PERCAKAPAN TERAKHIR YANG TIDAK TERDENGAR SIAPA-SIAPA
(Sebuah Cerpen dalam Tiga Belas Gerakan)
1.
Aru menatap cermin yang tidak memantulkan apa-apa. Bukan karena cermin itu pecah, melainkan karena sesuatu di dalamnya telah menyerap semua bayangan. Kemala duduk di seberang, memegang secangkir teh yang isinya berupa angka-angka mengambang—bukan daun, bukan air, melainkan notasi-notasi matematika yang belum pernah ditemukan siapa pun.
"Aku tidak yakin apakah aku sedang berbicara, atau apakah suaraku hanya gema dari sesuatu yang belum pernah kuucapkan," kata Aru. Ucapannya terurai menjadi garis-garis melengkung di udara, lalu menguap sebelum sempat mencapai telinga Kemala.
Kemala mengaduk tehnya. Angka-angka itu berputar membentuk spiral. "Kalau begitu, siapa yang berbicara?"
Aru meraba wajahnya sendiri. Kulitnya terasa seperti kanvas kosong yang baru saja dilukis dengan warna yang belum memiliki nama.
"Aku tidak tahu. Akan tetapi, aku merasa ada seseorang di sini yang seharusnya mengenalku."
Mereka duduk dalam keheningan yang berbentuk kubus. Waktu tidak berlaku di ruangan itu; waktu hanya mengendap di sudut-sudut seperti debu filosofis.
2.
Tiba-tiba ruangan berubah. Dinding-dinding menjadi lunak seperti daging, berdenyut dengan irama yang bukan detak jantung. Sebuah jam raksasa tergantung di langit-langit, tetapi jarumnya bukan penunjuk waktu—melainkan lidah-lidah manusia yang menjilat angka-angka di piringan jam itu.
"Ini bukan kamar," kata Kemala. "Ini perut dari sesuatu yang lebih besar dari pemahaman."
Aru berdiri. Lantai di bawah kakinya terbuat dari kata-kata yang belum selesai ditulis. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kalimat yang terputus: "Aku adalah ..." — "Mungkin jika ..." — "Akan tetapi, sebelum ..."
Di sudut ruangan, sebuah mesin tik mengetik sendiri. Kertas-kertas keluar dari mesin itu bukan berisi huruf, melainkan gambar-gambar mata yang terbuka lebar-lebar, masing-masing menatap ke arah yang berbeda.
"Mesin itu menulis kita," bisik Kemala. "Atau kita yang menulis mesin itu?"
Aru mendekati mesin tik. Salah satu mata di kertas itu berkedip. "Aku rasa kita hanya catatan kaki di dalam cerita yang ditulis oleh sesuatu yang tidak bisa diucapkan."
Sebuah telepon tua berdering. Nada deringnya berupa pertanyaan: "Apa arti ... apa arti ... apa arti ...."
Kemala mengangkat gagang telepon. Di seberang, hanya ada suara napas yang tidak dimiliki paru-paru.
3.
"Kemala, kalau kita tidak pernah memilih untuk ada, apakah kita benar-benar ada?"
Mereka sekarang berada di sebuah stasiun kereta yang tidak memiliki rel. Peron-peron terbentang ke segala arah, tetapi setiap jalur berakhir di tepi jurang yang tidak memiliki dasar. Seorang kondektur tanpa wajah memeriksa tiket yang tidak mereka miliki.
"Tiket Anda?" tanya kondektur. Suaranya datang dari dalam kepala Aru, bukan dari telinganya.
"Kami tidak punya tiket," jawab Aru. "Kami tidak tahu kami akan datang ke sini."
"Tidak ada yang pernah tahu," kata kondektur, "tetapi semua orang harus naik."
Kereta api tiba. Gerbong-gerbongnya terbuat dari keputusan-keputusan yang tidak pernah diambil. Jendela-jendelanya menunjukkan pemandangan yang berbeda-beda: satu jendela memperlihatkan masa lalu yang tidak pernah terjadi, satu lagi masa depan yang sudah terlupakan, dan satu lagi hanya kegelapan pekat yang berbisik nama-nama yang belum pernah diberikan kepada siapa pun.
Kemala menatap Aru. "Kita bisa naik, atau kita bisa tetap di sini. Namun, tetap di sini juga adalah pilihan, dan setiap pilihan adalah penjara."
"Lalu, bagaimana kalau kita tidak memilih sama sekali?"
Kondektur tertawa. Tawanya berbentuk rantai besi yang melingkar di pergelangan tangan mereka berdua. "Tidak memilih adalah pilihan yang paling berat. Dan Anda sudah memilihnya sejak lama."
Kereta berangkat tanpa mereka, tetapi mereka tetap berada di dalamnya.
4.
Mereka turun di sebuah kota yang tidak ada di peta. Rumah-rumahnya dibangun dari ingatan-ingatan yang masih basah, dinding-dindingnya berkilauan dengan kilauan nostalgia yang belum kering. Di tengah kota, sebuah pohon tumbuh dengan buah-buahan berupa wajah-wajah manusia yang tersenyum tanpa alasan.
Seorang penjual koran lewat. Koran yang dijualnya tidak berisi berita, tetapi rahasia-rahasia orang-orang yang belum pernah diceritakan siapa pun.
"Koran! Koran! Baca masa depan yang sudah lewat!" serunya.
Aru membeli satu. Halaman pertamanya berisi judul besar: "ARU DAN KEMALA MASIH BELUM TAHU BAHWA MEREKA SUDAH MATI"
Aru melipat koran itu dengan hati-hati. "Ini tidak masuk akal."
"Realisme tidak perlu masuk akal," kata Kemala. "Yang penting ia nyata."
Seorang anak kecil berlari melewati mereka, menarik layang-layang yang tidak memiliki tali. Layang-layang itu tetap terbang, mengikuti angin yang tidak berembus.
"Mengapa layang-layangnya bisa terbang?" tanya Aru.
"Karena kota ini percaya bahwa layang-layang harus terbang," jawab anak itu, tanpa berhenti berlari. "Dan keyakinan di sini lebih berat dari hukum gravitasi."
Di sebuah kafe, mereka memesan kopi. Pelayan membawa dua cangkir. Isinya bukan kopi, melainkan cairan bening yang memantulkan wajah mereka—tetapi wajah di permukaan cairan itu bukan wajah mereka sekarang, melainkan wajah mereka seratus tahun yang lalu, atau seratus tahun yang akan datang, Aru tidak bisa memastikan.
"Ini rasanya seperti penyesalan," kata Kemala setelah menyesap.
"Aku tidak pernah menyesal," kata Aru.
"Bukan penyesalanmu. Penyesalan dari seseorang yang pernah menjadi kamu."
5.
Malam tiba tanpa pernah menjadi senja. Langit langsung gelap, seolah seseorang mematikan lampu alam semesta dengan sakelar yang tidak terlihat.
Mereka berada di sebuah rumah tua yang tidak mereka ingat pernah memasuki. Di setiap cermin, bayangan mereka bergerak sedikit lebih lambat dari tubuh mereka. Di setiap sudut, ada suara bisikan yang tidak berasal dari mulut siapa pun.
"Aru, apakah kamu mendengar itu?"
Suara itu bukan suara. Ia adalah getaran dalam tulang-tulang mereka, frekuensi yang tidak bisa ditangkap telinga tetapi bisa dirasakan oleh sesuatu yang lebih dalam dari kulit.
"Aku mendengar sesuatu yang sedang mencoba menjadi bahasa," kata Aru, "tetapi ia terjebak di antara menjadi dan berarti."
Sebuah pintu terbuka sendiri. Di baliknya, bukan ruangan lain, melainkan kekosongan yang memiliki tekstur—seperti beledu hitam yang berdenyut. Dari dalam kekosongan itu, keluar sesosok makhluk yang tidak memiliki bentuk tetap. Kadang ia terlihat seperti Aru, kadang seperti Kemala, kadang seperti gabungan dari mereka berdua yang salah dirakit.
"Aku adalah yang tidak terucapkan di antara kalian," kata makhluk itu. Suaranya adalah suara mereka berdua yang berbicara bersamaan tetapi tidak sinkron. "Aku adalah celah di dalam percakapan. Aku adalah yang kalian pikirkan tetapi takut ucapkan."
"Kamu adalah kami?" tanya Kemala.
"Aku adalah kita yang tidak pernah kalian akui."
Makhluk itu mengulurkan tangan—atau sesuatu yang menyerupai tangan—dan menyentuh dahi Aru. Aru merasa sesuatu mencabut ingatan dari dalam otaknya, bukan untuk menghapusnya, melainkan untuk membacanya dengan keras, sehingga seluruh alam semesta bisa mendengar.
Namun, tidak ada yang mendengar. Karena percakapan ini tidak pernah benar-benar terjadi.
6.
Aru tidak yakin apakah ia masih Aru.
Nama itu terasa seperti baju yang terlalu besar, atau terlalu kecil—ia tidak bisa memastikan ukurannya karena ia sudah lupa ukuran tubuhnya sendiri. Kemala duduk di seberang, tetapi wajahnya berubah setiap kali Aru berkedip. Kadang Kemala adalah perempuan, kadang laki-laki, kadang tidak memiliki jenis kelamin, kadang tidak memiliki wajah.
"Kemala, apakah kamu masih ingat nama ibumu?"
Kemala menatapnya dengan mata yang memiliki terlalu banyak pupil. "Aku tidak punya ibu. Aku hanya punya asal-usul yang belum pernah diputuskan."
Ruangan di sekitar mereka mulai berputar. Bukan seperti putaran biasa, melainkan seperti halaman buku yang terus terbalik dengan kecepatan yang membuat huruf-hurufnya menyatu menjadi gambar-gambar yang tidak bisa diartikan.
"Aku merasa ada seseorang di dalam kepalaku yang bukan aku," kata Aru. "Dia berpikir dengan pikiranku, tetapi pikirannya bukan pikiranku."
"Mungkin dia adalah kamu yang sebenarnya," kata Kemala. "Dan kamu yang sekarang hanya delusi yang dimiliki olehnya."
Aru meremas-remas pelipisnya. Sesuatu di dalam kepalanya berteriak tanpa suara. "Kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya narasi yang diceritakan oleh kekosongan."
"Kalau aku hanya narasi," bisik Aru, "siapa naratornya?"
Kemala tersenyum. Senyumnya memiliki terlalu banyak gigi, atau terlalu sedikit—Aru tidak bisa menghitungnya karena angka-angka sudah tidak lagi berarti.
"Naratornya adalah yang sama yang mendengarkan percakapan ini."
"Akan tetapi, tidak ada yang mendengarkan."
"Tepat sekali."
7.
Mereka berada di sebuah teater yang tidak memiliki penonton. Kursi-kursi penonton kosong, tetapi panggungnya penuh sesak dengan orang-orang yang berdiri diam, menatap ke arah kursi-kursi kosong.
"Mereka sedang menunggu kita," kata Kemala.
"Akan tetapi, kita ada di sini," kata Aru.
"Tidak. Kita ada di sana." Kemala menunjuk ke panggung.
Aru melihat. Di panggung, ada dua sosok yang persis seperti mereka, sedang berdiri dengan canggung di tengah sorot lampu yang tidak menyala. Sosok-sosok itu bergerak, tetapi gerakannya tidak sinkron dengan gerakan Aru dan Kemala.
"Ini absurd," kata Aru.
"Semua ini absurd," jawab Kemala. "Yang lebih absurd adalah kita masih berpikir ada makna di dalamnya."
Seorang sutradara tanpa kepala berjalan ke depan panggung. Ia membawa megafon yang keluarnya adalah keheningan. Ia berteriak ke dalam megafon itu, dan keheningan yang keluar memenuhi seluruh teater, membuat telinga mereka berdengung dengan suara tidak ada.
"Aksi!" teriak sutradara tanpa suara.
Sosok di panggung mulai berbicara. Namun, yang mereka ucapkan bukan dialog, melainkan daftar belanjaan, jadwal kereta api yang sudah tidak beroperasi, resep masakan untuk hidangan yang tidak bisa dimakan.
"Apa yang sedang mereka mainkan?" tanya Aru.
"Kehidupan," kata Kemala, "tetapi skenarionya ditulis oleh seseorang yang benci pada penonton."
"Siapa penontonnya?"
Kemala menatap Aru dengan mata yang kosong. "Kita. Namun, kursi kita tidak ada."
Tirai turun, tetapi tirai itu bukan kain—melainkan lapisan-lapisan realitas yang terus bertambah tebal, memisahkan mereka dari panggung, dari penonton, dari segala sesuatu yang mungkin pernah menjadi makna.
8.
Mereka berjalan di sebuah taman yang setiap tanamannya adalah metafora yang belum selesai dipahami. Mawar-mawar merah berdarah, tetapi darahnya bukan merah—melainkan warna dari rasa sakit yang tidak bisa diucapkan. Melati-melati putih mengeluarkan bau yang bukan wangi, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Aru berhenti di depan sebatang pohon yang cabang-cabangnya berbentuk tanda tanya. Daun-daunnya adalah halaman-halaman kosong dari buku yang tidak pernah ditulis.
"Pohon ini bertanya tanpa pernah mendengar jawaban," kata Aru.
"Semua pohon di sini begitu," jawab Kemala. "Mereka tumbuh dari benih keraguan."
Seekor burung terbang mendekat. Burung itu tidak memiliki suara—ia hanya memiliki simbol-simbol yang jatuh dari paruhnya seperti bulu. Simbol-simbol itu mendarat di tanah dan tumbuh menjadi patung-patung kecil yang masing-masing memegang cermin.
"Burung itu membawa pesan," kata Kemala.
"Pesan apa?"
"Pesan bahwa setiap pesan hanyalah cerminan dari si penerima."
Aru mengambil salah satu cermin. Yang terpantul bukan wajahnya, melainkan serangkaian gambar: seorang anak kecil sedang belajar berbicara, seorang remaja sedang menulis surat yang tidak pernah dikirim, seorang dewasa sedang berdiri di depan cermin dan bertanya "Apakah ini aku?"
"Ini bukan aku," kata Aru. "Ini hanya simbol dari aku."
"Akan tetapi, kalau simbolnya begitu kompleks," tanya Kemala, "bukankah ia sudah menjadi lebih nyata dari yang diwakilinya?"
Aru meletakkan cermin itu. Simbol-simbol di dalamnya terus bergerak, membentuk pola-pola baru yang tidak pernah berakhir.
9.
Langit berubah menjadi ungu yang tidak pernah ada di spektrum. Bangunan-bangunan membungkuk seperti punggung orang tua yang kesakitan, jendela-jendelanya memanjang menjadi mulut-mulut yang berteriak tanpa suara. Jalanan berliku-liku seperti usus yang sedang mencerna sesuatu yang tidak bisa dicerna.
Aru merasa dadanya sesak. Bukan karena udara—udara di sini terlalu tebal, terlalu penuh dengan emosi yang belum pernah dimiliki siapa pun. Sesaknya datang dari dalam, dari sesuatu yang ingin keluar tetapi tidak memiliki bentuk untuk keluar.
"Kemala, aku merasa ada sesuatu yang salah dengan duniamu."
"Ini bukan duniamu," teriak Kemala. Suaranya berbentuk pecahan kaca yang beterbangan. "Ini adalah dunia yang dilihat oleh sesuatu yang terluka!"
Sebuah mobil lewat. Mobil itu tidak memiliki roda—ia bergerak dengan menyisir jalanan dengan bempernya yang berupa gigitan manusia. Di dalam mobil, penumpang-penumpangnya tidak memiliki wajah, hanya memiliki ekspresi: ketakutan yang dilebih-lebihkan, kesedihan yang diperbesar sampai menjadi monster, kebahagiaan yang terdistorsi sampai terlihat seperti ancaman.
"Mengapa semuanya begitu ... keras?" tanya Aru.
"Karena lembutnya sudah tidak cukup," jawab Kemala. Matanya memancarkan cahaya yang terlalu terang, terlalu penuh dengan sesuatu yang ingin diucapkan tetapi tidak bisa diucapkan. "Karena untuk mengatakan yang sebenarnya, kita harus merusak bentuknya terlebih dahulu."
Aru merasa tangisannya sendiri naik ke tenggorokannya. Akan tetapi, air matanya bukan cairan—melainkan cat minyak yang melukis jejak di pipinya. Jejak itu membentuk kata-kata yang tidak bisa dibaca, kalimat-kalimat yang terputus di tengah, paragraf-paragraf yang berakhir dengan tanda seru yang terlalu besar.
"Aku tidak mengerti apa yang kurasakan," kata Aru.
"Kamu tidak perlu mengerti," jawab Kemala. "Kamu hanya perlu merasakannya sampai ia menjadi terlalu besar untuk ditahan."
10.
Cahaya menjadi lembut, tidak pasti. Benda-benda tidak lagi memiliki tepi yang tajam—semuanya menyatu, berbaur, menjadi kesan-kesan yang belum sempat menjadi pengamatan. Waktu bergerak tidak dalam detik, tetapi dalam sapuan kuas.
Mereka berada di tepi sungai yang airnya bukan air, melainkan kilauan-kilauan cahaya yang mengalir. Di seberang sungai, sesuatu bergerak—tetapi Aru tidak bisa memastikan apakah itu pohon, atau manusia, atau hanya bayangan dari awan yang lewat.
"Kemala, apakah kamu melihat sesuatu di seberang?"
Kemala menatap. Matanya memantulkan cahaya yang sama dengan air sungai. "Aku melihat sesuatu yang mungkin pernah menjadi seseorang."
"Atau mungkin akan menjadi?"
"Di sini, pernah dan akan adalah hal yang sama."
Sebuah perahu lewat. Nelayan di atasnya tidak memancing ikan—ia memancing kilauan. Setiap kali ia menarik jala, yang keluar bukan ikan, melainkan fragmen-fragmen ingatan: sebuah tawa yang terlupakan, sebuah nama yang hampir terucap, sebuah momen yang tidak pernah cukup lama untuk menjadi kenangan.
"Air sungai ini terbuat dari apa yang hampir kita ingat," kata Kemala.
Aru merogoh air. Tangannya basah bukan oleh air, melainkan oleh sensasi-sensasi yang belum sempat menjadi emosi. "Aku merasa pernah di sini."
"Kamu pernah di mana-mana, tetapi kamu tidak pernah benar-benar berada di mana pun."
Matahari tidak terbenam. Ia hanya berubah menjadi warna yang lebih lembut, lebih tidak pasti, lebih seperti sesuatu yang ingin diingat tetapi sudah terlalu kabur untuk dikenali.
11.
Mereka mendaki. Bukan karena ada puncak—gunung ini tidak memiliki puncak, hanya memiliki semakin tinggi yang semakin tidak pasti. Mereka mendaki karena sesuatu di dalam dada mereka berdetak dengan irama yang sama dengan langkah kaki mereka.
Di setiap batu, ada puisi yang tertulis dengan tinta yang terbuat dari keheningan. Aru membaca salah satunya:
"Aku adalah yang diteriakkan oleh lembah
yang tidak pernah memiliki mulut
Aku adalah yang ditinggalkan oleh burung
yang tidak pernah belajar terbang
Aku adalah pertanyaan yang diajukan oleh gunung
kepada dirinya sendiri, setiap pagi, setiap malam,
tanpa pernah mendengar gema."
"Ini puisi tentang kita," kata Aru.
"Ini puisi tentang semua orang yang pernah mencoba menjadi satu nama," jawab Kemala.
Angin di sini tidak berembus—ia bernyanyi. Nyanyiannya bukan melodi, melainkan keinginan-keinginan yang terlalu besar untuk dunia ini: keinginan untuk menjadi lebih dari sekadar diri sendiri, keinginan untuk berbicara dalam bahasa yang dimengerti oleh batu, keinginan untuk mencintai sesuatu yang tidak memiliki wujud.
"Aku merasa dekat dengan sesuatu yang tidak bisa kujangkau," kata Aru.
"Itulah romantisme," kata Kemala. "Bukan cinta, melainkan kesedihan dari sesuatu yang terlalu indah untuk dimiliki."
Di atas mereka, awan berkumpul membentuk wajah yang tidak pernah selesai dibentuk. Wajah itu tersenyum, atau menangis, atau keduanya—Aru tidak bisa membedakannya karena perbedaan sudah tidak lagi penting di ketinggian ini.
12.
Tiba-tiba, Aru melihat dirinya dari depan, dari samping, dari belakang, dari dalam, semua sekaligus. Tubuhnya tidak lagi memiliki bentuk tunggal—ia terpecah menjadi bidang-bidang, sudut-sudut, perspektif-perspektif yang saling menabrak.
"Kemala, aku terpecah."
"Kamu tidak terpecah. Kamu baru saja terlihat secara utuh."
Kemala juga terpecah. Wajahnya adalah mozaik dari segmen-segmen yang tidak cocok: satu mata dari profil kiri, satu dari profil kanan, hidung dari tampak bawah, mulut dari tampak atas. Namun, secara aneh, semua segmen itu bersatu membentuk sesuatu yang lebih benar dari wajah biasa.
"Ini adalah kebenaran," kata Kemala. "Bukan kebenaran yang terlihat dari satu sudut, melainkan kebenaran yang hanya bisa dilihat ketika semua sudut ditunjukkan sekaligus."
Aru mencoba menyentuh wajahnya sendiri. Tangannya menemukan permukaan-permukaan yang tidak seharusnya bersebelahan: pipi yang juga adalah dahi, dagu yang juga adalah pelipis. Ia tidak lagi manusia—ia adalah konfigurasi dari semua kemungkinan dirinya.
"Aku tidak bisa hidup seperti ini," kata Aru.
"Kamu tidak pernah hidup seperti apa pun," jawab Kemala. "Kamu hanya memilih satu sudut dan berpura-pura itulah seluruhnya."
Di sekitar mereka, ruangan juga terpecah. Lantai adalah juga langit-langit. Dinding kiri adalah juga dinding kanan. Mereka berada di dalam kotak yang juga adalah di luar kotak.
"Kalau semua sudut benar," tanya Aru, "mana yang seharusnya kupilih?"
"Pilihlah yang membuatmu bisa tidur. Meski di sini, tidak ada yang tidur."
13.
Terakhir, mereka berada di sebuah ruangan yang meledak dengan warna. Bukan warna-warna yang pernah ada—melainkan warna-warna yang begitu intens, begitu liar, sehingga mereka hampir menjadi suara. Merah yang berteriak. Biru yang menangis. Kuning yang tertawa terbahak-bahak. Hijau yang berbisik rahasia.
Tidak ada benda di ruangan ini. Hanya warna-warna yang saling menabrak, saling menindih, saling melahap. Aru dan Kemala berdiri di tengahnya, menjadi satu-satunya bentuk yang hampir bisa dikenali.
"Ini adalah perasaan tanpa pemikiran," kata Kemala. Wajahnya dicoret-coret dengan warna-warna yang bukan miliknya.
"Ini adalah aku tanpa bahasa," kata Aru. Tubuhnya berlumuran warna yang belum memiliki nama.
Sebuah warna mendekati mereka—warna yang tidak bisa dijelaskan karena tidak ada kata untuknya. Warna itu menyentuh Aru, dan Aru merasa seluruh hidupnya menjadi satu momen yang begitu intens sehingga tidak perlu durasi.
"Apa ini?" tanya Aru.
"Ini adalah yang tersisa ketika semua pertanyaan sudah dihapus," jawab Kemala. "Ini adalah keberadaan dalam kemurniannya, sebelum bahasa merusaknya dengan makna."
Warna-warna mulai menyatu, membentuk sesuatu yang hampir seperti gambar. Aru melihat dua sosok—sosok yang mirip dengan mereka—sedang berbicara. Namun yang keluar dari mulut sosok-sosok itu bukan kata-kata, melainkan warna-warna yang sama dengan yang mengelilingi mereka.
"Mereka sedang berbicara," kata Aru.
"Tidak ada yang mendengar," kata Kemala.
"Akan tetapi, mereka tetap berbicara."
"Ya. Mereka tetap berbicara."
Warna-warna itu terus menyatu, terus bergerak, membentuk dan membubarkan diri dalam siklus yang tidak pernah berakhir. Aru dan Kemala berdiri di tengahnya, menjadi bagian dari palet yang lebih besar dari mereka, dari percakapan yang lebih tua dari bahasa, dari keberadaan yang tidak perlu ditanyakan karena ia sudah terlalu nyata untuk dipertanyakan.
Dan di suatu tempat—di antara sapuan merah yang liar dan coretan biru yang melankolis—ada sebuah keheningan yang berbentuk seperti pertanyaan terakhir:
"Apakah kita pernah benar-benar ada, atau kita hanya percakapan yang tidak terdengar siapa-siapa?"
Tidak ada jawaban. Hanya warna-warna yang terus berteriak, terus menangis, terus tertawa, dalam pesta yang tidak pernah dimulai dan tidak akan pernah berakhir.
---
Epilog
Aru membuka mata. Kemala sudah tidak ada di seberang. Ruangan kosong. Cermin di dinding memantulkan bayangan yang tidak bergerak meski Aru bergerak.
Di atas meja, secangkir teh sudah dingin. Di dasarnya, terlihat angka-angka yang sudah tidak berputar. Mereka membentuk satu kalimat:
"PERCAKAPAN INI SUDAH SELESAI SEBELUM DIMULAI."
Aru menatap cermin lagi. Bayangan di dalamnya berbicara, tetapi bibirnya tidak bergerak. Yang terbaca hanyalah gerakan bibir yang membentuk satu kata:
"Aku?"
Di luar jendela—jika memang ada jendela—tidak ada suara siapa pun. Hanya angin yang mungkin sedang mencoba mengucapkan nama seseorang yang sudah lupa bahwa ia pernah memiliki nama.
Komentar
Posting Komentar