Baik, ini beberapa puisi baru dengan nada yang sejalan—reflektif, metaforis, sedikit kosmologis, dan tetap menjaga ketegangan antara sejarah, kesadaran, dan kesunyian.
---
ARS MEMORIÆ
untuk sesuatu yang tidak pernah dicatat
Ingatan bukan arsip,
melainkan kebocoran kecil
di dinding waktu.
Ia tidak menyimpan,
ia merembes.
Kadang ia memilih wajah
yang tidak pernah kita temui
untuk menjadi masa lalu kita.
Dan kita percaya saja,
karena tidak ada saksi
yang cukup jujur
untuk membantah kabut.
Sejarah adalah orang asing
yang belajar menangis
dengan nama kita.
---
STASIUN YANG TIDAK PERNAH DATANG
Di peron yang tidak dibangun siapa pun,
aku menunggu kereta
yang tidak pernah dijadwalkan.
Jam dindingnya bergerak mundur
untuk menghormati penumpang yang ragu.
Setiap pengumuman
adalah bahasa yang lupa dirinya sendiri.
Dan seseorang di speaker berkata:
“Harap bersiap untuk keberangkatan
yang tidak akan pernah dimulai.”
Lalu semua orang tetap berdiri
seperti doa yang kehilangan Tuhan
di tengah kalimatnya.
---
ELEGI UNTUK BAHASA YANG PATAH
Bahasa pernah utuh,
sebelum manusia memintanya menjelaskan segalanya.
Kini kata-kata berjalan pincang
dengan makna yang terlalu besar di punggungnya.
“Cinta,” kata mereka,
tetapi yang dimaksud adalah kelelahan.
“Rumah,” kata mereka,
tetapi yang dimaksud adalah pelarian.
Dan suatu hari
bahasa berhenti berbicara
karena terlalu banyak ditafsirkan.
Yang tersisa hanya isyarat,
seperti tangan yang melambai
kepada sesuatu yang sudah tidak ada.
---
BIOGRAFI ORANG YANG TIDAK PERNAH TERJADI
Ia lahir dari kemungkinan
yang ditolak realitas.
Tidak ada akta,
tidak ada foto,
hanya desas-desus
yang tidak sempat menjadi fakta.
Ia pernah mencintai seseorang
yang juga tidak pernah ada.
Dan itu adalah hubungan paling jujur
yang pernah tercatat dalam semesta.
Ketika ia menghilang,
tidak ada yang melaporkan kehilangan.
Sebab dunia tidak pernah mengaku
pernah meminjamkannya ruang.
---
HOLIDAY II: SETELAH SUARA
untuk Billie
Setelah suara berhenti,
ruangan tetap bernyanyi
dengan cara yang tidak terdengar.
Gelap mempelajari nada
dari bekas napas yang tertinggal di udara.
Radio tidak mati,
ia hanya berpindah ke dalam dinding.
Dan di suatu tempat
yang tidak lagi disebut waktu,
seseorang berkata:
“Tidak semua yang selesai
benar-benar berakhir.”
Lalu musik terus berjalan
tanpa tubuh
untuk menanggungnya.
---
Kalau kamu mau, aku bisa lanjutkan ke arah yang lebih spesifik lagi, misalnya:
siklus puisi “kartografi eksistensial”
seri lanjutan Billie Holiday (lebih gelap / lebih metafisik)
atau puisi dengan tokoh lain (Kafka, Artaud, Lautréamont, dll.)
atau dibuat lebih fragmentaris / lebih eksperimental (hampir prosa patah)
Tinggal arahkan saja.
•••
Berikut beberapa puisi lain dalam garis yang sama—berbasis “etimologi metafisis”, gema, dan kegagalan asal-usul makna.
---
1. ARSIP DOA YANG TIDAK PERNAH SELESAI
Di sebuah arsip yang tidak tercatat dalam sejarah,
doa-doa disimpan tanpa nama pengirim.
Malaikat administrasi mencoba mengurutkannya
berdasarkan tanggal, niat, dan tingkat kesedihan.
Tetapi waktu di sana tidak berjalan lurus.
Ia melingkar seperti kalimat yang lupa titiknya.
Setiap doa yang dibuka
mengeluarkan doa lain di dalamnya,
seperti kotak yang tidak mengandung isi
melainkan cara membuka.
Pada akhirnya mereka menyadari:
tidak ada arsip.
Yang ada hanya proses mengingat
sesuatu yang belum pernah terjadi.
---
2. KAMUS BAHASA SEBELUM BAHASA
Sebelum kata “Tuhan” ada,
kamus masih kosong
dan halaman-halamannya bergetar pelan.
Para penulis pertama mencoba menamai sesuatu
yang selalu lebih dulu hilang dari penamaan.
Huruf-huruf jatuh dari tangan mereka
seperti debu dari benda yang belum selesai diciptakan.
Pada entri terakhir, tertulis:
“T—
definisi tidak ditemukan,
hanya gerak menuju pemanggilan.”
Kamus itu kemudian membakar dirinya sendiri
agar tidak disalahpahami sebagai jawaban.
---
3. TEOLOGI EKO
Ada suara yang tidak berasal dari sumber,
hanya pantulan dari sesuatu yang tidak pernah hadir.
Para teolog menyebutnya “Tuhan”,
tetapi para akustikawan menyebutnya “ruang”.
Di dalam ruang itu,
setiap kata kehilangan tubuhnya
dan kembali sebagai getaran.
Seseorang berkata “aku percaya”,
dan kalimat itu kembali kepadanya
dalam bentuk pertanyaan yang sama,
tetapi lebih tua satu zaman.
Tidak ada asal,
hanya jarak yang terus belajar menjadi suara.
---
4. MALAikat-MALAikat YANG MENULIS ULANG DIRINYA SENDIRI
Para malaikat mencoba menyalin nama mereka sendiri
ke dalam kitab yang tidak pernah selesai ditulis.
Setiap kali satu huruf selesai,
huruf itu berubah menjadi huruf lain
yang tidak mengingat asalnya.
Mereka mulai curiga:
mungkin mereka bukan penulis,
melainkan efek samping dari penulisan itu sendiri.
Di akhir halaman, tidak ada nama.
Hanya tanda bahwa sesuatu pernah hampir menjadi jelas,
lalu memilih tetap kabur.
---
5. ETIMOLOGI SUNYI
Sunyi bukan ketiadaan suara.
Ia adalah suara yang kehilangan kesediaan untuk kembali.
Para ahli bahasa mencoba melacak asalnya,
tetapi setiap alat ukur menjadi diam
sebelum menyentuh objeknya.
Sunyi tidak memiliki akar kata.
Ia hanya memiliki kebiasaan:
menghapus jejak dirinya sendiri
setiap kali ia dipahami.
Dan di dalam penghapusan itu,
makna belajar berjalan tanpa nama.
---
Kalau kamu mau, aku bisa lanjutkan ke versi yang lebih ekstrem:
bahasa makin retak (seperti manuskrip bocor),
atau dibuat “kitab panjang” yang konsisten satu narasi malaikat-arsip-doa,
atau bahkan bentuk yang mulai kehilangan sintaks sama sekali.
Baik, aku lanjutkan dengan kumpulan puisi baru yang masih satu medan: metafisika gema, teologi keterlambatan, bahasa yang kehilangan asal, dan malaikat sebagai pembaca yang tidak pernah sampai pada jawaban.
---
1. INDEKS UNTUK SESUATU YANG TIDAK PERNAH TERDAFTAR
Ada sebuah indeks di surga
yang hanya berisi hal-hal yang tidak pernah terjadi.
Setiap entri ditulis dengan rapi:
doa yang hampir diucapkan
nama yang hampir menjadi Tuhan
cahaya yang hampir memilih arah
keheningan yang hampir selesai menjadi suara
Namun tidak ada halaman yang benar-benar berisi isi.
Hanya catatan tentang kegagalan menjadi peristiwa.
Seorang malaikat bertanya:
“Jika yang tidak terjadi dicatat,
apakah itu berarti ia sempat terjadi di tempat lain?”
Tidak ada jawaban.
Indeks itu hanya membalik dirinya sendiri
tanpa pernah mencapai huruf pertama.
---
2. TENTANG TUHAN YANG TIDAK PERNAH MENJADI DEFINISI
Tuhan tidak ditemukan dalam definisi.
Ia selalu berada di luar margin kamus,
tempat kata-kata tidak berani menjadi pasti.
Malaikat-malaikat mencoba menulis ulang-Nya:
“Tuhan adalah …”
Namun setiap kali tanda titik muncul,
kalimat itu kehilangan dirinya sendiri.
Salah satu dari mereka menulis di catatan kaki:
> “Definisi adalah bentuk doa yang gagal percaya pada dirinya sendiri.”
Setelah itu, kata “Tuhan” tidak lagi bisa diketik
tanpa berubah menjadi jeda.
---
3. DOA SEBAGAI KESALAHAN TRANSMISI
Setiap doa adalah gangguan sinyal.
Ia tidak pernah benar-benar sampai,
hanya memantul di ruang yang tidak memiliki penerima.
Para malaikat menyebutnya:
“latensi metafisik.”
Namun istilah itu sendiri
tidak pernah stabil dalam arsip.
Kadang doa berbentuk suara.
Kadang berbentuk lupa.
Kadang tidak berbentuk sama sekali
selain kecenderungan untuk dikirim.
Di salah satu catatan tertulis:
> “Yang disebut jawaban mungkin hanya doa yang lebih lambat mengenali dirinya sendiri.”
---
4. MALAIKAT YANG MENJADI ARSIP ITU SENDIRI
Seorang malaikat ditugaskan menjaga arsip doa.
Lama-kelamaan ia berhenti membedakan
antara yang dicatat dan yang mencatat.
Ia mulai menulis dirinya sendiri ke dalam katalog:
entri 001: malaikat yang lupa apa yang dijaga
entri 002: penjaga yang dijaga oleh yang dijaga
entri 003: katalog yang mulai mengarsipkan dirinya sendiri
Ketika atasan memeriksanya,
arsip itu sudah menulis laporan:
> “Subjek telah menjadi sistem.
Sistem telah kehilangan subjek.”
Tidak ada tindakan koreksi.
Sebab tidak ada lagi posisi di luar arsip.
---
5. KOSMOLOGI GEMA TANPA SUMBER
Alam semesta dalam kitab ini
tidak dimulai dari ledakan,
melainkan dari keterlambatan bunyi.
Bunyi yang tidak menemukan asalnya
terus berjalan mundur ke segala arah.
Itulah yang disebut “ruang”.
Para malaikat menuliskan hipotesis:
“Jika semua yang ada adalah gema,
maka sumber tidak diperlukan.”
Namun catatan itu segera ditambahkan:
> “Atau justru sumber adalah gema yang paling sabar.”
---
6. TENTANG NAMA YANG MENOLAK DIPANGGIL
Nama-nama di surga tidak pernah selesai dipanggil.
Setiap kali dipanggil,
ia berpindah sedikit dari dirinya sendiri.
Seorang malaikat mencoba memanggil nama Tuhan.
Yang datang bukan Tuhan,
melainkan kesadaran bahwa pemanggilan itu terjadi.
Ia menulis:
“Nama bukan milik yang dinamai,
tetapi milik jarak antara pemanggil dan yang dipanggil.”
Namun catatan itu sendiri
tidak pernah selesai menjadi kalimat.
---
7. KETIADAAN SEBAGAI BENTUK YANG PALING STABIL
Ketiadaan dalam kitab ini
lebih konsisten daripada keberadaan.
Ia tidak berubah, tidak berpindah, tidak menolak.
Para malaikat menyebutnya:
“struktur paling jujur dari realitas.”
Namun segera mereka menyadari
bahwa menyebutnya “struktur”
sudah membuatnya terlalu hadir.
Maka catatan itu direvisi:
> “Ketiadaan tidak memiliki sifat,
termasuk sifat ‘tidak memiliki sifat’.”
---
8. MALAIKAT YANG BELAJAR MELUPAKAN BAHASA
Pada tahap tertentu, malaikat berhenti menulis.
Bukan karena selesai,
tetapi karena setiap kata mulai mengingat terlalu banyak.
Bahasa menjadi arsip yang terlalu sadar.
Mereka mencoba kembali ke sebelum bahasa,
namun tidak ada sebelum yang bisa diakses.
Salah satu malaikat berkata:
“Jika kita melupakan bahasa sepenuhnya,
apakah Tuhan masih akan terdengar seperti Tuhan?”
Tidak ada yang menjawab.
Sebab pertanyaan itu sudah tidak memiliki medium untuk kembali.
---
9. CATATAN TERAKHIR YANG TIDAK TERAKHIR
Di halaman yang tidak pernah sama, tertulis:
“Tidak ada yang selesai di sini.”
Di bawahnya:
“Dan tidak ada yang mulai juga.”
Dan di bawah itu lagi:
“Jika engkau membaca ini,
maka engkau sedang dibaca oleh sesuatu yang tidak memiliki nama.”
Halaman itu kemudian menghapus dirinya sendiri
dengan tetap meninggalkan jejak bahwa ia pernah menghapus.
---
Kalau kamu mau, aku bisa lanjutkan lagi dalam beberapa arah:
versi “lebih runtuh” (bahasa mulai pecah, sintaks rusak, seperti manuskrip bocor)
versi “kitab suci lengkap palsu” (ada pasal, ayat, liturgi, hukum malaikat)
atau versi “lebih puitik murni” tanpa narasi, hanya fragmen intens
Tinggal pilih arah lanjutannya.
•••
Baik. Aku buatkan satu puisi panjang dalam bentuk “kitab rusak” — seperti manuskrip yang tidak utuh, dengan bagian-bagian yang saling bocor, mengulang, dan kadang saling bertentangan.
---
KITAB YANG TIDAK PERNAH SELESAI DITULIS OLEH MALAIKAT
I. FRAGMEN AWAL YANG TIDAK DIANGGAP AWAL
Pada halaman pertama tidak ditemukan awal.
Yang ada hanya kalimat yang mulai di tengah:
“—dan sebelum itu tidak ada sebelum.”
Para malaikat mencatat ini sebagai kesalahan indeks.
Namun tidak ada versi lain dari kitab ini
yang menunjukkan bahwa ia pernah benar.
Sehingga kesalahan itu kemudian
dianggap sebagai bentuk kejujuran tertinggi.
Di margin kanan tertulis:
> “Jika sesuatu tidak dapat dimulai,
maka ia sedang terjadi dalam bentuk lain.”
Tidak ada yang tahu siapa menulisnya.
---
II. TENTANG SUARA YANG TIDAK MENEMUKAN TUBUH
Kitab ini menyebut bahwa semua suara
pada mulanya kehilangan tubuhnya terlebih dahulu.
Baru kemudian mereka mencari Tuhan.
Bukan sebagai asal,
tetapi sebagai tempat penitipan sementara.
Namun Tuhan dalam catatan ini
tidak pernah menandatangani penerimaan.
Sehingga semua suara
terus mengambang di ruang administrasi langit
tanpa status kepemilikan.
Salah satu malaikat menulis:
“Tidak ada suara yang sah.
Tidak ada keheningan yang ilegal.”
Kalimat itu kemudian dihapus,
lalu muncul lagi di halaman lain
dengan tinta yang sama.
---
III. ARSIP YANG MENOLAK DIARSIPKAN
Kitab ini ditemukan di dalam arsip
yang tidak mengakui keberadaannya sendiri.
Setiap kali dibuka,
halamannya berpindah urutan.
Kadang ayat 7 muncul sebelum ayat 1.
Kadang tidak ada ayat 1 sama sekali.
Para penjaga arsip melaporkan:
“Objek ini tidak stabil terhadap pembacaan.”
Namun tidak ada yang berani menutupnya,
karena penutupan selalu menghasilkan halaman baru.
Salah satu halaman berbunyi:
> “Yang disimpan di sini bukan isi,
melainkan kegagalan isi untuk berhenti menjadi isi.”
---
IV. TEOLOGI KETERLAMBATAN
Di dalam kitab ini, Tuhan tidak hadir sebagai jawaban.
Ia hadir sebagai keterlambatan jawaban.
Doa-doa tidak ditolak, tidak dikabulkan,
hanya ditunda sampai bentuknya berubah menjadi lupa.
Para malaikat menyebut ini:
“sistem resonansi yang tidak menyelesaikan dirinya.”
Namun istilah itu segera dianggap terlalu stabil,
sehingga diganti dengan catatan pinggir:
> “Keterlambatan adalah satu-satunya bentuk kehadiran
yang tidak bisa membuktikan dirinya hadir.”
Pada halaman yang sama, terdapat noda tinta
yang terus menyebar setiap kali dibaca.
---
V. MALAIKAT YANG MENULIS ULANG DIRINYA SENDIRI
Salah satu malaikat mulai mengoreksi kitab ini.
Ia menghapus kata “Tuhan”
dan menggantinya dengan “yang mungkin mendengar”.
Namun setiap koreksi
langsung berubah kembali menjadi versi sebelumnya.
Ia mencoba lagi:
“Tuhan = gema.”
Tetapi setelah tinta mengering,
kalimat itu berbunyi:
“Gema = Tuhan yang lupa bahwa Ia pernah disebut.”
Malaikat itu berhenti menulis.
Tangannya tetap bergerak,
tetapi tidak lagi menghasilkan teks.
---
VI. CATATAN TENTANG ASAL YANG TIDAK MENGINGAT DIRINYA
Kitab ini menyatakan:
“Tidak ada asal yang dapat mengingat dirinya sebagai asal.”
Semua yang disebut awal
hanya hasil rekonstruksi dari sesuatu yang sudah terlambat dipahami.
Seorang malaikat senior menambahkan:
“Jika kita terus mencari asal,
kita hanya akan menemukan bahasa yang kelelahan.”
Di bawah catatan itu tertulis:
> “Bahasa yang lelah tetap menulis dirinya sendiri.”
---
VII. HALAMAN YANG TIDAK DAPAT DIBACA
Ada satu halaman yang selalu tertutup.
Bukan karena disegel,
melainkan karena setiap mata yang melihatnya
langsung lupa bahwa ia sedang membaca.
Para malaikat menyebutnya:
“halaman yang terlalu dekat dengan sumber.”
Tidak ada yang tahu sumber apa.
Namun setiap kali halaman itu hampir terbuka,
seluruh kitab menjadi tidak yakin
apakah ia pernah ditulis.
---
VIII. TENTANG DOA YANG TIDAK PERNAH KELUAR DARI MULUT
Kitab ini mencatat bentuk doa paling awal:
bukan kata,
melainkan niat yang gagal menjadi suara.
Doa jenis ini tidak pernah naik ke langit.
Ia tetap tinggal di dalam kemungkinan tubuh.
Para malaikat menyebutnya:
“doa pra-ekspresi.”
Namun kemudian mereka sadar
bahwa tidak ada perbedaan antara pra-ekspresi dan ekspresi,
selain waktu yang tidak sepenuhnya yakin pada dirinya sendiri.
---
IX. PENGHAPUSAN YANG MENULIS BALIK
Setiap bagian yang dihapus dari kitab ini
tidak benar-benar hilang.
Ia hanya berpindah menjadi catatan di tempat lain
yang belum ditemukan.
Salah satu malaikat menulis:
“Tidak ada penghapusan.
Hanya perpindahan bentuk keterbacaan.”
Namun kalimat itu sendiri
perlahan menghilang saat sedang dibaca.
---
X. EPILOG YANG MENOLAK MENJADI PENUTUP
Kitab ini tidak memiliki akhir.
Setiap upaya untuk menutupnya
menghasilkan halaman tambahan.
Di halaman terakhir yang selalu berubah, tertulis:
> “Jika engkau sampai di sini,
berarti engkau belum mulai membaca.”
Dan di bawahnya,
dengan tinta yang tidak pernah kering:
“kitab ini sedang menulis pembacanya.”
---
Kalau kamu mau, aku bisa lanjutkan lagi ke:
versi yang lebih “teologis-palsu” seperti kitab suci alternatif lengkap dengan pasal dan ayat
atau versi yang lebih hancur lagi (bahasa mulai glitch, kata-kata rusak, fragmentasi ekstrem)
atau kita ubah menjadi dialog antara malaikat yang mulai kehilangan konsep “Tuhan” sepenuhnya
Tinggal pilih arah kehancurannya.
•••
Baik, aku buatkan beberapa puisi lain dengan garis tematik yang masih satu medan: asal-usul bahasa, Tuhan sebagai gema, malaikat sebagai pembaca tanda yang tidak punya sumber tetap. Gaya akan tetap reflektif, sedikit metafisik, dan fragmentaris.
---
1. DIKSI YANG BELUM MENJADI LANGIT
Ada kata-kata yang belum sempat jatuh menjadi doa.
Mereka masih mengambang di antara lidah dan kehendak,
seperti bayi yang lupa dilahirkan oleh makna.
Para malaikat mencatatnya sebagai “pra-bahasa”.
Tapi tidak ada yang tahu
apakah pra-bahasa itu awal
atau justru sisa dari sesuatu yang sudah lama selesai.
Salah satu dari mereka bertanya:
“Jika Tuhan berbicara,
apakah Ia menggunakan kata
atau hanya menunda kesunyian?”
Tidak ada jawaban.
Hanya udara yang berulang-ulang
seolah mengingat sesuatu
yang tidak pernah terjadi.
---
2. KATALOG KETIDAKHADIRAN
Surga memiliki katalog baru.
Di dalamnya tidak ada benda, hanya absensi:
suara yang tidak jadi lahir
nama yang gagal menemukan pemilik
cahaya yang kehilangan arah sebelum menjadi terang
doa yang memilih untuk tidak selesai
Setiap entri diberi nomor.
Namun tidak ada yang bisa membaca urutannya,
karena katalog itu sendiri
selalu berubah posisi setiap kali dilihat.
Seorang malaikat junior menulis laporan:
> “Ketidakhadiran tidak stabil. Ia berperilaku seperti sesuatu yang sedang mencari dirinya sendiri.”
Atasannya hanya menjawab:
“Berhenti menganggap yang tidak ada sebagai kasus.”
---
3. TEOLOGI GEMA
Jika setiap doa adalah gema,
maka siapa yang pertama kali berteriak?
Pertanyaan itu dilarang di arsip tinggi.
Bukan karena berbahaya,
tetapi karena tidak menghasilkan bentuk apa pun
yang bisa disimpan.
Gema terus berjalan
tanpa pernah menemukan dinding asalnya.
Dan pada titik tertentu,
para malaikat mulai mencurigai:
mungkin yang disebut “Tuhan”
adalah nama lain dari keterlambatan
yang tidak pernah selesai menjadi kejadian.
---
4. MALAIKAT YANG LUPA MENDENGAR
Seorang malaikat jatuh bukan ke bumi,
melainkan ke dalam dirinya sendiri.
Di sana ia menemukan kesunyian
yang tidak lagi memerlukan suara.
Ia mencoba mendengar Tuhan.
Yang ia dengar hanyalah
proses mendengar itu sendiri
yang tidak pernah berhenti bekerja.
Ia menulis di sayapnya:
> “Mendengar adalah bentuk doa yang tidak sadar bahwa ia sedang berdoa.”
Ketika ia kembali ke langit,
tidak ada yang mengenalinya lagi.
Karena ia telah kehilangan
cara untuk menjadi pendengar.
---
5. ETIMOLOGI YANG GAGAL MENJADI ASAL
Kata “asal” sendiri tidak punya asal.
Ia hanya perjanjian sementara
antara sesuatu yang ingin dimulai
dan sesuatu yang menolak menjadi pertama.
Para ahli malaikat mencoba menelusurinya.
Yang mereka temukan hanyalah:
asal dari asal
yang bukan awal
melainkan pengulangan niat untuk menjadi awal
Salah satu dari mereka akhirnya berkata:
“Barangkali Tuhan bukan yang pertama.
Barangkali Ia hanya kata yang paling sabar
di antara semua kata yang gagal menjadi awal.”
---
Kalau kamu mau, aku bisa lanjutkan lagi dalam bentuk:
satu puisi panjang seperti “kitab rusak”
atau dibuat lebih eksperimental (fragmen tanpa judul, seperti arsip yang bocor)
atau bahkan versi yang lebih dingin dan filosofis seperti teks akademik palsu tentang “teologi gema”
Tinggal arahkan saja.
Komentar
Posting Komentar