Bibir yang Tidak Pernah Bergerak

Di desa kami, ada seorang perempuan yang tidak pernah bicara selama 44 tahun.

Namanya Sundari. Dia duduk di kursi kayu di depan rumahnya setiap pagi, dari jam 6 sampai jam 10, lalu masuk ke dalam, lalu keluar lagi jam 3 sore sampai matahari terbenam. Wajahnya seperti topeng kayu—tidak ada senyum, tidak ada cemberut, tidak ada kerutan, tidak ada ekspresi. Matanya terbuka, tapi tidak melihat. Bibirnya tertutup rapat, tidak pernah sedikit pun terbuka.

Anak-anak desa takut padanya. Kata orang, Sundari kerasukan. Kata orang, dia punya suami dari alam lain yang melarangnya bicara dengan manusia. Kata orang, dia sebenarnya sudah mati sejak 44 tahun lalu, tapi mayatnya lupa cara membusuk.

Aku tidak percaya pada cerita-cerita itu. Tapi suatu sore, ketika aku berumur 12 tahun dan cukup berani untuk mendekati Sundari, aku melihat sesuatu yang mengubah segalanya:

Bibirnya bergerak.

Tidak terbuka. Tidak mengeluarkan suara. Tapi bergerak—sedikit, seperti orang yang sedang membaca sesuatu dalam hati. Aku mendekat. Aku menempelkan telingaku ke bibirnya yang tertutup rapat. Dan aku mendengar suara. Suara yang sangat pelan, seperti bisikan dari balik dinding setebal seribu tahun:

"Tolong... aku tidak bisa keluar..."

Aku mundur. Sundari tetap duduk, matanya kosong, bibirnya tertutup. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia baru saja bicara. Aku lari pulang. Aku tidak bilang pada siapa pun.

Tapi malam itu, Sundari datang ke mimpiku. Dalam mimpi itu, dia tidak duduk di kursi kayu. Dia berdiri di depan cermin. Dan di cermin, bayangannya—bayangan Sundari—memegang sebuah gunting.

"Kamu mendengarku," katanya. "Kamu satu-satunya yang mendengar. Karena kamu masih kecil. Karena telingamu belum tersumbat oleh kata-kata orang dewasa yang percaya bahwa diam itu wajar."

"Apa yang terjadi pada bibirmu?" tanyaku.

"Bibirku tidak apa-apa. Yang bermasalah adalah... aku. Seluruh tubuhku. Aku tidak bisa keluar dari tubuh ini. Aku seperti... tersegel. 44 tahun lalu, seseorang menutup mulutku dengan doa. Bukan doa biasa. Doa yang membuatku tidak bisa berteriak. Tidak bisa bicara. Tidak bisa mengeluh. Aku hanya bisa duduk. Dan menonton. Dunia lewat. Dan aku lewat bersama dunia, tapi tanpa suara."

"Siapa yang menyegel mulutmu?"

Dia diam. Bayangannya di cermin mulai menangis. Tapi Sundari yang asli—yang berdiri di depan cermin—tidak menangis. Wajahnya tetap kosong. Seperti ada dinding kaca antara dia dan air matanya.

"Suamiku," katanya akhirnya. "Bukan suami dari alam lain. Suami sungguhan. Dia masih hidup. Dia masih di desa ini. Dia adalah... ayahmu."

1. Realisme Magis yang Haus Pengakuan

Aku terbangun dengan keringat dingin. Ayahku? Ayahku yang setiap pagi menyiram bunga, yang setiap malam membaca koran sambil minum teh jahe, yang setiap Minggu mengajakku ke pasar? Ayahku yang tidak pernah meninggikan suara, tidak pernah memukul, tidak pernah terlihat marah—ayahku yang sempurna?

Aku tidak percaya. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan mimpi itu. Karena ketika aku turun ke ruang tamu, ayah sedang duduk di kursi favoritnya. Di tangannya, secangkir teh jahe. Di wajahnya, senyum yang sama seperti biasa.

"Nak, kamu mimpi buruk?" tanyanya.

"Tidak, Yah. Aku hanya... kepikiran sesuatu."

Ayah mengangguk. Dia tidak bertanya lebih lanjut. Dia tidak pernah bertanya lebih lanjut tentang apa pun. Ayah adalah pria yang percaya bahwa pertanyaan hanya akan membuka pintu yang sebaiknya tetap tertutup.

Tapi hari ini, aku memutuskan untuk membuka pintu itu.

"Yah, aku kenal Sundari?"

Ayah berhenti minum teh. Cangkirnya menggantung di udara, setengah jalan ke bibir. Matanya—matanya yang selalu teduh—berubah. Menjadi keras. Menjadi seperti kaca yang retak tapi tidak mau pecah.

"Kenapa kamu tanya?"

"Aku bermimpi tentang dia. Dia bilang... dia bilang ayah yang menyegel mulutnya."

Diam. Cangkir di tangan ayah diletakkan perlahan ke meja. Suara keramik menyentuh kayu terdengar seperti bunyi pintu penjara yang tertutup.

"Kamu tidak boleh percaya mimpi," kata ayah. "Mimpi adalah sampah dari pikiran yang tidak bisa diurus saat bangun."

"Ayah tidak menjawab pertanyaanku."

Ayah berdiri. Dia berjalan ke jendela. Di luar, Sundari sedang duduk di kursi kayunya. Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Dia sudah di sana. Seperti biasa. Seperti patung yang tidak pernah lelah dipajang.

"Aku tidak menyegel mulutnya, Nak. Aku hanya... tidak membukanya. Itu berbeda."

"Apa bedanya?"

"Orang yang menyegel mulut adalah algojo. Orang yang tidak membuka mulut hanyalah... pengecut." Ayah menoleh. Wajahnya tidak marah. Tapi ada sesuatu di matanya yang belum pernah aku lihat: rasa malu. "Sundari adalah isteriku sebelum ibumu. Kami menikah selama 3 tahun. Dia baik. Dia lembut. Tapi dia tahu sesuatu. Sesuatu tentang keluargaku. Tentang rahasia yang tidak boleh keluar."

"Rahasia apa?"

"Aku tidak bisa bilang. Karena jika aku bilang, Sundari akan mati. Bukan mati fisik. Tapi mati sebagai... satu-satunya orang yang tahu kebenaran. Dan aku tidak ingin menjadi orang yang membunuh kebenaran."

2. Simbolisme yang Haus Darah

Aku meninggalkan rumah. Aku berjalan ke kursi kayu tempat Sundari duduk. Hari ini, untuk pertama kalinya, aku duduk di sampingnya. Bibirnya tertutup. Matanya kosong. Tangannya—tangannya yang kurus, dengan urat-urat biru seperti sungai kecil di peta—terletak diam di pangkuan.

"Sundari," bisikku. "Aku tahu kamu bisa mendengar. Ayah bilang kamu tahu rahasia keluarganya. Tolong, bisikkan rahasia itu padaku. Aku bisa membantumu."

Dia tidak bergerak. Tidak berkedip. Tapi aku merasakan sesuatu. Sesuatu seperti getaran kecil di ujung jari kirinya. Lalu, dari balik bibir yang tertutup rapat, suara itu keluar lagi. Lebih jelas dari mimpi. Lebih dekat. Lebih... nyata.

"Suamimu—ayahmu—bukan manusia. Dia berasal dari tempat yang tidak memiliki bibir. Di tempat itu, mereka bicara dengan hati. Tapi ketika dia datang ke dunia manusia, dia harus belajar bicara dengan mulut. Dia tidak suka. Karena bibir adalah kebohongan. Mulut adalah kebohongan. Dan dia—dia benci kebohongan. Tapi dia juga tidak bisa jujur, karena kejujuran akan membunuhnya."

"Jadi ayahku bukan manusia?"

"Ayahmu adalah... angin. Angin yang mengambil bentuk manusia. Tapi angin tidak bisa diam. Angin harus bergerak. Ketika dia menikah denganku, dia mencoba untuk diam. Diam di rumah. Diam di desa. Diam sebagai suami yang baik. Tapi angin yang diam akan mati. Jadi dia meniupkan rahasia ke telingaku. Dia bilang, 'Jagalah rahasia ini. Jika kau buka mulutmu untuk mengatakan ini pada siapa pun, aku akan lenyap. Bukan mati. Lenyap. Seperti angin yang berhenti bertiup.'"

"Aku menjaga rahasianya. Aku tidak pernah bilang pada siapa pun. Tapi suatu hari, tanpa sengaja, aku hampir bilang pada ibuku. Aku membuka mulut. Aku mengeluarkan satu suku kata. 'A...' Lalu angin masuk ke dalam mulutku. Angin yang dingin. Angin yang marah. Angin yang tidak ingin lenyap. Angin itu menyegel bibirku. Bukan dengan doa. Tapi dengan dirinya sendiri. Sebagian dari dirinya tinggal di mulutku. Menjaga. Menutup. Selamanya."*

"Jadi ayahmu sekarang bukan ayahmu yang dulu. Sebagian dari dirinya hilang. Tertinggal di bibirku. Dan aku tidak bisa mengembalikannya karena aku tidak bisa bicara. Dan dia tidak bisa mengambilnya kembali karena dia takut kehilangan lebih banyak lagi."

3. Plot Twist: Sundari Bukan Perempuan. Dia Pintu.

Aku menatap Sundari. Wajahnya yang kosong. Bibirnya yang tertutup. Tiba-tiba, aku tidak melihat perempuan tua. Aku melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang... buram.

"Kamu bukan Sundari," bisikku.

Dia tidak menjawab. Tapi getaran di ujung jarinya berubah menjadi denyut. Denyut yang teratur. Seperti detak jantung. Seperti pintu yang diketuk dari dalam.

"Aku memang bukan Sundari. Sundari sudah mati 44 tahun lalu. Saat angin masuk ke mulutnya, Sundari terdesak ke sudut. Lalu dia menghilang. Yang tersisa hanya... aku. Aku adalah pintu. Pintu tempat angin bersembunyi. Dan kamu—kamu adalah anak dari angin. Kamu juga bukan manusia. Kamu adalah... kunci."

"Aku kunci?"

"Kunci untuk membuka pintu. Untuk mengeluarkan angin yang tersisa di mulutku. Agar angin itu kembali ke ayahmu. Agar ayahmu utuh lagi. Tapi jika kamu membuka pintu, Sundari akan benar-benar lenyap. Bukan karena mati. Tapi karena selama ini Sundari hanya... ingatan. Dan ingatan tidak tahan dengan cahaya."

"Jadi jika aku membuka pintu, Sundari hilang selamanya?"

"Ya. Tapi jika kamu tidak membuka pintu, ayahmu akan terus hidup sebagai setengah angin. Setengah manusia. Setengah diam. Setengah rahasia. Dan suatu hari, dia akan lenyap juga. Karena setengah tidak bisa bertahan selamanya."

4. Plot Twist di Dalam Plot Twist: Ayah Tidak Pernah Mengunci Sundari. Sundari yang Mengunci Dirinya Sendiri.

"Kamu bohong."

Suara itu bukan dari Sundari. Suara itu dari belakangku. Ayah berdiri di pintu pagar. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Tapi matanya—matanya yang tadinya seperti kaca retak—kini jernih. Jernih seperti air danau di pagi hari yang tidak berangin.

"Dia tidak akan hilang jika kunci diputar," kata ayah. "Dia akan... pulang. Sundari bukan ingatan. Sundari adalah jiwa. Jiwa yang memilih untuk tinggal di pintu. Bukan karena aku memerangkapnya. Tapi karena dia tidak ingin pulang ke tempat asalnya. Tempat asalnya adalah... tempat tanpa bibir. Tanpa suara. Tanpa kata. Sundari ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia. Punya mulut. Punya bibir. Punya suara. Tapi dia tidak tahu bahwa menjadi manusia juga berarti bisa dibungkam. Bisa disakiti. Bisa mati."

Aku memandang Sundari. Wajahnya—wajah yang tadi kosong—kini berubah. Tidak menjadi ekspresi, tapi menjadi... transparan. Di balik kulitnya, aku bisa melihat sesuatu. Sesuatu yang bercahaya. Sesuatu yang berdenyut. Sesuatu yang menyerupai wajah perempuan—wajah Sundari yang sebenarnya, yang lebih muda, yang lebih cantik, yang tersenyum.

"Dia benar," kata Sundari. Suaranya kali ini tidak keluar dari bibir. Tapi dari seluruh tubuhnya. Dari setiap pori. Dari setiap cahaya yang bocor dari balik kulitnya yang transparan. "Aku memilih ini. Aku memilih diam. Bukan karena aku dipaksa. Tapi karena dengan diam, aku bisa mendengar. Aku bisa mendengar detak jantung ayahmu. Aku bisa mendengar desir angin di dalam dadanya. Aku bisa mendengar suara yang tidak bisa dia ucapkan. Suara yang tidak punya kata. Suara yang hanya bisa didengar oleh orang yang cukup diam."

"Lalu kenapa kau minta tolong padaku? Kenapa kau bilang 'aku tidak bisa keluar'?"

"Karena aku tidak bisa keluar. Bukan karena terperangkap. Tapi karena aku lupa caranya. Aku sudah terlalu lama diam. Terlalu lama mendengar. Aku lupa bahwa aku juga punya suara. Aku butuh seseorang untuk mengingatkanku. Dan kamu—kamu yang masih kecil, yang telinganya belum tersumbat—kamu mengingatkanku. Kamu bertanya. Kamu mendekat. Kamu mendengar. Itu sudah cukup."

5. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist: Ayah Tidak Pernah Menikah dengan Sundari. Sundari Adalah Nama Angin.

"Coba lihat tanganmu," kata ayah.

Aku menunduk. Di telapak tanganku, ada garis. Garis yang tidak pernah ada sebelumnya. Garis yang berbentuk seperti huruf. Seperti aksara kuno. Seperti... nama.

Sundari.

"Ayah tidak pernah menikah dengan Sundari," kata ayah. "Sundari adalah nama angin. Angin yang bertiup di desa ini sebelum aku lahir. Angin yang membawa cerita-cerita dari tempat yang tidak memiliki nama. Ketika aku lahir, angin itu masuk ke dalam tubuhku. Aku tidak jadi manusia biasa. Aku jadi... tempat tinggal angin. Sundari tinggal di dalam dadaku selama 30 tahun. Lalu dia bosan. Dia ingin keluar. Dia ingin melihat dunia dengan mata sendiri, bukan dengan mataku. Jadi dia keluar. Dia mengambil wujud perempuan. Dia duduk di kursi kayu itu. Dan dia diam. Karena angin tidak punya suara. Angin hanya bisa... berdesir."

"Jadi Sundari itu angin?"

"Angin yang lupa bahwa dia angin. Dia pikir dia manusia. Dia pikir dia isteriku. Dia pikir dia dipaksa diam. Padahal dia hanya... berubah bentuk. Dan sekarang, setelah 44 tahun, dia mulai ingat. Dia mulai transparan. Dia mulai kembali menjadi angin. Dan ketika dia sepenuhnya menjadi angin lagi, dia akan pergi. Dan kursi kayu itu akan kosong."

6. Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot Twist di Dalam Plot: Aku Adalah Sundari yang Akan Datang

"Tidak," kataku. "Kursi itu tidak akan kosong. Karena aku yang akan duduk di sana."

Ayah menatapku. Sundari menatapku. Seluruh desa—yang tiba-tiba berkumpul tanpa suara—menatapku.

"Aku juga angin," kataku. "Sejak awal. Aku tidak lahir dari rahim ibu. Aku masuk ke dalam tubuh bayi yang mati saat lahir. Aku meminjam tubuh itu. Aku tumbuh. Aku bicara. Aku menjadi anak ayah. Tapi sebenarnya... aku adalah Sundari. Sundari yang baru. Sundari yang ingin merasakan menjadi manusia. Sundari yang dulu—yang duduk di kursi itu—adalah Sundari yang lama. Kita adalah angin yang sama, hanya terbelah waktu."

"Kenapa kamu baru bilang sekarang?" tanya ayah.

"Karena aku baru ingat sekarang. Saat Sundari yang lama mulai transparan, ingatannya mengalir ke aku. Aku ingat bahwa aku pernah diam 44 tahun. Aku ingat bahwa aku memilih diam agar bisa mendengar. Aku ingat bahwa aku mencintai ayah—bukan sebagai suami, tapi sebagai rumah. Rumah pertama yang hangat."

Sundari yang lama tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam 44 tahun, bibirnya terbuka. Tidak mengeluarkan suara. Tapi mengeluarkan cahaya. Cahaya yang sama dengan cahaya di telapak tanganku. Cahaya yang sama dengan cahaya di dadaku.

"Jaga dia," bisik Sundari yang lama. Bukan dengan suara, tapi dengan getaran yang aku rasa di tulang rusukku. "Dia hanya angin yang takut sendirian. Seperti kita."

Lalu dia lenyap. Kursi kayu itu kosong. Tapi tidak benar-benar kosong. Karena di atas kursi itu, sekarang, ada bayangan. Bayangan seorang perempuan yang tidak duduk. Bayangan yang berdiri. Bayangan yang melambai. Bayangan yang berjalan menuju ke arahku. Lalu masuk ke dalam tubuhku.

Aku merasakan sesuatu. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang lama. Sesuatu yang dikenal. Sesuatu yang bernama pulang.

Aku menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku utuh. Sundari yang lama dan Sundari yang baru bergabung. Aku bukan lagi anak ayah. Aku bukan lagi angin yang menyamar. Aku adalah... angin yang pulang ke rumah yang sama.

7. Plot Twist Terakhir: Ayah Tidak Pernah Ada. Yang Ada Hanyalah Angin Lain yang Lupa Pulang.

Ayah memelukku. Tapi tangannya—tangannya tembus. Tubuhnya transparan. Seperti Sundari yang lama. Seperti sesuatu yang mulai sadar bahwa dia bukan manusia.

"Nak," katanya. "Aku juga angin. Aku lupa. Aku pikir aku ayahmu. Aku pikir aku menikah dengan Sundari. Aku pikir aku punya rahasia. Tapi aku hanya... angin yang ketakutan. Angin yang mengambil bentuk agar tidak sendirian. Dan sekarang, karena kamu sudah utuh, karena Sundari sudah pulang, aku juga harus pulang. Ke tempat tanpa bibir. Tanpa suara. Tanpa kata."

"Tapi aku akan kehilangan ayah."

"Ayah tidak akan hilang. Ayah akan menjadi angin. Dan angin tidak pernah pergi. Angin hanya... berubah arah. Kamu akan merasakanku di setiap desir. Di setiap hembus. Di setiap napas yang kamu ambil saat kamu merasa sendirian."

Ayah mulai lenyap. Dari kaki. Dari tangan. Dari wajah. Senyumnya adalah bagian terakhir yang hilang.

"La da dum dum dum...," bisiknya. "Itu lagu yang dulu suka aku siulkan. Bukan pertanda kematian. Tapi... cara angin menyapa angin. Sekarang kau tahu. Sekarang kau bisa menyiulkannya juga."

Aku duduk di kursi kayu itu. Di depan rumah. Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Seperti Sundari. Seperti ayah. Seperti angin yang tidak tahu cara pulang selain duduk dan menunggu.

Tapi aku tidak menunggu.

Aku mengambil napas. Aku membuka mulut. Aku bersiul.

"La da dum dum dum..."

Dan angin—angin dari seluruh desa, dari seluruh gunung, dari seluruh lautan—menjawab.

Bukan dengan suara.

Tapi dengan kehadiran.

Kehadiran yang hangat.

Kehadiran yang tidak butuh bibir.

Kehadiran yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang cukup diam untuk mendengar.

Epilog:

Sekarang, setiap pagi, aku duduk di kursi kayu itu. Anak-anak desa masih takut padaku. Kata mereka, aku kerasukan. Kata mereka, aku punya suami dari alam lain. Kata mereka, aku sebenarnya sudah mati sejak lama.

Aku tidak membantah.

Aku hanya tersenyum.

Karena aku tahu: di suatu tempat, di suatu waktu, angin akan selalu pulang. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu berteriak. Tidak perlu membuka bibir.

Cukup duduk. Cukup diam. Cukup mendengar.

La da dum dum dum.

Itu adalah lagu pulang.

Dan semua angin—di mana pun mereka bertiup—pasti akan mengenalnya.

Komentar