ARU, KEMALA, DAN AMIRA YANG MEMASAK HUJAN
ARU, KEMALA, DAN AMIRA YANG MEMASAK HUJAN
Dapur warung Nasi Hujan tidak punya ventilasi modern. Asap dan uap keluar melalui lubang di atap genting yang disengaja dibiarkan bolong—Aru percaya bahwa masakan harus bisa "melihat" langit sebelum disajikan. Warungnya terletak di pinggir sungai kecil yang kini hanya mengalir tiga bulan dalam setahun. Sisanya, sungai itu adalah ingatan—bekas lembap di batu-batu kering, bau tanah yang tidak pernah benar-benar kering, suara yang tidak pernah benar-benar sunyi.
Hari ini, sungai kering. Langit biru tanpa awan selama empat puluh tujuh hari berturut-turut. Desa di sekitar warung mulai kehilangan kata-kata untuk hujan—anak-anak muda mengatakan "turun air" dengan nada asing, seperti orang menyebut nama nenek yang sudah lama meninggal.
Aru berdiri di depan kompor kayu. Di tangannya, pisau dapur yang sudah tumpul karena sering dipakai memotong sesuatu yang lebih keras dari daging: akar-akar pengingat. Akar dari pohon yang tidak punya nama dalam bahasa Indonesia modern, yang nenek moyang Aru sebut pohon hujan—bukan karena menyukai hujan, melainkan karena menjadi hujan ketika mati, tubuhnya meresap ke tanah dan naik lagi sebagai uap, sebagai awan, sebagai sesuatu yang akhirnya jatuh.
"Kau tidak bisa memasak hujan," kata Kemala dari sudut dapur.
Kemala adalah peneliti kekeringan yang dikirim pemerintah kota untuk "mengevaluasi dampak"—frasa yang dalam bahasa sebenarnya berarti mencatat kerusakan tanpa memperbaiki, menulis laporan yang tidak akan dibaca, dan pulang sebelum tanah benar-benar mati. Namun, Kemala tidak pulang. Sudah tiga bulan dia tinggal di losmen seberang warung, setiap pagi datang ke dapur Aru, setiap malam kembali dengan catatan-catatan yang semakin tidak masuk akal.
"Kau selalu bilang begitu," jawab Aru, tanpa menoleh, "tetapi kau tetap datang. Kau tetap duduk. Kau tetap makan apa yang aku masak."
"Karena aku lapar."
"Bukan. Karena kau tahu aku bisa."
Kemala diam. Karena memang begitu. Karena Aru bisa memasak sesuatu yang tidak seharusnya bisa dimasak—ingatan, kerinduan, rasa bersalah, dan kini, hujan yang sudah pergi. Bukan sihir. Bukan ilmu. Melainkan sesuatu yang lebih tua dari keduanya: resep tubuh, cara tubuh mengingat apa yang pikiran sudah lupa, cara tangan Aru bergerak tanpa perlu diperintah karena tangan itu sudah bergerak seperti ini ratusan tahun sebelum Aru lahir.
Dan di sudut dapur, duduk di bangku kayu yang paling rendah, ada Amira. Bukan tamu. Bukan keluarga. Bukan manusia—setidaknya tidak sepenuhnya. Amira adalah yang terakhir dari sungai, yang tidak bisa kembali ke laut karena sungai sudah tidak mengalir, yang tidak bisa naik ke langit karena uap sudah tidak cukup, yang terjebak di antara: tubuh air yang kehilangan tubuh, makhluk yang hanya bisa "ada" di dekat seseorang yang masih tahu cara berbicara dengan air.
"Resepnya salah," kata Amira. Suaranya seperti gemercik di daun pisang—bunyi yang hampir tidak pernah terdengar lagi di desa ini.
"Resep apa?"
"Untuk hujan. Kau memakai akar pohon hujan. Namun, akar itu hanya kenangan akan hujan. Bukan hujan itu sendiri. Untuk memasak hujan yang benar-benar turun, kau butuh sesuatu yang lebih ... sekarang."
Aru menoleh. Untuk pertama kali dalam empat puluh tujuh hari, matanya menunjukkan sesuatu selain kelelahan: ketakutan yang disadari. "Apa?"
Amira tersenyum. Senyumnya seperti permukaan sungai yang tenang—yang di bawahnya, arus masih bergerak, masih mencari jalan ke laut. "Kau tahu, Aru. Kau selalu tahu. Itulah kenapa aku di sini. Itulah kenapa sungai mempertahankanku di sini. Karena kau adalah penghubung. Yang terakhir di garis keturunanmu yang masih bisa memasak apa yang tidak bisa dimakan."
Konfliknya ada di sini, di pembukaan, seperti uap yang naik sebelum air mendidih: Aru harus memasak hujan untuk mengakhiri kekeringan. Akan tetapi, bahan yang dibutuhkan bukan akar atau daun atau biji—bahan yang dibutuhkan adalah sesuatu yang Aru tidak mau berikan. Sesuatu yang Kemala, yang mulai memahami lebih dari yang seharusnya dia pahami sebagai peneliti, mulai curigai. Sesuatu yang Amira, yang terjebak di antara air yang hilang, sudah tahu sejak awal. Dan pilihan untuk memberikan bahan itu, atau membiarkan desa mati kekeringan, bukan pilihan sederhana—karena memberikannya berarti kehilangan sesuatu yang tidak bisa diukur, tidak bisa diganti, tidak bisa dimasak ulang.
---
Aru membuka kotak kayu di bawah kompor. Kotak itu warisan—dari neneknya, dari nenek neneknya, dari perempuan-perempuan yang namanya sudah tidak tercatat dalam sejarah desa karena sejarah desa ini ditulis oleh orang-orang yang tidak percaya bahwa memasak bisa mengubah cuaca.
Di dalam kotak, ada buku resep. Bukan buku biasa. Halaman-halamannya terbuat dari sesuatu yang terlihat seperti kulit, tetapi lebih tipis, lebih transparan—seperti membran yang bisa ditembus cahaya. Tulisannya bukan tinta, melainkan bekas air—air yang pernah menetes, yang pernah mengalir, yang pernah menjadi bagian dari sungai atau tubuh atau hujan sebelum dituliskan menjadi kata.
Aru membuka halaman pertama. Bukan dengan mata, melainkan dengan hidung—mencium bekas air itu, mengenali musimnya, tahunnya, perasaannya. Halaman ini dari musim hujan yang gembira. Halaman berikutnya dari musim hujan yang sedih. Halaman berikutnya lagi dari musim hujan yang marah—airnya terlalu asin, terlalu pahit, terlalu banyak mengandung sesuatu yang tidak seharusnya ada di awan.
"Apa yang kau lihat?" tanya Kemala, yang kini berdiri di belakangnya, mencondongkan tubuh, mencoba membaca halaman yang tidak punya huruf.
"Aku tidak melihat," jawab Aru. "Aku merasa. Resep ini tidak ditulis untuk dibaca. Resep ini ditulis untuk dirasakan."
"Bagaimana cara merasakannya?"
Aru menatapnya. Kemala yang datang dengan kemeja putih dan celana khaki dan tablet yang selalu menampilkan grafik kekeringan. Kemala yang rambutnya selalu dikucir ketat, yang kukunya selalu pendek, yang tubuhnya selalu berbau sabun antiseptik. Kemala yang, Aru sadari tiba-tiba, tidak pernah berkeringat—meski di dapur ini, di siang bolong, di dekat kompor kayu, suhunya bisa mencapai titik yang seharusnya membuat manusia normal mengeluarkan cairan.
"Kau tidak pernah berkeringat," kata Aru. Bukan pertanyaan.
Kemala menegang. Seperti orang yang tertangkap basah menyembunyikan sesuatu. "Aku ... tidak bisa. Sejak kecil. Kelenjar keringatku tidak berfungsi. Dokter bilang kelainan genetik. Aku harus minum banyak air. Aku harus menghindari panas. Aku ...." Dia berhenti, karena Aru menatapnya dengan cara yang tidak pernah dia tatap sebelumnya. Bukan dengan kasihan. Bukan dengan penasaran. Melainkan dengan pengenalan. Seperti menemukan bahan yang sudah lama dicari.
"Kau adalah bahannya," bisik Aru.
"Apa?"
"Bahan untuk memasak hujan. Bukan kau secara utuh, melainkan sesuatu yang ada di dalammu. Sesuatu yang kau simpan karena kau tidak bisa keluarkan. Air yang terpendam. Air yang seharusnya menjadi keringat, menjadi uap, menjadi bagian dari siklus—tetapi terjebak di dalam tubuhmu, terkumpul selama bertahun-tahun, menjadi sesuatu yang ... pekat. Sesuatu yang, jika diekstrak dengan benar, bisa menjadi inti dari hujan yang sebenarnya. Bukan kenangan akan hujan. Bukan harapan akan hujan. Melainkan hujan itu sendiri, dalam bentuk yang paling murni, sebelum jatuh, sebelum menjadi basah, sebelum menjadi hujan dalam arti yang kita kenal."
Kemala mundur satu langkah. Dua langkah. Sampai punggungnya menabrak dinding dapur yang retak-retak. "Kau gila."
"Mungkin. Namun, kau merasa, kan? Sesuatu di dalammu yang ingin keluar. Sesuatu yang bergerak di bawah kulitmu ketika kau mendengar suara air. Sesuatu yang berdenyut ketika kau mencium bau tanah basah—meski tanah sudah tidak basah lagi. Sesuatu yang ...."
"Berhenti."
Namun, Aru tidak berhenti. Karena Amira sudah berdiri, sudah mendekati Kemala, sudah menyentuh pipi Kemala dengan tangan yang—Aru melihat dengan jantung berdebar—basah. Basah dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat, tetapi bisa dirasakan sebagai dingin yang tiba-tiba, sebagai kelembapan yang tidak punya sumber.
"Kau merasa," kata Amira, suaranya kini lebih dekat dengan suara sungai yang sesungguhnya—bukan gemercik, melainkan desiran, suara air yang bergerak melawan batu, melawan akar, melawan segala yang mencoba menghalanginya. "Kau merasa ingin keluar. Kau merasa ingin menjadi uap. Kau merasa inging menjadi hujan. Akan tetapi, tubuhmu tidak mengizinkan. Jadi, kau menumpuk. Kau menumpuk dan menumpuk dan menumpuk. Dan kini, kau adalah danau yang berjalan. Danau yang bisa berbicara. Danau yang bisa memilih."
---
Malam itu, mereka duduk di beranda warung. Kemala tidak kembali ke losmen. Amira tidak menghilang—seperti biasanya, setelah matahari terbenam, setelah suhu turun, setelah air yang ada di dalamnya mulai "tidur" dan menjadi lebih padat, lebih berat, lebih tubuh.
Aru menyalakan lentera minyak. Bukan karena tidak ada listrik—listrik ada, tetapi Aru tidak menyukai cahayanya. Terlalu putih. Terlalu kukuh. Tidak berkedip, tidak berubah, tidak hidup seperti api.
"Sungai ini dulu punya nama," kata Aru, menatap kekeringan di bawah beranda—bekas aliran yang kini hanya bekas, bekas yang bahkan tidak terlihat di malam hari, yang hanya bisa dikenali dengan bau. "Nama aslinya sudah tidak bisa diucapkan. Bukan karena rahasia, melainkan karena bahasa sudah berubah. Fonem-fonemnya hilang. Jadi, sungai ini kehilangan nama, dan kehilangan nama berarti kehilangan cara dipanggil. Dan sesuatu yang tidak bisa dipanggil, akhirnya tidak datang ketika dipanggil."
"Kau memanggilnya?" tanya Kemala. Suaranya masih tegang, masih waspada, tetapi ada sesuatu yang baru—keingintahuan yang lebih kuat dari ketakutan. Keingintahuan yang mungkin selalu ada di dalamnya, yang dibawa ke desa ini, yang membuatnya tidak pulang meski laporan sudah selesai ditulis.
"Aku tidak memanggilnya. Aku memasak untuknya. Setiap masakan yang aku buat, setiap uap yang naik ke lubang atap, setiap aroma yang keluar dari dapur—itu adalah cara berbicara dengan sungai. Dengan tanah. Dengan apa pun yang masih bisa mendengar."
"Dan sungai menjawab?"
"Sungai menjawab dengan Amira." Aru menatap makhluk di seberangnya—yang kini tampak lebih padat di malam hari, lebih "ada", lebih hampir manusia. "Amira bukan dewi. Bukan roh. Amira adalah yang tersisa. Bagian dari sungai yang tidak bisa kembali karena tidak ada jalan. Bagian yang terjebak di antara siklus. Bagian yang ... lapar. Lapar akan nama. Lapar akan dipanggil. Lapar akan menjadi hujan lagi."
Amira mengangguk. Gerakannya lambat, seperti air yang bergerak melawan gravitasi. "Aku lapar, tetapi bukan lapar yang bisa dihilangkan dengan makanan. Aku lapar akan perubahan. Aku lapar akan menjadi sesuatu yang lain. Aku lapar akan ... jatuh. Aku sudah lama tidak jatuh. Sudah lama tidak menjadi hujan yang membasahi tanah, yang masuk ke akar, yang naik lagi sebagai uap. Aku terjebak di sini. Di dekatmu, Aru. Karena kau adalah penghubung. Karena kau masih bisa memasak apa yang bisa membebaskanku."
"Dan bahannya?"
Amira menatap Kemala. Kemala yang kini—Aru melihat dengan mata yang mulai terbiasa dengan gelap—berkilauan. Kilauan halus di kulitnya, seperti keringat yang tidak pernah keluar, seperti embun yang terjebak di dalam kaca, seperti air yang ingin menjadi uap tetapi tidak punya izin.
"Air yang terpendam," kata Amira, "tetapi bukan sembarang air. Air yang sudah menjadi tubuh. Air yang sudah menjadi ingatan. Air yang sudah menjadi keinginan. Kemala menyimpan air selama bertahun-tahun—air yang seharusnya keluar, yang seharusnya menjadi bagian dari dunia, tetapi terjebak di dalamnya karena kelainan, karena tubuh yang salah, karena cara hidup yang salah. Air itu kini bukan lagi cairan. Air itu adalah makna. Makna dari semua hari panas yang dia lewati tanpa keringat. Makna dari semua malam yang dia habiskan minum air putih tanpa rasa. Makna dari semua kerinduan akan sesuatu yang dia tidak tahu namanya—kerinduan yang dia pikir adalah kerinduan akan hujan, tetapi sebenarnya adalah kerinduan akan dirinya sendiri yang bisa keluar."
Kemala menangis. Tangisan yang tidak pernah dia tangisi sebelumnya—karena tanpa keringat, air matanya juga berbeda. Lebih pekat. Lebih panas. Lebih berasa. Air mata yang jatuh ke tangannya, yang dia tatap di cahaya lentera, yang tampak seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di dalam tubuh manusia.
"Jadi, kau butuh air mataku?" suaranya pecah.
"Bukan hanya air mata," jawab Aru. Lembut. Sangat lembut. Seperti cara neneknya berbicara dengan bahan-bahan sebelum memasak. "Melainkan juga keringat yang tidak pernah keluar. Yang masih ada di dalammu, di kelenjarmu, di jaringanmu. Yang sudah menjadi bagian dari tubuhmu, dari sel-selmu, dari DNA-mu. Yang membuatmu kau. Jika aku mengambilnya—jika aku memasaknya—kau akan kehilangan sesuatu. Bukan hidupmu. Bukan kesehatanmu. Melainkan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan. Sesuatu seperti ... kemampuan untuk merasa kekeringan. Kau akan menjadi seseorang yang tidak pernah merasa haus. Yang tidak pernah merasa panas. Yang tidak pernah merasa butuh hujan. Kau akan hidup, tetapi sebagian dari dirimu—sebagian yang sudah menjadi air yang terpendam—akan pergi. Menjadi hujan. Menjadi sungai. Menjadi sesuatu yang kau tidak bisa lagi kenali sebagai bagian dari dirimu."
---
Kemala tidak tidur. Aru juga tidak. Mereka duduk di beranda, menatap langit yang kosong—bintang-bintang yang terlalu terang karena tidak ada awan yang menutupi, bintang-bintang yang terlihat seperti lubang-lubang di kanvas hitam, bukan seperti cahaya.
"Kenapa kau tidak pernah pergi?" tanya Kemala. "Dari desa ini. Dari warung ini. Dari ... semua ini."
Aru mengangkat bahu. Bahunya terasa berat—seperti bahu-bahu yang memikul sesuatu yang tidak terlihat. "Karena aku adalah penghubung. Bukan karena dipilih. Bukan karena istimewa. Melainkan karena ... aku tidak bisa tidak. Setiap kali aku mencoba pergi, tubuhku menolak. Mual. Pusing. Sesak napas. Bukan karena sakit, melainkan karena salah tempat. Seperti ikan yang dicoba hidup di udara. Aku bisa bernapas, tetapi aku tidak bisa hidup."
"Dan Amira?"
"Amira adalah yang membuatku tetap bisa. Bukan karena dia menyelamatkanku, melainkan karena dia adalah bukti bahwa penghubungan itu masih berfungsi. Bahwa sungai masih bicara. Bahwa tanah masih mendengar. Bahwa aku—meski hanya aku di desa ini, meski hanya aku di garis keturunanku yang masih bisa—bahwa aku masih diperlukan."
Kemala diam. Lama. Sampai langit mulai pucat di timur—bukan karena matahari akan terbit, melainkan karena debu di udara yang memantulkan cahaya terlebih dahulu. "Aku datang ke sini untuk menulis laporan. Laporan tentang kekeringan. Tentang kerusakan lingkungan. Tentang apa yang harus dilakukan pemerintah—irigasi, sumur artesis, relokasi penduduk. Aku pikir aku punya solusi. Aku pikir aku datang dengan jawaban."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku sadar bahwa aku tidak punya jawaban. Aku hanya punya pertanyaan. Dan pertanyaan-pertanyaan itu ... lebih berat dari jawaban apa pun."
Aru menoleh. Menatap Kemala—yang kini, di cahaya fajar yang palsu, tampak lebih muda. Lebih rapuh. Lebih manusia dari yang pernah dia lihat. "Kau bisa pergi. Besok. Naik bus pertama. Kembali ke kota. Menulis laporanmu. Melanjutkan hidupmu. Tidak ada yang akan menyalahkanmu. Tidak ada yang akan tahu bahwa kau bisa memberikan sesuatu. Bahwa kau memilih untuk tidak."
"Namun, aku akan tahu."
"Ya. Kau akan tahu."
Kemala menatap tangannya. Tangan yang kering—terlalu kering, selalu terlalu kering—yang kini berkilauan dengan sisa-sisa air mata yang tidak sepenuhnya kering. "Air yang terpendam. Kau bilang itu sudah menjadi bagian dari tubuhku. Dari DNA-ku. Jika kau mengambilnya ... aku akan berubah?"
"Bukan berubah secara fisik. Kau akan tetap kau, tetapi kau akan kehilangan sesuatu. Sesuatu yang membuatmu merasa haus ketika panas. Sesuatu yang membuatmu merasa lega ketika hujan. Sesuatu yang membuatmu ... peduli. Kau akan menjadi seseorang yang bisa melihat kekeringan tanpa merasa sedih. Yang bisa melihat sungai kering tanpa merasa kehilangan. Yang bisa melihat desa mati tanpa merasa bersalah. Kau akan baik-baik saja, tetapi kau tidak akan lagi merasa."
"Dan jika aku tidak memberikannya?"
"Desa ini akan mati. Perlahan. Sungai tidak akan kembali. Amira akan tetap terjebak—atau lebih buruk, akan menyebar, menjadi bagian dari debu, menjadi bagian dari kekeringan itu sendiri, menjadi sesuatu yang tidak bisa dipanggil kembali. Dan aku ...." Aru berhenti. Menelan. Menelan sesuatu yang lebih pahit dari air mata Kemala. "Aku akan tetap hidup. Tetap memasak. Tetap menjadi penghubung. Akan tetapi, untuk siapa? Untuk apa? Jika tidak ada yang bisa dihubungkan, jika tanah sudah mati, jika sungai sudah tidak bicara—apa gunanya penghubung yang tidak ada yang dihubungkan?"
---
Pagi itu, Aru mempersiapkan dapur. Bukan seperti biasanya. Lebih bersih. Lebih teratur. Lebih ritual. Setiap benda diletakkan di tempat yang tepat—bukan karena kebetulan, melainkan karena posisinya adalah bagian dari resep. Piring di sebelah kiri kompor. Mangkuk di sebelah kanan. Pisau di tengah, mata pisau menghadap ke utara, ke arah sungai, ke arah asal.
Kemala datang saat matahari di tengah langit. Bukan pagi. Bukan siang. Melainkan waktu yang tidak terdefinisi—waktu yang tidak masuk dalam kategori, yang tidak diukur, yang hanya "ada" karena Aru membutuhkannya untuk menjadi ada.
"Kau datang," kata Aru. Bukan pertanyaan.
"Aku datang."
"Kau tahu apa yang akan terjadi?"
"Tidak sepenuhnya, tetapi aku tahu bahwa aku tidak akan mati. Bahwa aku akan kehilangan sesuatu. Bahwa sesuatu yang hilang akan menjadi hujan." Kemala berhenti. Menatap Aru dengan mata yang kini—Aru melihat—berkaca-kaca. Bukan air mata, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang sudah lama terpendam, yang kini mulai naik ke permukaan, yang kini mulai mengakui keberadaannya sendiri. "Aku datang karena aku lelah. Lelah menjadi danau yang berjalan. Lelah menyimpan sesuatu yang seharusnya keluar. Lelah menjadi salah—tubuh yang salah, cara hidup yang salah, keberadaan yang salah. Jika memberikan ini berarti aku menjadi ... benar. Jika memberikan ini berarti aku menjadi bagian dari sesuatu—dari hujan, dari sungai, dari siklus yang sudah lama aku lihat tetapi tidak pernah bisa ikuti—maka aku ingin memberikannya."
Aru mengangguk. Tidak tersenyum. Tidak sedih. Hanya menerima—seperti cara neneknya menerima bahan-bahan, seperti cara sungai menerima hujan, seperti cara tanah menerima apa pun yang jatuh kepadanya.
Amira ada di sudut. Lebih transparan dari biasanya—karena siang, karena panas, karena air di dalamnya mulai "bangun" dan ingin naik. Akan tetapi, matanya—jika bisa disebut mata—tertuju pada Kemala dengan sesuatu yang hampir seperti terima kasih. Atau mungkin penyesalan. Atau mungkin keduanya—karena dalam bahasa air, terima kasih dan penyesalan adalah hal yang sama: pengakuan bahwa sesuatu diberikan dan sesuatu diambil, bahwa siklus berlanjut, bahwa tidak ada yang benar-benar hilang atau benar-benar ditemukan.
"Prosesnya akan memakan waktu," kata Aru. "Bukan waktu jam atau hari, melainkan waktu tubuh. Waktu yang kau rasakan di dalammu, yang mungkin terasa seperti jam, seperti hari, seperti tahun—meski di luar, hanya beberapa menit berlalu."
Kemala mengangguk. Duduk di bangku yang sudah disiapkan—bangku yang paling rendah, yang paling dekat dengan lantai, yang paling dekat dengan tanah. "Aku siap."
Aru mulai. Bukan dengan pisau. Bukan dengan api. Melainkan dengan suara. Suaranya—yang biasanya pelan, yang biasanya hanya untuk berbicara dengan bahan—kini berubah. Menjadi nyanyian. Menjadi mantra. Menjadi bahasa yang tidak punya arti tetapi penuh makna. Bahasa yang neneknya ajarkan, yang nenek neneknya ajarkan, yang mungkin diajarkan oleh sungai sendiri sebelum sungai kehilangan nama.
Kemala merasakannya pertama kali sebagai getaran. Di tulang-tulangnya. Di jantungnya. Di tempat-tempat yang tidak punya nama dalam anatomi modern. Getaran yang berkata: keluar. Getaran yang berkata: naik. Getaran yang berkata: bebas.
Kemudian, panas. Bukan panas dari kompor—kompor belum dinyalakan. Panas dari dalam. Dari tempat air yang terpendam disimpan. Dari kelenjar yang tidak berfungsi. Dari jaringan yang menahan sesuatu yang seharusnya mengalir. Panas yang naik, yang menyebar, yang membuat kulitnya merah, yang membuat napasnya cepat, yang membuat dunia berputar.
Dan kemudian—air.
Bukan keringat. Bukan air mata. Melainkan sesuatu yang lebih murni. Sesuatu yang keluar dari setiap pori-pori, dari setiap celah, dari setiap tempat di tubuhnya yang pernah menahan. Air yang bening, yang hangat, yang berbau—tidak berbau apa-apa, atau berbau segalanya, atau berbau seperti kenangan akan sesuatu yang belum pernah terjadi tetapi selalu dirindukan.
Air itu mengalir ke mangkuk yang diletakkan di bawah bangku. Mengalir perlahan, terus-menerus, lebih banyak dari yang seharusnya bisa ada dalam tubuh manusia. Seperti Kemala bukan hanya menyimpan air—melainkan juga menyimpan sungai kecil, danau kecil, lautan kecil di dalam dirinya, yang kini akhirnya bisa keluar, bisa mengalir, bisa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Aru mengumpulkan air itu. Dengan tangan—tangannya kini juga basah, bukan dari air Kemala, melainkan dari sesuatu yang keluar dari dirinya sendiri, sesuatu yang tidak dia sadari dia simpan: air penghubung, air yang menjadi bagian dari setiap orang yang pernah memasak dengan cara ini, yang menetes dari pori-pori mereka, dari mata mereka, dari hati mereka.
Amira mendekat. Tubuhnya—yang transparan, yang hampir tidak ada—menyentuh mangkuk. Menyentuh air. Dan sesuatu terjadi. Sesuatu yang Aru tidak pernah lihat sebelumnya, yang tidak pernah dideskripsikan dalam buku resep, yang hanya bisa "diketahui" oleh mereka yang sudah menjadi bagian dari siklus:
Air itu berbicara.
Bukan dengan suara, melainkan dengan bentuk. Permukaannya bergerak, berombak, membentuk gambar-gambar yang tidak statis—gambar sungai yang mengalir, gambar awan yang berkumpul, gambar tetesan yang jatuh ke tanah dan meresap dan naik lagi. Gambar siklus yang utuh, yang sempurna, yang hidup.
Dan Amira—Amira yang terjebak, Amira yang lapar, Amira yang ingin jatuh—mulai naik. Bukan tubuhnya—tubuhnya tetap di bangku, tetap transparan, tetap hampir tidak ada. Namun, sesuatu yang ada di dalamnya, sesuatu yang membuatnya "Amira" dan bukan sekadar air, naik ke permukaan mangkuk, menyatu dengan air Kemala, menyatu dengan air Aru, menjadi satu yang terdiri atas banyak, yang terdiri atas semua, yang terdiri atas siklus itu sendiri.
---
Kompor dinyalakan. Bukan kayu—kayu sudah habis, sudah kering, sudah menjadi bagian dari kekeringan. Melainkan sesuatu yang Aru simpan untuk kesempatan ini: batu-batu dari dasar sungai yang dulu, batu yang masih basah di dalam meski kering di luar, batu yang menyimpan air seperti Kemala menyimpan air, batu yang menjadi bahan bakar untuk memasak sesuatu yang tidak seharusnya bisa dimasak.
Api biru. Bukan kuning, bukan oranye—biru, seperti warna langit sebelum hujan, seperti warna air dalam kedalaman, seperti warna sesuatu yang akan terjadi tetapi belum terjadi.
Mangkuk diletakkan di atas api. Air di dalamnya—yang kini bukan lagi hanya air, melainkan juga Amira-Kemala-Aru-sungai-siklus-kenangan-harapan—mulai berubah. Bukan mendidih. Bukan menguap. Melainkan berkumpul. Mengerut. Menjadi sesuatu yang lebih kecil, lebih pekat, lebih inti.
Aru mengaduk dengan tangan kosong. Tangannya terbakar—bukan oleh api, melainkan oleh sesuatu yang lebih panas, sesuatu yang ada di dalam air, sesuatu yang hidup dan tidak mau diaduk. Namun, dia terus mengaduk. Terus mengumpulkan. Terus memusatkan.
Sampai—di dasar mangkuk, di tengah api biru—tersisa sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa disebut makanan. Sesuatu yang tidak bisa disebut obat. Sesuatu yang tidak bisa disebut apa pun dalam bahasa yang ada.
Sebutir. Sebesar biji padi. Seberat beban yang tidak bisa diukur.
Aru mengangkatnya. Dengan jari-jari yang melepuh, yang bergetar, yang hidup dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Dia membawanya ke lubang di atap. Ke langit yang kosong. Ke udara yang kering.
Dia melepaskannya.
Bukan melempar. Bukan menabur. Melainkan melepaskan—seperti cara ibu burung melepaskan anaknya, seperti cara sungai melepaskan airnya ke laut, seperti cara penghubung melepaskan sesuatu yang sudah lama dihubungkan.
Biji itu naik. Tidak jatuh. Naik, melawan gravitasi, melawan logika, melawan aturan yang ditulis oleh orang-orang yang tidak percaya bahwa memasak bisa mengubah cuaca.
Naik, sampai tidak terlihat.
Sampai menjadi bagian dari langit yang kosong.
Sampai menjadi awal dari sesuatu.
---
Tidak segera. Tidak besok. Namun, tiga hari kemudian—tiga hari yang Aru habiskan dengan tidur tanpa mimpi, yang Kemala habiskan dengan tubuh yang kini ringan, yang kini kering dengan cara yang berbeda, yang kini kosong tetapi tidak kehilangan.
Awan datang dari arah yang salah. Bukan dari laut, seperti biasanya. Akan tetapi, dari atas—dari tempat biji itu dilepaskan, dari tempat yang tidak seharusnya bisa menghasilkan awan. Awan yang gelap, tetapi tidak muram. Awan yang berat, tetapi tidak menekan. Awan yang tahu—tahu apa yang dibawanya, tahu dari mana asalnya, tahu bahwa ini bukan hujan biasa.
Hujan turun. Perlahan dulu. Tetes demi tetes. Seperti dunia yang belum yakin apakah boleh basah lagi. Kemudian lebih cepat. Lebih deras. Lebih lapar—lapar akan tanah yang kering, lapar akan sungai yang mati, lapar akan segala sesuatu yang kekurangan.
Aru berdiri di beranda. Menatap hujan. Menciumnya—wangi yang tidak pernah ada sebelumnya, wangi yang terbuat dari Kemala dan Amira dan dirinya dan sungai dan siklus dan segala sesuatu yang pernah terjadi dan akan terjadi.
Kemala berdiri di sebelahnya. Tubuhnya basah—benar-benar basah, untuk pertama kali dalam hidupnya. Air yang jatuh ke kulitnya tidak menggenang, tidak mengalir dengan cara yang aneh. Namun, meresap. Masuk ke pori-pori yang kini—dia merasakannya—terbuka. Pori-pori yang selama ini tertutup, tersumbat, terkunci. Pori-pori yang kini bisa bernapas, bisa merasa, bisa hidup.
"Amira?" tanya Kemala. Suaranya hampir tidak terdengar di tengah derasnya hujan.
Aru menatap sungai. Sungai yang kini—perlahan, sangat perlahan—mulai mengalir lagi. Air yang merembes dari tanah, yang berkumpul di bekas aliran, yang akhirnya menemukan jalan ke laut. "Ada," jawabnya. "Di setiap tetes. Di setiap aliran. Di setiap ...." Dia berhenti, karena tidak ada kata yang cukup. "... di setiap yang basah."
Kemala mengerti. Tanpa penjelasan. Tanpa kata. Dia mengerti bahwa Amira bukan hilang. Amira bukan mati. Amira adalah hujan ini. Adalah sungai yang kembali. Adalah pori-pori yang terbuka. Adalah cara tubuhnya kini bisa merasa panas dan dingin dan basah dan kering—semua dengan intensitas yang baru, dengan kepekaan yang baru, dengan kemampuan untuk peduli yang dia pikir akan hilang tetapi kini justru lebih kuat.
Karena apa yang dia berikan bukan hilang. Apa yang dia berikan berubah bentuk. Menjadi hujan yang kini membasahi tanah. Menjadi sungai yang mengalir ke laut. Menjadi uap yang akan naik dan jatuh lagi dan lagi dan lagi. Menjadi siklus yang dia kini—akhirnya—bagian dari.
---
Nasi Hujan buka lagi setelah tiga hari hujan. Bukan karena Aru sudah pulih—tubuhnya butuh waktu lebih lama, luka di tangannya butuh waktu lebih lama, sesuatu di dalamnya yang ikut dilepaskan bersama biji itu butuh waktu lebih lama untuk kembali.
Namun, karena orang datang. Orang-orang desa yang sudah lupa rasa hujan, yang kini ingin kembali. Yang ingin makan sesuatu yang dimasak oleh seseorang yang tahu cara berbicara dengan air. Yang ingin—meski tidak tahu mengapa—merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari mereka.
Kemala masih di sana. Tidak sebagai peneliti. Tidak sebagai tamu. Akan tetapi, sebagai seseorang yang kini juga bisa memasak—tidak seperti Aru, tidak dengan cara yang sama, tetapi dengan cara yang baru, cara yang dia temukan sendiri, cara yang terbuat dari kehilangan dan penemuan dan air yang kini bisa mengalir.
Dia memasak sup. Sup sederhana. Sup yang bahannya hanya sayuran dan air hujan dan garam. Namun, ketika Aru mencicipinya, dia merasakan sesuatu—sesuatu yang tidak bisa dia masak sendiri, sesuatu yang hanya bisa dimasak oleh seseorang yang pernah kehilangan dan menemukan kembali:
Kemampuan untuk merasa haus.
Kemampuan untuk merasa haus, dan memuaskannya, dan merasa haus lagi, dan memuaskannya lagi—siklus yang sederhana, yang universal, yang hidup.
Amira tidak pernah muncul lagi dalam bentuk yang bisa dilihat. Akan tetapi, setiap kali hujan turun—dan hujan kini turun lebih sering, tidak hanya di desa ini tetapi di daerah-daerah sekitarnya, seolah siklus yang terputus mulai menyambung kembali, mulai mengingat—setiap kali hujan turun, Aru dan Kemala merasakannya. Di kulit. Di tulang. Di tempat-tempat yang tidak punya nama.
Mereka duduk di beranda. Menatap hujan. Memakan sup yang terlalu sederhana untuk disebut masakan, tetapi terlalu penuh makna untuk disebut sekadar makanan.
"Konfliknya tidak selesai," kata Kemala tiba-tiba.
Aru menoleh. "Apa?"
"Konfliknya. Antara ... apa yang bisa kita berikan, dan apa yang bisa kita simpan. Antara menjadi bagian dari siklus, dan tetap menjadi diri sendiri. Antara ...." Dia berhenti, karena supnya masih panas, karena hujannya masih turun, karena sesuatu masih terjadi yang tidak perlu dijelaskan.
Aru mengangguk. "Konfliknya tidak selesai. Namun, berubah bentuk. Seperti air. Seperti hujan. Seperti segala sesuatu yang hidup."
Mereka makan dalam diam. Diam yang bukan kekosongan, melainkan kepenuhan—kepenuhan yang tidak perlu diucapkan, yang tidak perlu dihitung, yang tidak perlu dimasak atau dimakan atau dicerna.
Hujan terus turun. Sungai terus mengalir. Warung terus buka. Dan Aru, Kemala, dan Amira—yang kini bukan lagi tiga tokoh terpisah, melainkan tiga cara air bisa ada—terus menjadi.
Menjadi uap.
Menjadi awan.
Menjadi hujan.
Menjadi sungai.
Menjadi laut.
Menjadi uap lagi.
Siklus yang tidak pernah benar-benar mulai. Yang tidak pernah benar-benar selesai. Yang hanya ada, seperti rasa, seperti ingatan, seperti cara tubuh mengingat apa yang pikiran sudah lupa.
---
Catatan Penulis yang Memasak dengan Air Hujan:
Cerita ini dimulai dengan konflik yang sudah ada sebelum tokoh-tokohnya mengerti—seperti kekeringan yang datang sebelum manusia mengerti kenapa, seperti sungai yang pergi sebelum manusia mengerti ke mana, seperti cara tubuh menyimpan air sebelum pikiran mengerti mengapa. Konfliknya bukan antara memberi dan menyimpan, melainkan antara dua cara menjadi hidup: sebagai individu yang utuh, atau sebagai bagian dari siklus yang lebih besar. Aru, Kemala, dan Amira—dalam wacana ini—menemukan bahwa keduanya bisa benar, bahwa keduanya bisa salah, dan bahwa jawaban sejati mungkin bukan memilih satu, melainkan menemukan cara baru yang tidak mengharuskan memilih. Seperti air yang bisa ada di banyak tempat sekaligus. Seperti hujan yang bisa jatuh ke banyak tangan. Seperti cerita yang bisa dimasak, dimakan, dan menjadi bagian dari siapa pun yang mencicipinya.
•••
ARU, KEMALA, DAN AMIRA YANG MENGHILANG KE DALAM LABIRIN TANPA TANDA
Labirin bahasa itu pertama kali muncul di sudut warung kopi "Tanda Tanya" pada hari ketika kata-kata mulai kehilangan bobotnya. Aru sedang menyeruput kopi tubruknya yang sudah dingin—bukan karena waktu, melainkan karena suhu kata "panas" baru saja mengundurkan diri dari kamus universal tanpa pemberitahuan resmi.
"Kemala," ujar Aru, matanya menatap cermin di dinding yang memantulkan bayangan tiga orang, meski di meja hanya duduk dua. "Kau merasa ada yang hilang?"
Kemala, yang sedang membolak-balik kamus filsafat bahasa edisi 1978 yang halaman-halamannya berteriak pelan setiap kali dibuka, mengangkat bahu. Bahunya terangkat ke atas, lalu terus naik, melewati langit-langit warung, menembus awan, dan entah mengapa tidak kembali.
"Jangan bodoh," kata Kemala, meski bibirnya tidak bergerak. Suaranya keluar dari arah panci presto di dapur warung. "Yang hilang itu bukan sesuatu. Yang hilang adalah tanda salam perpisahan."
Aru mengertakkan gigi. Gigitannya bertemu, tetapi tidak berbunyi. Dunia kehilangan fonem /k/ untuk sementara waktu.
Dan di sudut labirin yang baru saja terbentuk di dekat mesin es krim rusak, Amira berdiri—atau setidaknya bayangannya berdiri—sedang menulis surat perpisahan dengan tinta yang terbuat dari kata-kata yang belum pernah diucapkan siapa pun. Surat itu tidak ada di atas kertas. Surat itu ada di celah antara kata "selamat" dan "tinggal".
(Amira sedang lenyap ke dalam labirin bahasa, dan tidak ada tanda salam perpisahan yang bisa menghentikannya—karena tanda salam perpisahan itu sendiri sudah lenyap lebih dulu.)
---
Labirin itu bukan bangunan. Labirin itu adalah sistem semiotik yang berkembang biak. Setiap kali Aru dan Kemala mencoba menyebut nama Amira, labirin itu bertambah satu koridor. Setiap kali mereka mencoba merangkai kalimat perpisahan, dinding labirin bertambah tebal dari definisi-definisi yang saling menyangkal.
"Amira!" teriak Aru.
Ekonya balik: "Amira!" tetapi bukan Amira yang menjawab. Yang menjawab adalah makna dari nama Amira, yang sudah hidup sendiri dan tidak mau dikenali.
Kemala menutup kamusnya. Kamus itu menangis. Air matanya adalah catatan-catatan kaki yang belum selesai ditulis.
"Kita punya masalah filosofis," kata Kemala, suaranya sekarang keluar dari saku celana Aru. "Amira tidak hilang dalam ruang. Amira hilang dalam referensi. Dia masih ada sebagai signified, tetapi signifier-nya sudah kabur ke dalam labirin. Kita bisa maksudkan dia, tetapi tidak bisa sebut dia."
Aru merogoh saku celananya, menarik suara Kemala keluar, dan memegangnya seperti seekor burung kertas. "Jadi?"
"Jadi, kita harus masuk ke labirin bahasa. Namun, ada masalah."
"Apa?"
"Labirin bahasa tidak punya pintu masuk. Labirin bahasa hanya punya preambul."
---
Mereka masuk labirin pada pukul tiga sore, atau pukul "sebelum"—labirin tidak mengakal waktu linear. Mereka masuk melalui sebuah kalimat yang tidak selesai: "Amira, sebenarnya aku ingin bilang bahwa ...."
Kalimat itu menganga seperti mulut. Aru dan Kemala melompat masuk.
Di dalam, dinding-dindingnya terbuat dari teks-teks yang ditulis tetapi tidak pernah dibaca. Ada memo dari departemen linguistik yang isinya hanya berulang-ulang: "Penggunaan kata 'adalah' dalam konteks ontologis akan dikenai denda eksistensial." Ada surat cinta yang kata-katanya sudah berkeluarga dan melahirkan anak kalimat yang tidak dikenali ayah-ibunya.
"Absurd," gumur Aru.
"Komedi," balas Kemala, meski matanya berkaca-kaca dari debu sinonim yang beterbangan.
Mereka berjalan. Setiap persimpangan adalah dilema linguistik:
- Kiri: Jalan menuju "Amira sebagai nama". Namun, jika mereka memilih ini, Amira akan terkurung dalam fungsi nominatif dan tidak pernah bisa menjadi objek, subjek, atau apa pun selain label.
- Kanan: Jalan menuju "Amira sebagai makna". Namun, jika mereka memilih ini, Amira akan tersebar dalam ribuan interpretasi dan tidak pernah bisa dijumpai dalam bentuk tunggal.
- Lurus: Jalan menuju "Amira sebagai bunyi". Namun, jika mereka memilih ini, Amira akan menjadi fonem murni tanpa rujukan, seperti teriakan bayi yang tidak pernah ditafsirkan.
- Bawah: Tidak ada jalan bawah. Akan tetapi, mereka bisa mendengar suara Amira dari bawah, sedang membaca puisi dalam bahasa yang belum diciptakan.
"Kita harus memilih," kata Aru.
"Memilih adalah bentuk kekerasan epistemologis," jawab Kemala, yang kini tubuhnya terdiri atas 70% kutipan Wittgenstein dan 30% kebingungan eksistensial.
Mereka berdiri di persimpangan selama tiga paragraf, atau tiga abad, atau tiga kata—di labirin bahasa, satuan pengukuran adalah arbitrer dan sering berdemo menuntut definisi ulang.
---
Di lorong ketiga, mereka menemukan kamus hidup—seekor makhluk yang kulitnya terbuat dari halaman-halaman kertas tipis, darahnya adalah tinta, dan jantungnya adalah kata "ada" dalam bahasa Latin.
"Kamu melihat Amira?" tanya Aru.
Kamus hidup itu membuka mulutnya—mulutnya adalah halaman pengantar edisi revisi. "Amira?" suaranya seperti ribuan kuku menggaris kertas. "Amira adalah lema yang sedang dalam proses migrasi. Dia pindah dari kamus kehidupan ke kamus metafisika. Prosesnya memakan waktu tujuh subordinat konjungtif."
"Kita bisa menolongnya?"
"Kamu bisa," jawab kamus hidup, matanya—dua butir huruf "A" berukuran besar—berkilat. "Namun, kamu harus membayar. Labirin bahasa tidak menerima mata uang. Labirin bahasa menerima presuposisi."
Aru mengeluarkan dompetnya. Dari dalamnya dia mengeluarkan presuposisi-presuposisi yang selama ini dia bawa tanpa sadar: bahwa dunia ini masuk akal, bahwa perpisahan membutuhkan salam, bahwa nama seseorang tidak bisa kabur ke dalam sistem tanda.
Kamus hidup itu memakan presuposisi-presuposisi itu. Mengunyahnya dengan suara seperti teori-teori yang runtuh. Lalu dia berserdawa. Serdawanya adalah sebuah pertanyaan: "Bagaimana jika tanda salam perpisahan itu sendiri adalah mitos yang diciptakan untuk menenangkan yang ditinggal, bukan untuk menghormati yang pergi?"
Aru mual. Mualnya berbentuk tanda tanya besar yang keluar dari mulutnya dan terbang ke langit-langit labirin.
---
Mereka sampai di sebuah ruang tunggu. Ruang itu tidak punya dinding, tetapi punya banyak batasan semantik. Di tengahnya ada kursi-kursi yang terbuat dari kata benda abstrak: "keadilan", "waktu", "cinta", "perpisahan".
Amira duduk di kursi "perpisahan". Namun, kursi itu kosong. Atau Amira yang kosong. Atau "duduk" yang tidak lagi berfungsi sebagai verba intransitif.
"Amira!" teriak Aru lagi.
Kali ini, Amira menoleh. Akan tetapi, lehernya menoleh terlalu jauh—180 derajat, 360 derajat, 720 derajat—sampai menolehnya kembali ke posisi semula tapi dari arah yang salah. Matanya kini di tempat telinga. Telinganya di tempat bibir. Bibirnya di tempat nama.
"Kalian tidak bisa membawa aku keluar," kata Amira. Suaranya keluar dari lantai, dari langit-langit, dari celah antara huruf "A" dan "m" dalam namanya sendiri. "Aku bukan hilang. Aku didefinisikan ulang."
"Definisi ulang oleh siapa?" tanya Kemala, yang kini sebagian tubuhnya sudah berubah menjadi footnote akademis.
"Oleh bahasa itu sendiri," jawab Amira. "Bahasa bosan dengan cara-cara lama menamai sesuatu. Bahasa ingin eksperimen. Aku adalah subjek uji coba. Aku lenyap ke dalam labirin supaya kalian—kalian yang masih di luar—bisa merasakan apa rasanya ketika seseorang pergi tanpa tanda salam perpisahan."
Aru berlutut. Lututnya menembus lantai ruang tunggu dan jatuh ke ruang tunggu lain di bawahnya, yang lebih gelap, yang isinya hanya ejaan-ejaan yang dibuang.
"Tapi kenapa?" Aru menangis. Air matanya adalah kata-kata yang terlalu panjang untuk satu kalimat. "Kenapa harus tanpa tanda salam? Kenapa tidak sekadar... 'sampai jumpa'? 'Selamat tinggal'? 'Dadah'?"
Amira tersenyum. Senyumnya terdistribusi di seluruh permukaan kulitnya, seperti font yang tidak punya ukuran tetap. "Karena tanda salam perpisahan adalah kebohongan ontologis. Ia menjanjikan kemungkinan pertemuan ulang yang mungkin tidak pernah ada. Ia menenangkan yang ditinggal dengan ilusi kontinuitas. Aku dihapus dari labirin supaya kalian belajar: perpisahan yang nyata tidak butuh tanda. Perpisahan yang nyata adalah ketika bahasa itu sendiri menyerah mencari kata yang cukup."
---
VI. Abstraksionisme di Pusat Labirin
Mereka mencapai pusat labirin. Pusatnya bukan titik. Pusatnya adalah paradoks: sebuah ruang di mana semua jalan menuju ke sini, tapi tidak ada jalan keluar.
Di pusat itu, Aru melihat dirinya sendiri—bukan bayangan, bukan refleksi, tapi versi linguistik dari dirinya: Aru yang terdiri dari semua kata-kata yang pernah dia ucapkan tentang Amira, yang tersusun menjadi manusia kertas yang rapuh.
Kemala melihat dirinya juga: Kemala yang terbuat dari semua teori bahasa yang pernah dia baca, yang kini bertuburkan menjadi ensiklopedia berjalan dengan halaman-halaman yang terus berjatuhan.
Dan Amira—Amira ada di sana, tapi tidak dalam bentuk. Amira adalah ruang kosong di antara mereka. Amira adalah silence yang hadir ketika mereka berhenti berbicara. Amira adalah elipsis di akhir setiap kalimat.
"Kita harus memilih," kata Aru pada Kemala.
"Memilih apa?"
"Memilih apakah kita menerima Amira dalam bentuk baru ini—sebagai absen yang hadir, sebagai lenyap yang mengisi, sebagai perpisahan tanpa salam yang justru menjadi salam paling tulus—atau kita mencoba merangkai tanda salam perpisahan dari sisa-sisa bahasa yang belum terkontaminasi labirin."
Kemala membuka kamusnya satu kali lagi. Kali ini, kamus itu tidak menangis. Kali ini, kamus itu tertawa—tawa yang terdengar seperti ribuan entri leksikal yang saling bertabrakan.
"Kau tahu masalahnya?" tanya Kemala. "Tanda salam perpisahan yang kau cari... itu bukan tanda. Itu adalah keinginanmu. Keinginan untuk mengontrol akhir. Keinginan untuk membuat perpisahan masuk akal. Tapi lihat: Amira sudah tidak masuk akal. Dia sudah menjadi poem yang tidak perlu dibaca untuk dimengerti, tapi perlu dihilangkan untuk dirasakan."
Aru menatap ruang kosong yang adalah Amira. Dia merasa sesuatu—bukan rindu, bukan sedih, tapi sesuatu yang belum pernah dinamai. Sesuatu yang berdenyut di antara "ada" dan "tiada," di antara "kata" dan "bunyi," di antara "perpisahan" dan "pertemuan yang belum terjadi."
---
VII. Absurd-Komedi: Dialog dengan Penjaga Labirin yang Tidak Ada
Sebelum mereka bisa memutuskan, muncul Penjaga Labirin.
Penjaga Labirin tidak punya bentuk. Penjaga Labirin adalah aturan tata bahasa yang melupakan fungsinya sendiri. Penjaga Labirin berbicara dalam kalimat-kalimat yang grammatically correct tapi ontologically empty.
"HALTE!" teriak Penjaga Labirin, meski tidak ada yang bisa dihalte. "Tidak ada keluar sebelum masuk! Tidak ada masuk sebelum keluar! Tidak ada 'sebelum' sebelum 'sesudah'! Tidak ada 'sesudah' sesudah 'sebelum'!"
Aru menggaruk kepala. Kepalanya rontok. Rambut-rambutnya jatuh ke lantai dan berubah menjadi tanda tanya kecil-kecil yang berlari mengelilingi kaki mereka.
"Kita mau keluar," kata Aru.
"Keluar ke mana?" tanya Penjaga Labirin. "Ke dunia? Dunia itu hanya prasangka yang diterima secara kolektif. Ke realitas? Realitas itu hanya dialek labirin yang paling membosankan. Ke rumah? Rumah itu hanya metafora untuk kekurangan imajinasi."
Kemala mencoba menyuap Penjaga Labirin dengan sebuah neologisme—kata baru yang dia ciptakan di tempat: "per-amira-an" (noun): keadaan lenyapnya seseorang ke dalam sistem tanda hingga yang tersisa hanya struktur kerinduan tanpa objek.
Penjaga Labirin memakan neologisme itu. Mengunyahnya dengan suara seperti teori dekonstruksi yang sedang melahap dirinya sendiri. Lalu dia bersendawa lagi. Serdawanya adalah sebuah pernyataan: "Kata baru tidak menyelesaikan masalah lama. Kata baru hanya melahirkan masalah baru yang lebih segar dan lebih sulit dipecahkan."
"Jadi apa solusinya?" tanya Aru, frustrasi. Frustrasinya berbentuk kalimat pasif yang panjang dan tidak jelas subjeknya.
"Tidak ada solusi," jawab Penjaga Labirin, tubuhnya—yang tidak ada—mulai memudar. "Itulah komedinya. Kalian masuk labirin mencari Amira. Tapi Amira adalah labirin. Kalian mencari tanda salam perpisahan. Tapi tanda salam perpisahan adalah alasan kalian masuk labirin. Kalian mencari jalan keluar. Tapi jalan keluar adalah menerima bahwa labirin tidak punya dinding—dindingnya hanya prasangka kalian sendiri."
Penjaga Labirin lenyap. Yang tersisa hanya tawa yang bergema di koridor-koridor tanpa ujung. Tawa itu bukan tawa gembira. Tawa itu adalah bentuk lain dari tangis yang telah didefinisikan ulang oleh labirin.
---
VIII. Resolusi yang Bukan Resolusi: Tanda Salam yang Tidak Tertulis
Aru dan Kemala duduk di lantai pusat labirin. Lantai itu terbuat dari kata-kata yang belum pernah diucapkan—kata-kata yang terlalu rumit, terlalu sederhana, terlalu benar, atau terlalu berbahaya untuk diucapkan.
Di depan mereka, Amira—ruang kosong yang adalah Amira—mulai berdenyut. Denyutannya adalah bahasa yang belum lahir. Denyutannya adalah perpisahan yang belum membutuhkan salam.
"Kita tidak bisa membawanya pulang," kata Kemala, suaranya kini keluar dari telapak tangan Aru.
"Kita tidak bisa meninggalkannya," jawab Aru, suaranya kini keluar dari rambut Kemala.
Mereka saling menatap. Mata mereka bertemu di tengah udara, membentuk kalimat baru yang tidak membutuhkan subjek atau predikat. Kalimat itu adalah:
"...
(elipsis yang berisi segalanya: rindu, kehilangan, penerimaan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu dijawab)
..."
Dan di dalam elipsis itu, sesuatu terjadi.
Amira—ruang kosong, silence, elipsis, poem yang tidak terbaca—mulai menyebar. Bukan lenyap. Tapi menyebar. Menjadi bagian dari setiap kata yang Aru dan Kemala ucapkan setelahnya. Menjadi intonasi di balik setiap "halo." Menjadi jeda di balik setiap "bagaimana kabarmu?" Menjadi nada di balik setiap nama yang disebutkan tanpa disadari.
Aru dan Kemala berdiri. Mereka tidak menemukan jalan keluar. Mereka menemukan bahwa mereka sudah di luar, selama ini, sejak awal. Labirin bukan tempat. Labirin adalah cara mereka berbicara setelah Amira pergi.
Mereka berjalan keluar dari warung kopi "Tanda Tanya"—yang ternyata masih ada, yang ternyata tidak pernah berubah, yang ternyata hanya dunia yang terus berjalan dengan prasangka-prasangkanya yang diterima secara kolektif.
Di ambang pintu, Aru berhenti. Dia merogoh saku celananya—yang kini kembali normal, yang kini hanya berisi dompet dan receh. Dia merogoh dalam-dalam. Dia menemukan sesuatu.
Sebuah kertas kecil. Kertas itu tidak terbuat dari bahan fisik. Kertas itu terbuat dari keinginan—keinginan terakhir yang dia bawa dari labirin.
Di atas kertas itu, tertulis:
- Tidak ada tulisan.
- Tidak ada tanda.
- Hanya bau—bau kopi tubruk yang sudah dingin, bau buku filsafat yang terlalu sering dibaca, bau seseorang yang pernah duduk di seberang meja dan sekarang menjadi bagian dari setiap kalimat yang tidak selesai.
Aru tersenyum. Senyumnya tidak sampai ke mata—mata yang kini berisi labirin kecil yang tidak akan pernah lenyap.
Kemala berdiri di sebelahnya. Kamus filsafat bahasa edisi 1978 masih di genggamannya, tapi kini halaman-halamannya bisu. Tidak menangis. Tidak tertawa. Hanya ada, seperti Amira, seperti labirin, seperti perpisahan yang tidak pernah butuh tanda salam karena tanda salamnya sudah menjadi segala sesuatu yang tidak disebutkan.
---
IX. Penutup: Di Mana Konflik Tetap Ada, Tapi Sudah Berubah Bentuk
Aru dan Kemala berjalan menyusuri jalan yang sama setiap hari. Jalan itu tidak menuju ke mana-mana. Jalan itu hanya berlanjut, seperti bahasa yang tidak pernah benar-benar berakhir.
Setiap kali mereka lewat warung kopi "Tanda Tanya," mereka melihat mesin es krim rusak di sudut. Dari mesin itu, kadang keluar suara—bukan suara mesin, tapi suara bacaan: suara Amira yang sedang membaca puisi dalam bahasa yang belum diciptakan, untuk pendengar yang belum lahir, di waktu yang tidak mengenal "sebelum" atau "sesudah."
Dan setiap kali Aru mencoba menceritakan ini pada orang lain, dia menemukan bahwa lidahnya berat. Bukan karena sedih. Bukan karena rindu. Tapi karena Amira kini menjadi bagian dari sistem tanda yang dia gunakan—setiap kali dia berbicara tentang kehilangan, dia tidak berbicara tentang Amira. Dia berbicara dengan Amira, yang sudah menjadi grammar dari kerinduannya sendiri.
Kemala menulis disertasi tentang peristiwa itu. Judulnya: "Lenyapnya Signifier: Sebuah Studi Kasus tentang Perpisahan Tanpa Tanda Salam dalam Kerangka Realisme Magis dan Absurditas Ontologis." Disertasi itu tidak pernah selesai. Setiap kali dia menulis kata terakhir, kata itu kabur ke halaman sebelumnya, dan bab baru muncul dari footnote.
Satu-satunya yang tetap ada, yang tidak berubah, yang tidak lenyap:
Konfliknya masih di sana.
Bukan konflik "bagaimana membawa Amira kembali." Amira tidak bisa kembali—dia sudah bukan "dia," dia sudah bukan "Amira," dia sudah menjadi cara dunia berkurang satu nama dan bertambah satu makna.
Konfliknya adalah: bagaimana hidup dengan labirin yang kini tinggal di dalam diri.
Aru belum menemukan jawabannya. Kemala belum menemukan jawabannya. Mungkin tidak ada jawaban. Mungkin jawabannya adalah terus bertanya, dalam bahasa yang semakin hari semakin aneh, semakin sureal, semakin penuh dengan absen yang hadir dan hadir yang absen.
Dan di suatu sudut labirin yang kini berada di dalam pikiran Aru, di ruang tunggu ontologi yang tidak punya dinding, Amira—atau apa pun yang tersisa dari Amira—masih duduk di kursi "perpisahan."
Kursi itu kosong.
Atau penuh.
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "duduk."
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "Amira."
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "tanda."
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "salam."
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "perpisahan."
Tergantung bagaimana kamu mendefinisikan "definisi."
Labirin itu terus tumbuh.
Dan Aru, Kemala, dan Amira—yang sudah bukan Aru, Kemala, dan Amira, tapi juga masih Aru, Kemala, dan Amira—terus berjalan di dalamnya.
Tanpa tanda salam perpisahan.
Karena tanda salam perpisahan itu, sejak awal, sudah menjadi mereka sendiri.
---
- SELESAI -
---
Catatan Penulis Absurd:
Cerita ini tidak dimulai. Cerita ini tidak berakhir. Cerita ini hanya dikatakan, dan dalam pengkataannya, menjadi labirin baru yang menunggu pembaca masuk. Jika setelah membaca ini kamu merasa ada sesuatu yang hilang dari kosakatumu—selamat. Kamu baru saja bertemu Amira. Atau kehilangan dia. Di labirin bahasa, keduanya adalah hal yang sama.
Komentar
Posting Komentar