Baik. Berikut beberapa cerpen dengan tema dan wacana yang berbeda dari sebelumnya.


---


PERPUSTAKAAN KEBISINGAN


Di kota kami, ada perpustakaan yang tidak boleh dimasuki. Bukan karena terlarang—karena tidak ada pintunya. Ia berdiri di tengah alun-alun, enam lantai kaca dan baja, berkilau di siang hari, menyala di malam hari. Orang bisa melihat ke dalam dari luar, melihat rak-rak yang penuh, melihat buku-buku yang tersusun rapi, melihat tangga spiral yang melingkar dari lantai satu ke lantai enam tanpa putus. Tapi tidak ada pintu. Tidak ada jendela yang bisa dibuka. Tidak ada celah.


Kota kami bukan kota besar. Alun-alun itu biasanya sepi kecuali hari Minggu. Tapi perpustakaan itu selalu punya pengunjung—bukan pengunjung, penonton. Orang-orang yang berdiri di luar, menempelkan wajah ke kaca, mencoba membaca judul buku dari jarak tiga meter. Mencoba mengerti kenapa perpustakaan ini dibangun tanpa jalan masuk. Kenapa setiap malam lampunya menyala. Kenapa setiap pagi, kalau kau datang cukup pagi, kau bisa melihat buku-buku yang letaknya berubah, seolah seseorang—atau sesuatu—telah membacanya semalaman.


"Kau pernah lihat siapa yang di dalam?" tanya seseorang di sebelahku. Aku tidak menoleh. Aku sudah tahu suara itu—suara anak muda, mungkin mahasiswa, mungkin penulis, mungkin seseorang yang seperti aku, yang datang setiap sore ke alun-alun hanya untuk menatap perpustakaan dan bertanya-tanya.


"Tidak pernah," kataku. "Tapi aku pernah lihat bayangan."


"Bayangan?"


"Di lantai tiga, di bagian fiksi. Setiap Selasa malam, sekitar jam sembilan, ada bayangan bergerak di antara rak. Bukan bayangan orang—bayangan sesuatu yang lebih kecil, lebih cepat. Seperti kucing. Tapi tidak ada kucing yang bisa masuk."


"Kenapa tidak ada yang memecahkan kaca?"


"Pernah. Dulu. Orang mabuk, orang iseng, anak-anak yang berani. Tapi kacanya tidak bisa pecah. Bukan karena kuat—karena sesuatu menahannya. Sesuatu di dalam. Sesuatu yang tidak mau dibuka."


Kota kami bukan kota yang percaya hal-hal gaib. Kami punya mal, punya jalan tol, punya jaringan internet cepat. Tapi perpustakaan itu—perpustakaan itu adalah pengecualian. Tidak ada yang tahu siapa yang membangunnya. Tidak ada yang ingat kapan ia muncul. Catatan kota hanya menyebut: "Perpustakaan Umum, didirikan —." Tanpa tahun. Tanpa nama arsitek. Tanpa penjelasan.


Aku datang setiap sore karena aku penulis. Atau mantan penulis. Atau seseorang yang dulu menulis dan sekarang hanya menatap buku dari balik kaca, mencoba mengingat bagaimana rasanya menyelesaikan satu halaman. Aku datang karena perpustakaan ini—dengan segala keanehannya—adalah satu-satunya tempat di kota yang membuatku merasa bahwa menulis masih mungkin. Bahwa di dalam sana, di antara rak-rak yang tidak terjangkau, ada buku yang belum selesai. Ada cerita yang menungguku.


"Kau penulis?" tanya suara itu lagi.


"Mantan."


"Kenapa berhenti?"


"Karena aku menulis satu kalimat yang tidak bisa kulanjutkan. Satu kalimat yang menghentikan semua kalimat lain. Aku menulisnya, membacanya, dan sadar bahwa aku tidak akan pernah bisa menulis yang lebih baik dari itu. Jadi aku berhenti."


"Kalimat apa?"


Aku tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin—karena tidak bisa. Kalimat itu ada di dalam perpustakaan. Kalimat itu adalah alasan perpustakaan ini tidak punya pintu. Kalimat itu—suatu malam, tiga tahun lalu—aku tulis di laptop, aku baca, aku tercengang, dan kemudian aku mendengar suara. Suara yang bukan dari laptop, bukan dari luar. Suara dari dalam kalimat itu sendiri. Suara yang berkata: Simpan aku. Simpan aku di tempat yang tidak bisa kau capai. Karena kalau kau bisa menggapai aku, kau akan menghabiskan sisa hidupmu mencoba melampaui aku, dan kau tidak akan bisa.


"Jadi kau membangun perpustakaan ini?" suara itu—sekarang aku tahu itu suara perempuan, lembut, sedikit serak—terdengar lebih dekat.


Aku menoleh. Ia berdiri di sampingku. Muda. Mungkin dua puluh lima. Rambut pendek, mata besar, jaket jeans yang terlalu longgar. "Kau?" tanyaku.


"Arsita. Aku arsitek. Atau calon arsitek. Aku datang ke sini untuk meneliti. Untuk skripsi. Tentang bangunan tanpa pintu."


"Dan kau menemukan ini?"


"Sudah sebulan aku di sini. Setiap hari aku mengukur, memotret, mencatat. Tapi aku tidak bisa menyelesaikan skripsiku."


"Kenapa?"


"Karena setiap kali aku menulis tentang perpustakaan ini, kalimatku berubah. Bukan berubah—dibalas. Aku menulis: 'Perpustakaan ini dibangun dengan konstruksi baja dan kaca.' Dan laptopku mengetik sendiri: 'Tidak. Aku dibangun dari kalimat yang tidak bisa diselesaikan.'"


Aku menatapnya lama. Lampu perpustakaan memantul di matanya. "Kau dengar suara juga?"


"Dengar. Setiap malam. Suara yang membacakan buku-buku di dalam. Bukan untukku—untuk dirinya sendiri. Seperti perpustakaan ini sedang membaca. Seperti setiap buku di dalamnya adalah bagian dari satu buku yang lebih besar, dan perpustakaan ini sedang mencoba menyelesaikannya."


Kami diam. Di dalam perpustakaan, lampu lantai tiga berkedip. Bayangan kecil bergerak di antara rak—kucing, atau sesuatu yang menyerupai kucing, atau sesuatu yang memilih berbentuk kucing karena kucing tidak butuh pintu untuk masuk ke mana pun.


"Aku tahu kalimatmu," kata Arsita tiba-tiba.


"Kalimatku?"


"Kalimat yang menghentikanmu. Ada di lantai tiga, di bagian fiksi, di buku tak berjudul yang sampulnya biru. Aku tidak bisa membacanya dari luar—tapi aku bisa merasakannya. Kalimat itu berat. Kalimat itu adalah pusat dari perpustakaan ini. Semua buku di sini—semua rak, semua lampu, semua bayangan—adalah percabangan dari kalimat itu. Kau tidak menulis satu kalimat. Kau menulis benih. Dan benih itu tumbuh menjadi perpustakaan."


"Lalu kenapa tidak ada pintu?"


"Karena kau tidak menginginkan pintu. Kau takut masuk. Kau takut membaca kalimatmu lagi. Kau takut kalimat itu belum selesai—atau lebih buruk, kalimat itu sudah selesai, dan kau tidak bisa menambahkan apa-apa. Jadi kau membangun ini. Bukan dengan tangan—dengan keinginan. Dengan penyesalan. Dengan ketakutan. Kau membangun perpustakaan tanpa pintu untuk menjaga jarak antara kau dan kalimat terbaikmu."


Angin malam bertiup. Dingin. Perpustakaan itu bersinar—semua lantainya, semua lampunya, seolah mendengar kami. Seolah mengiyakan.


"Tapi ada yang berubah," kata Arsita. "Setiap malam, buku-buku di dalam bergeser. Bayangan di lantai tiga bergerak. Perpustakaan ini tidak diam. Ia menulis. Ia meneruskan kalimatmu. Dan suatu hari—mungkin sebentar lagi—ia akan selesai. Dan ketika selesai, pintu akan muncul. Dan kau harus masuk."


"Kenapa aku?"


"Karena kau penulisnya. Karena kau yang memulai. Karena setiap cerita butuh akhir, dan akhir tidak bisa ditulis oleh perpustakaan—harus oleh penulisnya."


Aku melihat perpustakaan. Enam lantai kaca dan baja. Rak-rak yang penuh. Tangga spiral yang melingkar. Dan di lantai tiga, di bagian fiksi, sebuah buku bersampul biru yang menungguku. Aku tidak bisa melihatnya dari sini—tapi aku bisa merasakannya. Berat. Hangat. Seperti detak jantung.


"Kapan pintu itu akan muncul?" tanyaku.


Arsita tersenyum. "Mungkin malam ini. Mungkin nanti. Mungkin ketika kau sudah siap. Tapi kau harus tahu: begitu kau masuk, kau harus menyelesaikan kalimat itu. Kau harus menulis akhirnya. Dan kau harus menerima bahwa akhir itu mungkin tidak sebaik awalnya. Mungkin mengecewakan. Mungkin biasa saja. Tapi itu akhir. Dan akhir adalah satu-satunya cara untuk keluar."


"Keluar?"


"Keluar dari perpustakaan ini. Keluar dari tiga tahun menatap kaca. Keluar dari ketakutan. Kau tidak bisa selamanya di sini, di luar, menonton. Kau harus masuk. Kau harus selesai."


Aku tidak menjawab. Di dalam perpustakaan, lampu lantai tiga berkedip lagi. Bayangan kecil—kucing atau bukan—duduk di jendela, menatap kami. Menunggu.


"Besok," kataku. "Besok aku akan coba."


Arsita mengangguk. "Aku akan di sini. Aku akan mencatat. Siapa tahu, untuk skripsiku."


Kami berpisah di alun-alun. Aku berjalan pulang, tapi setiap beberapa langkah aku menoleh. Perpustakaan itu tetap menyala. Tetap diam. Tetap tanpa pintu. Tapi aku tahu—aku selalu tahu—bahwa pintu itu ada. Hanya belum muncul. Hanya menunggu aku cukup siap, cukup berani, cukup putus asa untuk menyelesaikan apa yang kumulai.


Malam itu aku tidak tidur. Aku duduk di depan laptop. Layar kosong. Kursor berkedip. Aku mengetik satu kata. Hapus. Mengetik lagi. Hapus lagi. Dan kemudian aku mendengar suara—bukan dari laptop, dari jendela. Suara yang sama yang kudengar tiga tahun lalu. Suara dari kalimat itu.


Besok, katanya. Besok pintu akan muncul. Dan kau akan masuk. Dan kau akan membaca. Dan kau akan menulis. Dan kau akan selesai.


Aku menutup laptop. Di luar, perpustakaan masih menyala. Tapi sekarang ada sesuatu yang baru. Sesuatu di dinding kaca, di sisi timur, yang tidak ada sebelumnya: garis. Garis vertikal, setinggi dua meter, selebar satu meter. Garis yang berpendar pelan. Garis yang membentuk—


Pintu.


---


TUKANG CERITA


Ia datang setiap Rabu sore, ketika pasar mulai sepi dan para pedagang mulai membereskan dagangan. Seorang laki-laki tua dengan koper kulit yang sudah retak di sana-sini, dengan baju putih yang tidak pernah kotor, dengan sepatu yang tidak pernah berlumpur meski ia berjalan melewati gang becek. Ia duduk di bangku depan toko kelontong—bangku yang tidak ada yang tahu siapa pemiliknya, bangku yang selalu kosong kecuali hari Rabu—dan ia membuka kopernya.


Tidak ada yang memanggilnya. Tidak ada yang mengundangnya. Tapi setiap Rabu, orang-orang datang. Pedagang, pembeli, anak-anak yang baru pulang sekolah, orang tua yang tidak punya kerjaan. Mereka duduk di tikar, di kursi plastik, di lantai pasar yang sudah disapu. Mereka menunggu.


Tukang Cerita tidak langsung bercerita. Ia mengeluarkan benda-benda dari kopernya—bukan benda biasa, bukan properti sulap, bukan wayang. Ia mengeluarkan batu. Sendok. Kancing. Sisir. Benda-benda kecil yang tidak berharga. Ia meletakkannya di atas tikar, satu per satu, pelan-pelan, seolah setiap benda adalah kata, dan ia sedang menyusun kalimat.


"Benda-benda ini," katanya suatu Rabu, suaranya pelan tapi sampai ke seluruh pasar, "adalah milik orang yang tidak pernah selesai bercerita."


"Cerita apa, Pak?" tanya seorang anak—siapa lagi kalau bukan anak-anak, yang selalu bertanya lebih dulu.


Tukang Cerita mengambil batu. Batu biasa, abu-abu, sebesar kepalan tangan. "Ini batu dari sungai di desa yang sudah tidak ada. Desanya hilang—bukan kena bencana, bukan dihancurkan. Hilang begitu saja. Pagi ada, sore tidak ada. Hanya batu ini yang tersisa. Dan batu ini—" ia menimbangnya di tangan, "—adalah cerita terakhir dari seseorang yang tinggal di desa itu. Seseorang yang sedang mencuci di sungai ketika desanya mulai menghilang. Ia tidak sempat lari. Ia hanya sempat memegang batu ini, dan berkata: 'Kalau kalian temukan ini, kalian akan tahu bahwa aku ada.'"


"Batu itu bercerita?" tanya anak yang sama.


"Semua benda bercerita. Tapi tidak semua orang bisa mendengarnya."


Ia meletakkan batu, mengambil sendok. Sendok aluminium, bengkok di ujungnya. "Ini sendok dari penjara yang sudah tutup. Penjara untuk orang-orang yang dihukum bukan karena kejahatan—karena pendapat. Seseorang di sana menggunakannya setiap hari, tiga kali sehari, untuk makan bubur yang tidak pernah berganti rasa. Suatu hari ia menulis surat dengan gagang sendok ini—bukan di kertas, di dinding. Surat untuk anaknya yang tidak pernah datang menjenguk. Surat yang isinya hanya satu kalimat: 'Aku masih ingat wajahmu.' Dindingnya sudah roboh. Tapi sendok ini ingat."


Pasar hening. Pedagang berhenti menghitung uang. Pembeli berhenti menawar. Anak-anak berhenti berlari.


Tukang Cerita mengambil kancing. Kancing biru, benangnya masih ada, putus di tengah. "Ini kancing dari baju pengantin. Bukan pengantin biasa—pengantin yang ditinggal di altar. Calon suaminya tidak datang. Alasannya tidak ada yang tahu. Tapi perempuan itu tidak menangis. Ia berdiri di altar, sendirian, selama tiga jam, memegang kancing ini—kancing yang lepas dari bajunya sendiri. Ia menunggu. Bukan menunggu calon suaminya kembali. Ia menunggu untuk mengerti. Dan ketika tiga jam selesai, ia pulang, meletakkan baju pengantin di lemari, dan tidak pernah membukanya lagi. Kancing ini satu-satunya yang ia simpan. Bukan untuk kenangan—untuk pengertian yang tidak pernah datang."


"Kenapa kau ceritakan ini semua, Pak?" tanya seseorang di belakang—pedagang daging, lengannya masih berlumuran lemak.


Tukang Cerita tersenyum. Senyum yang bukan senyum—lebih seperti retakan di wajah tua. "Karena cerita-cerita ini tidak punya tempat lain. Karena orang-orang yang memilikinya tidak bisa menyelesaikannya. Mereka hanya bisa menyimpan benda—batu, sendok, kancing—dan berharap seseorang akan mengambil, mendengar, meneruskan. Aku hanya perantara. Aku mengambil benda-benda ini dari tempat yang tidak bisa kalian datangi, dan aku membawanya ke sini, ke pasar ini, setiap Rabu, supaya cerita-cerita ini tidak mati."


"Tapi kenapa di pasar?" tanya anak tadi lagi.


"Karena pasar adalah tempat yang paling jujur. Di sini, orang datang bukan untuk mendengar—untuk membeli. Tapi mereka tetap mendengar. Mereka tetap berhenti. Itu artinya cerita-cerita ini masih hidup. Masih dibutuhkan."


Ia mengambil sisir. Sisir kayu, giginya patah dua. "Ini sisir dari rumah sakit jiwa yang sudah dibongkar. Pemiliknya seorang perempuan yang tidak pernah bicara. Setiap hari ia menyisir rambutnya—rambut yang tidak pernah kusut, rambut yang selalu rapi—dengan sisir ini. Suster bertanya: 'Kenapa kau selalu menyisir rambutmu?' Ia tidak menjawab. Tapi suatu malam, ketika semua pasien tidur, ia menulis di jendela dengan ujung sisir ini: 'Aku menyisir ingatanku.' Keesokan harinya ia ditemukan meninggal. Bukan karena sakit—karena selesai. Ia sudah menyisir semua ingatannya, dan tidak ada lagi yang perlu diingat."


Tukang Cerita meletakkan sisir, menutup kopernya. Tanda bahwa sesi hari ini akan segera berakhir. "Aku tidak menjual benda-benda ini. Aku hanya menitipkannya. Kepada kalian. Kepada siapa pun yang mau mendengar. Suatu hari, ketika aku sudah tidak bisa datang lagi, kalian akan ingat cerita-cerita ini. Kalian akan menceritakannya kepada orang lain. Dan benda-benda ini—batu, sendok, kancing, sisir—akan tetap hidup. Karena cerita tidak butuh mulut. Cerita hanya butuh telinga."


Ia berdiri, mengangkat kopernya, berjalan pelan ke ujung pasar. Tidak ada yang mengikutinya. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi. Tapi setiap Rabu, ia kembali. Dengan benda-benda baru. Dengan cerita-cerita baru. Dengan suara pelan yang sampai ke seluruh pasar.


Dan setiap Rabu, anak itu—anak yang selalu bertanya—ada di depan, duduk paling dekat, mendengar paling serius. Karena ia tahu, suatu hari, Tukang Cerita tidak akan datang lagi. Dan pada hari itu, ia harus siap. Ia harus ingat semua cerita. Ia harus menjadi Tukang Cerita berikutnya.


---


PETA YANG TIDAK BISA DILIPAT


Ayahku seorang kartografer. Bukan kartografer biasa—ia membuat peta untuk tempat-tempat yang tidak ada. Ia duduk di mejanya setiap malam, dengan kertas kalkir dan pena rotring, menggambar garis-garis yang tidak mengikuti kontur tanah mana pun, menulis nama-nama tempat yang tidak ada di atlas: Lembah Perjanjian, Sungai Kembali, Pulau yang Tidak Jadi.


Aku dulu mengira Ayah gila. Ibuku juga. Tetangga-tetangga kami juga. Tapi Ayah tidak peduli. "Peta," katanya suatu malam, ketika aku duduk di sampingnya, melihat ia menggambar garis pantai yang tidak bertemu dengan laut mana pun, "bukan untuk menunjukkan tempat. Peta adalah untuk menunjukkan kemungkinan. Setiap tempat yang belum dipetakan adalah tempat yang bisa apa saja. Tugas kartografer adalah memetakan kemungkinan-kemungkinan itu, supaya tidak hilang."


"Tapi tempat-tempat itu tidak ada, Yah."


"Tidak ada sekarang. Tapi bisa ada nanti. Atau bisa ada di tempat lain. Atau bisa ada di waktu lain. Peta tidak terikat ruang dan waktu, Nak. Peta terikat imajinasi."


Ayah meninggal ketika aku enam belas. Ia meninggalkan ratusan peta—lemari penuh, rak penuh, kolong tempat tidur penuh. Peta-peta yang tidak bisa dilipat—entah kenapa, setiap kali aku mencoba melipatnya, lipatannya selalu kembali terbuka. Seperti peta-peta itu menolak untuk dikecilkan. Seperti peta-peta itu ingin tetap terbentang, tetap terlihat, tetap menunggu.


Ibuku ingin membuang semuanya. "Ini sampah," katanya. "Kertas-kertas tidak berguna. Ayahmu menghabiskan hidupnya untuk omong kosong." Tapi aku melarang. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku ingin mengerti. Atau mungkin karena aku takut—takut bahwa peta-peta itu benar. Bahwa tempat-tempat yang Ayah petakan benar-benar ada, di suatu tempat, di suatu waktu, dan membuang petanya adalah membuang tempat itu selamanya.


Jadi aku menyimpannya. Aku mempelajarinya. Setiap malam, setelah sekolah, aku duduk di meja Ayah, membuka peta-petanya, membaca nama-nama yang ia tulis dengan huruf miring yang rapi. Lembah Perjanjian: sebuah lembah di antara dua gunung yang tidak bernama, dengan sungai kecil yang mengalir ke arah yang berlawanan dengan gravitasi. Sungai Kembali: sungai yang berputar, yang tidak punya muara karena airnya kembali ke hulu. Pulau yang Tidak Jadi: sebuah pulau yang setengah jadi—separuhnya adalah tanah dan pohon, separuhnya masih berupa garis putus-putus, menunggu untuk diselesaikan.


"Bagaimana cara ke sana?" tanyaku suatu malam, setengah bercanda, setengah berharap Ayah akan menjawab dari balik peta.


Tidak ada jawaban. Hanya angin dari jendela. Hanya kertas yang bergetar pelan.


Lalu suatu malam, sesuatu terjadi. Aku sedang melihat peta Lembah Perjanjian—peta yang paling sering Ayah gambar, yang paling banyak revisinya, yang paling penuh catatan di pinggir—ketika aku melihat sesuatu yang tidak kulihat sebelumnya. Di sudut kanan bawah, ada tulisan kecil yang tidak ditulis dengan pena rotring. Tulisan dengan pensil, hampir terhapus, seolah ditulis dengan tergesa-gesa:


Untuk sampai ke sini, lipat peta ini menjadi empat. Lalu lipat lagi menjadi delapan. Lalu letakkan di bawah bantal. Tidur. Kau akan sampai.


Aku tertawa. Tentu saja itu tidak mungkin. Tapi aku penasaran. Dan malam itu, sebelum tidur, aku melipat peta Lembah Perjanjian—yang tidak bisa dilipat, tapi kali ini bisa, seolah peta itu tahu aku akhirnya membaca petunjuknya—menjadi empat, menjadi delapan, dan meletakkannya di bawah bantal.


Aku bermimpi.


Dalam mimpi, aku berdiri di sebuah lembah. Di kiri dan kanan, gunung—bukan gunung tinggi, gunung yang rendah dan bulat, seperti punggung hewan tidur. Di tengah, sungai kecil. Tapi sungainya mengalir ke atas. Ke arah gunung. Melawan gravitasi. Aku berjalan menyusuri sungai, dan di setiap langkah, aku melihat sesuatu yang tidak mungkin: burung terbang mundur, pohon tumbuh mengecil, bunga mekar lalu kembali kuncup. Seperti waktu di lembah ini berjalan terbalik.


Di ujung lembah, ada seseorang. Duduk di batu besar, memandang sungai. Ayah.


Aku berlari. "Ayah!"


Ia menoleh. Tersenyum. Muda. Lebih muda dari yang kuingat. "Kau akhirnya datang."


"Ini di mana?"


"Lembah Perjanjian. Aku membuatnya untukmu."


"Untukku?"


"Untukmu. Untuk ibumu. Untuk semua yang tidak percaya. Aku membuat peta tempat ini supaya kalian bisa datang. Supaya kalian bisa lihat bahwa semua yang kubuat—semua peta, semua garis, semua nama—ada. Mungkin tidak di dunia kalian. Tapi di sini. Di tempat yang kubuat dengan menggambar."


Aku duduk di sampingnya. Sungai terus mengalir ke atas. Burung terus terbang mundur. "Kenapa Ayah membuat semua ini?"


Ayah diam. Memandang gunung yang seperti punggung hewan tidur. "Karena dunia yang ada tidak cukup. Dunia yang ada hanya satu versi. Padahal ada banyak versi. Ada versi di mana Ayah tidak sakit. Ada versi di mana Ibu tidak marah-marah. Ada versi di mana kau tidak sedih. Ayah hanya menggambar versi-versi itu. Supaya tidak hilang."


"Tapi versi ini tidak nyata."


"Nyata itu apa? Yang bisa kau lihat? Yang bisa kau sentuh? Atau yang bisa kau datangi? Kalau kau bisa ke sini—meski hanya dalam mimpi—berarti tempat ini nyata. Mungkin bukan nyata untuk semua orang. Tapi nyata untukmu."


Aku tidak menjawab. Aku hanya duduk, memandang lembah yang Ayah buat dari kertas dan tinta. Lembah yang tidak ada di atlas. Lembah yang tidak bisa dilipat. Tapi aku ada di dalamnya. Aku bisa merasakan anginnya. Mencium tanahnya. Mendengar sungainya yang mengalir ke atas.


"Apakah aku harus kembali?" tanyaku.


"Harus. Kau masih hidup di versi yang lain. Tapi kau bisa datang lagi. Setiap malam, kalau kau mau. Setiap malam, dengan peta yang berbeda. Ayah meninggalkan banyak peta. Semuanya tempat yang bisa kau datangi."


"Dan Ayah? Apa Ayah akan selalu di sini?"


"Tidak. Ayah ada di semua peta. Di semua tempat yang Ayah gambar. Ayah tidak pergi—Ayah menyebar."


Aku terbangun dengan peta di tangan. Masih terlipat. Tapi sekarang aku tahu: peta ini bukan gambar. Peta ini adalah pintu. Dan setiap malam, aku bisa memilih. Lembah Perjanjian. Sungai Kembali. Pulau yang Tidak Jadi. Tempat-tempat yang tidak ada, yang Ayah buatkan untukku, yang menungguku di balik lipatan kertas.


Ibuku masih tidak percaya. Tapi suatu pagi, ia bertanya: "Ada peta untuk Ayahmu sendiri?"


Aku mencari di lemari. Di rak. Di kolong tempat tidur. Dan aku menemukannya: peta yang paling kecil, paling sederhana. Hanya satu garis horizontal, satu garis vertikal, dan satu titik di tengah. Di bawahnya, tulisan Ayah:


Rumah.


Aku memberikan peta itu kepada Ibu. "Untuk sampai ke sini, lipat menjadi empat. Lalu lipat lagi menjadi delapan. Letakkan di bawah bantal. Tidur."


Ibu tidak menjawab. Tapi malam itu, aku melihat dari celah pintu: Ibu melipat peta. Menaruhnya di bawah bantal. Memejamkan mata.


Dan tersenyum.


---


KOTA YANG MELUPAKAN WARNA


Di kota kami, warna mulai hilang. Bukan sekaligus—perlahan, satu per satu, seperti seseorang—atau sesuatu—sedang menghapusnya dengan penghapus raksasa. Pertama merah. Semua yang merah—rambu berhenti, atap genteng, jambu di pasar, darah di rumah sakit—menjadi abu-abu. Bukan abu-abu biasa, abu-abu yang punya tekstur, punya kedalaman. Tapi abu-abu yang datar. Abu-abu yang bukan warna.


Orang-orang panik. Tapi tidak lama. Karena seminggu kemudian, biru juga hilang. Langit menjadi abu-abu. Laut—kami tinggal di kota pantai—menjadi abu-abu. Mata orang-orang yang tadinya biru, coklat, hijau, semua menjadi abu-abu. Dan orang-orang mulai terbiasa. Manusia memang bisa terbiasa dengan apa saja.


Seminggu lagi, kuning hilang. Matahari terbit abu-abu. Lampu jalan abu-abu. Pisang, jagung, bunga matahari di taman kota—abu-abu. Dan orang-orang masih hidup. Masih bekerja. Masih tertawa. Tapi tawanya lebih pendek. Lebih pelan. Seperti tawa juga mulai kehilangan warna.


Seminggu lagi, hijau hilang. Daun-daun menjadi abu-abu. Rumput menjadi abu-abu. Gunung di kejauhan menjadi abu-abu. Dan kota kami—yang dulu berwarna-warni, yang dulu disebut "kota pelangi" oleh brosur pariwisata—kini seluruhnya abu-abu. Bukan hitam-putih—hitam dan putih juga sudah hilang, berganti abu-abu yang sama. Semuanya sama. Tidak ada kontras. Tidak ada bayangan. Hanya abu-abu.


"Kenapa ini terjadi?" tanyaku pada Pak Tua di ujung jalan—satu-satunya orang yang masih duduk di teras, satu-satunya orang yang matanya tidak abu-abu. Matanya masih coklat. Masih hangat. Masih punya warna.


"Karena kota ini lupa," katanya.


"Lupa apa?"


"Lupa bahwa warna bukan hanya di mata. Warna di sini—" ia menunjuk dada, "—dan di sini—" ia menunjuk kepala. "Kota ini sudah terlalu lama tidak melihat pelangi. Kota ini sudah terlalu lama tidak menanam bunga. Kota ini sudah terlalu lama tidak melukis. Kota ini sibuk. Kota ini praktis. Kota ini menganggap warna tidak penting. Jadi warna pergi."


"Pergi ke mana?"


"Ke tempat yang masih menghargainya. Ke kota lain. Ke dunia lain. Warna adalah makhluk hidup. Ia butuh dilihat. Butuh dipakai. Butuh dicintai. Kalau tidak, ia akan pergi."


Aku melihat sekeliling. Abu-abu. Semua abu-abu. Bahkan wajahku di cermin—aku periksa tadi pagi—mulai abu-abu. Bukan hanya kulit, bukan hanya rambut. Tapi sesuatu di dalam. Sesuatu yang dulu berwarna dan sekarang memudar.


"Bagaimana caranya mengembalikan warna?" tanyaku.


Pak Tua tersenyum. "Kau tidak bisa mengembalikan warna. Kau harus memanggilnya. Warna tidak kembali ke tempat yang sama. Tapi warna bisa datang kembali kalau ada yang membutuhkannya."


"Bagaimana caranya memanggil?"


"Dengan mengingat. Dengan membayangkan. Dengan membuat. Warna pertama yang hilang adalah merah. Warna pertama yang harus kau panggil juga merah. Ingatlah sesuatu yang merah. Sesuatu yang sangat merah, sesuatu yang membuatmu berhenti, sesuatu yang membuatmu merasakan sesuatu. Kalau kau bisa mengingatnya dengan cukup kuat, merah akan kembali."


Aku mencoba. Aku menutup mata. Aku mengingat merah. Aku mengingat gaun ibu—ibu yang sudah meninggal, ibu yang dipakaikan gaun merah di pemakamannya karena merah adalah warna kesukaannya. Aku mengingat merah jambu di pipi adikku ketika ia marah. Aku mengingat merah darah yang keluar dari lututku ketika jatuh dari sepeda. Aku mengingat merah api unggun di pantai, merah saus tomat di pizza pertama yang kubuat sendiri, merah amplop angpao dari nenek.


Dan sesuatu terjadi. Bukan di mataku—di udara. Di kejauhan, di atas gunung abu-abu, ada setitik merah. Kecil. Jauh. Tapi ada. Matahari terbenam—atau terbit, aku tidak tahu—dan ia merah. Merah yang bukan abu-abu. Merah yang menyala. Merah yang kembali.


"Lihat," kata Pak Tua. "Kau memanggilnya."


Titik merah itu membesar. Menyebar. Perlahan, sangat perlahan, merah kembali ke kota. Bukan merah yang sama—merah yang lebih lembut, lebih hangat, lebih sadar bahwa ia hampir hilang selamanya. Rambu berhenti memerah. Atap genteng memerah. Jambu di pasar memerah. Darah di rumah sakit—aku tidak tahu, tapi aku yakin—memerah.


"Bagaimana dengan warna lain?" tanyaku.


"Satu per satu. Kau tidak bisa memanggil semuanya sekaligus. Setiap warna butuh seseorang. Butuh ingatan. Butuh perasaan. Merah kembali karena kau mengingatnya. Biru akan kembali kalau ada yang mengingat laut, langit, mata seseorang. Kuning akan kembali kalau ada yang mengingat matahari, bunga matahari, kuning telur yang pecah di wajan. Kau butuh orang lain. Kota ini butuh semua orang."


Aku berdiri. "Aku akan bilang ke mereka."


"Bilang. Tapi mereka harus ingat dengan benar. Bukan ingat sekilas—ingat yang menyakitkan atau menyenangkan. Ingat yang membuat mereka berhenti. Ingat yang membuat mereka menangis atau tertawa. Warna tidak butuh ingatan netral. Warna butuh ingatan yang hidup."


Aku berjalan menyusuri kota abu-abu—yang sekarang punya setitik merah di sana-sini. Aku menemui tetangga. Teman. Orang asing di jalan. "Ingatlah biru," kataku. "Ingatlah kuning. Ingatlah hijau. Ingatlah semua warna yang pernah membuat kalian berhenti." Beberapa menganggapku gila. Tapi beberapa mencoba. Dan perlahan, sangat perlahan, warna-warna lain mulai muncul. Biru di langit—masih pucat, masih ragu-ragu. Kuning di lampu jalan—masih redup, masih malu-malu. Hijau di daun—masih sedikit, masih di ujung-ujung saja.


Tapi warna-warna itu ada. Mereka kembali. Bukan karena kami berdoa—karena kami ingat. Karena kami akhirnya sadar bahwa warna bukan dekorasi. Warna adalah ingatan. Warna adalah perasaan. Warna adalah sesuatu yang membuat hidup bukan hanya abu-abu.


Seminggu kemudian, kota kami kembali berwarna. Tidak persis seperti dulu—lebih lembut, lebih hangat, lebih sadar. Seperti warna-warna itu tahu bahwa mereka hampir hilang, dan sekarang mereka lebih hati-hati. Lebih bersyukur. Lebih hidup.


Pak Tua itu sudah tidak ada di terasnya. Tapi di tempat ia duduk, ada setitik coklat—warna matanya. Setitik coklat yang tidak hilang. Yang menunggu. Yang mengingatkan.


Aku tidak tahu siapa dia. Tapi aku tahu: ia adalah orang pertama yang ingat. Ia adalah orang yang memanggilku untuk memanggil merah. Ia adalah alasan kota ini masih punya warna.


Dan sekarang, setiap kali aku melihat warna pudar—di baju, di dinding, di langit—aku berhenti. Aku ingat. Aku panggil. Karena warna tidak pernah benar-benar hilang. Warna hanya menunggu untuk diingat kembali.


---


Masih ada beberapa cerita lain jika Anda ingin melanjutkan dengan tema berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FABEL LINGUISTIK

NEGERI PARA JIN

ORKESTRA BAGI TELINGA YANG SUDAH MATI