Badut

Tidak ada yang ingat persis kapan badut itu pertama kali muncul. Beberapa orang bilang setelah peristiwa Mei 1998, ketika kota masih berasap dan sungai-sungai berwarna hitam oleh sesuatu yang tidak berani disebut nama. Yang lain bilang badut itu sudah ada sejak sebelum kerusuhan, hanya saja ia memilih untuk muncul setelah semuanya hancur—seperti penyakit yang baru terdeteksi ketika sudah parah.

Namanya Badut Merah. Bukan karena bajunya merah—ia memakai baju kuning, topi ungu, sepatu hijau, seperti badut pada umumnya. Tapi wajahnya merah. Bukan merah merona, bukan merah karena demam. Merah seperti luka bakar, seperti daging yang baru dikuliti, seperti bendera yang telah terlalu lama dijemur di bawah matahari tanpa ampun. Wajahnya tidak pernah tersenyum. Mulutnya dilukis melengkung ke atas, seperti semua badut, tapi mata di balik riasan itu tidak pernah berbinar. Matanya kosong. Matanya adalah dua lubang yang tidak bertuan.

Badut itu muncul di gang-gang sempit, di pasar-pasar malam, di halte bus yang sepi, di depan sekolah dasar ketika jam pulang sekolah. Ia tidak berbicara. Ia hanya berdiri, memegang balon-balon merah yang tidak pernah meledak meskipun dihempas angin atau diusap anak-anak nakal. Balon-balon itu mengapung di atas kepalanya seperti kumpulan sel telur yang siap menetas.

Anak-anak takut pada badut itu, tapi juga penasaran. Orang dewasa berpura-pura tidak melihat. Lelaki tua yang dulu menjadi saksi kerusuhan akan menunduk ketika badut itu lewat. Perempuan-perempuan yang kehilangan suami atau anak akan menutup pintu dan menggemboknya dengan rantai besi. Tidak ada yang berani mendekat. Tidak ada yang berani bertanya mengapa badut itu ada di sana, mengapa wajahnya merah, mengapa ia tidak pernah pergi.

Semua orang tahu, tapi tidak ada yang mau mengakui. Badut itu adalah kenangan yang menjelma. Dan kenangan, di sebuah kota yang trauma, tidak pernah mati. Ia hanya berganti kostum.

---

Bagian Satu: Anak Laki-Laki yang Tidak Takut

Namun ada satu anak laki-laki yang tidak takut pada Badut Merah. Namanya Sam. Usia sepuluh tahun, tinggal di sebuah rumah susun di kawasan Jembatan Besi, bersama ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci dan neneknya yang sudah hampir buta. Sam tidak takut karena ia tidak lahir pada tahun 1998. Ia lahir tahun 2010, dua belas tahun setelah segalanya terjadi. Baginya, badut itu hanyalah badut. Aneh, mungkin sedikit menyeramkan, tapi tidak lebih menyeramkan dari ayahnya yang pulang mabuk dan memecahkan piring.

"Badut itu cuma orang biasa yang pakai riasan kebanyakan," kata Sam pada teman-temannya. Mereka tidak percaya. "Coba saja lihat. Kalian takut karena kalian dengar cerita dari orang tua kalian. Tapi cerita orang tua belum tentu benar."

Teman-temannya diam. Mereka mendengar cerita dari orang tua masing-masing: tentang toko-toko yang dibakar, tentang perempuan-perempuan yang dijahit, tentang sungai yang mengapung, tentang tawa massa yang lebih mengerikan dari tangisan. Cerita-cerita itu tidak pernah selesai, tidak pernah memiliki akhir yang bahagia, dan tidak pernah dijelaskan mengapa semua itu terjadi. Yang mereka tahu hanyalah: sesuatu yang sangat buruk terjadi, dan orang-orang yang selamat tidak pernah bisa tidur nyenyak lagi.

Tapi Sam tidak mendengar cerita-cerita itu. Ibunya tidak pernah bercerita. Neneknya tidak bisa melihat lagi, tapi ia bisa bicara—hanya saja ia memilih diam. Setiap kali Sam bertanya tentang 1998, neneknya hanya menggeleng, lalu menunjuk ke dinding. Di dinding itu tidak ada apa-apa.

Suatu sore, ketika hujan turun seperti potongan-potongan kaca, Sam memutuskan untuk mendekati Badut Merah.

Badut itu sedang berdiri di depan pasar pagi yang sudah tutup. Balon-balon merahnya basah oleh air hujan, tapi tetap mengapung. Wajah merahnya memantulkan lampu jalan yang redup. Sam berjalan mendekat, langkahnya berani meskipun jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

"Halo," kata Sam.

Badut itu tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit, menatap Sam dari balik riasan yang tidak pernah luntur meskipun diguyur hujan.

"Kamu tinggal di mana? Kamu lapar? Aku punya roti," kata Sam sambil mengulurkan roti tawar yang ia bungkus plastik.

Badut itu meraih roti itu. Tangannya tidak dingin seperti yang Sam kira. Tangannya hangat. Bahkan hangat sekali, seperti demam. Ia membuka bungkusan itu, memakan roti tawar dengan lahap, tanpa bicara. Ketika selesai, ia mengulurkan satu balon merah pada Sam.

"Untukku?" tanya Sam.

Badut itu mengangguk.

Sam mengambil balon itu. Ketika jari-jarinya menyentuh benang balon, ia merasakan getaran. Bukan getaran seperti listrik. Getaran seperti suara. Suara dari jauh. Suara ribuan orang berteriak, ribuan perempuan menangis, ribuan anak kehilangan orang tua. Suara itu tidak terdengar di telinga, tapi terasa di tulang, di dada, di perut.

Sam memegang balon itu erat-erat. Ia tidak melepaskannya meskipun suara-suara itu membuat kepalanya pusing.

Badut itu tersenyum. Untuk pertama kalinya, mulut yang dilukis melengkung ke atas itu menjadi nyata. Senyum yang tidak lucu. Senyum yang menyakitkan untuk dilihat.

"Simpan itu," kata badut itu. Suaranya parau, seperti orang yang sudah berhari-hari tidak minum. "Suatu hari, kau akan mengerti."

Badut itu berbalik dan berjalan perlahan ke arah gelap. Sam ingin mengikuti, tapi kakinya tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa berdiri di depan pasar tutup, memegang balon merah, sementara hujan terus mengguyur.

---

Bagian Dua: Nenek yang Diam

Malam itu, Sam membawa balon merah ke rumah susun. Ibunya belum pulang. Neneknya duduk di kursi goyang, matanya yang buta menatap ke arah pintu meskipun ia tidak bisa melihat.

"Nenek," kata Sam. "Aku tadi ketemu badut merah."

Neneknya berhenti mengayun. Wajah keriputnya berubah pucat—lebih pucat dari biasanya.

"Badut merah?"

"Iya, Nek. Yang sering muncul di gang. Aku kasih dia roti. Dia kasih aku balon ini."

Sam mengulurkan balon itu ke arah neneknya, tapi neneknya tidak bisa melihat. Yang bisa ia lakukan hanyalah meraba. Jari-jarinya yang keriput dan gemetar menyentuh benang balon.

Seketika, neneknya menjerit.

Bukan jeritan biasa. Jeritan yang keluar dari lubang paling dalam di perutnya, dari tahun 1998 yang selama 25 tahun ia pendam. Jeritan itu pecah memecahkan kesunyian rumah susun. Tetangga-tetangga mengetuk pintu, bertanya ada apa. Tapi nenek Sam tidak bisa berhenti. Ia terus menjerit, terus menangis, terus memegang balon itu seolah-olah balon itu adalah luka yang selama ini ia coba sembunyikan di balik kebutaannya.

Sam ketakutan. Ia mengambil balon itu dari tangan neneknya. Jeritan neneknya berhenti seketika, seperti radio yang dimatikan. Neneknya terdiam, dadanya naik turun, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya.

"Sam... Sam, nak," bisik neneknya. "Balon itu... balon itu bawa suara. Suara dari 1998. Nenek dengar suara... suara anak-anak menangis. Suara perempuan minta tolong. Suara... suara yang selama ini nenek coba lupakan."

"Tapi Nenek tidak pernah cerita tentang 1998. Nenek selalu diam."

"Karena kalau nenek cerita, nenek akan menjerit seperti tadi. Setiap kali. Dan nenek tidak ingin kamu mendengar jeritan itu. Kamu masih kecil. Kamu tidak seharusnya tahu."

Sam duduk di lantai. Balon merah itu mengapung di atas kepalanya, tenang, seolah tidak melakukan apa-apa. Tapi Sam tahu sekarang: badut itu tidak memberikan balon biasa. Badut itu memberikan kenangan. Dan kenangan, ketika disentuh oleh orang yang tepat, akan meletus seperti bom.

"Nek, cerita. Sekarang. Aku sudah tidak kecil lagi."

Neneknya diam lama. Di luar, hujan mulai reda. Lampu jalan menyorot masuk melalui jendela yang tidak pernah dibersihkan.

"Tahun 1998," kata neneknya akhirnya, "nenek punya anak perempuan. Namanya Wulan. Usianya 23 tahun. Wulan itu cantik, Sam. Cantik seperti bidadari. Rambutnya panjang, kulitnya putih, matanya besar. Wulan kerja di toko elektronik di Glodok. Setiap pagi ia pergi naik angkot. Setiap sore ia pulang bawa gorengan buat nenek."

Neneknya berhenti. Tangannya gemetar.

"Suatu hari, kerusuhan mulai. Nenek tidak tahu persis kenapa. Yang nenek tahu, toko-toko dibakar, mobil-mobil terbalik, orang-orang berlarian. Wulan belum pulang. Nenek tunggu sampai malam, dia tidak datang. Nenek tunggu sampai pagi, dia tidak datang. Nenek cari ke Glodok. Toko elektronik tempat Wulan kerja sudah rata dengan tanah. Hitam. Asap masih mengepul. Nenek tanya-tanya orang. Ada yang bilang lihat Wulan lari ke arah timur. Ada yang bilang lihat Wulan dibawa sekelompok orang. Tidak ada yang bilang Wulan selamat."

Sam tidak bernapas. Ia hanya menatap neneknya.

"Sejak hari itu, nenek tidak pernah melihat Wulan lagi. Tidak pernah mendengar kabarnya. Tidak pernah menemukan mayatnya. Wulan hilang. Seperti tidak pernah ada. Tapi nenek tahu ia ada. Nenek tahu ia mati. Nenek tahu ia mati dengan cara yang tidak pantas diceritakan. Karena tubuhnya—kalau pun ditemukan—sudah tidak berbentuk lagi."

Neneknya menangis. Tangisnya pelan, kering, seperti orang yang sudah terlalu lama kehabisan air mata.

"Nenek memilih buta, Sam. Bukan karena sakit. Tapi karena nenek tidak tahan melihat dunia yang bisa membunuh anak perempuan nenek dengan cara begitu kejam dan tidak ada yang dihukum. Nenek tutup mata nenek sendiri, setiap hari, sampai nenek lupa cara membukanya. Dan sekarang nenek benar-benar buta. Tapi di dalam kepala, nenek masih bisa melihat. Nenek masih bisa melihat Wulan. Nenek masih bisa melihat kerusuhan itu. Setiap malam."

Sam memeluk neneknya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata tidak cukup untuk luka sebesar itu.

Balon merah itu mengapung di atas mereka. Dan Sam mendengar lagi suara-suara itu—suara ribuan orang berteriak, ribuan perempuan menangis. Tapi kali ini, ia tidak takut. Ia hanya sangat, sangat sedih. Sedih yang tidak bisa dijelaskan. Sedih yang membuatnya ingin menjerit, seperti neneknya tadi.

---

Bagian Tiga: Ibu yang Tidak Pernah Cerita

Keesokan harinya, Sam bertanya pada ibunya. Rini, nama ibunya, baru pulang dari bekerja pukul enam pagi, badannya pegal karena mencuci pakaian belasan keluarga. Wajahnya kusam, matanya cekung. Ketika Sam bertanya tentang 1998 dan tentang Wulan, Rini terdiam.

"Kamu bicara dengan nenek?"

"Iya."

"Apa yang nenek bilang?"

"Bahwa Wulan hilang. Bahwa nenek sengaja buta."

Rini meletakkan ember cuciannya. Ia duduk di lantai, bersandar ke dinding, seperti orang yang baru kehabisan tenaga.

"Aku tidak ingat banyak tentang 1998," kata Rini pelan. "Aku baru berumur sembilan tahun waktu itu. Yang aku ingat, aku dan nenek lari ke rumah tetangga. Kami bersembunyi di kolong tempat tidur selama tiga hari. Tidak makan, tidak minum, hanya dengar suara teriakan dan ledakan dari luar. Aku ingat nenek menggenggam tanganku erat-erat, sampai biru. Aku ingat nenek berbisik, 'Jangan bersuara, jangan bernapas, jangan kedip.' Aku ingat kencing di celana karena takut keluar."

"Ayah kamu waktu itu di mana?" tanya Sam.

"Ayahmu... aku tidak tahu. Ayahmu bukan bagian dari cerita 1998. Ayahmu adalah bagian dari cerita setelahnya. Setelah kota mulai tenang, setelah mayat-mayat dikubur, setelah luka-luka mulai mengering—tapi tidak pernah sembuh. Ayahmu datang, menghibur, memberi harapan. Tapi harapan itu palsu. Ia pergi ketika kamu masih dalam kandungan."

Sam diam. Ia tidak pernah tahu ayahnya. Ibunya tidak pernah mau bicara tentang itu.

"Yang aku tahu," lanjut Rini, "badut itu... badut merah... aku sudah melihatnya sejak kecil. Ia ada di setiap sudut kota, di setiap lorong waktu, di setiap mimpi burukku. Ia adalah wajah dari apa yang tidak bisa kita ceritakan. Ia tidak jahat. Ia hanya setia. Ia setia pada kematian, pada kehilangan, pada trauma yang tidak mau diakui."

---

Bagian Empat: Mencari Badut

Sam memutuskan untuk mencari badut itu lagi. Bukan karena ia berani. Tapi karena ia merasa balon merah di tangannya adalah kunci. Kunci untuk membuka pintu yang selama ini dikunci oleh orang-orang dewasa. Pintu menuju 1998.

Ia mencari di pasar malam, di gang-gang sempit, di stasiun-stasiun tua, di sekolah yang sudah tutup. Tiga hari ia mencari tanpa hasil. Badut merah seperti menghilang. Tapi pada hari keempat, ketika Sam hampir menyerah, ia melihat balon-balon merah mengapung di belakang gedung bioskop tua.

Badut itu berdiri di sana, sendirian, menghadap ke dinding.

"Badut!" teriak Sam.

Badut itu berbalik. Wajah merahnya di bawah sinar matahari terlihat lebih pucat dari biasanya. Matanya yang kosong menatap Sam dengan sesuatu yang mirip dengan rasa terima kasih.

"Kau kembali," kata badut itu.

"Aku ingin tahu tentang 1998."

"Kamu belum cukup umur."

"Aku ingin tahu tentang bibiku. Wulan."

Badut itu terdiam. Dari balik riasannya, sesuatu bergerak. Bukan otot, bukan air mata. Tapi kenangan.

"Wulan," ulang badut itu. Suaranya bergetar. "Wulan adalah salah satu dari ribuan yang tidak pernah ditemukan. Tapi ia tidak mati di kerusuhan. Ia mati setelah kerusuhan. Di rumah sakit. Di ruang bawah tanah. Ia menjadi salah satu 'yang hilang' karena keluarganya terlalu takut untuk melapor. Karena jika melapor, mereka bisa menjadi korban berikutnya."

"Apa maksudmu?"

"Orang-orang yang kehilangan keluarga pada 1998 tidak hanya kehilangan nyawa. Mereka kehilangan hak untuk berduka. Karena negara tidak pernah mengakui. Karena tidak ada pengadilan. Karena yang selamat dipaksa diam. Karena jika mereka bicara, mereka disebut pengkhianat. Maka Wulan dan ribuan lainnya tidak pernah dikubur dengan layak. Mereka tidak pernah didoakan. Mereka hanya... hilang. Seperti tidak pernah ada."

Badut itu mendekat. Sam mundur selangkah, tapi tidak jatuh.

"Aku bukan badut," kata badut itu. "Aku adalah wajah dari semua yang hilang. Mereka yang mati tidak punya wajah karena mayat mereka tidak pernah ditemukan. Maka aku meminjam wajah badut—wajah yang tidak serius, wajah yang bisa ditertawakan—agar orang tidak terlalu takut padaku. Tapi kalian tetap takut. Karena kalian tahu di balik riasan ini, ada sesuatu yang tidak bisa kalian hadapi."

Badut itu meraih tangan Sam. Tangannya hangat, seperti demam, seperti sekarat.

"Pulangkan balon itu," kata badut itu. "Berikan pada nenekmu. Dan katakan padanya: Wulan tidak marah. Wulan tidak menyalahkan siapa pun. Wulan hanya ingin dikenang. Bukan sebagai korban. Sebagai anak."

Badut itu melepaskan tangan Sam. Lalu ia berjalan ke dinding bioskop tua, menembus bata itu seperti menembus kabut, dan lenyap. Balon-balon merahnya tertinggal, mengapung di udara, lalu satu per satu meledak dengan suara pop yang tidak keras.

Sam berdiri sendirian di belakang bioskop tua, memegang satu balon merah yang tersisa.

---

Bagian Lima: Mengubur yang Tidak Pernah Dikubur

Sam pulang ke rumah susun. Neneknya sedang duduk di kursi goyang, matanya tertutup, tangannya di pangkuan.

"Nenek," kata Sam. "Badut itu bilang, Wulan tidak marah. Wulan hanya ingin dikenang."

Neneknya tidak menjawab. Tangannya yang keriput itu membuka, seperti menunggu sesuatu. Sam memberikan balon merah itu. Neneknya meraba benangnya, lalu memegang balon itu dengan kedua tangan.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang terjadi.

Lalu neneknya tersenyum.

Bukan senyum bahagia. Senyum lepas. Senyum orang yang telah memikul beban terlalu lama dan akhirnya meletakkannya.

"Wulan," bisik neneknya. "Anakku. Maafkan nenek. Nenek tidak bisa melindungimu. Nenek tidak bisa menemukanmu. Nenek bahkan tidak bisa menguburmu. Tapi nenek tidak akan melupakanmu. Nenek janji. Sampai nenek mati. Sampok nenek bertemu denganmu di sisi lain."

Balon itu meledak. Tidak keras. Tidak merusak. Hanya pop pelan, seperti gelembung sabun yang pecah. Dan dari ledakan itu, Sam melihat—hanya sesaat—wajah seorang perempuan muda. Cantik. Rambut panjang. Mata besar. Wajah itu tersenyum padanya, lalu lenyap.

Neneknya menangis. Tapi kali ini tangisannya tidak pahit. Tangisannya lega.

---

Epilog

Sam tumbuh dewasa. Ia tidak menjadi aktivis, tidak menjadi politisi, tidak menjadi siapa pun yang istimewa. Ia hanya menjadi guru sejarah di sebuah SMP negeri. Setiap tahun, pada bulan Mei, ia membawa murid-muridnya ke ruang kelas dan menceritakan tentang 1998.

Ia menceritakan tentang Wulan, tentang neneknya, tentang badut merah, tentang balon-balon yang meledak. Murid-muridnya mendengarkan dengan saksama. Ada yang menangis. Ada yang marah. Ada yang tidak percaya. Tapi setidaknya mereka tahu. Mereka tidak tumbuh dalam kebisuan seperti generasi sebelumnya.

Pada suatu sore, ketika Sam sedang berjalan pulang, ia melihat sekelompok balon merah mengapung di langit. Bukan satu atau dua, tapi ratusan. Mereka terbang ke timur, ke arah laut, perlahan, seperti burung-burung yang bermigrasi.

Di bawah balon-balon itu, berdiri seorang badut. Wajahnya masih merah. Matanya masih kosong. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, badut itu tidak sendiri. Di sampingnya, berdiri seorang perempuan muda dengan rambut panjang dan mata besar.

Wulan.

Ia tersenyum pada Sam. Lalu ia melambai.

Sam tersenyum balik. Air matanya jatuh, tapi ia tidak menyeka.

Badut itu dan Wulan berjalan ke arah balon-balon, perlahan, lalu lenyap bersama senja.

Sejak hari itu, Badut Merah tidak pernah muncul lagi di gang-gang atau pasar malam. Mungkin karena ia sudah tidak dibutuhkan. Mungkin karena semua yang hilang sudah dikenang. Atau mungkin karena ia pindah ke kota lain, ke tempat di mana masih ada orang yang belum berani membuka matanya, ke tempat di mana trauma masih bersembunyi di balik senyum, ke tempat di mana luka belum diizinkan untuk berbicara.

Sam tidak tahu.

Yang ia tahu hanyalah bahwa balon-balon merah suatu sore terbang ke timur, dan seorang badut yang wajahnya merah tersenyum untuk terakhir kalinya.

Dan itu sudah cukup.

---

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI