129.600 DETIK DALAM KEPALA SEORANG PRAMUNIAGA

Setiap pukul 08.00 pagi, Ardi menyalakan mesin kasir dan bunyi kring itu sama persis dengan bunyi kring dari rumah sakit tiga puluh tahun lalu, ketika lampu di atas pintu ruang bersalin menyala merah dan seorang perawat keluar dengan wajah yang sudah tahu jawaban sebelum bibirnya bergerak.

Ardi tidak menyukai sinkronisasi itu. Namun dia tidak bisa menghentikannya. Seperti dia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tetap berdiri di toko kelontong ini setiap hari, dari pagi hingga malam, melayani pelanggan yang sama dengan permintaan yang sama, di kota yang tidak pernah berubah sejak dia lahir—atau sejak dia memutuskan untuk tidak pernah pergi.

Toko kelontong ini milik ibunya. Dulu. Sekarang miliknya. Akan tetapi, ibunya masih datang setiap Kamis sore, duduk di kursi anyaman di sudut, tidak bicara, hanya menatap rak mi instan seperti sedang berhitung berapa banyak pilihan yang tersisa dalam hidup seorang janda.

"Mas, rokoknya sudah naik lagi?"

Itu Bu RT. Datang setiap pagi. Membeli satu bungkus rokok kretek filter. Membayar dengan uang pas. Tidak pernah menerima kembalian. Tidak pernah tersenyum. Selama tiga puluh tahun.

"Naik seribu, Bu."

"Ya sudah."

Selesai. Transaksi selesai. Hari selesai. Padahal baru pukul 08.07.

Ardi memandangi jam dinding. Jarumnya bergerak seperti siput yang sedang bosan dengan kehidupan. 129.600 detik lagi hingga toko tutup. 129.600 detik yang harus dia isi dengan sesuatu selain bunyi kring mesin kasir, bunyi kring rumah sakit, dan bunyi detak jantungnya yang terlalu pelan untuk orang seusianya.

---

Cahaya pagi masuk melalui jendela toko yang tidak pernah dibersihkan. Debu-debu menari di udara, seperti bintang jatuh yang lupa cara jatuh. Ardi mengamati mereka. Setiap debu berbeda. Setiap debu punya cerita: ada yang dari jaket lama pelanggan, ada yang dari karung beras yang robek, ada yang dari abu rokok Bu RT yang tidak pernah dia sadari.

Jika Ardi bisa melukis, dia akan melukis debu-debu ini. Bukan karena indah, melainkan karena mereka satu-satunya hal di toko ini yang terus bergerak tanpa diminta.

"Nak, telurnya masih ada?"

Pak Haji. Datang setiap pukul 09.00. Membeli sepuluh butir telur. Tidak kurang. Tidak lebih. Telur ayam negeri. Selama dua puluh tahun.

"Masih, Pak."

"Yang besar-besar."

"Iya, Pak."

Ardi mengambil telur satu per satu. Memasukkannya ke kantong plastik. Menyerahkannya. Menerima uang lima puluh ribu. Mengembalikan kembalian dua belas ribu. Pak Haji pergi. Tidak pernah mengucapkan terima kasih. Tidak pernah mengeluh. Seperti robot yang programnya sudah ditulis sejak zaman penjajahan Belanda.

Ardi duduk kembali di kursi plastik biru yang kakinya sudah ompong satu. Dia bertanya kepada dirinya sendiri—pertanyaan yang sama setiap hari, jawaban yang sama setiap hari:

"Kenapa aku masih di sini?"

Karena ibumu sakit.

"Ibu sudah sembuh."

Karena tidak ada kerjaan lain.

"Lowongan kerja banyak di luar kota."

Karena kamu takut.

"... iya. Aku takut."

Percakapan dengan diri sendiri itu sudah berlangsung tiga puluh tahun. Lebih lama dari kebanyakan pernikahan. Lebih setia dari kebanyakan persahabatan.

---

Toko kelontong ini memiliki enam lorong. Ardi tahu persis di mana setiap barang berada. Gula di lorong satu, rak paling bawah. Tepung di lorong dua, sejajar dengan mata. Minyak goreng di lorong tiga, dekat pintu belakang karena bocor dan baunya menyengat.

Namun, suatu siang, saat Ardi sedang menata ulang mi instan, dia menemukan sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya: sebuah lorong ketujuh.

Lorong itu ada di antara rak saus tomat dan rak kecap. Biasanya hanya dinding. Akan tetapi, sekarang, celah selebar bahu orang dewasa, gelap, dan berbau seperti hujan di musim kemarau.

Ardi tidak masuk, tetapi lorong itu masuk ke dirinya.

Karena sejak hari itu, setiap kali dia memejamkan mata, dia melihat lorong itu. Panjang. Tak berujung. Dan di ujung lorong, ada sebuah toko kelontong. Persis sama dengan tokonya. Persis sama rak-raknya. Persis sama debu-debunya.

Namun di toko di ujung lorong itu, Ardi melihat dirinya sendiri—tetapi lebih muda. Masih memakai seragam SMA. Rambut tidak diatur. Duduk di kursi plastik biru yang sama, menangis, sambil memegang secarik kertas.

Ardi tahu persis kertas itu. Kertas hasil ujian masuk universitas. Diterima di fakultas kedokteran. Di kota yang jauh. Di kehidupan yang tidak pernah dia sentuh. 

"Kenapa kamu tidak pergi?" tanya Ardi yang sekarang kepada Ardi yang dulu.

Ardi yang dulu tidak menjawab. Dia hanya terus menangis. Lalu kertas itu terbakar. Tidak ada api, tetapi kertas itu terbakar. Menjadi abu. Dan abu itu beterbangan di lorong ketujuh, dan Ardi yang sekarang merasakan abu itu masuk ke paru-parunya, dan sejak saat itu, setiap napasnya berbau kertas terbakar.

---

Kamariah datang setiap pukul 16.00.

Dia bukan pelanggan. Dia mantan kekasih Ardi. Dua puluh tahun lalu, mereka hampir menikah. Akan tetapi, Kamariah ingin pindah ke Jakarta. Ardi tidak bisa meninggalkan toko. Ardi tidak bisa meninggalkan ibu. Ardi tidak bisa.

"Kamu tidak bisa apa-apa, Ar," kata Kamariah terakhir kali mereka bertemu. Di depan toko ini. Di bawah ruko yang catnya sudah mengelupas seperti kulit ular yang enggan berganti kulit. "Kamu tidak bisa mencintaiku. Kamu tidak bisa membenci ibumu. Kamu tidak bisa meninggalkan toko ini. Kamu hanya bisa ... menunggu."

"Menunggu apa?"

"Menunggu mati, mungkin. Atau menunggu aku kembali. Akan tetapi, aku tidak akan kembali."

Dia tidak kembali. Namun dia datang setiap hari pukul 16.00. Bukan sebagai Kamariah yang dulu, melainkan sebagai bayangan. Bayangan yang berjalan melewati toko, tidak pernah masuk, tidak pernah menoleh, hanya melintas di depan jendela dengan kecepatan yang sama setiap hari. Gaun merah setiap Selasa dan Jumat. Gaun biru setiap Senin dan Kamis. Hitam di Rabu. Putih di akhir pekan.

Ardi hafal jadwalnya. Lebih hafal dari jadwal belanja pelanggannya.

Hari ini Selasa. Gaun merah.

Bayangan Kamariah lewat. Seperti biasa. Namun hari ini, bayangan itu berhenti. Menoleh. Menatap Ardi melalui kaca toko yang buram oleh debu dan waktu.

Ardi menahan napas.

Bayangan itu membuka mulut. Tidak ada suara. Akan tetapi, Ardi membaca bibirnya:

"Lorong ketujuh. Aku sudah memasukinya. Kamu menyusul atau aku yang keluar?"

Lalu bayangan itu melanjutkan berjalan. Menghilang di tikungan. Meninggalkan Ardi dengan detak jantung yang—untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun—berdetak terlalu cepat.

---

Jam menunjukkan pukul 19.00. Toko hampir tutup. Ardi belum makan siang. Perutnya keroncongan, tetapi tenggorokannya terasa penuh oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak berani dia tanyakan kepada dirinya sendiri.

Ibu datang. Kamis memang hari dia datang. Namun hari ini Kamis. Ibu duduk di kursi anyaman di sudut. Menatap rak mi instan. Seperti biasa.

"Ibu," kata Ardi. Suaranya serak. Belum minum sejak pukul 10. "Ibu tahu soal lorong ketujuh?"

Ibu tidak menjawab. Tidak bergerak. Tidak berkedip.

Ardi mendekat. Dia menyentuh bahu ibu. Dingin. Sekeras batu. Ibu bukan lagi manusia. Ibu sudah menjadi patung. Patung dari lilin dan ingatan yang tidak pernah dia lepaskan.

Ardi mundur selangkah. Dua langkah. Tiga. Punggungnya menyentuh rak mi instan. Mi instan itu jatuh. Berserakan di lantai. Suaranya seperti waktu yang pecah.

"Bu ... Ibu ... sejak kapan?"

Tidak ada jawaban.

Namun, dari sudut toko, di lorong antara saus tomat dan kecap, lorong ketujuh itu terbuka lebar. Dan dari dalam lorong, suara ibu—suara ibu yang masih muda, masih sehat, masih belum lelah oleh hidup—berkata:

"Sejak kamu memilih untuk tidak hidup, Nak. Sejak itu, aku mati perlahan. Dan kamu tidak pernah menyadarinya. Karena kamu sibuk melihat bayangan Kamariah lewat. Kamu sibuk menghitung debu. Kamu sibuk menjadi pramuniaga yang tidak pernah bertanya kepada dirinya sendiri: untuk apa?"

---

Ardi berlari ke lorong ketujuh.

Dia masuk. Gelap. Bau hujan. Bau kertas terbakar. Bau susu formula yang tumpah di lantai rumah sakit tiga puluh tahun lalu.

Dia berlari. Dan berlari. Dan berlari.

Sampai dia sampai di ujung. Di toko yang sama. Dengan rak yang sama. Dengan kursi plastik biru yang sama.

Dan di kursi itu, Ardi yang duduk bukan Ardi yang muda. Melainkan Ardi yang sudah tua. Rambut putih. Kulit keriput. Matanya buta. Tangannya memegang sebuah kertas—kertas yang sama, hasil ujian masuk universitas, yang tidak pernah terbakar, hanya kusut karena sering diremas.

"Kamu siapa?" tanya Ardi yang sekarang.

"Aku kamu," kata Ardi yang tua, "tetapi bukan kamu dari masa depan. Aku kamu dari ... dimensi lain. Di dimensi ini, aku pergi ke Jakarta. Aku kuliah kedokteran. Aku jadi dokter. Aku punya istri—Kamariah, tetapi Kamariah yang berbeda, yang tidak pernah ke toko kelontong karena toko kelontong tidak ada dalam hidupnya. Aku punya anak. Dua. Aku punya rumah. Mobil. Utang. Sakit maag. Dan setiap malam, aku bermimpi tentang toko kelontong. Tentang ibu yang duduk di kursi anyaman. Tentang lorong antara saus tomat dan kecap. Tentang diriku yang tidak pernah pergi."

"Dan?"

"Dan aku iri kepadamu."

Ardi yang sekarang tertawa. Tertawa pahit. "Iri? Aku di sini, di toko ini, selama tiga puluh tahun, tidak melakukan apa pun, tidak menjadi apa pun. Ibu sudah jadi patung. Kamariah hanya bayangan. Aku bahkan tidak punya cerita untuk diceritakan kepada cucu. Dan kamu iri?"

"Kamu punya ibu," kata Ardi yang tua. "Kamu punya toko yang tidak berubah. Kamu punya rutinitas. Kamu punya kepastian. Aku? Aku punya segalanya. Namun, setiap malam aku bertanya: apakah ini yang aku inginkan? Atau, aku hanya mengganti satu penjara dengan penjara lain yang lebih nyaman?"

Mereka berdua diam.

Lalu Ardi yang tua melanjutkan: "Lorong ketujuh ini bukan lorong antardimensi. Ini lorong antara ketakutan. Di satu sisi, takut untuk tinggal. Di sisi lain, takut untuk pergi. Dan kamu berdiri di tengah selama tiga puluh tahun. Itu ... itu bukan kegagalan, Ar. Itu adalah bentuk keberanian yang paling tidak disadari."

"Keberanian untuk apa?"

"Keberanian untuk tidak memilih. Dan menanggung seluruh beban dari ketidakmampuan memilih itu."

---

Tiba-tiba cahaya. Bukan lampu. Cahaya yang hangat. Basah. Seperti Ardi sedang berada di dalam air ketuban.

Suara ibu—yang asli, bukan patung, bukan bayangan—bergema dari semua arah:

"Kamu tidak pernah keluar dari rahimku, Nak. Kamu lahir. Akan tetapi, tali pusarmu tidak pernah putus. Aku yang memutuskan untuk mempertahankannya. Karena aku takut kehilanganmu. Dan kamu—kamu membiarkannya. Kamu tidak pernah memotongnya sendiri. Kita berdua berbagi ketakutan yang sama. Dan ketakutan itu tumbuh menjadi lorong. Lorong yang kita sebut toko kelontong. Lorong yang kita sebut kehidupan."

Ardi memejamkan mata. Dia merasakan tali pusar itu. Masih menempel di pusarnya. Masih berdenyut. Masih mengalirkan darah dari ibu—ibu yang sudah menjadi patung di kursi anyaman—ke tubuhnya.

"Aku harus memotongnya," bisik Ardi.

"Iya."

"Aku takut."

"Aku tahu. Akan tetapi, aku lebih takut melihatmu mati perlahan di toko ini daripada hidup tanpa aku."

Ardi mengambil napas. Di tangannya, muncul sebuah gunting. Bukan gunting sungguhan. Gunting dari cahaya. Gunting dari keputusan yang tertunda tiga puluh tahun.

Dia memotong.

Tali pusar itu putus.

Darah memancar. Bukan darah merah, melainkan warna-warna: biru, kuning, hijau, ungu—warna-warna gaun Kamariah dari Senin sampai Minggu. Warna-warna yang selama ini hanya dia lihat sekilas, dari balik kaca, tanpa pernah berani meraih.

---

Dunia terbalik.

Ardi jatuh. Tidak ke bawah, tetapi ke atas. Ke langit-langit toko. Ke langit-langit rumah sakit. Ke langit-langit rahim.

Dan ketika dia berhenti, dia berada di dalam sebuah ruangan. Ruang bersalin. Lampu merah menyala. Seorang perawat keluar dengan wajah yang sudah tahu jawaban sebelum bibirnya bergerak.

"Maaf, Bu," kata perawat itu kepada seorang perempuan yang terbaring di tempat tidur. "Bayinya ... tidak bernapas. Kami sudah berusaha."

Perempuan itu—muda, berkeringat, lelah—menangis. Lalu dia memeluk bayinya yang biru, yang diam, yang tidak pernah menangis.

"Ajari dia bernapas," bisik perempuan itu kepada bayinya. "Ajari dia bernapas untukku."

Dan Ardi, yang berdiri di sudut ruangan, menyadari sesuatu:

Bayi itu adalah dia.

Bayi biru yang tidak bernapas.

Dan perempuan itu adalah ibunya—bukan ibu patung di kursi anyaman, melainkan ibu yang benar-benar melahirkannya, yang mati tiga puluh tahun lalu saat melahirkannya. Ibu yang tidak sempat menjadi patung karena langsung menjadi mayat.

"Jadi ... aku meninggal saat lahir?"

Tidak ada yang menjawab.

Namun lorong ketujuh terbuka di dinding ruang bersalin. Dan dari lorong itu, Kamariah—Kamariah yang asli, yang tidak pernah datang ke toko kelontong karena toko kelontong tidak pernah ada—keluar. Dia sudah tua. Rambutnya putih. Matanya sembap.

"Kamu tidak pernah meninggal, Ar," katanya. "Kamu hanya tidak pernah hidup. Aku yang menciptakan toko itu. Aku yang menciptakan ibu tirimu. Aku yang menciptakan Bu RT, Pak Haji, semua pelanggan, semua debu, semua detik. Karena aku tidak bisa menerima bahwa kamu mati saat lahir. Jadi, aku menciptakan dunia di mana kamu terus hidup. Dunia yang membosankan. Dunia yang aman. Dunia di mana kamu tidak pernah tumbuh, tidak pernah berubah, tidak pernah pergi."

"Kamu siapa?"

"Kamariah. Tetanggamu. Aku yang menemukan ibumu pingsan di lantai dapur saat kamu lahir. Aku yang menelepon ambulans. Aku yang memeluk mayatmu yang dingin sebelum perawat mengambilnya. Aku yang kemudian menjadi gila. Bukan gila yang berteriak-teriak. Gila yang diam. Gila yang menciptakan toko kelontong di kepalaku, dan memasukkanku ke dalamnya, sebagai pramuniaga yang tidak pernah sadar bahwa dia tidak pernah ada."

Ardi menatap tangannya. Mulai transparan.

"Jadi ... aku hanya khayalan?"

"Kamu bukan khayalan. Kamu adalah cinta. Cinta yang tidak punya tempat untuk pergi. Cinta yang memilih untuk tinggal di lorong antara hidup dan mati, dan menyebut dirinya toko kelontong, dan menjual rokok kepada Bu RT selama tiga puluh tahun, hanya untuk merasakan bahwa dirinya nyata."

Ardi tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyum yang tidak pahit.

"Kalau begitu, tolong matikan aku," katanya. "Aku lelah menjadi toko kelontong."

Kamariah menggeleng.

"Aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Karena jika kamu mati, aku akan benar-benar sendirian."

Mereka berdua berdiri di lorong ketujuh. Di antara saus tomat dan kecap. Di antara hidup dan mati. Di antara cinta yang nyata dan cinta yang hanya butuh alamat untuk dikirim.

Ardi meraih tangan Kamariah. Tangannya dingin, tetapi dingin yang disengaja. Dingin yang sudah lama menunggu untuk dihangatkan.

"Aku tidak akan mati," kata Ardi. "Akan tetapi, aku juga tidak akan kembali ke toko. Aku akan tinggal di lorong ini. Bersamamu. Di antara. Untuk selamanya."

"Kamu tidak bosan?"

"129.600 detik sehari rasanya sebentar jika kamu tidak sendirian."

Kamariah menangis. Lalu tertawa. Lalu menarik Ardi lebih dalam ke lorong ketujuh—lorong yang sebenarnya tidak pernah berujung, karena lorong itu adalah hati seorang perempuan yang tidak berani berhenti mencintai.

---

Toko kelontong di kota kecil itu masih buka setiap hari. Bu RT masih membeli rokok kretek filter setiap pagi. Pak Haji masih membeli sepuluh butir telur. Ibu masih duduk di kursi anyaman di sudut, menatap rak mi instan.

Namun pramuniaganya berganti.

Seorang perempuan tua. Rambut putih. Wajah sembap. Namanya Kamariah.

Setiap kali ada yang bertanya, "Mbak Kamariah, pemilik toko yang dulu ke mana?"

Dia hanya tersenyum.

"Dia sedang beristirahat," katanya. "Dia sudah bekerja terlalu lama. Sekarang giliranku."

Namun, di antara rak saus tomat dan rak kecap, jika kamu cukup memerhatikan, akan ada celah. Celah selebar bahu orang dewasa. Dan dari celah itu, kadang-kadang, terdengar suara tawa dua orang yang sedang bercerita tentang debu-debu yang menari di bawah cahaya pagi.

Mereka tidak keluar.

Mereka tidak perlu.

Karena di lorong itu, waktu tidak bergerak. Dan 129.600 detik bukanlah penjara.

Hanyalah nama lain dari selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI