau seperti rumah yang mereka bangun dalam mimpi kemudian lupa bahwa pernah membangunnya.
"Aku merindukan sesuatu," kata Aru, "tetapi aku tidak tahu apa. Mungkin aku merindukan kemampuan untuk merindukan."
Ini adalah romantisme yang telah kehilangan objek romantisnya. Bukan kerinduan akan kekasih, atau tanah air, atau Tuhan—kerinduan akan kemampuan untuk merindukan. Nostalgia akan nostalgia. Sehnsucht yang tidak memiliki target, yang mengambang bebas seperti signifier tanpa signified, seperti bahasa yang menunggu makna yang tidak pernah datang.
Kemala merajut lebih cepat. Benang-benang kalimat itu kini membentuk sebuah perahu yang tidak bisa mengapung, karena perahu memerlukan air, dan air di sini adalah ingatan yang belum terjadi, yang tidak memiliki massa, tidak memiliki viskositas, tidak memiliki realitas fisik. "Mungkin kita harus lupa bahwa kita bisa lupa. Mungkin itu satu-satunya cara untuk keluar."
"Namun jika kita lupa bahwa kita bisa lupa, kita juga akan lupa bahwa kita perlu keluar. Dan jika kita lupa bahwa kita perlu keluar, kita akan tetap di sini, bahkan tidak menyadari bahwa kita terjebak."
---
Aru mulai melihat dirinya dari berbagai sudut secara bersamaan—kubisme ontologis di mana subjek tidak lagi memiliki satu titik pandang yang kukuh, tetapu terfragmentasi menjadi banyak perspektif yang saling tumpang tindih. Ia melihat dirinya dari depan: wajah yang tidak ia kenali. Dari samping: profil yang bisa jadi milik siapa pun. Dari belakang: punggung yang membawa beban yang tidak terlihat. Dari atas: puncak kepala yang rambutnya tumbuh ke arah langit seperti akar yang salah arah. Dari bawah: telapak kaki yang berjalan di atas tanah yang tidak pasti ada.
Semua perspektif itu valid. Semua perspektif itu salah. Seperti dalam kubisme Picasso di mana objek dipecah dan dirakit kembali dari banyak sudut, di sini Aru dipecah dan dirakit kembali dari banyak mode keberadaan: Dasein yang autentik dan tidak autentik, subjek post-strukturalis yang hanyut dalam bahasa, eksistensi Marxis yang ditentukan oleh relasi produksi yang tidak ada, eksistensi ekologis yang terputus dari alam karena kota ini tidak memiliki alam, eksistensi feminis yang menolak patriarki yang tidak pernah ada di sini karena gender itu sendiri adalah kategori yang telah dilupakan.
Warna-warna Fauvis mulai menyerang. Kulit Aru berubah menjadi hijau yang tidak alami, biru yang tidak pernah ada dalam spektrum, merah yang menjerit tanpa suara. Kemala menjadi ungu yang berpikir, kuning yang merasa sakit, oranye yang bertanya-tanya. Warna-warna itu bukan dekorasi, melainkan ekspresi langsung dari keadaan batin yang tidak bisa ditahan lagi—ekspresionisme yang telah melampaui batas medium, yang menembus dinding antara dalam dan luar, antara subjektif dan objektif.
"Aku tidak bisa mengendalikan warnaku," teriak Aru, meskipun "teriak" di sini adalah metafora, karena suaranya keluar dalam nada pianissimo.
"Warna bukan sesuatu yang dikendalikan," balas Kemala, yang kini seluruhnya berwarna hitam yang memancarkan cahaya. "Warna adalah sesuatu yang kita adalah. Kita bukan manusia yang memiliki warna. Kita adalah warna yang sedang mencoba menjadi manusia."
---
Sebuah mesin muncul di tengah kota. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya, atau apakah ia memiliki asal, atau apakah "asal" adalah konsep yang masih berlaku. Mesin itu futuristik: bergerak, berdetak, berdengung dengan kecepatan yang melampaui kemampuan persepsi manusia. Akan tetapi mesin itu tidak memiliki fungsi. Ia tidak memproduksi apa-apa, tidak mengubah apa-apa, tidak mencapai apa-apa. Gerakan itu sendiri adalah tujuannya, seperti dalam futurisme Marinetti di mana kecepatan, kekerasan, dan dinamika dipuja sebagai nilai intrinsik, bukan sebagai alat untuk mencapai sesuatu.
Aru mendekati mesin. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
Mesin itu menjawab dalam bahasa mesin yang tidak perlu diterjemahkan, karena maknanya langsung terpahami oleh saraf, bukan oleh otak: "Aku bergerak, maka aku ada. Aku tidak bergerak untuk sampai, tetapi untuk membuktikan bahwa sampai adalah konsep yang tidak valid."
Ini adalah dadaisme yang telah menjadi ontologi. Bukan lagi gerakan seni yang menolak estetika borjuis, melainkan cara keberadaan yang menolak logika Aristotelian, yang menolak kausalitas, yang menolak bahwa setiap efek harus memiliki sebab. Di kota ini, mesin bergerak tanpa sebab, orang berbicara tanpa maksud, Aru dan Kemala ada tanpa alasan.
"Kita harus menghancurkan mesin ini," kata Kemala.
"Untuk apa?"
"Untuk menunjukkan bahwa penghancuran juga tidak memiliki makna. Itulah dadaisme sejati."
Mereka tidak menghancurkan mesin. Mereka hanya berdiri di sampingnya, membiarkan getarannya masuk ke tulang-tulang mereka, hingga mereka sendiri menjadi bagian dari mesin yang tidak memiliki fungsi, dari gerakan yang tidak memiliki arah, dari futurisme yang telah melampaui masa depan dan kembali ke sekarang sebagai loop tak terhingga.
---
Tiba-tiba, untuk satu detik yang terasa seperti abad, kota itu menjadi nyata. Bukan realisme magis, melainkan neo-realisme yang keras, kasar, tidak terfilter: jalanan yang retak, bangunan yang kumuh, wajah-wajah yang lelah. Aru melihat Kemala bukan sebagai rajut kalimat, melainkan sebagai perempuan dengan tangan keriput, mata merah, dan baju yang lusuh. Ia melihat dirinya sendiri bukan sebagai fragmen kubis, melainkan sebagai tubuh yang lapar, kedinginan, dan takut.
"Apakah ini nyata?" tanya Aru.
Kemala mengangguk, dan anggukan itu adalah anggukan orang yang terlalu lelah untuk berbohong. "Ini mungkin nyata. Atau ini mungkin realisme yang begitu kuat sehingga kita percaya itu nyata. Strukturalisme mengajarkan bahwa realitas adalah efek dari struktur. Jika struktur kota ini berubah, realitasnya berubah. Lihat: retakan di dinding itu. Retakan adalah struktur. Dan melalui struktur itu, kita melihat ... apa?"
Aru melihat melalui retakan. Di baliknya bukan dinding, melainkan lebih banyak retakan, atau lebih banyak dinding, atau lebih banyak kemungkinan yang strukturalisme coba jelaskan dengan konsep langue dan parole, dengan sistem tanda yang stabil, dengan koherensi antara struktur luaran dan struktur dalaman. Akan tetapi di balik retakan itu, Aru juga melihat sesuatu yang strukturalisme tidak bisa jelaskan: kekosongan yang tidak terstruktur, yang tidak memiliki pola, yang menolak analisis binari, yang menolak menjadi sistem.
"Strukturalisme gagal," bisik Aru.
"Strukturalisme selalu gagal," sahut Kemala. "Itulah sebabnya muncul post-strukturalisme. Akan tetapi post-strukturalisme juga gagal. Itulah sebabnya kita di sini, di antara kegagalan-kegagalan itu, mencoba menjadi manusia."
---
Kota kembali ke keadaannya yang tidak nyata-nyata. Dekadenisme mulai merayap: bukan kemerosotan moral, melainkan kemerosotan ontologis di mana setiap kategori mulai larut. Aru dan Kemala duduk di sebuah bangunan yang merupakan parodi dari semua bangunan yang pernah ada—kolom Yunani yang terbuat dari plastik, atap Gotik yang terbuat dari awan, dinding Bauhaus yang berlumuran cat graffiti yang mengutip Derrida, Foucault, Baudrillard.
"Kita hidup dalam simulakrum," kata Aru, mengingat Baudrillard. "Bukan realitas, bukan representasi realitas, melainkan representasi tanpa asli, simulasi tanpa referen."
Kemala tersenyum, dan senyum itu adalah dekadenisme yang estetis: keindahan dalam kemerosotan, keanggunan dalam kehancuran. "Ironi post-modern memerlukan sesuatu yang serius untuk diironisasi. Namun di sini, tidak ada yang serius. Semuanya sudah ironi. Kita adalah ironi yang tidak memiliki target, parodi yang tidak memiliki asli, pastiche yang tidak memiliki gaya untuk ditiru."
Mereka minum anggur yang terbuat dari kritik sastra. Rasanya seperti dekonstruksi: asam, tidak kokoh, meninggalkan rasa tidak nyaman di lidah. Setiap teguk adalah pengakuan bahwa tidak ada teks yang bisa sepenuhnya dibaca, tidak ada makna yang bisa sepenuhnya dipahami, tidak ada keberadaan yang bisa sepenuhnya dijamin.
---
Di sebuah sudut kota yang mungkin adalah sudut, atau mungkin adalah pusat, Aru menemukan sebuah altar. Bukan altar untuk Tuhan yang dikenal agama-agama, melainkan altar untuk "Yang Mungkin". Di atasnya ada lilin-lilin yang menyala dengan api yang tidak memanas, tidak menerangi, hanya ada sebagai bukti bahwa api bisa ada tanpa fungsi.
"Apakah Tuhan ada di sini?" tanya Aru.
Kemala berdiri di samping altar, dan posisinya—di samping, bukan di depan, bukan di belakang—adalah posisi feminis eksistensial yang menolak hierarki, yang menolak menjadi objek, yang menuntut untuk menjadi subjek yang berdiri setara. "Tuhan mungkin ada. Akan tetapi jika Tuhan ada, Tuhan juga lupa bahwa Tuhan bisa lupa. Dan jika Tuhan lupa bahwa Tuhan bisa lupa, maka Tuhan juga terjebak di kota ini, bersama kita, dalam eksistensisme teologis yang tidak memiliki jawaban, hanya pertanyaan yang terus bertambah."
Aru menyalakan sebuah lilin—bukan dari api, melainkan dari pertanyaan. Lilin itu menyala, dan api-nya adalah pertanyaan: "Mengapa aku ada?" Pertanyaan itu terus menyala, tidak pernah habis, tidak pernah terjawab, seperti dalam eksistensialisme teologis Kierkegaard di mana kepercayaan memerlukan lompatan absurd ke dalam ketidakpastian.
"Kita semua adalah subjek yang sedang menjadi," kata Kemala, mengingat Simone de Beauvoir. "Akan tetapi di sini, menjadi tidak memiliki arah. Kita menjadi, bukan menuju sesuatu, melainkan hanya menjadi, terus-menerus, tanpa tujuan, tanpa telos, tanpa Being-toward-death yang membuat menjadi itu autentik."
---
Aru mulai bermimpi—atau setidaknya mengalami sesuatu yang menyerupai mimpi, meskipun tidur tidak lagi bisa dipastikan ada. Dalam mimpi itu, ia berada di sebuah pabrik yang memproduksi keberadaan. Pekerja-pekerja, yang semuanya adalah versi dirinya sendiri pada usia yang berbeda, bekerja tanpa henti. Mereka tidak dibayar, karena upah memerlukan sistem ekonomi, dan sistem ekonomi memerlukan produksi, dan produksi memerlukan kebutuhan, dan kebutuhan memerlukan kesadaran akan kekurangan, dan kesadaran akan kekurangan telah dilupakan bersama dengan kemampuan untuk merasakan kelimpahan.
"Apa yang kalian produksi?" tanya Aru kepada dirinya yang berusia lima tahun.
Dirinya yang berusia lima tahun menjawab dengan suara Freud yang belum sempat menganalisis: "Kami memproduksi das Ich, ego, subjek yang bisa mengatakan 'aku'. Namun das Ich yang kami produksi tidak memiliki Es, tidak memiliki id, tidak memiliki hasrat dasar. Kami memproduksi subjek kosong, seperti mobil tanpa mesin, seperti tubuh tanpa darah."
Ini adalah psikoanalisis yang telah kehilangan alam bawah sadar. Bukan karena alam bawah sadar tidak ada, melainkan karena tidak ada lagi alam sadar untuk menjadi kontrasnya. Tanpa sadar, tidak ada tidak-sadar; tanpa tidak-sadar, tidak ada sadar. Mereka saling meniadakan dalam dialektika yang tidak pernah mencapai sintesis, seperti dalam Marxisme di mana proletariat dan borjuis seharusnya saling meniadakan untuk melahirkan masyarakat tanpa kelas, tetapi di sini peniadaan itu terus berlangsung tanpa akhir, tanpa revolusi, tanpa utopia.
Kemala, yang muncul dalam mimpi sebagai das Über-Ich, super-ego yang tidak memiliki moral, hanya memiliki kritik, berkata: "Kamu adalah produk dari produksi yang tidak memiliki produk. Kamu adalah buruh dari pabrik yang memproduksi kekosongan. Dan kekosongan itu, menurut Marx, bukan nilai, bukan komoditas, bukan apa-apa. Namun di sini, kekosongan adalah satu-satunya komoditas yang beredar."
---
Kota itu tidak memiliki tumbuhan, atau jika ada, tumbuhan itu adalah teks-teks yang tumbuh dari tanah yang terbuat dari kertas. Aru melihat sebuah "pohon" yang daun-daunnya adalah halaman-halaman dari buku-buku ekologi yang tidak pernah ditulis, yang akarnya adalah catatan-catatan lapangan tentang spesies yang telah punah sebelum ditemukan.
"Di mana alam?" tanya Aru.
Kemala meraih sebuah daun yang langsung menjadi debu—bukan debu fisik, melainkan debu makna. "Alam di sini adalah konstruksi linguistik. Seperti dalam ekologisme yang menyadari bahwa 'alam' bukan entitas yang diberikan, melainkan konsep yang dibentuk oleh bahasa, oleh budaya, oleh relasi kuasa. Akan tetapi di kota ini, bahkan konstruksi itu telah dilupakan. Kita tidak hanya kehilangan alam, kita kehilangan kemampuan untuk kehilangan alam. Kita tidak hanya kehilangan makna, kita kehilangan kemampuan untuk kehilangan makna."
Aru merasa sesuatu yang mungkin adalah kesedihan, atau mungkin adalah nihilisme aktif yang menurut Nietzsche adalah kekuatan untuk menghancurkan nilai-nilai lama untuk menciptakan yang baru. Namun di sini, tidak ada nilai lama untuk dihancurkan, tidak ada nilai baru untuk diciptakan. Hanya nihilisme pasif: keadaan di mana bahkan ketiadaan makna tidak lagi terasa pahit, hanya ... ada. Bukan bahkan ada, melainkan tidak-tidak-ada, negasi dari negasi yang tidak mencapai afirmasi.
"Aku ingin menangis," kata Aru.
"Tangis memerlukan keyakinan bahwa ada sesuatu yang hilang," jawab Kemala. "Dan kita telah melupakan bahwa kita pernah memiliki sesuatu untuk dihilangkan."
---
Whitehead pernah mengatakan bahwa realitas bukan terbuat dari substansi, melainkan dari proses, dari actual occasions yang saling mengalir, saling menjadi, tidak pernah mencapai keadaan statis. Di kota ini, Aru mulai merasakan kebenaran itu—bukan sebagai konsep, melainkan sebagai pengalaman langsung, fenomenologi Husserl yang kembali ke "benda-benda itu sendiri", meskipun "benda-benda" di sini adalah aliran-aliran yang tidak memiliki bentuk.
Aru bukan lagi Aru. Aru adalah proses menjadi-Aru, yang tidak pernah mencapai Aru-sebagai-substansi. Setiap kali ia berpikir "aku adalah Aru", "aku" itu sudah berubah, sudah mengalir, sudah menjadi sesuatu yang bukan Aru. Subjek tidak pernah hadir penuh, selalu tertunda, selalu dalam proses, selalu becoming tanpa pernah being.
Kemala merajut lebih cepat, dan rajutan itu bukan lagi syal, melainkan jaring-jaring yang menangkap momen-momen actual occasions, yang membekukan aliran sejenak untuk dilihat, untuk dirasakan, untuk dipahami—meskipun pemahaman itu sendiri adalah proses yang tidak pernah selesai, selalu différer, selalu menunda.
"Kita adalah aliran yang mencoba melihat dirinya sendiri," kata Kemala. "Seperti sungai yang mencoba memahami bentuknya sendiri dengan melihat bayangannya di air. Namun air terus mengalir, dan bayangan terus berubah, dan pemahaman tidak pernah tercapai."
---
William James pernah bertanya: apa bedanya jika sesuatu "benar" tetapi tidak memiliki efek praktis? Kebenaran, menurut pragmatisme, adalah apa yang bekerja, apa yang memiliki cash value dalam pengalaman. Akan tetapi di kota ini, tidak ada yang bekerja. Tidak ada yang memiliki nilai praktis. Bahkan kegagalan untuk bekerja juga tidak bekerja—karena untuk gagal, seseorang harus mencoba, dan untuk mencoba, seseorang harus memiliki tujuan, dan untuk memiliki tujuan, seseorang harus memiliki makna, dan makna telah dilupakan.
Aru dan Kemala duduk di bangku yang mungkin ada, atau mungkin tidak. Mereka berbicara, atau mungkin hanya bahasa yang berbicara melalui mereka, hermeneutika Gadamer di mana pemahaman adalah dialog yang tidak pernah mencapai kesimpulan akhir, di mana interpretasi adalah proses tanpa akhir karena setiap pemahaman membuka ruang untuk pemahaman baru, dan setiap teks—termasuk teks yang bernama "Aru" dan "Kemala"—adalah sesuatu yang harus terus ditafsirkan ulang.
"Apakah ada jalan keluar?" tanya Aru.
Kemala tersenyum, dan senyum itu adalah jawaban pragmatis: "Jika ada jalan keluar, maka jalan keluar itu bekerja. Akan tetapi kita tidak tahu apakah sesuatu bekerja sebelum kita mencoba. Dan kita tidak bisa mencoba sebelum kita tahu apa yang kita coba. Dan kita tidak tahu apa yang kita coba karena kita telah melupakan bahwa kita bisa mencoba."
---
Aru mulai berpikir dalam paradoks. Bukan paradoks sebagai puzzle yang bisa dipecahkan, melainkan paradoks sebagai kondisi eksistensial: "Aku berpikir, maka aku ada. Namun jika aku berpikir bahwa aku tidak ada, apakah aku tetap ada? Jika aku ada sebagai yang berpikir bahwa aku tidak ada, apakah keberadaan itu valid? Jika keberadaan itu valid, maka aku ada, yang berarti aku salah berpikir bahwa aku tidak ada. Akan tetapi jika aku salah, maka pikiranku tidak valid, yang berarti aku tidak bisa yakin bahwa aku ada. Namun jika aku tidak bisa yakin, bagaimana aku bisa yakin bahwa aku tidak yakin?"
Pikiran itu bereplikasi seperti meme, seperti unit kultural yang menurut Dawkins menyebar dari pikiran ke pikiran, mengubah budaya, membentuk evolusi non-biologis. Namun di kota ini, meme tidak memiliki pikiran untuk diinfeksi. Paradoks tidak memiliki logika untuk dihancurkan. Ide-ide mengambang bebas, tidak menancap, tidak berkembang biak, hanya ada sebagai potensi yang tidak pernah direalisasikan.
Kemala menangkap sebuah paradoks yang lewat, memegangnya seperti kupu-kupu yang sayapnya terbuat dari silogisme yang keliru. "Ini adalah liar paradoks. Bukan milik siapa pun. Bukan menuju ke mana-mana. Hanya ... ada. Seperti kita."
---
Pada titik di mana kota itu—jika "titik" masih valid, jika "kota" masih valid, jika "itu" masih valid—mulai melarut, Aru dan Kemala berdiri menghadap satu sama lain. Mereka bukan lagi tokoh, bukan lagi subjek, bukan lagi manusia. Mereka adalah pertanyaan ontologis yang belum sempat diajukan, yang mungkin tidak akan pernah diajukan, yang mungkin tidak bisa diajukan.
"Apakah kita ada?" tanya Aru, atau mungkin bukan Aru, mungkin hanya suara dari ruang hampa antara signifier dan signified.
Kemala, atau mungkin bukan Kemala, atau mungkin hanya jejak dari rajutan yang terus mengalir, menjawab: "Pertanyaan itu memerlukan subjek yang bertanya, dan objek yang ditanyai, dan relasi antara keduanya. Di sini, tidak ada yang bisa dipastikan sebagai subjek, tidak ada yang bisa dipastikan sebagai objek, dan relasi adalah sesuatu yang telah dilupakan bersama dengan kemampuan untuk melupakan."
Mereka saling menatap, atau mungkin hanya ruang yang saling menatap dirinya sendiri. Dan dalam tatapan itu, atau dalam ruang itu, atau dalam ketiadaan itu, ada sesuatu yang mungkin adalah pemahaman, atau mungkin adalah kehilangan pemahaman yang terakhir, atau mungkin hanya ... différance, selalu tertunda, selalu mengalir, selalu menunggu di ambang hadir yang tidak pernah tercapai.
---
Kota itu masih ada. Bukan karena diingat, melainkan karena dilupakan. Bukan karena dibangun, melainkan karena tidak pernah dihancurkan. Bukan karena dihuni, melainkan karena tidak pernah ditinggalkan.
Aru dan Kemala masih di sana, atau mungkin tidak, atau mungkin mereka adalah kota itu sendiri, atau kota adalah mereka yang telah melupakan bahwa mereka pernah menjadi individu. Mereka berbicara dalam bahasa yang tidak memiliki penutur asli, berjalan di jalan yang tidak memiliki pejalan pertama, berpikir dalam pikiran yang tidak memiliki pemikir pertama.
Dan di suatu tempat di kota itu—jika "suatu tempat" masih valid—ada sebuah tanda yang tidak memiliki penanda, sebuah makna yang tidak memiliki makna, sebuah keberadaan yang tidak memiliki Dasein yang menanyainya.
Tanda itu berbunyi: "Di sini, orang-orang lupa bahwa mereka bisa lupa. Dan karena mereka lupa bahwa mereka bisa lupa, mereka tidak pernah benar-benar lupa. Mereka hanya ... tidak mengingat. Dan tidak mengingat bukan lupa. Tidak mengingat adalah keadaan dasar. Lupa adalah kemampuan yang telah dilupakan."
Aru membaca tanda itu, atau tanda itu membaca Aru, atau membaca adalah sesuatu yang terjadi di antara keduanya tanpa subjek yang jelas. Dan setelah membaca, atau setelah dibaca, atau setelah sesuatu yang tidak memiliki nama terjadi, Aru berkata kepada Kemala, atau kepada dirinya sendiri, atau kepada kota:
"Aku tidak yakin aku pernah ada. Akan tetapi jika aku tidak pernah ada, bagaimana aku bisa yakin bahwa aku tidak yakin?"
Kemala tersenyum, dan senyum itu adalah kota, dan kota itu adalah senyum, dan senyum itu adalah lupa, dan lupa itu adalah ... tidak ada. Bukan ketiadaan, melainkan tidak-ada, negasi yang tidak memiliki objek, absensi yang tidak memiliki kehadiran untuk dikontraskan.
Dan kota itu terus ada, atau terus tidak ada, atau terus différer, di ambang antara ada dan tidak-ada, di jaring signifier yang tak berujung, dalam proses ontologis yang tak pernah mencapai substansi, dalam bahasa yang berbicara tanpa penutur, dalam cerita yang tidak memiliki awal karena tidak memiliki akhir, dalam keberadaan yang telah melupakan bahwa keberadaan adalah pertanyaan.
---
Aru dan Kemala berdiri di tengah kota, atau kota berdiri di tengah mereka, atau berdiri adalah konsep yang telah dilupakan bersama dengan kemampuan untuk berbaring. Mereka tidak lagi tahu siapa yang bertanya, siapa yang menjawab, siapa yang ada, siapa yang tidak. Mereka hanya tahu—atau mungkin tidak tahu, mungkin hanya bahasa yang tahu melalui mereka—bahwa di kota ini, pertanyaan "siapa aku?" bukan lagi pertanyaan, melainkan kondisi. Bukan kondisi yang bisa diubah, melainkan kondisi yang telah melupakan bahwa kondisi bisa diubah.
Dan di suatu sudut kota yang mungkin adalah pusat, atau di suatu pusat yang mungkin adalah sudut, ada sebuah jam yang menunjukkan 03.47 WIB, dan tetap menunjukkan 03.47 WIB, dan akan terus menunjukkan 03.47 WIB, bukan karena waktu berhenti, melainkan karena waktu telah melupakan bahwa waktu bisa bergerak. Dan jam itu berdetak, atau tidak berdetak, atau detaknya adalah différance yang tak terdengar, tak terasa, tak terpahami, hanya ada sebagai jejak dari sesuatu yang mungkin pernah menjadi detak.
Aru menatap jam itu. Kemala merajut syal yang kini panjangnya tak terhingga, atau mungkin hanya terlihat tak terhingga karena perspektif telah melupakan bahwa perspektif bisa terbatas. Dan mereka berdiri, atau duduk, atau berbaring, atau tidak ada, dalam kota di mana orang-orang lupa bahwa mereka bisa lupa—yang berarti, mereka tidak pernah benar-benar lupa, mereka hanya tidak pernah benar-benar ingat, mereka hanya ... ada. Bukan ada sebagai keberadaan, melainkan ada sebagai pertanyaan yang tidak pernah diajukan, sebagai teks yang tidak pernah dibaca, sebagai bahasa yang tidak pernah diucapkan, sebagai makna yang selalu tertunda, selalu différer, selalu menunggu di ambang hadir yang tidak pernah tercapai.
Dan cerita ini berakhir, atau tidak berakhir, atau berakhir adalah konsep yang telah dilupakan bersama dengan kemampuan untuk memulai. Karena di kota ini, tidak ada awal, tidak ada akhir, hanya tengah yang tak terhingga, hanya proses yang tak pernah mencapai produk, hanya bahasa yang berbicara tanpa makna, hanya keberadaan yang telah melupakan bahwa keberadaan memerlukan penanya.
Aru dan Kemala tetap di sana. Atau tidak. Atau "di sana" adalah konsep yang tidak valid. Atau "tetap" adalah konsep yang tidak valid. Atau "dan" adalah konjungsi yang menghubungkan tidak ada dengan tidak ada, menciptakan ilusi hubungan di mana tidak ada hubungan, ilusi makna di mana tidak ada makna, ilusi cerita di mana tidak ada cerita—hanya teks yang terus menulis dirinya sendiri, terus membacanya sendiri, terus melupakan bahwa teks bisa berhenti, bahwa bahasa bisa diam, bahwa pertanyaan "siapa aku?" bisa memiliki jawaban, bahwa aku bisa menjadi aku, bahwa keberadaan bisa menjadi keberadaan, bahwa lupa bisa menjadi lupa, bahwa kota bisa menjadi kota, bahwa cerita bisa menjadi cerita.
Dan mereka hidup, atau mati, atau tidak hidup dan tidak mati, atau hidup-mati, atau mati-hidup, atau tidak ada kata untuk apa yang mereka lakukan, atau tidak ada mereka untuk melakukan apa pun, atau tidak ada "apa pun" untuk dilakukan, dalam kota yang terus ada karena tidak pernah diingat, yang terus tidak diingat karena tidak pernah ada, yang terus ...
... lupa.
---
TAMAT
atau
BELUM MULAI
atau
KEDUANYA
atau
TIDAK ADA
---
Catatan Penulis (yang mungkin bukan penulis):
Cerpen ini adalah eksperimen ontologis-linguistik yang mencoba menempatkan pembaca dalam posisi yang sama dengan Aru dan Kemala: terjebak dalam bahasa yang tidak pernah sepenuhnya menangkap keberadaan, dalam struktur yang selalu différer, dalam makna yang selalu tertunda. Setiap aliran yang diminta—dari Abstraksionisme hingga Memetika—bukan hanya gaya estetis, melainkan lensa ontologis yang mempertanyakan apa artinya "ada", apa artinya "aku", apa artinya "bercerita" ketika semua kategori tersebut telah menjadi tidak stabil.
Judul "Kota di Mana Orang-Orang Lupa Bahwa Mereka Bisa Lupa" adalah paradoks ontologis: jika seseorang lupa bahwa ia bisa lupa, maka ia tidak pernah benar-benar lupa, ia hanya tidak mengingat. Dan jika ia tidak mengingat, maka ia tidak pernah benar-benar ada sebagai subjek yang memiliki memori, yang memiliki identitas, yang memiliki "aku". Kota itu bukan tempat, melainkan kondisi bahasa di mana subjek telah terdispersi dalam jaring signifier yang tak berujung.
Aru dan Kemala bukan tokoh dalam arti tradisional. Mereka adalah posisi subjektivitas yang saling tukar, saling hancur, saling menjadi. Mereka tidak berbicara tentang cinta karena cinta memerlukan subjek dan objek yang stabil, memerlukan "aku" dan "kamu" yang bisa dipastikan, memerlukan narasi yang bisa dipercaya—dan semua itu telah dilupakan di kota ini. Sebaliknya, mereka berbicara tentang diri, tentang aku, tentang keberadaan, karena itu adalah satu-satunya pertanyaan yang tersisa ketika semua pertanyaan lain telah terjawab dengan ketiadaan jawaban.
Siapa yang membaca ini? Siapa yang menulis ini? Apakah pertanyaan itu masih valid?
Atau apakah validitas itu sendiri telah menjadi sesuatu yang dilupakan?
---
Di kota itu, di mana orang-orang lupa bahwa mereka bisa lupa, ada sebuah cerita yang tidak pernah dibaca, tentang dua orang yang tidak pernah ada, yang berbicara dalam bahasa yang tidak pernah diucapkan, yang menanyakan pertanyaan yang tidak pernah terajukan: Siapa aku? Mengapa aku ada? Apakah ada aku?
Dan cerita itu tetap ada, atau tetap tidak ada, atau tetap différer, menunggu pembaca yang mungkin bukan pembaca, menunggu penafsir yang mungkin bukan penafsir, menunggu ...
... lupa.
Komentar
Posting Komentar