LUSI DAN BANGUNAN-BANGUNAN YANG TAK ADA

Jam dinding di kamarnya berdetak mundur.

Lusi belum membuka mata, tetapi ia sudah berlari—lari di atas permukaan bundar jam dinding yang kini melebar seperti lapangan tanah. Jari kakinya menapak angka-angka yang meleleh, jarum pendek mengejar dari belakang sambil bersiul lagu yang tidak pernah ditulis oleh siapa pun. Ia melompati tanggal-tanggal yang berguguran dari kalender tak kasatmata, terlempar dari sela mata yang belum sempat ia buka sepenuhnya, dan mendarat dengan bunyi plop lunak di punggung seekor kelinci putih sebesar kuda poni.

"Di mana aku?" tanyanya pada kelinci itu. Kelinci itu tidak menjawab. Kelinci itu sedang asyik membaca koran.

Tunggu—bukan kelinci yang membaca koran. Adalah kursi rotan di sudut lapangan jam dinding itu yang sedang membaca koran. Atau mungkin koran yang sedang menerka meja kayu di depannya, menunggu makna dari hidangan yang tak kunjung datang, hanya tatakan kosong dan sendok yang bertanya-tanya mengapa ia diciptakan dalam bentuk seperti ini.

"Kau di dalam kepala yang belum kau miliki," jawab langit di atasnya.

Langit itu bukan biru. Ia adalah langit berwarna mazarin—biru tua yang hampir ungu, warna yang hanya ada dalam kosakata Prancis tua dan dalam mimpi anak-anak yang belum diajari nama-nama warna. Dari awan-awan mazarin itu, hujan turun. Bukan hujan air. Hujan permen karet—rasa stroberi, rasa mint, rasa penyesalan yang manis.

Lusi tertawa. Tawanya berbentuk gelembung sabun yang mengambang ke atas, menembus langit mazarin, pecah menjadi pertanyaan-pertanyaan yang tidak punya tanda tanya.

Ia suka ketika logika terkapar tak berdaya. Ia suka ketika dunia berubah jadi fabel yang dilukis dengan pensil alis ibu—garis-garis tipis, samar, bisa dihapus kapan saja, tetapi meninggalkan bekas goresan yang hanya bisa dilihat dari sudut pandang tertentu.

Ia menari di atas jendela yang tak menghadap ke mana-mana. Jendela itu mengambang di tengah ruang, bingkainya terbuat dari tulang-belulang kenangan yang belum terjadi. Di balik kaca, bukan pemandangan—hanya bayang-bayang yang meminjam cahaya dari mimpi orang-orang yang sedang tidur di kota yang mungkin tidak ada di peta mana pun.

"Apa tempat ini nyata?" tanya Lusi pada pintu yang terbuat dari air mata.

Pintu itu tidak menjawab. Pintu dari air mata tidak bisa berbicara—ia hanya bisa mengalir, membuka dan menutup dengan bunyi desisan pelan, seperti seseorang yang menangis tanpa suara.

Lalu tiba-tiba—

Lusi tergelincir.

Bukan tergelincir di atas jam, bukan tergelincir dari punggung kelinci. Ia tergelincir pulang. Seperti ada tanah yang mendadak miring, seperti ada gravitasi yang baru saja diciptakan khusus untuk menariknya kembali. Ia jatuh. Jatuh ke dalam saku piamanya sendiri—saku yang seharusnya terlalu kecil untuk menampung tubuhnya, tetapi di dalam mimpi, ukuran adalah konsep yang bisa dinegosiasi. Ia jatuh ke tubuh mungilnya yang masih hangat oleh tidur, yang terbaring di ranjang di kamarnya, di rumah di jalan yang mungkin ada atau mungkin tidak.

Mata Lusi terbuka.

---

"Bangunlah," bisik sebuah suara.

Lusi mengenali suara itu. Suara jam dinding. Jam dinding di kamarnya yang selama ini hanya berdetak, kini bisa berbicara. Akan tetapi, ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang salah sekali.

"Di sinilah segala yang belum terjadi," lanjut suara itu.

Lusi duduk perlahan. Kamar itu ... bukan kamarnya. Atau mungkin adalah kamarnya, tetapi dari sudut pandang yang salah. Dindingnya terbuat dari ejaan-ejaan kata yang belum selesai ditulis. Lantainya adalah permukaan cermin yang memantulkan bayangan yang tidak sinkron—bayangannya bergerak tiga detik lebih lambat dari dirinya. Di sudut, ada meja yang sedang menunggu hidangan yang tak kunjung datang, sama seperti dalam mimpinya. Di meja itu, ada semangka.

Semangka itu besar. Terlalu besar untuk ukuran kamarnya. Kulitnya berwarna hijau tua dengan loreng-loreng hampir hitam, seperti kode batang yang menyimpan rahasia. Akan tetapi, yang membuat napas Lusi terhenti: suara "Bangunlah" itu berasal dari dalam semangka.

Bukan dari jam dinding. Jam dinding di kamarnya—di kamar ini—tidak berdetak. Jarumnya diam di angka yang tidak ada, di antara 4 dan 5, di tempat yang hanya bisa didiami oleh waktu yang ragu-ragu.

"Kau masih tidur," kata semangka.

Suara itu bukan suara laki-laki atau perempuan. Ia adalah suara tempat—suara yang mungkin dihasilkan oleh ruang kosong jika ruang kosong bisa berbicara, suara yang terdengar seperti gema dari lubang yang tidak ada ujungnya.

"Aku sudah bangun," kata Lusi. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, seperti dibaca oleh narator yang jahil.

"Bangun di dalam apa?" tanya semangka. "Bangun di dalam mimpi adalah tidur yang lebih dalam. Bangun di dalam kenyataan adalah mimpi yang lebih mematikan. Di manakah kau ingin berada?"

Lusi berdiri. Kakinya menyentuh lantai cermin, dan lantai itu pecah—bukan pecah seperti kaca, melainkan pecah seperti permukaan air yang terganggu. Di balik pecahan-pecahan itu, ia melihat: dirinya sendiri, masih berbaring di ranjang, mata terpejam, senyum tipis di bibirnya. Tubuhnya yang tidur itu sedang bermimpi. Dan dalam mimpinya, ia sedang berdiri di kamar ini, berbicara dengan semangka.

"Paradoks," bisik Lusi.

"Bukan," jawab semangka. "Hanya struktur. Kau adalah puisi yang menulis dirinya sendiri. Kau adalah pembaca yang terjebak dalam buku yang belum selesai ditulis. Kau—"

"Siapa yang menulisku?" potong Lusi.

Semangka terdiam. Kulitnya berkerut sedikit, seperti sedang berpikir, atau seperti sedang menahan sesuatu.

"Ada dua pilihan," kata semangka akhirnya. "Pilihan pertama: kau tetap di sini, di dalam mimpi yang sadar, di dalam kamar yang mungkin nyata atau mungkin tidak, dan kau menjadi penulis dirimu sendiri. Namun, kau tidak akan pernah tahu apakah kau menulis dengan benar. Kau tidak akan pernah tahu apakah ada pembaca. Kau akan menjadi fabel yang tak terucapkan, lukisan yang tak dipandang, puisi yang tak dibaca."

Lusi menunggu. Ia tahu ada pilihan kedua. Ia takut akan pilihan kedua.

"Pilihan kedua: kau kembali ke tubuhmu yang tidur, kau benar-benar bangun, kau hidup di dunia yang punya aturan, yang punya logika, yang punya jam dinding yang hanya berdetak dan tidak berbicara. Namun, kau akan kehilangan ini." Semangka berhenti sejenak. "Kau akan kehilangan kemampuan untuk bertanya pada kursi yang membaca koran. Kau akan kehilangan langit mazarin. Kau akan kehilangan ... dirimu yang menari di atas jendela yang tak menghadap ke mana-mana."

Lusi merasa dadanya sesak. Bukan karena takut, bukan karena sedih. Sesak karena dilema—dilema yang tidak punya jawaban benar atau salah, hanya jawaban yang berbeda-beda salahnya.

"Dan ada pilihan ketiga?" tanyanya, meski ia sudah tahu jawabannya.

"Tidak ada," kata semangka. "Tidak ada pilihan ketiga. Itulah yang membuat ini konflik. Jika ada pilihan ketiga, ini hanya akan menjadi masalah yang bisa dipecahkan. Konflik sejati adalah ketika setiap jalan menuju kehilangan."

Lusi melangkah mendekati semangka. Ia ingin menyentuhnya, ingin merasakan apakah kulit semangka ini nyata, apakah getahnya akan menetes jika ia sayat, apakah bijinya akan berteriak jika ia gigit. Akan tetapi, tangannya berhenti di tengah jalan.

"Jika aku memilih tetap di sini," kata Lusi perlahan, "apakah aku akan menjadi seperti bangunan-bangunan yang tak ada?"

"Bangunan-bangunan yang tak ada?" Semangka mengulang.

"Ya. Dalam mimpiku—mimpi sebelumnya—ada bangunan-bangunan yang tak ada. Mereka ada, tetapi tidak punya alamat. Mereka berdiri, tetapi tidak punya fondasi. Mereka ditinggali, tetapi tidak punya penghuni yang tetap. Apakah aku akan menjadi seperti mereka?"

Semangka terdiam lama. Sangat lama. Lama hingga Lusi merasa waktu di kamar ini mungkin sudah mati, atau mungkin waktu di sini hanya bergerak ketika ada yang berbicara.

"Kau sudah menjadi seperti mereka," jawab semangka akhirnya. "Sejak kau pertama kali bertanya 'Di mana aku?'. Sejak kau pertama kali menari di atas jendela yang tak menghadap ke mana-mana. Pertanyaannya bukan: apakah kau akan menjadi bangunan yang tak ada. Pertanyaannya adalah: apakah kau ingin mengetahui bahwa kau adalah bangunan yang tak ada?"

Lusi menutup mata.

Di balik kelopak matanya, ia melihat kembali lapangan jam dinding yang melebar. Ia melihat kelinci putih sebesar kuda poni yang sedang—asli atau tidak?—membaca koran. Ia melihat langit mazarin yang menghujankan permen karet. Ia melihat dirinya menari, tertawa, bersembunyi di balik bayang-bayang yang meminjam cahaya dari mimpi orang-orang.

Dan ia melihat sesuatu yang tidak ada dalam mimpinya sebelumnya: sebuah bangunan. Bangunan tinggi, bertingkat-tingkat, dengan jendela-jendela yang semuanya terbuka ke arah dalam, bukan ke arah luar. Di setiap jendela, ada bayangan. Bayangan yang mungkin adalah penghuni, atau mungkin adalah mimpi penghuni, atau mungkin hanya bayangan yang belum memutuskan siapa yang memilikinya.

Di puncak bangunan itu, ada papan nama. Akan tetapi, papan namanya kosong. Atau bukan kosong—melainkan tulisannya terbuat dari sesuatu yang tidak bisa dibaca oleh mata yang masih percaya pada logika.

"Itu rumahmu," kata semangka, meski Lusi belum mengucapkan apa yang dilihatnya. "Itu rumahmu jika kau memilih tetap di sini. Bangunan yang tak ada, tetapi milikmu."

Lusi membuka mata.

---

"Dan jika aku memilih bangun?" tanyanya.

"Kau akan melupakan semangka yang bisa berbicara," jawab semangka. "Kau akan melupakan langit mazarin. Kau akan melupakan bangunan-bangunan yang tak ada. Kau akan kembali menjadi Lusi yang bangun pagi, sarapan, pergi sekolah, pulang, tidur, dan kadang-kadang—hanya kadang-kadang—mimpi sesuatu yang tidak bisa diingatnya keesokan harinya."

"Akan tetapi?"

"Akan tetapi, kau akan hidup. Kau akan menjadi nyata. Kau akan menjadi bagian dari dunia yang bisa disentuh, bisa diukur, bisa dijelaskan. Kau akan menjadi ... aman."

"Aman dari apa?"

"Aman dari pertanyaan yang tidak punya jawaban. Aman dari keindahan yang tidak punya penjelasan. Aman dari—" Semangka berhenti. "Aman dari dirimu sendiri yang terlalu luas untuk dimuat dalam satu tubuh, satu nama, satu cerita."

Lusi melihat ke sekeliling kamar. Kamar yang mungkin ada, mungkin tidak. Dinding dari ejaan tak selesai. Lantai dari cermin yang pecah. Meja yang menunggu hidangan yang tak kunjung datang. Dan semangka—semangka yang berbicara dengan suara ruang kosong.

Ia melihat ke arah tubuhnya yang tidur, yang masih terpantul di pecahan-pecahan cermin di lantai. Tubuh itu tersenyum dalam tidurnya. Senyum yang mungkin adalah karena mimpi indah, atau mungkin karena tubuh itu tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh Lusi yang berdiri ini.

"Waktuku habis," kata semangka tiba-tiba.

"Apa?"

"Waktuku habis. Semangka tidak bisa berbicara selamanya. Ada batasnya. Ada musimnya. Ada—" Kulit semangka itu mulai menggelap, dari hijau tua menjadi hampir hitam, loreng-lorengnya semakin dalam seperti garis-garis pada batang pohon tua. "Kau harus memilih sekarang. Atau pilihan akan memilihmu."

Lusi merasa panik. Ia ingin bertanya lebih banyak. Ia ingin tahu apa yang terjadi jika ia tidak memilih. Ia ingin tahu apakah ada jalan untuk memiliki keduanya—sedikit dari mimpi, sedikit dari kenyataan, sedikit dari langit mazarin, sedikit dari langit biru biasa.

Namun, semangka sudah tidak bisa menjawab. Kulitnya sekarang sepenuhnya hitam, keras, seperti batu. Seperti bangunan yang sudah terlalu lama ditinggalkan. Seperti bangunan yang tak ada.

Lusi melihat ke jam dinding. Jarum yang diam di antara 4 dan 5 kini bergerak—sangat lambat, sangat pelan, tetapi bergerak. Menuju angka yang tidak ada. Menuju tempat yang hanya bisa didiami oleh waktu yang ragu-ragu.

Dan Lusi sadar—

Bahwa tidak semua mimpi ingin diceritakan kembali.

Bukan karena mimpi itu buruk. Bukan karena mimpi itu takut pada kata-kata. Melainkan karena beberapa mimpi terlalu besar untuk dimuat dalam cerita. Beberapa mimpi adalah bangunan-bangunan yang tak ada—mereka berdiri megah dalam tidur, tetapi akan runtuh jika dicoba dibangun kembali dengan batu bata bahasa.

Lusi memilih.

Atau mungkin, ia tidak memilih.

Ia hanya ... jatuh.

Bukan jatuh ke dalam saku piama lagi. Bukan jatuh ke tubuh yang tidur. Ia jatuh ke dalam celah—celah antara mimpi dan bangun, antara ada dan tak ada, antara pertanyaan dan jawaban yang tidak datang.

Dan dalam kejatuhan itu, ia mendengar suara. Bukan suara semangka. Bukan suara jam dinding. Bukan suara langit mazarin.

Suara pensil alis ibu. Menggores, menggores, menggores. Menulis atau menghapus? Ia tidak tahu. Ia tidak akan pernah tahu.

Karena cerita ini—

Cerita ini adalah bangunan yang tak ada.

---

Pagi itu, Lusi bangun.

Atau setidaknya, ia berpikir ia bangun. Ia berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit kamarnya yang biasa—putih, polos, tidak berwarna mazarin. Jam dinding di sampingnya berdetak normal. Jarum pendek di angka 7, jarum panjang di angka 12. Tidak ada jarum yang mengejar sambil bersiul. Tidak ada tanggal yang berguguran.

Ia duduk. Di meja belajarnya, ada semangka.

Ia membeku.

Semangka itu biasa saja. Hijau, berloreng, ukuran normal. Tidak berbicara. Tidak menghitam. Hanya semangka.

Namun, di samping semangka itu, ada secarik kertas. Kertas yang tidak ia letakkan di sana semalam. Atau mungkin ia letakkan, tetapi ia lupa.

Di kertas itu, tertulis dengan huruf yang tidak ia kenali—huruf yang mungkin adalah miliknya sendiri dari dalam mimpi, atau mungkin milik seseorang yang menulis melalui tangannya:

"Bangunan-bangunan yang tak ada tidak perlu ditemukan. Mereka hanya perlu diingat—bahwa mereka pernah berdiri, bahwa mereka pernah ditanyai 'Di mana aku?' oleh seseorang yang berlari di atas jam dinding."

Lusi meraih kertas itu. Tangannya bergetar.

Dan untuk satu detik yang sangat singkat—sangat singkat hingga ia tidak yakin apakah detik itu benar-benar ada—ia melihat bayangan dirinya sendiri di dinding. Bayangan yang bergerak tiga detik lebih lambat dari dirinya. Bayangan yang sedang menari di atas jendela yang tak menghadap ke mana-mana.

Lusi tertawa.

Tawanya berbentuk gelembung sabun yang tidak ada. Namun, ia tahu—atau setidaknya, ia memilih untuk percaya—bahwa di suatu tempat, di dalam langit mazarin yang tidak bisa dilihat oleh mata terbuka, gelembung-gelembung itu pecah menjadi pertanyaan-pertanyaan tanpa tanda tanya.

Dan pertanyaan-pertanyaan itu mengambang.

Mengambang menuju bangunan-bangunan yang tak ada.

Yang mungkin—hanya mungkin—adalah rumahnya.

---

TAMAT

(Atau belum. Karena cerita tentang bangunan yang tak ada tidak pernah benar-benar tamat. Mereka hanya menunggu—menunggu seseorang untuk bermimpi lagi, untuk bertanya lagi, untuk berlari lagi di atas permukaan jam dinding yang melebar seperti lapangan tanah, sambil jarum pendek mengejar dari belakang, bersiul lagu yang tidak pernah ditulis oleh siapa pun.)

•••

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

BETAWOL

CERPEN LINGUISTIK