BAHASA IBU
Telepon genggam Aru bergetar. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Selamat siang, Aru. Maaf mengganggu. Saya Amira. Kita tidak saling kenal, tetapi saya rasa, secara biologis, kita bersaudara. Ibu kita sama.
Aru membaca pesan itu berulang-ulang. Jari-jemarinya membeku di atas meja kerja. Ia baru saja selesai rapat di kantor penerbitan tempatnya bekerja sebagai penyunting senior. Meja kerjanya penuh naskah, tumpukan kertas yang mestinya ia baca hari ini. Namun, satu kalimat itu melubangi seluruh konsentrasinya. Ia melepas kacamatanya, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
Kalimat "Ibu kita sama" adalah sebuah proposisi. Dalam linguistik, proposisi memiliki nilai kebenaran: benar atau salah. Akan tetapi, bagaimana membuktikan nilai kebenaran kalimat ini tanpa menghancurkan hidupnya sendiri?
Ibunya—Salma—adalah perempuan yang membesarkannya seorang diri. Ayahnya meninggal sebelum ia lahir, begitu cerita yang ia terima selama tiga puluh dua tahun. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Aru tumbuh dengan beban menjadi pelindung ibu. Ia memilih tidak menikah, memilih tinggal di rumah yang sama, memilih menjadi lelaki yang selalu ada ketika ibunya batuk di malam hari. Kini seseorang mengklaim berbagi rahim yang sama dengannya.
Konfliknya bukan hanya soal fakta. Jika proposisi itu benar, maka seluruh narasi hidupnya adalah fiksi yang dituturkan ibunya. Jika salah, mengapa seseorang bernama Amira mengirim pesan seperti ini?
Dilemanya: mencari kebenaran berarti mengguncang kepercayaan kepada ibunya—perempuan yang ia lindungi sepanjang hidupnya. Tidak mencari kebenaran berarti hidup dalam ketidakpastian abadi. Dua pilihan sama-sama menghancurkan.
---
Tiga hari kemudian, mereka bertemu di kafe kecil di bilangan Menteng. Amira datang lebih dulu. Rambutnya pendek sebahu, gelang perak di pergelangan tangan kiri. Di mejanya sudah tersedia dua cangkir kopi. Ketika Aru masuk—lelaki tinggi berkemeja biru dengan kacamata tebal—Amira langsung mengenalinya dari foto-foto yang sempat ia temukan di media sosial.
"Terima kasih sudah datang," kata Amira.
Aru duduk. "Kalimatmu ambigu. 'Terima kasih sudah datang' bisa berarti apresiasi tulus, bisa juga berarti sindiran karena aku terlambat. Bahasa selalu punya celah." Ia meletakkan kunci mobil di meja, gestur yang tidak ia sadari—gestur melindungi sesuatu.
Amira tersenyum tipis. "Kau menyunting kata-kata orang untuk hidup. Aku menciptakan kata-kata. Aku penulis novel. Mungkin itu warisan dari ibu kita."
Itu kalimat pertama yang menusuk Aru. Kata "ibu kita" digunakan begitu saja, seolah fakta itu sudah mapan. Dalam pragmatik, ini disebut presuposisi: informasi yang diandaikan benar oleh penutur tanpa perlu dinyatakan eksplisit. Amira mempresuposisikan bahwa mereka saudara. Dan Aru terjebak: membantah presuposisi itu membutuhkan energi linguistik lebih besar daripada menerimanya.
"Aku tidak percaya kepadamu," kata Aru.
"Tentu. Kata 'percaya' berasal dari Sanskerta pratyayaḥ, artinya 'keyakinan'. Namun dalam bahasa Melayu Kuno, ia juga berarti 'pinjaman'. Aku hanya meminjam perhatianmu malam ini. Setelah ini, kau boleh mengembalikannya."
Aru menatap Amira. Cara bicaranya ganjil. Terlalu tersusun, seperti tokoh dalam novel yang sedang ia sunting. Akan tetapi, ada sesuatu yang membuatnya bertahan di kursi itu: mata Amira. Mata yang bentuknya mirip dengan matanya sendiri.
---
Amira mengeluarkan dokumen. Bukan tes DNA, melainkan salinan pesan-pesan lama, transkrip wawancara, catatan kecil bertulisan tangan Salma—ibu Aru.
"Ini tulisannya," kata Amira. "Aku mengoleksi kata-katanya."
Aru membaca lembaran-lembaran itu. Tulisan tangan ibunya memang khas: huruf 'a' yang selalu terbuka di bagian atas, seperti lingkaran yang tidak selesai. Grafologi mungkin bisa membantah, tetapi Aru tahu ini asli. Ia telah membaca tulisan tangan ibunya selama tiga puluh dua tahun. Ia mengenali setiap lengkungannya.
Yang lebih mengejutkan: cara ibunya menulis dalam pesan-pesan itu berbeda. Bukan hanya berbeda waktu atau suasana hati, melainkan berbeda secara struktural. Dalam surat untuk Aru—yang disimpan Aru sendiri sejak kecil—Salma menulis dengan kalimat pendek-pendek, banyak elipsis, seolah ragu-ragu. Dalam surat untuk Amira—yang tidak pernah dikirim, tersimpan di amplop usang—kalimatnya panjang, penuh anak kalimat, meliuk-liuk.
"Lihat perbedaan sintaksisnya," kata Amira. "Satu orang, dua gaya menulis yang hampir tidak mungkin berasal dari periode yang sama. Seolah dia punya dua kepribadian linguistik. Aku pikir dia memang membagi dirinya menjadi dua ibu. Satu untukmu—anak laki-laki yang harus dilindunginya dari kenyataan. Satu untukku—anak perempuan yang harus dijelaskannya mengapa ia dibuang."
Aru merasakan sesuatu meremas di dadanya. "Atau kau yang memalsukan ini."
"Kata 'memalsukan' terdiri atas 'palsu' dan imbuhan 'me-kan' yang berarti 'membuat jadi'. Aku membuat sesuatu yang palsu menjadi terlihat asli, atau aku yang membuat sesuatu yang asli jadi terlihat palsu? Kau tidak akan pernah tahu, karena bahasa tidak punya alat untuk membuktikan ketulusan."
---
Aru membalas dengan senjatanya sendiri. Ia ingin menguji Amira. Jika perempuan ini penipu, ia akan runtuh di bawah tekanan analisis linguistik.
"Namamu: Amira. Dalam bahasa Arab, artinya 'pemimpin' atau 'putri'. Akan tetapi, dalam bahasa Sanskerta, amira berarti 'abadi' atau 'tanpa kematian'. Menarik. Namun, aku menemukan anagram dari namamu."
Ia menulis di serbet kertas: AMIRA → MARIA.
"Maria adalah nama ibu dalam tradisi Nasrani. Ibu yang kehilangan anaknya. Ibu yang menyaksikan penderitaan. Dan lihat ini ...."
Ia menulis lagi: AMIRA → ARIMA.
"Arima adalah distrik di Trinidad, tetapi juga nama model statistik. Dalam bahasa Jepang, arima berarti 'ada'. Namun, yang paling menarik ...."
Ia menyusun ulang: AMIRA → AIMAR.
"Aimar adalah nama Basque yang berarti 'yang terkenal'. Bukan palindrom—aku sudah memeriksanya."
Amira memerhatikan dengan tenang. "Lalu?"
Aru menulis namanya sendiri: ARU. Hanya tiga huruf.
"Namaku pendek. Akan tetapi, lihat dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Bugis, aru berarti 'raja' atau 'pemimpin'. Dalam bahasa Jepang, aru berarti 'ada' atau 'memiliki'. Dalam bahasa Maori, aru berarti 'mengikuti' atau 'mengejar'. Namun yang paling menarik: dalam bahasa Sanskerta, aru berarti 'matahari'. Aku adalah matahari, dan kau—Amira, 'pemimpin'—adalah bulan. Dua benda langit yang tidak pernah bertemu di waktu yang sama."
Amira tersenyum. "Atau ... dua benda langit yang diciptakan dari sumber cahaya yang sama."
Aru mengabaikannya. Ia menyusun ulang huruf-huruf mereka: AMIRA + ARU. Delapan huruf.
Ia menulis: AMARU I.
"Amaru dalam bahasa Quechua berarti 'ular'. Dalam mitologi Inca, Amaru adalah ular bersayap, penjaga gerbang antara dunia atas dan dunia bawah. Angka Romawi I berarti pertama. Amaru pertama."
Kemudian: MARAU.
"Marau dalam bahasa Maori berarti 'kebun'. Kebun yang ditanami oleh ibu yang sama."
Lalu: AMARI U.
"Amari dalam bahasa Jepang berarti 'tidak terlalu banyak'. U adalah huruf kedua puluh satu. 'Tidak terlalu banyak dua puluh satu'. Tidak berarti apa-apa."
Dan terakhir: MARI ARU. "Mari, Aru."
Amira menatap serbet itu. Lalu menatap Aru. "Itu bukan analisis linguistik. Itu puisi. Kau menyusun huruf-huruf kita menjadi undangan."
"Mungkin," kata Aru, "tetapi puisi juga bahasa. Dan bahasa tidak pernah netral."
---
Amira kemudian bercerita: ia besar di panti asuhan di Semarang. Ia tidak tahu siapa orang tuanya sampai seorang pengacara menghubunginya setahun lalu, membawa dokumen dari mendiang Salma. Dalam dokumen itu, Salma mengaku memiliki dua anak dari dua ayah berbeda. Aru dari suami sahnya—seorang lelaki yang meninggal dalam kecelakaan sebelum Aru lahir. Amira dari lelaki lain yang tidak disebut namanya. Amira diberikan ke panti asuhan karena tekanan keluarga besar.
"Aku marah," kata Amira. "Bayangkan, seumur hidup kau tidak tahu siapa dirimu, lalu tiba-tiba kau tahu kau punya saudara laki-laki yang dibesarkan dengan penuh cinta oleh ibu yang sama. Aku marah kepadamu, Aru. Aku marah karena kau mendapatkan semuanya dan aku tidak mendapatkan apa-apa. Namun, aku juga penasaran. Maka aku mencarimu."
Aru mendengarkan dengan seluruh keraguan yang bisa dimiliki seorang penyunting. Setiap kalimat Amira ia bongkar secara sintaksis. Subjek, predikat, objek, keterangan. Ada koherensi. Namun koherensi tidak menjamin kebenaran. Fiksi yang baik juga koheren.
"Aku tidak bisa percaya begitu saja," katanya.
"Aku tahu. Maka aku menulis sebuah cerpen tentang kita."
Amira mengeluarkan sebuah buku tipis dari tasnya. Sampulnya putih, judulnya: Aru dan Amira.
"Cerpen ini bercerita tentang seorang lelaki dan seorang perempuan yang bertemu karena pesan singkat. Lelaki itu penyunting, perempuan itu penulis. Mereka menduga-duga apakah mereka saudara. Mereka bermain dengan kata-kata. Dan di akhir cerpen—kau tahu apa yang terjadi?"
"Apa?"
"Tokoh Aru menyadari bahwa seluruh pertemuan ini, termasuk kalimat yang sedang kuucapkan sekarang, adalah bagian dari cerpen yang ia tulis sendiri. Aru adalah penulisnya, bukan aku. Aku hanya tokoh dalam cerpennya."
Aru tertawa kecil. "Itu plot twist yang klise."
"Namun kau belum membaca halaman terakhir."
Amira membuka halaman terakhir buku itu. Di sana tertulis:
Dan Aru menutup laptopnya. Cerpen tentang Amira dan dirinya selesai. Ia menyalakan telepon genggamnya. Ada satu pesan masuk dari nomor tak dikenal."Selamat siang, Aru. Maaf mengganggu. Saya Amira ...."
Aru menatap layar teleponnya. Pesan pertama yang ia terima beberapa hari lalu—apakah itu nyata, atau ia yang menulisnya ke dalam cerpen yang kini sedang ia baca?
"Aku tidak menulis cerpen ini," katanya.
"Bagaimana kau tahu? Mungkin kau menulisnya dan lupa. Mungkin kau adalah tokoh dalam cerpenku, dan aku memberimu ilusi bahwa kau punya kendali."
"Atau," balas Aru, "kau tokoh dalam cerpenku, dan aku memberimu ilusi bahwa kau bisa memberiku ilusi. Bedanya: aku lelaki yang terlalu lelah untuk percaya pada cerita. Kau perempuan yang terlalu bersemangat untuk menciptakannya."
Mereka berdua diam. Hujan mulai turun di luar. Pelayan menyalakan lampu redup.
---
Beberapa hari kemudian, Aru memutuskan menemui ibunya. Bukan untuk konfrontasi, melainkan untuk bertanya dengan bahasa yang paling netral. Ia ingin menghindari leading question, pertanyaan yang mengarahkan jawaban. Ia belajar dari linguistik forensik bahwa cara bertanya menentukan kebenaran yang muncul.
Ibunya—Salma—duduk di kursi goyang di teras rumah. Usianya tujuh puluh dua tahun, tetapi ingatannya masih tajam. Ia sedang merajut ketika Aru duduk di sampingnya.
"Ibu," kata Aru, "apakah aku punya saudara?"
Salma berhenti merajut. Ia menatap anaknya—anak laki-laki yang telah merawatnya selama bertahun-tahun.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Itu bukan jawaban. Itu pertanyaan balik. Dalam analisis percakapan, pertanyaan balik sering digunakan untuk menghindari jawaban, memberi waktu untuk menyusun respons, atau menguji maksud penanya.
"Aku hanya ingin tahu," kata Aru.
Ibunya diam lagi. Lalu berkata, pelan: "Kata 'saudara' itu punya banyak arti, Aru. Saudara kandung. Saudara seiman. Saudara sebangsa. Saudara sebagai sesama manusia. Kau pakai yang mana?"
Aru terpukul. Ibunya, yang hanya lulusan SMA, menggunakan polisemi—kata bermakna ganda—sebagai tameng. Ini strategi yang terlalu canggih untuk sekadar percakapan ibu-anak.
"Kenapa Ibu tidak menjawab iya atau tidak?"
"Karena bahasa tidak sesederhana itu, Nak. Setiap 'iya' dan 'tidak' menyembunyikan seribu kemungkinan di antaranya. Kau penyunting, kau pasti tahu itu. Kau tahu bahwa setiap kata yang kau sunting punya kemungkinan untuk dibaca dengan cara yang berbeda. Begitu juga kebenaran."
Aru menatap ibunya. Perempuan tua ini telah membesarkannya sendirian, dengan cinta yang tak perlu diragukan. Namun cinta tidak sama dengan kejujuran. Dan mungkin—mungkin—cinta justru kadang membutuhkan kebohongan.
"Aku tidak akan tanya lagi," kata Aru. Ia mencium tangan ibunya dan pergi.
---
Malamnya, Aru membuka laptop. Ia menemukan sebuah berkas lama, tersimpan di folder "Naskah Lama", dibuat tiga tahun lalu. Judulnya: Amira.
Ia membacanya dengan jantung berdebar.
Naskah itu bercerita tentang seorang editor bernama Aru yang mendapat pesan dari perempuan bernama Amira, yang mengaku saudara kandungnya. Mereka bertemu, bermain linguistik, membongkar rahasia ibu. Di akhir cerita ....
Aru berhenti membaca.
Akhir cerita itu kosong. Hanya ada kalimat terakhir: Dan Aru tidak pernah tahu apakah Amira nyata atau tidak.
Tiga tahun lalu ia sudah menulis cerita ini. Tiga tahun lalu ia sudah menciptakan Amira dalam fiksi. Kini, apakah Amira yang ia temui adalah fiksi yang menjadi nyata? Ataukah ingatannya yang keliru—mungkin ia membaca naskah ini baru kemarin, dan pikirannya menciptakan memori palsu tentang pertemuan di kafe?
Atau, lebih gelap lagi: jangan-jangan ia sendiri adalah tokoh dalam cerpen Amira, dan seluruh adegan ini—membuka laptop, membaca naskah lama—adalah bagian dari plot yang Amira tulis? Plot di dalam twist di dalam plot di dalam twist di dalam plot.
Namun, ada satu hal yang membuat Aru berhenti: di margin halaman terakhir naskah itu, ada catatan dengan tulisan tangan. Tulisan yang bukan miliknya.
"Aru, jika kau membaca ini, berarti kau sudah bertemu denganku. Jangan takut. Kau tidak gila. Aku memang nyata, tetapi kau juga yang menulisku. Kita berdua nyata dan fiksi sekaligus. Itulah paradoks bahasa."
---
Teleponnya bergetar lagi. Pesan dari Amira:
Aku tidak pernah ada. Atau kau yang tidak pernah ada. Atau ibu kita tidak pernah ada. Atau bahasa yang menciptakan kita bertiga. Selamat malam, Kak.
Aru menatap kata "Kak". Itu pertama kalinya Amira memanggilnya seperti itu—panggilan untuk kakak laki-laki.
Ia membalas:
Siapa yang menulis kalimat itu? Kau, atau aku yang menulis kalimat itu untukmu?
Jawab:
Pertanyaanmu adalah jawabannya. Subjek dan objek dalam kalimat itu bisa dipertukarkan tanpa mengubah makna. Kau dan aku adalah anagram satu sama lain. Amira. Aru. Dua nama, satu kumpulan huruf yang bisa disusun ulang menjadi undangan: MARI ARU. Mari, Aru. Kakak dan adik. Penulis dan tokoh. Semua adalah susunan dari huruf-huruf yang sama.
Aru membalas:
Aku tidak tahu apakah kau adikku. Namun aku tahu satu hal: jika kau benar adikku, maka aku punya tanggung jawab yang tidak bisa kuhindari. Jika kau bukan adikku, maka aku punya misteri yang tidak bisa kupecahkan. Dua-duanya sama beratnya.
Amira membalas terakhir:
Mari, Aru. Masuklah ke dalam bahasa. Kita tidak butuh ibu yang sama. Kita hanya butuh huruf yang sama. Malam ini, aku memilih percaya bahwa kita adalah saudara. Bukan karena bukti, melainkan karena kata-kata terlalu lelah untuk terus-menerus diragukan.
Aru menatap layar. Ia tidak membalas.
Ia malah membuka laptop. Membuat berkas baru. Judul: BAHASA IBU.
Dan ia menulis kalimat pertama:
Telepon genggam Aru bergetar. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal ....
---
Kamu, yang membaca cerpen ini, baru saja mencapai titik di mana lingkaran dimulai kembali. Kalimat terakhir yang ditulis Aru identik dengan kalimat pertama yang kamu baca di awal cerpen ini.
Apakah Aru menulis cerita yang baru saja kamu baca? Ataukah Amira yang menulis cerita tentang Aru yang menulis cerita ini? Ataukah aku, yang menulis cerita ini, adalah Amira, dan kamu adalah Aru yang sedang membaca? Ataukah kamu adalah Amira, dan aku Aru yang sedang menulis untukmu?
Tidak ada jawaban. Karena setiap jawaban akan selalu kembali ke pertanyaan yang sama. Lingkaran naratif yang tidak berujung.
Satu-satunya yang nyata adalah bahasa.
Dan di ponselmu, barangkali ada pesan dari nomor tak dikenal yang belum sempat kau buka. Seseorang yang mengaku saudaramu. Seseorang yang berbagi huruf yang sama dengan namamu.
Seseorang yang menulis: Mari.
Coba periksa.
---
Selesai.
Komentar
Posting Komentar