ARU, KEMALA, DAN AMIRA YANG MENGHILANG KE DALAM LABIRIN TANPA TANDA
Labirin bahasa itu pertama kali muncul di sudut warung kopi "Tanda Tanya" pada hari ketika kata-kata mulai kehilangan bobotnya. Aru sedang menyeruput kopi tubruknya yang sudah dingin—bukan karena waktu, melainkan karena suhu kata "panas" baru saja mengundurkan diri dari kamus universal tanpa pemberitahuan resmi.
"Kemala," ujar Aru, matanya menatap cermin di dinding yang memantulkan bayangan tiga orang, meski di meja hanya duduk dua. "Kau merasa ada yang hilang?"
Kemala, yang sedang membolak-balik kamus filsafat bahasa edisi 1978 yang halaman-halamannya berteriak pelan setiap kali dibuka, mengangkat bahu. Bahunya terangkat ke atas, lalu terus naik, melewati langit-langit warung, menembus awan, dan entah mengapa tidak kembali.
"Jangan bodoh," kata Kemala, meski bibirnya tidak bergerak. Suaranya keluar dari arah panci presto di dapur warung. "Yang hilang itu bukan sesuatu. Yang hilang adalah tanda salam perpisahan."
Aru mengertakkan gigi. Gigitannya bertemu, tetapi tidak berbunyi. Dunia kehilangan fonem /k/ untuk sementara waktu.
Dan di sudut labirin yang baru saja terbentuk di dekat mesin es krim rusak, Amira berdiri—atau setidaknya bayangannya berdiri—sedang menulis surat perpisahan dengan tinta yang terbuat dari kata-kata yang belum pernah diucapkan siapa pun. Surat itu tidak ada di atas kertas. Surat itu ada di celah antara kata "selamat" dan "tinggal".
(Amira sedang lenyap ke dalam labirin bahasa, dan tidak ada tanda salam perpisahan yang bisa menghentikannya—karena tanda salam perpisahan itu sendiri sudah lenyap lebih dulu.)
---
Labirin itu bukan bangunan. Labirin itu adalah sistem semiotik yang berkembang biak. Setiap kali Aru dan Kemala mencoba menyebut nama Amira, labirin itu bertambah satu koridor. Setiap kali mereka mencoba merangkai kalimat perpisahan, dinding labirin bertambah tebal dari definisi-definisi yang saling menyangkal.
"Amira!" teriak Aru.
Ekonya balik: "Amira!" tetapi bukan Amira yang menjawab. Yang menjawab adalah makna dari nama Amira, yang sudah hidup sendiri dan tidak mau dikenali.
Kemala menutup kamusnya. Kamus itu menangis. Air matanya adalah catatan-catatan kaki yang belum selesai ditulis.
"Kita punya masalah filosofis," kata Kemala, suaranya sekarang keluar dari saku celana Aru. "Amira tidak hilang dalam ruang. Amira hilang dalam referensi. Dia masih ada sebagai signified, tetapi signifier-nya sudah kabur ke dalam labirin. Kita bisa maksudkan dia, tetapi tidak bisa sebut dia."
Aru merogoh saku celananya, menarik suara Kemala keluar, dan memegangnya seperti seekor burung kertas. "Jadi?"
"Jadi, kita harus masuk ke labirin bahasa. Namun, ada masalah."
"Apa?"
"Labirin bahasa tidak punya pintu masuk. Labirin bahasa hanya punya preambul."
---
Mereka masuk labirin pada pukul tiga sore, atau pukul "sebelum"—labirin tidak mengakal waktu linear. Mereka masuk melalui sebuah kalimat yang tidak selesai: "Amira, sebenarnya aku ingin bilang bahwa ...."
Kalimat itu menganga seperti mulut. Aru dan Kemala melompat masuk.
Di dalam, dinding-dindingnya terbuat dari teks-teks yang ditulis tetapi tidak pernah dibaca. Ada memo dari departemen linguistik yang isinya hanya berulang-ulang: "Penggunaan kata 'adalah' dalam konteks ontologis akan dikenai denda eksistensial." Ada surat cinta yang kata-katanya sudah berkeluarga dan melahirkan anak kalimat yang tidak dikenali ayah-ibunya.
"Absurd," gumur Aru.
"Komedi," balas Kemala, meski matanya berkaca-kaca dari debu sinonim yang beterbangan.
Mereka berjalan. Setiap persimpangan adalah dilema linguistik:
- Kiri: Jalan menuju "Amira sebagai nama". Namun, jika mereka memilih ini, Amira akan terkurung dalam fungsi nominatif dan tidak pernah bisa menjadi objek, subjek, atau apa pun selain label.
- Kanan: Jalan menuju "Amira sebagai makna". Namun, jika mereka memilih ini, Amira akan tersebar dalam ribuan interpretasi dan tidak pernah bisa dijumpai dalam bentuk tunggal.
- Lurus: Jalan menuju "Amira sebagai bunyi". Namun, jika mereka memilih ini, Amira akan menjadi fonem murni tanpa rujukan, seperti teriakan bayi yang tidak pernah ditafsirkan.
- Bawah: Tidak ada jalan bawah. Akan tetapi, mereka bisa mendengar suara Amira dari bawah, sedang membaca puisi dalam bahasa yang belum diciptakan.
"Kita harus memilih," kata Aru.
"Memilih adalah bentuk kekerasan epistemologis," jawab Kemala, yang kini tubuhnya terdiri atas 70% kutipan Wittgenstein dan 30% kebingungan eksistensial.
Mereka berdiri di persimpangan selama tiga paragraf, atau tiga abad, atau tiga kata—di labirin bahasa, satuan pengukuran adalah arbitrer dan sering berdemo menuntut definisi ulang.
---
Di lorong ketiga, mereka menemukan kamus hidup—seekor makhluk yang kulitnya terbuat dari halaman-halaman kertas tipis, darahnya adalah tinta, dan jantungnya adalah kata "ada" dalam bahasa Latin.
"Kamu melihat Amira?" tanya Aru.
Kamus hidup itu membuka mulutnya—mulutnya adalah halaman pengantar edisi revisi. "Amira?" suaranya seperti ribuan kuku menggaris kertas. "Amira adalah lema yang sedang dalam proses migrasi. Dia pindah dari kamus kehidupan ke kamus metafisika. Prosesnya memakan waktu tujuh subordinat konjungtif."
"Kita bisa menolongnya?"
"Kamu bisa," jawab kamus hidup, matanya—dua butir huruf "A" berukuran besar—berkilat. "Namun, kamu harus membayar. Labirin bahasa tidak menerima mata uang. Labirin bahasa menerima presuposisi."
Aru mengeluarkan dompetnya. Dari dalamnya dia mengeluarkan presuposisi-presuposisi yang selama ini dia bawa tanpa sadar: bahwa dunia ini masuk akal, bahwa perpisahan membutuhkan salam, bahwa nama seseorang tidak bisa kabur ke dalam sistem tanda.
Kamus hidup itu memakan presuposisi-presuposisi itu. Mengunyahnya dengan suara seperti teori-teori yang runtuh. Lalu dia berserdawa. Serdawanya adalah sebuah pertanyaan: "Bagaimana jika tanda salam perpisahan itu sendiri adalah mitos yang diciptakan untuk menenangkan yang ditinggal, bukan untuk menghormati yang pergi?"
Aru mual. Mualnya berbentuk tanda tanya besar yang keluar dari mulutnya dan terbang ke langit-langit labirin.
---
Mereka sampai di sebuah ruang tunggu. Ruang itu tidak punya dinding, tetapi punya banyak batasan semantik. Di tengahnya ada kursi-kursi yang terbuat dari kata benda abstrak: "keadilan", "waktu", "cinta", "perpisahan".
Amira duduk di kursi "perpisahan". Namun, kursi itu kosong. Atau Amira yang kosong. Atau "duduk" yang tidak lagi berfungsi sebagai verba intransitif.
"Amira!" teriak Aru lagi.
Kali ini, Amira menoleh. Akan tetapi, lehernya menoleh terlalu jauh—180 derajat, 360 derajat, 720 derajat—sampai menolehnya kembali ke posisi semula tapi dari arah yang salah. Matanya kini di tempat telinga. Telinganya di tempat bibir. Bibirnya di tempat nama.
"Kalian tidak bisa membawa aku keluar," kata Amira. Suaranya keluar dari lantai, dari langit-langit, dari celah antara huruf "A" dan "m" dalam namanya sendiri. "Aku bukan hilang. Aku didefinisikan ulang."
"Definisi ulang oleh siapa?" tanya Kemala, yang kini sebagian tubuhnya sudah berubah menjadi footnote akademis.
"Oleh bahasa itu sendiri," jawab Amira. "Bahasa bosan dengan cara-cara lama menamai sesuatu. Bahasa ingin eksperimen. Aku adalah subjek uji coba. Aku lenyap ke dalam labirin supaya kalian—kalian yang masih di luar—bisa merasakan apa rasanya ketika seseorang pergi tanpa tanda salam perpisahan."
Aru berlutut. Lututnya menembus lantai ruang tunggu dan jatuh ke ruang tunggu lain di bawahnya, yang lebih gelap, yang isinya hanya ejaan-ejaan yang dibuang.
"Tapi kenapa?" Aru menangis. Air matanya adalah kata-kata yang terlalu panjang untuk satu kalimat. "Kenapa harus tanpa tanda salam? Kenapa tidak sekadar... 'sampai jumpa'? 'Selamat tinggal'? 'Dadah'?"
Amira tersenyum. Senyumnya terdistribusi di seluruh permukaan kulitnya, seperti font yang tidak punya ukuran tetap. "Karena tanda salam perpisahan adalah kebohongan ontologis. Ia menjanjikan kemungkinan pertemuan ulang yang mungkin tidak pernah ada. Ia menenangkan yang ditinggal dengan ilusi kontinuitas. Aku dihapus dari labirin supaya kalian belajar: perpisahan yang nyata tidak butuh tanda. Perpisahan yang nyata adalah ketika bahasa itu sendiri menyerah mencari kata yang cukup."
---
VI. Abstraksionisme di Pusat Labirin
Mereka mencapai pusat labirin. Pusatnya bukan titik. Pusatnya adalah paradoks: sebuah ruang di mana semua jalan menuju ke sini, tapi tidak ada jalan keluar.
Di pusat itu, Aru melihat dirinya sendiri—bukan bayangan, bukan refleksi, tapi versi linguistik dari dirinya: Aru yang terdiri dari semua kata-kata yang pernah dia ucapkan tentang Amira, yang tersusun menjadi manusia kertas yang rapuh.
Kemala melihat dirinya juga: Kemala yang terbuat dari semua teori bahasa yang pernah dia baca, yang kini bertuburkan menjadi ensiklopedia berjalan dengan halaman-halaman yang terus berjatuhan.
Dan Amira—Amira ada di sana, tapi tidak dalam bentuk. Amira adalah ruang kosong di antara mereka. Amira adalah silence yang hadir ketika mereka berhenti berbicara. Amira adalah elipsis di akhir setiap kalimat.
"Kita harus memilih," kata Aru pada Kemala.
"Memilih apa?"
"Memilih apakah kita menerima Amira dalam bentuk baru ini—sebagai absen yang hadir, sebagai lenyap yang mengisi, sebagai perpisahan tanpa salam yang justru menjadi salam paling tulus—atau kita mencoba merangkai tanda salam perpisahan dari sisa-sisa bahasa yang belum terkontaminasi labirin."
Kemala membuka kamusnya satu kali lagi. Kali ini, kamus itu tidak menangis. Kali ini, kamus itu tertawa—tawa yang terdengar seperti ribuan entri leksikal yang saling bertabrakan.
"Kau tahu masalahnya?" tanya Kemala. "Tanda salam perpisahan yang kau cari... itu bukan tanda. Itu adalah keinginanmu. Keinginan untuk mengontrol akhir. Keinginan untuk membuat perpisahan masuk akal. Tapi lihat: Amira sudah tidak masuk akal. Dia sudah menjadi poem yang tidak perlu dibaca untuk dimengerti, tapi perlu dihilangkan untuk dirasakan."
Aru menatap ruang kosong yang adalah Amira. Dia merasa sesuatu—bukan rindu, bukan sedih, tapi sesuatu yang belum pernah dinamai. Sesuatu yang berdenyut di antara "ada" dan "tiada," di antara "kata" dan "bunyi," di antara "perpisahan" dan "pertemuan yang belum terjadi."
---
VII. Absurd-Komedi: Dialog dengan Penjaga Labirin yang Tidak Ada
Sebelum mereka bisa memutuskan, muncul Penjaga Labirin.
Penjaga Labirin tidak punya bentuk. Penjaga Labirin adalah aturan tata bahasa yang melupakan fungsinya sendiri. Penjaga Labirin berbicara dalam kalimat-kalimat yang grammatically correct tapi ontologically empty.
"HALTE!" teriak Penjaga Labirin, meski tidak ada yang bisa dihalte. "Tidak ada keluar sebelum masuk! Tidak ada masuk sebelum keluar! Tidak ada 'sebelum' sebelum 'sesudah'! Tidak ada 'sesudah' sesudah 'sebelum'!"
Aru menggaruk kepala. Kepalanya rontok. Rambut-rambutnya jatuh ke lantai dan berubah menjadi tanda tanya kecil-kecil yang berlari mengelilingi kaki mereka.
"Kita mau keluar," kata Aru.
"Keluar ke mana?" tanya Penjaga Labirin. "Ke dunia? Dunia itu hanya prasangka yang diterima secara kolektif. Ke realitas? Realitas itu hanya dialek labirin yang paling membosankan. Ke rumah? Rumah itu hanya metafora untuk kekurangan imajinasi."
Kemala mencoba menyuap Penjaga Labirin dengan sebuah neologisme—kata baru yang dia ciptakan di tempat: "per-amira-an" (noun): keadaan lenyapnya seseorang ke dalam sistem tanda hingga yang tersisa hanya struktur kerinduan tanpa objek.
Penjaga Labirin memakan neologisme itu. Mengunyahnya dengan suara seperti teori dekonstruksi yang sedang melahap dirinya sendiri. Lalu dia bersendawa lagi. Serdawanya adalah sebuah pernyataan: "Kata baru tidak menyelesaikan masalah lama. Kata baru hanya melahirkan masalah baru yang lebih segar dan lebih sulit dipecahkan."
"Jadi apa solusinya?" tanya Aru, frustrasi. Frustrasinya berbentuk kalimat pasif yang panjang dan tidak jelas subjeknya.
"Tidak ada solusi," jawab Penjaga Labirin, tubuhnya—yang tidak ada—mulai memudar. "Itulah komedinya. Kalian masuk labirin mencari Amira. Tapi Amira adalah labirin. Kalian mencari tanda salam perpisahan. Tapi tanda salam perpisahan adalah alasan kalian masuk labirin. Kalian mencari jalan keluar. Tapi jalan keluar adalah menerima bahwa labirin tidak punya dinding—dindingnya hanya prasangka kalian sendiri."
Penjaga Labirin lenyap. Yang tersisa hanya tawa yang bergema di koridor-koridor tanpa ujung. Tawa itu bukan tawa gembira. Tawa itu adalah bentuk lain dari tangis yang telah didefinisikan ulang oleh labirin.
---
VIII. Resolusi yang Bukan Resolusi: Tanda Salam yang Tidak Tertulis
Aru dan Kemala duduk di lantai pusat labirin. Lantai itu terbuat dari kata-kata yang belum pernah diucapkan—kata-kata yang terlalu rumit, terlalu sederhana, terlalu benar, atau terlalu berbahaya untuk diucapkan.
Di depan mereka, Amira—ruang kosong yang adalah Amira—mulai berdenyut. Denyutannya adalah bahasa yang belum lahir. Denyutannya adalah perpisahan yang belum membutuhkan salam.
"Kita tidak bisa membawanya pulang," kata Kemala, suaranya kini keluar dari telapak tangan Aru.
"Kita tidak bisa meninggalkannya," jawab Aru, suaranya kini keluar dari rambut Kemala.
Mereka saling menatap. Mata mereka bertemu di tengah udara, membentuk kalimat baru yang tidak membutuhkan subjek atau predikat. Kalimat itu adalah:
"...
(elipsis yang berisi segalanya: rindu, kehilangan, penerimaan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu dijawab)
..."
Dan di dalam elipsis itu, sesuatu terjadi.
Amira—ruang kosong, silence, elipsis, poem yang tidak terbaca—mulai menyebar. Bukan lenyap. Tapi menyebar. Menjadi bagian dari setiap kata yang Aru dan Kemala ucapkan setelahnya. Menjadi intonasi di balik setiap "halo." Menjadi jeda di balik setiap "bagaimana kabarmu?" Menjadi nada di balik setiap nama yang disebutkan tanpa disadari.
Aru dan Kemala berdiri. Mereka tidak menemukan jalan keluar. Mereka menemukan bahwa mereka sudah di luar, selama ini, sejak awal. Labirin bukan tempat. Labirin adalah cara mereka berbicara setelah Amira pergi.
Mereka berjalan keluar dari warung kopi "Tanda Tanya"—yang ternyata masih ada, yang ternyata tidak pernah berubah, yang ternyata hanya dunia yang terus berjalan dengan prasangka-prasangkanya yang diterima secara kolektif.
Di ambang pintu, Aru berhenti. Dia merogoh saku celananya—yang kini kembali normal, yang kini hanya berisi dompet dan receh. Dia merogoh dalam-dalam. Dia menemukan sesuatu.
Sebuah kertas kecil. Kertas itu tidak terbuat dari bahan fisik. Kertas itu terbuat dari keinginan—keinginan terakhir yang dia bawa dari labirin.
Di atas kertas itu, tertulis:
- Tidak ada tulisan.
- Tidak ada tanda.
- Hanya bau—bau kopi tubruk yang sudah dingin, bau buku filsafat yang terlalu sering dibaca, bau seseorang yang pernah duduk di seberang meja dan sekarang menjadi bagian dari setiap kalimat yang tidak selesai.
Aru tersenyum. Senyumnya tidak sampai ke mata—mata yang kini berisi labirin kecil yang tidak akan pernah lenyap.
Kemala berdiri di sebelahnya. Kamus filsafat bahasa edisi 1978 masih di genggamannya, tapi kini halaman-halamannya bisu. Tidak menangis. Tidak tertawa. Hanya ada, seperti Amira, seperti labirin, seperti perpisahan yang tidak pernah butuh tanda salam karena tanda salamnya sudah menjadi segala sesuatu yang tidak disebutkan.
---
IX. Penutup: Di Mana Konflik Tetap Ada, Tapi Sudah Berubah Bentuk
Aru dan Kemala berjalan menyusuri jalan yang sama setiap hari. Jalan itu tidak menuju ke mana-mana. Jalan itu hanya berlanjut, seperti bahasa yang tidak pernah benar-benar berakhir.
Setiap kali mereka lewat warung kopi "Tanda Tanya," mereka melihat mesin es krim rusak di sudut. Dari mesin itu, kadang keluar suara—bukan suara mesin, tapi suara bacaan: suara Amira yang sedang membaca puisi dalam bahasa yang belum diciptakan, untuk pendengar yang belum lahir, di waktu yang tidak mengenal "sebelum" atau "sesudah."
Dan setiap kali Aru mencoba menceritakan ini pada orang lain, dia menemukan bahwa lidahnya berat. Bukan karena sedih. Bukan karena rindu. Tapi karena Amira kini menjadi bagian dari sistem tanda yang dia gunakan—setiap kali dia berbicara tentang kehilangan, dia tidak berbicara tentang Amira. Dia berbicara dengan Amira, yang sudah menjadi grammar dari kerinduannya sendiri.
Kemala menulis disertasi tentang peristiwa itu. Judulnya: "Lenyapnya Signifier: Sebuah Studi Kasus tentang Perpisahan Tanpa Tanda Salam dalam Kerangka Realisme Magis dan Absurditas Ontologis." Disertasi itu tidak pernah selesai. Setiap kali dia menulis kata terakhir, kata itu kabur ke halaman sebelumnya, dan bab baru muncul dari footnote.
Satu-satunya yang tetap ada, yang tidak berubah, yang tidak lenyap:
Konfliknya masih di sana.
Bukan konflik "bagaimana membawa Amira kembali." Amira tidak bisa kembali—dia sudah bukan "dia," dia sudah bukan "Amira," dia sudah menjadi cara dunia berkurang satu nama dan bertambah satu makna.
Konfliknya adalah: bagaimana hidup dengan labirin yang kini tinggal di dalam diri.
Aru belum menemukan jawabannya. Kemala belum menemukan jawabannya. Mungkin tidak ada jawaban. Mungkin jawabannya adalah terus bertanya, dalam bahasa yang semakin hari semakin aneh, semakin sureal, semakin penuh dengan absen yang hadir dan hadir yang absen.
Dan di suatu sudut labirin yang kini berada di dalam pikiran Aru, di ruang tunggu ontologi yang tidak punya dinding, Amira—atau apa pun yang tersisa dari Amira—masih duduk di kursi "perpisahan."
Kursi itu kosong.
Atau penuh.
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "duduk."
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "Amira."
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "tanda."
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "salam."
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "perpisahan."
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "definisi."
Labirin itu terus tumbuh.
Dan Aru, Kemala, dan Amira—yang sudah bukan Aru, Kemala, dan Amira, tapi juga masih Aru, Kemala, dan Amira—terus berjalan di dalamnya.
Tanpa tanda salam perpisahan.
Karena tanda salam perpisahan itu, sejak awal, sudah menjadi mereka sendiri.
---
- SELESAI -
---
Catatan Penulis Absurd:
Cerita ini tidak dimulai. Cerita ini tidak berakhir. Cerita ini hanya dikatakan, dan dalam pengkataannya, menjadi labirin baru yang menunggu pembaca masuk. Jika setelah membaca ini kamu merasa ada sesuatu yang hilang dari kosakatumu—selamat. Kamu baru saja bertemu Amira. Atau kehilangan dia. Di labirin bahasa, keduanya adalah hal yang sama.
Komentar
Posting Komentar