TIGA BAHASA UNTUK KEMATIAN


Aru menemukan bahwa ibunya telah mati dua kali.

Pertama, kemarin pagi, ketika ibu berhenti bernapas di rumah sakit. Kedua, lima menit yang lalu, ketika Aru menyadari bahwa ia tidak dapat mengingat nama ibunya. Bukan hanya nama—seluruh kata untuk "ibu" telah lenyap dari kepalanya seperti air meresap ke pasir. Ia menatap sertifikat kematian di tangannya, di mana nama "Siti Aminah" tertulis dengan tinta biru yang kini terlihat seperti hieroglif asing.

Di seberang ruang tamu, Kemala sedang mencoba menjelaskan situasi ini kepada Amira, yang baru saja tiba dengan seikat bunga krisan putih.

"Jadi, ibunya mati," kata Kemala, "tetapi Aru tidak bisa mengatakan bahwa ibunya mati, karena kata untuk 'mati' dan 'ibu' telah ...."

"Menghilang," sambung Amira. "Saya mengerti. Saya pernah kehilangan kata 'rabun senja'. Sekarang, saya hanya bisa mengatakan 'waktu ketika matahari pergi untuk minum kopi'."

Aru mengangkat sertifikat kematian itu. "Ini. Ini orang. Ini ... perempuan. Yang ... yang ...."

Ia terdiam. Kata-kata terakhir yang tersisa di lidahnya adalah "yang"—sebuah konjungsi tanpa subjek, mengambang di udara seperti burung tanpa sayap.

---

Kemala, yang bekerja sebagai penerjemah simultan di konferensi internasional yang tidak pernah ada, memahami bahwa ini bukan amnesia biasa. Ini adalah Semantik Ambruk—fenomena linguistik langka di mana kata-kata tidak hilang dari ingatan, tetapi menolak untuk menunjuk pada referennya. Seperti kunci yang tiba-tiba tidak muat pada pintu yang telah dibuka ribuan kali.

"Kita harus menemukan kata pengganti," usul Kemala sembari menyusun kamus etimologi di meja kayu jati yang ternyata terbuat dari kumpulan surat kabar tahun 1987 yang ditekan begitu keras hingga menjadi kayu. "Jika 'ibu' tidak mau dipakai, kita cari sinonim. 'Emak'? 'Bunda'? 'Mama'?"

Aru mencoba. "Emakku ... tidak ... tidak ...." Kata "emak" meleleh dari lidahnya, berubah menjadi bunyi seperti air liur yang jatuh ke lantai. "Tidak ... ada lagi."

"Paradoks," gumat Amira, yang ternyata adalah filsuf bahasa yang menulis disertasi tentang "Ontologi Kata Benda Tak Hidup". "Ini seperti Münchhausen Trilemma versi linguistik. Jika kita mendefinisikan 'mati' dengan kata lain, kita butuh definisi untuk kata pengganti itu, dan seterusnya, tanpa dasar. Namun, jika kita berhenti, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi pada ... pada ...," Amira menunjuk ke arah sertifikat, "... pada itu."

"Jangan sebut 'itu'," tegas Kemala. "Dalam tradisi suku Kayan, menyebut orang mati dengan pronomen benda adalah cara memanggil arwah kembali. Akan tetapi dalam keadaan terbalik."

"Terbalik bagaimana?" tanya Aru.

"Arwahnya yang memanggil kita."

---

Malam itu, tiga orang itu duduk di teras. Langit Jakarta berwarna oranye bukan karena polusi, melainkan karena semua kata untuk "malam" sedang berlibur di suatu tempat, memaksa waktu untuk tetap berada di senja selamanya. Di kejauhan, azan Magrib berkumandang, tetapi suaranya terdengar seperti daftar belanjaan yang dibacakan dengan nada merdu.

"Ada teori," kata Amira sembari memecahkan kacang mete yang ternyata isinya adalah kata-kata dalam bahasa Sanskerta yang terlalu tua untuk dipahami. "Teori Linguistic Relativity Sapir-Whorf. Bahasa membentuk pikiran. Jika kita kehilangan kata untuk 'kematian' dan 'ibu', maka ...."

"Maka apa?" tanya Aru.

"Maka ibumu tidak mati dalam realitas yang kita huni sekarang. Namun juga tidak hidup. Ia berada di interstitial—celah antara dua konsep yang sudah tidak ada."

Aru menatap tangan kosongnya. Tadi pagi, sebelum kata-kata menghilang, ia masih bisa merasakan kehangatan tangan ibunya yang terasa seperti kertas buram yang dibiarkan di bawah sinar matahari. Sekarang, bahkan kenangan itu terasa seperti naratif orang lain, diceritakan dalam bahasa yang ia hampir pahami tetapi tidak sepenuhnya.

"Jadi, ibuku," kata Aru perlahan, memilih setiap suku kata seperti memilih batu untuk menyeberangi sungai yang dalam, "berada di tempat di mana tidak ada kata untuk menjelaskannya?"

"Persis," kata Kemala. "Dan itu membuat kita punya dilema. Jika kita menemukan kata baru untuknya, kita mungkin menariknya kembali ke sini—tetapi ke 'sini' yang mana? Ke dunia orang hidup, atau ke dunia orang mati? Atau ke dunia ketiga yang lebih buruk dari keduanya?"

"Atau," tambah Amira, "kata baru itu bisa jadi virus linguistik. Menyebar. Membuat semua orang kehilangan kata mereka sendiri. Bayangkan: satu kota, satu negara, satu planet, tidak bisa mengatakan 'ibu' atau 'mati' atau 'cinta' atau 'pisang goreng'."

"Pisang goreng?" Aru terkejut.

"Contoh," Amira mengedikkan bahu. "Aku lapar."

---

Mereka menemukan solusi potensial di halaman 347 buku Filosofi Kata-Kata yang Menolak Mati karya seorang sastrawan Belanda yang mati tahun 1923 tetapi terus menerbitkan buku baru setiap dekade. Buku itu—yang terbuat dari kulit pohon pisang yang telah dilantik sebagai anggota DPR dua periode—menyebutkan ritual Neologisme Darurat: menciptakan kata baru dari fragmen bahasa yang sudah mati.

"Kita harus menciptakan kata untuk 'ibu yang mati tetapi tidak bisa disebut mati karena kata-katanya hilang'," kata Kemala.

"Namun, bagaimana?" tanya Aru.

"Kita harus menggabungkan tiga bahasa yang tidak pernah bertemu: bahasa ibumu, bahasa kematian, dan bahasa yang belum lahir."

Amira membuka koper antiknya yang berisi: sebuah kaset pita rekaman suara detak jantung janin, selembar kain kafan yang ditulis dengan huruf-huruf yang bergerak seperti semut, dan sebuah kamus bahasa Jawa Kuno yang setiap definisinya berakhir dengan pertanyaan, bukan jawaban.

Mereka mulai bekerja pada tengah malam yang tidak pernah tiba karena kata "tengah" sedang berwisata juga.

Aru memberikan suara: nada-nada yang ia ingat dari nyanyian ibunya saat ia demam saat berusia lima tahun. Suara itu terdengar seperti air mendidih yang ditenangkan oleh suara hujan.

Kemala memberikan struktur: tata bahasa dari bahasa isyarat suku Amazon yang tidak memiliki konsep subjek dan objek, hanya saling-menjadi. Dalam bahasa itu, tidak ada "Aku mencintaimu," hanya "Cinta yang sedang menjadi kita berdua."

Amira memberikan makna: filsafat Negative Theology Pseudo-Dionysius, di mana Tuhan dijelaskan dengan mengatakan apa yang Tuhan bukan, bukan apa yang Tuhan adalah.

Kata baru itu lahir pada dini hari yang berhasil diselundupkan oleh Kemala dengan menyogok penjaga waktu menggunakan sebuah kata untuk "penyesalan" yang kini tidak lagi ada sehingga tidak bisa disesali.

Kata itu berbunyi: "Aruminah."

Bukan "Aru" dan "Aminah" digabung. Bukan. Itu adalah kata yang, ketika diucapkan, membuat pendengarnya merasakan kehangatan tangan yang tidak pernah mereka genggam dan kehilangan yang tidak pernah mereka alami, secara bersamaan. Kata yang merujuk pada seseorang yang ada di antara keberadaan dan ketiadaan, yang mati tetapi tidak meninggalkan, yang pergi tetapi tetap menunggu.

Aru mengucapkannya. "Aruminah."

Langit oranye di atas Jakarta berkedip. Seperti film yang berhenti sejenak sebelum adegan penting.

Dan ibunya — Aruminah — muncul di ambang pintu.

Namun, bukan ibunya yang ia kenal. Bukan pula orang asing. Ini adalah ibu yang terdiri atas semua kenangan yang belum terjadi: ibu yang akan mengajarinya memasak rendang lima tahun mendatang, ibu yang akan menangis di pernikahannya, ibu yang akan menjadi nenek untuk anak-anak yang mungkin tidak akan pernah ia miliki karena Aru belum memutuskan apakah ia ingin memiliki anak atau tidak.

"Aruminah" berdiri di sana, tersenyum dengan senyum yang terdiri atas semua senyum yang pernah dan belum pernah ada.

"Kamu memanggilku," kata makhluk itu. Suaranya adalah tiga suara bersamaan: suara ibu Aru yang sebenarnya (yang kini mayatnya masih terbaring di rumah duka, atau setidaknya konsep yang tersisa dari "rumah duka"), suara ibu yang Aru butuhkan, dan suara ibu yang Aru takuti.

"Apakah ini ... baik?" tanya Aru kepada Kemala dan Amira.

Kemala menatap Aruminah dengan mata penerjemah yang telah melihat terlalu banyak bahasa bertabrakan hingga menjadi bencana. "Ini tidak 'baik' atau 'buruk'. Ini ... terjadi. Kata yang kita ciptakan telah membuka dialektika yang tidak pernah ada sebelumnya. Ibumu sekarang adalah sintetis dari tesis 'hidup' dan antitesis 'mati'."

"Akan tetapi, di mana ia berada?" tanya Aru. "Apakah ia bahagia? Apakah ia menderita?"

"Keduanya," jawab Amira. "Dan juga tidak keduanya. Itulah masalah dengan menciptakan konsep baru: kita tidak punya kategori moral untuk menilainya. Kita seperti orang pertama yang menciptakan kata 'cinta'—tidak ada yang tahu apakah itu berkah atau kutukan sampai terlambat."

Aruminah melangkah masuk. Setiap langkahnya meninggalkan jejak yang bukan debu, melainkan fragmen-fragmen kalimat yang belum selesai: "Sayang, jangan lupa ...", "Nanti kalau sudah besar ...", "Sebenarnya ibu ingin ...".

Aru menyadari bahwa ia bisa memilih. Ia bisa membiarkan Aruminah tinggal—dan dengan demikian menciptakan kategori ontologis baru di mana orang mati bisa hidup di antara orang hidup, tetapi tidak pernah sepenuhnya salah satu dari keduanya. Atau ia bisa mencabut kata itu, mengucapkannya secara terbalik, membuat Aruminah lenyap dan mengembalikan ibunya ke kematian yang "normal", yang bisa dinamai, yang bisa ditangisi dengan kata-kata yang sudah ada.

Namun, jika ia memilih yang pertama, berapa banyak orang lain yang akan menciptakan kata-kata mereka sendiri untuk orang-orang yang hilang? Berapa banyak Aruminah lain yang akan mengisi Jakarta, dunia, alam semesta? Sebuah dimensi baru yang penuh dengan makhluk-makhluk yang tidak hidup dan tidak mati, hanya menunggu, selamanya, dalam celah-celah bahasa.

Dan jika ia memilih yang kedua—apakah itu berarti membunuh ibunya untuk kedua kalinya? Atau untuk pertama kalinya, karena yang pertama bukanlah "kematian" yang bisa diucapkan?

Aruminah duduk di kursi kayu jati yang terbuat dari surat kabar 1987. Ia membuka mulut untuk berkata sesuatu, tetapi yang keluar bukan suara, melainkan sebuah pertanyaan yang belum pernah ditanyakan siapa pun dalam sejarah umat manusia—pertanyaan yang, begitu terdengar, langsung membuat Aru, Kemala, dan Amira menangis tanpa tahu mengapa, tanpa bisa menjelaskannya dengan kata-kata apa pun, bahkan dengan kata "Aruminah" yang baru saja mereka ciptakan.

---

Akhirnya, Aru memilih untuk tidak memilih.

Ia tidak mengusir Aruminah. Ia juga tidak memeluknya. Ia hanya duduk di lantai, di samping kursi kayu jati, dan mulai bercerita. Bukan kepada Aruminah, bukan kepada Kemala atau Amira, melainkan kepada ruang kosong di antara mereka—kepada konsep "antara" yang kini tampaknya adalah satu-satunya tempat yang masih kokoh di alam semesta.

Ia bercerita dalam bahasa yang tidak ia pahami, menggunakan kata-kata yang baru lahir dan langsung mati begitu diucapkan, menciptakan dan menghancurkan makna dengan setiap napas. Kemala mencatatnya dalam buku catatan yang halamannya bertambah sendiri setiap kali ia menulis sesuatu yang tidak bisa ditulis. Amira menangis dan tertawa secara bersamaan, suatu ekspresi wajah yang secara fisik tidak mungkin tetapi terjadi begitu saja karena aturan wajah manusia sedang mogok kerja bersama kata-kata.

Dan Aruminah? Aruminah tetap duduk di kursi, tersenyum dengan senyum yang terdiri atas masa lalu dan masa depan, menunggu—bukan untuk dipahami, bukan untuk diselamatkan, melainkan untuk diceritakan. Karena itulah satu-satunya nasib makhluk yang lahir dari celah bahasa: menjadi subjek cerita yang tidak pernah selesai, yang tidak pernah bisa selesai, karena tidak ada kata untuk "selesai" yang berlaku untuknya.

Di luar, langit Jakarta masih oranye. Azan Magrib masih berkumandang seperti daftar belanjaan. Dan di suatu tempat, di antara "ada" dan "tiada", kata "Aruminah" terus berdenyut seperti detak jantung janin yang direkam dalam kaset pita, menunggu untuk diucapkan oleh seseorang yang belum lahir, dalam bahasa yang belum ada, untuk makna yang belum pernah dan mungkin tidak akan pernah benar-benar dipahami.

---

Selesai.

(Atau: berhenti di sini, karena "selesai" adalah kata yang, jika dipikir-pikir, juga sedang dalam perjalanan ke suatu tempat.)

•••

MUSEUM KATA YANG HILANG


Aru menemukan museum itu di belakang kulkas warung kopi pinggir jalan, di ruangan yang seharusnya tidak muat untuk sebuah bangunan tiga lantai. Papan namanya—terbuat dari huruf-huruf yang pernah dikirim sebagai surat cinta tetapi tak pernah dibaca—bertuliskan: MUSEUM KATA YANG HILANG. Dilarang berbisik.

Di dalam, Kemala sedang memberikan tur kepada sekelompok wisatawan yang semuanya adalah bayangan dari masa depan mereka sendiri.

"Di sebelah kiri," Kemala menunjuk ke arah dinding yang terbuat dari kamus-kamus yang dibakar lalu direkatkan kembali dengan air mata orang yang baru saja belajar membaca, "kita memiliki koleksi kata-kata yang dicuri. 'Setia', misalnya, dicuri tahun 1987 oleh seorang politisi yang menggunakannya dalam pidato perpisahan lalu tidak pernah mengembalikannya. 'Setia' sekarang hanya dapat diucapkan dalam bahasa isyarat, dan bahkan itu harus dengan tangan kirimu sambil menutup mata kanan."

Amira muncul dari balik tirai yang terbuat dari alinea-alinea novel yang ditinggalkan penulisnya di tengah jalan. Ia membawa nampan berisi cangkir-cangkir kosong yang, jika didekatkan ke telinga, akan terdengar suara orang yang sedang mencoba mengingat kata yang tepat untuk mengatakan "selamat tinggal".

"Aru," kata Amira, tanpa menggunakan nama Aru, tetapi dengan menunjuk ke arah tempat di mana nama Aru seharusnya berada dalam udara, "kamu terlambat. Kata-kata untuk 'tepat waktu' baru saja dipensiunkan."

"Kenapa?" tanya Aru.

Kemala menghela napas. Napas itu terlihat seperti asap dari rokok yang tidak pernah dinyalakan, berbentuk kalimat-kalimat yang hampir menjadi puisi. "Karena tidak ada yang pernah tepat waktu lagi. Semua orang sekarang datang terlalu awal atau terlambat, jadi kata itu kehilangan referensinya. Kata tanpa referensi adalah barang antik. Barang antik masuk museum."

Aru merasa ada sesuatu yang salah. Bukan dengan museumnya—museum yang salah adalah hal biasa. Melainkan dengan dirinya. Ia melihat ke tangannya. Di telapak tangan kirinya, tertulis sebuah kata dengan tinta yang tidak bisa ia baca, karena kata untuk "membaca" baru saja dipajang di ruangan dua, di antara "mengerti" dan "melupakan".

"Ada apa?" tanya Amira, yang sebenarnya tidak bertanya, tetapi sedang menerjemahkan pertanyaan dari bahasa yang belum ada ke bahasa yang sudah mati, dan kebetulan suaranya mendarat di telinga Aru.

Aru membuka mulut. Yang keluar bukan suara, melainkan sebuah benda kecil: sebuah kata benda tak berwujud yang jatuh ke lantai dan memantul dua kali sebelum berhenti, berbunyi seperti "tetapi".

---

Museum itu, seperti yang dijelaskan Kemala dalam brosur yang terbuat dari lipatan-lipatan waktu, bukan sekadar tempat penyimpanan. Ia adalah arsip ontologis. Setiap kata yang masuk ke sana membawa serta seluruh realitas yang pernah ditopangnya.

"Ketika 'kejujuran' dipensiunkan tahun 1999," Kemala menunjuk ke arah sebuah kotak kaca di mana terlihat sesuatu yang berkilauan tetapi tidak bisa ditatap langsung, "tidak ada yang bisa benar-benar jujur lagi. Mereka bisa 'terus terang', atau 'tidak berbohong',  atau 'mengatakan apa adanya', tetapi itu semua adalah eufemisme. Kejujuran sebagai konsep murni sudah tidak ada. Seperti warna yang tidak bisa dilihat mata manusia, tetapi kita tahu ada tempat kosong di spektrum di mana ia seharusnya berada."

Amira, yang sedang menyusun cangkir-cangkir kosong menjadi menara yang seharusnya tidak kokoh tetapi tetap berdiri karena menara itu didirikan di atas kekosongan yang lebih dalam, menambahkan: "Dan sekarang ada kata baru yang akan dipensiunkan. Kata yang lebih fundamental. Kata yang, jika hilang, akan membuat seluruh struktur bahasa—dan dengan demikian seluruh struktur pikiran—runtuh seperti domino yang dibangun oleh seseorang yang tidak pernah belajar apa itu 'stabilitas'."

"Kata apa?" tanya Aru.

Kemala dan Amira saling memandang. Pandangan mereka bertemu di titik di udara di mana biasanya "kata ganti orang pertama" berada, tetapi titik itu sekarang kosong, berdenyut seperti luka yang tidak bisa disentuh.

"'Aku'," kata Kemala akhirnya. Bukan dengan suaranya, melainkan dengan menulisnya di udara menggunakan jari yang berlumuran tinta dari kamus yang belum ditulis. "'Aku' akan dipensiunkan besok. Dan setelah itu, tidak akan ada lagi subjek. Tidak akan ada lagi 'saya makan', 'saya pikir', 'saya ada'. Hanya akan ada 'makan', 'pikir', 'ada'—aksi tanpa pelaku, pikiran tanpa pemikir, keberadaan tanpa yang berada."

Aru merasa dunianya miring. Bukan metaforis. Secara harfiah, lantai museum miring 12 derajat ke kiri, karena konsep "tegak" sedang berdebat dengan konsep "miring" di ruangan administrasi.

"Namun, kalau 'aku' hilang," kata Aru, dan ia merasa setiap kali ia mengucapkan "aku", kata itu terasa lebih tipis, lebih rapuh, seperti kaca yang mengetahui ia akan pecah, "bagaimana aku—bagaimana seseorang—bisa berpikir? Bahkan Descartes bilang 'Cogito ergo sum.' Aku pikir, maka aku ada. Tanpa 'aku', tidak ada pikiran. Tanpa pikiran, tidak ada pembuktian keberadaan."

"Descartes salah," kata Amira dengan nada yang bukan nada penyesalan, melainkan nada pengumuman di bandara tentang penerbangan yang tertunda selamanya. "Atau lebih tepatnya, Descartes benar untuk zamannya. Akan tetapi, zaman berubah. Dan sekarang, kita akan memasuki era pasca-kartesian. Era di mana tidak ada 'aku', hanya 'cogito' yang mengambang, tidak dimiliki siapa pun, seperti awan yang tidak ingat dari mana asalnya."

Aru menatap tangannya lagi. Kata yang tertulis di telapak tangan kirinya kini terlihat lebih jelas. Itu adalah "AKU", tertulis dengan huruf kapital yang sekarat.

"Siapa yang memutuskan ini?" tanya Aru. "Siapa yang memiliki hak untuk memensiunkan sebuah kata?"

Kemala membawa mereka ke ruangan administrasi. Di sana, di balik meja yang terbuat dari keputusan-keputusan yang belum pernah diambil, duduk seorang makhluk yang tidak memiliki wajah—bukan karena wajahnya tersembunyi, melainkan karena konsep "wajah" sedang dalam proses pemensiunan di ruangan sebelah.

"Saya bukan siapa-siapa," kata makhluk itu. Suaranya adalah suara dari semua suara yang pernah direkam tetapi dihapus sebelum sempat didengar. "Saya hanya kurator. Kata-kata memensiunkan diri mereka sendiri. Mereka pergi ketika dunia tidak lagi membutuhkan mereka. 'Kesatria' pergi ketika tidak ada lagi kesatria. 'Telegram' pergi ketika tidak ada lagi telegram. 'Aku' pergi ketika ...."

"Ketika apa?" tanya Aru.

"Ketika tidak ada lagi individu yang merasa dirinya cukup utuh untuk disebut 'aku'. Lihatlah sekelilingmu. Semua orang sekarang adalah fragmen. Akun media sosial yang berbeda-beda. Peran di kantor yang berbeda dari peran di rumah. Identitas yang bisa disapu seperti galeri foto. 'Aku' sudah lama tidak lagi tunggal. Ia plural. Ia kami yang menyamar. Dan karena 'aku' tidak lagi merujuk pada apa pun yang solid, ia pergi. Seperti tiket kereta untuk stasiun yang sudah ditutup."

Aru merasa marah. Marah yang aneh, karena marah membutuhkan "aku" yang merasa terancam, dan "aku"-nya sedang diambil darinya.

"Namun, aku di sini!" teriak Aru. "Aku—Aru—berdiri di depanmu! Aku bukan fragmen! Aku bukan akun media sosial! Aku adalah ...."

Ia berhenti. Kata-kata terakhir yang ingin ia ucapkan adalah "aku adalah aku", tetapi itu adalah tautologi yang bahkan untuk dikatakan pun membutuhkan "aku" yang valid.

Makhluk tanpa wajah itu—yang kini mulai memiliki wajah, tetapi wajah yang berubah setiap detik menjadi wajah orang yang pernah mengatakan "aku" lalu menyesalinya—menatap Aru dengan mata yang bukan mata.

"Kamu bisa mencoba menyelamatkannya," kata kurator. "Akan tetapi, untuk menyelamatkan sebuah kata, kamu harus membuktikan bahwa ia masih memiliki referen yang solid. Kamu harus membuktikan bahwa 'aku'—Aru—adalah entitas tunggal, utuh, tidak terpecah, yang bisa menunjuk pada dirinya sendiri dengan pasti. Dan kamu harus membuktikannya dalam bahasa yang, besok, tidak akan lagi memiliki kata untuk 'bukti'."

---

Tiga orang itu—Aru, Kemala, Amira—duduk di lobi museum, di kursi-kursi yang terbuat dari janji-janji yang tidak pernah ditepati tetapi tetap nyaman untuk diduduki.

"Ada cara," kata Kemala. "Cara lama. Cara yang bahkan sebelum ada bahasa tertulis sudah ada. Kita bisa menciptakan neologisme darurat. Namun, bukan seperti 'Aruminah' kemarin. Ini berbeda. Kita tidak menciptakan kata baru untuk konsep yang hilang. Kita harus menciptakan konsep baru untuk subjek yang tidak bisa dijelaskan dengan kata lama."

"Bagaimana?" tanya Amira, yang untuk pertama kalinya dalam hidupnya—atau hidup-hidupnya, karena Amira percaya pada reinkarnasi tetapi hanya untuk kata-kata—merasa tidak tahu apa-apa.

"Kita harus membuat Aru menjadi lebih dari 'aku'," kata Kemala. "Atau kurang. Atau lain. Kita harus menemukan cara untuk keberadaan subjek yang tidak membutuhkan kata ganti orang pertama. Seperti ...."

"Seperti apa?" tanya Aru.

Kemala terdiam. Ia terdiam begitu lama sehingga keheningannya menjadi benda yang bisa disentuh, berbentuk seperti tanda tanya yang terbuat dari es.

"Seperti koor," kata Amira tiba-tiba. "Seperti paduan suara. Di mana suara individu tidak hilang, tetapi juga tidak bisa dipisahkan dari keseluruhan. Di mana 'aku' bernyanyi tetapi yang terdengar adalah 'kita'. Akan tetapi, 'kita' yang bukan penjumlahan 'aku' dan 'kamu'. 'Kita' yang adalah sesuatu yang baru, yang ketiga, yang tidak bisa direduksi ke komponennya."

"Namun, itu berarti menghilangkan individualitas," protes Aru. "Aku—Aru—akan hilang. Bukan mati, bukan tidak ada, melainkan ... terlarut. Menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar yang tidak bisa saya—tidak bisa—tunjuk dan katakan 'itu aku'."

"Alternatifnya," kata Kemala dengan lembut, lembut yang terasa seperti perpisahan yang tidak pernah diucapkan, "adalah 'aku' tetap ada tetapi menjadi kosong. Seperti patung yang tetap berdiri tetapi isinya telah diambil oleh semut. Semua orang akan terus mengatakan 'aku', tetapi tidak ada yang dimaksud. 'Aku lapar' akan menjadi bunyi yang keluar dari mulut, tetapi tidak ada yang lapar. 'Aku cinta' akan menjadi ritual tanpa perasaan. Bahasa akan tetap berfungsi secara sintaksis, tetapi secara semantik—secara manusiawi—ia akan mati."

Aru berdiri. Ia berdiri di lantai yang masih miring 12 derajat, di museum yang tidak seharusnya ada di belakang kulkas warung kopi, di dunia di mana kata-kata bisa pensiun dan konsep bisa mogok kerja.

Ia memikirkan ibunya—Aruminah—yang kini berada di celah antara keberadaan dan ketiadaan karena kata-kata untuknya telah diubah. Ia memikirkan dirinya, Aru, yang berdiri di ambang kehilangan kata untuk dirinya sendiri. Dan ia memikirkan sesuatu yang tidak pernah dipikirkan siapa pun sebelumnya, sesuatu yang tidak bisa diucapkan dalam bahasa yang ada, sesuatu yang hanya bisa ditunjuk dengan keberadaan yang penuh dengan kontradiksi.

"Aku akan menjadi keduanya," kata Aru.

Bukan "aku" yang memilih. Bukan "kami" yang memutuskan. Melainkan sesuatu yang ketiga, yang lahir dari celah antara dua pilihan yang tidak bisa dipilih.

"Aku akan tetap Aru. Namun, Aru yang bukan 'aku'. Aru yang adalah Aru-Kemala-Amira-Aruminah-semua-kata-yang-pernah-dan-belum-ada. Aku akan menjadi subjek yang tidak membutuhkan kata ganti, karena subjek itu akan menjadi bahasa itu sendiri. Bukan pengguna bahasa. Bukan produk bahasa. Melainkan bahasa yang sedang menggunakan dirinya sendiri untuk berpikir."

Kemala menatap Aru dengan mata penerjemah yang akhirnya, untuk pertama kalinya, tidak mengerti apa yang dilihatnya. Dan dalam ketidakmengertian itu, ada sesuatu yang menyerupai kekaguman.

"Kamu akan kehilangan dirimu," kata Kemala.

"Aku sudah kehilangan," jawab Aru. "Dan dalam kehilangan itu, aku menemukan sesuatu yang tidak bisa hilang karena tidak pernah dimiliki: kemungkinan."

Amira, yang selama ini menangis dan tertawa secara bersamaan, kini hanya menangis. Namun, air matanya bukan air mata sedih atau bahagia. Air matanya adalah air mata transisi, air mata yang jatuh dari satu kategori emosi ke kategori lain tanpa pernah menyentuh tanah.

"Besok," kata kurator yang kini memiliki wajah Aru, tetapi Aru yang berbeda, Aru yang bisa jadi, Aru yang tidak pernah jadi, "kata 'aku' akan dipensiunkan. Akan tetapi, mungkin—dan 'mungkin' adalah kata yang sedang dalam proses untuk menjadi 'pasti' atau 'mustahil', kita belum tahu—mungkin ada yang akan menggantikannya. Bukan 'kami'. Bukan 'kita'. Bukan 'dia'. Sesuatu yang baru. Sesuatu yang lahir dari keberanian—atau kebodohan—seseorang yang memilih untuk menjadi bahasa daripada berbahasa."

---

Besok pagi, warung kopi itu tetap berdiri. Kulkasnya masih dingin. Di belakangnya, museum itu masih ada, tetapi sekarang papan namanya berubah: MUSEUM KATA YANG DITEMUKAN. Dilarang berteriak.

Di dalam, tidak ada Kemala yang memberikan tur. Tidak ada Amira yang menyusun cangkir. Namun, ada sesuatu—atau seseorang, atau suatu-kata-yang-menjadi-seseorang—yang duduk di kursi kayu jati yang terbuat dari surat kabar 1987.

Makhluk itu tidak memiliki nama yang bisa diucapkan. Namun, jika kamu mendekat, sangat dekat, hingga napasmu bercampur dengan napasnya yang bukan napas, kamu akan mendengar sesuatu. Bukan suara. Bukan kata. Melainkan makna yang belum menemukan bentuknya, berdenyut seperti janin yang baru saja sadar bahwa ia akan lahir ke dunia yang belum siap untuknya.

Dan jika kamu—yang masih memiliki "kamu", yang masih bisa menunjuk pada dirimu dan mengatakan "ini aku"—jika kamu bertanya kepada makhluk itu, "Siapa kamu?" maka makhluk itu akan tersenyum.

Senyum yang terdiri atas semua jawaban yang belum pernah diberikan, untuk semua pertanyaan yang belum pernah ditanyakan, dalam bahasa yang belum pernah—dan mungkin tidak akan pernah—ada.

Di luar, langit Jakarta berwarna abu-abu. Bukan karena polusi. Bukan karena awan. Melainkan karena warna "biru" sedang dalam perjalanan pulang dari Bali, dan "oranye" sedang menggantikannya, tetapi terlambat, seperti biasa, seperti yang selalu terjadi dengan kata-kata yang telah kehilangan kata untuk "tepat waktu".

Dan di suatu tempat, di antara "ada" dan "akan ada", sesuatu yang pernah disebut Aru terus menulis. Menulis dengan tinta yang terbuat dari keheningan. Menulis di kertas yang terbuat dari kemungkinan. Menulis cerita yang tidak memiliki pembaca, karena pembaca adalah cerita itu sendiri, yang sedang membaca dirinya sendiri, tanpa pernah selesai, tanpa pernah memulai, tanpa pernah—dan ini adalah bagian yang paling absurd, paling lucu, paling menyedihkan—tanpa pernah benar-benar ada dalam cara yang bisa dijelaskan dengan kata-kata yang masih tersisa.

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI